Antonov An-124 Terbangkan Kereta Cepat Maglev Sejauh 7.500 km

Bagi sebagian orang, kereta terbang umumnya sukar dilakukan. Namun, Antonov An-124 membuktikan bahwa hal tersebut tidak lagi hanya impian semata. Hanya saja, bukan terbang dalam artian yang sesungguhnya, bersaing dengan pesawat sebagai salah satu moda transportasi udara, melainkan terbang karena diterbangkan oleh pesawat.

Baca juga: Oleg Konstantinovich Antonov – Sosok Legendaris di Balik Nama Besar “The Mammoth” An-225

Simple Flying melaporkan, salah satu pesawat terbesar di dunia itu belum lama ini menerbangkan kereta Maglev buatan perusahaan Jerman, Max Boegl, dari Munich- Chengdu sejauh 7.500 km. Menerbangkan kereta dengan bobot 36 ton dan panjang 12 meter tersebut memang bukan tugas mudah. Hanya pesawat-pesawat tertentu saja yang mampu mengemban tugas tersebut.

“Untuk Antonov Airlines, proyek ini menantang sekaligus menarik. Realisasinya membutuhkan persiapan dan kinerja penerbangan yang ketat sesuai dengan jadwal yang telah dikonfirmasi. Kami berterima kasih kepada pelanggan kami, KN Airlift, atas kepercayaan dan kerja sama yang efektif dengan mereka,” ujar Andriy Blagovisniy, direktur komersial Antonov Airlines.

Dalam proses pemindahan kereta, Max Boegl bekerjasama dengan perusahaan asal Negeri Tirai Bambu Xinzhu, untuk membuat jalur rel sejauh 3,5 km, termasuk rel di dalam pesawat. Sebab, karena kereta ini berbeda dengan kereta pada umumnya, rel yang dibuat pun juga demikian, harus dikembangkan secara khusus. Dengan panjang 36,5 m serta bobot maksimum yang mampu dibawa hingga ratusan ton, Antonov An-124 mampu memuat dua kereta Maglev sekaligus.

Akan tetapi, mengangkut kereta Maglev dengan bobot total 72 ton belum cukup mampu untuk mendorong Antonov An-124 mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Pada bulan Juni 1994, pesawat yang masih lebih kecil dibanding AN-225 Mriya ini pernah memcahkan rekok penerbangan kargo, mengangkut muatan dengan bobot mencapai 109 ton -dua kali lipat kemampuan maksimal Airbus Beluga XL- dari Ontario, Kanada ke Dublin, Irlandia.

Kereta dengan teknologi tanpa gesekan atau mengambang secara magnetik di atas rel itu nantinya akan menjadi andalan baru Cina untuk mendukung moda transportasi massal mereka, dengan wilayah Chengdu menjadi test case uji kereta yang sering juga disebut kereta api magnet ini.

Seperti namanya, prinsip dari kereta api ini adalah memanfaatkan gaya magnet untuk mengangkat kereta sehingga mengambang dan tidak menyentuh rel untuk mengurangi gaya gesek. Kereta maglev juga memanfaatkan magnet sebagai pendorong.

Baca juga: Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam

Dengan kecilnya gaya gesek dan besarnya gaya dorong, kereta ini mampu melaju dengan kecepatan sampai 600 km per jam, jauh lebih cepat dari kereta biasa. Beberapa negara yang telah mengembangkan kereta api jenis ini adalah Cina, Jepang, Perancis, Amerika, dan Jerman.

Dikarenakan mahalnya pembuatan rel magnetik, di dunia pada tahun 2015 hanya ada dua jalur Maglev yang dibuka untuk transportasi umum, yaitu Shanghai Transrapid di Cina dan Linimo di Jepang. Namun, belakangan Jerman juga sudah mempunyai jalur Maglev meskipun jaringannya tak terlalu besar di wilayah Nurenberg.

Pertama di AS, Pilot Pengidap Diabetes Terbangkan Pesawat Komersial

Penerbangan bersejarah belum lama ini terukir di Amerika Serikat (AS). Kepastian itu didapat setelah pesawat Southwest Airlines (SWA) 370 mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Seattle-Tacoma.

Baca juga: Deborah Lawrie, 67 Tahun, Pilot Wanita Tertua yang Masih Aktif di Maskapai Komersial

Pesawat mungkin terbang dalam kondisi normal, begitupun juga penumpang. Namun, lain halnya dengan kapten pilot penerbangan itu, Bob Halicky. Pilot asal Las Vegas berusia 59 tahun ini sudah sejak 2011 lalu divonis mengidap diabetes melitus tipe 1.

