Proyek MRT Jakarta Fase 2A Terus Berjalan, Fase 3 dan 4 Juga Tak Kendor

Ketika berbicara tentang perkembangan MRT Jakarta, ternyata bukan hanya membahas konstruksi fase 2A tetapi ada fase 3 dan 4. Untuk fase 2A sendiri, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim mengatakan, fase 2A progresnya cukup mengesankan yakni mencapai 34,58 persen. Bahkan kini sudah mulai pembangunan tunneling atau terowongan dari Bundaran HI menuju ke Stasiun Thamrin.

Baca juga: Meski Penumpang Turun, MRT Jakarta Hasilkan Rp453 Miliar dari Bisnis Non Fare Box

Meski begitu, bukan hanya yang sedang berjalan, progres fase 3 dari timur ke barat atau East West line dan fase 4 dari Fatmawati ke Taman Mini Indonesia Indah juga terus bergulir hingga hari ini. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pada MRT fase 3 ini ada tiga provinsi yang dilintasi yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

Dia menjelaskan jalur yang sering disebut East West line tersebut membentang dari Cikarang hingga ke Balaraja. Dalam pembangunannya nanti, William mengatakan akan mengadopsi jaringan Elizabeth Cross Line di London, Inggris. Bukan hanya omongan belaka, proyek yang diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp160 triliun tersebut telah menyelesaikan alignment study project.

“Kami sedang menyusun Basic Engineering Design (BED) pembangunan Fase 1 Tahap 1. Karena jalurnya sepanjang 87 km, maka konstruksinya akan dibagi menjadi dua fase yakni di dalam Jakarta sepanjang 33,9 km dan di luar Jakarta sepanjang 55,3 km,” ujar William dalam forum jurnalis, Selasa (1/3/2022).

Dia menambahkan, dalam pembangunan fase 3 tersebut, MRT Jakarta akan melakukan mekanisme pembangunan yang fokusnya pada pembangunan perkotaan dan bukan hanya MRT. Sedangkan untuk pendanaan akan ada kolaborasi dari pemerintah dan swasta.

“Karena nilai ekonominya (kawasan) meningkat, pengembang di kawasan itu bisa memberikan kontribusi, termasuk (pendanaan untuk)pembangunan sebagian jalur (MRT),” kata William.

William menambahkan sejauh ini telah ada beberapa pihak yang berminat, seperti pemerintah Inggris dan Jepang (JICA). Dia menyampaikan ada peluang kolaborasi dengan pemerintah Inggris untuk berinvestasi di proyek East West line. Menurutnya, salah satu mekanisme investasi yang dapat digunakan adalah program export finance dari pemerintah Inggris.

Lalu bagaimana dengan fase 4? William mengatakan, saat ini MRT Jakarta masih melakukan analisa teknis dan financial terutama terkait tipe struktur, lokasi stasiun dan estimasi biaya konstruksi. Selain itu penyusunan feasibility study ditargetkan akan selesai pada Maret 2022.

Baca juga: Tunnel Boring Machine Pertama untuk Jalur MRT Jakarta Fase 2A Tiba di Pelabuhan Tanjung Priok

William menambahkan, nantinya fase 4 akan terintegrasi dengan fase 1 yakni Stasiun Fatmawati. Di mana akan ada sepuluh stasiun yakni Stasiun Fatmawati, Antasari, Ampera, Warung Jati, Tanjung Barat, Ranco, Raya Bogor, Tanah Merdeka, Kampung Rambutan dan Taman Mini. Jaraknya pun hanya 12 dan ditempuh dalam waktu 20 menit.

Apple Pay dan Google Pay Dilarang di Rusia, Metro Moskow Kacau

Rusia terus dihujani sanksi bertubi-tubi dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Belum lama ini, unit bisnis perusahaan AS, Apple Pay dan Google Pay, resmi di-banned atau tidak bisa digunakan di seantero Rusia. Sanksi ini pun membuat penumpang kereta metro Moskow kelimpungan. Pada akhirnya ini membuat operasional kereta bawah tanah Rusia itu kacau.

Baca juga: [Video 18+] Tidak Dapat Kursi, Penumpang Metro Moskow Nekat Buka Celana Dalam!

Dilansir newindianexpress.com, dari 144,1 juta penduduk Rusia, 29 persennya menggunakan Google Pay sebagai sistem pembayaran non tunai. Sementara itu, 20 persen lainnya menggunakan Apple Pay.

Namun, tak disebutkan dengan detail, apakah pengguna Google Pay merupakan pengguna Apple Pay. Bila keduanya berbeda, maka, ada hampir 50 persen atau 70 juta penduduk Rusia yang tidak lagi bisa mengakses Apple Pay dan Google Pay sebagai alat pembayaran atau mobile payment (dompet digital).

Menurut pernyataan Bank Sentral Rusia, pelanggan bank VTB Group, Sovcombank, Novikombank, Promsvyazbank, dan Otkritie juga tidak bisa bertransaksi dengan Apple Pay dan Google Pay, termasuk menggunakannya di luar negeri. Karenanya, tak heran bila hal ini berdampak pada mobilitas sehari-hari warga.

