Dua Terobosan Ini Bisa Pangkas Waktu Tempuh Penerbangan Jadi Setengahnya, Apa Saja?

Industri penerbangan jadi salah satu sektor transportasi yang paling cepat perubahannya. Setiap hari, selalu ada inovasi yang meliputi sektor ini. Baik itu berupa konsep dan gagasan, prototipe atau uji kelayakan, sampai inovasi nyata yang merubah cara manusia bepergian.

Baca juga: Tepat Janji, Prototipe Pesawat Supersonik Boom XB-1 Resmi Dipamerkan, 2021 Mulai Melesat

Belum lama ini, konglomerat asal Inggris yang juga pemilik maskapai Virgin Atlantic, Sir Richard Branson, berhasil mewujudkan ambisinya, menyediakan wisata antariksa sederhana yang bisa dijangkau siapapun yang memiliki uang, melalui proyek Virgin Galactic.

Seolah tak ingin kalah, orang terkaya di dunia, Jeff Bezos, melalui perusahaan wisata antariksanya, Blue Origin, juga berhasil menyusul Richard Branson, terbang ke luar angkasa di ketinggian sekitar 100 km, sebagian bagian dari penerbangan penumpang perdana Blue Origin berwisata ke luar angkasa.

Kendati demikian, baik proyek wisata ke luar angkasa Virgin Galactic maupun Blue Origin, sudah pasti tak akan berdampak banyak pada penerbangan komersial.

Sebab, itu bersifat komunal atau keinginan orang-orang yang tertarik untuk menjajal sensasi gravitasi 0 dan melayang di udara selama beberapa menit sambil melihat pemandangan luar angkasa. Tentu tak semua orang mau dan mampu membayar tarif selangit dari perjalanan wisata ke luar angkasa ini.

Tetapi, sebagaimana disebutkan di awal, industri penerbangan sangat cepat menyajikan perubahan. Selain Virgin Galactic dan Blue Origin, banyak perusahaan yang sedang atau sudah menawarkan konsep dan gagasan untuk mengubah cara penumpang atau masyarakat bepergian. Siapa saja?

Dilansir investorplace.com, Matthew McCall, former analis Wall Street, pusat bursa perdagangan saham dan bursa perdagangan lainnya di New York, Amerika Serikat (AS), belum lama ini menuangkan analisanya terkait industri penerbangan.

Dalam pengamatannya, pandemi Covid-19 memang membuat industri penerbangan hancur-hancuran. Ia juga tak yakin pasar penerbangan penumpang maupun private jet akan kembali pulih ke level seperti sebelum virus Corona mewabah.

Meski begitu, beberapa perusahaan tak berhenti berinovasi menciptakan masa depan perjalanan penumpang yang berbeda. Perusahaan pertama yang dimaksud adalah Jet Token, penyedia jasa private air travel asal AS.

Melalui aplikasi yang dikembangkan perusahaan, penumpang dimungkinkan memesan penerbangan komersial maupun private atau gabungan dari keduanya hanya dengan beberapa sentuhan di ponsel. Ini membuat perubahan pada penumpang berpergian di era penerbangan ultra-modern, membuatnya jadi lebih murah, cepat, dan tentu saja nyaman.

Perusahaan kedua yang dimaksud adalah United Airlines dalam kolaborasinya dengan Boom Supersonic. Salah satu maskapai terbesar di dunia asal AS tersebut belum lama ini mengumumkan pembelian 15 unit pesawat supersonik buatan Boom Supersonic seharga US$3 miliar atau sekitar Rp43 triliun (kurs 14.552) atau US$200 juta (Rp3 triliun) harga per unitnya.

Lewat penerbangan supersonik, United Airlines bisa memangkas penerbangan trans-atlantik dari New York ke London dan sebaliknya menjadi hanya 3,5 jam, dua kali lebih cepat dari pesawat komersial yang ada saat ini dikisaran 6,5 jam.

Baca juga: Di Dubai Airshow 2017, Boom Technology Siap Goda Emirates dan Qatar Airways

Tak hanya itu, penerbangan supersonik dari kolaborasi United Airlines dan Boom Supersonic ini juga menawarkan harga tiket jauh lebih murah dari Concorde, pesawat supersonik yang pertama kali terbang secara komersial pada 1976 dan berakhir pada 2003 silam.

United Airlines berencana hanya memasang tarif penerbangan supersonik sebesar US$2.500 atau Rp36 juta (kurs 14.552), 80 persen lebih murah atau berbanding jauh dengan penerbangan supersonik Concorde seharga US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang. Ini diyakini bisa mengubah cara penumpang bepergian di masa mendatang.

Mengerikan! Kereta Bawah Tanah di Cina Kebanjiran, 12 Orang Tewas

Dua belas orang meninggal dunia dan lima lainnya terluka setelah hujan lebat membanjiri kereta bawah tanah di kota Zhengzhou, Cina Tengah. Hal ini dikatakan oleh pihak berwenang saat gambar penumpang berjuang melawan air setinggi leher di dalam gerbong tersebar di media sosial.

