Yuk Kenali “Ganasnya” Laut Dengan Level Sea State

Mungkin beberapa dari Anda ada yang pernah mendengar kata sea state. Sesuai dengan morfologinya, kata ini tentu akan berhubungan dengan sesuatu yang ada di lautan. Jika diartikan, sea state merupakan ukuran yang lazim digunakan untuk mengukur “keganasan” laut pada suatu waktu tertentu.

Ukuran keganasan laut tersebut diperoleh berdasarkan pengalaman, utamanya oleh para pelaut yang telah terbiasa berlayar di lautan lepas. Maka tidak heran, jika sea state kerap kali dijadikan tolak ukur kemampuan operasi rancang bangun kapal permukaan secara global.

Baca Juga: Mengenal Inflatable Liferaft, Sosok Tabung Berwarna Putih di Geladak Kapal

Untuk menghasilkan ukuran tersebut, ada beberapa faktor yang mempengaruhi sea state level ini, diantaranya adalah kekuatan angin dan gelombang. Sea state sendiri memiliki beberapa tingkatan, dimana setiap tingkatan memiliki deskripsi dan ukurannya masing-masing. Ini artinya, setiap saat sea state level bisa terus berubah, tergantung dari faktor-faktor pendukungnya tadi. Begitu pula halnya dengan gelombang laut yang gerakannya tidak berpola akan sangat menentukan sea state level tersebut.

Ada beberapa acuan yang digunakan untuk mengukur sea state level, salah satunya adalah Beaufort Wind Force Scale, yaitu ukuran empiris yang menghubungkan kecepatan angin dengan kondisi yang diamati di laut. Nama ini diambil dari salah seorang perwira Angkatan Laut Kerajaan Irlandia yang bernama Francis Beaufort pada abad ke-19. Diketahui, Francis jugalah yang merancang perhitungan ini. Perwira laut kala itu melakukan observasi cuaca tanpa skala standard an sangatlah subjektif. Hadirnya Skala Beaufort membantu standarisasi pengamatan ini.

Skala Beaufort. Sumber: metservice.com

Walaupun Beaufort Wind Force Scale ini telah mengalami beberapa kali penyesuaian, namun skala ini masih digunakan setelah 200 tahun sejak pertama kali disahkan. Walaupun di beberapa negara menganggap ada 17 tingkatan di dalam skala Beaufort, tapi World Meteorological Organization hanya mengakui 13 kelas saja. Sea state terkecil dalam skala Beaufort adalah kondisi dimana angin laut berkecepatan kurang dari 1 knot dengan ketinggian ombak 0 (nol) meter. Sedangkan sea state level tertinggi di skala Beaufort adalah skala 12, dimana kecepatan angin melebihi 64 knots (118 km per jam), dengan ketinggian gelombang di atas 14 meter.

Skala Douglas. Sumber: metservice.com

Jika dalam skala Beaufort memasukkan unsur kecepatan angin untuk mengukur sea state level, lain halnya dengan Douglas Sea Scale. Perhitungan yang dikembangkan pada tahun 1920-an oleh Captain H. P. Douglas ini bertujuan untuk mengukur keganasan laut. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari metservice.com, World Meteorological Organization dan MetService menggunakan skala Douglas untuk menentukan keadaan di laut.

Baca Juga: Yang Harus Diingat dari Asuransi Penumpang

Skala Douglas sendiri memiliki 10 tingkatan, dimana tingkatan pertama tidak memiliki ketinggian ombak sama sekali alias 0 meter dan dideskripsikan sebagai perairan yang tenang. Sedangkan tingkatan tertinggi di skala Douglas memiliki ketinggian ombak hingga lebih dari 14 meter. Perlu diketahui, setiap kapal memiliki resistensi tersendiri dalam mengarungi lautan. Itu berarti, ketika kapal tersebut berlayar melebihi batas sea state level yang sudah ditetapkan ketika diproduksi, maka kapal tersebut berada dalam kondisi bahaya.

Mengenal “Big Bunny,” Pesawat DC-9 Mewah Peninggalan Boss Playboy

Hugh Hefner (91 tahun), sang pendiri majalah Playboy yang fenomenal telah meninggal dunia pada Rabu (27/9) waktu setempat di kediamannya The Playboy Mansion, Los Angeles, Amerika Serikat. Ibrata pepatah, “Muda Berfoya-foya, Tua Kaya Raya..,” Hefner meninggal dengan sejumlah cerita tentang kemewahan, gaya hidup jetset dan tentunya wanita-wanita cantik. Namun diantara sisi kemewahan Sang Legenda dunia hiburan ini, Ia memiliki pesawat pribadi yang super mewah, bahkan boleh jadi lebih mewah ketimbang pesawat Kepresidenan RI.

