Kenapa Boeing ‘PHK Massal’ Robot di Jalur Produksi Boeing 777?

Seiring waktu, peran manusia mulai digantikan robot di banyak pabrik lintas sektor, termasuk pabrik pembuatan pesawat Boeing. Di jalur produksi pesawat anyar Boeing 777, Boeing menempatkan banyak robot. Namun belakangan robot itu kena ‘PHK massal’ oleh Boeing. Apa sebabnya?

Baca juga: Kolaborasikan Tenaga Manusia dan Robot, Boeing 777X Siap Mengudara di 2020

Sejak akhir tahun 2017 silam, Boeing mengambil langkah maju dengan menyertakan robot di beberapa fasilitas produksi pesawat sipil. Perlu dicatat, ini merupakan bagian dari uji coba teknologi otomasi atau otomatisasi di faslitas produksi, bukan suatu ketetapan yang sudah bulat.

Ketika itu, seperti dikutip dari Simple Flying, wakil presiden dan Chief Project Engineer untuk 777X di Boeing Commercial Airplanes, Terry Beezhold, sempat mengatakan bahwa proses produksi yang dikombinasikan dengan sistem robotika  dinilai lebih aman bagi orang-orang yang membangun pesawat tersebut.

Robot terbukti melakukan pekerjaan berulang dengan lebih efisien dan efektif dibanding tenaga terampil manusia. Dalam pembuatan lubang di sayap dan badan pesawat atau fuselage automated upright build (FAUB), misalnya, robot terbukti lebih andal dan presisi dalam melakukan tugas tersebut dibanding manusia yang tidak rata, rapi, dan lainnya dalam melubangi bagian-bagian pesawat.

Akan tetapi, pada tahun 2019, Boeing mengumumkan PHK massal terhadap para robot yang dipekerjakannya. Tak semua robot di PHK melainkan di bagian-bagian tertentu saja. Salah satunya ialah bagian memasang baut pada lubang yang dibuat robot di beberapa bagian pesawat. Sistem ini dinamakan “flex tracks.”

Hal itu karena robot terbukti tidak lebih baik dalam melakukan pekerjaan yang berkenaan dengan ketangkasan, kreativitas, dan ketelitian. Sebaliknya, tenaga terampil manusia mampu melakukan itu (pekerjaan berkaitan dengan ketangkasan, kreativitas, dan ketelitian).

Di jalur produksi Boeing 777 dan Boeing 777X, keberadaan robot di beberapa lini sudah dihilangkan dengan sistem “flex tracks” dan sistem ini terus disempurnakan di fasilitas produksi Boeing 787 Dreamliner.

Baca juga: Boeing ‘Buang’ Teknologi Robotika di Jalur Produksi Varian 777 dan 777X

Sistem “flex tracks” terbukti mengurangi kemungkinan instrumen produksi yang tidak berfungsi lantaran terjadi mismatch antara hasil kerja robot di bagian dengan luar panel badan pesawat. Dengan membagi fungsi antara robot dan pekerja terampil manusia melalui sistem “flex tracks” diharapkan tidak ada lagi penundaan produksi akibat terjadi mismatch.

Meski ditendang dari panel badan pesawat Boeing 777 dan Boeing 777X, peran robot di industri dirgantara, dalam hal ini proses pembuatan pesawat Boeing, masih tidak tergantikan di beberapa bagian, seperti pembuatan sayap sampai mobilisasi berbagai struktur berat di dalam pabrik.

“Stasiun Kereta Api” Paling Mewah di Inggris Dijual, Pemilik Nantinya Bisa Menetap