Baca juga: Konstruksi LRT Ottawa Dilanda Banjir, Serikat Pekerja Khawatir Akan Keselamatan Pekerjanya

KabarPenumpang.com melansir dailymail.co.uk (21/7/2021), Zhengzhou mengalami serangkaian hujan badai yang jarang dan lebat. Hal ini kemudian menyebabkan air menumpuk di jalur metro Zhengzhou. Pejabat setempat mengatakan hujan turun antara pukul 16.00 dan 17.00 waktu setempat.

Menurut otoritas cuaca Zhengzhou, curah hujan ini adalah yang tertinggi yang tercatat sejak pencatatan dimulai 26 tahun lalu. Selain foto banjir di jalur dan di dalam kereta metro, video yang memperlihatkan penumpang terimbas banjir pun tersebar di media sosial.

Dalam video, penumpang kereta bawah tanah itu berpegangan saat air naik hingga setinggi bahu dan beberapa orang berdiri di kursi. Air terlihat memancar melalui platform bawah tanah yang kosong dalam rekaman CCTV penyiar negara.

Operator kereta bawah tanah kota mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa bahwa mereka akan menutup semua stasiun di semua jalurnya karena cuaca buruk. Di akun Weibo resminya, dinas pemadam kebakaran membagikan laporan bahwa penumpang diselamatkan dari kereta yang terdampak.

Salah satu akun penumpang mengatakan petugas pemadam kebakaran dan penyelamat telah membuka lubang di atap gerbongnya dan mengevakuasi penumpang satu per satu. Otoritas cuaca telah mengeluarkan tingkat peringatan tertinggi untuk provinsi Henan tengah ketika CCTV menunjukkan mobil yang terendam, toko-toko yang tutup dan penduduk berada di jalan-jalan yang banjir kemudian diselamatkan dengan rakit.

Karena banjir ini, ada lebih dari 10 ribu orang telah dievakuasi pada Selasa sore, kata pihak berwenang provinsi. Di mana juga diperingatkan bahwa 16 waduk telah memperlihatkan kenaikan air ke tingkat yang berbahaya karena hujan merusak ribuan hektar tanaman dan menyebabkan kerusakan sekitar $11 juta.

Bukan hanya kereta metro bawah tanah, banjir juga mengakibatkan sekitar 260 penerbangan telah dibatalkan. Banjir biasa terjadi selama musim hujan di Cina, yang menyebabkan kekacauan tahunan dan menghanyutkan jalan, tanaman, dan rumah.

Baca juga: Inilah Serangkaian Alasan Layanan Kereta di Jerman Sering ‘Banjir’ Keluhan

Tetapi ancaman itu telah memburuk selama beberapa dekade, sebagian karena pembangunan bendungan dan tanggul yang meluas yang telah memutuskan hubungan antara sungai dan danau yang berdekatan dan mengganggu dataran banjir yang telah membantu menyerap gelombang musim panas. Awal bulan ini ratusan penerbangan dibatalkan di ibu kota Beijing dan kota-kota terdekat lainnya dengan sekolah dan lokasi wisata ditutup karena hujan lebat dan angin kencang melanda wilayah tersebut.






















Ingin ‘Kuasai’ Bandara Kabul Afghanistan, Erdogan Minta Restu AS

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah meminta dukungan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk menguasai Bandara Internasional Hamid Karzai atau biasa disebut Bandara Kabul. Ini dilakukan sebagai upaya Turki untuk menggantikan peran AS dan sekutu yang belum lama ini menarik pasukannya dari negara tersebut.

Baca juga: Setelah Tertunda 13 Tahun, Iran dan Afghanistan Akhirnya Terhubung dengan Jalur Kereta

Laporan Al Jazeera, Erdogan telah melakukan pembicaraan dengan Biden selama beberapa pekan. Keduanya juga sempat membahas terkait itu di sela-sela KTT NATO pada Juni lalu.

Disebutkan, Erdogan meminta dukungan AS terkait keuangan, logistik, dan diplomatik untuk misi Turki di Afghanistan. Tak disebutkan bagaimana kelanjutan dari permintaan ini. Yang jelas, saat ini, Erdogan tengah bersiap mengirim pasukannya dalam jumlah besar ke Bandara Kabul.

Dukungan dari AS penting bagi Turki untuk menggantikan kehadiran AS dan sekutu di Afghanistan. Sebab, AS mempunyai segalanya, mulai dari fasilitas logistik, aliran dana, serta hal-hal lainnya yang bersifat administratif.

“Jika kondisi ini (dukungan logistik, keuangan, dan diplomatik) bisa dipenuhi, kami sedang memikirkan untuk mengambil alih pengelolaan Bandara Kabul,” kata Erdogan dalam pidatonya.

“Akan ada kesulitan keuangan dan administrasi yang amat serius. (Amerika Serikat) akan memberikan dukungan yang diperlukan untuk Turki dalam hal ini juga,” tambah Erdogan, usai menjalani salat Subuh di hari raya Idul Adha.

