Kala Virus Kolera Serang Ratusan Penumpang Pesawat Lewat Makanan dari Maskapai

Pada hari ini, 29 tahun lalu, bertepatan dengan 4 Februari 1992, 76 dari 336 penumpang maskapai Aerolineas Argentinas dengan nomor penerbangan 386, jatuh sakit setelah mengkonsumsi udang yang disajikan katering maskapai tersebut. Bahkan, satu di antaranya tewas. Setelah diteliti, udang tersebut rupanya membawa virus kolera.

Baca juga: Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines

Washington Post melaporkan, insiden bermula saat pesawat Boeing 747 Aerolineas Argentinas dengan nomor registrasi LV-MLR, berangkat dari Bandara Internasional Ministro Pistarini, Buenos Aires, Argentina, menuju Bandara Internasional Los Angeles, Amerika Serikat, dengan transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Chávez, Lima, Peru.

Dalam perjalanan dari Peru, lima penumpang tiba-tiba jatuh sakit. Anehnya, mereka memiliki gejala yang mirip satu sama lain. Setelah mendarat di Los Angeles, jumlah penumpang yang sakit melonjak menjadi 76 orang.

Pasca laporan adanya kejadian ini, Shirley Fannin, direktur program pengendalian penyakit di Los Angeles, coba mentracing seluruh penumpang. Menurutnya, penumpang lain menjadi kunci menguak teka-teki ini.

Setelah penelitian lebih lanjut, petugas menyimpulkan bahwa fenomena penumpang jatuh sakit saat pesawat tengah mengudara disebabkan oleh virus kolera. Virus tersebut diduga dibawa oleh udang dalam katering makanan pesawat yang didatangkan saat transit di Lima, Peru. Sebelum insiden penumpang jatuh sakit ini, Amerika Selanta, khususnya Peru, diketahui sudah setahun lamanya menjadi episenter penyebaran virus kolera.

Epidemi kolera di Amerika Selatan setahun sebelum kejadian telah mengakibatkan lebih dari 2.900 tewas di Peru dan setidaknya 1.100 di negara lain di Amerika Selatan.

Juru bicara maskapai Aerolineas Argentinas mengungkapkan, dugaan virus kolera dibawa dari udang dalam katering yang didatangkan ketika Peru berdasarkan bukti dari dua penumpang. Disebutkan, dua penumpang tersebut tidak menyantap udang yang disajikan maskapai, tetapi keduanya teridentifikasi tertular virus kolera. Keduanya juga diketahui baru naik di Lima, Peru.

Sebetulnya, anak perusahaan dari maskapai Iberia, Spanyol itu sudah setahun lamanya menyetop katering dari rekanan di Peru. Namun, sejak November sebelum kejadian, maskapai kembali mengontrak perusahaan katering dari negara tersebut karena ancaman wabah kolera dinilai sudah mereda.

Baca juga: Ngeri…! Di Makanan Kelas Satu Delta Airlines Ada Belatungnya!

Dua hari pasca insiden tersebut, satu penumpang berusia 70 tahun, dinyatakan tewas akibat kolera. Selain itu, 56 dari 76 penumpang yang sakit diduga mengidap kolera dan setelah diteliti kembali, 23 di antaranya tidak memiliki gejala tersebut atau tidak terpapar kolera.

Kolera sendiri merupakan penyakit akibat infeksi usus kecil yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini biasanya menginfeksi lewat makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Bakteri Vibrio cholera mengeluarkan racun di usus yang memicu terjadinya diare yang disertai muntah.

TorchONE – Helm Sepeda dengan Lampu LED yang Bisa Dipasang dan Dilepas

Helm sepeda saat ini dipasaran sudah banyak yang dilengkapi dengan lampu. Namun yang pertama menghadirkan helm sepeda dengan lampu adalah Torch T1 yang saat ini pembuatnya telah kembali ke Kickstarter dengan menghadirkan panel LED yang bisa dipasang dan lepas sesuai kebutuhan pengguna.

Baca juga: “Ticc” Mudahkan Pesepeda Memberikan Tanda Belok pada Pengendara Lain

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (2/2/2021), helm terbaru ini dikenal dengan TorchONE yang mungkin agak sedikit membingungkan karena mirip dengan Torch T1 yang sudah ada sebelumnya. Namun sementara T1 dan hampir semua helm menghadirkan cahaya LED yang terintegrasi secara permanen ke dalam helm.

Sedangkan TorchONE menggunakan panel tahan air yang dapat dengan mudah dimatikan dinyalakan. Hal ini berarti, jika pengguna berkendara dalam kondisi panas dan cerah, bisa mematikan lampu untuk sementara waktu.

