Tidur Ketika Mengoperasikan MRT, Masinis ini Langsung Kena PHK

Sebagai kebutuhan biologis, seseorang tertidur tentu sangat manusiawi, namun yang jadi masalah bila yang tertidur adalah sosok orang penting, disebut penting disini lantaran orang ini bertanggung jawab pada keselamatan nyawa ribuan penumpang. Dan inilah kasus yang terjadi pada masinis di MRT Singapura atau SMRT.  Belum lama ini seorang masinis MRT di Singapura diketahui tertidur di ruang kemudi.

Baca juga: Kedapatan Tertidur Saat Kemudikan Kereta, Penumpang Videokan Masinis Jepang

 

View this post on Instagram

 

A post shared by singapura viral (@singapura.viral)


Karena hal ini, masinis tersebut didisiplinkan dan tidak lagi bekerja di perusahaan. Dilansir KabarPenumpang.com dari asiaone.com (5/5/2021), presiden kereta SMRT Lam Sheau Kai mengatakan, bahwa perusahaan menyelidiki insiden tersebut dan membentuk badan penyelidikan disipliner.

“Kapten kereta dinyatakan bersalah karena tidak mematuhi instruksi kerja dan tindakan disiplin telah diambil. Dia tidak lagi bekerja di SMRT,” ujar Lam.

Dia menjelaskan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama di SMRT. Sehingga pihaknya tidak memaafkan perilaku apa pun yang membahayakan keselamatan penumpang. Untuk diketahui, masinis tersebut diberhentikan dari pekerjaannya ketika sebuah video singkat di unggah ke akun Instagram @singapura.viral pada 25 Februari lalu.

Dalam video tersebut memiliki caption, “Operator KA Ang Mo Kio Baru”. Bahkan unggahan video tersebut sudah ditonton lebih dari 21 ribu kali dan disukai lebih dari 3500 warganet. Video yang berdurasi 17 detik memampilkan seorang pria duduk di ruang masinis kereta SMRT.

Baca juga: Abdulaziz bin Ibrahim, Masinis Pertama Arab Saudi Tutup Usia di 96 tahun 

Saat itu, pria yang merupakan masinis kemudian menekan tombol yang berlabel lampu kabin. Dia kemudian terlihat dengan mata tertutup ketika kereta melintas terowongan. Namun beredarnya video tersebut tidak jelas kapan direkam dan oleh siapa diunggah ke media sosial.

Dilanda Tsunami Covid, Indian Railways Berlakukan Pedoman Bagi Penumpang Kereta Api

Saat ini, India tengah mengalami tsunami Covid-19, di mana per harinya ada sekitar 400 ribu orang terinfeksi virus ini. Hal ini kemudian membuat India membuat panduan perjalanan baru bagi penumpang kereta apinya selama gelombang kedua infeksi Covid-19.

Baca juga: Kasus Covid Melonjak, India Jalankan Kereta ‘Khusus’ Pembawa Oksigen

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com (5/5/2021), hampir semua negara bagian di India melakukan penguncian kembali karena gelombang kedua virus corona. Namun, logistik masih dikirimkan ke seluruh negeri. Adanya gelombang kedua virus corona, Indian Railways kemudian merilis pedoman untuk para pelancong terutama yang berkaitan dengan negara bagian tertentu.

Di mana bila pelancong sangat ingin naik kereta untuk pergi ke satu tempat ke tempat lainnya, Anda harus mengikuti peraturan yang ada. Sesuai pedoman Indian Railways, penumpang saat ini wajib menggunakan masker dan jika ditemukan melanggar dengan tak menggunakan masker, mereka harus membayar denda INR500.

Pelancong juga wajib membawa hand sanitizer sendiri, kemudian jika pelancong meludah di stasiun atau di dalam kereta maka akan dikenakan denda. Di saat yang sama juga, tidak ada makanan yang disajikan dalam kereta.

Di Delhi, pelancong yang bepergian dari negara bagian Maharashtra diharuskan menunjukkan laporan negatif Covid-19, dan setiap penumpang harus menjalani karantina rumah selama 14 hari. Sedangkan di Maharashtra, tiket kereta akan diberikan kepada pegawai pemerintah berdasarkan kartu identitas pemerintah mereka.

Profesional medis juga akan mendapatkan tiket kereta, dan ini termasuk teknisi lab. Siapa pun yang memesan kereta jarak jauh akan diberi cap di tangan yang menunjukkan 14 hari karantina, di stasiun mana pun tempat mereka turun. Pemeriksaan termal juga akan dilakukan di stasiun, dan juga di dalam kereta.

