Apakah Pramugari Izinkan Penumpang Tidur di Kursi Pesawat yang Kosong Bak di Kasur?

Penerbangan jarak jauh memang menguras energi. Karenanya, penumpang lebih memilih beristirahat (tidur) berharap sampai di bandara tujuan saat terbangun. Tetapi, penumpang, khususnya di kursi kelas ekonomi, kerap merasa tak nyaman ketika kursi di sebelahnya diisi penumpang lain. Di saat yang bersamaan, kursi lainnya banyak yang kosong. Lantas, bolehkan penumpang pindah kursi sejenak untuk sekedar tidur berbaring dengan lebih nyaman?

Baca juga: Bisakah Penumpang Berada di Sebuah Penerbangan Tanpa Diketahui Maskapai? Ini Jawabannya

Maskapai penerbangan diketahui menerapkan kebijakan sangat ketat dalam memastikan keamanan dan keselamatan penerbangan serta turunannya, termasuk manifes penumpang. Ini harus valid dan tidak boleh ada yang terlewat ataupun tertukar karena ini menyangkut asuransi jika terjadi kecelakaan.

Manifes penumpang biasanya berisi data diri lengkap terkait seseorang menaiki pesawat dengan nomor resgistrasi berapa, nomor penerbangan berapa, rute mana, dan duduk di kursi berapa.

Mengingat manifes penumpang sudah tercatat sebegitu detailnya, banyak yang khawatir, kegiatan mencari kursi kosong di sebuah penerbangan untuk tidur dan sebagainya, akan mengacaukan data manifes penumpang dan menyulitkan pemberian hak-hak penumpang saat terjadi insiden. Benarkah demikian?

Dilansir Quora, menurut pengalaman salah satu penumpang American Airlines, Moris Deri, pada tahun 2016 rute Heathrow ke O’Hare, penumpang diperbolehkan untuk pindah tempat duduk ke kursi lain yang kosong dalam sebuah penerbangan.

Ketika itu, dalam penerbangan trans-Atlantik tersebut, di tengah perjalanan pilot memberi tahu ke penumpang lewat interkom bahwa pesawat tengah melintas di atas Greenland. Banyak pemandangan menakjubkan di sana salah satunya gunung es.

Pilot juga menginformasikan berapa ketinggian pesawat, beberapa nama pulau, dan sebagainya. Karena sebagian besar kursi kosong, penumpang banyak yang menuju kursi dekat jendela, baik sekedar menikmati pemandangan ataupun melanjutkan duduk di sana. Melihat banyaknya penumpang yang pindah tempat duduk, pramugari/pramugara maskapai tak melarang sedikit pun, malah membantu prosesnya.

Dalam penerbangan lain, penumpang dari salah satu maskapai, Peter Xu, rute Jepang ke Eropa, kursi pesawat widebody yang dioperasikan hanya terisi kurang dari 20 persen.

Disebutkan, sejak awal penerbangan pun, banyak penumpang yang sudah duduk tidak pada posisi seharusnya. Tak sedikit dari mereka yang ‘menguasai’ empat kursi di tengah agar bisa tidur dengan nyaman. Saat ini terjadi, awak kabin sama sekali tidak melarang.

Tak hanya pada penerbangan internasional atau jarak jauh, penumpang berpindah-pindah tempat duduk juga diperbolehkan di penerbangan jarak pendek atau domestik. Setidaknya, itu menurut pengalaman Bruce Parsons.

Baca juga: Urat Malu Putus, Penumpang AirAsia Ini Kekeh Pindah Ke Bangku Premium

Dalam suatu kesempatan, ia terbang dari Chicago ke Dallas. Saat itu ia dalam kondisi kurang fit. Ajaibnya, kursi di sebelahnya kosong dan ia mengangkat armrest di kursi tengah untuk kemudian tidur di kursi dan awak kabin tidak melarang atau mencegahnya.

Perlu dicatat, beberapa kejadian di atas terjadi untuk sesama kursi kelas ekonomi. Untuk penumpang kursi kelas ekonomi pindah ke kursi bisnis atau bahkan first class, itu belum diketahui boleh atau tidaknya.

Misteri Kereta Mewah Orient Express Terpecahkan, Gerbong yang Hilang Berhasil Ditemukan

Siapa yang tak kenal dengan legenda kereta mewah Orient Express, yang pada zamannya melayani rute dari Paris, Perancis menuju Istanbul, Turki. Saking kondangnya Orient Express, penulis kondang asal Inggris, Agatha Christi membuat novel misteri berlayar kereta itu yang berjudul “Murder on the Orient Express”.

