KC-46A Pegasus – Pesawat Tanker Modern dari Platform Desain Boeing 767

Selain pesawat tanker KC-10 Extender yang berasal dari platform pesawat angkut komersial Douglas DC-10, maka ada KC-46A Pegasus, yakni pesawat tanker militer yang berasal dari platform pesawat sipil Boeing 767. Berbeda dengan KC-10 yang triple engine, maka KC-46 mengusung twin engine. Sebagai generasi pesawat tanker terbaru untuk Angkatan Udara AS (USAF), KC-46 dipersiapkan sebagai pengganti KC-10.

Baca juga: McDonnell Douglas KC-10 Extender, Pesawat Pengisi Bahan Bakar yang Disulap dari DC-10

KC-46A Pegasus memang sebangun dengan Boeing 767, namun jangan salah kira, pesawat ini sudah mendapat uprade sistem terbaru, diantaranya kokpitnya mengacu pada standar yang digunakan pada Boeing 787 Dreamliner, pun mesinnya menggunakan standar yang dipakai Boeing 777, yaitu Pratt & Whitney PW4062 turbofan yang menghasilkan 62.000 thrust per mesin.

Meski terbilang pesawat tanker baru, lantaran baru terbang perdana pada 25 September 2015, kapasitas bahan bakar yang dapat dibawa Pegasus masih jauh di bawah Extender yang berasal dari platform pesawar trijet Douglas DC-10 30.

Boeing 767 tertua di dunia, berusia nyaris 40 tahun, masih aktif beroperasi bersama ABX Air, maskapai kargo asal AS. Foto: Venkat Mangudi via Wikimedia Commons

Sebagai pesawat tanker andalan AS, Pegasus mendapat penguatan airframe dibanding Boeing 767 standar. Menjawab tuntutan untuk ‘menyusui’ pesawat di udara, ada empat eksternal fuel tanks yang disiapkan dengan jumlah bahan bakar yang bisa disalurkan hingga 96.297 kg. Namun total bahan bakar yang dibawa, termasuk untuk kebutuhan internal menjadi 111 ton.

Seperti lazimnya pesawat tanker modern, Pegasus bisa melayani metode hose dan boom. Untuk metode hose wujudnya berupa wing air refueling pods dan drogue pada masing-masing sayap, plus satu drogue pada centerline. Ini artinya dengan metode hose pesawat dapat menyusu tiga pesawat sekaligus. Sementara metode boom mengacu pada advanced fly by wire refueling boom.

Seri 767 dihadirkan Boeing sebagai jawaban untuk mengembangkan pesawat widebody twinjet yang lebih kecil dari Queen of the Skies. Awalnya, kehadiran pesawat widebody dengan lebar pesawat terkecil itu cukup mentereng. Prediksi Boeing bahwa maskapai membutuhkan widebody yang lebih kecil benar adanya. Kiprah Boeing 767 terus mentereng sampai 1994 atau 13 tahun setelah terbang perdana.

Baca juga: Miris, Ternyata Kehadiran 777 dan 787 Jadi Biang Kerok Boeing 767 Tak Laku Dipasaran

Namun lewat dari tahun 1995, debut Boeing 767 mulai redup. Usut punya usut ternyata, penyebab senjakala Boeing 767 akibat dari strategi Boeing itu sendiri, yaitu dengan meluncurkan Boeing 777. Hal itu kemudian diperparah dengan hadirnya Boeing 787 Dreamliner pada 2011

Kereta Djoko Kendil “Tamu Spesial” yang Dinanti, Akhirnya Tiba di Jabodetabek

Momen yang dinanti memang sangat ditunggu – tunggu kehadiran rangkaian KA spesial yang akan berkunjung ke wilayah Jabodetabek. Bahkan ada yang pertama kali datang setelah melakukan uji coba di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Inilah rangkaian KA spesial dengan nama Djoko Kendil dan Kereta Ukur Jalan Rel. Kedua kereta ini memang sangat dinantikan bagi penikmat fotografi di wilayah Jabodetabek. Banyak informasi kerap kali hadir di jagad media sosial tentang kehadiran rangkaian kereta tersebut. Alhasil pada Juli 2022 ini akhirnya rangkaian tersebut datang ke Ibukota Jakarta.

