Kenapa Mesin Pesawat Semakin Besar? Ini Jawabannya

Di masa lalu, pesawat terbang didukung oleh mesin turbojet dengan diameter cukup kecil dibanding mesin jet yang ada sekarang. Kenapa demikian? Kenapa seiring waktu mesin pesawat justru semakin besar? Bukankah kecanggihan teknologi membuat benda besar menjadi lebih kecil dan simpel, seperti komputer, chip, dan sebagainya.

Baca juga: Mengapa Mesin Jet Sangat Andal? Berikut Ulasannya

Mesin jet, pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turbofan dan turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Dilansir highskyflying.com, seperti karburator motor, cara kerja mesin jet pesawat terbang juga tentu menggunakan udara. Bedanya ada proses pengompresan, mulai dari menghisap udara, menekan, ledakan, dan menghembuskan.

Langkah pertama adalah menghisap. Kipas di bagian depan mesin jet akan menghisap udara dan 80% dari udara akan melewati mesin dan meniupkan udara keluar dari belakang.

Baca juga: Ternyata Ini Pesawat Narrowbody dengan Mesin Terbesar di Dunia, Dioperasikan Citilink dan Lion Air

Itulah yang memberikan sebagian besar dorongan, yang mendorong pesawat ke depan dan itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa mesin pesawat semakin besar. Itu karena di awal mesin jet muncul sampai beberapa dekade setelahnya, mesin turbojet beroperasi tanpa ada kipas.

Udara langsung masuk ke ruang bakar dan ditembakkan dari bagian belakang mesin untuk menghasilkan tenaga yang sangat besar. Tapi konsekuensinya adalah boros bahan bakar.

Karenanya, pada mesin jet modern yang saat ini ada menggunakan kipas dan teknologi pembakaran yang lebih panjang. Udara yang dihisap kipas (fan) di bagian depan mesin tidak langsung masuk ke ruang bakar, melainkan mengalir ke sekitar ruang bakar dan sebagiannya masuk ke ruang bakar.

Sebelumnya, terlebih dahulu udara disaring kompresor bertekanan rendah dan tinggi, shaft bertekanan rendah dan tinggi, dan turbin bertekanan rendah dan tinggi. Prinsipnya adalah semakin lambat udara yang masuk ke mesin semakin bagus dan lebih efisien.

Selain itu, semakin banyak udara yang masuk semakin bagus dan itulah yang sedang dikembangkan oleh NASA. Tingkat ekstraksi daya mesin turbofan yang dikembangkan NASA disebut lebih cepat hingga empat kali lipat dari tingkat ekstraksi daya mesin pesawat tercanggih saat ini. Selain cepat, mesin juga efisien.

Baca juga: Empat Kali Lebih Cepat dan 10 Persen Lebih Hemat, Inilah Mesin Turbofan Besutan NASA

Cara terbaik untuk melakukan ini, kata NASA, dengan meningkatkan rasio bypass, yaitu membuat kipas di depan mesin lebih besar untuk memungkinkan peningkatan aliran udara, tetapi pada saat yang sama mengurangi ukuran inti mesin untuk mengurangi konsumsi.

Menjawab pertanyaan di awal, kenapa mesin pesawat semakin besar seiring waktu? Jawabannya, karena mesin berdiameter lebih besar lebih hemat bahan bakar.

Tren Main Games di Pesawat: Penumpang Pilih ‘Mabar’ di Ponsel Ketimbang Layar IFE

In-flight entertainment (IFE) dinilai memegang peranan penting untuk menghibur penumpang di setiap penerbangan. Umumnya IFE menawarkan tiga hal, musik, film, dan games. Terkait fungsi IFE sebagai hiburan penumpang bermain games, seiring waktu mulai bergeser lantaran banyak yang lebih memilih bermain (mabar) di ponsel masing-masing ketimbang di layar IFE.

Baca juga: Ratusan Maskapai Bakal Hadirkan Games Favorit Tahun 80-90an di Layar IFE, Apa Itu?

Sejarah hiburan dalam penerbangan sudah dimulai sejak tahun 1921 ketika Aeromarine Airways menayangkan film dalam penerbangan pertama berjudul “Howdy Chicago” di pesawat ‘Windy City’.

