Hari Ini, 30 Tahun Lalu, Kecelakaan Terburuk di Nepal PIA Flight 268 Terjadi Gegara Pilot Lalai Ikuti Prosedur

Hari ini, 30 tahun lalu, bertepatan dengan Senin, 28 September 1992, kecelakaan pesawat Airbus A300B4-203 Pakistan International Airlines (PIA) flight 268 terjadi akibat pilot salah melakukan approach. Pilot tak serta merta jadi penyebab utama terjadinya kecelakaan pesawat terburuk di Nepal tersebut, melainkan juga ada faktor cuaca dan tak berfungsinya ground proximity warning system (GPWS).

Baca juga: Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh

Dilansir aviationnepal.com, kecelakaan udara terburuk di Nepal yang menewaskan 155 penumpang dan 12 awak PIA bermula saat pesawat dengan nomor registrasi AP-BCP berangkat dari Bandara Internasional Jinnah, Karachi menuju Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu.

Beberapa jam berselang, pesawat tersebut menabrak lereng bukit Bhattedanda setinggi 2.514 mdpl saat melakukan approach, dalam posisi slats, flaps, spoilers, dan landing gear dari posisi on, sekitar 17 km dari bandara. Pesawat diketahui menabrak lereng persis setelah melewati awan tebal.

Dari hasil penyelidikan, sebetulnya banyak faktor pendukung terjadinya kecelakaan PIA flight 268. Sang pilot, Kapten Iftikhar Janjua, dengan 6.260 jam bersama Airbus A300 sekaligus pilot paling berpengalaman PIA, serta co-pilot Hassan Akhtar, dengan 1.469 jam di Airbus A300, diduga tidak melakukan prosedur approach dengan baik.

Dari grafik penerbangan, pesawat diketahui turun 1.000 kaki lebih rendah. Tak hanya itu, pilot juga sudah melakukan final approach pada 16 DME. Padahal, secara metodologi, final approach baru dimulai pada 10 DME. Ketika penyidik mengecek kokpit simulator A300, rupanya flight chart clipper kokpit tidak benar.

Co-pilot juga tak luput dari kesalahan. Penyidik dari Air Accident Investigation Branch (AAIB) Inggris, co-pilot (termasuk pilot) tidak memeriksa altimeter untuk melaporkan ketinggian pesawat kepada petugas ATC. ATC pun demikian, mereka tak mengingatkan pilot bahwa mereka terbang terlalu rendah. Tetapi, saat diinterogasi, petugas berkilah bahwa mereka tak mengetahui posisi pesawat.

Cuaca digadang-gadang menjadi penyebab utama. Namun, menurut saksi mata, cuaca di sekitar pesawat PIA PK268 dalam kondisi baik, tidak hujan, berkabut, badai, ataupun petir; tak seperti kecelakaan Thai Airways, 59 hari sebelum kecelakaan itu dimana cuaca dalam kondisi tak bersahabat. Visibilitas di sekitar Airbus A300 PIA juga tak terlalu buruk, mencapai 20 meter. Hanya saja, puncak bukit Bhattedanda di sebelah Selatan bandara tertutup awan tebal.

Tak ketinggalan, fitur ground proximity warning system (GPWS) juga berperan atas kejadian itu. Fitur tersebut tak berfungsi dengan baik untuk mengingatkan pilot soal jarak pesawat dengan daratan (termasuk gunung ataupun bukit) akibat terhalang awan tebal yang menutupi bukit tersebut.

Baca juga: [Hari ini 42 Tahun Lalu] Puncak Pembajakan Lufthansa Flight 181 yang Fenomenal

Dari hasil investigasi AAIB, penyebab terjadinya kecelakaan terburuk di Nepal, PIA PK268 disebabkan oleh salah satu atau kedua pilot tak patuh -bisa juga disebut lalai- untuk mengikuti metode approach dan membawa pesawat turun selangkah lebih maju dari prosedur paten.

Serupa dengan AAIB, hasil penyelidikan The Transportation Safety Board of Canada (TSB) terhadap kecelakaan tersebut juga mengarah ke kekeliruan pilot. Namun, penting untuk diketahui, Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu rupanya bukanlah tujuan favorit maskapai. Sebelum kejadian, sudah dua bulan pilot PIA tak terbang ke wilayah ini. Tentu, pemeriksaan rute dan prosedur pemeriksaan operasi penerbangan PIA tidak efektif.

