Viral Video Koper Di-“Smackdown” di Bandara Melbourne, Picu Kemarahan Online, Qantas Kena Imbas

Citra Qantas Airlines dalam beberapa hari ini telah tercoreng, meski bukan dilakukan oleh internal Qantas, namun, ulah tenaga alih daya (outsourcing) penanganan bagasi di Bandara Internasional Melbourne, benar-benar mengundang keprihatinan publik, bagaimana petugas penanganan bagasi dalam rekaman video pendek terbukti melakukan tindakan ‘brutal’ pada koper-koper penumpang.

Baca juga: Inilah Perjalanan Penanganan Bagasi, Saat Tiba di Konter Check In Sampai ke Tangan Penumpang Lagi

Buntut dari kejadian tersebut, Qantas telah melakukan penyelidikan untuk merespon video yang kadung viral. Dikutip dari Simplefliying.com (4/12/2022), tiga petugas penanganan bagasi di bandara Melbourne yang ‘tertangkap’ di video melempar dan membanting tas telah mengundurkan diri, setelah rekaman tindakan mereka menjadi viral.

Untuk penanganan bagasi, Qantas selama ini mempekerjakan tenaga outsourcing yang dikelola oleh Swissport.

Video yang diunggah oleh pengguna Tiktok Rexross79 menunjukkan tiga petugas penangan bagasi di Bandara Melbourne, melemparkan tas dan koper dengan ceroboh, dan pada satu momen seorang petugas dengan sengaja membanting koper ke conveyor belt (ban berjalan) sebelum menertawakannya dengan rekannya.

Status ketiga petugas penangan dalam video tersebut segera ditangguhkan, dan Qantas menyatakan bahwa tidak akan mempekerjakan mereka lagi . CEO Swissport Brad Moore mengatakan kepada media, “Perilaku yang tidak sopan kepada bagasi pelanggan kami dan efek pribadi tidak akan ditoleransi dan akan ada tindakan disipliner yang serius. Yakinlah masalah ini akan diselidiki dengan urgensi yang tepat. Perilaku yang tidak dapat diterima dari beberapa individu tidak akan menodai pekerjaan berkualitas seluruh tim kami. ”

Baca juga: Mau Bawaan Anda Tiba Lebih Cepat di Ban Berjalan? Ini Kata Petugas Penanganan Bagasi

Insiden itu terjadi menjelang liburan musim panas yang sibuk di Australia telah memicu kemarahan secara online. Qantas telah menghadapi banyak masalah tahun ini karena hilangnya bagasi dan pembatalan penerbangan, dan insiden ini ibarat menyiram bensin ke dalam api.

Ingin Berkendara di Luar Negeri, Ada Dua SIM Yang Bisa Anda Gunakan, Apa Saja Ya?

Sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pengendara, SIM (Surat Izin Mengemudi) ternyata tidak hanya bisa digunakan di dalam negeri, melainkan di luar negeri pun bisa menggunakan SIM yang sama. Ini merupakan salah satu dampak positif dari hubungan multilateral yang dijalin Indonesia dengan beberapa negara lain yang masuk ke teritori Asia Tenggara dan Australia.

Baca Juga: Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam Negeri

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, satu poin yang patut digaris bawahi adalah peraturan pemberian izin mengemudi yang ditentukan masing-masing negara ASEAN berbeda. Ambil contoh Malaysia, meskipun SIM Indonesia berlaku di Malaysia, Anda tetap diwajibkan untuk membawa SIM Internasional sebagai bukti bahwa Anda memang layak untuk mengemudi. Lain cerita jika Anda tinggal di Malaysia lebih dari 3 bulan, maka Anda diwajibkan untuk mengubah SIM Indonesia Anda ke SIM Malaysia.

Berbeda dengan peraturan yang berlaku di Singapura. Anda bebas berkendara di Negeri Singa menggunakan SIM Indonesia selama 12 bulan, terhitung sejak kedatangan Anda di Singapura. Lebih dari itu, Anda tetap harus mengubah SIM Indonesia ke SIM Singapura.

Secara regional, berlakunya SIM Indonesia di negara-negara Anggota ASEAN berdasarkan hasil kesepakatan seluruh anggota ASEAN pada tahun 1985 silam. Pada waktu itu, negara ASEAN seperti Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja belum ikut serta dalam kesepakatan tersebut. Barulah pada tahun 1995 Vietnam bergabung dan disusul Laos, Myanmar pada tahun 1997, dan Kamboja pada 1999. Sejak saat itu, SIM Nasional Indonesia berlaku di seluruh ASEAN.