Pada tahun 1940, hiburan dalam penerbangan bergeser dengan menampilkan langsung aktor, penyanyi, dan musisi kenamaan untuk menghibur para penumpang di beberapa penerbangan tertentu. Meski terkesan high cost atau mahal, namun ini berhasil menarik minat penumpang terhadap suatu maskapai.

Barulah pada tahun 1975, layar IFE mulai hadir dalam penerbangan dan mulai menyuguhkan games untuk melepas penat di pesawat. Adanya games di pesawat bukan dipicu oleh games favorit yang mendunia karya Atari, Pong.

Di tahun yang sama, maskapai Braniff International Airways pun berinvestasi untuk itu dan menyediakannya di IFE di seatback kabin pesawat. Sejak saat itu, baik layar IFE maupun games terus ada sampai saat ini atau mungkin sampai di masa yang akan datang sekalipun trennya mulai berubah.

Bagi para pecinta games (gamers), apapun aktivitasnya merupakan cara mereka untuk mengisi waktu di sela-sela bermain games. Jadi, mereka tidur, makan, minum, mandi, termasuk naik pesawat adalah mengisi waktu sebelum lanjut bermain games.

Sebegitu pentingnya bagi para gamers untuk bermain games. Bagi para gamers dengan tingkat candu (addict) yang masih di bawah itu, bermain games memang tidak terlalu menjadi prioritas. Tetapi, dalam rangka mengisi waktu, terlebih di pesawat pada penerbangan jarak jauh, itu adalah wajib.

Sejak games dalam pesawat diperkenalkan maskapai Braniff International Airways, sebagian besar games dibuat untuk mengasah ketangkasan, seperti teka-teki, pengembangan bahasa, permainan trivia, dan lainnya.

Maskapai juga sudah sejak lama membuat agar penumpang satu sama lain bisa bersaing dan bermain games bersama dari layar IFE masing-masing.

Seiring waktu, terlebih pasca pandemi Covid-19, banyak maskapai melakukan efisiensi besar-besaran, salah satunya dengan menghindari layar IFE. Di samping itu, layar IFE, selama pandemi Covid-19 juga dihindari karena dinilai menjadi sarana penyebaran virus akibat banyak kontak yang dilakukan.

Sebagai gantinya, maskapai menyediakan WiFi dalam penerbangan (inflight WiFi) dan menikmati konten hiburan dari ponsel masing-masing, termasuk games. Siapa nyana, meski wabah Covid-19 sudah nyaris musnah, namun, tak sedikit penumpang yang tetap memilih bermain games di ponsel masing-masing dan ini pun disambut baik maskapai mengingat layar IFE investasinya cukup mahal.

Dilansir Simple Flying, trennya saat ini lebih mengarah pada BYOD atau bawa perangkat anda sendiri di atas pesawat. Di AS, banyak maskapai, terlebih di rute domestik, mulai mengakomodir tren tersebut dengan menyediakan port USB untuk mengisi daya. Ini juga perlahan di dukung dengan koneksi inflight WiFi.

Baca juga: Air Canada Luncurkan Fitur baru IFE, Bisa Bagikan Film Terbaik ke Sosmed Saat di Udara

Meski koneksinya masih belum stabil, nanti pada saatnya, ketika internet satelit sepenuhnya terhubung dengan pesawat, itu akan lebih cepat.

Ke depannya, sekalipun produsen IFE dan produsen konten IFE terus berinovasi, namun, pergeseran tren itu tak terelakkan, terutama di rute-rute domestik. Seiring waktu, pada rute-rute internasional bukan tak mungkin trennya juga akan berubah mengingat investasi layar IFE sangat mahal.

Bandara I Gusti Ngurah Rai Kini Dilengkapi Hotel Kapsul

Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali meluncurkan fasiitas PassGO-Digital Airport Hotel yang merupakan hotel kapsul pertama yang terletak di dalam kawasan bandara melalui peresmian yang dilaksanakan pada Rabu (19/01) siang. Fasilitas baru yang ditujukan untuk semakin meningkatkan nilai tambah dan kenyamanan, serta untuk menambah pilihan tempat beristirahat bagi para pengguna jasa bandara di Bali.