Hal ini untuk mengurangi berat helm dalam dan untuk meningkatkan aliran udara melalui ventilasi yang terpasang dibagian dalamnya. Sehingga tak heran, jika panel depan berwarna putih dan panel lampu belakang berwarna merah.

Meski begitu, tidak ada kabar tentang berapa banyak LED yang digabungkan masing-masing, atau berapa output cahaya gabungannya. Diketahui bahwa dengan menekan sebuah tombol pada setiap panel, mereka dapat diatur ke salah satu dari empat mode keluaran sehingga panel LED memiliki stabil tinggi, stabil rendah, berkedip lambat dan berkedip cepat.

Selain itu, karena panel melengkung di sekitar helm, lampu bisa dilihat dari samping, bukan hanya dari depan atau belakang. Namun, satu hal yang tidak mereka lakukan adalah berfungsi sebagai indikator belok atau lampu rem seperti yang dilakukan oleh lampu pada beberapa helm lain.

Para perancang memberi tahu bahwa penghilangan ini dimaksudkan untuk membuat hal-hal sederhana bagi pengendara sepeda dan yang terakhir mungkin hanya bingung dengan lampu helm yang melakukan hal-hal aneh seperti berkedip di satu sisi saja. Seperti yang sekarang menjadi standar pada elektronik yang dapat diisi ulang, kabel Micro USB digunakan untuk mengisi baterai lithium terintegrasi panel.

Baca juga: Pengemudi Ojek Sepeda di Kigali Wajib Pakai Helm

Perusahaan Pakaian Obor masih melakukan pengujian untuk menentukan masa pakai baterai di masing-masing dari empat mode. Seperti yang disebutkan, TorchONE sekarang ada di Kickstarter dan bila dengan asumsi semua berjalan sesuai rencana, harga helm dengan panel lampu LED sekitar £79 (sekitar US$108) akan memberi Anda satu pilihan dalam warna hitam, abu-abu, kuning atau putih.

Kisah SS Voorwaarts, Kapal Uap Italia Bekas Pengangkut Jamaah Haji dan Orang Jawa ke Suriname

Angkutan laut di masa lalu menjadi andalan Nusantara atau Hindia Belanda sebelum era pesawat terbang muncul. Berbagai interaksi dan mobilisasi massa antar negara serta benua banyak dilakukan melalui moda transportasi ini; termasuk mengantar jamaah haji tempo doeloe ke Tanah Suci Mekkah dan mengirimkan orang Jawa ke Suriname, menggunakan kapal uap SS Voorwaarts.

Baca juga: Perjalanan Haji Tahun 1888, 20 Hari Keliling Pulau Jawa Sebelum Menuju Mekkah!

Terkait SS Voorwaarts, dikutip dari wrecksite.eu, kapal uap ini dibuat oleh perusahaan Britania Raya, John Elder & Co., Glasgow, pada tahun 1874. Kapal uap yang digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang ini kemudian dibeli oleh Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN), perusahaan kapal uap yang berbasis di Amsterdam, Belanda, usai selesai dibangun.

Kapal dengan muatan hingga 2801 ton itu selama beberapa tahun digunakan oleh perusahaan tersebut untuk berbagai kebutuhan Belanda dan koloni-koloninya, seperti Hindia Belanda, saat mengirim masyarakat Jawa ke Suriname.

Dilansir dari berbagai sumber, pada tanggal 16 Juni 1894, sebanyak 582 orang Jawa tiba di Suriname. Itu adalah pengiriman kedua setelah pengiriman pertama pada 9 Agustus 1890 berhasil dilakukan, membawa sekitar 94 orang Jawa, terdiri dari 61 orang pria, 31 orang wanita dan 2 orang anak dan ditempatkan di perkebunan tebu dan pabrik gula Marienburg.

Pada pengiriman kedua, 64 orang penumpang kapal tercatat meninggal dunia dan 85 orang harus dirawat di rumah sakit, setelah kapal uap SS Voorwaarts tiba di pelabuhan Paramaribo, ibu kota Suriname. Itu terjadi akibat penumpang berdesakan imbas kelebihan muatan.

Selain itu, kapal layar bertenaga uap dengan kecepatan rata-rata 22 km per jam ini juga pernah dikerahkan untuk mengangkut jamaah haji Hindia Belanda pada tahun 1888. Dari sebuah foto yang tak diketahui sumbernya, disebutkan, pada tahun tersebut, bertepatan dengan 1305 hijriah, keberangkatan kapal laut yang mengangkut ibadah haji terjadi pada tanggal 4 April, bertepatan dengan 22 Rajab.

