Mendekati Jalur Kalisat – Panarukan Segara Diaktifkan, Nostalgia Masyarakat Kembali Dirasakan

Masyarakat disepanjang jalur Kalisat – Panarukan pastinya akan bernafas lebih lega tentang pengoperasian kembali jalur kereta api yang melewati wilayah tersebut. Pasalnya jalur ini merupakan wilayah yang mudah untuk direaktivasi saat dianalisa oleh PT KAI khususnya Daop 9 Jember.

Baca juga: Alastua, Bangunan Kecil dan Dijuluki “Stasiun Pulau”, Kenapa?

Dinyatakan layak beroperasi karena mendapat prosentase kelayakan tertinggi untuk di reaktivasi. Jalur antara Kalisat – Panarukan memang sudah wacana yang cukup lama, namun pada 14 Juli 2022 lalu pembahasan soal jalur tersebut kembali dilakukan. Karena rencana reaktivasi jalur ini sudah menjadi pembahasan yang diprioritaskan.

Jalur tersebut merupakan antarmoda yang terhubung ke Pelabuhan Panarukan. Tak hanya kereta penumpang, nantinya jalur ini akan sibuk melayani angkutan barang. Berbeda dengan dulu, kereta api yang melintas terpantau sangat sedikit. Penulusuran kabarpenumpang.com dikutip dari Jember Network, bahwa ada salah satu warga yang tinggal dekat dengan jalur kereta api di Bondowoso, Sulasmi mengatakan hanya ada 3 perjalanan kereta api yang lewat. Pada pukul 07.00, 12.00, dan 15.00. Namun, ia menyayangkan jalur ini sudah tidak diaktifkan kembali, karena dengan adanya kereta api yang beroperasi lebih terjangkau untuk ke berbagai tujuan, salah satunya ke Kota Jember.

Baca juga: Amankan Aset, PT KAI Daop 9 Jember Lakukan Perawatan Sinyal Tebeng Krian di Sepanjang Jalur Kalisat – Panarukan

Diketahui jalur antara Kalisat sampai dengan Bondowoso memiliki 16 stasiun atau halte pemberhentian dengan jarak kurang lebih 70 kilometer. Stasiun/halte yang dilewati mulai dari Kalisat, Ajung, Sukasari, Sukowono, Tamanan, Grujugan, Bondowoso, Tangsil, Bonosare, Tapen, Prajekan, Widuri, Kalibagor, Situbondo, Tribungan, dan Panarukan. Banyak respon positif dari masyarakat yang cenderung mendorong reaktivasi tersebut adalah untuk mengurangi beban jalan raya dan meningkatkan potensi angkutan penumpang maupun barang. Dikabarkan, rencana jalur Kalisat – Panarukan akan dilakukan dan dibangun pada 2024 mendatang. (PRAS – Cinta Kereta Api)























Ferruccio Lamborghini – Pebisnis Ulung yang Kadung Cinta Pada Dunia Mekanika

Siapa di antara Anda yang tidak ingin memiliki salah mobil sport yang kerap melintasi jalanan di Ibukota? Ya, selain bergengsi karena harganya yang selangit, mobil-mobil yang didominasi oleh jenis sedan ceper ini juga didaulat bisa ngebut hingga kecepatan yang sangat tinggi. Diantara semua produsen otomotif, tentu saja Anda pernah atau sering mendengar nama Lamborghini – salah satu produsen mobil sport asal Italia yang memiliki nama lengkap Automobili-Lamborghini S.p.A.

Baca Juga: Oleg Konstantinovich Antonov – Sosok Legendaris di Balik Nama Besar “The Mammoth” An-225

Automobili-Lamborghini S.p.A.sendiri didirikan oleh seorang industrialis asal Negeri Pizza, Ferruccio Lamborghini pada tahun 1963. Terlahir di keluarga petani anggur di wilayah Emilia-Romagna, Ferruccio Lamborghini lahir pada 28 April 1916 dan langsung dibaptis menjadi seorang penganut Roman Catholic empat hari pasca kelahirannya. Lamborghini muda lebih tertarik pada mesin pertanian ketimbang gaya hidup pertanian itu sendiri.

