Airbus A380 Pernah Ingin Dijadikan Air Force One, Batal Gegara Hal Ini

Sudah sejak satu dekade lalu, Angkatan Udara AS (USAF) sedang dalam misi mencari pengganti Boeing 747 VC-25A yang dinilai sudah usang untuk terus menjadi Air Force One. Pesawat tersebut lama kelamaan dinilai tak lagi efisien untuk membersamai Presiden Amerika Serikat (POTUS).

Baca juga: Air Force One Kini Dibuat Replika untuk Edukasi Publik

Di samping itu, Queen of the Skies juga disebut agak rumit untuk dirawat. Di antara beberapa kandidat, Airbus A380 termasuk di dalamnya. Namun, apa mau dikata, pesawat komersial terbesar di dunia itu batal dijadikan Air Force One karena satu dan lain hal.

Dilansir Simpel Flying, dalam sebuah artikel lansiran Flight Global tahun 2007, Komando Mobilitas Udara (AMC) Amerika Serikat sedang mempelajari kemungkinan datangnya Air Force One baru. Disebutkan agensi tersebut meminta detail informasi tiga jet Airbus, A340-600, A330-200 dan A380, sebagai bagian dari apa yang disebut survei “Rekapitalisasi Pesawat Besar VIP”.

Selang dua tahun kemudian, dari ketiga kandidat tersebut, Airbus A380 rupanya jadi pesawat yang paling berpeluang besar untuk dijadikan Air Force One. Laporan Guardian, Airbus sedang mempersiapkan konsep A380 Air Force One untuk disesuaikan dengan spesifikasi USAF dan selera POTUS yang kala itu dijabat oleh Barack Obama.

Dibanding Boeing 747-200, A380 Air Force One dinilai jauh lebih irit bahan bakar dan menawarkan kemewahan berkat kabin luas nan megah.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, alih-alih menjadikan A380 sebagai Air Force One, USAF dan AMC malah balik ke pilihan lama dengan varian baru, Boeing 747-8; yang nantinya akan diberi sandi VC-25B saat menjalani tugas sebagai Air Force One. Pesawat ini dinilai jauh lebih efisien ketimbang Boeing 747-200 atau VC-25A.

Sebagai mana alasan maskapai global mulai meninggalkan A380, batalnya pesawat jet superjumbo itu menjadi Air Force One juga didasari oleh alasan yang sama; tidak efektif dan efisien. A380 dinilai terlalu besar untuk memenuhi kebutuhan POTUS. Lagi pula, A380 tentu lebih unggul bila dibandingkan dengan Boeing 747-200 yang sudah usang. Namun, ketika Boeing 747-8 muncul, tentu A380 bukan lagi pilihan terbaik karena lebih boros 15 persen dibanding Queen of the Skies.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Selain itu, dimensi pesawat yang super besar juga menyulitkan bandara-bandara yang akan didarati A380 Air Force One. Tentu itu bukan pilihan menarik untuk pesawat VVIP.

Alasan lain di luar paparan di atas, tentu karena Airbus buatan Eropa, semangat nasionalisme pada akhirnya mendorong para pemangku kebijakan untuk tak pindah ke lain hati alias tetap menggunakan pesawat Boeing, melengkapi kendaraan POTUS di darat bersama Cadillac yang notabene juga buatan AS, layaknya Boeing.

Mangaluru di India Punya Restoran yang Terbuat dari Kereta Kuno

Ketika armada transportasi mulai usang dan tak lagi bisa beroperasi seperti sediakala kemanakah mereka? Di Indonesia ada kuburan kereta, di beberapa negara juga ada kuburan pesawat bahkan kuburan kendaraan yang tak lagi digunakan. Namun meski begitu, tak semuanya teronggok begitu saja seperti barang tak berguna.

Baca juga: Dua Gerbong di Yorkshire Akan Diubah Jadi Pengalaman Tidur di Atas Gerbong

Sebab armada-armada ini bisa disulap alias dirubah menjadi berguna kembali dengan fungsi yang berbeda. Beberapa pesawat telah beralih fungsi sebagai hotel maupun restoran. Gerbong kereta api pun ada yang menjadi hotel, restoran maupun sebuah perpustakaan. Di Mangaluru, India, awal tahun ini tepatnya pada 9 Januari 2020, ada sebuah restoran yang bertemakan kereta api.

