Gerbong Tidur Baru Rajdhani Express yang Dilengkapi Fitur Cerdas

Meski pandemi masih melanda dunia dan India baru menghadapi tsunami Covid, tetapi kereta api terus menghadirkan hal baru. Bukan hanya rumah sakit dengan menggunakan gerbong kereta api, tetapi menghadirkan beberapa keunggulan terbaru untuk kenyamanan penumpang mereka.

Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan

Di mana era baru pengalaman perjalanan kereta api dengan kenyamanan yang ditingkatkan sedang diluncurkan oleh Western Railway. KabarPenumpang.com melansir laman sumber thestatesman.com (20/7/2021), yang mana West Railway memperkenalkan garu gerbong tidur Tejas yang baru ditingkatkan.

Ini terlihat dari adanya gerbong berwarna emas cerah yang dilengkapi dengan fitur cerdas yang sudah disempurnakan. Gerbong tersebut diperkenalkan untuk menjalankan kereta Mumbai Rajdhani Express yang bergengsi di Western Railway dan mengklaim menawarkan pengalaman perjalanan terbaik di kelasnya.

Gerbong baru ini melakukan peluncuran perdananya mulai Senin (19/7/2021). Sumit Thakur, Chief Public Relations Officer Western Railway mengatakan, garu Kereta No02951/52 Mumbai – New Delhi Rajdhani Special Express yang ada sedang diganti dengan gerbong jenis Tejas baru.

Dua  gerbong tidur tipe Tejas tersebut telah disiapkan untuk dijalankan sebagai Rajdhani Express. Dari dua garu ini, satu garu terdiri dari gerbong tidur Tejas Smart eksklusif, yang pertama kali diperkenalkan di Indian Railway.

Kereta baru akan memiliki fitur pintar khusus untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Kehadiran gerbong pintar bertujuan untuk memberikan fasilitas kelas dunia kepada penumpang dengan bantuan sistem berbasis sensor cerdas.

Dilengkapi dengan Passenger Information and Coach Computing Unit (PICCU) yang didukungi dengan konektivitas jaringan GSM untuk konektivitas jarak jauh ke server. PICCU akan merekam data WSP, rekaman CCTV, sensor bau toilet, sakelar panik dan item lainnya yang terintegrasi dengan sistem deteksi dan alarm kebakaran, sensor kualitas udara dan filter choke dan pengukur energi.

Baca juga: Tejas Express, Kereta Api India Pertama yang Akan Dioperasikan Swasta

Thakur menyatakan bahwa dengan penggunaan Tejas SMART Coach, Indian Railways bertujuan untuk beralih ke perawatan prediktif daripada perawatan preventif.

Flight Number Paling Prestisius di Dunia, Salah Satunya Ada di Asia Tenggara!

Sebuah rute terkesan prestisius, mewah, dan elegan saat menggunakan flight number atau nomor penerbangan istimewa. Itu bisa dilatarbelakangi momentum, sejarah, perkembangan teknologi, penerbangan sangat spesial, dan sebagainya.

Baca juga: Misteri Teror Hantu Pesawat Eastern Airlines dengan Nomor Penerbangan 401

Gelar flight number paling terkenal bisa dibilang dipegang oleh British Airways dan Air France saat memulai layanan penerbangan supersonik Concorde dari London dan Paris ke JFK; BA001 dan AF001.

Di dunia, flight number spesial banyak sekali. Agustus mendatang saja, sudah ada belasan daftar rencana penerbangan yang menggunakan flight number spesial, mulai dari Emirates EK1 dari Dubai ke London Heathrow dengan A380, Turkish Airlines dari Bandara Istanbul ke New York JFK, Aeromexicodari Meksiko City ke Madrid, El Al dari Tel Aviv ke New York JFK, sampai Delta Airlines dari New York JFK ke London Heathrow.

Kemudian, ada lagi rute LOT Polish dari Warsawa ke Chicago O’Hare, Finnair dari Helsinki ke Los Angeles, Etihad dari Abu Dhabi ke Frankfurt, ANA dari Washington Dulles ke Tokyo Narita, Japan Airlines dari San Francisco ke Tokyo Haneda, WestJet dari Calgary ke London Gatwick, Biman Bangladesh dari Dhaka ke London Heathrow, serta ZIPAIR dari Honolulu ke Tokyo Narita. Rata-rata dari mereka menggunakan flight number prestisius 001 (flight one).

