Begini Detik-detik Pengambilan ‘Satu-satunya’ Foto Concorde Saat Melesat Mach 2

Baru-baru ini Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengklaim bahwa negaranya telah berhasil mengujicoba rudal balistik terbarunya yang memiliki kemampuan supersonik. Jika ditelisik lebih lanjut, mungkin hal tersebut tidaklah mengherankan, mengingat Rusia sejak medio 60-an mengembangkan teknologi yang melebihi kecepatan suara tersebut. Salah satu mahakaryanya adalah pesawat Tupolev Tu-144.

Baca juga: Tupolev “Concordski” Tu-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya 

Akan tetapi, walaupun Tupolev Tu-144 menjadi pesawat penumpang dengan teknologi supersonik pertama di dunia, persisnya  lahir dua bulan lebih dahulu dibanding Concorde, namun pesawat buatan Tupolev bersaudara tersebut tetap saja kalah pamor dibanding dengan Concorde.

Meskipun Concorde sudah sejak lama pensiun, namun foto-fotonya masih beredar luas di internet. Namun, dari sekian banyak foto-foto yang beredar, rupanya, hanya ada satu momen dimana pesawat yang lahir pada 2 Maret 1969 berhasil didokumentasikan saat sedang mengudara dengan kecepatan supersonik.

Dilansir theaviationgeekclub.com, momen didokumentasikannya pesawat Concorde saat sedang mengudara dengan kecapatan supersonik terjadi pada bulan April 1985. Gambar tersebut berhasil diabadikan oleh fotografer berkebangsaan Inggris. Meskipun terdengar mudah, sekedar memotret pesawat Concorde yang tengah melintas, faktanya, proses tersebut tidaklah mudah.

Disebutkan, mula-mula, pesawat Royal Air Force (RAF) Tornado yang ditumpangi Adrian terbang lebih dahulu hingga akhirnya berpapasan dengan Concorde di atas Laut Irlandia. Meskipun pesawat Tornado dapat menyamai kecepatan daya jelajah Concorde, namun, hal tersebut hanya berlangsung selama beberapa menit mengingat besarnya konsumsi bahan bakar.

Menyiasati hal tersebut, pesawat Concorde kemudian mengurangi kecepatan. Dari semula Mach 2 menjadi Mach 1.5 – Mach 1.6 atau sekitar 1.000 mph. Bila diubah menjadi satuan kilometer, 1.000 mph berarti 1.609 kilometer per jam atau tiga kali lipat kereta super cepat. Luar biasa cepat bukan? Dalam keadaan tersebutlah, selama empat menit, pesawat Tornado dan Concorde berada dalam posisi hampir sejajar untuk kemudian diambil gambar dari beberapa sudut. Dari situlah kemudian satu-satunya momen pesawat Concorde saat sedang mengudara dengan kecepatan supersonik berhasil diabadikan.

Sebagai informasi, pesawat Concorde mengukuhkan diri menjadi pesawat supersonik setelah berhasil melahap penerbangan dari Bandara Jhon F. Kennedy di New York menuju Bandara Heathrow di London dalam tempo 2 jam 52 dan 59 detik.

Baca juga: Satu Dekade Lebih ‘Terlantar,’ The Last Concorde Akhirnya Huni Rumah Barunya

Dengan kecepatan rata-rata mencapai Mach 2.04 (2.180 kilometer per jam), Aerospatiale-BAC Concorde melayani penumpang secara reguler dari Bandara Heathrow London dan Bandara Charles de Gaulle Paris ke Bandara John F Kennedy New York, Bandara Internasional Washington Dulles, dan Bandara Internasional Grantley Adams di Barbados selama 27 tahun.

Walapun dijual dengan tiket yang cukup mahal (berkisar 23 juta rupiah atau 140 juta rupiah kurs hari ini) dalam setiap penerbangannya, rata-rata Concorde dipenuhi sekitar 92 hingga 128 penumpang. Concorde akhirnya resmi mengehentikan opersionalnya pada tahun 2003 setelah serangkaian kecelakaan dan permasalahan teknologi yang tak kunjung terpecahkan.

Farrenberg Airfield, Bandara Ekstrem di Atas Awan

Di dunia ini, ada begitu banyak bandara ekstrem. Matekane Air Strip di Lesotho, Afrika, misalnya, menjadi salah satu yang terekstrem di dunia karena berada di ketinggian 2,299 mdpl, memiliki runway terpendek di dunia (hanya 396 meter), dan ujung runway menuju jurang sedalam 600 meter. Jadi, bila sedikit saja pilot melakukan kesalahan, bukan tak mungkin pendaratan akan berujung maut.