Mereka yang bepergian dengan kereta api luar tidak dapat bepergian dengan kereta lokal. Jika di Kerala, penumpang diwajibkan membawa laporan uji RT-PCR, dan sebaliknya, penumpang juga dapat memilih tes di stasiun. Anda harus menjalani karantina rumah selama 14 hari.

Baca juga: Kasus Covid Melonjak, India Jalankan Kereta ‘Khusus’ Pembawa Oksigen

Bila di Uttar Pradesh, bagi mereka yang datang dari Maharashtra dan Kerala sekarang diharuskan membawa laporan RT-PCR 72 jam sebelum perjalanan. Sekali lagi, 14 hari karantina di rumah adalah suatu keharusan. Jammu dan Kashmir, penumpang yang tiba dengan kereta api harus memiliki laporan tes RT-PCR di tangan.

Sedangkan di Chhattisgarh, tes pada saat kedatangan dapat dipilih oleh pelancong, atau Anda harus membawa laporan tes RT-PCR negatif.

Berapa Banyak Bahan Bakar yang Dibutuhkan Pesawat untuk Sekali Terbang?

Industri penerbangan menyumbang sekitar 2-3 persen emisi karbon dunia. Namun, angka itu sama dengan jutaan atau bahkan miliaran liter bahan bakar pesawat atau Avtur per tahun. Sebab, kendati sudah banyak terobosan mesin canggih nan efisien, tetap saja, konsumsi bahan bakar pesawat cukup tinggi.

Baca juga: Mengenal Dua Jenis Bahan Bakar Pesawat: Avgas Vs Avtur, Apa Bedanya?

Boeing 747, misalnya, menghabiskan sekitar empat liter per detik, atau 240 liter per menit, dan 14.400 liter per jam. Mobil mana yang bisa menyedot bahan bakar sebanyak itu?

Dengan jangkauan terbang cukup jauh atau durasi penerbangan rata-rata lima jam, terbayang bukan berapa liter bahan bakar yang harus diisi? Terlebih, harus ada perhitungan lebih oleh pilot ketika merencanakan penerbangan. Itu berarti, bahan bakar yang diisi, dalam kasus di atas, bukan berarti 14.400 x 5, melainkan bisa lebih dari itu.

Terlepas dari hal itu, sebetulnya, berapa liter bahan bakar yang dibutuhkan pesawat dalam sekali penerbangan dalam kondisi normal?

Sebelum jauh berbicara soal itu, sebagaimana dilansir Simple Flying, terlebih dahulu kita harus mengenal ini jenis-jenis bahan bakar tersedia di lapangan; Trip fuel, Diversion fuel, Reserve fuel, Contingency fuel, Taxi fuel, dan Additional fuel.

Dari enam itu, masng-masing memiliki ketentuan yang sangat ketat. Contingency fuel atau bahan bakar kontingensi, misalnya, harus mengisi minimal lima persen di atas total bahan bakar yang dibutuhkan dalam sebuah perjalanan.

Itu berarti, bila Boeing 747 diketahui menghabiskan sekitar empat liter per detik, atau 240 liter per menit, dan 14.400 liter per jam, maka, pada penerbangan 5 jam akan menjadi 14.400 + 5 persen atau 15.120 liter per jam. Dengan begitu, cukup jelas bukan, bila ditanya berapa liter bahan bakar yang diperlukan pesawat dalam sekali perjalanan, jawabannya tergantung pada jenis dan lama perjalanan.

Dibandingkan perjalanan darat, katakanlah mobil, pesawat memang terlihat sangat boros atau menghabiskan lebih banyak bahan bakar. Namun, jika dirinci, itu tidak selalu benar. Bahkan, bisa dibilang salah.

Tingkat konsumsi rata-rata untuk mobil baru kira-kira 55 mil per galon. Dengan 18.000 galon bahan bakar, berarti mobil bisa menempuh perjalanan sejauh hampir satu juta mil. Tetapi, tentu saja mobil mengangkut lebih sedikit penumpang dibanding pesawat. Pada Boeing 747, pesawat bisa mengangkut total 500 penumpang.

Itu berarti, sebenarnya, Boeing 747 hanya membakar 0,01 per galon per mil atau 100 mil per galon untuk setiap penumpang. Dari data tersebut, pesawat justru dua kali lebih hemat bahan bakar dibanding mobil.

