10 Singkatan Rahasia Pramugari yang Wajib Penumpang Ketahui

Pramugari/pramugara kerap menyingkat banyak kata untuk kemudahan komunikasi dan privasi. Tentu saja istilah-istilah tersebut tak semua dimengerti penumpang dan tidak ada salahnya bila penumpang mengetahui itu. Setidaknya ada 10 istilah singkatan yang sering digunakan kru kabin. Dilansir Simple Flying, berikut selengkapnya.

Baca juga: Intip Tempat Istirahat Pramugari di Pesawat, Pantas Kerap ‘Menghilang’ dari Kabin

  1. ABP

ABP adalah singkatan dari able-bodied passenger atau penumpang berbadan proporsional. Awak kabin memang wajib mengidentifikasi penumpang atau menandai mereka untuk dimintai bantuan dalam keadaan darurat dan ABP termasuk ke dalamnya.

  1. PRM

PRM merupakan singkatan dari person of reduced mobility atau penumpang dengan mobilitas terbatas atau dalam kata lain merupakan penumpang disabilitas. Awak kabin harus mengetahui berapa banyak PRM di sebuah penerbangan agar bisa memantau dan membantu mereka semaksimal mungkin.

  1. FA

FA adalah singkatan dari flight attendant. Singkatan ini bisa dibilang bukan rahasia dan sudah masyhur didengar telinga penumpang. Selain singkatannya, posisi flight attendant atau pramugari/pramugara atau awak kabin dalam sebuah penerbangan juga sangat menonjol dan dekat dengan penumpang.

  1. SCCM / CSD

SCCM atau senior cabin crew member dan atau CSD yang merupakan singkatan dari cabin services director adalah pramugari/pramugara paling senior dalam sebuah penerbangan. Istilah SCCM dan CSD sama populernya di penerbangan, tergantung maskapai mengadopsinya.

  1. AVSEC

AVSEC atau aviation security juga bukan istilah asing bagi penumpang. Setiap sebelum boarding, penumpang akan melewati security gate atau gerbang pemeriksaan dan ini dilakukan oleh petugas AVSEC.

  1. AVMED

AVMED merupakan kependekatan dari aviation medicine. Sebelum bertugas di sebuah penerbangan, pramugari/pramugara terlebih dahulu menjalani pelatihan, salah satunya pelatihan aviation medicine atau kedokteran penerbangan.

Dalam AVMED, awak kabin akan mempelajari penyakit yang mungkin dialami penumpang selama penerbangan, mencakup kesehatan penerbangan dan efek terbang pada tubuh, hipoksia dan ritme sirkadian dan tidur.

  1. SEP

Selain AVMED, SEP juga merupakan bagian dari pelatihan awak kabin dan akan dijumpai di setiap penerbangan karena SEP adalah singkatan dari safety and emergency procedures.

  1. CRM

CRM atau crew resource management merupakan salah satu bagian terpenting yang mesti dipelajari pramugari dalam pelatihan. Sebab, tujuan dari adanya pelatihan CRM untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau insiden dengan memaksimalkan komunikasi antar kru.

Baca juga: Terungkap! Pramugari Selalu Bohong Saat Penumpang Tanyakan Hal Ini

  1. DG

DG atau dangerous goods merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi barang-barang yang aman dan tidak yang ada di dalam kabin. DG juga masuk dalam materi pelatihan pramugari, memang bukan materi yang menarik tetapi tak kalah penting dibanding yang lain.

  1. CIDS

CIDS adalah singkatan dari cabin intercommunication data system. Meski jarang mendengar istilah itu, namun seluruh penumpang pasti pernah merasakan fungsi dari CIDS untuk pramugari memberikan informasi saat sebelum lepas landas, selama dalam penerbangan, mendarat, sampai sebelum pintu pesawat dibuka.

Kenapa Kokpit Airbus A380 Usung Konsep Lower Deck yang Justru Jadi ‘Senjata Makan Tuan’? Ini Jawabannya

Kokpit pesawat pada umumnya terletak di bagian (dek) atas pesawat untuk visibilitas yang lebih baik ketimbang berada di bawah. Namun, tidak demikian dengan kokpit pesawat Airbus A380. Alih-alih terletak di dek atas layaknya kompetitor mereka Boeing 747, kokpit pesawat superjumbo itu justru terletak di dek bawah.

Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Terkait hal itu, terdapat alasan mekanis dan desain yang mempengaruhinya. Sebab, bila berkaca pada ketinggian, sebetulnya Airbus A380 tidak lebih tinggi dari Boeing 747 yang memiliki tinggi 8,7 meter dari ground atau tarmac, selisih sedikit dari A380 yang berada di ketinggian 7,2 meter.

Airbus sendiri, dalam beberapa kesempatan terkait A380 tidak pernah menyebut dengan jelas mengapa kokpit A380 berada di lower deck atau dek bawah. Perlu diluruskan, sebetulnya bukan di dek bahwa melainkan berada di antara dek bawah dan dek atas.

