Samakan Brand di Semua Negara, GoJek Ubah Nama Get di Thailand

GoJek, Decacorn Indonesia ini mulai mengganti nama aplikasi Get di Thailand pada Kamis (17/9/2020). Penyedia layanan ride hailing ini menggunakan nama GoJek sebagai penggantinya dan menandakan integrasi satu merek antara aplikasi di Indonesia maupun Thailand.

Baca juga: GoJek Luncurkan “GoGreener Carbon Offset” Guna Bantu Pelanggan Imbangi Emisi Perjalanan

Penggantian nama ini dilakukan sekitar sepuluh minggu setelah GoJek mengumumkan rencana untuk menyatukan merek di Thailand dan Vietnam. Di mana pada Juli 2020 kemarin, Get juga mengatakan akan menyatukan aplikasi dan mereknya di bawah GoJek sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk membuat dampak positif dan mendorong inovasi bagi pelanggan di pasar Thailand.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, penyatuan merek ini membawa mereka ke dalam satu platform teknologi untuk menantang Grab yang sudah beroperasi lebih luas di wilayah tersebut. Selain itu, dengan penyatuan merek ini, pada aplikasi baru akan membantu pengguna mengakses pengiriman makanan, ojek motor, kurir dan e-wallet.

“Setelah kami menjajal pasar dengan menggunakan merek lokal Get selama 18 bulan, inilah saatnya mengubah merek dan meluncurkan Gojek di bawah merek aplikasi tunggal,” kata General Manager Gojek Thailand, Pinya Nittayakasetwat.

Tak hanya itu, Pinya mengatakan, penyatuan merek menghadirkan tampilan baru dengan beberapa peningkatan fitur dan memberi pengalaman pelanggan yang lebih baik serta keamanan yang ditingkatkan.

“Strategi penyatuan merek akan meningkatkan pengalaman pengguna dan berusaha untuk membuat langkah besar dalam investasi dan ekspansi yang cepat,” ujarnya.

GoJek menawarkan kupon diskon senilai 2500 baht ($80) kepada pengguna baru hingga akhir bulan ini untuk memperluas basis pelanggannya. GoJek sendiri beroperasi di Singapura, Filipina, Vietnam dan Thailand.

GoJek memiliki lebih dari 50 ribu pengemudi dan 30 ribu pedagang makanan yang bekerja sama di Thailand, di mana pengiriman makanan sedang booming karena pandemi virus Corona. Tetapi persaingan di antara para pemain termasuk Grab, Line, dan Foodpanda juga semakin ketat.

Pakar e-commerce Pawoot Pongvitayapanu mengatakan bersatunya brand di bawah Gojek di Thailand akan memudahkan investor melihat pertumbuhan semua pengguna Gojek.
Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di putaran pendanaan berikutnya.

Baca juga: Dukung Proses Pemesanan Bagi UMKM, GoJek Luncurkan Aplikasi Selly

“Merek lokal mungkin terlalu lemah untuk menjadi menarik,seraya menambahkan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan gerakan seperti itu, karena pengguna dan restoran sudah terbiasa dengan layanan pesan-antar makanan setelah pandemi,” ujar Pawoot.

Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh

Hari ini, 42 tahun lalu, bertepatan dengan Senin, 25 September 1978, kecelakaan pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk terjadi akibat pilot kedua pesawat dan Air Traffic Controller (ATC) Bandara Internasional San Diego ceroboh.

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, Turkish Airlines Flight 452 Jatuh Gegara Pilot Mengira Jalan Raya Sebagai Runway

Dilansir independent.co.uk, insiden bermula saat Boeing 727-200 PSA dengan nomor registrasi N533PS terbang dari Sacramento ke San Diego via Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Cuaca sangat cerah saat itu, dengan visibilitas 16 km.

Dalam perjalanan ke San Diego, kru kokpit PSA, yang terdiri dari flight engineer, Martin Wahne dengan 10.800 jam terbang, co-pilot, Robert E. Fox dengan 10.000 jam terbang, James E. McFeron dengan 14.000 jam terbang, dan off-duty captain, Spencer Nelson dengan 28.000 jam terbang, diberitahu oleh approach controller ATC Lindbergh Field (nama lain Bandara San Diego) terkait keberadaan Cessna 172 Skyhawk di dekatnya.

Kala itu, Cessna 172 Skyhawk dengan nomor registrasi N7711G yang diawaki oleh instruktur, Martin Kazy Jr (32 tahun) dengan 5.137 jam terbang dan sersan Korps Marinir AS, David Boswell (35 tahun) yang tengah berlatih Instrument Landing System (ILS) dengan 400 jam terbang, terbang kembali setelah menyelesaikan ILS approach kedua menuju 070 Northeast, Minneapolis, Minnesota, AS, di bawah ketinggian 3.500 kaki dan jalur approach akhir vektor.

