Siap – siap! Setelah Libur Lebaran, Tarif KRL Naik Menjadi Rp5.000

Informasi mengenai kenaikan tarif KRL naik yang semula Rp 3.500 menjadi Rp5.000 akan diberlakukan dalam waktu dekat ini. Kementerian Perhubungan telah menetapkan nominal kenaikan tarifnya, namun untuk kapan direalisasikan menunggu penentuan waktunya saja.

Baca juga: Masih Aman, Tarif KRL Jabodetabek Tidak Jadi Naik Sampai Lebaran 2022

Menurut pantauan informasi bila awalnya tarif KRL untuk 25 km pertama hanya Rp3.000, rencananya dinaikkan menjadi Rp5.000. Tepatnya tarif KRL bakal naik Rp2.000. Sementara itu, untuk tarif lanjutan KRL 10 km berikutnya tetap di angka Rp1.000. Tidak mengalami kenaikan (dilansir detik.com).

Kementerian Perhubungan juga masih mengkajinya kapan waktu yang tepat untuk kenaikan tarif tersebut. Pada wacana sebelumnya tarif KRL naik April, namun ternyata ditunda hingga masa Lebaran 2022 usai. Namun, Setelah lebaran, akan ada pembahasan kembali soal kenaikan tarif KRL. Yang pasti pemerintah masih membahas waktu yang tepat untuk kenaikan tarif KRL dengan mempertimbangkan situasi terkini di tengah masyarakat.

Baca juga: GoTransit, Hubungkan GoJek dengan Pembelian Tiket KRL Jabodetabek 

Jika memang kenaikan tarif diberlakukan, masyarakat dapat menyesuaikan pembelian/pengisian saldo tiket commuter line untuk melakukqn aktivitas sehari – hari. Dan berharap dengan terjadinya kenaikan tarif tersebut, KAI Commuter dapat melayani perjalanan KRL yang lebih maksimal, aman dan nyaman. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Masih Ada Long Weekend, Naik Kereta Api Masih Ada Kursi Kosong

Libur pasca Lebaran sepertinya tak menghalangi niat masyarakat yang masih betah untuk menghabiskan waktunya untuk jalan – jalan ke luar kota dengan kereta api. Dari berbagai sumber berita mengatakan masih ramainya penumpang kereta api saat arus balik menuju ke wilayah Jabodetabek. Itu berarti masih banyaknya masyarakat yang berada di luar kota untuk sekadar silaturahmi ataupun berkunjung ke lokasi wisata favoritnya. Walaupun masa perpanjangan liburan hingga Kamis, 12 Mei 2022.

Baca juga: Teken Kerja Sama, KAI Commuter dan INKA Siap Pengadaan 16 Rangkaian KRL Untuk Operasi 2024

Namun beberapa hari berikutnya masih terdapat libur 2 hari sesuai kalender yang tertera. Yaitu pada Hari Minggu dan Hari Senin (15 dan 16 Mei 2022). Ya, saat tanggal tersebut diketahui merupakan yang cukup signifikan bagi penikmat jalan – jalan, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menginformasikan ketersediaan tempat duduk bagi para penumpang yang hendak bepergian maupun kembali ke ibu kota menggunakan kereta api berbagai kelas.

Informasi yang disebarkan melalui akun instagram @kai121_ terdapat stasiun – stasiun di Pulau Jawa dengan informasi ketersediaan tempat duduk mulai dari kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Tak hanya ketersediaan tempat duduk, rangkaian kereta api tambahan pun masih disediakan untuk antisipasi lonjakan penumpang saat semua kembali ke ibu kota.

Adapun tambahan kereta api tersebut dimulai pada tanggal 10 – 17 Mei 2022. Beberapa kereta api tambahan yang akan mengantar penumpang ke berbagai kota di Pulau Jawa yaitu:

– KA Ciremai
(dari Semarang Tawang: 07.15, dari Bandung: 16.25),

– KA Bogowonto
(dari Pasar Senen: 23.00, dari Lempuyangan: 09.50),

– KA Argo Lawu Tambahan
(dari Gambir: 22.50, dari Solo Balapan: 09.55),

– KA Argo Dwipangga Tambahan
(dari Solo Balapan: 22.10, dari Gambir: 09.50),

– KA Senja Utama Yogya
(dari Pasar Senen: 19.10, dari Yogyakarta: 17.50),

– KA Jaka Tingkir
(dari Purwosari: 23.45, dari Pasar Senen: 12.50),

Baca juga: Lama Tak Melintas, Kini KA Bogowonto Kembali Hadir Sambut Arus Balik

Diharapkan penumpang yang menggunakan transportasi kereta api agar selalu menjadwalkan perjalanan dan menentukan tanggal keberangkatan, agar tidak terjadi kesalahan saat boarding di stasiun. Serta tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Apa Itu Pesawat White Tail? Berikut Penjelasannya

Di dunia penerbangan, terdapat berbagai istilah. Salah satunya pesawat white tail atau white tail aircraft. Insan dirgantara biasanya akan bertemu istilah ini saat mengecek status manufacturer order dan delivery books. Keberadaan pesawat whitetail bisa dibilang menjadi alarm tanda bahaya. Jadi, apa sebetulnya pesawat white tail?

Baca juga: Pesawat Whitetail Airbus Habis, Pertanda Apa?

Dilansir Airlines.net, pesawat whitetail adalah pesawat yang diproduksi tanpa ada pembelinya. Karena tidak ada pemiliknya atau belum ada yang beli, pesawat tidak memiliki livery alias berwarna putih sebagai warna dasar dari pesawat itu sendiri.

Ada beberapa alasan mengapa maskapai memproduksi pesawat whitetail, mulai dari ingin mempertahankan tingkat produksi, pembatalan pesanan oleh maskapai saat pesawat yang dipesan sudah masuk ke jalur produksi, sampai memiliki cadangan pesawat untuk antisipasi lonjakan permintaan pesawat mengingat produksi pesawat prosesnya sangat panjang dan lama.

Dengan adanya pesawat whitetail, andai ada maskapai yang meminta banyak pesawat dalam waktu cepat, pesawat whitetail hanya perlu dipakaikan livery maskapai dan sedikit modifikasi menyesuaikan konfigurasi kabin yang diinginkan pembeli.

Keberadaan pesawat whitetail bisa dibilang menjadi alarm tanda bahaya. Bagaimana tidak, pesawat yang sudah diproduksi belum jelas siapa pemiliknya alias nganggur di pabrik (belum terjual). Semakin banyak pesawat whitetail, berarti semakin berat beban perusahaan. Cost produksi terus keluar namun sedikitpun pemasukan dari penjualan pesawat tidak ada.

Tetapi, itu bisa saja sebaliknya. Andai manufaktur pesawat tidak mempunyai pesawat whitetail karena jumlah produksi menurun (apalagi sampai tidak memproduksi pesawat sama sekali), itu juga berarti alarm tanda bahaya bagi bisnis manufaktur tersebut.

Airbus diketahui memang selalu memproduksi pesawat whitetail. Itu dilakukan untuk menjaga supply chain serta jalur perakitan agar tetap berjalan dan mengejar target produksi bulanan. Selain itu pesawat whitetail ada juga karena pembatalan dari pihak pembeli.

Dibanding Boeing, yang bisa dibilang hampir tak pernah memiliki pesawat whitetail, begitu juga dengan Douglas yang sepanjang berdirinya perusahaan hanya pernah memproduksi MD-80 dan MD-11 tanpa pesanan, Airbus sering atau bisa dibilang selalu memproduksi pesawat whitetail.

Sejak tipe pesawat pertama Airbus, A300B2/4, diproduksi, perusahaan diketahui sudah lazim memiliki pesawat whitetail. Bahkan Airbus pernah mempunyai pesawat whitetail A320, A330, dan A340 dalam jumlah besar, membuatnya menumpuk di pabrik.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Akan tetapi, larangan terbang Boeing 737 MAX selama kurang lebih dua tahun memaksa Boeing mau tak mau mempunyai pesawat white tail. Menurut Reuters, raksasa manufaktur pesawat asal Amerika Serikat itu sedikitnya mempunyai 200 pesawat white tail akibat pembatalan besar-besaran dari maskapai.

Usai 737 MAX diizinkan terbang kembali, Boeing berupaya mencari pembeli lain. Seiring waktu, satu per satu pesawat white tail itu mulai berkurang meskipun totalnya masih tergolong banyak.