KabarPenumpang.com merangkum dari thedrive.com (28/9/2017), sebagai sosok kaya raya, di dekade 60-an Hefner telah memiliki jet narrow body Douglas DC-9 produksi McDonnell Douglas yang pada saat itu bisa dikatakan tipe pesawat jet komersial yang relatif baru. Bagi Hefner, DC-9 dipandang lebih ekonomis, handal dan yang terpenting memiliki desain seksi, seperti ada pintu di ekor pesawat, dimana ciri ini tidak terdapat pada Boeing 737.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Merujuk ke catatan sejarah, Hefner pada 27 Januari 1969 membeli DC-9-32 langsung dari pabriknya dengan harga US$5,5 miliar dan ini bukan harga yang murah pada tahun itu. Pesawat jet ini memiliki nomor registrasi N950PB dengan interior dalamnya yang dirombak semua sebelum digunakan.

Saat itu, mungkin para pemilik jet pribadi memilih memasangkan sofa beludru dan konsol audio di dalamnya. Justru ini berbeda dengan jet Playboy memiliki desain Skandinavia yang futuristik dengan mempengaruhi interior dengan tampak seperti sesuatu di luar Space Oddyssey 2001 dengan sedikit Barbarella di dalamnya.

Body pesawat jet DC-9 ini di cat berwarna hitam dan livery sticker lambang Playboy di bagian ekor pesawatnya berwarna putih dan terpampang jelas. Dalam pesawat jet ini sendiri, ada sebuah teater, beberapa lounge, kamar mandi lengkap dengan shower dan yang jelas ada tempat tidur besar berbentuk bulat untuk playboy kelas atas.

Hefner, sepanjang hidupnya melakukan sebagian besar urusannya di atas tempat tidur dan tempat tidurnya ini bukan hanya untuk berpesta melainkan juga untuk menjadi kantor. Seprai tempat tidur terbuat dari sutera dengan berlapis manik-manik opium Tasmania.

Baca juga: Sukses di C Series, Bombardier Hadirkan Fitur Connected Cabin di Armada Berikutnya

Disamping tempat tidur semua tombol dan konektivitas yang mengatur pesawat tersebut berada dalam satu konsol melengkung di sepanjang sisi ranjang delapan kaki tersebut persis dibawah jendela. Jika dilihat seperti markas kapten kapal di Starship Enterprise.

Tak ayal bila dilihat dari luar pesawat milik bos Playboy ini seperti pada umumnya, tetapi saat berada di dalam mungkin Anda yang hidup di tahun 1969 akan merasakan masa depan seperti di tahun milenial sekarang ini. Sebab bukan hanya tempat tidur, di pesawat ini terpasang sound sistem surround delapan jalur, beberapa televisi, dua proyektor film dan sistem video yang berteknologi canggih di tahun 1969.

Lampu yang berada dalam pesawat juga di penuhi dengan tampilan seperti dalam club disko. Ada kehebatan lain yang terlihat pada jendela dimana bisa meredup dan menghitam dengan sebuah tombol.

Kerennya lagi DC-9 bisa menerima sebuah komunikasi eksklusif yang memungkinkan tuan Playboy dan tamunya bertelepon ria sambil menembus angkasa melewati stratosfer. Big Bunny adalah sebutan untuk DC-9 ini dan memiliki awak kabin khusus yang dijuluki Jet Bunnies, dimana penampilan dan kemampuan mereka dibutuhkan dalaam pelayanan awak kabin di pesawat.

Awak kabin wanita yang bertugas dalam Big Bunny di tarik dari klub milik Hefner yang berada di Los Angeles dan Chicago, kemudian dikirim untuk latihan bersama Continental Airlines. Continental Airlines menjadi salah satu sekolah untuk awak kabin yang terkenal.

Pakaian awak kabin Big Bunny dirancang oleh perancang busana Walter Holmes dengan gaun mini kulit, sepatu boots hitam, syal aviator putih dengan tambahan bando telinga kelinci putih serta ekor untuk acara khusus. Pengecatan warna DC-9 dengan warna hitam sebelumnya sudah mendapat persetujuan khusus dari Federation Aviation Administration (FAA) sebelum menjadi seperti yang Anda lihat sekarang.

Bisa dikatakan pesawat milik Hefner ini sangat menonjol dibanding milik yang lain dengan tambahan lampu sorot ekstra terang untuk menyalakan kelinci Playboy d bagian ekor. “Saya menyukai kenyamanan jet. Itu benar-benar sebuah apartemen apung dengan kamar tidur, ruang tamu, ruang makan dan area disko di belakang. Saya meminjamkannya ke Elvis Presley untuk terbang ke konser dan saya memberikannya kepada Yul Brynner. Ketika ada yang bertanya kepada saya apakah saya pernah ketinggalan pesawat, saya menjawab, ‘hanya saat saya terbang” ujar Hefner kala itu.

Jet Playboy ini sering di kunjungi orang terkenal pada masanya dan sering di sewa untuk perjalanan tur internasional hingga persiapan pesta mewah untuk menyambut tamu luar negeri. Ternyata bukan hanya untuk bersenang-senang, pesawat jet ini juga pernah mengangkut Operation Babylift ke New York untuk diterima keluarga angkatnya dari Vietnam yang saat itu perang menuju .