Bingung Bagian Bawah Mesin Boeing 737 Rata? Ini Penjelasannya!

Boeing 737 (seri MAX) berhasil menyita perhatian akibat serangkaian kecelakaan. Namun, terlepas dari berbagai kecelakaan yang melibatkannya, seri 737 sebetulnya punya keunikan yang mungkin bisa jadi daya tarik bahkan pembeda dibanding kompetitornya, khususnya pada seri A320. Salah satunya terletak pada bagian bawah mesin yang rata alias tidak bulat sempurna.

Baca juga: Skak Mat! Boeing Kedapatan ‘Membual’ Ketika Pasarkan 737 MAX

Dilansir simpleflying.com, Senin, (3/2), latar belakang khusus menjadi alasan Boeing untuk membuat desain seperti itu. Latar belakang khusus dalam artian, prinsip-prinsip dasar desain awal Boeing 737 dibuat memang untuk bandara-bandara tua yang minim infrastruktur. Bahkan, beberapa di antaranya, tidak memiliki mobil tangga serta garbarata. Kala itu, sekitar tahun 60-an, pesawat memang harus memiliki (khususnya pintu kargo) yang mudah dijangkau oleh operator tanpa bantuan tangga atau alat bantu lainnya.

Dengan berbagai pertimbangan itu, akhirnya, pesawat yang diberi gelar oleh Boeing sebagai Fat Little Ugly Fella tersebut akhirnya didesain untuk dapat beroperasi serendah mungkin, bahkan dengan badan pesawat bagian bawah yang hampir menyentuh daratan sekalipun.

Oleh karenanya, agar pesawat mudah dibuat rendah, mesin pesawat sengaja dibuat rata pada bagian bawahnya. Di samping itu, teknologi pada waktu tersebut juga memang belum menemukan apa yang disebut sebagai bypass ratio, yakni sebuah teknologi yang memaksimalkan udara di dalam mesin untuk mencapai tingkat efisiensi berlebih. Untuk mendapatkan lebih banyak udara ke dalam mesin, pesawat membutuhkan turbin yang lebih besar didukung dengan tenaga dari kipas yang lebih besar pula. Hal itu hanya bisa dibuat dengan menambahkan ketinggian pesawat agar mesin pesawat tidak menyentuh daratan. Tak heran, bila pesawat yang juga disebut Baby Boeing ini akhirnya didesain dengan mesin rata pada bagian bawah.

Boeing sebetulnya bisa saja memindahkan mesin ke area yang berbeda dari pesawat (seperti model trijet atau overwing). Tetapi hal itu akan mengubah desain aerodinamis pesawat secara signifikan. Bila hal itu terjadi, artinya, pilot harus berlatih dan juga disertifikasi ulang. Tentu membutuhkan waktu yang tak sebentar dan tentu saja bukan pilihan yang baik di tengah persaingan usaha yang ketat.

Baca juga: Benarkah Boeing Gadaikan Faktor Keselamatan 737 MAX Demi Kas Perusahaan?

Seri klasik Boeing 737 (-300 -400 -500) sendiri adalah seri pertama yang menampilkan mesin CFM56, mashur dikenal dengan desain non-bundar atau ‘hamster pouch’. Seiring berjalannya waktu, saat teknologi tersebut ditemukan (khususnya ketika teknologi bypass ratio diaplikasikan pada Airbus A320) desain mesin rata pada bagian bawahnya kemudian mulai ditinggalkan.

Akan tetapi, entah apa yang ada dibenak Boeing, meskipun saat ini garbarata dan alat pendukung lainnya sudah ada, tak seperti saat pertama kali seri 737 diluncurkan, pabrikan pesawat asal negeri Paman Sam tersebut masih juga mempertahankan desain flat pada bagian bawah mesin. Contoh teranyar mungkin bisa dilihat dari seri varian 737 MAX.

Mengapa Moncong Pesawat Airbus dan Boeing Berbeda? Ini Jawabannya

Airbus dan Boeing adalah kompetitor sejati di sektor manufatur pesawat. Tak pelak keduanya selalu berusaha untuk tidak mengikuti satu sama lain, mulai dari setir pesawat (yoke dan side stick) dan lainnya, termasuk moncong pesawat (hidung pesawat atau nose dome radar). Lantas, apa yang menjadi pertimbangan sebetulnya di masing-masing pihak sampai moncong pesawat buatan keduanya berbeda?