Selain di ASEAN, sebenarnya SIM Nasional Indonesia kita juga bisa digunakan di negara-negara lain. Ketika Anda berkunjung di Sydney, Australia, Anda bisa menyetir menggunakan SIM Nasional Indonesia, setelah Anda menerjemahkan SIM Indonesia di Konsulat Jenderal Indonesia di Sydney. SIM Indonesia sendiri bisa digunakan selama tiga bulan terhitung sejak tanggal kedatangan.

Sumber: istimewa

Sementara itu, SIM Internasional sendiri merupakan SIM yang berlaku secara global dan bisa digunakan di kebanyakan negara di dunia. Dasar penerbitan SIM Internasional adalah kesepakatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Vienna Convention on Road Traffic tahun 1968 yang merupakan penyempurnaan dari tahapan sebelumnya yang diadakan pada tahun 1949.

Lembaga yang menerbitkan SIM Internasional adalah Asosiasi Kendaraan Bermotor/Klub Kendaraan Bermotor. Untuk Indonesia sendiri, SIM Internasional diterbitkan oleh Ikatan Motor Indonesia (IMI), sebelum akhirnya penerbitan SIM Internasional diambil alih oleh Kepolisian Republik Indonesia, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2010, terhitung sejak 3 Desember 2010.

Baca Juga: Petualangan, 47 Negara Dilalui Tanpa Penerbangan Selama 3 Tahun

Berbeda dengan SIM Nasional Indonesia, SIM Internasional memiliki penggolongannya sendiri. Golongan A untuk sepeda motor dengan berat kosong tidak melebihi 400 kg ; Golongan B untuk mobil dengan kapasitas maksimal 8 orang termasuk pengemudi ; Golongan C untuk kendaraan bermotor yang digunakan untuk mengangkut barang dengan berat maksimum 3.500 kg ; Golongan D untuk kendaraan bermotor dengan kapasitas lebih dari 8 orang ; dan Golongan E untuk kendaraan bermotor yang termasuk dalam golongan B, C dan D dan diperbolehkan menarik gandengan (trailer).

Untuk membuatnya, Anda cukup membawa KTP asli beserta fotokopinya, SIM asli beserta fotokopinya, paspor yang masih berlaku beserta fotokopinya, empat lembar pas foto berwarna berlatar biru ukuran 4×6 (pria menggunakan dasi ; wanita menggunakan blazer), dan satu lembar materai Rp6.000. Bawa semua persyaratan tersebut ke kantor Korlantas Polri Jakarta, dan petugas akan menunjukkan langkah-langkah selanjutnya.

Serba-Serbi Empat Warna Pada Cover Paspor

Di Indonesia warna cover paspor yang kita kenal adalah hijau, terkecuali paspor Haji dan paspor diplomatik yang warnanhya berbeda. Namun saat bertandang ke terminal imigrasi di bandara, barulah kita sadar bahwa beberapa warga asing memegang buku paspor dengan warna cover berbeda dari kita.

Baca juga: Mau Berlibur ke Istanbul? Baca Dulu Beberapa Tips Berikut Ini!

Sebenarnya, terlepas dari kenyataan paspor adalah hal terpenting bagi seorang pelancong, sebagai masyarakat terkadang tak sadar akan warna paspor setiap negara berebeda. KabarPenumpang.com merangkum dari beberapa sumber di dunia ada empat warna paspor menurut Organisasi Penerbangan Sipil Interasional yakni merah, hijau, biru dan hitam.

1. Merah
Warna ini adalah yang paling lazim digunakan dan biasanya dipilih dan digunakan oleh negara-negara yang memiliki sejarah atau menganut sistem komunis. Warga Slovenia, Serbia, Latvia, Romania, Cina, Rusia, Polandia dan Georgia. Selain itu warna paspor ini juga dipakai negara anggota Uni Eropa kecuali Kroasia. Negara yang tergabung dengan Uni Eropa yakni Turki, Macedonia dan Albania juga mengganti warna paspor menjadi merah beberapa tahun silam. Negara lain yang menggunakan warna merah adalah Bolivia, Kolombia, Ekuador dan Peru.

2. Hijau
Tak hanya menjadi simbol alam dan kehidupan, paspor berwarana hijau juga mencerminkan agama mayoritas di suatu negara. Biasanya yang menggunakan paspor berwarna hijau adalah negara mayoritas muslim seperti Arab Saudi, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia. Sebagian negara di Afrika Barat yakni Nigeria, Niger dan Segal juga punya warna paspor hijau karena termasuk dalam bagian Economic Community of West African States.

