Sukseskan Visi 2030, Arab Saudi Bangun Bandara Baru di Riyadh: Tampung 185 Juta Penumpang-Punya 6 Runway

Arab Saudi merilis master plan pembangunan bandara baru di Riyadh sebagai bagian dari Visi 2030. Bandara yang kelak akan bernama King Salman International Airport itu ditargetkan beroperasi pada tahun 2030 dengan menampung 120 juta penumpang dan 185 juta penumpang pada tahun 2050. Karenanya, bandara itu didesain dengan enam runway untuk mengurai traffic.

Baca juga: Arab Saudi Pamer Desain Bandara Baru Mirip Fatamorgana di Tengah Padang Pasir

Dalam presentasi yang dipimpin langsung oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, sebagai Perdana Menteri dan Ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan (CEDA) serta Ketua Dana Investasi Publik (PIF), terungkap bahwa bandara itu akan berdiri di atas lahan seluas 57 kilometer persegi.

Selain itu, bandara juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung di atas lahan seluas 12 kilometer persegi, seperti perumahan dan rekreasi, gerai ritel, dan real estat logistik lainnya.

Bandara Internasional King Salman sejatinya tidak benar-benar bandara baru. Lebih tepatnya bandara tersebut merupakan perluasan dari Bandara Internasional Raja Khalid Riyadh yang pertama kali dibuka pada tahun 1983.

Saat ini, sebelum pandemi Covid-19, bandara tersebut melayani sekitar 27,9 juta setiap tahun. Kapasitasnya yang kecil dianggap tak akan mampu melayani ratusan juta penumpang atau wisatawan yang kelak akan membanjiri Arab Saudi di bawah Visi 2030.

Meski nilai investasinya belum diungkap, tetapi manfaat ekonomi dari hadirnya bandara baru Bandara Internasional King Salman di Riyadh mampu menciptakan 103.000 lapangan kerja. Ini juga mampu melayani 3,5 juta ton kargo pada 2050 mendatang.

“Ini akan menjadi aerotropolis yang berpusat pada perjalanan pelanggan yang mulus, operasi efisien kelas dunia, dan inovasi. Identitas Riyadh dan budaya Saudi akan dipertimbangkan dalam desain bandara untuk memastikan pengalaman perjalanan yang unik bagi pengunjung dan pelancong transit,” bunyi visi master plan bandara baru King Salman International Airport, seperti dikutip dari Statista.

Arab Saudi ingin bertransformasi, dari semula mengandalkan minyak sebagai sumber pendapatan negara menjadi pariwisata. Transformasi besar-besaran itu, oleh Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz atau Kerajaan Arab Saudi, disebut sebagai Visi 2030.

Baca juga: Dikejar Target 100 Juta Wisatawan oleh Kerajaan Arab Saudi, Saudia Putar Otak

‘Visi 2030’ sendiri ialah sebuah rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang menekankan pada diversifikasi ekonomi agar tak hanya mengandalkan minyak bumi yang harganya terus turun.

Dana untuk proyek ini mencapai US$4 miliar (Rp53,33 triliun), yang diperkirakan bisa meningkatkan ekonomi Saudi dan menciptakan 35.000 lapangan pekerjaan baru. Harapan Arab Saudi adalah dapat menarik 100 juta pengunjung sepanjang tahun 2030.

Didera Masalah Perangkat Lunak dan Sabuk Pengaman, Tesla Tarik 81.000 Mobil Listrik di Cina

Tesla Inc. dikabarkan telah menarik hampir 81.000 mobil listrik di Cina, dikarenakan ada masalah perangkat lunak dan masalah pada sabuk pengaman. Pembuat mobil listrik asal Amerika Serikat itu akan menarik 70.434 kendaraan Model S, Model X dan Model 3 yang diimpor, dan 10.127 Model 3 yang dibuat di Cina.

Baca juga: Tesla Beli Jalur Kereta yang Menghubungkan ke Gigafactory di Timur Berlin

Dikutip dari thestar.com.my (28/11/2022), disebutkan bahwa penarikan Model S dan Model X karena memerlukan perbaikan perangkat lunak over-the-air untuk mengatasi cacat pada sistem manajemen baterai mobil, yang dapat menyebabkan hilangnya daya. Sedangkan Tesla Model 3 memiliki perlengkapan sabuk pengaman yang rusak.

