Teknologi Ini Bawa Singapore Airlines Tekan Emisi 15 Ribu Setahun, 2050 Janji Bebas Emisi

Singapore Airlines bertekad menekan emisi karbon sampai nol persen pada tahun 2050. Karenanya, maskapai terus berinovasi untuk memangkasnya perlahan, salah satunya dengan teknologi OptiClimb by SITA yang dipasang di seluruh armada Airbus A350. Lewat teknologi tersebut, maskapai mengklaim bisa menghemat bahan bakar dan memangkas 15 ribu emisi karbon dalam setahun.

Baca juga: Singapore Airlines Gandeng ExxonMobil untuk Pasok Bahan Bakar Berkelanjutan

“Singapore Airlines menggunakan beberapa cara untuk mencapai tujuan keberlanjutan kami, termasuk teknologi terbaru untuk mengoptimalkan efisiensi bahan bakar dalam upaya mengurangi emisi karbon. SITA OptiClimb menggunakan analitik canggih untuk mendukung hasil ini,” jelas Kapten Quay Chew Eng, Senior Vice President Flight Operation Singapore Airlines.

“Kami akan terus mencari solusi inovatif untuk mengurangi jejak karbon kami dan mencapai emisi karbon nol bersih pada tahun 2050,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Teknologi OptiClimb sendiri merupakan sebuah teknologi berbasis tail-specific machine learning-driven system.

Sebagaimana namanya, alat tersebut dipasang di tail fin atau vertical stabilizer maskapai. Teknologi ini memaksimalkan kombinasi prakiraan cuaca 4D dan data penerbangan sebelumnya untuk merekomendasikan kecepatan climbing yang ideal sebelum pesawat berangkat.

Rekomendasi tersebut berupa berbagai skenario climbing untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar setelah lepas landas. Sistem ini dibuat semudah mungkin untuk dioperasikan dan terintegrasi dengan baik di flight deck pilot.

“Kami sangat bangga menjadi bagian dari perjalanan Singapore Airlines untuk membuat penerbangan lebih berkelanjutan, ramah lingkungan dan finansial,” ujar Yann Cabaret, Chief Executive Officer SITA.

“Dengan alat yang inovatif, hemat biaya, dan berbasis data seperti SITA OptiClimb, kami dapat membantu semua maskapai penerbangan dan karyawan mereka untuk membuat keputusan yang lebih tepat yang mendorong efisiensi operasional yang lebih besar dan sangat dibutuhkan saat ini,” tegasnya.

Presiden SITA Eropa, Sergio Colella, mengungkapkan, sedikitnya 5 juta emisi karbon (emisi CO2) bisa ditekan setiap tahunnya andai seluruh maskapai menggunakan teknologi OptiClimb. Mengingat ini bukanlah bawaan dari manufaktur, teknologi tersebut dijamin bisa digunakan di seluruh pesawat dan sangat mudah dalam mengoperasikannya.

Baca juga: Kurangi Polusi Suara dan Emisi CO2, Bandara Schiphol Pangkas Frekuensi Penerbangan di 2023, KLM Terdampak

Ia mengklaim, saat ini sudah ada 2.500 kliennya di seluruh dunia yang mengambil manfaat dari produk teknologi tersebut. Kliennya sangat beragam tak terbatas hanya maskapai penerbangan saja, melainkan juga bandara dan pemerintah untuk menciptakan perjalanan yang lebih mulus, berkelanjutan, dan efisien.

Selain Singapore Airlines, di antara maskapai yang sudah menggunakan teknologi OptiClimb adalah AeroLogic dan Transavia.

Singapore Airlines-Air India Bahas Meger Vistara, Mau Kuasai Pasar Penerbangan India?

Singapore Airlines diketahui tengah berunding dengan Air India dalam rangka merger maskapai full service rasa LCC asal India, Vistara, dan maskapai full service lainnya, Air India. Merger keduanya diperkirakan bakal memperkuat bisnis maskapai di domestik dan internasional.

Baca juga: Vistara dan Jet Airways, Maskapai Full Service yang Sajikan Layanan Bergaya LCC

Singapore Airlines diketahui memiliki 49 persen saham Vistara bersama dengan Tata Group yang memegang saham mayoritas 51 persen. Pasca pandemi Covid-19, kinerja keuangan Vistara memang kurang memuaskan, sebagaimana maskapai lainnya di seluruh dunia.

