Apakah Dua Pilot Mutlak Diperlukan untuk Terbangkan Boeing 737? Apa Saja Tugas Kopilot?

Pesawat modern saat ini sudah sangat canggih. Kecanggihan di kokpit pada akhirnya membuat peran pilot-kopilot menjadi berkurang dan digantikan teknologi. Karenanya, banyak pertanyaan muncul, masihkah dua pilot mutlak diperlukan untuk menerbangkan pesawat semisal Boeing 737? Lantas, apa saja tugas kopilot?

Baca juga: Inilah Goose, Kopilot Digital Masa Depan! Bakal Disertifikasi Tahun 2022

Beberapa maskapai di dunia serius merealisasikan single pilot atau satu pilot. Saat ini tahapannya sudah mulai melobi regulator Eropa dan AS serta ICAO untuk merumuskan konsep single pilot atau satu pilot bersama manufaktur.

Kendati begitu, saat ini, menurut Air Line Pilots Association (ALPA) teknologi otomatisasi yang ada saat ini belum mampu mengalahkan kinerja manusia – dalam hal ini adalah seorang pilot atau kopilot.

Lebih lanjut, sampai teknologi otomatis dapat memberikan tingkat kesadaran situasional, komunikasi, dan penilaian yang sama dengan manusia, dua pilot di dalam kokpit akan tetap menjadi kebutuhan utama dalam dunia penerbangan untuk mencapat keselamatan yang maksimal.

Keberadaan dua pilot ini bisa dibilang sudah paling ideal untuk mengoperasikan jalur udara – mengingat tugas ko-pilot yang didaulat sebagai ‘cadangan’ ketika sang pilot mengalami kesulitan atau kejadian di luar dugaan (sakit, hilang kesadaran, dan lainnya). Singkatnya, dua pilot di kokpit dalam menerbangkan pesawat adalah mutlak, karena tidak mungkin hanya satu pilot atau lebih dari itu tiga pilot.

Itu baru dari segi teknis, belum lagi dari segi kenyamanan penumpang yang mungkin akan sedikit was-was ketika mendengar pesawat yang ditumpanginya itu hanya dioperasikan oleh satu pilot saja. Bukan tidak mungkin apabila stigma, “Nanti kalau pilotnya mengalami kendala, siapa yang akan mengendalikan pesawat?” seperti ini akan muncul di benak masing-masing penumpang.

Secara teknis, menurut pilot salah satu maskapai, Raymond St Steven, seperti dikutip dari Quora, sebetulnya dalam lingkungan pengujian satu pilot sudah cukup untuk menerbangkan pesawat, dalam artian menjalankan peralatan dan perlengkapan di kokpit dari terbang sampai mendarat.

Tetapi di dunia nyata, kondisinya jauh berbeda. Terdapat banyak tantangan dan kondisi yang mesti disiasati dan itu tidak mungkin dilakukan dengan konsep single cockpit atau satu kokpit atau satu pilot.

Tantangan dan kondisi yang mesti disiasati termasuk landing approach di bandara yang sibuk, traffic tinggi, cuaca buruk, frekuensi radio yang padat, kerusakan sistem, dan banyak lainnya. Itu mustahil dilalui hanya dengan seorang pilot. Sedang dua pilot saja berbagai kondisi tersebut tetap menimbulkan kecelakaan, apalagi satu pilot di kokpit.

Kopilot sendiri memiliki beberapa peran dalam penerbangan. Saat lepas landas, kopilot biasanya diposisikan sebagai pilot monitoring. Sebagai pilot monitoring, tugasnya hanya memback-up pilot dengan posisi tangan sudah memegang throttle.

Baca juga: Sederet Kasus Ini Bikin Ide Penerbangan Satu Pilot di Kokpit Jadi Horor

Andai pilot incapacitated (pilot incapacitation) atau kondis darurati dimana pilot tak bisa menangani pesawat, maka kopilot bisa segera mengambil alih pesawat dan mengambil keputusan, entah rejected atau lanjut untuk kemudian return to base (RTB).

Saat cruising di udara, kopilot juga akan diposisikan sebagai pilot monitoring. Tugasnya membantu pilot berkomunikasi dengan kontrol lalu lintas udara, memantau mesin serta parameter lainnya dan mengecek semua tindakan pilot yang terbang.

Apa Itu Tes ‘Rendam’ Dingin Ekstem pada Pesawat dan Mengapa Diperlukan?