Tesla meminta pemilik Model 3 yang terkena dampak untuk mengembalikan mobil mereka untuk pemeriksaan dan pemeliharaan jika diperlukan, sambil mendesak pengemudi untuk “berhati-hati” di jalan.

Ini bukan penarikan pertama untuk Tesla di Cina, meskipun skalanya lebih kecil dari yang sebelumnya. Pada bulan Juni tahun lalu, Tesla harus memperbaiki perangkat lunak pada lebih dari 285.000 mobil, atau sebagian besar kendaraan yang telah dikirim ke sana dalam beberapa tahun terakhir, untuk mengatasi masalah keselamatan yang diidentifikasi oleh regulator di Cina.

China adalah pasar terpenting Tesla setelah AS. Model Y dan Model 3 yang dibuat di pabriknya di pinggiran Shanghai memasok pasar lokal dan juga diekspor ke bagian lain di Asia dan Eropa.

Tesla sedang mengalami masa sulit di Cina, yaitu dengan pengiriman bulan lalu turun menjadi 71.704 dari rekor tertinggi 83.135 pada bulan September 2022, menggarisbawahi pemotongan harga mobil dilakukan untuk meningkatkan permintaan.

Baca juga: Dikeluhkan Pengguna, Tesla Kunci Akses Video Games Saat Mobil Berjalan

Tesla juga mengubah pendekatan pemasarannya di Cina karena persaingan sengit dari saingan domestik seperti BYD Co. dan penjualan yang tidak merata menempatkan rencana pertumbuhannya di pasar mobil listrik terbesar di dunia yang berisiko.

British Airways Kini Jadi Operator Kedua Terbesar Airbus A380

Emirates telah dikenal luas sebagai maskapai terbesar Airbus A380, lantas siapakah yang menempati posisi kedua sebagai maskapai pengguna A380? Menjawab ini harus selalu mengecek kondisi terkini, maklum beberapa maskapai operator A380 telah menjadi korban pandemi, yang berujung mengkandangkan A380, meski beberapa juga telah dan berencana mengaktifkan A380 pasca pandemi.

Baca juga: “A380-1000,” Mimpi Airbus Bawa Seribu Penumpang dalam Sekali Terbang

Dikutip dari headforpoints.com (27/11/2022), British Airways saat ini disebut menjadi operator global terbesar kedua dari A380. Menariknya, British Airways diam-diam merangkak naik peringkat untuk menjadi operator terbesar kedua dari A380, meskipun maskapai plat merah ini hanya memiliki 12 unit A380.

Mengingat jumlah maskapai yang mempensiunkan armada A380 mereka selama pandemi, total penerbangan A380 turun tajam. Dijadwalkan ada 5.271 penerbangan A380 pada bulan November ini, dibandingkan dengan 9.764 pada November 2019.

Namun, dengan meningkatkan tren penerbangan, jumlah atau populasi A380 ikut meningkat, karena maskapai penerbangan membawa A380 mereka kembali beraksi. Penerbangan naik 125 persen pada November 2022 jika dibandingkan pada November 2021. Titik terendah penerbangan A380 ada di Juni 2020, ketika hanya 43 penerbangan A380 yang dilakukan secara global.

Dari 16 operator A380, saat ini diseluruh dunia hanya sembilan maskapai yang masih mengoperasikan A380 pada tahun ini. Emirates dengan 120 unit A380, tentu saja menguasai 70 persen dari semua penerbangan A380.

Sementara British Airways berada di urutan kedua, dengan 450 penerbangan A380 yang dijadwalkan bulan ini. Di belakang British Airways ada Singapore Airlines, Qatar Airways dan Qantas.

Jika Anda ingin terbang dengan A380, maka pilihan terus menyusut. Pasalnya di bulan ini hanya 45 bandara yang akan menerima keberangkatan A380, dibandingkan dengan 62 bandara pada November 2019.

Baca juga: Kenapa Pesawat Airbus A380 Tidak Pernah Mendarat di Indonesia?

Di luar hub operator terbesar (Heathrow, Singapura, Doha, Dubai) bandara dengan layanan A380 terbanyak adalah Bangkok, meskipun Thai Airways memarkir armadanya sendiri yang terdiri dari enam pesawat A380. Rute A380 tersibuk di dunia adalah London Heathrow ke Dubai, dengan Emirates dan British Airways yang menggunakan A380 di rute tersebut.