Selain itu, posisi maskapai tersebut juga semakin tergerus dengan maskapai lainnya di India, seperti indian, Jet Airways, Kingfisher Airlines, Indigo, GoAir, JetLite, Kingfisher Red, Jet Airways Konnect, dan SpiceJet. Hal ini dianggap mengkhawatirkan dan tidak mendukung ambisi maskapai nasional Singapura tersebut untuk memperkuat konetivitas di pasar internasional.

“Diskusi berusaha untuk memperdalam kemitraan yang ada antara Singapore Airlines dan Tata dan mungkin termasuk potensi integrasi Vistara dan Air India. Diskusi sedang berlangsung dan tidak ada ketentuan pasti yang disepakati antara para pihak,” tulis Singapore Airlines, dalam sebuah pernyataan kepada Bursa Efek Singapura.

Sadar tak punya pasar domestik, Singapore Airlines jeli melihat pasar domestik di negara lain sampai akhirnya menjadi pemilik Vistara di India.

Pasar domestik India sangat besar dan akan terus membesar di masa mendatang. Saat ini, lalu lintas penerbangan domestik di India menempati posisi ketiga terbesar di dunia dan akan melonjak dua kali lipat di dekade berikutnya. Hal ini tentu tak mengherankan mengingat Negeri Anak Benua itu memiliki populasi terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Selain mengincar pasar domestik di India, Singapore Airlines juga ingin memperkuat konektivitasnya dari India ke mega hub Bandara Changi. Baik Vistara maupun Air India diketahui terbang ke bandara tersebut.

Karena besarnya peluang yang didapat, baik di India maupun di pasar penerbangan internasional, Singapore Airlines begitu bersemangat atas merger Vistara dan Air India.

Baca juga: Air India Kini Dimiliki Tata Group, Pembenahan Postur Awak Kabin Jadi Prioritas 

Meski begitu, Singapore Airlines, seperti dikutip dari Simple Flying, berpotensi merogoh kocek lebih dalam akibat merger ini untuk memperkuat komposisi saham yang dipegang maskapai.

Andai pihak Air India dan Singapore Airlines menemui kata sepakat atas rencana merger Vistara-Air India, itu tak serta-merta bisa diwujudkan, melainkan harus menunggu tinjauan dari pengawas persaingan usaha Singapura dan otoritas India.

East Japan Railway Resmi Operasikan Kereta Komuter Otomatis di Jalur Terpadat Yamanote Line

Yamanote Line atau Jalur Yamanote, dikenal sebagai jalur kereta komuter tersibuk dan terpenting di Tokyo. Sebagai jalur melingkar, jalur ini menghubungkan hampir semua stasiun kereta api dan wilayah utama di Tokyo meliputi Yūrakuchō, Shibuya, Shinjuku, dan Ikebukuro. Setiap harinya, diperkirakan ada 3,55 juta penumpang yang menggunakanJalur Yamanote. Dan belum lama ada kabar baru terkait Jalur Yamanote, dimana layanan kereta yang dijalankan secara otomatis sudah mulai mengular di jalur tersebut.

Baca juga: JR East Jual Replika Container Yellow Green Number 6 Series 6000 dengan Tiga Interior Berbeda

Dikutip dari nhk.or.jp (11/10/2022), East Japan Railway selaku operator telah mengembangkan sistem operasi otomatis untuk mengantisipasi kekurangan pengemudi di masa depan, pasalnya populasi penduduk di Jepang cenderung menurun.

Sebagai bagian dari persiapan, sejak empat tahun lalu, East Japan Railway memulai uji coba selama jam tengah malam setelah layanan di jalur lingkar Yamanote. Dan uji coba siang hari tanpa penumpang sudah digelar sejak Februari tahun ini.

Dan pada hari Selasa lalu, kereta yang dilengkapi dengan Automatic Train Operation system beroperasi untuk pertama kalinya dengan penumpang di dalamnya. Kereta yang terdiri dari 11 gerbong reguler, bertanda “ATO,” meninggalkan Stasiun Osaki sesaat sebelum jam 4 sore.

Pengemudi hanya perlu menekan tombol saat meninggalkan stasiun. Kereta berakselerasi, melambat, dan berhenti dengan sendirinya sepanjang putaran 34,5 kilometer.

Beberapa stasiun di Jalur Yamanote belum memasang pintu peron, dan ada penyeberangan di sepanjang rute. Sistem ATO tidak dirancang untuk menghadapi situasi di mana seseorang atau kendaraan memasuki lintasan.

Jalur Yamanote punya jadwal yang sangat padat, dengan kereta tiba di stasiun setiap tiga menit. Pengoperasian kereta otomatis di lingkungan seperti itu dikatakan belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang.