Big Bunny sendiri juga pernah mengangkut gorila bernama Baltimore Jack ke seluruh Amerika Serikat untuk bertemu pasangan potensial. Sayangnya tahun 1975, pesawat jet ini di jual ke Venezuela Airlines dan tahun 2004 akhirnya pensiun. Saat ini Big Bunny telah menjadi alaat pendidikan yang disumbangkan ke kota Cadereyta di Meksiko.

Boeing 737 Generasi Pertama vs Seri Klasik, Apa Perbedaannya?

Sukar dipungkiri bahwa penerbangan domestik dan internasional di seluruh dunia umumnya menggunakan pesawat narrow body. Jawaranya, siapa lagi kalau bukan Boeing 737. Selain tanpa pesaing, kehadiran Boeing 737 -yang notabene merupakan pengembangan versi murah dari Boeing 707 dan Boeing 727- dengan kapasitas dan jarak yang lebih rendah, dinilai cocok untuk memenuhi kebutuhan maskapai.

Baca juga: Tarung Keluarga Boeing 737 vs Keluarga Airbus A320, Siapa yang Akan Menang?

Boeing pertama kali masuk ke layanan pada 28 Desember 1967. Kala itu, generasi pertama 737-100 tersebut dioperasikan Lufthansa, disusul oleh United Airlines pada keesokan harinya menggunakan seri yang lebih panjang, 737-200. Adapun seri klasik 737-300 dan -400 pertama kali terbang mulai Februari 1984, diikuti seri klasik berikutnya Boeing 737-500.

Ditelisik dari jumlah penjualan, tentu Boeing 737 generasi pertama jauh lebih unggul. Sebab, saat itu, belum ada pesaing yang sepadan. Adapun seri klasik mulai mendapat tantangan berat dari Airbus yang lahir beberapa tahun selang seri klasik 737-300 dan -400 lahir. Namun, bila dilihat dari berbagai sudut, antara keduanya mempunyai keunggulan masing-masing. Dilansir dari Simple Flying, berikut perbedaan generasi pertama Boeing 737 dengan seri klasik.

1. Dimensi

Bentang sayap antar keduanya sedikit berbeda. Generasi pertama memiliki panjang sayap 28,34 meter, sedikit lebih pendek dibandingkan dengan seri klasik dengan 28,93 meter. Seri klasik, yang lahir belakangan juga memiliki panjang di atas generasi pertama. Varian Boeing 737 -200 yang notabene memiliki panjang 30,53 meter, lebih panjang dari varian -100, masih berada di bawah -500 yang menjadi varian terpendek dengan 31 meter lebih.

2. Kapasitas

Muatan penumpang masih dimenangkan oleh seri klasik. Lagi-lagi, karena lahir lebih akhir ketimbang generasi pertama 737, tentu banyak pengembangan dan penyesuaian kebutuhan penerbangan yang kian lama kian berkembang.

Seri klasik, Boeing 737-500, -300, dan -400 masing-masing berkapasitas 132, 149, dan 168, atau 35 persen lebih banyak muatan ketimbang generasi pertama yang hanya mengangkut rata-rata 124 penumpang dengan konfigurasi full ekonomi.

Baca juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

3. Performa

Sama seperti dimensi dan kapasitas, seri klasik juga jauh lebih unggul dari segi performa. Generasi pertama Boeing 737 menggunakan mesin Pratt & Whitney JT8D dan JT8D-7, dengan jangkauan terbang mencapai 2.778 kilometer dan 2.222 kilometer untuk varian -200.

Sedangkan seri klasik, seluruhnya memiliki peningkatan mesin sekitar 47 persen dibanding generasi pertama, dengan yang terendah dari varian -500 mencapai 2.592 kilometer.

Dari berbagai penjelasan di atas, jelas seri klasik jauh lebih unggul. Namun, dengan berbagai peningkatan, seri klasik tak memiliki kemampuan mendarat di landasan pacu tak beraspal, sebagaimana Boeing 737 generasi pertama.

Teknologi Pendeteksi Mood, Yakin Akurat?

Alat pendeteksi wajah saat ini sudah mulai tersebar di berbagai belahan dunia. Bahkan sudah diuji coba untuk menggantikan paspor di beberapa bandara internasional. Namun bagaimana bila ada alat pendeteksi mood melalui ekspresi seseorang??

Baca juga: Metro Beijing Hadirkan Kamera yang Mampu Identifikasi Penumpang Tanpa Masker

Sepertinya hal ini akan menjadi menarik dan bisa digunakan untuk mengecek ekspresi mikro seseorang yang tidak terlalu kentara dengan jelas meski tetap mengekspresikan emosi seseorang. Sebab mengecek mood seseorang ketika tersenyum saat bahagia, mengernyit saat marah, mengerutkan alis saat bingung atau marah lebih mudah terlihat.