CNN International mengabarkan, regulator penerbangan sipil AS (FAA) memang sudah lama menerapkan larangan terbang bagi seluruh pilot pengidat diabetes. FAA menganggap pilot yang menderita diabetes akan membahayakan penumpang dan pesawat.

Dengan adanya aturan tersebut, praktis, Bob Halicky hanya bisa gigit jari untuk bisa kembali ke udara sebagai awak kokpit. Selama sembilan tahun, ia memang masih tetap menjadi kapten pilot di Southwest Airlines (SWA). Tetapi hanya sebagai instruktur pilot, bukan sebagai pilot dalam penerbangan komersial.

Namun, setelah Kanada dan Inggris melonggarkan aturan tersebut, desakan ke FAA untuk melakukan hal serupa pun datang dari American Diabetes Association, Aircraft Owners, and Pilots Association, dan organisasi lainnya.

Pada bulan November lalu, FAA mengaku akan mengizinkan pilot pengidap diabetes untuk mengajukan sertifikat medis kelas satu dan dua yang diperlukan untuk penerbangan komersial. Setelah berbagai kajian oleh FAA dan para pakar, serta didukung kemajuan teknologi, baik di bidang medis maupun penerbangan, bulan April lalu, angkatan pertama sertifikasi pilot pengidap diabetes tipe 1 yang mendapat pengobatan insulin atau insulin-treated diabetes mellitus (ITDM) pun diizinkan terbang kembali; tak terkecuali dengan Bob Halicky.

Pasca penerbangan pertamanya setelah hampir satu dekade, sekaligus penerbangan bersejarah di AS sebagai pilot pengidap diabetes pertama yang melakukan penerbangan komersial, Bob tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

“Sangat menarik untuk kembali ke kokpit dan juga menjadi pilot (tipe 1 insulin) pertama di Amerika yang terbang (secara komersial),” ujar Bob Halicky.

“Saya sangat bersemangat,” tambahnya sambil bersiap untuk penerbangan berikutnya ke Oakland. Dalam hitungan hari ke depan, ia telah dijadwalkan memimpin penerbangan ke Albuquerque, Phoenix, Houston, Milwaukee, dan banyak lagi sebelum kembali ke Las Vegas.

Atas kebijakan tersebut, berbagai apresiasi pun datang. Salah satunya dari American Diabetes Association (ADA). Mereka menilai, pilot sebetulnya memiliki hak untuk tetap terbang meskipun secara medis terdapat kendala.

Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

“Ini adalah hari bersejarah bagi pilot pengidap diabetes yang telah lama absen, serta bagi semua orang yang juga mengidap diabetes,” kata CEO ADA Tracey Brown.

“The American Diabetes Association (ADA) telah memiliki hak istimewa yang besar untuk bermitra dengan pilot luar biasa selama dekade terakhir untuk membuat mimpi ini menjadi kenyataan. Pilot ini (Bob Halicky) adalah pendukung yang tak kenal lelah yang dedikasinya luar biasa,” tutupnya.

Qatar Airways Siapkan Face Shield untuk Penumpang

Qatar Airways saat ini melengkapai para awak kabin mereka dengan pakaian khusus, masker, kacamata keselamatan dan sarung tangan. Hal tersebut rupanya juga menjadi persyaratan bagi penumpang untuk menggunakan pelindung wajah selain masker. Karena persyaratan tersebut, Qatar Airways kini menyediakan pelindung wajah (face shield) untuk para penumpangnya di konter check in Bandara Internasional Hamad di Doha atau di gerbang keberangkatan tujuan lainnya.

Baca juga: Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri

KabarPenumpang.com melansir dari laman forbes.com (2/7/2020), pelindung wajah ini menghadirkan dua ukuran untuk dewasa dan anak-anak. Untuk anak-anak pelindung wajahnya ini menampilkan maskot Oryx Kids Klub. Selain itu nantinya di pesawat, penumpang juga akan diberikan safety pouch yang berisi sarung tangan, masker dan pembersih yang dilengkapi dengan alkohol.

“Sepanjang krisis Covid-19, keselamatan penumpang kami telah menjadi prioritas utama kami,” jelas Chief Executive Qatar Airways Group, Akbar Al Baker.

Akbar mengatakan, dengan memperkenalkan langkah-langkah keselamatan dan kebersihan di dalam kabin tambahan ini, mereka dapat mengandalkan keahlian yang tidak tertandingi untuk menerbangkan penumpang dengan aman ke tujuan mereka.

Pelindung wajah ini wajib digunakan oleh penumpang saat naik atau pun turun. Untuk penumpang ekonomi harus mengenakan pelindung wajah selama penerbangan kecuali saat disajikan makanan maupun minuman. Sedangkan untuk penumpang di kelas bisnis memiliki banyak fleksibilitas karena ruang tambahan dan privasi yang serba lebih.