Dalam foto yang beredar di media sosial Twitter, tampak terjadi antrean panjang di salah satu stasiun metro Moskow disebabkan larangan penggunaan Apple Pay dan Google Pay. Selain itu, Samsung Pay juga tidak lagi bisa digunakan di Rusia. Namun, pengguna Samsung Pay tak sebanyak kompetitornya dari AS.

Sayangnya, belum ada keterangan resmi dari Kementerian Transportasi Rusia atau operator metro Moskow terkait antrean tersebut.

Selain tak bisa digunakan di metro Moskow, di moda transportasi lain seperti bus dan trem juga tidak bisa digunakan.

Setelah Apple Pay, Google Pay, dan Samsung Pay tak lagi bisa diakses, praktis, warga di Rusia hanya bisa mengandalkan mobile payment besutan bank-bank dalam negeri, seperti paling populer di Rusia adalah Sberbank Online, YooMoney, QIWI, dan lainnya.

Tidak bisa diaksesnya Apple Pay, Google Pay, dan Samsung Pay, di Rusia tak lepas dari dikeluarkannya negara tersebut dari jejaring informasi perbankan internasional yang dikenal sebagai SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) sejak tiga hari yang lalu.

SWIFT merupakan jaringan pengiriman pesan yang digunakan oleh bank dan lembaga keuangan lainnya untuk mengirim dan menerima informasi transaksi dengan cepat dan aman. Misalnya saja, instruksi pengiriman dana. Sistem ini juga yang berada di balik sebagian besar transaksi pembayaran dan pengiriman dana internasional.

Baca juga: Unik, Stasiun Metro di Moskow Terhubung dengan Tujuh Apartemen Peninggalan Uni Soviet

SWIFT kini sudah mengkoneksikan lebih dari 11 ribu institusi keuangan di lebih dari 200 negara sehingga transaksi keuangan antar negara dapat dilaksanakan.

“Ini akan memastikan bahwa bank-bank ini terputus dari sistem keuangan internasional dan membahayakan kemampuan mereka untuk beroperasi secara global,” tulis pernyataan bersama yang dirilis oleh Gedung Putih dilansir dari CNN.

Yang Dikenang dari Kiev, Punya Jalur Trem Pertama di Bekas Kekaisaran Rusia

Kiev, ibu kota Ukraina yang terkenal dengan keindahan arsitektur klasiknya, kini sedang dalam masa-masa sulit. Ratusan bangunan di Kiev dilaporkan mengalami rusak berat dan infrastruktur yang luluh lantak sebagai akibat dari serangan invasi Rusia sejak 24 Februari lalu

Baca juga: Tetap Jadi Warisan Kota, Trem di Kolkata Diubah Jadi Restoran

Meski kini porak -poranda, Kiev tak bisa dilupakan sebagai ikon kota besar di Eropa dengan segala pernak-perniknya. Dan salah satu yang menarik dari Kiev, adalah keberadaan trem dan sistemnya yang dikenal sebagai jalur trem listrik pertama di bekas Kekaisaran Rusia.

Trem ini adalah yang keempat di Eropa setelah jalur trem Berlin, Budapest dan Praha. Sistem trem Kiev saat ini memiliki jalur sepanjang 139,9 km dan sudah termasuk di dalamnya dua jalur trem cpat sepanjang 14 km yang mana jalur trem ini melayani sebanyak 21 rute dengan menggunakan 523 gerbong.

Sayangnya, sistem ini diabaikan dan panjang lintasan yang dilayani kurang cepat sehingga digantikan oleh bus dan bus troli. Sistem trem Kiev dioperasikan oleh perusahaan kotamadya “Kyivpastrans” yang juga mengelola transportasi bus, bus listrik, dan kereta api perkotaan di Kiev.

Sejarah kehadiran trem di Kiev sendiri berawal pada sebelum tahun 1886. Di mana direncanakan proyek pembangunan jalur trem yang ditarik kuda, tetapi tidak ada yang berlanjut ke tahap konstruksi. Kemudian 30 Juli 1891 trem pertama yang ditarik kuda akhirnya jalurnya terpasang dan membentang dari Tsar’s Square ke Demiivska Square.

Namun setelah trem beroperasi, masalah muncul yakni salah satunya medan berbukit. Di jalan Bohdan Khmelnytsky, sepasang kuda tidak cukup untuk menarik trem ke atas bukit. Oleh karena itu, dua pasang kuda ditambahkan dan tidak memperbaiki situasi. Karena hal ini kemudian, trem bertenaga uap dicoba sebagai solusi untuk masalah tersebut.

Tetapi mesin uap itu menghasilkan suara yang keras dan membuat takut kuda dan manusia serta menghasilkan banyak polusi udara. Banyaknya masalah yang dialami trem, maka Amand Struve menulis surat kepada Administrasi Kota Kiev yang menyarankan bahwa untuk meningkatkan keamanan dan penggunaan yang lebih mudah, trem perlu ditenagai oleh listrik.

Nyatanya, Administrasi layanan Kyiv Telegraph menentang langkah ini karena, menurut pendapat mereka, motor listrik akan mengganggu sistem telepon dan telegraf. Pada 3 Mei 1892, dua trem listrik pertama tiba di Kyiv. Mereka dibangun oleh saudara-saudara Struve di sebuah pabrik yang terletak di dekat Moskow, berdasarkan desain Amerika.