Baca juga: 4 Oktober 1883, Orient Express Pertama Kali Layani Rute Perancis ke Istanbul

Meski debutnya telah menjadi perhatian dunia, namun, siapa sangka Orient Express menyisakan sejumlah misteri. Dan setelah empat dekade menjadi tanda tanya, baru-baru ini misteri itu berhasil diungkap.

Dikutip dari nzherald.co.nz (15/10/2022), disebutkan rangkaian gerbong kereta Orient Express yang menghilang telah ditemukan. Ini merupakan gerbong kereta yang identik dengan misteri. Dan setelan beberapa dekade, misteri itu telah terpecahkan berkat bantuan jaringan penggemar kereta api internasional. Rangkaian kereta Orient Express  terakhir terlihat saat dikapalkan ke Tokyo, Jepang pada awal 80-an.

Orient-Express ditemukan di perbatasan Polandia-Belarusia. (Foto: Xavier Antoinet)

Terdiri dari 17 gerbong, yakni 12 gerbong tidur, satu restoran, tiga lounge, dan satu van – hilang tanpa jejak sejak beberapa tahun yang lalu. Arthur Mettetal, seorang sejarawan perkeretaapian Perancis, sedang menonton perjalanan kereta api di YouTube, dan disuatu kesempatan Ia melihat kilatan biru menarik perhatiannya.

Setelah dilakukan investigasi, di kota kecil Małaszewicze di perbatasan antara Polandia dan Belarusia, ada sosok yang menjanjikan: beberapa gerbong dengan warna biru malam khas yang sama yang digunakan oleh corak kereta asli Orient Expess.

Ia tidak bisa memastikan kondisinya atau apakah itu gerbong bersejarah, tetapi tangkapan layar membuat forum pencarian kereta online muncul. Lantas Mettetal membeli ongkos kereta api untuk melihat sendiri kondisi Orient Express.

“Dengan sedikit kegigihan, Google Maps dan Google 3D menempatkan kami di jalur yang benar. Atap gerbong terlihat dari pandangan udara, memang gerbong ini milik Nostalgie-Istanbul-Orient-Express, berjajar rapi di perbatasan antara Belarusia dan Polandia.”

Siapa sangka, Kereta yang paling banyak ditulis di dunia, tersembunyi di tempat terbuka. Akhirnya bisa melihat ke dalam, Mettetal kagum dengan keadaan gerbong.

Meski telah lama menghilang, anehnya kondisi gerbong seperti terawat dengan baik, interiornya masih memperlihatkan marquetry Morrison dan Nelson, serta panel Lalique, lambang gaya art deco, yang tetap utuh dan diukir dengan motif burung hitam dan anggur.

Baca juga: Orient Express, ‘Berjuta Cerita’ dari kereta Mewah Legendaris Eropa

Dengan dukungan dari ketua Accor, Sébastien Bazin, Mettetal dapat melakukan upaya untuk mengembalikan kereta ke operasi penuh. Tiga tahun kemudian, mereka menandatangani kesepakatan dengan pemiliknya pada tahun 2018, dan akhirnya Orient Express diangkut kembali ke Perancis. Namun, Paris kini tidak akan menjadi terminal untuk kereta terkenal itu. Orient Express memuai perjalanan pertamanya dari Paris ke Istanbul pada 4 Oktober 1883.

Kenapa Pesawat Boeing 777 Punya ‘Punuk’? Ini Jawabannya

Meskipun berasal dari satu manufaktur yang sama, masing-masing tipe pesawat memiliki ciri khas sendiri, termasuk pesawat Boeing 777. Pesawat tersebut diketahui memiliki ‘punuk’ kecil di bagian atasnya. Apa itu dan apa fungsinya?

Baca juga: ‘Sultan’ Inggris Ingin Terbangkan Mobil, Jadi Sebab Lahirnya Pesawat Aneh ATL-98 Carvair

Menurut Aircraft Maintenance Technician, Lou Koumades, ‘punuk’ tersebut adalah Radome (radar dome) atau kubah penutup antena radar. Meskipun kecil, namun, menurut para ahli, pesawat tidak bisa terbang tanpa Radome saking krusialnya benda tersebut.

Secara teknis Radome didefinisikan sebagai penutup antena radar guna melindungi fungsinya dari gangguan sekitar dengan memperhatikan bentuk, kekuatan struktur dan efisiensi transmisi gelombang radar.

Dikutip dari skybrary.aero, antena radar sendiri berfungsi untuk memancarkan dan menangkap gelombang elektromagnetik (gelombang radio). Antena radar di pesawat berbentuk piringan datar (flat plate). Gerakan antena, dikontrol oleh antena drive. Dengan begitu, radar bisa digerakkan sesuai kebutuhan, baik secara horizontal atau kanan-kiri maupun vertikal atau atas-bawah sampai ke daratan sekalipun.

