Pasir Sinyal ‘SOS’ Selamatkan Tiga Pria Usai Terdampar Tiga Hari di Pulau Terpencil Tak Berpenghuni

Tiga orang pelaut berhasil evakuasi usai terdampar di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di Pasifik, belum lama ini. Menariknya, para pelaut tersebut berhasil diselamatkan Tim SAR gabungan Australia dan Amerika Serikat usai mengirim sinyal SOS dengan menuliskannya di pasir.

Baca juga: Throwback, Boeing 707 Pan Am 812 Jatuh di Bali, Tim SAR Butuh 3 Hari Menjangkau Lokasi

Associated Press melaporkan, peristiwa bermula saat tiga pelaut yang tak disebutkan dengan jelas dari mana mereka berasal, hendak berlayar ke Pulap Atoll sebelah Timur Laut Puluwat Atoll, Pasifik. Namun, mereka diketahui berlayar jauh keluar jalur menuju Barat Laut hingga akhirnya kehabisan bahan bakar dan terdampar di Pulau Pikelot, 190 kilometer dari Puluwat Atoll tempat mereka memulai pelayaran.

Jarak tersebut tentu sangat jauh di luar kapasitas bahan bakar mengingat tujuan semula di Pulap Atoll hanya berjarak 43 kilometer dari Puluwat Atoll.

Setelah tiga hari, akhirnya tim SAR gabungan Australia dan Amerika Serikat (AS) berhasil menemukan sinyal darurat SOS di sebuah pasir. Setelah dikontak oleh tim SAR AS, di Guam, sebuah helikopter kemudian dikirimkan Australia dalam perjalanan pulang dari Hawaii usai mengikuti latihan perang.

“Saya bangga dengan respons dan profesionalisme semua kru kapal saat kami memenuhi kewajiban berkontribusi pada keselamatan nyawa di laut, di mana pun kami berada,” kata komandan pangkalan Canberra, Terry Morrison.

Sementara itu para korban dilaporkan dalam kondisi baik. Mereka dikirim makanan dan minuman menggunakan helikopter militer Australia. Setelah kondisi mereka stabil, ketiga pria itu dievakuasi menggunakan kapal patroli Mikronesia.

Baca juga: Kereta Terperangkap Salju, 400 Penumpang JR East Terdampar dalam Suhu Estrem

SOS adalah sinyal marabahaya yang diakui secara internasional yang berasal dari kode Morse. Dalam insiden serupa pada Agustus 2016, sepasang pelaut yang terdampar juga pernah diselamatkan dari pulau tak berpenghuni lain di Mikronesia setelah helikopter Angkatan Laut AS melihat tanda SOS mereka.

Beberapa bulan sebelumnya, tiga orang lainnya yang kapalnya terbalik dua mil dari pantai terlihat di pulau terdekat setelah menulis kata “Help” di pasir. Mikronesia adalah gugus kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau yang berukuran sangat kecil di Samudra Pasifik bagian Timur, tetapi Hawaii tidak termasuk. Berbatasan dengan Filipina yang terletak di sebelah Barat, Indonesia di barat daya, Papua Nugini dan Melanesia di selatan, dan Polinesia di tenggara dan timur.

Mulai 1 Agustus, Bandara Charles de Gaulle Paris Wajibkan Pelancong dari 16 Negara Tes Swab

Pelancong dari 16 negara yang berisiko tinggi Covid-19, wajib melakukan tes swab di Bandara Prancis mulai 1 Agustus 2020 kemarin. Daftar negara tersebut yakni Amerika Serikat, Brasil, Aljazair, Turki, India, Israel, Afrika Selatan, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Panama, Madagaskar, Peru, Qatar, Oman dan Serbia.

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Tawarkan Asuransi Covid-19 Gratis ke Penumpang! Simak Syaratnya

Tes ini dilakukan karena jumlah kasus baru di Perancis setiap harinya terus meningkat. Seorang pelancong asal California utara ketika tiba di Bandara Paris-Charles de Gaulle (CDG) disambut penjaga bea cukai Prancis dan mengatakan, “Maaf, tetapi tes Covidmu tidak lagi valid. Harap antri di sini untuk menjalani tes.”

Dilansir KabarPenumpang.com dari france24.com (4/8/2020), Rob si pelancong tersebut tiba di CDG pada 4 Agustus setelah melakukan penerbangan dari San Francisco selama 11 jam. Dia mengatakan, pengecekan berkas dan pengujian tes Covid-19 tidak teratur dan ada beberapa kebingungan, apakah tes harus dilakukan 72 jam sebelum boarding atau mendarat.

