Apakah Pilot Simulator Pesawat Boleh Melakukan Manuver Berbahaya?

Sebelum menjajal penerbangan sungguhan, pilot harus melewati berbagai pelatihan dan ujian di simulator pesawat. Mengingat simulator pesawat harga sewanya cukup mahal, banyak pilot yang tak ingin sekedar melewatkan momen berlatih di simulator dengan normal-normal saja dan ingin melakukan manuver berbahaya. Pertanyaannya, bolehkah?

Baca juga: Apa Itu Simulator Level D? Berikut Penjelasannya

Menurut seorang pilot, Randy Duncan, pilot simulator sangat mungkin melakukan manuver berbahaya atau manuver gila yang belum tentu didapatkan di penerbangan sungguhan.

Biasanya, usai berlatih dan menyelesaikan seluruh modul pelatihan, instruktur akan bertanya ke pilot terkait keinginan melakukan manuver yang tak biasa.

Pada umumnya pilot tentu saja menginginkan hal itu untuk berjaga-jaga andai terjadi pada penerbangan sungguhan, mulai dari kehilangan seluruh mesin saat di ketinggian sekitar 3.000 kaki, crosswind besar dan kuat, serta banyak lainnya.

Tetapi ini masih dianggap biasa dan mudah menanganinya. Cukup dengan menurunkan gear landing dan mengaktifkan flap, pesawat pun perlahan turun dan mendarat di runway.

Beberapa pilot tak ingin sekedar itu dan melakukan beberapa akrobatik (manuver) ringan, seperti wingovers atau barrel rolls. Simulator canggih dan mahal sangat bisa melakukan itu dan membuatnya seperti sungguhan.

Dalam catatannya, di antara pilot yang mencoba melakukan itu, ada yang berhasil di awal dan gagal di akhir sehingga pesawat jatuh. Beruntung itu hanya di simulator.

Tergantung instrukturnya, pilot simulator terkadang ditantang untuk melewati ujian berbagai kondisi atau skenario esktrem, salah satunya mendaratkan pesawat dalam kondisi semua mesin mati, kelistrikan mati, sistem hidrolik tidak berfungsi, ruangan berasap sehingga harus memakai kacamata dan masker oksigen, serta terjadi turbulensi ringan.

Kondisi tersebut, lanjut Randy, sangat tidak mudah. Butuh kerja sama apik antara pilot dan kopilot. Tanpa hidrolik, kontrolnya (yoke atay side stick) sangat berat dan butuh tenaga ekstra untuk menariknya. Beruntung, ketika dihadapi itu, ia dan kopilot berhasil melaluinya dengan baik.

Baca juga: Boeing 747 Ex British Airways Disulap Jadi Simulator, 2023 Dibuka untuk Umum

Meski begitu, seiring bertambahnya usia dan seiring kecanggihan teknologi simulator pesawat sehingga membuatnya begitu nyata dan hampir tidak ada perbedaan dengan penerbangan sungguhan, Randy mengaku enggan melakukan manuver gila, berbahaya, dan tak biasa. Ia mengaku takut manuver dan kondisi ‘gila’ tersebut benar-benar terjadi, terlebih dengan visual yang sangat nyata.

Diketahui, simulator pesawat paling canggih saat ini (level D) atau full flight simulator memiliki fitur motion effect untuk mensimulasikan insiden tertentu seolah nyata. Simulator level D (yang tertinggi) menawarkan pengaturan dan tata letak kokpit yang identik dengan pesawat nyata, bidang penglihatan yang luas dan simulasi dalam kondisi siang, malam, sampai senja.

Kepolisian Wales di Inggris Gunakan Tuk Tuk untuk Patroli Kota

Kepolisian di Kota Wales, Inggris, punya cara yang unik untuk melakukan patroli. Bukan dengan mobil sport seperti Audi atau BMW, diwartakan polisi di Wales kini mulai menggunakan wahana roda tiga yang selama ini khas di India, yaitu Tuk Tuk. Ada empat unit Tuk Tuk yang akan membantu kepolisian melakukan patroli di taman, jalan setapak dan area publik.

Baca juga: Di India, Ada Kendaraan Sejenis “Bajaj” Tapi dengan Merek Audi, Ini Kelebihannya!