Baca juga: Pernah Dengar Cara Pesawat Mengisi Bahan Bakar? Simak Di Sini Jika belum

Sudah begitu, mobil menemuh perjalanan satu juta mil dengan kondisi jalan yang berliku atau tidak melakoni perjalanan garis lurus. Alhasil, waktu tempuh perjalanan mobil dan pesawat sudah pasti jauh berbeda.

Penerbangan Jakarta-Bali, misalnya, hanya memakan waktu nyaris tiga jam. Bila menggunakan mobil, waktunya paling cepat, dengan estimasi tanpa berhenti dan tanpa adanya kemacetan serta menunggu waktu penyeberangan kapal, hanya sekitar 18 jam. Namun, faktanya sering kali lebih lama dari itu.

Pesawat Widebody Mana yang Paling Banyak Beroperasi Selama Pandemi?

Sudah bukan rahasia lagi kalau pandemi virus Corona menghancurkan industri penerbangan. Cirium mencatat, ada sekitar 18 ribu pesawat yang digrounded di seluruh dunia di awal masa pandemi pada bulan Maret 2020 silam.

Baca juga: Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody

Seiring berjalannya waktu, lambat laun industri penerbangan mulai kembali pulih, sejalan dengan capaian perekonomian negara-negara di dunia yang sudah tidak lagi terjebak di jurang resesi. Pesawat-pesawat sudah tidak lagi menerbangkan kargo berisi peralatan dan perlengkapan medis saja, tetapi juga memuat penumpang bisnis dan wisatawan.

Dikutip dari Simple Flying, data jumlah pesawat yang digrounded oleh maskapai jumlahnya sangat mengejutkan. Pada 25 Maret 2020 silam, analis data penerbangan, Cirium, melaporkan ada lebih dari 6.600 pesawat yang digrounded, tepatnya 6.639 unit.

Dari total pesawat yang digrounded tersebut, antara pesawat Airbus dan Boeing, perbandingannya tidak terlalu berbeda jauh. Pesawat buatan pabrikan asal Amerika tersebut, saat ini jumlahnya ada 2.542, dengan rincian 1.671 narrowbody dan sisanya, 871 adalah pesawat widebody.

Boeing 737 merupakan penyumbang angka terbesar untuk pesawat narrowbody dengan total 1087 unit, termasuk -200, model Klasik, dan Next Generation atau NG. Itupun belum termasuk 737 MAX. Bila ditambah dengan pesawat yang telah digrounded setahun lebih itu, totalnya mencapai 1470 unit, dimana MAX menyumbang 383 unit. Sisanya, seperti Boeing 717, 727, 747, 757, 767, 777, dan 787, masing-masing sebanyak 45, 6, 108, 150, 154, 376, dan 233 unit pesawat.

Adapun pesawat buatan Airbus, jumlahnya sedikit lebih tinggi, mencapai 2.608 unit. Sama seperti Boeing, pesawat narrowbody Airbus menjadi penyumbang terbesar dengan 1.837 dan 771 sisanya adalah widebody.

Airbus A320, yang notabene pesaing utama Boeing 737, menjadi penyumbang terbesar pesawat yang digrounded dengan 948 unit. Kemudian disusul A330 dengan 467, A319 sebanyak 338, A321 sebanyak 325, A340 sebanyak 117, A320neo 112, A380 84 unit, A350 66 unit, A321neo 58 unit, Airbus A220 33 unit, A318 23 unit, A330neo 18 unit, A300 11 unit, dan A310 sebanyak 8 unit.

Bila ditarik data lebih detail lagi, hanya fokus pada pesawat-pesawat widebody saja seperti A340, A350, A380, 767, 777, 787, dan A330, di awal pandemi, A330 memimpin daftar pesawat berbadan lebar yang masih beroperasi. Tetapi, seiring berjalannya waktu, mulai Maret ke atas, Boeing 777 memimpin dan menggeser A330 di posisi kedua, bersaing ketat dengan Boeing 767 (yang laris di pasar penerbangan kargo). di posisi ketiga.

Baca juga: Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Menariknya, di bulan Juni tahun lalu, Boeing 747 trennya cukup stabil, tak seperti widebody quadjet lainnya seperti A380 dan A340 yang bisa dibilang hidup segan mati tak mau.

Kembali ke pertanyaan pada judul, sampai akhir Februari 2021 lalu, Boeing 777 menjadi pesawat widebody yang paling sering terbang dengan rata-rata 1.500 penerbangan sehari. Disusul A330, A350, Boeing 787, dan lainnya. A350 dan B787 mungkin cukup dimaklum tak bisa bersaing lebih jauh dengan B777 dan A330. Sebab, jumlah pesawat yang sudah produksi tak sebanyak dua pesawat itu.