Menggerakkan antena terkadang penting dilakukan untuk mengukur seberapa kuat dan tinggi cakupan hujan, badai, awan cumulonimbus yang mengandung petir dan hawa dingin serta kristal es. Antena dan antena drive umumnya terletak di nose radome atau di hidung pesawat.

Oleh sebab itu Radome dibuat dari bahan komposit yang dapat ditembus gelombang radio. Antena pada Radome di ‘punuk’ Boeing 777 tentu tidak bekerja sendirian melainkan dibantu dengan komponen lainnya, termasuk transceiver.

Transceiver adalah komponen yang berfungsi untuk memproduksi gelombang elektromagnetik yang akan dipancarkan oleh antena (transmitter). Gelombang yang dipancarkan transmitter mampu menjangkau sejauh 592 km dengan beamwidth mencapai 8 ribu kaki.

Selain itu, transceiver juga berfungsi untuk menerima dan mengolah gelombang elektromagnetik yang dipantulkan oleh objek (receiver). Transceiver merupakan otak dari sistem radar di pesawat terbang. Transceiver terhubung dengan control panel dan perangkat display di pesawat.

Baca juga: “Vertical Take-off”, Rahasia di Balik Manuver Ekstrim Boeing 777x

Sistem radar di pesawat terhubung dengan sistem display di kokpit pesawat. Kondisi cuaca yang ditangkap oleh radar akan ditampilkan di navigation display. Kondisi cuaca ditampilkan dalam empat warna yang berbeda; hijau, kuning, merah, dan magenta. Tiap warna menggambarkan kondisi cuaca yang berbeda. Hijau untuk kondisi cuaca yang ringan, kuning untuk sedang, merah untuk berat, dan magenta untuk turbulensi.

Tampilan radar cuaca untuk kebanyakan sistem adalah dalam dua dimensi. Hanya tampilan dalam sumbu horizontal saja. Namun sekarang juga sudah dikembangkan radar cuaca yang dapat memberikan kondisi cuaca dalam tiga dimensi, yaitu dalam sumbu horizontal dan sumbu vertikal.

Bagaimana Cara Pilot Turunkan Berat Pesawat Selama Penerbangan?

Tak sedikit pesawat yang diharuskan mendarat tak lama setelah lepas landas akibat berbagai alasan, seperti kerusakan mesin, adanya penumpang sakit, berbuat onar, dan sebagainya. Sayangnya, prosedur pendaratan mengharuskan pesawat mencapai berat tertentu. Karenanya, pilot mesti menurunkan berat total pesawat. Bagaimana caranya?

Baca juga: Mengapa Pesawat Buang Bahan Bakar Saat di Udara? Simak Penjelasannya

Sebelum menjalankan penerbangan komersial, pesawat diketahui melewati serangkaian pemeriksaan oleh tim mekanik, mulai dari mesin, flight control, flight instrument, landing gear system, interior, eksterior, alat-alat keselamatan dan keamanan penerbangan, dan banyak lagi.

Sampai beberapa menit sebelum lepas landas pun, tim mekanik, awak kabin, dan pihak-pihak terkait akan melaporkan berbagai kondisi yang ada, baik buruknya itu. Pilot kemudian memutuskan untuk melanjutkan penerbangan atau tidak. Andai pilot memutuskan terbang, itu berarti bisa dipastikan seluruhnya dalam kondisi aman dan laik terbang.

Namun, siapa nyana, tak lama setelah lepas landas, insiden pun terjadi. Banyak hal, seperti penumpang mendadak sakit dan membutuhkan pertolongan medis di darat, roda pendaratan tak bisa melipat dan masuk ke dalam lambung pesawat, kerusakan teknis pada sistem di kokpit, mesin, dan lain sebagainya.

Dalam kondisi ini, pesawat mau tak mau harus return to base (RTB) dan mendarat dengan mengikuti prosedur yang ada. Salah satunya mengikuti standar berat tertentu.

Bila pesawat kelebihan beban, maka pilot harus mengurangi atau menurunkan beban tersebut (berat total pesawat) untuk menghindari kerusakan pada landing gear system atau pada pesawat secara keseluruhan, termasuk pada aspal runway yang memiliki berat maksimum pesawat yang bisa mendarat di atasnya.

Selain menanggung beratnya sendiri, pesawat juga menanggung beban dari beberapa lainnya, seperti penumpang, kargo, mail, dan Avtur atau bahan bakar pesawat. Ini disebut berat total pesawat.

Dalam kondisi pesawat harus segera mendarat tak lama setelah lepas landas, praktis, pilot harus memilih mana yang harus dibuang untuk menurunkan total berat pesawat. Dari pilihan penumpang, kargo, mail, dan Avtur, pilot umumnya lebih memilih membuat Avtur. Bagaimana caranya?

