Drone Kargo K-Racer X1 Kawasaki Terbesar di Dunia Bermesin Ninja H2R 1.000 Cc Sukses Diuji Coba

Kawasaki rampung menyempurnakan mesin 1.000 cc supercharged dari hyperbike Ninja H2R, sepeda motor tercepat di dunia, menjadi helikopter kargo atau drone kargo otonom berkemampuan mengangkut beban berat. Helikopter kargo atau Cargo Copter Kawasaki ini beroperasi secara otomatis agar bilah rotor utamanya tak mengenai manusia saat bongkar muat kargo.

Baca juga: Lilium Pamer Penjualan 220 Unit Taksi Udara eVTOL Terbesar di Dunia Bernilai Rp12,5 Triliun

Dilansir New Atlas, cara kerja drone kargo Kawasaki bermesin bensin ini cukup mudah. Dalam rangkaian uji coba yang ditampilkan di official channel YouTube Kawasaki, mula-mula robot kargo diisi kargo atau barang oleh user berukuran dua kotak nasi bungkus berukuran 20×20.

Setelah itu, robot kargo akan berjalan secara otomatis menuju drone kargo K-Racer, entah itu K-Racer IV ataupun K-Racer X1, untuk kemudian diangkut ke tempat tujuan.

Drone K-Racer X1 Kawasaki, yang diklaim sebagai drone terbesar di dunia, mengusung rotor utama berdiameter empat meter dengan fixed wing di sisi kanan dan kiri serta dilengkapi dengan rotor tambahan bak pesawat.

Selain itu ada juga rotor kecil di bagian belakang, tepatnya di bagian horizontal stabilizer yang berfungsi membantu keseimbangan saat helikopter lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL). Fungsinya kurang lebih sama dengan rotor belakang helikopter.

Usai lepas landas secara vertikal menggunakan rotor utama, drone K-Racer X1 Kawasaki bermesin Ninja H2R bermesin 1.000 cc tersebut akan melesat secara horizontal dengan rotor di fixed wing.

Fixed wing atau sayap tetap pada drone juga berfungsi untuk memaksimalkan lift pada drone saat cruising di udara. Dengan begitu, torsi pada rotor utama bisa dikurangi untuke efisiensi bahan bakar.

Meski menggunakan mesin 1.000 cc, belum ada keterangan resmi dari Kawasaki seberapa cepat drone terbesar di dunia K-Racer X1 melesat di udara. Namun, itu diperkirakan tak akan terlalu cepat sebagaimana Ninja H2R Hyperbike yang berstatus sebagai sepeda motor tercepat di dunia.

Selain itu, kendati diklaim mampu mengangkut beban berat, Kawasaki menyebut drone kargo K-Racer X1 hanya mampu mengangkut kargo seberat 100 kg dengan jangkauan dan ketinggian terbang yang belum diketahui andai mengangkut beban seberat itu.

Baca juga: Inggris Mulai Uji Coba Drone Kargo ke Kepulauan Terpencil, Indonesia Kapan?

Walau sukses diuji coba, Kawasaki menyebut bahwa prototipe drone kargo K-Racer X1 bermesin Ninja H2R 1.000 cc beserta robot kargonya masih dalam tahap penyempurna. Sebab, saat ini prosesnya masih ada yang manual dimana kargo dimuat ke dalam drone kargo oleh manusia.

Nantinya, Kawasaki ingin robot kargo terintegrasi dengan sistem robot di pabrik secara otomatis untuk menyempurnakan otomatisasi cara kerja drone kargo K-Racer X1 Kawasaki secara end-to-end. Bila ini terjadi, pengiriman kargo dalam kota akan menjadi lebih cepat dan efisien di masa depan.

Elora Azalia, Penggemar Bus Perempuan – “Cinta Bus Sejati Tanpa Mencari Sensasi”

Jika anda membayangkan penggemar bus semuanya adalah seorang laki-laki, maka anda boleh meralat pemikiran itu. Nyatanya, semakin kesini hobi ini memiliki banyak penggemar perempuan. Meskipun identik dengan laki-laki, penggemar bus sekarang ini mulai banyak yang perempuan.

Baca juga: Rawan Pelecehan, Pramugari Bus Malam Acap Kali Mendapat Perlakuan Tidak Enak dari Penumpang

Kesukaan ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Biasanya para penggemar bus perempuan memang sering melakukan perjalanan dengan bus antar kota sehingga mereka memiliki kesukaan lebih terhadap bus.

