Apakah Kita Berjalan di Sayap, dan Apakah Mungkin Sayap Pesawat Patah saat di Udara?

Saat Anda melakukan perjalanan udara, dan menengok ke arah jendela, maka salah satu yang terlihat adalah sayap, yakni bagian dari superstruktur. Dengan ukurannya yang besar, di mana terdapat mesin dan bahan bakar, maka tak sedikit terbesit pertanyaan, tentang seberapa kuat sayap itu, apakah orang bisa berjalan di sayap? Apakah sayap pesawat dapat patah saat di udara?

Baca juga: Fotografer Bali Sukses Curi Perhatian Dunia Berkat Aksi Esktrem di Atas Sayap Pesawat

Pertanyaan itu lazim dalam pemikiran banyak orang, terutama bagi penumpang pemula yang baru punya pengalaman naik pesawat. Untuk pertanyaan, apakah seseorang bisa berjalan di sayap? Maka jawabannya adalah ‘tergantung,’ yaitu tergantung jenis pesawatnya. Semisal berupa pesawat kecil dengan mesin tunggal, maka jawabannya tidak disarankan.

Dikutip dari quora.com, dicontohkan seperti pesawat Cessna 172R. Berat kotor maksimumnya adalah 2.450 kg, dan memiliki luas sayap 174 kaki persegi. Sebagai ilustrasi, orang dengan berat 150 pon mengenakan sepatu khusus. Sol sepatu cukup besar, tetapi sebagian besar gaya yang diterapkannya terkonsentrasi hanya pada beberapa inci persegi; sebagian besar di tumit, tetapi juga beberapa di bola dan ujung telapak kaki.

Ilustrasi (sumber: hotinjuba.com)

Dibandingkan dengan tekanan aerodinamis maksimum normal 0,6, Anda melihat tekanan yang diberikan oleh orang yang berdiri adalah antara 4 dan 6 kali lipat. Dan itu hanya untuk berdiri diam. Saat berjalan atau menggeser berat badan, seseorang mungkin menerapkan dua kali tekanan berdiri dan mungkin lebih banyak lagi. Jadi, untuk pesawat kecil seperti Cessna 172, maka berjalan tidak akan mematahkan sayap, tetapi pasti akan membuat penyok di kulit sayap, dan mungkin akan menyebabkan kerusakan sktruktur lokal di bawah kulit.

Tentu saja, ada kasus yang berbeda. Misalnya, di pertunjukan udara, Anda dapat melihat orang berjalan di sayap dan memanjat di sekitar sayap biplan vintage. Para wing walker tersebut umumnya sangat terampil, dan bergerak dengan hati-hati agar tidak merusak pesawat. Mereka memakai sepatu yang lembut, dan tahu persis di mana harus memijakan kaki dan tangan mereka di area yang diperkuat yang dapat menopang berat badan.

Wah, ternyata bisa makan di bagian sayapnya juga! Masih kurang romantis? Sumber: curlytales.com

Untuk pesawat yang lebih besar, jawabannya sangat berbeda. Karena maskapai penerbangan dan muatannya tergolong sangat berat, sayap pesawat harus sangat kuat untuk mengangkatnya. Orang dapat berjakan di sayap pesawat besar, tentu saja ada titik-titik khusus bila harus berjalan di sayap. Tidak semua bagian bisa dengan bebas diinjak.

Sayap dirancang terutama untuk mengangkat pesawat yang mereka pasang. Gaya angkat yang mereka terapkan pada pesawat sebagian besar berasal dari gaya aerodinamis yang disebabkan oleh perjalanan mereka di udara. Kekuatan-kekuatan ini didistribusikan dengan sangat merata di atas area permukaan atas dan bawah sayap. Dan karena sayap umumnya memiliki luas yang cukup banyak, gaya yang diterapkan bisa sangat kecil dan masih memberikan daya angkat yang cukup untuk lebih dari membawa pesawat ke udara.

Kembali ke pertanyaan, apakah sayap pesawat dapat patah? Perlu diketahui, sayap pesawat menopang berat pesawat dan muatan selama penerbangan, termasuk tekanan ekstra dari cuaca yang bergejolak dan manuver pesawat yang keras yang dapat melipatgandakan bobot pesawat pada sayap sebanyak 2-3 kali untuk pesawat komersial dan 6– 8 kali untuk pesawat tempur. Oleh karena itu, sayap sangat kuat dan dimaksudkan untuk fleksibel sehingga tekanan yang tiba-tiba tidak mematahkannya.

Untuk mematahkan sayap pesawat, seseorang harus melebihi tingkat tegangan desain sayap. Meskipun bukan tidak mungkin, sejauh ini tidak pernah terjadi selama penerbangan normal. Selama turbulensi berat saat terbang, sayap dikenakan beban ekstrem. Namun, sayap tidak putus karena para insinyur sudah memperhitungkan konfigurasi beban ekstrem dalam desain pesawat.

