Waktu Singkat 45 Menit, Kereta Cepat Jakarta Bandung Akan Layani 68 Perjalanan

Pengiriman rangkaian kereta cepat untuk Indonesia telah dilakukan Agustus 2022 ini. Pelepasan rangkaian kereta tersebut dilakukan di Qing Dao, Tiongkok sekaligus ceremony yang dilakukan pemerintah setempat dalam acara tersebut. Pengiriman rangkaian kereta dengan julukn Komodo ini dikirim dari Tiongkok pada 4 Agustus 2022 lalu dan tiba di Indonesia tepatnya di Tanjung Priok, Jakarta sekitar bulan September atau Oktober 2022 mendatang. Infrastruktur yang dikerjakan di Indonesia memang harus dikebut agar saat November 2022 nanti yang bertepatan dengan penyelenggaraan Presidensi G20, KCLB sudah menjalani tes dinamis.

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta Bandung Capai Tahap Akhir. Kira – kira Berapa Harga Tiketnya?

Kereta Cepat Jakarta Bandung saat dioperasikan reguler, memiliki desain yng ramping sehingga dapat mendukung kecepatan dari kereta ini bisa mencapai 350 km/jam. Dan kelebihan lain dari kereta ini untuk perjalanan Jakarta – Bandung maupun sebaliknya akan ditargetkan memiliki waktu perjalanan antara 30 – 45 menit. Dan rencananya dalam sehari akan dijalankan sebanyak 68 kali perjalanan. Kehadiran kereta cepat ini tentu diharapkan dapat semakin meningkatkan minat masyarakat untuk lebih memilih menggunakan transportasi publik ketimbang transportasi pribadi.

Seperti diketahui rangkaian kereta cepat ini memiliki 11 rangkaian kereta yang diproduksi oleh CRRC Si Fang, Qing Dao, Provinsi Shan Dong, Tiongkok telah selesai diproduksi pada awal April 2022. Multiple Unit (EMU) dan Comprehensive Inspection Train (CIT) yang dikirim ke Indonesia ini telah menyelesaikan static test dan dynamic test di tempat produksinya. Selama perjalanan kereta cepat ini, di Indonesia masih tahap pengerjaan terutama progres pengerjaan proyek KCIC telah mencapai 85 persen, dan masih menyisakan beberapa pekerjaan tunnel 2, pre loading, track laying dan penyelesaian stasiun.

Baca juga: Mengenal “CPG 500” – Kereta Mekanik untuk Pemasangan Rel Kereta Cepat Jakarta Bandung

Saat ini perjalanan masih menggunakan kereta api dengan rute Jakarta – Bandung ditempuh dalam waktu 2,5 jam menggunakan kelas eksekutif (Argo Parahyangan). Dalam waktu tersebut selama perjalanan memang dimanjakan dengan berbagai pemandangan yang eksotik diwilayah tanah priyangan barat. Namun untuk segi waktu memang membutuhkan beberapa jam hingga ketempat tujuan. Dengan hadirnya kereta cepat ini masyarakat bisa menggunakan perjalanan dengan waktu singkat untuk mobilisasi dengan rute Jakarta – Bandung pp. yang direncanakan beroperasi pada pertengahan tahun 2023. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Naik KRL Selalu Waspadai Barang Bawaan Saat Disimpan di Rak Bagasi

Naik transportasi umum tak sekadar mewaspadai diri sendiri, namun barang bawaan apa yang kita bawa pun patut diwaspadai. Sebagai pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) sebagai keseharian dalam beraktivitas tentu tak luput dengan barang bawaan yang harus dijaga. Penyedia layanan transportasi ini memberikan kemudahaan dan prioritas bagi penggunanya agar tidak repot dalam membawa bahkan menjaga barang bawaannya.

Baca juga: Tekan Pencurian Barang di KRL, KAI Commuter Pasang Kamera Canggih di 10 Stasiun Sibuk

Maka dari itu rak bagasi di setiap rangkaian KRL pun menjadi peran penting bagi penumpang yang membawa barang bawaan. Rak bagasi ini memang didesain memanjang agar saat menempatkan barang bisa tertampung lebih banyak. Meski rak bagasi sudah disediakan sedemikian rupa, penumpang tentu tak boleh menghiraukan barang yang dibawa dan disimpan di rak bagasi. Tapi harus tetap menjaga dan memperhatikan selama didalam KRL.