Penumpang kelas bisnis dapat menutup pintu suite dan memasang tanda “Jangan Ganggu” untuk membatasi interaksi. Makanan kelas bisnis juga telah dimodifikasi untuk disajikan sekaligus pada baki. Prosedur pembersihan intensif di pesawat dan di bandara Doha juga telah diperkenalkan termasuk sanitasi semua titik sentuh penumpang bandara setiap 10-15 menit.

Baca juga: Qatar Airways Kembali Layani Penerbangan Setiap Hari ke Denpasar dan Jakarta

Langkah-langkah ini datang saat maskapai bersiap untuk melanjutkan hampir dua pertiga dari jadwal penerbangan pra Covid-19 pada akhir Juli. Kemarin, penerbangan dilanjutkan setiap hari ke Bali, lima kali seminggu ke Washington DC dan Boston, tiga kali seminggu ke Los Angeles dan Berlin tiga kali seminggu, antara lain. Pada pertengahan Juli, maskapai mengharapkan untuk terbang ke 65 tujuan.

Hari Ini, 17 Tahun Lalu, Bouraq dan Mandala Airlines Jadi ‘Korban’ Arogansi Militer AS dalam Insiden Bawean

Tepat pada hari ini, 17 tahun lalu, dunia penerbangan sipil dan militer Indonesia sempat diusik oleh arogansi militer  negara superpower, Amerika Serikat (AS). Insiden yang terjadi pada 3 Juli 2003 itu kini lebih dikenal dengan Insiden Bawean.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Sejatinya, aksi koboi pesawat tempur F/A-18 Hornet dari kapal induk nuklir di USS Carl Vinson (CVN-70) yang mengangkut 100 pesawat tempur, 16 pesawat pengintai, dan enam helikopter, diawaki oleh 3.184 kelasi dan perwira, 2.800 pilot dan awak pendukungnya, serta 70 personel lainnya di sekitar Pulau Bawean ini lebih ke insiden militer.

Tetapi, dengan masuk ke jalur penerbangan sipil Green 63 di dekat Pulau Bawean, 66 mil laut dari Surabaya, aksi militer tersebut pada akhirnya juga berdampak pada penerbangan sipil yang kala itu sedang dijajaki oleh Bouraq dan Mandala Airlines.

Insiden Bawean yang menimpa Bouraq dan Mandala Airlines mungkin bisa dibilang tak sepopuler insiden maskapai penerbangan lainnya, seperti AirAsia QZ 8501 hingga Sukhoi Superjet 100. Sebab, bila insiden Air Asia sampai menimbulkan korban jiwa sebanyak 162 orang dan Sukhoi Superjet sedikitnya menewaskan 45 orang, tidak demikian bagi Bouraq dan Mandala Airlines.

Hanya saja, insiden yang menimpa kedua maskapai tersebut tidak bisa dipungkiri berpotensi menghilangkan nyawa ratusan penumpang. Terlebih dari catatan sejarah, aksi militer negara-negara lain di dunia secara umum dan AS secara khusus, pernah beberapa kali menembak jatuh pesawat komersial; seperti insiden Airbus A-300 Iran Air di Teluk Persia oleh kapal USS Vincennes dan Boeing 747 Korean Air oleh jet-jet tempur Soviet di Pulau Sakhalin.

Menariknya, pada waktu Insiden Bawean terjadi, Indonesia memang sedang berada dalam embargo militer terbatas oleh AS. Jadi, dilihat dari tensi geopolitik, Insiden Bawean memang sangat mungkin merugikan penerbangan komersial, dalam hal ini Bouraq dan Mandala Airlines; termasuk juga pesawat militer yang ditugaskan untuk mengintersepsi F/A-18 Hornet, F-16 TNI AU yang berkali-kali sudah siap dirudal kapanpun karena berada dalam posisi locked.

Selain memungkinkan terjadinya insiden yang melibatkan pesawat sipil, secara hukum, aksi militer F/A-18 Hornet yang disebut hanya sebatas latihan dengan beberapa manuver di wilayah udara Indonesia tentu saja telah melanggar perjanjian internasional serta kedaulatan Indonesia.

Dikutip KabarPenumpang.com dari Jurnal Hukum Bisnis dan Investasi, “Pelanggaran Kedaulatan Indonesia oleh Pesawat F-18 Hornet Milik Amerika Serikat”, secara yuridis, aksi militer F/A-18 Hornet dalam Insiden Bawean merupakan tindakan ilegal.