Mengenal Foreign Object Damage, Insiden yang Rugikan Maskapai Rp185 Triliun Setahun

Pesawat boleh saja dinobatkan jadi moda transportasi paling aman di dunia. Namun, terhadap ancaman, pesawat amat rentan. Tak ayal, dibutuhkan pengawasan ekstra ketat dalam mengadapi segala sesuatu yang membahayakan penerbangan.

Baca juga: Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX

Meski demikian, tetap saja, ada saja serpihan benda asing atau Foreign Object Debris (FOD) yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan akibat benda asing atau Foreign Object Damage (FOD).

Mengutip fodcontrol.com, secara bahasa, FOD adalah konsep keamanan dan quality control dalam penerbangan, kedirgantaraan, manufaktur, gudang, perkapalan, militer, atau industri lainnya dimana puing-puing kecil, benda yang lepas dari tempatnya, satwa liar, benda yang tidak pada tempatnya, dan bahkan manusia sekalipun disebut FOD, yang berpotensi menyebabkan kerusakan alat dan materi produksi, cedera pada karyawan, pengunjung, atau penumpang, serta penundaan produksi.

Bergantung konteksnya, FOD terbagi menjadi dua, yaitu Foreign Object Debris dan Foreign Object Damage.

Foreign Object Debris sendiri, dalam hal ini di dunia penerbangan, seperti dikutip dari Angkasa Pura Airports, adalah objek asing atau material berbahaya di area runway (landasan), apron, dan pesawat yang berpotensi menimbulkan bahaya terhadap keselamatan dan operasi pesawat.

Ilustrasi FOD. Foto: RAF Lakenheath

Dalam konteks penerbangan, Foreign Object Debris bisa berupa apapun, seperti peralatan, suku cadang, hardware, bahan bangunan, kertas, koin, alat tulis, bekas makanan, bebatuan, pasir, burung, abu vulkanik, bahkan manusia. Selama kesemuanya itu tidak berada di tempat yang tepat dan berpotensi mengganggu operasi pesawat, baik ketika di darat maupun di udara, maka itu adalah FOD.

Sebagai contoh, manusia termasuk ke dalam objek FOD ketika ia berada di depan mesin pesawat yang sedang beroperasi. Tentu, itu berbahaya ketika tersedot ke dalam mesin; baik berbahaya untuk penerbangan maupun berbahaya untuk manusia itu sendiri.

Sedangkan Foreign Object Damage adalah kerusakan yang disebabkan oleh Foreign Object Debris atau Puing Benda Asing yang mengganggu kualitas, fungsionalitas, atau nilai ekonomis barang yang diproduksi. FOD pada umumnya bisa menyebabkan berbagai petaka, seperti bilah kipas rusak akibat terhisap ke dalam mesin, ban meletus atau meledak, merusak komponen sensitif, dan lain sebagainya.

Disebutkan sektor penerbangan sipil setidaknya telah mengalami kerugian hingga US$13 miliar atau sekitar Rp185 triliun (kurs 14.400) per tahun akibat FOD, berupa kerusakan pada pesawat, pembatalan penerbangan, dan lain sebagainya.

Baca juga: Letusan Gunung Eyjafjallajökull Jadi Tolok Ukur Penetapan Tingkat Toleransi Abu Vulkanik

Di dunia, ada begitu banyak kasus akibat FOD, salah satunya kasus FOD Boeing 737 MAX. Pada Februari tahun lalu, Boeing menyatakan menemukan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap pada beberapa 737 MAX yang belum dikirim ke pembelinya.

Ketika itu, dalam sebuah catatan dari Wakil Presiden dan Manajer Umum Program 737 dan Pabrik Renton, Washington, Mark Jenks, kepada karyawan, perusahaan berpesan bahwa serpihan benda asing tersebut benar-benar tidak dapat diterima. Sebab, temuan serpihan benda asing dalam tangki bahan bakar itu dinilai terlalu banyak. Oleh karenanya, perusahaan meminta untuk segera menyelesaikan masalah itu dengan se-teliti mungkin.

Untung-Rugi Mesin Pesawat di Sayap dan di Belakang, Mana Lebih Baik?

Di dunia, ada sekitar 39 ribu pesawat sipil yang berkeliaran. Kendati begitu, jenisnya, hanya ada dua, narrowbody (pesawat berbadan sempit) dan widebody (pesawat berbadan lebar). Dari dua jenis itu, umumnya tampil dengan dua, tiga, dan empat mesin, baik itu di sayap maupun di bagian belakang atau ekor. Terkait mesin di sayap atau belakang, sebetulnya mana lebih baik dan apa saja untung ruginya?

