Australia Ikut Kembangkan Pesawat Supersonik, Terbang Mulai 2025

Perusahaan patungan Ukraina-Australia, Cosmovision Global Corporation, ikut meramaikan perlombaan untuk menyediakan penerbangan pesawat supersonik. Guna memuluskan hal itu, perusahaan menggandeng perancang mesin, SE Ivchenko-Progress, dan produsen mesin jet, JSC Motor Sich, yang keduanya berasal dari Ukraina.

Baca juga: Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

Saat ini, proyek pesawat supersonik Australia itu sedang dalam tahap mengumpulkan dana investor. Bila segalanya berjalan sesuai rencana, penerbangan supersonik trans-Pasifik berkapasistas 100 kursi dari Sydney ke Los Angeles dan sebaliknya, mulai tersedia pada 2025 mendatang.

Sayangnya, Cosmovision Global Corporation, selaku pimpinan proyek, belum berbicara lebih banyak tentang pengembangan pesawat supersonik ini. Utamanya, terkait keputusan perusahaan menggandeng SE Ivchenko-Progress dan JSC Motor Sich. Tetapi, banyak yang menyebut itu erat kaitannya dengan CEO Cosmovision juga berasal dari Ukraina.

“Ini proyek unik dan inovatif yang memungkinkan perjalanan cepat dari bawah ke belahan bumi utara negara dan benua dalam waktu yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh pesawat jet penumpang,” kata Ilya Osadchuk kepada Australian Aviation.

SE Ivchenko-Progress dan JSC Motor Sich sendiri bukan pemain baru di bidang desain dan produksi mesin. Di laman resminya, SE Ivchenko-Progress tertulis bergerak dalam bisnis perancangan dan pengembangan mesin untuk sipil maupun militer. Saat ini, perusahaan tersebut menjalankan lebih dari 66 jenis pesawat dan modifikasinya di lebih dari 100 negara.

Sedangkan Motor Sich mengaku sebagai salah satu produsen instalasi turbin gas industri dan mesin pesawat serta helikopter terkemuka di dunia.

Secara portofolio, tentu kedua perusahaan tersebut tidak bisa dianggap remeh dan bisa dibilang layak untuk turut andil dalam perlombaan pengembangan pesawat supersonik.

Tetapi, banyak kalangan menilai bahwa pengembangan pesawat supersonik saat ini tidak ada yang bisa melampaui pendaaan dan kemampuan teknologi perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS. Tercatat, setidaknya, ada sekitar sembilan perusahaan berbasis di AS yang saat ini berlomba mengembangkan pesawat supersonik; Boom Supersonic, Spike, Aerion, Tesla, Virgin Galactic, NASA, Lockheed Martin, Boeing, dan Exosonic.

Baca juga: Japan Airlines Gelontorkan US$10 Juta Untuk Proyek Pesawat Supersonik

Di antara mereka, dua perusahaan, Aerion dan Boom Supersonic, diketahui sudah melangkah lebih jauh. Oktober 2020 lalu, Prototipe pesawat supersonik komersial Boom, XB-1, akhirnya resmi dirilis. Momen tersebut merupakan untuk pertama kalinya pesawat supersonik yang disebut bakal mulai melakukan first maiden atau uji terbang perdana pada 2021 mendatang itu dipamerkan ke publik.

Sedangkan untuk Aerion, pengembangan pesawat supersoniknya sudah mencapai tahap melewati uji terowongan angin atau wind tunnel testing. Dengan begitu, desain pesawat futuristik dengan bahan bakar ramah lingkungan ini dinyatakan aman dan bisa melanjutkan ke tahap pembuatan komponen pada 2022 dan proses perakitan pada 2023 untuk membuatnya jadi nyata.

Ada Jalur Penerbangan Palsu ke Pulau Jawa Sebelum MH370 Hilang di Samudera Hindia

Pulau Jawa, Sabang, Pantai Sumatra, Banda Aceh, dan Lhokseumawe tercatut dalam sebuah penelitian terbaru terkait misteri hilangnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 pada 8 Maret 2014. Kelimanya diduga dilibatkan secara tidak langsung oleh pilot Zaharie Ahmad Shah untuk membuat jalur palsu, sebelum mengarah ke Selatan setelah dirasa aman.

Baca juga: Update Misteri Hilangnya MH370, Ahli Sebut Pesawat Jatuh Gegara Kehabisan Bahan Bakar!

Belum lama ini, seorang insinyur penerbangan, Richard Godfrey, yang juga salah satu anggota Kelompok Ilmuwan Independen, mengungkapkan fakta-fakta terbaru atas hilangnya MH370. Temuan tersebut didasarkan pada terknologi terbaru untuk melacak pergerakan pesawat.

Teknologi itu didasari pada data pencarian jejak pesawat secara global dengan menggunakan sinyal radio lemah yang ada di seluruh bumi, dikenal dengan istilah WSPR, yang dikembangkan oleh Pemenang Nobel Fisika, Prof. Joe Taylor pada tahun 2008 lalu. Godfrey mengembangkan software khusus yang disebut GDTAAA (Deteksi Global dan Melacak Pesawat di Mana Saja Kapan Saja) untuk membaca data dari WSPR.