Saat itu, perjalanan haji tempo dulu dimulai dari Cilacap (Tjilatjap), Jawa Tengah, berlanjut ke Banyuwangi, Besuki (Bezoeki, saat ini adalah nama sebuah kecamatan di Situbondo, Jawa Timur), Probolinggo, Surabaya, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Indramayu, Betawi, dan Padang, sebelum menuju Mekkah, Arab Saudi.

Setelah perjalanan jauh nan melelahkan ke Amerika Selatan, Samudera Hindia-Laut Arab-Laut Merah, an berbagai perjalanan lainnya, kapal uap dengan kekuatan mesin mencapai 315 tenaga kuda itu kemudian dijual ke perusahaan Italia, Lavarello Guiseppe, pada tahun 1898.

Baca juga: Mengenal “Gouverneur Generaal Loudon,” Kapal Penantang Tsunami Krakatau yang Kandas Ditelan Laut Flores

Sayangnya, kapal uap penuh dengan jejak sejarah, khususnya berkenaan dengan sejarah Nusantara ini harus kandas tak lama pasca dibeli perusahaan Italia. Disebutkan, pada tanggal 1 Januari 1899, usai berpindah tangan ke Lavarello Guiseppe, kapal uap SS Voorwaarts, yang kala itu berada di pelabuhan Cardiff, Wales, bergerak menuju Genoa, Italia.

Kapal yang mampu memuat 22 awak dan ratusan penumpang itu kemudian mengalami kebocoran akibat cuaca buruk di tengah perjalanan. Kapal akhirnya terbelah dua dan tenggelam di Teluk Bristol, tak jauh dari Pulau Lundy, Inggris.

Urban-Air Port Gandeng Hyundai Motor Group Hadirkan Bandara Mobil Terbang di Inggris

Dunia teknologi yang semakin maju pada transportasi sudah menghadirkan berbagai jenis mobil terbang atau taksi udara. Bahkan mobil terbang ini semakin nyata kehadirannya dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada beberapa tahun mendatang untuk melintas di atas perkotaan.

Baca juga: Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Untuk menunjang kehadiran mobil terbang, salah satu yang diperlukan adalah bandara. Di mana nantinya bandara ini akan menjadi tempat lepas landas dan mendaratnya mobil terbang yang mengangkut penumpang atau barang tersebut.

Seperti di Inggris tepatnya di kota Coventry, akan hadir bandara untuk mobil terbang pada akhir tahun ini. Kehadiran bandara ini untuk mendemonstrasikan bagaimana mobil terbang akan berkerja di pusat-pusat perkotaan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman autoblog.com (31/1/2021), Urban-Air Port perusahaan rintisan yang berbasis di Inggris telah bermitra dengan raksasa mobil Hyundai Motor Group untuk mengembangkan infrastruktur bandara. Di mana infrastruktur ini diperlukan saat mobil terbang lepas landas ke udara untuk mengangkut orang ataupun barang.

Mulai bulan November 2021 pengunjung Coventry bisa langsung melihat seperti apa bandara dari mobil terbang ini. Pengunjung juga bisa melihat mobil terbang tak berawak membawa penumpang ketika lepas landas dan mendarat vertikal listrik operasional (eVTOL) di landasan pendaratan.

Urban-Air Port dipilih oleh program pemerintah yang bertujuan untuk mengembangkan pesawat terbang tanpa emisi dan kendaraan udara baru. Di mana Urban-Air Port memenangkan hibah 1,2 juta poundsterling ($1,65 juta) untuk membantu mendanai instalasi sementara bandara di pusat kota Coventry.

“Dengan dukungan pemerintah Inggris dan Hyundai Motor Group, kami akan mewujudkan bandara pertama yang beroperasi penuh di dunia,” kata pendiri dan ketua eksekutif Urban Air-Port Ricky Sandhu.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Sementara telah ada kemajuan dalam mengembangkan mobil terbang, Sandhu mengatakan infrastruktur adalah bagian yang hilang.

“Anda tidak bisa turun dari kereta atau naik kereta kecuali Anda sampai di stasiun kereta, sehingga infrastruktur pendukung di darat mutlak kuncinya,” katanya.

Inilah Marshaller, Tukang Parkir Pesawat Bergaji Rp1 Miliar

Di antara kata-kata bijak, “Segala sesuatu ada ilmunya” menjadi salah satunya. Dalam dunia kerja, itu bisa diartikan apapun profesinya pasti ada kemampuan khusus yang dimiliki oleh pekerja yang bersangkutan; termasuk juru parkir pesawat. Meskipun terdengar remeh dan rendahan, nyatanya, juru parkir pesawat membutuhkan keahlian khusus dan karena keahlian itulah jerih payahnya dihargai gaji mahal sampai Rp1 miliar per tahun.