Dari data cockpit voicer recorder (CVR), pilot PSA mengaku sempat melihat Cessna beberapa saat setelah diberitahu oleh ATC. Sayangnya, tak lama berselang, pilot kehilangan pesawat tersebut. Namun demikian, ATC sudah menginformasikan adanya traffic arah jam 12, tiga mil dari 1700. Sebelum mengakhiri kontak, ATC mengingatkan agar pilot me-maintain visual separation terhadap Skyhawk.

40 detik sebelum terjadinya tabrakan, keempat orang yang berada di kokpit pun terlibat percakapan santai. Di antara percakapan itu, pilot menyebut kemungkinan posisi Skyhawk berada di belakang PSA flight 182. Padahal, saat itu, pesawat tersebut tepat berada di depan. Pesawat terus melaju dan landing gear dalam posisi on setelah ATC memberi clearance untuk mendarat di runway 27 Bandara San Diego.

Tak lama berselang, tabrakan pesawat PSA flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk N7711G terjadi. Boeing 727-200 PSA berusia 10 tahun itu menghantam Skyhawk dengan sayap sebelah kanan pada pukul 09:01, beberapa saat setelah pilot berasumsi Cessna berada di belakang PSA. Pesawat kemudian oleng ke kanan dan jatuh di pemukiman warga. Akibat kejadian itu, 153 orang tewas; terdiri dari 128 penumpang dan 7 kru PSA, 2 kru Cessna, dan tujuh orang di darat.

Pasca investigasi dilakukan, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) menyimpulkan, pilot kedua pesawat dan ATC masing-masing ikut andil dalam kecelakaan tersebut. NTSB berpendapat bahwa kru PSA gagal mengikuti arahan ATC dengan baik, khususnya pada bagian me-maintain visual separation atau menjaga jarak visual terhadap Skyhawk. Sudah begitu, kru tak memberi info ke ATC bahwa mereka kehilang visual Skyhawk.

ATC juga salah akibat penggunaan visual separation procedure saat radar clearances tersedia. Kru Cessna 172 Skyhawk pun demikian. Kru tanpa alasan jelas tidak patuh mempertahankan pos timur-timur laut 070 setelah latihan ILS approach. Selain itu, kru Cessna juga tak memberitahu ATC soal perubahan jalur penerbangan mereka.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Mandala Airlines Flight 091 Jatuh dan Menimpa Pemukiman Warga di Medan

Sebuah studi visibilitas yang dikutip dalam laporan NTSB menyimpulkan bahwa Cessna seharusnya dapat terlihat oleh kru PSA dari 170 hingga 90 detik sebelum tabrakan. Studi tersebut juga mengatakan bahwa pilot Cessna akan melihat sekitar 10 detik Boeing dari jendela pintu kiri sekitar 90 detik sebelum tabrakan. Namun, banyak faktor mengapa hal itu tak terjadi, salah satunya ukuran dan warna Cessna yang menyerupai atap rumah di sekitar kejadian.

Setelah sederet kecelakaan, termasuk kecelakaan ini, Traffic Collision Alert and Avoidance System (TCAS) akhirnya dipasang di semua pesawat penumpang dan sebagian pesawat kargo. TCAS berfungsi untuk memberikan peringatan visual dan suara kepada kru kokpit ketika dua pesawat saling mendekati satu sama lain dan mengarahkan kru untuk turun atau naik guna menghindari terjadinya tabrakan.

Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Main gateway Bandara Internasional Incheon Korea Selatan (Korsel) belum lama ini mulai dilengkapi robot pengecek suhu otomatis. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan tatap muka saat proses pengecekan suhu tubuh di terminal keberangkatan untuk mengurangi risiko infeksi Covid-19.

Baca juga: Antisipasi Peningkatan Trafik, Bandara Incheon Bangun Landas Pacu Keempat

Incheon International Airport Corporation selaku pengelola bandara mengatakan layanan pengecekan suhu tubuh tanpa sentuh ini sudah di tempatkan di Terminal 1 dan 2 bandara. Meski masih dalam proses uji coba, hampir dapat dipastikan robot tersebut bakal tetap dipatenkan dalam upaya mencegah penularan virus Corona sampai beberapa waktu mendatang, melengkapi thermal scanner untuk mengecek suhu secara makro.

Dilansir bangkokpost.com, pengelola bandara sejauh ini baru menempatkan tiga robot pengecek suhu tubuh otomatis tanpa sentuhan di Terminal 1 keberangkatan, tak jauh dari kiosk self check in. Adapun robot lainnya ditempatkan di Terminal 2 bandara dengan jumlah dan tata letak serupa (dengan di T1).