Dilansir Quora, caranya cukup mudah. Pilot atau kopilot hanya perlu menekan beberapa tombol yang ada pada button ‘fuel jettison’.  Di sana terdapat beberapa tombol lainnya dengan fungsi sama-sama membuang bahan bakar.

Prosedur membuangnya pun tak asal-asalan. Petunjuk teknis dari Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), pesawat tidak diizinkan membuang bahan bakar di bawah ketinggian 2.000 kaki, nyaris setara dengan lantai teratas (163 lantai) gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, atau kurang lebih setinggi 610 meter.

Pasalnya, bila pesawat membuang bahan bakar di bawah itu, daratan akan dihujani bahan bakar pesawat setara ribuan liter. Tak terbayang berapa banyak rumah yang akan dibuat basah karenanya. Tak terbayang pula efek samping yang dialami masyarakat ketika terkena avtur sekalipun berupa kristal layaknya hujan rintik-rintik.

Namun, bila pesawat membuang bahan bakar di atas itu, bahan bakar akan menguap menjadi gas dan memuai di udara. Artinya, bahan bakar cair yang dibuang tak berbentuk utuh hingga menghujani daratan.

Baca juga: Berapa Minimum Bahan Bakar yang Dibawa Pesawat dalam Sekali Terbang?

Di samping tak diizinkan melakukan hal tersebut di bawah ketinggian 2.000 kaki, pesawat juga dilarang untuk membuang bahan bakar di area perkotaan ataupun di atas lautan atau area perairan lainnya.

Usai bahan bakar dibuang sesuai dengan prosedur yang berlaku, melalui nozel di ujung kedua sayap, dimana efeknya terkadang terlihat seperti condensation trail (contrail) saat pesawat melintasi langit, proses pendaratan jadi lebih aman.

Tak Hanya di Bandara Konvensional, Jet Blast Deflector Jadi Kelengkapan Wajib di Kapal Induk

Perangkat yang satu ini tidak selalu ada di setiap bandara, namun keberadaan jet blast deflector tak bisa dilepaskan dari salah satu perangkat keamanan yang lazim ada di bandara, bahkan termasuk wajib hadir di kapal induk. Nah, apakah yang dimaksud jet blast defelector?

Baca juga: Jet Blast Deflector, Juru Selamat di Bandara dari Ancaman ‘Knalpot’ Pesawat

Jet blast defelector (JBD) adalah perangkat keselamatan yang mengarahkan kembali semburan knalpot energi tinggi dari mesin jet untuk mencegah kerusakan dan cedera. Untuk menahan semburan mesin jet yang kuat, sudah barang tentu JBD harus dibuat cukup kuat untuk menahan panas dan aliran udara berkecepatan tinggi serta debu dan serpihan yang terbawa oleh turbulensi udara.

Tanpa deflektor, ledakan jet bisa berbahaya bagi manusia, peralatan, kendaraan, dan pesawat lainnya yang berada di area belakang. JBD memiliki kompleksitas yang beragam, mulai dari konstruksi dari beton stasioner, pagar logam atau fiberglass hingga panel yang dinaikkan dan diturunkan oleh lengan hidraulik dan didinginkan secara aktif.

Ilustrasi jet blast deflector. Foto: IAC Acoustics

JBD dapat digunakan sebagai perlindungan dari helikopter dan propwash pesawat sayap tetap. Di bandara dan pusat layanan mesin jet, JBD dapat dikombinasikan dengan dinding peredam suara untuk membentuk penutup ground run-up di mana mesin pesawat jet dapat dengan aman dan lebih tenang diuji dengan daya dorong penuh.

Dari sejarahnya, JBD mulai digunakan di bandara pada tahun 1950-an. Bandara pada 1960-an menggunakan JBD dengan ketinggian 1,8 hingga 2,4 meter, tetapi bandara pada 1990-an membutuhkan deflektor yang dua kali lebih tinggi, bahkan setinggi 11 meter, terutama untuk pesawat jet seperti McDonnell Douglas DC-10 dan MD-11, yang memiliki mesin yang dipasang di bagian ekor di atas badan pesawat.

Di sebagian bandara sering menempatkan deflektor mereka di awal landasan pacu, terutama ketika jalan raya atau struktur berdekatan. Bandara yang berada di daerah perkotaan yang padat seringkali memiliki deflektor antara taxiway dan perbatasan bandara.

JBD biasanya mengarahkan gas buang ke atas.Namun, zona bertekanan rendah dapat terbentuk di belakang pagar ledakan, menyebabkan udara sekitar dan puing-puing tertarik ke atas dengan knalpot jet, dan gas panas beracun bersirkulasi di belakang JBD.