Akan tetapi, menurut salah seorang pengguna Quora, penempatan kokpit A380 yang berada di antara dek atas dan dek bawah pesawat lantaran perhitungan para ahli tentang sudut penglihatan pilot dan kopilot ke depan.

Bila kokpit berada di dek atas, penglihatan pilot tidak akan membentuk segitiga yang baik untuk visibilitas. Karenanya, kokpit diletakkan di antara dek atas dan bawah dan ini merupakan gagasan desain dan mekanis yang brilian.

Setali tiga uang, salah seorang pengguna yang bernada positif mengungkapkan, kokpit A380 berada di tengah antara dek bawah dan atas tak lepas dari kelengkapan kokpit A380 itu sendiri yang mewah bak hotel.

Bila pada umumnya pilot tidak memiliki fasilitas khusus berupa kamar pribadi dan toilet privat, atau mungkin di beberapa pesawat pilot memiliki hal tersebut sekalipun harus melalui perjuangan ekstra mengingat lokasinya (kamar atau tempat tidur khusus untuk pilot) berada di atas kabin business class, pada Airbus A380 pilot tak perlu melakukan hal itu (bersusah payah mencapai kamar pribadi). Pasalnya, pilot diberikan fasilitas khusus berupa dua kamar pribadi dan toilet di dalam kokpit. Luar biasa, bukan?

Namun, ada juga pengguna lain yang berpendapat miring. Menurutnya, A380 adalah pesawat yang sejak awal dicetuskan idenya sudah cacat dan usang tetapi cenderung dipaksakan dan pada akhirnya desainnya juga usang. Itu setidaknya tercermin dari penempatan kokpit A380 yang berada di tengah antara dek atas dan bawah.

Disebutkan, itu bukanlah ide desain brilian melainkan desain yang tidak visioner alias hanya berpikir pendek dan tidak melihat peluang serta tantangan ke depan.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Pilot Miliki Kamar Pribadi dan Toilet Privat di dalam Kokpit

Dengan menempatkan kokpit di dek atas, Boeing 747 tetap bisa dimanfaatkan untuk kegunaan lainnya di luar penerbangan penumpang, salah satunya menjadi pesawat kargo. Dengan memodifikasi bagian bawah kokpit menjadi ‘pintu’ kargo, Boeing 747 terbukti menjadi pesawat jet empat mesin tersukses di dunia.

Sampai saat ini, sekalipun tidak diproduksi lagi, pesawat masih aktif digunakan untuk penerbangan kargo, sesuatu yang sulit diikuti oleh A380. Ini pula yang menjadikan A380 sulit untuk dikonversi menjadi varian kargo, selain juga karena konsep double deckernya yang ripuh, mencapai bobot maksimum sebelum seluruh ruangan terisi, dan bobot kosong yang sangat tinggi dibanding Boeing 747-8F.

Putin Umumkan Mobilisasi Parsial, Penerbangan Internasional ke Luar Rusia Ludes Terjual Meski Naik 4 Kali Lipat

Puluhan tiket penerbangan keluar dari Rusia ke beberapa negara tetangga ludes terjual. Ini terjadi tak lama usai Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial tentara cadangan ke Ukraina. Padahal, tak lama setelah Putin memberikan pengumuman itu dan siap untuk mengerahkan senjata nuklir, harga tiket sudah melonjak 4 kali lipat. Namun, itu tak menjadi penghalang warga untuk kabur dari Rusia.

Baca juga: Ketika Jakarta Jadi Pusat Perang Dingin Rusia vs Barat Lewat Penerbangan Internasional

Data FlightRadar24, puluhan penerbangan dari maskapai-maskapai Rusia menyerbu beberapa negara, seperti Turki, Polandia, Armenia, Georgia, Uni Emirat Arab, Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Kirgistan.

Meski tak ada data pasti berapa jumlah penumpang yang diangkut di masing-masing penerbangan keluar dari Rusia, kuat diduga itu terisi penuh.

Utamanya oleh mereka warga negara asing yang menetap atau sedang berada di Rusia maupun oleh warga Rusia di luar wajib militer yang khawatir eskalasi meningkat serta warga Rusia yang termasuk dalam wajib militer namun enggan mengikuti seruan Putin untuk berperang di Ukraina.

Itu mengapa, saat penerbangan keluar dari Rusia begitu massif terjadi, Putin langsung mengeluarkan larangan ke maskapai untuk mengangkut penumpang berusia 18 hingga 65 tahun kecuali mereka dapat memberikan bukti persetujuan untuk bepergian dari Kementerian Pertahanan.

Selain maskapai Rusia, Turkish Airlines juga ketiban berkah peningkatan penerbangan internasional dari Rusia ke luar negeri. Dilansir Simple Flying, maskapai nasional Turki tersebut mengatakan seluruh penerbangan dari Moskow ke Istanbul sudah terjual habis tak tersisa sampai hari Minggu, 25 September mendatang.