“Penjaga bea cukai kedua memeriksa tes saya lagi dan akhirnya mengizinkan saya melalui tanpa pengujian lebih lanjut,” kata dia.

Dia mengatakan, dirinya bersama penumpang lain dalam penerbangan AF87 dari San Francisco harus menunjukkan hasil tes Covid-19 negatif terbaru mereka atau harus menjalani tes swab di kedatangan. Josselin Lefrançois, seorang Prancis yang tinggal di San Francisco mengatakan, dirinya senang mengetahui bahwa sebagian besar orang yang ada dalam pesawat yang ditumpanginya dinyatakan negatif sebelum naik. Sama dengan penumpang lain, Josselin melakukan tes Covid-19 beberapa hari sebelum dirinya melakukan penerbangan.

“Masih penting untuk memiliki tes wajib gratis pada saat kedatangan, juga. Beberapa laboratorium Amerika Serikat membutuhkan waktu terlalu lama, sekitar enam hari, untuk memberikan hasil. Dan biayanya juga mahal,” tambah pengusaha teknologi, yang membayar $250 untuk ujiannya sebelum meninggalkan Amerika Serikat.

Untuk diketahui, saat ini ada tiga pusat pengujian Covid-19 di bandara CDG Paris, dua diantaranya berada dekat gerbang kedatangan di Terminal 2E dan 2A. Sedangkan yang ketiga terletak di zona pabean Terminal 2E dekat pengambilan bagasi. Meski tak ada lagi karantina pada saat kedatangan, setelah mendaftar dengan ID dan alamat email, pelancong yang tiba diuji di bilik kecil di belakang konter dan petugas medis dengan perlengkapan perlingdungan memasukkan kapas ke saluran hidung untuk mengambil sampel.

Kemudian sample dikirim ke laboratorium dan hasilnya akan diterima 24 sampai 48 jam. Setiap pusat pengujian bandara melakukan ratusan tes Covid-19 per hari. Yang terletak di dekat aula kedatangan sebenarnya mendapatkan sejumlah besar pelancong keluar di mana orang-orang yang akan melakukan perjalanan dari Paris ke tujuan lain dan tes Covid-19 juga wajib.

“Saya akan terbang ke Conakry (ibu kota Guinea di Afrika Barat) pada 7 Agustus. Otoritas Guinea mewajibkan kami memiliki hasil tes Covid negatif sebelum memasuki negara itu. Saya membawa putra saya ke bandara hari ini dan itu adalah kesempatan yang baik untuk selesaikan ini,” kata Amadou Sylla.

Sistem pengujian bandara masih membutuhkan itikad baik dari penumpang untuk bekerja secara efisien. Penumpang dari negara berisiko tinggi tidak menghadapi karantina saat menunggu hasil tes Covid-19 yang mereka lakukan pada saat kedatangan.

“Mereka menunjukkan ID mereka dan diminta mengisi formulir dengan detail kontak mereka. Seandainya hasil tes mereka positif, kami segera menghubungi untuk meminta mereka mengisolasi diri dan melacak orang lain yang mungkin pernah mereka hubungi,” jelas Alyzee Feauveaux, dari Agence Regionale de Santé, badan yang bertanggung jawab atas pusat pengujian.

Baca juga: Amerika Serikat Telat, Baru Akan Mulai Rapid Test Covid-19

Otoritas Prancis memilih untuk tidak menerapkan karantina wajib pada saat kedatangan seperti di Hong Kong atau Korea Selatan, di mana pihak berwenang memeriksa untuk memastikan bahwa penumpang yang masuk tetap terisolasi selama 14 hari.

Stasiun Da Lat dengan Desain Antik Perancis, Andalan Wisata Kereta Vietnam

Vietnam memiliki stasiun kereta api yang menjadi incaran para pelancong. Ini karena stasiun tersebut adalah stasiun kereta api kuno di Vietnam dan memiliki arsitektur jalur kereta api langka di dunia. Stasiun yang bernama Da Lat ini dirancang tahun 1932 silam dan selesai enam tahun kemudian.

Baca juga: Hua Hin, Stasiun Tertua di Thailand dan Punya Bangunan Unik

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Stasiun Da Lat menurut banyak orang memiliki arsitektur bergaya dengan tiga puncak Gunung Langbiang atau unsur-unsur rumah komunal asli Cao Nguyen dari Dataran Tinggi Tengah Vietnam. Memiliki tiga atap piramidal mengingatkan pada Stasiun Trouville-Deauville di Normandia.

kereta api di Stasiun Da Lat (asiaopentaurs.com)

Di bawah setiap atap adalah jendela kaca warna-warni, dan di bawah atap pusat adalah jam besar, yang baru saja dipulihkan. Stasiun Da Lat memiliki panjang 66,5 meter dengan tinggi 11,4 meter dan lebar 11 meter.