Baca juga: Hotel Kapsul di Shinjuku Hadirkan Fitur Sleep Report, Pantau Kualitas Tidur Lewat Suara Dengkuran

Hotel kapsul tersebut dikelola oleh salah satu anak usaha Angkasa Pura I, yaitu PT Angkasa Pura Hotel (APH) yang bekerja sama dengan PT Krisna Graha Primatama (KGP) yang merupakan salah satu operator hotel kapsul pertama di Indonesia.

Hotel kapsul yang terletak di lantai 2 Terminal Kedatangan Internasional tersebut menawarkan sebanyak 132 kapsul atau pod modern berlapis kayu dengan tipe Superior dan Premier. Di dalam setiap kapsul dilengkapi sejumlah fasilitas dan fitur menarik, di antaranya adalah kartu akses, perlengkapan tidur berupa kasur, bantal, dan selimut berkualitas tinggi, TV kabel, tempat penyimpanan tas, sistem ventilasi udara, layanan internet nirkabel (Wi-Fi) berkecepatan tinggi, 2 port USB charging, lampu yang dapat berubah warnanya sesuai dengan suasana, cermin, lampu baca, serta headphone.

Para tamu hotel kapsul tersebut juga dimanjakan dengan fasilitas loker pribadi dan kamar mandi terpisah untuk laki-laki dan perempuan yang dilengkapi dengan air panas dan air dingin.

Hotel kapsul ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum berupa co-working space berkapasitas 20 orang, lengkap dengan fasilitas layanan internet nirkabel (Wi-Fi) berkecepatan tinggi, lobby, ruang tamu, serta kamera CCTV untuk memastikan keamanan dan kenyamanan tamu.

Direktur PassGO-Digital Airport Hotel Richard Josano menyatakan hotel kapsul di Bandara I Gusti Ngurah Rai merupakan pilihan yang menarik bagi para pelancong di Bali. “PassGo Bali akan menjadi pilihan yang tepat bagi para pelancong untuk menunggu penerbangan berikutnya. PassGO Bali menyediakan pilihan tarif transit, mulai dari 6 jam, 9 jam, dan untuk menginap 1 malam, sehingga lebih fleksibel bagi tamu,” ujar Richard Josano.

Baca juga: Intip First Cabin, Hotel Kapsul di Jepang dengan Desain Kabin Mewah Pesawat

Richard juga menyatakan bahwa hotel kapsul di bandara akan sangat memanjakan para traveler yang menjalani pola kerja Work from Anywhere (WFA). ” Kemajuan teknologi digital memungkinkan generasi muda untuk bekerja dari mana saja. Mereka melakukan perjalanan lebih sering daripada sebelumnya untuk mencari pengalaman di tempat baru,” ujarnya.

Dengan Airbus A330-300, Garuda Indonesia Buka Rute Denpasar-Narita 3x Seminggu

Garuda Indonesia mulai 1 November 2022 secara resmi akan membuka akses langsung bagi wisatawan Jepang untuk menuju Denpasar dengan mengoperasikan kembali layanan penerbangan Narita–Denpasar pp.

Baca juga: Garuda Indonesia Buka Penerbangan Reguler 1x Seminggu Denpasar – Narita

Pengoperasian kembali layanan penerbangan tersebut nantinya akan melengkapi konektivitas langsung dari Jepang ke Indonesia melalui rute Haneda–Jakarta pp yang telah dilayani sebelumnya.

Adapun rute penerbangan Narita–Denpasar pp nantinya akan dilayani tiga kali setiap minggunya yaitu setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu dengan menggunakan armada A330-300 yang memiliki kapasitas sebanyak 251 penumpang dengan konfigurasi 36 business class dan 215 economy class.

Penerbangan Narita-Denpasar pp akan dilayani dengan GA881 yang diberangkatkan dari bandara internasional Narita pada pukul 11.00 LT dan akan tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pada pukul 18.05 WITA. Sementara itu, penerbangan Denpasar – Narita pp akan dilayani dengan GA880 dan diberangkatkan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pada pukul 00.25 WITA dan akan tiba di Bandara Internasional Narita pada pukul 08.40 LT.

Baca juga: Kabar Gembira, Garuda Indonesia Pertahankan Rute Internasional ke Sydney, Narita, Seoul dan Hong Kong

Kedepannya Garuda Indonesia juga secara bertahap akan membuka kembali beberapa rute penerbangan internasional lainnya untuk menuju Bali seperti Melbourne, Australia dan Seoul, Korea Selatan.