Ini adalah stasiun kereta api yang tiada duanya, pasalnya hadir lengkap dengan pemandian rolltop dan fitur klasik periode yang menakjubkan. Tapi kabar baiknya adalah pemilik baru Stasiun Studley dan Astwood Bank, dekat Redditch, tidak harus pergi setelah membelinya, karena kedua stasiun itu sekarang menjadi rumah mewah yang dijual seharga £775.000.
Rumah terpisah yang menakjubkan di Green Lane, Studley ini, bahkan memiliki bagian dari peron stasiun kereta asli di taman. Peninggalan yang menyenangkan dari kehidupan sebelumnya, termasuk poster Wild Woodbine Cigarettes antik di dinding eksterior dan tiang lampu kuno di drive. Dan saat ini, agen real Redditch AP Morgan menjual properti melalui Rightmove.
Dikutip dari birminghammail.co.uk (13/11/202), Kedua bangunan eks stasiun ini dibangun pada masa pemerintahan Ratu Victoria pada tahun 1868, lalu diubah menjadi rumah setelah jalur melalui Bank Astwood Worcestershire ditutup pada tahun 1963.
(birminghammail.co.uk)
Alih-alih menjadi kantor dan ruang tunggu, rumah empat kamar tidur sekarang memiliki tiga kamar mandi dan berada di jalan buntu pribadi yang eksklusif di sebelah empat rumah eksekutif.
Seorang juru bicara agen real untuk AP Morgan mengatakan, rumah terpisah itu adalah “properti yang luas dan berkarakter, tepi platform stasiun asli masih terlihat dan dapat ditelusuri melalui panjang taman.”
(birminghammail.co.uk)
Bangunan bekas stasiun ini telah diperbarui dengan penuh simpati ke standar dan gaya modern, namun tetap menjaga fitur asli sambil dengan hati-hati menghadirkan kenyamanan modern, dengan isyarat dekoratif yang mengisyaratkan sejarah unik dari properti ini.
Dekorasi pada bangunan ini mengingatkan kembali ke era Victoria. Ada bak mandi berdiri bebas di kamar mandi, perapian fitur dan langit-langit berkubah. Bangunan bersejarah bekas stasiun ini dilengkapi parkir mobil, taman lanskap yang indah dengan kebun buah-buahan.

Rayakan 150 Juta Penumpang, VietJet Berikan e-voucher untuk Calon Penumpang

Guna merayakan pencapaian 150 juta penumpang, VietJet, maskapai berbiaya murah yang pernah heboh dengan kostum bikini pada awak kabinnya, menawarkan hadiah menarik berupa e-voucher bernilai hingga Rp320.000 (US$20) kepada semua calon penumpang yang akan bepergian menggunakan maskapai asal Vietnam ini.

Baca juga: Penumpang Terpapar Virus dalam Penerbangan, Vietjet Tawarkan Asuransi ‘”Sky Covid Care”

Terhitung sejak hari ini (23 November 2022) hingga akhir 31 Januari 2023, semua wisatawan yang memesan dan membayar tiket penerbangan VietJet setelah mendaftar di evoucher.vietjetair.com akan memperoleh voucher bernilai Rp63.000 (US$4) hingga Rp320.000 (US$20).

Selain itu, wisatawan juga akan menerima e-voucher bernilai Rp32.000 setelah menyelesaikan registrasi melalui tautan tersebut. Semua e-voucher berlaku untuk seluruh rute penerbangan VietJet, termasuk rute Ho Chi Minh City – Bali dan Bali – Hanoi.

Baca juga: Menolak Ajakan Wefie, Petugas VietJet Air Ditendang dan Ditampar

VietJet mengoperasikan dua penerbangan pulang-pergi harian antara Bali dan Ho Chi Minh City dan satu penerbangan pulang-pergi harian antara Bali dan Hanoi.

Terbang Melampaui Batas, Pesawat Pinnacle Airlines Flight 3701 Berakhir Nahas Gegara Ambisi Pilot

Pada tanggal 14 Oktober 2004, ada kejadian tidak biasa di dunia penerbangan. Ketika itu, pesawat Bombardier CRJ200 Pinnacle Airlines Flight 3701 yang beroperasi dengan bendera Northwest Airlink, jatuh di dekat Kota Jefferson, Missouri, Amerika Serikat (AS). Hasil investigasi menunjukkan, pesawat jatuh akibat melampaui batas ketinggian terbang. Ini bisa dibilang kejadian langka.

Baca juga: Coffin Corner: Ketika Stall dan Overspeed Bertemu

Sehari sebelum kejadian, pesawat tersebut sebetulnya sudah beroperasi dengan kru kokpit lainnya untuk tujuan yang sama, penerbangan reposisi dari Little Rock ke Minneapolis. Saat mencoba lepas landas, terjadi kesalahan teknis pada pesawat dan dilakukan rejected takeoff.

Berhubung pesawat dibutuhkan pagi esok hari, Pinnacle Airlines pun mengirimkan tim mekanik untuk menangani pesawat. Di malam hari, tim mekanik berhasil menyelesaikan permasalahan dan pesawat siap terbang sepanjang malam dan tiba pagi hari di Minneapolis di pagi hari, tepat saat dibutuhkan.

