Satu Tahun Beroperasi, KRL Yogya – Solo Akan Tambah Layanan Hingga Stasiun Palur

Setelah satu tahun beroperasi, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) menargetkan peningkatan layanan KRL Jogja – Solo. Saat ini KRL telah melayani perjalanan penumpang dari Stasiun Yogyakarta hingga Stasiun Solo Balapan, sejauh 62,5 km. Pada Tahun 2022 DJKA berupaya meningkatkan perpanjangan jalur layanan KRL yang akan ditambah hingga Stasiun Palur sepanjang 6,2 km.

Baca juga: Satu Tahun Beroperasi, KRL Yogya – Solo Layani 2,2 Juta Penumpang dan Terbitkan 250 Ribu KMT

KRL Jogja – Solo yang merupakan KRL pertama di luar wilayah Jabodetabek ini, telah menggantikan peran KRD Prameks yang melayani rute Jogja – Solo selama lebih dari dua dekade. Hadirnya KRL Jogja-Solo selain membawa segudang dampak positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan mobilitas masyarakat Yogyakarta – Solo dan sekitarnya, juga secara signifikan membawa perubahan perilaku dan budaya masyarakat menjadi lebih tertib dan disiplin dalam bertransportasi.

Dalam kesempatannya Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah, Putu Sumarjaya menyampaikan peningkatan elektrifikasi jalur KA Jogja – Solo yang sudah diselesaikan sejak akhir 2020 mendapatkan respon positif dan antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat, didukung dengan tingkat okupansi penumpang yang cukup baik. “Meski diluncurkan di tengah situasi pandemi Covid-19, sejak mulai beroperasi, KRL Jogja-Solo sudah berhasil melayani lebih dari 2 juta penumpang. Sehingga dengan melihat besarnya antusiasme masyarakat tersebut, kami semakin optimis dalam menyelesaikan pekerjaan perpanjangan jalur pelayanan KRL hingga Stasiun Palur di tahun ini,” tutur Putu.

Terdapat beberapa manfaat KRL yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, diantaranya: peningkatan mutu serta kualitas pelayanan kereta api, peningkatan kapasitas serta daya angkut penumpang, peningkatan aspek keselamatan perkeretaapian, pengurangan polusi udara, dan penggerak roda perekonomian. “Pembangunan yang terus dilakukan pada lintas Yogyakarta – Solo ini merupakan langkah nyata Pemerintah dalam rangka mengupayakan penyediaan layanan transportasi massal untuk mendukung pergerakan masyarakat yang kian dinamis khususnya di wilayah Solo sebagai bagian dari segitiga emas di Jawa Tengah, selain Jogja dan Semarang,” jelas Putu.

“Di wilayah Jawa Tengah sendiri, khususnya di area Solo dan sekitarnya, terdapat dua proyek pembangunan yang kami harapkan dapat selesai di Tahun 2022. Dua proyek tersebut adalah perpanjangan elektrifikasi jalur KA dari Solo Balapan – Solo Jebres – Palur sepanjang 6,2 Km, dan pembangunan Depo KRL di Solo Jebres yang ditargetkan dapat rampung sesuai rencana. Progress pembangunan Depo KRL saat ini sudah sebesar 58% dan dengan kehadiran Depo ini tentunya akan meningkatkan perawatan dan kualitas layanan sarana KRL,” tambah Putu.

Sebelumnya, proyek elektrifikasi lintas Yogyakarta-Solo hanya sampai di Stasiun Solo Balapan. Namun, pada tahun 2022, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Direktorat Jenderal Perkeretaapian melakukan pengembangan elektrifikasi jalur hingga Stasiun Palur. Progres pembangunan guna perpanjangan layanan sudah tercapai sebesar 73%. Rencananya, tahap pengujian/uji dinamis akan dilakukan pada April-Mei 2022 dan jalur layanan KRL tersebut diharapkan dapat beroperasi pada September 2022.

“Selain perpanjangan elektrifikasi jalur, upaya pengembangan prasarana penunjang pada Stasiun yang dilintasi KRL Yogya-Solo juga telah dilakukan, yaitu dengan meninggikan peron yang akan mempermudah alur naik-turun penumpang dari kereta. Untuk Stasiun Purwosari belum dilakukan modifikasi prasarana penunjang seperti peninggian peron karena stasiun ini merupakan salah satu dari stasiun heritage. Sejauh ini kami baru melakukan survey untuk membahas lebih lanjut rencana modifikasi peron pada stasiun tersebut.” pungkas Putu.

Baca juga: Masih Aman, Tarif KRL Jabodetabek Tidak Jadi Naik Sampai Lebaran 2022

Disamping perpanjangan elektrifikasi jalur, penanganan perlintasan sebidang hingga peningkatan fasilitas-fasilitas integrasi tidak luput dari rangkaian proses pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan oleh DJKA. Fasilitas pendukung integrasi multimoda yang sudah rampung dan dapat digunakan antara lain, Sky bridge sepanjang 630 meter yang dibangun atas kolaborasi Kementerian Perhubungan dan PT. KAI yang menghubungkan Stasiun Solo dengan Terminal Tirtonadi, Trans Jogja yang terintegrasi pelayanannya di Stasiun Yogyakarta, hingga Bus Solo Trans (BST) yang terhubung dengan Stasiun Purwosari.

