Ada Tanda Unik Ditepi Trotoar Jalanan Kota Kyota, Ternyata Punya Filosofi Tersendiri bagi Warganya

Pernah menjadi ibu kota Jepang selama lebih dari 1.000 tahun, Kyoto dikenal sebagai kota budaya yang menjadi terget kunjungan para pelancong mancanegara. Dan di antara keindahan kuil-kuil di Kyoto, ada yang unik di seputaran tanda yang ada di trotoar jalan kota tersebut. Tanda yang satu ini terbilang unik, lantaran ditempatkan ditepi jalan dan dirancang dengan material yang sebagian transparan pada bagian tengahnya. Tanda apakah itu?

Baca juga: Meski Jepang Sudah Terbuka untuk Wisman, Anda Perlu Isi Aplikasi ini Sebelum Naik Pesawat

Dikutip dari soranews24.com (16/10/2022), jika Anda melihat tanda di trotoar yang memiliki jendela bening di dalamnya, maka wajar bila Anda berasumsi bahwa itu adalah untuk merekomendasikan sudut yang sempurna untuk melihat situs yang memiliki makna sejarah atau keindahan yang elegan di Kyoto.

Namun, dugaan Anda keliru, tanda tersebut tidak dirancang untuk mendorong Anda berhenti dan meluangkan waktu sejenak untuk menikmati estetika indah di Kyoto. Yang benar adalah, tanda tersebut dihadirkan sebagai bagian dari komponen karakteristik utama dari budaya Kyoto, yakni pengingat yang halus namun tajam, tentang sopan santun pada warganya.

Seperti yang ditunjukkan dalam tweet dari akun Twitter Jepang @Okuda_D_Orugu, pada jendela tanda itu menghadap ke aspal jalan Shijo-dori di pusat kota Kyoto, dan teks di sebelahnya berbunyi:

“Taksi yang bisa Anda lihat melalui jendela ini diparkir secara ilegal.”

Parkir dan berhenti dilarang di bagian jalan ini, dekat persimpangan Shijo Kawaramachi. Namun, karena ini adalah bagian tersibuk di pusat kota, dengan kumpulan toko, restoran, dan bar terpadat, beberapa pengemudi taksi kerap mengabaikan peraturan dan tetap berhenti di sini. Dan tindakan para pengemudi taksi tersebut berkontribusi pada kemacetan yang menyebabkan masalah seperti menghambat lalu lintas bus.

Alhasil, pemerintah kota Kyoto memasang tanda untuk menyebarkan kesadaran bahwa apa yang dilakukan taksi itu ilegal, dan juga dengan sempurna membingkai taksi yang melanggar hukum. Selain itu, tanda itu juga memberi tahu siapa pun yang membaca bahwa ada pangkalan taksi yang mematuhi peraturan hanya berjarak satu menit berjalan kaki, ke arah yang ditunjuk panah hitam.

Jadi apa yang ada di sisi lain dari tanda itu? Pesan untuk pengemudi taksi yang melanggar.
“Tuan Sopir, semua orang melihat taksi Anda yang diparkir secara ilegal.”

Sama seperti tanda itu sendiri, ada beberapa aspek keefektifannya, seperti membantu menyebarkan kesadaran akan masalah ini kepada orang-orang yang tidak menyadari bahwa parkir tidak diperbolehkan. Itu juga membuat mereka yang sudah tahu tetapi masih mau naik taksi yang melanggar aturan sadar diri tentang keterlibatan mereka.

Baca juga: Bingung Mau Ke Tokyo atau Kyoto? Baca ini Dulu Ya

Menurut pemerintah kota Kyoto, tanda itu telah berfungsi, jadi kita mungkin melihat mereka mulai bermunculan di bagian lain kota yang telah berjuang dengan taksi yang berhenti secara ilegal. Nah, apakah cara pemerinah kota Kyota dapat dicoba oleh pemkot DKI Jakarta?

Dimana Pilot dan Pramugari Istirahat di Pesawat Boeing 747?

Pilot dan pramugari/pramugara tak selalu bekerja sepanjang penerbangan berlangsung. Ada beberapa kesempatan keduanya bisa beristirahat sejenak. Pertanyaannya, dimana pilot dan pramugari/pramugara istirahat selama di penerbangan, dalam hal ini penerbangan Boeing 747?

Baca juga: Salahkan Kopilot, Pilot Senior Tidur Saat Menerbangkan Boeing 747

Di awal-awal penerbangan, pilot dan pramugari (awak kabin) bisa dibilang sangat sibuk dengan berbagai pekerjaan. Sebelum terbang, pilot biasanya berkomunikasi dengan kopilot dan membuat rencana penerbangan untuk dikomunikasikan dengan ATC dan pihak maskapai.

