Pertanyaan Favorit: Berapa Lama Mesin Pesawat dapat Menyala? Dan Apakah Mesin Pesawat dapat Dihidupkan Saat di Udara?

Banyak pertanyaan yang ada di pikiran penumpang ketika menggunakan jasa penerbangan. Semisal pada penerbangan jarak jauh, tak sedikit penumpang yang bertanya dalam hati, berapa lama mesin pesawat ini bisa terus-menerus menyala? sementara pesawat terbang melintas lautan nan luas. Kemudian jika mesin mati di udara, apakah mesin pesawat dapat dihidupkan kembali oleh pilot?

Baca juga: Bila Ada Masalah pada Mesin Pesawat, Inilah Cara Pilot untuk Mengetahui dengan Cepat

Menjawab pertanyaan di atas, jawabannya yang presisi akan bergantung pada jenis mesin pesawat apa yang digunakan. Mengenai berapa lama mesin pesawat dapat terus hidup? Maka mesin pesawat dapat terus hidup sepanjang mesin tersebut memiliki bahan bakar dan oli untuk melumasinya.

Dalam beberapa kasus, seperti pembom tempur atau pesawat angkut militer, dalam misi tertentu dapat mengudara lebih dari 24 jam terus-menerus. Para kru dan awak kabin biasanya dapat bergiliran tidur bila perlu.

Singkatnya, dengan pasokan bahan bakar terus menerus, dan penambahan oli bila diperlukan pada pengaturan daya rendah atau menengah. Banyak keausan saat lepas landas, biasanya di situlah panas paling banyak dihasilkan. Turbin/mesin jet dapat berjalan terus menerus selama batas suhu tidak terlampaui, selama tersedia cukup minyak pelumas, selama ada bahan bakar, selama waktu pemeriksaan yang ditentukan tidak terlampaui.

Menghidupkan Mesin Pesawat saat di Udara
Jika mesin dimatikan dalam penerbangan, maka mesin dapat dihidupkan kembali asalkan pesawat memiliki kecepatan udara maju yang cukup sehingga mesin dapat dinyalakan kembali. Dalam kasus di pesawat intai maritim bermesin turboprop P3C Orion, dengan empat mesin yang terpasang, maka salah satu mesin dapat dimatikan untuk menghemat bahan bakar pada penerbangan yang panjang. Faktanya, pesawat tersebut dapat dengan baik, meski melaju dengan tiga mesin saja.

Tetapi untuk kasus mesin jet, mesin tidak dapat mati begitu saja, dan kabarnya mematikan mesin jet biasanya bukan merupakan pilihan tepat. Pesawat jet bukanlah layang-layang (atau pesawat ultralight), sayapnya tidak dibuat untuk terbang tanpa tenaga penggerak.

Baca juga: “Tetap Dingin”, Inilah Kondisi Agar Mesin Pesawat Jet Tidak Overheating

Dikutip dari quora.com, mesin pesawat dapat dihidupkan kembali dalam penerbangan dengan salah satu urutan start udara, dimana bilah turbin terus berputar pada rpm yang telah ditentukan dengan mempertahankan kecepatan udara dan kemudian memasukkan bahan bakar dan pengapian; atau dengan urutan penyalaan normal dari keadaan tidak berputar menggunakan APU atau unit penyalaan elektrik untuk menaikkan sudu turbin hingga rpm penyalaan yang diperlukan.

Terbengkalai, Terowongan Kereta Ini Disulap Jadi Kolam Renang

Pernah membayangkan apa yang terjadi pada terowongan kereta bawah tanah (subway) tak terpakai? Pastinya Anda akan mengatakan terowongan itu akan kosong dan menjadi tempat yang menakutkan apalagi bila terowongan itu memiliki kisah seram saat masa jayanya. Di Paris, justru terowongan kereta yang telah di tinggalkan bisa menjadi satu tempat yang asyik dan unik.

grist.org
grist.org

Dilansir dari grist.org, terowongan kereta yang ditinggalkan atau tak terpakai lagi dibuat menjadi sebuah klub malam, dan kolam renang. Salah satunya stasiun kereta bernama Arsenal yang sudah di tinggalkan selama 75 tahun dan akan dibuat menjadi sebuah kolam renang yang elegan.

Kandidat Walikota Paris bernama Nathalie Kosciusko-Morizet saat berkunjung ke stasiun Arsenal mengusulkan untuk menghidupkan kembali stasiun ini dan tujuh stasiun metro lainnya yang dianggap berhantu. Nantinya jika terpilih, selain sebagai walikota perempuan pertama di kota tersebut akan membuat stasiun yang terbengkalai menjadi lebih ramai seperti masa jayanya dulu.

grist.org
grist.org

Tak hanya membuat klub malam ataupun kolam renang, delapan stasiun yang sudah tak terpakai ini akan dibuat restoran, galeri seni, dan hal lainnya agar terowongan kereta ini tak terbengkalai.