Selain itu, seperti dikutip dari Simple Flying, ada nyaris 30 rute lain yang seluruhnya juga menggunakan nomor penerbangan 001 non-stop, seperti Cape Air dari White Plains-Provincetown, Sky Express dari Athena ke Kozani, Safarilink dari Nairobi Wilson ke Massai Mara, Ravn dari Dutch Harbor ke Anchorage, Lufttransport dari Bodø ke Værøy (helikopter), Auric Air dari Danau Manyara ke Grumeti (Tanzania), dan Nauru Airlines dari Nauru ke Brisbane.

Kendati umumnya penerbangan yang menggunakan flight number spesial 001 terjadi pada rute-rute jauh, pada rute-rute dekat antar-kota di sebuah negara juga demikian. Tengok saja penerbangan HA1 Hawaiian dari Los Angeles ke Honolulu.

Penerbangan tersebut menggunakan pesawat A330-200 berkapasitas 278 kursi, berangkat dari California pada pukul 07.00 waktu setempat dan tiba di Hawaii pada pukul 09:45 waktu setempat.

Masih di Amerika Serikat, Alaska Airlines juga menggunakan flight number spesial 001, yaitu AS1, pada rute Washington-Seattle. Tak begitu jelas mengapa maskapai menggunakan nomor penerbangan spesial pada rute ini. Tetapi, disebutkan, rute ini sebagai pengganti dari rute gemuk di masa lalu yang juga menggunakan flight number itu, Fairbanks-Anchorage-Seattle.

Baca juga: Mengenal Arti Kode “PK” di Badan Pesawat Penumpang

Keduanya (rute di atas) termasuk dalam daftar teratas 10 rute terpendek yang menggunakan flight number spesial 001. Adapun delapan lainnya meliputi Spirit dari Fort Lauderdale ke Chicago O’Hare, Nok Air dari Bangkok Don Mueang ke Chiang Mai (mewakili Asia Tenggara), Skymark dari Tokyo Haneda ke Fukuoka, dan Air Macau dari Beijing ke Makau.

Selanjutnya, ada flydubai dari Dubai ke Doha, SAS Airlines dari Luleå ke Stockholm Arlanda, Southwest dari Dallas Love ke Houston Hobby.

Diterpa Gelombang Panas, Dubai Buat Hujan Buatan dengan Drone

Pemanasan global berdampak pada musim yang terjadi di dunia seperti beberapa musim yang tak menentu hingga cuaca ekstrem yang menyebabkan berbagai hal. Seperti yang baru terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga: Pastikan Keamanan Penumpang, Drone 5G Patroli di Jalur Kereta Cepat Beijing-Shanghai

Saat ini Dubai tengah mengalami gelombang panas di musim panas. Bahkan di musim panas ini suhu mencapai 120 derajat Fahrenheit atau 49 derajat Celcius. Menurut Pusat Meteorologi Nasional UEA, karena gelombang panas ini, maka curah hujan ditingkatkan dengan operasi penyemaian awan di negara Teluk itu.

Karena hal ini, kemudian Pusat Meteorologi Nasional UEA melakukan operasi penyemaian awan. Hal tersebut merupakan misi berkelanjutan untuk menghasilkan curah hujan di negara Timur Tengah yang memiliki curah hujan rata-rata hanya empat inci.

KabarPenumpang.com mengutip dari Independent (22/7/2021), operasi penyemaian awan bekerja melalui pesawat berawak yang menembakkan bahan kimia, seperti perak iodida ke awan untuk menyebabkan peningkatan curah hujan. Hujan deras menyebabkan air terjun muncul di kota Al Ain dan membuat kondisi mengemudi berbahaya.

Uniknya salah satu sistem yang akan diuji coba di UEA adalah menggunakan drone dengan menembakkan muatan listrik ke awan untuk meningkatkan curah hujan. Proyek ini dipimpin oleh para peneliti di University of Reading di Inggris.

