Ada Panel yang Mengangkat di Sayap Saat Pesawat Mendarat, Apa Itu dan Apa Saja Fungsinya?

Bagi penumpang yang memperhatikan, saat landing approach sampai mendarat, tampak ada sesuatu yang bergerak ke atas di sayap pesawat sampai pesawat benar-benar berada di kecepatan rendah. Sebagian orang menganggap itu adalah flap and slat. Padahal itu kurang tepat. Lantas apa itu dan apa fungsinya?

Baca juga: Punya Peran Vital, Inilah Empat Jenis dan Fungsi Flap pada Sayap

Pesawat diketahui tiga gerakan utama pesawat adalah pitch, roll dan yaw. Pitch adalah gerakan pesawat berputar terhadap sumbu lateral, berupa gerakan nose-up atau nose-down (mengangguk).

Roll adalah gerakan berputar terhadap sumbu longitudinal, berupa gerakan berputar sehingga salah satu sayap naik sedangkan salah satunya turun, dan yang terakhir adalah yaw, yaitu putaran terhadap sumbu vertikal, gerakan ini berupa menggeleng, yaitu hidung pesawat menghadap ke kanan maupun ke kiri. Pada prakteknya, gerakan adalah kombinasi dari ketiga gerakan dasar di atas.

Selain itu, pesawat memiliki dua instrumen; flight instrument (instrumen penerbangan) dan flight control (kontrol penerbangan). Turunan dari itu ada aileron, elevator, rudder, flap, slat, spoiler, speed brakes, tab, dan lainnya.

Dalam kaitannya dengan sesuatu yang bergerak ke atas di sayap pesawat saat final approach dan saat mendarat, itu bukan flap atau slat melainkan spoiler. Ya, bukan mobil saja yang mempunyai spoiler, melainkan pesawat juga.

Menurut pilot salah satu maskapai, Randy Duncan, seperti dikutip di Quora, spoiler sendiri terbagi menjadi dua; ground spoiler dan flight spoiler.

Dalam penerbangan, flight spoiler berfungsi untuk mengurangi daya angka sayap yang memperlambat pesawat dan meningkatkan kecepatan menurunkan ketinggian (rate of descent). Saat masih di udara, penggunaan flight spoiler memang bisa dibilang jarang karena itu memang tidak seharusnya digunakan.

Ada kalanya, controller atau petugas ATC bandara meminta pilot untuk mempercepat penurunan ketinggian dalam rangka persiapan mendarat.

Handle flight spoiler dan ground spoiler bertuliskan SPD BRK. Foto: Quora

Permintaan ATC tersebut umumnya lantaran pilot misjudged the approach atau sederhananya pilot salah perhitungan. Pilot umumnya akan merespon permintaan rate of descent yg dipercepat dengan menggunakan flight spoiler.

Di kokpit terdapat handle yang bertuliskan ‘SPD BRK’ (seperti gambar di atas) untuk ditarik atau diubah ke posisi ‘armed’ dan flight spoiler pun akan bekerja.

Senada dengan flight spoiler, ground spoiler juga memiliki fungsi yang nyaris sama meski dengan cara yang berbeda. Sama-sama bertujuan untuk menurunkan kecepatan pesawat tetapi cara kerjanya berbeda.

Baca juga: Kenapa Pesawat Terbang Tidak Bisa Mundur atau Self-Pushback Saat di Bandara? Ini Jawabannya

Disebutkan, ground spoiler berfungsi untuk mengurangi gaya angkat pada sayap yang memberikan beban lebih pada roda (landing gear) sehingga wheel brakes bisa lebih efektif melakukan pengereman.

Jadi, saat dioperasikan, panel-panel yang ada disayap memang menahan angin sehingga memperlambat pesawat. Tetapi, itu tidak terlalu signifikan persentese-nya dalam membuat pesawat berhenti dibanding beban lebih yang dihasilkan dari kinerja panel terebut terhadap roda pesawat dan memaksimalkan pengereman di roda.

