Mana yang Lebih Berbahaya Bagi Pesawat, Sayap Patah atau Kerusakan Mesin?

Kondisi darurat pada pesawat banyak ragamnya, mulai dari landing gear tak keluar untuk mendukung pendaratan, kerusakan mesin, atau mungkin sayap pesawat patah. Terkait dua kondisi terakhir, sebetulnya, mana yang lebih berbahaya bagi pesawat, kerusakan mesin atau sayap patah?

Baca juga: Apa Jadinya Kalau Semua Mesin Mati Saat Pesawat di Udara?

Sebagai moda transportasi paling aman di dunia, pesawat sudah dirancang sedemikian rupa secara desain maupun prosedur pengoperasian agar keamanan dan keselamatannya terjamin.

Seluruh kondisi darurat sudah diperhitungkan dan ada manual book atau langkah-langkah penanganannya, termasuk kerusakan mesin, entah itu salah satu, sebagian atau bahkan seluruh mesin rusak dan tidak berfungsi. Saat ini terjadi, apakah pesawat akan jatuh vertikal layaknya batu jatuh dari langit? Tentu saja tidak.

Pada 22 Juli 1983, pesawat Air Canada Boeing 767 dalam penerbangan dari Montreal ke Edmonton via Ottawa, Kanada, mengalami masalah.

Kapten Robert Pearson, 48 tahun, dengan pengalaman 15.000 jam terbang, dan kopilot Maurice Quintal, 36 tahun, dengan waktu terbang 7.000 jam, mendapati bahwa alarm tekanan bahan bakar rendah pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba berbunyi.

Ketika itu, pilot berasumsi bahwa bahan bakar masih banyak, merujuk pada indikator Flight Management Computer (FMC). Alarm pun dimatikan. Tak lama berselang, alarm yang sama kembali berbunyi dan kru pun memutuskan untuk mendarat di Winnipeg, berjarak sekitar 120 mil.

Saat pesawat mulai turun, mesin kiri mati, diikuti dengan ledakan pada mesin kanan. Alhasil, diketahui pesawat kehabisan bahan bakar di ketinggian 41 ribu kaki atau 12 kilometer dari permukaan tanah.

Habisnya bahan bakar ini terjadi saat pesawat sudah melakukan sekitar setengah perjalanan. Habisnya bahan bakar juga membuat semua mesin serta panel instrumen kokpit elektronik mati. Saat itu, Boeing 767-200 memang jadi salah pesawat jet pertama yang mengadopsi sistem instrumen penerbangan elektronik yang didukung oleh mesin. Praktis, ketika mesin mati, panel juga ikut mati.

Untungnya, turbin udara ram (RAT) cukup untuk memberi daya pada instrumen penerbangan darurat untuk mendukung proses pendaratan. Hanya saja, itu tidak termasuk vertical speed indicator yang menunjukkan kecepatan pesawat dan lokasi dimana pesawat harus mendarat. Singkatnya, pesawat berhasil mendarat darurat dengan selamat tanpa ada korban jiwa.

Lain cerita dengan insiden sayap pesawat patah. Selain langkah-langkah penanganannya di manual book tidak ada, insiden sayap pesawat patah saat di udara juga jarang terjadi. Karenanya, menurut salah seorang eks pilot militer AS di Quora, itu lebih berbahaya jika terjadi karena pilot tidak dilatih untuk menangani itu.

Saat sayap pesawat patah, praktis pesawat akan berputar dan kehilangan lift atau kontrol. Ketika sudah lebih dari dua putara, pesawat disebutnya hampir pasti tidak bisa lagi dikontrol. Dalam kondisi seperti ini, sudah pasti pesawat akan berakhir nahas.

Baca juga: Apakah Kita Berjalan di Sayap, dan Apakah Mungkin Sayap Pesawat Patah saat di Udara?

Namun, tidak menutup kemungkinan ada pilot-pilot bertangan dingin yang mampu mendaratkan pesawat atau paling tidak meminimalisir tingkat kehancuran (damage).

Menjawab pertanyaan di awal, sudah jelas, sayap pesawat patah lebih berbahaya dibanding kerusakan salah satu, sebagian, atau seluruh mesin pesawat rusak.

Apa yang Penumpang Harus Lakukan Saat Ketinggalan Pesawat Saat Transit?

Selain penerbangan langsung, maskapai juga menawarkan penerbangan lanjutan atau penerbangan transit. Tak semua penerbangan transit dilalui dengan lancar oleh penumpang. Ada saja yang ketinggalan pesawat. Saat itu terjadi, apa yang harus penumpang lakukan? Bagaimana dengan kargo penumpang yang sudah terlanjur diangkut pesawat?

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Ini Tips Antisipasi Delay dan Pembatalan Penerbangan

Langkah pertama yang harus dilakukan penumpang adalah memberitahu maskapai. Bagaimana caranya memberitahu maskapai? Penumpang bisa mendatangi loket tiket atau pengaduan maskapai yang berada di bandara.