Dalam prosesnya, robot tersebut mengukur suhu tubuh para pengunjung dengan menggunakan kamera thermal. Apabila penumpang terindikasi tidak sehat, ditandai dengan suhu tubuh tinggi sekitar 40 °C, maka robot akan segera menghubungkan pihak maskapai secara otomatis untuk dilakukan prosedur lanjutan, entah diswab, rapid, ataupun dilarang terbang.

Sebaliknya, bila proses pengecekan berjalan normal, maka penumpang dapat melanjutkan aktivitas di bandara usai disemprotkan cairan hand sanitizer di tangan oleh robot tersebut secara otomatis, tanpa adanya kontak apapun.

Selain robot tersebut, pengelola bandara juga mengerahkan beberapa kios pengecekan suhu tubuh dengan fungsi nyaris serupa dengan robot pengukur suhu tubuh. Bedanya, kios pengecekan bukan menghubungi maskapai bila penumpang terindikasi mengalami hipertermia, sebagaimana robot satunya lagi, melainkan bakal mengeluarkan suara peringatan sebelum akhirnya didatangi oleh petugas on duty.

Dalam waktu dekat, pengelola Bandara Internasional Incheon Korsel juga bakal mengerahkan robot self-driving. Robot tersebut nantinya bakal keliling bandara untuk mengecek kepatuhan penumpang mengenakan masker. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas bagaimana teknisnya.

Bandara Internasional Incheon memang sejak awal pandemi virus Corona sudah terkenal dengan inovasi dan kesungguhan pengelola, berkolaborasi dengan pemerintah, dalam mencegah penyebaran Covid-19. Upaya luar biasa bandara tersebut juga memancing datangnya pujian setinggi langit. Salah satunya datang dari Amerika Serikat (AS) melalui Dutabesar AS untuk Korea Selatan, Harry Harris.

Baca juga: Bandara Seattle-Tacoma Kerahkan Robot Pembersih Lantai dan Teknologi Canggih Lawan Corona

Harry Harris tak kuasa melontarkan pujian ketika mengunjungi Terminal 2 Bandara Internasional Incheon untuk mengamati bagaimana petugas bandara mengukur suhu badan penumpang pesawat Korean Air yang akan terbang ke Atlanta, AS, dan serangkaian proses pengecekan lainnya.

Melalui akun twitternya, Harry menyebut, “Kunjungan hebat ke Bandara Incheon untuk melihat langkah-langkah ROK (Republic of Korea) untuk memerangi Covid-19 pelancong ke Amerika Serikat. Terkesan dengan upaya respons yang kuat dan komprehensif ROK untuk membatasi penyebaran virus. Terima kasih untuk semua atas kerja kerasnya,” cuitnya. Bahkan ia tak ragu untuk menyebut Bandara Incheon sebagai contoh baik penanganan corona di bandara.

Jepang Larang Penggunaan Ponsel Bagi Pejalan Kaki

Berjalan sembari menggunakan ponsel adalah hal yang cukup berbahaya karena pengguna tidak melihat jalanan di depannya dengan jelas. Bahkan ini bisa menyebabkan kecelakaan yang mengakibatkan kematian karena pejalan kaki lebih fokus pada ponsel mereka dibandingkan jalanan yang mereka lintasi.

Baca juga: Tingkat Kecelakaan Trem Meningkat, Praha Gelar Kampanye Keselamatan di Jalan

Karena hal ini pemerintah kota Yamato di Jepang mengambil inisiatif yakni larangan pejalan kaki menggunakan ponsel ketika berjalan. KabarPenumpang.com merangkum bbc.com (19/9/2020), pemerintah kota Yamato sebelum mengambil inisiatif ini sudah melakukan penelitian pada Januari di dua lokasi dan menemukan 12 persen dari 6000 pejalan kaki yang tercatat di kota itu menggunakan ponsel saat berjalan.

“Ini sangat berbahaya,” kata Walikota Satoru Ohki, tokoh di balik kebijakan tersebut.

Ohki awalnya melontarkan idenya dengan anggota parlemen lokal dan, setelah menjalankan konsultasi publik, menemukan bahwa delapan dari sepuluh orang mendukung gagasan tersebut, jadi pada bulan Juni larangan menggunakan ponsel cerdas saat berjalan diberlakukan melalui peraturan kota. Selama beberapa hari pertama pelarangan, kota mempekerjakan segelintir pekerja dengan rompi visibilitas tinggi untuk memegang tanda di depan Stasiun Yamato sebagai pesan terekam yang menjelaskan peraturan baru yang diputar dari CD.

Karena Covid-19, Ohki mengatakan dia ragu-ragu untuk memiliki penegak hukum tambahan yang berpatroli di jalan untuk saat ini, jadi beberapa tanda kain di pintu keluar stasiun sekarang menjadi satu-satunya indikator perubahan yang jelas.

