Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta banyaknya stasiun yang dijadikan cagar budaya dan tentunya masih dioperasikan hingga kini. Berbagai bangunan stasiun yang terkenal dengan sejarahnya yang panjang beserta asal usul yang menjadi legenda dari riwayat bangunan tersebut. Tak hanya itu berbagai area di sekitar stasiun tersebut menjadi kawasan wisata yang hingga kini masih ramai dikunjungi.
Salah satu yang masih menjadi stasiun dengan cerita legenda dan sejarahnya yang terkenal adalah Stasiun Brambanan. Ya, Stasiun Brambanan hadir sebagai solusi transportasi paling taktis dan ramah lingkungan bagi para pelancong domestik maupun mancanegara. Stasiun ini terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini terus naik daun karena menjadi gerbang favorit wisatawan.
Diketahui bahwa stasiun ini disebut-sebut sebagai Stasiun Prambanan, sesuai nama kecamatan. Padahal nama stasiun tersebut sesungguhnya adalah Stasiun Brambanan, bukan Prambanan. Warga Prambanan sendiri mengatakan Stasiun Brambanan selama ini disebut, dikenal dan diucapkan dengan nama Stasiun Prambanan. Penyebutan itu bahkan sudah sejak lama.
Bagi warga lokal Kecamatan Prambanan sebenarnya sudah mengetahui nama stasiunnya Brambanan. Namun dalam pengucapan keseharian tetap Stasiun Prambanan. Menurut warga lokal, Brambanan itu merupakan ejaan lama yang berasal dari nama Prambanan. Dan tentunya memiliki sejarah.
Prambanan itu asal katanya Brambanan. Brambanan sendiri asalnya dari kata Brahmanan karena di sekitar kawasan Prambanan dulunya banyak Brahmana. Nama Brahmanan, Brambanan merupakan sebutan lama zaman kerajaan. Selain stasiun, pasar Prambanan di wilayah Kabupaten Sleman juga namanya Brambanan.
Sejarah lain mengatakan bahwa jalur rel Yogyakarta – Solo kala itu dioperasikan bukan untuk sektor pariwisata, melainkan sebagai mesin penggerak ekonomi guna memperlancar distribusi hasil bumi, perkebunan, dan komoditas dagang antar-kewedanan. Seiring pergeseran zaman, fungsi stasiun bergeser 180 derajat. Urat nadi yang dulunya riuh oleh angkutan barang kolonial, kini bertransformasi menjadi hilir mudik pelancong budaya.
Melonjaknya pamor Stasiun Brambanan dipicu oleh keputusan strategis PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang memasukkan stasiun ini ke dalam rute reguler KRL Commuter Line Yogyakarta – Palur. Tarif flat KRL yang sangat murah sebesar Rp8.000 serta ketepatan waktu tempuh yang bebas dari draf kemacetan jalan arteri membuat ribuan wisatawan bermigrasi menggunakan kereta, terutama saat akhir pekan (weekend) dan musim libur panjang sekolah.
Tentunya, keberadaan Stasiun Brambanan hadir sebagai solusi transportasi paling taktis dan ramah lingkungan bagi para pelancong domestik maupun mancanegara. Alasan utamanya adalah faktor geografis.
Lokasinya hanya bertengger sekitar satu kilometer dari pintu gerbang kompleks Candi Prambanan, salah satu situs warisan dunia besutan UNESCO. Meski ukuran bangunan stasiun tidak semegah Stasiun Yogyakarta (Tugu) atau Solo Balapan, Stasiun Brambanan memegang peran krusial di jantung koridor tersibuk di Indonesia.
Stasiun Kedundang di Yogyakarta, Punya Arsitektur Bersejarah Tinggi