Di Antara Kegunaan Bandara Terapung: Alternatif Tempat Pemasangan Sistem Anti-Rudal

Wacana soal bandara terapung di Indonesia kembali menyeruak. Hal itu terjadi setelah Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Novie Riyanto, memaparkan rencana pembangunan lima bandara terapung di Indonesia untuk kebutuhan wisata.

Baca juga: Empat Keunggulan Bandara Terapung, Nomor Tiga Sangat Menggiurkan

“Kita (akan) membangun lima bandar udara untuk wisata, khususnya wisata di daerah perairan atau yang kita kenal dengan seaplane, airport tapi yang berada di perairan karena sebagian besar wilayah Indonesia adalah wilayah perairan jadi pengembangan ini menjadi fokus kita,” kata Novie dalam webinar bertajuk ‘Hub dan Superhub di Penerbangan’ yang disiarkan melalui YouTube Bisniscom, Senin lalu.

Saat ini, setidaknya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah melakukan studi di 10 wilayah terkait wacana pembangunan bandara terapung, mulai dari Danau Toba-Sumatera Utara, Pulau Senua-Kepulauan Riau, Pulau Gili Iyang-Jawa Timur, Derawan Berau-Kalimantan Timur, Gili Trawangan Lombok Utara-NTB, Labuan Bajo Manggarai Barat-Nusa Tenggara Timur, Bunaken Manado-Sulawesi Utara, Wakatobi-Sulawesi Tenggara, Pulau Widi Halmahera Selatan-Maluku Utara, dan Raja Ampat-Papua Barat.

Selain berguna untuk kebutuhan wisata, bandara terapung juga mempunyai berbagai fungsi atau keunggulan, seperti jadi pusat penelitian oseanografi dan akuakultur, pusat ekonomi, hingga pusat pengembangan energi terbarukan. Di luar itu, bandara terapung juga mempunyai salah satu kegunaan lainnya, yakni jadi tempat ideal untuk pemasangan sistem anti-rudal, sebagaimana yang pernah diwacanakan Jepang.

Dilansir mainichi.jp, bandara terapung yang dilengkapi dengan sistem pertahanan rudal pernah dijadikan pemerintah Jepang alternatif dari program rudal darat-ke-udara Aegis Ashore. Kehadiran sistem anti-rudal buatan Amerika Serikat (AS) itu, sekalipun bisa menjadi senjata baru Jepang dalam mencegat rudal balistik Korea Utara dan Cina, nyatanya mendapat penolakan keras oleh publik Jepang.

Mayoritas dari mereka khawatir, jika sistem anti-rudal Aegis Ashore AS jadi dipasang di prefektur Yamaguchi dan Akita, wilayah di sekitaran tempat pemasangan rudal akan jadi sasaran tembak. Selain itu, Pemerintah Jepang juga meyakinkan publik bahwa sistem pencegat rudal tidak akan mendarat di area permukiman dekat sistem itu dipasang. Namun, Menteri Pertahanan Jepang, Taro Kono, menyebut ada harga mahal yang harus dikeluarkan pemerintah untuk menepati janji itu.

Oleh karenanya, bandara terapung pun dinilai jadi salah satu alternatif terbaik, dengan sederet kekurangan dan kelebihannya, untuk dijadikan sebagai tempat pemasangan sistem pertahanan udara Aegis Ashore.

Hanya saja, kekurangan penempatan sistem pertahanan udara Aegis Ashore di bandara terapung Mega Float Jepang cukup membahayakan serta berpotensi menelan kerugian besar. Dari perspektif teknologi, belum ada kajian mendalam bagaimana bandara terapung bisa bertahan dari serangan badai, topan, gempa, dan tsunami yang cukup sering terjadi.

Baca juga: Bandara Terapung, Dari Sebuah Konsep Hingga Terwujud di Jepang dan Hong Kong

Sekalipun teknologinya sudah ada dan siap digunakan, tentu, kocek yang bakal dikeluarkan bisa cukup mahal, di luar harga rudal itu sendiri yang ditaksir mencapai lebih dari US$4,2 miliar atau setara nyaris Rp60 triliun.

Selain itu, menempatkan sistem pertahanan Aegis Ashore di bandara terapung juga dinilai mudah dijangkau musuh. Di saat yang bersamaan, Jepang cukup sulit mempertahankannya mengingat proses pengiriman pasukan diprediksi bakal tersendat.