“Saya yakin kami bisa mempercayai masyarakat Yamato untuk melakukan hal yang benar,” jelasnya.

Dalam inisiatif yang di ambil pemerintah kota Yamato, tidak ada sanksi bagi pelanggar aturan, tetapi pihak berwenang berharap lebih banyak perubahan organik dalam perilaku. Apalagi Jepang sering digambarkan sebagai budaya kolektivitis di mana konsep harmoni dalam suatu kelompok dipandang lebih penting daripada ungkapan pendapat individu.

Itu sebabnya, selama pandemi global, tidak ada yang terlihat di luar tanpa masker meskipun itu tidak wajib. Juga jelas bahwa warga Jepang sangat menyadari bahaya penggunaan ponsel cerdas bagi diri mereka sendiri dan orang lain saat berjalan.

Dalam survei tahun 2019 terhadap 562 pengguna smartphone di Jepang, 96,6 persen responden menyatakan sadar akan bahayanya, 13,2 persen pernah mengalami tabrakan secara langsung, sementara 9,5 persen mengatakan mereka terluka akibat arukisumaho. Ohki percaya bahwa larangan tersebut akan membantu warga melihat perilaku ‘zombie smartphone’ sebagai meiwaku, atau menyebabkan masalah bagi orang lain, dan menyesuaikan tindakan mereka sesuai dengan norma sosial yang berkembang.

Baca juga: Gunakan Ponsel Saat Bertugas, Masinis di Jepang Diganjar Sanksi

Untuk diketahui, ini bukan pertama kalinya suatu negara mengambil tindakan untuk mencegah cedera semacam itu. Ilsan, sebuah kota di Korea Selatan, memasang lampu dan sinar laser yang berkedip-kedip di persimpangan jalan untuk memperingatkan pejalan kaki yang menggulir telepon, sementara pihak berwenang di kota Chongqing di Cina membuka “jalur telepon seluler” sepanjang 30 meter di jalur bagi pejalan kaki yang sibuk menggunakan ponsel mereka.

Negara-negara di Barat juga mengambil langkah seperti di Honolulu, Hawaii, “Hukum Berjalan Terganggu” dapat membuat Anda didenda karena mengirim pesan teks saat berjalan di penyeberangan.

Dear ‘FA Wannabe,’ Thai Airways Bantu Wujudkan Mimpi Jadi Pramugari dengan Mahar Rp1,3 Jutaan

Thai Airways terus berinovasi untuk tetap bisa mencetak pendapatan. Setelah membuka restoran dengan menghidangkan menu-menu khas penerbangan (in flight meals) dan bisnis flight simulator melalui program THAI FlyEx, kini maskapai tersebut dikabarkan tengah memulai program unik khusus untuk para flight attendant (FA) wannabe dengan harga miring sebesar US$91 atau sekitar Rp1,3 jutaan (kurs Rp14.834).

Baca juga: Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Dilansir dari sea.mashable.com, kocek sebesar itu nantinya akan digunakan maskapai untuk membantu mewujudkan mimpi siapapun menjadi pramugari selama sehari di pusat pelatihan dan penerbangan Thai Airways di Bangkok.

Dalam tempo empat jam, FA wannabe akan diberi berbagai materi tentang kepramugarian, seperti dijelaskan soal prosedur keselamatan, mengenakan seragam resmi pramugari Thai Airways, standar make up pramugari, hingga pelatihan etiket.

Salah seorang peserta training program Thai Flight Training Academy tampak menikmati pose saat momen safety induction. Foto: Thai Aiways

Di samping itu, para FA wannabe program Thai Flight Training Academy juga diberikan kesempatan untuk mengabadikan momen menjadi pramugari dadakan selama empat jam tersebut.

Adapun posenya disesuaikan dengan keinginan peserta program. Tentu tetap dalam koridor di seputaran kabin, entah itu saat sedang memasukkan bagasi di kabin, mengantar hidangan on board ke para penumpang kelas bisnis, hingga momen menjelaskan safety induction di mockup kabin pesawat superjumbo Airbus A380. Berbagai dokumentasi selama proses tersebut nantinya bakal diberikan ke peserta program sebagai kenang-kenangan ataupun untuk diposting di media sosial.

Selain program tersebut, Thai Airways juga masih mempunyai tiga program lainnya di Thai Flight Training Academy, mulai dari kursus pilot training simulator, kursus emergency simulator training, dan pelatihan selama satu hari menjadi koki Thai Aiways.

https://www.facebook.com/thaiflighttrainingacademy/posts/3567171460008770

Awal Juni lalu, Thai Airways tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Sampai saat ini, prosesnya masih terus berjalan. Diperkirakan bakal menghabiskan 3-5 bulan ke depan.