KabarPenumpang.com melansir dari laman newindianexpress.com (5/2/2020), restoran ini merupakan yang pertama di Mangaluru dan menarik perhatian para pecinta kuliner. Restoran kereta api ini dibangun sekitar tujuh bulan oleh beberapa arsitek dan desainer interior. Mereka mengubah tampilan kereta api kuno untuk menjadi sebuah restoran. Restoran ini berlokasi di National Highway 66 dengan nama Snackies Resto Cafe.

Dilengkapi dengan pencahayaan lembut dari lampion bergaya antik. Pengunjung yang dapat ditampung restoran ini lebih dari seratus orang dan merupakan gagasan dari AKA Siddique. Dia mengatakan, restoran ini dibuat dari kereta api kuno bernomor 912020 dan dilengkapi bilik telepon, loket tiket, rantai alarm dan pengaturan tempat duduk yang sangat baik, agar pelanggan menikmati suasana ketika makan. Siddique mengatakan, nomor 00 adalah tanggal, bulan dan tahun peluncuran gerai.

“Kami memulai dengan outlet di Attavar pada 2014 dan kemudian outlet kedua di Kankanady. Model kereta di sini adalah yang pertama,” kata Siddique yang berasal dari Kasargod.

Dia terus berkeliling dunia dan saat berada di kereta, dia memikirkan membuka restoran yang meniru model gerbong kereta.

“Pemilik tanah di sini menyewakannya dan butuh waktu hampir tujuh bulan untuk menyelesaikan pembangunannya. Timah, blok berlubang serta lembaran digunakan untuk membangun dinding restoran. Makanannya termasuk kontinental, Italia dan Cina yang disajikan di atas nampan kayu ramah lingkungan untuk menciptakan kesadaran dalam menghindari plastik,” jelas Siddique.

Outlet ini juga memiliki aula pesta di atasnya di mana 60 hingga 70 orang dapat ditampung untuk pertemuan kecil, ulang tahun dan konferensi. Ada juga kotak tempat pelanggan bisa meninggalkan ponselnya dan menghabiskan waktu berkualitas. Pelanggan yang tidak menggunakan ponselnya saat sedang makan akan diberikan kupon hadiah.

Baca juga: Lori, Si Kereta Tebu Yang Kini Sudah Beralih Fungsi

“Restoran bertema gerbong kereta api yang menyajikan makanan lezat adalah salah satu dari jenisnya. Saya merasa seolah-olah saya berada di gerbong yang sebenarnya dan saya belum menemukan restoran seperti itu di Karnataka,” kata Abhishek, seorang pelanggan.

Malaysia Airlines Hentikan Penerbangan Rute Kuala Lumpur – Brisbane, Ada Apa?

Sementara sebagian besar maskapai Asia kembali akan menambah lebih banyak kapasitas penerbangan ke Australia, maka Malaysia Airlines justru sebaliknya, maskapai plat merah Negeri Jiran itu memutuskan untuk menghentikan penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Brisbane.

Baca juga: Setelah Singapore Airlines, Giliran Malaysia Airlines Gunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Layanan penerbangan langsung tiga kali seminggu yang berlaku saat ini, akan berakhir efektif mulai 27 Maret 2023.

Meskipun rute Kuala Lumpur ke Brisbane akan dihapuskan, Malaysia Airlines masih akan mengoperasikan hingga 43 penerbangan nonstop mingguan ke empat tujuan di Australia;, yaitu Sydney, Melbourne, Adelaide, dan Perth. Penumpang yang ingin pergi ke Brisbane dapat menggunakan codeshare Malaysia dan mitra oneworld Qantas untuk koneksi dari Sydney dan Melbourne ke ibu kota Queensland.

“Setelah tinjauan bisnis yang menyeluruh, kami telah membuat keputusan sulit untuk menangguhkan operasi kami ke Brisbane untuk memastikan kami mengoperasikan dan memanfaatkan armada kami pada tingkat yang optimal, serta memaksimalkan pendapatan di setiap rute yang kami tuju.” ujar juru bicara Malaysia Airlines, dikutip dari simpleflying.com.