Baca juga: Ini Dia, Para Pekerja Ground Support System di Bandara

Marshaller sendiri, mengutip dari Angkasa Pura Airports, merupakan salah satu Ground Support System yang bertugas untuk memberikan komando atau memandu pilot dengan memberikan aba-aba atau sinyal visual kepada pilot ketika hendak memarkirkan pesawatnya di hangar atau parking stand di apron sebuah bandara.

Marshaller akan memandu pilot dan berkomunikasi menggunakan aba-aba visual berupa gerakan tertentu. Marshaller harus memberikan arahan yang cepat dan tepat agar pesawat bisa parkir atau berhenti di tempat yang telah ditentukan serta tanpa kesalahan sedikitpun. Sebab, salah sedikit, bukan tak mungkin kerugian yang ditimbulkan akan jauh lebih besar dari gaji ia sendiri.

Gaji Marshall sendiri, dari berbagai sumber, di luar negeri, bisa mencapai Rp500 juta sampai Rp1 miliar per tahun. Jumlah itu bergantung pada maskapai yang memperkerjakan dan pengalaman yang dimiliki.

Dalam melaksanakan tugasnya, seorang marshaller dilengkapi dengan berbagai perlengkapan seperti marshalling bats dan flash light yang memudahkan pilot melihat instruksi marshaller, ear muff atau biasa juga disebut headphone untuk menghindari suara bising mesin jet, fluorescent jacket atau rompi yang biasanya berwarna hijau atau oranye agar mudah terlihat, dan safety shoes untuk melindungi kaki dari benda keras dan tajam.

Dikutip dari laman Finavia, marshaller biasanya akan langsung mendekat ke arah pesawat yang baru tiba di taxiway (jalan penghubung bagi pesawat). Mereka terkadang juga menggunakan kendaraan khusus atau yang biasa disebut dengan follow me car. Jadi, pesawat tinggal mengikuti kendaraan tersebut menuju tempat yang ditentukan.

Begitu pesawat memasuki area ramp, marshaller akan keluar dari kendaraan lalu memandu pilot dan mengarahkannya sambil memberikan isyarat tangan. Semua harus dilakukan dengan tepat, sampai pesawat tiba di pemberhentian terakhir.

Baca juga: Covid-19 Bikin Pilot Banyak Nganggur! Masihkah Jadi Profesi Idaman?

Kendati hanya sekedar juru parkir, namun untuk bisa menjadi profesi yang biasa juga disebut ground marshall ini seseorang harus melalui serangkaian tes fisik dan tes tertulis terlebih dahulu.

Selain itu, calon marshaller juga harus mendapatkan aircraft marshalling license atau lisensi dan rating yang diterbitkan oleh regulator penerbangan sipil Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Lisensi yang diperoleh berlaku selama dua tahun saja dan wajib diperpanjang ketika masa aktifnya sudah habis.

Viral Video Anjing Pintar di India, Tunggu Kereta Hingga Berhenti Baru Turun

Banyak yang mengatakan, anjing adalah hewan cerdas, setia dan mengerti ucapan hingga perilaku manusia. Salah satunya seperti Hachiko di Jepang, anjing yang menunggu majikannya pulang di stasiun dan tidak tahu bahwa majikannya tersebut sudah meninggal dunia.

Baca juga: Bandara Helsinki Gunakan Anjing untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

Nah, selain Hachiko, ternyata ada lagi anjing pintar yang mengerti waktu kapan dia harus turun dari kereta yang tengah bergerak. Penasaran dengan perilaku hewan ini? Belum lama ini seekor anjing viral karena divideokan oleh seorang penumpang kereta di India.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Viral Bhayani (@viralbhayani)


KabarPenumpang.com melansir dari laman indiatoday.in (29/1/2021), dalam video tersebut, anjing itu dengan sabar menunggu turun dari kereta di salah satu stasiun perhentian. Video tersebut dibagikan di Instagram baru-baru ini dengan caption “2021 tahun kecerdasan (sic).”

Dalam video itu menunjukkan anjing berdiri dengan sabar di dekat pintu kereta hingga tiba di stasiun tujuannya. Dari pengumuman yang terdengar pada video, warganet bisa mendengar bahwa kereta tiba di Stasiun Kalva yang terletak di jalur pusat rel kereta pinggiran kota Mumbai, India.