Taliban, yang beberapa kali sudah melakukan pembicaraan dengan AS, sudah banyak mengambil alih wilayah di Afghanistan sejak NATO menarik diri. Karenanya, sudah pasti, organisasi yang pernah memimpin negara tersebut sejak 1996 hingga 2001 menolak rencana Turki mengambil alih Bandara Kabul.

Turki sendiri menurut laporan wartawan Al Jazeera, Resul Serdar, ingin mengambil alih operasional Bandara Kabul dikarenakan bandara tersebut merupakan satu-satunya pintu gerbang kedatangan internasional ke Afghanistan dan Erdogan ingin memastikan itu tetap terbuka untuk dunia internasional.

“Turki ingin membuatnya tetap internasional karena takut suatu hal buruk terjadi begitu komunitas internasional keluar dari negara itu, dan berkonfrontasi dengan Taliban,” jelas Erdogan.

Selain itu, Ankara juga ingin mengambil peran aktif sebagai negara yang konsisten membangun perdamaian di Afghanistan, di samping meningkatkan hubungan dengan AS dan Uni Eropa lewat jalan ini.

Baca juga: Cegah Deportasi Warga Afghanistan, Aktivis Muda Swedia Pasang Aksi ‘Berdiri’ di Kabin Pesawat

Kendati nantinya sudah mendapat restu AS, Erdogan tetap tak ingin jumawa. Ia berniat membangun komunikasi dengan Taliban secara langsung terkait Bandara Kabul.

“Erdogan juga mengatakan dia ingin melakukan pembicaraan langsung dengan Taliban mengenai Bandara Kabul, jadi dalam hal itu -jika dalam waktu dekat pembicaraan secara langsung dimulai- maka itu tidak akan mengejutkan dunia,” lapor Resul Serdar.

Siap Hadapi Perang, Stasiun MRT Singapura Punya Fungsi Ganda Sebagai Bunker Berkapasitas Besar

Dengan luas wilayah yang hanya sebesaran DKI Jakarta, Singapura tak pelak adalah negara pulau yang sangat rentan terhadap perang, terorisme, perang kimia hingga biologi. Apalagi Negeri Singa ini tidak memiliki daerah pedalaman untuk melarikan diri para penduduknya untuk evakuasi serta tempat perlindungan. Namun, Singapura memiliki stasiun MRT yang ternyata bisa menjadi tempat evakuasi serta lokasi berlindung (bunker).

Baca juga: Punya Bunker, Inilah Kisah Balai Besar Bandung yang Menjadi Kantor Pusat PT KAI

Mungkin ini dipikir hal yang mustahil, namun nyatanya ada dan cukup besar untuk menampung penduduk Singapura. Dirangkum KabarPenumpang.com dari thekopi.co, ada 49 stasiun MRT yang dibangun untuk fungsi ganda sebagai tempat perlindungan sipil. Inisiatif tersebut dimulai tahun 1983, di mana sembilan stasiun MRT bawah tanah di jalur Utara-Selatan dan Timur-Barat diperbaharui untuk memenuhi persyaratan tersebut. Ke 49 stasiun MRT ini, masing-masing dapat menampung sejumlah besar orang ketika diaktifkan sebagai tempat perlindungan.

Contohnya Stasiun Bishan yang mampu menampung 4000 orang saat dioperasikan sebagai bunker, sedangkan Stasiun Woodlands yang baru masuk dalam daftar pertahanan sipil bisa menampung hingga 9.000 orang. Beberapa stasiun bahkan memiliki kapasitas untuk menampung 19 ribu orang. Bahkan di tahun-tahun mendatang Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) telah mengumumkan bahwa bakal lebih banyak stasiun MRT yang dibangun di sepanjang Jalur Thompson-East Coast yang akan berfungsi sebagai tempat perlindungan sipil.

Masyarakat akan menggunakan tempat perlindungan pertahana supil ketika Sistem Peringatan Publik (PWS) diaktifkan untuk menghasilkan sinyal “Alarm”. Sinyal ini dibunyikan ketika serangan udara atau penembakan akan segera terjadi, yang dapat membahayakan nyawa dan harta benda. Guna menunjang ribuan orang di dalam bunker bawah tanah, stasiun pertahanan sipil MRT dilengkapi dengan fasilitas untuk memastikan lingkungan hidup yang aman dan nyaman selama keadaan darurat.

Dinding, lantai dan pelat atap dikeraskan dengan beton bertulang yang memungkinkan stasiun menahan ledakan tinggi dan efek fragmentasi yang disebabkan oleh ledakan bom di permukaan. Kemudian semua pintu pelindung ledakan dibangun dari bahan kokoh baik baja maupun beton. Secara kolektif, desain ini mengurangi jumlah kerusakan struktural pada stasiun.

Desain tersebut mencegah puing-puing terbang dan kaca pecah selama ledakan bom, yang secara signifikan akan mengurangi jumlah korban selama masa darurat. Stasiun juga dirancang dengan fasilitas dekontaminasi yang dapat digunakan untuk memfasilitasi prosedur dekontaminasi jika terjadi serangan bahan kimia. Penting untuk diketahui bahwa serangan terhadap Singapura dapat bersifat beragam, dan negara harus siap menghadapi semua skenario.