Teori Konvensi Chicago Tahun 1944 atau teori International Civil Aviation Organitation (ICAO) yang sama-sama diratifikasi oleh Indonesia dan AS, menyebut sebuah negara memiliki kedaulatan lengkap dan eksklusif terhadap ruang di udara di atas wilayahnya.

Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752

Oleh karenanya, setiap pesawat, baik pesawat negara maupun pesawat sipil negara, harus melakukan kontak dengan pihak ATC. Dalam Insiden Bawean, militer AS jelas melanggar aturan tersebut karena tidak melapor ke ATC dan masuk ke Green 63 jalur penerbangan sipil, berada di ketinggian sekitar 15.000 kaki atau 4,752 km. Padahal, jalur tersebut tengah melintas Boeing 737-200 Bouraq Airlines.

Dosa militer AS lainnya dalam Insiden Bawean, mereka juga melakukan manuver berbahaya di jalur tersebut dan jalur lain di sekitar sehingga juga mengganggu penerbangan sipil lainnya, Mandala Airlines. Beruntung, aksi heroik awak F-16 TNI AU yang ditugaskan berhasil menghalau F/A-18 Hornet melakukan tindakan ilegal yang mengancam pesawat sipil lebih jauh.

Hanya Turis dari 15 Negara yang Boleh Masuk Uni Eropa, Indonesia Tidak Termasuk

Sejak 1 Juli 2020 kemarin, Komisi Uni Eropa sudah mencabut pembatasan perjalanan turis dari 15 negar. Nama ke-15 negara ini didapat setelah draft daftar 54 negara dibahas secara mendalam. Meski begitu, turis asal Amerika Serikat, Brasil dan Rusia masih belum diizinkan mengunjungi Uni Eropa.

Baca juga: Dahsyatnya ‘Serangan’ Corona, Bikin Bandara Tersibuk di Eropa Bak Kuburan

Dilansir KabarPenumpang.com dari euronews.com (29/6/2020), ke-15 negara tersebut yakni Aljazair, Australia, Kanada, Georgia, Jepang, Montenegro, Maroko, Selandia Baru, Rwanda, Serbia, Korea Selatan, Thailand, Tunisia dan Uruguay. Sedangkan untuk Cina, Uni Eropa memberikan catatan akan membukakan pintu jika Pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut memberikan timbal balik yang sama.

“Warga Andorra, Monako, San Marino dan Vatikan dianggap sebagai penduduk Uni Eropa dalam rekomendasi ini,” kata Dewan Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.

Dewan Uni Eropa mengatakan, daftar negara yang diizinkan ini merupakan rekomendasi dan negara-negara anggota akan memiliki keputusan akhir tentang bagaimana pembatasan dilonggarkan untuk yang masuk dalam daftar.

“Otoritas negara-negara anggota tetap bertanggung jawab untuk mengimplementasikan isi dari rekomendasi. Mereka mungkin, dalam transparansi penuh, hanya mengangkat pembatasan perjalanan secara progresif terhadap negara-negara yang terdaftar,” kata Dewan.

Uni Eropa telah memberlakukan larangan perjalanan untuk perjalanan wisata sejak pertengahan Maret. Larangan itu diperluas ke negara-negara anggota kawasan Schengen non-Uni Eropa, termasuk Swiss, Norwegia, Islandia dan Liechtenstein.

Sedangkan untuk Inggris, dewan Uni Eropa mengatakan, masih diperlakukan sebagai bagian dari mereka sampai akhir tahun dalam periode transisi Brexit. Inggris saat ini memiliki masa karantina wajib 14 hari bagi mereka yang bepergian ke negara itu sedangkan negara-negara Uni Eropa lainnya telah menarik periode wajib yang sama.

Meski membatasi turis hanya untuk 15 negara,  Uni Eropa mengizinkan masuk bagi para pekerja kesehatan, diplomat, petugas kemanusiaan, penumpang transit, pencari suaka dan pelajar, kemudian penumpang yang terpaksa bepergian karena alasan keluarga (transit) serta para pekerja asing yang kehadiran mereka dibutuhkan di Eropa.

Sebagai informasi, Amerika Serikat yang masuk dalam daftar larangan mengunjungi Uni Eropa, sebenarnya sangat memberatkan bagi Eropa sendiri, pasalnya ada lebih dari 15 juta pelancong asal Amerika yang menjadi sumber pendapatan utama bagi negara-negara di Eropa

Baca juga: Tak Lagi Gratis, Ini Harga Makanan dan Minuman di Maskapai Eropa

Tak hanya itu, pelarangan ini juga menjadi pukulan berat bagi Negeri Paman Sam, dimana Presiden Donald Trump telah mempertahankan larangan pelancong Uni Eropa mengunjungi Amerika Serikat sejak pertengahan Maret lalu. Hingga saat ini Gedung Putih belum mengisyaratkan niatnya untuk meringankan larangan itu dalam waktu dekat karena otoritas kesehatan Amerika Serikat tengah berjuang untuk menahan gelombang baru pandemi Covid-19.

Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan

Regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) resmi menyudahi proses sertifikasi ulang Boeing 737 MAX, kemarin. Dengan begitu, total Boeing 737 MAX 7, pendahulu MAX 8, sudah menjalani proses sertifikasi ulang -untuk memungkinkannya terbang lagi- selama 3 hari dan total terbang sebanyak 10 jam.

Baca juga: Setelah Lebih dari Setahun Grounded, Boeing 737 MAX ‘Akhirnya’ Kembali Terbang

Simple Flying menyebut, pesawat uji Boeing 737 MAX 7 dengan kode pabrik N7201S menjalani pengujian di Boeing Field di Seattle, AS, selam tiga hari beruntun. Pesawat tersebut tadinya hendak dikirim ke salah satu maskapai di Negeri Paman Sam, Southwest Airlines sebelum akhirnya digrounded akibat dua kecelakaan.

Hari pertama proses sertifikasi ulang sepertinya tak terlalu menyibukkan dengan agenda pengujian berupa beberapa manuver di atas langit Moses Lake, sebelum akhirnya mendarat kembali. Dimulai pada pukul 10 pagi, proses pengujian pun dihentikan setelah dua jam. Masih di hari yang sama, pesawat kembali lepas landas dari fasilitas Boeing di Moses Lake sekitar pukul 12.30. Agenda pengujian di tes tersebut berupa tes terbang rendah selama 45 menit sebelum akhirnya return to base.

Hari kedua, pesawat uji Boeing lepas landas dari Boeing Field Seattle pukul 10.35 pagi. Berbeda dengan tes pertama, kali ini pesawat terbang melewati Moses Lake, menuju ke arah tenggara melintasi Idaho, melakukan beberapa manuver ketinggian di atas Hutan Nasional Clearwater, Nez Perce. Proses tersebut memakan waktu hampir empat jam sebelum mendarat di Moses laku pada pukul 14.30.

Hari terakhir proses sertifikasi ulang, Rabu, 1 Juli, Boeing 737 MAX 7 kembali lepas landas dari Seattle pukul 10.22. Bila di hari kedua pesawat berbelok menuju tenggara, kali ini area pengujian mengarah ke ke Selatan di atas Taman Nasional Gunung Rainier. Di hari terakhir, agenda pengujian menuntut Boeing 737 MAX 7 melakukan belokan tajam di atas ketinggian disusul manuver tajam dalam penerbangan relatif rendah di atas langi Washington Selatan. Setelah dua jam 17 menit, pesawat kembali mendatat.

Dalam tiga hari tersebut, agenda utama pengujian yakni mengevaluasi fitur automated flight control system pada 737 MAX. Selain menguji fitur automated flight control system yang baru disematkan ke Boeing 737 MAX, beberapa poin lainnya yang juga diuji antara lain, steep-banking turn dan manuver-manuver hingga touch-and-go landings. Saat ini, FAA dikabarkan tengah mengkompilasi data-data hasil pengujian kemarin.

Baca juga: Boeing Akui Kembali Temukan Masalah Baru Pada Software 737 MAX

Namun, proses pengujian tak berhenti sampai di situ. Setelah menjalani proses sertifikasi ulang selama tiga hari beruntun, beberapa pekan setelah ini, Boeing 737 MAX 7 masih harus menjalani uji terbang langsung oleh Administrator FAA, Steve Dickson. Mantan pilot pesawat tempur F-15 ini nantinya akan menerbangkan langsung Boeing 737 MAX serta mengujinya, persis sesuai dengan agenda uji sertifikasi seperti yang sudah dijalani.

Bila proses ini berhasil, MAX tak lantas dapat sekonyong-konyong kembali terbang sebelum semua pilot maskapai di berbagai dunia yang akan menerbangkan 737 MAX mengikuti training pilot. Diperkirakan seluruh rangkaian proses tersebut setidaknya akan memakan waktu hingga akhir tahun.

10 Kecelakaan di Bandara Sultan Hasanuddin, Lion Air Penyumbang Terbanyak

Airbus A330-300 Garuda Indonesia dengan livery klasik (strip merah-oranye di pinggang pesawat) bernomer GA 613 rute Makassar – Jakarta terperosok keluar landasan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Rabu (1/7) pukul 18.55 WITA. Beruntung, kejadian itu tak sampai menimbulkan korban jiwa.