Dikutip dari express.co.uk (17/10/2022), Unit Kepolisian Gwent di Wales mengungkapkan empat unit Tuk-Tuk diharapankan dapat menciptakan ‘ruang aman’. Kepala Inspektur Damian Sowrey mengatakan, “Umpan baliknya sangat positif dengan orang tua memberi tahu petugas bahwa mereka akan merasa lebih aman mengetahui bahwa ada dukungan untuk orang-orang muda yang keluar di malam hari.”

Namun, penduduk setempat di media sosial dengan cepat mengejek kendaraan tersebut, “Semoga berhasil mengejar beberapa scallywag muda yang mengaduk-aduk lapangan kriket di dalamnya,” salah satu kutipan dari komentar warga di Wales.

Dibanding Bajaj Jakarta, Tuk Tuk di negara asalnya (India) punya dimensi sedikit lebih panjang, meski daya muatnya sama, yakni tiga orang di bangku bekalang. Dengan dimensi yang lebih panjang, menjadikan ruang gerak kaki penumpang lebih besar, dan pastinya lebih fleksibel dimuati barang bawaan.

Tuk Tuk dirancang menggunakan atap dari bahan kanvas, tak beda dengan Bajaj Jakarta. Warna atap kanvas boleh dibilang serangam, yakni kuning, sementara dibagian bawah bodi di cat warna hijau, meski beberapa Tuk Tuk terlihat memakai cat kuning hitam.

Baca juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India

Saat ini Tuk Tuk telah hadir dalam varian bertenaga listrik, namun, belum diketahui, apakah Tuk Tuk untuk kepolisian Wales, apakah sudah mengadopsi listrik atau masih menggunakan bahan bakar konvensional.

Brewer Mug, Mudahkan Pecinta Kopi Tak Terlewatkan Rutinitas Pagi

Setiap orang memiliki kebiasan yang berbeda di setiap pagi hari, ada yang mengawali dengan minum air putih dan sarapan, menyeduh teh atau minum kopi. Namun kebanyakan orang yang meminum kopi mengatakan itu adalah ritual pagi yang wajib dan tidak bisa dilewatkan.

Baca juga: Intip Keseruan di Airbus A330 Bekas Thai Airways yang Disulap Jadi Kedai Kopi Perang

Tapi bagaimana jika ritual tersebut tidak bisa dilakukan karena tidak punya waktu menyeduh kopi atau mampir ke kedai kopi? Ternyata bagi para pecinta kopi hal itu bisa dimudahkan dengan Kopipresso Brewer Mug. Ini sebuah termos yang bisa menyeduh kopi segar dalam hitungan menit.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (17/3/2021), cara kerja Brewer Mug ini seperti Keurig dengan keserbagunaan termos kopi yang khas. Di mana ada kotak kecil untuk bubuk kopi ditempatkan di tengahnya. Kemudian ketika mug dibalik maka air panas akan menyatu dengan kopi dan menyaring ampasnya.

Sehingga nantinya akan menghasilkan secangkir kopi yang kaya dan aromatik tanpa perlu repot dan takut tidak bisa melakukan ritual Anda. Mug Brewer dibuat dari bahan terbaik, ini tidak akan membuat kopi bocor dari mug dan membuat pakaian atau karpet putih Anda kotor serta membuat masalah.

Dengan ruang tahan tetesan yang tertutup rapat, Brewer Mug dapat dibalik meski didalamnya penuh cairan. Sedangkan tutup corong sekrup mencegah kopi tumpah ke meja dan merusak hari Anda.

Brewer Mug akan menjaga kopi Anda tetap hangat dan hangat selama lebih dari enam jam. Bahkan mug ini bisa menutupi hasrat kafein sepanjang hari, jadi Anda tidak perlu khawatir tentang minum kopi dingin dan dipaksa untuk memanaskannya setelah hanya beberapa jam bekerja.

Baca juga: Keren, Kemenhub Dorong Penjual Kopi Keliling Pakai Sepeda Listrik

Dengan kenyamanan, kesederhanaan, dan kualitas pembuatan bir, Brewer Mug dapat menyediakan kopi Anda tanpa kerumitan atau biaya masuk ke mobil Anda dan membeli secangkir kopi lagi. Bisa dikatakan Kopipresso Brewer Mug adalah investasi yang solid di pagi hari dan hari kerja Anda untuk tahun-tahun mendatang dan saat ini tersedia dalam jumlah terbatas dan dijual seharga $69,95 atau sekitar Rp1 juta.