Sebelum dinyatakan aman, dijual, dan digunakan maskapai mengangkut penumpang, pesawat melewati rangkaian tes panjang dan melelahkan. Salah satunya apa yang disebut tes ‘rendam’ dingin ekstrem. Lantas, apa itu tes ‘rendam’ dingin dan mengapa itu diperlukan?

Baca juga: Inilah Lima Rangkaian Tes Ekstrem untuk Pastikan Pesawat Aman

Pesawat suka tidak suka bakal menemui suhu dingin ekstrem baik saat di udara maupun di darat. Di udara, pesawat terbang di ketinggian 30-40 ribu kaki dengan suhu mencapai  -68 sampai -76 derajat celcius.

Di darat, pada musim dingin, negara-negara di utara bumi bisa mencapai suhu -40 derajat atau lebih. Di beberapa wilayah bahkan suhunya mencapai -70 derajat celcius. Saat di udara, suhu sedingin itu tidak menjadi soal karena seluruh komponen pesawat tengah bekerja.

Namun, saat di darat, ketika pesawat diparkir di apron, suhu sedingin itu dikhwatirkan membuat sistem tak berfungsi baik. Karenanya, sebelum menghadapi itu, pesawat perlu dites dengan kondisi yang semirip mungkin dengan aslinya atau kemungkinan suhu yang bakal dihadapi pesawat. Tes ini disebut dengan tes ‘rendam’ dingin.

Dilansir Simple Flying, tes rendam dingin umumnya dilakukan untuk menguji ketahanan atau keandalan peralatan teknis, seperti kontrol penerbangan (flight control), roda pendaratan, mesin, dan kabin penumpang, serta lainnya.

Biasanya, ada dua jenis tes rendam dingin (cold soak tests) yang dilakukan; tes turnaround dan tes night stop. Metode pengujiannya pun ada dua, di luar ruangan (biasanya di wilayah Kanada bagian utara) atau di dalam ruangan atau hanggar yang memiliki sistem pengaturan suhu mencapai -40 derajat celcius.

Pada tes turnaround, pesawat didiamkan di ramp atau di apron dengan kondisi seluruh sistem tidak beroperasi, seolah-olah pesawat sudah menurunkan dan menaikkan penumpang serta mendapat maintenance. Durasi tes tergantung jenis pesawat. Pada pesawat narrowbody, tes berlangsung sekitar satu jam. Sedangkan pada pesawat widebody, tes berlangsung sampai beberapa jam.

Selama tes turnaround, pesawat dibiarkan membeku di tengah suhu antar -40 derajat sampai -50 derajat celcius untuk menguji seberapa andal sistem pesawat. Semua pintu penumpang dan kargo dibuka dan ditutup.

Sistem portable water and waste dioperasikan sesuai dengan SOP. Begitu juga dengan Auxiliary Power Unit (APU) atau Ground Power Unit (GPU), ini dtetap dioperasikan untuk menguji sistem AC apakah tetap berfungsi selama pengujian berlangsung.

Dibanding tes turaround, tes night-stop jauh lebih sulit, ekstrem, dan memakan waktu. Sesuai namanya, tes ini mensimulasikan pesawat bermalam di tengah kondisi dingin membeku di bandara.

Mengingat tes dilakukan di tengah suhu ekstrem, peran manusia menjadi terbatas dan karenanya perlu dipersiapkan sedimikian rupa dengan bantuan mesin dan teknologi agar tes berjalan lancar dan data-data berharga didapat.

Selama pengujian, baterai dilepas dan ditempatkan di tempat yang hangat. Critical fluid dikeringkan, dan pipa aliran dibersihkan untuk mencegah akumulasi es atau endapan yang tidak diinginkan. Bagian dan bukaan penting ditutupi dengan alat pelindung.

Baca juga: Begini Proses Sertifikasi Pesawat Baru, Panjang dan Mahal

Aliran listrik diputus untuk peralatan teknis dan sistem yang tidak memerlukan restart. Beberapa dari sistem ini adalah AC, listrik kabin, dan limbah air. Di akhir tes night-stop, semua sistem dihidupkan dan dilihat fungsinya apakah seperti biasa atau terdapat perubahan.

Setelah tes dilakukan, pemeriksaan menyeluruh pun dilakukan untuk mengidentifikasi kebocoran cairan, malfungsi, atau ambiguitas dalam fungsionalitas sistem. Andai dinyatakan lolos dua tes di atas, sebuah pesawat sudah selangkah lagi menuju tes sertifikasi.

Apa yang Terjadi Jika Kaca Kokpit Pesawat Pecah Saat di Tengah Penerbangan?