Lima Rute Internasional Tersibuk di Dunia, Nomor Satu Paling Tak Disangka

Tak sedikit yang berpikir bahwa rute internasional tersibuk di dunia melibatkan bandara-bandara tersibuk di dunia. Nyatanya, itu tak selalu demikian. Rute internasional tersibuk di dunia antar bulan Oktober tahun 2021 sampai September tahun 2022 justru dipegang oleh bandara yang tidak masuk dalam daftar 10 bandara bandara tersibuk di dunia tahun lalu. Agar lebih lengkap, berikut daftar 5 (lima) rute internasional tersibuk di dunia versi OAG.

Baca juga: Selain Sabet Rute Domestik Tersibuk, Ini Sederet Prestasi Penerbangan Indonesia di Februari 2021

5. Kuala Lumpur – Singapura

Kendati dekat dan bisa dicapai lewat jalur darat, rute internasional Kuala Lumpur – Singapura nyatanya masuk dalam daftar rute internasional tersibuk kelima di dunia. Dalam periode tersebut (Oktober 2021-September 2022), sedikitny ada total 2.443.176 kursi yang terjual di rute ini. Sebagian besar tingginya traffic penumpang di dua rute internasional ini karena posisinya sebagai mega hub di Asia, di samping tingginya interaksi antar kedua negara.

Singapura secara konsistem menjadi tujuan internasional tersibuk di Kuala Lumpur. Ini bukan hanya didominasi oleh lalu lintas orang tetapi juga barang. Di rute ini, sedikitnya ada tujuh maskapai yang mengoperasikannya; AirAsia, Batik Air Malaysia, Jetstar Asia, KLM, Malaysia Airlines, Scoot, dan Singapore Airlines.

4. Dubai – London Heathrow

Rute internasional tersibuk keempat di dunia antara Dubai – London Heathrow sepertinya tidak terlalu mengherankan. Sebab, keduanya sama-sama menyandang predikat mega hub dan menjadi salah satu destinasi wisata terfavorit di dunia.

Sepanjang Oktober 2021 – September 2022, rute antarbenua ini menjual total 2.697.593 kursi, berbanding tipis dengan rute internasional Kuala Lumpur – Singapura. Namun, di rute ini, hanya dilayani dua maskapai besar, British Airways dan Emirates.

3. New York JFK – London Heathrow

Sebagai bandara tersibuk di Eropa, wajar jika bandara tersebut menempati posisi ketiga rute internasional tersibuk ketiga di dunia bersama Bandara John F. Kennedy New York. Totalnya, dalam periode Oktober tahun lalu sampai September tahun ini ada total 2.848.044 kursi yang tersedia. Rute bersejarah ini sedikitnya dioperasikan oleh lima maskapai; American Airlines, British Airways, Delta Air Lines, Virgin Atlantic, dan JetBlue.

2. Dubai – Riyadh

Sebagai negara kaya minyak dengan tingkat kesejahteraan tinggi, warga Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bebas bepergian kemanapun di dunia tanpa khawatir soal uang. Karenanya, tak heran bila rute Dubai – Riyadh menempati posisi kedua daftar rute internasional tersibuk di dunia. Sedikitnya, ada total 3.191.090 tersedia di kedua rute yang dioperasikan oleh Flyadeal, flydubai, dan Flynas tersebut.

Baca juga: 10 Maskapai dan Rute Narrowbody Jarak Jauh Terbesar di Dunia, Ada Maskapai Indonesia?

1. Kairo – Jeddah

Seiring dibukanya ibadah umrah pasca pandemi Covid-19, traffic ke Jeddah untuk tujuan ke Mekkah, yang di dalamnya terdapat Kakbah, terus meningkat. Di antara banyaknya negara-negara yang terbang ke Jeddah, Kairo rupanya menjadi yang tertinggi dan menjadikan rute Kairo – Jeddah sebagai rute internasional tersibuk di dunia.

Ada total 3.234.683 kursi yang tersedia sepanjang bulan Oktober tahun 2021 dan September 2022 oleh sembilan maskapai; Air Arabia Egypt, Air Cairo, EgyptAir, Flyadeal, FlyEgypt, Flynas, Nesma Airlines, Nile Air, dan Saudia.