KabarPenumpang.com melansir dari laman ubergizmo.com (19/8/2020), di Inggris, tampaknya pihak kepolisian tertarik untuk menguji sistem pengenalan wajah yang ternyata memiliki kemampuan untuk mendeteksi suasana hati orang dengan memindai wajah mereka. Sayangnya belum jelas cara kerja sistem ini sendiri.

Tetapi perlu dicatat bahwa ada beberapa yang mengklaim bahwa teknologi ini benar-benar beerfungsi. Tahun 2019, lembaga penelitian AI Now telah meminta regulator untuk melarang teknologi tersebut. Halini dikarenakan teknologi tersebut dibuat dengan fondasi yang belum kokoh atau bisa dikatakan masih goyah.

Salah seorang pendiri AI Now, Profesor Kate Crawford mengatakan, pada saat teknologi ini diluncurkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidak ada bukti substansial di mana orang-orang memiliki hubungan yang konsisten antara emosi yang seseorang rasakan dan penampilannya.

“Meskipun kami melihat peningkatan dalam penggunaan pengenalan wajah, terutama untuk tujuan keamanan, tampaknya ada banyak hal tentang teknologi yang belum kami kerjakan,” ujar Kate.

Dia menambahkan, ada beberapa contoh di masa lalu, di mana sistem seperti ini sebenarnya menyebabkan penangkapan yang salah. Bahkan beberapa kota di Amerika Serikat juga kini telah melarang penggunaannya di ruang publik.

Baca juga: Gegara Pandemi, Teknologi dan Layanan Penerbangan ini Harus Diadopsi Lebih Cepat

Tak hanya itu NYPD juga mengumumkan bahwa mereka akan menilai ulang penggunaan teknologi pendeteksi mood tersebut. Nah, kalau ini sudah di pastikan dan tersebar di seluruh dunia berarti setiap orang bisa terlihat moodnya hanya melalui sebuah alat pendeteksi ini.

Bandara Changi Hadirkan Kampanye Belanja Online

Dari pada belanja langsung ke toko, sepertinya di masa pandemi ini orang-orang akan memilih berbelanja dari online. Sehingga bisa dikatakan, pandemi Covid-19 membuat orang benar-benar tidak pergi keluar hanya untuk berbelanja selain lebih mudah, ini juga membuat lebih nyaman dan menjauhkan penularan Covid-19.

Baca juga: Penumpang Bandara Changi Gunakan Kostum Hazmat dan Tidak ada Jarak Sosial

Adanya hal ini, Bandara Internasional Changi di Singapura telah meluncurkan kampanye belanja online pertamanya. Kampanye ini akan berjalan selama tujuh minggu dari sekarang hingga 11 Oktober mendatang. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (24/8/2020), kampanye ini akan menampilkan penawaran mingguan untuk hampir sembilan ribu produk yang terserap pajak dan bea.

Produk-produk yang ditampilkan adalah barang elektronik, kecantikan, wine hingga minuman beralkohol. Ketika pembeli melakukan pembelanjaan, mereka mengharapkan voucher, hadiah dan penawaran dalam berbagai bentuk tergantung pada jumlah penukaran terbatas serta syarat dan ketentuan lainnya.

Misalnya, pembeli bisa mendapatkan diskon hingga 60 persen untuk produk tertentu pada hari Kamis. Kampanye ini juga melibatkan sesi streaming langsung yang akan menampilkan tokoh-tokoh seperti saluran YouTube Night Owl Cinematics ‘Aiken Chia dan Sylvia Chan, dan portal gaya hidup Xenia Tan dan Fauzi Aziz dari portal gaya hidup TheSmartLocal.

Mereka akan mengambil bagian dalam tantangan langsung sambil meninjau penawaran produk minggu ini selama setiap sesi 40 menit yang diadakan pada pukul 10 malam pada hari Kamis. Selebriti seperti aktris Joanne Peh juga akan muncul untuk berbagi tips tentang perawatan kulit dan perawatan kecantikan mereka.

Untuk mencari produk yang diinginkan, pelancong bisa melihat di situs web iShopChangi. Kampanye Bandara Changi dilakukan di tengah lingkungan ritel yang lesu yang mendorong banyak pengecer untuk beralih ke online. Penjualan ritel pada bulan Juni turun, meskipun lebih lambat dari pada dua bulan sebelumnya, menurut data dari Departemen Statistik pada 5 Agustus.

Pengambilan di kasir turun 27,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, setelah mencatat rekor 52 persen pada Mei dan 40,3 persen pada April. Di tengah iklim yang suram, lebih banyak pengecer, termasuk yang tradisional, melibatkan pembeli secara online. Pada bulan Juni, department store BHG Singapura meluncurkan toko e-commerce yang pertama dalam 26 tahun sejarahnya.