Lima Hal ini Terasa Mengesankan Bagi Pelancong yang Datang Kembali ke Jepang

Pada 11 Oktober 2022, Jepang akhirnya melonggarkan kontrol perbatasan yang ketat, memungkinkan pelancong mancanegara kembali mengunjungi Negeri Sakura tanpa batasan untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Lantaran telah lama ‘ditinggalkan’ para pelancong, maka ada beberapa hal yang terasa baru di Jepang.

Baca juga: Meski Jepang Sudah Terbuka untuk Wisman, Anda Perlu Isi Aplikasi ini Sebelum Naik Pesawat

Dikutip dari Soranews24.com (18/10/2022), disebutkan setidaknya ada lima hal baru yang dianggap bakal mengejutkan pelancong yang tiba menikmati liburan di Jepang. Lima hal ini tentu akan lebih dirasakan oleh pelancong yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi Jepang. Dan kelima hal tersebut adalah:

1. Ada begitu banyak vending machine otomatis
Kita semua tahu bahwa Jepang adalah negeri vending machine, tetapi melihatnya setelah sekian lama benar-benar membuat Anda menyadari betapa banyak yang ada di sini. Bukan hanya jumlah mesin yang tampaknya meningkat, tetapi juga variasinya. Misalnya, ada vending machine otomatis yang menjual karamel di depan toko karamel Number Sugar.

2. Orang-orang di Jepang mengantri dengan tertib
Ini bukan hal yang sangat baru, tetapi ini adalah sesuatu yang pasti akan menonjol bagi pengunjung asing di Jepang setelah waktu yang lama. Di peron stasiun, di eskalator, di depan restoran ramen…di mana pun orang menunggu, mereka membentuk antrean tertib di mana tidak ada yang memotong antrean dan semua orang menunggu dengan sabar, menciptakan rasa tenang di tengah keramaian.

3. Lebih mudah dari sebelumnya untuk membeli makanan Korea
Tentu, ini mungkin bukan sesuatu yang menarik bagi banyak turis internasional, tetapi bagi pengunjung dan penduduk Korea, ini adalah berita yang sangat disambut baik.

4. Masih perlu menggunakan uang fisik untuk membeli banyak barang
Jepang telah membuat banyak kemajuan dengan pembayaran tanpa uang tunai (cashless)sejak pandemi, tetapi negara ini masih memiliki jalan panjang untuk menyamai sistem tanpa kontak yang biasa digunakan oleh banyak orang asing di luar negeri.

5. Banyak harga yang belum naik
Sementara biaya hidup dan kebutuhan sehari-hari telah meningkat sedikit di Jepang dalam beberapa tahun terakhir, itu adalah sesuatu yang kemungkinan besar tidak akan diperhatikan atau dipengaruhi oleh pelancong.

Baca juga: Ternyata Dua Faktor Ini Menjadi Alasan Wisatawan Jepang Terkesan Angkuh Ketika Mengudara

Pelancong akan melihat menu di restoran dan biaya masuk ke taman dan museum, dan tidak ada perubahan nyata pada harga ini dalam dua tahun terakhir. Faktanya, Tokyo Disneyland dan DisneySea untuk sementara menurunkan biaya tiket harian mereka sebesar 20 persen, dan dengan yen yang lebih rendah daripada sebelum pandemi, Anda akan kagum dengan betapa terjangkaunya hal-hal di sini dibandingkan dengan negara asal Anda.

Sejarah Maskapai Malaysia Singapore Airlines, dari Awal Berdiri Sampai Berpisah























Singapore Airlines mungkin saat ini sudah jauh meninggalkan kompetitor mereka asal Negeri Jiran, Malaysia Airlines. Tetapi, di masa lalu, sepak terjang maskapai tersebut belum ada apa-apanya dibanding maskapai nasional Malaysia itu.

Baca juga: Ikuti Jejak Air France-KLM, Muncul Gagasan Merger Singapore dan Malaysia Airlines

Singapura dan Malaysia sejak dahulu memang tidak pernah akur. Selalu ada pertengkaran atau perdebatan terkait budaya, makanan, pariwisata, dan lain sebagainya antar kedua negara itu.

Tetapi, sebelum Singapura merdeka, keduanya pernah dipaksa untuk ‘akur’ oleh Inggris di akhir periode 144 tahun pemerintahan Inggris di wilayah tersebut, dengan menjadikannya sebagai salah satu dari 14 negara bagian Malaysia dari tahun 1963 sampai 1965. Berdirinya maskapai Malaysia Singapore Airlines (MSA) mungkin bisa jadi salah satu bukti.