Pesawat merupakan moda transportasi paling aman di dunia. Kemungkinan pesawat mengalami kecelakaan adalah 1 : 1,2 juta perjalanan dan kecelakaan fatal 1 : 11 juta. Tentu dengan catatan seluruh kondisi dalam keadaan normal. Dalam kondisi darurat, seperti kaca kokpit pecah di tengah penerbangan, apa yang akan terjadi? Apakah pesawat akan jatuh seketika atau seperti apa?

Baca juga: Kaca Depan Retak Saat di Udara, Pesawat Air New Zealand Mendarat Darurat di Hong Kong

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu diketahui bahwa kaca kokpit pesawat (cockpit windshield atau biasa juga disebut aircraft windshield) memiliki ketebalan yang tak terlalu besar, berkisar 1-3 inchi atau empat kali lipat ketebalan kaca mobil.

Kaca yang digunakan pun nilainya bukanlah yang tertinggi. Kita tahu, dari piramida klasifikasi kaca –berdasarkan kemampuan menahan tekanan- kaca laminated, merupakan jenis kaca dengan grade tertinggi.

Di bawahnya, ada kaca tempered, kaca reflektif, kaca es, kaca warna, dan kaca bening atau kaca pada umumnya. Dari jenis-jenis kaca di atas, pesawat tergolong menggunakan kaca jenis tempered, dengan beberapa modifikasi kaca. Namun, lagi-lagi, tergantung jenis pesawat. Adapun jenis kaca tempered digunakan di pesawat-pesawat Boeing, seperti 737, 747, dan 787.

Kaca depan pesawat atau cockpit windshield nampak retak akibat benturan dengan objek asing. Foto: Reddit

Mengingat tekanan besar di udara, kaca kokpit pesawat atau biasa juga disebut flight deck windshields umumnya memiliki tiga lapis. Lapis pertama, kaca depan pesawat terbuat dari campuran kaca dan akrilik. Keduanya disatukan dengan teknik glass frit bonding, juga disebut sebagai solder kaca atau seal glass bonding. Jadi, pada intinya, teknik ini memadukan lapisan luar kaca dengan akrilik yang direnggangkan.

Lapis kedua, kaca depan pesawat terbuat dari urethane, termasuk jenis dari polimer yang lumrah dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan plastik. Sedangkan dilapis terakhir, atau di bagian dalam, kaca depan pesawat terbuat dari akrilik, dengan ketebalan yang sudah kami jelaskan di atas, 1-3 inchi.

Baca juga: Kena Dekompresi Eksplosif, Dua Boeing 737-300 Southwest Airlines Alami Perbedaan Nasib

Meskipun terdengar tak lebih kuat dibanding jenis kaca tempered, namun, komposisi akrilik dan polimer rupanya memiliki andil besar, bukan hanya dalam menahan tekanan besar dari luar, melainkan juga menahan benturan keras yang terjadi oleh objek tak dikenal, seperti misalnya bird strike.

Dengan andil lapisan akrilik dan polimer dan tentu saja gabungan dari keduanya, kaca depan pesawat mampu menahan benturan seberat empat pon saat pesawat mencapai di kecepatan 370 mph. Ketika benturan terjadi, kaca depan pesawat tak langsung pecah berkeping-keping layaknya piring pecah.

Sepanjang sejarah penerbangan, insiden kaca kokpit pesawat pecah atau meledak saat tengah mengudara pernah terjadi. Salah satunya menimpa pesawat BAC 1-11 British Airways flight 5390 pada 10 Juni 1990.

Ketika itu, kaca depan pesawat pecah saat di ketinggian sekitar 17.300 kaki, tepat di langit Didcot, Oxfordshire, Inggris. Apa yang selanjutnya terjadi? Pesawat ternyata tidak langsung jatuh dan kecelakaan.

Pesawat diketahui mengalami kondensasi (berkabut) serta dekompresi eksplosif, dimana udara dari luar menarik semua yang ada di dalam kokpit, termasuk sang pilot-kopilot. Kopilot saat itu masih menggunakan seatbelt tanpa direnggangkan, sedangkan pilot sempat merenggangkan seatbelt. Karenanya, ia nyaris terlempar ke luar pesawat.

Baca juga: Hari ini, 31 Tahun Lalu, Pilot British Airways Selamat Setelah 22 Menit Berjuang Melawan Dekompresi

Disebutkan, kepala dan leher serta setengah badan kapten pilot Timothy Lancaster sudah berada di luar jendela atau kaca depan pesawat yang pecah. Beruntung, seatbelt masih menahannya. Kaki dan setengah badannya kemudian dipegang erat oleh pramugara Nigel Ogden. Adapun kopilot Alastair Atchison mengambil kendali pesawat.