3. Biru
Ini menyimbolkan dunia baru dan warna ini di pakai 15 negara Karibia serta menjadi warna ketiga terbanyak yang digunakan untuk paspor. Negara Amerika Selatan seperti Brazil, Argentina dan Paraguay juga menggunakan paspor biru. Sampul yang menghubungkan dengan Mercosur, menyimbolkan organisasi negara-negara Amerika Selatan. Salah satu paspor biru yang terkenal adalah milik warga Amerika Serikat, tetapi pergantian warna menjadi biru setelah tahun 1994. Dulunya, negeri Paman Sam ini sempat menggunakaan warna merah dan hijau. Memilih warna biru karena mewakili bendera Amerika.

Baca juga: Kenali 10 Rute Kapal Ferry Terindah di Dunia

4. Hitam
Paspor dengan warna hitam sangat jarang digunakan dan berfungsi paling umum. Hanya ada sepuluh negara yang menggunakan warna tersebut. Sebagian negara Afrika seperti Botswana, Zambia, Burundi, Gabon, Angola, Chad, Kongo, Malawi, Trinidad dan Tobago. Selain itu Selandia Baru juga menggunakan warna hitam yang mengacu pada warna nasional negara tersebut.

Nasib Tak Jelas, Jet Pribadi Elvis Presley Akan Dijual (Lagi)

Memorabilia Raja Rock n’ Roll Elvis Presley yang satu ini terbilang unik, lantaran statusnya yang tidak jelas. Setelah sempat diwartakan telah dilelang beberapa tahun silam, kini ada kabar terbaru bahwa pesawat jet pribadi Lockheed 1329 JetStar buatan tahun 1962 milik Elvis Presley, kembali akan dijual.

Baca juga: Bernilai Sejarah, Keberadaan Lockheed JetStar Peninggalan Elvis Presley Masih Misterius

Elvis Presley menjalani kehidupan yang mewah dan cepat, begitu pula dengan jet pribadinya. Lockheed 1329 JetStar, yang diklaim sebagai pesawat bisnis terbaik ketika Ia membelinya seharga US$840.000 pada tahun 1976.

Lockheed 1329 JetStar dapat mencapai kecepatan maksimum 565 mph dengan jangkauan hampir 2.500 mil. Di dalam kabin, dapat dimuati hingga sembilan penumpang yang tampil penuh gaya, menikmati penerbangan di atas kursi mewah yang dilapisi beludru merah nan mewah.

Meskipun jet eks Elvis Presley telah berdebu selama beberapa dekade terakhir dan tidak lagi dapat diterbangkan, namun kursi beludru pada kabin penumpang masih utuh, dan Anda memiliki kesempatan untuk duduk di dalamnya, yaitu saat pesawat tersebut akan dilelang pada bulan Januari 2023.

Mesin dan sebagian besar peralatan kokpit di pesawat Elvis Presley telah dilepas, pun bagian eksteriornya tidak semulus saat The King terbang di dalamnya. Tetapi interiornya tetap kokoh dan masih memiliki panel kayu asli, karpet merah dan perangkat keras berlapis emas. Kemudian kabinet lengkap dengan VCR dan pemutar kaset. Ada juga toilet dengan meja rias dan dapur berikut microwave dan dispenser minuman.

Presley memiliki armada pesawat pribadi dan dua di antaranya, termasuk Lisa Marie, dipajang di Museum Elvis Graceland.

Sepotong memorabilia rock n’ roll Presley yang luar biasa akan dilelang oleh Mecum Auctions pada awal Januari 2023, setelah usaha yang gagal untuk melelang jet tersebut pada bulan Agustus lalu, ketika tawaran awal minimum US$100.000 telah diajukan.

Sejak lelang terakhir, keberadaan pesawat tersebut masih misterius. Tak disebutkan dengan jelas siapa pemenang lelang dan kemana pesawat disimpan. Entah itu disimpan di Museum Graceland – wilayah kediaman Elvis Presley sejak tahun 1958 hingga kematiannya pada tahun 1977 sekaligus tempat ia ditemukan meninggal di kamar mandi oleh tunangannya Ginger Alden pada tanggal 16 Agustus 1977- sebagaimana dua pesawat lainnya atau disimpan di suatu tempat.