Pilot juga mendapat laporan dari tim mekanik terkait kondisi pesawat, baik buruknya, mulai dari kondisi ban, mesin, flight control, flight instrument, dan sebagainya. Pilot juga mendapat laporan berapa jumlah penumpang, jumlah bagasi, dan total berat pesawat usai penumpang dan kargo masuk. Selain itu, masih banyak lagi beberapa pekerjaan pilot sebelum terbang.

Saat pesawat mulai push back pun, pilot masih terus berkonsentrasi menerbangkan pesawat, climbing, sampai berada di jalur dan ketinggian jelajah sebelum mengaktifkan fitur autopilot.

Sedangkan awak kabin, umumnya disibukkan dengan beberapa pekerjaan berkenaan terkait pelayanan kepada penumpang.

Seperti menyambut sekaligus gerak-greik penumpang di pintu masuk pesawat, membantu penumpang menemukan kursinya, merapikan bagasi penumpang di kompartemen bagasi agar teratur dan kompartemen bisa menutup sempurna, memberikan flight safety instruction, menghitung jumlah penumpang, memastikan seluruh penumpang mengenakan seat belt (sabuk pengaman), dan terakhir mengkondisikan penumpang sebelum pesawat push back.

Kokpit Boeing 747. Tampak terdapat dua kursi seperti kursi kelas bisnis dan ranjang tempat tidur. Foto: Quora

Usai pesawat climbing, mencapai ketinggian jelajah dan tanda memakai sabuk pengaman padam, itu tak berarti tugas awak kabin selesai.

Di penerbangan tertentu, mereka masih harus membagikan makanan-minuman ke penumpang. Andai pun maskapai  tidak memberikan makanan-minuman ke penumpang, awak kabin masih harus menawarkan penumpang sajian berbayar yang tersedia selama penerbangan.

Setelah semua itu selesai, begitu juga pilot pasca mengaktifkan mode autopilot, awak kabin dan pilot di penerbangan dengan pesawat Boeing 747 bisa beristirahat sejenak di tempat-tempat yang telah disediakan.

Menurut Trent Hopkinson, seperti dikutip dari Quora, selama di penerbangan, pilot Boeing 747 bisa beristriahat tepat di belakang kursi pilot-kopilot.

Di sana terdapat semacam kursi kelas bisnis. Pilot juga bisa tidur atau tidur-tiduran di belakang sebelah kiri kursi pilot. Tersedia dua kasur tingkat untuk pilot dan kopilot. Tentu standar operasinya tidak membenarkan pilot dan kopilot beristirahat secara bersamaan.

Baca juga: Viral! Ruang Rahasia Pramugari di Pesawat Boeing 777, Tepat di Atas Penumpang

Begitu juga dengan awak kabin, terdapat kursi di galley untuk mereka duduk. Untuk tidur atau tidur-tiduran, Boeing 747 memiliki sejumlah ruang rahasia atau ruang tersembunyi bak hotel di bagian atas belakang sebelah kanan pesawat.

Ruang tersebut tak terlalu luas, tetapi cukup untuk membuat awak kabin melepas lelah. Tak diketahui persis ada berapa ranjang (kasur) yang tersedia. Tetapi beberapa sumber menyebut itu sekitar 10 ranjang.

Meski Jepang Sudah Terbuka untuk Wisman, Anda Perlu Isi Aplikasi ini Sebelum Naik Pesawat

Seiring menurunnya tren Covid-19, Jepang kini sudah lebih terbuka buat para wisatawan mancanegara (wisman) dengan membuka perbatasannya. Namun, masih ada beberapa persyaratan yang perlu Anda perhatikan sebelum membuat keputusan untuk berlibur di Jepang. Seperti diketahui, pada 11 Oktober 2022, Jepang akhirnya membuka kembali perbatasannya untuk wisatawan asing, memungkinkan mereka bebas menjelajahi Negeri Sakuru seperti dulu sebelum pandemi, yakni tanpa persyaratan pemandu wisata atau paket perjalanan.

Baca juga: Jepang Hapuskan Kewajiban Tur Berpemandu untuk Pelancong Asing, Tapi Tetap Harus dalam Paket Tur

Dikutip dari soranews24.com (14/10/2022), meski sudah ada pembukaan pintu perbatasan buat pelancong, tapi itu tidak semuanya mulus, karena kedatangan internasional masih harus menavigasi beberapa ‘rintangan’ sebelum memasuki Jepang.