Salah seorang blogger di Paris bernama Messy Nessy mengatakan, stasiun-stasiun terbengkalai ini bukan tutup karena berhantu, melainkan kurangnya masyarakat dalam menggunakan transportasi metro atau kereta. Menurutnya, kadang ada beberapa wisatawan yang sama sekali tidak tahu bahwa ada terowongan kereta di Paris.

grist.org
grist.org

Messy menambahakan, selain stasiun Arsenal, ada tujuh stasiun lainnya yang akan dibangun dan dihidupkan kembali untuk menjadi sebuah tempat baru yakni Champ de Mars, Porte Molitor, Haxo, Croix Rouge, Porte des Lilas, Saint Martin, dan Martin Nadaud. Mantan menteri Ekologi Perancis memiliki kenalan arsitek bernama Manal Rachdi dan Nicolas Laisné sudah membutkan sketsa yang bisa menjadi kenyataan jika Kosciusko-Morizet menang.

grist.org
grist.org

Dulunya stasiun Arsenal ini dibanguntahun 1906 di 4th Arrondissement, Paris dan tutup tahun 1936. Setelah tutup stasiun ini digunakan oleh RATP, operator transportasi Paris sebagai tempat pembuangan barang dan alat-alat percobaan.

 

Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram

Ngomong-ngomong soal pilot wanita, jagad media sosial Instagram baru-baru ini menjadi sorotan, pasalnya seorang pilot wanita berparas cantik yang bernama Madeleine Schneider berhasil membukukan satu juta lebih followers di akun Instagram pribadinya.

Baca Juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Madeleine Schneider ini merupakan seorang Ibu dari satu anak yang berasal dari Munich, Jerman. Selain deret angka yang melebihi satu juta di kolom pengikut Instagram-nya, Madeleine juga menjadi perbincangan karena unggahannya.

Merujuk ke kebiasaan pilot, lazim adanya jika mereka kerap berwisata di destinasi penerbangannya – selama mereka memiliki jadwal yang mumpuni. Begitu halnya dengan Madeleine. Satu yang membedakannya dari pilot kebanyakan adalah Madeleine lebih sering menerbangkan jet pribadi milik orang-orang kaya yang ada di seluruh dunia.

Madeleine Schneider. Sumber: istimewa

Dari situlah Madeleine mulai memanfaatkan ‘waktu senggang’ di tengah tugasnya untuk berwisata. Jika sedang off-duty, Madeleine juga kerap mengajak keluarga kecilnya untuk menikmati keindahan alam. Sebut saja Madeleine pernah menjajakan kaki di Malta, Italia, Brasil, Maladewa, hingga Pulau Dewata Bali.

Namun di antara sekian banyak destinasi wisata yang pernah dikunjungi Madeleine, ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Negeri Paman Sam, karena menurutnya, Amerika Serikat memiliki beragam destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Tentu saja apa yang ‘menimpa’ Madeleine kini tidaklah datang begitu saja – diperlukan pengorbanan ekstra untuk mendapatkan hasil yang lebih wah lagi.

Baca Juga: Sambut Hari Perempuan Internasional, Pilot dan Awak Kabin Air India Seluruhnya Adalah Perempuan

Sementara terkait nominal followers-nya yang tidak sedikit, Madeleine mengaku hanya berusaha untuk tetap humble kepada para pengikutnya – kendati masing-masing dari mereka belum pernah bertemu.

“Saya selalu merespons komentar followers dan berusaha untuk membalas setiap DM (Direct Messages) yang masuk,” ujar Madeleine, dikutip dari laman Daily Mail.

Mana yang Lebih Berbahaya Bagi Pesawat, Sayap Patah atau Kerusakan Mesin?

Kondisi darurat pada pesawat banyak ragamnya, mulai dari landing gear tak keluar untuk mendukung pendaratan, kerusakan mesin, atau mungkin sayap pesawat patah. Terkait dua kondisi terakhir, sebetulnya, mana yang lebih berbahaya bagi pesawat, kerusakan mesin atau sayap patah?

Baca juga: Apa Jadinya Kalau Semua Mesin Mati Saat Pesawat di Udara?

Sebagai moda transportasi paling aman di dunia, pesawat sudah dirancang sedemikian rupa secara desain maupun prosedur pengoperasian agar keamanan dan keselamatannya terjamin.