Tak Seperti Garuda Indonesia, Japan Airlines Mulai Realisasikan Drone Kargo di Perkotaan

Tak seperti maskapai nasional Garuda Indonesia, Japan Airlines tidak setengah-setengah memulai bisnis drone kargo. Setelah setahun suntuk mengembangkan teknologi, mengirim barang ke sejumlah wilayah tak berpenghuni, tak lama lagi, maskapai nasional Jepang itu akan memulai uji coba pengiriman kargo menggunakan drone di kawasan perkotaan; termasuk Tokyo.

Baca juga: Ganti Direktur dan Komisaris, Bagaimana Nasib Drone Kargo Garuda Indonesia?

Maskapai yang masuk dalam daftar 10 maskapai terbaik 2020 versi majalah wisata Travel+ Leasure ini mula-mula akan memfokuskan pengiriman barang menggunakan drone terbatas untuk sektor kesehatan. Bersama Matternet, perusahaan pertama di dunia yang diberi izin untuk drone perkotaan, saat ini Japan Airlines tengah mempelajari rantai pasokan obat-obatan dan kebutuhan medis antara rumah sakit dengan supplier.

Dalam sebuah pernyataan, Tomohiro Nishihata, Managing Executive Officer of Innovation Japan Airlines, mengatakan, “Japan Airlines sangat ingin menjelajahi masa depan bisnis logistik udaranya dengan penerapan pengiriman barang menggunakan drone (drone kargo).”

“Kami bertujuan untuk berkontribusi dalam meningkatkan perawatan kesehatan dan menyelesaikan masalah logistik melalui kemitraan kami dengan Matternet,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Japan Airlines melihat, perkotaan di Jepang, utamanya Tokyo, yang menjadi salah satu kota metropolitan terpadat di dunia berpotensi untuk membuat ekosistem sempurna pengiriman barang menggunakan drone. Namun, perusahaan mengakui, tantangan untuk menjadikan itu aman lebih mudah diucapkan dari pada dilakukan.

Akan tetapi, dorongan kuat terhadap perubahan kondisi industri penerbangan global, khususnya penerbangan penumpang yang tengah terpuruk akibat pandemi virus Corona, semakin membulatkan tekad maskapai untuk tetap mengembangkan binsis drone kargo; sambil terus fokus pada inti bisnis perusahaan.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, hampir seluruh maskapai mengais rejeki dari pengiriman kargo, bukan penerbangan penumpang.

“Japan Airlines bertujuan untuk mengembangkan jenis layanan baru di industri transportasi udara, memanfaatkan teknologi UAV baru,” kata maskapai dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Pertama di Dunia, Taksi Udara EHang 216 Mulai Layani Kargo Udara

Di antara drone canggih Matternet, M2 Urban Drone dipilih untuk jadi andalan dalam proyek bersama Japan Airlines tersebut. Drone ini diketahui dapat mengangkut muatan hingga 2kg dengan jarak hingga 20km.

Pada pelaksanaannya, platform Matternet bertugas menerima permintaan pelanggan, membuat rute, memantau, memerintahkan, dan mengontrol penerbangan drone kargo. Selain itu, Matternet juga menyiapkan titik pengiriman dan penerimaan otomatis, semacam loker atau meeting poin paket drone, di mana calon pengguna dapat dengan cepat dan mudah memuat serta menerima kiriman barang dari drone kargo. Adapun Japan Airlines lebih ke arah menggaet pelanggan.

Hari Ini, 60 Tahun Lalu, Convair B-58A “Hustler” Jadi Pesawat Bomber Supersonik Pertama yang Melesat hingga Mach 2

Pada hari ini, 60 tahun lalu, bertepatan dengan 10 Mei 1961, Convair B-58A “Hustler” menjadi pesawat bomber supersonik pertama yang mampu melesat hingga kecepatan Mach 2 atau sekitar 2.095 km per jam. Atas capainnya itu, Hustler pun berhak atas penghargaan bergengsi, Blériot trophy.

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pesawat Melesat di Kecepatan Supersonik?

Dilansir airspacemag.com, sebelum era pesawat siluman muncul dan jauh dari bayangan insan militer, pertahanan udara tercanggih saat itu masih mengandalkan kecepatan tinggi, terbang di ketinggian sangat tinggi, dan kemampuan survival tinggi sebagai harga mati. Apalagi, ketika itu, teknologi radar juga masih minim sentuhan canggih.