Dia mengatakan pesawat apapun – baik itu komersial, militer atau pribadi – akan mengaktifkan apa yang disebut ‘gelombang elektronik perjalanan’ ketika pesawat itu melintas gelombang tersebut. Data dari gelombang tersebut kemudian bisa digunakan untuk melacak keberadaan pesawat.

Dalam makalah terbaru Richard Godfrey yang dimuat airlineratings.com, disebutkan, pilot pesawat MH370 coba menghindari jalur resmi dengan beberapa kali mengubah kecepatan dan jalur penerbangan. Pilot juga diduga mengetahui jam-jam operasional radar di Sabang dan Lhokseumawe sehingga berhasil melenggang bebas di udara tanpa terdeteksi.

Sekalipun terdeteksi, pilot kemungkinan akan mengelabui petugas dengan jalur penerbangan palsu ke sejumlah tujuan, seperti Kepulauan Andaman, Afrika Selatan, dan Pulau Jawa (Jakarta), Kolombo, Melbourne, dan Kepulauan Cocos.

“Pilot MH370 pada umumnya mencoba menghindari jalur resmi mulai jam 18:00, dan menggunakan jalur tidak resmi di Selat Malaka, di sekitar Sumatra dan melintas Lautan India. Jalur ini mengikuti pesisir pantai Sumatra dan terbang dekat dengan Bandara Banda Aceh,” tulis Godfrey.

“Pilot tampaknya memiliki pengetahuan mengenai jam beroperasinya radar di Sabang dan Lhokseumawe dan di malam di akhir pekan, dimana situasi internasional tidak genting sama sekali, radar tidak akan berfungsi sama sekali,” lanjutnya.

Setelah berhasil melewati radar, mengelabui petugas, dan membuat beberapa jalur penerbangan palsu, pilot pesawat MH370, yang hampir dipastikan dalam keadaan sadar dan aktif, dilihat dari perubahan jalur dan kecepatan, pesawat akhirnya diterbangkan menuju Selatan.

Sayangnya, pilot hanya mempedulikan manuver pesawat untuk menghindari deteksi radar dan membuat jalur penerbangan palsu serta perubahan kecepatan ketimbang fokus pada kemampuan bahan bakar. Karenanya, pesawat diduga kehabisan bahan bakar dan jatuh ke laut di Samudera Hindia.

Baca juga: Wartawan Klaim MH370 Jatuh Ditembak Senjata Laser! AS Terlibat

Tetapi, analisis lebih rinci untuk menentukan posisi penerbangan terakhir akan segera dilakukan. Ada tiga cara untuk menetukannya, termasuk data satelit, analisis serpihan MH370, dan analisis data WSPR.

Bila ketiganya menyajikan data yang sama atau tak jauh berbeda, besar kemungkinan akan menuntun pada kesimpulan yang sama. Celakanya, proses pencarian bawah air selama ini oleh banyak pihak, seperti Fugro dan Ocean Infinity tidak didasarkan hal itu.

Kejar Efisiensi, Seluruh Pesawat Lufthansa Bakal Dibalut Kulit Ikan Hiu

Seluruh pesawat Boeing 777F Lufthansa Cargo ke depan bakal dilapisi dengan teknologi kulit hiu. Itu dilakukan untuk membuat pesawat lebih irit bahan bakar. Guna memuluskan hajat itu, Lufthansa Cargo akan menggandeng entitas bisnis Lufthansa lainnya; Lufthansa Technik.

Baca juga: Bye-bye Bau Tak Sedap, Teknologi Ini Bikin Kabin Pesawat Bebas Bau Tak Sedap!

Industri penerbangan, sebagaimana industri lainnya, memang selalu mencari inovasi terbaru dengan mengambil alam sebagai sumber inspirasinya.

Pada September tahun lalu, Airbus bertekad untuk segera merealisasikan program ‘fello’fly’ atau penerbangan formasi, yang terinspirasi dari angsa, untuk mencapai konsumsi bahan bakar pesawat yang lebih rendah sekaligus mengurangi polusi, setelah sukses mengujicobanya ada tahun 2016 dan 2019.

Selain terinspirasi dari mahkluk hidup yang bisa terbang, seperti burung dan angsa, inovasi teknologi di industri penerbangan juga banyak terinspirasi dari mahkluk hidup di luar itu. Salah satunya makhluk laut, dalah hal ini, hiu.

Mulai tahun depan, Lufthansa Cargo dan Lufthansa Technik akan berkolaborasi untuk menyelimuti armada Boeing 777F mereka dengan teknologi kulit ikan hiu. Kulit ikan hiu dinilai dapat mengurangi gesekan saat pesawat di udara.

Secara sederhana, berkurangnya gesekan sudah pasti akan membuat kinerja mesin menjadi lebih mudah dan pada akhirnya menghemat bahan bakar.

