Viral! Suara Aneh dari Interkom Hantui Penumpang Maskapai American Airlines

Belum juga perayaan Halloween dimulai di Amerika Serikat (AS) pada akhir Oktober mendatang, penumpang maskapai American Airlines sudah dihantui dengan suara-suara aneh melalui interkom. Anehnya, suara tersebut terus menghantui penumpang mulai dari pra penerbangan, selama penerbangan, dan pasca penerbangan.

Baca juga: Serem! Pramugari Ini Diminta Hantu untuk Buatkan Suaminya Teh dalam Penerbangan

Suara aneh berupa erangan dan napas bak orang kesakitan itu tertangkap jelas dalam sebuah video yang diunggah akun Twitter Emerson Collins. Dalam video tersebut, beberapa kali terdengar suara orang seperti mengerang kesakitan. Namun, ada pula suara aneh lainnya yang lebih mirip seperti sedang melakukan prank karena terkesan dibuat-buat.

Dalam video berdurasi dua menit yang merupakan potongan-potongan video dari keseluruhan penerbangan itu, sempat terdengar permohonan maaf dari pramugari atas suara-suara aneh tersebut.

Lucunya, belum tuntas ia berbicara, suara-suara aneh tersebut kembali menghantui penumpang dan membuat mereka (penumpang) terheran-heran di samping juga sedikit takut sesuatu hal buruk akan terjadi.

Dalam caption di unggahannya, Emerson menulis, “Penerbangan paling aneh yang pernah ada. Suara-suara ini dimulai melalui interkom sebelum lepas landas dan berlanjut sepanjang penerbangan. Mereka tidak bisa menghentikannya, dan setelah mendarat masih tidak tahu apa itu”.

Tak ingin suara-suara aneh itu ditafsirkan liar oleh netizen, juru bicara maskapai American Airlines, Sarah Jantz, pun buka suara.

Ia mengklaim bahwa suara-suara aneh yang menghantui penerbangan pada 6 September dari Los Angeles ke Dallas itu bersumber dari salah mekanis dengan amplifier petugas. Atas kejadian itu, tim teknis maskapai pun bergerak cepat untuk memperbaikinya.

“Menyusul laporan awal, tim perawatan kami memeriksa pesawat dan sistem PA secara menyeluruh dan menentukan bahwa suara tersebut disebabkan oleh masalah mekanis dengan amplifier PA, yang meningkatkan volume sistem PA saat mesin bekerja. Tim kami sedang meninjau laporan tambahan,” jelasnya.

Sampai berita ini ditulis, video viral tentang suara aneh yang terdengar dari interkom pesawat itu telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali dan mendapat 32 ribu likes dan 4 ribu retweet.

Baca juga: Misteri Teror Hantu Pesawat Eastern Airlines dengan Nomor Penerbangan 401

Setali tiga uang, netizen lainnya yang mengalami nasib serupa ikut berkomentar. Salah satunya Doug Boehner. Dalam penerbangan dari Orlando ke Dallas baru-baru ini ia dan penumpang lain juga sempat dikagetkan dengan suara-suara aneh.

“Itu bukan keseluruhan penerbangan, tetapi frasa dan suara aneh secara berkala. Kemudian (terdengar) ‘oh yeah’ (cukup) besar ketika kami mendarat. Kami pikir pilot membiarkan mikrofonnya terbuka,” cuitnya.

Hari Ini, 24 Tahun Lalu, Lion Air Flight 602 Jatuh Dirudal Tak Lama Setelah Kerusuhan 98

Hari ini, 24 tahun lalu, bertepatan dengan Selasa, 29 September 1998, pesawat Antonov An-24RV Lion Air flight 602 ditembak jatuh oleh separatis Pasukan Pembebasan Macan Tamil Eelam (LTTE) menggunakan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS).

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Kecelakaan Terburuk di Nepal PIA Flight 268 Terjadi Gegara Pilot Lalai Ikuti Prosedur

Akibat kejadian itu, 48 penumpang dan tujuh awak dipastikan tewas. Selain itu, semua penerbangan sipil antara Kolombo dan Jaffna juga ditangguhkan selama berbulan-bulan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Sri Lanka.

Dikutip dari The Wall Street Journal, saat itu, langit terbilang cukup cerah. Pesawat juga lepas landas dari Bandara Internasional Jaffna pada pukul 13.30 dengan mulus tanpa ada tanda-tanda aneh apapun. 10 menit kemudian, pilot melapor ke ATC dengan menyebut “Tiba-tiba (pesawat) kehilangan tekanan (depresurisasi).” Tak lama kemudian, Lion Air flight 602 tujuan Bandara Ratmalana, Kolombo itu pun lenyap dari radar, tepat di lepas pantai Pulau Iranaitivu, Distrik Mannar, Sri Lanka.