Untuk diketahui, sistem trem yang ditarik kuda digunakan sampai tahun 1895, dan mobil bertenaga uap terakhir beroperasi sampai tahun 1904. Jalur trem panjang, sekitar 18 kilometer, diletakkan dari Lapangan Poshtova di lingkungan Podil, melintasi sungai Dnipro di Jembatan Nicholas, melalui lingkungan Peredmostna dan Nikolska Slobodka, dan ke kota tetangga Brovary.

Jalur ini digunakan sampai pertengahan tahun 1930-an, dan merupakan jalur tunggal dengan tempat-tempat yang lewat. Hal ini membuat perjalanan terasa lebih lama dari yang sebenarnya. Biayanya 35 kopecks, jumlah yang cukup besar pada saat itu dan trem selalu dipadati penumpang.

Setelah Revolusi Rusia dan Perang Saudara Rusia, rekonstruksi sistem trem dimulai. Kereta trem tua dan ketinggalan jaman membutuhkan restorasi karena industri negara tidak dapat memproduksi gerbong baru. Rekonstruksi dilakukan di depo trem utama sistem, Depot Dombal.

Dari tahun 1928 hingga 1932, 80 trem motor dua gandar dan 65 mobil trailer diproduksi untuk Kyiv. Sejak tahun 1932, depo tersebut mulai memproduksi trem empat gandar. Di trem ini, area pengendara dipisahkan dari ruang penumpang, tetapi tidak dihangatkan selama musim dingin.

Baca juga: Melbourne Kini Punya Restoran Trem Keliling

Pada tanggal 30 Desember 1978, jalur trem berkecepatan tinggi pertama di Uni Soviet saat itu dibuka di Kiev. Pada tahun yang sama Kyiv mengalami puncak perkembangan rute trem dalam sejarahnya. Pada tahun 1978 panjang antrean mencapai 285 km, armada berjumlah 909 mobil, dan lalu lintas penumpang per tahun melebihi 396 juta orang.






















Hindari Pajak, Maskapai Ramai-ramai Registrasi Pesawat di Malta

Pesawat-pesawat di dunia tak harus diregistrasi di negara asal maskapai yang menggunakannya. Di antara beberapa negara yang menjadi tujuan meregistrasi pesawat, Malta adalah salah satunya. Hal ini ditujukan untuk menghindari pajak. Bila di kapal laut banyak ditemukan kapal berbendera Panama atau diregistrasi di Panama, maka di pesawat ada Malta. Keduanya sama-sama negeri surga pajak.

Baca juga: Bukan Amerika, Inggris, atau Cina, Inilah Negara yang Jadi Tempat Registrasi Pesawat Terbanyak

Sebelum beroperasi, sebuah pesawat terlebih dahulu harus didaftarkan atau diregistrasi di beberapa otoritas penerbangan, seperti Regulator Penebangan Sipil Amerika Serikat (FAA) dan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA). Umumnya, pesawat tak selalu terdaftar di negara tempatnya beroperasi.

Dari kacamata hukum, meregistrasi pesawat -termasuk meregistrasinya di luar negeri- sudah diatur oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Menurut ICAO, registrasi pesawat secara teknis disebut sebagai Aircraft Nationality and Registration Marks dan tertuang di Pasal 17 hingga 21 Konvensi Chicago 1944. Dengan dasar itu, maskapai menimbang-nimbang untung rugi meregistrasi pesawat di sebuah negara.

Boeing 737 Ryanair, misalnya, terdaftar di tiga negara, mulai dari Irlandia, Inggris, dan Malta. Padahal, rute terbang pesawat menjangkau seluruh Eropa.

Walaupun negaranya kecil dengan penduduk hanya 500 ribu jiwa, namun, jumlah pesawat yang didaftarkan atau diregistrasi di Malta jauh melebihi pesawat yang dimiliki oleh maskapai dalam negeri.

Terbaru, Eurowings dan Lufthansa Group menyebut akan segera mendirikan perusahaan di negara tersebut untuk memudahkan proses mendapatkan AOC otoritas penerbangan sipil Malta.

Dilansir Simple Flying, menurut jaringan firma hukum yang melayani audit, pajak, dan konsultasi, KPMG Malta, setidaknya ada enam alasan mengapa banyak maskapai di dunia memilih mendaftarkan atau meregistrasi pesawatnya di Malta.

Pertama, Malta Aircraft Registration mengakui kepemilikan fraksional atas pesawat, termasuk pesawat yang sedang dibangun. Kedua, Jaringan perjanjian pajak Malta yang luas dengan lebih dari 70 yurisdiksi, termasuk Amerika Serikat.

Alasan ketiga adalah, tidak ada pemotongan pajak atas pembayaran sewa dimana lessor bukan merupakan wajib pajak di Malta. Ini sangat berbeda dengan proses registrasi di sebuah pesawat, termasuk di Indonesia, yang mana lessor adalah wajib pajak.