Baca juga: Courchevel, Bandara Ekstrem di Adegan James Bond “Tomorrow Never Dies”

Eropa juga memiliki bandara tak kalah ekstrem. Bandara Courchevel di Perancis, misalnya, masuk ke dalam kategori ekstrem karena hanya memiliki panjang landasan sejauh 537 meter. Padahal, bandara-bandara pada umumnya memiliki panjang landasan sejauh 1.200 atau 1.800 meter.

Tak cukup sampai di situ, Bandara Courchevel juga disebut ekstrem berkat posisinya di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl); termasuk tingkat kecuraman yang tinggi, mencapai 18,66 persen.

Tetangga Perancis, Jerman, juga tak mau kalah. Negeri Bavaria ini bukan hanya punya satu bandara ekstrem, namun dua. Tetapi, keduanya memiliki kadar ekstrem yang berbeda, di samping juga menawan. Dua itu adalah Bandara Leipzig/Halle di Leipzig dan Farrenberg Airfield, di distrik Mössingen Talheim, Baden-Württemberg, Jerman.

Tak seperti dua bandara ekstrem sebelumnya, Bandara Leipzig disebut ekstrem bukan karena ketinggian ataupun runway pendek, melainkan karena keberadaannya yang berbagi ruang dengan mobil dan kereta api. Namun, tak seperti bandara di Gibraltar yang memang mobil harus menunggu giliran lewat dengan pesawat, di Bandara Leipzig atau biasa disebut Bandara Schkeuditz, mobil dan kereta tetap bisa melaju bebas di bagian bawah dan pesawat taxiing di bagian atas atau jembatan.

Tetapi, bila dilihat dengan seksama, sejujurnya, aktivitas pesawat dan mobil serta kereta secara bersamaan justru menghasilkan pemandangan yang unik. Hanya saja, pemandangan itu masih tidak terlalu menarik dibandingkan dengan bandara ekstrem yang terletak di atas awan, Farrenberg Airfield.

Dilansir dari berbagai laman sumber, bandara atau mungkin lebih tepatnya lapangan terbang tersebut memang hanya terletak di ketinggian tak lebih dari 1.000 mdpl, yakni 819,6 mdpl. Namun, perubahan cuaca yang cepat, ditambah hembus angin kencang, membuat lapangan terbang ini menjadi ekstrem sekaligus juga menawan.

Bagaimana tidak menawan, di posisi tertentu, daratan di sekeliling lapangan terbang sama sekali tak terlihat akibat hamparan awan putih bergelombang. Landasan pacunya juga tampak tak begitu panjang sekalipun tak ada informasi lengkap atas itu.

Baca juga: Matekane Air Strip, Bandara Terekstrem dengan Ujung Runway Langsung Mengarah Ke Jurang

Instrument pendaratannya pun juga minim. Dari segi visual pendaratan, hanya ada sebuah garis lurus berwarna putih di tengah hijaunya rumput untuk touchdown pesawat. Maka dari itu, tak ada pesawat besar mendarat di sini, melainkan hanya pesawat-pesawat kecil saja.

Pada musim liburan, eksotisme pemandangan, kekayaan sejarah, dan iklim yang bisa dibilang bersahabat membuat festival tahunan di sini ramai dikunjungi wisatawan. Saat itu terjadi, Farrenberg Airfield menjadi salah satu akses yang paling diminati.

Di Argentina, Jalur Kereta Paling Selatan di Dunia ini Dulunya Bekas Akses Menuju Penjara

Jika Obskaya – Karskaya Line yang terdapat di Rusia mendapat predikat sebagai jalur kereta paling utara di Bumi, lalu kira-kira ada dimana ya jalur kereta paling selatan di Bumi? Apakah di Kutub Selatan? Nampaknya jawaban tersebut kurang tepat, karena jalur terkait terletak di, Argentina. Ya, Southern Fuegian Railway disebut-sebut sebagai jalur kereta paling selatan yang ada di muka Bumi.

Baca Juga: Obskaya – Karskaya, Jalur Kereta Paling Utara yang Akan Bawa Anda ke Ujung Dunia!

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah sumber, Southern Fuegian Railway atau yang kerap dijuluki Tren del Fin del Mundo (Train of the End of the World) ini merupakan jalur kereta uap dengan lebar rel 500 mm, yang terletak di Provinsi Tierra del Fuego, Argentina. Pada awalnya, jalur ini dibangun sebagai jalur pengiriman untuk melayani penjara Ushuaia, khususnya untuk mengangkut kayu. Namun seiring berjalannya waktu, jalur ini tidak lagi mengangkut kayu dan beralih fungsi menjadi sebuah heritage railway di Tierra del Fuego National Park.

Sumber: Espejismosur.tur.ar

Walaupun kini jalur kereta paling selatan di Dunia ini sudah berubah menjadi jalur wisata, namun sepenggal cerita suram mewarnai awal berdirinya Southern Fuegian Railway. Seperti yang sudah disinggung di atas, pada akhir abad ke-19, daerah Ushuaia di Isla Grande de Tierra del Fuego berkembang menjadi daerah pengasingan bagi narapidana, dengan kloter tahanan pertama tiba pada tahun 1884.