Baca juga: Boeing 737-800 dan Bombardier CRJ-1000 Garuda Indonesia Nyaris Tabrakan di Bandara Soekarno-Hatta

Akan tetapi, dari penelusuran redaksi KabarPenumpang.com, kecelakaan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Sultan Hasanuddin rupanya menjadi yang pertama sepanjang sejarah perusahaan. Flag carrier Indonesia itu bahkan masih jauh tertinggal dibanding pemilik market share industri penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air.

Selain Garuda Indonesia dan Lion Air, bandara yang digunakan bersama oleh TNI AU dan sudah berganti berganti nama sebanyak empat kali sejak 1935 silam ini juga pernah terlibat kecelakaan dengan tiga maskapai lainnya. Tak heran bila bandara yang mempunyai dua runway masing-masing sepanjang 3100 × 45 meter dan 3500 × 45 meter ini sering mengadakan kegiatan latihan Partial Exercise atau simulasi kecelakaan. Agar lebih jelas, berikut 10 daftar kecelakaan pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

1. 31 Oktober 2003, Lion Air Penerbangan 787, MD-82 rute Ambon-Makassar-Denpasar, keluar jalur saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar.

2. 3 Februari 2005, Lion Air dengan penerbangan 791, MD-82 rute Ambon-Makassar tergelincir saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar.

3. 6 Mei 2005, Lion Air Penerbangan 778, MD-82 rute Jakarta-Makassar pecah ban saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar. Tidak ada korrban jiwa dalam kasus kecelakaan itu.

4. Lion Air dengan penerbangan 792, MD-82 rute Jakarta-Makassar-Gorontalo pada 24 Desember 2005, roda pesawat tergelincir keluar landasan saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.

5. Pada 24 Desember 2006, pesawat boeing 737-400 dengan nomor penerbangan 792, PK-LIJ rute Jakarta-Makassar-Gorontalo tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.

6. 18 Januari, pesawat MD-82 milik Lion Air rute rute Ambon-Makassar-Surabaya tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.

7. Pesawat Garuda Indonesia berjenis Airbus A330 dengan nomor penerbangan GA613 dikabarkan tergelincir saat hendak meinggalkan bandara. Pesawat Garuda Indonesia tersebut diketahui melayani rute penerbangan Makassar-Jakarta. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

8. Sejumlah penumpang pesawat Batimurung Air Manado-Makassar kocar-kacir menyelamatkan diri saat pesawat yang ditumpanginya terbakar dalam simulasi penanganan bencana di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Rabu (27/11/2013).

Namun, berbeda dengan tujuh insiden sebelumnya, insiden di atas merupakan simulasi belaka. Simulasi tersebut dilakukan Angkasapura (AP) I untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan tim dalam menangani kecelakaan pesawat termasuk ancaman teroris pada transportasi udara.

9. Mei, 2018, pesawat Celebes Airlines dengan nomor Penerbangan CA 116 rute SUB-UPG dilaporkan mengalami kecelakaan. Insiden pesawat yang mengangkut penumpang sebanyak 120 orang itu terjadi pada pukul 09.33 di area runway 31-13 Bandara Sultan Hasanuddin. Hanya saja, insiden kecelakaan maskapai milik Bosowa Grup rupanya hanya simulasi semata.

Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

10. Maret 2019, kecelakaan pesawat terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin, pada Rabu (13/3) malam. Pesawat mengalami pecah main wheel kiri sebelum lepas landas, dan akhirnya pilot memutuskan untuk membatalkan lepas landas (abort take off).

Sebelumnya saat akan lepas landas pesawat mengalami swing ke kiri hingga menabrak pagar perimeter bandara dan kemudian terbakar. Sama seperti Celebes Airlines dan Batimurung Air, insiden tersebut sejatinya hanya simulai belaka yang dijalankan Angkasapura I di runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Gubernur DKI Jakarta Sahkan Peraturan TOD Blok M-ASEAN, Fatmawati dan Lebak Bulus

Belum lama ini ada kabar gembira dari PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta terkait Transit Oriented Development (TOD) yang tengah dikembangkan. Kabar tersebut yakni sudah adanya pengesahan Peraturan Gubernur DKI Jakarta tentang kawasan transit beroirentasi transit ini.

Baca juga: Garap TOD di Stasiun Layang, MRT Jakarta Siap Bangun Transit Plaza di Lebak Bulus

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, ada tiga kawasan TOD yang sudah keluar Pergubnya yakni No.55/2020 untuk kawasan Blok M – ASEAN yang akan menjadi Green Creative Hub. Pergub No.56/2020 untuk Kawasan Fatmawati yang akan memiliki tag line Ruang Atas Dinamis.