Teknisnya sendiri, badan pesawat akan dilapisi dengan sejenis kaca film menyerupai kulit ikan hiu berukuran sekitar 50 mikrometer buatan AeroSHARK. Jadi, ini tidak menggunakan kulit ikan hiu asli, mengingat ikan hiu adalah predator tertinggi dalam rantai makanan di laut yang memegang peranan penting dan penjaga keseimbangan ekosistem laut.

Dengan teknologi laser, kaca film kulit ikan hiu ini akan menyatu dengan badan pesawat dan membuat permukaan lebih halus.

Bila sudah direalisasikan, teknologi tersebut mampu membuat pesawat menghemat bahan bakar hingga satu persen. Tak terlalu besar memang. Namun, bila itu terjadi di seluruh armada Boeing 777F Lufthansa Cargo, itu sama dengan menghemat sekitar 3.700 ton bahan bakar jet setiap tahun.

Tak cukup sampai di situ, bahan bakar lebih hemat satu persen juga berarti mengurangi emisi CO2 sekitar 11.700 ton, sebanding dengan pembatalan 48 penerbangan barang dari Frankfurt ke Shanghai. Luar biasa, bukan?

Baca juga: Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

“Kami selalu memainkan peran utama dalam memperkenalkan teknologi ramah lingkungan. Teknologi kulit hiu yang baru untuk pesawat menunjukkan apa yang dapat dicapai oleh mitra besar dan sangat inovatif secara kolektif untuk lingkungan. Ini akan membantu kami mencapai tujuan netralitas iklim pada tahun 2050,” kata Anggota Dewan Eksekutif Deutsche Lufthansa AG, Christina Foerster.

Teknologi kulit ikan hiu tentu bukan satu-satunya upaya Lufthansa Cargo dalam mengurangi polusi dan dampaknya terhadap lingkungan. Bulan lalu, maskapai tersebut mengoperasikan penerbangan mingguan Frankfurt ke Shanghai menggunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF). Inisiatif itu diperkirakan berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 20.250 ton dan menghemat sekitar 174 ton bahan bakar setiap pekannya.

Jumlah Penumpang Anjlok 97 Persen, Swedia Tutup Bandara Ketiga Terbesar yang Berlokasi Dekat Stockholm

Bagi kebanyakan orang, hanya mengenal Arlanda sebagai bandara yang ada di kota Stockholm, Swedia. Tentu itu wajar adanya, mengingat Arlanda adalah bandara terbesar di Swedia, dan menjadi pintu gerbang keluar masuknya pelancong dan pebisnis di Negara Skandinavia tersebut. Namun, seperti halnya Jakarta, Stockholm juga dikelilingi oleh beberapa bandara. Meski secara internasional kurang dikenal, tapi Stockholm juga memiliki bandara yang lebih kecil, seperti Bandara Vasteras, Bandara Skavsta dan Bandara Bromma.

Baca juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat

Di antara empat bandara yang ada disekitaran Stockholm, yang lokasinya berada paling dekat dengan pusat kota adalah Bromma, yaitu hanya berjarak 7 km dari pusat kota Stockhom. Bandara ini merupakan bandara yang tergolong tua, pasalnya sudah dibuka sejak tahun 1936. Namun, ada kabar yang kurang menyenangkan, lantaran Bromma akan ditutup secara permanen.

Dikutip dari airlinegeeks.com (3/5/2021), disebutkan bandara yang mempunyai kode BMA itu terpaksa akan ditutup selamanya, pangkal musababnya adalah dampak pandemi Covid-19. Dilaporkan jumlah penumpang anjlok menjadi kurang dari 500.000 pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19. Padahal bandara yang melayani rute domestik ini pada tahun 2019 melayani 2,5 juta penumpang, dan dinobatkan sebagai bandara ketiga terbesar di Swedia. Lalu lintas di Bromma semakin merosot pada tahun 2021. Selama bulan Maret lalu, hanya 6.000 penumpang yang melewati terminalnya, penurunan 97 persen dibandingkan tahun 2019.

Sebagian besar lalu lintas udara komersial masuk dan keluar Stockholm saat ini ditangani oleh Bandara Arlanda, padahal jarak Arlanda 37 kilometer dari pusat kota Stockholm. Arlanda menangani lebih dari 25 juta penumpang pada 2019, dengan lalu lintas turun menjadi lebih dari 6,5 juta pada 2020.

Keputusan penutupan Bandara Bromma mendapat reaksi kontras dari berbagai partai politik di Swedia. Otoritas setempat khawatir penutupan bandara akan merusak bisnis di daerah tersebut karena Arlanda berjarak lebih dari 30 menit berkendara. Sebagai informasi, Bandara Vasteras dan Bandara Skavsta, jaraknya sekitar 100 kilometer dari pusat kota Stockholm.