Baca juga: Pesawat Boeing Pakai Winglet dan Pesawat Airbus Pakai Sharklet, Apa Bedanya?

Sebagian besar model pesawat komersial yang diproduksi adalah Boeing 737 dan Airbus A320. Moncong Boeing 737 tajam, runcing, dan panjang. Sedangkan Airbus A320 bermoncong bulat.

Menurut pengguna Quora, perbedaan yang melatarbelakangi perbedaan moncong Boeing, dalam hal ini keluarga Boeing 737, dengan keluarga pesawat Airbus A320 adalah waktu. Turunan dari waktu tentu saja perkembangan teknologi yang juga berbeda.

Dilansir dari berbagai sumber, keluarga Boeing 737 pertama kali masuk ke dalam layanan pada 28 Desember 1967. Kala itu, generasi pertama 737-100 tersebut dioperasikan Lufthansa, disusul oleh United Airlines pada keesokan harinya menggunakan seri yang lebih panjang, 737-200. Adapun seri klasik 737-300 dan -400 pertama kali terbang mulai Februari 1984, diikuti seri klasik berikutnya Boeing 737-500.

Sedangkan Airbus, dalam hal ini keluarga A320 menjalani first flight pada tahun 1987. Terdapat gap cukup jauh dari pertama kali Boeing 737 generasi pertama muncul dengan A320. Tentu saja, waktu selama ini terdapat perkembangan teknologi yang berbeda jauh. Jangkan hitungan tahun, hitungan bulan atau hari saja perkembangan teknologi cukup signifikan.

Singkatnya, pesawat Airbus A320 tercipta saat teknologi permodelan aerodinamis melalui komputer sudah tersedia dengan lebih canggih dibanding saat Boeing 737 generasi pertama datang. Itu mengapa moncong Boeing 737 dan Airbus A320 berbeda.

Bukti bahwa mereka lahir di era teknologi yang berbeda sehingga menghasilkan desain moncong yang berbeda pula adalah kesamaan moncong pesawat Boeing dan Airbu saat ini.

Bila diperhatikan, moncong pesawat Boeing dan Airbus saat ini sudah tidak terlalu berbeda atau bahkan bisa dibilang sama.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Lihat saja moncong pesawat Boeing 767 dan Airbus A330, Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A350. Keduanya sama persis dan identik. Itu karena keduanya didesain di era teknologi yang sama sehingga permodelan aerodimanisnya juga menyarankan desain yang sama.

Meski begitu, terlepas dari permodelan aerodimanis komputer, Airbus dan Boeing bisa saja tetap menonjolkan perbedaan. Buktinya, walau diciptakan di era teknologi yang sama, winglet pada pesawat Boeing dan Airbus tetap terdapat perbedaan.

Apakah Seluruh Pesawat Bisa Mendarat di Bandara Manapun?

Pesawat, dengan sederet teknologi canggihnya, bisa terbang ke seluruh dunia, direct maupun transit untuk mengisi bahan bakar. Namun, apakah seluruh pesawat bisa mendarat di semua bandara mengingat runway atau landasan pacu bandara berbeda-beda, demikian juga dengan bobot dan dimensi pesawat?

Baca juga: Ada Strip Putih di Ujung Runway, Inilah Fungsi dan Artinya

Di dunia, ukuran runway berbeda-beda tergantung kebutuhan. ICAO sendiri sudah mengatur dan mengklasifikasikan runway dalam empat golongan atau kode (code).

Code number 1 panjang landasan pacu kurang dari 800 meter. Code number 2, panjang landasan pacu antara 800 meter sampai 1.200 meter. Code number 3, panjang landasan pacu mulai dari 1.200 meter sampai 1.800 meter.

Code number 4, panjang landasan pacu mulai dari 1.800 meter sampai 1.900 meter. Terakhir, runway dengan kode nomor 6 memiliki panjang landasan pacu mulai dari 1.900 atau lebih hingga 4.200 meter.

Pada umumnya, landasan pacu pesawat komersial memiliki panjang mulai dari 2.438 meter (8.000 kaki) sampai 3.962 meter 913 ribu kaki).

Panjang landasan pacu bandara tentu berkaitan dengan pesawat, dalam hal ini bobot kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas.

Pada pesawat narrowbody, setidaknya dibutuhkan waktu ground run sekitar 30-35 detik untuk lepas landas atau saat roda pesawat mulai meninggalkan runway. Kondisinya bisa berbeda tergantung berat total gabungan dari bahan bakar, kargo, dan penumpang yang dibawa serta beberapa faktor lainnya.