Untuk itu, JBD telah dirancang untuk mengatasi masalah ini dengan menggunakan beberapa panel dan berbagai sudut, dan dengan menggunakan permukaan panel berlubang.

Baca juga: Beken dengan ‘Atraksi’ Jet Blast, Bandara Princess Juliana Ternyata Pernah Makan Korban Jiwa

Di kapal induk, JBD digunakan di bagian belakang ketapel pesawat, diposisikan untuk melindungi pesawat lain dari kerusakan ledakan knalpot. JDB di kapal induk terbuat dari bahan padat dan berat yang dinaikkan dan diturunkan oleh silinder hidrolik atau aktuator linier.

Apakah Pendaratan Autopilot Lebih Sulit atau Lebih Mulus Dibanding Pendaratan Secara Manual?

Seiring kecanggihan teknologi, banyak pesawat modern saat ini melakukan pendaratan secara otomatis (autopilot/autoland). Penumpang tentu saja tidak dibertahu apakah pesawat yang ditumpanginya melakukan pendaratan autopilot atau tidak. Tetapi, dari sisi pilot, sebetulnya apakah pendaratan autopilot lebih sulit atau lebih mulus dibanding pendaratan secara manual?

Baca juga: Ternyata Kebanyakan Pesawat Saat Ini Mendarat Otomatis (Autoland)

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui, pendaratan mulus (soft landing) dan pendaratan keras (hard landing) tidak bisa dilihat sebagai positif dan negatif. Sebab, keduanya dibutuhkan.

Dalam kondisi normal, soft landing memang menjadi idaman bagi setiap pilot, bukan hanya penumpang. Bahkan, sudah menjadi sebuah keharusan dan keniscayaan untuk melakukan pendaratan halus dalam kondisi tersebut.

Sebaliknya, dalam kondisi tidak normal, seperti hujan deras, angin kencang, dingin, bersalju, atau sejenisnya, soft landing belum tentu menjadi sebuah keharusan. Bahkan sebaliknya, hard landing yang masih dalam batas aman dibutuhkan guna menghindari hilangnya gesekan antara ban dengan permukaan runway.

Sebab, bila gesekan antara keduanya hilang, maka pesawat akan mengalami hydroplaning atau selip ban dan menyebabkan proses pengereman menjadi sangat tidak maksimal. Singkatnya, dalam kondisi tersebut, hard landing berarti positive landing.

Sayangnya, hard landing tidak bisa diatur dalam pendaratan autopilot. Sebab, pendaratan autopilot, dalam kondisi normal, sudah hampir dapat dipastikan membawa pesawat mendarat dengan mulus dan tentu saja mudah.

Menurut Mark Benton, kapten pilot United Airlines, pendaratan autopilot atau autoland sangat mulus sampai-sampai ia tidak mengetahui bahwa pesawat sudah touchdown atau belum. Dari pengalamannya selama ini, melakukan pendaratan autopilot, pendaratan manual, dan pendaratan hard landing, ia menyebut pendaratan autopilot adalah cara terbaik kecuali bagi pilot-pilot berkemampuan tinggi.

Lebih lanjut, ia bercerita, dalam suatu penerbangan yang mana itu adalah penerbangan terakhirnya bersama Boeing 777 sebelum pindah ke Boeing 787, ia bertekad untuk melakukan pendaratan manual dan itu didukung penuh oleh kopilot.

Namun, seiring waktu, cuaca di bandara tujuan terus memburuk dan ia sempat ragu untuk tetap melakukan pendaratan manual. Tanpa bilang ke kopilot, Mark memilih melakukan pendaratan autopilot dan hasilnya pesawat sukses mendarat dengan mulus.\

Baca juga: Perusahaan Amerika Siap Perkenalkan Pesawat Bersistem Autoland

Usai mendarat dan keluar dari pesawat, kopilot mengatakan padanya bahwa itu adalah pendaratan paling mulus sepanjang terbang bersamanya. Kesaksian tersebut sekaligus menjawab pertanyaan di awal, bahwa pendaratan dengan fitur autoland atau pendaratan otomatis lebih mudah dan mulus dibanding pendaratan secara manual.

Selain hanya tinggal mengaktifkan atau menekan tombol autoland dengan syarat tiga fitur autopilot aktif dan semua indikator di kokpit berfungsi baik, fitur autoland juga memudahkan pilot karena pasca touchdown atau roda pendaratan menyentuh aspal, itu dilanjutkan dengan fitur autobrake atau pengereman otomatis yang satu kesatuan dengan fitur autoland.