Data pencarian di Google Trend juga didominasi Aviasales, online travel agent paling populer di Rusia. Sementara itu, data penerbangan di Google Flight, sulit mencari penerbangan yang tersedia sampai hari Minggu. Sekalipun ada harganya naik sampai 4 (empat) kali lipat.

Penerbangan termurah ke Dubai oleh maskapai Flydubai dibanderol seharga US$ 5.000 atau 300 ribu rubel, sekitar lima kali lipat UMR rata-rata di Rusia. Penerbangan ke Turki naik dimana tiket termurah menjadi 70 ribu rubel dari semula hanya 22 ribu rubel. Selain itu, ada juga penerbangan lainnya sebagai berikut:

Moskow-Yerevan (Armenia): Red Wings adalah satu-satunya penerbangan yang tersedia untuk hari Kamis. Tiket paling murah mencapai US$2.706.

Moskow-Istanbul: Air Arabia dan Azerbaijan Airlines muncul sebagai satu-satunya pilihan dengan transit  di Sharjah dan Baku. Harganya masing-masing US$ 408 dan US$ 1.023.

Baca juga: ‘Dibeking’ Putin, Maskapai Rusia Mulai Buka Penerbangan Internasional Pakai Pesawat Sukhoi

Moskow-Tbilisi: Azerbaijan Airlines adalah satu-satunya maskapai yang tersedia. Harga berada di US$ 937

Moskow-Dubai: Azerbaijan Airlines adalah satu-satunya pilihan yang tersedia, dengan harga berkisar antara US $ 1.194 dan 1.250.

Akibat Galangan Bangkrut, Kapal Pesiar Terbesar di Dunia “Global Dream II” Terpaksa di Scrap Sebelum Sempat Berlayar

Jagad dunia pelayaran dibuat gempar, setelah muncul kabar bahwa kapal pesiar terbesar di dunia, Global Dream II akan di-scrap sebelum pelayaran perdananya. Tentu ini menjadi berita besar, pasalnya pembangunan kapal pesiar tersebut menelan biaya 1,2 miliar poundsterling, di mana kapal itu dipersiapkan untuk mengangkut 9.000 penumpang. Dan sebelum resmi berlayar, nyatanya Global Dream II justru proyeknya dibatalkan dengan bagian-bagian kapalnya akan dilelang.

Baca juga: Jennifer Lopez Jadi Chief Entertainment & Lifestyle di Kapal Pesiar Virgin Voyages

Dikutip dari mirror.co.uk, keputusan untuk scrap bisa saja dibatalkan bila di menit terakhir ditemukan pembeli. Global Dream II adalah kapal besar berukuran 20 dek, punya panjang 342 meter, fasilitas kapal pesiar super mewah ini mencakup taman air luar ruangan yang besar dan bioskop. Tapi ironisnya, kapal raksasa itu sekarang akan diubah menjadi besi tua sebelum pelayaran perdananya.

Global Dream II dibangun oleh perusahaan Jerman-Hong Kong MV Werften dan konstruksinya hampir selesai ketika perusahaan mengajukan kebangkrutan pada awal tahun ini. Kapal itu menelan biaya 1,2 miliar pounsterling untuk pembangunan – yang masih kurang 200 juta poundsterling dari anggarannya – dan telah lama mencari pembeli untuk mencari sisa pendanaan untuk 900 juta poundsterling untuk menyelamatkannya dari opsi di-scrap.

Lantaran Global Dream II gagal meluncur, saat ini posisi kapal pesiar terbesar dipegang oleh Royal Caribbean ‘Wonder of the Seas’ yang dapat memuat 6.988 penumpang.

Sayangnya hingga momen terakhir, pembeli kapal tidak pernah ditemukan dan menurut majalah industri pelayaran Jerman An Bord, kapal itu akan dibongkar dan dijual. Mesin dan beberapa bagiannya akan dijual tetapi lambung bagian bawah akan dilelang untuk dijadikan barang bekas.

Baca juga: Tak Menyerah Akibat Pandemi, Kapal Pesiar di Singapura Tawarkan “Sailing to Nowhere”

Sementara Global Dream II karirnya tamat, sister linernya, kapal Global Dream I, tetap ada di pasaran dan meskipun belum terjual, progran kapal pesiar itu belum akan dihentikan. Besar kemungkinan, kedua Global Dream akan dihapus pada akhir tahun 2023. Namun, ada pengamat yang optimis bahwa kapal mahal itu akan menemukan pembeli pada waktunya.

Kenapa Jendela Tidak Sejajar dengan Kursi di Pesawat untuk Kenyamanan Penumpang?