Faktor pasangan juga bisa jadi pengaruh bagi para penggemar bus perempuan ini. Mereka memiliki pasangan baik pacar maupun suami yang merupakan seorang penggemar bus, dan secara tidak langsung hal ini yang membuat mereka juga menyukai bus.

Elora Azalia, seorang perempuan penggemar bus bercerita tentang bagaimana dia bisa menyukai moda transportasi bus. “Alasannya lucu sebenernya, dulu pas kecil kalau lihat bus di pantura selalu terheran-heran, soalnya di daerahku gak ada bus besar yg bagus-bagus” Ujar Elora

“Habis itu aku sekolah di Kota masih di Jawa Tengah sih, nah dari situ makin suka bus, tiap lihat bus bagus aku inisiatif fotoin” imbuhnya

“Touring naik bis pertama seingetku tahun 2013 naik PO. Haryanto (Kudus – Pulogadung), waktu itu aku sampai ‘dikawal’ almarhum ibu aku”

Meski tidak semua, tapi seringkali muncul anggapan bahwa para penggemar bus perempuan hanyalah mencari sensasi dan bahkan hanya demi menambah jumlah pengikut di media sosial.

Terkait hal ini, Elora memiliki pandangan tersendiri
“Kalo aku pribadi sih yaa emang suka bus tanpa pengaruh dari orang lain sih, emang dari akunya sendiri. Kalo berbicara manfaat, manfaatnya buatku lebih ke tambah banyak teman dari berbagai daerah. Lagian aku ga perlu cari sensasi juga udah terkenal sih. Canda terkenal” ujar Elora sembari tertawa.

“Jadi nggak lah kalo buat pansos-pansos gitu, intinya aku emang suka bus, suka berteman dengan orang baru juga yang satu hobi” imbuhnya.

Baca juga: Dianggap Terlalu Cantik Jadi Pengemudi Bus, Wanita Asal Inggris Tetap Pada Pendiriannya

Terlepas dari berbagai pandangan, kehadiran penggemar bus perempuan bisa dibilang memberikan warna tersendiri. Hobi yang didominasi oleh laki-laki ini menjadi lebih berwarna dengan kehadiran para penggemar bus perempuan. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)






















Gegara Kekurangan Staf, Kereta di Inggris Tangguhkan Perjalanan Tanpa Batas Waktu

Di masa pandemi, banyak pembatasan yang terjadi bagi pengguna kereta api. Di mana kereta yang biasanya penuh sesak dan padat, kini lebih lengang dan cenderung ramai tetapi tidak padat. Tak hanya itu, pandemi juga membuat kereta api bisa berhenti tanpa batas waktu karena kekurangan pekerja.

Baca juga: Isolasi Diri dari Pandemi Covid-19, Seorang Pria Tinggal di Stasiun Kereta Api

KabarPenumpang.com melansir dari laman bbc.com (28/12/2021), kekurangan staf tersebut terjadi di kereta Warwickshire di Inggris. Kereta ini melayani Leamington Spa, Nuneaton dan Coventry. West Midlands Trains mengatakan, kekurangan staf berarti kereta tidak dapat memberikan layanan sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Adanya penghentian operasional tanpa batas waktu tersebut, terjadi setelah ratusan kereta dibatalkan menjelang Natal. Hal ini karena banyak staf kereta tersebut yang terinveksi Covid-19.

Untuk mengantisipasi masalah itu, kemudian layanan bus pengganti hadir dan akan beroperasi di Warwickshire dengan situasi di bawah pengawasan ketat.

“Pandemi memiliki dampak signifikan pada tenaga kerja kami dengan lebih banyak rekan kami harus mengasingkan diri,” ujar West Midlands Trains.

Untuk diketahui, operator telah berjuang dalam melayani staf di rute lainnya selama berbulan-bulan karena kekurangan pengemudi. Layanannya antara Worcestershire dan Birmingham telah mengalami pembatalan reguler karena kesulitan merekrut dan melatih pengemudi baru.

Baca juga: Inilah Interior Kereta Pasca Pandemi, Hadirkan Fleksibilitas Bagi Penumpang

Kereta West Midlands sebelumnya mengatakan, bahwa pihaknya mengantisipasi masalah ini hingga musim panas 2022. Sehubungan dengan layanannya antara Leamington Spa, Nuneaton dan Coventry, perusahaan mengatakan niatnya adalah untuk mengembalikan “jadwal penuh pada jalur ini sesegera mungkin”.

Mengapa Kokpit Concorde Begitu Kompleks? Ini Jawabannya

Concorde tentu berbeda dengan pesawat lain pada umumnya. Selain kemampuan terbang di kecepatan supersonik, perbedaan juga terletak pada sisi komersial, dimana hanya dua maskapai (Air France dan British Airways) yang mengoperasikannya, rute, konfigurasi kabin, dan pastinya kokpit.