Baca juga: KA Djoko Kendil, Antara Tempo Doeloe dan Saat Ini

Perjalanan rangkaian KA Djoko Kendil ternyata dikirimkan kembali yang semula dari Kota Solo menuju DKI Jakarta. Perjalanan KA tersebut selama seharian penuh pada Kamis, 14 Juli 2022. Keberangkatan dari Stasiun Solo Balapan pada pukul 04.00 dan tiba di Stasiun Manggarai pukul 00.15 dini hari. Pengiriman rangkaian KA Djoko Kendil berlangsung alot dan lambat. Kecepatan yang di tempuh selama perjalanan tidak lebih dari 45 km/jam.

Selain rangkaiannya yang sudah tua karena dioperasikan sejak tahun 1932, rangkaian ini merupakan aset paling penting di perekeretaapian Indonesia karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Saat ini rangkaian yang terdiri dari 2 unit kereta bernomor IW 38221 dan IW 38212 ini tersimpan di Balai Yasa Manggarai, Jakarta Selatan untuk dilakukan perawatan. Karena beberapa bocoran informasi yang diperoleh, rangkaian KA Djoko Kendil akan digunakan untuk kegiatan negara termasuk merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Lain halnya pengiriman KA Djoko Kendil dari Solo ke Jakarta, pengiriman kereta berikutnya adalah Kereta Ukur Jalan Rel dan LAA. Seperti yang diberitakan kabarpenumpang.com kereta ukur yang didatangkan langsung dari Plasser & Therurer Austria ini sempat dilakukan uji coba dan pengecekan di Balai Yasa Mekanik, Cirebon. Kemudian diuji cobakan untuk lintas menengah, yaitu Cirebon – Brebes pp. dan Cirebon – Prupuk pp. Dan hari ini kereta ukur tersebut berada di wilayah Daop 1 Jakarta untuk melakukan uji coba lintas dan sekaligus uji coba pengecekan LAA (Listrik Aliran Atas).

Baca juga: Desas – desus Akan Dikembalikan, Djoko Kendil Lakukan Uji Coba Lintas di Kota Solo Sebelum Pengiriman

Perjalanan pengiriman kereta ukur tersebut memang dilakukan hari ini (15/7) dan langsung menuju ke Depo KRL Depok untuk dilakukan pengecekan. Belum diketahui akan dilakukan pengecekan di lintas mana lagi untuk wilayah Daop 1 Jakarta ini, yang pasti keberadaan keret ukur tersebut kurang lebih 5 hari berada di Jabodetabek. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Boeing 767, Pesawat Widebody dengan Lebar ‘Terkecil’ di Dunia

Setelah sebelumnya mengupas tuntas pesawat jet komersial terpendek di dunia, kali ini, redaksi akan membahas seputar pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia. Adakah di antara pembaca sekalian yang bisa menebak, sebaik Anda menebak pesawat komersial terbesar serta pesawat komersial terpanjang di dunia?

Baca juga: Pesawat Jet Komersial Terpendek di Dunia Rupanya Warisan Jerman Barat

Sebelum membahas lebih lanjut terkait hal itu, mungkin ada baiknya mengupas tuntas terlebih dahulu definisi pesawat widebody itu sendiri.

Dilansir alternativeairlines.com, widebody atau pesawat berbadan lebar adalah pesawat yang mampu mengangkut penumpang dalam jumlah besar. Umumnya, pesawat berbadan lebar digunakan untuk rute-rute jarak jauh ataupun menengah, baik penumpang maupun kargo, sekalipun ada juga maskapai yang menggunakan widebody untuk jarak pendek, salah satunya Emirates yang mengoperasikan rute terpendek A380 di dunia.

Dari segi jumlah penumpang, umumnya widebody mengangkut antara 200-850 penumpang dengan konfigurasi tiga kelas ataupun full ekonomi. Untuk konfigurasi full ekonomi, formasinya berbeda-beda, bergantung pada kebijakan masing-masing, entah 2-3 -2, 3-3-3, atau 3-4-3.

Pesawat widebody juga diartikan sebagai pesawat dengan dua lorong, sekalipun hanya memiliki dua mesin, yang mematahkan pendapat dimana widebody diartikan sebagai pesawat dengan empat mesin. Sedangkan dua ataupun satu tingkat, hal itu tidak menjadi acuan sebuah pesawat disebut widebody. Lagi pula, pesawat widebody dua tingkat jumlahnya tak banyak.

Selain Airbus dan Boeing, di dunia, ada begitu banyak pabrikan yang memproduksi pesawat widebody, mulai dari Lockheed, Ilyushin, McDonnell Douglas, dan CRAIC, perusahaan patungan antara COMAC Cina dan Rusia United Aircraft Corporation.