Rencana awal adalah mempertahankan operasional Bromma hingga tahun 2038, yaitu saat Arlanda diharapkan memiliki landasan pacu keempat yang dibangun dan dapat dengan mudah menyerap semua lalu lintas yang saat ini ditangani oleh Bromma.

Namun penilaian dampak yang dilakukan pada tahun 2020 oleh Swedavia, perusahaan milik negara yang memiliki dan mengoperasikan bandara utama di Swedia, menetapkan bahwa mempertahankan bromma tidak dapat dibenarkan secara ekonomi. Di sisi lain, kelompok lingkungan mendukung inisiatif ini karena mereka melihat penerbangan komersial sebagai ancaman potensial terhadap target ambisius mereka untuk menjadikan Swedia netral karbon pada tahun 2045.

Baca juga: Jumbo Hostel Boeing 747, Penginapan Premium di Lingkungan Bandara Arlanda

Pemerintah Swedia kabarnya ingin membangun 400 hektar lahan yang saat ini ditempati oleh Bandara Bromma menjadi perumahan real estate premium dekat yang dengan pusat bisnis di Stockholm.

Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

Sebelum Airbus lahir, Douglas yang di kemudian hari berubah menjadi McDonnell Douglas lebih dahulu bersaing ketat dengan Boeing. Bahkan, mereka berhasil mengalahkan produsen pesawat terbesar dunia itu di pasar pesawat propeller.

Baca juga: Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

Tak hanya itu, pabrikan juga sempat menjadi kompetitor terkuat Boeing di pasar narrowbody dan widebody dengan DC-8, DC-9, DC-10 dan MD-80. Namun, McDonnell Douglas mulai melemah bersama MD-11 dan akhirnya stop produksi setelah MD-90. Beberapa tahun kemudian, pabrikan dicaplok (merger) Boeing dengan mahar sebesar US$13,3 miliar di akhir abad ke-21, tepatnya pada tahun 1997.

Dikutip dari Simple Flying, pembahasan merger Boeing dengan McDonnell Douglas sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 1990-an, tetapi mengalami kebuntuan, salah satunya akibat pertentangan dari Komisi Eropa terkait antipakat atau antitrust.

Merger keduanya dinilai telah mencederai harmonisasi progresif dari aturan Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC) dan kebijakan ekonomi yang dirancang untuk pembentukan “pasar bersama” sejati. Kebuntuan terus berlanjut hingga akhir 1996, bersamaan dengan menumpuknya backlog atau pesanan pesawat Boeing selama periode ini.

Sebaliknya, McDonnell Douglas justru mulai melempem. Padahal, pabrikan tersebut mempunyai fasilitas produksi pesawat cukup besar. Dari sini, Boeing melihat sejumlah peluang untuk mengejar backlog pesawat dengan memanfaatkan fasilitas tersebut.

CEO Boeing kala itu, Philip Condit, menyebut merger Boeing-McDonnell Douglas merupakan momen bersejarah dalam industri penerbangan dan dunia kedirgantaraan. Kekhawatiran publik akan adanya tumpang tindih jobdesk pasca merger juga dengan sigap dibantah. Menurutnya, kemungkinan tersebut sangat kecil.

Justru sebaliknya, menurut CEO McDonnell Douglas, Harry Stonecipher, yang kemudian menjadi presiden dan Chief Operationg Officer Boeing (pasca merger), merger bakal menjadi win-win solution buat kedua belah pihak. Di bidang militer dan antariksa, misalnya, kedua belah pihak bisa saling melengkapi atau sharing teknologi mengingat banyaknya pesaing dalam industri tersebut.

Baca juga: McDonnell Douglas MD-12 – Calon Rival Queen of the Skies yang Tidak Laku di Pasar

Setelah menjadi batu sandungan, Komisi Eropa akhirnya menyetujui merger Boeing-McDonnell Douglas. Tentu dengan intrik politik lintas negara, dalam hal ini setelah Presiden Bill Clinton turun tangan untuk menekan Uni Eropa. Komisi Eropa sendiri -pasca ditekan- menyebut bahwa itu dapat membuat Boeing menguat di pangsa pasar pesawat jet.

“Komisi (Eropa) menganggap bahwa penguatan ini muncul dari potensi kompetitif MDC sendiri dalam pesawat jet komersial besar, dari peningkatan peluang bagi Boeing untuk mengadakan kesepakatan pasokan eksklusif jangka panjang dengan maskapai penerbangan (sudah dicontohkan oleh maskapai Amerika, Continental dan Delta), dan dari akuisisi aktivitas pertahanan dan luar angkasa MDC, yang kemudian memberikan keuntungan di sektor pesawat komersial melalui efek ‘spill-over’ dalam bentuk manfaat R&D dan transfer teknologi,” kata juru bicara Komisi Eropa.