Stasiun ini dirancang oleh arsitek Prancis Moncet dan Reveron dengan atap tinggi serta menampilkan kubah melengkung dari stasiun di selatan negara itu. Hal tersebut kemudian membuat Stasiun Da Lat dikenal dengan stasiun kuno dan indah di Asia Tenggara yang masih dilestarikan dari Perang Vietnam dengan arsitektur khusus kuno Perancis yang terkait dengan tahap sejarah signifikan Vietnam.

Dalam aula utama, furnitur seperti meja, kursi, konter tiket sampai saat ini masih tetap memiliki desain yang sama selama beberapa dekade. Sehingga menampilkan realitas stasiun di masa lalu termasuk bola lampu yang masih tersimpan dan membuat ruang lebih klasik.

Selain itu lukisan-lukisan digantung dibagian yang juga meninggalkan rasa di hati para pelancong karena sangat terkesan pada masa lalu stasiun. Di dalam stasiun, atap yang ditinggikan menciptakan langit-langit yang terangkat.

Di bagian depan stasiun terdapat Porte-cochère, atau gerbang pelatih, yang masing-masing didukung oleh dua baris kolom. Desain stasiun yang unik membuatnya diakui sebagai monumen bersejarah nasional pada tahun 2001.

Baca juga: Kennington, Stasiun Bawah Tanah Unik dengan Fasilitas “U-Turn”

Meski begitu stasiun ini tak lagi beroperasi untuk umum tetapi masih melayani para pelancong. Untuk diketahui, pada bulan Desember 2009, empat gerbong kereta yang dipugar agar terlihat seperti gerbong kereta yang digunakan pada jalur Da Lat-Thap Cham pada tahun 1930-an mulai digunakan pada kereta api wisata Da Lat-Trai Mat, membawa papan bertuliskan “Dalat Plateau Rail Road”.

Dukung Operasional Kereta Hidrogen, Jerman Bangun Stasiun Pengisian Khusus di 2021

Jerman akan memiliki stasiun pengisian bahan bakar pertama di dunia untuk kereta hidrogen. Stasiun pengisian bahan bakar tersebut dibangun oleh perusahaan teknik global Linde dan ini menetap. Stasiun pengisian tersebut akan dibangun dekat dengan stasiun kereta api Bremervorde di negara bagian Lower Saxony, Jerman.

Baca juga: Tahun 2021, Kereta Bertenaga Hidrogen Siap Mengular di Rel Jerman

KabarPenumpang.com melansir dari laman railtech.com (29/7/2020), stasiun bahan bakar hidrogen akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2021 mendatang. Kehadiran stasiun ini karena Jerman telah bergerak lebih jauh dalam memperkenalkan kereta api berbahan bakar hidorgen ke dalam layanan terjadwalnya.

Bahkan pencapaian besar pertama ditetapkan dalam periode dari September 2018 hingga Februari 2020 kemarin. Selama rentang waktu ini, Alstom sudah berhasil menguji dua unit Coradia iLint yang merupakan kereta berbahan bakar hidrogen pertama di dunia pada rute non-listrik regional di Lower Saxony.

Pada pertengahn 2021, akan ada penetapan DAS (Driver Advisory System) lain ketika Linde, perusahaan rekayasa dan industri gas global asal Jerman akan menyelesaikan pembangunan stasiun pengisian tak bergerak pertama untuk kereta hidrogen. Pada uji coba kereta Cordia iLint, Altsom menggunakan SPBU keliling.

Untuk diketahui, upacara peletakan batu pertama secara simbolis untuk pembangunan stasiun bahan bakar hidrogen ini berlangsung pada hari Selasa (28/7/2020) di Bremervorde. Sedangkan pengerjaan konstruksi yang sebenarnya dijadwalkan pada bulan September. Linde akan melakukan proyek tersebut atas nama Perusahaan Transportasi Regional Lower Saxony (LNVG).

Selain itu juga ada Alstom sebagai pabrikan kereta api, dan Eisenbahnen und Verkehrsbetriebe Elbe-Weser (EVB), sebagai calon operator kendaraan hidrogen dan stasiun pengisian bahan bakar yang direncanakan. Proyek ini disubsidi dalam program inovasi nasional Jerman untuk teknologi sel bahan bakar dan hidrogen dari Kementerian Transportasi Federal.