Baca juga: Ketika Hibah Pesawat DC-3 Presiden AS Jadi Sebab Lahirnya Maskapai Saudia

Lockheed JetStar 1962 peninggalan Elvis Presley saat ini ada di suatu tempat yang diregistrasi dengan nomer N440RM.

Paspor Jepang Disebut Terkuat di Dunia, Inilah Alasannya

Judulnya terdengar provokatif, namun faktanya paspor Jepang untuk saat ini didapuk sebagai paspor terkuat. Disebut sebagai paspor terkuat, lantaran paspor yang dipegang warna negara Jepang adalah yang paling banyak dapat diterima di pintu imigrasi di seluruh dunia.

Baca juga: Survei IATA: 75 Persen Penumpang Ingin Biometrik Bukan Paspor

Dikutip dari Soranews24.com, saat ini lebih mudah bagi pelancong asal Jepang untuk melihat dunia daripada orang dari negara lain. Perusahaan konsultan Inggris Henley and Partners baru saja merilis peringkat utilitas paspor tahunannya, dan menemukan paspor Jepang sebagai “yang terkuat di dunia”.

Pemeringkatan disusun dengan memberikan satu poin untuk setiap negara yang dapat dimasuki oleh pemegang paspor tanpa visa, atau sebagai alternatif, dapat memperoleh visa masuk untuk saat tiba di tempat tujuan (visa on arrival).

Seandainya perhitungan dilakukan pada awal tahun, Jepang akan ditandingi oleh Singapura, tetapi mulai Oktober, pemegang paspor Jepang tidak perlu lagi mendapatkan visa sebelum keberangkatan untuk memasuki Myanmar/Burma, sehingga jumlah negara yang dapat diakses oleh paspor Jepang mencapai 190 negara, jumlah yang mengejutkan.

Setelah Jepang, posisi paspor kedua terkuat di dunia dipegang oleh Singapura, di mana warna negara Singapura dapat mengakses paspor ke 189 negara.

● Posisi ketiga (seri): Jerman, Prancis, Korea (akses ke 188 negara)
● Tempat keempat (seri): Italia, Spanyol, Swedia, Denmark, Finlandia (187 negara)
● Tempat kelima: AS, Inggris, Norwegia, Austria, Luksemburg, Belanda, Portugal (186 negara)

Sementara itu, paspor dengan pengaruh paling kecil dalam daftar Henley and Partners adalah paspor Irak dan Afghanistan, berada di posisi ke-106 dan masing-masing menyediakan akses hanya ke 30 negara.

Dengan Singapura hanya tertinggal satu negara, tidak jelas berapa lama Jepang akan bertahan di posisi teratas.

Baca juga: [Update Terbaru] 39 Negara ini Bebas Visa Bagi Pemegang Paspor Indonesia

Selama era feodal, lebih dari 200 tahun orang-orang Jepang dilarang meninggalkan pulau-pulau di negara itu, di bawah dekrit kebijakan isolasionis yang dikenal sebagai Sakoku. Namun, setelah pencabutan pembatasan pada pertengahan abad ke-19, warga Jepang telah menebus waktu yang hilang dari nenek moyang mereka saat mereka dengan antusias bepergian ke luar negeri.

Kenapa Pesawat Tiba-tiba Batal Lepas Landas Saat Ngebut di Runway?

Mayoritas kecelakaan terjadi saat lepas landas dan tak lama setelahnya serta ketika mendarat.  Lebih detail lagi, kecelakaan pesawat lebih sering terjadi saat proses lepas landas. Itu kenapa proses lepas landas terkadang menegangkan, terlebih saat pesawat tiba-tiba berhenti saat sudah memacu kecepatan penuh. Lantas, kenapa pesawat tiba-tiba batal lepas landas? Kenapa tidak dari sebelumnya?

Baca juga: Kenapa Pesawat Sering Berhenti di Ujung Landasan Sebelum Lepas Landas?

Pilot membatalkan lepas landas atau rejected takeoff ialah kondisi dimana pilot membatalkan lepas landas saat pesawat belum mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau V1. Itu berarti, ketika reject takeoff atau rejected takeoff diambil, secara teori, pesawat harusnya sudah diprediksi masih cukup waktu untuk berhenti sebelum ujung runway.

Menurut Skybrary, rejected takeoff bisa dikategorikan pesawat sedang dalam posisi kecepatan rendah maupun kecepatan tinggi. Produsen pesawat umumnya mengartikan transisi pada dua kategori ini (kecepatan rendah maupun tinggi) antara kecepatan 80 dan 100 knot.