Sambut Halloween Day, Taksi Sadako Hadir di Tokyo, Tawarkan ‘Mimpi Buruk’ Bagi Penumpang

Menyambut perayaan Halloween yang jatuh pada tanggal 31 Oktober mendatang, Sadako alias demit khas Jepang akan menyambangi para penumpang taksi di Tokyo. Taksi di Jepang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Seperti pintu penumpang sisi belakang membuka dan menutup sendiri dan Anda hampir selalu menemukan serbet renda di rak parsel di bawah jendela belakang. Tapi di bulan Oktober ini, layanan taksi Tokyo akan menawarkan sensasi yang berbeda.
Dikutip dari Soranews24.com (18/10/2022), Sadako yang menjadi ikon horor dalam film The Ring, akan menampilkan kengeriannya di layanan taksi online S Ride. Untuk memuluskan kehadiran Sadako, S Ride bermitra dengan bioskop Sadako DX. Rencananya S Ride akan menyapkan 50 unit taksi Sadako mulai 24 Oktober 2022.
Untungnya, taksi Sadako adalah opsional, di mana perusahaan taksi juga menyiapkan taksi baisa, mengantisipasi ada calon penumpang yang takut atau tidak nyaman. Jika Anda meminta taksi Sadako, Anda akan melihatnya tidak hanya di papan reklame digital yang menghadap ke luar mobil.
Lebih horor lagi, Sadako rupanya hadir melalui monitor di kursi belakang kabin, jika Anda cukup berani, boleh menggunakan fitur augmented reality kolaborasi. Tidak itu saja, Sadako juga akan muncul dalam video keselamatan penumpang.
S Ride menyebut akan memeperlihatkan sisi yang lebih meriah dengan jendela Happy Halloween khusus di beberapa taksi pada tanggal 30 dan 31 Oktober.
Buat yang akan memesan taksi via aplikasi, maka Sadako juga muncul di ponsel setelah Anda membuat permintaan penjemputan, dengan pesan yang mengatakan “Saya pikir dia datang,” untuk menemani Anda saat Anda menunggu.
“Silakan nikmati taksi sensasi baru, di mana Anda dapat mengalami dunia Sadoko sebelum dan selama perjalanan Anda,” kata S.Ride, Perusahaan taksi itu menyebut mimpi buruk akan datang setelah perjalanan Anda sebagai bonus yang tidak disebutkan. Taksi Sadato akan beroperasi di Tokyo dari 24 Oktober hingga 16 November 2022.

Bisakah Penumpang Pesawat Diturunkan Paksa ke Kelas Kursi Di Bawahnya?

Dalam sebuah penerbangan, penumpang berhak mem-booking kursi yang mereka inginkan meskipun harus mengeluarkan biaya tambahan. Sebaliknya, maskapai berkah mengatur kursi seorang penumpang. Lantas, andai seorang penumpang sudah membayar untuk sebuah kursi, katakanlah kursi kelas bisnis atau first class, dan tiba-tiba maskapai memaksanya turun kelas karena satu dua alasan, bisakah itu terjadi?

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Ini Tips Mendapatkan Upgrade Kelas Kursi Secara Gratis dari Pramugari!

Menurut pengalaman seorang penumpang, Burak Ates, ia mengaku pernah dipaksa penumpang turun kelas di bawahnya.

Ketika itu, ia sudah memesan kursi kelas bisnis dalam sebuah penerbangan internasional. Namun tiba-tiba, ia mendapat informasi dari maskapai bahwa kursi kelas bisnis yang sudah dipesannya harus dipindah atau turun kelas ke kelas ekonomi.

Maskapai beralasan, ada rombongan birokrat yang secara mendadak memesan penerbangan yang sama dan meminta duduk di kursi kelas bisnis. Maskapai tak bisa berbuat banyak dan pada akhirnya memilih untuk mengakomodir permintaan birokrat tersebut serta mengorbankan penumpangnya.

Kendati turun kelas ke kelas ekonomi, maskapai tak ingin mengurangi pelayanan ke penumpang.

Umum diketahui bahwa kursi kelas ekonomi memiliki beberapa kursi spesial dengan legroom luas atau lega, seperti di kursi dekat pintu darurat dan kursi paling depan. Adapun Burak Ates ditempatkan oleh maskapai di kursi paling depan sehingga mendapat legroom sangat luas mirip di kursi kelas bisnis.

Tak cukup sampai di situ, maskapai juga memberikan layanan sebagaimana penumpang di kursi kelas bisnis.