Sementara itu, fasilitas yang masih dalam tahap perencanaan adalah penambahan 2 perjalanan KA (pagi dan sore). Penambahan frekuensi perjalanan KA tersebut akan mengintegrasikan layanan KRL Yogyakarta-Solo dengan KA Perintis Purwosari-Wonogiri dan KA Bandara Internasional Adi Sumarmo.
























Rusia Kirim Kereta Api Lapis Baja Anti Drone Bayraktar TB2 ke Ukraina, Dilengkapi Senjata Mematikan

Rusia baru-baru ini mengirim kereta api lapis baja ke Ukraina. Tak hanya itu, kereta tersebut juga memuat logistik pasukan serta berbagai senjata mematikan, salah satunya kanon otomatis 23mm laras ganda ZU-23 untuk melumpuhkan pesawat musuh yang terbang rendah. Menariknya, pengerahan logistik perang ini dilakukan pasca pengumuman gencatan senjata oleh Kremlin mulai 8 Maret lalu.

Baca juga: Mengenang Meriam Schwerer Gustav, Meriam Terbesar Nazi Jerman yang Bikin Uni Soviet-Rusia Ketar-ketir

Dilansir The EurAsian Times, kepastian pengerahan kereta api lapis baja tersebut dikonfirmasi lewat video yang beredar di media sosial Twitter, termasuk di YouTube Russian Today, jaringan televisi berita internasional yang didanai pemerintah Rusia.

Terkait video di Twitter, itu diambil di wilayah Novobohdanivka, kira-kira 25 kilometer sebelah utara Melitopol, atau selatan Ukraina, tak jauh dari Krimea yang sudah berada di tangan Kremlin.

Selain membawa dua lokomotif bertuliskan “Z”, rangkaian kereta juga terdiri dari gerbong penumpang, gerbong flatbed, dua gerbong lapis baja, dan gerbong datar yang mengangkut berbagai senjata, seperti tank, armor personel carrier (APC), dan dua meriam otomatis 23mm laras ganda ZU-23.

Rusia diketahui sudah lama tidak melibatkan kereta dalam operasi layanan tempur. Disebutkan, setelah 15 tahun, kereta mulai membantu logistik tempur setelah diperintahkan Menteri Pertahanan Sergey Shoigu pada tahun 2016. Ketika itu, Rusia mengerahkan kereta logistik perang Baikal dan Amur peninggalan Uni Soviet dalam operasi di Krimea.

Pengerahan kereta dalam layanan tempur, termasuk dalam invasi ke Ukraina, mengemban berbagai misi, mulai dari mengawal kereta pasokan, memperbaiki rel di zona perang, membersihkan ranjau, mempertahankan titik logistik penting, dan menyediakan cadangan infanteri, sampai mengakut logistik dan personel.

Menurut Editor Pertahanan dan Keamanan Nasional di 19FortyFive, media online tentang kebijakan luar negeri dan militer, Brent M. Eastwood, pengerahan kereta lapis baja dalam konflik Rusia-Ukraina menandakan bahwa Kremliln frustasi dengan lambatnya logistik untuk sampai ke baris depan.

Dalam video terpisah yang viral di media sosial, pasukan Ukraina memang berhasil membombardir konvoi kendaraan darat Rusia di beberapa wilayah di Ukraina, menggunakan drone Bayraktar TB2 buatan Turki.

Dengan mengerahkan kereta lapis baja, pergerakan logistik jadi lebih cepat sekaligus memiliki kemampuan menahan gempuran dari udara, termasuk drone Bayraktar TB2 Turki.

“Pengerahan kereta lapis baja ini menunjukkan bahwa Rusia prihatin dan bahkan putus asa tentang pasokan logistik mereka yang diserang,“ jelasnya.

Baca juga: Demi Bantu Cucu dan Nenek Ini, Operator Kereta Rusia Berlakukan Pemberhentian Khusus

“Rusia maju ke utara menuju Zaporizhya dari Krimea dan mereka bisa keluar lebih dulu dari pasokan logistik mereka sehingga kereta api ini akan membantu poros serangan itu jika mereka memang beroperasi di selatan,“ tambahnya.

“Senjata di kereta lapis baja dapat melindungi dari drone TB2 Turki yang diterbangkan oleh Ukraina dengan efek yang luar biasa,“ tutupnya.

Diesel The Barber, Tempat Cukur Rambut di Dalam Bus

Dewasa ini, banyak bus yang dikonversi atau diubah menjadi rumah sakit, kamar hotel, rumah tinggal, restoran atau yamg lainnya. Biasanya semua itu menggunakan bus tua atau bus yang sudah tak lagi digunakan. Nah, baru-baru ini ada hal unik yang di mana bus diubah menjadi sebuah barber shop alias tempat potong rambut.