Saat ini rute Kuala Lumpur – Brisbane dilayani dengan Airbus A330-300, yaitu setiap Senin, Kamis dan Sabtu. Dengan jarak 6427 km, durasi penerbangan dari Kuala Lumpur ke Brisbane memiliki durasi rata-rata 7:26 jam.

Baca juga: Khawatir Pilot Grogi, Malaysia Airlines Intensifkan Latihan Simulator dengan Kacamata 3D

Meski kehilangan rute nonstop antara Brisbane dan Kuala Lumpur merupakan pukulan berat, langkah ini menggambarkan bagaimana Malaysia Airlines secara proaktif mengoptimalkan armada mereka. Pasca pandemi, maskapai penerbangan mencari setiap rute untuk mencocokkan kapasitas dengan permintaan dan menyesuaikannya ketika kondisi pasar berubah, ketimbang mengandalkan kapasitas untuk strategi pemasaran.

Apa yang Dilakukan Pilot Jika Landing Gear Rusak?

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas, sampai mendarat. Namun, andai landing gear rusak atau tak berfungsi untuk mendukung pendaratan pesawat, apa yang akan dilakukan pilot?

Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Retractable Landing Gear? Berikut Ulasannya

Menurut pilot salah satu maskapai penerbangan, Randy Duncan, seperti dikutip di Quora, saat itu terjadi pilot akan mengupayakan belly landing atau mendarat tanpa roda pendaratan atau dengan perut pesawat.

Pesawat modern saat ini disebut sangat kokoh untuk menahan terjadinya belly landing, mulai dari saat touchdown sampai meluncur di runway (landasan pacu) sebelum akhirnya berhenti.

Di banyak pesawat, saat landing gear rusak untuk mendukung pendaratan, pilot akan membawa pesawat mendarat dengan mesin menyentuh runway terlebih dahulu.

Dalam banyak kasus, mesin akan tetap menempel di sayap sampai pesawat berhenti dan di kejadian lain mesin bisa saja lepas dan pesawat meluncur di runway dengan perut atau bagian bawah pesawat.

Meski terdengar atau terlihat ekstrem, tetapi dalam banyak kasus ini aman karena sudah didesain untuk melakukan itu dan pilot mempunyai prosedur terkait itu, mulai dari touchdown dengan lembut sampai mendarat dengan kecepatan rendah untuk meminimalisir kerusakan.

Masalah sebenarnya adalah bukan pada saat melakukan belly landing kemudian pesawat pecah dan mencelakakan penumpang, melainkan percikan api yang terjadi saat belly landing. Ini diperparah dengan adanya bahan bakar di sayap dan perut pesawat sehingga satu-satunya yang paling mengancam adalah terjadinya kebakaran.

Ini pun bukan saat kebakarannya tetapi kepanikan yang terjadi saat evakuasi dan menyebabkan penumpang luka-luka hingga tewas.

Akan tetapi, ini bisa dicegah dengan beberapa prosedur sebelum dilakukannya belly landing. Menjelang dilakukannya belly landing, pilot akan meminta pramugari-pramugara untuk mempersiapkan belly landing.

Baca juga: Apakah Ada Batasan Kecepatan Pesawat Agar Landing Gear Bisa Digunakan?

Persiapan sangat beragam dan rumit, mulai dari menenangkan penumpang yang ketakutan, mencari penumpang lain yang tenang dan memasangkannya dengan penumpang yang ketakutan, meminta semua penumpang memindahkan barang yang ada di bawah kursi dan kantung penyimpanan di seatback serta seluruh yang ada di kantung dan genggaman agar dimasukkan ke tas dan disimpan di kompartemen bagasi.

Selain itu, awak kabin akan mengedukasi penumpang yang duduk di samping pintu darurat agar melakukan apa yang harus dilakukan, mencari beberapa relawan yang biasa disebut ABA (Able Bodied Assistants) untuk membantu proses evakuasi, mengingat tenaga dari awak kabin saja tak akan cukup menangani ratusan penumpang, dan tentu saja mengenakan seatbelt dan menaikkan sandaran kursi, sampai menyingkap tirai jendela.