Profesor Maarten Ambaum, yang mengerjakan proyek tersebut, mengatakan pada Maret bahwa UEA memiliki awan yang cukup untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk hujan. Proyek ini mencoba membuat tetesan air berkumpul dan menempel ketika mereka menerima aliran listrik, “seperti rambut kering ke sisir”.

Baca juga: Inggris Mulai Uji Coba Drone Kargo ke Kepulauan Terpencil, Indonesia Kapan?

“Ketika tetesannya menyatu dan cukup besar, mereka akan jatuh sebagai hujan”, kata Prof Ambaum.

Menerapkan kejutan listrik ke awan lebih disukai karena tidak memerlukan penggunaan bahan kimia.






















Sederet Kasus Ini Bikin Ide Penerbangan Satu Pilot di Kokpit Jadi Horor

Seiring perkembangan teknologi, peran manusia di dunia penerbangan menjadi sangat terbatas. Dahulu, kokpit diisi oleh lima orang, termasuk pilot dan kopilot, radio operator, navigator, dan flight engineer. Tiga terakhir sudah lenyap digantikan teknologi. Kini, satu lainnya, yaitu kopilot/pilot, sudah diatur untuk disingkirkan di masa mendatang.

Baca juga: Airbus A350 Cathay Pacific Terbang dengan Satu Pilot Mulai 2025!

Belum lama ini, Cathay Pacific mengumumkan rencana menerbangkan armada Airbus A350 dengan satu pilot mulai tahun 2025 mendatang. Itu dilakoni di hampir seluruh penerbangan jarak jauh A350, dengan catatan proses sertifikasi berjalan lancar sesuai rencana. Dengan begitu, kebutuhan pilot maskapai Hong Kong itu bisa ditekan.

Saat ini, Cathay Pacific telah memulai mimpi berbalut Project Connect tersebut bersama Airbus untuk mengembangkan operasi penerbangan jarak jauh A350 dengan hanya satu pilot.

Kendati demikian, Cathay Pacific belum akan meluncurkan penerbangan A350 satu pilot usai mendapat sertifikasi dari regulator. Keamanan akan menjadi proritas utama maskapai dan masih mengkaji pendapat para penumpang terkait itu.

Sebelum kebijakan satu pilot ditarget Cathay Pacific dan Airbus, beberapa tahun ke depan kebutuhan pilot akan sangat tinggi.

Menurut studi terbaru oleh Geoff Murray dari Oliver Wyman, perusahaan konsultan manajemen terkemuka di Amerika Serikat (AS), sebelum mencapai 2024 pun, industri penerbangan, dalam hal ini maskapai, diprediksi sudah mulai kekurangan pilot mulai tahun 2023. Bila industri penerbangan bisa kembali pulih lebih cepat, itu artinya akhir tahun ini kebutuhan pilot maskapai sudah mulai melonjak.

Melesatnya jumlah penumpang pada 2030 mendatang dipercaya membutuhkan sekitar 60 ribu pilot di seluruh dunia. Terdekat, pada 2025 mendatang, dunia setidaknya butuh 34 ribu pilot. Angka itu bisa saja meleset menjadi sekitar 50 ribu pilot.

Andai kata Airbus dan Boeing sukses mengembangkan pesawat single cockpit atau satu pilot dan diaplikasikan oleh maskapai seperti Cathay Pacific, sudah pasti angka-angka di atas sirna.

Tetapi, bagi para taruna atau calon pilot atau mungkin pilot yang sudah aktif sekalipun, era satu pilot di kokpit masih jauh dari harapan. Prosesnya masih akan berlangsung dalam waktu lama untuk membuatnya jadi massif. Penyebabnya, apalagi kalau bukan tantangan untuk membuat penerbangan aman, khususnya saat terjadi insiden.

Catatan The Print, setidaknya ada tiga kasus kecelakaan di masa lalu yang harus bisa dicarikan solusinya andai itu terjadi pada penerbangan satu pilot atau single pilot di kokpit.

Kasus kecelakaan pesawat pertama ialah pecahnya kaca pesawat BAC 1-11 British Airways pada 10 Juni 1990 silam.

Ketika itu, pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa ada korban jiwa. Padahal, pilot sedang berjuang melawan maut usai kepala dan lehernya sudah berada di jendela pesawat pasca pecahnya kaca. Beruntung masih ada kopilot yang berada di posisi sempurna untuk mendaratkan pesawat. Andai ketika itu hanya ada satu pilot, penerbangan akan berakhir seperti apa?

