Mirip Tragedi 9/11, Hari ini 70 Tahun Lalu Empire State Building New York Ditabrak Pembom B-25

Siapa sangka, 70 tahun lalu yang bertepatan dengan 28 Juli 1945, telah tejadi tragedi yang mirip dengan  peristiwa 9/11 yang menimpa menara kembar WTC di New York pada tahun 2001, Amerika Serikat. Bedanya, bila pada 9/11 adalah buah dari aksi terorisme, maka tragedi yang terjadi di Empire State Building pada 28 Juli adalah murni karena kecelakaan.

Baca juga: Mengenang Peristiwa 9/11, Empat Pesawat Dibajak Teroris Al Qaeda dan Ditabrakkan ke-3 Target

Dilansir dari smithsonianmag.com, pada pagi hari 28 Juli 1945, pembom B-25 Mitchell AU AS yang dipiloti Letnan Kolonel William Smith berusaha mencapai Bandara Newark. Smith ditugaskan dari pangkalan militer di Bedford, Massachusetts, untuk menjemput komandannya di Newark. Pagi itu kabut tebal menyelimuti kota New York. Awak darat sebelumnya telahg menasihati Smith bahwa dengan jarak pandang nol, mencoba mendarat adalah ide yang buruk.

Dalam kabut, ia menemukan dirinya keluar jalur dan terbang di atas New York. Smith berhasil berbelok di sekitar Gedung Chrysler, Rockefeller Center, dan apa yang sekarang dikenal sebagai Gedung Helmsley. Pada 09:40, pembom legendaris itu menabrak lantai 78, 79 dan 80 di Empire State Building.

Saat itu hari Sabtu, jadi kebanyakan orang tidak masuk kerja. Namun, 14 orang, termasuk tiga awak pesawat dan delapan karyawan Catholic War Relief Office, tewas dalam dampak insiden itu. Kecelakaan itu juga menyebabkan kebakaran dan merobek lubang 18 kali 20 kaki di dinding utara gedung. Satu mesin bahkan menabrak gedung dan menabrak penthouse di sisi lain. Dalam peristiewa itu, operator lift gedung, Betty Lou Oliver, secara ajaib selamat dari jatuhnya lift setinggi 24 meter (di mana dia memegang Rekor Dunia Guinness).

Baca juga: Fakta di Balik Tragedi 9/11, Orang ‘Indonesia’ Turut Jadi Korban

Empire State Building dengan tinggi 380 meter, pada tahun 1931 menjadi gedung tertinggi di dunia, dan pada tahun 2017, menjadi gedung ke-31 tertinggi di dunia, dimana posisi nomer satu ditempati oleh Burj Khalifa di Dubai yang punya ketinggian 830 meter.

Startup Asal Amerika Serikat Tampilkan Desain Kereta Penyedot Emisi Karbon Diosida

Guna menciptakan lingkungan yang bersih dari emisi, serangkaian uji coba terus dikembangkan dalam dunia kereta api. Selain pemanfaatan energi terbarukan untuk tenaga sang kuda besi, belum lama ini mencuat konsep yang mengedepankan fungsi kereta api untuk membersihkan emisi karbon dioksida. Lantas, bagaimana caranya?

Baca juga: Komitmen Nol Emisi di 2030, India Kaji Infrastruktur Pengisian Kendaraan Listrik di Stasiun Kereta Api

Dikutip dari inverse.com, CO2Rail, sebuah perusahaan rintisan yang berbasis di Amerika Serikat, merilis konsep terbaru yang mengunah kereta api menjadi vakum yang menyedot karnon dioksida dari udara. Dalam konsep tersebut, tim insinyur menyusun rencana untuk gerbong kereta yang dapat menyaring hampir 25 pon karbon dioksida dari udara untuk setiap mil yang mereka tempuh.

Konsep ini bertumpu pada metode pengereman yang umum ditemukan di mobil listrik seperti Tesla yang disebut pengereman regeneratif dan teknologi penangkapan karbon yang kontroversial. Konsep ini akan menggunakan infrastruktur rel yang ada, seperti kereta penumpang dan kereta barang. Penggunaan infrastruktur rel yang ada, serta energi pengereman regeneratif, adalah ide inovatif untuk menangkap karbon udara secara langsung.