“Pembangunan stasiun pengisian hidrogen di Bremervorde akan menjadi dasar untuk rangkaian operasi rangkaian kereta hidrogen bebas emisi kami di jaringan Weser-Elbe. Kami sangat menghargai bahwa Linde, sebagai pemasok hidrogen berpengalaman, sekarang juga mengambil alih pengisian bahan bakar rangkaian rangkaian setelah operasi uji coba yang sukses,” kata Jorg Nikutta, Direktur Pelaksana Alstom untuk Jerman dan Austria.

Lalu lintas reguler kereta hidrogen Coradia iLint akan dimulai di Lower Saxony mulai akhir tahun 2022, bahkan untuk tujuan ini, EVB membeli 14 kendaraan. Alstom meluncurkan kereta api bertenaga hidrogen Coradia iLint pertamanya pada September 2016. Dua tahun lalu, kereta tersebut memulai pengujian setengah tahun di Lower Saxony atas nama EVB.

Baca juga: Dirut PT KAI Jajal Kereta Hidrogen di Jerman dan Siap Bawa ke Indonesia

Akibatnya, beberapa operator Jerman menyatakan minat mereka pada inovasi, selain EVB. Fahrzeugmanagement Region Frankfurt RheinMain (fahma), operator kereta api di Wilayah Metropolitan Rhine-Utama Frankfurt, memesan 27 kereta Coradia iLint. Negara bagian Lower Saxony, Rhine-Westphalia Utara, Baden-Wurttemberg, dan asosiasi transportasi Hessian di Jerman Rhein-Main-Verkehrsverbund menandatangani letter of intent dengan Alstom untuk 60 kereta hidrogen. Selain itu, Alstom berencana untuk mengembangkan beberapa unit hidrogen untuk Italia dan Inggris.

Menjadi Pusat Ziarah, Stasiun Ayodhya Dibangun dengan Standar Kelas Dunia

Stasiun Ayodhya yang dibangun kembali, desain gambarnya baru-baru ini dirilis oleh Indian Railways. Pembangunan ini diharapkan akan selesai pada Juni 2021 mendatang dan siap untuk mendapatkan perubahan kelas dunia. Perubahan tersebut dilakukan oleh Indian Railways karena diperkirakan pelancong akan meningkat.

Baca juga: Stasiun Kereta New Delhi dan Mumbai Bakal Berstandar Kelas Dunia

Sebab Kuil Ram Mandir kemungkinan akan mengubah Ayodhya menjadi pusat ziarah sebesar Varanasi atau Prayagraj. Hal ini membuat Indian Railways telah meningkatkan anggaran proyek pembangunan kembali Stasiun Ayodhya dari Rs80 crore menjadi lebih dari Rs104 crore.

KabarPenumpang.com melansir dari laman timesnownews.com (5/8/2020), Kementerian Kereta Api berbagi pemandangan artistik Stasiun Ayodhya yang dibangun kembali. Dalam sebuah tweet disebutkan “Pekerjaan pembangunan kembali Stasiun Kereta Ayodhya berlangsung lancar.”

Stasiun Ayodhya sendiri berada di bawah zona kereta api utara dan untuk memastikan pengunjung mendapatkan fasilitas kelas dunia, maka fitur ramah lingkungan yang baru akan diperkenalkan. Untuk diketahui, kota Ayodhya sendiri merupakan salah satu tempat keagamaan terpenting di India.

Bahkan saat ini lebih dikenal lagi karena Kuil Ram dan dengan adanya jalur kereta api sebagai konektivitas membuatnya bisa langsung dikunjungi dari Lucknow, Varanasi atau tempat keagamaan lain disekitarnya. Sehingga bisa dikatakan, jalur Ayodhya diharapkan menjadi pusat wisata terbesar di Negeri Bollywood di tahun-tahun mendatang.

Fase 1 dari proyek pembangunan kembali tengah dilaksanakan dengan biaya Rs104 crore. Di bawah ini, sebuah bangunan stasiun besar dengan fasad kontemporer akan dikembangkan. Area yang akan dibangun akan menjadi 100.000 kaki persegi atau 9290 meter persegi dengan semua fasilitas modern. Platform dan apron juga akan ditingkatkan.