Karena ketertarikannya pada dunia mekanik, Lamborghini memutuskan untuk menimba ilmu di Fratelli Taddia Technical Institute. Karena memiliki bakat natural di bidang mekanik dan ditunjang oleh latar belakang pendidikannya, pada tahun 1940 Lamborghini direkrut oleh Italian Royal Air Force menjadi supervisor vehicle maintenance unit di salah satu garnisun di Rhodes. Diketahui, Lamborghini juga sempat menjadi tahanan militer Inggris selama satu tahun pada 1945.

Salah satu traktor produksi Lamborghini Trattori. Sumber: wikipedia

Selepas masa Perang Dunia II, Lamborghini terus mengasah kemampuannya dalam bidang mekanika. Berbekal keuletannya, sekira tahun 1948, Lamborghini berhasil mendirikan Lamborghini Trattori dan mulai memproduksi traktor – sama seperti apa yang ia cintai ketika masa kecilnya.

Singkat cerita, Lamborghini yang semakin mencintai dunia oprek-mengoprek mesin mulai merambah dunia mobil sport. Pada tahun 1958, Lamborghini membeli sebuah Ferrari 250GT di daerah Maranello. Ia menilai, Ferrari merupakan mobil yang sangat bagus, namun ‘si kuda jingkrak’ ini dinilai terlalu berisik untuk ngebut di jalanan.

Akhirnya Lamborghini terus mempelajari keseluruhan mesin dari Ferrari 250GT yang ia beli dan mulai tergugah untuk membangun sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur mobil sport. Dalam upayanya untuk menambah pundi-pundi uang, Lamborghini yang terkenal sebagai businessman cerdas ini melihat celah dimana ia bisa mendapatkan keuntungan tiga kali lipat jika komponen yang ia gunakan di usaha traktornya ini dipasang di mobil eksotis berperforma tinggi yang tengah ia kembangkan.

Baca Juga: Kawasaki Shōzō – Sang Pendiri Kawasaki Ltd Yang Wafat di Hari Ulang Tahunnya

Sempat mengalami pasang surut di dalam bisnisnya, Lamborghini sempat mengalami depresi karena perusahaan traktor dan mobil sport yang ia kembangkan mengalami penurunan dari segi pendapatan – bahkan bisa dibilang hampir bangkrut. Namun ia tidak patah semangat dan terus memutar otak untuk bisa tetap bertahan di jalur persaingan. Pada tahun 1969, Lamborghini mendirikan Lamborghini Oleodinamica S.p.A., yang memproduksi katup dan peralatan hidrolik.

Makam Ferruccio Lamborghini. Sumber: istimewa

Seiring bertambahnya usia, Lamborghini yang sudah tidak lagi muda harus menyerah pada takdir. Ia meninggal pada 20 Februari 1993 akibat serangan jantung 15 hari sebelumnya. Lamborghini lalu dimakamkan di pemakaman Renazzo beberapa hari pasca kematiannya.

 

Sepeda dengan Layar Lipat, Solusi Transportasi di Pedesaan

Menikmati pemandangan dengan mengayuh sepeda di jalanan kota besar, kerap kali dilakukan pecinta sepeda. Namun begitu karena padatnya kendaraan lain seperti mobil pribadi, motor, bus dan angkutan umum lainnya, para pengguna sepeda seperti terasingkan. Seperti di Indonesia yang sudah memiliki jalur pesepeda, tetapi faktanya yang menggunakan jalur tersebut adalah sepeda motor.

Baca juga: Kurangi Risiko Cedera Saat Terjatuh, Pengguna Sepeda Bisa Gunakan Rompi Airbag

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (2/2/2019), pecinta sepeda saat mengayuh akan merasakan angin dan sepeda serta tubuh manusia bisa menangkap angin dalam jumlah terbatas. Sehingga salah satu prototipe sepeda dirancang untuk membantu pengguna lebih mudah saat mengayuh untuk tiba di tempat yang cukup jauh dengan bantuan angin.

Ya, prototipe tersebut dikenal dengan CycleWing yang dikembangkan oleh insinyur perangkat lunak Jorge Pando dan insinyur mekanik Nathan Rose. Sepeda dengan tambahan sebuah layar di bagian belakangnya tersebut didesain bukan digunakan di kota besar melainkan untu pengguna jalan sepei seperti di pedesaan.

Mungkin penambahan layar tersebut akan terlihat konyol. Tetapi ide dengan layar tersebut agar pengendara sepeda bisa berkeliling menggunakannya di sepanjang jalan dan berpotensi menghemat tenaga untuk mengayuhnya.