Rata-rata dari pabrikan di atas, widebody yang diproduksi memiliki lebar pesawat sekitar 5 m, seperti Boeing 777X seluas 5.94 m, Airbus A350 5.61 m, Lockheed L-1011 5,77 meter, Ilyushin IL-96 5,70 meter, McDonnell Douglas DC-10 5.69 meter, dan CRAIC CR929 -yang diperkirakan bakal terbang pada 2023- seluas 5,61 meter.

Baca juga: Stratolaunch, Pesawat dengan Sayap Terlebar di Dunia Sukses Terbang Perdana

Di luar itu, Airbus dan Boeing punya pesawat jumbo dengan lebar lebih dari enam meter. Pesawat komersial terbesar di dunia buatan Airbus, A380 sejauh ini menjadi pesawat widebody dengan lebar terbesar mencapai 6,54 meter. Adapun Queen of the Skies Boeing 747 tak terpaut jauh, dengan luas mencapai 6,10 meter.

Kebalikan dari A380 dan Boeing 747, pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia rupanya datang dari sebuah pesawat buatan tahun 1981, Boeing 767. Pesawat yang di antaranya pernah dioperasikan oleh All Nippon Airways (ANA), Japan Airlines, Delta Air Lines, dan United Airlines ini hanya memilliki lebar 4,72 meter. Pesawat ini bahkan masih terlampau cukup jauh dari pesawat widebody dengan lebar terkecil kedua, Airbus A330 dan A300, dengan lebar 5,28 meter.

Jreeng! Ternyata Airport Tax Diam-diam Naik, Pantas Harga Tiket Pesawat Mahal

Tiket pesawat mahal belakangan dikeluhkan penumpang. Diketahui, kenaikan harga Avtur menjadi penyebabnya. Di luar itu, ternyata kenaikan harga tiket pesawat terbang juga disebabkan oleh naiknya Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau Passenger Service Chargeatau biasa juga disebut airport tax yang cukup signifikan.

Baca juga: Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Tiket Pesawat 20 Persen dari TBA Gegara Avtur Naik

Menurut Ketua Umum APJAPI (Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia), Alvin Lie, airport tax sudah naik antara 20-40 persen di bandara-bandara sejak Juni 2022. Anehnya, kenaikan itu dilakukan secara diam-diam tanpa adanya sosialisasi kepada penumpang.

Keanehan semakin menjadi karena biasanya dan sampai sebelum pandemi Covid-19, kenaikan PJP2U selalu diumumkan ke publik dan dilakukan secara transparan, sehingga masyarakat tahu kenaikan tiket pesawat bukan karena harga tiket pesawat itu sendiri oleh maskapai melainkan juga oleh operator bandara lewat PJP2U.

“Sebelum pandemi (Covid-19), kenaikan PJP2U ini selalu diumumkan sebelum diberlakukan. Kenapa kali ini diberlakukan tanpa diberitahukan jadi seolah-olah yang naik itu harga tiket pesawat,” jelasnya kepada KabarPenumpang.com, Jumat (15/7)

“Konsumen tidak tahu bahwa komponen kenaikan itu tidak hanya kenaikan harga tiket pesawat tetapi juga ada kenaikan tiket pesawat. Jadi tidak transparan tidak diumumkan ke publik tau-tau naik dan tidak ada pemberitahuan konsumen taunya harga tiket naik,” tambahnya.

“Sangat disesalkan para operator bandara tidak mengumumkan secara transparan kenaikan ini sehingga terkesan yang naik adalah harga tiket pesawat,” ujarnya.

Menurut ketua umum yang juga Mantan komisioner Ombudsman RI itu, pemberlakukan kenaikan saat ini juga tidak tepat, karena mendorong makin mahalnya biaya transportasi angkutan udara.

“PJP2U sendiri memang setiap dua tahun ditinjau oleh kementerian perhubungan. Memang ada peningkatan fasilitas, tambahan fasilitas baru, dan sebagainya. Namun, waktunya ini tidak tepat. Jadi timingnya,” ungkapnya.

Maka dari itu, ia berharap Menteri Perhubungan menunda pemberlakuan kenaikan PJP2U dan mewajibkan pengelola bandara untuk mengumumkan kenaikan tarif PJP2U minimal satu bulan sebelum kenaikan diberlakukan.

Kenaikan harga tiket pesawat memang sudah terjadi sejak beberapa bulan belakangan. Pada bulan April lalu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengizinkan maskapai penerbangan menaikkan harga tiket pesawat akibat kenaikan harga Avtur dunia. Kenaiakan tarif tiket pesawat mulai berlaku 18 April kemarin dan akan dievaluasi setiap tiga bulan.