Selain menjadi pesawat bomber pertama yang mencapai kecepatan Mach 2, Convair B-58A “Hustler” juga diketahui menjadi pesawat pertama yang memecah kebuntuan teknologi untuk mengatasi drag dalam penerbangan supersonik.

Caranya, yaitu dengan men-sweep sayap delta dengan sedemikian rupa sehingga pesawat terbang di dalam Mach cone. Bisa dibilang, membuat model satu sayap berupa sayap delta berbentuk segitiga adalah solusinya. Terbukti, pesawat supersonik legendaris, Concorde dan Tupolev Tu-144, juga menggunakan sayap delta.

Setelah dikembangkan selama beberapa tahun untuk memenuhi permintaan Komando Udara Strategis (SAC) dari Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), pesawat bahkan bisa mencapai penerbangan di atas Mach 2 sebelum 10 Mei 1961.

Ketika itu, pada 15 Oktober 1959, pesawat Hustler pertama bermaksud untuk uji terbang supersonik. Siapa nyana, pesawat berhasil mencapai lebih dari Mach 2 dalam penerbangan lebih dari satu jam. pesawat saat itu menempuh jarak 2.703 hanya dalam tempo 80 menit dalam sekali pengisian bahan bakar.

Bagi Convair, pesawat empat mesin General Electric J79 -GE-5A turbojet dengan sayap delta itu merupakan inovasi aerodinamika tersukses; warisan dari pengembangan sebelumnya, XF-92A atau dikenal sebagai pesawat sayap delta pertama di dunia, yang juga digunakan oleh F-102 Convair, pesawat pencegat supersonik pertama di dunia.

Meskipun teknologi sayap delta ini sempat diisukan menyadur Jerman, namun, Convair mengklaim bahwa ide sayap delta sebagai pemecah kebuntuan gaya drag selama penerbangan supersonik asli milik mereka dan digagas oleh insinyur pada program XF-92A, Ralph Shick, yang memang dikenal ahli dibidang aerodinamika.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah, Jet NASA X-15 Jadi Pesawat Pertama yang Melesat 4,675 Km Per Jam!

Usai kemunculan Convair B-58A “Hustler”, di saat yang bersamaan Uni Soviet belum berhasil mengembangkan rudal darat-ke-udara dan pesawat supersonik dengan kemampuan terbang di ketinggian lebih dari 50 ribu kaki, praktis, kekuatan militer sekutu, dalam hal ini Amerika Serikat, unggul jauh dari Soviet.

Pesawat dengan panjang 29,5 m, lebar sayap 17,3 m, tinggi 8,9 m, dan berat maksimum lepas landas 80.240 kg itu seiring waktu berjalan mulai ditinggalkan milliter AS usai pesawat pembom siluman Northrop Grumman B-2 Spirit terbang perdana pada 17 Juli 1989.

Jadi Klaster Baru Corona, 9 Ribu Pekerja Bandara Changi Bakal Dites Covid-19

Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) dan Changi Airport Group (CAG) bergerak cepat usai ditemukan klaster baru di Bandara Changi. Sedikitnya, 9.000 pekerja bandara di Terminal 1, (Terminal 2 tidak beroperasi), Terminal 3, dan Jewel Changi Airport akan dites Covid-19. Itu dilakukan guna memutus penyebaran virus Corona.

Baca juga: Bandara Changi Geger, Petugas Kebersihan di Terminal 3 Positif Covid-19

Kendati sekitar 92 persen pekerja yang dites Covid-19 sudah divaksinasi sampai dosis kedua, namun, tes tetap dilakukan karena mereka tetap rentan tertular virus Corona.

Tak hanya itu, kebijakan tes Covid-19 juga berubah. Semula, seluruh pekerja sektor bandara dites Corona setiap 28 hari. Setelah klaster baru Corona muncul di bandara, para pekerja bandara akan dites setiap 14 hari.

Dilansir Channel News Asia, dalam keterangan pers bersama CAAS dan CAG selaku operator Bandara Changi, dalam 10 hari terakhir ada sekitar delapan kasus aktif virus Corona di bandara. Ini sebetulnya sudah lampu kuning bagi Singapura untuk meninjau kembali operasional bandara.

Akan tetapi, menurut Menteri Transportasi Ong Ye Kung, banyak konsekuensi jika bandara, termasuk juga pelabuhan, ditutup. Alhasil, karena Bandara Changi tetap beroperasi, maka tak ada pilihan lain kecuali menjaga garda terdepan untuk memastikan kelangsungan operasional bandara ke depan.