Menurut sebuah laporan, sebulan sebelum kejadian, Lion Air disebut sudah diperingatkan oleh kelompok separatis LTTE agar tak melintasi langit wilayah kekuasannya. Sebab, maskapai tersebut diduga memuat militer Sri Lanka yang diduga bakal melakukan penyerangan terhadap mereka. Bila Lion Air masih juga membandel, LTTE tak akan segan untuk menembak jatuh pesawat.

Meskipun sempat tak bergeming dengan ultimatum itu, empat hari sebelum kejadian, Lion Air memutuskan untuk menutup kantornya di wilayah Jaffna. Sayangnya, hal itu tak diikuti di ranah penerbangan berjadwal hingga akhirnya pesawat sewaan dari perusahaan asal Belarusia, Gomelavia, Antonov An-24RV dengan nomor registrasi EW-46465 itu akhirnya ditembak jatuh.

Pasca kejadian tersebut, petugas tak serta merta langsung bergerak mencari pesawat berdasarkan pengamatan terakhir di radar. Sebab, wilayah yang diduga sebagai tempat jatuhnya pesawat dikuasai oleh kelompok separatis LTTE.

Setelah kelompok tersebut ditumpas habis oleh militer Sri Lanka pada pertengahan tahun 2009 lalu, barulah tim SAR mulai melakukan pencarian. Namun, pencarian tak kunjung membuahkan hasil. Pada Oktober 2012, Angkatan Laut Sri Lanka menemukan puing-puing yang diyakini sebagai bagian dari Antonov- An-24RV Lion Air flight 602 yang hilang, di dasar laut lepas pantai Pulau Iranaitivu. Informasi mengenai lokasi kecelakaan diperoleh dari eks kelomppok separatis LTTE yang ditangkap kepolisian Sri Langka usai melarikan diri ke luar negeri.

Setahun setelahnya atau hampir 15 tahun setelah kejadian, Angkatan Laut berhasil mengangkat puing-puing pesawat. Tak hanya itu, pakaian dan jasad dari 22 korban yang ditemukan dalam operasi penyelamatan juga berhasil.

Baca juga: Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh

Menariknya, dari hasil identifikasi, terdapat satu orang ‘penumpang’ yang masih hidup dan dalam keadaan sehat sentosa. Padahal, hampir dibilang mustahil ada penumpang selamat dalam insiden tersebut.

Gunamani Balasubramaniam, seorang warga Jaffna, diyakini termasuk di antara 48 penumpang pesawat Lion Air yang jatuh dirudal oleh LTTE pada 29 September 1998. Sebab, KTP miliknya ditemukan setelah puing-puing pesawat diangkat. Usut punya usut, KTP milik Gunamani ternyata memang tengah dititipkan ke salah satu penumpang Lion Air flight 602 untuk diberikan ke seseorang.

Dua Pesawat Penumpang Tabrakan di Bandara London Heathrow, Bagaimana Bisa?

Dua pesawat penumpang, Boeing 757 Icelandair dan Boeing 777 Korean Air, dilaporkan bertabrakan di Bandara London Heathrow, Inggris. Beruntung, tidak ada korban jiwa atas kejadian itu. Begitupun juga dengan pesawat, hanya terdapat kerusakan minor di sayap pesawat Korean Air dan vertical stabilizer pesawat Icelandair.

Baca juga: Hari Ini, 44 Tahun Lalu, Tabrakan Dua Boeing 747 Jadi Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa

“Tidak ada cedera yang dilaporkan tetapi petugas emergency services hadir untuk memastikan semua penumpang dan awak aman dan sehat,” kata juru bicara Bandara London Heathrow.

Menurut jurnalis Guardian, Dan Sabbagh, pesawat Boeing 777 Korean Air yang ditumpanginya sedang taxiing seperti biasa. Kemudian penumpang lain yang memberitahunya bahwa pesawaat telah menabrak bagian belakang ekor pesawat Boeing 757 Icelandair tanpa adanya guncangan atau apapun yang dirasakan penumpang di dalam kabin.

“Saya berada di pesawat Korean Air yang memotong pesawat Icelandair di Heathrow – seorang penumpang di sisi lain melihat insiden itu dan memberi tahu saya bahwa sayap pesawat kami merusak ekor yang lain,” jelasnya dalam sebuah cuitan di Twitter.