Meski begitu, lebih atau kurang dari 30-35 detik waktu yang dibutuhkan pesawat untuk lepas landas, yang pasti pilot baru berani menarik throttle-up saat pesawat sudah mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau decision speed (V1). Biasanya, V1 pada pesawat narrowbody berkisar antara 120 sampai 140 knot.

Sedangkan untuk pesawat-pesawat widebody, pesawat membutuhkan ground run selama 50 detik untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan, juga antara 120 dan 140 knot, dan kemudian lepas landas.

Dengan ground run tersebut, tentu tak semua pesawat bisa lepas landas dan mendarat di bandara manapun. Pesawat tentu harus menyesuaikan panjang runway untuk bisa mendarat dan lepas landas di suatu bandara.

Baca juga: Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!

Itu baru dari segi kecepatan yang dibutuhkan untuk bisa lepas landas dan sebaliknya melakukan pengereman saat landing. Belum lagi soal ketebalan runway yang turut menentukan bisa tidaknya pesawat mendarat di suatu bandara, termasuk taxiway dan hanggar dan kelengkapan bandara dalam menangani pesawat berbobot besar semisal A380.

Ada juga faktor lainnya termasuk penerbangan malam hari dan cuacau buruk, tak semua pesawat bisa mendarat di semua bandara karena tak semua bandara dilengkapi dengan instrumen pendukung pendaratan malam hari dan cuaca buruk.

Vertical Aerospace Memulai Uji Terbang Prototipe Taksi Udara VX4 eVTOL

Perusahaan Inggris Vertical Aerospace mewartakan telah melakukan uji penerbangan pertama pada prototipe taksi udara VX4 eVTOL skala penuh, yaitu dengan mengambil langkah yang tidak biasa, menempatkan pilot di pesawat. Menurut rencana eVTOL dengan tenaga elektrik ini akan memasuki layanan pada tahun 2025.

Baca juga: AirAsia Bakal Operasikan 100 Taksi Udara eVTOL, Jadi Armada Ride Hailing 

VX4 adalah desain taksi udara dengan kapasitas lima kursi (konfigurasi seorang pilot dan empat penumpang). Wahana ini didorong total oleh delapan baling-baling besar – dua penyangga lima bilah di sepanjang tepi depan masing-masing sayapnya yang besar, dan dua penyangga lipat empat bilah gunting di sepanjang bagian belakang setiap sayap.

Untuk lepas landas dan mendarat vertikal, semua baling-baling mengarah ke atas, tetapi tepi depan penyangga dirancang untuk dimiringkan ke depan dan memberikan dorongan horizontal untuk penerbangan jelajah dengan sayap yang efisien, sementara penyangga belakang akan berhenti dan menyelipkan diri ke dalam konfigurasi tarikan rendah sampai mereka dibutuhkan lagi.

VX4

Vertical Aerospace mengklaim kecepatan tertinggi VX4 mencapai 325 km per jam dan jangkauan jelajah hingga 161 km. Pihak manufaktur mengklaim telah mendapat respons baik dari pasar, hal itu dibuktikan dengan diterimanya 1.400 pre order bersyarat dari berbagai maskapai penerbangan, grup pariwisata, dan operator lainnya.

Vertical Aerospace berencana memproduksi sekitat 1.000 unit VX4 per tahun yang dijual ke layanan sipil di seluruh dunia, sekaligus memperlihatkan betapa agresifnya pesawat listrik baru yang lebih murah dan lebih tenang ini akan mulai membanjiri langit begitu mereka disertifikasi dan diproduksi massal.

Vertical Aerospace menerima pengiriman material prototipe VX4 dari perusahaan spesialis bahan komposit, GKN Aerospace pada bulan Juli, dan mulai merakit dan mengintegrasikan komponen, termasuk powertrain listrik, yang telah dikembangkan oleh Rolls-Royce.

Dengan selesainya uji darat, perusahaan kini telah memasuki fase uji terbang dengan apa yang diyakini sebagai penerbangan perdana desain pesawat Inggris skala penuh baru dalam lebih dari 20 tahun.