Baca juga: Bagaimana Cara Mesin Pesawat Dipasang? Berikut Ulasannya

Keuntungan mesin di sayap

Dilansir Simple Flying, keuntungan mesin pesawat di sayap sedikitnya ada empat. Pertama ialah mengurangi terjadinya tekukan sayap saat di udara. Itu karena mesin membebani struktur sayap dan pada akhirnya menambah bobot dan memcegahnya menekuk.

Kedua, ukuran dan jumlah mesin. Dengan peletakan mesin di bawah sayap, perancang pesawat dapat menggunakan ukuran mesin yang lebih besar (sehingga memiliki tenaga yang lebih besar juga) dibanding dengan peletakan di samping belakang (seperti kasus DC-9).

Boeing T-43 Gator (Foto: wikipedia.org)

Ketiga, kemudahan akses mesin. Hal ini terkait dengan perawatan, perbaikan, dan pengecekan sebelum penerbangan yang biasanya dilakukan oleh kapten penerbangan. Dengan peletakan mesin di bawah sayap, jaraknya dari tanah lebih dekat sehingga lebih mudah diakses, juga lebih dekat ke titik pandang manusia tanpa perlu alat bantu.

Terakhir atau keempat, pemisahan mesin. Dengan peletakan mesin di bawah sayap, jarak antar kedua mesin jauh lebih besar dibanding dengan peletakan di samping badan atau bagian belakang atau ekor pesawat. Hal ini berguna apabila terdapat kerusakan pada mesin, terutama kebakaran, yang mana kerusakan tersebut tidak akan merambat dengan mudah ke mesin yang lainnya.

Kerugian atau kelemahan mesin di sayap

Pertama, pesawat membutuhkan landing gear yang lebih panjang agar mesin tak terlalu dekat bahkan menempel dengan ground. Kedua, karena dekat dengan ground, mesin lebih rentan terhadap Kerusakan Benda Asing (FOD) akibat tanpa sengaja terhisap ke dalam mesin. Ketiga, lebih sulit untuk mengontrol pesawat dalam peristiwa kegagalan mesin: Karena mesin lebih jauh dari Center of Gravity (CG).

Keempat, keberadaan mesin di sayap tentu membuat kabin lebih bising. Kelima, berdampak negatif pada stabilitas longitudinal (pitch) pesawat. Ketika mesin dipasang di bawah sayap, mereka berada di bawah CG pesawat. Itu berarti, saat mesin didorong lebih oleh kru, maka pesawat cenderung menghadap ke atas. Tetapi ini bisa distabilkan dengan horizontal fin yang lebih besar.

Keuntungan mesin di belakang

Secara umum keuntungannya merupakan kerugian dari kelemahan mesin di sayap. Pertama, sayap lebih bersih dan desainer lebih leluasa mendesain sayap. Kedua, pesawat lebih mudah dikontrol saat terjadi kegagalan mesin. Ketiga, pesawat bisa sangat pendek untuk kemudahan operasi lantaran mesin berada di atas. Keempat, kabin lebih senyap atau tidak lebih bising dibanding mesin di sayap.

Keempat, mesin tidak terlalu rentan terhadap Kerusakan Benda Asing (FOD) karena tinggi. Kelima, desain T-tail membuat kontrol elevator lebih efektif: T-tail berarti ekor dan elevator dapat ditempatkan lebih jauh dari CG.

Baca juga: Apakah Kita Berjalan di Sayap, dan Apakah Mungkin Sayap Pesawat Patah saat di Udara?

Kekurangan sayap di belakang

Pertama, rentan terjadinya deep stall. Kedua, diperlukan struktur sayap yang lebih kuat dari tekukan. Ketiga, sistem bahan bakar lebih kompleks lantaran bahan bakar harus dipompa ke bagian belakang pesawat dari biasanya di sayap pesawat.

Keempat, badan pesawat tempat mesin di pasang harus diperkuat. Kelima, mesin mengambil bagian ruang kargo. Keenam, vertical stabilizer (fin) harus diperkuat.

Apakah Jet Pribadi Bisa Terbang Kapan Saja Mereka Mau?