“Banyak yang dipertaruhkan jika pelabuhan dan bandara kami tidak dapat berfungsi. Satu implikasi yang jelas adalah jalur pasokan kami, dan kelangsungan hidup Bandara Changi di masa depan. Kami perlu melindungi garis depan kami untuk melindungi seluruh Singapura,” tulisnya, dalam sebuah postingan di Facebook.

“Lebih dari 95 persen (43.100) pekerja berisiko tinggi telah menerima vaksinasi. Ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa individu yang divaksinasi cenderung tidak terinfeksi, dan mengalami gejala yang parah,” lanjutnya.

“Tetapi infeksi baru-baru ini menunjukkan bahwa pekerja non-garis depan juga dapat berisiko. Jadi kami akan mendorong untuk memvaksinasi pekerja lain yang memenuhi syarat secara medis,” tutupnya.

Klaster virus Corona di Bandara Changi diketahui terjadi di beberapa titik, salah satunya Terminal 3. Di sini, setidaknya ada empat dari delapan kasus aktif klaster bandara. Karenanya, selain bakal di tes Covid-19, seluruh pekerja di terminal itu akan diliburkan terlebih dahulu selama 14 hari.

Tak hanya itu, saking antisipatifnya otoritas Singapura, basement 2 Terminal 3 juga ditutup sementara selama 14 hari untuk memberikan Kementerian Kesehatan melakukan investigasi epidemiologi. Itu karena, telah terjadi beberapa kontak antara petugas yang positif Covid-19 dengan pengunjung bandara.

Baca juga: Kalau ke Bandara Changi Jangan Lupa Coba Glamour Camping

Bila tak bergerak cepat untuk melacak siapa saja pengunjung tersebut, dikhawatirkan terjadi klaster baru Corona yang bersumber dari klaster bandara.

Tak hanya itu, seluruh karyawan gerai ritel di sekitar basement 2 Terminal 3 juga diwajibkan memiliki hasil negatif tes swab untuk bisa memulai kembali bekerja. Sudah begitu, ritel-ritel di sana hanya diizinkan melayani take away.

Punya Bunker, Inilah Kisah Balai Besar Bandung yang Menjadi Kantor Pusat PT KAI

Ketika menyusuri Jalan Perintis Kemerdekaan di Bandung, Anda akan melihat bangunan dengan pekarangan yang cukup luas. Bahkan di malam hari, lampu yang menyinari bangunan maupun sekitarnya tampak sangat elok dan membuat yang melihatnya berdecak kagum.

Baca juga: Daop 2 Bandung Batasi 50 Persen Okupansi Kereta Lokal dan Jarak Jauh

Ya, inilah Balai Besar Bandung atau yang kini dikenal dengan Kantor Pusat PT Kereta Api Indonesia (KAI). Penasaran dengan sejarah Balai Besar PT KAI ini? KabarPenumpang.com mencoba menelusurinya dan mendapatkan beberapa hal yakni, lokasi tersebut sebelum menjadi kantor pusat PT KAI adalah sebuah penginapan bernama Villa Maria.

Di mana dari peta yang dikeluarkan Biro Topografi Hindia Belanda tahun 1905, Villa Maria hanya berupa satu bangunan utama yang menghadap gerbang masuk atau kini adalah kantor Direktur Utama PT KAI. Kemudian, secara bertahap dimulai tahun 1916 perusahaan kereta api dan term Negara, Staatsspoor en Tramwegen (SS en Tr) mulai menempati bekas Villa Maria.

Kemudian, karena membutuhkan ruangan administrasi baru, bekas taman penginapan di bangun gedung tambahan sebagai kantor unit SS en TR tahun 1918. Setelah selesai semuanya Hoofdinspecteur (direktur utama) mulai pindah pada Agustus 1923 dan proses kepindahan selesai seluruhnya pada tahun 1924.

Pada kantor pusat PT KAI ternyata tak hanya bangunan untuk ruang administrasi, melainkan juga ada bunker bawah tanah. Bunker ini sendiri gunanya untuk tempat penyimpanan dokumen serta aset-aset perusahaan. Selain bunker, di Balai Besar ini juga ada Lokomotif TD01 dan Monumen Kenangan Hormat atau Monumen Pahlawan Kereta Api.

Monumen tersebut sebagai bentuk prasasti untuk mengenang para pekerja dan pahlawan yang telah gugur dalam menunaikan tugas dan dharma bakti terhadap nusa dan bangsa selama revolusi fisik (1945-1950). Pada 17 Agustus 1945 setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, beberapa aset vital mulai di ambil alih, salah satunya adalah perkeretaapian.