Salah satu bagian terindah saat menumpangi pesawat terbang adalah melihat pemandangan di luar pesawat. Namun, bagi penumpang yang kurang beruntung, aktivitas menikmati pemandangan belum tentu menyenangkan karena terhalang badan pesawat karena tak duduk tepat di samping jendela. Lantas, mengapa jendela dan kursi pesawat tidak sejajar dan kenapa jumlah kursi pesawat lebih banyak dibanding jumlah jendela?

Baca juga: Keuntungan-Kerugian Duduk di Kursi Dekat Jendela-Tengah-Aisle Pesawat, Mana Lebih Favorit?

Pertanyaan tersebut sebetulnya tidak sulit untuk dijawab. Tetapi tidak juga terlalu sulit sehingga tidak bisa dijawab.

Merunut jauh ke belakang, sebetulnya, dahulu di awal-awal pesawat terbang mulai tumbuh, sekitar awal tahun 40, jendela pesawat bukan hanya dibuat sejejar dengan kursi tetapi jumlah jendela dengan kursi jumlahnya nyaris sama atau bahkan lebih sedikit. Bisa dibilang, setiap row memiliki jendela pribadi untuk keleluasaan melihat pemandangan di luar.

Tak hanya itu, di pesawat Boeing Stratocruiser, misalnya, penumpang juga dimanjakan dengan layanan dari pramugari cantik, kursi sangat empuk, sajian makanan menggunakan piring dan gelas keramik, games, pub, dan tempat duduk semua kelas dapat diubah menjadi tempat tidur.

Naik pesawat  kala itu masih sangat mahal. Tak ayal, penumpangnya mayoritas menggunakan setelah jas nan perlente untuk laki-laki dan wanita menggunakan gaun bak putri. Sebagai gambaran, perjalanan dari New York ke London dipatok seharga US$711. Cukup mahal untuk ukuran saat itu.

Sekitar tahun 1945, Pan Am mempelopori hadirnya kelas ekonomi modern di penerbangan jarak jauh. Konsepnya mirip maskapai LCC, semakin banyak penumpang terbang semakin besar pula keuntungannya, sekalipun maskapai membanderol harga tiket jauh lebih rendah dibanding maskapai lainnya namun layanan tetap mewah layaknya maskapai full service.

Konsep dari Pan Am rupanya disambut baik penumpang yang terus meningkat. Tak ingin ambil pusing dengan biaya tinggi yang timbul, Pan Am pun memangkas jarak antar kursi atau leg room (legroom) demi memuat lebih banyak penumpang di setiap penerbangan menjadi 38 inci, masih tergolong cukup besar untuk ukuran saat ini, sekalipun posisi kursi dan jendela mulai tidak sejajar.

Seiring waktu, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, maskapai terus memangkas jarak antar kursi menjadi 36 inci, terus turun sampai 34 inci, hingga 32 inci pada dekade 90an. Di beberapa kondisi dan maskapai, leg roomnya bahkan berada di kisaran 28-30 inci.

Rentang 32-34 inci pun pada akhirnya terus bertahan sampai saat ini, dan membuat posisi kursi semakin tidak sejajar dengan jendela pesawat, yang juga mengalami penurunan, dari 34 inci menjadi 31 inci pada pesawat modern.

Baca juga: Pengguna TikTok Guyur Kaki Penumpang yang Naik ke Sandaran Kursi Pesawat

Dikutip dari Quora, kursi pesawat memang didesain se-fleksibel mungkin oleh produsen pesawat atas permintaan maskapai. Jendela tentu saja dibuat lebih dahulu dan sudah paten ditetapkan jumlahnya, berbeda dengan jumlah kursi pesawat yang sekali lagi masih sangat fleksibel mengikuti kebutuhan maskapai.

Dengan begitu, kuncinya adalah motif ekonomi oleh maskapai. Itulah mengapa jendela tidak sejajar dengan kursi pesawat. Sebab, itu memang tidak diperuntukkan untuk kenyamanan, melainkan lebih ke motif ekonomi untuk memuat lebih banyak penumpang di setiap penerbangan.

Dokumen Bocor, Turki Ketahuan Tolak Mentah-mentah Latih Pilot Rusia

Posisi Turki terhadap Rusia memang cukup membingungkan. Di satu sisi mendukung Rusia dengan cara tidak turut memberikan sanksi sebagaimana Barat, di sisi lain terdapat sikap-sikap yang terkesan melawan Kremlin. Salah satunya penolakan untuk melatih pilot sipil Rusia.

Baca juga: Lawan Hegemoni Barat, Iran Gandeng Rusia, Cina, dan India Bentuk Konsorsium Perawatan Pesawat

“Maskapai penerbangan Rusia tidak akan lagi dapat mengirim pilot ke Turki untuk pelatihan simulasi penerbangan (FSTD). Dua untuk pengetatan sanksi, pusat pelatihan penerbangan Turki berhenti bekerja dengan operator dari Rusia,” isi surat pusat pelatihan Turkish Airlines ke maskapai-maskapai Rusia.