Baca juga: Harga Tiket Pesawat Naik Gila-gilaan, Bukan Hanya di Indonesia, Ini Penyebabnya!

Kenaikannya sendiri dibedakan menjadi dua mengikuti jenis pesawat, jet dan propeller. Maskapai yang mengoperasikan pesawat jet, diizinkan menaikkan harga tiket sebesar 10 persen dari tarif batas atas. Sedangkan untuk pesawat propeller, maskapai diizinkan menaikkan harga tiket sebesar 20 persen dari tarif batas atas.

Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 68 Tahun 2022 tentang Biaya Tambahan (Fuel Surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri yang mulai berlaku sejak ditetapkan pada 18 April 2022.























Bandara Terbesar di Inggris Kacau Gegara Kekurangan Air: Toilet Tutup, Penumpang Kebingungan

Bandara Gatwick mengalami kekacauan lantaran toilet bandara tersebut terpaksa ditutup. Ini terjadi lantaran pasokan air dari perusahaan air minum (PAM) setempat, SES Water, terhenti akibat ledakan pada pipa. Penumpang pun kebingungan atas kondisi ini. Tak hanya itu, banyak restoran dan outlet lainnya terpaksa tutup lantaran tidak ada air di bandara.

Baca juga: Bikin Kaget Penumpang, Toilet Bandara Ini Isinya Sayuran: Mungkin Ada yang Ingin Masak

Laporan media lokal yang dikutip Simple Flying, hanya dua toilet di salah satu terminal Bandara terbesar dan tersibuk kedua di Inggris setelah Bandara Heathrow itu yang beroperasi penuh. Itupun juga dengan aliran air yang kecil. Kondisi ini menyebabkan antrean cukup panjang.

Kondisi tersebut diperparah dengan gelombang panas yang menerjang. Inggris, dan negara Eropa lainnya, tengah dilanda suhu panas ekstrem. Diperkirakan, Negeri Ratu Elizabeth itu akan mengalami suhu panas dalam beberapa hari mendatang.

Suhu tertinggi diperkirakan mencapai 39 derajat celcius. Ahli metologi memperkirakan gelombang panas akan lebih sering terjadi sebagai dampak dari perubahan iklim.

Suhu tinggi 20 derajat celcius seharusnya menjadi suhu normal di sebagian wilayah Inggris hingga akhir pekan pertengahan Juli 2022. Namun, suhu diperkirakan akan mengalami kenaikan hingga 31 derajat di kota-kota seperli London dan Oxford.

Kantor meteorologi dan badan Keamanan Kesehatan Inggris telah mengeluarkan peringatan gelombang panas di beberapa wilayah Inggris.

Selain itu, pakar perubahan iklim telah memperingatkan bahwa negara-negara yang ada di belahan bumi saat ini perlu segera beradaptasi dengan gelombang panas yang akan terjadi berulang.

Di tengah gelombang panas tersebut, permintaan air meningkat, baik rumah, perkantoran, maupun bandara. Kerusakan pada aliran air SES Water sampai pasokan air ke bandara tersendat tentu menjadi musibah besar bagi penumpang petugas di bandara tersebut.

Sampai saat ini, petugas dari PAM tersebut masih melakukan proses perbaikan dan diharapkan itu segera selesai.

Sementara itu, pihak bandara melakukan beberapa langkah darurat untuk menanggulangi masalah ini, seperti mengirimkan mobil tanker air serta menyediakan minuman air kemasan untuk penumpang minum maupun penggunaan lainnya.

“Kami telah mengidentifikasi sumber air yang meledak di Shipley Bridge, dan bekerja keras untuk menyelesaikannya. Seiring kemajuan kami dengan perbaikan, kami berharap ini akan mulai memulihkan tekanan ke daerah sekitarnya,” kata juru bicara SES Water.

Baca juga: Aksi Prank YouTuber ‘Welcome to Luton’ di Bandara Gatwick Bikin Penumpang Panik

“Masalah dengan pasokan Air SES ke Gatwick dan daerah sekitarnya pagi ini telah menyebabkan tekanan air lebih rendah dari biasanya di seluruh bandara. Kami bekerja sama dengan SES Water untuk memastikan masalah ini diselesaikan secepat mungkin,” jelas juru bicara Bandara Gatwick.

“Air kemasan tersedia untuk penumpang dan staf di seluruh bandara dan tindakan darurat lainnya sedang dilakukan untuk memastikan kesejahteraan penumpang kami. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang,” tambahnya.