Baca juga: Bukan Concorde, Bell X-1A Jadi Pesawat Pertama di Dunia Tembus Kecepatan Mach 2

Kokpit Concorde dioperasikan oleh tiga orang, pilot, kopilot, dan flight engineer. Pada saat itu, ini bukanlah hal aneh. Boeing 707, 727, dan 747-100 semuanya dioperasikan tiga awak. Namun, kokpit Concorde lebih rumit saat dioperasikan. Mengapa demikian?

Kita tahu, pesawat supersonik Concorde mampu melesat di kecepatan Mach 2.04 saat di udara. Hal ini memungkinkan penerbangan trans-atlantik dari New York ke London ditempuh hanya dalam tempo tiga jam, jauh lebih cepat dibandingkan penerbangan saat itu yang lebih dari 6,5 jam.

Dengan kemampuan supersonik, kru kokpit memiliki berbagai tugas yang lebih rumit dibandingkan kru kokpit pesawat lainnya.

Dilansir Simple Flying, kemampuan supersonik Concorde membuatnya memiliki manajemen bahan bakar yang lebih kompleks.

Concorde diketahui memiliki beberapa tangki bahan bakar. Sebagian besar bahan bakar disimpan di sayap, tetapi ada juga yang disimpan di depan dan belakang untuk memungkinkan kontrol vital dari pusat gravitasi pesawat selama penerbangan supersonik.

Bahan bakar yang berada di depan dan belakang ini harus disalurkan ke tangki bahan bakar utama yang berada di sayap dan ini membutuhkan pemantauan dan kontrol dari kru alias tidak bekerja secara otomatis.

Selain itu, kemampuan supersonik Concorde juga membutuhkan sistem pendingin yang rumit untuk menghindari overheat pada badan pesawat. Sistem pendingin ini sebetulnya ada pada struktur badan pesawat itu sendiri.

Namun, Concorde juga mengalirkan bahan bakar jet bersuhu rendah ke bagian depan pesawat untuk mendinginkan dan semua ini butuh pemantauan serta kontrol dari kru.

Di luar dua itu, kokpit pesawat supersonik Concorde juga lebih rumit dan kompleks saat dioperasikan lantaran memiliki empat mesin dan penggunaan afterburner. Fitur aerodinamis, terutama bagian hidung pesawat yang bisa digerakkan, juga membuat kokpit sangat kompleks dengan panel kontrol tambahan di sisi kanan.

Saat ini, pesawat modern sudah tidak se-kompleks itu berkat fitur glass cockpit. Glass cockpit sendiri adalah suatu kokpit di pesawat dengan tampilan display atau instrumen yang terkomputerisasi dan tidak menampilkan display yang mekanik atau manual.

Hal ini bertujuan untuk memudahkan pilot mengoperasikan pesawat dan hanya fokus pada informasi yang sedang beroperasi, juga dapat mengeliminasi kebutuhan flight engineer.

Komponen dasar dari glass cockpit adalah Electronics Flight Instrument System (EFIS) dan Engine Indications and Crew Alerting System (EICAS).

Baca juga: Eksklusif: Foto Kabin Penumpang Concorde Saat Ngebut Secepat Kilat Menuju New York

Turunan EFIS terdiri dari Primary Flight Display PFD yang letaknya di instrument panel di sisi pilot dan kopilot yang mampu menampilkan beberapa hal, mulai dari data navigasi: DME, VOR, GS, ILS, dan sebagainya, hingga data ketinggian, kecepatan angin, kecepatan pesawat, attitude, waktu, kompas, dan sejenisnya.

Adapun EICAS menampilkan beberapa hal, mulai dari Engine Indicator seperti ITT, Torque, Fuel Flow, Oil Pressure, dan lain sebagainya hingga warning dan caution sebagai peringatan dini kru kokpit.

Banting Setir Saat Pandemi, “My Shuttle” Sukses di Rute Jogja – Cepu – Blora

Ketika sektor pariwisata luluh lantak akibat pandemi, maka usaha moda transportasi otomatis ikut terpukul, terlebih lagi pada jasa penyewaan bus pariwisata. Imbas sepi orderan bus pariwisata, tak jarang pengusaha bus berubah haluan dengan membuka trayek reguler. Hal ini semata-mata untuk bisa bertahan di tengah pandemi.