Baidu Luncurkan Apollo RoboTaxi, Taksi Otonom Berbayar Pertama di Cina

Raksasa teknologi asal Cina, Baidu, mulai mengoperasikan Apollo RoboTaxi, taksi otonom dengan level tertinggi atau level 5, secara komersial pertama di Negeri Panda. Itu dilakukan di sekitar Taman Shougang Beijing, seperti pusat olahraga, perbelanjaan, kantor, cafe, dan hotel, yang kelak menjadi lokasi gelaran Olimpiade Musim Dingin 2022.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

Pengoperasian Apollo RoboTaxi di Beijing bukan dilakukan dengan tergesa-gesa. Sejak September tahun lalu, kelompok pertama dari 45 taksi otonom secara resmi memulai operasi uji coba di jalan-jalan perkotaan. Itu juga kelompok armada taksi otonom pertama di Cina yang dikelola oleh sistem Baidu’s Vehicle to Everything (V2X).

Diharapkan, kota-kota lainnya di seluruh Cina bisa segera mendapat layanan serupa, dimulai dengan uji coba secara massif.

Dilansir New Atlas, sejak uji coba tahun lalu, Apollo RoboTaxi, yang beroperasi tanpa “petugas keamanan” atau sopir cadangan, yang siap untuk mengambil alih kendali manual jika terjadi keadaan darurat, sesuai dengan peraturan lalu lintas saat ini, telah melahap uji coba sejauh 10 juta km.

Bagi penumpang, cara memesan layanan apa yang disebut sebagai 5G Remote Driving Service besutan Baidu ini juga mudah. Calon pengguna atau penumpang mengunduh aplikasi Apollo Go, memindai kode QR untuk verifikasi data, dan membuka pintu Apollo RoboTaxi. Jangan coba-coba membukanya tanpa memindai kode QR via aplikasi yang sudah ditunjuk. Sebab, sudah pasti gagal.

Aplikasi Apollo Go untuk memesan RoboTaxi Baidu. Foto: Baidu via New Atlas

Setelah masuk ke dalam Apollo RoboTaxi, penumpang cukup menekan tombol “jalan” pada aplikasi, dengan catatan, pintu sudah kembali ditutup dan sudah mengenakan seatbelt. Mobil tidak akan memulai perjalanan saat pintu masih terbuka atau belum tertutup sempurna dan penumpang belum menggunakan seatbelt.

Kendati tidak ada driver atau sopir cadangan yang siap mengambil kendali, RoboTaxi tetap bisa dikendalikan oleh petugas di pusat kontrol saat terjadi keadaan darurat.

Uji coba untuk kendaraan otonom tersedia di lebih dari 20 provinsi dan kota di Cina, dan enam kota – Beijing, Shanghai, Guangzhou, Changsha, Wuhan dan Cangzhou – telah memungkinkan tes pengangkutan penumpang pada kendaraan otonom. Itu karena, wilayah-wilayah tersebut telah didukung berbagai hal yang diperlukan untuk memulai taksi otonom level 5, utamanya marka jalan, kamera, dan instalasi 5G.

Selain taksi otonom Apollo RoboTaxi by Baidu, Cina juga punya raksasa ride-sharing, DiDi Chuxing, perusahaan lain yang juga sudah mulai mengoperasikan taksi otonom listrik. Meskipun uji coba baru dimulai pada Juni lalu, warga kota sudah sangat antusias mencoba layanan ini. Antrean panjang pun tak terelakkan.

Baca juga: AutoX Luncurkan Taksi Tanpa Pengemudi di Shenzhen

Namun demikian, taksi otonom DiDi Chuxing masih belum bisa berjalan dengan mulus. Di beberapa kondisi, driver AI melakukan pengereman dengan kasar dan membuat penumpang sampai terhuyung ke depan.

Meskipun dua perusahaan, ditambah beberapa perusahaan lain seperti SAIC Motor, DeepBlue Technology, dan AutoX by Alibaba, sudah mulai mengoperasikan taksi otonom, beberapa pendapat menyebut, untuk memulai pengoperasian secara massif di Cina, setidaknya butuh dua sampai tiga tahun untuk menyesuaikan taksi otonom dengan teknologi yang lebih mapan.

Sebelum A380 Lahir, Ternyata Airbus Sempat Mau Bikin Pesawat Ini untuk Lawan Boeing 747

Airbus tak tinggal diam dengan dominasi kuat Boeing di pasar widebody quadjet atau empat mesin lewat 747. Meski pada akhirnya meluncurkan Airbus A380 dan sempat sukses menggeser atau paling tidak merusak hegemoni Queen of the Skies, sebetulnya Airbus sempat ingin membuat pesawat widebody lain, sekalipun pada akhirnya itu tidak terwujud.

Baca juga: Inilah Aurora D8, Wujud Desain Pesawat Masa Depan Besutan NASA, Beroperasi 2030

Meski demikian, konsep gagasan Airbus itu tidak mati melainkan tanpa sengaja diteruskan oleh Aurora Flight Science, MIT, dan Pratt & Whitney serta didukung NASA.