Berbeda dari kru kokpit sebelumnya, saat kejadian kru kokpit diawaki oleh Kapten Jesse Rhodes yang berusia 31 tahun dan Kopilot Peter Cesarz berusia 23 tahun. Keduanya merupakan jebolan sekolah penerbangan ternama di Florida, AS, dan pernah bekerja di Gulfstream International Airlines, sebelum akhirnya bergabung dengan Pinnacle Airlines.

Bersama pesawat Bombardier CRJ200, keduanya sudah memiliki ratusan jam terbang. Jadi sudah cukup teruji dan berpengalaman.

Dilansir Simple Flying, pesawat Bombardier CRJ200 Pinnacle Airlines Penerbangan 3710 terbang dari Bandara Little Rock Arkansas pada pukul 21:21 waktu setempat dan rencana terbang di ketinggian 33 ribu kaki (10.058 meter). Tak lama setelah lepas landas, pesawat terus climbing ke ketinggian tersebut. Dalam prosesnya pitch pesawat diketahui beberapa kali mengarah ke atas.

Pukul 21:35, pilot meminta izin menambah ketinggian mencapai 41 ribu kaki (12.496 meter) yang mana itu adalah ketinggian operasi maksimum seri Bombardier CRJ. 19 menit kemudian, pesawat mengalami apa yang disebut sebagai coffin corner dan kedua mesin kehilangan tenaga dan pilot kesulitan me-restart-nya.

Tak lama kemudian pilot menyatakan keadaan darurat dan segera turun untuk mendapat kembali kendali pesawat di ketinggian 34 ribu kaki.

Pilot benar-benar gagal me-restart dan meminta ATC memandu ke bandara terdekat untuk pendaratan darurat. ATC mengarahkan pesawat ke Jefferson City Memorial Airport di Kota Jefferson, Missouri. Sambil terus kehilangan ketinggian, pilot menyadari bahwa mereka tidak akan pernah sampai ke bandara dan mulai mencari jalan untuk mendaratkan pesawat.

Sayang, waktu tidak menyediakan kesempatan lebih. Pesawat akhirnya jatuh dan menewaskan kedua pilot.

Hasil investigasi Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) terungkap fakta bahwa pilot Pinnacle Airlines tergabung dalam klub “410”. Untuk menjadi anggotanya, ia harus membawa Bombardier CRJ200 terbang ke ketinggian 41 ribu kaki.

Fakta lain yang terungkap, dari rekaman percakapan dengan ATC di Olathe, Kansas, di CVR, petugas ATC diketahui telah menanyakan bahwa apakah pesawat yang dibawa pilot merupakan Bombardier CRJ200 dan pilot membenarkan hal itu. Petugas ATC mengaku tak pernah melihat pesawat itu terbang di ketinggian 41 ribu kaki.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Bisa Terbang Lebih Tinggi dari Spesifikasinya? Tiga Faktor ini Jadi Penyebabnya

Akan tetapi, pilot memaksa bahwa ia hanya terbang berdua tanpa penumpang dan hanya ingin bersenang-senang.

Pada 9 Januari 2007, NTSB mengeluarkan kesimpulan investigasi bahwa pilot tidak profesional dan melanggar prosedur. Pilot juga gagal dalam menyiapkan pendaratan darurat. Terakhir, pilot dianggap tidak tepat atas manajemen double engine failure checklist.

Bisakah Mesin Pesawat Jet Dihidupkan Tanpa Peran Awak Kokpit?

Saat melintasi apron di Bandara Soekarno-Hatta, nampal aktivitas sibuk dari para ground crew di sekitaran pesawat. Namun, dari sekian banyak pesawat yang berjejeran, tak satu pun terlihat ada pilot atau awak pada kokpit. Sementara, deru mesin jet terdengar keras dari pesawat-pesawat tersebut. Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah mesin pesawat diaktifkan tanpa adanya pilot atau kopilot di kokpit?
 
 
Dalam konteks pesawat jet modern, makanya jawabannya bisa, yaitu mesin pesawat diaktifkan meski tidak ada awak pada kokpit. Persisnya, mesin pesawat jet dapat dihidupkan oleh teknisi atau personel darat di apron. Ini kadang-kadang diperlukan untuk tujuan perawatan atau jika terjadi kesalahan yang mencegah katup start digerakkan secara elektrik dari kokpit.
 