Baca juga: Bus Tua Bekas Layanan Kereta Api Selandia Baru Diubah Jadi Rumah Berjalan

Dwayne Bryant adalah pemilik bus yang dikenal dengan Diesel the Barber tersebut. Ia membeli busnya dari seorang pria yang biasa memotong rambutnya. Dia mengatakan, mengambil risiko dan berinvestasi pada bus tersebut demi keinginannya menjadi tukuang cukur rambut. Dia mengaku menggunakan gunting pertamanya saat berusia 13 tahun untuk memotong rambut.

Klien Diesel the Barber menghargai bahwa dia bertemu dengan mereka di tempat mereka berada. Foto: King

“Saya akan memotong rambut teman-teman saya dan saya akan rambut memotong sepupu kecil saya. Ketika orang melihat saya, saya pikir pada awalnya mereka ingin tahu apakah saya bisa membawanya, Anda tahu,” ungkap Dwayne yang dikutip KabarPenumpang.com dari king5.com (7/3/2022).

Seorang pelanggannya adalah Pendeta Ernest James yang menunggu Diesel the Barber di sebuah palang bus untuk memotong rambutnya.

“Dia memotong rambut dengan sangat baik, dia membutuhkan waktu, dia tidak memotong rambut dengan cepat, Anda tahu. Dan dia membiarkan Anda melihatnya dan dia ingin Anda puas maka dia juga puas,” kata Pendeta.

Seorang pelanggan Diesel the Barber lainnya David Jennings mengatakan, Dwayne adalah tukang cukur terbaik.

“Pekerjaannya adalah seni dan dia tahu apa yang dia lakukan. Percayalah, jika itu tidak baik, saya tidak akan berada di sini!” kata David.

Bagi Dwayne, perjalanan Diesel the Barber adalah tujuan. Dia mengaku bahwa ketika bergerak membawa bus tempat cukurnya merasa sedang mengejar takdir.

“Saya memiliki hasrat untuk itu, saya menghormatinya, saya menghargainya dan saya ingin membawa apa yang saya bisa ke industri ini. Saya ingin membawa gaya saya ke industri ini. Atau saya bisa membawanya ke mereka!” ucapnya sambil tertawa.

“Ini adalah layanan nyata karena banyak orang tidak bisa sampai ke tujuan atau tempat yang mereka inginkan, jadi bagi Anda untuk dapat datang kepada saya, itu adalah berkah lho,” kata Jennings kepada Dwayne.

Diesel the Barber hanya menghargai ke mana jalan ini akan membawanya. Bahkan dia mengatakan akan terus berjalan dan melakukan pekerjaannya memotong rambut meski bermil-mil jauh perjalanan yang ditempuh.

Baca juga: Gegara Pandemi, Perusahaan Bus di Jepang Ubah Armadanya Jadi Tempat Sauna

“Saya di sini. Saya hanya akan menghargai perjalanan dan menjalaninya setiap hari dan selangkah demi selangkah,” jelas Dwayne.

Takut Aturan Sertifikasi Baru Super Ketat, Boeing Lobi Kongres Minta Waktu Sertifikasi 737 MAX 10

Boeing tengah ketakutan akan aturan sertifikasi baru Administrasi Penerbangan Federal (FAA) yang super ketat. Aturan tersebut sudah disahkan Kongres AS dan mulai berlaku 1 Januari 2023. Karenanya, jalan panjang sertifikasi dua pesawat 737 MAX 7 & 10 terus dikebut. Boeing 737 MAX 7 optimis bisa uji sertifikasi sebelum akhir tahun, tetapi, MAX 10 diperkirakan bakal molor.

Baca juga: Tak Terpengaruh Krisis MAX 8, Boeing Luncurkan 737 MAX 10 di Hadapan Ribuan Karyawan

Dilansir The Seattle Times, Boeing ingin mensertifikasi pesawat 737 MAX 10 di bawah aturan sertifikasi lama atau menghindari aturan sertifikasi baru terkait desain peringatan awak kokpit, yang memperingatkan pilot tentang beberapa malfungsi sistem saat terbang.

Sederet peraturan sertifikasi baru pada pesawat, di bawah Undang-Undang Reformasi Keselamatan dan Sertifikasi Pesawat, telah disahkan Kongres Amerika Serikat (AS) pada tahun 2020 lalu. Namun, UU yang memperbarui proses pengawasan FAA terhadap pesawat tersebutbaru akan berlaku mulai 1 Januari 2023.

Sebelum UU tersebut berlaku pun, FAA memang sudah memperketat proses sertifikasi, termasuk ke pesawat Boeing MAX 7, MAX 10, dan 777X, serta sertifikasi pesawat baru 787 Dreamliners. Namun, ini masih belum se-ketat UU baru mulai awal tahun depan itu.