Mewaspadai apa yang kita bawa dan kita jaga menjadi kepentingan diri sendiri. Meski merasa aman dan nyaman di KRL, namun penumpang tak boleh lengah. Tak hanya sekali atau dua kali, kejadian kehilangan bahkan ditukar pun kerap kali menimpa para penumpang KRL yang menyimpan barang bawaannya di rak bagasi. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi memang kewaspadaan harus terus dijalankan. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) tak bosan-bosannya untuk menghimbau bahkan memperingatkan kepada setiap penumpang KRL agar selalu menjaga barang bawaannya dan tetap dalam melakukan perjalann menggunakan kereta.

Baca juga: Konservasi KRL Sudah Didepan Mata

Menggunakan rak bagasi didalam KRL memang semakin dimudahkan bagi kita sebagai pelanggan setia dalam menempuh perjalanan singkat. Namun, perlu diingat menyimpan di rak bagasi untuk barang yang dibawa dihimbau tidak barang – barang yang berharga apalagi yang mencolok. Masih saja sebagian pengguna KRL yang menggunakan rak bagasi untuk menyimpan barang berharga, entah karena lupa atau memang tidak mau repot dibawa. Jika penumpang dalam posisi tidak duduk, masih bisa dipantau dan diawasi, tapi jika penumpang dalam keadaan duduk, dihimbau untuk barang berharga berada dalam genggaman tangan. Menjadi penumpang yang cerdas adalah kewajiban semua orang agar tidak kecolongan atau kelalaian saat menggunakan transportasi umum. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Kenapa Pesawat Boeing 787 Dreamliner Tidak Dilengkapi Winglet? Ini Rahasianya

Sebelum ditemukan pasca krisis minyak tahun 1973, pesawat umumnya tidak dilengkapi dengan winglet pada ujung sayap. Seiring perkembangan teknologi, ini berubah dan pesawat saat ini mayoritas menggunakan winglet. Namun, ada juga pesawat modern yang tidak dilengkapi winglet, salah satunya Boeing 787 Dreamliner. Lantas, kenapa demikian?

Baca juga: Kenapa Boeing 787 Disebut Dreamliner? Begini Sejarahnya

Sebagaimana umum diketahui, pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrus (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur). Namun, semua gaya untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang akan sia-sia bila tidak ada sayap. Sebab, komponen utama pesawat terbang yang menghasilkan gaya angkat adalah sayap.

Prinsip kerja sayap sendiri adalah udara yang mengalir di bawah sayap lebih lambat daripada di bagian atasnya dikarenakan jalur yang dilewati udara di atas sayap lebih jauh. Perbedaan kecepatan tersebut menghasilkan perbedaan tekanan yaitu tekanan di bawah sayap lebih tinggi dari pada tekanan di atas sayap, yang mana mengakibatkan pesawat terangkat ke atas.

Tentu saja kita telah sama-sama ketahui bahwa udara mengalir dari tekanan rendah ke tekanan tinggi. Misalkan balon yang kita tiup akan menyemburkan udaranya keluar ketika kita lepaskan karena tekanan di dalam balon lebih tinggi dari tekanan luar balon.

Hal tersebut juga terjadi pada perbedaan tekanan antara bagian bawah dan atas sayap, tepatnya terjadi pada ujung sayap.

Aliran udara dari bawah ke atas sayap pada ujung sayap menghasilkan aliran udara yang berputar dengan cepat pada ujung sayap yang disebut juga dengan tip vortex. Aliran ini dapat meningkatkan drag pada sayap, menurunkan gaya angkat dan mengganggu aliran udara.

Guna menghindari terjadinya hal tersebut, ujung sayap dibuat berbelok ke atas dan mengecil atau disebut juga dengan winglet.

Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi.

Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa lebih irit hingga 7 persen, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

Penghematan bahan bakar ini sangat penting bagi maskapai dan industri, terutama di masa krisis minyak, seperti pada tahun 1973. Itu pula yang membuat para insinyur berpikir keras untuk menciptakan pesawat yang lebih hemat bahan bakar hingga akhirnya ditemukanlah winglet oleh Richard T. Whitcomb yang terinspirasi dari burung.

Sejak saat itu, seluruh pesawat pasti dilengkapi atau memiliki winglet, termasuk Boeing 787 Dreamliner. Banyak pertanyaan, kenapa Boeing 787 Dreamliner tidak memiliki winglet? Sebetulnya, pertanyaan tersebut kurang tepat karena itu tadi setiap pesawat yang diproduksi pasca ditemukannya winglet pasti dilengkapi dengan itu.

Dilansir dari berbagai sumber, Boeing 787 Dreamliner menggunakan winglet dengan nama raked wingtip. Boeing mengklaim winglet jenis ini dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar sebesar 5,5 persen lebih atau 4,5 persen lebih tinggi dari sayap tanpa winglet.

Baca juga: Kenapa Ujung Sayap Pesawat Boeing 787 Dreamliner Tidak Menekuk? Ini Jawabannya

Saat dalam keadaan tidak terbang, sayap Boeing 787 Dreamliner memang rata dan terkesan tanpa winglet. Namun saat di udara, mulai dari nacelle sampai ke wingtip menekuk sampai 10 kaki. Saat cruising di udara, sayap kembali menekuk maksimal sampai 20 kaki dari posisi normal.

Saat dalam keadaan tertekuk 10 – 20 kaki dari posisi normal, sebetulnya, efek putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang dihasilkan Boeing 787 Dreamliner nyaris sama dengan winglet pesawat lain. Bahkan lebih efektif dalam melawan hambatan udara dan membuat kinerja pesawat menjadi lebih ringan dan bahan bakar lebih irit.

Desember 2022, Arab Saudi Resmi Punya Masinis Wanita untuk Kereta Cepat Haramain Express

Jika tak ada aral melintang, pada pertengahan Desember mendatang, Arab Saudi secara resmi akan memiliki masinis wanita pertama untuk kereta cepat Haramain Express yang menghubungkan dua kota suci, Makkah dan Madinah. Sejauh ini ada 31 wanita Arab Saudi yang telah menyelesaikan tahap pertama pelatihan mengemudi kereta berkecepatan tinggi.

Baca juga: Mengular 25 September 2018, Inilah Rincian Tarif Kereta Cepat Haramain Express!

Dikutip dari thekashmirmonitor.net (8/8/2022), kursus pelatihan masinis dilakukan oleh operator kereta api Spanyol Renfe. Para peserta pelatihan telah memasuki tahap kedua, yang akan berlangsung selama sekitar 5 bulan, dan peserta pelatihan akan menjajal kokpit di hadapan masinis profesional.

Laporan media mengatakan diharapkan wanita Saudi akan mulai mengemudikan kereta api, pada pertengahan Desember, dan dengan demikian akan menjadi wanita Saudi pertama dalam sejarah Arab Saudi yang mempraktikkan profesi ini. Sebelumnya para calon masinis sejak 13 Maret telah mengikuti pelatihan teori dengan total 483 jam. Para wanita terpilih akan mengendarai kereta peluru antara kota Mekah dan Madinah setelah satu tahun pelatihan berbayar.

Selama masa pelatihan, mata pelajaran diajarkan pengetahuan dasar perkeretaapian, peraturan lalu lintas dan keselamatan, bahaya kerja, peraturan pemadam kebakaran, dan aspek teknis kereta api dan infrastruktur. Pada tahap mendatang, jumlah pengemudi pria dan wanita Saudi akan meningkat, karena diperkirakan permintaan akan tumbuh secara signifikan selama beberapa tahun ke depan untuk perjalanan dengan kereta api, terutama selama musim haji dan umrah.

Sekitar 28.000 wanita Arab mengambil kesempatan itu dan mendaftar untuk pelatihan tersebut. Dari kelompok itu, 145 wanita dipilih untuk wawancara pribadi, tetapi hanya 31 dari mereka yang berhasil lolos ke tahap pertama pelatihan.