Baca juga: Labirin Raksasa di Tokyo Gunakan Bus Pariwisata yang Tak Beroperasi

Sriwijaya Transport asal Jogja salah satunya, operator bus pariwisata ini kini membuka layanan shuttle dengan rute Jogja – Cepu – Blora via Tol Ngawi. Uniknya, rute ini dipilih karena merupakan jalur ‘mudik’ sang owner. Tidak melalui Purwodadi dikarenakan kondisi jalan yang rusak.

Layanan shuttle ini resmi dibuka pada tanggal 28 Oktober 2020. My Shuttle adalah brand yang disematkan pada armada medium bus dengan konfigurasi seat 2-2 ini.

Kabin My Shuttle (Foto: Senna Aditya)

Ada dua keberangkatan baik dari Jogja maupun Blora, yakni keberangkatan pagi pukul 06.30 WIB dan juga keberangkatan sore pada pukul 15.30 WIB. Semua armada My Shuttle sudah melalui ruas tol transjawa Ngawi. Jadi untuk waktu tempuh bisa begitu efisien.

Untuk harga tiket sendiri dibanderol dengan harga Rp140.000. Dengan harga ini, fasilitas yang didapatkan penumpang adalah bus medium dengan Air Conditioner (AC), kapasitas kursi 33 seat, konfigurasi seat 2-2 recleaning seat, bantal di tiap seat, free air mineral dan juga free servis makan di rumah makan Duta, Ngawi.

Fahmi Mahendra pegawai bagian operasional dari My Shuttle mengatakan bahwa okupansi penumpang bisa dibilang menjanjikan untuk lintas Jogja – Cepu – Blora ini. “Penumpang mulai dari mahasiswa/mahasiswi, pekerja, juga keluarga yang akan mudik baik dari Jogja ke Blora maupun sebaliknya” ujar Fahmi. “Pandemi ini memang bisa dibilang menghancurkan dunia pariwisata, terlebih gelombang dua kemarin, mau gak mau kita harus menyesuaikan diri biar bisa tetap hidup” imbuhnya.

“Selain itu, My Shuttle juga menerapkan physical distancing, dimana 2 seat hanya untuk 1 penumpang. Hal ini jelas karena kita ingin ikut serta menekan penyebaran virus corona” tutup Fahmi Mahendra.

Baca juga: Kenapa Shuttle Bus di Apron Bandara Berjenis Low Deck? Ini Jawabannya

Pandemi corona sejatinya selain membuat ekonomi berantakan, di satu sisi juga membuka peluang bisnis baru. Sriwijaya Transport contohnya, pandemi boleh mematikan usaha transportasi di bidang pariwisata, tetapi pandemi juga membuka peluang bisnis baru bagi Sriwijaya Transport dengan membuka My Shuttle. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)

Yuk, Kenali Marka Batas Berhenti Kereta Api

Jika melihat di setiap stasiun dan posisi paling ujung emplasemen terdapat tanda/marka berupa plat besi segi empat bergambar tanda plus ( + ) berwarna putih yang ditancapkan tiang. Marka tersebut adalah batas berhenti kereta api. Jadi setiap kereta api ataupun KRL saat memasuki stasiun posisi kereta atau lokomotif tidak boleh melewati marka tersebut. Ini berfungsi agar masinis bisa memposisikan kereta/lokomotifnya tepat pada emplasmen.

Baca juga: Mengenal Marka Batas Kecepatan Kereta Api

Marka Batas Berhenti Disebut Juga Semboyan 10 G
Dalam ilmu perkeretaapian Indonesia banyak banyak sekali pembaruan ataupun marka baru saat menjalankan kereta api. Salah satunya Marka Batas Berhenti Kereta Api atau disebut juga Semboyan 10 G. Semboyan ini diperlukan agar masinis bisa mengetahui batas berhenti ditiap – tiap stasiun. Supaya tidak kebablasan berhenti kereta api itu sendiri.

Semboyan 10 G ini biasanya dekat dengan sinyal aspek keluar dan berada di ujung emplasmen stasiun. Dan bagian tanda plus nya di beri warna putih menyala agar saat terkena pantulan cahaya lampu kereta api bisa terlihat jelas oleh masinis.