Di bandara, baik itu bandara kecil maupun bandara besar, kedatangan dan keberangkatan pesawat diatur sedemikian rupa di jam-jam tertentu agar tidak terjadi tabrakan. Namun, untuk pesawat jet pribadi, apakah mereka tetap mengikuti hal itu atau bisa terbang kapan saja saat dibutuhkan?

Baca juga: Berapa Harga Sewa Pesawat Jet Pribadi?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita tahu, arus kedatangan dan keberangkatan pesawat di bandara diatur oleh petugas Air Traffic Controller (ATC).

Sebagaimana umum diketahui, sistem menara ATC terbagi ke dalam tiga bagian: Aerodrome Control Service (biasanya berpartner dengan petugas darat untuk memberikan isyarat kepada pesawat untuk take-off atau landing), Approach Control Service (mengatur ketinggian pesawat), dan Area Control Sevice (memberikan clearance kepada pesawat yang sedang menjelajah).

Bagi bandara kecil yang lalu lintas udaranya tidak terlalu padat, tentu menjadi seorang petugas ATC akan terasa sangat membosankan – berbanding terbalik dengan bandara yang memiliki tingkat lalu lintas udara yang padat, pekerjaan ini akan terasa sangat melelahkan.

Selain itu, satu poin yang membuat pekerjaan ini terasa semakin berat adalah prinsip zero mistake – dimana salah informasi sedikit saja, maka kekacauan hingga kecelakaan pesawat bisa saja menanti dalam jangka waktu beberapa menit ke depan.

Alur kerja ATC bisa dibilang tergolong mudah. Bagi pesawat yang hendak mendarat, ia cukup diatur, diberi space, diberi segala informasi yang dibutuhkan, dipandu, serta diberi clearance.

Pun demikian bagi pesawat-pesawat yang hendak lepas landas. Polanya sama. Setelah meninggalkan bandara, pesawat akan terhubung dengan ATC berikutnya sampai ke terhubung ke ATC bandara tujuan untuk diatur, diberi space, diberi segala informasi yang dibutuhkan, serta diberi clearance.

Masing-masing petugas ATC dari yang tiga itu (Aerodrome Control Service, Approach Control Service, dan Area Control Sevice) akan bekerja membantu proses pendaratan dan keberangkatan sesuai dengan porsinya, termasuk keberangkatan dan pendaratan pesawat jet pribadi.

Menurut pengguna Quora, tak seperti penerbangan sipil berjadwal, penerbangan atau pesawat jet pribadi bisa dilakukan kapan pun mereka mau, dengan catatan sudah diberi restu atau clearance oleh ATC.

Begitu juga dengan kemana mereka pergi, berapa lama mereka terbang, dan berapa ketinggian yang ingin dicapai pesawat menuju bandara tujuan, itu harus atas panduan dari ATC.

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pilot Tidak Berkomunikasi dengan ATC? Ini Jawabannya

Meski begitu, tentu saja pesawat jet pribadi harus mengikuti peraturan wilayah yang ada, dalam hal ini andai ada wilayah restricted area, seperti zona militer rahasia, istana presiden, dan lainnya. Tetap ada batasan kemana mereka terbang.

Kuncinya, selama sudah diberikan panduan dan terus berkomunikasi dengan ATC serta mematuhi hukum udara di wilayah tempat pesawat terbang,  pesawat jet pribadi bisa terbang kapan pun mereka mau dan kemana pun.

Keluar dari SkyTeam, China Southern Airlines Selangkah Gabung Aliansi Maskapai Oneworld

Aliansi maskapai penerbangan global, Oneworld dilaporkan sedang berdiskusi dengan maskapai China Southern Airlines untuk keanggotaan baru. Ini menarik mengingat salah satu maskapai terbesar di Cina itu dahulu adalah anggota aliansi maskapai lainnya, SkyTeam.

Baca juga: Untung-Rugi Gabung Aliansi SkyTeam yang Juga Diikuti Garuda Indonesia, Apa Saja?

Baik Oneworld maupun China Southern Airlines sebetulnya tidak pernah mengungkapkan hal ini, tentang bagaimana keduanya berkomunikasi. Tetapi, pada akhirnya, ini tetap bocor ke media melalui sumber anonim.

Bergabungnya China Southern Airlines dengan Oneworld dinilai dapat memberikan akses berharga ke maskapai anggota lainnya ke pasar penerbangan di Cina, yang sebelum Covid-19 menerjang dikenal sebagai pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Sejak meninggalkan aliansi maskapai SkyTeam, China Southern Airlines telah menjalin hubungan dengan sejumlah maskapai global, beberapa di antaranya merupakan anggota Oneworld.