Baca juga: 28 Ribu Wanita Arab Saudi Serbu Lowongan Kerja Masinis Kereta Cepat Mekkah-Madinah

Sebagai catatan, perusahaan Spanyol Renfe adalah pemegang saham terbesar di konsorsium Haramain Express bersama dengan Institut Teknik Kereta Api Saudi telah bertanggung jawab untuk melatih lebih dari 130 warga Saudi selama sembilan tahun terakhir.

Mau Jadi Pramugari? Siap-siap 5 Risiko Besar Ini

Sekilas, kehidupan pramugari tampak sangat glamor dan menyenangkan ketika berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat eksotis, dan menikmati pengalaman baru. Namun, dibalik semua itu, ada harga mahal yang harus ‘dibayar’ oleh para bidadari angkasa tersebut.

Baca juga: Enam Pramugari Curhat Delapan Hal Soal Lika-Liku Kerja Saat Covid-19, Nomor Lima Bikin Naik Darah!

Selain kerja keras, pramugari sering kali terpaksa meninggalkan banyak agenda pribadi, seperti datang ke resepsi pernikahan sahabat, keluarga, bahkan menghadiri prosesi pemakaman orang tua, karena tidak mendapat cuti ataupun sedang bertugas di luar negeri. Ini dianggap sebagai kelemahan menjadi seorang pramugari/pramugara atau kru kabin.

Tak cukup sampai di situ, menjadi seorang pramugari/pramugara atau awak kabin juga memiliki banyak risiko besar yang kapan saja bisa merenggut nyawa. Dilansir dari berbagai sumber, berikut 5 risiko besar yang umumnya dihadapi pramugari.

1. Tertular penyakit

Di masa pandemi Covid-19, sudah tak terhitung pramugari/pramugara maskapai dunia yang terinfeksi virus tersebut. Memang, siapapun bisa saja tertular. Tetapi, bukan itu permasalahannya.

Sebagai profesi yang wajib bertemu dengan orang banyak, pramugari sangat rentan tertular Covid-19. Menariknya, profesi ini sulit untuk bisa dikerjakan secara remote, sebagaimana profesi lainnya.

Karenanya, apapun wabah yang sedang merebak, selama maskapai masih menerbangkan armadanya, pramugari harus siap membersamai penerbangan tersebut dan menerima segala risikonya, dalam hal ini tertular penyakit atau wabah tersebut.

2. Kecelakaan pesawat

Kecelakaan pesawat sudah pasti mau tidak mau dan suka tidak suka akan menimpa pramugara/pramugara. Kabar buruknya adalah sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu menyelamatkan mereka saat terjadi kecelakaan.

Meski begitu, kabar baiknya adalah pesawat merupakan moda transportasi paling aman di dunia. Dari miliaran penerbangan dalam setahun, bisa terhitung dengan jari jumlah kecelakaan fatal yang menelan korban jiwa.

3. Instabilitas politik dan zona perang

Sebagai penerbangan komersial yang tidak dilengkapi dengan peralatan militer atau tempur, maskapai manapun di dunia pasti mengarahkan krunya untuk tidak terbang melewati rute-rute rawan konflik atau yang sedang berkonflik atau perang, seperti kawasan sekitar Rusia dan Ukraina.

Namun, dalam berbagai kasus, pesawat tetap melewati rute dari berbagai negara yang sebetulnya dalam kondisi relatif stabil tetapi kerap bersitegang. Itu pada akhirnya menyebabkan kecelakaan fatal. Salah satunya adalah kecelakaan Boeing 737-800 Ukraine International Airlines pada pertengahan 2020 lalu.

Baca juga: Positif Negatif Menjadi Pramugari, Gaji Rendah hingga Jadi ‘Pemain’ Cadangan

2. Bahaya di negeri orang saat layover

Layover adalah salah satu kenikmatan menjadi pramugari/pramugara. Di sini, mereka bisa traveling sepuasnya dengan tetap menjaga nama baik perusahaan. Selain itu, pramugari/pramugara juga mendapat uang saku untuk bekal selama singgah di negara tujuan rute maskapai.