Seluruh kondisi darurat sudah diperhitungkan dan ada manual book atau langkah-langkah penanganannya, termasuk kerusakan mesin, entah itu salah satu, sebagian atau bahkan seluruh mesin rusak dan tidak berfungsi. Saat ini terjadi, apakah pesawat akan jatuh vertikal layaknya batu jatuh dari langit? Tentu saja tidak.

Pada 22 Juli 1983, pesawat Air Canada Boeing 767 dalam penerbangan dari Montreal ke Edmonton via Ottawa, Kanada, mengalami masalah.

Kapten Robert Pearson, 48 tahun, dengan pengalaman 15.000 jam terbang, dan kopilot Maurice Quintal, 36 tahun, dengan waktu terbang 7.000 jam, mendapati bahwa alarm tekanan bahan bakar rendah pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba berbunyi.

Ketika itu, pilot berasumsi bahwa bahan bakar masih banyak, merujuk pada indikator Flight Management Computer (FMC). Alarm pun dimatikan. Tak lama berselang, alarm yang sama kembali berbunyi dan kru pun memutuskan untuk mendarat di Winnipeg, berjarak sekitar 120 mil.

Saat pesawat mulai turun, mesin kiri mati, diikuti dengan ledakan pada mesin kanan. Alhasil, diketahui pesawat kehabisan bahan bakar di ketinggian 41 ribu kaki atau 12 kilometer dari permukaan tanah.

Habisnya bahan bakar ini terjadi saat pesawat sudah melakukan sekitar setengah perjalanan. Habisnya bahan bakar juga membuat semua mesin serta panel instrumen kokpit elektronik mati. Saat itu, Boeing 767-200 memang jadi salah pesawat jet pertama yang mengadopsi sistem instrumen penerbangan elektronik yang didukung oleh mesin. Praktis, ketika mesin mati, panel juga ikut mati.

Untungnya, turbin udara ram (RAT) cukup untuk memberi daya pada instrumen penerbangan darurat untuk mendukung proses pendaratan. Hanya saja, itu tidak termasuk vertical speed indicator yang menunjukkan kecepatan pesawat dan lokasi dimana pesawat harus mendarat. Singkatnya, pesawat berhasil mendarat darurat dengan selamat tanpa ada korban jiwa.

Lain cerita dengan insiden sayap pesawat patah. Selain langkah-langkah penanganannya di manual book tidak ada, insiden sayap pesawat patah saat di udara juga jarang terjadi. Karenanya, menurut salah seorang eks pilot militer AS di Quora, itu lebih berbahaya jika terjadi karena pilot tidak dilatih untuk menangani itu.

Saat sayap pesawat patah, praktis pesawat akan berputar dan kehilangan lift atau kontrol. Ketika sudah lebih dari dua putara, pesawat disebutnya hampir pasti tidak bisa lagi dikontrol. Dalam kondisi seperti ini, sudah pasti pesawat akan berakhir nahas.

Baca juga: Apakah Kita Berjalan di Sayap, dan Apakah Mungkin Sayap Pesawat Patah saat di Udara?

Namun, tidak menutup kemungkinan ada pilot-pilot bertangan dingin yang mampu mendaratkan pesawat atau paling tidak meminimalisir tingkat kehancuran (damage).

Menjawab pertanyaan di awal, sudah jelas, sayap pesawat patah lebih berbahaya dibanding kerusakan salah satu, sebagian, atau seluruh mesin pesawat rusak.

Apa yang Penumpang Harus Lakukan Saat Ketinggalan Pesawat Saat Transit?

Selain penerbangan langsung, maskapai juga menawarkan penerbangan lanjutan atau penerbangan transit. Tak semua penerbangan transit dilalui dengan lancar oleh penumpang. Ada saja yang ketinggalan pesawat. Saat itu terjadi, apa yang harus penumpang lakukan? Bagaimana dengan kargo penumpang yang sudah terlanjur diangkut pesawat?

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Ini Tips Antisipasi Delay dan Pembatalan Penerbangan

Langkah pertama yang harus dilakukan penumpang adalah memberitahu maskapai. Bagaimana caranya memberitahu maskapai? Penumpang bisa mendatangi loket tiket atau pengaduan maskapai yang berada di bandara.

Tergantung penyebabnya, penumpang bisa saja mendapat dipesankan tiket ke penerbangan berikutnya tanpa membayar sepeserpun. Demikian juga sebaliknya, penumpang bisa saja diminta untuk membayar tiket penerbangan berikutnya.