Di tahun 1902, barulah serangkaian pekerjaan dibebankan kepada narapidana untuk membangun sebuah penjara. Guna memudahkan dan mempercepat proses pembangunan, sebuah rel dibangun yang dikhususkan untuk mengangkut bahan bangunan seperti bebatuan, pasir, dan kayu. Dalam catatan sejarah, kala itu bentang rel yang digunakan masih menunjukkan angka 1000 mm.

Tren del Fin del Mundo Jaman Dulu. Sumber: Wikipedia

Tujuh tahun berselang, kepala penjara menginstruksikan pemerintah untuk melakukan peningkatan jalur dengan menggunakan rel dengan bentang 600mm dan permohonan akan penggunaan lokomotif uap. Tak butuh waktu lama, seluruh permintaan kepala penjara pun dituruti oleh pemerintah.

Gempa dahsyat yang melanda Tierra del Fuego pada tahun 1949 melumpuhkan jalur kereta penjara tersebut. Kendati demikian, pemerintah setempat bersikukuh untuk membersihkan jalur dan mengaktifkan kembali jalur tersebut, walaupun Penjara Ushuaia sudah tidak beroperasi sejak 1947. Sayangnya setelah jalur tersebut sudah siap untuk digunakan kembali, tidak ada layanan kereta yang melintasinya dan ditutup pada tahun 1952.

Rel kayu Tren del Fin del Mundo Jaman Dulu. Sumber: wikipedia

Berpuluh tahun setelah pensiun dari masa operasi, pada tahun 1994, Southern Fuegian Railway kembali mengalami renovasi dan bentang rel mereka kembali menyusut ke angka 500mm. Tidak lagi menjadi jalur yang melayani kereta penjara, melainkan jadi kereta wisata berbalut layanan super mewah. Layanan kereta mewah bernama Tren del Fin del Mundo (Train of the End of the World) ini membawa penumpang menyusuri Pico Valley di ngarai Toro dan menuju ke Stasiun Cascada de la Macarena.

Baca Juga: Jalur Kereta di Sulawesi, Nyaris Tak Terdengar Tapi Ada Bukti Jejak Sejarahnya

Julukan jalur kereta paling selatan di Dunia ini secara tidak langsung turut menyeret nama Stasiun Cascada de la Macarena yang kini banyak dijuluki orang sebagai stasiun kereta paling selatan di muka Bumi.

Apakah Penumpang Dapat Gunakan Toilet Sebelum Lepas Landas?

Usai menunggu pesawat sekitar dua sampai empat jam, penumpang mulai diizinkan masuk ke pesawat dan menuju ke kursi yang tertera di tiket. Sesampainya di kursi, pesawat tak langsung berangkat, butuh beberapa waktu untuk persiapan penerbangan. Menjelang take off atau setelah pintu pesawat ditutup, biasanya rasa dingin di pesawat membuat penumpang ingin buang air kecil (BAK) ke toilet. Bolehkah?

Baca juga: Kenapa Penumpang Diminta Tutup Tirai Jendela pada Penerbangan Siang Hari? Dilarang Lihat Pemandangan?

Dunia penerbangan memang mempunyai sederet prosedur ketat dalam rangka mencapai keselamatan dan keamanan penerbangan.

Di setiap penerbangan, pramugari atau kru kabin maskapai manapun pasti akan mengingatkan agar tirai jendela harus dibuka saat menjelang take off dan landing.

Alasan mengapa tirai harus dalam keadaan terbuka saat kedua kondisi tersebut tentu sudah didengar masyarakat, yaitu untuk memudahkan kru mendapatkan visual kondisi di luar pesawat, dalam hal ini mesin, sayap, atau kondisi pesawat itu sendiri, apakah miring, tegak lurus, menukik ke bawah, dan lain sebagainya.

Andai terjadi keadaan darurat, seperti hard landing, tergelincir akibat hujan deras, atau bahkan belly landing, pastinya tak ada lagi waktu bagi penumpang untuk membuka tirai jendela agar tak menutupi pandangan penumpang dan kru, bukan?

Dikutip dari Quora, sebelum lepas landas, penumpang diwajibkan untuk tetap berada di kursi masing-masing dengan memakai seat belt, melipat meja baki, menegakkan kursi, dan menaikkan tirai jendela.

Terkait menggunan seat belt ini, bukan hanya penumpang bahkan pramugari/pramugara pun juga diwajibkan mengenakan seat belt di kursi mereka di galley. Ini bukan semata-mata aturan oleh regulator melainkan untuk keamanan dan keselamatan semua.