Yang harus dilakukan pertama adalah mengisi kuesioner di aplikasi MySOS adalah persyaratan bagi semua orang yang memasuki Jepang, terlepas dari apakah mereka orang Jepang atau bukan, dan kebanyakan orang menyelesaikan bagian proses ini sebelum memasuki negara tersebut.

Saat Anda pertama kali membuka aplikasi, layar merah terang muncul, dengan bidang untuk Anda menjawab pertanyaan tentang tujuan, status vaksinasi atau tes, dan negara tempat tinggal Anda. Anda juga akan diminta untuk mendaftarkan nomer paspor, dan menyerahkan sertifikat vaksinasi atau sertifikat tes Covid untuk tes yang dilakukan kurang dari 72 jam sebelum keberangkatan penerbangan Anda.

Setelah Anda menyelesaikan “pra-pendaftaran untuk prosedur karantina” di aplikasi, layar akan tetap merah jika ada kesalahan, mengharuskan Anda untuk mencoba lagi, jika tidak maka akan berubah menjadi kuning jika Anda menolak untuk mengirimkan sertifikat tes vaksinasi, dan biru jika Anda menyerahkannya.

Baca juga: Genjot Pendapatan Non Tarif, Perusahaan Kereta di Jepang Tawarkan Paket Wisata ‘Dekat’ dengan Stasiun 

Setelah tiba di Bandara Jepang, Anda diminta menunjukkan layar biru pada aplikasi MySOS kepada staf bandara, setelah itu pelancong diberi slip biru untuk ditunjukkan kepada petugas imigrasi. Mereka yang memiliki layar kuning mungkin harus menunggu sedikit lebih lama untuk melewati imigrasi karena dokumen pelancong memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti.

Ingin Bantu Perangi Polusi Udara? Simak Tips Mudahnya di Sini!

Nampaknya tidak hanya Pemerintah di Indonesia saja yang menggembar-gemborkan inisiatif pengurangan emisi dari kendaraan bermotor, pun dengan negara lain yang sama-sama sependapat bahwa polusi udara sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Alhasil, sejumlah inovasi pun bermunculan guna mendukung program bersama tersebut. Tapi sebenarnya, ada beberapa cara mudah yang dapat dilakukan untuk meminimalisir pencemaran udara.

Baca Juga: Yuk Bersepeda, Mengurangi Polusi Sembari Membakar Kalori di Tubuh

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (27/3/2018), tidak perlu melangkah terlalu jauh menuju penggunaan teknologi ‘hijau’, namun nyatanya, ada empat poin yang dapat menunjang program pemberantasan polusi udara ini.

Poin pertama dan yang paling mudah untuk dilakukan adalah berjalan kaki. Selain dapat berperan serta dalam pemberantasan polusi udara, berjalan kaki juga dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat. Selain tidak mengeluarkan emisi, jalan kaki juga dapat menurunkan berat badan dan Anda tidak harus membayar siapapun untuk mendapatkan dua keuntungan di atas.

Poin kedua yang dapat Anda lakukan adalah bersepeda. Sebenarnya, manfaat dari poin ini hampir serupa dengan berjalan kaki, yang membedakan hanyalah perangkat yang digunakan dan estimasi perjalanan dari satu titik ke titik lainnya yang dapat dipersingkat. Di sebagian daerah di Indonesia sendiri bahkan memiliki komunitas sepeda yang tujuan utamanya adalah untuk mengentaskan masalah polusi udara. Tapi jangan lupa, gunakan helm khusus sebelum bersepeda agar lebih aman.

Poin ketiga adalah beralih menggunakan sarana transportasi umum seperti bus. Kendati secara umum bus ini masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai tenaga penggerak utamanya, namun seiring perkembangan jaman, sudah banyak pula bus yang menggunakan energi listrik dan hidrogen. Sebagai contoh perbandingan, dibutuhkan 10 mobil berkapasitas lima penumpang untuk mengangkut 50 orang, sementara itu hanya dibutuhkan satu buah bus bertenaga listrik untuk memboyong semua penumpang. Jauh lebih efisien dari segala aspek, bukan?

Poin keempat adalah beralih menggunakan kendaraan bertenaga listrik. Perkembangan teknologi yang semakin pesat belakangan ini pun turut berimbas pada evolusi kendaraan. Ya, dewasa ini sudah banyak beredar kendaraan bertenaga listrik yang secara perlahan mulai menggeser kedigdayaan kendaraan berbahan bakar fosil seperti bensin. Memang, Anda butuh merogoh kocek untuk ‘meng-upgrade’ kendaraan berbahan bakar bensin dengan yang bertenaga listrik. Namun selama itu mampu memperbaiki kondisi lingkungan, kenapa tidak?