Dilansir Airhelp, penerbangan lanjutan yang terlewat oleh penumpang lantaran cuaca buruk, sudah pasti akan ditanggung oleh maskapai. Mereka biasanya akan memesankan tiket penerbangan berikutnya. Dalam kasus ini, penumpang biasanya tidak mendapatkan kompensasi karena itu bukan berasal dari kesalahan maskapai.

Namun, bila penerbangan lanjutannya berasal dari maskapai yang sama atau mungkin satu group dengan maskapai di penerbangan sebelumnya, penumpang berhak mendapat makanan dan minuman atau bila perlu penginapan. Tentu dengan catatan maskapai yang bersangkutan bertanggung jawab.

Sebaliknya, jika penerbangan lanjutan bukan berasal dari maskapai yang sama dengan maskapai sebelumnya (saat berangkat ke bandara transit), maskapai tidak berkewajiban untuk memesankan tiket ke penerbangan selanjutnya. Itu berarti, penumpang harus mengurusnya sendiri ke maskapai yang bersangkutan.

Selain cuaca buruk, kemungkinan lain yang menyebabkan penumpang ketinggalan penerbangan lanjutan adalah layover atau tidak cukup waktu untuk pindah dari pesawat sebelumnya ke pesawat selanjutnya.

Sama seperti kasus penumpang ketinggalan penerbangan lantaran cuaca buruk, penumpang juga bisa mendapat penerbangan lanjutan dari maskapai dan mendapat kompensasi berupa makanan dan minuman serta penginapan andai penerbangan pertama dan kedua adalah satu group atau maskapai yang sama. Bila tidak, penumpang harus mengurus penerbangan lanjutan sendiri.

Terakhir, kemungkinan penumpang tertinggal atau kehilangan penerbangan lanjutan karena delay atau pembatalan, maka maskapai akan mendapat bukan hanya tiket secara gratis tetapi juga kompensasi, baik makanan dan minuman serta penginapan, termasuk akses komunikasi dan transportasi ke dan dari bandara.

Penumpang juga berhak mendapat kompensasi dengan nominal yang berbeda-beda, tergantung kebijakan regulator penerbangan sipil setiap negara.

Di luar tiga itu, tertinggal penerbangan transit karena cuaca buruk, layover, dan delay, kemungkinan lainnya ialah akibat kelalaian penumpang. Dalam kondisi ini, penumpang tidak akan mendapat kompensasi dan tiket gratis ke penerbangan berikutnya.

Baca juga: Anda Ketinggalan Penerbangan? Jangan Keburu Panik, Ikuti Langkah Ini!

Selanjutnya, bagaimana dengan bagasi yang sudah terlanjur diangkut pesawat yang penerbangannya terlewat penumpang?

Masih dikutip dari Airhelp, penumpang harus segera melapor ke maskapai untuk kemudian dilacak keberadaan bagasi. Setelahnya, penumpang akan diberi tahu dimana bisa mengambil bagasi tersebut atau penumpang bisa menitipkan alamat pengiriman bagasi jika penumpang tidak ingin mengambilnya sendiri.

Rencana Pembangunan Jaringan Kereta di Bali, Berpusat di Bandara Ngurah Rai, Pilih Trem Baterai atau ART?

Bali bakal punya layanan transportasi berbasis rel, sepertinya sudah lama menjadi wacana. Tapi kapan itu bisa terealisasi? Sepertinya tidak ada yang bisa memastikan. Namun, belum lama ini ada kabar terbaru perihal kereta yang akan mengular di Pulau Dewata. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bali IGW Samsi Gunarta mengatakan keputusan akhir pembangunan infrastruktur kereta listrik di Bali akan diumumkan pada 2023.

Baca juga: Trem Baterai yang Diuji Coba PT INKA Rencananya Melaju di Bogor dan Bali

Dikutip dari JPNN.com (6/9/2022), sebagai titik utama jalur kereta yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Seminyak, Badung. “Masih banyak hitung-hitungannya, tidak sederhana karena akan melibatkan uang besar. Namun, untuk lintasan rencananya dari bandara ke Seminyak,” kata Kadishub Bali IGW Samsi Gunarta di Denpasar. Ada juga rute tambahan yang sedang dalam tahap kajian, yakni rute dari bandara menuju Kota Denpasar melalui Central Parkir, kemudian ke Renon, Sanur, Benoa dan kembali ke bandara.

“Kita masih feasibility study (studi kelayakan), kita harus berpikir, apakah dapat penumpang atau tidak. Pembangunannya target financial closing di 2023 sudah ada kejelasan, siapa membiayai, berapa dibiayai, dan kemudian bagaimana biaya dengan operasional,” kata Gunart. Menurutnya, studi kelayakan harus dibikin matang lantaran ada anggaran besar dalam proyek kereta listrik di Bali ini. IGW Samsi Gunarta mengatakan apabila belum ada kejelasan, maka pembangunan tak dapat dilaksanakan. Yang jelas, keberadaan kereta listrik akan berdampak baik untuk Bali dalam jangka panjang.