Dalam hal ini, individu akan diperiksa dan dirawat untuk setiap paparan bahan kimia yang biasanya dalam bentuk pancuran dekontaminasi, pakaian ganti baru dan pembilasan udara sebelum diizinkan masuk ke area penampungan utama.

Baca juga: Pasca Peniadaan Mudik, PT KAI Telah Operasikan 144 Kereta Api Jarak Jauh

Udara yang ada di stasiun bawah tanah juga bisa tersirkulasi karena terhubung ke sistem ventilasi yang menyediakan sumber udara segar yang andal dan stabil sehingga menciptakan lingkungan yang bernapas serta layak huni di bawah tanah. Sistem toilet kering juga dipasang di tengah platform untuk penggunaan umum dan beroperasi tanpa membutuhkan sumber air yang konstan untuk keperluan pembilasan.






















Bersiap Terbang Perdana, Enam Rute Super Air Jet Fokus Wilayah Indonesia Barat

Maskapai baru yang mengusung konsep ULCC (Maskapai Berbiaya Sangat Rendah), Super Air Jet, mengaku siap terbang perdana dalam waktu dekat. Maskapai -yang dalam laporan Debtwire mendapat suntikan dana dari Lion Air Group pimpinan Rusdi Kirana sebesar Rp518 miliar ini- akan membuka enam rute atau destinasi.

Baca juga: Wow, Harga Tiket Super Air Jet Lebih Murah dari Lion Air dan AirAsia! Ini Detailnya

Enam rute tersebut sepenuhnya fokus pada wilayah Indonesia bagian barat. Hal ini mengacu pada riset internal Super Air Jet dimana enam rute yang dipilih dalam penerbangan perdana tersebut merupakan rute-rute favorit kawula muda, baik pebisnis maupun traveler muda, yang memang menjadi target pasar maskapai.

Beberapa rute atau destinasi itu meliputi Jakarta melalui Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Palembang melalui Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (PLM), Padang melalui Bandara Minangkabau (PDG), Batam melalui Bandara Hang Nadim (BTH). Lalu, Medan melalui Bandara Kualanamu (KNO) dan Pontianak melalui Bandara Supadio (PNK).

“Pemilihan destinasi super favorit di tahap perdana guna menjangkau wilayah Indonesia barat dengan pilihan jadwal keberangkatan yang tepat di rute-rute super populer,” kata Direktur Utama Super Air Jet, Ari Azhari, dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut, fokus utama maskapai yang disebut Debtwire dimiliki oleh Farian dan Davin Kirana -putra dari Kusnan dan Rusdi Kirana- tersebut ialah menawarkan konsep berbiaya sangat rendah dengan penerbangan langsung antarkota secara point to point di pasar domestik, dan nantinya dapat merambah ke rute-rute internasional.

Selain itu, untuk menambah kenyamanan Super Air Jet akan menawarkan gratis bagasi 20 kg serta sistem hiburan yang didukung oleh aplikasi Tripper Trave besutan Airfi Indonesia yang bisa diunduh di Apps Store atau Google Play Store dari smartphone maupun gadget (Tab & Ipad).

Lewat sistem hiburan yang dinamakan Super Entertainment ini penumpang dimungkinkan untuk menikmati musik, film, dan hiburan lainnya tidak hanya ketika di udara (on board), melainkan juga ketika di darat (on ground), saat menunggu di bandara maupun dalam perjalanan ke bandara.

“Keuntungan atau nilai lebih terbang dengan Super Air Jet ialah Super Ekstra dengan gratis bagasi 20 kilogram (kg), yang semakin memanjakan dan mempermudah ketika melakukan penerbangan,” lanjutnya.

Dalam laman resminya, Super Air Jet diketahui menawarkan tiket penerbangan Jakarta-Palembang dengan tarif Rp252 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp367.200 dan AirAsia seharga Rp358.875), Jakarta-Pekanbaru mulai Rp 423 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket 555.300 dan AirAsia seharga Rp543.923).

Kemudian, ada lagi rute Jakarta-Medan Kualanamu yang ditawarkan maskapai baru Super Air Jet mulai Rp536 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp679.600 dan AirAsia seharga Rp665.149), rute Jakarta-Pontianak tarif mulai Rp385 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp513.500 dan AirAsia seharga Rp502.551).

Selanjutnya, Super Air Jet juga membuka rute Jakarta-Padang dengan tarif mulai Rp440 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp574.000 dan AirAsia seharga Rp561.561), dan Jakarta-Batam tarif mulai Rp 429 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp561. 900 dan Citilink seharga Rp594.900).

Baca juga: Untuk Tahap Awal, Super Air Jet Akan Melayani Rute Domestik dengan 3 Unit Airbus A320

Ada juga rute Jakarta-Lombok, tarif mulai dari Rp416 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp547.600 dan AirAsia seharga Rp535.904), Jakarta-Surabaya tarif mulai Rp348 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp472.800 dan AirAsia seharga Rp462.463).