McDonnell Douglas KC-10 Extender, Pesawat Pengisi Bahan Bakar yang Disulap dari DC-10

McDonnell Douglas DC-10 dahulu cukup kesohor di jagat penerbangan komersial, termasuk di Indonesia. Pada dekade tahun 70an, pesawat tersebut menjadi salah satu armada andalan flag carrier Garuda Indonesia.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Meski saat ini pesawat tersebut sudah disuntik mati, namun pesawat yang dibangun berdasarkan DC-10 masih terbang sampai sekarang, salah satunya pesawat pengisi bahan bakar KC-10 Extender, yang baru saja membukukan 42 tahun operasi.

Dihimpun dari Simple Flying dan Indomiliter.com, DC-10 lahir sebagai jawaban McDonnel Douglas setelah kemunculan Boeing 747-100.

DC-10 pertama kali meluncur pada 29 Agustus 1970, dan dioperasikan perdana oleh maskapai American Airlines pada 5 Agustus 1971. Pesawat ini disasar untuk memenuhi permintaan maskapai yang melayani rute penerbangan jarak menengah – jauh, yaitu penerbangan dengan jarak di rentang 3 ribu sampai 9 ribu kilometer.

Setelah sukses di sipil, manufaktur mulai menggarap versi militer untuk memenuhi pesanan Angkatan Laut Amerika Serikat (USAF). Alih-alih memilih DC-10, USAF justru memilih MD-10 dan diamini oleh McDonnell Douglas untuk melengkapi sekaligus menggantikan KC-135 Stratotanker dalam operasi pengisian bahan bakar udara.

Militer AS merasa perlu pesawat pengisi bahan bakar baru usai Perang Vietnam karena KC-135 Stratotanker gagal dalam beberapa parameter.

Tak butuh waktu lama, KC-10 Extender sukses terbang perdana pada 12 Juli 1980 dan sortie pengisian bahan bakar udara pertama dilakukan kemudian pada tahun yang sama pada 30 Oktober dengan pesawat angkut C-5. Setahun berikutnya atau pada 17 Maret 1981 pesawat pertama KC-10 Extender pun resmi dikirim ke USAF.

Meskipun 88 persen komponen didasari versi komersial, KC-10 Extender diklaim dan terbukti sangat mumpuni sebagai pesawat pengisi bahan bakar.

Modifikasi besar pada versi militer termasuk avionik militer yang ditingkatkan, komunikasi satelit, mekanisme pengisian bahan bakar udara-ke-udara, dan penambahan enam tangki bahan bakar tambahan. Akibatnya, KC-10 dapat membawa lebih dari 160.200 kg bahan bakar, yang hampir dua kali lipat KC-135.

Selain itu, KC-10 Extender juga mampu melakukan pengisian bahan bakar ke pesawat lain menggunakan dua teknik berbeda, refueling boom dan sistem selang & drogue. Refuiling boom, dari segi kecepatan pengisian, jauh lebih cepat daripada sistem selang & drogue, mencapai 4.180 liter per menit, berbanding 1.786 liter per menit.

Baca juga: Sulap Pesawat Komersial Jadi Pesawat Militer Jadi Cara Terbaik Selamatkan Maskapai?

KC-10 Extender juga dapat mengangkut penumpang dan kargo. Kapasitas penumpang maksimum dibatasi 75 orang dan ada cukup ruang untuk 17 hingga 27 palet kargo, tergantung pada jumlah penumpang di dalamnya. KC-10 Extender yang terisi penuh bahan bakar dapat terbang sejauh 4.400 mil tanpa pengisian bahan bakar di udara.

Sampai saat ini, USAF tercatat di ch-aviation memiliki dan aktif mengoperasikan 59 unit KC-10 Extender dan masih akan terus menggunakannya sampai di masa mendatang.

Pesawat Dilengkapi Lampu Depan, Fungsinya Sama dengan Kendaraan di Darat?

Bagi traveler yang kerap bepergian menggunakan pesawat, tentu sesekali pernah melihat lampu depan pada pesawat. Umumnya, mereka mengira bahwa fungsinya sama dengan kendaraan di darat saat dikemudikan di malam hari. Benarkah demikian?

Baca juga: Laksana Cahaya Bintang, Inilah Arti Kelap-Kelip Lampu di Ujung Sayap Pesawat 

Meski sama-sama menerangi area depan untuk visibilitas pilot, lampu depan (headlamp/headlights) pesawat fungsinya berbeda dengan lampu depan pada mobil, motor, truk, bus, dan lain sebagainya.