Untuk penerbangan perdana VX4, ditugaskan pilot uji Justin Paines di kokpit. Itu adalah langkah simbolis; ini adalah VTOL wheel-up yang sangat singkat, dan VX4 ditambatkan ke tanah untuk keselamatan – mungkin inilah mengapa VA berpikir sebaiknya tidak memberikan foto atau video apa pun dari peristiwa ini. Namun, agar Paines mengambil lompatan singkatnya, perusahaan harus mendapatkan persetujuan peraturan dari Otoritas Penerbangan Sipil Inggris, dan menunjukkan bahwa itu dapat dilakukan dengan aman.

Dari uji coba, perusahaan akan mulai memperluas cakupan penerbangan prototipe, dimulai dengan melayang dan penerbangan gaya drone berkecepatan rendah di ketinggian di bawah 15 meter, kemudian pada akhirnya bergerak melalui transisi ke penerbangan horizontal dengan sayap dan kecepatan yang lebih cepat, pada ketinggian antara 1.500 – 3.000 meter).

Baca juga: Joby Aviation Dapat Izin Terbang Taksi Udara dari FAA, Era Taksi Udara Sudah Dimulai?

Vertical Aerospace menargetkan untuk meraih sertifikasi VX4 pada tahun 2025, menempatkannya sekitar satu tahun di belakang perusahaan seperti Joby Aviation dan Beta Technologies, tetapi masih di antara para pemimpin dalam perlombaan untuk mengkomersialkan taksi udara eVTOL untuk mobilitas perkotaan.

Presiden AS Joe Biden Umumkan Aturan Perjalanan Baru, “Biaya Tersembunyi dan Tidak Perlu” di Tiket Pesawat Akan Dihapus

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengumumkan aturan baru pada hari Senin kemarin, Ia mengharuskan maskapai penerbangan dan situs perjalanan wisata untuk lebih transparan tentang biaya tambahan yang dikenakan kepada pengguna jasa, melawan apa yang disebutnya “biaya tersembunyi yang tidak perlu” dan selama ini telah “membebani anggaran keluarga.”

Baca juga: Bagaimana Harga Tiket Pesawat Ditetapkan Maskapai? Ini 8 Rahasianya

Dikutip dari cnn.com (26/9/2022), di bawah aturan yang diusulkan, maskapai penerbangan dan situs perjalanan “harus mengungkapkan di awal – yaitu pertama kali tiket pesawat ditampilkan – biaya apa pun yang dikenakan untuk duduk bersama anak Anda, untuk mengubah atau membatalkan penerbangan Anda, dan untuk bagasi terdaftar atau jinjing, ” menurut draf rilis berita oleh Departemen Perhubungan AS.

Biden berpendapat bahwa peraturan baru ini akan menyebabkan peningkatan persaingan antar operator. “Kapitalisme tanpa persaingan bukanlah kapitalisme,” katanya.

Biden menyebut, beberapa maskapai memungut biaya untuk keluarga dengan anak-anak untuk duduk bersama. Beberapa operator membebankan biaya perubahan penerbangan kepada pelanggan, bahkan untuk penerbangan yang dibatalkan oleh maskapai itu sendiri.

“Mereka membatalkan Anda, dan Anda harus membayar biaya untuk memesan ulang,” kata Biden. “Itu jelas tidak adil,” seru Biden.

Komentar Biden muncul selama pertemuan dengan White House Competition Council, Biden mengatakan kelompok itu juga sedang mempertimbangkan untuk menurunkan atau menghilangkan biaya cerukan bank dan biaya penghentian operator telepon seluler.

Penumpang berhak mengetahui biaya sebenarnya dari penerbangan mereka sebelum mereka membeli tiket, kata Menteri Perhubungan Pete Buttigieg dalam sebuah pernyataan, Minggu.

“Aturan baru yang diusulkan ini akan mengharuskan maskapai penerbangan untuk transparan dengan pelanggan tentang biaya yang mereka kenakan, yang akan membantu pelancong membuat keputusan yang tepat dan menghemat uang,” katanya.

Airlines for America, kelompok ang mewakili maskapai penerbangan utama AS, mengatakan, “Maskapai penumpang anggota A4A – yang merupakan pesaing sengit – sudah menawarkan transparansi kepada konsumen dari pencarian pertama hingga pendaratan. Maskapai penerbangan AS berkomitmen untuk memberikan kualitas layanan tertinggi, yang mencakup kejelasan mengenai harga, biaya, dan ketentuan tiket.”