Adapun tiket penerbangan Jakarta-Denpasar tarifnya dibanderol mulai Rp426 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp558.600 dan AirAsia seharga Rp547.129), dan Jakarta-Banjarmasin tarif mulai Rp437 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp570.700 dan Citilink seharga Rp624.820).

Pastikan Keamanan Penumpang, Drone 5G Patroli di Jalur Kereta Cepat Beijing-Shanghai

Tiga drone copter yang dilengkapi dengan sensor berpresisi tinggi berpatroli di sekitar jembatan kereta api untuk memeriksa struktur baja. Ketiganya berpatroli saat kereta berkecepatan tinggi dari Beijing menuju Shanghai melaju melintasi Jembatan Sungai Kuning Jinan, Provinsi Shandong, Cina Timur.

Baca juga: Ulang Tahun Ke-9, Inilah Cerita Kereta Api Berkecepatan Tinggi Beijing-Shanghai

KabarPenumpang.com melansir globaltimes.cn (24/6/2021), ini adalah pertama kali inspeksi jalur kereta api menggunakan drone otonom yang didukung oleh teknologi 5G dan Sistem Satelit Navigasi BeiDou (BDS). Sebagai jalur kereta api berkecepatan tinggi terbesar dan tersibuk di Cina, jalur kereta Beijing-Shanghai telah mengadopsi banyak langkah teknologi tinggi modern untuk memastikan keselamatan penumpang.

Yang Huaizhi, direktur departemen keamanan peralatan di Beijing-Shanghai High-Speed ​​Railway Co mengatakan, sistem itu terdiri dari platform pendaratan tetap atau bergerak, drone, berbagai instrumen deteksi khusus dan kontrol otomatis, serta sistem back end yang cerdas. Foto, video, dan data deteksi lainnya yang diambil oleh drone secara otomatis dan dikirim kembali ke pusat kendali.

Nantinya di pusat kendali, perangkat lunak akan bekerja menggunakan analisis cerdas untuk memeriksa perubahan pada foto, video, dan data lainnya dan akan mengidentifikasi perubahan abnormal. Selanjutnya secara otomatis sistem akan mengeluarkan peringatan risiko. Selama sepuluh tahun terakhir sejak dibuka, kereta api berkecepatan tinggi Beijing-Shanghai telah mengangkut lebih dari 1,35 miliar penumpang dengan aman.

Dengan total jarak tempuh lebih dari 1,58 miliar kilometer, setara dengan hampir 40 ribu kali mengelilingi khatulistiwa. Untuk kereta api berkecepatan tinggi dengan kepadatan operasi yang sangat tinggi, seperti kereta api berkecepatan tinggi Beijing-Shanghai, pekerja manusia hanya memiliki empat jam untuk inspeksi online dari pukul 00.30 hingga 04.30 pagi.

Ini karena waktu yang terbatas mengingat jumlah pekerjaan harus mereka lakukan. Sementara karena ketinggiannya, juga sulit untuk diselidiki dan dilakukan inspeksi skala besar. Tetapi sistem baru telah datang untuk menyelamatkan mereka. Sistem berteknologi tinggi yang baru, atas dasar keselamatan penerbangan, mencapai inspeksi 24 jam setelah hampir dua tahun pengembangan dan pengujian.

Baca juga: Cina Buat Jalur Uji Coba Kereta Maglev Berkecepatan 1.000 Km Per Jam

Drone ini dapat melayang untuk menyesuaikan sudut dan zoom untuk pemotretan posisi dan pemotretan ulang yang akurat, akurasinya dapat mencapai tingkat sentimeter atau bahkan milimeter. Huaizhi mengatakan, yang lainnya adalah drone sayap tetap, dan digunakan untuk berpatroli di area yang luas. Drone sayap tetap dapat terbang lebih tinggi, bergerak lebih cepat dan mencakup area yang luas.

Inilah Bréguet 763 Deux-Ponts, Airbus A380 Propeller dari Era 40-an

Airbus A380 memang tak ada duanya. Pesawat itu sampai saat ini masih menyandang status sebagai pesawat komersial terbesar di dunia dengan kapasitas 850 penumpang (satu konfigurasi). Sebelum sampai ke tangan A380, status tersebut pernah berada di tangan produsen pesawat asal Perancis lainnya, Bréguet Aviaition, melalui varian Bréguet 763 Deux-Ponts, sekalipun perlu penelitian lebih dalam soal ini.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Proyek pengembangan Bréguet 763 Deux-Ponts pertama kali dimulai sebelum era Perang Dunia II berakhir, sekitar bulan September 1945. Setelah melalui beberapa waktu, prototipe pesawat jarak menengah itu akhirnya berhasil terbang perdana pada 15 Februari 1949. Pesawat dengan triple vertical stabilizer (cantilever wing) ini didukung oleh empat mesin radial SNECMA 14R-24 1.580 tenaga kuda (hp).

Selain varian mesin itu, Bréguet Aviaition juga menyediakan tiga prototipe lainnya dengan dukungan mesin radial Pratt & Whitney R-2800-B31 2.020 hp. Uji coba ketiga pesawat tersebut berjalan mulus pada tahun 1951 dan 1952.