Tergantung penyebabnya, penumpang bisa saja mendapat dipesankan tiket ke penerbangan berikutnya tanpa membayar sepeserpun. Demikian juga sebaliknya, penumpang bisa saja diminta untuk membayar tiket penerbangan berikutnya.

Dilansir Airhelp, penerbangan lanjutan yang terlewat oleh penumpang lantaran cuaca buruk, sudah pasti akan ditanggung oleh maskapai. Mereka biasanya akan memesankan tiket penerbangan berikutnya. Dalam kasus ini, penumpang biasanya tidak mendapatkan kompensasi karena itu bukan berasal dari kesalahan maskapai.

Namun, bila penerbangan lanjutannya berasal dari maskapai yang sama atau mungkin satu group dengan maskapai di penerbangan sebelumnya, penumpang berhak mendapat makanan dan minuman atau bila perlu penginapan. Tentu dengan catatan maskapai yang bersangkutan bertanggung jawab.

Sebaliknya, jika penerbangan lanjutan bukan berasal dari maskapai yang sama dengan maskapai sebelumnya (saat berangkat ke bandara transit), maskapai tidak berkewajiban untuk memesankan tiket ke penerbangan selanjutnya. Itu berarti, penumpang harus mengurusnya sendiri ke maskapai yang bersangkutan.

Selain cuaca buruk, kemungkinan lain yang menyebabkan penumpang ketinggalan penerbangan lanjutan adalah layover atau tidak cukup waktu untuk pindah dari pesawat sebelumnya ke pesawat selanjutnya.

Sama seperti kasus penumpang ketinggalan penerbangan lantaran cuaca buruk, penumpang juga bisa mendapat penerbangan lanjutan dari maskapai dan mendapat kompensasi berupa makanan dan minuman serta penginapan andai penerbangan pertama dan kedua adalah satu group atau maskapai yang sama. Bila tidak, penumpang harus mengurus penerbangan lanjutan sendiri.

Terakhir, kemungkinan penumpang tertinggal atau kehilangan penerbangan lanjutan karena delay atau pembatalan, maka maskapai akan mendapat bukan hanya tiket secara gratis tetapi juga kompensasi, baik makanan dan minuman serta penginapan, termasuk akses komunikasi dan transportasi ke dan dari bandara.

Penumpang juga berhak mendapat kompensasi dengan nominal yang berbeda-beda, tergantung kebijakan regulator penerbangan sipil setiap negara.

Di luar tiga itu, tertinggal penerbangan transit karena cuaca buruk, layover, dan delay, kemungkinan lainnya ialah akibat kelalaian penumpang. Dalam kondisi ini, penumpang tidak akan mendapat kompensasi dan tiket gratis ke penerbangan berikutnya.

Baca juga: Anda Ketinggalan Penerbangan? Jangan Keburu Panik, Ikuti Langkah Ini!

Selanjutnya, bagaimana dengan bagasi yang sudah terlanjur diangkut pesawat yang penerbangannya terlewat penumpang?

Masih dikutip dari Airhelp, penumpang harus segera melapor ke maskapai untuk kemudian dilacak keberadaan bagasi. Setelahnya, penumpang akan diberi tahu dimana bisa mengambil bagasi tersebut atau penumpang bisa menitipkan alamat pengiriman bagasi jika penumpang tidak ingin mengambilnya sendiri.

Rencana Pembangunan Jaringan Kereta di Bali, Berpusat di Bandara Ngurah Rai, Pilih Trem Baterai atau ART?

Bali bakal punya layanan transportasi berbasis rel, sepertinya sudah lama menjadi wacana. Tapi kapan itu bisa terealisasi? Sepertinya tidak ada yang bisa memastikan. Namun, belum lama ini ada kabar terbaru perihal kereta yang akan mengular di Pulau Dewata. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bali IGW Samsi Gunarta mengatakan keputusan akhir pembangunan infrastruktur kereta listrik di Bali akan diumumkan pada 2023.

Baca juga: Trem Baterai yang Diuji Coba PT INKA Rencananya Melaju di Bogor dan Bali

Dikutip dari JPNN.com (6/9/2022), sebagai titik utama jalur kereta yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Seminyak, Badung. “Masih banyak hitung-hitungannya, tidak sederhana karena akan melibatkan uang besar. Namun, untuk lintasan rencananya dari bandara ke Seminyak,” kata Kadishub Bali IGW Samsi Gunarta di Denpasar. Ada juga rute tambahan yang sedang dalam tahap kajian, yakni rute dari bandara menuju Kota Denpasar melalui Central Parkir, kemudian ke Renon, Sanur, Benoa dan kembali ke bandara.

“Kita masih feasibility study (studi kelayakan), kita harus berpikir, apakah dapat penumpang atau tidak. Pembangunannya target financial closing di 2023 sudah ada kejelasan, siapa membiayai, berapa dibiayai, dan kemudian bagaimana biaya dengan operasional,” kata Gunart. Menurutnya, studi kelayakan harus dibikin matang lantaran ada anggaran besar dalam proyek kereta listrik di Bali ini. IGW Samsi Gunarta mengatakan apabila belum ada kejelasan, maka pembangunan tak dapat dilaksanakan. Yang jelas, keberadaan kereta listrik akan berdampak baik untuk Bali dalam jangka panjang.