TransJakarta Hadirkan 8 Bus Wisata, Satu Diantaranya Punya Atap Terbuka

Libur Lebaran, banyak masyarakat yang tidak mudik ke kampung halaman dan juga mereka yang tinggal dipinggiran ibukota mampir untuk menikmati lengganggnya jalanan Jakarta. Nah, ini kemudian membuat PT Transportasi Jakarta atau yang dikenal dengan TransJakarta, menghadirkan kembali layanan bus wisata.

Baca juga: Bus Tingkat di Indonesia, Transformasi dari Moda Angkutan dan Wisata

Layanan ini menggunakan delapan armada bus tingkat dengan salah satunya memiliki atap yang terbuka. Hal tersebut memudahkan penumpang yang ingin mengambil foto dari atap terbuka atau sekedar merasakan terpaan sinar matahari ibukota.

Bus wisata milik TransJakarta. Foto: TransJakarta

Layanan bus wisata tersebut hadir sebanyak dua rute yakni Jakarta Baru (BW2) dan rute Pencakar Langit (BW4). KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, kedua layanan bus wisata tersebut efektif melayani masyarakat mulai tanggal 3 Mei kemarin.

Bus ini harusnya berakhir pada 8 Mei kemarin, tetapi karena antusias masyarakat, PT TransJakarta kemudian memperpanjang layanan hingga 11 Mei besok. Untuk rute Jakarta Baru penumpang bisa naik dari Juanda Istiqlal PP dan Pencakar Langit dengan rute IRTI Monas PP.

Layanan bus tingkat wisata akan beroperasi mulai pukul 10.00 – 21.00 WIB. Pelanggan bisa menggunakan Kartu Uang Elektronik pada alat Tap On Bus dengan tarif Rp0.

Selain itu bagi mereka yang tidak membawa Kartu Uang Elektronik, maka akan mendapatkan tiket sobek sebelum memasuki bus. Dioperasikan sebanyak delapan armada, bus masing-masing 80 pelanggan.

Baca juga: Punya Bus Wisata Listrik, Brussel Jadi yang Pertama di Dunia

Bus ini memiliki desain ramah untuk pelanggan disabilitas yang menggunakan kursi roda. Uniknya lagi, dilayanan tersebut tidak ada penumpang yang diperbolehkan untuk berdiri. Sehingga semua penumpang bisa duduk nyaman dan tidak terganggu penumpang berdiri untuk menikmati perjalanan wisata tersebut.

Ulang Tahun Ke-90, Inilah Asal Usul Nama Fuso

Pada Mei 2022, merek Fuso yang berada dibawah naungan Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corporation merayakan ulang tahun ke-90. Nama Fuso ternyata ada asal usulnya yakni saat itu bulan Mei 1932, bus bensin pertama Mitsubishi yang adalah “mobil bersama tipe B46” yang diproduksi di Galangan Kapal Kobe bekas Pabrik Kapal Mitsubishi.

Baca juga: Beginilah Tampilan Anyar Mitsubishi Fuso Setelah 20 Tahun Tidak Ganti ‘Muka’

Nama Fuso dipilih di antara proposal dari karyawan di perusahaan salah satunya diusulkan oleh seorang insinyur di galangan kapal. KabarPenumpang.com melansir dari automotiveworld.com (9/5/2022), usulan itu menyebutkan kata FUSO yang cocok untuk mewakili Jepang.

Nama sederhana yang melambangkan Jepang dan Mitsubishi serta memiliki suara yang halus dan familiar yang memberikan gambaran jelas. Di mana itu adalah gambar yang tinggal di pikiran seseorang. Kata Fuso juga awalnya mengacu pada pohon suci besar yang pernah dikatakan sebagai tempat matahari terbit di Cina.

Namun, kini nama tersebut digunakan sebagai nama untuk kembang sepatu. Selain itu juga digunakan sebagai sinonim untuk Jepang di Cina kuno. Sebelum ulang tahun ini, Fuso menetapkan “Future Together” sebagai tagline merek baru pada tahun 2021.