Saat ini, Boeing dilaporkan tengah melobi Kongres untuk amandemen legislatif. Tujuannya agar perusahaan bisa mensertifikasi 737 MAX 10 setelah tanggal 31 Desember dengan aturan sertifikasi sebelumnya, bukan aturan sertifikasi baru yang sangat ketat.

“Kami terus bekerja secara transparan dengan FAA untuk memberikan informasi yang mereka butuhkan, dan kami berkomitmen untuk memenuhi harapan mereka (FAA) untuk mencapai sertifikasi 737 (MAX)-10,” tegas Boeing dalam sebuah pernyataan.

Boeing kini terus mengebut persiapan 737 MAX 7 dan MAX 10 menuju sertifikasi. Boeng 737 MAX 7 optimis bisa melakukan uji sertifikasi sebelum 31 Desember 2022. Namun, Boeing 737 MAX 10 tidak demikian. Itu dapat dipastikan siap melakukan uji sertifikasi pada tahun 2023 mendatang atau lebih.

Pesawat yang sukses terbang perdana pada 18 Juni 2021itu diketahui sudah dipesan sebanyak 613 unit oleh 12 maskapai, mulai dari Copa Airlines, Donghai Airlines, flydubai, GOL, Lion Air, Okay Airways, SkyUp Airlines, United Airlines, VietJetAir, Virgin Australia, dan WestJet.

Andai permohonan Boeing untuk meminta keringanan terkait aturan sertifikasi baru tak dikabulkan Kongres, maka ada beberapa konsekunsi yang harus diterima dan itu sangat berat.

Disebutkan, Undang -Undang Reformasi Keselamatan dan Sertifikasi Pesawat, yang merupakan RUU untuk mereformasi keselamatan penerbangan pasca dua kecelakaan Boeing 737 MAX, pesawat harus memenuhi standar Engine Indicating and Crew Alerting System (EICAS). EICAS memberi tahu pilot apa yang salah di dalam pesawat dan menginstruksikan mereka bagaimana mengatasi situasi tersebut.

Baca juga: Lion Air Group Beli 50 Unit Boeing 737 Max 10 Senilai Rp858 Triliun

Celakanya, menurut The Seattle Times, memperbarui kokpit Boeing 737 agar dilengkapi EICAS disebut sangat sulit, karena mempertahankan sistem lama khas keluarga 737.

Selain itu, pelatihan pilot Boeing 737 MAX 10 juga terpisah meskipun pilot sudah mendapat sertifikasi menerbangkan keluarga Boeing 737 MAX lainnya. Hal ini menurut Boeing akan membuat beban biaya yang timbul semakin besar.

Tantang AS-Eropa, Israel Siapkan Rp28 Triliun ke Maskapai untuk Tetap Terbang ke Rusia

Israel benar-benar menyeleweng dari sekutu terdekatnya Amerika Serikat (AS) terkait Rusia. Bagaimana tidak, alih-alih memberikan sanksi, termasuk menutup layanan penerbangan dari dan ke Rusia, Negeri Zionis itu justru memberikan jaminan sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp28 triliun (kurs 14.300) kepada maskapai dalam negeri agar tetap terbang ke Rusia.

Baca juga: Gegara Sanksi Bertubi-tubi, Berapa Banyak Pesawat Boeing-Airbus yang Batal Dikirim ke Maskapai Rusia?

Dilansir Agence France-Presse (AFP), kepastian itu diungkap oleh sumber anonim dari Kementerian Keuangan Israel.

Disebutkan, Kemenkeu menjamin uang sebesar itu karena asuransi reguler tidak bisa memberikan jaminan atau tidak bisa men-cover maskapai andai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat Rusia sedang terlibat konflik dengan Ukraina, ditambah sanksi ekonomi yang dilakukan oleh Uni Eropa, AS, dan sekutunya.

Menjalankan penerbangan melintas atau menuju ke wilayah konflik memang berisiko. Sejak tahun 1973, lebih dari enam penerbangan sipil telah menjadi korban kecelakaan akibat dirudal.

Karenanya, tak heran bila pihak asuransi enggan meng-cover. Terlebih, Rusia juga tengah di bawah sanksi ekonomi bertubi-tubi dari barat, tempat dimana perusahaan-perusahaan asuransi kebanyakan bernaung.

Sebelumnya, jaminan asuransi sebesar Rp28 triliun tersebut terbatas hanya sampai tanggal 9 Maret mendatang. Mengingat berbagai upaya rekonsiliasi antara Rusia dan Ukraina masih terus dijalankan Israel, negara tersebut memandang penting untuk tetap melayani penerbangan dari dan ke Rusia meski hal ini menimbulkan kecaman dari berbagai banyak pihak.

Rusia sendiri telah membalas sanksi yang diberikan Uni Eropa, AS, dan sekutu dengan merilis daftar 36 negara tak bersahabat, meliputi semua 27 negara anggota Uni Eropa (UE). Lalu Amerika Serikat (AS), Inggris, Ukraina, Swiss, Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Singapura, Taiwan, dan negara lainnya.