Sementara itu, BUMN PT Inka telah mempersiapkan prototipe Trem Baterai untuk salah satunya kelak bisa diuji di Bali. “Sesuai dengan namanya, Trem Baterai ini menggunakan baterai sebagai sumber energi satu-satunya di dalam kereta. Energi baterai tersebut digunakan untuk menggerakkan kereta sekaligus untuk menyalakan AC, kompresor dan lampu penerangan. Karena menggunakan baterai, dalam operasionalnya Tram ini tentu sangat ramah lingkungan dan dapat digunakan di daerah yang tidak terdapat jalur catenary atau listrik aliran atas,“ kata Direktur Utama PT INKA, Budi Noviantoro dalam siaran pers pada tahun 2020 silam.

Prototipe Trem Baterai ini berbobot sembilan tol dan akan melaju di kecepatan 30 km per jam dengan memiliki kapasitas baterai sebesar 30 kWh. Penumpang yang bisa diangkut oleh prototipe Tram Baterai sebanyak 75 orang. Namun, nantinya jika sudah diproduksi masal, INKA akan mengembangkan produk series Trem Baterai dengan meningkatkan spesifikasi sesuai kebutuhan operasionalnya.

Selain dari dalam negeri, Cina juga menawarkan pembangunan jaringan kereta tanpa rel di Bali. Dalam akun resmi Instagram PT KAI, keretaapikita, disebutkan KAI bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sedang melakukan perencanaan dan pembahasan pengembangan angkutan masal perkotaan berbasis rel di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya adalah ART (Autonomous Rail Rapid Transit).

Autonomous Rail Rapid Transit (ART) pertama kali diluncurkan di Zhuzhou, China Tengah, pada tahun 2017, dan digambarkan sebagai bus gandeng berpemandu optik. (ladbible.com)

ART merupakan salah satu teknologi sarana kereta yang baru dikenalkan dan diuji coba oleh CRRC Zhuzhou China, 8 Mei 2018. ART melaju di jalan raya dengan jalur bertanda khusus. ART yang lebih mirip seperti tram namun menggunakan roda karet dan digerakkan dengan tenaga listrik.

Baca juga: Autonomous Rail Rapid Transit, Pelampiasan Cina Setelah Gagal Dengan Straddling Bus?

Pada 18 Mei 2018, Direksi PT KAI berkesempatan menjajal ART. Setelah kunjungan itu, ada kerja sama antara KAI dengan CRRC Zhuzhou China untuk mengembangkan pengoperasian Tram ART tersebut di Indonesia melalui penandatanganan MoU antara KAI dengan CRRC TEC 8. PT KAI bakal mendatangkan ART buatan China ini untuk dioperasikan di Bali. Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo menjelaskan bahwa ART bakal menghubungkan Bandara Ngurah Rai menuju kawasan Sanur.

Cuma Angkut Satu Penumpang, Apakah Pesawat tetap Terbang atau Penerbangan Dibatalkan?

Saat peak season, maskapai-maskapai di dunia kesulitan memenuhi demand yang sangat tinggi. Sebaliknya, di luar peak season, maskapai justru mencari-cari penumpang karena demand yang sangat rendah. Di beberapa kondisi, kabin bahkan bisa saja kosong dan hanya diisi oleh satu penumpang. Dalam kondisi tersebut, apakah penerbangan akan tetap dilanjutkan atau dibatalkan mengingat itu jauh dari break event point (BEP) atau break even load factor?

Baca juga: Meski Harus Terbang dengan Satu Penumpang, Maskapai Belum Tentu Merugi!

Maskapai penerbangan memang bisnis yang berisiko tinggi. Sedikitnya ada empat faktor yang membuat maskapai selalu rugi. Salah satunya adalah cost yang sangat tinggi.

Karenanya, maskapai memiliki target pengoperasian minimal mencapai BEP atau break even load factor untuk meminimalisir kerugian. Andai itu tak tercapai, belum tentu maskapai akan tetap terbang, demikian pula sebaliknya. Itu melibatkan banyak faktor. Salah satunya slot landing dan lepas landas.

Sebuah maskapai diketahui bisa beroperasi di sebuah rute lantaran telah mendapat landing slot dan take-off slot di bandara awal dan bandara tujuan. Ini biasanya disebut slot bandara. Slot bandara ini adalah fasilitas untuk mendarat, menurunkan penumpang, mengisi bahan bakar, mengambil penumpang baru dan kemudian lepas landas lagi yang semuanya sudah ditentukan dan diatur kerangka waktunya.

Mekanisme dan kerangka bisnis slot bandara diatur oleh Worldwide Airport Slot Guidelines (WASG), dibantu dengan pedoman dari IATA dan Airports Council International (ACI).