“Saya berada di pesawat ini tetapi tidak dapat mengatakan bahwa kami merasakan apa pun dari dalam. Tidak ada bahaya yang terlihat, tidak ada yang terluka,” tambahnya.

Meski insiden ini sedang dalam penyelidikan, tetapi dari data FlightRadar24, pesawat Boeing 757 Icelandair tampak sedang berada di apron Terminal 2 bandara. Terlihat jelas bahwa ekor pesawat memasuki area taxiway.

Di lain sisi, pesawat Korean Air nampak sedang taxiing menuju runway dan tanpa sengaja sayapnya menabrak bagian ekor pesawat.

Sampai di sini, menurut beberapa dugaan, setidaknya ada dua kemungkinan penyebab tabrakan dua pesawat di Bandara London Heathrow terjadi. Pertama, pesawat Boeing 757 Icelandair tidak parkir dengan benar sehingga ekor pesawat menjuntai hingga masuk ke area taxiway.

Kedua, kebalikan dari pertama, pesawat Boeing 777 Korean Air tidak berada di jalur taxiing yang benar, dari seharusnya lurus melewati jalur lain menjadi berbelok ke sehingga menabrak ekor pesawat Boeing 757.

Baca juga: Dua Pesawat KLM Tabrakan di Bandara Schiphol, Serikat Pekerja: Akibat Beban Kerja Terlalu Tinggi

Terlepas dari dugaan manapun yang benar, Bandara London Heathrow memang menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia dan bandara tersibuk di Eropa. Tak pelak, kesalahan sekecil apapun bisa menimbulkan insiden, termasuk insiden tabrakan kecil seperti ini.

Setiap hari, tidak kurang dari ribuan pesawat lepas landas dan mendarat di bandara yang terletak tak jauh dari Istana Buckingham tempat kediaman raja Inggris serta Westminster Hall tempat ratu Inggris dimakamkan ini, dengan membawa lebih dari 4 juta penumpang.

Menjawab Penasaran, Ini Sebab Mesin Belakang Douglas DC-10 Terkesan Lebih Besar Dibanding Mesin di Bawah Sayap

Netizen pecinta dunia dirgantara tentu mengetahui nama besar pesawat angkut wide body Douglas DC-10, lebih dari dua dekade pesawat bermesin trijet ini pernah memperkuat armada Garuda Indonesia. Seiring usianya yang menua, saat ini hanya beberapa unit DC-10 saja yang masih mengudara, itu pun kebanyakan berfungsi sebagai pesawat kargo.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Meski tak sesukses DC-10, McDonnell Douglas sempat mewariskan desain trijet DC-10 ke varian MD-11, pesawat yang juga sempat dioperasikan sebentar oleh Garuda Indonesia.

Bagi kebanyakan orang, desain trijet pada DC-10 mengundang tanya, salah satunya adalah, kesan bahwa bentuk mesin yang ada di ekor – vertical stabilizer, terkesan punya ukuran lebih besar dibanding dua mesin lain yang ada di bawah sayap.

Apakah benar kesan tersebut? Faktanya, ketiga mesin DC-10 mengadopsi tipe yang sama, sebut saja DC-10 yang pernah dioperasikan Garuda Indonesia, menggunakan General Electric GE CF6-50C. Lantas, mengapa timbul kesan berbeda ukuran pada mesin di vertical stabilizer?

Penjelasannya adalah ketiga mesin yang digunakan pada DC-10 semuanya sama. Namun, cara pemasangannya berbeda. Mesin di bawah sayap memiliki penutup yang menutupi mesin, dengan saluran masuk pendek di bagian depan. Sedangkan mesin belakang memiliki saluran masuk yang lebih panjang yang melewati vertical stabilizer, mesin ini dipasang ke bagian belakang saluran masuk tersebut.

Karena persyaratan kekuatan torsi, kompresi, dan daya tarik yang lebih besar, lantaran membawa sirip ekor yang besar, kemudi, dan mesin dengan beban dorong yang sangat besar di dalam rangka tubular struktural, maka ketebalan dinding bagian tengah tubular pada mesin di belakang harus lebih panjang dan sedikit lebih tebal daripada penutup mesin yang ada di bawah sayap.

Mesin di atas badan pesawat pada dasarnya merupakan desain yang tidak stabil secara fisik, sebab beban gravitasi akan memindahkannya ke bawah badan pesawat. Hal ini membuat desain sensitif terhadap beban aerodinamis.