Alasan yang keempat adalah peluang pajak penerbangan langsung dan tidak langsung yang menarik untuk penyewaan pesawat, termasuk penyusutan pajak, dan pengembalian pajak sebagian pemegang saham. Kelima, Tarif depresiasi pajak yang kompetitif untuk tujuan penerbangan, dan pengembalian pajak sebagian pemegang saham.

Terakhir atau alasan keenam adalah, tidak ada batasan kewarganegaraan pemegang saham dan direktur perusahaan penerbangan Malta.

Baca juga: Aeroflot Registrasi Pesawat Airbus A350 Baru di Bermuda, Gegara Lari dari Pajak?

Terkait alasan keenam, Malta adalah salah satu negara yang menandatangani Cape Town Convention on International Interests in Mobile Equipment dan Aircraft Protocol, sebuah mekanisme untuk menetapkan standar internasional untuk sewa-menyewa, security interests, dan registration of contracts.

Ini menawarkan kreditur tingkat perlindungan yang lebih tinggi dan solusi yang lebih efektif, sementara, pada saat yang sama, memungkinkan biaya pinjaman yang lebih rendah.






















Lokomotif KA Dhoho Ringsek Usai Ditabrak Bus, Langsung Masuk Bengkel di Yogyakarta

Insiden kecelakaan bus dengan kereta api yang terjadi pada Minggu 27 Februari 2022 lalu telah membawa dampak yang cukup besar. Kejadian yang berlokasi di perlintasan tanpa palang pintu Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur ini membuat bagian depan lokomotif ringsek dan beberapa rangkaian juga mengalami kerusakan. Begitu pun kondisi bus terlihat rusak berat.

Baca juga: Empat Tahun Beroperasi, Kereta Tanpa Rel di Cina Kini Dibekali Fitur Anti Tabrakan

Kereta api yang mengalami kecelakaan adalah rangkaian KA 351/360A Dhoho rute Blitar – Kertosono – Surabaya Kota. Lokomotif penarik KA Dhoho saat itu adalah seri CC 203 98 10 Depo Induk Sidotopo. Kejadian yang merenggut nyawa penumpang bus ini adalah saat rombongan bus pariwisata PO Harapan Jaya menyeberangi perlintasan Kedungwaru pukul 05.00 WIB sebanyak 3 unit. Bus pertama yang juga sarat penumpang berhasil melintas dengan selamat. Namun, giliran bus kedua, pada saat bersamaan sedang melaju kereta api Rapih Dhoho dengan kecepatan sedang.

Bus berusaha segera melaju. Namun, karena jarak sudah dekat, bagian belakang bus pariwisata itu tertabrak lokomotif KA. Terjadilah benturan keras yang menyebabkan badan bus terpelanting berputar. Dari semula badan bus yang bergerak dari dari barat ke timur, berputar hingga bagian depan berada di sisi barat.

Saat insiden terjadi hari itu, akhirnya pihak dari Daop (Daerah Operasi) VIII Madiun mengirim lokomotif dari Blitar dengan seri CC 201 89 06 dan CC 201 92 07 ke lokasi kecelakaan. Saat tiba di Stasiun Tulungagung, lokomotif CC 201 92 07 menarik rangkaian KA Dhoho yang alami kecelakaan lalu menarik mundur hingga kembali ke Stasiun Tulungagung. Lalu rangkaian KA Dhoho melanjutkan perjalanan hingga ke Surabaya. Setelah itu lokomotif yang ringsek dibawa kembali ke Stasiun Blitar ditarik oleh lokomotif seri CC 201 89 06.

Setelah insiden kemarin, akhirnya pada hari ini Selasa (1/3) lokomotif yang ringsek dikirim ke Balai Yasa Yogyakarta untuk penanganan lebih lanjut. Pengiriman lokomotif yang mengalami kerusakan ditarik oleh lokomotif seri CC 201 92 07 menuju Yogyakarta. Keberangkatan dari Blitar pada pukul 07.40 WIB melewati Kertosono – Madiun – Solo Balapan – Lempuyangan – Yogyakarta. Saat lokomotif tersebut tiba di Yogyakarta, langsung masuk ke Depo Lokomotif Yogyakarta terlebih dahulu, dan selanjutnya akan dibawa ke Balai Yasa Yogyakarta untuk perawatan lebih lanjut.

Baca juga: Detik-detik Pesawat Ditabrak Kereta, Pilot Nyaris Meregang Nyawa

Setelah kejadian hebat tersebut PT KAI Daop VIII Madiun mengalami kerugian, baik finansial karena beberapa penumpang membatalkan perjalanan dan juga keterlambatan jadwal kereta api yang melintasi kawasan tersebut. Kedepannya akan dilakakun evaluasi bahkan penutupan perlintasan tidak berpalang yang mencapai ratusan titik lokasi perlintasan tidak berpalang pintu di wilayah Daop VIII Madiun. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Meski Penumpang Turun, MRT Jakarta Hasilkan Rp453 Miliar dari Bisnis Non Fare Box

Pandemi membuat penumpang moda transportasi umum menurun jumlahnya. Hal ini karena banyak penumpang yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan berbasis online agar bisa menjaga jarak dengan orang lain.