Apa Penyebab Penumpang Digeledah Petugas Keamanan Bandara? Ini Empat Kemungkinannya

Terdapat dua pemeriksaan atau security check point (SCP) di bandara. Di sini, penumpang akan diminta mencopot seluruh yang menempel di badan kecuali baju, celana, dan alas kaki, termasuk mengeluarkan apa yang ada di saku untuk di-scan di mesin X-ray bersama bagasi. Setelah proses ini, penumpang mungkin ada yang diizinkan melanjutkan proses dan ada pula yang digeledah petugas keamanan bandara. Lantas, apa saja penyebab penumpang digeledah?

Baca juga: Laptop Anda Diperiksa di Bandara? Jangan Keburu Panik!

Perlu diketahui, penumpang dilarang membawa barang-barang berbahaya ke bandara dan pesawat. Barang-barang tersebut termasuk kembang api, petasan, tabung gas, pemutih, insektisida dan pestisida, tabung oksigen olahraga, korek gas dan korek api, semprotan dengan gas mudah terbakar, baterai lithium-ion, baterai cair, dan beberapa lainnya.

Selain itu, tentu saja bom, narkoba, binatang yang dilindungi, senjata tajam, organ tubuh manusia yang hendak dijual, barang selundupan, barang ilegal, dan lainnya yang masyhur dilarang di semua negara juga dilarang dibawa di bandara dan pesawat.

Untuk mencegah semua barang-barang tersebut lolos ke pesawat dan sampai ke bandara tujuan, di bandara keberangkatan seluruh barang penumpang akan diperiksa oleh petugas pemeriksaan keamanan bandara. Penumpang yang bersangkutan juga akan di-scan melalui mesin X-ray untuk mengetahui adanya barang yang disembunyikan di pakaian dalam atau dibalik baju, celana, dan alas kaki.

Di bandara, pemeriksaan keamanan biasanya dilakukan dua metode, manual dan melalui peralatan tertentu (mesin X-ray dan lainnya). Andai peralatan tadi tidak berfungsi, maka semua penumpang diperiksa secara manual. Penumpang juga akan digeledah oleh petugas setidaknya setelah terindikasi empat hal.

Menurut TSA Officer at Transportation Security Administration, Redford Stone, seperti dikutip dari Quora, empat hal atau empat kemungkinan penyebab seorang penumpang digeledah petugas, pertama karena terdapat barang yang dicurigai petugas mesin X-ray. Ini biasa berarati banyak hal. Yang pasti adalah barang-barang terlarang di bandara dan pesawat.

Kedua, bunyinya alarm body scanner atau detektor logam walkthrough atau pada ETD (Explosive Trace Detector) setelah usap telapak tangan. Ketiga, penumpang menolak melewati body scanner dan detektor logam. Terakhir atau keempat adalah random check. Terkait random check, ini ada ketentuannya.

Menurut PM 127 Tahun 2015 Tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional, ketentuan pemeriksaan (penggeledahan) secara acak, dalam kondisi normal, 10 persen dari pemeriksaan keamanan penumpang dan bagasi kabin yang telah dilakukan dengan peralatan harus dilakukan pemeriksaan keamanan secara manual.

Baca juga: Apakah Pilot dan Pramugari Harus Menjalani Pemeriksaan Ketat di Bandara Seperti Penumpang

Dalam kondisi ancaman meningkat persentase pemeriksaan keamanan acak (random check) ditingkatkan sesuai tingkat ancaman yang dihadapi. Pemeriksaan keamanan penumpang dan bagasi dapat dilakukan secara tidak terduga terhadap penumpang dan bagasi yang telah dilakukan pemeriksaan keamanan.

Apabila dalam pemeriksaan keamanan ditemukan barang dilarang (prohibited items) yang ada pada penumpang dan bagasi kabin yang dilarang masuk pesawat udara, harus ditahan atau disita oleh personel keamanan bandar udara dan selanjutnya diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

KAI Luncurkan KA Blambangan Ekspres Rute Semarang Tawang – Ketapang, Tarif Promo Mulai Rp150.000

PT Kereta Api Indonesia meluncurkan KA baru yaitu KA Blambangan Ekspres yang melayani rute Semarang Tawang – Ketapang pp. Untuk memperkenalkan hadirnya KA baru ini, KAI memberikan tarif promo mulai dari Rp150.000 untuk perjalanan KA Blambangan Ekspres yang tiketnya sudah dapat dipesan sejak 22 November 2022 di seluruh channel resmi penjualan tiket KAI.