Dari Inggris, Boeing 747-400 “Cosmic Girl” Virgin Orbit Siap Luncurkan Roket ke Luar Angkasa

Kota kecil Cornwall, di ujung barat daya Inggris yang berhadapan ke Laut Atlantik, dalam beberapa hari ini sempat menjadi perhatian dunia, pasalnya anak perusahaan dari Virgin Group, Virgin Orbit, tengah mempersiapkan peluncuran roket yang berisi tujuh satelit ke luar angkasa dengan menggunakan pesawat widebody Boeing 747-400 “Cosmic Girl”.

Baca juga: Gunakan Boeing 747-400, Virgin Group Siap Luncurkan Satelit Menuju Orbit

Lepas landas dari bandara Newquay, yaitu bandara terbesar ke-29 di Inggris, pesawat yang akan membawa roket LauncherOne itu terbang rendah sebelum akhirnya melesat jauh ke langit. Cosmic Girl bukan sembarang pesawat dan juga bukan Boeing 747 biasa.

Faktanya, pesawat ini telah dirancang khusus sebagai wahana peluncuran roket. Dikutip dari CNN.com (20/10/2022), Boeing 747 Cosmic Girl melakukan penerbangan percobaan sebelum mengambil bagian dalam peluncuran ruang orbital pertama di Inggris bulan depan. Dan pada saatnya, pesawat ini akan lepas landas dari Spaceport Cornwall, yang berbagi landasan pacu reguler bandara sepanjang 1,7 mil.

Cosmic Girl, demikian nama pesawat itu, adalah pesawat Boeing 747 untuk Virgin Orbit meluncurkan tujuh satelit ke luar angkasa. Aslinya ini adalah sebuah pesawat jet jumbo penumpang yang digunakan Virgin Atlantic hingga tahun 2015. Setelah itu dilakukan modifikasi untuk membawa LauncherOne, roket buatan California yang akan pergi ke orbit Bumi.

LauncherOne sendiri memiliki panjang sekira 70 kaki dengan berat 57.000 pon. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (26/10/2018), LauncherOne dirancang untuk membawa satelit kecil ke orbit di sekitar Bumi. Alih-alih langsung meluncur dari tanah layaknya kebanyakan roket, LauncherOne akan memulai perjalanannya dari landas pacu, dengan ‘nebeng’ pada bagian sayap Boeing 747.

Peluncuran Horizontal
Menggunakan basis Boeing 747 untuk peluncuran horizontal memungkinkan “jangkauan orbit yang lebih luas daripada yang dimungkinkan dari sistem peluncuran darat tradisional,” tulis Virgin

Acara pelunuran roket nantinya akan menjadi peluncuran ruang orbital pertama untuk Inggris dan peluncuran internasional pertama untuk Virgin Orbit. Lebih dari itu, ini juga akan menjadi peluncuran satelit pertama di Eropa.

LauncherOne menyelesaikan latihan peluncuran penuh pertamanya di Long Beach, California, pada 2 Oktober 2022, sebelum diterbangkan ke Inggris Jumat lalu untuk bertemu Cosmic Girl, yang tiba di Cornwall pada 11 Oktober lalu.

Baca juga: Virgin Galactic Sukses Terbangkan (Kembali) Pesawat Bertenaga Roketnya ke Antariksa

Cosmic Girl menyelesaikan uji terbang hampir tiga jam di sekitar Cornwall dan Southwest England pada 14 Oktober 2022 lalu. Setelah sukses meluncurkan roket dan satelit dari Inggris, Virgin Orbit juga berencana membawa peluncuran roket horizontal ke Australia, Brasil, Jepang, Polandia, dan Korea Selatan.

Dua Negara Gurun, UEA dan Oman Akan Saling Terhubung Lewat Jalur Kereta Penumpang dan Barang

Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, dua negara di Timur Tengah yang dikenal kaya minyak, telah menandatangani kesepakatan untuk menghubungkan kedua negara berpadang pasir tersebut dengan kereta penumpang dan barang. Proyek jaringan keretea tersebut dimulai dengan pembangunan jaur ke pelabuhan Sohar di Oman utara.