Layar pada CycleWing berada di bagian belakang sepeda yang dilengkapi dengan sebuah tiang dalam posisi terlipat dan tertutup saat tidak digunakan. Kemudian saat pengendara mengayuh sepedanya dan angin datang dari satu tempat, maka pengguna sepeda bisa mengatur CycleWing dalam waktu beberapa menit.

Caranya adalah di bagian stang sepeda ada sebuah alat yang memiliki dua tombol untuk memudahkan layar yang ada bagian belakang berputar baik itu ker kiri atau ke kanan. Layar kertas yang dipasang tersebut bisa diatur sesuai sudut yang diinginkan melalui tombol yang ada di stang dengan indikator sisa usia baterai motor yang menutarnya.

Meskipun masih dalam bentuk prototipe kasar, rencana panggilan untuk produk jadi dibuat dari bahan ringan seperti serat karbon, tip timbangan kurang dari 15 lb (6,8 kg).Jika Anda tertarik, CycleWing saat ini merupakan subjek dari kampanye Kickstarter.

Baca juga: Di Penerbangan Jarak Jauh, Qantas Canangkan Sensasi Bersepeda dan Relaksasi Lewat Virtual Reality

Sepeda ini akan dihargai dengan nilai US$500 atau sekitar Rp7 juta dengan diskon 30 hingga 40 persn dari perkiraan harga per paket eceran. Untuk jelasnya pecinta sepeda akan tahu kapan dan jika sudah diproduksi massal, mereka bisa memiliki armada kayuh tersebut.

Inilah Penampakan Gate di Stasiun BNI City Sudirman Diduga untuk Commuter Line. Nasib Stasiun Sudirman dan Karet, Gimana?

Berbagai info terkuak mengenai Stasiun BNI City Sudirman yang akan dijadikan untuk nakk dan turun penumpang Commuter Line hampir terlihat titik terang. Penulusuran kabarpenumpang.com di media sosial terlihat bahwaterdapat pintu/gate yang mirip dengan pintu keluar masuk di stasiun untuk commuter line. Alat gate tersebut terpasang dan siap untuk digunakan bagi penumpang yang menggunakan Kereta Bandara Soekarno Hatta ataupun dari luar stasiun.

Baca juga: [Video] Mengenal Lebih Dekat Stasiun Sudirman Baru (BNI City)

Pemasangan gate untuk KRL Commuter Line berguna bagi penumpang yang ingin naik KRL tanpa bersusah payah harus naik dari Stasiun Sudirman, meskipun terdapat akses jalan khusus penumpang dari BNI City ke Sudirman.

Meski belum adanya tanggapan dari pihak KAI maupun KCI mengenai hal tersebut, namun menurut pengamat yang dihubungi dari tim kabarpenumpang.com mengatakan bahwa penumpang yang biasa naik dan turun di Stasiun Karet juga dapat diberikan akses dari dan ke Stasiun BNI City. Memang terlihat sangat dekat untuk stasiun BNI City antara Stasiun Sudirman dengan Stasiun Karet. KRL Commuter Line juga sempat dilakukan uji coba berhenyi sebentar tanpa naik dan turun penumpang. Realisasi tersebut ternyata memang untuk dijadikan rangkaian KRL berhenti di stasiun BNI City untuk naik turun penumpang.

Baca juga: Sah! Stasiun Sudirman Baru Ganti Nama Jadi Stasiun BNI City

Nasib Stasiun Sudirman dan Karet bagaimana, ya? Ternyata setelah di telusuri, ada salah stasiun yang akan ditutup. Rencana nantinya Stasiun Karet akan di nonaktifkan dan penumpang akan dipindahkan ke Stasiun BNI City.