Video dimulai dengan anjing yang sabar menunggu dan melihat keluar dari pintu kereta. Setelah beberapa detik, kereta mulai melambat ketika masuk ke Stasiun Kalva. Sebelum benar-benar berhenti, anjing itu terlihat tenang di pinggir pintu hingga kereta berhenti dengan sempurna.

Kemudian saat kereta berhenti, anjing melompat dari kereta dan kemudian pergi untuk ke tujuannya. Kepintaran dan kesabaran anjing ini berhasil memukau para warganet yang melihat vidoenya.

Setelah empat hari ditayangkan dalam akun Instagram viralbhayani, video ini sudah dilihat lebih dari satu juta kali. Lebih dari sembilan ratus komentar pun diberikan oleh para warganet tentang kesabaran dan kepintaran anjing tersebut.

Gauahar Khan berkomentar, “Oh, bayi yang sangat lucu.”

Sonal Chauhan menulis, “Adorable (sic).”

Seorang warganet lain berkomentar, ‘Aww. Manis sayang ‘, sementara yang lain berkomentar,’ Mereka lebih bijaksana daripada yang diperkirakan manusia …’

Baca juga: Mirip Hachiko, Seekor Anjing di India Menunggu di Peron Setiap Jam 11 Malam

Sedangkan warganet lainnya berkomentar dengan menggunakan emotikon senyum, love, peluk dan ada pula yang mengomentari kaget melihat perilaku anjing itu.

Multi Lane Free Flow di Jalan Tol Diharapkan Bisa Diterapkan Tahun 2022

Sejak tahun 2017 lalu, Bank Indonesia dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah melakukan kerja sama untuk mengembangkan elektronikfikasi di seluruh jalan tol. Di mana saat itu mulai dilakukan tahap integrasi sistem ruas jalan tol serta pembentukan Konsorsium Electronic Toll Collection atau ECT.

Baca juga: Saat MRT Jakarta Beroperasi, Pemprov DKI Akan Operasikan Electronic Road Pricing

Yang mana pada 2019 targetnya adalah Multi Lane Free Flow (MLFF) dapat diberlakukan di semua ruas tol. Nyatanya hal tersebut belumlah bisa diberlakukan pada 2019 lalu dan pengguna jalan tol masih menggunakan pembayaran dengan kartu uang elektronik.

Namun, belum lama ini perusahaan asal Hongaria, Roatex Ltd ditetapkan sebagai pemenang tender untuk proyek penerapan sistem transaksi tol non tunai nirsentuh MFLL. KabarPenumpang.com mengutip dari detik.com (30/1/2021), Kepala Badan Pengatur Jalan Tol, Danang Parikesit menjelaskan bahwa ada beberapa keuntungan yang didapatkan masyarakat saat MLFF diterapkan.

“Solusi ini telah sukses diterapkan di Hongaria selama lebih dari tujuh tahun terakhir, yang dikelola oleh Hungarian Toll Services Company (NUZs). Pengalaman di Hongaria, solusi ini selain memudahkan pengguna jalan karena melalui jalan tol tanpa hambatan, juga dapat meningkatkan efisiensi dan pendapatan tol, serta mengurangi tingkat kemacetan pada jam-jam padat,” kata Danang.

Dikatakan Danang, ketika MLFF mulai diterapkan, pengemudi kendaraan bisa menggunakan aplikasi untuk melintas di jalan tol. Nantinya setiap pengendara atau pengguna jalan tol akan diperkenalkan dengan perangkat e-Obu di aplikasi ponsel pintar atau OnBoard Unit yang merupakan tiket perjalanan (road ticket) bagi yang hanya sekali jalan.

Aplikasi ini tidak akan membebani pengguna dan dapat diunduh dari pinsel pintar. Danang menjelaskan, MLFF akan terbagi menjadi tiga jenis teknologi di antaranya Radio Frequency Identification (RFID), DSRC (dedicated short-range communication) dan Global Navigation Satellite System (GNSS).

Roatex sendirir akan menggunakan teknologi yang berjenis GNSS, yang mana nantinya akan digunakan untuk menggantikan mesin pembaca uang elektronik. GNSS adalah sistem pembayaran dengan alat yang dipasang di mobil dan dibaca melalui satelit.

Hal ini mengartikan penggunaan teknologi GNSS yang tidak memerlukan infrastruktur seperti gerbang tol. Sehingga nantinya akan ada alat yang dipasang di mobil dan menerima sinyal GNSS dari satelit secara berkala untuk jadi bahan perhitungan posisinya dan disimpan sebagai Charges Data Recorder (CDR).