Setelah sukses mengambil alih perkeretaapian di Jakarta, ribuan pekerja kereta api memenuhi Balai Besar Bandung sejak pagi hari tanggal 28 September 1945. Bersama dengan perwakilan dari Jakarta, beberapa pemuda yang ditunjuk massa di luar langsung masuk ke dalam ruangan pimpinan jawatan.

Pada 30 September 1945 bertempat di kantor pusat Bandung diadakan rapat pimpinan. Dalam rapat permusyawaratan antar perwakilan kantor daerah kereta api dari Jakarta, Semarang, dan Surabaya itu para perwakilan menyepakati membuat manajemen baru untuk menggantikan yang lama.

Baca juga: Hari ini, 52 Tahun Lalu, Kecelakaan Kereta di Ratu Jaya Depok Tewaskan 116 Penumpang

Dalam sebuah rapat paska pengambilalihan, di bangunan utama ini Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) dibentuk oleh segenap karyawan kereta api pada 30 September 1945. Selain

Pertama di Dunia, Bandara Delhi Catat 1.000 Pergerakan TaxiBot! Hemat 214 Ribu Liter Avtur

Bandara Internasional Indira Gandhi (Delhi) mengoperasikan 1.000 TaxiBot atau towbarless tug semi-robotic, menjadikannya sebagai yang pertama di dunia. Tak seperti pushback traktor yang hanya mendorong mundur pesawat, Taxibot juga berfungsi untuk menarik pesawat dari apron menuju runway untuk lepas landas. Dengan begitu, pesawat tidak perlu menyalakan mesin untuk taxiing.

Baca juga: Lima Evolusi Wahana ‘Penderek’ Pesawat, Dari Mulai Tangan Kosong Sampai Teknologi Canggih

Kendati sepele, namun, penggunaan TaxiBot ini berhasil membawa dampak lingkungan yang cukup besar. Tercatat, 1.000 pergerakan TaxiBot sejak dua tahun lalu sampai saat ini berhasil mengurangi penggunaan bahan bakar jet atau Avtur hingga lebih dari 214 ribu liter, mengurangi lebih dari 532 ton emisi karbon dioksida.

Dilansir businessworld.in, sejak dua tahun lalu, Bandara Delhi memang sudah berkomitmen tinggi untuk mencari solusi hijau di industri penerbangan. Lewat program yang dinamakan green taxiing solution pada 2019, Delhi International Airport (DIAL) terus berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon sektor transportasi udara dan terus berupaya untuk meningkatkannya, menuju zero emission atau bebas emisi pada 2030 mendatang.

“Penggunaan TaxiBot telah membantu mengurangi sekitar 532 ton karbon dioksida serta menghemat sekitar 214.000 liter Avtur, yang seharusnya dibakar oleh pesawat saat taxiing,” kata Videh Kumar Jaipuriar, CEO Bandara Delhi.

“Ini merupakan tonggak penting tidak hanya untuk DIAL tetapi juga untuk sektor penerbangan secara global, dalam hal mempromosikan dan mengadopsi solusi taksi alternatif dan ramah lingkungan,” lanjutnya.

Saat ini, Bandara Internasional Indira Gandhi masih mengoperasikan dua TaxiBot untuk tiga maskapai besar India. Ke depan atau sekitar empat tahun mendatang, diharapkan sekitar ada sekitar 15 TaxiBot yang beroperasi, untuk mencapai pengurangan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi.

Selain berdampak pada pengurangan bahan bakar, penggunaan TaxiBot juga diklaim telah membantu secara signifikan mengurangi risiko kerusakan benda asing (FOD) pada mesin pesawat selama taxiing dan kebisingan di bandara.

Bagi ATC, TaxiBot membantu mengurangi traffic di apron dan pergerakan pesawat, baik untuk lepas landas maupun setelah mendarat dan menuju apron.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Bagi pilot, penggunaan TaxiBot juga membantu mengurangi beban kinerja mereka walau hanya sejenak.

TaxiBot atau towbarless tug, seluruh proses pushback pesawat dimungkinkan untuk mendapat kontrol penuh tunggal oleh traktor, tak seperti sebelumnya dimana pilot masih harus mengendari pesawat ke arah tertentu. Sebab, roda pesawat bertengger di atas traktor. Tak lama setelah kemunculan inovasi tersebut, seluruh bandara-bandara di dunia pun akhirnya mulai menggunakan towbarless tug.