“[Energi ini] sudah diproduksi dan jangan disia-siakan. Mengapa tidak menangkap dan menggunakannya saja?” tanya Eric Bachman, salah satu pendiri CO2Rail. Jika energi digunakan untuk menggerakkan kereta, itu akan membantu mencegah emisi CO2 dari kereta itu sendiri. Tetapi para penulis menemukan jumlah energi yang sama juga dapat digunakan untuk menyaring hingga lima kali lebih banyak CO2 dari udara daripada yang dapat dihemat jika menyalakan sistem penangkap karbon onboard. Selain itu, memasang panel surya ke kereta juga akan membantu memastikan mereka selalu dapat menyala, menurut penelitian tersebut.

Pendapat berbeda dikemukakan Matthew Realff dan Ryan Lively, peneliti dari Institut Teknologi Georgia yang mempelajari penangkapan karbon, “Energi ini lebih baik digunakan untuk menangkap CO2 menggunakan [penangkapan udara langsung] daripada menggunakannya untuk menghemat bahan bakar atau listrik untuk mengatifkan kereta api.”

Menangkap kembali karbon dari udara membutuhkan banyak uang dan energi. Pada tahun 2021, ada 19 pabrik di seluruh dunia yang menangkap karbon dioksida dari udara. Bersama-sama mereka menyedot sekitar 10.000 metrik ton CO2 per tahun dengan harga $150-325 per metrik ton, menurut Badan Energi Internasional. Secara keseluruhan, itu adalah biaya hingga $3,2 juta untuk menghilangkan jumlah emisi yang sama seperti yang diciptakan oleh 1.260 rumah di AS.

Baca juga: Terbukti Turunkan Emisi CO2, Uni Eropa Usulkan Penumpang Pesawat Beralih ke Kereta untuk Rute Jarak Pendek

Bandingkan dengan rencana penangkapan karbon dengan teknologi perkeretaapian, diperkirakan dapat menghilangkan 45.000 kali jumlah tersebut dengan menggunakan 13.350 gerbong kereta retro pada tahun 2030, dengan perkiraan biaya $45 per metrik ton. Itu setara dengan 450 jutra ton karbon dioksida — mungkin cukup untuk memperhitungkan hampir semua emisi yang berasal dari rumah-rumah di AS.

Inilah Sebab Begitu Banyak Jenis Frekuensi Radio yang Digunakan di Bandara

Sebagai wilayah strategis yang terkait dengan begitu banyaknya lalu lintas wahana di angkasa, maka dipastikan ada lebih dari satu frekuensi radio yang dioprasikan untuk beberapa maksud yang berbeda. Sebut saja komunikasi radio antara petugas pengawas lalu lintas udara (ATC) dengan pesawat akan berbeda dengan frekuensi radio yang digunakan oleh ground crew.

Baca juga: Pengaruhi Bobot Pesawat, Inilah Alasan Pesawat Udara Menggunakan Frekuensi Daya 400 Hz

Dengan dinamika aktivitas di bandara yang cukup kompleks, maka yang menjadi pertanyaan ada berapa jenis frekuensi radio yang dioperasikan di area bandara. Kabapenumpang.com merangkum dari simpleflying.com, bahwa pada dasarnya ada empat jenis kategori frekuensi yang dijalankan di area bandara, yakni frekuensi pendekatan dan keberangkatan (approach and departure frequency), frekuensi menara (tower frequency), frekuensi ground (ground frequency), dan frekuensi ramp (ramp frequency).

Approach and departure frequency
Jalur frekuensi radio ini digunakan oleh pilot untuk izin memasuki wilayah udara. Frekuensi ini membantu penerbang dengan line-up yang selanjutnya pilot/kopilot mendengarkan frekuensi menara (alias pengontrol lokal) untuk mendapatkan informasi tentang pesawat lain di wilayah udara. Ini akan membuat pilot waspada dan fokus pada pendaratan yang aman.

Untuk melakukan pendaratan yang aman dan tiba di gerbang yang benar untuk menurunkan penumpang. Pesawat akan dipandu oleh petugas ATC. Penerbang harus mendengarkan sinyal audio dari darat untuk memberi tahukapan Anda diizinkan untuk memasuki wilayah udara di sekitar bandara dan landasan pacu mana yang akan didarati.

Setelah pesawat melakukan touchdown, langkah selanjutnya adalah mentransfer penerbang ke frekuensi ground. Kontroler darat akan membawa ke taxiway dan membantu menjaga jarak yang tepat antara badan pesawat dan kendaraan darat di taxiway bandara. Kemudian, penerbang harus menemukan gerbang yang tepat dan memiliki izin untuk bergerak di sepanjang taxiway ke gerbang (gate) yang telah ditentukan.

Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Sekarang bayangkan, jika semua pesan itu datang dalam satu frekuensi? Tentu akan sangat sulit untuk fokus menerbangkan pesawat sembari mencoba mengambil data relevan yang dibutuhkan secara audio. Namun, masih ada jarak antara taxiway dan gerbang yang dipisahkan oleh garis hitam dan kuning. Dan sinilah awak kabin mendapatkan frekuensi ramp, yaitu frekuensi yang digunakan antara ground crew dan pilot untuk memastikan proses pendekatan dan koneksi ke garbarata berlangsung lancar.

Alat Unik Ini Bisa Mencegah Kereta Api Keluar dari Jalur Simpan, Cari Tau Fungsinya, yuk

Posisinya berada di jalur simpan tiap stasiun. Alat ini bisa dibilang sudah jarang sekali terlihat bahkan banyak yang belum mengetahui nama alat ini dan juga fungsinya. Ya, perkenalkan alat unik ini bernama perintang kupu – kupu. Bentuknya mirip seperti sayap kupu kupu yang berada di atas rel. Biasanya perintang kupu – kupu ini selalu berada di jalur simpan guna mencegah kereta api saat di jalur simpan tidak keluar sendiri ke jalur utama dan dapat dicegah oleh alat ini.

Baca juga: Jalurnya Pernah di Bom, Ini Sejarah Panjang Stasiun Padalarang

Seperti yang tim kabarpenumpang.com temukan di area Stasiun Padalarang, Bandung Barat ini. Perintang kulu – kupu ternyata masih ditemukan dan dengan tentu masih difungsikan sebagai penahan agar kereta api tidak keluar ke jalur utama.

Bentuknya berupa plat besi yang biasanya bercat merah dan bisa digerakkan buka – tutup secara elektrik dari meja pelayanan PPKA. Selama sistem sudah elektrik, perintang kupu – kupu ini lebih mudah digerakkan karena hanya menutup dan membuka di atas rel. Meski mudah alat ini selalu dilakukan perawatan seperti pemberian oli pada area alat tersebut, agar tidak macet pada mesin karena seringkali terkena cuaca yang tidak menentu. Perintang kupu – kupu ini sama halnya seperti Semboyan 3 pada kereta api dengan tanda bulat berwarna merah yang ditancapkan tiang kayu atau besi di tengah rel.

Baca juga: Stasiun Padalarang Baru Menjadi Hub Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dibangun Dua Tahap

Untuk jalur yang memiliki perintang kupu – kupu biasanya untuk rangkaian kereta api yang di simpan lama atau tempat parkir yang berada di stasiun. Biasanya juga untuk rangkaian gerbong angkutan batu balas atau bisa juga untuk menyimpan potong – potongan cadangan rangkaian kereta penumpang. Biasanya jika tidak ada alat perintang kupu – kupu, pihak stasiun hanya menggunakan balok kayu atau bantalan beton yang tidak terpakai untuk menutup jalur simpan baik ada atau tidaknya rangkaian kereta tersebut. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Ini Bagian Pesawat yang Paling Sering Terkena Bird Strike

Bird strike masih menjadi momok menakutkan industri penerbangan kendati teknologi sudah semakin canggih. Menariknya lagi, burung besi (pesawat terbang) meskipun berukuran jauh lebih besar dan jauh lebih berat, kurang lebih berbobot 40.000 kg, seringkali ‘dikalahkan’ dengan kawanan burung berbobot hanya 2 kg.

Baca juga: Dikira Kerusakan Mesin, Api di Pesawat Boeing 737 SpiceJet Ternyata Gegara Bird Strike

Walaupun pesawat terbang terbukti menjadi moda transportasi paling aman di dunia, tetapi, saat terkena serangan burung (bird strike), keamanan pesawat dan keselamatan penerbangan menjadi terancam. Lantas, apa yang terjadi pada pesawat saat terkena bird strike?

Bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika Serikat (AS), data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Selain itu, Administrasi Penerbangan Federal AS atau FAA juga memperkirakan bahwa penerbangan di AS mengalami kerusakan sekitar $ 400 juta atau Rp 5,4 triliun setiap tahun akibat serangan burung dan lebih dari 200 korban tewas sejak 1988.