East Japan Railway berencana untuk memiliki dua kereta yang dilengkapi ATO dengan total sekitar 1.000 perjalanan selama dua bulan ke depan, dan mengumpulkan data tentang fungsi kemudi, langkah-langkah keselamatan, dan efisiensi energi.

Baca juga: Duta Besar AS untuk Jepang Kesengsem dengam Kereta Komuter di Kansai, Didaulat Sebagai “Testu Otaku”

Perusahaan menargetkan semua kereta di Jalur Yamanote dilengkapi dengan sistem tersebut sekitar tahun 2028. Ini juga bertujuan untuk hanya memiliki masinis dan tidak ada kondektur pada sekitar tahun 2030, dan pada akhirnya membuat kereta komuter ‘benar-benar’ tanpa masinis.

Ada ‘Pelarangan’ Gunakan Apple AirTag dalam Penerbangan, Ini Kata Pihak Lufthansa

Di kalangan pelancong internasional, Apple AirTag jamak digunakan untuk melacak keberadaan bagasi saat dalam perjalanana udara. Namun, belum lama ada kabar dari Lufthansa, maskapai Negeri Bavaria itu mengatakan penumpang tidak dapat menggunakan Apple AirTag untuk melacak bagasi terdaftar.

Baca juga: Takut Tersasar di Bandara Asing? Pakai Fitur Terbaru dari Apple Maps!

Kebijakan baru tersebut diumumkan Lufthansa pada hari Minggu di Twitter, bahwa Apple AirTag harus dinonaktifkan di bagasi terdaftar pada penerbangannya. Sudah barang tentu, pengumuman ini menimbulkan kebingungan, mengingat selama ini Lufthansa dan maskapai-maskapai lain tidak melarang penggunaan AirTag di bagasi terdaftar. AirTag biasanya dimanfaatkan pelancong untuk menemukan bagasi yang hilang.

Sementara pihak Apple menolak interpretasi dari Lufthansa, dan mengatakan alat pelacaknya (AirTags) mematuhi semua peraturan keamanan. Dalam pernyataannya, Apple mengatakan bahwa AirTag “sesuai dengan peraturan keselamatan perjalanan maskapai internasional untuk bagasi jinjing dan bagasi terdaftar.”

Aturan baru Lufthansa diduga mengutip pedoman Organisasi Penerbangan Sipil Internasional untuk barang-barang berbahaya serta “fungsi transmisi” pelacak.

Dikutip dari indianexpress.com (12/10/2022), “Grup Lufthansa telah melakukan penilaian risikonya sendiri dengan hasil bahwa perangkat pelacak dengan baterai dan daya transmisi yang sangat rendah di bagasi terdaftar tidak menimbulkan risiko keselamatan,” kata Martin Leutke, juru bicara Lufthansa.

Seolah mendapat tekanan, pihak Lufthansa menyebut tidak pernah mengeluarkan larangan untuk perangkat seperti itu. “Adalah pada pihak berwenang untuk menyesuaikan peraturan yang saat ini membatasi penggunaan perangkat ini untuk penumpang maskapai di bagasi terdaftar,” kata Lufthansa.

Perangkat AirTag beroperasi menggunakan Bluetooth Low Energy, teknologi yang sama yang biasa digunakan di ponsel yang diizinkan dalam penerbangan. Mereka dilacak dengan membagikan lokasi terakhir melalui sinyal aman ke perangkat Apple terdekat.

Apple mengatakan badan penerbangan internasional tidak memiliki standar khusus untuk perangkat pelacakan kargo, dan definisi perangkat elektronik konsumen pribadi difokuskan pada perangkat yang lebih besar, termasuk telepon, kamera, dan laptop. Ini cenderung memiliki baterai lithium yang lebih besar.

Apple mengatakan AirTag menggunakan baterai sel koin CR2032. Baterai lithium kecil ini biasanya digunakan pada jam tangan dan gantungan kunci. Apple mengatakan baterai tersebut telah disetujui untuk semua bagasi oleh Administrasi Penerbangan Federal (FAA) di AS, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional.

Saran FAA dari tahun 2017 memungkinkan perangkat untuk menggunakan komunikasi nirkabel berdaya rendah seperti Bluetooth di pesawat di Amerika Serikat. Dalam sebuah pernyataan Senin, Administrasi Keamanan Transportasi mengkonfirmasi pandangan Apple bahwa “perangkat pelacak diizinkan di tas jinjing dan bagasi terdaftar.”

Pada hari Selasa, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mengatakan bahwa peraturannya “tidak dengan sendirinya melarang atau mengizinkan perangkat seperti Apple AirTag.” Tetapi agensi tersebut tampaknya membalas masalah itu kepada Lufthansa, dengan mengatakan, “Adalah tanggung jawab operator untuk melarang penggunaan perangkat yang dapat berdampak buruk pada keselamatan penerbangan atau sistem pesawat.”