Baca juga: Di Ghana, DC-10 Eks Ghana Airways Beralih Fungsi Menjadi Restoran Bintang Lima

Beban aerodinamis yang kecil akan membantu gravitasi dalam menggerakkan mesin di bawah badan pesawat. Mesin sayap yang dipasang pada tiang di bawah sayap adalah desain yang stabil secara fisik karena gravitasi mencoba menahannya di sana. Semakin panjang nacelle atau komponen lain, maka semakin stabil secara aerodinamis. Inilah mengapa mesin yang dipasang di nacelle ekor jauh DC-10 lebih panjang daripada nacelle yang dipasang di bawah sayap.

Sebagai informasi, nacelle atau nasel adalah tempat terpisah dari badan pesawat yang menahan mesin, bahan bakar, atau peralatan pesawat terbang.

Bisakah Boeing 747 Berguling (Barrel Roll) 360 Derajat dengan Aman?

Dalam keadaan normal, pesawat terbang lurus atau miring puluhan derajat untuk berbelok ke arah yang dituju. Namun, saat terjadi turbulensi, pesawat mungkin akan naik turun dan miring kanan kiri layaknya kendaraan di darat yang melalui jalan bergelombang. Bahkan di beberapa kasus, pesawat sampai berputar 360 derajat (roll barrel). Terlepas dari itu, sebetulnya, apakah bisa pesawat, dalam hal ini pesawat Boeing 747 berputar atau berguling 360 derajat ke samping dengan aman?

Baca juga: Mana yang Lebih Berbahaya Bagi Pesawat, Sayap Patah atau Kerusakan Mesin?

Menurut salah satu pengguna Quora, Wayne Waddington, Boeing 747 sangat mungkin berputar 360 derajat ke samping (barrel roll) dengan aman. Perlu diketahui, selain roll barrel, ada juga manuver aileron roll, slow roll, dan rudder roll.

Disebutkan, selama type training ia pernah beberapa kali melakukannya, dalam hal ini aileron roll, di simulator Boeing 747-400. Meski hanya di simulator, ia meyakini itu lebih dari cukup merepresentasikan pesawat atau penerbangan Boeing 747-400 sungguhan.

Bila dilakukan dengan benar, menurutnya, aileron roll adalah manuver biasa dengan tingkat stres rendah. Dalam penerbangan sungguhan, pesawat Boeing 747 China Airlines flight 006 pernah melakukan aileron roll.

Ketika itu terjadi kondisi darurat dimana kabin memiliki tekanan berlebih sehingga pilot melakukan beberapa manuver biasa dan luar biasa untuk bisa mendapat kembali kontrol pesawat. Usaha mereka (pilot) pun tak sia-sia, pesawat berhasil mendarat dengan selamat.

Di kasus lain, pesawat empat mesin pendahulu Boeing 747, Boeing 707 (Dash 80) juga pernah melakukan aileron roll atau berputar 360 derajat ke samping pada tahun 1955. Menariknya, momen ini pun berhasil diabadikan oleh wartawan yang ikut dalam penerbangan tersebut.

Ceritanya, sebelum dirilis, sang CEO Boeing ingin memamerkan kemampuan dan kenyamanan terbang Boeing 707 dengan mengajak beberapa wartawan. Kala itu, ia (CEO) hanya mengatakan ke kapten pilot bahwa ia dan rombongan ingin terbang mulus, aman, nyaman sampai mendarat tanpa mengecek schedule pesawat. Padahal, saat itu, pesawat sudah dijadwalkan melakukan tes level 1 yang di dalamnya termasuk melakukan aileron roll.

Di awal, penerbangan tampak biasa-biasa saja. Kemudian pilot Tex Johnson pun beraksi melakukan aileron roll dan membuat penumpang terpontang-panting, termasuk sang CEO dan wartawan. Di tengah kondisi itu, salah satu wartawan berhasil mengabadikannya, sebagaimana foto di atas.

Baca juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan

Usai pesawat mendarat dan wartawan pulang, sang CEO mendatangi kapten pilot dan memarahinya. Pilot senior itu pun dengan santai mendengarkannya. Setelah sang CEO selesai marah-marah, barulah ia berkata kepadanya bahwa itu bukanlah apa-apa. Disebutnya, aileron roll atau berputar 360 derajat itu adalah biasa dan masuk kategori uji terbang level 1.