Kasus kedua yaitu penerbangan Delta Airlines pada Oktober 2009. Saat itu, pesawat mendarat di taxiway Bandara Atlanta, bukan di runway. Setelah penyelidikan, itu terjadi karena pilot dan kopilot kelelahan. Sedang dua pilot saja masih bisa terjadi seperti ini, apalagi satu pilot?

Baca juga: Siap-siap, Lowongan Kerja 60 Ribu Pilot Bakal Dibuka!

Adapun kasus kecelakaan ketiga yaitu pada penerbangan Air France flight 447 Juni 2009. Waktu itu, pesawat Airbus A330 rute Paris – Rio de Janeiro jatuh di Samudera Atlantik.

Hasil analisis penyidik, sejak masalah muncul sampai kecelakaan terjadi, pilot dan kopilot hanya punya waktu empat menit untuk menemukan masalah dan menanganinya. Sedang dua pilot di kokpit saja masih tak sanggup memecahkan masalah, bagaimana dengan satu pilot?

Pesawat Whitetail Airbus Habis, Pertanda Apa?

Keberadaan pesawat whitetail bisa dibilang menjadi alarm tanda bahaya. Bagaimana tidak, pesawat yang sudah diproduksi belum jelas siapa pemiliknya alias nganggur di pabrik (belum terjual). Semakin banyak pesawat whitetail, berarti semakin berat beban perusahaan. Cost produksi terus keluar namun sedikitpun pemasukan dari penjualan pesawat tidak ada.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Tetapi, itu bisa saja sebaliknya. Andai manufaktur pesawat tidak mempunyai pesawat whitetail karena jumlah produksi menurun (apalagi sampai tidak memproduksi pesawat sama sekali), itu juga berarti alarm tanda bahaya bagi bisnis manufaktur tersebut.

Menurut Airlines.net, Airbus diketahui memang selalu memproduksi pesawat whitetail. Itu dilakukan untuk menjaga supply chain serta jalur perakitan agar tetap berjalan dan mengejar target produksi bulanan. Selain itu pesawat whitetail ada juga karena pembatalan dari pihak pembeli.

Dibanding Boeing, yang bisa dibilang hampir tak pernah memiliki pesawat whitetail, begitu juga dengan Douglas yang sepanjang berdirinya perusahaan hanya pernah memproduksi MD-80 dan MD-11 tanpa pesanan, Airbus sering atau bisa dibilang selalu memproduksi pesawat whitetail.

Sejak tipe pesawat pertama Airbus, A300B2/4, diproduksi, perusahaan diketahui sudah lazim memiliki pesawat whitetail. Bahkan Airbus pernah mempunyai pesawat whitetail A320, A330, dan A340 dalam jumlah besar, membuatnya menumpuk di pabrik.

Head of Region & Sales Europe Airbus, Wouter Van Wersch, dalam gelaran MAKS-2021 di Rusia, belum lama ini mengungkapkan, di puncak krisis beberapa bulan lalu, Airbus memiliki sederet pesawat whitetail. Saking banyaknya pesawat whitetai Airbus bahkan sampai mengurangi produksi. Itu diperparah dengan lemahnya permintaan serta penundaan pengiriman pesawat.

Meski begitu, Airbus berhasil mengirimkan 566 pesawat pada periode krisis tersebut. Tak jelas kapan yang dimaksud periode krisis tersebut. Tetapi, itu diperkirakan terjadi di kuartal 2-4 tahun lalu.

Bulan lalu, Airbus tercatat masih memiliki lima pesawat whitetail. Beruntung, Van Wersch sudah mengkonfirmasi bahwa kelima sudah mendapat calon pembeli. Itu berarti Airbus sudah tak lagi memiliki pesawat whitetail. Dengan begitu, beban Airbus setidaknya jauh berkurang setelah periode pahit selama satu setengah tahun terakhir.

“Dari perspektif Airbus, kami duduk dan mengambil keputusan untuk mengurangi tingkat produksi kami,” ujar Van Wersch kepada wartawan.