Kerusakan pada pesawat akibat bird strike yang paling umum terjadi adalah mesin. Terbaru, pesawat Boeing 737-800 SpiceJet dengan nomor penerbangan SG 723, dilaporkan terkena bird strike saat terbang dari Bandara Patna ke Bandara New Delhi, India.

Dalam keterangan resmi maskapai, insiden itu terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas atau lebih lebihnya 22 menit setelah take-off. Seekor burung dilaporkan terhisap ke mesin sebelah kiri dan menyebabkannya terbakar. Pilot kemudian memutuskan untuk return to base (RTB) ke bandara asal.

Kerusakan pada mesin akibat bird strike umumnya tak banyak berpengaruh pada keselamatan dan keamanan penerbangan. Sebab, pesawat dan mesin sebelum mulai dioperasikan secara komersial, terlebih dahulu melalui serangkaian tes panjang, di antaranya adalah tes bird strike.

Baca juga: Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

Lain halnya dengan bird strike di jendela pesawat atau nose cone pesawat. Selain bisa membuat penerbangan berakhir nahas, kerusakan pada jendela pesawat akibat bird strike bukan tak mungkin membuat pilot dan kopilot tertarik keluar pesawat akibat mengalami dekompresi eksplosif. Terlebih saat berada di ketinggian jelajah.

Akan tetapi, sekali lagi, para ahli telah memikirkan hal dan merancang jendela pesawat sedemikian rupa sehingga aman atau minimal mengalami dampak kerusakan minimal saat terkena bird strike. Begitu pula dengan bird strike pada bagian nose cone.

Pelajar dan Mahasiswa Bisa Nikmati Gratis Naik LRT Palembang, Begini Cara Daftarnya

Payo Lur Naik LRT! Ya itulah kalimat ajakan untuk warga Sumatera Selatan khususnya Kota Palembang untuk gunakan LRT Palembang dalam bertransportasi.Tak hanya ajakan untuk warga Palembang dan sekitarnya saja, tapi ada informasi tambahan yang mungkin bisa dimanfaatkan khususnya bagi pelajar ataupun mahasiswa.

Baca juga: Load Factor Rendah, Akankah LRT Palembang Senasib dengan MRT Malaysia?

Kabarpenumpang.com sempat intip media sosial instagram @lrtsumsel, ternyata ada informasi mengenai promo khusus pelajar atau mahasiswa yang ingin menggunakan LRT Palembang tidak akan dipungut biaya. Promo berupa gratis naik LRT Palembang ini dilakukan selama satu bulan dengan menggunakan kartu berlangganan LRT Sumsel. Jika ingin mendapatkan kartu berlangganan, pelajar atau mahasiswa bisa mendaftar dengan cara berikut ini:

1. Untuk langkah awal silakan isi formulir pendaftaran yang bisa didapat di semua Stasiun LRT Palembang.

2. Bagi pelajar atau mahasiswa hanya ditujukan maksimal semester 6.

3. Ini yang paling penting. Pelajar atau mahasiswa diwajibkan membawa kartu identitas sekolah atau universitas masing – masing yang masih berlaku serta lampirkan fotocopy kartu tersebut.

4. Jika kartu pelajar atau kartu mahasiswa tidak memiliki masa aktif, maka wajib membawa surat keterangan dari sekolah atau univrrsitas sebagai bukti bahwa pendaftar masih tercatat di akademik dan berstatus masih sebagai pelajar atau mahasiswa.

5. Kartu berlangganan akan diproses, pendaftar dikonfirmasi ulang jika kartu sudah bisa diambil.

Dengan hadirnya promo ini, baik pelajar atau mahasiswa yang menggunakan LRT Palembang diharapkan bisa mendapat fasilitas yang disediakan oleh pihak LRT baik di kereta maupun di stasiun. Dan juga memberi rasa aman dan nyaman saat menggunakannya. Seperti diketahui LRT Palembang memiliki 88 kali perjalanan dengan jam operasional mulai pukul 06.00 dari Stasiun DJKA hingga pukul 18.54, serta keberangkatan dari Stasiun Bandara pukul 06.54 hingga pukul 19.37. Tarif umum yang dikenakan Rp 10.000 untuk rute dari dan menuju Stasiun Bandara dan Rp 5.000 untuk rute selain Stasiun Bandara. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Kenapa Kursi Kelas Bisnis Miliki 3 Tali Sabuk Pengaman?