Sementara itu, BUMN PT Inka telah mempersiapkan prototipe Trem Baterai untuk salah satunya kelak bisa diuji di Bali. “Sesuai dengan namanya, Trem Baterai ini menggunakan baterai sebagai sumber energi satu-satunya di dalam kereta. Energi baterai tersebut digunakan untuk menggerakkan kereta sekaligus untuk menyalakan AC, kompresor dan lampu penerangan. Karena menggunakan baterai, dalam operasionalnya Tram ini tentu sangat ramah lingkungan dan dapat digunakan di daerah yang tidak terdapat jalur catenary atau listrik aliran atas,“ kata Direktur Utama PT INKA, Budi Noviantoro dalam siaran pers pada tahun 2020 silam.

Prototipe Trem Baterai ini berbobot sembilan tol dan akan melaju di kecepatan 30 km per jam dengan memiliki kapasitas baterai sebesar 30 kWh. Penumpang yang bisa diangkut oleh prototipe Tram Baterai sebanyak 75 orang. Namun, nantinya jika sudah diproduksi masal, INKA akan mengembangkan produk series Trem Baterai dengan meningkatkan spesifikasi sesuai kebutuhan operasionalnya.

Selain dari dalam negeri, Cina juga menawarkan pembangunan jaringan kereta tanpa rel di Bali. Dalam akun resmi Instagram PT KAI, keretaapikita, disebutkan KAI bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sedang melakukan perencanaan dan pembahasan pengembangan angkutan masal perkotaan berbasis rel di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya adalah ART (Autonomous Rail Rapid Transit).

Autonomous Rail Rapid Transit (ART) pertama kali diluncurkan di Zhuzhou, China Tengah, pada tahun 2017, dan digambarkan sebagai bus gandeng berpemandu optik. (ladbible.com)

ART merupakan salah satu teknologi sarana kereta yang baru dikenalkan dan diuji coba oleh CRRC Zhuzhou China, 8 Mei 2018. ART melaju di jalan raya dengan jalur bertanda khusus. ART yang lebih mirip seperti tram namun menggunakan roda karet dan digerakkan dengan tenaga listrik.

Baca juga: Autonomous Rail Rapid Transit, Pelampiasan Cina Setelah Gagal Dengan Straddling Bus?

Pada 18 Mei 2018, Direksi PT KAI berkesempatan menjajal ART. Setelah kunjungan itu, ada kerja sama antara KAI dengan CRRC Zhuzhou China untuk mengembangkan pengoperasian Tram ART tersebut di Indonesia melalui penandatanganan MoU antara KAI dengan CRRC TEC 8. PT KAI bakal mendatangkan ART buatan China ini untuk dioperasikan di Bali. Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo menjelaskan bahwa ART bakal menghubungkan Bandara Ngurah Rai menuju kawasan Sanur.

Cuma Angkut Satu Penumpang, Apakah Pesawat tetap Terbang atau Penerbangan Dibatalkan?

Saat peak season, maskapai-maskapai di dunia kesulitan memenuhi demand yang sangat tinggi. Sebaliknya, di luar peak season, maskapai justru mencari-cari penumpang karena demand yang sangat rendah. Di beberapa kondisi, kabin bahkan bisa saja kosong dan hanya diisi oleh satu penumpang. Dalam kondisi tersebut, apakah penerbangan akan tetap dilanjutkan atau dibatalkan mengingat itu jauh dari break event point (BEP) atau break even load factor?

Baca juga: Meski Harus Terbang dengan Satu Penumpang, Maskapai Belum Tentu Merugi!

Maskapai penerbangan memang bisnis yang berisiko tinggi. Sedikitnya ada empat faktor yang membuat maskapai selalu rugi. Salah satunya adalah cost yang sangat tinggi.

Karenanya, maskapai memiliki target pengoperasian minimal mencapai BEP atau break even load factor untuk meminimalisir kerugian. Andai itu tak tercapai, belum tentu maskapai akan tetap terbang, demikian pula sebaliknya. Itu melibatkan banyak faktor. Salah satunya slot landing dan lepas landas.

Sebuah maskapai diketahui bisa beroperasi di sebuah rute lantaran telah mendapat landing slot dan take-off slot di bandara awal dan bandara tujuan. Ini biasanya disebut slot bandara. Slot bandara ini adalah fasilitas untuk mendarat, menurunkan penumpang, mengisi bahan bakar, mengambil penumpang baru dan kemudian lepas landas lagi yang semuanya sudah ditentukan dan diatur kerangka waktunya.