Tapi tetap saja ada kemungkinan sayap patah di udara karena Kegagalan dalam penerbangan seperti hasil dari desain yang buruk atau perawatan yang tidak memadai. Tapi lebih sering, itu terjadi akibat kesalahan pilot, di mana pilot memberi tekanan berlebih pada pesawat dengan menerapkan faktor beban yang lebih besar daripada yang bisa ditangani pesawat.

Baca juga: Evolusi Sayap Pesawat dari Waktu ke Waktu – Mulai dari Kayu Hingga Material Komposit

Sebagian besar pesawat disertifikasi untuk menahan sejumlah faktor beban, dan selanjutnya diharuskan untuk juga mempertahankan setidaknya 50% faktor keamanan di atas itu. Faktor beban biasanya digambarkan dalam satuan g, di mana setiap g sama dengan gaya gravitasi bumi.

23 September, Hari Bahari Nasional yang Ingatkan Pada Lagu ”Nenek Moyangku Seorang Pelaut”

Setiap tanggal 23 September Indonesia memperingati Hari Maritim yang kini dikenal dengan Hari Bahari Nasional. Penetapan Hari Bahari Nasional ini berawal dari pidato Presiden Soeharto pada 23 September 1967 silam.

Baca juga: Ini Daftar 9 Pelabuhan Laut Tersibuk di Indonesia

Presiden kedua Republik Indonesia ini menjadikan Hari Bahari Nasional dengan harapan bisa menjadi momentum dalam pelestarian serta meningkatkan potensi bahari nusantara. Setiap merayakan Hari Bahari Nasional, seakan teringat dengan lagu ”nenek moyangku seorang pelaut”.

Ya, ini tak bisa dipungkiri sebab, Indonesia memiliki lautan yang lebih luas dibandingkan daratannya. Sebab tiga per empat bagiannya adalah lautan dan sebenarnya Indonesia bukan merupakan Negeri Kepulauan melainkan Negeri Lautan atau Bahari.

Dengan sebutan ini bisa menjadikan laut Indonesia tidak dilupakan dan aspek kelautan senantiasa menghiasi setiap gerak langkah kebijakan pembangunan yang ada. Bahkan dari lautan yang dimiliki Indonesia bisa membenahi krisis yang tengah dihadapi saat ini.

Namun sayangnya Indonesia yang dikaruniai lautan yang indah dan luas belum benar-benar terjamah dengan baik untuk pembangunan berkelanjutannya. Meski begitu perlahan-lahan, Indonesia mulai mengeksplorasi lautan yang ada baik dalam sektor industri pangan maupun wisata baharinya.

Apalagi di beberapa titik lautan Indonesia memiliki kekayaan biota laut yang kerap kali di sambangi pelancong untuk menyelam atau sekedar menikmati keindahan laut. Sedangkan di industri pangan, Indonesia memiliki kekayaan laut yang berlimpah dan beragam.

Selain itu, salah satu aspek yang sudah mulai dibangun saat ini adalah pengembangan tol laut. Di mana tol laut adalah jalur pelayaran yang bebas hambatan dan menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia.

Baca juga: Rute Tol laut Tanjung Priok-Panjang, Akankah Berdampak Pada Lintasan Merak-Bakauheni?

Kehadiran tol laut diharapkan membantu pengiriman barang dari satu pulau ke pulau lainnya, sehingga tidak terjadi kelangkaan bahan-bahan pokok baik itu sembako, BBM hingga semen. Bahkan ini juga diharapkan agar harga barang bisa lebih murah dari pengiriman menggunakan moda transportasi lainnya. Lewat laut ini pula, warisan nenek moyang akan tetap bisa lestari sampai kapanpun, asal kita semua bisa menjaga dan melestarikannya.

Lihat Barcode atau QR Code di Tiket Anda? Inilah Maknanya!

Di zaman yang sudah serba modern seperti sekarang ini, Anda tentu sudah dapat dengan mudah menemukan QR code dimana pun Anda berada. Mulai dari coffee shop, aplikasi ride-hailing, hingga aplikasi dompet digital – hampir semuanya sudah menggunakan QR Code. Jika dibandingkan dengan jaman dulu, QR Code masih hadir dalam bentuk barcode. Tapi, tahukah Anda tentang perbedaan dari dua kode berbentuk unik ini?

Baca Juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition

Oh iya, sebelum melanjutkan pembahasan tentang perbedaan antara kedua kode ini, Anda juga bisa menemukan kode yang didominasi warna hitam ini di tiket penerbangan atau tiket kereta api Anda. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri!