Baca juga: Airbus PHK 15 Ribu Karyawan, Perancis Layangkan Protes!

“Kami juga melihat backlog kami. Kami menjangkau pelanggan kami untuk membahas masa depan dan bagaimana kami akan menyelesaikan krisis,” tambahnya.

Sejak awal tahun sampai akhir Juni tahun ini, Airbus tercatat sudah melakukan 297 pengiriman pesawat ke 67 pelanggan di seluruh dunia. Angka tersebut tentu bukan yang terbaik, tetapi cukup memuaskan di tengah pandemi virus Corona yang masih terus berlangsung.

Banjir Kereta Bawah Tanah Cina, Penumpang Terjebak di Antara Ketinggian Air dan Oksigen yang Menipis

Hujan lebat yang melanda Cina mengejutkan semua orang, karena terjadi dalam waktu  singkat dan membanjiri provinsi tengah Henan dengan menewaskan sedikitnya 25 orang. Bahkan sekitar 100 ribu orang telah dievakuasi di Zhengzhou yang jalur kereta api dan jalur darat lainnya terganggu.

Baca juga: Mengerikan! Kereta Bawah Tanah di Cina Kebanjiran, 12 Orang Tewas

Karena banjir di kereta bawah tanah Zhengzhou, sebanyak 12 orang meninggal dunia. Menurut pengakuan penumpang yang selamat, terowongan dan kereta dipenuhi air yang masuk melalui jendela. Mereka semua terjebak selama sekitar dua jam di dalam kereta yang dipenuhi air banjir.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by CGTN Europe (@cgtneurope)


KabarPenumpang.com melansir smh.com.au (22/7/2021), seorang penumpang mengaku, air sudah sampai ke dada dan yang menakutkan bukanlah air tetapi pasokan udara yang berkurang di dalam kereta. Seorang warga bernama Guo mengatakan hujan menghentikan layanan bus di kota berpenduduk 12 juta orang sekitar 650 km barat daya Beijing. Hujan menghentikan layanan bus di kota berpenduduk 12 juta orang sekitar 650 km barat daya Beijing.

“Itulah sebabnya banyak orang naik kereta bawah tanah, dan tragedi itu terjadi,” kata Guo yang harus bermalam di kantornya.

Lebih banyak hujan diperkirakan di seluruh Henan selama tiga hari ke depan, dan Tentara Pembebasan Rakyat telah mengirim lebih dari 5700 tentara dan personel untuk membantu pencarian dan penyelamatan. Dari Sabtu hingga Selasa, 617,1 mm hujan turun di Zhengzhou, hampir setara dengan rata-rata tahunan 640,8 mm.

Dikatakan biro cuaca Zhengzhou, jumlah tiga hari hujan, menyamai tingkat yang hanya terlihat “sekali dalam seribu tahun”. Ini seperti gelombang panas baru-baru ini di Amerika Serikat dan Kanada dan banjir ekstrem yang terlihat di Eropa barat, curah hujan di China hampir pasti terkait dengan pemanasan global.

“Peristiwa cuaca ekstrem seperti itu kemungkinan akan menjadi lebih sering di masa depan, Yang dibutuhkan adalah pemerintah mengembangkan strategi untuk beradaptasi dengan perubahan seperti itu serta merujuk pada otoritas di tingkat kota, provinsi, dan nasional,” kata Johnny Chan, seorang profesor ilmu atmosfer di City University of Hong Kong.

Untuk diketahui saat ini banyak layanan kereta api ditangguhkan di Henan dengan jalan raya telah ditutup dan penerbangan ditunda atau dibatalkan. Banjir ini pun kini sudah membuat persediaan makanan dan air habis untuk penumpang yang terdampar di kereta yang berhenti teoat di luar batas kota Zhengzhou dua hari sebelumnya.

Jalan-jalan terendam banjir parah di belasan kota di provinsi itu. Puluhan waduk dan bendungan menembus tingkat bahaya. Pihak berwenang setempat mengatakan curah hujan telah menyebabkan jebolnya 20 meter di bendungan Yihetan di kota Luoyang barat Zhengzhou, dan bendungan itu bisa runtuh kapan saja.

Baca juga: Alami Masalah Kelistrikan, Kereta Cepat di Cina Terbakar Hebat!