Di bawah tagline ini, FUSO bertujuan untuk memimpin transformasi kendaraan komersial bersama dengan pelanggan kami di industri otomotif, yang menghadapi titik balik bersejarah. “Future Together” juga mengomunikasikan ambisi untuk masa depan dengan solusi transportasi yang lebih aman dan berkelanjutan.

Bus ini memiliki panjang tujuh meter yang dilengkapi 38 tempat duduk itu menggunakan mesin bensin tujuh liter, enam silinder dan 100 tenaga kuda. Dalam rangka memperingati penyerahan pertama bus tipe B46 ke Kementerian Perkeretaapian, terpilihlah “FUSO” dari antara usulan internal untuk julukannya.

Mengikuti kendaraan pertama, julukan “FUSO” digunakan satu demi satu untuk produk utama seperti mesin bensin truk 4-ton KT1 (1946), kabin besar pertama di atas truk T380, dan minibus pertama di Jepang, Rosa (1960) . Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Jepang yang tinggi pada 1950-an – 70-an, jajaran produk mencakup berbagai truk dan bus kecil hingga besar, yang memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi.

MFTBC, produsen kendaraan merek FUSO, lahir ketika Mitsubishi Motors Corporation memisahkan divisi kendaraan komersialnya dari bisnis mobil penumpang pada tahun 2003, saat menjadi bagian dari bekas Daimler Chrysler. Pada musim semi 2006, MFTBC bergabung dengan grup truk yang diorganisir dalam Daimler Chrysler.

Sekarang menjadi bagian integral dari Daimler Truck AG. FUSO sekarang mengirimkan truk dan bus ke lebih dari 170 negara dan wilayah, mendukung transportasi dan bisnis tidak hanya di Jepang tetapi di seluruh dunia. Truk “Canter” tugas ringan sangat dihormati di seluruh dunia dan memegang pangsa teratas di banyak negara.

Baca juga: Mitsubhisi Kembangkan Emirai XS Drive yang Bisa Pantau Pengemudi dan Penumpang

Pada tahun 2017, FUSO meluncurkan truk “eCanter” listrik ringan produksi massal pertama di Jepang, yang memimpin elektrifikasi kendaraan komersial. FUSO bertujuan untuk melanjutkan sebagai merek yang dicintai dan dipercaya, mengembangkan produk dengan “kualitas, lingkungan, keamanan” sebagai prioritas utama.

Mungkinkah Penumpang Salah Masuk Pesawat Saat Ini?

Di tengah kecanggihan teknologi dan ketatnya prosedur penerbangan, termasuk prosedur pengecekan penumpang, rasanya mustahil penumpang sampai salah naik pesawat. Tetapi, benarkah demikian?

Baca juga: Lion Air Group Salahkan Penumpang Terkait Viral Tiket Pesawat Rp 9,6 Juta: Sesuai Prosedur

Bicara penumpang salah naik pesawat, salah satu yang populer tentu Kevin dari serial film Home Alone saat naik pesawat Boeing 767 American Airlines pada tahun 1992. Ketika itu, ia berpikir sedang menuju Florida untuk menikmati matahari, tetapi ternyata ia menuju New York.

Kendati hanyalah film, namun, di tahun tersebut insiden penumpang salah naik pesawat memang benar adanya karena sistem pengecekan manual ataupun berbasis teknologi yang belum se-tersetruktur seperti sekarang.

Akan tetapi, meski saat ini sudah jauh lebih canggih dari tahun 1992 dan penumpang jauh ter-manage dengan baik, nyatanya insiden penumpang salah naik pesawat masih terjadi.

Bulan lalu, pasangan muda-mudi curhat di media sosial bahwa mereka telah mengalami insiden salah naik pesawat Ryanair dari Manchester menuju Alicante. Ia baru sadar telah salah naik pesawat lantaran penumpang lain mengklaim kursi yang diduduki adalah miliknya. Ia pun cepat-cepat turun dan berpindah ke pesawat yang benar.

Sebelumnya lagi malah lebih parah. Seorang penumpang dilaporkan salah naik pesawat Ryanair. Alih-alih terbang ke Cagliari, penumpang tersebut justru terbang ke Bari. Menariknya, ketika itu tidak ada penumpang lain yang mengklaim kursi yang didudukinya sehingga ia dengan nyaman duduk dan menikmati penerbangan sampai menjelang landing.