Sedangkan Pergub No.57/2020 untuk kawasan Lebak Bulus yang nantinya akan menjadi Gerbang Terminus Selatan Jakarta. William mengatakan nantinya TOD ini pelaksanaan kegiatannya akan dibangun dan dikoordinasi oleh anak usaha MRT Jakarta yakni Integrasi Transit Jakarta.

Dia menambahkan untuk dua kawasan TOD lainnya yakni di Dukuh Atas dan Istora Pergubnya tengah dalam proses.

“Nantinya dengan adanya TOD ini dikembangkan dengan jumlah penumpang dan aktivitas yang bertambah. Kami akan bangun vertikal dan adanya TOD sendiri akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Kita akan kembangkan pembangunan TOD juga sampai ke Stasiun Kota di Fase 2,” jelas William yang ditemui di Depo Lebak Bulus, Kamis (2/7/2020).

Tak hanya kawasan TOD, pihaknya bersama dengan PT KAI dalam perusahaan Gabungan yakni PT MITJ yang sudah menyelesaikan empat stasiun yakni tanah Abang, Sudirman, Juanda dan Pasar Senen juga akan melanjutkan ke beberapa stasiun lainnya. William menjelaskan PT MITJ akan mulai mengembangkan lima stasiun berikutnya seperti Stasiun Gondangdia, Manggarai, Palmerah, Tebet dan Kota.

Namun pengerjaannya untuk penambahan lima stasiun tersebut diharapkan William bisa selesai pada tahun ini juga. Bahkan baru-baru ini PT MRT Jakarta, TransJakarta, Jakpro dan MITJ baru menyelesaikan tanda tangan terkait sistem integrasi pembayaran antar moda transportasi.

Baca juga: MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan

“Kami membentuk perusahaan patungan dan MRT jakarta yang memimpin ruang diskusi atau berkomunikasi dengan Bank Indonesia serta instansi terkait sehubungan dengan kewajiban izin-izin serta lisensi. Selain itu juga akan dilakukan kajian skema bisnis integrasi sistem pembayaran antar moda transportasi dan tarif melalui metode electronic face collection (EFC),” tuturnya.

Mengaku Rekam Video Awak Kabin Kirim Pesan Singkat via Ponsel, Penumpang ini Berusaha Peras Emirates

Apakah awak kabin dipecat dari Emirates karena menggunakan ponselnya? Pertanyaan ini muncul setelah ada video yang diunggah YouTuber dan membahas topik menarik bagi awak kabin yang fokus pada operator asal Timur Tengah seperti Emirates. Menurut video tersebut, seorang frequent flyer Emirates melihat seorang awak kabin mengirim pesan singkat di ponselnya selama di pesawat tengah taxi atau pesawat berjalan ke runway.

Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari

Karena hal ini dia menulis surat keluhan kepada Emirates, yang pada dasarnya sedang mencoba memeras maskapai. Dia mengatakan jika mereka tidak memberikan kompensasi kepadanya, dia akan mempublikasi video secara online. Bahkan disebutkan awak kabin tersebut dipecat karena insiden itu.

Bisa dikatakan, penumpang itu orang yang tidak baik jika melaporkan awak kabin demi sebuah kompensasi. Ini hanya dari satu sisi penumpang tersebut sehingga belum jelas dari sisi awak kabin.

“Setiap penerbangan saya harus mendengarkan bahwa Emirates adalah perusahaan terbaik di dunia. Dan sejak acara terakhir saya benar-benar memikirkan ini. Saya anggota platinum yang terbang hampir setiap minggu bersama Anda. Melakukan lepas landas saya melihat seorang wanita SMS di teleponnya seperti jika itu adalah prosedur normal. Jadi ketika kami mendarat saya mengambil ponsel saya dan mendapatkan video-nya saat mengirim pesan. Saya tidak bisa melampirkan video disini, jadi saya hanya mengambil screenshot. Tapi kalau-kalau saya juga dapat mengirim Anda video. Tolong jangan paksa saya untuk menerbitkan ini di Youtube, internet atau 9crew di facebook. Ini akan menjadi iklan yang sangat buruk bagi Anda. Jelaskan pada saya bagaimana mungkin perusahaan TERBAIK di dunia memungkinkan berperilaku seperti itu, ” isi keluhan penumpang yang meminta kompensasi Emirates.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman onemileatatime.com (27/6/2020), kemudian YouTuber itu mengunggah video permintan maaf karena hal tersebut. Meski begitu insiden ini sebenarnya tidak membuat awak kabin dipecat.