Daerah yang bersirkulasi juga akan dirubah dengan mural Ramayana besar. Saat ini fasilitas utama yang diusulkan dalam pembangunan kembali Stasiun Ayodhya adalah 15 loket tiket yang didirikan dengan kantor CRS dan CBS. Ruang tunggu kelas satu, kelas dua, umum dan wanita di lantai satu.

Baca juga: Mirip di Bandara, Dua Stasiun Kereta di India Dilengkapi Sensor Thermal Canggih

Satu ruang tunggu kelas satu di lantai dasar, Tiga kamar ber-AC serta asrama pria dengan 17 tempat tidur dan sepuluh tempat tidur di asrama wanita. Two Foot Over Bridges (FOBs), plaza makanan, empat toko di lantai dasar dan satu alun-alun makanan di lantai pertama.

Sekitar 19 urinal dan 20 toilet di seluruh area stasiun, pusat informasi turis, bilik taksi, perawatan bayi, ruang VIP, ruang pertemuan dan toilet VIP. Sebelum Stasiun Ayodhya, Indian Railways juga merenovasi Stasiun New Delhi dan Stasiun Mumbai agar berstandar internasional.

Cabin Fever, Film yang Dibuat Melalui Aplikasi Zoom dan WhatsApp

Segala sesuatunya telah berubah ketika virus corona baru atau Covid-19 menjadi pandemi di seluruh dunia. Perubahan tersebut terjadi di semua bidang bukan hanya satu bidang. Baru-baru ini seorang sutradara memproduksi sebuah film dengan judul Cabin Fever yang Didistribusikan oleh Video Vision, film ini memulai debutnya di DStv Box Office pada 5 Agustus 2020.

Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

Di mana semua proses pembuatan film ini melalui berbagai macam cara dengan meeting melalui aplikasi Zoom, pengambilan gambar dengan kamera ponsel dan mengirimnya melalui WhatsApp. Bisa dikatakan pembuatan ini benar-benar tanpa harus keluar ruangan dalam tempat tinggal.

Tim Greene yang bertindak sebagai sutradara, penulis naskah, produser, editor dan humas mengatakan, memiliki para pemain (aktor) yang luar biasa di mana mereka bisa melakukannya sendiri. KabarPenumpang.com merangkum mg.co.za (5/8/2020), Tim mengatakan bersama semua aktor berkumpul di Zoom dan membaca adegan tertentu.

“Saya memberi petunjuk. Dalam hal kamera saya mungkin berkata, jadi pada saat itu, biarkan saja melayang dari Anda dan meletakkannya di atas meja sehingga berada dalam jarak dekat dan sekarang berada di tempat luas,” ujarnya.

Tim mengaku setelah itu panggilan Zoom di tutup dan menunggu file dari semua aktor melalui WhatsApp. Dia mengatakan sembilan dari sepuluh dirinya sangat terkesan dengan kerja kamera. Orang-orang ini berkarakter saat mereka menonton diri mereka sendiri di layar ponsel mereka, sementara mereka harus memikirkan apa yang harus ada di latar belakang, di mana cahayanya dan sebagainya. Itu adalah proses yang luar biasa, sangat intensif.

“Kita semua menjadi ahli dalam menangani kamera karena semua orang memiliki kamera di tangan mereka sepanjang waktu hari ini. Saya rasa tidak ada dari mereka yang memiliki pengalaman dalam pembuatan film. Tetapi jika Anda berpikir tentang James Cunningham di apartemen di Abu Dhabi, memerankan Andrew, ada adegan di mana Jenna [Upton] meneleponnya untuk mengatakan bahwa mereka akan mengambil alih rumah dan dia benar-benar menyinggung masalah lain, tentang kode tagar yang dia temukan. Dan dia hanya membiarkan kamera menjauh darinya, jadi dia ada di sudut kanan layar,” kata dia.

Dia mengatakan dalam pembuatan film ini adalah 30 hari, bangun pagi melakukan aktivitas pekerjaan rumah tangga dan hanya menulis tiga adegan. Tim juga benar-benar mempercayai insting dan tidak ada draft kedua.

“Kami tidak memiliki logistik truk dan toilet serta peralatan kamera dan, Anda tahu, semua hal yang menghambat produksi film. Meskipun super hi-tech, di satu sisi juga terasa low-tech, seperti perusahaan teater jadul. Hanya sutradara dan aktor yang melakukan tugas mereka,” kata dia.

Baca juga: Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik

Dia ingin film yang dibuatnya terasa seperti film dan yang lebih penting adalah ini merupakan film fitur bukan film pendek baru. Secara estetika, TIm ingin memiliki nilai sinematik meskipun tidak dapat meninggalkan ruangan. Meski cakupannya kecil, Tim ingin citra terasa signifikan.