Baca Juga: Niat Atasi Polusi, Mantan Pemilik Toko Sepeda ini Hadirkan Light Electric Vehicle

Namun semuanya kembali kepada Anda sebagai pelaku utama yang memegang kemudi penuh terhadap lingkungan yang lebih sehat. Ketika melakukan mobilisasi sembari olahraga seperti berjalan kaki dan bersepeda dianggap terlalu memakan waktu, cukup parkirkan kendaraan pribadi Anda di garasi rumah dan mulai beralih menggunakan kendaraan umum yang sudah disediakan pemerintah dengan segala kelebihan dan kemudahannya.

Teknologi Ini Bawa Singapore Airlines Tekan Emisi 15 Ribu Setahun, 2050 Janji Bebas Emisi

Singapore Airlines bertekad menekan emisi karbon sampai nol persen pada tahun 2050. Karenanya, maskapai terus berinovasi untuk memangkasnya perlahan, salah satunya dengan teknologi OptiClimb by SITA yang dipasang di seluruh armada Airbus A350. Lewat teknologi tersebut, maskapai mengklaim bisa menghemat bahan bakar dan memangkas 15 ribu emisi karbon dalam setahun.

Baca juga: Singapore Airlines Gandeng ExxonMobil untuk Pasok Bahan Bakar Berkelanjutan

“Singapore Airlines menggunakan beberapa cara untuk mencapai tujuan keberlanjutan kami, termasuk teknologi terbaru untuk mengoptimalkan efisiensi bahan bakar dalam upaya mengurangi emisi karbon. SITA OptiClimb menggunakan analitik canggih untuk mendukung hasil ini,” jelas Kapten Quay Chew Eng, Senior Vice President Flight Operation Singapore Airlines.

“Kami akan terus mencari solusi inovatif untuk mengurangi jejak karbon kami dan mencapai emisi karbon nol bersih pada tahun 2050,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Teknologi OptiClimb sendiri merupakan sebuah teknologi berbasis tail-specific machine learning-driven system.

Sebagaimana namanya, alat tersebut dipasang di tail fin atau vertical stabilizer maskapai. Teknologi ini memaksimalkan kombinasi prakiraan cuaca 4D dan data penerbangan sebelumnya untuk merekomendasikan kecepatan climbing yang ideal sebelum pesawat berangkat.

Rekomendasi tersebut berupa berbagai skenario climbing untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar setelah lepas landas. Sistem ini dibuat semudah mungkin untuk dioperasikan dan terintegrasi dengan baik di flight deck pilot.

“Kami sangat bangga menjadi bagian dari perjalanan Singapore Airlines untuk membuat penerbangan lebih berkelanjutan, ramah lingkungan dan finansial,” ujar Yann Cabaret, Chief Executive Officer SITA.

“Dengan alat yang inovatif, hemat biaya, dan berbasis data seperti SITA OptiClimb, kami dapat membantu semua maskapai penerbangan dan karyawan mereka untuk membuat keputusan yang lebih tepat yang mendorong efisiensi operasional yang lebih besar dan sangat dibutuhkan saat ini,” tegasnya.

Presiden SITA Eropa, Sergio Colella, mengungkapkan, sedikitnya 5 juta emisi karbon (emisi CO2) bisa ditekan setiap tahunnya andai seluruh maskapai menggunakan teknologi OptiClimb. Mengingat ini bukanlah bawaan dari manufaktur, teknologi tersebut dijamin bisa digunakan di seluruh pesawat dan sangat mudah dalam mengoperasikannya.

Baca juga: Kurangi Polusi Suara dan Emisi CO2, Bandara Schiphol Pangkas Frekuensi Penerbangan di 2023, KLM Terdampak

Ia mengklaim, saat ini sudah ada 2.500 kliennya di seluruh dunia yang mengambil manfaat dari produk teknologi tersebut. Kliennya sangat beragam tak terbatas hanya maskapai penerbangan saja, melainkan juga bandara dan pemerintah untuk menciptakan perjalanan yang lebih mulus, berkelanjutan, dan efisien.

Selain Singapore Airlines, di antara maskapai yang sudah menggunakan teknologi OptiClimb adalah AeroLogic dan Transavia.

Singapore Airlines-Air India Bahas Meger Vistara, Mau Kuasai Pasar Penerbangan India?

Singapore Airlines diketahui tengah berunding dengan Air India dalam rangka merger maskapai full service rasa LCC asal India, Vistara, dan maskapai full service lainnya, Air India. Merger keduanya diperkirakan bakal memperkuat bisnis maskapai di domestik dan internasional.