Sebagaimana kendaraan di darat, kursi di pesawat juga memiliki sabuk pengaman (seat belt). Namun, di kursi kelas bisnis beberapa maskapai, sabuk pengamannya sedikit berbeda karena memiliki tiga tali atau tiga titik pengamanan. Mengapa demikian?

Baca juga: Sejarah Panjang Sabuk Pengaman di Pesawat, Ternyata Karena “Iri” Pada Mobil

Dilansir Simple Flying, beberapa maskapai semisal SWISS dan United Airlines telah melakukan inovasi pada sabuk pengaman, dari sabuk pengaman tradisional menjadi sabuk pengaman tiga titik khusus untuk kursi kelas bisnis.

Banyak yang mempertanyakan alasan dibalik keputusan maskapai tersebut. Disebutkan, itu terkait erat dengan tiga hal; mulai dari peraturan Administrasi Penerbangan Federal (FAA), ilmu fisika, dan kenyamanan.

Dalam regulasi 14 CFR 121.311 (b) FAA, disebutkan setiap penumpang wajib duduk di kursi masing-masing sebelum pesawat taxiing, lepas landas, dan mendarat dalam posisi sabuk pengaman terpasang. Ini kemudian dilengkapi dengan aturan lainnya di 14 CFR 121.311 (e) dimana posisi kursi selama periode tersebut (sebelum taxiing, lepas landas, dan mendarat), posisi kursi harus tegak. Ini yang kemudian menjadi perdebatan.

Menurut sebuah studi tahun 2020 oleh dua profesor Polandia dari Universitas Maritim Szczecin yang diterbitkan di ResearchGate, posisi kursi tegak pada pesawat memungkinkan penumpang celaka saat terjadi keadaan darurat.

Disebutkan, ada 18 persen kemungkinan penumpang cedera kepala parah, kemungkinan 55 persen cedera serius, dan kemungkinan 90 persen cedera kepala ringan bagi orang dewasa saat terjadi keadaan darurat.

Penelitian ini didukung oleh penelitian lainnya berjudul “Kecelakaan Pendaratan Pesawat: Seberapa Aman Penggunaan Passenger Lap Seat Belts di Pesawat?” yang dipublikasikan di MEDLINE®/PubMed®.

Menurutnya, sabuk pengaman pesawat yang ada sekarang sanggup untuk menghindari penumpang dari cedera saat terjadi turbulensi. Namun, saat terjadi kondisi darurat lainnya, seperti pesawat mengalami deselerasi mendadak (seperti ngerem mendadak), sabuk pengaman pesawat yang ada sekarang tidak kuasa menahan kepala penumpang untuk tidak terbentur dengan benda di depannya.

Sampai di sini, pada intinya, sabuk pengaman pada kursi pesawat tidak aman dan bisa membuat penumpang cedera. Pro-kontra tentu saja terjadi. Salah satu pihak yang kontra alias memandang desain sabuk pengaman yang ada saat ini sudah tepat adalah Ken Hoke, seorang pilot komersial dari Aerosavvy.

Menurutnya, sabuk pengaman tiga tali atau menambah satu sabuk lagi di bagian bahu (seperti di mobil), menuntut untuk memperkuat kursi. Kursi yang lebih kuat artinya bobot yang lebih besar dan mempengaruhi berapa banyak penumpang yang bisa diangkut dalam sekali jalan. Ini tentu saja ditentang maskapai.

Sebagai gantinya, para ahli merancang kursi pesawat lebih rapat dari dekade sebelumnya. Tujuannya adalah untuk mencegah kepala terpental ke depan. Lebih jauh jarak kursi berarti kecepatan kepala terpental atau terdorong ke depan saat pesawat ngerem mendadak jauh lebih tinggi atau lebih cepat dan itu meningkatkan risiko cedera.

Baca juga: Sabuk Pengaman Ternyata Sudah Ada Sejak 1800-an

Itu sebab, para ahli mensiasatinya dengan memperpendek jarak antara kursi dan menambah pengamanan di bagian belakang kursi untuk mencegah cedera kepala.

Masalahnya adalah, antar kursi kelas bisnis atau kursi first class jaraknya cukup jauh sehingga memungkinkan penumpang mengalami cedera parah. Maka dari itu, alih-alih menggunakan integrated airbag seatbelt atau sabuk pengaman yang dilengkapi dengan airbag di pesawat, maskapai lebih memilih untuk menggunakan sabuk pengaman tiga titik dengan tambahan menyilang di bagian bahu seperti di mobil.