Kemudian data akan dikirimkan ke perangkat TSP (Toll Service Provider) melalui jaringan wireless (GPRS, umts, dsb) untuk memverifikasi jalur tol yang digunakan dan menghitung tarif yang akan dibebankan ke pengguna. Dalam kerja sama penerapan MLFF itu, Roatex memegang konsesi atas proyek tersebut selama sepuluh tahun.

Tahun pertama adalah pelaksanaan konstruksi. Targetnya, penerapan sistem MLFF ini bisa dimulai pada tahun 2022 di sebagian besar ruas jalan tol, terutama Pulau Jawa dan Bali.

“Tol mana yang menjadi prioritas? Jabodetabek, tapi masih dalam pembahasan. Kalau sesuai dengan FS di tahun 2022 (akan terealisasi),” ujar Danang.

Baca juga: Frankfurt Autobahn A5, Jalan Tol Pertama dengan Kabel Listrik Aliran Atas

Multi Lane Free Flow atau MLFF adalah solusi yang ditawarkan Otoritas pengelola Tol di Indonesia untuk mempermudah dan memperlancar penggunan jalur tol terutama mengurangi penumpukan di pintu tol. MLFF menggunakan banyak atau hampir semua jalur dengan metode tersebut.

Fenomena Aneh Pramugari Pakistan, Manfaatkan ‘Layover’ untuk Kabur dan Minta Suaka di Negara Maju

Dalam beberapa tahun, telah terjadi fenomena aneh di internal maskapai Pakistan International Airlines (PIA). Betapa tidak, alih-alih kembali bertugas usai menjalani layover saat penerbangan internasional, pramugari maskapai itu justru kabur dan tak kunjung kembali. Usut punya usut, pramugari tersebut memang sudah berencana untuk mencari suaka di negara-negara maju.

Baca juga: Memo Internal Tersebar, Emirates Peringatkan Awak Kabin yang ‘Layover’ untuk Bersikap Sopan

Pakistan memang bukan tempat yang aman dan nyaman untuk dijadikan tempat bermukim. Dalam sebuah survei oleh The Legatum Institute, lembaga penelitian yang berbasis di London, Inggris, Pakistan menjadi salah satu negara paling tidak aman di dunia.

Maka dari itu, tak heran bila pramugari -yang notabene masih bisa hidup lebih layak dibanding jutaan penduduk Pakistan lainnya- rela berjuang untuk mendapatkan suaka di negara maju ketimbang bertahan sebagai pramugari. Apalagi, secara finansial, PIA sudah digadang-gadang tak lagi mampu bertahan alias bangkrut.

Dilansir Simple Flying, fenomena aneh pramugari PIA kabur saat layover di negara maju setidaknya sudah berlangsung selama empat tahun belakangan. Pada tahun 2018, seorang pramugari PIA secara mengejutkan mengklaim suaka di Kanada. Tak ada laporan lebih jauh bagaimana kelanjutan permohonan suaka itu. Yang jelas, pramugari itu tak pernah kembali ke Pakistan.

Setahun berikutnya, pramugari PIA juga dilaporkan hilang saat layover di Paris, Perancis. Tidak disebutkan dengan jelas apakah pramugari ini sengaja menghilang untuk mendapatkan suaka atau tidak. Dua tahun yang lalu, kejadian serupa juga terulang. Kali ini pramugari hilang terjadi di Kanada dan anehnya, tahun ini, pramugari kembali dilaporkan hilang saat layover di Negeri Pecahan Es itu sejak 29 Januari lalu.

Tak ingin kejadian serupa terus berulang, pihak PIA pun menggandeng otoritas imigrasi Kanada. Keduanya berkolaborasi setidaknya dalam dua hal, mencegah agar pramugari tak pernah diizinkan mendapat suaka serta mencegah mereka kabur dengan menyita paspor dan identitas sampai waktu check-in penerbangan pulang.

Selain itu, seluruh kru pesawat, bukan hanya pramugari, juga akan dipantau secara ketat dan dilarang untuk keluar dari hotel selama layover.

Baca juga: Kasus Belum Usai, Maskapai Pakistan “PIA” Cek Lisensi 141 Pilot, 29 Pilot Tak Layak Terbang dan Dipecat

Di masa krisis akibat virus Corona, kinerja keuangan PIA memang jauh dari harapan. Bahkan, seorang analis Bloomberg menyebut maskapai PIA kemungkinan besar akan bangkrut imbas krisis virus Corona. Hal itu berdasarkan analisi menggunakan metode Z-score yang dikembangkan oleh Edward Altman pada 1960-an untuk memprediksi kebangkrutan, dengan mengacu pada data finansial perusahaan.