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, barcode sejatinya merupakan kode yang hingga saat ini masih dapat Anda temukan di berbagai produk, seperti makanan, rokok, hingga barang-barang lainnya yang bisa dikonsumsi oleh pembelinya. Barcode ini berisikan sebidang persegi panjang berwarna putih yang pada bagian tengahnya dilengkapi dengan sejumlah garis hitam vertikal dengan beragam ukuran. Selain itu, Anda juga akan mendapati sejumlah angka pada bagian bawahnya.

Barcode ini berisikan kode optik yang bisa dibaca oleh mesin pemindai atau scanner. Barcode tergolong ke dalam kode 1 dimensi, dimana mesin pemindai hanya bisa membaca kode ini secara menyamping.

Sementara QR Code merupakan kembangan dari barcode, dimana QR di sini merupakan singkatan dari Quick Response. Jika barcode berbentuk garis-garis vertikal, maka QR Code memiliki bentuk persegi empat dengan tiga kotak kecil pada bagian kanan atas (dua buah) dan kiri bawah (satu buah). Dibandingkan dengan barcode, QR Code bisa lebih banyak menampung informasi (kapasitas data yang disimpannya ratusan kali lebih banyak daripada barcode).

Baca Juga: Pilah-Pilih Vendor, Bandara Internasional Changi Siap ‘Pekerjakan’ Facial Recognition

Seperti yang sudah disebutkan di atas, barcode hanya bisa meyimpan data menyamping (1 dimensi), maka QR Code bisa menampung data secara vertikal dan horizontal (2 dimensi).

Nah, ada sedikit perbedaan nih dengan kode yang ada di tiket pesawat, dimana kode tersebut bernama pdf417, dimana data yang ditampung lebih kompleks dan biasanya digunakan di sektor transportasi, kartu identifikasi, hingga manajemen inventori gudang.

10 Singkatan Rahasia Pramugari yang Wajib Penumpang Ketahui

Pramugari/pramugara kerap menyingkat banyak kata untuk kemudahan komunikasi dan privasi. Tentu saja istilah-istilah tersebut tak semua dimengerti penumpang dan tidak ada salahnya bila penumpang mengetahui itu. Setidaknya ada 10 istilah singkatan yang sering digunakan kru kabin. Dilansir Simple Flying, berikut selengkapnya.

Baca juga: Intip Tempat Istirahat Pramugari di Pesawat, Pantas Kerap ‘Menghilang’ dari Kabin

  1. ABP

ABP adalah singkatan dari able-bodied passenger atau penumpang berbadan proporsional. Awak kabin memang wajib mengidentifikasi penumpang atau menandai mereka untuk dimintai bantuan dalam keadaan darurat dan ABP termasuk ke dalamnya.

  1. PRM

PRM merupakan singkatan dari person of reduced mobility atau penumpang dengan mobilitas terbatas atau dalam kata lain merupakan penumpang disabilitas. Awak kabin harus mengetahui berapa banyak PRM di sebuah penerbangan agar bisa memantau dan membantu mereka semaksimal mungkin.

  1. FA

FA adalah singkatan dari flight attendant. Singkatan ini bisa dibilang bukan rahasia dan sudah masyhur didengar telinga penumpang. Selain singkatannya, posisi flight attendant atau pramugari/pramugara atau awak kabin dalam sebuah penerbangan juga sangat menonjol dan dekat dengan penumpang.

  1. SCCM / CSD

SCCM atau senior cabin crew member dan atau CSD yang merupakan singkatan dari cabin services director adalah pramugari/pramugara paling senior dalam sebuah penerbangan. Istilah SCCM dan CSD sama populernya di penerbangan, tergantung maskapai mengadopsinya.

  1. AVSEC

AVSEC atau aviation security juga bukan istilah asing bagi penumpang. Setiap sebelum boarding, penumpang akan melewati security gate atau gerbang pemeriksaan dan ini dilakukan oleh petugas AVSEC.

  1. AVMED

AVMED merupakan kependekatan dari aviation medicine. Sebelum bertugas di sebuah penerbangan, pramugari/pramugara terlebih dahulu menjalani pelatihan, salah satunya pelatihan aviation medicine atau kedokteran penerbangan.

Dalam AVMED, awak kabin akan mempelajari penyakit yang mungkin dialami penumpang selama penerbangan, mencakup kesehatan penerbangan dan efek terbang pada tubuh, hipoksia dan ritme sirkadian dan tidur.

  1. SEP

Selain AVMED, SEP juga merupakan bagian dari pelatihan awak kabin dan akan dijumpai di setiap penerbangan karena SEP adalah singkatan dari safety and emergency procedures.