Baca juga: Akhirnya Penumpang Bisa Gunakan Headphone Bluetooth Pribadi di Pesawat! 

Dengan merebaknya berita ini, Lufthansa seolah menempatkan posisinya berada di tengah-tengah masalah ketika muncul laporan di media berita Jerman bahwa perangkat tersebut dilarang. Dalam traveling, umumnya Apple AirTag disematkan di dalam koper atau tas. Harga Apple AirTag berkisar Rp500 ribuan.

‘Berkah’ Pandemi Covid-19, Singapore Airlines Tak Lagi Pecat Pramugari Hamil

Pramugari maskapai sudah pasti harus cantik jelita agar menarik perhatian penumpang. Namun, kecantikan tersebut sering kali luntur usai hamil dan melahirkan. Itu pula yang akhirnya membuat maskapai Singapore Airlines mengambil kebijakan memecat pramugari hamil. Tentu saja itu dihujat publik. Terbaru, maskapai memastikan kebijakan tersebut sudah dicabut.

Baca juga: Bak Bidadari, Ini Rahasia Kecantikan Pramugari Singapore Airlines

Entah apa yang merasuki maskapai, sekitar satu dekade lalu, tiba-tiba keluar pengumuman bahwa pramugari yang hamil harus segera cuti dan tidak dibayar selama itu sampai melahirkan. Biasanya pramugari yang hamil akan dimutasi menjadi staf dari sampai mendekati akhir masa kehamilan dan itu tidak berlaku untuk Singapore Airlines.

Tragisnya, usai melahirkan dan menjadi ibu baru, pramugari harus menyerahkan akta kelahiran anaknya ke maskapai dan dipaksa untuk mengundurkan diri atau dipecat secara halus.

Setelah dipecat dengan halus, pihak Singapore Airlines mengizinkan pecatan pramugari melamar kembali di posisi semula dengan mengikuti proses dari awal. Hanya saja, bila di maskapai lain, semisal British Airways, eks pramugari lebih diutamakan atau menjadi prioritas, maka di maskapai nasional Singapura itu sebaliknya, tidak ada prioritas apapun.

Selama bertahun-tahun, aktivis keseteraan gender, sosial, pengamat publik, dan lain sebagainya mengecam keras kebijakan tersebut tanpa kenal lelah. Berkali-kali dikecam, berkali-kali itu pula maskapai tak bergeming.

Sampai akhirnya pandemi Covid-19 merubah peta strategi finansial dan bisnis maskapai jangka pendek maupun panjang serta yang paling penting kenyataan pahit kekurangan pramugari. Alhasil, kebijakan pun berubah.

Mulai 15 Juli lalu, pramugari yang hamil diizinkan pindah ke pelayanan di darat minimal tiga bulan dan maksimal sembilan bulan sebelum cuti melahirkan. Adapun posisi stafdarat yang bisa diisi meliputi administrasi, customer feedback handling, content creation, dan event management.

“Kami terus bekerja keras untuk mempertahankan orang-orang berbakat kami (pramugari), dan kami bermaksud untuk lebih mendukung awak kabin kami selama dan setelah kehamilan mereka,” jelas maskapai dalam sebuah pernyataan yang dikutip Simple Flying. Sesudah melahirkan, pramugari bisa bergabung kembali dalam barisan pramugari Singapore Airlines.

Kebijakan tersebut membawa Singapore Airlines bergabung dengan kompetitor terdekat mereka di Asia, seperti Korean Air, Asiana Airlines, dan Japan Airlines.

Baca juga: Diskriminasi Kebijakan Antara Pramugari Singapore Airlines dan Maskapai Asing, Menteri Transportasi Singapura ‘Diserang’

Meski sudah jauh lebih baik dibanding kebijakan sebelumnya, Association of Women for Action and Research (AWARE) mengungkapkan, Singapore Airlines bisa menerapkan kebijakan yang lebih baik lagi.

Seperti misalnya mengatur agar pramugari yang hamil bisa langsung ditempatkan di layanan di darat tanpa harus melamar di posisi yang diinginkan sampai tidak adanya jaminan pramugari tidak akan dipecat atas perubahan ‘ideal’ pasca melahirkan untuk bisa bergabung lagi menjadi pramugari.