Mengingat ada kewajiban mengenakan seat belt, sudah pasti penumpang tidak akan diperbolehkan ke toilet sebelum pesawat lepas landas, dalam artian saat pesawat tengah bersiap lepas landas. Demikian juga saat pesawat hendak turun landas atau mendarat, peraturan yang sama juga berlaku.

Kendati begitu, kejadian penumpang berada di toilet sebelum lepas landas dan sebelum mendarat bukan tak pernah terjadi.

Pada Mei lalu, seorang penumpang dilaporkan terkunci di kamar mandi atau toilet pesawat sebelum landing selama 45 menit. Ini terjadi setelah penumpang yang bersangkutan berada di toilet saat pilot memerintahkan kru untuk mengkondisikan penumpang atau bersiap untuk mendarat.

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Terbuka Sebelum Pesawat Lepas Landas? Ini Jawabannya

Sesuai prosedur, pramugari/pramugara akan meminta penumpang untuk mengenakan seat belt, menaikkan tirai jendela, melipat meja baki, dan mengembalikan kursi ke posisi semula, serta mengunci toilet.

Tanpa sadar, ternyata di dalam toilet tersebut terdapat seorang penumpang dan proses mendarat sudah kadung dilakukan. Pramugari tidak dapat beranjak dari tempatnya. Jadilah penumpang tersebut mendarat dengan posisi berada di toilet.

Ini Alasan Commuter Line Jenggala dan Supas Paling Diminati Masyarakat Jawa Timur

Angkutan kereta api lokal merupakan angkutan yang bisa terbilang memiliku tarif yang murah meriah dibanding dengan transportasi lain. Ya di setiap kota besar biasanya memiliki perjalanan kereta api lokal yang sangat membantu masyarakat untuk menempuh perjalanan ke berbagai area di wilayah perkotaan. Seperti halnya di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya ini. Beberapa kereta lokal yang di kelola oleh layanan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sudah berkontribusi kepada masyarakat.

Dengan tarif yang relatif murah, kereta api lokal di wilayah ini ada bermacam-macam, seperti Commuter Line Dhoho/Penararan, Commuter Line Blorasura, Commuter Line Jenggala, dan Commuter Line Supas. Beberapa diantaranya memiliki tarif paling murah, yaitu Commuter Line Jenggala dan Commuter Line Supas. Untuk Commuter Line Jenggala saja dengan rute Indro – Sutabaya Gubeng – Mojokerto hanya dikenakan tarif Rp5.000, sedangkan untuk Commuter Line Supas dengan rute Surabaya Gubeng – Pasuruan dikenakan tarif Rp6.000

Itulah alasan masyarakat khususnya yang berdomisili di Jawa Timur paling diminati saat menggunakan kedua kereta lokal ini. Masyarakat pengguna Commuter Line Jenggala maupun Commuter Line Supas tentu bermacam-macam. Ada yang hanya sekadar menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, maupun masyarakat yang rutinitas adalah pekerja/karyawan.

Commuter Line Jenggala merupakan rangkaian kereta bertenaga diesel elektrik yang saat ini masih aktif beroperasi. Berawal diresmikan pada tanggal 12 November 2014 silam, telah menjadi transportasi andalan bagi masyarakat Mojokerto, Tarik, Tulangan dan Sidoarjo untuk menghubungkan wilayah tersebut. Dengan adanya perjalanan kereta api Jenggala yang merupakan KA Perintis dengan rute Mojokerto, Tarik, Tulangan, Sidoarjo PP warga diwilayah tersebut lebih mudah dalam bepergian.

Sedangkan Commuter Line Supas yang merupakan kepanjangan dari Surabaya – Pasuruan ini juga diminati masyarakat khususnya yang berdomisili di wilayah Pasuruan, Jawa Timur. Rangkaian Commuter Line Supas ini ditarik oleh lokomotif yang memiliki 6 kereta berkapasitas 106 tempat duduk di setiap unitnya. Layanan Commuter Line Supas yang digadang-gadang akan tembus hingga Stasiun Probolinggo ini tentu membuat masyarakat sebagai pengguna setianya menjadi kabar baik. Karena merupakan harapan masyarakat juga yang ingin berwisata di Kota Probolinggo.

Saat ini Commuter Line Jenggala dan Commuter Line Supas telah berkontribusi kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya dalam hal bertransportasi. Murah meriah, terjangkau, dan praktis tentu yang telah dirasakan selama menggunakan layanan Commuter Line ini. Masyarakat pun berharap pelayanan yang dioperasikan, tak hanya kedua rangkaian yang disebutkan. Tetapi seluruh pelayanan kereta api yang dikelola di wilayah Daop 8 Surabaya.