Sebetulnya, prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan. Namun, perusahaan memilih untuk menunda operasi sampai seluruh proses selesai.

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi. Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak jadi diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan.

Baca juga: Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’

“Thailand dan seluruh dunia sedang menghadapi krisis. Penghasilan setiap orang menurun karena efek covid-19. Kita harus memprioritaskan anggaran untuk membantu orang-orang di masa depan,” kata Prayut.

Sebenarnya, keuangan Thai Airways sudah berantakan sebelum pandemi virus Corona muncul pertama kali di Cina pada akhir 2019. Mengacu laporan tahun lalu, maskapai pelat merah ini mengalami kesulitan karena ekonomi global yang melambat, fluktuasi harga minyak, dan persaingan maskapai penerbangan berbiaya rendah yang kian ketat.

Lion Air Dukung Wacana Peningkatan Kapasitas Penumpang 100 Persen

Sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan, maskapai telah membatasi kuota penumpang per perjalanan maksimal 70 persen dari total kursi yang tersedia. Namun baru-baru ini maskapai penerbangan berbiaya hemat Lion Air mendukung wacana peningkatan kapasitas pesawat menjadi seratus persen di masa pandemi.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Direktur Operasi Layanan Kebandarudaraan Lion Air Group Wisnu Wijayanto mengatakan, pihaknya siap bila diminta berkolaborasi dengan Badan Litbang Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kesehatan jika harus ada penelitian yang menggunakan fasilitas yang dimiliki Lion Air terhadap kapasitas seratus persen. Usulan peninjauan kapasitas penumpang pesawat pertama kali dilontarkan oleh pakar penerbangan di Air Power Center Indonesi Chappy Hakim.

Dia meminta kepada regulator untuk mengevaluasi kembali pembatasan muatan penumpang pesawat tanpa mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku. Pendapat ini juga mengacu pada penggunaan teknologi filter high efficiency particular air atau HEPA dalam pesawat. Di mana teknologi tersebut diyakini mampu menyaring partikel hingga 99 persen dan menciptakan udara yang bersih.

“Mengacu pada hasil survei Kementerian Pergubungan terhadap angkutan udara, 66 responden menyatakan enggan membayar lebih untuk kursi yang kosong akibat adanya pembatasan kapasitas,” jelas Wisnu yang dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (23/9/2020).

Wisnu menilai masyarakat sangat sensitif terhadap tarif yang dikeluarkan di masa pandemi. Dia mengatakan, selama ada cara untuk menekan biaya operasional, perusahaan akan menurunkan harga tiket pesawat sebagai bentuk stimulus bagi calon penumpang.

Upaya ini diyakini dapat meningkatkan minat penumpang untuk mendongkrak okupansi. Sehingga, hal ini bakal berefek mempercepat pemulihan perekonomian. Wisnu mengatakan pemulihan industri penerbangan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Selain itu, dia juga meminta pemerintah segera mengambil kebijakan untuk mendukung keberlangsungan dunia penerbangan. Salah satunya lewat pemberian stimulus.

Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

“Kami juga berharap pemberian insentif dapat diwujudkan terkait biaya navigasi penerbangan dan potongan-potongan yang pernah dibahas bersama,” kata Wisnu.

Sebelumnya diketahui, maskapai Batik Air dari Lion Air Group yang mengangkut penumpang dengan kapasitas hampir seratus persen. Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala mengatakan, terkait dengan kapasitas angkut penumpang pesawat udara Batik Air yang diberikan batasan dalam jumlah yang diangkut, penumpang tertentu akan ada duduk berdampingan bersebelahan dan tidak ada jarak.

Bandara Helsinki Gunakan Anjing untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

Anjing digunakan dalam mendeteksi virus corona atau Covid-19? Ya, ini sudah dilakukan oleh Bandara Helsinki (HEL), Finlandia, di mana mereka menurunkan sebanyak 16 ekor anjing untuk mengidentifikasi penumpang yang terinfeksi virus itu.

Baca juga: Bandara Itami Buka Toilet Eksklusif Untuk Anjing

Anjing-anjing ini memiliki hidung sensitif yang dapat mempercepat proses identifikasi mereka yang terinfeksi Covid-19. Bisa dikatakan Kota Vantaa di mana Bandara Helsinki ini ada percaya bahwa anjing menjadi salah satu metode yang efisien untuk memastikan kesehatan dan keselamatan bandara.

“Rencana ini akan dimulai pada 22 September 2020 dan pertama di dunia. Tidak ada bandara lain yang mencoba menggunakan deteksi bau anjing dalam skala besar terhadap Covid-19. Kami senang dengan inisiatif kota Vantaa. Ini mungkin merupakan langkah maju tambahan untuk mengalahkan COVID-19,” kata Direktur Bandara Helsinki Ulla Lettijeff yang dikutip KabarPenumpang.com dari internationalairportreview.com (21/9/2020).