Mobil Terbang Listrik Cina XPENG X2 Sukses Terbang Perdana di Dubai, Harganya Murah Meriah

Mobil terbang listrik besutan grup perusahaan Cina, XPENG, sukses terbang perdana di Dubai usai mendapat izin terbang khusus dari Otoritas Penerbangan Sipil Dubai (DCAA). Bila segalanya sesuai rencana, mobil listrik terbang Cina XPENG X2 mulai dijual umum tahun 2024 dengan harga sangat murah, sekitar US$157.000 atau sekitar Rp2,4 miliar (kurs 15.344).

Baca juga: Mobil Terbang AirCar Sukses Terbang Antar Bandara, Kreator: Bisa Terbang Sejauh 1.000 Km

Disebut sangat murah tentu saja bila dibandingkan dengan mobil terbang lainnya. Mobil terbang mobil AirCar besutan KleinVision, perusahaan asal Slovakia, misalnya, dibanderol paling murah sekitar US$500 ribu atau sekitar Rp7,6 miliar dan paling mahalnya US$1,1 juta atau sekitar Rp16,8 miliar.

Mobil terbang Cina XPENG X2 juga masih jauh lebih murah dibandingkan mobil terbang SD-03 besutan perusahaan asal Jepang, SkyDrive. Mobil terbang yang rencananya dijual massal mulai tahun 2023 itu dibanderol sekitar US$300 ribu atau Rp4,6 miliar.

Uniknya, spesifikasi mobil terbang Cina XPENG X2 tak berbeda jauh dibanding mobil terbang AirCar besutan KleinVision maupun mobil terbang SkyDrive SD-03. Malah, mobil terbang listrik Cina XPENG X2 sedikit lebih unggul di beberapa hal.

Dilansir greekreporter.com, mobil terbang XPENG X2 berkapasitas dua kursi yang sudah terelektrifikasi penuh dengan bodi serat karbon yang dirancang untuk terbang pada ketinggian hingga 1.000 m (3.281 kaki), dengan kecepatan hingga 130 km per jam dan dalam kondisi penuh, Xpeng mengklaim mobil terbangnya ini dapat melayang di udara hingga 35 menit.

XPENG, yang lewat anak perusahannya, XPENG AEROHT, telah menjadi perusahaan mobil terbang terbesar di Asia, diketahui telah mengembangkan Vertical Take-off and Landing (eVTOL) dan melakukan lebih dari 15.000 penerbangan berawak dengan aman dengan tujuan menggabungkan teknologi otomotif dan penerbangan untuk mengembangkan kendaraan terbang listrik domestik yang aman dalam skala besar.

Prototipe eVTOL mobil terbang listrik XPENG sebelumnya hadir dengan nama T1 pada 2019, diikuti oleh X1 pada 2020 dan X2 pada 2022, generasi kelima mobil terbang yang sukses terbang perdana 10 Oktober silam di Dubai.

Vice Chairman and Presiden Xpeng Brian Gu, mengungkapkan, “Tampilan publik XPeng X2 di Dubai merupakan tonggak penting bagi XPeng AeroHT dan pencapaian internasional mobil terbang”.

Lebih lanjut, Gu juga mengungkapkan alasan kenapa memilih Dubai sebagai tempat pelaksanaan penerbangan perdana mobil terbang listrik besutannya.

Selain bertepatan dengan event GITEX atau Gulf Information Technology Exhibition, pameran teknologi terbesar di dunia yang dihadiri 5.000 perusahaan teknologi dan 100 ribu pengunjung dari 170 negara, dipilihnya Dubai juga karena kota tersebut dianggap sebagai kota inovasi.

Baca juga: Mobil Terbang SkyDrive SD-03, Uji First Flight dengan Pilot

“Dubai adalah kota inovasi terkenal di dunia yang menjadi alasan kami memutuskan untuk mengadakan penerbangan perdana X2 di sini. Penerbangan hari ini merupakan langkah besar dalam eksplorasi mobilitas masa depan XPENG,” ujarnya.

Rencananya, mobil listrik terbang XPENG X2 mulai dijual massal pada tahun 2024 mendatang dengan harga Rp2,4 miliar.

Jalur Kereta Terpendek di Dunia, Ternyata ada di Vatikan

Menjadi negara mungil di tengah kota Roma di Italia, Vatikan ternyata punya jalur kereta api dan baru tahun 2015 lalu dibuka untuk umum. Tak kalah mungil dengan negaranya yang punya luas hanya 44 hektar, jalur kereta api di Vatikan memiliki panjang 1,27 km dan menjadi jalur kereta terpendek di dunia. Meski begitu, jalur kereta ini cukup tersembunyi yakni berada di balik kemegahan Basilika Santo Petrus yang di apit oleh patung-patung Santo yang disucikan.