Lebih dari 170 merek rumahan dan internasional dipasarkan secara online, dengan penawaran yang mencakup kosmetik, produk rumah tangga dan kehidupan, elektronik, peralatan dapur, dan mainan. Sementara itu, Robinsons dan Marks & Spencer, yang memiliki situs web mereka sendiri, ditayangkan dengan tambahan etalase di platform e-commerce Lazada pada bulan April.

Baca juga: 80 Persen Toko F&B dan Outlet Ritel Kembali Dibuka di Bandara Changi

Pembeli dapat menelusuri produk yang diautentikasi dari berbagai macam merek toko melalui etalase LazMall. Great Singapore Sale tahunan, yang disebut-sebut sebagai acara ritel terbesar di Singapura, juga akan menjadi acara virtual tahun ini untuk pertama kalinya sejak dimulai 26 tahun lalu.

Viral di TikTok, Pramugari Kasih Tips Aman Tidur di Hotel

Pramugari kerap kali harus menghabiskan banyak malam di hotel tempat mereka mendarat di tujuan penerbangan maskapai. Biasanya mereka beristirahat di hotel sebelum kembali ke penerbangan selanjutnya. Karena hal tersebut, seorang pramugari kini menjadi viral karena videonya di TikTok.

Baca juga: Sterilkan Kamar Hotel dari Virus Corona, Tips dari Pramugari ini Layak Ditiru

Kat Kamalani, pramugari yang viral tersebut membuat video tentang cara aman di hotel. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman buzzfeed.com (27/8/2020), judul video Kat di TikTok yakni “Kiat Saat Menginap di Hotel dari Pramugari.” Dalam video tersebut Kat benar-benar menunjukkan seperti apa saat menginap aman di hotel.

Pertama ada tindakan pencegahan kemanan seperti tidak mengucapkan dengan keras nomor kamar Anda ketika di lobby atau lorong. Kemudian sebelum masuk kamar lihat sekeliling apakah ada orang yang mengikuti dari belakang atau tidak.

“Kalau-kalau ada orang disekitar dan tidak ingin mereka tahu Anda menginap tak perlu menyebut nomor kamar dengan suara keras. Pastikan juga di belakang tidak ada orang saat masuk kamar,” ujar Kat.

Dia menyebutkan, periksa juga apakah ada orang di dalam kamar. Cek belakang tirai, bawah tempat tidur atau tempat lainnya. Kat menjelaskan bila ada pengait atau gerendel pintu, maka Anda harus selalu menggunakannya ketika berada di dalam kamar. Tak hanya itu, Kat kemudian melanjutkan ke topik lainnya seperti ke kutu busuk.

Dalam hal kutu busuk, Kat merekomendasikan untuk memeriksa tempat tidur Anda secara menyeluruh. Bahkan dia menyuruh untuk melepas seprai dan memeriksa jahitan sudut kasur di mana serangga kecil suka bersembunyi. Sedangkan selimut, dan batal dekoratif dikatakan Kat untuk membuangnya ke samping segera setelah Anda masuk ke kamar.

“Mereka tidak pernah mencucinya,” kata dia.

Untuk menjaga tempat tidur Anda bersih, Kat mengatakan untuk menjauhkan barang bawaan dari situ. Dia menegaskan jangan pernah meletakkan tas di tempat tidur karena sudah melalui bandara dan itu menjijikkan. Jika ruangan tidak memiliki kulkas, Kat menyarankan untuk menggunakan ember es agar bahan makanan Anda tetap dingin dalam keadaan darurat.

“Jika Anda tidak memiliki lemari es, taruh makanan Anda dalam ember es, dan begitulah,” tambahnya.

Sejak dia mengunggah videonya ke TikTok awal bulan ini, itu menjadi sangat viral. Video tersebut telah mengumpulkan lebih dari 5,7 juta tampilan dan lebih dari satu juta suka hanya dalam beberapa minggu.

Baca juga: Ini Dia! Tips Cantik ala Pramugari

“Saya benar-benar ingin membantu audiens saya lebih aman, lebih bersih, dan lebih nyaman saat menginap di kamar hotel. Jadi saya memutuskan untuk membuat video tersebut. Saya terkejut melihat begitu banyak orang tidak melakukan semua ini. Saya bersyukur bisa membantu orang lain dan menyukai reaksi semua orang. Sangat menyenangkan melihat komentar semua orang,” kata Kat.

Dorong Warga Pakai Masker, Jerman Larang Penggunaan Deodoran di Transportasi Umum

Para pakar menilai masker berperan penting mencegah penularan virus corona. Oleh karenanya, pemerintah di seluruh dunia mendorong warganya untuk menggunakan masker; tak terkecuali Jerman. Di Negeri Bavaria, mengenakan masker memang sudah menjadi kebiasaan, namun, mengenakan masker dengan benar masih menjadi hal tabu.