Sebelum dioperasikan, produsen juga diwajibkan melakukan uji rejected takeoff pada pesawat baru, seperti yang dilakukan Boeing bersama 777X pada Maret 2020 lalu.

Selaku produsen pesawat, Boeing sendiri menjelaskan, alasan pilot menolak lepas landas didorong oleh setidaknya lima hal. Kelimanya tak dapat ditolelir dan sangat berisiko membahayakan penerbangan.

“Lepas landas dapat ditolak karena berbagai alasan, termasuk kerusakan mesin, indikator atau alarm peringatan lepas landas, arahan dari kontrol lalu lintas udara (ATC), ban pecah, atau peringatan sistem.”

Dari lima alasan pilot membatalkan lepas landas, kemudian muncul pertanyaan lanjutan, kenapa pilot tidak membatalkan lepas landas sebelum pesawat ngebut di runway?

Baca juga: Mendadak Belok Saat Ngebut di Runway, Pesawat Tibet Airlines Terbakar

Menurut pengguna Quora yang juga pilot berlisensi, Trent Hopkinson, saat di apron atau saat taxiing di taxiway, pesawat menempuh kecepatan rendah. Di sini, indikasi kerusakan mesin dan indikator atau alarm peringatan lepas landas, termasuk juga peringatan sistem mungkin belum terdeteksi. Ban pecah juga kecil kemungkinan terjadi saat taxiing.

Barulah saat pesawat sudah mengambil posisi di ujung runway sebelum akhirnya melesat dengan kecepatan tinggi, di situ kerusakan mesin, peringatan sistem, indikator tanda bahaya, ban pecah, dan segalanya akan nampak dan memungkinkan. Sehingga, saat ini terjadi, hal yang bisa dilakukan hanyalah membatalkan lepas landas.

Kendati demikian, andaipun pesawat tetap melanjutkan penerbangan ketika dalam salah satu dari kelima kondisi itu, sebetulnya tak ada masalah dan pesawat dapat melanjutkan perjalanan serta mendarat dengan selamat.

“Faktanya, sekitar 55 persen dari (rejected takeoff), hasilnya mungkin pendaratan yang lancar jika lepas landas dilanjutkan,” jelas Boeing.

Rejected takeoff sangat jarang terjadi. Tahun lalu, rejected takeoff setidaknya terjadi kurang dari 10 kasus. Pada Januari di tahun tersebut, pesawat Airbus A320 LATAM dikabarkan batal lepas landas di Sao Paolo akibat kerusakan mesin saat di kecepatan 20 knot.

Baca juga: Ternyata, Pesawat Tak Selalu Ngebut di Runway untuk Bisa Terbang, Ini Alasannya

Pertengahan Maret, pesawat kargo Airbus A300 Transcarga International Airways memutuskan batal atau menolak lepas landas akibat kerusakan mesin yang tidak terkendali di Bogotá, Kolombia.

Tahun ini, rejected takeoff terakhir terjadi pada 18 November lalu pada pesawat Airbus A320-200N LATAM Chile. Ketika itu, pesawat sudah menempuh kecepatan 125 knot atau sekitar 231 km per jam di runway, tiba-tiba truk pemadam kebakaran melintas secara diagonal memotong jalur. Meski sudah ngerem, tapi tabrakan tetap tak terhindarkan.

Apa yang Terjadi Bila Pilot Salah Menyatakan Keadaan Darurat?

Ada begitu banyak hal-hal tak terduga dalam sebuah penerbangan. Saat itu terjadi, pilot biasanya akan menyatakan keadaan darurat dan meminta izin ATC mendarat di bandara terdekat. Namun, apa yang terjadi bila pilot sudah menyatakan keadaan darurat (declared emergency) dan ternyata itu salah? Apa konsekuensinya bagi pilot?

Baca juga: Kena ‘Serangan’ Laser, Pesawat Boeing 787 Virgin Atlantic Mendarat Darurat

Sebelum memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan.

Semua itu menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan. Karena itu, saat terjadi keadaan darurat, segalanya sudah terencana.

Keadaan darurat bisa berupa apa saja. Intinya hal-hal yang tidak normal atau tidak biasa dalam penerbangan. Bisa juga hal-hal yang mengganggu atau mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan.

Menurut mantan kapten pilot MD-11, William R. Levin, pilot biasanya menyatakan keadaan darurat di beberapa kondisi. Pengalamannya selama terbang, ia pernah menyatakan keadaan darurat lantaran adanya penumpang yang mengalami keadaan darurat medis.