Bukan Monster, Ada Shakoki-Dogu di Stasiun Kizukuri Simbol Kota Tsugaru

Ada raksasa yang mirip dengan Dogouf, salah satu musuh kolosal pahlawan tokusatsu Ultraman di stasiun Jepang? Apakah artinya ini monster benar-benar menjajah dunia atau hanya sebuah halusinasi saja?

Baca juga: Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel

Ternyata bukan keduanya, sebab yang dikatakan raksasa ini merupakan shakoki-dogu yang merupakan sebuah patung raksasa dan dibangun di depan Stasiun Kizukuri yang berada di prefektur Aomori. Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com (30/7/2020), ketika dilihat malam hari, patung ini seperti memancarkan cahaya dari bagian matanya.

Stasiun Kizukuri malam hari (soranews24.com)

Tetapi kenyataannya tidak dan ketika terlihat di siang hari, patung shakoki-dogu tersebut hanya memiliki satu kaki. Ide pembuatan patung shakoki-dogu ini muncul saat arkeolog melakukan penggalian di wilayah Tohoku di timur laut Jepang dan menemukan figur tanah liat yang disebut dengan shakoki-dogu.

Arkeolog meyakini dogu tersebut berusia sekitar 2500 tahun dan kota Tsugaru tempat Stasiun Kizukuri berada merupakan tempat yang dianggap suci. Shakoki-dogu yang asli saat ini disimpan dalam Museum Nasional Tokyo dan yang dibuat di Stasiun Kizukuri merupakan replika dengan tinggi 17,3 meter.

Patung ini menempel di bagian depan dinding Stasiun Kizukuri dan kabarnya menghabiskan dana sekitar ¥100 juta saat pembangunannya. Untuk diketahui, konstruksi Stasiun Kizukuri selesai tahun 1992 lalu dan patung shakoki-dogu ini dibuat lebih besar dari aslinya yang ditemukan arkeolog.

Selain menjadi pemanis stasiun, ternyata patung ini menjadi simbol kota dan memiliki panggilan lucu yakni shako-chan. Bahkan alasan mata Shako-chan menyala di malam hari sebenarnya cukup manis, karena penerangan dimulai sekitar tiga menit sebelum kereta dijadwalkan berhenti di stasiun, membuat siapa pun merenungkan di luar bahwa jika mereka perlu naik, mereka harus mulai menuju platform.

Stasiun Kizukuri terutama digunakan oleh penduduk setempat, karena kota ini tidak mendapatkan banyak wisatawan atau pelancong bisnis. Karena itu, cara acuh tak acuh setiap orang berjalan di dekat shakoki-dogu raksasa, yang terlihat dengan ekspresi tenang dan damai, membuatnya merasa seperti Shako-chan mengatakan pada mereka semua, “Semoga harimu menyenangkan! Sampai jumpa lagi!” di pagi hari dan “Selamat datang kembali!” pada malam hari.

Baca juga: Stasiun Ini Dalamnya Melebihi Tinggi Patung Liberty Loh!

Jadi ternyata arsitektur Stasiun Kizukuri yang unik bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, membantu memberikan rasa identitas dan kebersamaan kepada komunitas tempat shakoki-dogu pertama kali berdiri sejak ribuan tahun yang lalu. Meski bentuknya tidak seratus persen menyerupai dogu aslinya, namun penduduk Jepang mengatakan shakoki-dogu di stasiun Kizukuri adalah salah satu bagian dari sejarah.

Saat Masker Tak Anda Gunakan, Sebaiknya Simpan di Kantung Tertutup

Masker menjadi salat satu atribut yang wajib digunakan ketika seseorang pergi keluar rumah di masa pandemi Covid-19. Baik untuk bekerja, naik kendaraan umum ataupun hanya untuk menikmati makanan di berbagai restoran. Namun apakah masker akan selalu digunakan, apalagi saat makan, minum atau tidur? Sepertinya ini tidak mungkin dan banyak yang hanya menurunkan masker ke dagu mereka.

Baca juga: Tegur Penumpang yang Tak Pakai Masker dengan Benar, Pria Tua ini Justru Kena Gigitan di Dada

Padahal menurunkan masker ke dagu tidaklah baik, sehingga pengguna harus menyimpannya di dalam wadah atau kantong kain sehingga bisa digunakan kembali. KabarPenumpang.com melasnir straitstimes.com (11/7/2020), pelancong yang singgah ke restoran akan melepaskan masker mereka karena tidak semua bisa di letakkan di dagu.