1. Ketidakpastian pekerjaan atau gaji

Dalam kondisi normal, profesi pramugari/pramugara sangat menjadi primadona. Namun, di tengah kondisi yang tidak stabil di bawah pandemi Covid-19, posisi pramugari/pramugara berada di ujung tanduk dan kerap terpinggirkan sekalipun memegang peranan kunci bersama pilot dalam mengoperasikan penerbangan.

Kuda Putih Sang Pioner Kereta Api Komuter Tanpa Lokomotif

Sebagian masyarakat mungkin belum mengetahui dengan kereta bertenaga diesel yang legendaris tahun 1980-an yang satu ini. Julukan si Kuda Putih ini keberadaannya tak hanya menyisakan kenangan tapi juga pengharapan untuk tetap beroperasinya KRD kebanggaan masyarakat Yogyakarta ini. Namun hingga kini si Kuda Putih hanya dijadikan monumen yang berada di sebelah timur Stasiun Lempuyangan.

Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

Saat kehadiran si Kuda Putih pada masanya merupakan sensasi baru perkembangan KA komuter di Indonesia. Kereta ini juga tida perlu lagi ditarik oleh lokomotif. Tenaga berasal dari mesin diesel yang menggantung pada kerangka bawah. Sebutan Kuda Putih ternyata diambil dari simbol dua kuda putih yang saling membelakangi yang terletak di atas kabin masinis bagian luar. Dalam bahasa Jawa, kuda putih dissebut Turangga Seta. Turangga artinya kuda dan Seta artinya adalah putih.

KA Kuda Putih setelah direstorasi menjadi monumen di Stasiun Lempuyangan. (Foto: Semboyan35.com)

Si Kuda Putih ini diimpor oleh PJKA dari Glossing und Scholer GmbH, Dortmund Jerman sebanyak 7 buah. Dengan didatangkannya Kuda Putih menjadi tonggak penomoran KRD. Kuda Putih diberi nomo MCDW 300. Arti nomor seri: M adalah unit kereta yang dilengkapi motor diesel. Lalu C berarti kereta penumpang kelas 3. Kemudian D dapat membawa barang bagasi. Angka 3 menggunakan jenis transmisi hidrolik, dan angka 00 menunjukkan KRD tipe pertama.

Baca juga: KA Prameks (Prambanan Ekspres) Berhenti Operasi, Ini Dia Sejarahnya

Saat ini keberadaan si Kuda Putih masih teronggok di area Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Entah akan dipergunakan tetap sebagai monumen Stasiun Lempuyangan atau memang akan di lestarikan sebagai monumen lainnya. Sebagai informasi tanggal 8 Desember 2011, Unit Pusat Pelestarian dan Benda Bersejarah PT Kereta Api Indonesia memindahkan unit KRD Kuda Putih ke Stasiun Lempuyangan karena sebelumnya dipindahkan dari Depo Solo Balapan. Pemindahan dilakukan menggunakan KRLB (Kereta Luar Biasa) bersamaan dengan rangkaian Crane Kirow. (PRAS – Cinta Kereta Api)























Bukan di Adegan Film, Seekor Buaya Jadi Penyebab Jatuhnya Pesawat dan Tewaskan 20 Penumpang

Seekor buaya bisa menyebabkan jatuhnya pesawat, rasanya seperti ada dalam adegan di film fiksi. Namun, nyatanya hal terjadi dalam dunia nyata. Insiden tersebut menimpa pesawat penumpang bermesin turboprop Let L-410 Turbolet milik Filair yang berbasis di Republik Demokratik Kongo. Tentu yang menjadi pertanyaan, bagaimana hal itu bisa terjadi?

Baca juga: Ada Kelelawar Liar di Dalam Kabin, Boeing 777 Air India ‘Return to Base’

Dikutip dari Simpleflying.com, pada 25 Agustus 2010, penerbangan Filair dijadwalkan beroperasi dari Kinshasa menuju Bokoro, Semendwa, dan Bandundu. Segmen lepas landas dan penerbangan pesawat terbilang lancar. Namun, pada pukul 13.00 waktu setempat, pesawat tersebut menabrak sebuah rumah yang berjarak 1,2 mil dari landasan pacu di Bandundu.