Baca juga: Stasiun Goathland, Jadi Tersohor Berkat Film Harry Potter

Selain itu, letaknya pun dibawah wisma yang menjadi kediaman Paus Fransiskus. Dirangkum KabarPenumpang.com dari independent.co.uk, ternyata jalur kereta ini merupakan penghubung satu-satunya stasiun di tengah Vatikan dengan stasiun lain dibalik tembok Vatikan.

Kereta Paus di Vatikan (Detik Travel)

Stasiun Vatikan sendiri dibalut dengan marmer, kereta dari stasiun ini akan mengangkut pelancong menuju ke Castel Gandolfo di Perbukitan Alban yang merupakan istana tempat peristirahatan Paus Fransiskus. Untuk diketahui, jalur kereta ini pertama kali dibuka untuk umum pada September 2015 lalu dan para pelancong yang tengah mengunjungi Vatikan bisa ikut tur naik kereta api menuju berbagai destinasi.

Tur kereta ini sendiri menghubungkan beberapa destinasi favorit pelancong di Vatikan maupun di Roma selain ke istana Paus Fransiskus di Castel Gandolfo. Sepanjang jalur kereta, pelancong tidak akan merasa bosan sebab, pemandangan indah seperti taman bunga dan lahan pertanian menemani perjalanan.

Castel Gandolfo yang merupakan tempat kediaman Paus Fransiskus berada di kaldera purba tepatnya di atas Danau Albano. Selain istana, observatorium, serta vila warisan Kaisar Diocletian, kota ini menampung kebun seluas 25 hektar.

Kegiatan disini terbagi dalam tiga bagian, yang pertama adalah ziarah spiritual menyelami kisah Takhta Suci dan bertamu ke apartemen pribadi Paus. Kedua, ke vila Diocletian dan yang terakhir, wisata kebun untuk melihat sejumlah tanaman eksotis, salah satunya sebatang pohon zaitun pemberian Raja Hussein dari Yordania.

Castel Gandolfo juga merekam episode sejarah yang menyentuh. Semasa Perang Dunia II, Paus Pius XI melindungi 12.500 pengungsi di sini, serta menyulap kamar tidur pribadinya menjadi bangsal bersalin di mana 35 bayi dilahirkan. Seperti yang mudah dibayangkan, kediaman Paus didesain elegan.

Interiornya ditaburi benda yang sarat cerita, mencakup ornamen, perabot antik, serta perlengkapan upacara seperti kain dan tandu yang dulu dipakai untuk mengangkut Paus. Dari kamar tidur Paus, kita bisa mengintip Kota Roma dan Laut Mediterania di kejauhan. Selain petilasan sakral, Castel Gandolfo menawarkan kenikmatan duniawi.

Baca juga: Napoli Centrale Railway Station, Salah Satu Gerbang Pelancong Menuju Pulau Capri

Di kedai wine (fiaschetteria) seperti Frascati dan Marino, wine putih dan merah bisa dinikmati cukup dengan memutar keran. Nektar ini biasanya dipadankan dengan porchetta, daging babi tanpa tulang yang dipanggang perlahan dan galibnya disantap bersama roti hangat. Makanan khas Roma ini mudah ditemukan di restoran dan pasar.

Tur kereta api Vatikan ini dimulai pada pukul 08.30 pagi waktu setempat dan berakhir di stasiun San Pietro pada pukul 18.00 waktu Italia. Tiket tur kereta api selama seharian di Vatikan ini sudah termasuk tiket masuk gratis ke dalam Museum Vatikan dan tur kereta ini diadakan seminggu sekali.

Apakah Landasan Pacu Bandara Satu Arah atau Bisa Mendarat dan Lepas Landas di Kedua Ujungnya?

Landasan pacu (runway) di bandara memegang peranan penting dalam sebuah penerbangan. Tanpa runway, bisnis penerbangan tak akan perjalanan. Landasan pacu sendiri merupakan sebuah garis lurus untuk pesawat lepas landas dan mendarat. Mengingat ada dua ujung pada runway, banyak yang bertanya, apakah pesawat bisa mendarat dan lepas landas di kedua ujungnya?

Baca juga: Jangan Kaget, Ini Bandara dengan Jumlah Runway Terbanyak di Dunia

Di dunia, ukuran runway berbeda-beda tergantung kebutuhan. ICAO sendiri sudah mengatur dan mengklasifikasikan runway dalam empat golongan atau kode (code).

Code number 1 panjang landasan pacu kurang dari 800 meter. Code number 2, panjang landasan pacu antara 800 meter sampai 1.200 meter. Code number 3, panjang landasan pacu mulai dari 1.200 meter sampai 1.800 meter.