Slot bandara ini harus diupdate setiap enam bulan sekali untuk penerbangan internasional. Adapun penerbangan domestik bisa berbeda-beda tergantung regulator.

Selain harus meng-update slot bandara setiap enam bulan, maskapai juga harus berhasil menggunakan setidaknya 80 persen slotnya. Bila berhasil, maka maskapai diizinkan untuk mempertahankan slot pada musim berikutnya. Sistem dikenal sebagai “grandfather rights”.

Dari penjelasan slot bandara di atas, dalam kaitannya dengan tetap terbang tidaknya sebuah pesawat dengan hanya satu penumpang, andai maskapai sudah berhasil menggunakan 80 persen slotnya dalam periode enam bulan tersebut, bukan tak mungkin maskapai akan membatalkan penerbangan agar tidak rugi.

Bila belum (mencapai 80 persen), jangankan satu penumpang, tanpa penumpang pun maskapai tetap akan menerbangkan pesawat untuk mempertahankan slot bandara. Ini yang pada akhirnya menyebabkan banyaknya ghost flight beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, slot bandara bukan satu-satunya faktor penentu. Ada juga faktor lain seperti muatan kargo, penerbagan balik, dan reputasi.

Sudah jadi rahasia umum bahwa di setiap penerbangan pesawat mengangkut bukan hanya penumpang tetapi juga kargo. Bila kargo dalam kondisi penuh meski hanya memuat satu penumpang di kabin utama, penerbangan biasanya akan tetap dijalani dan umumnya tetap untung.

Demikian juga penerbangan kembali ke bandara asal. Maskapai biasanya tetap akan melakoni penerbangan ke bandara tujuan meski hanya satu penumpang. Sebab, penerbangan baliknya sudah pasti akan penuh karena satu dan lain hal.

Dalam kasus di Rusia Rabu lalu, misalnya, dimana warga berbondong-bondong keluar Rusia usai Putin mengumumkan mobilisasi parsial ke Ukraina sekitar 300 ribu tentara cadangan, maskapai luar negeri, semisal Turkish Airlines, bukan tidak mungkin berangkat dari Turki ke Rusia dengan hanya satu penumpang, tetapi di penerbangan baliknya seluruh kursi terisi penuh.

Baca juga: Bak Raja, Pria Asal Lithuania Menjadi Satu-Satunya Penumpang Pesawat Tujuan Italia

Faktor reputasi juga tak kalah penting menentukan. Andai kargo pun kosong dan penumpang di kabin utama hanya satu orang serta penerbanan baliknya juga dipastikan tak mencapai break even load factor, penerbangan akan tetap dijalankan bila mempertimbangkan faktor tersebut. Sebab, ini akan meningkatkan kepercayaan penumpang di masa mendatang dan citra maskapai akan meningkat.

Menjawab pertanyaan di atas, umumnya maskapai tetap akan terbang walau dengan hanya satu penumpang di kabin. Tentu dengan berbagai pertimbangan sebagaimana dijelaskan di atas.

Cek Fakta, Hoax Video Robot Wanita Menyapa di Bandara Tokyo, Aslinya adalah Aksi Seorang Model di Stasiun

Seorang model wanita asal Jepang yang berperan sebagai robot telah membuat heboh netizen, pasalnya akibat unggahan yang salah, entah itu disengaja atau tidak, mengakibatkan publik global mengira sosok wanita yang tengah menyapa penumpang di Bandara Tokyo adalah robot sungguhan.

Baca juga: Bandara Minneapolis Hadirkan “Gita,” Robot Pengantar Makanan ke Pelancong

Sebuah video telah dilihat puluhan ribu kali setelah beredar bersamaan dengan klaim bahwa video itu menunjukkan robot ‘hidup’ menyapa dan memeluk penumpang di Bandara di Tokyo. Namun, klaim itu ternyata salah, dikutip dari AFP Fast Check – factcheck.afp.com (14/9/2022), disebutkan bahwa video tersebut sebenarnya memperlihatkan seorang model Jepang yang berperan sebagai robot dalam sebuah acara ‘pelukan bebas’ di Tokyo pada tahun 2019. Rekaman itu pun bukan diambil bandara, melainkan di luar Stasiun Shimokitazawa di ibu kota Jepang.

Video itu diunggah di Facebook pada 8 Januari 2022, di mana telah dilihat lebih dari 20.000 kali. Dalam video ber-caption disebut, “Di bandara Tokyo Jepang, sebuah robot ikonik dan menarik bertugas menyapa dan memeluk penumpang. Apakah dia masih ada jika dia berada di Indonesia… atau akankah dia hilang?” membaca caption berbahasa Indonesia dari postingan tersebut.

Rekaman satu menit menunjukkan seorang wanita melambaikan tangannya dan menggerakkan kepalanya dengan cara robot, diikuti oleh adegan dia memeluk orang satu per satu. Video tersebut telah dilihat lebih dari 38.000 kali setelah dibagikan bersamaan dengan klaim serupa di Facebook, YouTube, Twitter dan TikTok.