Baca juga: Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel

VP Public Relations KAI Joni Martinus mengatakan, KAI menghadirkan KA Blambangan Ekspres untuk mempermudah masyarakat dari arah Semarang menuju Jember hingga Ketapang dimana sebelumnya KAI belum menghadirkan perjalanan KA untuk rute tersebut.

“KA Blambangan Ekspres merupakan KA pertama yang KAI operasikan dari wilayah Semarang, Cepu menuju ke wilayah Jember, Banyuwangi, hingga Ketapang ataupun sebaliknya. Hadirnya KA ini akan memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin bepergian ke wilayah tersebut dengan transportasi yang aman, sehat, nyaman dan tepat waktu.,” ujar Joni.

Nama KA Blambangan Ekspres berasal dari salah satu nama kerajaan yakni Kerajaan Blambangan. Kerajaan Blambangan adalah kerajaan Hindu yang berlokasi di Banyuwangi tepatnya di Semenanjung Blambangan di ujung timur Pulau Jawa. Kerajaan Blambangan berdiri di akhir masa Kerajaan Majapahit yakni pada abad ke-13 Masehi hingga abad ke-18 Masehi.

KA Blambangan Ekspres terdiri dari 4 Kereta Eksekutif dan 3 Kereta Ekonomi dengan total tempat duduk yang disediakan sebanyak 440 tempat duduk dalam sekali perjalanan. Pada tahap awal, KA Blambangan Ekspres akan beroperasi pada tanggal 2, 3, 4, 9, 10, 11, 16, 17, 18, dan 22 s.d 31 Desember 2022.

KA Blambangan Ekspres keberangkatan Semarang akan berhenti di stasiun Semarang Tawang, Ngrombo, Cepu, Bojonegoro, Lamongan, Surabaya Pasarturi, Surabaya Gubeng, Sidoarjo, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Tanggul, Jember, Kalisetail, Rogojampi, Banyuwangi Kota, dan Ketapang.

Sedangkan KA Blambangan Ekspres keberangkatan Ketapang akan berhenti di stasiun Ketapang, Banyuwangi Kota, Rogojampi, Kalisetail, Kalisat, Jember, Tanggul, Probolinggo, Pasuruan, Bangil, Sidoarjo, Gubeng, Pasarturi, Lamongan, Bojonegoro, Cepu, Ngrombo, dan Semarang Tawang.

Baca juga: Penumpang Naik – Turun KA di Banyuwangi, Jangan Sampai Salah Stasiun

Untuk mengenalkan hadirnya KA Blambangan Ekspres kepada masyarakat, KAI memberikan diskon khusus kepada masyarakat untuk periode keberangkatan 2 s.d 18 Desember 2022. Dapatkan tiket KA Blambangan Ekspres kelas Eksekutif hanya Rp250.000 dan kelas Ekonomi hanya Rp150.000.

Sering Mengundang Tanya, Inilah Alasan Trem Dihapuskan di Jakarta

Temuan rel trem bekas peninggalan zaman Belanda pada proyek pembangunan MRT Jakarta fase 2A CP 202 di Jalan Pembangunan I, Gambir, Jakarta Pusat, sontak mengingatkan pada masa jaya transportasi massal berbasis rel di era kolonial. Dari petikan video dokumenter dan foto-foto masa lalu, memperlihatkan bahwa Jakarta Tempo Doeloe laksana kota-kota di Eropa dengan lalu-lintas tremnya yang maju. Bahkan jaringan trem listrik di Jakarta lebih dulu terpasang dari yang ada di Belanda.

Baca juga: Dari Proyek Jalur MRT Glodok ke Kota, Ditemukan Rel Trem Masa Kolonial Hindia Belanda

Bila saat ini kereta trem masih beroperasi di negara-negara Eropa dan Hong Kong, lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa di Indonesia, trem justru sejak lama dihapuskan? Selain Jakarta dan Surabaya, jaringan trem yang lebih kecil dulu ada di Semarang, Solo, Cirebon, dan Deli. Satu-satunya yang masih beroperasi saat ini adalah rel trem yang ada di Solo, yang digunakan untuk Railbus Batara Kresna.