Baca juga: Jreeng! Ternyata Airport Tax Diam-diam Naik, Pantas Harga Tiket Pesawat Mahal

Puluhan ribu pembatalan dan penundaan penerbangan musim panas ini mendorong Buttigieg untuk mengarahkan Departemen Perhubungan untuk menerbitkan dasbor online baru untuk memungkinkan penumpang menemukan informasi komparatif tentang apa yang diberikan masing-masing maskapai besar AS kepada penumpang ketika penundaan atau pembatalan disebabkan oleh faktor-faktor dalam kendali maskapai.

Lengkapi Teknologi HEPA, Airshield Tawarkan Proteksi Ekstra Anti Virus dan Bakteri di Kabin Pesawat

Dengan menurunnya angka penyebaran Covid-19, menjadikan beberapa maskapai mulai melonggarkan kewajiban mengenakan masker bagi para penumpangnya. Namun, Covid-19 belum hilang sempurna, untuk itu maskapai mengandalkan teknologi filter HEPA (High Efficiency Particulate Air) di dalam kabin untuk menekan potensi penyebaran virus. Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah HEPA sudah cukup untuk menangkal Covid-19? Sementara jarak tiap penumpang sudah tidak dibatasi lagi.

Baca juga: Canggih! Masker Ini Dilengkapi Filter HEPA dan Sensor Udara, Anti Covid-19 Kah?

Guna memperkuat proteksi HEPA, kini telah diperkenalkan Airshield yang dipasang di lubang AC yang menyentor di atas kursi penumpang, mencegah penularan tetesan (droplet) pernapasan dari baris ke baris dan di antara penumpang yang berdekatan.

Pandemi membuat maskapai penerbangan menggembar-gemborkan manfaat filter udara HEPA dan bagaimana teknologi tersebut dapat menangkap lebih dari 99,9 persen virus dan bakteri. Volume udara kabin dipertukarkan setiap dua hingga tiga menit dengan sistem ini.

Namun, dengan masa pemulihan melihat faktor beban hingga penuh dan mandat masker menurun, maskapai masih ingin menyediakan udara bersih untuk setiap penumpang selama durasi penerbangan.

AirShield yang masih menunggu paten yang dipasang di atas ventilasi udara yang ada, menggunakan kembali udara murni dari filter HEPA pesawat untuk membentuk penghalang udara pelindung di sekitar dan di antara setiap pamflet. Dalam hal ini, Pexco telah memperoleh hak produksi dari Teague untuk mengembangkan produk pada musim semi tahun ini.

Pexco sudah memiliki banyak pengalaman bekerja dengan komponen yang ditemukan di interior pesawat. Pexco telah memainkan peran yang kuat dalam infrastruktur yang menangani udara di dinding samping pesawat. Oleh karena itu, ketika pandemi dimulai, keinginan untuk mencari cara memaksimalkan aliran udara di dalam kabin meningkat.

Presiden Pexco Aerospace Jon Page menjelaskan bahwa perusahaannya mulai mencari cara untuk mengubah aliran udara dari dinding samping. Ketika perusahaan mulai mematenkan beberapa teknologi yang berbeda, mereka mengetahui tentang konsep AirShield yang telah dikembangkan Teague di Everett, Washington. Mereka segera menemukan bahwa beberapa paten tumpang tindih. Selanjutnya, mereka memutuskan untuk bermitra.

Sekarang, Page bangga dengan konsep kuat tentang cara memodifikasi aliran udara di pesawat untuk meningkatkan laju pertukaran udara hingga ke filter udara HEPA. Secara keseluruhan, desain nozel didasarkan pada geometri pisau udara industri. Perusahaan menyoroti bahwa “ujung noselnya memanfaatkan ‘prinsip bernoulli,’ menarik udara kabin di sekitarnya dan menggandakan aliran udara yang dihasilkan.”

Dirancang untuk pesawat berbadan sempit, AirShield dapat dipasang hanya dalam dua menit, karena prosesnya hanya memerlukan pembukaan awal dan pemosisian gasper agar AirShield ditempatkan dengan pemasangan mekanis tunggal dan pemasangan permukaan-ke-permukaan sekunder menggunakan Velcro.

Sebuah survei tahun 2020 yang dilakukan oleh perusahaan menentukan bahwa 86 persen penumpang akan memilih maskapai yang memiliki AirShield daripada yang tidak. Selain itu, 91 persen orang yang disurvei setuju bahwa AirShield membuat mereka merasa seperti operator yang merawat mereka.

Baca juga: Tak Semua Kabin Pesawat Dilengkapi Filter HEPA, Apakah Aman dari Covid-19?