AFP menemukan bahwa video itu memang difilmkan di luar Stasiun Shimokitazawa di Tokyo — bukan di bandara di ibu kota Jepang, seperti yang diklaim di beberapa unggahan menyesatkan.

Bertindak sebagai model yang dikira sebagai robot ternyata adalah Takayama, ia adalah seorang “artis” lepas sebagai aktor android. Dia telah bertindak sebagai android dalam dua film pendek komersial, “Christmas in 2042” dan “Sakura in 2045”. Dalam posting blog yang Ia terbitkan dan tweet pada 16 Oktober 2019, dirinya menulis tentang “bertindak sebagai android” dalam acara pelukan bebas di depan Stasiun Shimokitazawa.

Baca juga: Akhirnya Robot Pembuat Mie Soba Mulai Beroperasi di Stasiun Jepang

Takayama terlihat mengenakan gaun hitam-putih yang sama di beberapa postingan media sosialnya, seperti di sini di YouTube dan di sini di Instagram, serta di sampul buku perjalanannya.

Hitachi Rail Luncurkan “Blues” di Italia – Kereta Bertenaga Hybrid, Bisa Pakai Listrik Pantograf, Baterai dan Diesel

Ada kabar terbaru seputar dunia teknologi perkeretaapian, dimana Hitachi Rail meluncurkan kereta tri-mode power untuk Trenitalia, operator kereta api Italia, di InnoTrans 2022. Hitachi Rail dan Trenitalia pada 21 September 2022 meluncurkan kereta hybrid tri-mode “Blues”, yaitu kereta yang dapat beralih dari adopsi tenaga baterai, listrik atau diesel, kereta canggih ini akan memasuki layanan penumpang di Italia pada akhir tahun ini.

Baca juga: Desiro ML Cityjet Eco, Kereta Bertenaga Baterai Elektro-Hybrid dari Siemens Mobility

Dikutip dari railwayage.com (22/9/2022), disebutkan Hitachi Rail akan memasok 135 unit kereta hybrid Blues Train tri-mode ke Trenitalia, dengan nilai kontrak mencapai US$1,8 miliar (€1,2 miliar). Hitachi mengatakan, kereta yang berasal dari platform Masaccio memiliki kemampuan untuk beroperasi dengan mulus di jalur listrik dan non-listrik.

Pada rute yang dialiri listrik, kereta ini menggunakan pantograf untuk menarik daya dari saluran udara. Namun, ketika pindah ke jalur non-listrik, biasanya rute regional yang lebih kecil, kombinasi baterai dan tenaga diesel mengambil alih. Saat berada di dekat stasiun, baterai memberi daya kereta sepenuhnya, menghilangkan emisi termasuk NOx yang berbahaya dan mengurangi polusi suara.

Baterai pada kereta ini dapat diisi ulang saat kereta beroperasi, baik dalam mode diesel maupun listrik.” Pabrikan mencatat bahwa kereta, yang dapat beroperasi di seluruh Eropa, dijadwalkan untuk mengurangi emisi karbon dan konsumsi bahan bakar hingga 50 persen.

Diproduksi di pabrik Hitachi Rail di Pistoia dan Naples, Italia, kereta empat gerbong baru ini dapat mencapai kecepatan maksimum sekitar 160 km per jam) dan menampung hingga 300 penumpang yang duduk. Hitachi mencatat bahwa daya ekstra yang ditawarkan oleh baterai on-board memberikan kinerja akselerasi yang lebih baik dibandingkan dengan kereta diesel yang ada. Selain itu, Kereta Blues dilengkapi dengan persinyalan digital European Rail Traffic Management System (ERTMS), standar rel Eropa.

Baca juga: Operator Kereta India Manfaatkan Energi Surya dan Angin, Hemat Biaya Operasioal Secara Signifikan

Menurut Hitachi, armada ini memiliki kapasitas yang lebih besar untuk bagasi dan sepeda, AC, lebih banyak USB dan soket daya untuk konektivitas, dan area khusus untuk anak-anak. Kereta ini dirancang untuk menyertakan akses pintu tingkat platform untuk meningkatkan aksesibilitas serta layar informasi penumpang ukuran 24 inci dan teknologi penghitungan penumpang.

Inilah Tiga Sumber Kebisingan Pesawat dan Cara Industri Meredamnya

Sebagai moda transportasi paling aman di dunia, pesawat bukan tanpa celah atau kekurangan. Salah satu kekurangan pada pesawat adalah tingkat kebisingan tinggi (polusi suara). Kebisingan bukan hanya membuat orang yang mendengarnya tak nyaman tetapi juga berdampak pada kesehatan. Sedikitnya ada tiga sumber penyebab kebisingan pada pesawat dan cara industri penerbangan meredamnya.