Kedungjati, Stasiun yang Direncanakan Cukup Lama Sebagai Penghubung Menuju Ambarawa

Berlokasi di Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan dengan posisi di ketinggian 36 M diatas permukaan laut. Sesuai daerah ini dulunya memang sebagai penghasil kayu jati terbesar di Jawa Tengah. Mencari informasi tentang stasiun ini, ternyata nama kedung pun berasal dari Bahasa Jawa dengan arti palung sungai yang dalam dan tak pernah mengering, sehingga saking rimbunnya hutan jati di kawasan ini orang menyebut daerah Kedung Jati.

Baca juga: Museum Kereta Ambarawa Sewakan Lokomotif dan Gerbong Untuk Konsep Unik Pernikahan

Stasiun Kedungjati yang merupakan stasiun cagar budaya Perkeretaapian Indonesia ini terletak diantara petak stasiun antara Tanggung dengan Padas. Namun stasiun dengan kode singkatan KEJ ini merupakan stasiun percabangan menuju arah Stasiun Tuntang dan Stasiun Ambarawa dan masih berada di wilayah Daop 4 Semarang.

Bangunan stasiun ini memiliki arsitektur klasik dibangun enam tahun setelah Stasiun Tanggung. Stasiun ini pada awalnya dibangun tanpa peron dengan konstruksi kayu dan bagian utama bangunan bertingkat atau memiliki dua lantai. Tapi pada tahun 1907, Stasiun Kedungjati diubah bangunannya dengan konstruksi bata yang diplester dan bersamaan dengan atap dari seng setinggi 14,65 cm.

Baca juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia

Dulu saat Stasiun Kedungjati masih terhubung dengan jalur ke Stasiun Ambarawa, memilki 3 peron selatan dan empat peron utara. Tapi kini peron selatan sudah non aktif semua, sedangkan peron utara menyisakan 3 jalur yang masih aktif hingga saat ini. Tahun 2011 lalu memang ada rencana akan menghubungkan kembali jalur dari Kedungjati menuju Tuntang. Potensi ini sangat bagus apalagi masyarakat tak perlu repot menggunakan transportasi lain. Namun hingga kini rencana tersebut sudah cukup lama belum terealisasi atau terwujud. Saat ini hanya terlihat tanah yang ditumbuhi rerumputan liar dan beberapa bantalan yang harusnya digunakan untuk pembangunan jalur kereta api tersebut. Entah sampai kapan jalur penghubung ini akan dibangun dan dioperasikan. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Ini Alasan Rangkaian “Gendut” Bekas Argo Bromo Anggrek Harus Mangkrak

Banyak yang bertanya – tanya soal nasib rangkaian dengan julukan “gendut” alias rangkaian bogie K9 ini apakah tetap di operasikan atau akan mangkrak. Rangkaian yang dibuat oleh PT INKA (Industri Kereta Api) Madiun merupakan rancangan unggulan dan berbeda dari rangkaian lainnya yang memiliki fasilitas lengkap yang dimiliki PT KAI saat itu.

Baca juga: Pahami Kerinduan Penumpang, KAI Hadirkan “Live Cooking” di KA Argo Bromo Anggrek

Selain fasilitas yang tidak semua dimiliki kelas eksekutif lainnya seperti sandaran kaki, pintu otomatis, toilet luas dan lain – lain rangkaian ini memiliki jenis bogie yang berbeda. Bogie yang dimiliki rangkaian ini adalah jenis K9 yaitu bogie paling nyaman dan menggunakan suspensi udara, serta mampu berlari dengan kecepatan maksimal hingga 120 km/jam. Rangkaian yang diperuntukan sebagai kereta api eksekutif nomor 1dilintas utara ini dibuat pada tahin 1997 dan 2001.

Pada masa jayanya rangkaian ini mendapat julukan “si gendut utara” melesat melewati jalur utara mulai dari Stasiun Gambir melewati Cirebon, Semarang, dan berakhir di Stasiun Surabaya Pasar Turi dengan waktu tempuh 9 jam perjalanan. Warna/livery yang digunakan pun bermacam – macam. Seperti warna putih dengan garis merah muda, putih garis biru pada kereta makan, putih garis hijau, hingga yang terakhir livery dengan sebutan garis pecut. Penempatan rangkaian kebanggaan INKA dan KAI ini pernah digunakan tak hanya sebagai rangkaiam Argo Bromo Anggrek, melainkan sempat digunakan sebagai rangkaian KA Argo Lawu (Gambir – Solo Balapan) dan KA Argo Sindoro (Gambir – Semarang Tawang). Sempat alami anjlok beberapa kali saat digunakan sebagai KA Argo Lawu karena jalur dilalui tidak sesuai dengan bogie K9, akhirnya rangkaian tersebut digunakan untuk KA Argo Sindoro dan kembali lagi sebagai KA Argo Bromo Anggrek.