Baca juga: Kecepatan Kereta Ternyata Faktor Utama Pembunuh Satwa Liar di Taman Nasional Banff dan Yoho

Dengan adanya Semboyan 10 G ini masinis wajib tunjuk sebut sesuai dengan SOP di kereta api saat melihatnya. Dan Semboyan 10 G tentu saja dikhususkan untuk kereta api yang berhenti. Sebagai informasi, jika masinis melewati Semboyan 10 G akan dikenai sanksi teguran yang sesuai peraturan di kereta api. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Pattaya Bersiap Adopsi Kendaraan Listrik untuk Transportasi Umum

Kini, hampir semua negara di dunia mulai mengembangkan kendaraan listrik. Bahkan beberapa di antaranya sudah mulai menggunakan untuk mengangkut penumpang dan melintasi perjalanan dalam dan luar kota. Kendaraan listrik sendiri, dikembangkan untuk mencapai nol persen emisi dan mambuat polusi berkurang serta mengurangi bising dari mesin kendaraan.

Baca juga: Kendaraan Listrik Semakin Banyak, Energy Absolute Buka Pabrik Baterai

Saat ini salah satu kota wisata di Thailand, yakni Pattaya tengah mempersiapkan diri untuk membeli kendaraan listrik. Nantinya kendaraan bertenaga listrik tersebut akan digunakan sebagai moda transportasi umum.

Selain itu, Pattaya juga bersiap diri untuk memperbaiki kualitas udara serta lingkungan di bawah proyek Neo Pattaya. Dilansir KabarPenumpang.com dari bangkokpost.com (8/12/2021), pengadaan kendaraan listrik yang sudah direncanakan itu diumumkan oleh Walikota Paatay Sonthaya Khunpleum belum lama ini.

Dia mengatakan, kendaraan listrik akan membantu mengurangi polusi dari pembakaran bensin dan mengarah ke Kota Hijau. Sonthaya mengatakan ini setelah berbicara dengan Apichart Thongyu, ketua komite kerja Pusat Pengembangan Manusia Koridor Ekonomi Timur (EEC-HDC), penasihat khusus EEC Assoc Prof Djitt Laowattana dan Somchai Thaisa-nguanvorakul, ketua komite eksekutif SNC Former.

Kebijakan Neo Pattaya bertujuan untuk mengembangkan kota sebagai pusat ekonomi di Timur, dengan pelestarian alam dan lingkungan. Sonthaya mengatakan kendaraan angkutan umum listrik, termasuk minibus dan taksi songthaew, akan diuji di pulau resor Koh Lan.

Ini akan dipromosikan sebagai ekowisata di bawah kebijakan Neo Pattaya. Untuk diketahui, kota Pattaya telah menandatangani nota kesepahaman dengan sektor swasta untuk uji coba penggantian kendaraan berbahan bakar bensin.

Baca juga: Kendaraan Listrik Pangkas 70 Persen Suku Cadang Mesin, Biaya Perawatan Jadi Lebih Murah

Pada tahun depan, dewan kota berencana untuk membeli sekitar 20 kendaraan listrik untuk layanan percontohan di kota. Sonthaya mengatakan, hasilnya akan dibandingkan dengan operasi mesin bensin dan digunakan untuk memutuskan apakah akan berinvestasi lebih lanjut di kendaraan listrik.

Hari Ini, 64 Tahun Lalu, Satelit Buatan Pertama di Dunia Jatuh ke Bumi 3 Bulan Setelah Diluncurkan

Pada hari ini, 64 tahun yang lalu, bertepatan dengan 4 Januari 1958, satelit buatan manusia pertama di dunia, Sputnik 1, keluar dari orbit, terbakar di atmosfer, dan jatuh ke bumi. Total, satelit buatan Uni Soviet tersebut berhasil menyelesaikan 1440 orbit bumi dan menempuh jarak sekitar 70 juta km sejak satelit buatan pertama di dunia itu diluncurkan dan memasuki orbit pada 4 Oktober 1957.

Baca juga: Satelit AS Temukan Pesawat MH370 di Hutan Kamboja! Cina dan Rusia Turun Tangan

Dilansir Space.com, ketika itu, tidak ada yang percaya bahwa Uni Soviet berhasil meluncurkan satelit buatan pertama, Sputnik 1. Terlebih Amerika Serikat (AS). Ketika publik beranggapan bahwa teknologi AS lebih unggul dibanding Uni Soviet.

Karenanya, ketika Sputnik 1 berhasil diluncurkan dan masuk orbit bumi, itu secara tidak langsung telah memulai era antariksa atau era luar angkasa dunia dan secara khusus telah menabuh genderang perlombaan eksplorasi ruang angkasa AS-Uni Soviet.

Sejak 6 Desember tahun 1999 sampai saat ini melalui resolution 54/68, tanggal peluncuran satelit buatan manusia pertama di dunia terus diperingati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membuka atau memulai Pekan Antariksa Dunia atau World Space Week (WSW) setiap tahunnya sampai tanggal 10 Oktober.