Ia baru menyadari bahwa ia telah salah naik pesawat lantaran pemandangan di luar pesawat jauh berbeda dengan pemandangan Bari yang terekam jelas dalam benaknya.

Ryanair mungkin bisa saja dianggap maklum sebagai maskapai LCC. Faktanya, maskapai full service sekalipun pernah mengalaminya, termasuk Air Canada.

Dilansir Simple Flying, maskapai nasional Kanada itu pernah salah membawa penumpang ke Sydney, Nova Scotia, alih-alih ke Sydney, Australia. Ini dilaporkan terjadi beberapa kali karena kesamaan nama kota.

United Airlines juga pernah salah menerbangkan penumpang ke San Francisco meskipun tertulis jelas di tiketnya menuju Paris dan telah melewati prosedur penerbangan yang ketat, seperti boarding sampai final check oleh kru kabin di pesawat sebelum duduk kursi yang tertulis tiket.

Salah satu maskapai terbesar di Amerika Serikat itu juga pernah salah menerbangkan penumpang ke Denver, bukan ke Raleigh.

Semua insiden di atas adalah segelintir contoh insiden penumpang salah naik pesawat ataupun maskapai salah menerbangkan penumpang. Dengan begitu, jawaban atas pertanyaan di awal adalah, mungkin. Penumpang sangat mungkin untuk salah naik pesawat atau maskapai salah menerbangkan penumpang ke tujuan seharusnya, sekalipun sistem sudah canggih dan melalui pengecekan berlapis.

Dengan lebih dari 4,5 miliar penumpang yang naik pesawat melalui penerbangan berjadwal di seluruh dunia, kesalahan sudah pasti ada.

Baca juga: 7 Kesalahan Penumpang yang Mesti Dihindari Saat di Gate Pengecekan Keamanan Bandara

Disebutkan, ada beberapa langkah untuk mencegah insiden itu terjadi. Mulai dari memindai barcode tiket, pengecekan berlapis saat boarding, dan final check di pesawat sebelum menuju kursi, sampai memberikan pengumuman di luar dan di dalam pesawat sebelum close door atau sebelum pesawat berangkat.

Walau bagaimanapun juga, kombinasi dari petugas yang kelelahan dan penumpang yang tidak fokus pada penerbangan mereka karena satu dan lain hal, seperti misalnya menggunakan headphone atau atau headset, menjadi faktor terbesar terjadinya insiden penumpang salah naik pesawat atau maskapai salah menerbangkan penumpang.

Mengenang 30 Tahun Sang Legenda KRL Rheostatic yang Merakyat

Kereta Rel Listrik (KRL) saat ini sudah terbilang sangat nyaman dengan perjalanan antar wilayah di Jabodetabek. Para penumpang yang kesehariannya dengan KRL menjadikan transportasi ini seakan menjadi makanan sehari – hari yang murah meriah. Sejak peraturan sebagai pengguna KRL pada tahun 2014 lalu, KRL semakin berubah. Mulai dari diremajakannya rangkaian yang tak layak digunakan karena usia KRL yang sudah tua, sampai pengaturan rute transit bagi penumpang yang bisa berpindah KRL lainnya cukup hanya membayar karcis sekali perjalanan saja.

Baca juga: Mengintip Jenis Commuter Line di Luar Jakarta

Namun coba kita flashback kembali ke jaman dimana salah satu KRL ini yang dijadikan legenda karena murah meriah dan juga “merakyat” sampai menampung penumpang yang kelebihan muatan. Ya, KRL Rheostatic inilah yang menjadi “tulang punggung” masyarakat Jabodetabek yang setia mengantar penumpangnya ke setiap wilayah. KRL Rheostatic Non AC ini merupakan komuter buatan Jepang yang pertama di Indonesia. Pertama kali KRL ini didatangkan pada tahun 1976. KRL ini berasal dari pabrikan Nippon Sharyo yang bekerja sama dengan Kawasaki Heavy Industries dan Hitachi Industries, Jepang. KRL jenis ini merupakan populasi terbanyak yang dimiliki PT KAI Commuter Jabodetabek (saat itu).