Ia dengan sigap menurunkan ketinggian pesawat untuk mengurangi dekompresi eksplosif dan dengan hati-hati mendaratkan pesawat seorang diri selama kurang lebih 22 menit sejak kaca kokpit meledak.

Sembunyi di Bilah Kemudi Kapal Tanker, Tiga Penumpang Gelap Selamat dalam Pelayaran 11 Hari dari Nigeria ke Spanyol

Terdengar ‘ajaib’ pada kasus penumpang gelap yang bertengger di ruang roda pesawat, mencerminkan aksi nekat tapi juga mengundang salut karena keberanian yang luar biasa dari pelakunya. Tapi itu di udara, bagaimana dengan aksi serupa tapi di lautan? Belum lama ini diwartakan tiga pria selamat dari perjalanan 11 hari dengan bertengger di atas bilah kemudi (rudder blade) kapal tanker, dalam perjalanan dari Nigeria ke Kepulauan Canary di Spanyol.

Baca juga: Delapan Kisah Penumpang Gelap Sembunyi di Roda Pesawat, Empat Di Antaranya WNI

Dikutip dari washingtonpost.com (29/11/2022), Penjaga Pantai Spanyol mengatakan pada hari Senin lalu, ketiga penumpang gelap, mengangkangi sepotong logam sempit pada rudder blade pada kapal tanker Alithini II yang berbendera Malta.

Kapal tanker itu meninggalkan Lagos, Nigeria, pada 17 November 2022. Menurut situs pelacakan kapal Marine Traffic. Kapal tanker itu tiba Senin malam di Las Palmas, Gran Canaria — salah satu Kepulauan Canary Spanyol, yang terletak di lepas pantai Afrika Utara. Jarak antar kedua pelabuhan itu terpisah hampir 3.000 mil.

Dalam sebuah foto yang dibagikan oleh penjaga pantai Spanyol di Twitter, ketiga pria itu duduk di bagian kemudi kapal yang menonjol dari air, punggung mereka bersandar di lambung kapal.

Sebuah kapal penyelamat penjaga pantai menjemput orang-orang itu dan membawa mereka ke pelabuhan Las Palmas untuk dirawat oleh layanan kesehatan. Para penyintas berasal dari Nigeria, kata delegasi pemerintah Spanyol di Kepulauan Canary kepada Associated Press. Salah satunya masih dirawat di rumah sakit.

Lebih dari 165.000 migran gelap dari Afrika, yang banyak dari mereka mencari suaka, telah tiba di Eropa tahun ini, jumlah tertinggi sejak 2017, ketika tercatat 187.499, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi.

Hampir 30.000 migran telah tiba di Spanyol pada tahun 2022, menurun dibandingkan beberapa tahun terakhir, menurut data dari UNHCR, badan pengungsi PBB. Lebih dari 14.000 di antaranya telah mendarat di pantai Kepulauan Canary, sering kali dengan perahu reyot yang penuh sesak.

Baca juga: Sembunyi di Roda Pendaratan Pesawat, Penumpang Gelap Asal Guatemala Ditangkap di AS

Pandemi dan penutupan perbatasan mendorong pencari suaka dan migran untuk mengambil rute yang lebih berbahaya dari Afrika ke Eropa, banyak di antaranya dengan bantuan penyelundup. Hampir 2.000 orang tewas tahun ini di rute maritim Mediterania dan barat laut Afrika saat mereka berusaha mencapai Eropa.

Iseng-iseng Berhadiah, Kasih Nama Patung Flamingo Raksasa di Bandara Dapat Banyak Gratisan

Penumpang atau masyarakat umum terkadang dilibatkan oleh pelaku industri penerbangan. Airbus pernah mengadakan sayembara desain A350F ke masyarakat. Bonza, maskapai pendatang baru, mengajak partisipasi penumpang memberikan nama pesawat pertamanya. Terbaru, Bandara Internasional Tampa mengajak penumpang memberi nama baru untuk patung Flamingo raksasa.

Baca juga: Jewel Changi, Berawal dari Ide Tempat Parkir Kini Menjadi Taman Spektakuler Dalam Ruangan

Seiring waktu, bandara-bandara di dunia berhias agar menarik hati dan menghibur penumpang. Bandara Changi, misalnya, menginvestasikan jutaan dolar untuk membangun Jewel Changi atau Jewel Changi Airport dan menjadikannya sebagai salah satu ikon bandara.