Baca juga: Vistara dan Jet Airways, Maskapai Full Service yang Sajikan Layanan Bergaya LCC

Singapore Airlines diketahui memiliki 49 persen saham Vistara bersama dengan Tata Group yang memegang saham mayoritas 51 persen. Pasca pandemi Covid-19, kinerja keuangan Vistara memang kurang memuaskan, sebagaimana maskapai lainnya di seluruh dunia.

Selain itu, posisi maskapai tersebut juga semakin tergerus dengan maskapai lainnya di India, seperti indian, Jet Airways, Kingfisher Airlines, Indigo, GoAir, JetLite, Kingfisher Red, Jet Airways Konnect, dan SpiceJet. Hal ini dianggap mengkhawatirkan dan tidak mendukung ambisi maskapai nasional Singapura tersebut untuk memperkuat konetivitas di pasar internasional.

“Diskusi berusaha untuk memperdalam kemitraan yang ada antara Singapore Airlines dan Tata dan mungkin termasuk potensi integrasi Vistara dan Air India. Diskusi sedang berlangsung dan tidak ada ketentuan pasti yang disepakati antara para pihak,” tulis Singapore Airlines, dalam sebuah pernyataan kepada Bursa Efek Singapura.

Sadar tak punya pasar domestik, Singapore Airlines jeli melihat pasar domestik di negara lain sampai akhirnya menjadi pemilik Vistara di India.

Pasar domestik India sangat besar dan akan terus membesar di masa mendatang. Saat ini, lalu lintas penerbangan domestik di India menempati posisi ketiga terbesar di dunia dan akan melonjak dua kali lipat di dekade berikutnya. Hal ini tentu tak mengherankan mengingat Negeri Anak Benua itu memiliki populasi terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Selain mengincar pasar domestik di India, Singapore Airlines juga ingin memperkuat konektivitasnya dari India ke mega hub Bandara Changi. Baik Vistara maupun Air India diketahui terbang ke bandara tersebut.

Karena besarnya peluang yang didapat, baik di India maupun di pasar penerbangan internasional, Singapore Airlines begitu bersemangat atas merger Vistara dan Air India.

Baca juga: Air India Kini Dimiliki Tata Group, Pembenahan Postur Awak Kabin Jadi Prioritas 

Meski begitu, Singapore Airlines, seperti dikutip dari Simple Flying, berpotensi merogoh kocek lebih dalam akibat merger ini untuk memperkuat komposisi saham yang dipegang maskapai.

Andai pihak Air India dan Singapore Airlines menemui kata sepakat atas rencana merger Vistara-Air India, itu tak serta-merta bisa diwujudkan, melainkan harus menunggu tinjauan dari pengawas persaingan usaha Singapura dan otoritas India.

East Japan Railway Resmi Operasikan Kereta Komuter Otomatis di Jalur Terpadat Yamanote Line

Yamanote Line atau Jalur Yamanote, dikenal sebagai jalur kereta komuter tersibuk dan terpenting di Tokyo. Sebagai jalur melingkar, jalur ini menghubungkan hampir semua stasiun kereta api dan wilayah utama di Tokyo meliputi Yūrakuchō, Shibuya, Shinjuku, dan Ikebukuro. Setiap harinya, diperkirakan ada 3,55 juta penumpang yang menggunakanJalur Yamanote. Dan belum lama ada kabar baru terkait Jalur Yamanote, dimana layanan kereta yang dijalankan secara otomatis sudah mulai mengular di jalur tersebut.

Baca juga: JR East Jual Replika Container Yellow Green Number 6 Series 6000 dengan Tiga Interior Berbeda

Dikutip dari nhk.or.jp (11/10/2022), East Japan Railway selaku operator telah mengembangkan sistem operasi otomatis untuk mengantisipasi kekurangan pengemudi di masa depan, pasalnya populasi penduduk di Jepang cenderung menurun.

Sebagai bagian dari persiapan, sejak empat tahun lalu, East Japan Railway memulai uji coba selama jam tengah malam setelah layanan di jalur lingkar Yamanote. Dan uji coba siang hari tanpa penumpang sudah digelar sejak Februari tahun ini.

Dan pada hari Selasa lalu, kereta yang dilengkapi dengan Automatic Train Operation system beroperasi untuk pertama kalinya dengan penumpang di dalamnya. Kereta yang terdiri dari 11 gerbong reguler, bertanda “ATO,” meninggalkan Stasiun Osaki sesaat sebelum jam 4 sore.