Code number 4, panjang landasan pacu mulai dari 1.800 meter sampai 1.900 meter. Terakhir, runway dengan kode nomor 6 memiliki panjang landasan pacu mulai dari 1.900 atau lebih hingga 4.200 meter.

Pada umumnya, landasan pacu pesawat komersial memiliki panjang mulai dari 2.438 meter (8.000 kaki) sampai 3.962 meter 913 ribu kaki).

Sebagaimana panjang dan lebarnya, masing-masing code number landasan pacu memiliki runway strip, mulai empat, enam, delapan, 12, sampai yang terbanyak 16 strip atau garis di ujung runway.

Seperti dilansir Quora, setelah runway strip, biasanya akan ada angka. Banyak juga yang bertanya apa arti angka di ujung runway? Disebutkan, angka tersebut merujuk pada arah kompas. Ini menggambarkan berada di posisi berapa derjat runway tersebut.

Tak cukup sampai di situ, agar lebih mudah, angka terakhir pada runway (bila mengikuti arah kompas, misalnya 270 derajat) dihilangkan.

Baca juga: Ada Strip Putih di Ujung Runway, Inilah Fungsi dan Artinya

Sebagai contoh, bila runway tepat berada di posisi timur dan barat di kompas, itu berarti angka pada ujung runway tertulis 09 dan 27 atau 90 derajat berarti timur dan 270 derajat berarti barat di kompas.

Meski kedua ujung runway diberi strip dan diberi angka, bukan berarti seluruh landasan pacu bisa dibuat dua arah.

Menurut pilot senior, Mark Hilsen, tidak ada hubungan angka pada ujung runway dengan penggunaan kedua ujung runway untuk mendarat dan lepas landas.

Umumnya, pesawat lepas landas dan mendarat menuju ke arah yang sama. Tidak lazim pesawat lepas landas dan mendarat dari arah yang berlawanan. Ini dilakukan untuk menghindari tabrakan dua pesawat.

Mengingat kedua ujung runway bisa digunakan untuk mendarat dan lepas landas, biasanya ke arah mana pesawat lepas landas dan mendarat ditentukan oleh arah angin dan wewenang itu ada di ATC.

Menjawab pertanyaan di awal, apakah kedua ujung landasan pacu bisa untuk pesawat mendarat dan lepas landas?

Baca juga: Apakah Seluruh Pesawat Bisa Mendarat di Bandara Manapun?

Secara umum, bisa, kecuali di bandara tertentu seperti Bandara Couchevel, di Pegunungan Alpen, Perancis, yang salah satu ujung runway-nya berhadapan dengan jurang. Karenanya, dalam kondisi ini, yang paling mungkin adalah pesawat lepas landas dari arah (katakanlah timur), pesawat lainnya mendarat dari arah sebaliknya.

Akan tetapi, bila kondisi runway bandara tidak demikian, pesawat bisa lepas landas dan mendarat di kedua ujungnya, dengan catatan, lepas landas dan mendarat tetap menuju ke arah yang sama untuk menghindari tabrakan.

Kurangi Polusi Suara dan Emisi CO2, Bandara Schiphol Pangkas Frekuensi Penerbangan di 2023, KLM Terdampak

Maskapai nasional Belanda, KLM berpotensi menghentikan lebih dari tiga puluh tujuan dari jaringannya jika Pemerintah Negeri Kincir Angin melanjutkan rencananya untuk memberlakukan pembatasan pergerakan “Green Cap” di Bandara Schiphol Amsterdam untuk meminimalkan polusi suara dan emisi CO2.

Baca juga: Bandara Schipol Jadi Satu-satunya di Dunia yang Masih Operasikan Garbarata Ganda

Dikutip dari EX-YU Aviation News, layanan ke Beograd (Serbia) dan Zagreb (Kroasia) termasuk di antara yang terpilih untuk dihentikan bersama dengan kota-kota seperti Istanbul (Turki), Porto (Portugal) dan Tel Aviv (Israel). Rute jarak menengah dan jarak jauh juga akan dipangkas. Secara total, 25 rute yang diusulkan akan berada di Eropa.

Sebagai langkah awal, KLM telah mengurangi separuh penerbangan yang direncanakan ke Beograd dan Zagreb pada musim dingin yang akan datang dari dua kali setiap hari menjadi setiap hari, meskipun pengurangan ini terkait dengan pembatasan yang sedang berlangsung yang telah diperkenalkan Bandara Schiphol karena kekurangan staf.