Meski pergerakannya dipersempit dengan penutupan ruang udara oleh Uni Eropa, Inggris, AS, dan sekutu, Negeri Beruang Merah memang masih memiliki akses penerbangan dari dan ke Turki, Qatar, dan Uni Emirat Arab; termasuk Israel.

Rusia sendiri tidak menutup ruang udara sepenuhnya. Melalui Badan Transportasi Udara Federal Rusia, Rosaviatsiya, negara itu tetap mengizinkan penerbangan internasional melintasi wilayahnya dengan izin khusus dari otoritas penerbangan Rusia atau kementerian luar negeri.

Baca juga: Inilah Air Sinai, Maskapai ‘Hantu’ yang Hubungkan Israel dan Mesir!

Akan tetapi, setiap pesawat yang dijalankan atau dimiliki oleh perusahaan Rusia tidak diperlakukan demikian di barat. Tidak ada pengecualian penerbangan dari negara yang dipimpin Vladimir Putin itu agar bisa memasuki ruang udara negara-negara barat, khususnya Inggris.

Di Inggris, pesawat Rusia yang mendarat di sana bahkan akan dituntut pidana siapapun yang berada di belakangnya.
























Ini Penampakan Wajah Baru Kereta Istimewa (Keris) Saat Uji Coba Lintas

Beberapa hari yang lalu Kereta Istimewa yang biasanya beristirahat di Depo Lokomotif Tanah Abang kini berada di Balai Yasa Yogyakarta untuk dilakukan perawatan. Kereta Istimewa yang terdiri dari 2 unit bernomor seri SI 3 80 01 – SI 3 82 04 ini tak hanya dilakukan atau pengecekan berkala seperti biasanya, namun ternyata rangkaian ini disulap menjadi sesuatu yang berbeda. Terlihat dari eksterior rangkaian terlihat berbeda dari sebelumnya. Apalagi warna yang digunakan hampir sepenuhnya brrwarna hijau. Dan bagian lampu depan sedikit diubah lebih sipit.

Baca juga: Kedatangan Kereta Istimewa ke Bogor, Railfans: Cegat Bareng, Kuy!

Beredar juga foto saat uji coba diarea Balai Yasa Yogyakarta terlihat rangkaian belum 100 persen sempurna dibagian eksterior. Masih menggunakan tenaga diesel, Kereta Istimewa tersebut selalu diuji coba kehandalan pada mesin diesel. Jika saat dilakukan perjalanan reguler tidak mengalami kendala. Kereta Istimewa saat ini memiliki tambahan estetika pada eksterior, selain warnanya yang full hijau, terdapat tambahan tulisan Wonderful Indonesia di kiri dan kanan body kereta.

Kereta Istimewa (Keris) dilakukan uji coba lintas dinamis pada hari ini, Kamis (10/3). Seperti pada uji coba kereta api lainnya, rangkaian Keris pun menjajal perjalanan di lintas Yogyakarta – Kutoarjo pp. Alasan menggunakan rute tersebut guna mengetes kecepatan, tanjakan dan turunan.

Kecepatan yang akan diuji coba Keris adalah 60 – 80 kilometer per jam. Rangkaian diberangkatkan dari Balai Yasa Yogyakarta menuju Stasiun Lempuyangan pada pukul 13.10 WIB dan tiba di Stasiun Kutoarjo pukul 14.17 WIB. Kemudian kembali dari Kutoarjo pukul 14.30 WIB dan tiba di Lempuyangan pukul 15.31 WIB. Selama di perjalanan Keris tidak berhenti di stasiun – stasiun yang dilewati, alias berjalan langsung.

Baca juga: Dibanderol Rp19 Jutaan, KAIS RailOne Kini Jadi “KA Istimewa,” Layanan Kereta Khas Bintang Lima

Seperti diketahui bahwa Kereta Istimewa merupakan kereta ex-kereta inspeksi yang didesain ulang untuk menikmati perjalanan dengan pengalaman yang berbeda. Kereta Istimewa bisa digunakan untuk masyarakat umum yang ingin melakukan perjalanan wisata sesuai dengan waktu yang diinginkan/fleksibel. Kereta ini tidak digandengkan pada kereta api reguler. Kereta Istimewa yang dilengkapi dengan ruang utama, yaitu lounge termasuk dengan karaoke, ruang meeting dengan TV layar lebar, tempat duduk dengan leg rest yang membuat perjalanan semakin nyaman. Uniknya jika naik Kereta Istimewa penumpang bisa menikmati perjalanan sambil melihat langsung pemandangan dari ruangan masinis. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Taxi Driver Akan Mulai Season 2, Esom Tak Lagi Ikut Serta

Serial Taxi Driver yang dirilis 9 April 2021 diwartakan akan berlanjut di Season 2. Serial drama ini awalnya adalah webcomic yang berjudul Mobetaxi karya Carlos dan diilustrasikan oleh Lee Jae Jin dan dipublikasi dalam websiter comic.naver.com.