Menurut pengamat yang bekerjasama dengan BUMN nantinya Stasiun Karet hanya akan dijadikan akses dari dan ke Stasiun BNI City. Namun untuk Stasiun Sudirman tetap dioperasikan untuk naik dan turun penumpang. Penyesuaian jadwal akan dilakukan saat dioperasikannya Stasiun BNI City sebagai stasiun pemberhentian KRL Commuter Line juga Kereta Bandara. Kapan pengoperasiannya, ditunggu saja. (PRAS – Cinta Kereta Api)























Sergey Vladimirovich Ilyushin – Dari Keluarga Petani Sukses Sebagai Founder Pabrikan Pesawat Rusia

Mungkin namanya masih kalah tenar dibanding Antonov, tapi Ilyuhsin tidaklah bisa dipandang sebelah mata di sektor kedirgantaraan internasional. Bagi yang belum tahu, Ilyuhsin merupakan manufaktur pesawat dan biro desain asal Rusia yang didirikan oleh Sergey Vladimirovich Ilyushin pada 13 Januari 1933. Nah, kali ini KabarPenumpang.com akan membahas tentang founder dari manufaktur pesawat yang berbasis di Moskow ini, Sergey Ilyushin.

Baca Juga: Sarah van Deman, Penumpang Wanita Pertama dalam Sejarah Kedirgantaraan

Sergey Ilyushin sendiri merupakan anak bungsu dari 11 bersaudara yang lahir pada 30 Maret 1894 di Desa Dilyalevo, Vologda Governorate, Rusia. Ilyushin terlahir dari keluarga petani dan sadar bahwa dirinya harus bisa berkembang. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan belajar semuanya secara otodidak di luar sana.

Hidup Ilyushin di luar sana tidaklah mudah, ia harus menyambung hidup dengan kerja yang berpindah-pindah. Tercatat, Ilyushin pernah bekerja sebagai buruh pabrik, penggali parit di lokasi konstruksi, hingga membersihkan selokan di pabrik pewarna di Petrograd. Ketika bekerja sebagai pegawai lepas, ia bertemu dengan banyak penerbang perintis Rusia, sebuah peristiwa yang akhirnya membangkitkan minatnya di sektor kedirgantaraan.

Dengan pecahnya Perang Dunia I, Ilyushin terpaksa masuk ke dalam wajib militer Angkatan Darat Kekaisaran Rusia dengan melayani infanteri dan beberapa waktu berselang, ia diangkat menjadi juru tulis di administrasi militer Vologda, karena ia merupakan salah satu orang yang kala itu melek huruf.

Kecintaan Ilyushin terhadap sektor aviasi seolah disambut oleh terpilihnya ia menjadi salah satu sukarelawan untuk melayani Bagian Penerbangan. Awalnya Ilyushin bekerja sebagai mekanik dan anggota kru darat. Lalu pada musim panas 1917, ia memenuhi syarat sebagai pilot. Sekira empat tahun lamanya sejak terpilih sebagai pilot, Ilyushin menghabiskan waktunya di dunia militer.

Pada musim gugur 1921, ia meninggalkan dinas militer dan menuntut ilmu di Institute of Engineers of the Red Air Fleet (Zhukovsky Air Force Engineering Academy). Kala itu, Ilyushin berkonsentrasi pada desain glider dan ikut serta dalam berbagai kompetisi. Pada tahun 1925, salah satu desainnya dikirim ke sebuah kompetisi di Jerman, dan kreasinya berhasil menyabet peringkat pertama dalam urusan waktu penerbangan.

Setelah memperoleh gelar dalam bidang teknik pada tahun 1926, Ilyushin hingga November 1931 menjabat sebagai manajer bagian pesawat terbang di dalam Soviet Air Force Scientific-Technical Committee dan terlibat dalam pengembangan desain untuk pesawat baru dari Nikolai Nikolaevich Polikarpov dan Andrei Tupolev.

Baca Juga: Allan Lockheed, Founder Lockheed Corporation yang Pernah Jadi Salesman Real Estate

Lama kelamaan, berbekal ilmu di sektor aviasi yang selama ini sudah Ilyushin serap, ia mulai mempraktekkan merakit pesawatnya sendiri. Salah satu yang paling terkenal adalah ground-attack aircraft Ilyushin Il-2 single-engine sebuah desain pesawat tempur yang paling banyak diproduksi sepanjang sejarah – 36.183 eksemplar.

Singkat cerita, Ilyushin menemui ajalnya pada tahun 1977 di Moskow dan dimakamkan di Novodevichy Cemetery.

Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya

Di luar sana, ada banyak sekali varian dari pesawat jet komersial yang dirilis oleh raksasa aviasi global, Boeing. Mulai dari Boeing 707, Boeing 727, Boeing 737, Boeing 747, Boeing 777, hingga Boeing 787 Dreamliner – masing-masing dari varian tersebut memiliki ‘turunannya’ sendiri. Nah, jika diperhatikan, kebanyakan varian dari armada Boeing tersebut diawali dan diakhiri oleh angka 7, bukan? Adakah filosofi di balik itu semua? Atau itu hanya merupakan upaya dari Boeing untuk memudahkan setiap orang untuk mengingat varian pesawatnya?