1. Presiden Sukarno Tidak Menyukai Trem
Visi Sukarno tentang kota futuristik akan menjadikan Jakarta seperti kota-kota di Jepang, di mana mobil berjalan di sepanjang jalan raya dan jalan layang. Sedangkan angkutan umum harus di bawah tanah, bukan di permukaan daratan. Visinya menganggap trem sebagai sistem transportasi umum kuno yang mengganggu lalu lintas.

Trem listrik melintas di kawasan Kramat.

Kemudian Presiden Sukarno mulai menghentikan operasi trem pada tahun 1959, dan pada tahun 1962, trem telah berhenti beroperasi sepenuhnya di Jakarta. Penghentian trem di Jakarta terjadi sekitar waktu yang sama dengan penghentian layanan trem di Sydney, Australia. Di Surabaya, trem bertahan sedikit lebih lama, yakni hingga awal 1970-an, sebelum akhirnya bernasib sama.

Sementara di Tokyo, dahulu ada 42 jalur trem di sekitar kota. Namun hari ini hanya dua jalur yang bertahan. Keduanya pun hanya sebagai transportasi “pelengkap”.

Trem listrik dengan latar Stasiun Beos (sekarang Stasiun Kota).

2. Manajemen Transportasi yang Buruk
Alasan kedua mungkin karena pemerintah saat itu tidak senang mengakuinya, yaitu manajemen yang buruk dan bisnis yang buruk dalam transortasi. Trem Jakarta edisi terbaru ditenagai oleh listrik, sementara pemadaman listrik sesekali membuat trem sering tidak dapat beroperasi. Manajemen yang buruk oleh Djawatan Kereta Api juga menyebabkan kabin tre, banyak yang rusak dan lokomotif yang rusak.

Lebih buruk lagi, di masa awal kemerdekaan, banyak orang yang menggunakan layanan ini menolak membayar, menyebabkan hilangnya pendapatan bisnis dari layanan ini, sementara kemunculan bus umum, mobil, dan bemo membuat persaingan trem semakin ketat untuk bertahan. Dan untuk menghentikan kerugian, maka trem akhirnya dihapuskan di Jakarta.

Trem listrik di kawasan Harmoni. Foto: tdu.to

Baca juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Sebelum era TransJakarta, Jakarta hampir tidak memiliki sistem transportasi umum dalam kota yang andal. Butuh 57 tahun setelah pembubaran trem, sebelum Jakarta akhirnya melihat angkutan umum bawah tanah yang telah lama ditunggu-tunggu dari visi Sukarno, yaitu meluncurkanya MRT Jakarta pada tahun 2019.

Kenapa Pesawat Combi Tidak Lagi Diproduksi?

Pamor pesawat Combi sempat kembali meningkat saat pandemi Covid-19 mengjangkiti dunia. Banyak pesawat dikonversi menjadi pesawat Combi lantaran dinilai menguntungkan, di saat pasar penumpang lesu. Meski begitu, sudah sejak tiga dekade belakangan tidak ada satupun pesawat Combi yang diproduksi pabrikan pesawat. Kenapa demikian?

Baca juga: Ironi Pesawat Combi, Sempat Diandalkan Kini Ditinggalkan

Menurut analisa Director of Safety Asosiasi Internasional Transportasi Udara (IATA), seperti dikutip dari Quora, tidak diliriknya pesawat Combi di pasaran tak lepas dari faktor efisiensi dan permintaan pasar. Efisiensi di sini sebetulnya menjadi bak dua mata pisau.

Di satu sisi, produsen pesawat tidak ingin membangun pesawat Combi dedicated karena tak diminati maskapai, di sisi lain maskapai tak terlalu berminat mengkonversi pesawat penumpang atau kargo menjadi pesawat Combi karena rata-rata berbasis pesawat lama yang konsumsi bahan bakarnya tak seirit pesawat modern.

Permintaan pasar juga mempengaruhi kenapa pesawat Combi terakhir yang diproduksi cukup lama yaitu pada tahun 1990 (MD-11C). Disebutkan, pesawat membutuhkan banyak trim untuk menyeimbangkan bobot. Itu karena bobot penumpang dan kargo tidak sama.