Baca juga: Dikira ‘Fake Taxi’ untuk Film Porno, Seorang TikToker Buat Video Penjelasan

Taxi Driver adalah serial drama Korea bertema action dan crime. Singkat Cerita, KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Taxi Driver memiliki cerita yang berfokus pada Kim Do Ki (Lee Je-Hoon).

Esom perankan Ha Na di Taxi Driver season 1. Foto: hallo.id

Di mana dia merupakan prajurit lulusan Korea Naval Academy atau Akademi Angkatan Laut yang ditempatkan sebagai pasukan khusus (tim penghancur bawah air). Meski begitu, dia ternyata memiliki masa lalu yang sangat menyedihkan yakni ibunya yang dibunuh oleh seorang pembunuh berantai hingga kehidupannya berubah.

Di masa terpuruknya, Do Ki bertemu dengan Jang Sung Chul (Kim Eui Sung), yang kemudian merekrutnya untuk bekerja di perusahaannya bernama Rainbow Taxi. Awalnya, Kim Do Ki tak mengetahui seluk beluk bisnis Rainbow Taxi.

Namun tak disangka Rainbow Taxi bukanlah perusahaan penyedia jasa taksi biasa, tetapi adalah sebuah organisasi rahasia penyedia jasa balas dendam, untuk membalaskan dendam para korban tertindas yang tidak dilindungi hukum. Demi melancarkan aksinya sebagai pengemudi taksi dengan misi balas dendam, Do Ki dibantu oleh hacker cantik bernama Go Eun (Pyo Ye Jin).

Do Ki lalu bertemu dengan Ha Na (Esom) jaksa penuntut yang sedang menyelidiki perusahaan Rainbow Taxi. Go Eun yang awalnya marah dengan aksi-aksi Rainbow Taxi yang melanggar hukum, namun di saat yang bersamaan ia juga kebingungan melihat Do Ki bersama Rainbow Taxi sukses menyelesaikan kasus-kasus hukum yang belum bisa dipecahkan.

Kini, Kim Do Ki, Ha Na dan Go Eun bekerja sama menjadi bagian dari Rainbow Taxi untuk melakukan aksi layanan membalas dendam dari para klien mereka. Sayangnya season 1 serial drama Korea ini sudah taman dan akan mulai ke season 2.

Tetapi, dalam season 2 Taxi Driver, Esom tidak lagi bergabung karena jadwalnya yang bentrok dengan beberapa drama baru. Meski begitu pemain yang akan menggantikannya sudah didiskusikan tetapi belum ada keputusan pasti tentang pengganti Esom.

Baca juga: Anak-anak Ternyata Punya Arti Penting di Film “Train to Busan”

Esom sendiri memiliki nama asli Lee So-young yang lahir 30 Januari 1990. Dia adalah aktris dan model asal Korea Selatan. Awal mula terkenadl, Esom menjadi pemeran utama dalam film Scarlet Innocence tahun 2014 dan dinominasikan menjadi Best New Actress dalam lima acara penghargaan yang berbeda.

Ciri Khas Bandara Masa Depan, Ini Sederet Manfaat ATC Jarak Jauh

Perkembangan teknologi di sektor dirgantara global berlangsung begitu cepat. Salah satunya penggunaan ATC jarak jauh di berbagai bandara. ATC jarak jauh dinilai jauh lebih efektif dari segi biaya dan manfaatnya bagi operasi penerbangan.

Baca juga: Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote

Saat ini, teknologi kontrol lalu lintas udara digital jarak jauh (ATC) atau remote digital ATC memang belum massif digunakan di banyak bandara dunia. Tercatat, hanya Bandara London City dan beberapa bandara di Swedia, termasuk Scandinavian Mountains Airport dan Bandara Örnsköldsvik.

Namun, dengan berbagai manfaat ATC jarak jauh, bukan tak mungkin ke depan teknologi ini akan massif digunakan, setidaknya di bandara-bandara besar di dunia.

Dilansir Airport Technology, ATC jarak jauh di Swedia mulai diaplikasikan pada tahun 2017 lalu. Sedangkan di Inggris, itu dimulai pada tahun 2021.

Disebutkan, ATC jarak jauh menggabungkan tiga petugas ATC; Aerodrome Control Service (biasanya berpartner dengan petugas darat untuk memberikan isyarat kepada pesawat untuk take-off atau landing), Approach Control Service (mengatur ketinggian pesawat), dan Area Control Sevice (memberikan clearance kepada pesawat yang sedang menjelajah).

Dalam pelaksanaannya, petugas ATC jarak jauh (Bandara London City) dibantu dengan adanya 16 kamera HD (tentu jumlah kamera berbeda-beda di tiap bandara) yang mencakup seluruh sudut bandara dan dimonitor di digital tower operations room lewat 14 layar HD berukuran besar, mirip seperti simulator.