Selain memiliki bogie yang sensitif sayangnya instruksi dari Departemen Perhubungan kepada PT KAI untuk menarik seluruh kereta kelas Argo Bromo Anggrek ini mulai Desember 2010. Akhirnya KA Argo Bromo Anggrek menggunakan kereta eksekutif biasa untuk sementara waktu. Rangkaian itu sementara meminjam dari rangkaian Kereta Api Semberani dengan jendela yang mirip dengan pesawat.Hingga saat ini rangkaian “gendut” tersebut mangkrak di beberapa stasiun di wilayah Daop 4 Semarang, seperti Stasiun Jerakah, Stasiun Brumbung, dan Stasiun Gubug. Namun pada Juli 2022 kabarpenumpang.com mendapat informasi bahwa suku cadang yang masih berada di dalam rangkaian kereta pembangkit tetap digunakan.

Baca juga: KA Argo Bromo Anggrek, Sejarah Pertama Varian Keluarga Kereta “Argo”

Selain memiliki tenaga yang besar, suku cadang mesin tersebut akan digunakan untuk rangkaian pembangkit lainnya. Jadi alasan mengapa rangkaian ini tidak dijalankan lagi, memgingat biaya suku cadang rangkaian eks Argo Bromo Anggrek ini lumayan mahal karena harus didatangkan langsung dari Perancis yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya rangkaian ini di konservasi alias tidak digunakan lagi, dan bersiap untuk dikirim ke “peristirahatan terakhir” yang berada di Pasir Bungur. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Dengan Livery Putih – Kuning, Boeing 777 Kargo DHL Singapore Airlines Terbang Perdana

Singapore Airlines belum lama ini telah merilis unit perdana dari Boeing 777 varian kargo yang dicat dengan livery DHL Express pada bagian ekornya. Seperti foto yang bereder di Twitter, Boeing 777-F dengan kode penerbangan 9V-DHA terlihat di Bandara Paine Field untuk menjalani test flight dengan tujuan Bandara Grant Country di Washington, Amerika Serikat.

Baca juga: Ngepot Saat Landing, Boeing 757 DHL Patah Jadi Dua Bagian

Seperti diketahui, pada awal Maret 2022, perusahaan logistik DHL Express dengan Singapore Airlines resmi menyepakati perjanjian kerja sama pengoperasian lima pesawat berbadan lebar varian kargo Boeing 777 milik Singapore Airlines serta perawatannya. Ekspansi yang dilakukan DHL Express menyiapkan pertumbuhan berkelanjutan dengan mengamankan ketersediaan permintaan jasa pengiriman logistik keluar Singapura.

Pesawat yang disewa secara bertahap diberikan setelah selesai pengecatan ulang livery. Livery yang digunakan nantinya akan menggunakan logo DHL dan Singapore Airlines. Perjanjian awal kerja sama ditetapkan berjalan selama empat tahun dengan kesempatan perpanjangan. Dua pesawat kargo B777F siap dikirim pada bulan Juli dan Oktober tahun ini, dan tiga sisanya direncanakan dikirim tahun depan.

Singapore Airlines dalam rilisnya menyebut, kelima pesawat tersebut akan berbasis di Bandara Changi dan akan melayani Hub Asia Selatan. Selain mengoperasikan rute dari Hub Singapura, kerja sama lainnya adalah pengoperasian pesawat oleh pilot-pilot Singapore Airlines pada rute ke Amerika Serikat.

Baca juga: DHL Express Pesan 12 Pesawat Kargo Listrik Alice Eviation, Bisa Terbang Tanpa Pilot!

DHL Express saat ini mengoperasikan lebih dari 320 pesawat kargo di jaringan globalnya di 220 negara. Sementara Singapore Airlines baru-baru ini telah memesan 7 pesawat kargo tipe terbaru Airbus, yaitu A350F, sebagai bagian program modernisasi armada.