KRL Rheostatic sudah berada di Indonesia lebih dari 30 tahun yang setia mengantar penumpang. Kehandalan KRL ini pun telah terbukti saat beroperasi di semua lintas Jabodetabek. Kedatangan ke Indonesianya pun bertahap dan terdiri dari dua tipe body eksterior. KRL dengam bahan Mild Steel didatangkan tahun 1976, 1978, 1983, dan 1984. Sedangkan KRL dengan bahan body Stainless Steel datang tahun 1986 – 1987. Jika ditotal, KRL ini banyak sekali jumlahnya hingga 120 unit.

Pada tahun 1980-an sempat beberapa unit KRL Rhostatic berbody Stainless Steel dijadikan KRL Ekspres Kelas Eksekutif (KL1) berpendingin udara saat digunakan Presiden Soeharto untuk meresmikan penggunaan jalur layang lintas Manggarai – Jakarta Kota di Stasiun Gambir. Pasca peresmian, KRL tersebut sempat dijadikan perjalanan reguler sebagai KRL Ekspres di lintas Jakarta – Bogor pp.

Sempat pada tahun 2009, KRL Rheostatic mengalami perubahan (retrofit) mulai dari bentuk bagian muka hingga bagian samping body kereta. KRL Rheostatic dengan body Mild Steel ini di-retrofit sebanyak 6 unit dalam 1 rangkaian dengan nomor KL3 78114, KL3 78101, KL3 83107, KL3 78113, KL3 83115, dan KL3 83120. Warna cat eksterior tak lagi orange, tapi putih dengan garis merah serta mengubah bentuk muka menjadi aerodinamis. Perbaikan juga meliputi pintu otomatis keluar – masuk penumpang yang dikontrol dari kabin masinis.

Baca juga: KA Prameks (Prambanan Ekspres) Berhenti Operasi, Ini Dia Sejarahnya

Saat ini KRL Rheostatic yang dikenal sebagai kelas merakyat (ekonomi) ini sudah tak digunakan dan teronggok di tempat pembuangan bangkai kereta di Stasiun Purwakarta. KRL ini memang menjadi kenangan warga Jabodetabek yang menjadi pengguna setia saat beraktifitas. Walaupun KRL ini menjadi “korban” ketidaktertiban penumpang setiap harinya, namun KRL tersebut telah menjalankan tugasnya hingga 30 tahun lebih berada di rel Jabodetabek. Apakah kalian memiliki pengalaman menarik dengan KRL ini? (PRAS – Cinta Kereta Api)

Mengapa Penumpang (Pemotor) Terus Kenakan Helm di Ruang Terminal Pelabuhan? Ini Jawabannya

Penumpang dengan kendaraan roda dua (sepeda motor) sudah jamak menggunakan jasa pelayaran, baik itu dengan kapal ferry maupun kapal pelayaran nusantara. Namun, ada yang unik terlihat di Terminal Pura Nusantara Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di terminal penumpang yang dilola PT Pelindo Regional 2 Tanjung Priok tersebut, kebanyakan penumpang (pemotor) yang akan naik ke kapal, rata-rata terus mengenakan helm, meski pemotor sudah berpisah dari tunggangannya.

Baca juga: Tak Lagi Repot, Pesan Tiket Pelni Bisa Online dan Cetak Tiket Sebelum Keberangkatan di Pelabuhan

Dari pantauan KabarPenumpang.com saat musim mudik Lebaran lalu, kebanyakan penumpang (pemotor) terus mengenakan helm, mulai dari gerbang pemeriksaan keamanan, sampai konter check in tiket, umumnya penumpang tidak menenteng helm dalam genggaman tangan.

Menenteng dan membawa masuk helm ke dalam ruangan sudah sering kita lihat dalam keseharian, kebanyakan dilakukan karena tak mau kehilangan helm saat di parkiran. Tapi apa yang terjadi di Pelabuhan Pura Nusantara adalah hal yang berbeda.

Jenis helm yang dibawa/dikenakan para penumpang kapal Pelni, sebagian adalah helm standar, yang notabene sebenarnya si empunya helm tak perlu khawatir helm-nya hilang saat ditaruh di parkiran sekalipun. Lantas apa alasan penumpang (pemotor) mengenakan helm sedari di ruang terminal, apakah mereka takut kehilangan helm?