“Rasanya tidak sehat untuk meletakkan di atas meja atau ke dalam tas. Jika diletakkan di pangkuan mungkin akan jatuh ke lantai,” ujar Angela Lim, Direktur Sumber Daya Manusia.

Beberapa restoran yang dikunjungi pelancong seperti Din Tai Fung dan Tung Lok menyediakan tas ziplock gratis atau kantung kecil agar pengguna menyimpan masker mereka. Karena ada kemungkinan ini berkelanjutan, maka tidak semua bisnis makanan dan minuman mampu membayar tambahan.

Sehingga yang terbaik adalah membawa tempat penyimpanan masker sendiri. Bila mencari penyimpanan masker disitus e-commerce seperti Lazada dan Shopee akan memberikan berbagai model seperti berbahan plastik atau kain. Bahkan di Carousell, harga untuk perangkat penyimpanan masker berkisar dari $1 hingga $15.

Baca juga: Masker LED Desain Chelsea Klukas Jadi Gaya di Masa Pandemi

Dibuat dengan mempertimbangkan dimensi masker, sebab tidak harus dilipat saat disimpan, yang mengurangi kemungkinan tetesan menyebar. Kantongnya, yang dia gambarkan sebagai “cantik dan fungsional”, populer di kalangan pekerja dewasa dan ibu yang membelinya untuk anak-anak mereka.

 

 

 

 

 

Kasihan, Sukhoi Superjet 100 Tak Terima Satupun Pesanan Tahun Ini

Nasib Sukhoi Superjet 100 tengah terkatung-katung. Pesawat komersial penumpang pertama yang dibuat di Rusia setelah Uni Soviet tumbang ini dikabarkan tak memiliki satupun pesanan. Kabar tersebut tentu beririsan dengan prediksi awal saat pesawat tersebut beroperasi pertama kali pada 2011 lalu, dimana pesawat digadang-gadang bakal jadi pesaing utama Airbus, Boeing, dan Embraer.

Baca juga: Otoritas Rusia Rilis Video Kecelakaan Sukhoi SSJ100 yang Tewaskan 41 Penumpang

Reuters melaporkan, sebetulnya, Sukhoi Superjet 100 memiliki pesanan jangka panjang dari maskapai penerbangan nasional dan terbesar di Rusia, Aeroflot. Maskapai itu diketahui telah menandatangani kontrak kerjasama pada tahun 2018 lalu untuk menyewa sekitar 100 Sukhoi Superjet 100 antara tahun 2019-2026.

Selain itu, maskapai yang didirikan pada tanggal 9 Februari 1923 atau sejak era Uni Soviet, itu seharusnya akan mendapat tambahan 17 pesawat Sukhoi Superjet 100 tahun ini, melengkapi barisan armada Sukhoi Superjet 100 yang sudah terlebih dahulu bergabung sebanyak 54 pesawat.

Akan tetapi, entah apa yang terjadi, dua sumber Reuters menyebut Sukhoi Superjet 100 tak memiliki satupun pesanan pesawat selama 2020. Mirisnya, maskapai penerbangan swasta terbesar di Rusia, S7, Utair, dan Ural Airlines mengaku juga tak berminat membeli pesawat buatan Sukhoi. Rumitnya perawatan serta keterlambatan pengadaan suku cadang jadi beberapa penyebab sepinya peminat.

Tak berhenti sampai di situ, pesawat buatan Sukhoi Civil Aircraft, anak perusahaan dari Presiden Rusia Vladimir Putin, Rostec, juga banyak dikeluhkan oleh klien mereka di seluruh penjuru dunia.

Maskapai penerbangan Irlandia, CityJet menghentikan operasional tujuh Sukhoi Superjet 100 tahun lalu. Demikian juga dengan Interjet Meksiko yang berencana menjual 22 Superjet-nya.

Maskapai dalam negeri Rusia, IrAero, tak ingin ketinggalan. Maskapai yang berbasis di Timur Jauh Rusia bukan hanya mengeluh soal buruknya kinerja teknis Sukhoi Superjet 100, melainkan juga menuntut kompensasi dari Sukhoi selaku produsen.

Buruknya kinerja teknis yang dikeluhkan mungkin bukan sekedar isapan jempol. Beberapa kali, Sukhoi Superjet100 kerap terlibat kecelakaan yang menimbulkan ratusan korban jiwa. Meskipun umumnya otoritas Rusia menyebut kecelakaan itu akibat human error, namun, pengamat menduga bahwa hal itu sengaja dilakukan untuk membuktikan ketangguhan pesawat di samping meyakinkan pelanggan.