Berbicara mengenai lampu di bagian luar pesawat sebetulnya terkait dengan banyak lampu. Tetapi umumnya terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu navigation lights, beacon lights, dan strobe lights. Dari ketiga jenis itu, tidak ada satupun yang menyorot ke depan untuk visibilitas kecuali lampu depan tadi.

Dilansir flyingmag.com, lampu depan pesawat tidak selalu difungsikan sepanjang perjalanan. Sebaliknya, ia hanya difungsikan pilot dan diatur oleh regulator hanya saat keadaan tertentu, salah satunya saat mendarat, untuk menghindari tabrakan dengan pesawat lain di darat. Itu sebab lampu depan pesawat disebut juga sebagai landing lighs.

Selain digunakan dalam jelang mendarat, lampu depan pesawat juga wajib digunakan saat ruang udara ramai serta saat terbang di bawah ketinggian 10 ribu kaki.

Di luar tiga itu, umum juga bagi pilot untuk menggunakan lampu depan pesawat saat mengubah ketinggian, baik menurunkan atau menaikkan, saat lepas landas, membantu meningkatkan visibilitas pesawat lain (saat kondisi ramai dan jelang mendarat), serta dalam keadaan darurat untuk berkomunikasi dengan staf di darat.

Fungsi lain landing lights seperti dijabarkan di atas sangat mirip dengan fungsi navigation lights. Navigation lights adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan – terutama ketika malam hari. Penggunaan lampu ini akan memudahkan pesawat untuk mengetahui posisi dari pesawat lainnya ketika berada di udara.

Navigation lights sendiri terdiri dari tiga warna lampu – merah pada bagian wing tip kiri, hijau pada bagian wing tip kanan, dan putih pada bagian ekor pesawat. Bila melihat fungsinya, navigation lights mungkin ditambah dengan landing lights di bagian depan.

Baca juga: Ada 15 Makna Lampu Warna-warni di Runway Bandara, Sudah Tahu?

Dengan adanya lampu depan pada pesawat, banyak pertanyaan muncul apakah pilot bisa benar-benar melihat sesuatu di depan saat penerbangan malam hari? Jawabannya tentu saja tidak. Itu mengapa landing light tidak difungsikan saat cruising di ketinggian jelajah. Sebab, pilot sama sekali tidak mengandalkan itu untuk bisa menavigasi pesawat karena sudah dibantu oleh sensor cuaca dan navigasi.

Lagi pula, lampu depan pesawat ukurannya relatif kecil. Disebutkan, landing lights umumnya hanya dilengkapi bohlam 600 watt berdiameter sekitar 8 inci.

Diisukan Pensiun, Pesawat Boeing 757 Trump Malah Tampil Menawan dengan Cat Baru

Pesawat Boeing 757 Donald Trump sempat diisukan mangkrak selama bertahun-tahun. Tak berhenti sampai di situ, pesawat juga diisukan bakal stop operasi secara permanen. Namun, semua itu terjawab lewat unggahan di YouTube Landlocked Aviation yang memuat video proses pengecatan pesawat kesayangan Trump yang disebut T-bird itu. Pesawat tampak lebih elegan dari sebelumnya.

Baca juga: Dua Tahun Mangkrak, Pesawat Boeing 757 Donald Trump Kembali Terbang

Usai kalah di Pilpres AS melawan Joe Biden, praktis Donald Trump tidak bisa lagi menggunakan fasilitas pesawat Air Force One dan mau tak mau harus menggunakan lagi pesawat pribadinya.

Parahnya, jelang pelantikan Presiden Joe Biden pada awal Januari 2021 lalu atau beberapa hari menuju masa purna tugasnya sebagai Presiden AS, pesawat malah dikabarkan tengah dalam kondisi tak sehat. Pesawat pribadi yang dahulu disebut sebagai salah satu yang termewah, ketika itu keadaannya justru terbalik, sangat tidak terawat.

Bisa dibilang pesawat pribadi Trump jadi yang paling butut bila disandingkan dengan pesawat pribadi termewah lainnya milik konglomerat dunia, seperti bos Chelsea Roman Abramovich, Sultan Brunei, konglomerat Hong Kong Joseph Lau, dan miliarder Rusia Alisher Usmanov.

Bagaimana tidak butut, pesawat berlapis emas di segala sudut itu dikabarkan harus memesan satu mesin baru terlebih dahulu untuk melakoni satu penerbangan terakhir sebelum menjalani Maintenance, repair and overhaul (MRO) di Lousiana, AS.