Dari penelurusan kami, diketahui ternyata alasan mereka terus mengenakan helm, yaitu karena keterbatasan kapasiatas bawaan pada tangan. Seperti diketahui, para penumpang (pemotor) masuk ke ruang terminal dengan tangan kanan dan kiri sudah penuh dengan barang bawaan (oleh-oleh), tak lupa mereka juga kebanyakan menggendong ransel. Karena tidak bisa membawa helm di tangan, maka mau tak mau, mereka terpaksa mengenakan helm saat wara-wiri di ruang terminal, meski tentu itu tidak nyaman.

Baca juga: ASDP – Sepeda Motor dan Mobil Pribadi Dominasi Puncak Arus Mudik dari Bali ke Jawa

Karena keterbatasan ruang di dalam kapal, saat memarkir motor, helm tidak bisa dicantolkan di motor. Alhasil helm harus mereka bawa naik kapal dengan cara dikenakan langsung. Helm tentu tak bisa ditinggalkan, mengingat sampai pelahuhan tujuan, mereka harus mengenakan helm sampai tiba di kampung halaman. Bila nekad tanpa helm, maka sanksi tilang di kota tujuan siap menghadang.

Inggris Uji Coba Bus Komersial Tanpa Pengemudi, Tempuh Rute 22,5 Km

Fusion Processing, tanggal 25 April lalu mengumumkan pengujian transportasi umum otonom di jalan akan dimulai minggu ini. Layanan percontohan ini baru dan memiliki rute sepanjang 22,5 km yang akan mengangkut penumpang dengan melintasi jembatan gantung yang membentang panjang di Skotlandia.

Baca juga: Kolaborasi Volvo dan NTU, Singapura Sukses Uji Coba Bus ‘Besar’ Otonom Pertama di Dunia

Dalam proyek percontohan tersebut, akan ada lima bus Dennis Enviro200 dek tunggal (Level 4 otonom). Dilansir KabarPenumpang.com dari intelligentliving.co (4/5/2022), penumpang akan diangkut antara persimpangan kereta dan trem Edinburgh serta Ferrytool Park & ​​​​Ride in Fife sepanjang 2,5 km.

Dengan rute sepanjang 22,5 km, setiap bus dapat mengangkut 36 penumpang dengan kapasitas mingguan 10 ribu penumpang yang terdiri dari pelancong, pelajar atau warga masyarakat lainnya. Bus ini dilengkapi dengan sistem penggerak otomatis CAVstar Fushiong Processing yang menghubungkan LiDAR, radar dan kamera optik dengan teknologi AI untuk otonomi level 4 dalam skenario lalu lintas yang kompleks seperti jalan raya, persimpanganm jalan besar dan kecil, bundaran, jalur bus serta lampu lalu lintas.

Operator bus Stagecoach akan mempekerjakan sekelompok pengemudi bus berpengalaman untuk memantau sistem di dalam bus. Selain itu, setiap bus akan memiliki pengemudi keselamatan untuk mengambil alih melalui set kedua sistem kemudi dan pengereman jika kesulitan muncul dan untuk menjawab pertanyaan penumpang.

Selama fase pengujian dua minggu di jalanan, akan ada simulasi virtual dan pengujian lintasan dan pada fase itu tidak ada penumpang yang diizinkan untuk naik bus. Namun, mitra proyek mengharapkan uji coba layanan bus otonom baru untuk mulai membawa penumpang pada akhir musim panas.

“Kami senang bisa memimpin program kendaraan otonom paling kompleks dan ambisius di dunia. CAVForth akan memberikan layanan yang berguna bagi masyarakat lokal serta menjadi demonstrasi besar teknologi kendaraan otomatis Fusion. Bus dilengkapi dengan CAVstar, sistem mengemudi otomatis kami yang menggabungkan perangkat keras dan perangkat lunak kami sendiri untuk menciptakan bus ukuran penuh yang aman, beroperasi di SAE Level 4. Pengujian di jalan merupakan tonggak sejarah yang menarik dalam pengembangan kendaraan komersial otonom, dan kami berharap dapat menyambut penumpang di pesawat dalam waktu beberapa bulan,” jelas Jim Hutchinson, CEO di Fusion Processing.