Jewel Changi Airport merupakan kubah kaca ikonik yang di dalamnya ada hutan hujan empat lantai yang disebut hutan lembah subur, area duduk pengunjung yang sejuk karena ada dua ribu pohon dan seratus ribu semak disekitarnya.

Daya tarik tertinggi yang sekaligus menjadi ikon Jewel Changi Airport sendiri adalah Rain Vortex, air terjun indoor tertinggi di dunia. Ditingkat atas ada Canopy Park dimana jembatan kaca, labirin hedge, bunga yang dipicu sensor gerak agar mekar ketika pelancong berjalan dan Skynet yang bisa digunakan untuk bersantai.

Kolam renang di puncak gedung, bioskop, instalasi seni kinetik, taman bunga matahari, seluncuran raksasa tertinggi di dunia yang ada di bandara, taman kupu-kupu hingga food court bisa membuat setiap traveler ataupun warga Singapura yang mengunjungi Changi bersama keluarganya nyaman.

Bandara Internasional Tampa memang tidak sampai semewah Bandara Changi dengan Jewel Changi Airport-nya. Tetapi, bandara tersebut sudah berupaya menghadirkan patung Flamingo unik yang seolah sedang mencari mangsa dengan kepala seolah berada di bawah air.

Diresmikan pada Maret tahun ini, patung Falmingo raksasa itu dengan cepat menjadi ikon terminal utama bandara dan menjadi titik pertemuan penumpang.

Sejak diresmikan, patung Flamingo raksasa setinggi 21 kaki karya seniman Matthew Mazzotta ini dikenal sebagai “HOME”. Namun, baik seniman maupun pihak bandara sepakat harus ada nama baru yang lebih cocok untuk patung burung Flamingo raksasa itu.

Menariknya, seniman dan pihak bandara tak ingin memutuskannya sendiri dan sebaliknya, melibatkan penumpang atau masyarakat untuk memberikan nama ke patung tersebut melalui sebuah sayembara.

Dilansir Simple Flying, sayembara nama burung  Flamingo di Bandara Tampa sudah dimulai sejak 29 November sampai 6 Desember mendatang. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada tanggal 16 Desember mendatang.

Baca juga: Bantu Relaksasi Para Pelancong, Bandara Helsinki Tawarkan Pengalaman Hutan yang Unik

Rulesnya bisa dibilang mudah. Masyarakat hanya perlu memikirkan nama yang paling cocok, mudah diingat, dan elegan, maksimal 75 kata. Pemenang yang beruntung akan mendapatkan sejumlah hadiah, mulai dari tiket pesawat PP, satu paket wisata, voucher makan gratis, dan lainnya.

Sayangnya, sayembara tersebut hanya berlaku untuk warga negara Amerika Serikat (AS). Namun, bagi Anda yang ingin berpartisipasi, kalian bisa menitipkan ide nama tersebut ke rekan atau kenalan yang berada di AS dan merupakan warga negara AS.

Korean Air Ternyata Pelanggan Terlama Airbus di Luar Eropa, Kini Terima A321neo Pertamanya

Korean Air telah menerima pengiriman Airbus A321neo pertamanya. Pengiriman ini menjadikan Korean Air sebagai operator baru dari keluarga pesawat A320. Pesawat A321neo Korean Air menampilkan kabin baru yang diberi label Airbus Airspace, menghadirkan suasana premium pesawat berbadan lebar ke pasar pesawat lorong tunggal (narrow body).
Secara keseluruhan, Korean Air memesan 30 unit A321neo. Ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney GTF, A321neo dapat menurunkan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon sebesar 25 p per kursinya dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya di kategori yang sama.
Korean Air menjadi maskapai pertama di Asia yang menerima pengiriman A321neo dengan kabin Airspace lengkap. Kabin Airspace menampilkan sistem pencahayaan dan suasana baru, kabin di atas kepala yang lebih besar, serta konektivitas sepanjang perjalanan yang menghasilkan tingkat kenyamanan yang tinggi untuk para penumpang. Kabin Airspace juga menawarkan ruang higienis dan permukaan antimikroba di semua toilet.
Suasana di kabin baru Airbus di bawah program Airspace by Airbus, sangat nyaman dan ramah keluarga. Foto: Airbus
Untuk armada A321neo-nya, Korean Air telah menetapkan tata letak dua kelas kursi dengan kenyamanan tinggi, terdiri dari delapan kursi full-flat di Kelas Bisnis dan 174 kursi di Kelas Ekonomi.
Kabin baru A320. Foto: Airbus
Korean Air merupakan pelanggan terlama Airbus dari luar Eropa yang melakukan pemesanan pertamanya pada tahun 1974. Armada maskapai saat ini mencakup 50 pesawat Airbus, yang terdiri dari A220, A330 dan A380. Di segmen narrow body, A321neo akan melengkapi armada A220 Korean Air, memungkinkan fleksibilitas dalam operasional secara maksimal.
Pada akhir Oktober 2022, Keluarga A320neo telah menerima lebih dari 8.500 pesanan dari lebih dari 130 pelanggan di seluruh dunia.