Dengan demikian, pusat pelatihan Turki Airlines hari ini memberi tahu Rusia, Rusia Airlines Rusia Bahwa, sesuai dengan pengetatan sanksi oleh Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), paksa untuk berhenti bekerja dengan perusahaan dari Rusia, karena semua FSTD disetujui oleh EASA,” tutupnya, seperti dilansir Telegram Channel Aviatorshina.

Penolakan pusat pelatihan Turkis Airlines ke maskapai-maskapai Rusia pun dikonfirmasi salah seorang pilot dari salah satu maskapai Rusia. Ia menyebut bahwa Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) telah menangguhkan semua sertifikasi kualifikasi Perangkat Simulasi Penerbangan (FSTD) untuk kebutuhan Rusia.

Itu sebab, Turkish Airlines pun bersurat dengan maskapai Rusia dan ini di luar keputusan politik Erdogan yang selama ini terkenal dekat dengan Putin.

“EASA telah menangguhkan semua sertifikasi kualifikasi Perangkat Simulasi Penerbangan (FSTD) yang dikeluarkan oleh ESA untuk asal-usul di Rusia,” jelasnya.

Selain pilot, tim mekanik dari Rusia juga dilarang Turki mengikuti pelatihan dan mengambil lisensi all aircraft maintenance. Siapapun yang melakukan itu, termasuk Turkish Airlines, akan dikenai sanksi dari EASA dan mungkin juga FAA. Hal ini tentu saja semakin menyulitkan posisi Rusia dalam kaitannya dengan penerbangan sipil.

Tak lama setelah perang Rusia-Ukraina meletus pada 24 Februari lalu, Airbus dan Boeing mulai menghentikan pasokan suku cadang, menangguhkan perawatan, dan dukungan teknis untuk seluruh armada mereka yang dioperasikan maskapai-maskapai Rusia, sebagai bagian sanksi AS dan Eropa menyikap invasi Rusia ke Ukraina.

Sebanyak 332 pesawat Boeing dan 304 Airbus saat ini terdaftar dalam barisan armada maskapai-maskapai Rusia.

Meski pasokan suku cadang, perawatan, dan dukungan teknis untuk semua pesawat tersebut untuk sementara waktu di-stop Airbus-Boeing, namun, Rusia mampu mengakalinya dengan mengkanibal atau melakukan kanibalisasi pesawat.

Registrasi pesawat yang sebelumnya dianulir oleh negara-negara tempat pesawat didaftarkan juga diakali Rusia dan Putin dengan mengeluarkan kebijakan registrasi ganda.

Baca juga: Demi Singkirkan AS dan Sekutu, Pengiriman Pertama Pesawat MC-21 Rusia Penantang Boeing-Airbus Tertunda Sampai 2025

Menariknya, sampai saat ini Putin belum mengeluarkan peraturan apapun terkait pilot. Pilot diketahui harus melakukan simulation training atau tes kemampuan terbang dua kali dalam setahun. Pilot yang tidak melakukan itu dilarang terbang di Rusia.

Karenanya, dengan adanya penolakan dari Turki untuk melatih pilot Rusia dan belum adanya payung hukum dari Putin terkait hal itu, bukan tak mungkin pesawat-pesawat Rusia akan mangkrak karena tak ada yang menerbanginya.

Ternyata Kebanyakan Pesawat Saat Ini Mendarat Otomatis (Autoland)

Seiring waktu, kesalahan manusia atau human error di sektor dirgantara terus diminimalisir dengan teknologi canggih. Salah satunya teknologi pendaratan otomatis atau autoland (dalam istilah penerbangan dikenal sebagai zero zero). Meski tak ada data resmi, seseorang di situs Quora menyebut, mayoritas pesawat modern yang saat ini beroperasi mendarat dengan teknologi autoland.

Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

Disebutkan, sebagian besar pilot mengandalkan fitur autoland untuk mendaratkan pesawat secara otomatis. Fitur ini melengkapi fitur autopilot yang juga hampir pasti diaktifkan pilot selama pesawat cruising di udara.

Terkait autoland, ada dua tipe pilot. Pertama, ada yang tetap mengantifkan fitur autoland di segala kondisi, utamanya saat cuaca buruk dimana landasan dan bandara tertutup kabut sehingga visibilitas sangat rendah. Pilot hampir tak bisa melihat apapun kecuali kelap-kelip lampu di runway atau Airfield Lighting System (AFL) saja.

Kedua, pilot mengaktifkan fitur autoland hanya dalam kondisi cuaca buruk. Lebih dari itu, mereka memilih mendaratkannya secara manual. Dalam mengambil keputusan ini atau menilai baik-buruknya cuaca, pilot dibantu dengan instrumen PAPI yang biasanya harus menunjukkan indikator no decision high. Jika cuaca benar-benar tidak memungkinkan, pilot biasanya akan berkoordinasi dengan ATC untuk go-around atau bahkan dialihkan ke bandara lain.