Masih ada beberapa uji terbang level 2, 3, 4, dan 5. Ia pun mengajak sang CEO untuk ikut serta di uji terbang level 5 dimana mesin pesawat dimatikan beberapa mil dari runway untuk kemudian didaratkan dengan aman dan selamat. Sejak kejadian itu, sang CEO tak lagi mau terbang bersamanya.

Kapan Waktu yang Paling Berbahaya dalam Penerbangan? Ini Jawabannya

Pesawat jadi moda transportasi paling aman di dunia. Data terkait ini pun mudah didapat. Meski begitu, pesawat bukan tanpa risiko atau kecelakaan. Terdapat beberapa waktu di dalam penerbangan yang disebut berbahaya atau mungkin paling berbahaya. Lantas, kapan waktu yang paling berbahaya dalam penerbangan?

Baca juga: Empat Faktor Eksternal Penyebab Kecelakaan Pesawat Saat Take Off dan Landing

Pesawat rawan mengalami kecelakaan, terutama saat take off dan landing; tiga menit pertama (take off)  dan delapan menit terakhir penerbangan (landing) atau biasa juga disebut Plus Three Minus Eight (critical eleven).

Sudah banyak insiden kecelakaan pesawat terjadi selama periode critical eleven atau selama proses take off dan landing. Keduanya sama banyaknya. Namun, bila ditelisik lebih dalam, insiden kecelakaan selama proses take off lebih banyak terjadi.

Itulah kenapa salah seorang pengguna Quora yang juga seorang Senior Aerospace Engineer, Tom Stagliano, menyebut bahwa waktu yang paling berbahaya dalam penerbangan adalah take off, baru kemudian landing berada di urutan selanjutnya.

Setali tiga uang, pengguna lainnya, Andy Thompson, mengungkapkan, pesawat lepas landas serba dimulai dari nol. Ketinggian nol, kecepatan nol, dan tidak ada energi kinetik. Praktis, pilot hanya mengandalkan 100 persen mesin untuk bisa membawa pesawat lepas landas.

Baca juga: Berapa Kerugian Maskapai Penerbangan Atas Kecelakaan Pesawat?

Akan menjadi berbahaya jika pesawat sudah mencapai kecepatan penuh namun kehilangan daya di akhir saat hampir mencapai ujung landasan atau dalam kasus lain sudah berhasil lepas landas namun mesin kehilangan daya beberapa meter dari landasan.

Meski begitu, ia, yang juga seorang pilot, mengaku proses pendaratan lebih berbahaya dan rumit ketimbang lepas landas. Hanya saja, banyak faktor yang membuat mesin tak lagi menjadi penting selama proses mendarat. Ia pun mengambil contoh insiden Miracle on the Hudson yang melibatkan kapten Sully.

Dalam insiden tersebut diketahui seluruh mesin dalam kondisi mati dan pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa satupun korban jiwa.

Menurut pengguna Quora lainnya, Susanna Viljanen, justru berpendapat berbeda dari pendapat di atas. Ini menyebut bahwa proses landing adalah waktu yang paling berbahaya dalam penerbangan ketimbang take off.

Baca juga: Kenapa Pesawat Lepas Landas dan Mendarat Melawan Arah Angin?

Selama take off, dengan berbagai pertimbangan, pilot bisa memutuskan untuk rejected take off atau batal lepas landas dan menghentikan pesawat. Lain halnya dengan proses landing, khususnya saat cuaca buruk.

Meski pesawat memiliki bobot cukup berat dan landing gear adalah salah satu bagian yang paling keras, namun, saat cuaca buruk, dalam hal ini terjadi crosswind atau angin dari samping, pesawat menjadi terombang-ambing layaknya kapal di lautan. Sudah banyak kejadian ini menimpa pesawat di seluruh bandara. Beberapa dari itu bahkan berakhir nahas.

Ini Sejumlah Alasan Mengapa Anda Tidak Boleh Seenaknya Pindah Kursi di Dalam Pesawat

Resminya penumpang pesawat memang tidak diperbolehkan untuk bertukar kursi dalam penerbangan. Meski hal tersebut seolah ‘lazim’ terjadi dalam keseharian, terutama bertukar kursi antar anggota keluarga dan kerabat dalam satu penerbangan.

Baca juga: Disebut Lebih Aman, Mengapa Kursi Pesawat Tidak Menghadap ke Belakang?

Namun, hakikatnya penumpang akan lebih baik untuk tidak berpindah kursi. Yang menjadi pertanyaan tentu adalah, apa yang menjadi alasan larangan berpindah kursi?