Dalam hal ini, personel darat menggunakan auxiliary power unit (APU) untuk menyediakan tenaga listrik dan mengeluarkan udara yang diperlukan untuk menghidupkan mesin. Ramp agent memasukkan ratchet ke lubang akses kecil di nacelle mesin di mana lubang kunci dapat diputar untuk membuka katup starter secara mekanis sehingga udara keluar dari APU dapat diumpankan ke mesin. Tenaga listrik yang dibutuhkan disediakan oleh APU.
 
Setelah berhasil ‘dipancing,’ mesin mulai berputar dan mencapai RPM yang tepat. Setelah mencapai kecepatan yang cukup dan bahan bakar ditambahkan dan pengapian terjadi, mesin mulai bekerja secara mandiri. Pada titik ini starter perlu dimatikan dan mesin tidak lagi membutuhkan udara keluar.
 
 
Intinya, sakelar penggantian mekanis di nacelle engine memungkinkan proses startup engine dimulai di aspal tanpa input apa pun dari kokpit. Namun, seperti yang dijelaskan, kondisi tertentu harus dipenuhi, tergantung pada model pesawat, seperti ketersediaan listrik dan daya pneumatik. Sebagai contoh, Boeing 787 hanya membutuhkan daya listrik untuk menghidupkan mesin. Berikut video proses menghidupkan mesin Airbus A321neo yang dilakukan oleh ground crew dengan bantuan APU.
 

Coffin Corner: Ketika Stall dan Overspeed Bertemu

Dalam penerbangan terdapat banyak istilah yang asing di telinga penumpang, khususnya penumpang awam. Salah satunya coffin corner. Lantas, apa itu coffin corner dan bagaimana posisinya di penerbangan?

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pesawat Terbang Terlalu Tinggi?

Sebelum membahas lebih jauh apa itu coffin corner, perlu diketahui bahwa pesawat memiliki batasan ketinggian terbang maksimum (service ceiling). Lantas, apa yang terjadi bila pesawat terbang melebihi ketinggian maksimum yang telah ditetapkan pabrikan pesawat?

Menurut praktisi penerbangan Armchair Expert, George Gonzalez, seperti dikutip dari Quora, pesawat yang terbang terlalu tinggi setidaknya akan terjadi dua hal, yaitu stall dan mesin mati.

Saat dua hal ini terjadi, pesawat bisa saja kembali mendapat kontrol penuh dari pilot dan kopilot. Begitupun juga dengan mesin yang mati, itu bisa saja di-restart dengan catatan pesawat sudah turun dari batas ketinggian maksimum pesawat (servie ceilling) dan pilot-kopilot melakukan langkah-langkah yang tepat dalam me-restart mesin.

Dalam sebuah tulisan yang dilansir flightdeckfriend.com, pesawat komersial umumnya terbang antara 37 ribu kaki sampai 43 ribu kaki di atas permukaan laut. Di atas itu, pesawat akan mengalami apa yang disebut sebagai coffin corner.

Ini (coffin corner) adalah kondisi dimana low speed stall dan high-speed buffet bertemu sehingga membuat pesawat tidak lagi bisa mempertahankan ketinggiannya dan memaksa untuk turun. Saat ini terjadi, pesawat akan kehilangan kontrol karena mesin mati dan udara yang berada di sayap tak mendukung aerodinamika pesawat.

Baca juga: Jatuh dari Pesawat di Ketinggian 30 Ribu Kaki Pasti Tewas? Salah Besar!

Bisa dibilang coffin corner adalah saat dimana pesawat terbang melebihi batas ketinggian maksimum. Sebelum coffin corner terjadi, Maximum Mach Number (MMO) berada sangat dekat dengan stall sehingga pesawat cenderung stagnan alias tak punya pilihan, seperti menambah ketinggian, menurunkan kecepatan, dan menambah kecepatan.

Pilihan satu-satunya ialah menurunkan ketinggian. Sebab, seiring jauhnya jarak pesawat dengan wilayah coffin corner, semakin jauh pula jarak pesawat dengan wilayah stall dan overspeed.

Kemungkinan lainnya saat pesawat terbang melebihi ketinggian maksimum (coffin corner), bukan hanya terjadi stall dan pesawat akan kehilangan ketinggian, tetapi mesin akan meledak dan terbakar sehingga tak bisa di-restart ulang untuk melanjutkan penerbangan.