Dilansir Simple Flying, alih-alih melawan Boeing 747 dengan proyek A3XX yang pada akhirnya dikenal sebagai Airbus A380, sebuah pesawat komersial terbesar di dunia, menurut buku Airbus A380: Superjumbo of the 21st Century oleh Guy Norris dan Mark Wagner, Airbus sempat ingin mengembangkan pesawat widebody P500 dengan konsep horizontal double bubble (HDB).

Kita tahu, Boeing 747 dan A380 memiliki dua tingkat ke atas. Nah, untuk pesawat P500 Double-Bubble, kabin dibuat seolah-olah memiliki dua tingkat. Tetapi, bukan ke atas, melainkan ke samping. Sesuai namanya, pesawat ini memiliki kapasitas 500 kursi dengan kabin tiga lorong.

Sebelum tahun 2000, Airbus terus mengalami pergolakan internal dan penuh dengan kebimbangan untuk memilih lanjutkan proyek A380 atau P500. Di tahun 2000, Airbus akhirnya memilih A380 dan berhasil terbang perdana pada 27 April 2005.

Pesawat kemudian memasuki tahun layanan untuk kali pertama bersama Singapore Airlines pada Oktober 2007 silam, sebelum akhirnya Airbus resmi stop produksi A380 pada Februari 2019.

Menurut banyak kalangan, kegagalan A380 disebabkan oleh beberapa hal. John Leahy, sales terbaik Airbus atau mungkin sales pesawat terbaik di dunia, menganggap mesin menjadi biang kerok kenapa Airbus tak mampu bertahan lebih lama di pasar widebody.

Ketika itu, Airbus merasa dibohongi oleh produsen mesin kenamaan, Rolls-Royce. Produsen mesin asal Inggris itu mengklaim, mesin pesawat yang digunakan A380 adalah mesin terbaik dan butuh 10 tahun lagi untuk pabrikan lain membuat mesin pesawat yang lebih baik dari itu.

Tak lama kemudian, Boeing 787 Dreamliner hadir di penghujung tahun 2009 dengan mesin Rolls-Royce Trent 1000 dan mesin General Electric GEnx 1B-12 yang inovatif dan lebih efisien 10-15 persen dari generasi sebelumnya.

Sekalipun A380 sudah tak lagi sanggup melawan dan 747 kembali berjaya, namun, jangan remehkan konsep pesawat P500 warisan Airbus yang digarap NASA dkk.

Disebutkan, Aurora Double-Bubble D8 diklaim akan membuat konsumsi bahan bakar lebih hemat 37 persen atau menurunkan emisi karbon dioksida hingga 87 persen serta lebih senyap atau minim polusi suara dibanding pesawat jet pada umumnya.

Baca juga: Sedih! Airbus A380 Digadang Bisa Jadi Jet Pribadi, Tapi Malah Ditolak Mentah-mentah

Kemudian, teknologi terbaru di bagian sayap Aurora D8 disebut mampu mengurangi hambatan pada badan pesawat sehingga membuat penerbangan jadi lebih efisien hingga 70 persen.

Selain itu, sayap terbaru itu juga membuat pesawat melaju lebih kencang mencapai kecepatan sekitar 936 km per jam atau Mach 0,74, didukung oleh mesin terbaru yang lebih kecil dan ringan dari Pratt & Whitney serta United Technologies. Pesawat juga disebut lebih senyap dari pesawat pada umumnya.

Tak Bisa Ditawar, Setiap Penumpang dari Luar Negeri Wajib Lalui 9 Proses ini di Bandara Soetta

Begitu panjangnya waktu pandemi, membuat beberapa kerabat yang berdomisili di luar negeri harus pulang ke Tanah Air. Dan ketika seruan untuk pulang ke Indonesia tak bisa dtawar lagi, maka sebaiknya perlu diketahui, prosedur apa saja yang harus dilalui ketika penumpang pesawat dari luar negeri tiba di Indonesia.

Baca juga: e-Paspor Indonesia Sah Bersertifikat “Public Key Directory” dari ICAO

Berikut ini adalah beberapa tahapan berupa check point yang harus dilalui ketika penumpang pesawat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, tanpa terkecuali tahapan ini berlaku bagi warga negara asing dan warga negara Indonesia, termasuk prosedur karantina di hotel selama 5 hari. Satgas Udara Penanganan Covid-19 bersama PT Angkasa Pura II dan stakeholder terkait menetapkan prosedur baru kedatangan internasional di Bandara Soekarno-Hatta. Berlaku sejak 30 April 2021, setidaknya ada 9 check point yang harus dilewati bagi penumpang penerbangan internasional, yaitu:

1. Penumpang mengisi data diri dan penerbangan melalui aplikasi Hotel Reservation di area kedatangan internasional

2. Pemeriksaan dokumen kesehatan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan Kementerian Kesehatan (KKP Kemenkes)

3. Pendataan penumpang internasional terkait lokasi karantina

4. Penumpang menjalani proses keimigrasian

5. Penumpang mengambil bagasi di baggage claim area

6. Penumpang menjalani proses kepabeanan

7. Penumpang melakukan registrasi di Help Desk Hotel untuk proses karantina

8. Penumpang kembali menjalani pendataan identitas diri dan lokasi karantina yang dilakukan oleh Polresta Bandara

9. Penumpang dijemput bus untuk menuju lokasi karantina dengan konsep single pick up point. Bus yang boleh menjemput hanya yang sudah ditunjuk