Tak lama setelah itu, produsen pesawat yang didirikan oleh pelopor penerbangan Louis Charles Breguet pada tahun 1911 ini mendapat dukungan kuat dari Pemerintah Perancis, melalui pembelian 12 unit Bréguet 763 Deux-Ponts.

Dilansir Simple Flying, dari jumlah tersebut, enam di antaranya dioperasikan oleh Air France dan enam lainnya digunakan pemerintah.

Bréguet 763 Deux-Ponts digadang merupakan titisan dari Airbus A380. Memang, dari kemampuan, keduanya berbeda, satu menggunakan mesin jet dan satu lainnya propeller. Dari segi kapasitas penumpang, Bréguet 763 juga tertinggal jauh dibanding pesawat superjumbo itu. Namun, secara hakikat, keduanya sama-sama menjadi yang terbesar di zamannya.

Dengan panjang 29 meter dan tinggi 10 meter, Bréguet 763 Deux-Ponts mampu menampung sebanyak 107 penumpang ditambah tiga orang kru. Bila dirinci, sekitar 59 diplot di dek atas dan sisanya, 48 penumpang berada di dek bawah. Sebetulnya, pesawat bisa saja memuat sekitar 135 penumpang jika konfigurasi kursinya di desain seperti sekarang.

Baca juga: Percaya atau Tidak, Rusia Pernah Membuat Helikopter Berkapasitas 196 Penumpang

Jumlah tersebut terbilang cukup besar untuk ukuran kala itu, dimana rata-rata pesawat yang beredar hanya mampu menampung puluhan hingga 100an penumpang; seperti pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia, Boeing 377 Stratocruiser yang mampu memuat 100 penumpang dan de Havilland Comet dengan kapasitas 36-44 penumpang.

Di masa eksistensinya, Bréguet 763 Deux-Ponts diproduksi sebanyak 20 unit. Penggunaan terpopuler tentu oleh Air France. Bersama maskapai nasional Perancis itu, Bréguet 763 menjadi andalan menggarap rute-rute antar benua perusahaan, salah satunya rute Perancis-Aljazair. Selain itu, Air France juga mengerahkan pesawat ini di rute-rute gemuk Eropa, seperti London-Paris serta rute-rute potensial lainnya di tataran domestik.






















Pusing Kebanyakan Dikomplain Penumpang, Flair Airlines Tutup Line Telepon

Flair Airlines mengumumkan penutupan saluran atau line telepon perusahaan selama tiga hari, terhitung mulai tanggal 16-19 Juli. Itu dilakukan karena saking banyaknya telepon berupa keluhan dan saran dari penumpang plus meningkatnya traffic penerbangan.

Baca juga: Puluhan Ribu Kali Lakukan Panggilan ke Call Center, Pria Tua ini Diciduk Polisi

Maskapai berbiaya murah (LCC) asal Kanada tersebut berdalih, itu dilakukan justru untuk meningkatkan layanan, bukan malah lari dari tanggung jawab dalam melayani setiap keluhan penumpang. Bagaimana bisa?

Dilansir dari Simple Flying, Kanada diketahui mulai melonggarkan pembatasan perjalanan atau lockdown ketat di seantero negeri. Sudah begitu, di saat yang bersamaan, berbagai promo dari maskapai juga membuat minat terbang masyarakat, dalam hal ini calon penumpang, meningkat dan pada akhirnya membuat maskapai sibuk.

Tiba-tiba hectic tentu bukanlah sebuah kebanggan bila tidak dibarengi dengan kesiapan. Itulah yang saat ini dialami Flair Airlines. Usai dihantam pandemi habis-habisan dan perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, praktis tim layanan yang ada saat ini jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan pelanggan.

Berbagai keruwetan ini yang pada akhirnya membuat pelayanan tidak maksimal dan maskapai mau tak mau mengambil kebijakan kontroversial ini.

“Kami sangat menyayangkan hal ini. Pengalaman pelanggan kami saat ini bukanlah yang pantas Anda dapatkan, dan bukan yang kami perjuangkan,” kata Garth Lund, Chief Commercial Officer Flair Airlines.

Alasan untuk menutup layanan call center atau customer service oleh maskapai memang sangat masuk akal. Sebelum ditutup, rata-rata dari mereka mengaku menunggu bermenit-menit atau dalam jangka waktu cukup lama untuk mendapatkan respon dari petugas layanan. Ini pada akhirnya justru membuat penumpang atau calon penumpang geram.

Pun sebaliknya, petugas yang melayani juga ikut geram lantaran banyaknya waiting list keluhan ditambah tak semua keluhan urgent untuk ditangani.

Oleh karena itu, maskapai menutup line telepon dan menggantinya dengan berbagai platform keluhan lainnya, seperti web dan media sosial. Setiap pelanggan atau calon pelanggan yang ingin konsultasi ataupun komplain diwajibkan untuk mengisi form komplain terlebih dahulu.