Baca juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Dikutip dari henationalnews.com (28/9/2022), kereta penumpang UEA – Oman dirancang untuk dapat melesat 200 kilometer per jam, dan akan menghubungkan Abu Dhabi (UEA) dengan Sohar di utara Muscat (Oman). Khusus untuk kereta barang, akan melaju dengan kecepatan maksimum 120 kilometer per jam.

Operator kereta di kedua negara, yakni Oman Rail dan Etihad Rail akan membentuk perusahaan patungan (joint venture) untuk memperkenalkan dan mengoperasikan jaringan kereta api.

Berdasarkan perjanjian, perusahaan baru yang akan dibentuk, nantinya akan meletakkan dasar dan rencana kerja untuk proyek tersebut, termasuk elemen dan pendanaannya. Tidak itu saja, perusahaan joint venture juga akan menangani desain, pengembangan, dan pengoperasian jaringan kereta api.

Untuk waktu tempuh, dari Sohar ke Abu Dhabi adalah 100 menit, dan antara Sohar ke Al Ain 47 menit. Untuk kereta barang, kapasitas kargo dipersiapkan 22,5 juta ton dan 282.000 kontainer per tahun.

Baca juga: “Mauritania Railway,” Inilah Jalur Kereta Ekstrem yang Belah Gersangnya Gurun Sahara

Guna mewujudkan jaringan kereta antar dua negara tersebut, setidaknya dibutuhkan investaso sekitar 1,16 miliar rial Oman (US$3 miliar).

Kenapa Beberapa Airbus A320 Air India Miliki Roda Pesawat Ekstra?

Airbus A320 pada umumnya memiliki satu nose landing gear atau roda pendaratan depan dan masing-masing dua roda (konfigurasi 2-2) di main landing gear. Namun, beberapa pesawat Airbus A320 Air India memiliki empat roda pendaratan di bagian belakang. Kenapa demikian?

Baca juga: Delapan Kisah Penumpang Gelap Sembunyi di Roda Pesawat, Empat Di Antaranya WNI

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas dan turun landas, sampai mendarat dengan sempurna di runway.

Secara definitif, roda pendaratan berfungsi untuk menyerap tenaga pendaratan serta mencegah badan pesawat menghantam tanah. Fungsi tersebut dijalankan setidaknya oleh dua cara, pertama penyangga roda pendaratan utama yang memiliki sistem peredam kejut (shock struts). Kedua, landing force yang menyebar ke seluruh roda.

Di masa lalu, sistem landing gear belum menggunakan peredam kejut (shock absorber). Masih sangat sederhana sekali menggunakan rigid struts suspensi rendah teknologi yang membuat pendaratan jadi kasar dan keras. Seiring berjalannya waktu, landing gear pesawat mulai menggunakan spring steel struts, berlanjut ke bungee cords, dan barulah menggunakan shock struts.

Dengan menggunakan nitrogen dan cairan hidrolik, sistem pegas yang ‘tersaji’ pada shock struts akan mampu meminimalisir daya kejut ketika pesawat mendarat secara signifikan – setidaknya jauh lebih halus dari tiga varian di atas.

Daya kejut yang dihasilkan ketika pesawat touchdown akan senantiasa tereduksi dengan hadirnya dua silinder yang akan meminimalisir efek kejut.

Berkat perkembangan teknologi di atas, jumlah roda pendaratan pada pesawat bisa lebih ditekan. Saat ini, pesawat widebody umumnya dilengkapi empat roda kiri dan kanan atau lebih dari itu (tergantung bobotnya). Adapun pesawat narrowbody seperti Airbus A320 atau Boeing 737 hanya dua roda pendaratan di kiri dan kanan belakang.

Meski begitu, di beberapa kondisi, pesawat narrowbody dilengkapi dengan jumlah roda pendaratan dua kali lipat ada 4-4 atau masing-masing empat roda pendaratan di kiri dan kanan belakang (main landin gear), salah satunya A320 milik Air India.

Dilansir Simple Flying, hal itu bukan berarti sistem landing gear A320 Air India masih menggunakan teknologi lama. Tetapi karena infrastruktur beberapa bandara di India, dalam hal ini runway (landasan pacu), klasifikasinya lebih rendah dari standar.