Dilansir sea.mashable.com, sebelum berganti nama menjadi MSA, maskapai tersebut dikenal sebagai Malayan Airways. Maskapai ini didirikan pada 12 Oktober 1937, menerbangkan orang antara Singapura dan Penang. Ketika itu, maskapai belum memasuki ranah komersial melainkan masih menjadi bagian dari layanan udara pemerintah kolonial Inggris di Malaysia.

Barulah pada 2 April 1947, Malayan Airlines resmi terbang komersial dan mencari keuntungan dari setiap penerbangan.

Ketika Singapura resmi menjadi salah satu dari 14 negara bagian Federasi Malaysia pada 16 September 1963, Malayan Airways mulai rebranding. Tidak langsung menjadi MSA tetapi menjadi Malaysian Airways Limited terlebih dahulu.

Di periode yang sama, Borneo Airways dilebur dengan maskapai tersebut, mengingat Borneo Utara dan Sarawak, yang juga bekas koloni Inggris, juga digabung menjadi negara bagian dari Federasi Malaysia.

Sampai di sini, Malaysian Airways menjadi lebih optimis, ditambah dengan datangnya pesawat-pesawat canggih ketika itu, seperti De Havilland Comet IV, Fokker 27, dan DC-8.

Meski sempat terganggu dengan berpisahnya Singapura dari Federasi Malaysia, pada 9 Agustus 1965, untuk menjadi negara merdeka dan berdaulat, tetapi Malaysia Airways justru makin bersinar. Terlebih ketika memutuskan rebranding ulang menjadi Malaysia Singapore Airlines (MSA) pada tahun 1966.

Di bawah bendera MSA, maskapai berhasil diperhitungkan di kancah industri penerbangan internasional.

MSA terus beroperasi sampai setidaknya pada tahun 1972. Ketika itu, Malaysia dan Singapura memutuskan mengakhiri operasi MSA dan masing-masing mendirikan maskapai.

Malaysia mendirikan maskapai Malaysian Airline System (MAS) dan Singapura mendirikan Singapore Airlines (SIA) pada tahun yang sama. MAS akhirnya berganti nama menjadi Malaysia Airlines pada tahun 1987.

Kini, setelah bertahun-tahun ‘bercerai’ publik tentu sudah tahu betul siapa yang jadi benalu di antara kedua maskapai tersebut. Malaysia Airlines terus-menerus dalam keadaan terpuruk. Entah puncak atau awal mula keterpurukan, yang jelas, salah satu sebab keterpurukan datang dari kecelakaan MH370 pada 2014 silam.

Baca juga: 50 Tahun Tak Berjumpa, Awak Kabin dan Pilot Malaysia-Singapore Airlines Reunian

Pada Juni 2019 lalu, Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33, bahkan sampai mempersilahkan bilamana ada investor luar maupun dalam negeri yang ingin membeli Malaysia Airlines. Itu dilakukan semata untuk menyelamatkan maskapai yang keuangannya sudah terseok-seok.

Di tahun yang sama, nasib Singapore Airlines justru sebaliknya. Maskapai kebanggaan Singapura itu berhasil menyabet gelar maskapai terbaik versi Forbes dan menjadi maskapai terbaik kedua versi Skytrax.

Populer, Tapi Banyak yang Tak Tahu Arti dan Singkatan Kode “SQ” Singapore Airlines

Bila kita mengenal kode penerbangan GA untuk maskapai Garuda Indonesia, maka tak kalah populer kode penerbangan SQ, yang mengidentifikasi penerbangan dari maskapai Singapore Airlines. Saking populernya kode SQ, tak jarang kita mendengar ada orang yang mengucapkan kalimat, “…. pergi naik SQ…”. Namun tahukah Anda, apa arti atau kepanjangan dari kode SQ tersebut?

Baca juga: Sejarah Maskapai Malaysia Singapore Airlines, dari Awal Berdiri Sampai Berpisah

Seperti halnya kode GA untuk Garuda Indonesia, kode SQ telah terdaftar resmi di International Air Transport Association (IATA). Sedangkan International Civil Aviation Organization (ICAO) menggunakan kode SIA untuk Singapore Airlines. Namun, karena hanya terdiri dari dua huruf, label SQ jauh lebih populer dan dikenal luas sebagai awalan dalam kode informasi penerbangan.