Baca Juga: Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara

Ternyata sudah banyak spekulasi yang berkembang mengenai penggunaan angka 7 pada varian armada Boeing – kendati tidak semuanya diawali dan diakhiri dengan angka 7, seperti Boeing Model 40, Boeing Model 80, dan Boeing Model 247. Selama ini banyak yang menduga bahwa Boeing selalu membubuhkan angka 7 karena angka tersebut dimaknai sebagai angka keberuntungan oleh sebagaian kalangan.

Ada lagi spekulasi yang menyebutkan bahwa penggunaan angka 7 tersebut diambil dari sudut sayap yang diproduksinya.

Namun ternyata spekulasi tersebut terbantahkan dan bisa dikatakan bahwa penggunaan angka 7 ini merupakan salah satu strategi marketing terbesar sepanjang sejarah aviasi global.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman news.com.au, pasca Perang Dunia II, Boeing melakukan restrukturisasi dan setiap departemen diberi angka tiga digit. Saat itulah hal menarik tentang pemberian angka 7 dimulai.

“Untuk mendukung strategi diversifikasi ini, departemen teknik membagi nomor model pesawat ke dalam 100 blok untuk masing-masing produk baru: angka 300 dan 400 mewakili pesawat seperti yang sudah diproduksi sebelumnya, angka 500 digunakan pada mesin turbin, angka 600 digunakan untuk roket dan rudal, dan angka 700 disisihkan untuk penamaan dari pesawat komersial bermesin jet,” tutur sejarawan Boeing, Michael Lombard.

Baca Juga: Gunakan Boeing 747-400, Virgin Group Siap Luncurkan Satelit Menuju Orbit

Menyadari penggunaan nama Model 700 kurang catchy untuk digunakan, maka departemen pemasaran Boeing mengusulkan nama 707 sebagai gantinya. Jadi, penggunaan kata ‘Model’ dihilangkan dan pola 7-7 pun dimulai. Pola itu berlanjut hingga hari ini, dengan varian yang paling baru adalah Boeing 787 Dreamliner.

Jadi, sudah tahu ya mengapa Boeing menggunakan pola 7-7 untuk setiap pesawat jet komersialnya!

Nyaris Berusia 40 Tahun, Boeing 767 Tertua di Dunia Masih Gagah Beroperasi

Boeing 767 resmi terbang perdana pada September 1981. Setahun berikutnya, pesawat mulai memasuki tahun layanan atau beroperasi secara komersial bersama maskapai. Menariknya, setelah hampir 40 tahun mengudara, pesawat tersebut diketahui masih aktif dioperasikan maskapai. Amankah?Baca juga: Miris, Ternyata Kehadiran 777 dan 787 Jadi Biang Kerok Boeing 767 Tak Laku Dipasaran

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman, dalam sebuah wawancara di program berita CNN Indonesia, pernah menyebut bahwa pesawat sejatinya adalah benda mati.

Begitu komponen yang ada sudah tak lagi berfungsi secara optimal, ia tinggal diganti saja dengan yang baru dan pesawat pun sehat kembali. Beda dengan manusia sebagai benda hidup yang meski digonta-ganti komponen atau organ tubuhnya, tetap saja, akan ada masalah. Sebab, faktor usia amat menentukan.

Dengan kata lain, setua apapun pesawatnya, selama komponen yang melekat di pesawat selalu diperbarui dan mendapat pengawasan ketat secara rutin, itu tetap aman digunakan; termasuk Boeing 767 yang sudah senja memasuki usia nyaris 40 tahun, itu tetap aman digunakan.

Kendati demikian, masing-masing negara punya batasan usia maksimum pesawat yang boleh beroperasi. Di Indonesia, misalnya, melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 7 Tahun 2016, operasional pesawat penumpang maksimum mencapai 30 tahun. Sedangkan untuk pesawat kargo, operasional pesawat maksimum mencapai 40 tahun.