Pengemudi hanya perlu menekan tombol saat meninggalkan stasiun. Kereta berakselerasi, melambat, dan berhenti dengan sendirinya sepanjang putaran 34,5 kilometer.

Beberapa stasiun di Jalur Yamanote belum memasang pintu peron, dan ada penyeberangan di sepanjang rute. Sistem ATO tidak dirancang untuk menghadapi situasi di mana seseorang atau kendaraan memasuki lintasan.

Jalur Yamanote punya jadwal yang sangat padat, dengan kereta tiba di stasiun setiap tiga menit. Pengoperasian kereta otomatis di lingkungan seperti itu dikatakan belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang.

East Japan Railway berencana untuk memiliki dua kereta yang dilengkapi ATO dengan total sekitar 1.000 perjalanan selama dua bulan ke depan, dan mengumpulkan data tentang fungsi kemudi, langkah-langkah keselamatan, dan efisiensi energi.

Baca juga: Duta Besar AS untuk Jepang Kesengsem dengam Kereta Komuter di Kansai, Didaulat Sebagai “Testu Otaku”

Perusahaan menargetkan semua kereta di Jalur Yamanote dilengkapi dengan sistem tersebut sekitar tahun 2028. Ini juga bertujuan untuk hanya memiliki masinis dan tidak ada kondektur pada sekitar tahun 2030, dan pada akhirnya membuat kereta komuter ‘benar-benar’ tanpa masinis.

Ada ‘Pelarangan’ Gunakan Apple AirTag dalam Penerbangan, Ini Kata Pihak Lufthansa

Di kalangan pelancong internasional, Apple AirTag jamak digunakan untuk melacak keberadaan bagasi saat dalam perjalanana udara. Namun, belum lama ada kabar dari Lufthansa, maskapai Negeri Bavaria itu mengatakan penumpang tidak dapat menggunakan Apple AirTag untuk melacak bagasi terdaftar.

Baca juga: Takut Tersasar di Bandara Asing? Pakai Fitur Terbaru dari Apple Maps!

Kebijakan baru tersebut diumumkan Lufthansa pada hari Minggu di Twitter, bahwa Apple AirTag harus dinonaktifkan di bagasi terdaftar pada penerbangannya. Sudah barang tentu, pengumuman ini menimbulkan kebingungan, mengingat selama ini Lufthansa dan maskapai-maskapai lain tidak melarang penggunaan AirTag di bagasi terdaftar. AirTag biasanya dimanfaatkan pelancong untuk menemukan bagasi yang hilang.

Sementara pihak Apple menolak interpretasi dari Lufthansa, dan mengatakan alat pelacaknya (AirTags) mematuhi semua peraturan keamanan. Dalam pernyataannya, Apple mengatakan bahwa AirTag “sesuai dengan peraturan keselamatan perjalanan maskapai internasional untuk bagasi jinjing dan bagasi terdaftar.”

Aturan baru Lufthansa diduga mengutip pedoman Organisasi Penerbangan Sipil Internasional untuk barang-barang berbahaya serta “fungsi transmisi” pelacak.

Dikutip dari indianexpress.com (12/10/2022), “Grup Lufthansa telah melakukan penilaian risikonya sendiri dengan hasil bahwa perangkat pelacak dengan baterai dan daya transmisi yang sangat rendah di bagasi terdaftar tidak menimbulkan risiko keselamatan,” kata Martin Leutke, juru bicara Lufthansa.

Seolah mendapat tekanan, pihak Lufthansa menyebut tidak pernah mengeluarkan larangan untuk perangkat seperti itu. “Adalah pada pihak berwenang untuk menyesuaikan peraturan yang saat ini membatasi penggunaan perangkat ini untuk penumpang maskapai di bagasi terdaftar,” kata Lufthansa.

Perangkat AirTag beroperasi menggunakan Bluetooth Low Energy, teknologi yang sama yang biasa digunakan di ponsel yang diizinkan dalam penerbangan. Mereka dilacak dengan membagikan lokasi terakhir melalui sinyal aman ke perangkat Apple terdekat.

Apple mengatakan badan penerbangan internasional tidak memiliki standar khusus untuk perangkat pelacakan kargo, dan definisi perangkat elektronik konsumen pribadi difokuskan pada perangkat yang lebih besar, termasuk telepon, kamera, dan laptop. Ini cenderung memiliki baterai lithium yang lebih besar.

Apple mengatakan AirTag menggunakan baterai sel koin CR2032. Baterai lithium kecil ini biasanya digunakan pada jam tangan dan gantungan kunci. Apple mengatakan baterai tersebut telah disetujui untuk semua bagasi oleh Administrasi Penerbangan Federal (FAA) di AS, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional.