Sebelum dilantik menjadi Presiden AS ke-45 pada 20 Januari 2017, pesawat pribadi favorit Trump yang dilengkapi fasilitas kamar tidur pribadi, TV 57 inci, serta seatbelt belapis emas 24 karat tersebut merupakan pesawat andalan ia dan keluarga bepergian kemanapun, baik untuk tujuan bisnis maupun wisata.

Baca juga: Waduh, Pesawat Pribadi Trump Dibiarkan Mangkrak! Alasannya Bikin Geleng-geleng

Usai dilantik menjadi Presiden AS, pesawat yang dibeli pada tahun 2011 berkapasitas 43 penumpang itu masih kerap digunakan untuk mendukung operasional binsis perusahaan milik Trump sampai tahun 2019 silam. Setelah itu, barulah, pesawat dengan nomor registrasi N757AF itu digrounded jangka panjang di Bandara Internasional Newburgh-Stewart di Orange County, New York, AS.

Selama di-grounded cukup lama, pesawat yang oleh Trump disebut sebagai T-bird ini tak mendapat perawatan dengan baik. Entah mengapa.

Sebagian pihak, ketika itu, berpendapat bahwa Trump begitu yakin bahwa dirinya bakal kembali menempati Gedung Putih, sehingga tak begitu mempedulikan pesawat yang kerap disebut Trump Force One ini. Sebab, bila ia kembali melenggang ke Gedung Putih, otomatis, operasionalnya akan disokong oleh Boeing 747 Air Force One.

Dua tahun mangkrak, pesawat akhirnya terbang perdana pada akhir tahun lalu dari fasilitas penyimpanan jangka panjang dari New York Stewart (SWF) menuju Chennault International (CWF). Di sana pesawat disebut menjalani Maintenance, repair and overhaul (MRO) selama beberapa waktu.

Setelah lama tak terdengar, awal bulan ini pesawat berusia 31 tahun dengan nomor registrasi N757AF itu tampil menawan dengan cat baru. Secara umum warna kebesaran pesawat tidak berubah, masih menggunakan warna hitam di bagian atas dan putih di bagian lambung pesawat dengan list merah hitam antara keduanya serta warna emas pada tulisan ‘TRUMP’.

Baca juga: Potret Pesawat Pribadi Donald Trump, Dahulu Paling Mewah Sekarang Paling Butut

Hanya saja warna metalik pada pesawat membuat pesawat lebih kinclong. Selain itu, perbedaan paling mencolok tentu ada pada bagian ekor. Sebelumnya, itu berupa corak biasa dan kini diganti dengan bendera AS. Perbedaan lain yang mencolok ada pada detail-detailnya, dimana nacelle mesin pesawat dan beberapa bagian lainnya dikrom.

Usai dicat, pesawat rumornya bakal aktif digunakan Trump untuk kampanye Pemilihan Presiden AS tahun 2024 mendatang.

Ikuti Arahan Pemerintah Australia, Qantas Cabut Syarat Wajib Vaksin Covid-19 Bagi Penumpang

Mulai 19 Juli, penumpang, dalam hal ini penumpang internasional, tak lagi perlu wajib divaksin Covid-19 untuk bisa terbang dengan maskapai Qantas. Ini sesuai dengan peraturan terbaru dari pemerintah federal yang membebaskan traveler keluar-masuk Australia meski belum divaksin Covid-19.

Baca juga: Qantas Terbang Lagi ke Jakarta Sepekan Tiga Kali Mulai November, Catat Tanggalnya

Sejak 6 Juli lalu, Australia sudah mencabut syarat wajib vaksin untuk bisa masuk dan keluar Negeri Kangguru. Aturan yang sama juga berlaku di domestik. Itu berarti, warga Australia bebas naik pesawat tanpa perlu vaksin, termasuk tes PCR.

“Mulai Selasa 19 Juli 2022 Group Qantas tidak lagi mewajibkan penumpang penerbangan internasional yang dioperasikan oleh Group Qantas untuk divaksinasi penuh Covid-19,” kata juru bicara Qantas.

“Ini mengikuti Pemerintah Australia menghapus bukti persyaratan vaksinasi Covid-19 untuk wisatawan internasional yang datang ke Australia,” lanjutnya.

Meski begitu, Qantas meminta penumpang, khususnya penumpang internasional, baik dari wisatawan internasional maupun domestik, untuk mengecek terlebih dahulu persyaratan vaksinasi Covid-19 di negara tujuan. Tentu saja masih banyak negara yang mewajibkannya.

Maskapai juga meminta penumpang untuk tetap menggunakan masker selama di bandara dan pesawat serta area publik lainnya, sesuai dengan peraturan terbaru pemerintah.