Sementara untuk arti SQ, dimulai ketika saat Singapore Airlines berdiri dan mencoba menetapkan dirinya sebagai maskapai terbaik di dunia, maka staf perusahaan kala itu memilih kode SQ, yang dalam forum quora.com, disebut sebagai kependekan dari ‘Superior Quality’ dari layanan yang ingin diberikan perusahaan. Karena bakal sering disebutkan, maka SQ menjadi pengingat yang menonjol bagi staf dan karyawan untuk memberikan layanan yang lebih baik daripada maskapai lain.

Lain dari itu ada pendapat yang mengatakan, ‘SQ’ dijadikan penunjuk maskapai oleh IATA untuk Singapore Airlines karena kode ‘SI’ baru saja dialokasikan ke Sierra Pacific Airlines di AS, sedangkan ‘SA’ sudah digunakan oleh South African Airways. Oleh karena itu, kombinasi huruf lain harus ditemukan.

Namun, sejauh ini tidak ada informasi resmi yang menyebut SQ adalah singkatan dari Superior Quality. Ketika Malaysia Singapore Airlines berhenti beroperasi pada tahun 1972, Singapura ingin menggunakan maskapai penggantinya “Mercury Singapore Airlines”.

Baca juga: Singapore Airlines-Qantas Mau Merger, tapi Gagal Gegara Qantas (Australia) ‘Serakah’

Mengapa? Karena itu dilampirkan pada singkatan ‘MSA’, tetapi itu dibatalkan, karena menggambarkan penggunaan nama ‘Merkurius’ sebagai kuno. Ada juga yang menyebut pemiihan kode SQ dilakukan dengan cara yang berbeda, ada dugaan mereka terpaksa memilih sesuatu (kode) yang lain, sama seperti kita semua memiliki alamat Gmail yang aneh, karena yang kita inginkan telah diambil oleh orang lain.

Ada Panel yang Mengangkat di Sayap Saat Pesawat Mendarat, Apa Itu dan Apa Saja Fungsinya?

Bagi penumpang yang memperhatikan, saat landing approach sampai mendarat, tampak ada sesuatu yang bergerak ke atas di sayap pesawat sampai pesawat benar-benar berada di kecepatan rendah. Sebagian orang menganggap itu adalah flap and slat. Padahal itu kurang tepat. Lantas apa itu dan apa fungsinya?

Baca juga: Punya Peran Vital, Inilah Empat Jenis dan Fungsi Flap pada Sayap

Pesawat diketahui tiga gerakan utama pesawat adalah pitch, roll dan yaw. Pitch adalah gerakan pesawat berputar terhadap sumbu lateral, berupa gerakan nose-up atau nose-down (mengangguk).

Roll adalah gerakan berputar terhadap sumbu longitudinal, berupa gerakan berputar sehingga salah satu sayap naik sedangkan salah satunya turun, dan yang terakhir adalah yaw, yaitu putaran terhadap sumbu vertikal, gerakan ini berupa menggeleng, yaitu hidung pesawat menghadap ke kanan maupun ke kiri. Pada prakteknya, gerakan adalah kombinasi dari ketiga gerakan dasar di atas.

Selain itu, pesawat memiliki dua instrumen; flight instrument (instrumen penerbangan) dan flight control (kontrol penerbangan). Turunan dari itu ada aileron, elevator, rudder, flap, slat, spoiler, speed brakes, tab, dan lainnya.

Dalam kaitannya dengan sesuatu yang bergerak ke atas di sayap pesawat saat final approach dan saat mendarat, itu bukan flap atau slat melainkan spoiler. Ya, bukan mobil saja yang mempunyai spoiler, melainkan pesawat juga.

Menurut pilot salah satu maskapai, Randy Duncan, seperti dikutip di Quora, spoiler sendiri terbagi menjadi dua; ground spoiler dan flight spoiler.

Dalam penerbangan, flight spoiler berfungsi untuk mengurangi daya angka sayap yang memperlambat pesawat dan meningkatkan kecepatan menurunkan ketinggian (rate of descent). Saat masih di udara, penggunaan flight spoiler memang bisa dibilang jarang karena itu memang tidak seharusnya digunakan.

Ada kalanya, controller atau petugas ATC bandara meminta pilot untuk mempercepat penurunan ketinggian dalam rangka persiapan mendarat.