  1. CRM

CRM atau crew resource management merupakan salah satu bagian terpenting yang mesti dipelajari pramugari dalam pelatihan. Sebab, tujuan dari adanya pelatihan CRM untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau insiden dengan memaksimalkan komunikasi antar kru.

Baca juga: Terungkap! Pramugari Selalu Bohong Saat Penumpang Tanyakan Hal Ini

  1. DG

DG atau dangerous goods merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi barang-barang yang aman dan tidak yang ada di dalam kabin. DG juga masuk dalam materi pelatihan pramugari, memang bukan materi yang menarik tetapi tak kalah penting dibanding yang lain.

  1. CIDS

CIDS adalah singkatan dari cabin intercommunication data system. Meski jarang mendengar istilah itu, namun seluruh penumpang pasti pernah merasakan fungsi dari CIDS untuk pramugari memberikan informasi saat sebelum lepas landas, selama dalam penerbangan, mendarat, sampai sebelum pintu pesawat dibuka.

Kenapa Kokpit Airbus A380 Usung Konsep Lower Deck yang Justru Jadi ‘Senjata Makan Tuan’? Ini Jawabannya

Kokpit pesawat pada umumnya terletak di bagian (dek) atas pesawat untuk visibilitas yang lebih baik ketimbang berada di bawah. Namun, tidak demikian dengan kokpit pesawat Airbus A380. Alih-alih terletak di dek atas layaknya kompetitor mereka Boeing 747, kokpit pesawat superjumbo itu justru terletak di dek bawah.

Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Terkait hal itu, terdapat alasan mekanis dan desain yang mempengaruhinya. Sebab, bila berkaca pada ketinggian, sebetulnya Airbus A380 tidak lebih tinggi dari Boeing 747 yang memiliki tinggi 8,7 meter dari ground atau tarmac, selisih sedikit dari A380 yang berada di ketinggian 7,2 meter.

Airbus sendiri, dalam beberapa kesempatan terkait A380 tidak pernah menyebut dengan jelas mengapa kokpit A380 berada di lower deck atau dek bawah. Perlu diluruskan, sebetulnya bukan di dek bahwa melainkan berada di antara dek bawah dan dek atas.

Akan tetapi, menurut salah seorang pengguna Quora, penempatan kokpit A380 yang berada di antara dek atas dan dek bawah pesawat lantaran perhitungan para ahli tentang sudut penglihatan pilot dan kopilot ke depan.

Bila kokpit berada di dek atas, penglihatan pilot tidak akan membentuk segitiga yang baik untuk visibilitas. Karenanya, kokpit diletakkan di antara dek atas dan bawah dan ini merupakan gagasan desain dan mekanis yang brilian.

Setali tiga uang, salah seorang pengguna yang bernada positif mengungkapkan, kokpit A380 berada di tengah antara dek bawah dan atas tak lepas dari kelengkapan kokpit A380 itu sendiri yang mewah bak hotel.

Bila pada umumnya pilot tidak memiliki fasilitas khusus berupa kamar pribadi dan toilet privat, atau mungkin di beberapa pesawat pilot memiliki hal tersebut sekalipun harus melalui perjuangan ekstra mengingat lokasinya (kamar atau tempat tidur khusus untuk pilot) berada di atas kabin business class, pada Airbus A380 pilot tak perlu melakukan hal itu (bersusah payah mencapai kamar pribadi). Pasalnya, pilot diberikan fasilitas khusus berupa dua kamar pribadi dan toilet di dalam kokpit. Luar biasa, bukan?

Namun, ada juga pengguna lain yang berpendapat miring. Menurutnya, A380 adalah pesawat yang sejak awal dicetuskan idenya sudah cacat dan usang tetapi cenderung dipaksakan dan pada akhirnya desainnya juga usang. Itu setidaknya tercermin dari penempatan kokpit A380 yang berada di tengah antara dek atas dan bawah.

Disebutkan, itu bukanlah ide desain brilian melainkan desain yang tidak visioner alias hanya berpikir pendek dan tidak melihat peluang serta tantangan ke depan.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Pilot Miliki Kamar Pribadi dan Toilet Privat di dalam Kokpit

Dengan menempatkan kokpit di dek atas, Boeing 747 tetap bisa dimanfaatkan untuk kegunaan lainnya di luar penerbangan penumpang, salah satunya menjadi pesawat kargo. Dengan memodifikasi bagian bawah kokpit menjadi ‘pintu’ kargo, Boeing 747 terbukti menjadi pesawat jet empat mesin tersukses di dunia.

Sampai saat ini, sekalipun tidak diproduksi lagi, pesawat masih aktif digunakan untuk penerbangan kargo, sesuatu yang sulit diikuti oleh A380. Ini pula yang menjadikan A380 sulit untuk dikonversi menjadi varian kargo, selain juga karena konsep double deckernya yang ripuh, mencapai bobot maksimum sebelum seluruh ruangan terisi, dan bobot kosong yang sangat tinggi dibanding Boeing 747-8F.