Untuk hal di atas sebenarnya akan bergantung pada kebijakan maskapai. Dari rangkuman bahasan pada forum di quora.com, didapat beberapa poin yang menarik tentang alasan pelarangan berpindah kursi di pesawat.

Ada semua alasan standar, tetapi ada juga alasan yang lebih esoteris dan jarang dibicarakan. Untuk alasan standar seperti soal pesanan makanan pada penerbangan dengan pemesanan in-flight meal khusus. Kemudian ada alasan terkait distribusi berat. Yang disebut terakhir mungkin menjadi perhatian pada penerbangan pada pesawat ringan, sehingga faktor bobot per penumpang masih menjadi pertimbangan.

Ada lagi terkait alasan keamanan, seperti ada ketentuan khusus bagi penumpang yang duduk di kursi dekat exit (emergency) door. Masih terkait keamanan, identifikasi personal pada kursi juga akan memudahkan pengawasan bagi awak kabin pada penumpang yang berkebutuhan khusus.

Dalam penerbangan dengan maskapai full service dikenal istilah kelas ekonomi dan ekonomi premium. Meski sama-sama masuk golongan kelas ekonomi, keduanya berbeda harga, seperti ekonomi premium hadir untuk posisi kursi yang lebih nyaman dengan jarak kaki yang lebih luas. Bahkan beberapa maskapai memberikan bonus meal and drink di kelas ekonomi premium. Itu dia, mengapa meski berada di dalam kelas yang sama, Anda belum tentu diizinkan pindah kursi.

Lepas dari beberapa alasan di atas, kepatuhan penumpang duduk di kursi yang terdaftar, juga terkait dengan keperluan identifikasi pasca terjadinya musibah kecelakaan pesawat.

Baca juga: Awas! Bila Dapat Kursi Pesawat di Bawah Bagian Ini Atau Anda Bakal ‘Ketiban’ Awak Kabin

Tak bisa dipungkiri, beberapa insiden kecelakaan udara menjadikan identifikasi pada korban tewas sulit untuk dilakukan. Meski diperlukan bukti lain sebagai pembanding, identitas jenazah korban akan lebih cepat dikenali dari posisi tempat duduknya.

Mengapa Penumpang First Class Semakin Menurun? Ternyata Gegara Ini

Selama ini, penumpang pesawat umumnya mengetahui ada tiga jenis tiket, kursi, atau kelas penerbangan; kelas ekonomi, bisnis (business class), dan kelas satu (first class). Namun, seiring waktu, kursi first class semakin dan jauh berkurang dari tahun ke tahun. Lantas, kenapa penumpang termasuk juga kursi first class di setiap penerbangan menurun?

Baca juga: Layanan First Class Cathay Pacific Hilang dari Peredaran, Siapa yang Diuntungkan?

Maskapai di seluruh dunia diketahui menggunakan metrik yang disebut revenue per available seat mile (RASM) sebagai sebagai ukuran unit efisiensi. RASM diperoleh dari pendapatan operasional dibagi available seat miles(ASM). Umumnya, semain RASM semakin penerbangan maskapai semakin menguntungkan.

Banyak faktor yang menentukan nilai RASM dan variabel yang paling penting adalah pendapatan per kaki kubik area per mil atau revenue per cubic feet area per mile. Menurut pengguna Quora, berdasarkan bukti statistik yang ia dapatkan, maskapai mencapai best revenue efficiency di kelas bisnis, bukan kelas satu (first class) dan kelas ekonomi.

Ini juga yang menyebabkan belakangan ini hanya ada 12 dari 60 maskapai full service yang konsisten menawarkan ke penumpang kursi first class.

Kursi first class dinilai berhasil dalam membangun serta merawat brand value sebuah maskapai melalui experience yang didapat penumpang. Namun, di sisi lain, kursi first class gagal dalam hal efisiensi pendapatan (revenue efficiency).

Itu kenapa belakangan kursi first class semakin menghilang dari setiap penerbangan dan sulit ditemukan di banyak maskapai, terlebih di era industri maskapai yang seperti sekarang ini, dimana margin tipis mencapai atau kurang dari 5 (lima) persen, maskapai pastinya akan lebih memilih memperbanyak kelas bisnis dan kelas ekonomi yang terbukti membantu maskapai dalam mencapai revenue efficiency dan banyak diminati.

Dari perspektif penumpang, pengguna Quora lainnya mengaku lebih memilih kursi kelas bisnis dibanding first class. Ia dan keluarganya, yang berada di status sosial menengah ke atas atau dalam kaitannya dengan penerbangan mampu membeli kursi first class dan belum cukup uang untuk membeli pesawat jet pribadi, lebih memilih kursi kelas bisnis.