Ada Tanda Unik Ditepi Trotoar Jalanan Kota Kyota, Ternyata Punya Filosofi Tersendiri bagi Warganya

Pernah menjadi ibu kota Jepang selama lebih dari 1.000 tahun, Kyoto dikenal sebagai kota budaya yang menjadi terget kunjungan para pelancong mancanegara. Dan di antara keindahan kuil-kuil di Kyoto, ada yang unik di seputaran tanda yang ada di trotoar jalan kota tersebut. Tanda yang satu ini terbilang unik, lantaran ditempatkan ditepi jalan dan dirancang dengan material yang sebagian transparan pada bagian tengahnya. Tanda apakah itu?

Baca juga: Meski Jepang Sudah Terbuka untuk Wisman, Anda Perlu Isi Aplikasi ini Sebelum Naik Pesawat

Dikutip dari soranews24.com (16/10/2022), jika Anda melihat tanda di trotoar yang memiliki jendela bening di dalamnya, maka wajar bila Anda berasumsi bahwa itu adalah untuk merekomendasikan sudut yang sempurna untuk melihat situs yang memiliki makna sejarah atau keindahan yang elegan di Kyoto.

Namun, dugaan Anda keliru, tanda tersebut tidak dirancang untuk mendorong Anda berhenti dan meluangkan waktu sejenak untuk menikmati estetika indah di Kyoto. Yang benar adalah, tanda tersebut dihadirkan sebagai bagian dari komponen karakteristik utama dari budaya Kyoto, yakni pengingat yang halus namun tajam, tentang sopan santun pada warganya.

Seperti yang ditunjukkan dalam tweet dari akun Twitter Jepang @Okuda_D_Orugu, pada jendela tanda itu menghadap ke aspal jalan Shijo-dori di pusat kota Kyoto, dan teks di sebelahnya berbunyi:

“Taksi yang bisa Anda lihat melalui jendela ini diparkir secara ilegal.”

Parkir dan berhenti dilarang di bagian jalan ini, dekat persimpangan Shijo Kawaramachi. Namun, karena ini adalah bagian tersibuk di pusat kota, dengan kumpulan toko, restoran, dan bar terpadat, beberapa pengemudi taksi kerap mengabaikan peraturan dan tetap berhenti di sini. Dan tindakan para pengemudi taksi tersebut berkontribusi pada kemacetan yang menyebabkan masalah seperti menghambat lalu lintas bus.

Alhasil, pemerintah kota Kyoto memasang tanda untuk menyebarkan kesadaran bahwa apa yang dilakukan taksi itu ilegal, dan juga dengan sempurna membingkai taksi yang melanggar hukum. Selain itu, tanda itu juga memberi tahu siapa pun yang membaca bahwa ada pangkalan taksi yang mematuhi peraturan hanya berjarak satu menit berjalan kaki, ke arah yang ditunjuk panah hitam.

Jadi apa yang ada di sisi lain dari tanda itu? Pesan untuk pengemudi taksi yang melanggar.
“Tuan Sopir, semua orang melihat taksi Anda yang diparkir secara ilegal.”

Sama seperti tanda itu sendiri, ada beberapa aspek keefektifannya, seperti membantu menyebarkan kesadaran akan masalah ini kepada orang-orang yang tidak menyadari bahwa parkir tidak diperbolehkan. Itu juga membuat mereka yang sudah tahu tetapi masih mau naik taksi yang melanggar aturan sadar diri tentang keterlibatan mereka.

Baca juga: Bingung Mau Ke Tokyo atau Kyoto? Baca ini Dulu Ya

Menurut pemerintah kota Kyoto, tanda itu telah berfungsi, jadi kita mungkin melihat mereka mulai bermunculan di bagian lain kota yang telah berjuang dengan taksi yang berhenti secara ilegal. Nah, apakah cara pemerinah kota Kyota dapat dicoba oleh pemkot DKI Jakarta?

Dimana Pilot dan Pramugari Istirahat di Pesawat Boeing 747?

Pilot dan pramugari/pramugara tak selalu bekerja sepanjang penerbangan berlangsung. Ada beberapa kesempatan keduanya bisa beristirahat sejenak. Pertanyaannya, dimana pilot dan pramugari/pramugara istirahat selama di penerbangan, dalam hal ini penerbangan Boeing 747?

Baca juga: Salahkan Kopilot, Pilot Senior Tidur Saat Menerbangkan Boeing 747

Di awal-awal penerbangan, pilot dan pramugari (awak kabin) bisa dibilang sangat sibuk dengan berbagai pekerjaan. Sebelum terbang, pilot biasanya berkomunikasi dengan kopilot dan membuat rencana penerbangan untuk dikomunikasikan dengan ATC dan pihak maskapai.

Pilot juga mendapat laporan dari tim mekanik terkait kondisi pesawat, baik buruknya, mulai dari kondisi ban, mesin, flight control, flight instrument, dan sebagainya. Pilot juga mendapat laporan berapa jumlah penumpang, jumlah bagasi, dan total berat pesawat usai penumpang dan kargo masuk. Selain itu, masih banyak lagi beberapa pekerjaan pilot sebelum terbang.