Baca juga: Lindungi Industri Dirgantara, Rusia Sebut Human Error Jadi Penyebab Tragedi Sukhoi SJ100

Itu baru dari segi kinerja teknis, dari segi kemampuan produksi Sukhoi juga seringkali lambat dan meleset dari target awal. Terbang perdana pada 19 Mei 2008 hingga 2012 atau setahun pasca memasuki tahun layanan pertama pada 2011, Sukhoi diketahui baru sanggup mengirim satu pesawat dari 200 pesanan.

Kejadian serupa kembali terulang pada 2019 lalu. Semula, Sukhoi berencana mengirim 16 pesawat Superjet 100 atau biasa juga disebut SJ100 ke beberapa pelanggan. Namun, rencana itu meleset menjadi hanya delapan pesawat, lima di antaranya disewakan ke Aeroflot. Hingga Mei 2019 lalu, tercatat sudah 162 unit Sukhoi SJ100 yang telah diproduksi untuk empat maskapai.

“MRTJ Accel,” Kolaborasi MRT Jakarta dan Startup untuk Jalankan Bisnis Anti-mainstream

Program MRTJ Accel resmi diluncurkan pada 7 Agustus 2020 oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar melalui virtual. William mengatakan dirinya banyak mendapat pertanyaan kenapa MRT Jakarta malahan bekerja sama dengan startup padahal bisnisnya adalah transportasi.

Baca juga: Daerah Cagar Budaya di Sepanjang Jalur Fase 2, Jadi Tantangan Tersendiri Bagi MRT Jakarta

Dia menjelaskan bahwa MRT Jakarta bukanlah bisnis transportasi biasa, dimana pihaknya akan mengembangkan dengan formula bisnis tiga plus tiga dengan lifestyle, inovasi dan kolaborasi sebagai yang pertama. Sebab sejak MRT Jakarta beroperasi di tahun lalu, banyak perubahan budaya naik transportasi seperti mengantri, ontime, rapi, disiplin dan lebih menghargai orang lain.

“Salah satunya adalah pengalaman orang yang instrumennya adalah MRT. Ketika berbicara soal lifestyle, semua orang kalau datang ke Jakarta ingin merasakan naik MRT. Kalau lifestyle kita tidak bisa sendiri, harus kolaborasi membawa experince itu adalah inovasi,” ujar William dalam peluncuran MRTJ Accel secara virtual, Jumat (7/8/2020).

William mengatakan, karena bukan bisnis transportasi biasa, pihaknya kemudian melakukan kolaborasi antara MRT Jakarta dengan perusahaan startup teknologi untuk memberdayakan ekonomi digital dengan membuat bisnis serta jasa komersil yang akan berdampak sosial lewat platform MRT. Di mana kerjasama dengan startup menjadi inovasi untuk memaksimalkan fungsi yang telah dijalankan MRT Jakarta.

Tiga formula lainnya adalah MRT Jakarta memperkenalkan business beyond normal sebagai yang pertama dan kemudian beyond ridership. Dimana ada GoJek, sayurbox, startup lainnya dan penumpang sehingga memaksimalkan benefit.

“Ini pengalaman, semua orang akan menceritakan pengalaman naik MRT, maka mereka akan melihat bahwa ada banyak sekali instrumen ekonomi lain yang bisa dilakukan, yang bisa dimaksimalkan dengan MRT. Terlalu sayang kalau MRT hanya sekadar bertransportasi atau mengangkut orang,” ujar William.

Fomula kedua selanjutnya adalah beyond physical mobility. Hal tersebut dapat diperoleh dari kontribusi perusahaan stratup dengan inovasi untuk memperkaya sistem MRT Jakarta.

Baca juga: Bangun Fase 2, MRT Jakarta Buat Rekayasa Lalu Lintas dari Thamrin sampai Monas

William menyebutkan, komponen ketiga adalah beyond transport network yang mana MRT Jakarta saat ini tengah mengembangkan 13 transit oriented development (TOD). Yang mana MRT Jakarta meniru berbagai konsep pengembangan kota-kota besar yang tadinya menggunakan jalan raya menjadi metro system dengan aktivitas bawah tanah tinggi.

Dalam program MRTJ Accel diketahui ada sepuluh startup yang bergabung yakni Pasar Polis, Jakarta Bike Hub, Bobobox, Mapid, Pintaria, Maingame, Jejak.id, Sonicboom, Nodeflux dan Rekosistem.