Handle flight spoiler dan ground spoiler bertuliskan SPD BRK. Foto: Quora

Permintaan ATC tersebut umumnya lantaran pilot misjudged the approach atau sederhananya pilot salah perhitungan. Pilot umumnya akan merespon permintaan rate of descent yg dipercepat dengan menggunakan flight spoiler.

Di kokpit terdapat handle yang bertuliskan ‘SPD BRK’ (seperti gambar di atas) untuk ditarik atau diubah ke posisi ‘armed’ dan flight spoiler pun akan bekerja.

Senada dengan flight spoiler, ground spoiler juga memiliki fungsi yang nyaris sama meski dengan cara yang berbeda. Sama-sama bertujuan untuk menurunkan kecepatan pesawat tetapi cara kerjanya berbeda.

Baca juga: Kenapa Pesawat Terbang Tidak Bisa Mundur atau Self-Pushback Saat di Bandara? Ini Jawabannya

Disebutkan, ground spoiler berfungsi untuk mengurangi gaya angkat pada sayap yang memberikan beban lebih pada roda (landing gear) sehingga wheel brakes bisa lebih efektif melakukan pengereman.

Jadi, saat dioperasikan, panel-panel yang ada disayap memang menahan angin sehingga memperlambat pesawat. Tetapi, itu tidak terlalu signifikan persentese-nya dalam membuat pesawat berhenti dibanding beban lebih yang dihasilkan dari kinerja panel terebut terhadap roda pesawat dan memaksimalkan pengereman di roda.

Lima Rute Internasional Tersibuk di Dunia, Nomor Satu Paling Tak Disangka

Tak sedikit yang berpikir bahwa rute internasional tersibuk di dunia melibatkan bandara-bandara tersibuk di dunia. Nyatanya, itu tak selalu demikian. Rute internasional tersibuk di dunia antar bulan Oktober tahun 2021 sampai September tahun 2022 justru dipegang oleh bandara yang tidak masuk dalam daftar 10 bandara bandara tersibuk di dunia tahun lalu. Agar lebih lengkap, berikut daftar 5 (lima) rute internasional tersibuk di dunia versi OAG.

Baca juga: Selain Sabet Rute Domestik Tersibuk, Ini Sederet Prestasi Penerbangan Indonesia di Februari 2021

5. Kuala Lumpur – Singapura

Kendati dekat dan bisa dicapai lewat jalur darat, rute internasional Kuala Lumpur – Singapura nyatanya masuk dalam daftar rute internasional tersibuk kelima di dunia. Dalam periode tersebut (Oktober 2021-September 2022), sedikitny ada total 2.443.176 kursi yang terjual di rute ini. Sebagian besar tingginya traffic penumpang di dua rute internasional ini karena posisinya sebagai mega hub di Asia, di samping tingginya interaksi antar kedua negara.

Singapura secara konsistem menjadi tujuan internasional tersibuk di Kuala Lumpur. Ini bukan hanya didominasi oleh lalu lintas orang tetapi juga barang. Di rute ini, sedikitnya ada tujuh maskapai yang mengoperasikannya; AirAsia, Batik Air Malaysia, Jetstar Asia, KLM, Malaysia Airlines, Scoot, dan Singapore Airlines.

4. Dubai – London Heathrow

Rute internasional tersibuk keempat di dunia antara Dubai – London Heathrow sepertinya tidak terlalu mengherankan. Sebab, keduanya sama-sama menyandang predikat mega hub dan menjadi salah satu destinasi wisata terfavorit di dunia.

Sepanjang Oktober 2021 – September 2022, rute antarbenua ini menjual total 2.697.593 kursi, berbanding tipis dengan rute internasional Kuala Lumpur – Singapura. Namun, di rute ini, hanya dilayani dua maskapai besar, British Airways dan Emirates.

3. New York JFK – London Heathrow

Sebagai bandara tersibuk di Eropa, wajar jika bandara tersebut menempati posisi ketiga rute internasional tersibuk ketiga di dunia bersama Bandara John F. Kennedy New York. Totalnya, dalam periode Oktober tahun lalu sampai September tahun ini ada total 2.848.044 kursi yang tersedia. Rute bersejarah ini sedikitnya dioperasikan oleh lima maskapai; American Airlines, British Airways, Delta Air Lines, Virgin Atlantic, dan JetBlue.