Selain itu, tidak banyak rute yang membutuhkan kargo sebanyak itu atau sedikit penumpang. Pada akhirnya, pesawat Combi hanya menjadi pesawat musiman saja semisal selama pandemi Covid-19.

Pesawat Combi sendiri adalah pesawat yang penggunaan kabinnya fleksibel untuk memuat penumpang dan kargo. Ini sedikit berbeda dengan pesawat QC atau Quick Change, dimana pesawat bisa dikonversi dari penumpang ke kargo dan sebaliknya hanya dalam tempo 30 menit.

Biasanya, pesawat Combi ini memiliki tiga skema konfigurasi. Konfigurasi pertama, misalnya pada pesawat Boeing 737-700, pesawat Combi menawarkan payload atau muatan sebanyak 13,7 ton dengan enam posisi palet.

Konfigurasi kedua, menawarkan 15,8 ton muatan dengan tujuh palet. Adapun terakhir, versi full full-freighter pesawat ditawarkan menampung 18,2 ton muatan. Masing-masing konfigurasi tersebut tetap menawarkan kabin penumpang dengan kapasitas 12 dan 24.

Di masa-masa awal pandemi Covid-19, mayoritas perbatasan internasional tutup. Tidak ada penerbangan penumpang. Namun, kebutuhan peralatan dan perlengkapan medis justru meningkat di seluruh dunia, mendorong pesawat-pesawat keluar masuk satu negara ke negara lain untuk menjemput dan mengirim itu.

Saking tingginya permintaan perlengkapan dan peralatan medis, dan di saat yang bersamaan permintaan penerbangan penumpang jatuh ke titik terdalam, berbagai maskapai di dunia memenuhi kabin penumpang dengan kargo meski kursi-kursi belum dicopot alias masih dalam konfigurasi penumpang.

Sejak saat itu, berbagai maskapai mulai mengubah konfigurasi pesawat mereka menjadi pesawat Combi, semata untuk memaksimalkan pengangkutan kargo dan penumpang di kabin utama dalam sekali jalan.

Pesawat Combi rata-rata diisi oleh pesawat-pesawat Boeing; Boeing 747, Boeing 727, 737, dan 757. Pabrikan lain juga punya varian Combi, sebut saja ATR 42 Combi.

Baca juga: Boeing 747 Combi, Solusi Maskapai Angkut Penumpang dan Kargo di Era Pandemi Covid-19

Menurut data ch-aviation.com, sejak tahun 2013, permintaan pesawat Combi terus menurun sampai tahun ini.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Namun yang utama adalah masalah usia pesawat itu sendiri. Boeing 747, 727, dan 757 adalah deretan pesawat terpopuler puluhan tahun lalu. Tetapi sekarang tidak.

Scoot Umumkan Bergabung Sebagai Anggota IATA

Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah yang dikenal sebagai bagian dari Singapore Airlines (SIA) Group, dikabarkan telah bergabung dalam keanggotaan International Air Transport Association (IATA). Hanya maskapai penerbangan yang memenuhi standar Audit Keselamatan Operasional (IOSA) IATA untuk keselamatan dalam kegiatan operasional maskapai penerbangan yang dapat menjadi anggota IATA.

Baca juga: IATA vs ICAO, Apa Bedanya? Berikut Ulasannya

Leslie Thng, Chief Executive Officer Scoot, berkata “Selama 10 tahun ini, kami terus meningkatkan ketahanan operasional dan pengalaman pelanggan. Ke depannya, kami berharap dapat terus membuka jalan dalam mendefinisikan ulang dan meningkatkan kualitas perjalanan di industri penerbangan.”

“Kami sangat senang menyambut Scoot sebagai anggota IATA. Dengan bergabungnya Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah, sebagai anggota kami akan semakin meningkatkan keragaman pandangan kami di IATA. Kami berharap dapat bekerja sama dengan Scoot menuju pertumbuhan industri yang berkelanjutan seraya pulih dari dampak Covid-19,” kata Philip Goh, Regional Vice President IATA untuk Asia Pasifik.

Keanggotaan IATA hanya terbuka bagi maskapai penerbangan yang mengoperasikan layanan penerbangan terjadwal dan tidak terjadwal. Mempertahankan pendaftaran IOSA, dan mematuhi program IOSA, sebuah sistem evaluasi yang diakui dan diterima secara internasional yang dirancang untuk menilai manajemen operasional dan sistem kontrol maskapai penerbangan, adalah syarat keanggotaan IATA.