Mengenal Kereta Api Lokal yang Super Murah dan Wajib Kalian Tahu

Resmi Beralih Fungsi, Stasiun Gedebage Kini Layani Angkutan Penumpang

Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung dan merupakan stasiun yang dahulu sibuk dengan aktivitas bongkar muat peti kemas, Stasiun Gedebage kini sudah berfungsi sebagai angkutan penumpang Kereta Commuter Line Bandung Raya. Ya, stasiun yang bersebelahan dengan depo gerbong ini juga merupakan stasiun alternatif bagi penumpang yang menggunakan kereta api baik dari Stasiun Padalarang atau Stasiun Bandung maupun Stasiun Cicalengka.

Diketahui sebelum dialih fungsikan untuk angkutan penumpang, Stasiun Gedebage hanya digunakan sebagai persilangan kereta api yang berlawanan arah. Stasiun ini kerap kali dijadikan pemberhentian sementara kereta api khususnya Commuter Line untuk menunggu kereta api yang melintas dari arah berlawanan. Selain itu Stasiun Gedebage juga tempat menyimpan dan pengecekan di dalam depo gerbong terutama jenis gerbong datar.

Di stasiun yang terletak pada ketinggian + 672 meter di atas permukaan laut dan jadi stasiun paling timur di Kota Bandung ini, menurut cargo.kai.id, ada Terminal Peti Kemas Bandung-Dry Port 476 atau Terminal Petikemas Gedebage (TPGD). Luas terminal berjenis container yard atau warehouse ini mencapai 300.000 m², dengan luas area penimbunan peti kemas-export 1.560 m², peti kemas-import (CFS-2) seluas 1.560 m², dan peti kemas-empty seluas 6.000 m².

Layanan kereta api peti kemas di Gedebage ini pun sejalan dengan beroperasinya Terminal Peti Kemas Bandung pada 23 Desember 1987. Terminal Gedebage ini sebenarnya merupakan pengganti gudang persediaan kereta api di Cikudapateuh yang didirikan pada 1920-an. Perpindahan dari Cikudapateuh ke Gedebage tersebut terjadi pada tahun 1987.

Dalam pernyataan yang beredar di media sosial bahwa sekitar 200 meter di sebelah timur perlintasan Jalan Gedebage, ada bekas perhentian/halte Gedebage Baru yang dinonaktifkan karena KRD Bandung Raya sudah tak lagi melayani halte itu. Di haltenya hanya tersisa bekas tegel dan peron. Jadi dulunya dapat dikatakan Stasiun Gedebage melayani penumpang, meski juga terbuka kemungkinan adanya layanan kereta barang.

Selain itu nama ‘Gedebage’ ternyata dari hasil revisi di jaman perusahaan Jawatan Kereta Api. Sejak tahun 1884 hingga awal Mei 1931 sempat menggunakan nama Gedehbage, alih-alih kini menjadi Gedebage. Oleh karena itu, selama beberapa bulan di kantor pusat Jawatan Kereta Api sibuk merevisi nama-nama stasiun agar pelafalannya sama dengan yang digunakan oleh jawatan pos dan telegraf (Post- en Telegraafdienst). Salah satu yang diubah oleh mereka adalah Gedehbage menjadi Gedebage.

Kini Gedebage menjadi stasiun yang diminati warga Bandung bagian timur untuk melakukan perjalanan dengan kereta Commuter Line. Setelah peluncurannya pada 1 Juni 2023 kini Stasiun Gedebage memiliki bangunan yang megah dengan fasilitas lengkap serta keamanan dan kenyamanan bagi penumpang kereta api.

Jelajahi Terowongan Kereta Api Terpanjang di Indonesia, Ini Dia Urutannya

Kempower Jadi Solusi Pengisian Daya di Bus Listrik Swedia

Era bus listrik benar-benar mulai terlihat jelas. Sebab hampir semua negara saat ini sudah menghadirkan bahkan menggunakan bus listrik untuk digunakan sebagai moda transportasi massal. Namun masalah lainnya dari kehadiran bus listrik adalah pengisian daya ketika bus kehabisan tenaga untuk beroperasi.

Baca juga: BlueSG Singapura Hadirkan Stasiun Pengisian Daya untuk Mobil Listrik Lain

Kempower menjadi salah satu solusi untuk membantu pengisian daya pada bus listrik. Di mana Kempower ini hadir di depot bus Bergkvarabuss AB di Strängnäs, Swedia.

Infrastruktur charging ini termasuk dalam total pengiriman yang dilakukan Scania ke Bergkvarabuss yang mampu menampung enam kendaraan. Pegiriman akan mencakup solusi pengisian cepat Kempower C- dan S-Series serta master Depot Kempower ChargerEye.

Pengisian daya cepat Kempower EV ini terhubung melalui master Depot Kempower ChargeEye yang merupakan platform remote control untuk depot bus listrik. Dengan hadirnya platform, maka pengisian dapat dipantau dan dikendalikan secara real time serta daya yang tersedia bisa didistribusikan secara diamis ke bus yang paling membutuhkan pengisian daya.