AirShield saat ini bersiap untuk menerima supplemental type certificate (STC) dari Federal Aviation Administration (FAA). Dengan krisis kesehatan yang menyebabkan penumpang memikirkan kembali cara mereka bepergian, maka tidak akan mengejutkan melihat sistem ini di kabin Boeing 737 atau Airbus A320 di seluruh dunia di tahun-tahun mendatang.

Pertanyaan Favorit: Berapa Lama Mesin Pesawat dapat Menyala? Dan Apakah Mesin Pesawat dapat Dihidupkan Saat di Udara?

Banyak pertanyaan yang ada di pikiran penumpang ketika menggunakan jasa penerbangan. Semisal pada penerbangan jarak jauh, tak sedikit penumpang yang bertanya dalam hati, berapa lama mesin pesawat ini bisa terus-menerus menyala? sementara pesawat terbang melintas lautan nan luas. Kemudian jika mesin mati di udara, apakah mesin pesawat dapat dihidupkan kembali oleh pilot?

Baca juga: Bila Ada Masalah pada Mesin Pesawat, Inilah Cara Pilot untuk Mengetahui dengan Cepat

Menjawab pertanyaan di atas, jawabannya yang presisi akan bergantung pada jenis mesin pesawat apa yang digunakan. Mengenai berapa lama mesin pesawat dapat terus hidup? Maka mesin pesawat dapat terus hidup sepanjang mesin tersebut memiliki bahan bakar dan oli untuk melumasinya.

Dalam beberapa kasus, seperti pembom tempur atau pesawat angkut militer, dalam misi tertentu dapat mengudara lebih dari 24 jam terus-menerus. Para kru dan awak kabin biasanya dapat bergiliran tidur bila perlu.

Singkatnya, dengan pasokan bahan bakar terus menerus, dan penambahan oli bila diperlukan pada pengaturan daya rendah atau menengah. Banyak keausan saat lepas landas, biasanya di situlah panas paling banyak dihasilkan. Turbin/mesin jet dapat berjalan terus menerus selama batas suhu tidak terlampaui, selama tersedia cukup minyak pelumas, selama ada bahan bakar, selama waktu pemeriksaan yang ditentukan tidak terlampaui.

Menghidupkan Mesin Pesawat saat di Udara
Jika mesin dimatikan dalam penerbangan, maka mesin dapat dihidupkan kembali asalkan pesawat memiliki kecepatan udara maju yang cukup sehingga mesin dapat dinyalakan kembali. Dalam kasus di pesawat intai maritim bermesin turboprop P3C Orion, dengan empat mesin yang terpasang, maka salah satu mesin dapat dimatikan untuk menghemat bahan bakar pada penerbangan yang panjang. Faktanya, pesawat tersebut dapat dengan baik, meski melaju dengan tiga mesin saja.

Tetapi untuk kasus mesin jet, mesin tidak dapat mati begitu saja, dan kabarnya mematikan mesin jet biasanya bukan merupakan pilihan tepat. Pesawat jet bukanlah layang-layang (atau pesawat ultralight), sayapnya tidak dibuat untuk terbang tanpa tenaga penggerak.

Baca juga: “Tetap Dingin”, Inilah Kondisi Agar Mesin Pesawat Jet Tidak Overheating

Dikutip dari quora.com, mesin pesawat dapat dihidupkan kembali dalam penerbangan dengan salah satu urutan start udara, dimana bilah turbin terus berputar pada rpm yang telah ditentukan dengan mempertahankan kecepatan udara dan kemudian memasukkan bahan bakar dan pengapian; atau dengan urutan penyalaan normal dari keadaan tidak berputar menggunakan APU atau unit penyalaan elektrik untuk menaikkan sudu turbin hingga rpm penyalaan yang diperlukan.

Terbengkalai, Terowongan Kereta Ini Disulap Jadi Kolam Renang

Pernah membayangkan apa yang terjadi pada terowongan kereta bawah tanah (subway) tak terpakai? Pastinya Anda akan mengatakan terowongan itu akan kosong dan menjadi tempat yang menakutkan apalagi bila terowongan itu memiliki kisah seram saat masa jayanya. Di Paris, justru terowongan kereta yang telah di tinggalkan bisa menjadi satu tempat yang asyik dan unik.

grist.org
grist.org

Dilansir dari grist.org, terowongan kereta yang ditinggalkan atau tak terpakai lagi dibuat menjadi sebuah klub malam, dan kolam renang. Salah satunya stasiun kereta bernama Arsenal yang sudah di tinggalkan selama 75 tahun dan akan dibuat menjadi sebuah kolam renang yang elegan.