2. Dubai – Riyadh

Sebagai negara kaya minyak dengan tingkat kesejahteraan tinggi, warga Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bebas bepergian kemanapun di dunia tanpa khawatir soal uang. Karenanya, tak heran bila rute Dubai – Riyadh menempati posisi kedua daftar rute internasional tersibuk di dunia. Sedikitnya, ada total 3.191.090 tersedia di kedua rute yang dioperasikan oleh Flyadeal, flydubai, dan Flynas tersebut.

Baca juga: 10 Maskapai dan Rute Narrowbody Jarak Jauh Terbesar di Dunia, Ada Maskapai Indonesia?

1. Kairo – Jeddah

Seiring dibukanya ibadah umrah pasca pandemi Covid-19, traffic ke Jeddah untuk tujuan ke Mekkah, yang di dalamnya terdapat Kakbah, terus meningkat. Di antara banyaknya negara-negara yang terbang ke Jeddah, Kairo rupanya menjadi yang tertinggi dan menjadikan rute Kairo – Jeddah sebagai rute internasional tersibuk di dunia.

Ada total 3.234.683 kursi yang tersedia sepanjang bulan Oktober tahun 2021 dan September 2022 oleh sembilan maskapai; Air Arabia Egypt, Air Cairo, EgyptAir, Flyadeal, FlyEgypt, Flynas, Nesma Airlines, Nile Air, dan Saudia.

Sambut Halloween Day, Taksi Sadako Hadir di Tokyo, Tawarkan ‘Mimpi Buruk’ Bagi Penumpang

Menyambut perayaan Halloween yang jatuh pada tanggal 31 Oktober mendatang, Sadako alias demit khas Jepang akan menyambangi para penumpang taksi di Tokyo. Taksi di Jepang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Seperti pintu penumpang sisi belakang membuka dan menutup sendiri dan Anda hampir selalu menemukan serbet renda di rak parsel di bawah jendela belakang. Tapi di bulan Oktober ini, layanan taksi Tokyo akan menawarkan sensasi yang berbeda.
Dikutip dari Soranews24.com (18/10/2022), Sadako yang menjadi ikon horor dalam film The Ring, akan menampilkan kengeriannya di layanan taksi online S Ride. Untuk memuluskan kehadiran Sadako, S Ride bermitra dengan bioskop Sadako DX. Rencananya S Ride akan menyapkan 50 unit taksi Sadako mulai 24 Oktober 2022.
Untungnya, taksi Sadako adalah opsional, di mana perusahaan taksi juga menyiapkan taksi baisa, mengantisipasi ada calon penumpang yang takut atau tidak nyaman. Jika Anda meminta taksi Sadako, Anda akan melihatnya tidak hanya di papan reklame digital yang menghadap ke luar mobil.
Lebih horor lagi, Sadako rupanya hadir melalui monitor di kursi belakang kabin, jika Anda cukup berani, boleh menggunakan fitur augmented reality kolaborasi. Tidak itu saja, Sadako juga akan muncul dalam video keselamatan penumpang.
S Ride menyebut akan memeperlihatkan sisi yang lebih meriah dengan jendela Happy Halloween khusus di beberapa taksi pada tanggal 30 dan 31 Oktober.
Buat yang akan memesan taksi via aplikasi, maka Sadako juga muncul di ponsel setelah Anda membuat permintaan penjemputan, dengan pesan yang mengatakan “Saya pikir dia datang,” untuk menemani Anda saat Anda menunggu.
“Silakan nikmati taksi sensasi baru, di mana Anda dapat mengalami dunia Sadoko sebelum dan selama perjalanan Anda,” kata S.Ride, Perusahaan taksi itu menyebut mimpi buruk akan datang setelah perjalanan Anda sebagai bonus yang tidak disebutkan. Taksi Sadato akan beroperasi di Tokyo dari 24 Oktober hingga 16 November 2022.

Bisakah Penumpang Pesawat Diturunkan Paksa ke Kelas Kursi Di Bawahnya?

Dalam sebuah penerbangan, penumpang berhak mem-booking kursi yang mereka inginkan meskipun harus mengeluarkan biaya tambahan. Sebaliknya, maskapai berkah mengatur kursi seorang penumpang. Lantas, andai seorang penumpang sudah membayar untuk sebuah kursi, katakanlah kursi kelas bisnis atau first class, dan tiba-tiba maskapai memaksanya turun kelas karena satu dua alasan, bisakah itu terjadi?

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Ini Tips Mendapatkan Upgrade Kelas Kursi Secara Gratis dari Pramugari!