Lebih lanjut, ketinggian pesawat terbang tidak selalu sama di segala kondisi sesuai dengan ketetapan pabrik. Itu sangat tergantung dengan muatan yang dibawa serta musim. Biasanya ketinggian maksimum pesawat akan lebih rendah saat musim panas. Pesawat disebut tidak lagi mampu mencapai rate of climb setidaknya 300 kaki per menit.

Dari segi perbedaan tekanan kabin, ini akan membuat pesawat mengalami kegagalan struktural. Diektahui, semakin tinggi semakin tipis udara dan tidak cukup oksigen untuk membuat manusia bernapas dengan normal.

Karenanya, udara dingin mencapai 60 derajat di ketinggian 37 ribu – 43 ribu kaki diolah di dalam mesin sehingga lebih hangat dan mencapai ambang normal yang dibutuhkan manusia. Itu kenapa manusia bisa bernapas di ketinggian 37 ribu ke atas saat di dalam pesawat.

Namun, lebih dari itu, mesin mati dan proses suplai udara ke dalam kabin akan terganggu. Ini tentu membahayakan penumpang dan kru. Selain itu, udara di dalam kabin dan udara di luar pesawat mengalami perbedaan jauh di atas normal yaitu mencapai 9 psi. Andai ini terjadi, pesawat akan mengalami kegagalan struktural.

Baca juga: Kenapa Wiper Pesawat Tidak Rusak Diterjang Angin Saat di Ketinggian?

Di dunia, pesawat komersial terbang melebihi ketinggian maksimum pernah terjadi. Dilansir Forbes, pada tahun 2004 silam, pilot-kopilot maskapai Pinnacle Airlines 3701 diketahui tengah menjalani penerbangan reposisi tanpa penumpang.

Di tengah perjalanan, mereka meminta untuk diizinkan terbang di ketinggian 41 ribu kaki yang mana itu adalah batas ketinggian maksimum pesawat. Pesawat akhirnya mengalami kegagalan mesin dan keduanya tidak mampu me-restart-nya sehingga berakhir nahas.

Serupa tapi Tak Sama, Kenapa Mesin Turbofan Berbeda dengan Mesin Turboprop?

Di dunia, saat ini pesawat komersial menggunakan dua jenis mesin; mesin turbofan dan turboprop. Secara prinsip kerja, termodinamika turbofan dan turboprop bias dibilang identik. Tetapi dalam fungsi dan penerapannya, mesin turbofan dan turboprop berbeda.

Baca juga: Inilah Tiga Sumber Kebisingan Pesawat dan Cara Industri Meredamnya

Mesin turbofan atau biasa dikenal juga sebagai mesin jet pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Dilansir highskyflying.com, seperti karburator motor, cara kerja mesin turbofan juga menggunakan udara. Bedanya ada proses pengompresan, mulai dari menghisap udara, menekan, ledakan, dan menghembuskan.

Langkah pertama adalah menghisap. Kipas di bagian depan mesin jet akan menghisap udara dan 80 persen dari udara akan melewati mesin dan meniupkan udara keluar dari belakang. Tanpa adanya kipas, udara langsung masuk ke ruang bakar dan ditembakkan dari bagian belakang mesin untuk menghasilkan tenaga yang sangat besar. Tapi konsekuensinya adalah boros bahan bakar.

Karenanya, pada mesin jet atau turbofan modern yang saat ini ada menggunakan kipas dan teknologi pembakaran yang lebih panjang. Udara yang dihisap kipas (fan) di bagian depan mesin tidak langsung masuk ke ruang bakar, melainkan mengalir ke sekitar ruang bakar dan sebagiannya masuk ke ruang bakar.

Sebelumnya, terlebih dahulu udara disaring kompresor bertekanan rendah dan tinggi, shaft bertekanan rendah dan tinggi, dan turbin bertekanan rendah dan tinggi. Prinsipnya adalah semakin lambat udara yang masuk ke mesin semakin bagus dan lebih efisien.

Selain itu, semakin banyak udara yang masuk semakin bagus dan itulah yang sedang dikembangkan oleh NASA. Tingkat ekstraksi daya mesin turbofan yang dikembangkan NASA disebut lebih cepat hingga empat kali lipat dari tingkat ekstraksi daya mesin pesawat tercanggih saat ini. Selain cepat, mesin juga efisien.

Cara terbaik untuk melakukan ini, kata NASA, dengan meningkatkan rasio bypass, yaitu membuat kipas di depan mesin lebih besar untuk memungkinkan peningkatan aliran udara, tetapi pada saat yang sama mengurangi ukuran inti mesin untuk mengurangi konsumsi.