Stasiun pengisian cepat untuk depot bus dikirim, dipasang dan ditugaskan oleh Wennström atas nama Scania. Wennström adalah pemasok komprehensif Nordik untuk penyimpanan, distribusi, dan pengisian energi.

Baca juga: Citroen Ami Buggy – Adopsi Tenaga Listrik untuk Bertualang di Alam Bebas

“Dengan pilihan Wennström, kami mendapatkan kombinasi yang sangat baik dari sistem pengisian daya yang canggih secara teknis dan kontrak yang dilaksanakan secara profesional,” kata Henrik Eng, Direktur Penjualan bus di Scania.

Tak Sekadar Menunggu, Stasiun KA Tercantik Ini Bisa Juga Dijadikan untuk Hunting Foto, Berikut Daftarnya

Stasiun-stasiun kereta api di Indonesia tak sekadar melayani penumpang naik dan turun saja, namun sudah menjadi tempat untuk bertemu, bercengkerama, bahkan hanya mencoba jajanan khas yang telah tersedia. Selain itu banyaknya stasiun yang terkenal sekali pun tentu sangat paham dengan ciri khasnya tersendiri, termasuk bangunan yang menjadi ikonik di kawasannya.

Selain banyaknya bangunan bersejarah, stasiun kereta api kini sudah sangat rapi bahkan lebih terlihat cantik. Baik stasiun besar maupun kecil, stasiun kereta api bahkan dijadikan lokasi favorit bagi para penumpang sembari menunggu kereta api yang akan mereka naiki. Selain fasilitas lengkap, stasiun kereta api di Indonesia juga menyimpan sejarah yang membuat penumpang yang melihatnya merasa kagum.

Stasiun-stasiun yang Instagramable saat ini sudah mulai tersebar di sejumlah kota di Pulau Jawa maupun Sumatra, sehingga sangat cocok dijadikan spot foto. Penasaran ada di mana saja stasiun kereta tercantik di Indonesia? Berikut kabarpenumpang akan merangkumnya untuk kalian.

• Stasiun Jakarta Kota
Stasiun Jakarta Kota atau yang lebih dikenal sebagai Stasiun Beos ini berlokasi di Jalan Lada, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta.

Bagi kalian yang suka mengambil foto dengan latar belakang bangunan vintage, maka stasiun yang satu ini adalah pilihan yang tepat. Diketahui stasiun ini adalah karya besar dari arsitektur asal Belanda yang bernama Frans Ghijsels. Dia dikenal sebagai arsitektur yang memadukan antara struktur dan teknik modern barat dengan bentuk tradisional dan balutan art deco.

Stasiun Jakarta Kota juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya, lho. Dan meskipun sudah pernah direnovasi, tetapi bangunan khas Belanda ini masih tetap terjaga dengan baik.

• Stasiun Bandung
Kita bergeser ke wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung. Ya, stasiun berikutnya adalah Stasiun Bandung. Stasiun kereta api ini merupakan kelas besar tipe A yang berlokasi di perbatasan antara Kelurahan Pasirkaliki, Cicendo, dan Kebon Jeruk, Andir. Lebih Tepatnya di Jalan Stasiun Barat, Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung.

Stasiun Bandung diketahui mulai dibangun pada 1882 silam dan kemudian diresmikan pada tahun 1884. Sudah beroperasi lebih dari 100 tahun, stasiun ini masih mempertahankan beberapa bagian bangunan dengan gaya arsitektur art deco. Jika berhenti di Stasiun Bandung, jangan lupa untuk mengabadikan momen Anda lewat foto ya.

• Stasiun Semarang Tawang
Terkenal dengan julukan ‘tempat kelahiran kereta api’, Stasiun Semarang Tawang ini didesain langsung oleh arsitektur asal Belanda, yakni Sloth Blauwboer dan diresmikan pada Juni 1914 silam.

Bangunan bekas Belanda di Stasiun Tawang ini tidak kalah Instagramable dari stasiun lainnya. Selain itu, yang unik dari stasiun ini adalah ketika kereta datang, maka lagu Gambang akan diputar untuk menyambut kedatangan Anda.

• Stasiun Yogyakarta
Beralih ke lokasi paling favorit masyarakat untuk berlibur, Stasiun Yogyakarta atau bisa juga disebut Stasiun Tugu ini memiliki bangunan yang cantik nan bersejarah. Stasiun Tugu ini berlokasi di Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Stasiun Tugu termasuk salah satu stasiun yang memiliki spot foto yang cantik.

Banyak orang yang mengambil foto di bagian depan stasiun ini, apalagi di malam hari. Sebab perpaduan antara jam dinding, tulisan Jogjakarta, serta bangunan kunonya dan cahaya lampu menjadikan foto tampak lebih Instagramable.