Putin Umumkan Mobilisasi Parsial, Penerbangan Internasional ke Luar Rusia Ludes Terjual Meski Naik 4 Kali Lipat

Puluhan tiket penerbangan keluar dari Rusia ke beberapa negara tetangga ludes terjual. Ini terjadi tak lama usai Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial tentara cadangan ke Ukraina. Padahal, tak lama setelah Putin memberikan pengumuman itu dan siap untuk mengerahkan senjata nuklir, harga tiket sudah melonjak 4 kali lipat. Namun, itu tak menjadi penghalang warga untuk kabur dari Rusia.

Baca juga: Ketika Jakarta Jadi Pusat Perang Dingin Rusia vs Barat Lewat Penerbangan Internasional

Data FlightRadar24, puluhan penerbangan dari maskapai-maskapai Rusia menyerbu beberapa negara, seperti Turki, Polandia, Armenia, Georgia, Uni Emirat Arab, Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Kirgistan.

Meski tak ada data pasti berapa jumlah penumpang yang diangkut di masing-masing penerbangan keluar dari Rusia, kuat diduga itu terisi penuh.

Utamanya oleh mereka warga negara asing yang menetap atau sedang berada di Rusia maupun oleh warga Rusia di luar wajib militer yang khawatir eskalasi meningkat serta warga Rusia yang termasuk dalam wajib militer namun enggan mengikuti seruan Putin untuk berperang di Ukraina.

Itu mengapa, saat penerbangan keluar dari Rusia begitu massif terjadi, Putin langsung mengeluarkan larangan ke maskapai untuk mengangkut penumpang berusia 18 hingga 65 tahun kecuali mereka dapat memberikan bukti persetujuan untuk bepergian dari Kementerian Pertahanan.

Selain maskapai Rusia, Turkish Airlines juga ketiban berkah peningkatan penerbangan internasional dari Rusia ke luar negeri. Dilansir Simple Flying, maskapai nasional Turki tersebut mengatakan seluruh penerbangan dari Moskow ke Istanbul sudah terjual habis tak tersisa sampai hari Minggu, 25 September mendatang.

Data pencarian di Google Trend juga didominasi Aviasales, online travel agent paling populer di Rusia. Sementara itu, data penerbangan di Google Flight, sulit mencari penerbangan yang tersedia sampai hari Minggu. Sekalipun ada harganya naik sampai 4 (empat) kali lipat.

Penerbangan termurah ke Dubai oleh maskapai Flydubai dibanderol seharga US$ 5.000 atau 300 ribu rubel, sekitar lima kali lipat UMR rata-rata di Rusia. Penerbangan ke Turki naik dimana tiket termurah menjadi 70 ribu rubel dari semula hanya 22 ribu rubel. Selain itu, ada juga penerbangan lainnya sebagai berikut:

Moskow-Yerevan (Armenia): Red Wings adalah satu-satunya penerbangan yang tersedia untuk hari Kamis. Tiket paling murah mencapai US$2.706.

Moskow-Istanbul: Air Arabia dan Azerbaijan Airlines muncul sebagai satu-satunya pilihan dengan transit  di Sharjah dan Baku. Harganya masing-masing US$ 408 dan US$ 1.023.

Baca juga: ‘Dibeking’ Putin, Maskapai Rusia Mulai Buka Penerbangan Internasional Pakai Pesawat Sukhoi

Moskow-Tbilisi: Azerbaijan Airlines adalah satu-satunya maskapai yang tersedia. Harga berada di US$ 937

Moskow-Dubai: Azerbaijan Airlines adalah satu-satunya pilihan yang tersedia, dengan harga berkisar antara US $ 1.194 dan 1.250.

Akibat Galangan Bangkrut, Kapal Pesiar Terbesar di Dunia “Global Dream II” Terpaksa di Scrap Sebelum Sempat Berlayar

Jagad dunia pelayaran dibuat gempar, setelah muncul kabar bahwa kapal pesiar terbesar di dunia, Global Dream II akan di-scrap sebelum pelayaran perdananya. Tentu ini menjadi berita besar, pasalnya pembangunan kapal pesiar tersebut menelan biaya 1,2 miliar poundsterling, di mana kapal itu dipersiapkan untuk mengangkut 9.000 penumpang. Dan sebelum resmi berlayar, nyatanya Global Dream II justru proyeknya dibatalkan dengan bagian-bagian kapalnya akan dilelang.