Baca juga: APU Beraksi, Inilah Sumber Suara Bising yang Kerap Anda Dengar Saat Naik dan Turun Pesawat

Polusi suara pesawat atau aircraft noise pollution sudah menjadi makanan sehari-hari bagi pekerja bandara, baik itu staf darat maupun udara. Polusi suara pesawat (disebut juga pencemaran suara) telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan tidur, gangguan jantung (kardioviskular) dan stres.

Polusi suara atau kebisingan dari pesawat, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, disebabkan oleh tiga hal; mesin pesawat, badan pesawat, dan auxiliary power unit (APU).

  1. Mesin Pesawat

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sumber utama penyebab kebisingan pada pesawat adalah mesin pesawat. Terdapat beberapa jenis mesin atau engine dari pesawat, diantaranya, turbojet engine, turboporop engine, turbofan engine, turboshaft engine.

Pesawat narrowbody, setidaknya dibutuhkan waktu ground run sekitar 30-35 detik untuk lepas landas atau saat roda pesawat mulai meninggalkan runway. Tetapi, balik lagi, semuanya sangat tergantung dengan faktor lain, sebagaimana yang telah disebut di atas.

Meski begitu, lebih atau kurang dari 30-35 detik waktu yang dibutuhkan pesawat untuk lepas landas, yang pasti pilot baru berani menarik throttle-up saat pesawat sudah mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau decision speed (V1). Biasanya, V1 pada pesawat narrowbody berkisar antara 120 sampai 140 knot.

Sedangkan untuk pesawat-pesawat widebody, pesawat membutuhkan ground run selama 50 detik untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan, juga antara 120 dan 140 knot, dan kemudian lepas landas.

Dengan kecepatan tersebut, tak heran bila mesin pesawat mengeluarkan suara sangat bising. Ini pula yang membuat pesawat diatur agar tidak melewati pusat kota karena suara bising yang dihasilkan. Jangankan saat di bandara, saat berada di udara pun suara bising pesawat masih terdengar jelas.

2. Badan Pesawat

Selain mesin, badan pesawat itu sendiri juga menghasilkan suara bising. Di kalangan peneliti, badan pesawat sebagai sumber kebisingan dan inefisiensi bukan hal aneh.

Ini pula yang menjadi fokus mereka dalam mencari solusi atas kebisingan itu, salah satunya ialah melapisi badan pesawat dengan kaca film yang strukturnya terinspirasi dari kulit ikan hiu. Ini dianggap dapat mengurangi gesekan yang menjadi sumber kebisingan pada badan pesawat.

3. Auxiliary Power Unit (APU)

Terakhir, yang menjadi sumber kebisingan adalah unit daya tambahan (APU). Sebelum mesin dinyalakan, pesawat tetap menghasilkan kebisingan dari pengoperasian APU untuk mendinginkan kabin, sebagai sumber penghasil electrical power dan pneumatic pada saat di darat dan pada saat terbang, serta start engine.

Mengingat konsekuensi akibat kebisingan pesawat berpotensi industri kedirgantaraan global mulai mencari cara agar polusi suara pesawat dapat diminimalisir, baik melalui kebijakan ataupun inovasi teknologi.

Baca juga: Yuk! Pahami Berbagai “Bunyi Bising” di Dalam Kabin Pesawat

Dari segi kebijakan, maskapai diatur agar pilot lepas landas dengan cara se-senyap mungkin atau dalam pedoman ICAO disebut NADP 1 dan NADP 2. Ada pula kebijakan mengenakan biaya ekstra untuk penerbangan malam hari.

Dari segi inovasi, para ahli berupaya keras untuk menciptakan mesin jet yang lebih senyap, badan pesawat yang lebih licin sehingga minim gesekan, dan lainnya.

Apakah Kita Berjalan di Sayap, dan Apakah Mungkin Sayap Pesawat Patah saat di Udara?

Saat Anda melakukan perjalanan udara, dan menengok ke arah jendela, maka salah satu yang terlihat adalah sayap, yakni bagian dari superstruktur. Dengan ukurannya yang besar, di mana terdapat mesin dan bahan bakar, maka tak sedikit terbesit pertanyaan, tentang seberapa kuat sayap itu, apakah orang bisa berjalan di sayap? Apakah sayap pesawat dapat patah saat di udara?

Baca juga: Fotografer Bali Sukses Curi Perhatian Dunia Berkat Aksi Esktrem di Atas Sayap Pesawat

Pertanyaan itu lazim dalam pemikiran banyak orang, terutama bagi penumpang pemula yang baru punya pengalaman naik pesawat. Untuk pertanyaan, apakah seseorang bisa berjalan di sayap? Maka jawabannya adalah ‘tergantung,’ yaitu tergantung jenis pesawatnya. Semisal berupa pesawat kecil dengan mesin tunggal, maka jawabannya tidak disarankan.