Baca juga: Gegara Corona, Transportasi Umum di Israel Hanya Melayani Rute ke Kantor Pemerintahan

Tak mau hal itu terus berlanjut, Jerman berencana melarang penggunaan deodoran di transportasi umum. Hal itu dinilai menjadi senjata ampuh dalam upaya melawan penyebaran virus corona, dalam hal ini memaksa warga mengenakan masker dengan benar sampai menutupi hidung, bukan di bawahnya. Bau tak sedap yang dihasilkan dinilai akan membuat warga terpaksa menutup hidung dengan masker untuk mengurangi efek bau yang mau tak mau dihirup.

Pasalnya, selama ini, ancaman kesehatan yang digaungkan pemerintah tak kunjung menggerakkan warga untuk mengenakan masker dengan benar, seperti diberitakan Autoevolution.

“Mengingat begitu banyak orang yang berpikir bahwa mereka bisa memakai masker di bawah hidung, maka kami akan semakin ketat. Jadi, sekarang apakah masih ingin menunjukkan hidungmu?” tulis perusahaan transportasi umum di Jerman, BVG, melalui Twitter.

Rencana tersebut pun mendapat respon luar biasa dari publik Jerman. Seperti biasa, netizen terbelah, ada yang pro dan kontra. Bagi mereka yang pro, umumnya menyoroti tujuan dari pemerintah itu sendiri, yakni dalam upaya mendorong warga mengenakan masker dengan benar.

Bagi mereka yang kontra, umumnya menyoroti cara pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut salah satu netizen, tidak menggunakan deodoran justru sama buruknya dengan mengenakan masker di bawah hidung. Sebab, hal itu (larangan menggunakan deodoran) dapat membuat bakteri berkembang dengan cepat.

Bagi mereka yang mengambil posisi tengah, tidak pro ataupun kontra, solusi lain jadi fokus utama. Salah satu netizen, seperti dilihat di Twitter BVG @BVG_Kampagne, menyoroti pentingnya ventilasi di ruang publik, termasuk di transportasi umum.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Hal itu lebih relevan ketimbang mengeluarkan kebijakan larangan penggunaan deodoran ataupun memaksa wagra mengenakan masker dengan benar sampai menutup hidung. Sebab, hal itu bisa saja membuat sebagian warga tak nyaman. Terlebih di ruangan kedap seperti di kereta bawah tanah.

Terlepas dari kebijakan larangan menggunakan deodoran untuk memaksa warga mengenakan masker dengan benar, sebetulnya, warga Jerman lama dikenal malas mandi. Tak ada penjelasan ilmiah terkait hal itu, namun, sebagian netizen menilai bahwa budaya kerja menjadi alasannya. Mandi, termasuk menikah, hanya akan menghabiskan waktu. Sebagian lagi menilai, Jerman memiliki iklim yang sejuk, bahkan di musim panas, sehingga tak terlalu membuat warga berkeringat layaknya di negera-negara tropis.

Penuhi Kebutuhan Hidup, Dua Pilot Indonesia Alih Profesi Jadi Pedagang Mie Ayam dan Kopi Keliling

Maskapai penerbangan menjadi salah satu sektor yang terkena imbas paling besar di masa pandemi Covid-19 ini. Bahkan ini membuat pilot, awak kabin dan staf darat maskapai harus di rumahkan sementara dengan tak digaji atau benar-benar diberhentikan dari pekerjaan mereka. Di beberapa negara, banyak pilot yang kemudian alih profesi selama masa pandemi dan menjadikan profesi itu sebagai yang utama sebelum mereka kembali mengudara.

Baca juga: Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online

Nah, di Indonesia apakah ada pilot-pilot yang alih profesi? Ternyata di Indonesia ada pilot yang beralih profesi, baik pedagang mie ayam ataupun penjual kopi. Penasaran kisahnya? Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, seorang pilot bernama Megah Putra Perkasa menjadi salah satu pilot yang terkena imbas Covid-19.

Dia dirumahkan sejak bulan April lalu karena tidak ada penerbangan. Megah sempat tertekan dengan keadaan dan memutar otaknya untuk menghidupi keluarga di mana empat anaknya masih memerlukan biaya untuk sekolah. Awalnya Megah membantu sang istri berjualan baju online, tetapi hasilnya belum cukup untuk memenuhi kehidupan keluarganya.

Kemudian tak sengaja dirinya melihat status temannya sesama pilot menjual ikan laut keliling menggunakan boks. Akhirnya dia mencoba usaha dari hobi memasak dan mencoba berjualan mie ayam.

“Jadi awalnya saya coba jual via online, mulai dari Instagram, ada juga WhatsApp, kebetulan ada grup-grup kantor dan juga pengajian-pengajian di masjid sekitar rumah,” ujarnya yang dikutip dari kompas.com.

Kemudian Megah bertemu dengan pemilik foodcourt Majelis di Ruko Granada Square BSD Tangerang Selatan. Dia ditawarkan untuk membuka lapak dagangannya meski modal gerobak dan perlengkapan lainnya belum ada hingga akhirnya ada yang membantu.