Baca juga: Jennifer Lopez Jadi Chief Entertainment & Lifestyle di Kapal Pesiar Virgin Voyages

Dikutip dari mirror.co.uk, keputusan untuk scrap bisa saja dibatalkan bila di menit terakhir ditemukan pembeli. Global Dream II adalah kapal besar berukuran 20 dek, punya panjang 342 meter, fasilitas kapal pesiar super mewah ini mencakup taman air luar ruangan yang besar dan bioskop. Tapi ironisnya, kapal raksasa itu sekarang akan diubah menjadi besi tua sebelum pelayaran perdananya.

Global Dream II dibangun oleh perusahaan Jerman-Hong Kong MV Werften dan konstruksinya hampir selesai ketika perusahaan mengajukan kebangkrutan pada awal tahun ini. Kapal itu menelan biaya 1,2 miliar pounsterling untuk pembangunan – yang masih kurang 200 juta poundsterling dari anggarannya – dan telah lama mencari pembeli untuk mencari sisa pendanaan untuk 900 juta poundsterling untuk menyelamatkannya dari opsi di-scrap.

Lantaran Global Dream II gagal meluncur, saat ini posisi kapal pesiar terbesar dipegang oleh Royal Caribbean ‘Wonder of the Seas’ yang dapat memuat 6.988 penumpang.

Sayangnya hingga momen terakhir, pembeli kapal tidak pernah ditemukan dan menurut majalah industri pelayaran Jerman An Bord, kapal itu akan dibongkar dan dijual. Mesin dan beberapa bagiannya akan dijual tetapi lambung bagian bawah akan dilelang untuk dijadikan barang bekas.

Baca juga: Tak Menyerah Akibat Pandemi, Kapal Pesiar di Singapura Tawarkan “Sailing to Nowhere”

Sementara Global Dream II karirnya tamat, sister linernya, kapal Global Dream I, tetap ada di pasaran dan meskipun belum terjual, progran kapal pesiar itu belum akan dihentikan. Besar kemungkinan, kedua Global Dream akan dihapus pada akhir tahun 2023. Namun, ada pengamat yang optimis bahwa kapal mahal itu akan menemukan pembeli pada waktunya.

Kenapa Jendela Tidak Sejajar dengan Kursi di Pesawat untuk Kenyamanan Penumpang?

Salah satu bagian terindah saat menumpangi pesawat terbang adalah melihat pemandangan di luar pesawat. Namun, bagi penumpang yang kurang beruntung, aktivitas menikmati pemandangan belum tentu menyenangkan karena terhalang badan pesawat karena tak duduk tepat di samping jendela. Lantas, mengapa jendela dan kursi pesawat tidak sejajar dan kenapa jumlah kursi pesawat lebih banyak dibanding jumlah jendela?

Baca juga: Keuntungan-Kerugian Duduk di Kursi Dekat Jendela-Tengah-Aisle Pesawat, Mana Lebih Favorit?

Pertanyaan tersebut sebetulnya tidak sulit untuk dijawab. Tetapi tidak juga terlalu sulit sehingga tidak bisa dijawab.

Merunut jauh ke belakang, sebetulnya, dahulu di awal-awal pesawat terbang mulai tumbuh, sekitar awal tahun 40, jendela pesawat bukan hanya dibuat sejejar dengan kursi tetapi jumlah jendela dengan kursi jumlahnya nyaris sama atau bahkan lebih sedikit. Bisa dibilang, setiap row memiliki jendela pribadi untuk keleluasaan melihat pemandangan di luar.

Tak hanya itu, di pesawat Boeing Stratocruiser, misalnya, penumpang juga dimanjakan dengan layanan dari pramugari cantik, kursi sangat empuk, sajian makanan menggunakan piring dan gelas keramik, games, pub, dan tempat duduk semua kelas dapat diubah menjadi tempat tidur.

Naik pesawat  kala itu masih sangat mahal. Tak ayal, penumpangnya mayoritas menggunakan setelah jas nan perlente untuk laki-laki dan wanita menggunakan gaun bak putri. Sebagai gambaran, perjalanan dari New York ke London dipatok seharga US$711. Cukup mahal untuk ukuran saat itu.

Sekitar tahun 1945, Pan Am mempelopori hadirnya kelas ekonomi modern di penerbangan jarak jauh. Konsepnya mirip maskapai LCC, semakin banyak penumpang terbang semakin besar pula keuntungannya, sekalipun maskapai membanderol harga tiket jauh lebih rendah dibanding maskapai lainnya namun layanan tetap mewah layaknya maskapai full service.

Konsep dari Pan Am rupanya disambut baik penumpang yang terus meningkat. Tak ingin ambil pusing dengan biaya tinggi yang timbul, Pan Am pun memangkas jarak antar kursi atau leg room (legroom) demi memuat lebih banyak penumpang di setiap penerbangan menjadi 38 inci, masih tergolong cukup besar untuk ukuran saat ini, sekalipun posisi kursi dan jendela mulai tidak sejajar.