Baca juga: Bus Listrik Dek Ganda Hadir di Hong Kong

Proyek CAVForth, yang memiliki anggaran sedikit di atas £6 juta (sekitar US$7,6 juta) dan merupakan bagian dari Dana Mobilitas Cerdas pemerintah Inggris senilai £100 juta, sebagian disponsori oleh Center for Connected & Autonomous Vehicles bersama dengan Innovate Inggris.

Avtur Mahal, Penerbangan Domestik Produsen Minyak Terbesar Afrika, Nigeria, Lumpuh Total

Semua penerbangan domestik Nigeria bakal ditangguhkan dalam waktu dekat tanpa batas waktu. Hal itu disebabkan karena mahalnya harga Avtur sehingga penerbangan domestik menjadi rugi besar dan sangat tidak menguntungkan. Ini menjadikan Nigeria sebagai negara pertama yang meng-grounded semua pesawat akibat harga bahan bakar pesawat mahal imbas perang Rusia-Ukraina.

Baca juga: Bagaimana Bisa Naiknya Harga Avtur Bakal Rugikan Maskapai dan Penumpang?

Sejak awal Maret lalu, tiket penerbangan di seluruh dunia diprediksi bakal naik dalam beberapa pekan mendatang. Penyebabnya, apalagi kalau bukan perang Rusia dan Ukraina yang mengerek harga minyak global naik, berujung naiknya harga Avtur.

Rusia diketahui memproduksi sekitar 10 persen dari pasokan minyak global, atau sekitar 11 juta barrel per hari. Dari jumlah tersebut, 7 juta barrel di antaraya rutin diekspor ke berbagai negara. Sanksi bertubi-tubi terhadap Rusia sudah pasti berdampak pada harga minyak dunia lantaran suplai terganggu.

Harga minyak mentah berjangka Brent per Jumat lalu untuk pengiriman bulan Juni 2022 berada di level US$112,11 per barrel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS ada di level US$109,36 per barrel. Ini sudah jauh dari harga normal dikisaran 70-80an dollar per barrel.

CEO Qantas, Alan Joyce, harga tiket pesawat juga akan ada kenaikan sebesar satu persen untuk setiap kenaikan minyak dunia sebesar US$4 per barrel.

Naiknya harga bahan bakar minyak sudah pasti membuat harga Avtur turut naik. Ini tentu akan membuat maskapai serba salah. Menaikkan harga tiket sudah pasti mempengaruhi pilihan penumpang. Tidak menaikkan harga tiket dipastikan rugi. Tetapi, bagaimana bisa kenaikan harga Avtur bakal merugikan maskapai dan penumpang?

Bahan bakar penerbangan atau Avtur adalah satu-satunya biaya operasional terbesar maskapai, antara 30-60 persen dari total pengeluaran rata-rata satu tahun. Hal ini membuat kenaikan harga Avtur signifikan bakal menggerus keuntungan maskapai di setiap flight, yang rata-rata 3-5 persen.

Biaya bahan bakar pesawat atau Avtur, setiap tahun naik 140 persen di Amerika Utara dan 126 persen di Eropa. Namun, saat ini, angka tersebut naik setiap bulan akibat dampak perang Rusia dan Ukraina.

Dilansir aviation24.be, Aliansi Operator Maskapai Penerbangan Nigeria (AON) mengklaim, harga Avtur saat ini naik empat kali lipat dari harga normal. Aliansi yang membawahi sekitar sembilan maskapai di Nigeria itu mengungkapkan, selama beberapa bulan sejak Rusia-Ukraina terlibat perang hingga membuat harga Avtur melonjak tajam, mereka sudah mencoba bertahan.

Baca juga: Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Tiket Pesawat 20 Persen dari TBA Gegara Avtur Naik

Akan tetapi, sebagaimana disebutkan sebelumnya, maskapai dihadapi dengan pilihan sulit. Menaikkan harga tiket pesawat membuat penumpang kabur, sedangkan mempertahankan harga tiket membuat kondisi keuangan sulit. Ini pada akhirnya membuat maskapai menyerah untuk sementara sampai jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.

Meskipun menjadi produsen minyak terbesar di Afrika, Nigeria diketahui mengimpor hampir semua bahan bakar pesawat atau Avtur.