• Stasiun Bogor
Beralih ke jalur selatan di wilayah Jabodetabek. Ya, Stasiun Bogor merupakan stasiun yang bisa dijadikan sebagai spot foto terutama dibagian pintu keluar timur atau menuju Alun-alun Kota Bogor. Stasiun yang dikenal saat era Kolonial Belanda dengan nama Buitenzorg ini adalah stasiun tipe kelas besar tipe A.

Stasiun Bogor terletak di Jalan Nyi Raja Permas, Cibogor, Bogor Tengah, Kota Bogor. Dan Bangunan di tempat ini pun sangat kental dengan nuansa Eropa. Sehingga begitu Anda melewati pintu masuk dan lobi utamanya, Anda mungkin akan merasa seperti berada di Belanda.

• Stasiun Malang
Diketahui memiliki dua stasiun, yakni Kota Baru dan Kota Lama. Tetapi yang menjadi tujuan utama para penumpang adalah Stasiun Malang Kota Baru yang terletak di Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.

Jika sebelumnya, bangunan pada Stasiun Malang tampak begitu lawas. Kini, setelah dilakukan renovasi, bangunannya menjadi modern. Area di dalamnya pun cocok untuk dijadikan spot foto, lho.

• Stasiun Medan
Kita menyeberang ke Pulau Sumatra. Berlokasi di Gang Buntu, Medan Timur, Kota Medan, Sumatra Utara, Stasiu Medan merupakan stasiun bersejarah dan tertua yang dibuka sejak tahun 1886. Itu berarti stasiun ini sudah berdiri sejak lebih dari 130 tahun. arsitektur dari Stasiun Medan telah mengalami perubahan total dari bentuk mulanya. Bahkan, juga dibangun gedung baru untuk kereta api bandara.

Hal yang masih tersisa dari bangunan lama adalah menara jam di bagian depan stasiun, depo lokomotif yang bergaya Belanda, atap peron yang menaungi jalur dua dan tiga, serta jembatan gantung yang berada di ujung selatan stasiun. Bangunan yang tampak begitu modern ini menjadikan Stasiun Medan menjadi stasiun tercantik di Indonesia.

Nah, itulah beberapa stasiun-stasiun tercantik yang sangat cocok untuk diabadikan dengan kamera. Tentunya penumpang yang menggunakan kereta api dari stasiun-stasiun yang disebutkan, tidak merasa jenuh selama menunggu kereta api tiba. Dan tentunya bagi para penumpang diharapkan terus menjaga ketertiban, keamanan, kenyamanan, dan kebersihan selama di berada di stasiun kereta api.

Naik KA Lintas Bogor – Sukabumi? Jangan Lupakan Stasiun Tertinggi Ini

Spot Foto Unik di Depok: Menikmati Pemandangan Tumpukan Kereta Legendaris di Depo KRL

Kereta Rel Listrik (KRL) yang biasa kita gunakan sehari-hari memang sangat membantu dalam melakukan perjalanan singkat ke berbagai tujuan di Jabodetabek. Rangkaian KRL yang datang dari berbagai negara yaitu Jepang, Cina, maupun Indonesia telah menghiasi jalur Comnuter Line di berbagai rute.

Hal ini membuat PT Commuter Indonesia (KCI) selalu mengedepankan prioritas masyarakat sebagai pengguna transportasi umum untuk selalu merawat dan menjaga rangkaian KRL agar tak selalu terjadi gangguan saat dioperasikan. Untuk perawatan KRL sendiri memang butuh lokasi dan ruang khusus agar perjalanan KRL kembali lancar. Maka dari itu kawasan depo yang berlokasi di Depok inilah menjadi solusi untuk merawat KRL tersebut.

Saat ini Depo KRL Depok tak hanya sebagai perawatan berbagai macam KRL saja, tapi menjadi lokasi unik yang membuat perhatian warga sekitar. Apalagi sampai warga asing yang telah mengetahui bahkan mendatangi kawasan Depo KRL Depok ini untuk mengabadikan momen yang tak biasa ini.

Ya, pemandangan yang tak biasa di Depo KRL Depok ini terlihat sejumlah tumpukan KRL Commuter Line yang sudah tidak berfungsi tersusun rapi di salah satu sudut Depo KRL Depok, Jalan Kampung Rawageni, Cipayung, Kota Depok. Keberadaan gerbong-gerbong tersebut dapat disaksikan dari jembatan Jalan Terusan Dipo.

Rangkaian kereta disusun berjajar dalam beberapa baris dan ditumpuk hingga dua tingkat. Setiap unit diberi nomor identifikasi menggunakan cat semprot berwarna merah. Banyaknya KRL itu ditempatkan di atas lahan yang baru diuruk. Kondisi tanah di sekitarnya masih basah yang terlihat jelas. Di area tersebut juga terdapat dua unit alat berat, salah satunya berupa crane, yang digunakan untuk proses penataan.