Mesin turboprop sebetulnya masih dalam kategori mesin turbin, yang di dalamnya termasuk mesin turbofan. Itu sebab turboprop dan turbofan disebut serupa tapi tak sama.

Meski begitu, mesin turboprop memiliki perbedaan yang sangat prinsip. Pada mesin turboprop terdapat baling-baling sedangkan pada mesin turbofan tidak terdapat baling-baling. Biasanya mesin turboprop dipakai pada pesawat dengan kecepatan subsonik rendah.

Komponen utama pada mesin turboprop adalah intake, kompresor, ruang bakar, turbin, and nozzle. Cara kerja mesin ini pada awalnya udara masuk dari atmosfer ke dalam intake.

Kemudian tekanan udara tersebut dinaikkan dengan menggunakan kompresor. Tujuan peningkatan tekanan adalah untuk meningkatkan efisiensi pembakaran sebab pada saat pesawat udara beroperasi yaitu terbang di ketinggian maka temperatur udaranya sangat rendah sehingga sangat sulit untuk dilakukan pembakaran.

Baca juga: [Video] Pekerja Bandara Tewas Seketika Usai Terkena Baling-baling Pesawat Antonov An-24 yang Tengah Berputar

Selanjutnya udara bertekanan tinggi diumpankan ke ruang bakar dan dicampur dengan bahan bakar kemudian dilakukan pembakaran.

Gas panas hasil pembakaran diumpankan ke turbin. Turbin berfungsi merubah energi panas (thermal) menjadi energi mekanik. Selain memutar kompresor, turbin juga memutar baling-baling melalui roda gigi reduksi hingga akhirnya gas sisa pembakaran dibuang ke atmosfer melalui nozzle.

Berapa Persentase Oksigen dalam Kabin Pesawat yang Buat Penumpang Bernapas dengan Nyaman?

Bernapas di bandara dan di kabin pesawat tidak ada perbedaan. Padahal keduanya berbeda, dimana bandara areanya cukup luas sedangkan di kabin pesawat sangat sempit. Tentu saja itu berkat kadar oksigen di kedua tempat tersebut yang tak jauh berbeda. Lantas, berapa persentase oksigen di kedua tempat tersebut, khususnya di kabin pesawat?

Baca juga: Bagaimana Bisa Oksigen Tersedia di Kabin Pesawat Saat di Ketinggian 30 Ribu Kaki Lebih?

Manusia bisa bernapas karena kandungan 20.97 persen oksigen di udara. Semakin tinggi dari permukaan laut, kadar oksigen semakin tipis. Namun, manusia bisa tetap bernapas dengan tenang dan nyaman dengan kadar oksigen hanya 15 persen di udara.

Menurut para ahli, manusia maksimal bisa bernapas dengan tenang dan nyaman di ketinggian 20 ribu kaki tanpa bantuan masker oksigen. Lebih dari itu, sudah pasti manusia akan pingsan karena kekurangan oksigen.

Andai seseorang memaksakan diri bernapas di ketinggian lebih dari 20 ribu kaki, terlebih sampai di ketinggian antara 30 ribu dan 40 ribu kaki, tanpa masker oksigen, tekanan sangat rendah untuk mendorong molekul oksigen melintasi membran di paru-paru dan pada akhirnya sel dan jaringan yang ada di seluruh bagian tubuh tidak dapat berfungsi dengan normal.

Baca juga: Perlu Anda Tahu! Masker Darurat di Kabin Hanya Pasok Oksigen Selama 15 Menit

Bilamana manusia memaksakan diri menghirup oksigen 100 persen di ketinggian lebih dari 40 ribu kaki tanpa masker oksigen, maka ia akan mati seketika.

Pesawat, meski berada di ketinggian antara 30 ribu sampai 40 ribu kaki, tingkat ketersediaan oksigen di kabin masih cukup untuk manusia bernapas normal sekalipun cukup tipis setara dengan oksigen di ketinggian 6.000 – 8.000 kaki. Lantas, berapa persentase oksigen di dalam kabin saat pesawat mengudara?

Menurut salah seorang pilot maskapai, Randy Duncan, seperti dikutip di Quora, kadar atau persentase oksigen di dalam kabin pesawat sekitar 21 persen. Ini sejalan dengan pendapat ahli terkait kadar oksigen normal untuk manusia bernapas, sebagaimana disebutkan di awal, yaitu mencapai 20,97 persen.