Namun apakah penggunaan penciuman anjing untuk mendeteksi virus ini efektif? Menurut tes yang dilakukan oleh kelompok peneliti di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Helsinki, anjing dapat mencium virus dengan hampir seratus persen kepastian.

Bahkan anjing juga dapat mengidentifikasi virus beberapa hari sebelum gejalanya dimulai. Di mana ini adalah sesuatu yang gagal dilakukan oleh tes laboratorium. Anjing juga ternyata dapat mengidentifikasi Covid-19 dari sampel yang jauh lebih kecil daripada tes PCR yang digunakan oleh profesional kesehatan.

Perbedaannya sangat besar, karena seekor anjing hanya membutuhkan 10-100 molekul untuk mengidentifikasi virus, sedangkan peralatan uji membutuhkan 18 juta. Anjing Helsinki Airport Covid-19 dilatih oleh Wise Nose. Nose Academy, perusahaan startup grup riset, menjalankan operasi di bandara.

Di masa depan, anjing bea cukai mungkin menggantikan operator saat ini. Pengujian Covid-19 resmi dengan anjing terlatih hanya dapat dimulai setelah amandemen legislatif yang sesuai telah disahkan. Melakukan tes anjing Covid-19 di Bandara Helsinki tidak termasuk kontak langsung dengan anjing tersebut.

Sebaliknya, anjing akan melakukan tugasnya di bilik terpisah. Mereka yang mengikuti tes akan mengusap kulit mereka dengan tes lap dan menjatuhkannya ke dalam cangkir, yang kemudian diberikan kepada anjing. Ini juga melindungi pawang anjing dari infeksi.

Semua tes diproses secara anonim dan jika hasil tes positif, penumpang akan diarahkan ke titik informasi kesehatan yang dikelola oleh kota Vantaa yang terletak di bandara. Ke depan, empat anjing akan bekerja di bandara selama shift dan durasi setiap shift tergantung pada anjingnya.

Baca juga: Swiss Uji Coba Aplikasi Pendeteksi Covid-19

Hampir semua anjing pernah melakukan deteksi bau. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar mengidentifikasi Covid-19 bergantung pada latar belakang anjing tersebut. Salah satu anjing yang akan segera bekerja di Bandara Helsinki adalah anjing greyhound berusia delapan tahun bernama Kössi, yang belajar mengenali baunya hanya dalam tujuh menit.

CDC dan WHO: Pelindung Leher (Masker Buff) Tidak Bisa Mencegah Penyebaran Virus Corona

Terkenal fleksibel, lantaran bisa diubah-ubah fungsinya, dari mulai pelindung leher, masker setengah wajah (half mask), headband sampai pelindung kepala (sahariane), adalah keunggulan dari Buff, atau yang kondang disebut sebagai masker Buff. Selain masif digunakan oleh pemotor, tak sedikit Buff dipakai oleh penumpang kereta komuter.

Baca juga: Profesional Medis Gunakan Masker Scuba dan Snorkeling untuk Gantikan Masker Bedah

Namun, karena disebut hanya menggunakan satu lapis kain saja, masker Buff dipandang tak aman untuk mencegah penularan Covid-19. Kementerian Kesehatan (Kemendes) RI misalnya, telah mengeluarkan himbauan bagi warga untuk tak lagi menggunakan Buff. Malahahan sebelumnya, operator KRL Jabodetabek, PT KCI telah melarang penumpang yang memakai Buff untuk menggunakan jasa kereta komuter.

Selain punya keunggulan fleksibel dalam penggunaan, masker Buff juga mudah diperoleh dan punya harga yang terbilang murah, biasanya masker dengan bahan kain stocking ini dilego pedagang kaki lima seharga Rp15.000 untuk dua piece.

Namun, perlu diketahui, Buff sejatinya adalah sebuah merek produk pelindung leher yang dipegang oleh Original Buff, SA, perusahaan asal Spanyol. Dan masker Buff yang kebanyakan di jual di kaki lima, jelas merupakan barang palsu dengan kualitas di bawah standar kesehatan.

Namun perlu dipahami, bahwa pelindung leher ini tidak akan menawarkan perlindungan yang sama seperti respirator N95. Di mana masker N95 bisa melindungi dengan tingkatan yang lebih tinggi. Sebab pelindung leher dirancang untuk olahraga musim dingin atau pelindung dari matahari.