Metode Z-score sendiri menggunakan lima variabel yang mengukur likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, leverage, dan kinerja keuangan terkini. Dari variabel tersebut kemudian akan muncul skor. Skor di bawah 1,8 menunjukkan bahaya kebangkrutan dalam dua tahun, sementara angka yang mendekati 3 menunjukkan bahwa perusahaan berada pada posisi yang kuat secara finansial.

Perjalanan Haji Tahun 1888, 20 Hari Keliling Pulau Jawa Sebelum Menuju Mekkah!

Ibadah ke Tanah Suci Mekkah memang bukan perkara mudah. Perlu kekuatan harta dan tenaga agar dapat sampai ke sana. Sebelum era pesawat terbang datang, jamaah haji tempo dulu berangkat menggunakan kapal laut.

Baca juga: Sejarah Pulau Onrust, Tempat Karantina Jemaah Haji hingga Bendung Semangat Nasionalisme

Di beberapa literatur dan cerita turun-temurun, durasi jamaah haji tempo dulu mulai dari berangkat sampai pulang kembali ke rumah cukup bervariasi, mulai dari sebulan, empat bulan, enam bulan, hingga total 10 bulan. Luar biasa bukan? Bahkan, di banyak kasus, keluarga sama sekali tidak mengetahui dimana jenazah anggota keluarganya.

Sebab, baik saat perjalanan ataupun pulang, jamaah haji yang meninggal di lautan memang dilarung ke laut, tidak menunggu sampai ke daratan. Itulah mengapa, calon jamaah haji tempo doeloe (dulu), sebelum berangkat, rata-rata sudah memberikan wasiat ke keluarga seolah mereka tak akan pernah kembali pulang.

Selain lama perjalanan dan jenazah jamaah haji tempo dulu yang dilarung ke laut, jalur atau rute kapal dalam menjemput calon jamaah haji di seluruh tanah nusantara (Hindia-Belanda) sebelum menuju Mekkah, dalam hal ini jalur haji nusantara pada tahun 1888, tak kalah menarik untuk dibahas.

Seperti yang umum diketahui, jamaah haji tempo dulu pemberangkatan atau embarkasinya tidak seperti sekarang -dimana masing-masing embarkasi berangkat menggunakan pesawat yang telah ditentukan- melainkan berangkat menggunakan satu kapal laut. Karena keterbatas akses transportasi massal untuk mendukung pemberangkatan haji tempo dulu agar terpusat di satu tempat, jadilah penyelenggara haji tempo dulu menjemput terlebih dahulu jamaah haji ke embarkasi masing-masing di seluruh Pulau Jawa dan Sumatera.

Dari sebuah foto yang tak diketahui sumbernya, disebutkan pada tahun 1888, bertepatan dengan 1305 hijriah, keberangkatan kapal laut yang mengangkut ibadah haji terjadi pada tanggal 4 April, bertepatan dengan 22 Rajab. Saat itu, perjalanan haji tempo dulu dimulai dari Cilacap (Tjilatjap), Jawa Tengah, berlanjut ke Banyuwangi, Besuki (Bezoeki, saat ini adalah nama sebuah kecamatan di Situbondo, Jawa Timur), Probolinggo, Surabaya, Semarang, dan Pekalongan.

Dari Pekalongan, kapal laut masih harus menjemput jamaah haji tempo dulu lainnya di Pekalongan, Tegal, Cirebon, Indramayu, dan mengakhiri perjalanan mengelilingi Pulau Jawa di Betawi (Jakarta) pada tanggal 24 April. Itu berarti, untuk menjemput jamaah haji saja perjalanannya sudah menghabiskan waktu total 20 hari.

Dari Betawi di utara Pulau Jawa, jalur perjalanan haji nusantara pada tahun 1888 -yang saat itu menggunakan kapal laut buatan Italia, Voorwaarts- kemudian berlanjut ke pesisir barat Pulau Sumatera, menjemput jamaah haji di Padang, tiga hari setelah tanggal tiba di Betawi, sebelum akhirnya melakukan perjalanan panjang mengarungi Samudera Hindia-Laut Arab-Laut Merah untuk sampai ke Mekkah, Arab Saudi pada tanggal 18 Mei 1888, bertepatan dengan 7 Ramadan 1305, atau total 44 hari perjalanan.