Norse Atlantic Luncurkan Kelas Kursi Baru, Rute Paris-New York Hanya Rp6 Juta

Persaingan di pasar penerbangan sipil rute Paris-New York makin ketat usai Norse Atlantic memperkenalkan kelas kursi baru yang dinamakan ekonomi light. Dengan itu, maskapai LCC jarak jauh itu menjadi maskapai LCC pertama yang menawarkan tiket penerbangan murah antara Bandara Charles de Gaulle Paris (CDG) ke Bandara John F. Kennedy New York (JFK), dengan hanya US$385 atau Rp6 juta.

Baca juga: Perkenalkan Business Light, Jenis Tiket Baru di Pesawat, Traveler Wajib Coba!

Meski berstatus sebagai pendatang baru atau debutan, mengingat maskapai ini baru beroperasi pada bulan Februari 2021 lalu, sepak terjang Norse Atlantic tidak bisa dipandang remeh.

Antara bulan Juni dan Oktober tahun ini, sudah ada 220 ribu penumpang yang dilayani maskapai. Cenderung kecil memang dibanding maskapai besar, tetapi untuk ukuran debutan dan mengambil segmen LCC jarak jauh, itu cukup menjanjikan.

Melanjutkan tren tersebut, maskapai pun memutuskan membuka rute Paris CDG – New York JFK  yang memang terkenal sebagai rute gemu mulai 26 Maret mendatang, menggunakan pesawat widebody Boeing 787 Dreamliner.

Norse Atlantic tergolong berani turut bersaing di rute tersebut. Sebelumnya, sudah lebih dahulu ada deretan maskapai besar dengan reputasi tinggi, seperti Air France, American, Delta, dan JetBlue.

Akan tetapi, dari empat maskapai tersebut, tidak satupun yang menjual tiket murah khas LCC. JetBlue sebetulnya memang berstatus sebagai LCC, tetapi, faktanya di rute tersebut maskapai menjual tiket cukup mahal. Itu sebab, Norse Atlantic hadir dan berani bersaing dengan keempatnya.

Dilansir Simple Flying, Norse Atlantic Airways menawarkan harga tiket paling rendah sebesar US$385 atau Rp6 juta. Kelas kursi dengan tarif semurah itu disebut sebagai ekonomi light. Mengingat harganya cukup murah, tentu saja fasilitas yang didapat cukup terbatas, tetapi dianggap cukup untuk kebutuhan penumpang, khususnya backpacker.

Penumpang yang duduk di kursi kelas ekonomi light hanya mendapatkan fasilitas berupa bagasi jinjing atau hand luggage yang diletakkan di bawah kursi dan hiburan. Penumpang harus mengeluarkan sejumlah uang untuk fasilitas tambahan.

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Ini Tips Mendapatkan Upgrade Kelas Kursi Secara Gratis dari Pramugari!

Fasilitas tambahan yang bisa didapat berupa bagasi hand luggage seberat 10kg yang bisa diletakkan di kompartemen bagasi seharga US$35, bagasi kargo antara US$60 – US$170, pesan kursi dengan extra legroom seharga US$25 – US$170, dan meals mulai dari US$20 – US$30, check-in prioritas US$20, boarding prioritas US$15, dan lainnya.

Bagi penumpang yang ingin mendapat paket bundling dengan fasilitas lebih dari kelas kursi ekonomi light, terdapat dua kelas kursi lainnya; ekonomi classic dengan harga US$585 dan ekonomi plus seharga US$945. Cukup murah , bukan?

Hari Ini, 18 Tahun Lalu, Kecelakaan Pesawat MD-82 Lion Air di Solo Tewaskan 26 Orang

Pada hari ini, 18 tahun lalu, bertepatan dengan 30 November 2004, pesawat McDonnell Douglas MD-82 dengan nomor penerbangan JT 538 mengalami kecelakaan di Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah akibat overrun. Sedikitnya, 26 orang tewas, 55 orang luka berat, dan 63 orang luka ringan dalam kecelakaan ini.