Baca juga: 40 Ribu Penumpang, Jadi Target MRT Jakarta Tahun 2022

Karena menurunnya penumpang ini, membuat moda transportasi kehilangan pelanggan dan pemasukan. Salah satu yang terdampak adalah MRT Jakarta. Di mana sebelum pandemi, penumpangnya berjumlah 88 ribu per hari. Kini di Covid gelombang ketiga hanya 19 ribuan penumpang per harinya.

Meski begitu, Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, penurunan penumpang memang membuat pendapatan menurun. Tetapi bisnis non fare box atau diluar tiket bisa membantu di masa pandemi.

“Kita mendapat keuntungan yang baik dengan bisnis yang ada diluar penjualan tiket,” ujar William dalam forum jurnalis, Selasa (1/3/2021).

Pendapatan tersebut mencapai Rp453 miliar dari advertising, bisnis MRT, naming right stasiun, aset yang dimiliki di stasiun, pembukaan coworking space. Farchad Mahmud Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta menagatakan, pihaknya di masa pandemi mengambil langkah yang mengedepankan life style bisnis.

Salah satunya adalah penawaran untuk naming right di stasiun MRT Jakarta. Dia menyebutkan, saat ini ada stasiun yang memiliki nama baru yakni Fatmawati Indomaret.

“Setelah Fatmawati, masih ada enam stasiun yang masih ditawarkan untuk naming right. Beberapa BUMN juga sudah mulai bertanya untuk naming right di stasiun,” jelas Farchad.

Dia menambahkan, untuk pembangunan TOD saat ini ada empat yang sedang dalam proses pembangunan yakni Simpang Temu Dukuh Atas di Jalan Blora yang mana pekerjaan Continuous Bored Pile (CBP) sedang berlangsung dan sudah mencapai 366 dari dari 472 titik dan targertnya beroperasi April 2023. Selain itu juga Serambi Temu Dukuh Atas tengah dalam proses perencanaan percepatan konstruksi di lapangan dan targetnya akan mulai beroperasi pada Juni 2022.

Baca juga: Kembangkan Pendapatan Non Farebox, MRT Jakarta Berkolaborasi dengan Startup

Di mana serambi temu ini digunakan untuk menghubungkan Stasiun LRT Jabodebek dengan Stasiun KCI Sudirman. Farchad menambahkan, untuk Simpang Temu Lebak Bulus dan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu juga tengah dalam proses pembangunan.

Makin Panas, Airbus Tuntut Qatar Airways Rp3,1 Triliun Gegara Batal Beli Dua Pesawat A350

Kisruh antara Airbus dan Qatar Airways terus membara. Terbaru, Airbus menuntut Qatar Airways sebesar US$220 juta atau Rp3,1 triliun (kurs 14.336) karena menolak pengiriman dua pesawat A350 dengan alasan keamanan pada cat pesawat.

Baca juga: Airbus Batalkan Kontrak Rp85 Triliun, Qatar Airways Ngamuk-Bocorkan Video Buruknya Kualitas Cat Pesawat A350

Tuntutan tersebut sudah diajukan ke Divisi Teknologi dan Konstruksi Pengadilan Tinggi di London Senin lalu. Qatar Airways sendiri belum menanggapi tuntutan tersebut.

Dilansir Simpel Flying, kisruh berujung saling tuntut dengan nominal triliunan rupiah, antara Airbus dan Qatar Airways, dimulai pada akhir tahun 2020. Ketika itu, salah satu armada menjalani proses pengecatan livery World Cup 2022 (Piala Dunia 2022) di Irlandia dan dari situ terungkap cacat pada cat pesawat A350.

Saat hal tersebut ramai dibicarakan pada bulan Agustus 2021, Airbus mengonfirmasi bahwa akar permasalahan dari cat pesawat A350 yang terkelupas sudah ditemukan dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan keamanan.

Namun, Qatar Airways menganggap bahwa Airbus tidak serius menangani hal ini dan mengatakan bahwa masalah cat pesawat A350 berhubungan dengan keamanan penerbangan.

Airbus kemudian merespon hal itu dengan mengultimatum Qatar Airways bakal membawa masalah A350 ke jalur hukum. Airbus tida terima kalau masalah pada cat pesawat A350 berhubungan dengan keamanan penerbangan. Namun, ketika itu Airbus masih berpikiri untuk menyelesaikan polemik secara baik-baik.

Merasa terancam, Qatar Airways justru mengambil langkah hukum lebih dulu dari Airbus dengan melayangkan tuntutan ganti rugi atas sebesar US$600 juta atau Rp8 triliun kepada Airbus melalui proses pengadilan. Tak cukup sampai di situ, Qatar Airways juga meminta tambahan US$4 juta atau Rp57 miliar setiap harinya sampai pesawat kembali mengudara.

Divisi Teknologi dan Konstruksi Pengadilan Tinggi di Inggris mengatakan, pihaknya akan mempercepat pemrosesan kasus ini hingga bulan April 2022 mendatang.

Airbus pun merespon dengan membatalkan pesanan 50 pesawat A321 Qatar Airways sebesar US$ 6 miliar atau Rp85 triliun tanpa alasan yang jelas. Tentu saja Qatar Airways tidak terima. Flag carrier Qatar itu kemudian membalas dengan menunjukkan video rendahnya kualitas cat pesawat Airbus A350 pada awal tahun ini.