Saat pesawat mulai push back pun, pilot masih terus berkonsentrasi menerbangkan pesawat, climbing, sampai berada di jalur dan ketinggian jelajah sebelum mengaktifkan fitur autopilot.

Sedangkan awak kabin, umumnya disibukkan dengan beberapa pekerjaan berkenaan terkait pelayanan kepada penumpang.

Seperti menyambut sekaligus gerak-greik penumpang di pintu masuk pesawat, membantu penumpang menemukan kursinya, merapikan bagasi penumpang di kompartemen bagasi agar teratur dan kompartemen bisa menutup sempurna, memberikan flight safety instruction, menghitung jumlah penumpang, memastikan seluruh penumpang mengenakan seat belt (sabuk pengaman), dan terakhir mengkondisikan penumpang sebelum pesawat push back.

Kokpit Boeing 747. Tampak terdapat dua kursi seperti kursi kelas bisnis dan ranjang tempat tidur. Foto: Quora

Usai pesawat climbing, mencapai ketinggian jelajah dan tanda memakai sabuk pengaman padam, itu tak berarti tugas awak kabin selesai.

Di penerbangan tertentu, mereka masih harus membagikan makanan-minuman ke penumpang. Andai pun maskapai  tidak memberikan makanan-minuman ke penumpang, awak kabin masih harus menawarkan penumpang sajian berbayar yang tersedia selama penerbangan.

Setelah semua itu selesai, begitu juga pilot pasca mengaktifkan mode autopilot, awak kabin dan pilot di penerbangan dengan pesawat Boeing 747 bisa beristirahat sejenak di tempat-tempat yang telah disediakan.

Menurut Trent Hopkinson, seperti dikutip dari Quora, selama di penerbangan, pilot Boeing 747 bisa beristriahat tepat di belakang kursi pilot-kopilot.

Di sana terdapat semacam kursi kelas bisnis. Pilot juga bisa tidur atau tidur-tiduran di belakang sebelah kiri kursi pilot. Tersedia dua kasur tingkat untuk pilot dan kopilot. Tentu standar operasinya tidak membenarkan pilot dan kopilot beristirahat secara bersamaan.

Baca juga: Viral! Ruang Rahasia Pramugari di Pesawat Boeing 777, Tepat di Atas Penumpang

Begitu juga dengan awak kabin, terdapat kursi di galley untuk mereka duduk. Untuk tidur atau tidur-tiduran, Boeing 747 memiliki sejumlah ruang rahasia atau ruang tersembunyi bak hotel di bagian atas belakang sebelah kanan pesawat.

Ruang tersebut tak terlalu luas, tetapi cukup untuk membuat awak kabin melepas lelah. Tak diketahui persis ada berapa ranjang (kasur) yang tersedia. Tetapi beberapa sumber menyebut itu sekitar 10 ranjang.

Meski Jepang Sudah Terbuka untuk Wisman, Anda Perlu Isi Aplikasi ini Sebelum Naik Pesawat

Seiring menurunnya tren Covid-19, Jepang kini sudah lebih terbuka buat para wisatawan mancanegara (wisman) dengan membuka perbatasannya. Namun, masih ada beberapa persyaratan yang perlu Anda perhatikan sebelum membuat keputusan untuk berlibur di Jepang. Seperti diketahui, pada 11 Oktober 2022, Jepang akhirnya membuka kembali perbatasannya untuk wisatawan asing, memungkinkan mereka bebas menjelajahi Negeri Sakuru seperti dulu sebelum pandemi, yakni tanpa persyaratan pemandu wisata atau paket perjalanan.

Baca juga: Jepang Hapuskan Kewajiban Tur Berpemandu untuk Pelancong Asing, Tapi Tetap Harus dalam Paket Tur

Dikutip dari soranews24.com (14/10/2022), meski sudah ada pembukaan pintu perbatasan buat pelancong, tapi itu tidak semuanya mulus, karena kedatangan internasional masih harus menavigasi beberapa ‘rintangan’ sebelum memasuki Jepang.

Yang harus dilakukan pertama adalah mengisi kuesioner di aplikasi MySOS adalah persyaratan bagi semua orang yang memasuki Jepang, terlepas dari apakah mereka orang Jepang atau bukan, dan kebanyakan orang menyelesaikan bagian proses ini sebelum memasuki negara tersebut.

Saat Anda pertama kali membuka aplikasi, layar merah terang muncul, dengan bidang untuk Anda menjawab pertanyaan tentang tujuan, status vaksinasi atau tes, dan negara tempat tinggal Anda. Anda juga akan diminta untuk mendaftarkan nomer paspor, dan menyerahkan sertifikat vaksinasi atau sertifikat tes Covid untuk tes yang dilakukan kurang dari 72 jam sebelum keberangkatan penerbangan Anda.