Nah, menanggapi pelarangan dan pembatsan penggunaan masker Buff, bagaimana tanggapan dari pihak prinsipal? Begini petikan pihak Buff dalam situs resminya, “Pelindung leher kami melindungi dari banyak elemen alam. Namun meskipun produk aksesori kepala multi fungsi kami menutupi seluruh bagian depan wajah seperti hidung, mulut, dagu dan leher, tetapi secara ilmiah dan dibuktikan oleh Center for Disease Control (CDC) dan Orgasnisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa tidak untuk mencegah Anda dari tertular virus atau pun penyakit. Kemudian tidak bisa menjamin Anda untuk tidak menularkan virus atau penyakit ke orang lain,” tulis Buff.

CDC sendiri merekomendasikan untuk mengenakan penutup wajah dari kain di tempat umum di mana jika protokol kesehatan seperti jarak sosial sulit dipertahankan. “Kami mendorong pengguna untuk tidak menghindari protokol keamanan yang tepat dari jarak sosial, karantina dan lainnya,” kata CDC.

Baca juga: Bikin Heboh, Penumpang Bus Kota Gunakan Ular Hidup Sebagai Masker

CDC menambahkan, setiap orang baiknya tetap ikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak fisik yang aman setidaknya enam kaki atau sekitar dua meter. Selain itu jika berekreasi di pegunungan baiknya tidak menumpang mobil atau memberi tumpangan pada orang yang bukan tinggal satu rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resmi Dapat Paten, Tongkat Ultraviolet Anti Corona Boeing Siap Diproduksi Massal

Setelah melakukan pengembangan selama enam bulan, Boeing akhirnya berhasil menemukan alat disinfeksi baru yang dinilai jauh lebih efektif dan efisien berupa tongkat sanitasi portabel ultraviolet (UV).

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Rencananya, alat yang sudah mendapat lisensi atau hak paten itu akan diproduksi secara massal oleh Boeing dengan menggandeng Healthe Inc , perusahaan pengembang produk sanitasi UV berteknologi tinggi, untuk penggunaan lebih luas di masyarakat, seperti sekolah, rumah sakit, gedung perkantoran, dan lain sebagainya.

“Tongkat pembersih dengan teknologi UV dirancang agar lebih efektif daripada perangkat serupa. Alat ini dengan cepat mendisinfeksi permukaan pesawat dan selanjutnya memperkuat lapisan perlindungan lain bagi penumpang dan awak,” kata Mike Delaney, kepala program Confident Travel Initiative (CTI) Boeing, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

“Boeing menghabiskan enam bulan untuk mengubah ide tongkat ajaib menjadi mode kerja, dan Healthe sekarang akan mengambil prototipe itu dan membuatnya tersedia untuk dunia luas,” tambahnya.

Sebagaimana namanya, tongkat UV Boeing menggunakan sinar UVC dengan panjang gelombang 222 nanometer (Far-UVC). Hasil penelitian menunjukkan, 222 nanometer UVC mampu menonaktifkan patogen secara efektif.

Teknologi sinar UV untuk mendisfeksi permukaan dinilai jauh lebih efektif, efisien, dan aman dibanding cairan disinfektan yang biasa digunakan saat ini mengingat hal itu dapat merusak peralatan elektronik semisal panel kontrol di kokpit. Foto: Boeing via Simple Flying

Konsep alat disinfeksi portabel Boeing juga ada yang menyerupai koper jinjing. Dengan begitu, kru cukup membawa alat tersebut berjalan di lorong ataupun sudut lain pesawat. Otomatis, seluruh permukaan yang mampu dijangkau sinar UV akan membunuh patogen berbahaya sejenis Corona (Covid-19) dengan cepat. Tak hanya itu, sinar UV juga mampu membentuk lapisan perlindungan selama 30 hari. Tongkat UV sangat efektif di ruang yang padat dan membersihkan kabin utama dan kokpit dalam waktu kurang dari 15 menit.

Dengan efektivitas dan efisiensi tinggi, tongkat UV portabel Boeing tersebut dipercaya bakal memperkecil penggunaan alkohol atau disinfektan lain untuk mendisinfeksi pesawat (maupun non pesawat) yang notabene dapat merusak peralatan elektronik yang sensitif.

Saat ini, sudah ada sekitar 13 maskapai yang mengujicoba alat tersebut bersama Boeing. Dari jumlah tersebut, Etihad Airways merupakan maskapai pertama yang menjalani uji coba, sebagai bagian dari program ecoDemonstrator dalam kemitraan bersama Boeing. Oleh keduanya, alat tersebut didemonstrasikan di pesawat ecoDemonstrator Etihad 787-10 akhir bulan lalu.

Baca juga: “Confident Travel Initiative” Jadi Strategi Boeing Pastikan Penumpang Terbang Tanpa Ragu Selama dan Pasca Corona

Tongkat UV anti Corona Boeing sendiri merupakan bagian dari program Confident Travel Initiative perusahaan. Program tersebut merupakan sebuah inisiatif yang dipimpin langsung oleh wakil presiden Boeing bidang Transformasi Digital, Mike Delaney.