Qatar Airways mengungkapkan, selama ini, kasus rendahnya kualitas cat pesawat Airbus A350 sampai-sampai mengelupas seolah sangat dirahasiakan ke publik.

“Kami mengonfirmasi bahwa kami mematuhi semua kewajiban kami berdasarkan semua kontrak yang berlaku. Oleh karena itu, sangat disayangkan dan frustrasi bahwa Airbus telah mengambil keputusan nyata untuk memperluas dan meningkatkan perselisihan ini,” tulis Qatar Airways dalam sebuah pernyataan yang dikutip Simple Flying.

Saat ini, 22 pesawat Airbus A350 Qatar Airways yang cacat pada bagian catnya sudah digrounded dan dilarang terbang oleh otoritas penerbangan sipil Qatar.

Baca juga: Terancam Dituntut Airbus, Qatar Airways Serang Balik-Tuntut Airbus Terkait Masalah A350

Setelah lama tak ada pemberitaan apapun, Airbus pun datang mengejutkan dengan tuntutan US$220 juta atau Rp3,1 triliun (kurs 14.336) kepada Qatar Airways atas dua pesawat A350 yang batal dikirim.

Menariknya, sebelum melayangkan tuntutan tersebut, Airbus diam-diam ternyata telah menyetujui kompensasi atau ganti rugi US$206.500 atau Rp3,5 miliar (kurs 14.336) per pesawat per hari kepada Qatar Airways. Meski tergolong besar, namun itu jauh dari tuntutan Qatar Airways sebesar US$4 juta atau Rp57 miliar per pesawat per hari.






















Rusia Dihujani Sanksi, Airbus dan Boeing Bakal Terdampak Pasokan Komponen Titanium

Buntut dari invasi ke Ukraina pada 24 Februari lalu, diberitakan bahwa industri Rusia bakal terpukul sangat keras sebagai akibat dari ‘hujan’ sanksi yang diberikan Amerika Serikat dan Eropa Barat. Namun, ada yang terlupa, bahwa industi penerbangan global juga bisa terkena imbas dari sanksi tersebut. Persisnya sebagai pembatasan dan embargo kepada Rusia, ternyata bisa berdampak buruk bagi perusahaan dirgantara sekelas Airbus, Boeing dan Embraer. Kok bisa?

Baca juga: Airbus ‘Tunduk’ ke Rusia Gegara Titanium, Seberapa Penting Buat Pesawat?

Dikutip dari flightglobal.com (25/2/2022), invasi Rusia ke Ukraina telah membawa ketidakpastian bagi perusahaan kedirgantaraan Barat, pasalnya banyak di antaranya bergantung pada Rusia untuk menyediakan sebagian besar komponen titanium yang digunakan untuk memproduksi pesawat dan mesin komersial.

Di pasar titanium, VSMPO-Avisma dari Rusia adalah pemain terbesar di dunia, dimana perusahaan ini memasok komponen penting dalam rantai pembuatan pesawat komersial di dunia. Airbus dan Boeing, dan banyak lainnya dalam rantai pasokan yang lebih luas, bergantung pada impor titaniu dari perusahaan Rusia ini.

Pasca invasi Rusia ke Ukraina, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengakatan, rangkaian sanksi akan menurunkan kemampuan industri kedirgantaraan Rusia. Tetapi Biden mungkin lupa, perang ekonomi yang dikobarkan juga dapat melukai sektor kedirgantaraan Barat, terutama jika pasokan titanium Rusia terhenti.

“Jika [pasokan] dari Rusia itu hilang – itu akan menjadi masalah besar,” kata Kevin Michaels, direktur pelaksana konsultan kedirgantaraan AeroDynamic Advisory. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mensertifikasi pemasok lain? Itu akan memakan waktu yang sangat lama.” Michaels mencatat Rusia sebelumnya mengancam akan menghentikan ekspor titanium tetapi tidak pernah benar-benar melakukannya. Bahkan pada puncak Perang Dingin, bekas negara Uni Soviet itu terus memasok logam ke AS.

Beberapa perusahaan dirgantara, seperti Boeing telah mengklaim siap menghadapi gangguan pasokan dengan menggunakan cadangan titanium. Pasokan itu dapat membantu mereka mengatasi kekurangan, kata analis Michel Merluzeau dari konsultan AIR.

Sebagai catatan, Boeing dan Airbus menggunakan titanium dalam jet narrow body pada tingkat komponen struktural. Michaels memberi ilustrasi bahwa komponen titanium mewakili 15 persen dari berat kosong Boeing 787 Dreamliner. Titanium berpasangan dengan baik dengan serat karbon karena bahannya memiliki sifat ekspansi termal yang serupa.