Mekanisme dan kerangka bisnis slot bandara diatur oleh Worldwide Airport Slot Guidelines (WASG), dibantu dengan pedoman dari IATA dan Airports Council International (ACI).

Slot bandara ini harus diupdate setiap enam bulan sekali untuk penerbangan internasional. Adapun penerbangan domestik bisa berbeda-beda tergantung regulator.

Selain harus meng-update slot bandara setiap enam bulan, maskapai juga harus berhasil menggunakan setidaknya 80 persen slotnya. Bila berhasil, maka maskapai diizinkan untuk mempertahankan slot pada musim berikutnya. Sistem dikenal sebagai “grandfather rights”.

Dari penjelasan slot bandara di atas, dalam kaitannya dengan tetap terbang tidaknya sebuah pesawat dengan hanya satu penumpang, andai maskapai sudah berhasil menggunakan 80 persen slotnya dalam periode enam bulan tersebut, bukan tak mungkin maskapai akan membatalkan penerbangan agar tidak rugi.

Bila belum (mencapai 80 persen), jangankan satu penumpang, tanpa penumpang pun maskapai tetap akan menerbangkan pesawat untuk mempertahankan slot bandara. Ini yang pada akhirnya menyebabkan banyaknya ghost flight beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, slot bandara bukan satu-satunya faktor penentu. Ada juga faktor lain seperti muatan kargo, penerbagan balik, dan reputasi.

Sudah jadi rahasia umum bahwa di setiap penerbangan pesawat mengangkut bukan hanya penumpang tetapi juga kargo. Bila kargo dalam kondisi penuh meski hanya memuat satu penumpang di kabin utama, penerbangan biasanya akan tetap dijalani dan umumnya tetap untung.

Demikian juga penerbangan kembali ke bandara asal. Maskapai biasanya tetap akan melakoni penerbangan ke bandara tujuan meski hanya satu penumpang. Sebab, penerbangan baliknya sudah pasti akan penuh karena satu dan lain hal.

Dalam kasus di Rusia Rabu lalu, misalnya, dimana warga berbondong-bondong keluar Rusia usai Putin mengumumkan mobilisasi parsial ke Ukraina sekitar 300 ribu tentara cadangan, maskapai luar negeri, semisal Turkish Airlines, bukan tidak mungkin berangkat dari Turki ke Rusia dengan hanya satu penumpang, tetapi di penerbangan baliknya seluruh kursi terisi penuh.

Baca juga: Bak Raja, Pria Asal Lithuania Menjadi Satu-Satunya Penumpang Pesawat Tujuan Italia

Faktor reputasi juga tak kalah penting menentukan. Andai kargo pun kosong dan penumpang di kabin utama hanya satu orang serta penerbanan baliknya juga dipastikan tak mencapai break even load factor, penerbangan akan tetap dijalankan bila mempertimbangkan faktor tersebut. Sebab, ini akan meningkatkan kepercayaan penumpang di masa mendatang dan citra maskapai akan meningkat.

Menjawab pertanyaan di atas, umumnya maskapai tetap akan terbang walau dengan hanya satu penumpang di kabin. Tentu dengan berbagai pertimbangan sebagaimana dijelaskan di atas.

Cek Fakta, Hoax Video Robot Wanita Menyapa di Bandara Tokyo, Aslinya adalah Aksi Seorang Model di Stasiun

Seorang model wanita asal Jepang yang berperan sebagai robot telah membuat heboh netizen, pasalnya akibat unggahan yang salah, entah itu disengaja atau tidak, mengakibatkan publik global mengira sosok wanita yang tengah menyapa penumpang di Bandara Tokyo adalah robot sungguhan.

Baca juga: Bandara Minneapolis Hadirkan “Gita,” Robot Pengantar Makanan ke Pelancong

Sebuah video telah dilihat puluhan ribu kali setelah beredar bersamaan dengan klaim bahwa video itu menunjukkan robot ‘hidup’ menyapa dan memeluk penumpang di Bandara di Tokyo. Namun, klaim itu ternyata salah, dikutip dari AFP Fast Check – factcheck.afp.com (14/9/2022), disebutkan bahwa video tersebut sebenarnya memperlihatkan seorang model Jepang yang berperan sebagai robot dalam sebuah acara ‘pelukan bebas’ di Tokyo pada tahun 2019. Rekaman itu pun bukan diambil bandara, melainkan di luar Stasiun Shimokitazawa di ibu kota Jepang.