Di kursi kelas bisnis, mereka mendapat fasilitas lebih baik dari penumpang kursi kelas ekonomi meski tak lebih baik dibanding kursi first class. Poinnya adalah the most value of money atau yang paling menguntungkan penumpang bila dikalkulasi dari harga tiket dan fasilitas yang ditawarkan.

Disebutkan, harga tiket kursi kelas ekonomi menurutnya berada di kisaran 1.000 dolar AS. Kursi kelas bisnis 4.000 dolar AS. Sedangkan kursi first class berada di kisaran 8.000 – 15.000 dolar AS.

Baca juga: 7 Persamaan dan Perbedaan First Class dengan Business Class

Nyatanya, dengan 4.000 dolar AS kursi kelas bisnis, penumpang sudah bisa menikmati fasilitas yang cukup, seperti kursi private suite, hidangan lezat, akses lounge, service menawan, dan sebagainya.

Kalau dengan fasilitas tersebut penumpang sudah termanjakan, mengapa harus mengeluarkan uang lebih untuk kursi first class. Sebagian kecil penumpang mungkin tetap ingin mengeluarkan uang untuk kursi first class, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Itu kenapa dari tahun ke tahun ketersediaan kursi first class jauh berkurang di setiap penerbangan.

Hari Ini, 34 Tahun Lalu, Pesawat Ilyushin Il-96 Andalan Putin Terbang Perdana

Pada hari ini, 34 tahun yang lalu, bertepatan dengan 28 September 1988, pesawat Ilyushin-96 pesaing Airbus A340 terbang perdana. Sebagaimana pesawat buatan Rusia lainnya, Ilyushin Il-96 kurang populer di dunia. Meski begitu, pesawat tersebut saat ini menjadi andalan Putin dalam bepergian keliling dunia sebagai pesawat kepresidenan dengan kemampuan bertahan dari serangan rudal.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Dilansir aerospace-technology.com, program Il-96 pertama kali diumumkan pada tahun 1985. Desain pesawat ini merupakan modifikasi dari Il-86 dengan penambahan fitur-fitur baru seperti mesin dan peningkatan berat lepas landas, lebar sayap, kapasitas bahan bakar dan lainnya.

Sayap pesawat Il-96 merupakan sayap dengan desain supercritical airfoil atau wings. Sayap jenis ini disebut mampu menunda timbulnya hambatan gelombang dalam rentang kecepatan transonik. Dengan begitu, efisiensi bahan bakar dari permukaan sayap bisa tercapai.

Pesawat juga menggabungkan sistem kontrol fly-by-wire tripleks, yaitu sistem kontrol penerbangan canggih yang mengadopsi banyak komputer, layaknya pesawat kekinian. Il-96 juga dilengkapi sistem manajemen penerbangan (FMS), sistem navigasi satelit dan inersia serta sistem pencegah tabrakan antar pesawat di udara (CAS) yang berisi transponder mode S.

Ilyushin Il-96 mengusung empat mesin buatan dalam negeri, PS-90A dengan daya dorong 16.000kgf rilisan Perm Motors Holding.

Desain PS-90A adalah turbofan twin-spool, high-bypass-ratio turbofan dengan pencampuran aliran udara inti dan kipas. Mesin memiliki 11 modul, sistem peredam bising dan thrust reverser yang ada di saluran kipas. APU VSU-10-02 Ilyushin Il-96 merupakan buatan Baranov Manufacturing Union yang juga berbasis di Rusia.

Meski begitu, tak semua varian Il-96 menggunakan mesin dalam negeri. Diketahu, terdapat beberapa varian Il-96; Il-96-300, Il-96M, Il-96-400, Il-96-400M, Il-96T, dan Il-96-400T. Dua terakhir merupakan varian kargo dan sisanya adalah varian penumpang dengan kapasitas 235 dan 436 kursi dalam satu kelas. Adapun varian yang menggunakan mesin buatan asing, Pratt & Whitney PW 2337, adalah Il-96M dan Il-96T.

Sistem avionik pesawat menggunakan buatan dalam negeri yang sudah memenuhi standar ICAO. Meski begitu, pesawat juga dilengkapi dengan sistem avionik buatan Collins Aerospace asal Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Sedih! Prototipe Pesawat Teranyar Rusia Ilyushin IL-96-400M Nyaris Rampung, Tapi Sepi Peminat

Pesawat rancangan Sergey V Ilyushin dan diproduksi oleh Voronezh Aircraft Production Association tersebut, pada tahun 2009 silam ada sekitar 21 unit yang sudah beroperasi, dengan 12 unit lainnya dalam pemesanan.