Dalam pelaksanannya, fitur autoland wajib diaktifkan dengan syarat tiga autopilot aktif dan semua indikator dalam kokpit berfungsi. Andai ada satu yang tidak, pendaratan tidak bisa dilakukan dengan autoland dan harus dilakukan secara manual oleh pilot.

Setelah mendarat otomatis dengan fitur autoland, pesawat juga memiliki teknologi canggih bernama autobrake untuk membuat pesawat berhenti sebelum mencapai ujung runway. Setelahnya, pesawat akan diambil alih kembali oleh pilot dan mengarahkannya ke apron yang sudah disediakan, dipandu oleh ATC dan AFL.

Fitur autoland tidak serta merta bisa diaktifkan karena teknologi pesawatnya mendukung, melainkan harus mendapat dukungan teknologi pula dari bandara dan sertifikasi autoland CAT III oleh pilot.

Pada penerbangan di autoland CAT III, pilot memeriksa ulang kecepatan dan jalur pesawat ke landasan pacu dan siap untuk mengambil alih dari komputer, jika terjadi kesalahan sistem. Dalam autoland, pilot menjalani sesi pelatihan intensif dalam simulator di darat yang memiliki tampilan grafik yang sangat realistis, kontrol dan gerakan kokpit akurat menyerupai penerbangan sebenarnya.

Di simulator kokpit dipastikan sangat akurat dan dapat diproduksi kondisi cuaca terburuk. Juga tempat terbaik untuk berlatih dalam situasi CAT III hingga mengetahui batas dan kemampuan pesawat.

Baca juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Dalam 737 WestJet mampu menerbangkan pesawat dengan pendekatan CAT III di ketinggian 15 meter. Ketinggian di mana kapten harus dengan cepat memutuskan apakah akan melakukan pendaratan atau membatalkannya.

Ada radar di bagian bawah pesawat yang mengukur jaraknya ke tanah. Banyak pesawat yang dapat terbang dalam pendekatan zero-zero CAT III penuh dengan komputer on-board tambahan dan sistem yang secara otomatis melacak landasan pacu setelah mendarat, melakukan pengereman dan membawa pesawat ke kecepatan yang aman dalam pendaratannya.

Khawatir Arogan, Bahayakah Pilot Militer Pindah Jadi Pilot Komersial?

Umumnya, usia pensiun pilot militer lebih cepat beberapa tahun dibanding usia pensiun pilot sipil. Di Indonesia, misalnya, pilot militer termasuk prajurit, TNI, Polri pensiun di usia 58 tahun. Sedangkan usia pensiun pilot sipil di umur 65 tahun. Karenanya, baik di dunia maupun di Indonesia, tak jarang banyak pilot militer yang transisi menjadi pilot sipil. Lantas bagaimana prosesnya? Apakah berbahaya?

Baca juga: Inilah Asal Mula Kata ‘Roger’ yang Kerap Diucapkan Pilot Sipil dan Militer

Meski belum banyak studi khusus terkait bahaya transisi pilot militer Angkatan Udara ke pilot sipil, namun, dari beberapa insiden kecelakaan pesawat, itu ada kaitannya dengan transisi pilot militer ke pilot sipil atau pilot komersial.

Letak masalahnya bukan pada skill melainkan arogansi dan sebaliknya sikap inferior rekan pilot lainnya. Terlebih pilot militer yang beralih menjadi pilot sipil jabatan terkahirnya adalah perwira tinggi.

Dilansir Simple Flying, transisi pilot militer ke pilot sipil secara regulasi sudah diatur oleh regulator masih-masing negara sekaligus ada panduannya dari Air Line Pilots Association (ALPA).

Dalam panduan tersebut, disebutkan pilot militer yang ingin beralih menjadi pilot sipil harus mencapai Restricted-Airline Pilot Certificate (R-ATP) atau total waktu penerbangan 750 jam dengan waktu lintas negara 200 jam untuk memulai proses. R-ATP ini juga menjadi salah satu syarat peralihan pilot militer ke sipil.

Selain itu, pilot juga harus bisa menjabarkan jobdesk di luar menerbangkan jet selama menajalani tugas di kesatuan.

Di AS, peralihan dari pilot militer ke pilot sipil bisa dibilang lebih mudah dibanding negara lain, salah satunya Inggris. Selain R-ATP tadi, pilot militer di AS hanya perlu mengikuti civilian multi-engine training oleh FAA selama beberapa hari. Bila lolos, pilot hanya perlu meyakinkan maskapai untuk bisa bekerja.

Baca juga: Belajar dari Kecelakaan Korean Air 8509, Perlukah Indonesia Larang Pilot AU Jadi Pilot Sipil?