Video itu diunggah di Facebook pada 8 Januari 2022, di mana telah dilihat lebih dari 20.000 kali. Dalam video ber-caption disebut, “Di bandara Tokyo Jepang, sebuah robot ikonik dan menarik bertugas menyapa dan memeluk penumpang. Apakah dia masih ada jika dia berada di Indonesia… atau akankah dia hilang?” membaca caption berbahasa Indonesia dari postingan tersebut.

Rekaman satu menit menunjukkan seorang wanita melambaikan tangannya dan menggerakkan kepalanya dengan cara robot, diikuti oleh adegan dia memeluk orang satu per satu. Video tersebut telah dilihat lebih dari 38.000 kali setelah dibagikan bersamaan dengan klaim serupa di Facebook, YouTube, Twitter dan TikTok.

AFP menemukan bahwa video itu memang difilmkan di luar Stasiun Shimokitazawa di Tokyo — bukan di bandara di ibu kota Jepang, seperti yang diklaim di beberapa unggahan menyesatkan.

Bertindak sebagai model yang dikira sebagai robot ternyata adalah Takayama, ia adalah seorang “artis” lepas sebagai aktor android. Dia telah bertindak sebagai android dalam dua film pendek komersial, “Christmas in 2042” dan “Sakura in 2045”. Dalam posting blog yang Ia terbitkan dan tweet pada 16 Oktober 2019, dirinya menulis tentang “bertindak sebagai android” dalam acara pelukan bebas di depan Stasiun Shimokitazawa.

Baca juga: Akhirnya Robot Pembuat Mie Soba Mulai Beroperasi di Stasiun Jepang

Takayama terlihat mengenakan gaun hitam-putih yang sama di beberapa postingan media sosialnya, seperti di sini di YouTube dan di sini di Instagram, serta di sampul buku perjalanannya.

Hitachi Rail Luncurkan “Blues” di Italia – Kereta Bertenaga Hybrid, Bisa Pakai Listrik Pantograf, Baterai dan Diesel

Ada kabar terbaru seputar dunia teknologi perkeretaapian, dimana Hitachi Rail meluncurkan kereta tri-mode power untuk Trenitalia, operator kereta api Italia, di InnoTrans 2022. Hitachi Rail dan Trenitalia pada 21 September 2022 meluncurkan kereta hybrid tri-mode “Blues”, yaitu kereta yang dapat beralih dari adopsi tenaga baterai, listrik atau diesel, kereta canggih ini akan memasuki layanan penumpang di Italia pada akhir tahun ini.

Baca juga: Desiro ML Cityjet Eco, Kereta Bertenaga Baterai Elektro-Hybrid dari Siemens Mobility

Dikutip dari railwayage.com (22/9/2022), disebutkan Hitachi Rail akan memasok 135 unit kereta hybrid Blues Train tri-mode ke Trenitalia, dengan nilai kontrak mencapai US$1,8 miliar (€1,2 miliar). Hitachi mengatakan, kereta yang berasal dari platform Masaccio memiliki kemampuan untuk beroperasi dengan mulus di jalur listrik dan non-listrik.

Pada rute yang dialiri listrik, kereta ini menggunakan pantograf untuk menarik daya dari saluran udara. Namun, ketika pindah ke jalur non-listrik, biasanya rute regional yang lebih kecil, kombinasi baterai dan tenaga diesel mengambil alih. Saat berada di dekat stasiun, baterai memberi daya kereta sepenuhnya, menghilangkan emisi termasuk NOx yang berbahaya dan mengurangi polusi suara.

Baterai pada kereta ini dapat diisi ulang saat kereta beroperasi, baik dalam mode diesel maupun listrik.” Pabrikan mencatat bahwa kereta, yang dapat beroperasi di seluruh Eropa, dijadwalkan untuk mengurangi emisi karbon dan konsumsi bahan bakar hingga 50 persen.

Diproduksi di pabrik Hitachi Rail di Pistoia dan Naples, Italia, kereta empat gerbong baru ini dapat mencapai kecepatan maksimum sekitar 160 km per jam) dan menampung hingga 300 penumpang yang duduk. Hitachi mencatat bahwa daya ekstra yang ditawarkan oleh baterai on-board memberikan kinerja akselerasi yang lebih baik dibandingkan dengan kereta diesel yang ada. Selain itu, Kereta Blues dilengkapi dengan persinyalan digital European Rail Traffic Management System (ERTMS), standar rel Eropa.