Saat masih dalam proses pengembangan, aura Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet sudah jelas terlihat. Betapa tidak, antara AS dan Uni Soviet saling menebar psywar dan cenderung berlomba meluncurkan satelit buatan pertama di dunia.

Pada 17 Desember 1954, kepala roket Soviet Sergei Korolev mengusulkan rencana pengembangan satelit buatan kepada Menteri Industri Pertahanan, Dimitri Ustinov. Pada tanggal 29 Juli 1955, Presiden AS Dwight D. Eisenhower mengumumkan melalui sekretaris persnya bahwa selama Tahun Geofisika Internasional (TGI) AS akan meluncurkan satelit buatan manusia pertama.

Empat hari kemudian, Leonid I. Sedov, fisikawan Soviet terkemuka yang pada akhirnya dikenal sebagai pencipta atau pembuat Sputnik 1, mengumumkan bahwa mereka juga akan meluncurkan satelit buatan pertama. Pada 8 Agustus, Politbiro Partai Komunis Uni Soviet menyetujui proposal untuk membuat satelit buatan.

Sputnik 1 memiliki lima tujuan ilmiah utama; menguji metode penempatan satelit buatan ke orbit Bumi; memberikan informasi tentang kepadatan atmosfer dengan menghitung masa hidupnya di orbit; uji radio dan metode optik pelacakan orbital; menentukan efek perambatan gelombang radio melalui atmosfer; dan, memeriksa prinsip tekanan yang digunakan pada satelit.

Satelit buatan manusia, Sputnik 1, berbentuk bola, berdiameter 23 inci (58 sentimeter) dan diberi tekanan dengan nitrogen. Satelit ini mempunyai empat antena radio yang membuntuti di belakang tubuh bulat pesawat ruang angkasa itu.

Ini memastikan bahwa satelit mentransmisikan sinyal radio secara merata ke segala arah terlepas dari rotasinya. Dua di antaranya memiliki panjang 7,9 kaki (2,4 meter), dan dua lainnya memiliki panjang 9,5 kaki (2,9 meter).

Sputnik 1 berhasil diluncurkan pada tanggal 4 Oktober 1957dengan roket dengan nama yang mirip: Sputnik-PS, dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan.

Peluncuran Sputnik 1 tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Karena booster tidak mencapai kekuatan penuh saat lepas landas, Sputnik 1 akhirnya mengorbit sekitar 310 mil (500 km) lebih rendah dari yang direncanakan.

Meski begitu, Sputnik 1 berhasil mengorbit bumi selama 21 hari, mengelilingi dunia setiap 96,2 menit. Orbit Sputnik 1 dilacak pada bola dunia yang dirancang oleh insinyur NASA Robert Farquhar.

Baca juga: Hari ini, 64 Tahun Lalu, Laika jadi Hewan Pertama yang Meluncur ke Orbit Luar Angkasa

Meski Sputnik 1 adalah proyek antariksa Uni Soviet, tetapi, sebagai satelit buatan manusia pertama yang mengorbit di bumi, ini menjadi agenda bersama bagi ilmuan dunia, tak heran bila ilmuan di seluruh dunia berlomba memantau sinyal dari Sputnik 1 sekaligus melacaknya, sampai akhirnya baterai pemancar habis pada tanggal 26 Oktober 1957, keluar orbit, terbakar di atmosfer, dan jatuh ke bumi pada 4 Januari 1958.

Sputnik 1 diproduksi sebanyak tujuh unit. Saat ini, sisa produksi yang tak digunakan disimpan di berbagai tempat, seperti di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York City, AS, Smithsonian’s National Air and Space Museum di Washington DC, AS, dan Chabot Space and Science Center di Oakland, California, AS.

1 Januari 2007 Boeing 737 Adam Air Flight KI574 Kecelakaan, Seluruh Maskapai Indonesia Dilarang Terbang ke Uni Eropa!

Pada hari Sabtu kemarin, 15 tahun yang lalu, bertepatan dengan 1 Januari 2007, pesawat Boeing 737-400 Adam Air dengan nomor registrasi PK-KKW mengalami kecelakaan di perairan Majene, Sulawesi Selatan. Buntut dari kecelakaan tersebut, seluruh maskapai Indonesia akhirnya dilarang terbang ke Eropa dan Amerika Serikat (AS) karena dinilai tidak aman.

Baca juga: Pengamat India: Kenapa Kecelakaan Pesawat Marak Terjadi di Indonesia?

Dilansir dari berbagai sumber, pesawat dengan nomor penerbangan KI574 itu memiliki rute Jakarta-Surabaya-Manado. Berangkat dari Bandara Juanda Surabaya pada 1 Januari 2007 pukul 12.55, pesawat Adam Air tersebut lepas landas dengan mulus. Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Sam Ratulangi pukul 16.14 Wita.