Dikutip dari quora.com, dicontohkan seperti pesawat Cessna 172R. Berat kotor maksimumnya adalah 2.450 kg, dan memiliki luas sayap 174 kaki persegi. Sebagai ilustrasi, orang dengan berat 150 pon mengenakan sepatu khusus. Sol sepatu cukup besar, tetapi sebagian besar gaya yang diterapkannya terkonsentrasi hanya pada beberapa inci persegi; sebagian besar di tumit, tetapi juga beberapa di bola dan ujung telapak kaki.

Ilustrasi (sumber: hotinjuba.com)

Dibandingkan dengan tekanan aerodinamis maksimum normal 0,6, Anda melihat tekanan yang diberikan oleh orang yang berdiri adalah antara 4 dan 6 kali lipat. Dan itu hanya untuk berdiri diam. Saat berjalan atau menggeser berat badan, seseorang mungkin menerapkan dua kali tekanan berdiri dan mungkin lebih banyak lagi. Jadi, untuk pesawat kecil seperti Cessna 172, maka berjalan tidak akan mematahkan sayap, tetapi pasti akan membuat penyok di kulit sayap, dan mungkin akan menyebabkan kerusakan sktruktur lokal di bawah kulit.

Tentu saja, ada kasus yang berbeda. Misalnya, di pertunjukan udara, Anda dapat melihat orang berjalan di sayap dan memanjat di sekitar sayap biplan vintage. Para wing walker tersebut umumnya sangat terampil, dan bergerak dengan hati-hati agar tidak merusak pesawat. Mereka memakai sepatu yang lembut, dan tahu persis di mana harus memijakan kaki dan tangan mereka di area yang diperkuat yang dapat menopang berat badan.

Wah, ternyata bisa makan di bagian sayapnya juga! Masih kurang romantis? Sumber: curlytales.com

Untuk pesawat yang lebih besar, jawabannya sangat berbeda. Karena maskapai penerbangan dan muatannya tergolong sangat berat, sayap pesawat harus sangat kuat untuk mengangkatnya. Orang dapat berjakan di sayap pesawat besar, tentu saja ada titik-titik khusus bila harus berjalan di sayap. Tidak semua bagian bisa dengan bebas diinjak.

Sayap dirancang terutama untuk mengangkat pesawat yang mereka pasang. Gaya angkat yang mereka terapkan pada pesawat sebagian besar berasal dari gaya aerodinamis yang disebabkan oleh perjalanan mereka di udara. Kekuatan-kekuatan ini didistribusikan dengan sangat merata di atas area permukaan atas dan bawah sayap. Dan karena sayap umumnya memiliki luas yang cukup banyak, gaya yang diterapkan bisa sangat kecil dan masih memberikan daya angkat yang cukup untuk lebih dari membawa pesawat ke udara.

Kembali ke pertanyaan, apakah sayap pesawat dapat patah? Perlu diketahui, sayap pesawat menopang berat pesawat dan muatan selama penerbangan, termasuk tekanan ekstra dari cuaca yang bergejolak dan manuver pesawat yang keras yang dapat melipatgandakan bobot pesawat pada sayap sebanyak 2-3 kali untuk pesawat komersial dan 6– 8 kali untuk pesawat tempur. Oleh karena itu, sayap sangat kuat dan dimaksudkan untuk fleksibel sehingga tekanan yang tiba-tiba tidak mematahkannya.

Untuk mematahkan sayap pesawat, seseorang harus melebihi tingkat tegangan desain sayap. Meskipun bukan tidak mungkin, sejauh ini tidak pernah terjadi selama penerbangan normal. Selama turbulensi berat saat terbang, sayap dikenakan beban ekstrem. Namun, sayap tidak putus karena para insinyur sudah memperhitungkan konfigurasi beban ekstrem dalam desain pesawat.

Tapi tetap saja ada kemungkinan sayap patah di udara karena Kegagalan dalam penerbangan seperti hasil dari desain yang buruk atau perawatan yang tidak memadai. Tapi lebih sering, itu terjadi akibat kesalahan pilot, di mana pilot memberi tekanan berlebih pada pesawat dengan menerapkan faktor beban yang lebih besar daripada yang bisa ditangani pesawat.

Baca juga: Evolusi Sayap Pesawat dari Waktu ke Waktu – Mulai dari Kayu Hingga Material Komposit

Sebagian besar pesawat disertifikasi untuk menahan sejumlah faktor beban, dan selanjutnya diharuskan untuk juga mempertahankan setidaknya 50% faktor keamanan di atas itu. Faktor beban biasanya digambarkan dalam satuan g, di mana setiap g sama dengan gaya gravitasi bumi.

23 September, Hari Bahari Nasional yang Ingatkan Pada Lagu ”Nenek Moyangku Seorang Pelaut”

Setiap tanggal 23 September Indonesia memperingati Hari Maritim yang kini dikenal dengan Hari Bahari Nasional. Penetapan Hari Bahari Nasional ini berawal dari pidato Presiden Soeharto pada 23 September 1967 silam.