Menurut pengalaman seorang penumpang, Burak Ates, ia mengaku pernah dipaksa penumpang turun kelas di bawahnya.

Ketika itu, ia sudah memesan kursi kelas bisnis dalam sebuah penerbangan internasional. Namun tiba-tiba, ia mendapat informasi dari maskapai bahwa kursi kelas bisnis yang sudah dipesannya harus dipindah atau turun kelas ke kelas ekonomi.

Maskapai beralasan, ada rombongan birokrat yang secara mendadak memesan penerbangan yang sama dan meminta duduk di kursi kelas bisnis. Maskapai tak bisa berbuat banyak dan pada akhirnya memilih untuk mengakomodir permintaan birokrat tersebut serta mengorbankan penumpangnya.

Kendati turun kelas ke kelas ekonomi, maskapai tak ingin mengurangi pelayanan ke penumpang.

Umum diketahui bahwa kursi kelas ekonomi memiliki beberapa kursi spesial dengan legroom luas atau lega, seperti di kursi dekat pintu darurat dan kursi paling depan. Adapun Burak Ates ditempatkan oleh maskapai di kursi paling depan sehingga mendapat legroom sangat luas mirip di kursi kelas bisnis.

Tak cukup sampai di situ, maskapai juga memberikan layanan sebagaimana penumpang di kursi kelas bisnis.

Sejak di bandara, penumpang disambut dengan sangat hangat langsung oleh perwakilan petinggi maskapai di bandara keberangkatan. Lalu penumpang diantar ke lounge kelas bisnis dan dilayani dengan sangat ramah. Penumpang juga mendapat miles berkali-kali lipat, dari biasanya hanya 600 miles untuk perjalanan internasional menjadi 20 ribu miles.

Sampai di pesawat, penumpang tersebut kenyataannya tetap duduk di kursi kelas ekonomi namun mendapat pelayanan seperti kursi kelas bisnis. Sampai di sini, tak dijelaskan oleh penumpang apakah ia mendapatkan pemotongan harga tiket atau tidak.

Beberapa bulan kemudian, Burak Ates kembali terbang dengan maskapai yang sama. Ia memesan kursi kelas ekonomi pada penerbangan internasional. Namun secara tak terduga, maskapai menawarkan upgrade (naik kelas) ke kelas bisnis tanpa biaya tambahan alias gratis.

Menariknya, di awal Burak menolak tawaran tersebut karena saat itu ia tidak terbang sendiri melainkan berdua. Namun, maskapai tak patah arang dan menawarkan rekannya untuk ikut naik kelas. Tawaran dari maskapai Turkish Airlines tersebut akhirnya diterima.

Sven Meets World

Karena Pergantian Tipe Pesawat
Salah satu redaksi KabarPenumpang.com pernah mengalami ‘dipaksa’ untuk downgrade kelas. Saat itu dalam penerbangan Etihad dari Munich, Jerman menuju Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Perihal downgrade diutarakan oleh petugas check in counter di Bandara Munich, yaitu karena ada pergantian tipe pesawat, dari yang seharusnya menggunakan Boeing 787 Dreamliner, berubah ke Boeing 777-300.
Lantaran ada perubahan pesawat, berimbas pada konfigurasi dan kapasitas yang ada di kelas bisnis. Kami yang terkena downgrade kala itu diberikan pilihan, untuk lanjut di penerbangan yang sama dengan downgrade ke kelas ekonomi, atau bisa tetap menggunakan kelas bisnis, tapi di penerbangan selanjutnya.
Bila dipilih opsi kedua, berarti harus menunggu keesokan hari, itu pun tanpa ada tanggungan atau biaya untuk menginap. Atas dasar dua opsi itu, kami memilih untuk tetap terbang pada hari yang sama.
Meski sempat kecewa mendapatkan downgrade, namun dapat sedikit terobati, bahwa kami ditempatkan di kursi depan yang dekat pantry, sehingga punya legroom yang lebih luas. Untuk sajian kuliner sayangnya tidak mengacu ke kelas bisnis. Tapi ada kompensasi yang diberikam Etihad, yakni pengembalian 75 persen dari harga kursi di kelas bisnis.

Selain Burak Ates dan redaksi KabarPenumpang.com, masih banyak penumpang lainnya yang ‘curhat’ pernah dipaksa turun kelas ke kelas di bawahnya karena berbagai alasan.