Tragisnya, 20 orang di dalam pesawat tewas, meninggalkan satu penumpang wanita sebagai korban selamat. Stasiun radio setempat menyebutkan bahwa pesawat mengalami kehabisan bahan bakar setelah tidak dapat mendarat di Bandundu.

Let L-410 Turbolet

Namun, penyelidik kecelakaan tidak menemukan bukti bahwa terjadi situasi kekurangan bahan bakar. Dan, bukti terbaik kemudian muncul dari kesaksian satu-satunya penumpang yang selamat, yang memberikan rincian tentang pertemuan reptil berupa buaya selama penerbangan.

Penumpang selamat itu mengatakan kepada penyelidik bahwa seorang penumpang telah menyelundupkan seekor buaya ke dalam tas jinjing, yang tetap disembunyikan dari penumpang dan awak lain sampai pesawat mendekati pendaratan.

Pada titik tertentu, buaya itu muncul dari tas dan mulai berlarian di sekitar kabin. Dan seperti sudah bisa ditebak, ada kekacauan yang menyebabkan seorang pramugari panik dan berlari menuju bagian depan pesawat. Sayangnya, sebagian besar penumpang mengikuti ke arah depan, menyebabkan pergeseran berat yang substansial di dalam pesawat.

Pergeseran berat yang cukup besar ke arah bagian belakang pesawat mempengaruhi pusat gravitasi pesawat. Ini adalah kasus penerbangan ini ketika semua penumpang berlari ke depan. Pusat gravitasi pesawat merespons, dan pesawat menjadi kurang stabil dengan pusat gravitasi ke depan. Secara teknis, lokasi pusat gravitasi ke depan meningkatkan kebutuhan akan tekanan elevator belakang yang lebih signifikan.

Baca juga: Bikin Ketar-Ketir Penumpang, Inilah 6 Insiden Binatang Masuk ke Pesawat Tanpa Sengaja

Singkat cerita, kontrol elevator yang memadai diperlukan untuk mengendalikan pesawat sepanjang rentang kecepatan udara hingga ke stall. Dari insiden ini, awak pesawat tidak dapat mengatasi ketidakstabilan dan kemudian kehilangan kendali atas pesawat.

Profil China Airlines, Maskapai Nasional Taiwan yang ‘Alergi’ Pakai Nama ‘China’

Perseteruan Cina dan Taiwan kembali meningkat. Sejak Perang Saudara pada dekade 40an, kedua negara memang sering berseteru. Terlebih setelah PBB mengakui Taiwan bagian dari Cina dan di sisi lain Taiwan memproklamirkan kemerdekaannya seiring kekuangan ekonomi yang telah dicapai. Salah satu kekuatan ekonomi Taiwan datang dari maskapai nasional mereka, China Airlines.

Baca juga: Kesal Berada di Bawah Pengaruh Cina, China Airlines Ingin Ganti Nama Jadi Taiwan Airlines?

Ketika mendengar nama maskapai Taiwan tersebut, banyak yang bertanya kenapa maskapai menggunakan nama China Airlines dan sebaliknya bukan Taiwan Airlines?

Maskapai penerbangan nasional pada umumnya sering membawa nama negara yang mereka wakili. Misalnya, Air India, Air Canada, Air France, Aeromexico, Singapore Airlines, Qatar Airways, dan banyak lagi. Namun, lain halnya dengan Taiwan, flag carrier negara tersebut justru membawa nama Cina, China Airlines.

Dirunut dari sejarahnya, tentu saat pertama kali didirkan oleh mantan perwira Angkatan Udara Republik China (nama resmi Taiwan) pada 16 Desember 1959, memilih nama China Airlines bukanlah suatu hal yang aneh.

Memilih nama China Airlines sama sekali tidak aneh mengingat nama resmi Taiwan adalah Republik of China. Sudah begitu, di Cina daratan, belum ada maskapai yang menggunakan nama tersebut.

Kendati demikian, sepanjang sejarah berdiri sejak 10 Desember 1959, China Airlines (CAL) pernah beberapa kali secara tidak langsung direpotkan karena penggunaan nama ‘China Airlines’ pada maskapai.