“Sejak diterapkan pada 30 April 2021, prosedur dapat dijalankan dengan baik untuk memastikan persyaratan-persyaratan kedatangan internasional dipenuhi oleh WNI dan WNA yang tiba dari luar negeri. Kami berterima kasih kepada penumpang pesawat yang telah dengan baik menjalani prosedur kedatangan internasional,” ujar Director of Operation & Service AP II Muhamad Wasid. Ia menambahkan, “Prosedur baru ini diharapkan juga dapat mendukung kelancaran proses karantina bagi penumpang pesawat di lokasi yang telah ditentukan, baik itu di Wisma Atlet Pademangan atau di hotel-hotel.”

Baca juga: Keren, Denmark Luncurkan Paspor Digital Covid-19, Seperti Apa?

Penumpang dari luar negeri harus memenuhi protokol kesehatan seperti menunjukkan surat hasil tes Covid-19 dan melakukan karantina sesuai dengan Surat Edaran Nomor 8 tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional Pada Masa Pandemi Covid-19 dan Nomor 9 tahun 2021 tentang Tempat Karantina, Isolasi dan Kewajiban RT-PCR Bagi WNI Pelaku Perjalanan Internasional.

Bedah Maskapai Baru “Super Air Jet,” Seragam Pramugari Tak Biasa dan Milenial Banget

Maskapai baru Super Air Jet dalam waktu dekat akan segera mengudara. Terlepas dari maskapai terafiliasi dengan grup besar yang sudah ada atau tidak, yang jelas kehadiran maskapai baru di tengah pandemi seperti sekarang ini bukan pilihan mudah. Butuh konsep brilian untuk mendobrak pasar yang sebetulnya sangat besar di Indonesia.

Baca juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia

Pada tahun 2014, data menunjukkan, dari 240 juta jiwa penduduk, hanya sekitar 74 juta orang yang tercatat menumpangi pesawat setiap tahunnya.

Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mencatat jumlah penumpang pesawat terbang mencapai 900 juta jiwa per tahunnya. Lebih besar dibanding penduduknya yang ketika itu mencapai 350 juta jiwa. Artinya setiap penduduk selama 1 tahun rata-rata menggunakan pesawat sebanyak 3 kali untuk berpergian.

Secara konsep, Super Air Jet sendiri bisa dibilang berusaha untuk out of the box atau mungkin without the box. Betul-betul berpikir bebas untuk menghadirkan maskapai baru yang menarik dan mampu bersaing dengan maskapai besar lainnya, domestik maupun dalam negeri.

Dari segi warna kebesaran, pemilihan warna kuning keemasan pada livery pesawat tentu bukan hal baru. Beberapa maskapai tercatat juga mengusung warna kebesaran itu, salah satunya Gulf Air.

Lanjut ke warna dominan atau warna kebesaran pada seragam pramugari Super Air Jet, yaitu krem, juga bukan pertama kali diusung maskapai. Beberapa maskapai sudah mengenakan itu, salah satunya Emirates.

Tetapi, pada detail seragam pramugari Super Air Jet, ada yang tak biasa dan mungkin satu-satunya di dunia. Itu juga terlihat sangat mewakili jiwa milenial yang santai namun tetap produktif dan bermobilitas tinggi. Dari foto-foto yang beredar, seragam pramugari atau kru kabin Super Air Jet, pada bagian celananya, mengenakan celana cargo yang berkantong.

Dari hasil penelusuran redaksi KabarPenumpang.com, sejak dahulu sampai saat ini, nyaris tidak ada seragam pramugari-pramugara yang terkesan santai seperti itu. Sekalipun ada, itupun tidak mengenakan celana cargo yang dilengkapi kantong di kanan dan kiri pada bagian paha dekat lutut, seperti Southern Airways dan Air Canada Rouge.

Beranjak ke bagian atas pada seragam pramugari maskapai baru Super Air Jet, agaknya juga tak banyak yang menggunakan. Diketahui, atasan seragam pramugari Super Air Jet menggunakan resleting layaknya jaket.

Umumnya, maskapai di seluruh dunia menggunakan kancing-kancing berbagai model pada atasan seragam pramugarinya, untuk membuat kesan mewah, elegan, tetapi juga anggun. Tentu desainnya menjadi satu kesatuan dengan celana atau roknya untuk membuat kesan seperti itu.

Menurut Direktur Utama Super Air Jet Ari Azhari, Super Air Jet didesain dan dipersiapkan agar memungkinkan banyak orang (penumpang) bisa bepergian menggunakan pesawat udara untuk tujuan wisata, pendidikan hingga pebisnis muda. Itu berarti maskapai akan merangsek pasar low-cost carrier (LCC). Bila itu benar, maka, seragam yang dikenakan pramugarinya sangat pas untuk menggarap pasar itu.