Kadar oksigen ini secara konsisten dihasilkan dari udara yang masuk ke mesin pesawat dan melewati serangkaian proses menjadikannya lebih hangat dan mudah dihirup penumpang. Sebagai informasi, udara di ketinggian 30-40 ribu kaki memang sangat dingin mencapai 68-76 derajat celcius, karenanya udara di ketinggian tersebut diproses agar lebih hangat dan tidak kering.

Baca juga: Kadang Terasa Sangat Dingin Kadang Tidak, Berapa Suhu Rata-rata di Dalam Pesawat?

Setelah udara lebih hangat, barulah oksigen dialirkan masuk ke dalam kabin pesawat dan membuat manusia bisa menghirup oksigen tanpa bantuan masker oksigen. Itulah alasan kenapa manusia bisa bernapas di pesawat saat pesawat berada di ketinggian lebih dari 20 ribu kaki.

Saat sistem pemrosesan oksigen di pesawat rusak, maka, penumpang harus menggunakan masker oksigen dan pilot akan menurunkan ketinggian sampai ke 10 ribu kaki, memungkinkan penumpang bernapas sebelum ketersediaan oksigen di masker oksigen habis dalam 15 menit.

Stasiun Komuter di Tokyo Dilengkapi “Ekimatopeia”, Solusi Navigasi Bagi Penumpang Tunarungu

Sudah lumrah bila ada beragam fasilitas yang menunjang kebutuhan penyandang disabilitas di stasiun kereta. Namun ada yang unik di Stasiun Ueno yang berada di Tokyo, Jepang. Stasiun Ueno memiliki tanda-tanda (sign) yang menunjukkan suara sekitar sebagai onomatopoeia bagi penumpang tunarungu.

Baca juga: Penumpang Tunarungu Gunakan Masker Bertuliskan “Just Deaf, Not Rude”, Terluka Karena Dibilang Tuli

Dikenal sebagai tempat yang sangat sibuk dan padat, stasiun kereta di Jepang bisa menjadi tempat kacau yang penuh dengan suara mesin, lonceng yang bergema, dan arus pengumuman yang terus-menerus. Di kota metropolitan Tokyo, sebuah perjalanan dapat menjadi hal yang menakutkan bagi banyak penyandang disabilitas yang berada di komunitas tunarungu.

Dikutip dari japantoday.com, guna membuat hidup mereka lebih mudah, raksasa IT Fujitsu telah menciptakan Ekimatopeia.

Ekimatopeia terdiri dari tampilan layar besar yang dipasang di platform naik stasiun kereta di mana suara onomatopoeic gaya manga ditampilkan. Suara-suara ini sebenarnya mewakili apa yang diambil oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui mikrofon dan ditafsirkan secara real-time.

Jadi, jika kereta mendekati peron, suara gachan-gachan-gachan yang berdentang akan terdengar di layar. Jika kereta melambat hingga berhenti, jika sebuah kereta ekspres melaju kencang, atau bahkan jika alarm atau klakson berbunyi, semuanya akan divisualisasikan dengan kata-kata di layar. Lebih detail, jika kereta yang bagus lewat, layar akan menampilkan “hyuuuuuuuuu” yang menyenangkan dan yang sedikit lebih kasar dengan “byuuuuun” yang dimodifikasi.

Selain itu, pengumuman oleh staf stasiun ditentukan di layar dan dalam kasus pesan yang direkam sebelumnya, juru bahasa isyarat juga ditampilkan. Nama “Ekimatopeia” berasal dari kata Jepang untuk stasiun, eki, dan beberapa suku kata dari kata bahasa Inggris “onomatopoeia.”

Fujitsu mendapatkan ini dari siswa di sekolah tunarungu yang bercerita tentang bagaimana perasaan mereka saat berangkat ke sekolah dengan kereta api komuter. Beberapa mengatakan bahwa mereka takut karena mereka tidak selalu memperhatikan kereta saat mendekat dan bahwa menavigasi stasiun yang terkadang sangat kompleks akan lebih mudah dengan beberapa panduan dalam bahasa isyarat.

Pemimpin proyek Tatsuya Honda mengatakan bahwa ketika datang dengan Ekimatopeia, mereka ingin membuat sesuatu yang tidak hanya mengatasi masalah ini tetapi juga menyenangkan bagi orang-orang dengan semua jenis pendengaran.