Namun, pada 14.53 Wita, pesawat dilaporkan hilang kontak dengan ATC Bandara Hasanuddin Makassar. Pada kontak terakhir, posisi pesawat berada pada jarak 85 mil laut barat laut Kota Makassar pada ketinggian 35 ribu kaki.

Pencarian pun dilakukan. Namun, setelah beberapa bulan, hasilnya nihil. Lama tak terdengar, pada 27 Agustus, kotak hitam ditemukan di perairan Majene, Sulawesi Barat. Selain perekam data penerbangan (flight data recorder ata FDR), juga ditemukan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder atau CVR) di kedalaman 2.000 meter.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), seperti diwartakan DW, menyebut bahwa kecelakaan pesawat Adam Air ini terjadi dari kombinasi beberapa faktor. Kedua pilot memiliki andil dalam kegagalan memonitor instrumen penerbangan secara intens, terutama pada dua menit terakhir penerbangan.

Fokus konsentrasi pada tidak berfungsinya inertial reference system (IRS) telah mengalihkan konsentrasi kedua pilot dari Flight Instrument dan membuka peluang terjadinya increasing devent tidak teramati.

Kedua pilot juga tidak mendeteksi dan menahan decent sesegera mungkin dalam mencegah kehilangan kendali. Dari laporan pilot dan perawatan tersebut juga ditemukan, sudah terjadi lebih dari 150 kerusakan IRS di rentang Oktober sampai Desember 2006, sebelum pesawat tersebut kecelakaan pada 1 Januari 2007.

Saat itu, pesawat berada di ketinggian 35 ribu kaki. Menurut analisa KNKT dari rekaman flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR), telah masalah dalam sistem navigasi pesawat. Hal ini membuat pilot dan kopilot memfokuskan perhatian pada masalah IRS.

Mereka kurang lebih mengurusi IRS selama 13 menit akhir penerbangan. Hal ini membuat mereka kurang waspada terhadap indikator penerbangan lain. Pada ketinggian 35 ribu kaki, sebenarnya posisi autopilot masih on.

Hingga akhirnya, posisi IRS kiri dan kanan berbeda. Kru memindahkan IRS kanan dari posisi NAV (navigation) menuju posisi ATT (attitute). Sayangnya perubahan itu membuat auto pilot off dan pesawat mendadak miring kanan.

Jatuhnya pesawat Adam Air KI574 di tahun baru 2007 ini menewaskan seluruh orang di dalamnya yang berjumlah 102 orang (96 penumpang dan 6 awak). Ini merupakan angka kematian tertinggi dari setiap kecelakaan penerbangan yang melibatkan pesawat Boeing 737-400. Bangkai pesawat ditemukan tanggal 7 Mei 2011 di perairan Siompu, Buton, Sulawesi Tenggara. Sedangkan jenazah seluruh penumpang tidak ditemukan.

Kecelakaan tersebut ternyata berbuntut panjang. Laporan AFP pada Kamis (28/6/2007), 51 maskapai Indonesia termasuk Garuda dilarang terbang ke Uni Eropa, disusul regulator Indonesia turun ke FAA Class 2. Disebutkan, maskapai Indonesia dinilai tak aman menyusul empat kecelakan beruntun, bukan hanya dikarenakan kecelakaan pesawat Adam Air.

Baca juga: Hari Ini, 17 Tahun Lalu, Kecelakaan Pesawat MD-82 Lion Air di Solo Tewaskan 26 Orang

Tak dirinci memang empat kecelakaan yang dimaksud. Namun, data menunjukkan, di tahun 2007 hanya tiga kecelakaan pesawat; Adam Air flight KI574, Adam Air flight 172, dan Garuda Indonesia flight GA200.

Namun, sejak tahun 2009, satu per satu maskapai Indonesia mulai diizinkan masuk Uni Eropa dan itu dimulai dari Garuda Indonesia. Puncaknya, pada tahun 2018, seluruh maskapai Indonesia sudah diizinkan terbang ke Uni Eropa.

Mengenang Insiden Garuda Indonesia GA981, Berhasil Mendarat Mulus Meski Landing Gear ‘Pincang’

Berbicara penerbangan dari Jeddah, Arab Saudi, ke Bandara Soekarno-Hatta, sebagian dari kita mungkin pernah mendengar beberapa kecelakaan, seperti kecelakaan pesawat sewaan Garuda Indonesia di Sri Lanka dan menewaskan 183 dari 262 penumpang dan awak kabin pada 15 November 1978 atau mungkin kecelakaan lainnya pada 4 Desember 1974 di Sri Lanka yang juga menimpa jamaah haji.