Tak jauh dari lokasinya, sejumlah komponen kereta lainnya terlihat tersusun rapi, menandakan adanya proses pengelompokan atau penataan material. Kereta-kereta tersebut merupakan rangkaian yang telah berusia tua dan masuk dalam kategori afkir atau konservasi. Pintu-pintu kereta yang sudah tidak digunakan pun dibiarkan terbuka, menampilkan interior tempat duduk penumpang saat masih beroperasi.

Bagi warga sekitar yang bermukim di area depo, ini merupakan pemandangan tersebut kerap menarik perhatian warga, termasuk pengunjung dari luar daerah hingga wisatawan asing. Anak-anak pun sering datang ke jembatan pada sore hari hanya untuk melihat aktivitas keluar-masuk kereta di depo. Beberapa bahkan diantar orang tua mereka menggunakan sepeda motor.

Berdasarkan data tahun 2025, KCI mencatat terdapat sekitar 242 unit kereta atau 25 rangkaian yang sudah tidak dapat dioperasikan yang disimpan sementara di Depo KRL Depok. Bahkan menurut Vice President Corporate Secretary PT KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa kereta-kereta tersebut mengalami kerusakan berat dan telah memasuki masa konservasi.

Konservasi masih terus berlanjut jika KRL berikutnya memang sudah tidak layak beroperasi. Bahkan ke depannya, seluruh rangkaian kereta yang telah afkir itu nantinya akan dipindahkan ke lokasi konservasi sarana KRL yang berada di Stasiun Pasirbungur, Subang, Jawa Barat.

Meskipun Masih Gunakan Single Track, Headway Jalur Citayam–Nambo Bakal Ditingkatkan

Project Sunrise: Qantas Mulai Uji Coba Penerbangan Non-Stop Terlama di Dunia pada 2026

Industri penerbangan dunia bersiap menyaksikan sejarah baru. Maskapai nasional Australia, Qantas, mengonfirmasi akan memulai uji coba operasional untuk rute penerbangan non-stop terlama di dunia pada tahun 2026. Proyek ambisius yang dikenal dengan nama “Project Sunrise” ini akan menghubungkan Sydney secara langsung dengan kota-kota global seperti London dan New York tanpa perlu melakukan transit.

Penerbangan revolusioner ini diperkirakan akan memakan waktu antara 19 hingga 22 jam di udara. Untuk mewujudkan hal tersebut, Qantas telah memesan armada khusus Airbus A350-1000 yang dimodifikasi dengan tangki bahan bakar tambahan agar mampu menempuh jarak ultra-jauh. Langkah ini merupakan jawaban Qantas atas permintaan penumpang yang menginginkan efisiensi waktu dan kenyamanan tanpa harus terganggu oleh proses transit di hub internasional.

Beragam Poin ini Menjadi Pertimbangan Qantas dalam Uji Coba “Project Sunrise”

Menyadari tantangan fisik berada di dalam pesawat selama hampir satu hari penuh, Qantas mendesain interior pesawat dengan fokus utama pada kesehatan dan kesejahteraan penumpang (wellbeing). Airbus A350 Project Sunrise ini nantinya hanya akan mengangkut 238 penumpang—jauh lebih sedikit dari kapasitas standar—untuk memberikan ruang gerak yang lebih luas. Salah satu fitur yang paling dinantikan adalah adanya “Wellbeing Zone”, sebuah area terbuka di dalam pesawat di mana penumpang bisa melakukan peregangan, berolahraga ringan, serta mendapatkan hidrasi tambahan.

Selain area khusus, konfigurasi kabin juga dirancang mewah di semua kelas. Penumpang First Class akan menikmati “suite” pribadi yang menyerupai kamar hotel mini, sementara kelas Ekonomi akan mendapatkan ruang kaki yang lebih luas dibandingkan penerbangan standar. Pencahayaan di dalam kabin juga akan disesuaikan secara otomatis menggunakan sistem khusus untuk membantu meminimalisir efek jet lag bagi penumpang setelah mendarat.

Project Sunrise bukan sekadar pencapaian teknis bagi Qantas, tetapi juga menjadi strategi maskapai untuk mendominasi pasar penerbangan premium dunia. Dengan rute langsung dari pantai timur Australia ke Eropa dan Amerika Serikat, Qantas optimis dapat menarik pelancong bisnis dan wisata yang mengutamakan kenyamanan maksimal. Jika uji coba di tahun 2026 berjalan lancar, rute ini akan secara resmi memegang gelar sebagai penerbangan komersial terpanjang yang pernah dioperasikan manusia, melampaui rekor yang saat ini dipegang oleh Singapore Airlines.

Kenapa Rute London-Sydney Qantas ‘Harus’ Transit di Singapura? Ini Jawabannya