Perusahaan Cina, asuransi dan bank yang didukung negara mengatakan mereka telah menawarkan sumbangan dan bantuan darurat kepada pemerintah daerah di Henan sebesar 1,935 miliar yuan ($400 juta). Saat ini sekolah dan rumah sakit terdampar dan orang-orang yang terjebak dalam banjir berbondong-bondong ke tempat perlindungan di perpustakaan, bioskop, dan museum.






















Cina Luncurkan Prototipe Maglev dengan Kecepatan 600 Km Per Jam

Lagi dan lagi, ini bisa dikatakan karena Cina tak henti-hentinya terus mengembangkan kereta cepat levitasi magnetik atau maglev. Hal ini ditunjukkan pada Selasa, 20 Juli 2021, di mana Cina kembali meluncurkan prototipe kereta maglev super cepat yang mampu mencapai kecepatan tertinggi 373 mil per jam atau setara 600 km per jam.

Baca juga: Cina Buat Jalur Uji Coba Kereta Maglev Berkecepatan 1.000 Km Per Jam

Sehingga menjadikan maglev ini kendaraan transportasi darat tercepat di dunia. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber thehill.com (20/7/2021), maglev super cepat tersebut dikembangkan sendiri oleh Cina tanpa bantuan negara lainnya.

Diketahui, maglev super cepat tersebut diproduksi di kota pesisir timur Qingdao. Nantinya kereta maglev akan beroperasi melayang di atas rel tanpa kontak antara kereta dan rel serta akan beroperasi dengan cara didorong ke depan oleh energi elektromagnet yang kuat.

Konsep tersebut memungkinkan kereta mencapai kecepatan ratusan kilometer per jam karena tidak adanya gesekan rel. Hingga saat ini, Cina sudah menggunakan apa yang disebut kereta maglev selama hampir dua dekade.

Namun, negara Panda itu belum membangun jalur jarak jauh yang dapat memanfaatkan kereta baru. Kereta maglev Shanghai saat ini bisa mencapai kecepatan hingga 267 mil per jam atau 429 km per jam. Tetapi panjang jalurnya hanya sekitar 19 mil atau sekitar 30 km.

Kehadiran prototipe kereta maglev yang diperkenalkan pada 20 Juli lalu, maka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dari Beijing menuju ke Shanghai kurang dari tiga jam. Yang mana jarak antara dua kota tersebut lebih dari 750 mil atau sekitar 1.207 km.

Baca juga: Prototipe Kereta Maglev Cina Melaju dengan Kecepatan 620 Km Per Jam

Sayangnya masih banyak waktu yang diperlukan sebelum kereta peluru dapat mempercepat perjalanan penumpang di seluruh negeri. Hal ini karena belum ada jalur rel untuk kereta berkecepatan tinggi dan para insinyur memperkirakan kemungkinan akan beroperasi dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.






















Boeing 747-400 Korean Air Disulap Jadi Wahana Peluncur Roket Luar Angkasa

Sinergitas antara maskapai penerbangan dan angkatan udara telah terjalin erat, tidak hanya yang terjadi antara Garuda Indonesia dan TNI AU, dari Negeri Ginseng dikabarkan Korean Air bersama dengan Angkatan Udara Korea Selatan – Republic of Korea Air Force (RoKAF), telah memulai penelitian untuk menggunakan pesawat jumbo jet Boeing 747-400 sebagai wahana peluncuran roket luar angkasa.

Baca juga: Imbas Virus Corona, KLM Pensiunkan Boeing 747-400 Lebih Cepat, Salah Satunya “City of Jakarta”?

Dikutip dari Janes.com (20/7/2021), Korean Air mengumumkan pada 20 Juli lalu, bahwa maskapai plat merah itu telah mulai melakukan penelitian tentang kelayakan penggunaan pesawat komersial berbadan lebar (wide body) yang dimodifikasi untuk peluncuran roket ruang angkasa dan kendaraan orbital. Selain melibatkan RoKAF, proyek ini juga melibatkan Universitas Nasional Seoul yang ditugaskan oleh Kementerian Pertahanan.