Saran FAA dari tahun 2017 memungkinkan perangkat untuk menggunakan komunikasi nirkabel berdaya rendah seperti Bluetooth di pesawat di Amerika Serikat. Dalam sebuah pernyataan Senin, Administrasi Keamanan Transportasi mengkonfirmasi pandangan Apple bahwa “perangkat pelacak diizinkan di tas jinjing dan bagasi terdaftar.”

Pada hari Selasa, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mengatakan bahwa peraturannya “tidak dengan sendirinya melarang atau mengizinkan perangkat seperti Apple AirTag.” Tetapi agensi tersebut tampaknya membalas masalah itu kepada Lufthansa, dengan mengatakan, “Adalah tanggung jawab operator untuk melarang penggunaan perangkat yang dapat berdampak buruk pada keselamatan penerbangan atau sistem pesawat.”

Baca juga: Akhirnya Penumpang Bisa Gunakan Headphone Bluetooth Pribadi di Pesawat! 

Dengan merebaknya berita ini, Lufthansa seolah menempatkan posisinya berada di tengah-tengah masalah ketika muncul laporan di media berita Jerman bahwa perangkat tersebut dilarang. Dalam traveling, umumnya Apple AirTag disematkan di dalam koper atau tas. Harga Apple AirTag berkisar Rp500 ribuan.

‘Berkah’ Pandemi Covid-19, Singapore Airlines Tak Lagi Pecat Pramugari Hamil

Pramugari maskapai sudah pasti harus cantik jelita agar menarik perhatian penumpang. Namun, kecantikan tersebut sering kali luntur usai hamil dan melahirkan. Itu pula yang akhirnya membuat maskapai Singapore Airlines mengambil kebijakan memecat pramugari hamil. Tentu saja itu dihujat publik. Terbaru, maskapai memastikan kebijakan tersebut sudah dicabut.

Baca juga: Bak Bidadari, Ini Rahasia Kecantikan Pramugari Singapore Airlines

Entah apa yang merasuki maskapai, sekitar satu dekade lalu, tiba-tiba keluar pengumuman bahwa pramugari yang hamil harus segera cuti dan tidak dibayar selama itu sampai melahirkan. Biasanya pramugari yang hamil akan dimutasi menjadi staf dari sampai mendekati akhir masa kehamilan dan itu tidak berlaku untuk Singapore Airlines.

Tragisnya, usai melahirkan dan menjadi ibu baru, pramugari harus menyerahkan akta kelahiran anaknya ke maskapai dan dipaksa untuk mengundurkan diri atau dipecat secara halus.

Setelah dipecat dengan halus, pihak Singapore Airlines mengizinkan pecatan pramugari melamar kembali di posisi semula dengan mengikuti proses dari awal. Hanya saja, bila di maskapai lain, semisal British Airways, eks pramugari lebih diutamakan atau menjadi prioritas, maka di maskapai nasional Singapura itu sebaliknya, tidak ada prioritas apapun.

Selama bertahun-tahun, aktivis keseteraan gender, sosial, pengamat publik, dan lain sebagainya mengecam keras kebijakan tersebut tanpa kenal lelah. Berkali-kali dikecam, berkali-kali itu pula maskapai tak bergeming.

Sampai akhirnya pandemi Covid-19 merubah peta strategi finansial dan bisnis maskapai jangka pendek maupun panjang serta yang paling penting kenyataan pahit kekurangan pramugari. Alhasil, kebijakan pun berubah.

Mulai 15 Juli lalu, pramugari yang hamil diizinkan pindah ke pelayanan di darat minimal tiga bulan dan maksimal sembilan bulan sebelum cuti melahirkan. Adapun posisi stafdarat yang bisa diisi meliputi administrasi, customer feedback handling, content creation, dan event management.

“Kami terus bekerja keras untuk mempertahankan orang-orang berbakat kami (pramugari), dan kami bermaksud untuk lebih mendukung awak kabin kami selama dan setelah kehamilan mereka,” jelas maskapai dalam sebuah pernyataan yang dikutip Simple Flying. Sesudah melahirkan, pramugari bisa bergabung kembali dalam barisan pramugari Singapore Airlines.

Kebijakan tersebut membawa Singapore Airlines bergabung dengan kompetitor terdekat mereka di Asia, seperti Korean Air, Asiana Airlines, dan Japan Airlines.

Baca juga: Diskriminasi Kebijakan Antara Pramugari Singapore Airlines dan Maskapai Asing, Menteri Transportasi Singapura ‘Diserang’

Meski sudah jauh lebih baik dibanding kebijakan sebelumnya, Association of Women for Action and Research (AWARE) mengungkapkan, Singapore Airlines bisa menerapkan kebijakan yang lebih baik lagi.