Meski tak disebutkan secara jelas, namun, hubungan China Southern Airlines dengan beberapa maskapai anggota Oneworld dan alinasi Oneworld itu sendiri tak lepas dari pengaruh American Airlines dan Qatar Airways. Keduanya diketahui memiliki saham sebesar lima persen di maskapai yang memiliki hub di Beijing dan Guangzhou itu.

Juru bicara Oneworld mengatakan, “Sehubungan dengan calon anggota lainnya, kapan saja, kami sedang berdialog dengan kandidat potensial tetapi tidak mengomentari secara spesifik sampai diskusi tersebut mencapai tingkat kedewasaan di mana pengumuman publik dapat dilakukan.”

“Dengan pulihnya perjalanan internasional dari pandemi, aliansi menjadi semakin penting dengan menawarkan konektivitas global untuk maskapai penerbangan dan pelanggan mereka,” tambahnya, seperti dikutip dari executivetraveller.com.

Ketika dikonfirmasi atas pernyataan Oneworld, American Airlines dan British Airways yang masuk ke dalam jajarang pendiri aliansi maskapai tersebut, tidak menanggapi. Begitu juga dengan China Southern Airlines.

Selain sebagai pendiri dan memegang andil dalam kepengurusan Oneworld, American Airlines dan British Airways juga diketahui aktif mendorong China Southern Airlines agar bergabung dengan aliansi maskapai. Tak hanya itu, kedua maskapai itu juga meyakinkan anggota lainnya terkait manfaat yang didapat mereka (para anggota) andai China Southern Airlines bergabung dengan mereka.

Akan tetapi, upaya dari American Airlines dan British Airways tak begitu mulus mengingat ada pertentangan dari beberapa anggota, terutama terkait kebijakan Zero Covid yang diterapkan Cina. Kebijakan tersebut secara bisnis membuat maskapai global, termasuk anggota Oneworld, tidak dapat terbang ke Negeri Tirai Bambu itu.

Selama 25 tahun lebih, maskapai di dunia terpolarisasi ke dalam tiga aliansi maskapai; StarAlliance yang paling tua (berdiri pada 14 Februari 1997), Oneworld (1 Februari 1999), dan SkyTeam (22 Juni 2000).

Sebagai aliansi maskapai tertua, StarAlliance saat ini menjadi aliansi maskapai terbesar dengan 26 anggota, diikuti SkyTeam dengan 19 anggota, dan Oneworld 13 anggota.

Kendati hanya memiliki 13 anggota, Oneworld secara kualitas dan manfaat lebih unggul. Dari delapan kategori aliansi maskapai terbaik, Oneworld memenangkan empat di antaranya. Sedangkan empat sisanya menjadi miliki StarAlliance dan SkyTeam.

Baca juga: Pandemi Covid-19 ‘Paksa’ Etihad Gabung Aliansi Maskapai: Dulu Ngotot Bikin Aliansi Maskapai Sendiri!

Empat kategori yang dimenangkan Oneworld sendiri yaitu lounge access, keuntungan lainnya, kelas kursi ekonomi premium, dan kelas bisnis.

Sedangkan empat sisanya, kategori airline & route network dan kursi first class dipegang oleh StarAlliance dan dua lainnya, kategori kursi kelas ekonomi dan bagasi, dipegang oleh SkyTeam.

Tragisnya Boeing 727 Avianca Flight 203, Dibom Kartel Narkoba Kolombia Pimpinan Pablo Escobar

27 November 1989 atau 33 tahun yang lalu, pesawat Boeing 727-200 salah satu maskapai tertua di dunia, Avianca, jatuh di wilayah Soacha, Kolombia, setelah dibom oleh kartel narkoba pimpinan Pablo Escobar. 107 orang atau semua penumpang dan awak tewas, termasuk tiga orang di darat yang tewas akibat tertimpa puing-puing pesawat.

Baca juga: Hari Ini, 48 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel

Dilansir Simple Flying, pesawat Boeing 727-200 dengan nomor registrasi HK-1803 itu di awal sudah melalui proses pengecekan yang ketat sampai dinyatakan laik terbang. Begitu juga dengan seluruh penumpang, semuanya sudah melewati pengecekan ketat petugas sekalipun saat itu prosesnya masih manual dan belum ada body scanner.