Baca juga: Hari Ini, 42 Tahun Lalu, Ratusan Jamaah Haji Tewas Terpanggang di Pesawat PIA Flight PK740

Akan tetapi, mungkin tak banyak yang ingat bahwa penerbangan di dua rute tersebut juga pernah nyaris menelan korban jiwa. Salah satunya adalah pesawat Boeing 747-400 PK-GSH Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA981. Beruntung, pilot berhasil melakukan pendaratan mulus meski landing gear sebelah kiri di bagian sayap tidak keluar.

Dikutip dari Majalah Angkasa No. 12 September 2006 Tahun XVI, insiden yang menimpa Queen of the Skies Garuda Indonesia GA981 dimulai tak lama setelah pesawat lepas landas dari Bandara King Abdul Aziz. Ketika itu, ada es yang menyelimuti nacelle sekitar mesin kiri.

Kondisi ini jarang terjadi di Jeddah. Umumnya cuaca Jeddah sangat cerah.Pembentukan es di sayap dapat membahayakan, antara lain menambah beban sayap yang sudah berbobot 43 ton. Es juga dapat menyebabkan kematian mesin seperti PK-GWA di Bengawan Solo.

Es di sayap juga dapat mempengarugi aerodinamik dan menghambat lift. Untuk mengurangi es, dilakukan de-icing dengan aliran udara panas dari pipa di bawah kulit sayap. Sembari de-icing PK-GSH terus meluncur ke FL350.

Pada ketinggian FL350, panel hidrolik menyala menandakan kebocoran pada pompa nomor empat. Instrumen menunjukkan 0,34 kemudian menjadi 0,33. Saat itu belum tahu mengapa pipa bocor. Dari sinilah insiden bermula.

Untuk diketahui, Pesawat 747-400 mempunyai empat pompa hidrolik, satu tidak bekerja normal, itu masih normal. Jadi pesawat tetap meluncur ke Jakarta. Dari titik kebocoran hidrolik, masih ada 10 jam lagi terbang ke Jakarta.

Umumnya bila salah satu redudancy tidak bekerja, cadangan lain otomatis ambil alih. Setelah peringatan sistem hidrolik berlalu, penerbangan kembali normal. Hingga kedapatan menjelang landing, main landing gear kiri tidak dapat keluar.

Dalam buku manual 747-4U3, kondisi demikian masih normal. Disebutkan bahwa pompa hidrolik akan hasilkan tekanan 3000psi untuk disalurkan ke dalam 9 sistem penggerak. Termasuk alat kemudi, autopilot, roda pendarat, serta air braking system.

Satu pompa mati masih normal, dua pompa mati masih normal. Kondisi ini dimungkinkan karena ada cross gate. Hanya saja awak kokpit harus bekerja ekstra keras untuk mengalirkan hidrolik tersebut secara manual.

Sayangnya, saat approach landing, left landing gear tidak keluar. Meski bisa saja melakukan cross gate, tetapi faktanya landing gear sebelah kiri tidak keluar dan itu terllihat jelas dari darat.

Dengan kondisi seperti itu, tentu saja setelah berkomunikasi dengan ATC, pesawat diizinkan mendarat. Pesawat, yang saat itu dipimpin Capt Harry, kemudian melakukan hard landing dan meluncur di runway. Selama meluncur di runway, pesawat berhasil mempertahankan aerodinamikanya dan tidak miring ke kiri.

Selama meluncur di runway, rem roda pesawat tidak digunakan karena berpotensi menimbulkan percikan api. Pesawat akhirnya berhenti 300 meter dari ujung runway dengan roda depan hanya tiga meter dari center line alias serupa dengan pendaratan normal.

Baca juga: Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara

Secara teori, pendaratan tanpa landing gear kiri atau kanan memang dimungkinkan terjadi secara normal. Selain terjadi pada Garuda Indonesia, maskapai lain juga pernah mengalami hal serupa, salah satunya Virgin Atlantic.

Saat ini, penerbangan GA981 masih dipertahankan untuk penerbangan internasional dari Jeddah ke CGK PP, Jeddah – Bandara Sultan Iskandar Muda, dan Bandara Sultan Iskandar Muda – CGK. Namun, lain halnya dengan pesawat Boeing 747-400 PK-GSH, menurut Planespotter, pesawat tersebut sudah pensiun dan ‘dimutilasi’ di Cengkareng.