Baca juga: Call Sign Aneh dan Kece Badai Maskapai Seluruh Dunia, Salah Satunya Cedar Jet

Dari sini, maskapai kemudian mengecek dan merespon hanya yang sangat urgent untuk direspon. Dengan begitu, layanan juga masksimal dan pelanggan pun tak tersulut emosi lantaran lama menunggu hingga pulsa habis sebelum menerima respon langsung dari maskapai.

Dengan begitu, cara ini, menurut banyak pihak, nampak terlihat seperti lari dari tanggung jawab. Tetapi di sisi lain, jika dilihat secara detail, langkah ini justru brilian. Sudah begitu, CCO maskapai juga mengaku sedang menambah tim dan mengelolanya untuk persiapan di tanggal 20 Juli besok ketika saluran telepon sudah kembali dibuka.

Untung-Rugi Gabung Aliansi SkyTeam yang Juga Diikuti Garuda Indonesia, Apa Saja?

SkyTeam adalah salah satu dari tiga aliansi maskapai terbesar dunia. Kendati aliansi yang di dalamnya tergabung Garuda Indonesia ini merupakan yang termuda di antara dua lainnya, yaitu Star Alliance dan oneworld, tetapi aliansi ini menjadi terbanyak kedua dalam urusan menerbangkan penumpang di tahun 2019, mencapai 630 juta penumpang ke 1.150 tujuan di 175 negara.

Baca juga: Mengenal SkyTeam, Aliansi Penerbangan Internasional Garuda Indonesia

Terlepas dari capaian itu dan berbagai capaian, sebetulnya apa saja keuntungan bergabung dengan aliansi SkyTeam?

Dilansir Simple Flying, aliansi SkyTeam terbentuk pada 22 Juni 2000 di New York atas inisiatif CEO Aeroméxico, Air France, Delta Air Lines, dan Korean Air. Aliansi SkyTeam Cargo berdiri menyusul pada September di tahun yang sama.

Di hari pertama pembentukannya, aliansi SkyTeam menghubungkan 6.402 penerbangan harian ke 451 destinasi di 98 negara dunia. Sehari berselang, promosi pun mulai gencar dilakukan di seluruh dunia dengan tagline “Caring More About You”.

Bulan Oktober 2000, maskapai CSA Czech Airlines menandatangani perjanjian dengan aliansi SkyTeam sebagai langkah awal untuk bergabung ke dalam aliansi tersebut. Barulah pada tahun 2001, maskapai ini secara resmi masuk sebagai anggota kelima dari SkyTeam dan juga menambahkan jumlah rute sebanyak 14 destinasi di 21 negara.

Tahun 2001, SkyTeam membuka hub baru yang didukung oleh Korean Airlines di Bandara Internasional Incheon, Seoul. Pembukaan hub baru tersebut diharapkan bisa meningkatkan jaringan rute penerbangan di Asia dan membuka pasar baru selain di benua Amerika dan Eropa, mengingat Korean Air merupakan satu satunya maskapai Asia di SkyTeam kala itu.

Pada tanggal 27 Juli 2001, SkyTeam menerima Alitalia sebagai anggota keenamnya dan konektivitas aliansi ini pun meningkat sebanyak 21 rute di 6 negara sebagai jaringan global SkyTeam. Dua tahun berselang dari pendiriannya, Department of Transportation (DoT) Amerika mensertifikasi SkyTeam menyusul banyaknya kepercayaan publik terhadap aliansi ini, terutama di rute trans-atlantik.

Seiring bertambahnya usia, semakin banyak maskapai tenar yang akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan SkyTeam, sebut saja KLM (setelah bergabung dengan Air France), China Eastern Airlines (2011), China Airlines (2011), Garuda Indonesia (2014), Middle East Airlines (2012), Saudia (2012), Vietnam Airlines (2010), XiamenAir (2012), Aeroflot (2006), Air Europa (2007), TAROM (2010), dan Aerolíneas Argentinas (2012).

Aliansi SkyTeam memiliki program loyalitas untuk para anggotanya yang terbagi dalam dua level; Elite, dan Elite Plus. Untuk SkyTeam Elite, maskapai akan mendapat berbagai keuntungan, seperti waitlist reservasi prioritas, alokasi tempat duduk preferensial, konter check-in prioritas di bandara yang berpartisipasi, boarding prioritas, peningkatan baggage allowance, dan lainnya. Biasanya ini semua amat bermanfaat bagi maskapai di penerbangan internasional.

Untuk keanggotan SkyTeam Elite Plus, maskapai mendapatkan keuntungan berupa Guaranteed full-fare economy reservations untuk penerbangan jarak jauh, akses lounge di bandara di seluruh dunia, bagasi prioritas, serta baggage allowance yang jauh lebih besar. Semua itu bisa dinikmati penumpang, tak peduli kelas ekonomi ataupun first class, selama maskapai yang ditumpanginya tergabung dalam itu.

Selain itu, sesama anggota juga bisa saling melengkapi penerbangan di bawah prinsip one price, one destination, but more than one airline.

Ini memungkinkan penumpang Garuda Indonesia, misalnya, terbang ke Los Angeles dengan menumpangi maskapai SkyTeam lainnya, melalui skema sejenis codeshare. Ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga penumpang tak kebingungan melanjutkan penerbangan setelah Garuda Indonesia untuk bisa sampai ke tujuan.