Lebih detail,dalam sebuah pernyataan pihak Korean Air mengatakan bahwa mereka akan menganalisis kemampuan Boeing 747-400, teknologi utama yang akan diterapkan, biaya operasi tahunan, dan modifikasi pesawat yang diperlukan untuk peluncuran roket di udara. Proyek ini tentu ada dasarnya, yaitu setelah pada akhir Mei lalu terwujud perjanjian ‘Revised Missile Guidelines’ – yang membatasi jangkauan rudal balistik Korea Selatan hingga 800 km.

Otoritas pertahanan Korea Selatan menggambarkan proyek penelitian ini sebagai sesuatu yang sangat penting. Roket yang diluncurkan dari udara dapat diluncurkan ke berbagai arah dan di sepanjang rute yang berbeda, dan ini akan membantu Korea Selatan mengatasi keterbatasan geografisnya. Saat ini, Negara di Asia timur laut ini hanya dapat meluncurkan satelit ke selatan dari Pusat Antariksa Naro di Kabupaten Goheung Provinsi Jeolla Selatan.

Baca juga: Intip Teleskop Terbang Terbesar di Dunia Boeing 747 NASA

Boeing 747 bukan pertama kali diberi tugas untuk mengusung wahana luar angkasa. Persisnya pada tahun 1978, Boeing 747-100 milik American Airlines pernah digunakan oleh NASA, pesawat bermesin empat itu berperan sebagai shuttle carrier aircraft, dimana pesawat ulang alik Enterprise ‘digendong’ di atas fuselage, dan kemudian pesawat ulang alik dilepaskan dari udara. Tujuannya bukan untuk merilisnya ke ruang angkasa, melainkan untuk mendukung approach and landing test flights.






















Bus Kota di Australia Barat ‘Disulap’ Menjadi Laboratorium Uji Covid-19

Di masa pandemi virus corona yang belum juga berakhir ini, banyak moda transportasi yang beralih fungsi dari sebagai mana mestinya. Baik bus, kereta api hingga kapal ferry berubah menjadi bangsal rumah sakit, tempat pasien yang dilengkapi oksigen hingga laboratorium berjalan yang menyusuri pemukiman warga yang sulit dijangkau oleh tenaga kesehatan.

Baca juga: Mysuru Punya Bus Berisi Tabung Oksigen dan Mudahkan Pasien Covid-19 Menunggu

Bahkan baru-baru ini Departemen Kesehatan di Broome, Australia Barat mendapat penghargaan karena mengubah bus B.C. Transit menjadi laboratorium pengujian virus corona. Penghargaan Praktik Inovatif Emas 2021.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber wnbf.com (16/7/2021), B.C. Transit bus diketahui awal penggunaannya ketika pandemi virus corona mulai menyebar di bagian selatan pada bulan Maret tahun lalu. Karena hal ini, pejabat pengendalian masalah darurat, kesehatan dan pemerintah mengunci daerah untuk mengendalikan pandemi.

Hal tersebut dilakukan untuk mulai mengidentifikasi awal klaster dan dalam mengatasi virus corona dengan karantina lanjutan serta menangani kasusnya dengan pelacakan. Untuk itu, maka dilakukan lebih banyak pengujian di wilayah geografis tertentu.

Adanya bus kota ini membuat pejabat daerah datang dengan ide baru yakni mengubah bus angkutan umum menjadi sebuah laboratorium pengujian. Yang mana bus akan menjadi laboratorium bergerak di mana tes Covid-19 dilakukan di tempat sehingga prosesnya lebih cepat.

Baca juga: 20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans

Tak hanya itu, setelah hasil keluar di satu daerah, bus akan kembali berpindah ke daerah lainnya di mana tempat itu tidak memiliki tes cepat yang tersedia. Laboratorium bus berjalan tersebut diawasi dan dikelola melalui kemitraan pemangku kepentingan masyarakat serta personel dari beberapa departemen yang menyediakan 6.174 tes.






















Dua Terobosan Ini Bisa Pangkas Waktu Tempuh Penerbangan Jadi Setengahnya, Apa Saja?

Industri penerbangan jadi salah satu sektor transportasi yang paling cepat perubahannya. Setiap hari, selalu ada inovasi yang meliputi sektor ini. Baik itu berupa konsep dan gagasan, prototipe atau uji kelayakan, sampai inovasi nyata yang merubah cara manusia bepergian.