Disebutkan, perkerasan di landasan pacu di beberapa Bandara India membuat proses pendaratan pesawat narrowbody (A320) menjadi berbahaya. Karena, bila hantaman terlalu keras, maka aspal runway bukan hanya mengelupas tetapi juga berlubang karena bobot pesawat lebih besar daripada beban yang mampu ditahan.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Beruntung, itu bisa disiasati dengan cara menambah jumlah pendaratan utama (main landing gear) dari semula 2-2 menjadi 4-4. Ini berfungsi agar besaran tumbukan roda ke runway tidak terlalu besar dan terdistribusi dengan baik ke masing-masing roda.

Namun itu dulu. Saat ini, ekstra roda pendaratan pesawat pada armada Airbus A320 Air India sudah tidak ada lagi sejak dipensiunkan pada Juni tahun 2019 silam. Bandara-bandara yang sebelumnya masih di bawah standar juga sudah dibenahi sehingga A320 dan A320 neo Air India yang ada saat ini tetap menggunakan dua roda pendaratan di kanan dan kiri.

Pelita Air Luncurkan Aplikasi Mobile, Terkoneksi dengan Inflight Entertainment

PT Pelita Air Service (Pelita Air – kode penerbangan IP) meluncurkan inovasi berupa aplikasi mobile untuk memudahkan pelayanan dan komunikasi antara Pelita Air dengan pelanggan.

Baca juga: Bandara Ngurah Rai Sambut Kedatangan Dua Maskapai Baru, Salah Satunya Pelita Air

“Peluncuran aplikasi mobile ini merupakan bentuk transformasi digital Pelita Air seiring dengan komitmen kami untuk mengutamakan kepuasan pelanggan. Kami berharap dengan hadirnya aplikasi mobile ini dapat semakin memberikan kenyamanan dan keuntungan bagi pelanggan dalam merencanakan dan melakukan penerbangan bersama Pelita Air,” ujar Direktur Utama Pelita Air Dendy Kurniawan, dalam siaran pers.

Aplikasi mobile Pelita Air dilengkapi berbagai macam fitur yang memudahkan pelanggan, antara lain membeli tiket penerbangan, membeli tambahan kuota bagasi, memilih tempat duduk, kemudahan pembayaran melalui virtual account, melakukan mobile check-in, terkoneksi langsung dengan agen layanan pelanggan “Starla”, terkoneksi dengan fasilitas hiburan dalam pesawat (wireless inflight entertainment) “Starlight”, dan informasi produk Pelita Air.

Baca juga: Airbus A320 Pelita Air Muncul Usai Dirutnya Jadi Tersangka, Pakai Registrasi “VP” Bermuda, Hindari Pajak?

Mobile check-in di aplikasi mobile Pelita Air dapat dilakukan mulai dari 24 jam sebelum jadwal keberangkatan hingga 4 jam sebelum jadwal keberangkatan. Bersamaan dengan peluncuran aplikasi mobile ini, diinformasikan juga bahwa saat ini telah tersedia layanan kiosk check-in Pelita Air di area konter check-in Terminal Bandara Soekarno-Hatta, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, dan Bandara Internasional Yogyakarta. Waktu check-in menggunakan kiosk check-in Pelita Air dibuka sejak 8 jam sebelum jadwal penerbangan dan ditutup hingga sebelum 1 jam jadwal penerbangan.

Iryo, Operator Kereta Cepat Berbiaya Murah Terbaru dari Negeri Matador, Tawarkan Tiket Fleksibel

Bila di dunia dirgantara dikenal penerbangan berbiaya murah, maka di dunia kereta api, khususnya di Spanyol sudah ada segmen kereta berkecepatan tinggi dengan biaya murah. Seperti dari Negeri Matador, operator baru untuk kereta berkecepatan tinggi, Iryo, dikabarkan telah mempersiapkan rute Barcelona – Madrid pada 25 November dan Madrid – Valencia pada 16 Desember 2022.
Untuk proyeksi di tahun 2023, Iryo akan membuka rute Malaga – Seville, di mana tiket sudah mulai dijual. Lantaran menawarkan biaya yang murah unntuk kelas kereta cepat, maka tiket dapat dibeli dari situs web Iryo dan harganya tergantung pada tanggal dan waktu, tetapi ada opsi mulai dari 18 euro.
Dikutip dari surinenglish.com, dalam sebuah pernyataan, Iryo menegaskan pihaknya  adalah satu-satunya operator kereta cepat yang menawarkan tiket fleksibel yang dapat diubah tanpa penalti finansial.
Saat ini, Iryo sudah memiiki armada yang terdiri dari 20 kereta listrik dengan interior dibagi menjadi empat bagian tergantung pada tarif dan layanan.
Operator kereta berkecepatan tinggi lainnya, Ouigo (berbasis di Perancis), telah menjalankan kereta antara Madrid dan Barcelona selama 18 bulan terakhir dan dalam dua minggu akan memulai rute Madrid-Valencia. Ouigo bertujuan untuk memasukkan Alicante (dengan pemberhentian di Albacete), Seville dan Malaga (dengan pemberhentian di Cordoba) pada tahun 2023.
Sementara itu operator kereta lain, seperti Renfe dan Avlo, beroperasi antara Madrid,  Barcelona dan Valencia saat ini dan mengharapkan untuk memperkenalkan layanan ke Seville pada tahun depan.