Baca juga: Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut

Adapun kerugian bergabung dengan aliansi, entah itu SkyTeam, Star Alliance, ataupun oneworld, menurut former Senior Manager Public Relation Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, masing-masing aliansi memiliki kelemahan.

Sayangnya, ia tak mau buka-bukaan berapa biaya urunan menjadi anggota SkyTeam dan lainnya. Jadi, bisa dibilang untung-rugi bergabung dengan aliansi atau salah satu aliansi dari tiga itu tak bisa ditarik kesimpulan secara umum. Itu semua bergantung pada kepentingan masing-masing maskapai.

Jembatan 3D Pertama di Dunia Hiasi Kanal di Amsterdam

Jembatan biasanya hanya berbentuk lurus atau melengkung. Tetapi di Belanda ada yang baru meski tidak panjang, tapi jembatan 3D ini menjadi yang pertama di dunia. Selain itu, jembatan tersebut terbuat dari baja tahan karat dan membentang di kanal Belanda. Rencana ambisius ini diwujudkan oleh MX3D dan pembukaan jembatan tersebut diresmikan oleh Ratu Belanda.

Baca juga: Pemindai 3D Network Rail Tampilkan Hasil Impresif Untuk Pembangunan Jalur Kereta

Jembatan yang digunakan untuk umum ini selain memiliki desain 3D yang menarik tetapi juga memiliki sensor tersembunyi yang mengumpulkan data tentang integritas struktural, perilaku kerumuman dan banyak lagi. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (16/7/2021), proyek ini dirancang oleh Joris Laarman Lab, dengan Arup menangani tugas-tugas teknik, dan juga melibatkan ABB, Air Liquide, ArcelorMittal, Autodesk, AMS Institute dan Lenovo.

Rencana awalnya adalah membuat jembatan di tempat, tetapi ini ternyata tidak mungkin karena masalah keamanan dan masalah lainnya, jadi dibuat di pabrik. Proses pencetakan yang sebenarnya hanya memakan waktu enam bulan dan selesai pada tahun 2018, tetapi karena penundaan yang tidak terduga, termasuk menunggu sementara dinding kanal diperbaiki, jembatan baru-baru ini diangkut ke lokasi dengan perahu dan kemudian diangkat ke posisinya menggunakan derek.

Jembatan ini memiliki izin untuk tetap di tempat selama dua tahun dan memliki panjang 12,2 meter serta lebar 6,3 meter. Sementara proyek beton cetak 3D mengeluarkan campuran seperti semen dari nozzle berlapis-lapis, logam jelas menangani dengan cara yang sangat berbeda. Oleh karena itu, pembuatan desain jembatan yang kompleks melibatkan empat robot yang mengelas lapisan logam panas bersama-sama menggunakan kawat las standar dan gas. Sebanyak 6.000 kg baja tahan karat digunakan di semua.

“Pada dasarnya sistem AM logam M1 kami adalah robot pengelasan standar dan seperangkat sensor khusus. Kami mengembangkan CAM dan perangkat lunak manajemen data untuk mengatur proses pengelasan sedemikian rupa sehingga cocok untuk deposisi lapis demi lapis sebagai lawan untuk menghubungkan dua potong logam bersama-sama,” kata CEO MX3D Gijs van der Velden.

Gijs menambahkan, mereka menggunakan kabel dan gas las standar yang memungkinkan semuanya menggunakan banyak ilmu pengelasan yang ada. Sebab itu karena sifat material dari bagian ujung yang dibuat dengan teknologi yang mereka punya sangat baik. Tak hanya itu, jembatan tersebut dibuat diatas teknologi yang sudah digunakan di sebagian besar industri.

“Proses adopsinya mudah, keterampilan untuk beroperasi ada di rumah dan peraturan operasional identik dengan yang berlaku untuk pengelasan,” jelasnya.

Serangkaian sensor yang dipasang di jembatan digunakan untuk mengumpulkan pengukuran struktural mengenai regangan, rotasi, beban, perpindahan, dan getaran, sementara juga membaca data tentang faktor lingkungan seperti kualitas udara dan suhu saat penduduk setempat dan pengunjung menggunakan penyeberangan di Amsterdam. Distrik Lampu Merah yang ramai.

Semua data ini dimasukkan ke dalam model komputer yang tepat dari jembatan (disebut kembar digital) untuk membantu para insinyur memantau status strukturalnya secara real time. Data juga akan digunakan untuk “mengajar” jembatan untuk menghitung berapa banyak orang yang melintasinya dan seberapa cepat, dan banyak lagi.

Baca juga: Amsterdam Centraal, Stasiun Tersibuk Kedua di Belanda

Belum lama berselang, pembuatan jembatan logam dengan bentuk kompleks seperti itu secara robotik akan tampak seperti fiksi ilmiah, tetapi demikianlah tingkat kemajuan yang luar biasa dalam kancah arsitektur pencetakan 3D, dengan langkah penting lainnya termasuk perumahan yang terjangkau dan rumah mewah.