Baca juga: Stasiun Matraman, Inilah Stasiun KRL Terbaru dengan Fasilitas Lengkap untuk Difabel

Saat ini, Ekimatopeia hanya dipasang di peron Keihin-Tohoku Line/Yamanote Line Stasiun JR Ueno di Tokyo, namun Honda berharap solusi ini dapat diadopsi lebih luas, bahkan mungkin sebagai versi “Soramatopeia” untuk digunakan di bandara.

Hari Ini, 19 Tahun Lalu, Pesawat Airbus A300-B4 DHL Dirudal Simpatisan Saddam Hussein di Baghdad

Pada hari ini, 19 tahun lalu, bertepatan dengan 22 November 2003, pesawat kargo Airbus A300B4-200F milik raksasa kargo asal Jerman, DHL, dirudal oleh simpatisan pemimpin Irak, Saddam Hussein, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Baghdad. Akibatnya, pesawat terbakar pada bagian mesin dan terpaksa mendarat darurat. Beruntung, tak ada korban jiwa akibat insiden ini.

Baca juga: Hari Ini, 24 Tahun Lalu, Lion Air Flight 602 Jatuh Dirudal Tak Lama Setelah Kerusuhan 98

Pesawat kargo Airbus A300B4-200F yang dioperasikan oleh European Air Transport Leipzig diketahui berangkat dari Bandara Internasional Baghdad pada pukul 09:30 pagi waktu setempat.

Sebelumnya, bandara tersebut dikenal sebagai Bandara Internasional Saddam, didasari pada nama Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein. Sejak April 2003, itu diganti usai Amerika Serikat (AS) menduduki Irak menjadi Bandara Internasional Baghdad.

Dari Baghdad, pesawat menuju Bandara International Bahrain yang menjadi hub DHL International Aviation Middle East saat itu. Dari data GCMap.com, Baghdad dan Bahrain berjarak sekitar 991 km.

Pesawat diawaki oleh kapten pilot dan kopilot asal Belgia dan satu flight engineer asal Skotlandia dengan jam terbang 13.400. Di Airbus A300, kapten pilot memiliki pengalaman 3.300 jam terbang. Sedangkan kopilot baru mencapai setengahnya dengan 1.275 jam terbang.

Sejak perang dengan AS meletus pada awal tahun 2000, situasi di Irak mencekam. Karenanya, kru pesawat yang lepas landas dari Bandara Baghdad akan cepat-cepat climbing ke ketinggian jelajah untuk menghindari serangan rudal; termasuk pesawat A300 DHL.

Namun, apa boleh buat, sebelum mencapai ketinggian jelajah atau saat masih berada di jarak tembak rudal (sekitar ketinggian 8.000 kaki), milisi pro Saddam Hussein yang tergabung dalam Fedayeen Saddam group menembakkan rudal darat-ke-udara 9K34 Strela-3 dan berhasil mengenai pesawat.

Rudal mengenai sayap bagian kiri, membuat mesin terbakar, wingtip hancur, menghancurkan permukaan trailing-edge pada sayap yang berfungsi untuk membantu pengereman, tidak berfungsinya hydraulic pressure di A300 flight control system, dan pada akhirnya memaksa pesawat mendarat darurat.

Kehilangan sistem hidrolik membuat pesawat sulit dikontrol. Tanpa flight control surfaces dalam kondisi genting seperti itu, kru kokpit harus memkasimalkan penggunaan mesin sebelah kanan untuk proses pendaratan. Sebagai upaya untuk menurunkan kecepatan pesawat, landing gear dikeluarkan segera.

Kru kokpit butuh sekitar 10 menit untuk menyesuaikan diri dengan cara baru mengontrol pesawat untuk pendaratan tanpa menggunakan apapun kecuali engine power.

Baca juga: Bukan Hanya Cathay Pacific, Ini Deretan Pesawat Sipil yang Nyaris Kena Rudal

Proses pendaratan dilakukan dengan sangat hati-hati lantaran kebocoran bahan bakar seiring hancurnya sayap kiri. Pesawat akhirnya mendarat sempurna di runway 33R yang memiliki panjang 4.000 meter tanpa ada korban jiwa maupun luka dengan menggunakan special spiral landing technique untuk menghindari serangan.

Setelah serangan tersebut, DHL menangguhkan semua penerbangan ke Irak. Demikian juga dengan maskapai Yordania Royal Wings yang ketika itu melayani satu-satunya penerbangan komersial dari dan ke Baghdad.