Seperti misalnya mengatur agar pramugari yang hamil bisa langsung ditempatkan di layanan di darat tanpa harus melamar di posisi yang diinginkan sampai tidak adanya jaminan pramugari tidak akan dipecat atas perubahan ‘ideal’ pasca melahirkan untuk bisa bergabung lagi menjadi pramugari.

Mobil Terbang Listrik Cina XPENG X2 Sukses Terbang Perdana di Dubai, Harganya Murah Meriah

Mobil terbang listrik besutan grup perusahaan Cina, XPENG, sukses terbang perdana di Dubai usai mendapat izin terbang khusus dari Otoritas Penerbangan Sipil Dubai (DCAA). Bila segalanya sesuai rencana, mobil listrik terbang Cina XPENG X2 mulai dijual umum tahun 2024 dengan harga sangat murah, sekitar US$157.000 atau sekitar Rp2,4 miliar (kurs 15.344).

Baca juga: Mobil Terbang AirCar Sukses Terbang Antar Bandara, Kreator: Bisa Terbang Sejauh 1.000 Km

Disebut sangat murah tentu saja bila dibandingkan dengan mobil terbang lainnya. Mobil terbang mobil AirCar besutan KleinVision, perusahaan asal Slovakia, misalnya, dibanderol paling murah sekitar US$500 ribu atau sekitar Rp7,6 miliar dan paling mahalnya US$1,1 juta atau sekitar Rp16,8 miliar.

Mobil terbang Cina XPENG X2 juga masih jauh lebih murah dibandingkan mobil terbang SD-03 besutan perusahaan asal Jepang, SkyDrive. Mobil terbang yang rencananya dijual massal mulai tahun 2023 itu dibanderol sekitar US$300 ribu atau Rp4,6 miliar.

Uniknya, spesifikasi mobil terbang Cina XPENG X2 tak berbeda jauh dibanding mobil terbang AirCar besutan KleinVision maupun mobil terbang SkyDrive SD-03. Malah, mobil terbang listrik Cina XPENG X2 sedikit lebih unggul di beberapa hal.

Dilansir greekreporter.com, mobil terbang XPENG X2 berkapasitas dua kursi yang sudah terelektrifikasi penuh dengan bodi serat karbon yang dirancang untuk terbang pada ketinggian hingga 1.000 m (3.281 kaki), dengan kecepatan hingga 130 km per jam dan dalam kondisi penuh, Xpeng mengklaim mobil terbangnya ini dapat melayang di udara hingga 35 menit.

XPENG, yang lewat anak perusahannya, XPENG AEROHT, telah menjadi perusahaan mobil terbang terbesar di Asia, diketahui telah mengembangkan Vertical Take-off and Landing (eVTOL) dan melakukan lebih dari 15.000 penerbangan berawak dengan aman dengan tujuan menggabungkan teknologi otomotif dan penerbangan untuk mengembangkan kendaraan terbang listrik domestik yang aman dalam skala besar.

Prototipe eVTOL mobil terbang listrik XPENG sebelumnya hadir dengan nama T1 pada 2019, diikuti oleh X1 pada 2020 dan X2 pada 2022, generasi kelima mobil terbang yang sukses terbang perdana 10 Oktober silam di Dubai.

Vice Chairman and Presiden Xpeng Brian Gu, mengungkapkan, “Tampilan publik XPeng X2 di Dubai merupakan tonggak penting bagi XPeng AeroHT dan pencapaian internasional mobil terbang”.

Lebih lanjut, Gu juga mengungkapkan alasan kenapa memilih Dubai sebagai tempat pelaksanaan penerbangan perdana mobil terbang listrik besutannya.

Selain bertepatan dengan event GITEX atau Gulf Information Technology Exhibition, pameran teknologi terbesar di dunia yang dihadiri 5.000 perusahaan teknologi dan 100 ribu pengunjung dari 170 negara, dipilihnya Dubai juga karena kota tersebut dianggap sebagai kota inovasi.

Baca juga: Mobil Terbang SkyDrive SD-03, Uji First Flight dengan Pilot

“Dubai adalah kota inovasi terkenal di dunia yang menjadi alasan kami memutuskan untuk mengadakan penerbangan perdana X2 di sini. Penerbangan hari ini merupakan langkah besar dalam eksplorasi mobilitas masa depan XPENG,” ujarnya.

Rencananya, mobil listrik terbang XPENG X2 mulai dijual massal pada tahun 2024 mendatang dengan harga Rp2,4 miliar.