16 kamera HD tersebut dipasang di tiang menara digital, mencakup kabel sinyal sepanjang 4 km antara equipment rooms dan platform kamera.

Dengan kamera bersolusi tinggi yang terpasang di bandara, petugas dipastikan akan mendapatkan kualitas visual gambar video real time. Berkat basis kamera canggih, petugas malah dapat mendeteksi keberadaan benda-benda yang mencurigakan di area lintasan pesawat, termasuk ketajaman visual pada malam hari. Bila ada obyek yang kurang jelas dilihat, petugas pun tinggal melakukan digital zooming.

Data operasional ATC jarak jauh ini kemudian ditransfer ke ruang operasi menara digital yang dibuat khusus di pusat ATC National Air Traffic Services (NATS) di Swanwick, Inggris. Menara ATC digital mencakup semua operasi ke dan dari Kota London dan beberapa aset kontrol lalu lintas udara berlokasi di sana.

Baca juga: Menara ATC Tintin – Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota

Penggunaan teknologi ATC jarak jauh disebut memiliki beragam manfaat, mulai dari meningkatkan kesadaran situasional dari pengontrol lalu lintas udara, investasinya lebih murah karena tak perlu membangun menara pengawas khusus, lebih efektif dengan lebih sedikit fasilitas serta peralatan tambahan dibanding menara ATC konvesional, sampai menghemat biaya operasional ATC.

Sebagai informasi, membangun remote ATC atau ATC jarak jauh di Bandara London City menghabiskan biaya sebesar £20 juta atau sekitar Rp377 miliar.

Gegara Sanksi Bertubi-tubi, Berapa Banyak Pesawat Boeing-Airbus yang Batal Dikirim ke Maskapai Rusia?

Invasi Rusia ke Ukraina mengundang sanksi ekonomi bertubi-tubi dari sekutu yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Di sektor dirgantara, sanksi meliputi hengkangnya Airbus-Boeing dalam memasok suku cadang dan dukungan teknis terhadap produk-produk mereka di Rusia. Selain itu, dua produsen pesawat terbesar di dunia itu juga batal mengirim pesawat baru dengan jumlah yang tak sedikit.

Baca juga: Boeing-Airbus Stop Suku Cadang, Rusia Bakal ‘Rampas’ Semua Pesawat Asing dari Lessor?

Dilansir The Guardian, sebanyak 332 pesawat Boeing dan 304 Airbus saat ini terdaftar dalam barisan armada maskapai-maskapai Rusia.

Meski pasokan suku cadang, perawatan, dan dukungan teknis untuk semua pesawat tersebut untuk sementara waktu di-stop Airbus-Boeing, namun, beberapa analis menduga itu tidak akan berdampak pada operasional maskapai dalam waktu dekat. Tentu dengan catatan, tidak ada kerusakan yang berarti.

Andaipun ada kerusakan, maskapai bisa saja melakukan tambal sulam atau kanibal dengan suku cadang atau komponen pesawat lain yang sedang digrounded.

Selain ‘meninggalkan’ pesawat-pesawat yang sudah dioperasikan maskapai-maskapai Rusia, Boeing-Airbus juga menunda pengiriman pesawat baru. Tidak diketahui persis apakah itu sekedar ditunda ataukah dibatalkan. Yang pasti, jumlahnya, menurut ch-aviation cukup banyak, meliputi 42 pesawat Boeing dan 22 pesawat Airbus.

Disebutkan, 42 pesawat tersebut dengan rincian enam 777-200F untuk AirBridgeCargo, dan 36 737 MAX 8 yang pesanan UTair, Ural Airlines, dan S7 Airlines.

AirBridgeCargo (ABC) adalah salah satu maskapai kargo ternama di Rusia. Sebelumnya, maskapai ini hanya mengoperasikan pesawat-pesawat kargo Uni Soviet, seperti Antonov dan Ilyushin.

Namun, sejak tahun 2020, ABC mulai mengoperasikan Boeing 777-200F pertama dari sembilan unit yang dipesan. Seiring waktu, dua lainnya sukses dikirim dan menyisakan enam lainnya yang masih terombang-ambing akibat sanksi ekonomi AS terhadap Rusia.

Ch-aviation menyebut, Boeing dan ABC tetap berkomitmen dengan perjanjian jua beli dan leaseback yang sudah disepakati. Tetapi, pada sampai tahun 2024-2025 tidak ada pengiriman pesawat Boeing 777-200F ke ABC.

Yang paling gigit jari tentu UTair. Dari 30 unit Boeing 737 MAX yang sudah dipesan sejak tahun 2018, sampai saat ini satu pun pesawat, yang rencananya untuk menggantikan armada Boeing 737-500 klasik yang sudah tua, belum juga dikirim. Sebetulnya pengiriman tertunda akibat grounded berkepanjangan, ditambah pandemi virus Corona dan sekarang ditambah lagi dengan sanksi ekonomi.