Pasca diakui Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun 1969, tak lama setelah dinasinoalisasi oleh Pemerintah Taiwan, China Airlines mengalami bencana besar pertama sepanjang sejarah perusahaan berdiri ketika PBB mengakui Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada tahun 1971 sebagai negara sah. Itu otomatis mencabut pengakuan ICAO terhadap China Airlines.

Tidak diakuinya China Airlines oleh ICAO berdampak buruk pada operasi maskapai, yang ketika itu sedang mengalami pertumbuhan penumpang cukup positif dengan load factor rata-rata 80 persen.

Seperti dikutip dari referenceforbusiness.com, pada tahun 1972 dan 1973, China Airlines kehilangan pangsa pasar di Jepang, Malaysia, Korea Selatan, dan Vietnam. Setelah tahun tersebut, China Airlines memang mengalami pasang surut operasi, salah satunya di tahun 1980.

Ketika itu, maskapai untuk pertama kalinya sejak berdiri mengalami kerugian akibat penurunan penumpang domestik seiring pertumbuhan jalan raya (tol) dan kereta api, bukan karena penggunaan nama China Airlines.

Baru pada tahun 2020 kemarin, saat pandemi virus Corona merebak, China Airlines mengalami apa yang pernah mereka alami pada dekade 70an.

Saat itu, tidak sedikit orang, kelompok, atau negara yang mengira bahwa China Airlines adalah maskapai Cina.

Baca juga: Call Sign Aneh dan Kece Badai Maskapai Seluruh Dunia, Salah Satunya Cedar Jet

Taiwan, sebagai pemilik maskapai tersebut, tentu saja dirugikan. Sebab, konotasinya bersifat positif, dimana maskapai China Airlines keliling dunia dengan frekuensi tinggi dengan membawa peralatan dan perlengkapan medis bantuan pemerintah Taiwan untuk melawan penyebaran Covid-19. Ini yang pada akhirnya menyebabkan munculnya desakan dari berbagai pihak.

Pada Februari 2020, berbagai organisasi kemasyarakatan Taiwan mengajukan petisi untuk mengubah nama China Airlines. Tujuannya agar tak terjadi kesalahpahaman, baik ataupun buruk. Petisi tersebut pun mendapat respon positif dari Kementerian Transportasi dan Komunikasi (MOTC). Sampai saat ini, prosesnya masih terus berlangsung.

Akankah Regional Aircraft Kembangan Airbus Mampu Goyang Pasar ATR-72?

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan struktur pesawat Bird of Prey yang diperkenalkan secara resmi pada 19 Juli 2019 kemarin – bertepatan dengan diselenggarakannya ajang Royal International Air Tattoo di Inggris. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, Bird of Prey merupakan salah satu konsep pesawat rilisan Airbus yang ‘menjiplak’ dari burung elang. Kendati nyeleneh, namun agaknya Airbus enggan melewatkan kesempatan emas untuk mengembangkan Bird of Prey ini.

Baca Juga: “Bird of Prey” – Desain Mahakarya Airbus yang Terinspirasi dari Burung Elang

Nah, kini kabar terbaru dari Bird of Prey sendiri muncul dengan membawa informasi yang lebih detail mengenai pengembangannya kelak. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman imeche.org, tubuh dari burung elang itu sendiri – yang menjadi inspirasi Airbus dalam menciptakan Bird of Prey, dinilai sangat mirip dengan konsep pesawat.

“Tubuh burung elang merupakan gambaran dari fuselage pesawat. Alasan utama dari peniruan ini adalah karena burung elang selalu mengoptimalkan konfirgurasi dari tubuhnya sendiri,” ujar Martin Aston, Airbus Job Transformation Manager.

Jika tidak meleset, maka Bird of Prey ini akan menjadi regional aircraft yang menggunakan propulsi listrik hibrida. Belum ada spesifikasi lebih lanjut yang dibocorkan pihak Airbus terkait pesawat berbentuk unik ini, namun pesawat ini dirancang untuk memboyong 80 penumpang dan bisa menempuh jarak hingga 1.500 km.

Airbus juga rencananya akan menggunakan struktur geodesik dengan serat karbon sebagai material utama dari fuselage-nya.