Catatan ch-aviation.com yang dikutip Simple Flying, saat ini Boeing 767 tertua di dunia berusia 39,44 tahun dan diregistrasi sebagai N740AX. Satu dari 1.200 unit lebih Boeing 767 yang diproduksi tersebut diketahui mulai beroperasi pada Februari 1982.

Menurut Planespotters.net, Delta Airlines menjadi pemilik pertama pesawat widebody terkecil di dunia tersebut. Selama 23 tahun, pesawat yang terdaftar sebagai N101DA itu terus beroperasi bersama maskapai tanpa sekalipun mengalami insiden serius. Setelahnya, pesawat pindah kepemilikan ke tangan ABX Air pada Januari 2006 dan diregistrasi ulang sebagai N740AX.

Lima bulan berselang, pesawat dikonversi menjadi varian freighter atau kargo. Sejak saat itu, pesawat dengan kapasitas 200an penumpang tersebut menjalani kehidupan baru sebagai pesawat angkut. Pesawat terus beroperasi secara rutin sampai saat ini.

Dari data RadarBox.com, pesawat yang diketahui telah menyelesaikan 91.286 jam terbang di 43.388 siklus tersebut terakhir terbang pada 19 Juli 2021.

Saat ini, ada setidaknya 15 pesawat tua Boeing 767 -dengan rata-rata usia 38 tahun- yang masih aktif beroperasi bersama maskapai. ABX Air mengoperasikan total empat pesawat. Begitupun juga dengan Denmark Star Air.

Adapun sisanya dioperasikan oleh 21 Air (USA), Amerijet International (USA), Astral Aviation (Kenya), ATI/Air Transport International (USA), DHL International Aviation Middle East (Bahrain), Mas Air (USA), dan Raya Airways (Malaysia).

Baca juga: McDonnell Douglas Dakota DC-3 – Si Tua-Tua Keladi Setelah 81 Mengudara

Berbicara tua, sebetulnya ada yang jauh lebih tua dari sekedar Boeing 767 yang berusia nyaris genap 40 tahun. Januari lalu, Hawker Siddeley HS 748 C-FCSE andalan maskapai regional Kanada, Air North, resmi pensiun setelah 51 tahun beroperasi.

Bahkan, sekitar 2.000 unit pesawat Douglas DC-3 Dakota, yang produksinya sudah dihentikan sejak tahun 1950an lalu, pada 2017 lalu, masih aktif digunakan untuk kebutuhan komersial di seluruh dunia. Itu artinya, usia pesawat sudah sangat senja mencapai 70 tahunan dan masih aktif beroperasi. Luar biasa, bukan?

KC-46A Pegasus – Pesawat Tanker Modern dari Platform Desain Boeing 767

Selain pesawat tanker KC-10 Extender yang berasal dari platform pesawat angkut komersial Douglas DC-10, maka ada KC-46A Pegasus, yakni pesawat tanker militer yang berasal dari platform pesawat sipil Boeing 767. Berbeda dengan KC-10 yang triple engine, maka KC-46 mengusung twin engine. Sebagai generasi pesawat tanker terbaru untuk Angkatan Udara AS (USAF), KC-46 dipersiapkan sebagai pengganti KC-10.

Baca juga: McDonnell Douglas KC-10 Extender, Pesawat Pengisi Bahan Bakar yang Disulap dari DC-10

KC-46A Pegasus memang sebangun dengan Boeing 767, namun jangan salah kira, pesawat ini sudah mendapat uprade sistem terbaru, diantaranya kokpitnya mengacu pada standar yang digunakan pada Boeing 787 Dreamliner, pun mesinnya menggunakan standar yang dipakai Boeing 777, yaitu Pratt & Whitney PW4062 turbofan yang menghasilkan 62.000 thrust per mesin.

Meski terbilang pesawat tanker baru, lantaran baru terbang perdana pada 25 September 2015, kapasitas bahan bakar yang dapat dibawa Pegasus masih jauh di bawah Extender yang berasal dari platform pesawar trijet Douglas DC-10 30.

Boeing 767 tertua di dunia, berusia nyaris 40 tahun, masih aktif beroperasi bersama ABX Air, maskapai kargo asal AS. Foto: Venkat Mangudi via Wikimedia Commons

Sebagai pesawat tanker andalan AS, Pegasus mendapat penguatan airframe dibanding Boeing 767 standar. Menjawab tuntutan untuk ‘menyusui’ pesawat di udara, ada empat eksternal fuel tanks yang disiapkan dengan jumlah bahan bakar yang bisa disalurkan hingga 96.297 kg. Namun total bahan bakar yang dibawa, termasuk untuk kebutuhan internal menjadi 111 ton.