Baca juga: Tak Hanya Kasus ABK WNI, Larung Jenazah Sudah Dilakukan Sejak Perjalanan Haji di Masa Lalu

Sedikit informasi, ibadah haji saat ini paten dan tidak bisa diubah dilakukan di luar bulan Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Tetapi, di masa lalu, boleh dilaksanakan di luar kedua bulan itu. Pada umumnya dilaksanakan mulai di bulan Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah. Jadi, jangan heran kalau pada tanggal 7 Ramadan, jamaah haji pada tahun 1888 sudah tiba di Mekkah.

Selama dalam perjalanan mulai dari Cilacap sampai ke Mekkah, jamaah haji disuguhi makanan dan minuman setidaknya dua hari sekali.

Hari ini, 9 Tahun Lalu, Kapal MV Rabaul Queen Tenggelam di Papua Nugini, Ratusan Penumpang Tewas

Tepat hari ini, sembilan tahun lalu, telah terjadi mubibah besar dalam jagad kapal ferry dunia, yaitu MV Rabaul Queen bermuatan 500-an penumpang tenggelam di Papua Nugini. Dari insiden itu lebih dari 200 penumpang selamat dan korban lainnya tewas. Kapal ini sebelum tenggelam berangkat dari Kimbe di Pulau New Britania ke Pulau Lae.

Baca juga: Tragedi Kapal Ferry Nankai Maru, Tenggelam Tanpa Sebab Pasti dan Tewaskan 167 Orang

Namun pada dini hari 2 Februari 2012 kapal terbalik karena kondisi Laut Salomon yang tak bersahabat. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, saat itu kapal dihantam oleh tiga gelombang besar dan sekitar empat jam kemudian atau pukul 06.00 waktu setempat MV Rabaul Queen tenggelam 16 km dari Finschhafen.

Korban selamat dari kecelakaan tenggelamnya kapal ferry MV Rabaul Queen di Papua Nugini (istimewa)

Tak lama MV Rabaul Queen tenggelam, Papua Nugini dan Australia membentuk tim penyelamatan bersama. Dari penyelamatan ini banyak korban yang diselamatkan oleh enam kapal dagang yang diberitahukan oleh Otoritas Keselamatan Maritim Australia (AMSA) bahwa kapal ferry Rabaul menghilang dari sistem pelacakan satelit.

Tak hanya itu, tujuh pesawat patroli Angkatan Udara Australia, tiga helikopter dan tujuh kapal terlibat dalam pencarian korban. Saat itu karena gelombang laut tengah tak bersahabat dan angin kencang mempersulit operasi pencarian dan penyelamatan.

Dari pencarian tersebut ditemukan 246 orang selamat dan pada tiga hari setelahnya atau 5 Februari 2012 sebanyak enam jasad korban ditemukan dan lebih dari seratus orang hilang. Dari kabar yang beredar ada 27 orang selamat berada di pulau tak berpenghuni, satu orang selamat lainnya langsung menghubungi keluarga dengan ponsel meski AMSA mengklaim pada 5 Februari setiap penumpang yang selamat pasti ditemukan.

Pada 10 Februari 2012, Radio Selandia Baru melaporkan bahwa jumlah orang yang diselamatkan telah dihitung ulang menjadi 237, dan jumlah orang yang hilang berdasarkan informasi baru dari kerabat mereka yang berada di dalam pesawat adalah 321.

Ini menunjukkan bahwa ada sekitar 558 orang berada di dalam kapal tersebut padahal izin angkut hanya 310. Sayangnya sampai pencarian dihentikan, daftar pasti manifestasi penumpang tidak jelas karena pencatatan yang buruk.

Sebuah Komisi Penyelidikan didirikan pada 10 Februari 2012, di bawah kepemimpinan Hakim Warwick Andrew. Komisi menghabiskan beberapa bulan untuk mendengarkan bukti dari para penyintas, penyelamat, ahli cuaca dan saksi lainnya. MV Rabaul Queen telah lulus survei tahunannya dan dianggap layak laut untuk operasi normal.

Namun, awak kapal ditemukan tidak bersertifikat dan tidak memenuhi syarat, termasuk petugas navigasi dan teknisi kapal, dan pemeriksaan latar belakang yang tidak memadai telah dilakukan sebelum perekrutan. Pemahaman kapten tentang stabilitas kapal “tidak benar” dan tidak cukup untuk menjadi komando sebuah kapal.

Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Dalam penyelidikan kapal ini, ketika insiden terjadi ditemukan kelebihan beban. Untuk diketahui, MV Rabaul Queen dibangun di Jepang pada tahun 1983, beroperasi dalam jarak pendek di negara itu. Kapal ferry tersebut dibawa ke Papua Nugini pada tahun 1998 dan melayani rute mingguan reguler antara Kimbe ibu kota West New Britain dan Lae, ibu kota dari provinsi daratan utama Morobe.