Ternyata diketahui ini merupakan cerita lama dengan penerbangan pada Februari 2018 lalu di mana awak kabin tersebut sudah bekerja di Emirates selama enam tahun dan mengatakan dirinya memiliki catatan yang sempurna hingga saat ini. Kemudian dirinya dipanggil ke kantor dihadapkan oleh manajernya dan mendapat peringatan terakhir.

Baca juga: Empat Bulan Nganggur, Emirates ‘PHK’ Airbus A380 Pertama

Awak kabin tersebut mengaku dirinya kehilangan rasa hormat terhadap perusahaan pada saat itu, dan dia tidak bisa terus bekerja dan bersikap baik pada penumpang. Sehingga dia memutuskan untuk mengundurkan diri dan pindah bekerja ke maskapai lain yang tidak memperlakukannya seperti angka melainkan seorang manusiawi.

Thermal Scanner di Stasiun MRT Jakarta, Selain Deteksi Suhu Tubuh Juga Bisa Kenali Rentang Usia Calon Penumpang

Pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Transisi yang sedang berlangsung saat ini, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta terus menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya dengan mengganti termometer tembak dengan thermal scanner yang bisa mengecek suhu tubuh penumpang lebih banyak dalam sekali cakupan.

Baca juga: PT MRT Jakarta Gunakan Thermal Scanner di Lima Stasiun Besar

Corporate Secretary PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin mengatakan, saat ini empat stasiun besar MRT Jakarta akan dipasang thermal scanner tersebut. Namun saat ini baru ada dua yang terpasang di Stasiun Fatmawati dan Stasiun Dukuh Atas.

Monitor hasil dari pengecekan thermal scanner (KabarPenumpang.com)

“Ada empat stasiun besar yakni Stasiun Bundaran HI, Dukuh Atas, Fatmawati dan Lebak Bulus yang akan di pasang thermal scanner ini. Tapi baru dua karena yang lain masih dalah tahap uji coba,” kata Kamal di Stasiun Fatmawati, Kamis (2/7/2020).

Dia mengatakan uji coba thermal scanner ini untuk menentukan yang terbaik dalam pengecekan suhu tubuh. Ketika berada di Stasiun Fatmawati, ada kamera untuk pengecekan suhu tubuh penumpang.

Kamal menjelaskan, kamera ini nantinya akan mengecek suhu penumpang dan hasilnya akan terpampang dalam layar monitor di depan jalur masuk. Selain itu ada juga alat pembanding suhu yang akurat sehingga bila terlihat tidak pas akan terdeteksi.

“Selain kamera pengukur suhu, ada juga alat pembandingnya. Kalau menggunakan termometer biasa hasil sering tidak akurat. Ini akurat dan di layar monitor tidak hanya suhu, tetapi mendeteksi penumpang menggunakan masker atau tidak, menggunakan kacamata atau tidak,” kata Kamal.

Dia menambahkan, monitor thermal scanner ini pun bisa mendeskripsikan kisaran usia penumpang MRT Jakarta. Selain itu Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengaku dalam PSBB Transisi tahap pertama ini, penumpang mengalami lonjakan pada 30 Juni 2020 sebanyak 20.793.

“Dari data terbaru yang saya dapatkan dari OCC per hari ini, 1 Juli 2020 ada sebanyak 21.478 penumpang dan ini naik. Kami berharap setelah fase transisi dua minggu dan bisa beraktivitas normal maka jumlah penumpang akan naik,” kata William di Depo MRT Jakarta.

William menjelaskan, meski saat ini sudah mencapai angka 21 ribu penumpang perhari, pihaknya tetap optimis bisa mengontrol dan mengakomodir pergerakan penumpang jika sudah mencapai angka 70 ribu per harinya.

“Antrian bisa dikelola dengan baik, lebih dari itu pada jam sibuk bisa kami tambah tiga jam di pagi dan tiga jam di malam,” ujar William. Dia menambahkan, MRT Jakarta sebagai salah satu transportasi umum bukanlah tempat penyebaran Covid-19. Sebab bila protokol kesehatan dengan benar dan berjalan dengan baik maka penyebaran virus tersebut pun tidak akan terjadi.

Baca juga: Jumlah Penumpang Meningkat, MRT Jakarta Jalankan Protokol Bangkit

Apalagi MRT Jakarta memiliki sirkulasi udara yang baik karena meningkatkan ventilasi udara di dalam kendaraan. MRT Jakarta juga meningkatkan frekuensi layanan untuk mengurangi kepadatan.

“Kami mendesinfeksi kereta secara rutin. Kita lakukan kolaborasi dan pastikan seluruh transportasi publik terapkan protokol aman. Sehingga dengan begini bisa dipastikan siapa pun yang naik transportasi publik dipastikan aman dari paparan virus,” jelas William.