Pemerintah Belanda telah merinci perubahan yang secara efektif akan membatasi Schiphol hingga maksimum 440.000 pergerakan penerbangan per tahun mulai November 2023. Ini menandai pengurangan yang signifikan dari batas 500.000 pergerakan saat ini, serta membalikkan rencana sebelumnya yang akan memungkinkan pertumbuhan menjadi 540.000 pergerakan, yaitu 20 perse di atas batas yang direncanakan.

Terkait hal tersebut, KLM telah memohon kepada parlemen Belanda untuk membalikkan batas kapasitas yang direncanakan. Maskapai ini berbicara tentang “kerusakan signifikan” pada jaringannya, sebagian karena perusahaan harus menangani penumpang transfer yang terbang dari Asia melalui Schiphol ke tujuan lain di Eropa.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah menambahkan koneksi unik untuk membuat operasi Eropa menguntungkan dan membuat KLM sehat secara finansial”, kata maskapai itu. Menurut KLM, penyusutan ini tidak perlu karena pembaruan armada menghasilkan output yang lebih baik untuk pengurangan kebisingan dan emisi.

Baca juga: Bersiap Gelar 5G, Bandara Internasional Schipol Hadirkan Jaringan Seluler Indoor Terpadu

Mengganti pesawat lama dengan pesawat yang lebih hemat bahan bakar dapat mengurangi kebisingan hingga setengahnya pada tahun 2030. Pesawat yang lebih baru juga akan mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 sebesar 15 persen.

[Update Terbaru] 39 Negara ini Bebas Visa Bagi Pemegang Paspor Indonesia

“Negara bebas visa”, sampai saat ini masih menjadi target buruan para pelancong Indonesia yang ingin menikmati liburan di luar negeri tanpa perlu merogok kocek untuk pengurusan visa. Tapi perlu diketahui, kebijakan “bebas visa” adalah urusan bilateral antar dua negara, sehingga perkembangannya akan dinamis, jadi belum tentu negara A akan selalu memberikan bebas visa untuk WNI.

Baca juga: Indonesia Menjadi Negara Pertama Mendapatkan Bebas Visa ke Uzbekistan

Nah, berikut adalah update terbaru negara-negara yang memberlakukan bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia. Dikutip dari henleyglobal.com, berdasarkan Global Mobility Report 2022 Q3, untuk saat ini total ada 39 negara yang memberikan bebas visa kepada WNI. Jumlah 72 negara tentu saja masih jauh dari 193 negara yang bisa diakses oleh paspor Jepang, yang ada di peringkat pertama. Meski begitu, jumlah 39 negara bebas visa yang bisa dikunjungi orang Indonesia tanpa visa tetap jumlah yang lumayan.

Dan berikut adalah ke-39 negara yang dimaksud dan lamanya (durasi) Anda dapat tinggal di negara itu sebagai pelancong.

Asia
Brunei – 14 hari
Kamboja – 30 hari
Hong Kong – 30 hari
Kazakhstan – 30 hari
Laos – 30 hari
Makau – 30 hari
Malaysia – 30 hari
Myanmar – 14 hari
Filipina – 30 hari
Singapura – 30 hari
Thailand – 30 hari
Timor Leste – 30 hari
Uzbekistan – 30 hari
Vietnam – 30 hari
Qatar – 30 hari
Oman – 10 hari
Tajikistan – 30 hari

Eropa
Belarusia – 30 hari, harus datang dan pulang dari Minsk International Airport, dan tidak terbang dari atau ke Rusia. Wajib memiliki tiket pulang dalam waktu 30 hari dan asuransi senilai setidaknya €10.000
Serbia – 30 hari

Amerika
Bermuda – Tanpa batasan waktu
Brasil – 30 hari
Chile – 90 hari
Kolombia – 90 hari, bisa diperpanjang menjadi 180 hari dalam kurun waktu 1 tahun
Ekuador – 90 hari, bisa diperpanjang. Maksimal 60 hari di Galapagos
Guyana – 30 hari
Peru – 183 hari
Barbados – 90 hari
Dominika – 21 hari
Haiti – 90 hari
St. Vincent dan Grenadine – 30 hari

Afrika
Gambia – 90 hari, harus meminta entry clearance terlebih dahulu melalui Imigrasi Gambia
Mali – 30 hari
Maroko – 90 hari
Namibia – 30 hari
Rwanda – 90 hari

Baca juga: Khusus ke Pulau Jeju, Bertandang ke Korea Selatan Memang Tak Perlu Visa 

Oseania
Kepulauan Cook – 31 hari
Fiji – 120 hari
Micronesia – 30 hari
Niue – 30 hari