Baca juga: Dilarang Terbang ke-36 Negara di Eropa, Amerika, dan Asia, Inilah Deretan Maskapai Terbesar Rusia

VSMPO-Avisma disebut-sebut memasok sekitar 35-40 persen titanium yang digunakan oleh Boeing, setidaknya setengah dari kebutuhan Airbus dan sebagian besar dari Embraer. Boeing pada November 2021 baru aja menandatangani perjanjian pasokan jangka panjang dengan VSMPO yang mencakup komponen titanium untuk pesawat komersial, mempertahankan posisi perusahaan Rusia sebagai pemasok titanium terbesar ke badan pesawat AS. Boeing bersama Ural ternyata juga memiliki usaha patungan di Rusia, yaitu Ural Boeing Manufacturing.






















Dilarang Terbang ke-36 Negara di Eropa, Amerika, dan Asia, Inilah Deretan Maskapai Terbesar Rusia

Invasi Rusia ke Ukraina mengundang banyak sanksi dari negara-negara Uni Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Terbaru, semua maskapai-maskapai asal Rusia dilarang melintas apalagi mendarat di 36 negara, dimana 27 di antaranya dari Uni Eropa.

Baca juga: Dikabarkan Hancur di Tengah Perang Rusia-Ukraina, Antonov An-225 Mriya Aman! Tapi Dikuasai Rusia

Sebagai balasan, Rusia juga telah mengumkan melarang maskapai dari 36 negara tersebut melintas ruang udara wilayah mereka. Secara geografis, letak Rusia yang berada di utara tidak terlalu menyulitkan maskapai-maskapai dari daftar negara yang dilarang. Sebaliknya, maskapai-maskapai Rusia sudah pasti kesulitan menjangkau tujuan lain di selatan, baik itu Afrika dan Amerika Selatan.

Menurut airlines-inform.com, sedikitnya ada 56 maskapai yang terdaftar di Rusia, mulai dari maskapai penumpang berjadwal, maskapai kargo, charter, maupun maskapai regional. Dari jumlah tersebut, lima teratas adalah Aeroflot Airlines, S7 Airlines, Rossiya Airlines, UTair Aviation, dan Ural Airlines.

1. Aeroflot

Dilansir Reuters, maskapai Aeroflot dikabarkan sudah membatalkan seluruh penerbangan ke Eropa dan negara-negara lainnya yang memberikan sanksi larangan operasional kepadanya dan terhadap maskapai Rusia lainnya.

Meski tidak ada laporan lanjutan bagaimana maskapai tersebut menjalankan penerbangan lain di luar negara-negara yang melarang, sudah pasti maskapai akan jauh memutar bila ingin terbang ke Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Terlebih, hub Aeroflot yang berada di Moskow, terletak cukup dekat dengan Uni Eropa dan jalur terbangnya pun sudah pasti akan melewati UE.

Larangan ini dikabarkan bakal membuat maskapai menderita kerugian sangat besar selama beberapa bulan ke depan. Hal ini tentu akan membuat maskapai terbesar di Rusia, dan salah satu yang terbesar di Eropa dan dunia itu kesulitan, usai bertahan dari ‘hantaman’ badai virus Corona.

Namun, di tengah pandemi virus Corona pada tahun 2020 lalu, mengoperasikan 283 rute terjadwal ke 56 negara di seluruh dunia dengan total 30,2 juta penumpang menggunakan 342 pesawat. Cukup besar dibanding maskapai lain di dunia.

2. S7 Airlines

S7 Airlines adalah maskapai swasta terbesar di Rusia. Sama halnya dengan Aeroflot, S7 Airlines juga memiliki jaringan penerbangan luas ke 181 kota di Rusia dan luar negeri. Maskapai ini menempati posisi ketiga maskapai terbesar di Eropa Timur versi Skytrax.

Maskapai S7 Airlines diketahui mengoperasikan total 101 armada, terdiri dari Airbus, Boeing, dan Embraer. Dengan larangan terbang dari 36 negara Uni Eropa dan lainnya, S7 Airlines juga cukup menderita, sebagaimana Aeroflot, karena memiliki rute internasional.

3. Rossiya Airlines

Rossiya Airlines adalah maskapai terbesar ketiga di Rusia dari segi penumpang. Selain itu, maskapai yang tergabung dalam Aeroflot Group, dengan bermain di segmen pasar LCC ini, juga salah satu maskapai penerbangan tertua di Federasi Rusia, dimana maskapai didirikan pada 7 Mei 1934.

4. UTair Aviation

UTair Aviation adalah maskapai Rusia yang berbasis di Bandara Khanty-Mansiysk. Maskapai ini silih berganti menempati posisi ketiga dan keempat terbesar di Rusia dengan Rossiya Airlines. Namun, dalam urusan penerbangan helikopter, maskapai menjadikan Bandara Internasional Moskow sebagai hun utamanya ini, adalah yang terbesar.

Baca juga: Aeroflot Airlines, Maskapai Terbesar Rusia dan Dunia Gabungan dari Maskapai Ukraina

5. Ural Airlines

Pada tahun 2016, Ural Airlines maskapai terbesar kelima dari segi penumpang, dengan total 6,4 juta, berbanding tipis dengan UTair Aviation. Maskapai penerbangan yang memiliki hub di Bandara Internasional Domodedovo, selatan Moskow, itu didirikan pada masa Uni Soviet, sama seperti empat maskapai di atas, tepatnya pada tahun 1943.