Lapak dagangannya dibuka sejak 24 Juli lalu dengan menu mie ayam dan mie yamin yang dilengkapi dengan beberapa topping. Meski begitu,Megah mengaku ada hikmah di masa pandemi yakni lebih dekat dengan keluarga karena bisa bertemu setiap hari.

Megah juga masih aktif di dunia penerbangan dengan izin terbang 14 hari dalam sebulan sesuai dengan surat keterangan bebas Covid-19. Selain Megah, seorang pilot asal Papua, Denny Jigiblaom juga terkena dampak pandemi. Namun bedanya, Denny terkena imbas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh maskapai Trigana Air Service.

Demi mempertahankan hidup, pilot yang satu ini memutuskan berjualan kopi keliling di alun-alun kota Wamena. Kopi yang ditawarkannya memiliki sejumlah varian rasa dari Kopi Tyom yang dikelola Denny. DJ, sapaan putera asal Papua ini, mulai berjualan kopi keliling mulai puku 16.00 hingga 20.00 WIT.

Baca juga: Waduh, Pilot Ryanair Operasikan Pesawat Sambil Mainin “Ayam-ayaman”

Dia menjajakan kopi khas Pegunungan Tengah Papua dengan mengendarai mobil Landcruiser antik miliknya. Sebelum berjualan ternyata Denny sudah mulai menekuni usaha kopi sejak 1995. Denny diketahui, merupakan pilot yang menerbangkan pesawat berbadan kecil jenis Twinn Otter selama sepuluh tahun.

Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

Delapan angkutan tanpa pengemudi atau otonom dari May Mobility akan mulai melanjutkan layanan reguler mereka pada 31 Agustus 2020. Mobil otonom ini akan diluncurkan kembali di Grand Rapids dengan dilengkapi perawatan sinar ultraviolet rutin, penambahan partisi untuk memisahkan kursi penumpang dengan pengemudi, larutan desinfektan dan foggers.

Baca juga: California Hadirkan AutoX, Mobil Otonom Pengantar Barang Pesanan

“Saya sangat bangga dengan tim May Mobility yang bekerja sama dengan mitra kami untuk menemukan kombinasi yang tepat dari teknologi pembersihan untuk mendapatkan kembali layanan angkutan di Grand Rapids. Ini adalah contoh sempurna tentang betapa gesit dan inovatifnya kita dapat menjadi sebuah perusahaan,” kata Edwin Olson pendiri dan CEO May Mobility dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan, program antar jemput di Grand Rapids sendiri menunjukkan misi perusahaan mereka dalam memberikan opsi transportasi aman dan efisien yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas kota. Dilansir KabarPenumpang.com dari mlive.com (24/8/2020), perusahaan yang berbasis di Ann Arbor, Michigan ini merupakan mitra utama yang menangguhkan layanannya pada 16 Maret 2020 kemarin untuk mencegah penumpang tertular Covid-19 selama perjalanan.

Mobil otonom ini akan mulai beroperasi di layanan reguler dari jam 07.00 pagi sampai 19.00 waktu setempat dari Senin sampai Jumat. Selain itu, rute DASH West kota juga akan mulai dilanjutkan kembali.

Rute DASH West memiliki panjang 3,2 mil atau 51 km dan akan membawa penumpang mengelilingi pusat kota. Mobil otonom May Mobility tersebut memiliki perhentian lebih dari sepuluh yakni David D Hunting YMCA, Sekolah Tinggi Seni dan Desain Kendall, Museum Anak-Anak Grand Rapids, Area Van Andel dan Pasar Jembatan Jalan. Layanan mobil otonom ini tidak menarik ongkos dan memiliki kecepatan 25 mph atau 40 km per jam.

“Kami senang mengembalikan (Grand Rapids Autonomous Vehicle Initiative) ke jalan dengan cara yang aman dan responsif. Pilot (Grand Rapids Autonomous Vehicle Initiative) terus menjadi pilihan inovatif dan populer bagi para pelancong sambil memajukan teknologi kendaraan otonom di Grand Rapids,” kata Josh Naramore, direktur Departemen Layanan Parkir dan Mobil Seluler Kota.

Kedelapan angkutan otonom sekarang akan menampilkan partisi antara penumpang dan petugas, yang kadang-kadang akan mengambil alih kendali manual kendaraan untuk meningkatkan perjalanan. Partisi mengurangi tempat duduk penumpang dari lima menjadi empat. Penumpang juga tidak bisa lagi berkendara dengan orang asing dan harus naik sendiri atau bersama anggota keluarga atau rombongan mereka.

Dalam perjalanan dengan mobil otonom ini, petugas dan seluruh penumpang diharuskan memakai masker. Selain langkah-langkah jarak sosial, May Mobility juga menerapkan filter AC dan langkah-langkah desinfeksi untuk membunuh patogen Covid-19 yang tersisa di antara perjalanan.