Berbeda dengan penumpang yang sudah tidak lagi diwajibkan menunjukkan bukti sudah divaksin untuk bisa terbang, di internal, maskapai nasional Australia itu tetap mewajibkan karyawannya untuk divaksinasi Covid-19.

“Vaksinasi Covid-19 mungkin masih diperlukan oleh negara-negara tertentu, jadi penumpang harus memeriksa persyaratan negara tujuan mereka,” jelasnya

“Karyawan Qantas Group masih perlu divaksinasi penuh terhadap Covid-19 sesuai dengan kebijakan Qantas Group,” tambahnya.

“Selain itu, masker akan terus diperlukan di mana peraturan pemerintah menetapkan bahwa masker harus dipakai, termasuk penerbangan domestik di Australia,” tutupnya, seperti dikutip dari Skynews.

Syarat terbang terbaru Pemerintah Australia yang sangat longgar ini tentu mengejutkan banyak pihak. Sebelumnya, Australia terkenal sebagai salah satu negara yang sangat ketat dalam mencegah penularan Covid-19.

Baca juga: PCR Tak Jadi Syarat Terbang, Bandara AP I Catat Peningkatan Trafik Penumpang 47 Persen

Saking ketatnya, di saat negara lain sudah mulai membuka penerbangan internasional, Negeri Kangguru bahkan masih menutupnya sejak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi pada Maret 2020 dan baru membuka secara bertahap pada Februari tahun ini.

Aturan ketat tersebut tidak hanya merugikan Qantas secara finansial dan berdampak pada 17 ribu karyawan, melainkan juga merugikan secara citra perusahaan. Disebutkan, aturan ketat Pemerintah Australia telah memaksa Qantas membatalkan penerbangan dan terlambat memberikan refund sampai berbulan-bulan karena satu dan lain hal.

Perusahaan Swedia Rancang Helm Sepeda dengan Airbag, Risiko Cedera Kepala Berkurang Signifikan

Rangkaian kecelakaan yang menimpa pesepeda tak pelak menjadi momok tersendiri. Dari potensi cedera yang mungkin terjadi, maka perlindungan pada area kepala menjadi perhatian utama. Untuk itu helm sepeda telah dirancang sedemikian rupa agar dapat memberikan perlindungan yang memadai. Dan bicara tentang helm sepeda, sebuah perusahaan asal Swedia tengan mengembangkan prototipe helm sepeda yang dilengkapi airbag, yang dipercaya dapat membuat proteksi maksimal jika terjadi kecelakaan.

Baca juga: Tak Hanya Mobil, Motor pun Dilengkapi HUD yang Terintegrasi dengan Helm!

Helm ini dirancang dan diuji melalui kemitraan antara produsen sistem keselamatan otomotif Autoliv dan perusahaan pakaian pelindung POC. Meskipun tidak banyak detail teknis yang diberikan, helm sepeda dengan airbag ini menggabungkan sensor yang mendeteksi gerakan yang terkait dengan kondisi jatuh mendadak, unit kontrol elektronik yang otomatis mengembangkan airbag, dan airbag itu sendiri.

Helm airbag terdiri dari tiga fabric-bodied channels yang tetap tersembunyi di bawah panel luar helm yang dapat dilepas saat tidak digunakan, tetapi fitur ini dapat langsung mengembang dan melebar saat terjadi kecelakaan. Airbag dapat mencapai tekanan 60 Kilopascal (8,7 psi), yang notabene menutupi bagian samping dan atas kepala.

Menurut Autoliv, idenya adalah bahwa airbag akan bertindak sebagai penyerap energi awal saat terjadi benturan, yaitu dengan lapisan busa yang mendasari helm berfungsi sebagai penyerap sekunder. Fungsionalitas ini diklaim tidak mengganggu desain, berat, atau kenyamanan helm – jadi dengan kata lain, ini seperti helm biasa saat berkendara reguler.

Baca juga: Celana dengan Airbag, Hindarkan Pengendara Sepeda Motor dari Cedera Kaki

Dalam pra-studi (studi kecil sebelum yang lebih besar yang direncanakan), helm ditempatkan di kepala boneka uji tabrakan, yang kemudian dijatuhkan dari ketinggian 1,8 meter ke permukaan datar atau miring – pengaturan ini disimulasikan berbagai jenis benturan dengan jalan atau permukaan lainnya. Pengujian dilaporkan menunjukkan bahwa dalam benturan di kecepatan 20 km per jam, risiko pemakainya mengalami cedera kepala sedang hingga fatal berkurang dari 80 persen (jika menggunakan helm biasa) menjadi 30 persen.