Nantinya, inisiatif tersebut akan menawarkan solusi baru untuk membantu meminimalkan risiko kesehatan di setiap perjalanan udara selama wabah Covid-19. Tak hanya itu, strategi tersebut juga akan mendorong kesadaran penumpang terhadap berbagai perlindungan kesehatan yang sudah ada, di samping perlindungan penumpang dengan penggunaan teknologi canggih semisal tongkat ultraviolet anti corona ini.

Futurebus, Desain Bus Dimasa Pandemi yang Memenangkan Kontes

Berbagai macam desain kendaraan kini hadir untuk membantu orang di masa pandemi dan mencegah penularan Covid-19. Salah satunya adalah dari pelajar Singapura berusia 23 tahun. Dia merupakan bagian dari tim beranggotakan empat orang yang telah memenangkan kompetisi desain internasional dengan bus anti pandemi.

Baca juga: Arsitek Asal Milan Buat Desain Trem yang ‘Friendly’ di Masa Pandemi

Ryan Teo bersama dengan tiga mahasiswa asing lain yang baru ditemu di Zoom menciptakan apa yang disebut Futurebus dalam waktu 24 jam. Adapun fitur bus tersebut yakni pintu geser yang didesain sepanjang bus, teknologi pembayaran jarak jauh untuk menggantikan pembaca kartu fisik dan pegangan tangan berputar yang disterilkan oleh strip UV.

desain yang memenangkan lomba (straitstimes.com)

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (22/9/2020), Teo mengatakan, desain ini dapat membuat transportasi umum lebih aman tanpa menurunkan kapasitas bus karena jarak sosial yang harus dilakukan di masa pandemi. Teo bekerja bersama Yang Shunli dari Universitas Politeknik Hong Kong, William Ma dari Universitas Harvard dan Li Xin dari Universitas Shanghai Jiao Tong.

“Saya selalu merasa jelas bahwa Singapura memiliki salah satu sistem transportasi umum terbaik di dunia. Meski begitu, tidak ada sistem di dunia yang cocok untuk situasi pandemi,” kata mahasiswa tahun terakhir di Northwestern University di Amerika Serikat itu.

“Konsep Futurebus kami dirancang dengan pemikiran ini saat kami bertanya pada diri sendiri, bagaimana kami bisa menjaga transportasi umum tetap aman tanpa menurunkan kapasitas kendaraan?” tambah pria muda itu.

Tantangan FourC ini sendiri dilakukan pada bulan Juni tersebut diselenggarakan oleh Shanghai Jiao Tong University yang diikuti oleh lebih dari 200 mahasiswa dari 52 universitas bersaing dalam “sprint desain” 24 jam. Setiap tim ini dibentuk secara acak oleh penyelenggara dan kolaborasi berlangsung dari jarak jauh.

Kemenangan yang dibuat oleh Teo dan tim mendapatkan hadiah utama S$10 ribu atau sekitar 50 ribu yuan. Bahkan kemenangannya ini menarik perhatian media yang tidak terduga dari berbagai negara termasuk Amerika, Cina dan Spanyol.

Teo mengatakan, idenya inventif dan diadaptasi dari teknologi yang ada. Meski ini lebih merupakan eksperimen dari pikiran, tetapi keempatnya mencoba memastikan Futurebus menjadi proposal yang layak baik dari segi biaya dan terlihat lebih masuk akal.

Untuk diketahui, pengadopsian pegangan berputar, mereka terinspirasi dari dudukan toilet yang terdapat di Bandara O’Hare Chicago yang mana penutupnya berputar setelah digunakan. Sehingga nantinya pegangan Futurebus juga akan berputar 360 derajat setiap bus berhenti di halte dan dibersihkan agar penumpang tak perlu menyesuaikan pegangan mereka.

Sedangkan sistem pembayaran jarak jauh tersebut sudah lama ada dan Teo terinspirasi dari sisem yang dikembangkan oleh ST Engineering, di mana penumpang hanya membawa gelang Identifikasi Frekuensi Radio jarak jauh, kartu atau tag kunci. Mereka kemudian dapat berjalan melalui bingkai bebas penghalang dan tarif mereka secara otomatis dipotong tanpa harus mengetuk kartu atau menunggu gerbang dibuka.

Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

Bersama dengan pintu geser Futurebus yang panjang, penumpang tidak lagi harus berkerumun di sekitar pintu sempit tempat pembaca kartu berada di bus saat ini.

“Kami mendesain ulang denah lantai bus untuk meminimalkan penyeberangan jalur penumpang. Dengan cara ini, penumpang bisa langsung turun dari bus daripada harus berjalan melalui bus untuk sampai ke pintu keluar,” kata dia.