Pesawat dengan masa pakai 20 tahun atau 20.000 pendaratan atau 60.000 jam terbang ini di antaranya digunakan oleh Rossiya Airlines, KrasAir, Iran Air, Atlant-Soyuz Airlines, Aeroflot, Cubana, Clean Air, Polet, dan lainnya, termasuk sebagai pesawat kepresidenan Rusia yang dipakai Vladimir Putin.

Turkish Airlines Batalkan Penerbangan ke Rusia dan Belarusia Sampai 2023, Warga Rusia Sulit Kabur?

Turkish Airlines dan anak usahanya AnadoluJet kembali membalkan penerbangan ke Rusia dan Belarusia sampai awal tahun 2023. Padahal sebelumnya, maskapai mengaku telah kehabisan tiket penerbanagn rute Moskow-Istanbul pasca pengumuman mobilisasi parsial oleh Putin beberapa hari lalu.

Baca juga: Putin Umumkan Mobilisasi Parsial, Penerbangan Internasional ke Luar Rusia Ludes Terjual Meski Naik 4 Kali Lipat

Sebelum perang Rusia dan Ukraina meletus pada 24 Februari 2022 lalu, maskapai nasional Turki tersebut mengoperasikan penerbangan penumpang ke dan dari Minsk, ibu kota Belarusia, kemudian Rostov, Sochi, dan Yekaterinburg di Rusia.

“Penerbangan kami dari dan ke Minsk (Belarus) telah dibatalkan hingga 31 Desember 2022, dari dan ke Sochi (Rusia), telah dibatalkan hingga 31 Desember 2022 dan dari dan ke Rostov (Rusia) telah dibatalkan hingga Desember 2022 serta dari dan ke Yekaterinburg (Rusia) telah dibatalkan hingga 31 Desember 2022,” tulis maskapai keterangannya.

“Penumpang yang penerbangannya dibatalkan dapat memperoleh manfaat dari hak yang ditentukan di halaman flight disruptions (pada web) dan melakukan transaksi mereka melalui call center, sales office, mobile app, dan situs web kami,” tutupnya.

Baca juga: Mau ke Rusia? Jangan Khawatir dari Indonesia ada Empat Maskapai Besar yang Siap Melayani

Selain itu, maskapai juga menjelaskan bahwa penumpang yang membeli tiket pesawat sebelum tanggal 24 Februari atau sebelum dimulainya perang Rusia dan Ukraina, diberikan keleluasaan untuk memilih additional reschedule atau refund mencakup perubahan rute secara gratis selama kelas kursinya sama dan pengembalian uang untuk tiket yang batal digunakan atau digunakan sebagian.

Bagi penumpang yang tetap ingin terbang dengan Turkish Airlines, bisa memperpanjang masa berlaku tiket terlebih dahulu sampai tanggal 21 Oktober 2022 tanpa biaya tambahan melalui call center, sales office, mobile app, dan situs web.

“Aturan ini hanya berlaku untuk penerbangan yang dioperasikan oleh Turkish Airlines dan AnadoluJet. Perubahan tiket dan pengembalian uang dapat dilakukan melalui situs web Turkish Airlines, call center, sales office, mobile app, dan agen tempat tiket dibeli,” jelasnya.

Pembatalan penerbangan Turkish Airlines ke Rusia dan Belarusia bukan baru pertama kali terjadi. Sebelumnya, saat perang Rusia dan Ukraina meletus pada 24 Februari, maskapai melakukan pembatalan besar-besaran ke dua negara tersebut.

Baca juga: Dokumen Bocor, Turki Ketahuan Tolak Mentah-mentah Latih Pilot Rusia

Pada bulan Juli, saat kondisi sudah sedikit mereda, maskapai mengumumkan perpanjangan masa pembatalan atau penundaan penerbangan ke Belarusia dan Rusia sampai 30 September mendatang, sebelum akhirnya ini kembali diperpanjang sampai awal tahun 2023 dan bukan tidak mungkin kembali diperpanjang andai situasi tak kunjung membaik.

Penundaan penerbangan Turkish Airlines ke Rusia dan Belarusia tentu saja membuat opsi atau kesempatan warga Rusia kabur ke ujung dunia untuk menghindari wajib militer via udara semakin menipis, menyisakan Emirates, Etihad, atau mungkin juga Qatar Airways yang masih aktif terbang sampai saat ini.