“Baling-baling akan menawarkan redundansi yang lebih besar, serta daya angkat ekstra pada kecepatan rendah,” sambung Martin.

“Penggunaan bahan bakar dari Bird of Prey juga akan lebih hemat 30 sampai 50 persen dari pada pesawat konvensional yang beroperasi saat ini,” imbuhnya.

Baca Juga: “A380-1000,” Mimpi Airbus Bawa Seribu Penumpang dalam Sekali Terbang

Jika pada pemberitaan sebelumnya disebutkan bahwa pihak Airbus sebenarnya agak sedikit pesimis dengan model Bird of Prey ini, namun dengan hadirnya pernyataan dari Martin Aston ini seolah menyimbolkan bahwa Airbus siap mengambil ancang-ancang untuk mengembangkan Bird of Prey.

Akankah kehadiran Bird of Prey di masa yang akan datang menggoyang pasar regional aircraft yang selama ini disandang oleh ATR-72?

Lion Air Group: Kami Terbangkan Pesawat ATR 72 di Rute Perintis yang Merugikan Demi Pemulihan Ekonomi

Lion Air Group membuka rahasia salah satu maskapai yang masuk dalam grupnya, Wings Air. Maskapai itu tetap mengoperasikan pesawat ATR 72-500 dan ATR 72-600 (propeller/ baling-baling) di rute-rute perintis yang merugikan demi pemulihan ekonomi daerah dan nasional, sejalan dengan pemerintah pusat.

Baca juga: Analis Penerbangan Global: Lion Group Kuasai 72 Persen Market Share Penerbangan Domestik

Dalam keterangan persnya yang diterima KabarPenumpang.com, layanan penerbangan terutama Wings Air yang seluruh armada dioperasikan tipe ATR 72-500 dan ATR 72-600 (propeller/ baling-baling) untuk menjangkau kota tujuan setingkat kecamatan dan kabupaten pada rute antarpulau hingga pulau terluar mencatatkan rata-rata 200 frekuensi terbang setiap hari.

Operasional tersebut masih mengalami kerugian dikarenakan faktor utilisasi (tingkat pemanfaatan) pesawat ATR 72 (propeller/ baling-baling) yang tidak optimal disebabkan melayani daerah-daerah (kota tujuan) perintis, selain harga bahan bakar pesawat (aviation turbine fuel/ avtur) lebih mahal dibandingkan harga avtur di bandar udara besar (kota besar).

Walaupun masih merugi, Wings Air dengan pesawat ATR 72 (propeller/ baling-baling) tetap melayani jaringan penerbangan dimaksud dengan pertimbangan:

  1. Upaya berkontribusi terhadap program pemerintah seiring fase pemulihan perekonomian daerah dan nasional.
  2. Membantu menciptakan transportasi saling terkoneksi: antarkecamatan, antarkabupaten serta antarkabupaten dan kota besar. Penerbangan Wings Air pesawat ATR 72 (propeller/ baling-baling) terhubung dengan layanan penerbangan Lion Air Group yang dioperasikan menggunakan pesawat berbadan sedang (narrow body) dan pesawat berbadan lebar (wide body) di bandar udara besar sebagai penghubung utama (main hub).
  3. Mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan logistik secara cepat, selamat dan aman.
  4. Pesawat ATR 72 (propeller/ baling-baling) mengakomodir penerbangan langsung (point to point) tepat atau sesuai insfrastruktur bandar udara di wilayah-wilayah hingga setingkat kecamatan.

Baca juga: Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi

“Utilisasi (tingkat pemanfaatan) pengoperasian pesawat udara jenis/ tipe ATR 72 (propeller/ baling-baling) yang dioperasikan oleh Wings Air tidak hanya tidak maksimal, tetapi juga harga avtur yang lebih mahal dibandingkan harga avtur di bandar udara besar,” jelas Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro.

“Hal ini karena melayani penerbangan perintis (bandar udara kecil setingkat kecamatan) sehingga operasional merugi. Untuk pengoperasion jenis pesawat ATR (propeller/ baling-baling) tidak seperti pesawat jet,” tutupnya.