Ada Anomali Pada Sinyal GPS, Bandara Dallas Alihkan Penerbangan Selama Dua Hari

Selama dua hari berturut-turut Bandara Dallas (Dallas-Fort Worth International Airport) harus mengambil langkah darurat dengan mengubah rute lalu lintas penerbangan dari dan menuju bandara di Negara Bagian Texas tersebut. Hal tersebut disebabkan adanya anomali pada sinyal navigasi berbasis satelit GPS (Global Positioning System) pada area tertentu di sekitar bandara, dan telah mendorong Federal Aviation Administration (FAA) untuk melakukan penutupan landas pacu.

Baca juga: Bagaimana Pilot Tahu Dimana Posisi Pesawat Padahal di Luar Gelap?

Dilansir dari arstechnica.com (10/10/2022), sampai saat ini FAA sedang menyelidiki penyebab gangguan GPS misterius yang selama beberapa hari terakhir, telah menutup satu landasan pacu di Bandara Internasional Dallas-Fort Worth dan mendorong beberapa pesawat di wilayah tersebut untuk dialihkan ke area di mana sinyal GPS berfungsi dengan baik.

Gangguan pertama kali terungkap pada Senin sore (10/10), ketika FAA mengeluarkan peringatan ATIS (Automatic Terminal Information Service), untuk memperingatkan personel penerbangan dan pengontrol lalu lintas udara tentang gangguan GPS di wilayah udara seluas 40 mil di dekat bandara Dallas-Fort Worth.

Air Traffic Control System Command Center melaporkan bahwa wilayah itu “mengalami anomali GPS yang secara dramatis berdampak” pada penerbangan masuk dan keluar dari Dallas-Fort Worth dan bandara tetangga. Lebih lanjut dikatakan bahwa beberapa bandara mengandalkan penggunaan sistem navigasi yang mendahului GPS.

Gpsjam.org, sebuah situs web yang memantau gangguan GPS secara real time, menerbitkan peta yang menunjukkan area spesifik di mana pesawat melaporkan GPS yang tidak dapat diandalkan.

Di hari kedua, gangguan berlanjut, di mana pesawat yang berada di darat pada area tersebut, juga terkena dampak tidak dapat menerima pembacaan GPS yang andal. Lebih aneh lagi, pihak militer setelah dikonfirmasi juga tidak sedang melakukan kegiatan atau latihan di area yang dimaksud. Beberapa jam kemudian, masalah yang tidak dapat dijelaskan itu tidak hanya berlanjut, tetapi telah menyebar ke daerah-daerah di dekat Waco.

Dan masuk ke hari ketiga, secara misterius gangguan sinyal GPS itu hilang. Sama misteriusnya dengan gangguan yang dimulai. Gangguan pada sinyal GPS tidak secara langsung mengancam jiwa. Namun, gangguan sinyal GPS dapat berpengaruh buruk pada pembacaan navigasi pesawat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko keselamatan dalam penerbangan.

Baca juga: Otoritas Penerbangan Sipil Perancis Tuduh Rusia Ganggu Sistem Navigasi Berbasis Satelit

Meski penyebabnya masih dalam investigasi, namun fenomena gangguan di atas identik dengan aksi spoofing GPS. Dikutip dari Indomiliter.com, spoofing GPS adalah manipulasi koordinat pada sistem navigasi satelit berbasis GPS. Dampak dari spoofing adalah kekacauan informasi yang didapat oleh perangkat penerima.