Sedangkan Ural Airlines hanya memiliki dua pesanan Boeing 737 MAX dan sisanya adalah pesanan S7 Airlines, yang notabene menjadi operator Boeing 737 MAX pertama di Rusia.

Senasib dengan UTair, Aeroflot juga memiliki pesanan yang cukup banyak meliputi 13 pesawat Airbus A350-900. Untungnya, dari jumlah tersebut, sembilan di antaranya sudah berhasil dikirim. Terakhir, pengiriman terjadi pada 24 Februari lalu, tepat di hari Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer ke Ukraina.

Dari pesawat narrowbody Airbus, ada sembilan pesanan pesawat A320neo dan A321LR dari dua maskapai, S7 Airlines dan Smartiva.

Ketidakjelasan nasib 64 pesawat baru Boeing-Airbus yang batal dikirim pun sempat membuat keduanya pusing. Kabar baiknya, Luftahnsa Group            menyatakan minatnya untuk memboyong pesawat-pesawat tersebut, dalam hal ini Airbus A350 dan Boeing 777 Cargo.

Baca juga: Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21

Sebaliknya, untuk maskapai-maskapai Rusia, hal ini mau tak mau mendorong mereka untuk mengoperasikan lebih banyak pesawat-pesawat buatan Rusia, seperti SSJ 100, Irkut MC-21, dan Ilyushin Il-114-300.

Meski begitu, ini tak akan mudah mengingat mesin, avionik, landing gear, dan banyak komponen pesawat lainnya masih ada yang diimpor dari negara-negara barat.

Diam-diam, Airbus Kirim Pesawat ke Aeroflot di Hari Pertama Invasi Rusia ke Ukraina

Presiden Vladimir Putin mengumumkan operasi militer skala penuh pada Kamis dini hari, 24 Februari 2022. Tak lama kemudian, pasukan Rusia mulai merangsek masuk ke Ukraina tanpa bisa dibendung. Menariknya, saat semua mata dunia tertuju ke Rusia dan Ukraina, Airbus diam-diam mengirim pesawat A350-900 baru ke maskapai nasional Rusia, Aeroflot.

Baca juga: Boeing-Airbus Stop Suku Cadang, Rusia Bakal ‘Rampas’ Semua Pesawat Asing dari Lessor?

Banyak yang berpendapat, Airbus melakukan itu karena tak ingin kehilangan momentum. Manufaktur pesawat Eropa itu tentu tahu betul konsekuensi apa yang kelak diterima Rusia ketika itu.

Terbukti, selang beberapa hari, Airbus mendapat tekanan dari Uni Eropa untuk turut bersama-sama memberikan sanksi ke Rusia dan pada 2 Maret perusahaan resmi mengumumkan bahwa pasokan suku cadang dan dukungan teknis bagi 304 armada Airbus maskapai Rusia dihentikan.

Dilansir Reuters, pengiriman satu unit pesawat di “last minute” itu adalah bagian dari pengiriman 79 pesawat sepanjang Januari-Februari tahun 2022. Tahun ini, Airbus menargetkan pengiriman 720 pesawat ke berbagai maskapai di dunia, angka yang cukup tinggi sebetulnya di tengah pandemi virus Corona yang tiada akhir.

Total pengiriman pesawat di bulan Januari-Februari angkanya bisa saja lebih tinggi, andai sanksi tidak diterapkan ke Rusia.

Selain menyetop pengiriman suku cadang bagi maskapai-maskapai Rusia, Airbus juga diketahui menangguhkan pengiriman 22 pesawat. Pesawat-pesawat tersebut telah dijadwalkan untuk dikirim ke tiga maskapai Rusia, seperti Aeroflot, S7 Airlines, dan Smartiva.

Airbus juga dilaporkan mendapat 149 pesanan pesawat di dua bulan terakhir ini atau total 55 pesanan setelah terjadi serangkaian pembatalan.

Total pengiriman Airbus masih sedikit lebih baik dibanding Boeing. Raksasa manufaktur pesawat global asal Amerika Serikat itu sukses mengirim 54 tahun sepanjang Januari-Februari. Selain itu, Boeing juga berhasil menjual 114 pesawat atau total 107 pesawat setelah terjadi pembatalan.

Senasib dengan Airbus, capaian pengiriman pesawat di bulan Januari-Februari tahun ini seharusnya bisa jauh lebih tinggi.

Baca juga: Rusia Dihujani Sanksi, Airbus dan Boeing Bakal Terdampak Pasokan Komponen Titanium

Sebagai bagian dari entitas bisa krusial AS, Boeing juga turut memberikan sanksi ke Rusia dengan menyetop pasokan suku cadang dan dukungan teknis terhadap produk-produknya yang dioperasikan di Negeri Beruang Merah.

Boeing juga membatalkan pengiriman 42 pesawat, terdiri dari enam 777-200F untuk AirBridgeCargo, dan 36 737 MAX 8 yang pesanan UTair, Ural Airlines, dan S7 Airlines.