Baca juga: 10 Kecelakaan di Bandara Sultan Hasanuddin, Lion Air Penyumbang Terbanyak

Dihimpun dari berbagai sumber, sejak awal berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pesawat Lion Air dengan nomor registrasi PK-LMN tujuan Bandara Internasional Juanda, Surabaya, via Bandara Adi Sumarmo, Solo, dengan membawa 146 penumpang dan tujuh kru itu sudah diguyur hujan lebat.

Puncaknya terjadi saat pendaratan transit. Pada pukul 18.15 WIB, menurut kesaksian korban selamat, pesawat mendarat disertai hujan lebat, petir, dan angin kencang. Tidak adanya Standing Water Detector (SWD) atau alat pendeteksi tingginya genangan air di runway bandara tersebut membuat pendaratan jadi berbahaya.

Benar saja, pendaratan itu pun berakhir nahas. Pesawat mengalami hydroplaning berujung overrun, keluar landasan, dan masuk ke sawah di bandara sebelum akhirnya berhenti di pemakaman penduduk di Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak.

Badan pesawat akhirnya patah di tengah, tepatnya di bagian tulisan ‘Lion’ dan membuat pesawat dari tengah hingga depan pesawat hancur.

Sebagai informasi, menurut ICAO, genangan air tertinggi adalah 4 milimeter dan tidak boleh lebih dari 25 persen di area runway yang tergenang. Lebih dari itu, keselamatan penerbangan akan sangat dipertaruhkan.

Berdasarkan hasil penyelidikan Tim Investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), penyebab pesawat Lion Air tergelincir adalah hydroplaning atau sebuah kondisi pengereman yang tidak sempurna akibat adanya pemantulan pesawat dari permukaan landasan yang basah atau tergenang.

Ketua KNKT ketika itu, Kapten Ertata Lananggalih mengatakan, kecelakaan pesawat itu lantaran fungsi sistem pendaratan pesawat yang tidak optimal ditambah cuaca buruk.

Lantaran landasan pacu yang tergenang air, menurutnya membuat pesawat tergelincir dan tidak dapat dikendalikan dan mengalami overshoot/overrun atau meluncur keluar landasan dan berujung berhenti di pemakaman umum sekirar bandara.

Baca juga: Hari Ini, MD-90 Lion Air Tergelincir Gegara Pilot ‘Berburu’ Bonus dan Paksakan Pendaratan

Selain itu, tertutupnya panel perusak gaya angkat dibagian sayap (Spoiler) dan pintu pembalik arah gaya dorong mesin (Reverser) juga menjadi penyebab kecelakaan. Hal itu ditambah aktivitas awan di sekitar bandara telah menyebabkan timbulnya angin buritan sebesar 13 knots yang mengakibatkan bertambahnya jarak meluncur pesawat saat mendarat.

Sementara itu, menurut Ertata, penyebab banyaknya korban yang meninggal atau luka berat yang menimpa penumpang di kursi depan atau kursi nomor 1-11 adalah karena tertabraknya fondasi antena localizer di daerah Runway End Safety Area (RESA) pada lokasi 140 meter dari ujung landasan pacu. Sehingga bagian depan pesawat terkoyak.























Gandeng easyJet, Rolls-Royce Sukses Uji Coba Mesin Pesawat Bertenaga Hidrogen

Rolls-Royce dilaporkan sukses menguji coba mesin berkode AE 2100 bertenaga hidrogen belum lama ini. Mesin turboprop AE 2100 dan mesin jet Pearl 15 yang selurunya menggunakan bahan bakar hidrogen terbukti mampu menerbangkan pesawat sekalipun masih dalam kecepatan rendah. Uji coba tersebut diketahui merupakan bagian dari kerja sama dengan maskapai asal Inggris, easyJet.

Baca juga: 2023 Pesawat Falcon 50 Berbahan Bakar Amonia Terbang Perdana, Tantang Pesawat Hidrogen Airbus?

Pada bulan September lalu, Rolls-Royce kedapatan mempresentasikan mesin uji AE 2100 berbahan bakar hidrogen dalam gelaran konferensi maskapai (easyJet) tentang roadmap to net zero aviation. Belakangan, BBC International melaporkan itu telah sukses dilakukan.

“Biasanya, kami menggunakan bahan bakar minyak tanah. Minyak tanah adalah hidrokarbon dan karena itu menghasilkan karbon dioksida saat dibakar. Keindahan melihat bahan bakar seperti hidrogen adalah bahwa ia tidak mengandung karbon apa pun dan, oleh karena itu, ketika dibakar, ia tidak menghasilkan CO2,” jelas Direktur teknologi kedirgantaraan Rolls-Royce, Alan Newby.