Kandidat Walikota Paris bernama Nathalie Kosciusko-Morizet saat berkunjung ke stasiun Arsenal mengusulkan untuk menghidupkan kembali stasiun ini dan tujuh stasiun metro lainnya yang dianggap berhantu. Nantinya jika terpilih, selain sebagai walikota perempuan pertama di kota tersebut akan membuat stasiun yang terbengkalai menjadi lebih ramai seperti masa jayanya dulu.

grist.org
grist.org

Tak hanya membuat klub malam ataupun kolam renang, delapan stasiun yang sudah tak terpakai ini akan dibuat restoran, galeri seni, dan hal lainnya agar terowongan kereta ini tak terbengkalai.

Salah seorang blogger di Paris bernama Messy Nessy mengatakan, stasiun-stasiun terbengkalai ini bukan tutup karena berhantu, melainkan kurangnya masyarakat dalam menggunakan transportasi metro atau kereta. Menurutnya, kadang ada beberapa wisatawan yang sama sekali tidak tahu bahwa ada terowongan kereta di Paris.

grist.org
grist.org

Messy menambahakan, selain stasiun Arsenal, ada tujuh stasiun lainnya yang akan dibangun dan dihidupkan kembali untuk menjadi sebuah tempat baru yakni Champ de Mars, Porte Molitor, Haxo, Croix Rouge, Porte des Lilas, Saint Martin, dan Martin Nadaud. Mantan menteri Ekologi Perancis memiliki kenalan arsitek bernama Manal Rachdi dan Nicolas Laisné sudah membutkan sketsa yang bisa menjadi kenyataan jika Kosciusko-Morizet menang.

grist.org
grist.org

Dulunya stasiun Arsenal ini dibanguntahun 1906 di 4th Arrondissement, Paris dan tutup tahun 1936. Setelah tutup stasiun ini digunakan oleh RATP, operator transportasi Paris sebagai tempat pembuangan barang dan alat-alat percobaan.

 

Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram

Ngomong-ngomong soal pilot wanita, jagad media sosial Instagram baru-baru ini menjadi sorotan, pasalnya seorang pilot wanita berparas cantik yang bernama Madeleine Schneider berhasil membukukan satu juta lebih followers di akun Instagram pribadinya.

Baca Juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Madeleine Schneider ini merupakan seorang Ibu dari satu anak yang berasal dari Munich, Jerman. Selain deret angka yang melebihi satu juta di kolom pengikut Instagram-nya, Madeleine juga menjadi perbincangan karena unggahannya.

Merujuk ke kebiasaan pilot, lazim adanya jika mereka kerap berwisata di destinasi penerbangannya – selama mereka memiliki jadwal yang mumpuni. Begitu halnya dengan Madeleine. Satu yang membedakannya dari pilot kebanyakan adalah Madeleine lebih sering menerbangkan jet pribadi milik orang-orang kaya yang ada di seluruh dunia.

Madeleine Schneider. Sumber: istimewa

Dari situlah Madeleine mulai memanfaatkan ‘waktu senggang’ di tengah tugasnya untuk berwisata. Jika sedang off-duty, Madeleine juga kerap mengajak keluarga kecilnya untuk menikmati keindahan alam. Sebut saja Madeleine pernah menjajakan kaki di Malta, Italia, Brasil, Maladewa, hingga Pulau Dewata Bali.

Namun di antara sekian banyak destinasi wisata yang pernah dikunjungi Madeleine, ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Negeri Paman Sam, karena menurutnya, Amerika Serikat memiliki beragam destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Tentu saja apa yang ‘menimpa’ Madeleine kini tidaklah datang begitu saja – diperlukan pengorbanan ekstra untuk mendapatkan hasil yang lebih wah lagi.

Baca Juga: Sambut Hari Perempuan Internasional, Pilot dan Awak Kabin Air India Seluruhnya Adalah Perempuan

Sementara terkait nominal followers-nya yang tidak sedikit, Madeleine mengaku hanya berusaha untuk tetap humble kepada para pengikutnya – kendati masing-masing dari mereka belum pernah bertemu.

“Saya selalu merespons komentar followers dan berusaha untuk membalas setiap DM (Direct Messages) yang masuk,” ujar Madeleine, dikutip dari laman Daily Mail.