Baca juga: Tepat Janji, Prototipe Pesawat Supersonik Boom XB-1 Resmi Dipamerkan, 2021 Mulai Melesat

Belum lama ini, konglomerat asal Inggris yang juga pemilik maskapai Virgin Atlantic, Sir Richard Branson, berhasil mewujudkan ambisinya, menyediakan wisata antariksa sederhana yang bisa dijangkau siapapun yang memiliki uang, melalui proyek Virgin Galactic.

Seolah tak ingin kalah, orang terkaya di dunia, Jeff Bezos, melalui perusahaan wisata antariksanya, Blue Origin, juga berhasil menyusul Richard Branson, terbang ke luar angkasa di ketinggian sekitar 100 km, sebagian bagian dari penerbangan penumpang perdana Blue Origin berwisata ke luar angkasa.

Kendati demikian, baik proyek wisata ke luar angkasa Virgin Galactic maupun Blue Origin, sudah pasti tak akan berdampak banyak pada penerbangan komersial.

Sebab, itu bersifat komunal atau keinginan orang-orang yang tertarik untuk menjajal sensasi gravitasi 0 dan melayang di udara selama beberapa menit sambil melihat pemandangan luar angkasa. Tentu tak semua orang mau dan mampu membayar tarif selangit dari perjalanan wisata ke luar angkasa ini.

Tetapi, sebagaimana disebutkan di awal, industri penerbangan sangat cepat menyajikan perubahan. Selain Virgin Galactic dan Blue Origin, banyak perusahaan yang sedang atau sudah menawarkan konsep dan gagasan untuk mengubah cara penumpang atau masyarakat bepergian. Siapa saja?

Dilansir investorplace.com, Matthew McCall, former analis Wall Street, pusat bursa perdagangan saham dan bursa perdagangan lainnya di New York, Amerika Serikat (AS), belum lama ini menuangkan analisanya terkait industri penerbangan.

Dalam pengamatannya, pandemi Covid-19 memang membuat industri penerbangan hancur-hancuran. Ia juga tak yakin pasar penerbangan penumpang maupun private jet akan kembali pulih ke level seperti sebelum virus Corona mewabah.

Meski begitu, beberapa perusahaan tak berhenti berinovasi menciptakan masa depan perjalanan penumpang yang berbeda. Perusahaan pertama yang dimaksud adalah Jet Token, penyedia jasa private air travel asal AS.

Melalui aplikasi yang dikembangkan perusahaan, penumpang dimungkinkan memesan penerbangan komersial maupun private atau gabungan dari keduanya hanya dengan beberapa sentuhan di ponsel. Ini membuat perubahan pada penumpang berpergian di era penerbangan ultra-modern, membuatnya jadi lebih murah, cepat, dan tentu saja nyaman.

Perusahaan kedua yang dimaksud adalah United Airlines dalam kolaborasinya dengan Boom Supersonic. Salah satu maskapai terbesar di dunia asal AS tersebut belum lama ini mengumumkan pembelian 15 unit pesawat supersonik buatan Boom Supersonic seharga US$3 miliar atau sekitar Rp43 triliun (kurs 14.552) atau US$200 juta (Rp3 triliun) harga per unitnya.

Lewat penerbangan supersonik, United Airlines bisa memangkas penerbangan trans-atlantik dari New York ke London dan sebaliknya menjadi hanya 3,5 jam, dua kali lebih cepat dari pesawat komersial yang ada saat ini dikisaran 6,5 jam.

Baca juga: Di Dubai Airshow 2017, Boom Technology Siap Goda Emirates dan Qatar Airways

Tak hanya itu, penerbangan supersonik dari kolaborasi United Airlines dan Boom Supersonic ini juga menawarkan harga tiket jauh lebih murah dari Concorde, pesawat supersonik yang pertama kali terbang secara komersial pada 1976 dan berakhir pada 2003 silam.

United Airlines berencana hanya memasang tarif penerbangan supersonik sebesar US$2.500 atau Rp36 juta (kurs 14.552), 80 persen lebih murah atau berbanding jauh dengan penerbangan supersonik Concorde seharga US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang. Ini diyakini bisa mengubah cara penumpang bepergian di masa mendatang.