Baca juga: Operator Kereta India Manfaatkan Energi Surya dan Angin, Hemat Biaya Operasioal Secara Signifikan

Menurut Hitachi, armada ini memiliki kapasitas yang lebih besar untuk bagasi dan sepeda, AC, lebih banyak USB dan soket daya untuk konektivitas, dan area khusus untuk anak-anak. Kereta ini dirancang untuk menyertakan akses pintu tingkat platform untuk meningkatkan aksesibilitas serta layar informasi penumpang ukuran 24 inci dan teknologi penghitungan penumpang.

Inilah Tiga Sumber Kebisingan Pesawat dan Cara Industri Meredamnya

Sebagai moda transportasi paling aman di dunia, pesawat bukan tanpa celah atau kekurangan. Salah satu kekurangan pada pesawat adalah tingkat kebisingan tinggi (polusi suara). Kebisingan bukan hanya membuat orang yang mendengarnya tak nyaman tetapi juga berdampak pada kesehatan. Sedikitnya ada tiga sumber penyebab kebisingan pada pesawat dan cara industri penerbangan meredamnya.

Baca juga: APU Beraksi, Inilah Sumber Suara Bising yang Kerap Anda Dengar Saat Naik dan Turun Pesawat

Polusi suara pesawat atau aircraft noise pollution sudah menjadi makanan sehari-hari bagi pekerja bandara, baik itu staf darat maupun udara. Polusi suara pesawat (disebut juga pencemaran suara) telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan tidur, gangguan jantung (kardioviskular) dan stres.

Polusi suara atau kebisingan dari pesawat, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, disebabkan oleh tiga hal; mesin pesawat, badan pesawat, dan auxiliary power unit (APU).

  1. Mesin Pesawat

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sumber utama penyebab kebisingan pada pesawat adalah mesin pesawat. Terdapat beberapa jenis mesin atau engine dari pesawat, diantaranya, turbojet engine, turboporop engine, turbofan engine, turboshaft engine.

Pesawat narrowbody, setidaknya dibutuhkan waktu ground run sekitar 30-35 detik untuk lepas landas atau saat roda pesawat mulai meninggalkan runway. Tetapi, balik lagi, semuanya sangat tergantung dengan faktor lain, sebagaimana yang telah disebut di atas.

Meski begitu, lebih atau kurang dari 30-35 detik waktu yang dibutuhkan pesawat untuk lepas landas, yang pasti pilot baru berani menarik throttle-up saat pesawat sudah mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau decision speed (V1). Biasanya, V1 pada pesawat narrowbody berkisar antara 120 sampai 140 knot.

Sedangkan untuk pesawat-pesawat widebody, pesawat membutuhkan ground run selama 50 detik untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan, juga antara 120 dan 140 knot, dan kemudian lepas landas.

Dengan kecepatan tersebut, tak heran bila mesin pesawat mengeluarkan suara sangat bising. Ini pula yang membuat pesawat diatur agar tidak melewati pusat kota karena suara bising yang dihasilkan. Jangankan saat di bandara, saat berada di udara pun suara bising pesawat masih terdengar jelas.

2. Badan Pesawat

Selain mesin, badan pesawat itu sendiri juga menghasilkan suara bising. Di kalangan peneliti, badan pesawat sebagai sumber kebisingan dan inefisiensi bukan hal aneh.

Ini pula yang menjadi fokus mereka dalam mencari solusi atas kebisingan itu, salah satunya ialah melapisi badan pesawat dengan kaca film yang strukturnya terinspirasi dari kulit ikan hiu. Ini dianggap dapat mengurangi gesekan yang menjadi sumber kebisingan pada badan pesawat.

3. Auxiliary Power Unit (APU)

Terakhir, yang menjadi sumber kebisingan adalah unit daya tambahan (APU). Sebelum mesin dinyalakan, pesawat tetap menghasilkan kebisingan dari pengoperasian APU untuk mendinginkan kabin, sebagai sumber penghasil electrical power dan pneumatic pada saat di darat dan pada saat terbang, serta start engine.

Mengingat konsekuensi akibat kebisingan pesawat berpotensi industri kedirgantaraan global mulai mencari cara agar polusi suara pesawat dapat diminimalisir, baik melalui kebijakan ataupun inovasi teknologi.

Baca juga: Yuk! Pahami Berbagai “Bunyi Bising” di Dalam Kabin Pesawat

Dari segi kebijakan, maskapai diatur agar pilot lepas landas dengan cara se-senyap mungkin atau dalam pedoman ICAO disebut NADP 1 dan NADP 2. Ada pula kebijakan mengenakan biaya ekstra untuk penerbangan malam hari.

Dari segi inovasi, para ahli berupaya keras untuk menciptakan mesin jet yang lebih senyap, badan pesawat yang lebih licin sehingga minim gesekan, dan lainnya.