Sejak di bandara, penumpang disambut dengan sangat hangat langsung oleh perwakilan petinggi maskapai di bandara keberangkatan. Lalu penumpang diantar ke lounge kelas bisnis dan dilayani dengan sangat ramah. Penumpang juga mendapat miles berkali-kali lipat, dari biasanya hanya 600 miles untuk perjalanan internasional menjadi 20 ribu miles.

Sampai di pesawat, penumpang tersebut kenyataannya tetap duduk di kursi kelas ekonomi namun mendapat pelayanan seperti kursi kelas bisnis. Sampai di sini, tak dijelaskan oleh penumpang apakah ia mendapatkan pemotongan harga tiket atau tidak.

Beberapa bulan kemudian, Burak Ates kembali terbang dengan maskapai yang sama. Ia memesan kursi kelas ekonomi pada penerbangan internasional. Namun secara tak terduga, maskapai menawarkan upgrade (naik kelas) ke kelas bisnis tanpa biaya tambahan alias gratis.

Menariknya, di awal Burak menolak tawaran tersebut karena saat itu ia tidak terbang sendiri melainkan berdua. Namun, maskapai tak patah arang dan menawarkan rekannya untuk ikut naik kelas. Tawaran dari maskapai Turkish Airlines tersebut akhirnya diterima.

Sven Meets World
Karena Pergantian Tipe Pesawat
Salah satu redaksi KabarPenumpang.com pernah mengalami ‘dipaksa’ untuk downgrade kelas. Saat itu dalam penerbangan Etihad dari Munich, Jerman menuju Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Perihal downgrade diutarakan oleh petugas check in counter di Bandara Munich, yaitu karena ada pergantian tipe pesawat, dari yang seharusnya menggunakan Boeing 787 Dreamliner, berubah ke Boeing 777-300.
Lantaran ada perubahan pesawat, berimbas pada konfigurasi dan kapasitas yang ada di kelas bisnis. Kami yang terkena downgrade kala itu diberikan pilihan, untuk lanjut di penerbangan yang sama dengan downgrade ke kelas ekonomi, atau bisa tetap menggunakan kelas bisnis, tapi di penerbangan selanjutnya.
Bila dipilih opsi kedua, berarti harus menunggu keesokan hari, itu pun tanpa ada tanggungan atau biaya untuk menginap. Atas dasar dua opsi itu, kami memilih untuk tetap terbang pada hari yang sama.
Meski sempat kecewa mendapatkan downgrade, namun dapat sedikit terobati, bahwa kami ditempatkan di kursi depan yang dekat pantry, sehingga punya legroom yang lebih luas. Untuk sajian kuliner sayangnya tidak mengacu ke kelas bisnis. Tapi ada kompensasi yang diberikam Etihad, yakni pengembalian 75 persen dari harga kursi di kelas bisnis.

Selain Burak Ates dan redaksi KabarPenumpang.com, masih banyak penumpang lainnya yang ‘curhat’ pernah dipaksa turun kelas ke kelas di bawahnya karena berbagai alasan.

Apakah Pramugari Izinkan Penumpang Tidur di Kursi Pesawat yang Kosong Bak di Kasur?

Penerbangan jarak jauh memang menguras energi. Karenanya, penumpang lebih memilih beristirahat (tidur) berharap sampai di bandara tujuan saat terbangun. Tetapi, penumpang, khususnya di kursi kelas ekonomi, kerap merasa tak nyaman ketika kursi di sebelahnya diisi penumpang lain. Di saat yang bersamaan, kursi lainnya banyak yang kosong. Lantas, bolehkan penumpang pindah kursi sejenak untuk sekedar tidur berbaring dengan lebih nyaman?

Baca juga: Bisakah Penumpang Berada di Sebuah Penerbangan Tanpa Diketahui Maskapai? Ini Jawabannya

Maskapai penerbangan diketahui menerapkan kebijakan sangat ketat dalam memastikan keamanan dan keselamatan penerbangan serta turunannya, termasuk manifes penumpang. Ini harus valid dan tidak boleh ada yang terlewat ataupun tertukar karena ini menyangkut asuransi jika terjadi kecelakaan.

Manifes penumpang biasanya berisi data diri lengkap terkait seseorang menaiki pesawat dengan nomor resgistrasi berapa, nomor penerbangan berapa, rute mana, dan duduk di kursi berapa.