Sebelum dinyatakan darurat, pramugari/pramugara terlebih dahulu diminta pilot untuk menanyakan apakah ada dokter di antara penumpang. Bila ada, dokter akan menanganinya terlebih dahulu. Rekomendasi dari dokter kemudian digunakan untuk menyatakan keadaan darurat atau tidak.

Apabila penumpang dinyatakan meninggal, maka penerbangan akan dilanjutkan. Bila tidak dan membutuhkan penanganan medis, maka pilot akan menyatakan keadaan darurat. Itulah yang dialami Levin.

Selain itu, ia juga pernah menyatakan keadaan darurat akibat kontrol penerbangan atau kerusakan mesin.

Baca juga: Gegara Penumpang ‘Betah’ di Toilet, Pesawat Ini Terpaksa Mendarat Darurat

Akan tetapi, menurutnya, pilot yang nakal mungkin saja menggunakan prosedur keadaan darurat untuk kepentingannya sendiri. Di bandara sibuk dan di jam sibuk, antrean mendarat di bandara bisa sangat panjang. Pernah mencapai 15 pesawat yang antre mendarat.

Pilot yang ingin menang sendiri, ia mungkin akan menyatakan keadaan darurat untuk mendapatkan prioritas dari ATC dan diizinkan mendarat segera tanpa perlu mengantre. Tentu saja ini tidak dibenarkan.

Menurutnya, tidak ada formal list pilot atau sebuah penerbangan menyatakan keadaan darurat. Itu berarti, penerbangan manapun yang menyatakan itu besar kemungkinan akan dilayani meskipun tetap dibutuhkan alasan, sekalipun mungkin saja alasan tersebut dibuat-buat.

Meski begitu, di penerbangan sungguhan, pilot di beberapa penerbangan pernah melakukan kesalahan atau salah mendiagnosa sehingga salah menyatakan keadaan darurat.

Pengguna Quora, Jim Mowreader, bercerita, pernah suatu ketika penumpang mengalami sakit dada dan dianggap serangan jantung. Pilot kemudian menyatakan keadaan darurat dan pesawat mendarat.

Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata itu bukan serangan jantung melainkan karena salah makan. Lantas, apa yang terjadi dengan pilot? Tidak ada konsekuensi apapun. Lebih baik salah menyatakan keadaan darurat daripada tidak menyatakan keadaan darurat.

Baca juga: Jadi Kata Sakral dalam Situasi Darurat, Inilah Arti Penting Kata “Mayday”

Eks pilot USAF, David Ross, pernah bekerja sebagai petugas ATC. Suatu ketika, ia menangangi pesawat yang ingin mendarat. Namun, pilot tidak punya Instrument Flight Rules (IFR) rated. Karenanya, ia dialihkan ke bandara lain yang memungkinkan pendaratan Visual Flight Rules (VFR).

Namun, itu keputusan salah. Pesawat tak pernah sampai di bandara tujuan dan akhirnya jatuh karena kehabisan bahan bakar. Itu terjadi lantaran pilot tak menyatakan keadaan darurat. Andai pilot memberi tahu stok bahan bakar dan menyatakan keadaan darururat, ceritanya akan lain.

Airbus Bangun Stasiun Produksi dan Distribusi Hidrogen Rendah Karbon di Bandara Toulouse

Airbus telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan HyPort, yaitu perusahaan patungan antara ENGIE Solutions dan Badan Regional untuk Energi dan Iklim di Occitanie (AREC), pemimpin dalam pengembangan hidrogen hijau di Perancis, untuk mendukung pengembangan salah satu stasiun produksi dan distribusi hidrogen rendah karbon pertama di dunia di bandara.

Baca juga: Bandara AS Pamer View Smart Windows, Jendela Berteknologi AI yang Mampu Turunkan Emisi Karbon

Pembangunan stasiun hidrogen di bandara Toulouse-Blagnac telah selesai awal tahun ini dan sistem produksi, penyimpanan, dan distribusi sedang menjalani pengujian akhir. Stasiun yang dijadwalkan mulai beroperasi pada awal 2023 akan memiliki kapasitas produksi sekitar 400 kg hidrogen per hari, memberikan kemungkinan untuk menggerakkan sekitar 50 kendaraan transportasi darat.