Lain halnya di Inggris. Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA) tidak memiliki jalur R-ATP seperti di AS. Karenanya, pilot militer di Inggris yang ingin menjadi pilot sipil harus melakukan tes dari awal layaknya pilot wannabe. Harus mendapat lisensi pilot komersial sipil, instrument rating, sampai lisensi CAA. Baru setelah itu tes oleh maskapai dan bisa mulai bekerja sebagai pilot sipil.

Meskipun sebagai ‘anak baru’ di maskapai, pengalaman dan jam terbang pilot sipil bekas pilot militer tak diragukan lagi. Tak butuh waktu lama, pilot biasanya akan diangkat menjadi kapten pilot dan memimpin penerbangan.

Posisi kopilot tentu saja diisi oleh pilot-pilot dengan pengalaman dan jam terbang rendah. Sudahlah jam terbang dan pengalaman berbeda jauh, ditambah dengan struktur sosial yang juga berbeda karena berhadap dengan eks militer. Lebih lagi kalau sang pilot sipil bekas pilot militer mengalami post power syndrome sebagai eks militer dan menduduki jabatan tinggi di akhir tugas.

Hal tersebut sedikit banyaknya berbahaya di beberapa momen. Salah satunya saat kecelakaan pesawat Boeing 747-200F Korean Air Cargo dengan nomor penerbangan 8509 di Bandara London Stansted, Inggris, tak lama setelah lepas landas.

Dari hasil penyelidikan pihak berwenang, ditemukan fakta bahwa kopilot Yoon Ki-sik (33 tahun) total 1.406 jam terbang, yang 195 jam terbang di antaranya di Boeing 747, takut atau enggan mengingatkan kapten pilot Kolonel Purn Park Duk-kyu.

Padahal ketika itu, pesawat oleng setelah lepas landas dan indikator Distance Measuring Equipment (DME) serta Attitude Director Indicator (ADI) milik park malfungsi sedangkan di DME serta ADI kopilot berfungsi.

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pilot Tidak Berkomunikasi dengan ATC? Ini Jawabannya

Tak sampai di situ, flight engineer Park Hoon-kyu (38 tahun) dengan 8.300 jam terbang sudah mengingatkan dengan berteriak, “Bank, bank,” agar memperhatikan manuver pesawat. Tetapi sekali lagi, kapten pilot Park tak menggubris peringatan itu, termasuk juga terhadap compartor alarm di kokpit. Pesawat akhirnya berakhir nahas.

Atas insiden itu, Cabang Investigasi Kecelakaan Udara (AAIB) Inggris mengeluarkan rekomendasi kepada Korean Air agar melarang pilot milliter menjadi pilot sipil dan itu diamini oleh maskapai.

Rail Baltica – Mimpi Negara-negara Baltik untuk Saling Terkoneksi dengan Jaringan Kereta Cepat

Jika ada tidak ada perang di Ukraina, mungkin saja impian negara-negara di kawasan Baltik dan eks Uni Soviet akan terwujud, yakni dengan dibangunnya jaringan kereta cepat Rail Baltica sepanjang 870 km yang akan menghubungkan ibu kota Lithuania, Latvia, dan Estonia dengan Warsawa (ibu kota Polandia) dan seluruh Eropa. Dalam perspektif Uni Eropa, Rail Baltica adalah desain kembalinya negara-negara Baltik ke Eropa dan pemisahan mereka dari era masa Perang Dingin.

Baca juga: Fehmarnbelt, Jadi Terowongan Terdalam dan Terpanjang di Dunia, Hubungkan Jerman dan Denmark

Dikutip dari euronews.com (19/9/2022), pembicaraan tentang proyek kereta api antar-Baltik telah berkembang sejak akhir 1990-an, dengan perjanjian kerja sama ditandatangani oleh menteri transportasi Estonia, Latvia, dan Lituania pada tahun 2001. Namun, baru pada tahun 2010 sebuah memorandum ditandatangani oleh perwakilan dari Kementerian Transportasi Polandia, Lithuania, Latvia, Estonia dan Finlandia.

Untuk saat ini, dibutuhkan waktu tujuh jam untuk berkendara dari ibu kota Lithuania ke Estonia, sedangkan degan jalur kereta baru ini akan mengurangi separuhnya menjadi hanya tiga jam dan 38 menit.

Rail Baltica akan dimulai di Tallinn (Estonia) sebelum melewati Pärnu, Rīga, Panevėžys, dan Kaunas sebelum mencapai perbatasan Lituania-Polandia; juga akan ada koneksi ke Vilnius dari Kaunas. Setelah selesai, kereta akan dapat melakukan perjalanan ke Baltik dari Polandia, dengan kereta penumpang beroperasi pada kecepatan tertinggi 234 km per jam.