Setelah Anda menyelesaikan “pra-pendaftaran untuk prosedur karantina” di aplikasi, layar akan tetap merah jika ada kesalahan, mengharuskan Anda untuk mencoba lagi, jika tidak maka akan berubah menjadi kuning jika Anda menolak untuk mengirimkan sertifikat tes vaksinasi, dan biru jika Anda menyerahkannya.

Baca juga: Genjot Pendapatan Non Tarif, Perusahaan Kereta di Jepang Tawarkan Paket Wisata ‘Dekat’ dengan Stasiun 

Setelah tiba di Bandara Jepang, Anda diminta menunjukkan layar biru pada aplikasi MySOS kepada staf bandara, setelah itu pelancong diberi slip biru untuk ditunjukkan kepada petugas imigrasi. Mereka yang memiliki layar kuning mungkin harus menunggu sedikit lebih lama untuk melewati imigrasi karena dokumen pelancong memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti.

Ingin Bantu Perangi Polusi Udara? Simak Tips Mudahnya di Sini!

Nampaknya tidak hanya Pemerintah di Indonesia saja yang menggembar-gemborkan inisiatif pengurangan emisi dari kendaraan bermotor, pun dengan negara lain yang sama-sama sependapat bahwa polusi udara sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Alhasil, sejumlah inovasi pun bermunculan guna mendukung program bersama tersebut. Tapi sebenarnya, ada beberapa cara mudah yang dapat dilakukan untuk meminimalisir pencemaran udara.

Baca Juga: Yuk Bersepeda, Mengurangi Polusi Sembari Membakar Kalori di Tubuh

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (27/3/2018), tidak perlu melangkah terlalu jauh menuju penggunaan teknologi ‘hijau’, namun nyatanya, ada empat poin yang dapat menunjang program pemberantasan polusi udara ini.

Poin pertama dan yang paling mudah untuk dilakukan adalah berjalan kaki. Selain dapat berperan serta dalam pemberantasan polusi udara, berjalan kaki juga dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat. Selain tidak mengeluarkan emisi, jalan kaki juga dapat menurunkan berat badan dan Anda tidak harus membayar siapapun untuk mendapatkan dua keuntungan di atas.

Poin kedua yang dapat Anda lakukan adalah bersepeda. Sebenarnya, manfaat dari poin ini hampir serupa dengan berjalan kaki, yang membedakan hanyalah perangkat yang digunakan dan estimasi perjalanan dari satu titik ke titik lainnya yang dapat dipersingkat. Di sebagian daerah di Indonesia sendiri bahkan memiliki komunitas sepeda yang tujuan utamanya adalah untuk mengentaskan masalah polusi udara. Tapi jangan lupa, gunakan helm khusus sebelum bersepeda agar lebih aman.

Poin ketiga adalah beralih menggunakan sarana transportasi umum seperti bus. Kendati secara umum bus ini masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai tenaga penggerak utamanya, namun seiring perkembangan jaman, sudah banyak pula bus yang menggunakan energi listrik dan hidrogen. Sebagai contoh perbandingan, dibutuhkan 10 mobil berkapasitas lima penumpang untuk mengangkut 50 orang, sementara itu hanya dibutuhkan satu buah bus bertenaga listrik untuk memboyong semua penumpang. Jauh lebih efisien dari segala aspek, bukan?

Poin keempat adalah beralih menggunakan kendaraan bertenaga listrik. Perkembangan teknologi yang semakin pesat belakangan ini pun turut berimbas pada evolusi kendaraan. Ya, dewasa ini sudah banyak beredar kendaraan bertenaga listrik yang secara perlahan mulai menggeser kedigdayaan kendaraan berbahan bakar fosil seperti bensin. Memang, Anda butuh merogoh kocek untuk ‘meng-upgrade’ kendaraan berbahan bakar bensin dengan yang bertenaga listrik. Namun selama itu mampu memperbaiki kondisi lingkungan, kenapa tidak?

Baca Juga: Niat Atasi Polusi, Mantan Pemilik Toko Sepeda ini Hadirkan Light Electric Vehicle

Namun semuanya kembali kepada Anda sebagai pelaku utama yang memegang kemudi penuh terhadap lingkungan yang lebih sehat. Ketika melakukan mobilisasi sembari olahraga seperti berjalan kaki dan bersepeda dianggap terlalu memakan waktu, cukup parkirkan kendaraan pribadi Anda di garasi rumah dan mulai beralih menggunakan kendaraan umum yang sudah disediakan pemerintah dengan segala kelebihan dan kemudahannya.