Di masa Uni Soviet, Ural Airlines adalah bagian dari Aeroflot. Namun, pada 28 Desember 1993 usai Uni Soviet bubar, maskapai akhirnya beroperasi secara mandiri sampai saat ini.

Aeroflot Airlines, Maskapai Terbesar Rusia dan Dunia Gabungan dari Maskapai Ukraina

Seluruh maskapai penerbangan Rusia dilarang melintas apalagi mendarat di 36 negara, dimana 27 di antaranya Uni Eropa. Ini merupakan sanksi atas invasi Rusia ke Ukraina. Sebagai balasan, Rusia juga sudah melarang semua maskapai dari negara tersebut melintasi ruang udaranya.

Baca juga: Aeroflot Registrasi Pesawat Airbus A350 Baru di Bermuda, Gegara Lari dari Pajak?

Terlepas dari besar kecil dampaknya, sudah pasti seluruh maskapai dari negara-negara yang men-sanksi dan disanksi Rusia pasti dirugikan. Di Rusia sendiri, salah satu maskapai yang pasti dirugikan adalah Aeroflot Airlines.

Maskapai nasional Rusia tersebut diketahui terbang ke 55 negara dengan ratusan rute ke seluruh dunia, termasuk ke negara-negara yang memberlakukan sanksi terhadap mereka dan maskapai Rusia lainnya. Beruntung, Aeroflot Airlines, yang tergabung dalam Aeroflot Group bersama maskapai Pobeda Airlines dan Rossiya Airlines, masih mempunyai pasar penerbangan domestik yang besar.

Mereka sudah pasti akan kembali ke-khittah-nya sejak awal didirikan, yaitu sebagai maskapai yang fokus melayani penerbangan domestik mengingat wilayah Uni Soviet (ketika itu Soviet masih eksis) sangat besar.

Dilansir Britannica, Aeroflot didirikan pada tahun 1928 dengan nama Dobroflot. Pada tahun 1932, barulah manajemen melakukan reorganisasi dan mengukuhkan nama Aeroflot Airlines.

Aeroflot didirikan berkat gabungan dari dua maskapai besar saat itu, Dobrolyot (didirikan pada tahun 1923) dan Ukvozdukhput atau Ukraina Airways (didirikan pada tahun 1925). Keduanya bahu-membahu menghubungkan kota-kota seperti Moskow, Gorky (Nizhny Novgorod), Kiev, Kharkov (Kharkiv), dan Odessa.

Usai direorganisasi, Aeroflot mengalami kemajuan cukup pesat dari Leningrad (St. Petersburg) di Barat Uni Sovet sampai ke Vladivostok di Timur Jauh, termasuk pengembangan jaringan internasional sampai ke Laut Hitam, Kaukasus, dan Asia Tengah. Misi utama Aeroflot adalah menyediakan penerbangan sipil ke seantero Uni Soviet serta menghubungka wilayah Uni Soviet dengan dunia internasional.

Selain itu, Aeroflot juga ditugaskan untuk berbagai operasi, seperti penyemprotan tanaman, survei udara, pekerjaan penyelamatan udara, dan layanan ambulans terbang. Meski banyak pesawat buatan asing, ketika itu Aeroflot hanya mengoperasikan pesawat buatan dalam negeri.

Saat era jet muncul usai perang dunia II, Aeroflot juga turut menerbangkan pesawat jet dimulai pada tahun 1956, menggunakan pesawat Soviet Tu-104. Aeroflot juga turut membantu pengembangan pesawat supersonik pertama pesaing Concorde, Tupolev Tu-144  yang berhasil melakukan penerbangan perdana pada tahun 1968.

Di akhir tahun 1980-an atau menjelang Uni Soviet runtuh, Aeroflot diketahui memiliki 1.300 pesawat narrowbody dan widebody, serta beberapa ribu pesawat kecil atau perintis, melayani sekitar 3.600 kota besar dan kota kecil di Uni Soviet, serta menerbangi rute internasional ke lebih dari 100 negara.

Pada tahun 1990, Aeroflot mengangkut total 138 juta penumpang atau 15 persen dari semua lalu lintas udara sipil di muka bumi, menjadikannya sebagai maskapai penerbangan terbesar di dunia. Maskapai tersebut terbang ke semua benua, termasuk Antartika.

Setelah Uni Soviet runtuh pada 26 Desember 1991, Aeroflot berganti nama menjadi Aeroflot – Russian International Airlines dan setahun setelahnya resmi menjadi maskapai nasional Rusia.

Baca juga: Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow

Tak seperti di era Uni Soviet, di era Rusia, Aeroflot mulai menerbangkan pesawat asing, yaitu Boeing dan Airbus, termasuk pesawat dalam negeri Sukhoi SSJ100 atau Sukhoi Superjet 100.

Pada tahun 2020, di tengah pandemi virus Corona, Aeroflot Group, yang terdiri dari Aeroflot Airlines (segmen premium), Pobeda Airlines (segmen LCC), Rossiya Airlines (segmen regional), dan Aurora Airlines (segmen regional), mengoperasikan 283 rute terjadwal ke 56 negara di seluruh dunia dengan total 30,2 juta penumpang menggunakan 342 pesawat.