Pesawat trijet dengan nomor penerbangan (Flight) 203 rute Bogota-Cali itu akhirnya lepas landas dari Bandara Internasional El Dorado dengan mulus. Pilot-kopilot langsung membawa pesawat climbing untuk mencapai ke ketinggian yang diinginkan.

Disebutkan, dalam tempo hanya lima menit setelah lepas landas, pesawat sudah mencapai ketinggian 13.000 kaki (3.962 meter) di atas permukaan laut. Sampai di sini, pesawat masih aman dan belum ada tanda-tanda bahaya muncul.

Tak lama setelah itu, petaka mulai menghampiri pesawat yang waktu itu berumur 23,5 tahun atau buatan tahun 1966 itu. Bom yang diletakkan di bawah kursi 14F, mulai bereaksi dan akhirnya meledak.

Tak begitu jelas bagaimana bom tersebut bisa masuk ke pesawat dan tidak jelas pula apakah bom tersebut diletakkan oleh seorang penumpang saat dalam penerbangan atau sebelum penerbangan.

Menariknya, ledakan tersebut, berhubung sumber ledakannya berada di sekitar tangki bahan bakar pesawat, sempat dikira akibat kebocoran bahan bakar hingga menimbulkan ledakan.

Yang pasti, usai ledakan tersebut memicu kebakaran besar di bagian tangki bahan bakar pesawat dan sayap. Saat pesawat terbang dalam kondisi terbakar, banyak masyarakat di darat melihatnya dengan jelas sebelum ledakan kedua akhirnya menghancurkan pesawat menjadi berkeping-keping di langit wilayah Soacha, Kolombia.

Baca juga: Flight 139 – Ketika Pesawat Air France Dibajak Pejuang Palestina dan Teroris Jerman, Penumpang Yahudi Dibantai

Kepingan pesawat tersebut pun turut menewaskan tiga orang di darat, ditambah 107 penumpang dan kru menjadi total 110 orang tewas karenanya. Ini menjadi kecelakaan pesawat terburuk kedua di Kolombia kala itu dan sekarang bergeser menjadi di posisi ke-4.

Meski sempat menjadi kontriversi akibat versi yang menyatakan penyebab kecelakaan akibat ledakan di tangki bahan bakar, namun hasil penyelidikan lebih lanjut mengkonfirmasi keterlibatan anak buah Pablo Escobar, Dandeny Muñoz Mosquera dalam ledakan yang dikonfirmasi berasal dari bom tersebut. Ia kemudian dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.

Bobot Pesawat Bisa Berkurang Tanpa Dicat, Tapi Risikonya Bisa Fatal

Dengan maraknya efisiensi yang harus dilakukan maskapai atas armada pesawatnya, menjadi pertanyaan awam, mengapa pesawat harus di cat? bukankah pesawat tanpa cat akan menjadi lebih efisien? Anggapan tersebut berdasarkan pemahaman bahwa cat menyumbang bobot yang cukup besar pada pesawat, yang pada gilirannya peningkatan berat pesawat dapat mengurangi efisiensi bahan bakar. Nah, apakah benar demikian?

Baca juga: Airbus Batalkan Kontrak Rp85 Triliun, Qatar Airways Ngamuk-Bocorkan Video Buruknya Kualitas Cat Pesawat A350 

Adalah fakta bahwa cat memang dapat menambah bobot pada pesawat, seberapa besar, kabarnya lumayan besar. Namun, cat diperlukan untuk pesawat itu sendiri, pasalnya kulit eksterior pesawat modern adalah kombinasi dari logam dan panel komposit. Dan material komposit akan terdegradasi oleh sinar ultraviolet, dan sinar matahari memiliki banyak sinar ultraviolet.

Nah, untuk memberi perlindungan pada materal komposit, pendekatan yang biasa dilakukan adalah mengecat permukaan komposit untuk melindungi kulit pesawat dari sinar UV matahari.

Jika pemilik pesawat memilih untuk tidak mengecat pesawat mereka, maka material aluminium akan membutuhkan semacam perlindungan. Kulit luar aluminium dari suatu bidang harus dilindungi, karena aluminium yang terkena unsur-unsur tersebut mengembangkan lapisan aluminium oksida dari waktu ke waktu, mirip dengan cara besi mengembangkan karat (oksida besi Fe2O3).