Pada tahap awal, Super Air Jet akan mengoperasikan armada generasi terbaru, yaitu Airbus 320-200 yang berkapasitas 180 kursi kelas ekonomi.

Baca juga: Tebak Maskapai Lewat Seragam Pramugari, Mana yang Paling Sulit?

“Fokus utama Super Air Jet menawarkan konsep antar kota secara point to point di pasar berbiaya rendah dengan penerbangan langsung domestik dan nantinya dapat merambah ke rute-rute internasional,” pungkas Ari.

Sebagai informasi, sebelum maskapai baru Super Air Jet muncul, sudah lebih dahulu ada dua maskapai baru yang juga lahir di tengah pandemi virus Corona yang menghancurkan industri penerbangan. Dua itu yakni, Ecuatoriana Airlines dari Ekuador dan Zipair Tokyo, Jepang.

Jelang Larangan Mudik 6 Mei, Trafik Penumpang di 15 Bandara Angkasa Pura I Mengalami Peningkatan

Tanggal 6 Mei mendatang menjadi awal dimulainya pembatasan larangan Mudik 2021, dan seperti tren pada moda angkutan lainnya, trafik peningkatan perjalanan udara juga mengalami peningkatan. Hal ini diungkapkan pihak PT Angkasa Pura I yang mengelola 15 bandara, disebutkan trafik penumpang sebesar 103.854 pergerakan menjelang akhir pekan pada 30 April lalu, meningkat dibandingkan trafik pada hari sebelumnya dan rata-rata trafik penumpang pada April 2021.

Baca juga: Angkasa Pura I Dukung Rencana Penerapan GeNose di Bandara

Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (4/5/2021), trafik penumpang di bandara Angkasa Pura I pada April lalu mencapai 2.636.175 pergerakan penumpang, sedangkan trafik penumpang pada Maret sebesar 2.341.188 pergerakan penumpang. Walaupun tipis, trafik pesawat pada April 2021 juga mengalami pertumbuhan 2,9 persen dibanding trafik pesawat pada Maret, yaitu dari 29.449 pergerakan pesawat pada Maret menjadi 30.317 pergerakan pesawat pada April 2021.

Sementara itu, menjelang periode larangan mudik pada 6-17 Mei 2021, khususnya menjelang akhir pekan akhir April lalu, Angkasa Pura I mencatat peningkatan trafik penumpang pada Jumat 30 April 2021. Pada tanggal tersebut, Angkasa Pura I mencatat trafik penumpang di 15 bandara Angkasa Pura I sebesar 103.854 pergerakan penumpang, meningkat 16 persen dibanding trafik penumpang pada hari sebelumnya (Kamis 29 April)  yang sebesar 89.307 pergerakan penumpang.  Trafik penumpang sebanyak 103.854 pergerakan penumpang tersebut terdiri dari 53.552 kedatangan dan 50.302 keberangkatan.

Trafik pada 30 April tersebut juga lebih tinggi 18,18 persen dibanding rata-rata harian trafik penumpang pada April yang sebesar 87.872 pergerakan penumpang. Tren peningkatan trafik penumpang di bandara Angkasa Pura I kerap terjadi menjelang hari atau periode libur. Sebelumnya, Angkasa Pura I juga mencatat trafik penumpang harian yang mencapai 100 ribuan pada H-1 Libur Jumat Agung pada Kamis 1 April 2021 lalu yang mencapai 105.612 pergerakan penumpang.

Adapun trafik penumpang tertinggi pada 30 April tersebut terdapat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar yaitu sebesar 25.972 pergerakan penumpang yang terdiri dari 12.844 kedatangan dan 13.128 keberangkatan. Sementara trafik penumpang tertinggi kedua pada 30 April terdapat di Bandara Juanda Surabaya, yaitu sebanyak 24.424 pergerakan penumpang yang terdiri dari 15.193 kedatangan dan 9.231 keberangkatan. Trafik penumpang tertinggi ketiga terdapat di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, yaitu sebanyak 11.075 pergerakan penumpang yang terdiri dari 5.636 kedatangan dan 5.439 keberangkatan.

Baca juga: Bantu Bangun Negeri, Angkasa Pura I Lakukan Pembiayaan Mandiri untuk Pengembangan Bandara

Pada Sabtu 1 Mei dan Minggu 2 Mei, trafik penumpang di bandara Angkasa Pura I sebanyak 96.507 pergerakan penumpang dan 103.346 pergerakan penumpang sehingga total trafik penumpang pada periode akhir pekan 30 April hingga 2 Mei sebanyak 303.707 pergerakan penumpang. “Kami memperkirakan kecenderungan peningkatan trafik penumpang pesawat udara, khususnya di bandara Angkasa Pura I akan terjadi hingga H-1 masa larangan mudik 6 Mei 2021,” ujar Vice President Corporate Secretary PT Angkasa Pura I Handy Heryudhitiawan.