Baca juga: Ini Daftar 9 Pelabuhan Laut Tersibuk di Indonesia

Presiden kedua Republik Indonesia ini menjadikan Hari Bahari Nasional dengan harapan bisa menjadi momentum dalam pelestarian serta meningkatkan potensi bahari nusantara. Setiap merayakan Hari Bahari Nasional, seakan teringat dengan lagu ”nenek moyangku seorang pelaut”.

Ya, ini tak bisa dipungkiri sebab, Indonesia memiliki lautan yang lebih luas dibandingkan daratannya. Sebab tiga per empat bagiannya adalah lautan dan sebenarnya Indonesia bukan merupakan Negeri Kepulauan melainkan Negeri Lautan atau Bahari.

Dengan sebutan ini bisa menjadikan laut Indonesia tidak dilupakan dan aspek kelautan senantiasa menghiasi setiap gerak langkah kebijakan pembangunan yang ada. Bahkan dari lautan yang dimiliki Indonesia bisa membenahi krisis yang tengah dihadapi saat ini.

Namun sayangnya Indonesia yang dikaruniai lautan yang indah dan luas belum benar-benar terjamah dengan baik untuk pembangunan berkelanjutannya. Meski begitu perlahan-lahan, Indonesia mulai mengeksplorasi lautan yang ada baik dalam sektor industri pangan maupun wisata baharinya.

Apalagi di beberapa titik lautan Indonesia memiliki kekayaan biota laut yang kerap kali di sambangi pelancong untuk menyelam atau sekedar menikmati keindahan laut. Sedangkan di industri pangan, Indonesia memiliki kekayaan laut yang berlimpah dan beragam.

Selain itu, salah satu aspek yang sudah mulai dibangun saat ini adalah pengembangan tol laut. Di mana tol laut adalah jalur pelayaran yang bebas hambatan dan menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia.

Baca juga: Rute Tol laut Tanjung Priok-Panjang, Akankah Berdampak Pada Lintasan Merak-Bakauheni?

Kehadiran tol laut diharapkan membantu pengiriman barang dari satu pulau ke pulau lainnya, sehingga tidak terjadi kelangkaan bahan-bahan pokok baik itu sembako, BBM hingga semen. Bahkan ini juga diharapkan agar harga barang bisa lebih murah dari pengiriman menggunakan moda transportasi lainnya. Lewat laut ini pula, warisan nenek moyang akan tetap bisa lestari sampai kapanpun, asal kita semua bisa menjaga dan melestarikannya.

Lihat Barcode atau QR Code di Tiket Anda? Inilah Maknanya!

Di zaman yang sudah serba modern seperti sekarang ini, Anda tentu sudah dapat dengan mudah menemukan QR code dimana pun Anda berada. Mulai dari coffee shop, aplikasi ride-hailing, hingga aplikasi dompet digital – hampir semuanya sudah menggunakan QR Code. Jika dibandingkan dengan jaman dulu, QR Code masih hadir dalam bentuk barcode. Tapi, tahukah Anda tentang perbedaan dari dua kode berbentuk unik ini?

Baca Juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition

Oh iya, sebelum melanjutkan pembahasan tentang perbedaan antara kedua kode ini, Anda juga bisa menemukan kode yang didominasi warna hitam ini di tiket penerbangan atau tiket kereta api Anda. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri!

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, barcode sejatinya merupakan kode yang hingga saat ini masih dapat Anda temukan di berbagai produk, seperti makanan, rokok, hingga barang-barang lainnya yang bisa dikonsumsi oleh pembelinya. Barcode ini berisikan sebidang persegi panjang berwarna putih yang pada bagian tengahnya dilengkapi dengan sejumlah garis hitam vertikal dengan beragam ukuran. Selain itu, Anda juga akan mendapati sejumlah angka pada bagian bawahnya.

Barcode ini berisikan kode optik yang bisa dibaca oleh mesin pemindai atau scanner. Barcode tergolong ke dalam kode 1 dimensi, dimana mesin pemindai hanya bisa membaca kode ini secara menyamping.

Sementara QR Code merupakan kembangan dari barcode, dimana QR di sini merupakan singkatan dari Quick Response. Jika barcode berbentuk garis-garis vertikal, maka QR Code memiliki bentuk persegi empat dengan tiga kotak kecil pada bagian kanan atas (dua buah) dan kiri bawah (satu buah). Dibandingkan dengan barcode, QR Code bisa lebih banyak menampung informasi (kapasitas data yang disimpannya ratusan kali lebih banyak daripada barcode).

Baca Juga: Pilah-Pilih Vendor, Bandara Internasional Changi Siap ‘Pekerjakan’ Facial Recognition

Seperti yang sudah disebutkan di atas, barcode hanya bisa meyimpan data menyamping (1 dimensi), maka QR Code bisa menampung data secara vertikal dan horizontal (2 dimensi).

Nah, ada sedikit perbedaan nih dengan kode yang ada di tiket pesawat, dimana kode tersebut bernama pdf417, dimana data yang ditampung lebih kompleks dan biasanya digunakan di sektor transportasi, kartu identifikasi, hingga manajemen inventori gudang.