Di antara setiap perjalanan, para pejabat mengatakan mereka akan menggunakan perawatan sinar ultraviolet C. GHSP, perusahaan yang berbasis di Belanda yang membuat produk tersebut, mengklaim pengobatan lima menit dengan grenlite akan “menonaktifkan” hingga 99,9 persen kuman dan patogen, termasuk virus corona manusia, menurut May Mobility.

Baca juga: Optimus Ride, Kendaraan Self-Driving untuk Pengiriman Makanan dan Barang

Staf juga akan membersihkan seluruh interior mobil otonom setiap hari dan menggunakan fogger kering disinfektan untuk menjangkau celah dan area yang tidak dapat disemprotkan, lampu UV, dan tisu basah. Sistem fogger kering adalah produk dari Halosil International. May Mobility telah memasang filter udara MERV 13 di kedua zona AC zona ganda angkutan. Filter ini dapat dengan mudah diganti secara teratur, kata para pejabat.

“Di Michigan, ketahanan dan inovasi ada dalam DNA kami, dan itu tidak pernah lebih jelas daripada selama pandemi global ini,” Trevor Pawl, kepala petugas mobilitas untuk Negara Bagian Michigan.

 

 

Rugi Rp104 Triliun, Rolls Royce PHK 9 Ribu Karyawan dan Jual Enam Pabrik

Raksasa otomotif asal Inggris, Rolls Royce, melaporkan mengalami kerugian besar mencapai £5,4 miliar pound atau Rp104 triliun lebih (kurs 19.320) selama enam bulan terakhir. Harga dari kerugian tersebut, sebanyak 9 ribu karyawan, termasuk penutupan sebanyak dua pabrikan dan asset lainnya, dari semula 11 menjadi enam.

Baca juga: Produksi Pesawat Supersonic Setara Concorde, Virgin Galactic Gandeng Rolls Royce Hingga NASA

BBC Internasional melaporkan, PHK dan penjualan asset perusahaan ialah bagian dari program efisiensi selain mencari tambahan dana segar sebesar £2 miliar atau sekitar Rp38 triliun lebih (kurs 19.320) untuk memperkuat likuiditas perusahaan selama beberapa bulan ke depan.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Rolls Royce berkata, “Mengingat ketidakpastian yang sedang berlangsung di sektor penerbangan sipil, kami terus menilai opsi tambahan (menjual asset) untuk memperkuat neraca kami untuk memungkinkan kami keluar dari berbagai kesulitan akibat pandemi corona untuk memanfaatkan peluang jangka panjang di pasar global.”

Rolls Royce selama ini dikenal sebagai merek mobil mewah yang juga memasok mesin pesawat Boeing 787 dan Airbus A350. Khusus untuk pesawat, perusahaan yang sebelumnya memiliki karyawan sebanyak 50 ribu di seluruh dunia itu mendapatkan uang bukan dari hasil penjualan mesin, melainkan dari biaya penggunaannya. Dengan anjloknya penerbangan di seluruh dunia, praktis, pendapatan perusahaan juga ikut melorot.

Tahun ini, perusahaan awalnya menargetkan pengiriman sekitar 500 mesin jet baru ke maskapai. Setelah corona menerjang, jumlah tersebut direvisi menjadi kurang dari setengahnya.

Bak jatuh tertimpa tangga, kerugian akibat turunnya jumlah penerbangan dan pengiriman mesin juga diikuti dengan masalah yang timbul pada mesin XWB-84. Mesin Airbus A350 XWB itu belum lama ini dikabarkan mengalami keretakan setelah melalui perjalanan panjang mencapai 14 juta kilometer atau setara dengan 350 kali keliling dunia.

Pasca temuan itu, pabrikan asal Inggris tersebut mau tak mau harus menginspeksi seluruh mesin Rolls-Royce XWB-84 di fasilitas perawatan mereka, terutama bagi pesawat-pesawat dengan masa tugas serupa atau sekitar empat sampai lima tahun, sebagai bentuk pencegahan. Selama masa inspeksi tersebut, mesin Rolls-Royce XWB-84 akan disorot khususnya pada bagian bilah mesin di Kompresor Tekanan Menengah.

Baca juga: Setelah Lalui Jarak Setara 350 Keliling Dunia, Mesin Rolls-Royce Airbus A350 XWB Alami Keretakan

Di samping itu, ruang bakar di dalam mesin juga tak lepas dari sorotan. Sebab, ruang bakar di dalam mesin merupakan bagian mesin yang paling berat bebannya. Ruang bakar harus tahan setidaknya suhu 2 ribu derajat Celcius selama berjam-jam, khususnya pada saat take off dan landing, dimana pesawat mengeluarkan tenaga maksimal. Jika sedikit saja terjadi kesalahan, mesin akan mati total.

Praktis, dengan masalah mesin XWB-84, berbagai biaya untuk merecall dan mereparasi mesin makin memperberat keuangan perusahaan. Di samping itu, mesin yang seharusnya menghasilkan uang seiring penggunaan pada pesawat di seluruh dunia, justru malah membuat perusahaan merogoh kocek lebih dalam.