Seiring waktu, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, maskapai terus memangkas jarak antar kursi menjadi 36 inci, terus turun sampai 34 inci, hingga 32 inci pada dekade 90an. Di beberapa kondisi dan maskapai, leg roomnya bahkan berada di kisaran 28-30 inci.

Rentang 32-34 inci pun pada akhirnya terus bertahan sampai saat ini, dan membuat posisi kursi semakin tidak sejajar dengan jendela pesawat, yang juga mengalami penurunan, dari 34 inci menjadi 31 inci pada pesawat modern.

Baca juga: Pengguna TikTok Guyur Kaki Penumpang yang Naik ke Sandaran Kursi Pesawat

Dikutip dari Quora, kursi pesawat memang didesain se-fleksibel mungkin oleh produsen pesawat atas permintaan maskapai. Jendela tentu saja dibuat lebih dahulu dan sudah paten ditetapkan jumlahnya, berbeda dengan jumlah kursi pesawat yang sekali lagi masih sangat fleksibel mengikuti kebutuhan maskapai.

Dengan begitu, kuncinya adalah motif ekonomi oleh maskapai. Itulah mengapa jendela tidak sejajar dengan kursi pesawat. Sebab, itu memang tidak diperuntukkan untuk kenyamanan, melainkan lebih ke motif ekonomi untuk memuat lebih banyak penumpang di setiap penerbangan.

Dokumen Bocor, Turki Ketahuan Tolak Mentah-mentah Latih Pilot Rusia

Posisi Turki terhadap Rusia memang cukup membingungkan. Di satu sisi mendukung Rusia dengan cara tidak turut memberikan sanksi sebagaimana Barat, di sisi lain terdapat sikap-sikap yang terkesan melawan Kremlin. Salah satunya penolakan untuk melatih pilot sipil Rusia.

Baca juga: Lawan Hegemoni Barat, Iran Gandeng Rusia, Cina, dan India Bentuk Konsorsium Perawatan Pesawat

“Maskapai penerbangan Rusia tidak akan lagi dapat mengirim pilot ke Turki untuk pelatihan simulasi penerbangan (FSTD). Dua untuk pengetatan sanksi, pusat pelatihan penerbangan Turki berhenti bekerja dengan operator dari Rusia,” isi surat pusat pelatihan Turkish Airlines ke maskapai-maskapai Rusia.

Dengan demikian, pusat pelatihan Turki Airlines hari ini memberi tahu Rusia, Rusia Airlines Rusia Bahwa, sesuai dengan pengetatan sanksi oleh Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), paksa untuk berhenti bekerja dengan perusahaan dari Rusia, karena semua FSTD disetujui oleh EASA,” tutupnya, seperti dilansir Telegram Channel Aviatorshina.

Penolakan pusat pelatihan Turkis Airlines ke maskapai-maskapai Rusia pun dikonfirmasi salah seorang pilot dari salah satu maskapai Rusia. Ia menyebut bahwa Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) telah menangguhkan semua sertifikasi kualifikasi Perangkat Simulasi Penerbangan (FSTD) untuk kebutuhan Rusia.

Itu sebab, Turkish Airlines pun bersurat dengan maskapai Rusia dan ini di luar keputusan politik Erdogan yang selama ini terkenal dekat dengan Putin.

“EASA telah menangguhkan semua sertifikasi kualifikasi Perangkat Simulasi Penerbangan (FSTD) yang dikeluarkan oleh ESA untuk asal-usul di Rusia,” jelasnya.

Selain pilot, tim mekanik dari Rusia juga dilarang Turki mengikuti pelatihan dan mengambil lisensi all aircraft maintenance. Siapapun yang melakukan itu, termasuk Turkish Airlines, akan dikenai sanksi dari EASA dan mungkin juga FAA. Hal ini tentu saja semakin menyulitkan posisi Rusia dalam kaitannya dengan penerbangan sipil.

Tak lama setelah perang Rusia-Ukraina meletus pada 24 Februari lalu, Airbus dan Boeing mulai menghentikan pasokan suku cadang, menangguhkan perawatan, dan dukungan teknis untuk seluruh armada mereka yang dioperasikan maskapai-maskapai Rusia, sebagai bagian sanksi AS dan Eropa menyikap invasi Rusia ke Ukraina.

Sebanyak 332 pesawat Boeing dan 304 Airbus saat ini terdaftar dalam barisan armada maskapai-maskapai Rusia.

Meski pasokan suku cadang, perawatan, dan dukungan teknis untuk semua pesawat tersebut untuk sementara waktu di-stop Airbus-Boeing, namun, Rusia mampu mengakalinya dengan mengkanibal atau melakukan kanibalisasi pesawat.