Airbus bekerja sama dengan HyPort untuk menerapkan rencana perluasan operasi darat berbahan bakar hidrogen ini, mengadaptasi sarana produksi dan distribusi, serta kapasitas infrastruktur, untuk mengatasi peningkatan permintaan hidrogen yang diharapkan di tahun-tahun mendatang. Kemitraan ini juga akan memungkinkan cetak biru disiapkan untuk menguraikan persyaratan dan memberikan panduan tentang keselamatan operasi, kepatuhan terhadap peraturan, penerimaan sosial serta investasi keuangan yang diperlukan untuk penggunaan hidrogen secara luas di bandara.

Baca juga: Redam Kebisingan, Bandara San Francisco Luncurkan Teknologi GBAS

Pada tahun 2020, Airbus meluncurkan “Hydrogen Hub at Airports’ untuk membantu bandara mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur untuk pesawat hidrogen masa depan, serta operasi bandara rendah karbon, di seluruh rantai nilai. Selama dua tahun terakhir, Airbus telah menandatangani kemitraan dengan berbagai otoritas bandara, maskapai penerbangan, dan penyedia energi di Eropa, Asia-Pasifik, dan Amerika Utara.

Airbus-Renault Kembangkan Baterai Masa Depan untuk Mobil dan Pesawat Listrik Hybrid

Raksasa manufaktur pesawat dan raksasa otomotif asal Perancis, Airbus dan Renault, sepakat bekerja sama dalam pengembangan baterai masa depan. Baterai itu nantinya akan digunakan di mobil listrik Renault dan pesawat listrik hybrid Airbus pada tahun 2030 mendatang. Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya kedua perusahaan mencapai target bebas emisi pada 2050 mendatang.

Baca juga: Honeywell Kembangkan Mesin Pesawat Listrik-Hybrid

Sebagai bagian dari perjanjian kerja sama, Airbus dan Renault nantinya akan menggabungkan tim teknik mereka dan saling berbagi pengetahuan terkait teknologi elektrifikasi berbasis baterai.

Keduanya juga akan melakukan penelitian dan pengembangan bersama untuk mempercepat roadmap elektrifikasi dan meningkatkan jangkauan produk hasil pengembangan di tahun-tahun mendatang.

Kemitraan Airbus dan Renault berupaya menciptakan teknologi penyimpanan baterai yang lebih baik dari yang sudah ada sekarang. Saat ini, penyimpanan baterai masih membutuhkan dimensi besar agar kapasitas juga besar.

Diharapkan, hasil kerja sama bisa menghasilkan baterai yang lebih padat dan dimensi yang lebih kecil. Dengan begitu, jangkauan mobil listrik dan pesawat bisa lebih jauh di saat yang bersamaan dimensi baterai sama atau lebih kecil sehingga bobot mobil dan pesawat menjadi lebih ringan.

Salah satu hal yang ingin diuji untuk mencapai tujuan menambah kepadatan baterai dan mengurangi bobot adalah beralih dari kimia sel saat ini (lithium-ion lanjutan) ke semua desain solid-state.

“Untuk pertama kalinya, dua pemimpin Eropa dari berbagai industri berbagi pengetahuan teknik untuk membentuk masa depan pesawat listrik hibrida. Penerbangan adalah bidang yang sangat menuntut dalam hal keselamatan dan konsumsi energi, begitu pula industri mobil,” kata Gilles Le Borgne, EVP Teknik Renault Group.

“Di Renault Group, pengalaman 10 tahun kami dalam rantai nilai kendaraan listrik memberi kami umpan balik terkuat dari lapangan dan keahlian dalam kinerja sistem manajemen baterai,” tambahnya, seperti dikutip dari laman resmi Airbus.

Baca juga: Air Canada dan SAS Airlines Borong Pesawat Listrik Berkapasitas 30 Penumpang, 2028 Beroperasi

Sementara itu, Chief Technical Officer Airbus, Sabine Klauke, mengatakan, “Kemitraan lintas industri dengan Grup Renault ini akan membantu kami mematangkan baterai generasi berikutnya sebagai bagian dari peta jalan elektrifikasi Airbus.”

“Menyatukan pengalaman Renault Group dalam kendaraan listrik dengan rekam jejak kami sendiri dalam demonstrasi penerbangan listrik akan memungkinkan kami mempercepat pengembangan dari teknologi disruptif yang diperlukan untuk arsitektur pesawat hybrid masa depan di tahun 2030-an dan seterusnya. Ini juga akan mendorong munculnya standar teknis dan peraturan umum untuk mendukung solusi mobilitas bersih yang diperlukan untuk mencapai target iklim kita,” tutupnya.