Lantaran cat itu berat, oleh karena itu bidang yang tidak dicat akan berbobot kurang dari bidang yang dicat. Kebanyakan orang menganggap cat sebagai film tipis di atas substrat. Berapa berat film tipis seperti itu? Jawabannya banyak.

Lupakan film tipis dan pikirkan tentang cat cair saat masih dalam kaleng. Anda telah mengecat ruang tamu Anda bukan? Ambil kaleng galon cat. Berat bukan? Sekarang ambil dua atau tiga kaleng yang mungkin Anda perlukan untuk pekerjaan cat dua lapis yang telah Anda rencanakan. Sebagian besar beban itu, dikurangi kalengnya, akan digunakan pada pesawat yang punya dimensi kulit cukup luas.

Baca juga: Maskapai dan Produsen Pesawat Rugi Besar, Produsen Cat Pesawat Justru Untung Besar

Cat menambah bobot yang mengejutkan pada pesawat, itulah sebabnya Anda melihat pesawat selama puluhan tahun tanpa banyak cat. Tapi kulit eksterior pesawat modern adalah kombinasi dari logam dan panel komposit, contohnya seperti pada A380 ini:

Jadi Airbus A380 yang tidak dicat akan sangat tidak efisien, karena kulitnya akan rusak. Dan akan terlihat sangat konyol jika hanya mengecat bagian komposit. Jadi jika pesawat memiliki panel bodi komposit, biasanya akan dicat penuh.

Ground Force One, Inilah Bus Lapis Baja Kepresidenan Amerika Serikat

Ground Force One, adalah kode nama tidak resmi untuk bus lapis baja berwarna hitam yang digunakan pada masa kepemimpinan Presiden AS Barack Obama. Bus lapis baja senilai US$1,1 juta ini dibeli oleh Secret Service untuk menjamin keamanan dan keselamatan Orang Nomer Satu di AS tersebut. Ada dua armada yang disiapkan dan merupakan bus yang tidak sembarangan.

Baca juga: George Bush 41, Lokomotif Pemberian Union Pacific Kepada Presiden AS ke-41

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bus ini memiliki berbagai keunggulan yang tak jauh berbeda dengan mobil Kepreseidenan Candillac One. Ground Force One sendiri diperkenalkan pada Agustus 2011 yang awalnya digunakan oleh Barack Obama dalam kampanyenya menjelang Pemilihan Presiden 2012.

Ground Force One (businessinsider.com)

Bus lapis baja hitam tersebut dibeli sebanyak dua buah dari perusahaan Hemphill Brothers Coach yang berbasis di Tennessee. Sebelum dua armada Ground Force One hadir, Secret Service menyewa bus setiap kali presiden membutuhkannya dan memasang lapisan pelindung serta fitur keamanan lain.

Bus ini dilengkapi dengan run flat-tire, eksterior yang dilapis baja, kaca yang diperkuat, sistem pemadam kebakaran, tabung oksigen dan kantung darah untuk presiden. Selain fitur keamanan, bus dilengkapi dengan peralatan kantor lengkap temasuk telepon, radio, televisi dan internet.

Bahkan di dalam bus juga dilengkapi dengan captain seat serta sofa untuk menunjang kenyamanan presiden selama perjalanan darat. Bus tersebut dibuat oleh Prevost, perusahaan karoseri yang berbasis di Kanada.

Tipe bus tersebut yakni X3-45 VIP 3 yang baru dirancang oleh Quebec. Spesifikasianya adalah menggunakan triple axle yang memiliki panjang total 13,7 meter, lebar 2,6 meter dan tinggi 3,65 meter. Untuk mesinnya sendiri, menggunakan Volvo D13 dengan tenaga 500 TK dan torsi 2.372 Nm.

Baca juga: Untung Rugi Narrowbody vs Widebody untuk Pesawat Kepresidenan Indonesia

Pada masa kampanye menjelang Pemilihan Presiden 2012, bus kedua digunakan oleh calon presiden dari Partai Republik Mitt Romney. Yang mana setelah itu, bus kedua digunakan sebagai cadangan untuk tamu yang berkunjung.

Sama seperti “The Beast”, hanya beberapa orang terpilih yang akan pernah duduk di belakang kemudi Ground Force One. Ground Force One memungkinkan presiden diangkut dengan nyaman dan aman melalui serangkaian daerah yang lebih terpencil, seperti selama kampanye bus Obama melalui Ohio dan Pennsylvania pada tahun 2012.