Registrasi pesawat yang sebelumnya dianulir oleh negara-negara tempat pesawat didaftarkan juga diakali Rusia dan Putin dengan mengeluarkan kebijakan registrasi ganda.

Baca juga: Demi Singkirkan AS dan Sekutu, Pengiriman Pertama Pesawat MC-21 Rusia Penantang Boeing-Airbus Tertunda Sampai 2025

Menariknya, sampai saat ini Putin belum mengeluarkan peraturan apapun terkait pilot. Pilot diketahui harus melakukan simulation training atau tes kemampuan terbang dua kali dalam setahun. Pilot yang tidak melakukan itu dilarang terbang di Rusia.

Karenanya, dengan adanya penolakan dari Turki untuk melatih pilot Rusia dan belum adanya payung hukum dari Putin terkait hal itu, bukan tak mungkin pesawat-pesawat Rusia akan mangkrak karena tak ada yang menerbanginya.

Ternyata Kebanyakan Pesawat Saat Ini Mendarat Otomatis (Autoland)

Seiring waktu, kesalahan manusia atau human error di sektor dirgantara terus diminimalisir dengan teknologi canggih. Salah satunya teknologi pendaratan otomatis atau autoland (dalam istilah penerbangan dikenal sebagai zero zero). Meski tak ada data resmi, seseorang di situs Quora menyebut, mayoritas pesawat modern yang saat ini beroperasi mendarat dengan teknologi autoland.

Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

Disebutkan, sebagian besar pilot mengandalkan fitur autoland untuk mendaratkan pesawat secara otomatis. Fitur ini melengkapi fitur autopilot yang juga hampir pasti diaktifkan pilot selama pesawat cruising di udara.

Terkait autoland, ada dua tipe pilot. Pertama, ada yang tetap mengantifkan fitur autoland di segala kondisi, utamanya saat cuaca buruk dimana landasan dan bandara tertutup kabut sehingga visibilitas sangat rendah. Pilot hampir tak bisa melihat apapun kecuali kelap-kelip lampu di runway atau Airfield Lighting System (AFL) saja.

Kedua, pilot mengaktifkan fitur autoland hanya dalam kondisi cuaca buruk. Lebih dari itu, mereka memilih mendaratkannya secara manual. Dalam mengambil keputusan ini atau menilai baik-buruknya cuaca, pilot dibantu dengan instrumen PAPI yang biasanya harus menunjukkan indikator no decision high. Jika cuaca benar-benar tidak memungkinkan, pilot biasanya akan berkoordinasi dengan ATC untuk go-around atau bahkan dialihkan ke bandara lain.

Dalam pelaksanannya, fitur autoland wajib diaktifkan dengan syarat tiga autopilot aktif dan semua indikator dalam kokpit berfungsi. Andai ada satu yang tidak, pendaratan tidak bisa dilakukan dengan autoland dan harus dilakukan secara manual oleh pilot.

Setelah mendarat otomatis dengan fitur autoland, pesawat juga memiliki teknologi canggih bernama autobrake untuk membuat pesawat berhenti sebelum mencapai ujung runway. Setelahnya, pesawat akan diambil alih kembali oleh pilot dan mengarahkannya ke apron yang sudah disediakan, dipandu oleh ATC dan AFL.

Fitur autoland tidak serta merta bisa diaktifkan karena teknologi pesawatnya mendukung, melainkan harus mendapat dukungan teknologi pula dari bandara dan sertifikasi autoland CAT III oleh pilot.

Pada penerbangan di autoland CAT III, pilot memeriksa ulang kecepatan dan jalur pesawat ke landasan pacu dan siap untuk mengambil alih dari komputer, jika terjadi kesalahan sistem. Dalam autoland, pilot menjalani sesi pelatihan intensif dalam simulator di darat yang memiliki tampilan grafik yang sangat realistis, kontrol dan gerakan kokpit akurat menyerupai penerbangan sebenarnya.

Di simulator kokpit dipastikan sangat akurat dan dapat diproduksi kondisi cuaca terburuk. Juga tempat terbaik untuk berlatih dalam situasi CAT III hingga mengetahui batas dan kemampuan pesawat.

Baca juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Dalam 737 WestJet mampu menerbangkan pesawat dengan pendekatan CAT III di ketinggian 15 meter. Ketinggian di mana kapten harus dengan cepat memutuskan apakah akan melakukan pendaratan atau membatalkannya.

Ada radar di bagian bawah pesawat yang mengukur jaraknya ke tanah. Banyak pesawat yang dapat terbang dalam pendekatan zero-zero CAT III penuh dengan komputer on-board tambahan dan sistem yang secara otomatis melacak landasan pacu setelah mendarat, melakukan pengereman dan membawa pesawat ke kecepatan yang aman dalam pendaratannya.