Seperti lazimnya pesawat tanker modern, Pegasus bisa melayani metode hose dan boom. Untuk metode hose wujudnya berupa wing air refueling pods dan drogue pada masing-masing sayap, plus satu drogue pada centerline. Ini artinya dengan metode hose pesawat dapat menyusu tiga pesawat sekaligus. Sementara metode boom mengacu pada advanced fly by wire refueling boom.

Seri 767 dihadirkan Boeing sebagai jawaban untuk mengembangkan pesawat widebody twinjet yang lebih kecil dari Queen of the Skies. Awalnya, kehadiran pesawat widebody dengan lebar pesawat terkecil itu cukup mentereng. Prediksi Boeing bahwa maskapai membutuhkan widebody yang lebih kecil benar adanya. Kiprah Boeing 767 terus mentereng sampai 1994 atau 13 tahun setelah terbang perdana.

Baca juga: Miris, Ternyata Kehadiran 777 dan 787 Jadi Biang Kerok Boeing 767 Tak Laku Dipasaran

Namun lewat dari tahun 1995, debut Boeing 767 mulai redup. Usut punya usut ternyata, penyebab senjakala Boeing 767 akibat dari strategi Boeing itu sendiri, yaitu dengan meluncurkan Boeing 777. Hal itu kemudian diperparah dengan hadirnya Boeing 787 Dreamliner pada 2011

Kereta Djoko Kendil “Tamu Spesial” yang Dinanti, Akhirnya Tiba di Jabodetabek

Momen yang dinanti memang sangat ditunggu – tunggu kehadiran rangkaian KA spesial yang akan berkunjung ke wilayah Jabodetabek. Bahkan ada yang pertama kali datang setelah melakukan uji coba di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Inilah rangkaian KA spesial dengan nama Djoko Kendil dan Kereta Ukur Jalan Rel. Kedua kereta ini memang sangat dinantikan bagi penikmat fotografi di wilayah Jabodetabek. Banyak informasi kerap kali hadir di jagad media sosial tentang kehadiran rangkaian kereta tersebut. Alhasil pada Juli 2022 ini akhirnya rangkaian tersebut datang ke Ibukota Jakarta.

Baca juga: KA Djoko Kendil, Antara Tempo Doeloe dan Saat Ini

Perjalanan rangkaian KA Djoko Kendil ternyata dikirimkan kembali yang semula dari Kota Solo menuju DKI Jakarta. Perjalanan KA tersebut selama seharian penuh pada Kamis, 14 Juli 2022. Keberangkatan dari Stasiun Solo Balapan pada pukul 04.00 dan tiba di Stasiun Manggarai pukul 00.15 dini hari. Pengiriman rangkaian KA Djoko Kendil berlangsung alot dan lambat. Kecepatan yang di tempuh selama perjalanan tidak lebih dari 45 km/jam.

Selain rangkaiannya yang sudah tua karena dioperasikan sejak tahun 1932, rangkaian ini merupakan aset paling penting di perekeretaapian Indonesia karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Saat ini rangkaian yang terdiri dari 2 unit kereta bernomor IW 38221 dan IW 38212 ini tersimpan di Balai Yasa Manggarai, Jakarta Selatan untuk dilakukan perawatan. Karena beberapa bocoran informasi yang diperoleh, rangkaian KA Djoko Kendil akan digunakan untuk kegiatan negara termasuk merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Lain halnya pengiriman KA Djoko Kendil dari Solo ke Jakarta, pengiriman kereta berikutnya adalah Kereta Ukur Jalan Rel dan LAA. Seperti yang diberitakan kabarpenumpang.com kereta ukur yang didatangkan langsung dari Plasser & Therurer Austria ini sempat dilakukan uji coba dan pengecekan di Balai Yasa Mekanik, Cirebon. Kemudian diuji cobakan untuk lintas menengah, yaitu Cirebon – Brebes pp. dan Cirebon – Prupuk pp. Dan hari ini kereta ukur tersebut berada di wilayah Daop 1 Jakarta untuk melakukan uji coba lintas dan sekaligus uji coba pengecekan LAA (Listrik Aliran Atas).