Baca juga: Garuda Indonesia Mulai Uji Coba Penerapan IATA Travel Pass

Menjadi anggota IATA juga memberikan akses pelatihan kepada Scoot di bidang-bidang utama seperti keselamatan dan keamanan penerbangan, efisiensi dan keunggulan operasional, keberlanjutan, serta program yang membantu meningkatkan kemampuan para profesional di industri penerbangan.

Berapa Harga Sewa Pesawat Jet Pribadi?

Bagi sebagian orang, keamanan dan kenyamanan lebih utama sekalipun ada harga yang harus dibayar. Di sektor penerbangan, pemegang prinsip tersebut sudah pasti lebih memilih menyewa atau men-charter pesawat jet ketimbang menumpangi pesawat komersial. Lantas, berapa biasa harga sewa pesawat jet pribadi?

Baca juga: Lion Bizjet Tawarkan Taksi Udara Bertarif Rp47 Juta Per Jam

Bisnis sewa jet pribadi di Indonesia sudah ada sejak lama. Hanya saja memang jet pribadi tidak begitu familiar di masyarakat luas. Hanya kalangan tertentu saja.

Sebelum pamor jet pribadi melonjak belakangan akibat heboh penggunaan oleh Brigjen Hendra Kurniawan, jet pribadi lebih dulu banyak dibicarakan lantaran crazy rich asal Malang, Gilang Widya Pramana, sempat disebut-sebut membeli jet pribadi Cessna Citation Latitude.

Kecuali triliuner semisal Cristiano Ronaldo, Messi, ada pengusaha kenamaan, bagi Anda yang ingin membeli jet pribadi memang harus berpikir dua kali. Selain harganya yang mahal mencapai ratusan miliar, biaya perawatan, parkir, bahan bakar, dan pilot berpengalaman juga tak kalah mahal dan mencekik.

Sebab mahalnya harga membeli pesawat jet, publik pun curiga terhadap kabar pembelian pesawat jet pribadi oleh crazy rich Malang. Belakangan diketahui itu adalah pesawat jet pribadi atau pesawat pribadi sewaan dari salah satu perusahaan charter. Alhasil, sewa jet pribadi pun diperbicangkan publik di media sosial secara luas, terlepas dari pembicaran terkait sosok crazy rich itu sendiri.

Dilansir grasshopperaviation.biz, sekalipun berada di Indonesia dan sehari-hari transaksi ekonomi menggunakan rupiah, namun biaya, tarif, atau harga sewa jet pribadi dihitung dengan dollar AS. Banyak hal yang mendasari ini.

Disebutkan, biaya sewa pesawat jet pribadi per jam antara US$1.300 atau Rp20 juta hingga US$3.000 atau Rp47 juta untuk pesawat pribadi kecil yang dapat menampung antara empat dan enam penumpang.

Pada pesawat berukuran sedang yang dapat menampung sembilan penumpang, diperkirakan biaya sewanya mencapai US$4.000 atau sekitar Rp62 juta dan US$8.000 atau sekitar Rp125 juta per jam. Untuk jet pribadi yang lebih besar dengan kapasitan antara 14 dan 19 penumpang, harganya lebih mahal lagi berkisar antara US$8,600 atau sekitar Rp136 juta dan US$13.000 atau sekitar Rp203 juta per jam.

Bagi yang ingin menjajal sensasi menumpangi pesawat jet pribadi namun tak cukup uang untuk menyewa satu pesawat, ada maskapai atau operator jet pribadi yang menjual kursi satuan seperti pada penerbangan komersial reguler. Umumnya dari satu kota besar ke kota besar lainnya.

Baca juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia

Sayangnya, untuk di Indonesia, belum ada operator pesawat jet pribadi yang menyediakan jasa seperti itu. Di antara negara yang tersedia layanan tersebut, Amerika Serikat (AS) adalah salah satunya.

Operator jet pribadi yang berbasis di Los Angeles, Surf Air, diketahui membuka penerbangan reguler menggunakan pesawat jet pribadi dari Los Angeles ke Las Vegas dengan biaya US$419 sekali jalan.