Sementara itu, Chief Operating Officer easyJet, David Morgan, mengungkapkan, pihaknya sempat melirik teknologi pesawat listrik bebasis baterai sebagai solusi mencapai penerbangan nol karbon atau bebas karbon atau bebas emisi di masa depan.

Akan tetapi, itu dianggap tidak cocok dengan pesawat komersial, baik narrowbody maupun widebody, seperti yang diterbangkan maskapai penerbangan pada umumnya.

Baca juga: Alasan Boeing Pesimis Hidrogen Sebagai Bahan Bakar: Tangki Bahan Bakar Lebih Besar dari Kabin

“Kami melihat teknologi baterai, dan cukup jelas bahwa teknologi baterai mungkin tidak akan melakukannya untuk pesawat komersial besar yang kami terbangkan. Kami sampai pada kesimpulan bahwa hidrogen adalah proposisi yang sangat menarik bagi kami,” ujarnya.

Terpilihnya hidrogen menjadi bahan bakar berkelanjutan memang tidak mudah. Boeing bahkan bukan hanya meragukan hidrogen tetapi juga menolaknya karena dianggap kompleks.

Agar bisa menjadi sumber penggerak mesin, hidrogen diubah terlebih dahulu menjadi cairan dengan cara didinginkan hingga -253C. Tak berhenti sampai di situ, hidrogen cair perlu diubah kembali menjadi gas agar bisa menggerakkan mesin.

Selain itu, hidrogen cair membutuhkan ruang sekitar empat kali lipat volume minyak tanah yang sama, sehingga diperlukan tangki dan sistem bahan bakar baru yang tentu saja lebih besar.

Baca juga: Inilah Rolls-Royce UltraFan, Mesin Pesawat Terbesar di Dunia, 100 Persen Ramah Lingkungan

Hidrogen sendiri terbagi menjadi tiga jenis, abu-abu, biru, dan hijau. Dua jenis pertama, ini terbuat dari bahan bakar fosil seperti gas bumi atau batu bara. Bedanya, bila dalam proses produksi hidrogen abu-abu, emisi karbon atau CO2 langsung dilepas ke udara, emisi CO2 dalam proses produksi hidrogen biru ditampung di sebuah wadah sehingga jejak karbonnya lebih sedikit.

Akan tetapi, hidrogen hijau berbeda dari keduanya. Ini diproduksi dari air, termasuk matahari dan angin. Hanya inilah jenis hidrogen yang bisa disebut berkelanjutan. Air diurai menjadi oksigen dan hidrogen, dengan bantuan listrik yang bersumber dari energi angin atau matahari. Hidrogen jenis inilah yang menjadi bahan bakar mesin AE 2100 Rolls-Royce.

Terjang Hujan Es, Airbus A330-300 Saudia Rusak Parah Saat Mendarat di Jeddah

Buntut dari cuaca buruk yang melanda kota Jeddah pada 24 November 2022 lalu, rupanya ikut berdampak ke dunia penerbangan. Persisnya, sebuah Airbus A330 milik Saudi Arabian Airlines (Saudia) mengalami kerusakan pada kerucut hidung dan kaca depan kokpitnya setelah terkena hujan es saat mendekati Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah.
Airbus A330-300 dengan registrasi SV-452 dan kode penerbangan HZ-AQ25 mendekati Jeddah dari Khartoum di Sudan. Menyusul hujan lebat dan badai es dahsyat di Jeddah, penerbangan HZ-AQ25 memasuki ‘zona tunggu’ di ketinggian sebelum mendarat untuk menunggu cuaca membaik.
Awak pesawat itu awalnya mencoba mendekat, namun, mereka naik kembali ke ketinggian 19.000 kaki dan bersiap untuk pendekatan lain. Penerbangan HZ-AQ25 akhirnya mendarat pada pendekatan keduanya, tetapi mengalami hujan es dan turbulensi yang parah.
Penerbangan HZ-AQ25  mendarat dengan selamat pada pukul 11:14 waktu setempat, atau sekitar 45 menit setelah memasuki zona tunggu pertama. Normalnya, penerbangan dijadwalkan berangkat dari Khartoum pukul 04:15 dan tiba di Jeddah pukul 07:00.
Tidak ada yang terluka dalam insiden itu, namun pesawat Airbus Saudia dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat hujan es.