Meskipun proyek Rail Baltica tidak murah, yakni dengan perkiraan biaya 5,8 miliar euro, analisis biaya-manfaat proyek memperkirakan proyek tersebut akan menghasilkan hingga 16,2 miliar euro dalam manfaat yang terukur. Biaya proyek untuk negara-negara Baltik diringankan karena pendanaan dari Uni Eropa (UE) hingga 85 persen dari proyek melalui instrumen Connecting Europe Facility (CEF). Sejauh ini, dana CEF UE telah menyumbang 824 juta euro untuk jalur baru.

Skema ini sangat besar sehingga pembangunannya saja diharapkan dapat menciptakan 13.000 pekerjaan penuh waktu langsung dan 24.000 pekerjaan tidak langsung lainnya. Setelah jaringan kereta selesai, jalur tersebut akan membentuk tambahan terbaru untuk Koridor Laut Baltik Utara UE, rute trans-Eropa termasuk kota-kota utama seperti Rotterdam, Berlin, dan Warsawa.

Untuk penumpang, akan ada koneksi reguler dengan setidaknya satu layanan kereta api internasional setiap dua jam, menghasilkan delapan pasang kereta setiap hari di setiap arah. Selain membuat perjalanan penumpang lebih cepat, proyek ini juga akan menurunkan biaya pengiriman dan menawarkan cara pengangkutan kargo massal yang efisien waktu.

Baca juga: Siemens Hengkang dari Rusia, Bakal Berpengaruh pada Layanan dan Perawatan Kereta Api

Dari sejarahnya, kereta di negara-negara Baltik dulunya dihubungkan oleh standar rel Eropa berukuran 1435 mm, tapi sejak pendudukan Soviet, sistem kereta api di kawasan itu mengadopsi standar Rusia yaitu 1524 mm. Perbedaan ini sangat membatasi kemampuan Baltik untuk terhubung dengan Eropa melalui kereta api, karena penumpang atau kargo perlu dimuat ulang ke kereta baru di perbatasan Polandia sebelum melanjutkan perjalanan. Negara-negara Baltik telah sepakat untuk menyelesaikan desinkronisasi dari jaringan listrik Rusia dan menyinkronkan dengan jaringan Eropa pada tahun 2025.

Garuda Indonesia Luncurkan Paket Umrah 4 Hari Rp 24 Jutaan

Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia melalui lini usaha Aerohajj (Anak Usaha Aerowisata) menghadirkan paket perjalanan Umrah spesial “Free & Easy” yang menawarkan paket perjalanan umrah singkat selama 4 (empat) hari. Paket perjalanan tersebut dikemas dalam paket bundling yang menawarkan kemudahan serta perjalanan yang lebih compact, khususnya bagi kalangan eksekutif atau pekerja yang ingin melaksanakan ibadah umrah jelang akhir pekan.

Baca juga: Perluas Jaringan Penerbangan Umrah, Garuda Indonesia Terbang Langsung dari Makassar ke Madinah

Dengan harga mulai Rp24 juta-an, paket perjalanan umrah tersebut mencakup tiket penerbangan Garuda Indonesia rute Jakarta – Jeddah pp, visa umrah, akomodasi full board hotel selama dua malam di hotel bintang 4 (termasuk makan tiga kali sehari), transportasi (taxi) Jeddah – Mekkah pp, air zamzam 5 liter, pembimbing ibadah, hingga asuransi perjalanan.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan, penawaran spesial perjalanan umrah kali ini merupakan wujud komitmen Garuda Indonesia untuk memberikan nilai tambah layanan penerbangan bagi masyarakat, khususnya layanan penerbangan umrah, yaitu melalui paket perjalanan kompetitif dengan beragam fasilitas kebutuhan penunjang yang mengedepankan kenyamanan jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Penawaran spesial ini kami dihadirkan bagi masyarakat yang memiliki preferensi khusus untuk melaksanakan ibadah umrah dalam waktu yang lebih singkat namun tetap mengedepankan aspek kenyamanan dengan beragam fasilitas layanan ibadah umrah yang kompetitif.

Baca juga: Garuda Indonesia Mulai Berangkatkan Jamaah Umrah dari Surabaya Tanpa Transit

Adapun periode perjalanan paket perjalanan umrah ini akan disesuaikan dengan jadwal rute penerbangan Jakarta – Jeddah pp, yang berangkat dari Jakarta setiap hari Kamis pukul 12.10 LT, dan selanjutnya akan bertolak dari Jeddah pada hari Sabtu pukul 19.40 LT dan mendarat kembali di Jakarta pada hari Minggu pukul 09.10 LT.

“Pilihan waktu perjalanan umrah menjelang akhir pekan tersebut turut kami selaraskan dengan karakteristik sebagian besar masyarakat yang memiliki preferensi khusus terhadap jadwal perjalanan serta rentang waktu pelaksanaan ibadah umrah dengan durasi yang lebih singkat, sehingga diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang ingin pergi beribadah ke Tanah Suci di sela aktivitas atau kesibukan yang padat”, tutup Irfan.