Anggaran Dipangkas, Pesawat Kepresidenan Nigeria Bakal Disita Lessor

Pesawat kepresidenan Nigeria dilaporkan terancam disita lessor. Hal itu terjadi lantaran anggaran sewa, pemeliharaan, dan operasional 10 pesawat kepresidenan oleh Armada Udara Kepresidenan Nigeria (PAF) dipangkas. Dari US$$43,7 juta yang diajukan hanya cair US$27,2 juta . Ini membuat biaya jasa layanan dan pemeliharaan pesawat menjadi ditunggak.

Baca juga: Avtur Mahal, Penerbangan Domestik Produsen Minyak Terbesar Afrika, Nigeria, Lumpuh Total

Pemangkasan anggaran tersebut sejatinya bukan hanya membuat pesawat terancam disita, tetapi lebih dari itu keamanan dan keselamatan penerbangan diragukan lantaran jadwal pemeliharaan, perawatan, dan operasional yang terganggu.

Menurut Komandan PAF Marsekal Udara Abubakar Abdullahi, sepuluh pesawat kepresidenan, mulai dari jet Gulfstream hingga helikopter AgustaWestland (Leonardo), dapat disita kapan pun oleh lessor atau kreditur imbas pemotongan anggaran.

“Dari catatan armada, utang tahun-tahun sebelumnya biasanya terbawa ke tahun anggaran berikutnya, menjadi tradisi. Izinkan saya juga untuk menyatakan bahwa sebagian besar utang tersebut adalah utang kepada penyedia jasa di luar negeri,” jelasnya, seperti dikutip dari ch-aviation.com.

“Mengingat lebih dari 85 persen pengeluaran armada adalah transaksi Forex, angka anggaran aktual dalam dolar semakin berkurang. Armada saat ini berhutang budi kepada beberapa penyedia layanannya karena dana yang tidak mencukupi dari alokasi anggaran, dan situasi ini membuat perencanaan menjadi buruk,” tambahnya.

Lebih lanjut, Abdullah berpendapat bahwa pemotongan anggaran makin diperparah dengan adanya sejumlah krisis di Nigeria. Diketahui, saat ini, Nigeria tengah menghadapi kenaikan bahan bakar cukup tinggi sampai dua kali lipat. Selain itu, krisis devisa juga sedang menimpa negara tersebut.

Beruntung, menurut CEO Top Brass Aviation, Kapten Roland Iyayi, lessor atau kreditur sedikit menahan diri saat menghadapi pesawat kepresidenan. Artinya, pesawat kepresidenan tidak akan disita atas alasan kedaultan.

Ia pun menganalogikan bila sebuah pesawat kepresidenan Amerika Serikat (AS) disita oleh lessor dan kreditur. Sekalian secara politik berbeda antara Nigeri dan AS, tetapi berbicara kedaulatan, anologi tersebut bisa diterima.

“Saya tidak tahu apakah itu akan cukup mudah; jika itu adalah aset lain Nigeria, itu berbeda, tetapi jet kepresidenan; itu seperti mengatakan sebuah negara ingin menyita pesawat Presiden Amerika Serikat karena utang. Itu dianggap sebagai perpanjangan kedaulatan negara; jadi, itu mungkin tidak semudah kedengarannya,” ujarnya.

Baca juga: Sembunyi di Bilah Kemudi Kapal Tanker, Tiga Penumpang Gelap Selamat dalam Pelayaran 11 Hari dari Nigeria ke Spanyol

Di era Presiden Muhammadu Buhari sejak tahun 2015 silam, sedikitnya ada 10 pesawat kepresidenan yang disewa Nigeria; 1x Boeing Business Jet (Boeing 737-800), 1x Gulfstream G550, 1x Gulfstream G500, 2x Dassault Falcon 7Xs, 1x Penjaja Siddeley 4000, 2x helikopter AgustaWestland AW139, dan 2x helikopter AgustaWestland AW101.

Rata-rata dari 10 pesawat tersebut berusia lebih dari 11 tahun, membuat biaya perawatan terus meningkat setiap tahunnya. Pemilihan presiden Nigeria mendatang sudah pasti akan membuat deretan pesawat tersebut dipakai secara aktif, karenanya pemeliharaan dan perawatan pesawat tak bisa ditunda, membuat perencanaan operasional pesawat kepresidenan Nigeria menjadi rumit.