Baca juga: Desas – desus Akan Dikembalikan, Djoko Kendil Lakukan Uji Coba Lintas di Kota Solo Sebelum Pengiriman

Perjalanan pengiriman kereta ukur tersebut memang dilakukan hari ini (15/7) dan langsung menuju ke Depo KRL Depok untuk dilakukan pengecekan. Belum diketahui akan dilakukan pengecekan di lintas mana lagi untuk wilayah Daop 1 Jakarta ini, yang pasti keberadaan keret ukur tersebut kurang lebih 5 hari berada di Jabodetabek. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Boeing 767, Pesawat Widebody dengan Lebar ‘Terkecil’ di Dunia

Setelah sebelumnya mengupas tuntas pesawat jet komersial terpendek di dunia, kali ini, redaksi akan membahas seputar pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia. Adakah di antara pembaca sekalian yang bisa menebak, sebaik Anda menebak pesawat komersial terbesar serta pesawat komersial terpanjang di dunia?

Baca juga: Pesawat Jet Komersial Terpendek di Dunia Rupanya Warisan Jerman Barat

Sebelum membahas lebih lanjut terkait hal itu, mungkin ada baiknya mengupas tuntas terlebih dahulu definisi pesawat widebody itu sendiri.

Dilansir alternativeairlines.com, widebody atau pesawat berbadan lebar adalah pesawat yang mampu mengangkut penumpang dalam jumlah besar. Umumnya, pesawat berbadan lebar digunakan untuk rute-rute jarak jauh ataupun menengah, baik penumpang maupun kargo, sekalipun ada juga maskapai yang menggunakan widebody untuk jarak pendek, salah satunya Emirates yang mengoperasikan rute terpendek A380 di dunia.

Dari segi jumlah penumpang, umumnya widebody mengangkut antara 200-850 penumpang dengan konfigurasi tiga kelas ataupun full ekonomi. Untuk konfigurasi full ekonomi, formasinya berbeda-beda, bergantung pada kebijakan masing-masing, entah 2-3 -2, 3-3-3, atau 3-4-3.

Pesawat widebody juga diartikan sebagai pesawat dengan dua lorong, sekalipun hanya memiliki dua mesin, yang mematahkan pendapat dimana widebody diartikan sebagai pesawat dengan empat mesin. Sedangkan dua ataupun satu tingkat, hal itu tidak menjadi acuan sebuah pesawat disebut widebody. Lagi pula, pesawat widebody dua tingkat jumlahnya tak banyak.

Selain Airbus dan Boeing, di dunia, ada begitu banyak pabrikan yang memproduksi pesawat widebody, mulai dari Lockheed, Ilyushin, McDonnell Douglas, dan CRAIC, perusahaan patungan antara COMAC Cina dan Rusia United Aircraft Corporation.

Rata-rata dari pabrikan di atas, widebody yang diproduksi memiliki lebar pesawat sekitar 5 m, seperti Boeing 777X seluas 5.94 m, Airbus A350 5.61 m, Lockheed L-1011 5,77 meter, Ilyushin IL-96 5,70 meter, McDonnell Douglas DC-10 5.69 meter, dan CRAIC CR929 -yang diperkirakan bakal terbang pada 2023- seluas 5,61 meter.

Baca juga: Stratolaunch, Pesawat dengan Sayap Terlebar di Dunia Sukses Terbang Perdana

Di luar itu, Airbus dan Boeing punya pesawat jumbo dengan lebar lebih dari enam meter. Pesawat komersial terbesar di dunia buatan Airbus, A380 sejauh ini menjadi pesawat widebody dengan lebar terbesar mencapai 6,54 meter. Adapun Queen of the Skies Boeing 747 tak terpaut jauh, dengan luas mencapai 6,10 meter.

Kebalikan dari A380 dan Boeing 747, pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia rupanya datang dari sebuah pesawat buatan tahun 1981, Boeing 767. Pesawat yang di antaranya pernah dioperasikan oleh All Nippon Airways (ANA), Japan Airlines, Delta Air Lines, dan United Airlines ini hanya memilliki lebar 4,72 meter. Pesawat ini bahkan masih terlampau cukup jauh dari pesawat widebody dengan lebar terkecil kedua, Airbus A330 dan A300, dengan lebar 5,28 meter.