Mengingat manifes penumpang sudah tercatat sebegitu detailnya, banyak yang khawatir, kegiatan mencari kursi kosong di sebuah penerbangan untuk tidur dan sebagainya, akan mengacaukan data manifes penumpang dan menyulitkan pemberian hak-hak penumpang saat terjadi insiden. Benarkah demikian?

Dilansir Quora, menurut pengalaman salah satu penumpang American Airlines, Moris Deri, pada tahun 2016 rute Heathrow ke O’Hare, penumpang diperbolehkan untuk pindah tempat duduk ke kursi lain yang kosong dalam sebuah penerbangan.

Ketika itu, dalam penerbangan trans-Atlantik tersebut, di tengah perjalanan pilot memberi tahu ke penumpang lewat interkom bahwa pesawat tengah melintas di atas Greenland. Banyak pemandangan menakjubkan di sana salah satunya gunung es.

Pilot juga menginformasikan berapa ketinggian pesawat, beberapa nama pulau, dan sebagainya. Karena sebagian besar kursi kosong, penumpang banyak yang menuju kursi dekat jendela, baik sekedar menikmati pemandangan ataupun melanjutkan duduk di sana. Melihat banyaknya penumpang yang pindah tempat duduk, pramugari/pramugara maskapai tak melarang sedikit pun, malah membantu prosesnya.

Dalam penerbangan lain, penumpang dari salah satu maskapai, Peter Xu, rute Jepang ke Eropa, kursi pesawat widebody yang dioperasikan hanya terisi kurang dari 20 persen.

Disebutkan, sejak awal penerbangan pun, banyak penumpang yang sudah duduk tidak pada posisi seharusnya. Tak sedikit dari mereka yang ‘menguasai’ empat kursi di tengah agar bisa tidur dengan nyaman. Saat ini terjadi, awak kabin sama sekali tidak melarang.

Tak hanya pada penerbangan internasional atau jarak jauh, penumpang berpindah-pindah tempat duduk juga diperbolehkan di penerbangan jarak pendek atau domestik. Setidaknya, itu menurut pengalaman Bruce Parsons.

Baca juga: Urat Malu Putus, Penumpang AirAsia Ini Kekeh Pindah Ke Bangku Premium

Dalam suatu kesempatan, ia terbang dari Chicago ke Dallas. Saat itu ia dalam kondisi kurang fit. Ajaibnya, kursi di sebelahnya kosong dan ia mengangkat armrest di kursi tengah untuk kemudian tidur di kursi dan awak kabin tidak melarang atau mencegahnya.

Perlu dicatat, beberapa kejadian di atas terjadi untuk sesama kursi kelas ekonomi. Untuk penumpang kursi kelas ekonomi pindah ke kursi bisnis atau bahkan first class, itu belum diketahui boleh atau tidaknya.

Misteri Kereta Mewah Orient Express Terpecahkan, Gerbong yang Hilang Berhasil Ditemukan

Siapa yang tak kenal dengan legenda kereta mewah Orient Express, yang pada zamannya melayani rute dari Paris, Perancis menuju Istanbul, Turki. Saking kondangnya Orient Express, penulis kondang asal Inggris, Agatha Christi membuat novel misteri berlayar kereta itu yang berjudul “Murder on the Orient Express”.

Baca juga: 4 Oktober 1883, Orient Express Pertama Kali Layani Rute Perancis ke Istanbul

Meski debutnya telah menjadi perhatian dunia, namun, siapa sangka Orient Express menyisakan sejumlah misteri. Dan setelah empat dekade menjadi tanda tanya, baru-baru ini misteri itu berhasil diungkap.

Dikutip dari nzherald.co.nz (15/10/2022), disebutkan rangkaian gerbong kereta Orient Express yang menghilang telah ditemukan. Ini merupakan gerbong kereta yang identik dengan misteri. Dan setelan beberapa dekade, misteri itu telah terpecahkan berkat bantuan jaringan penggemar kereta api internasional. Rangkaian kereta Orient Express  terakhir terlihat saat dikapalkan ke Tokyo, Jepang pada awal 80-an.

Orient-Express ditemukan di perbatasan Polandia-Belarusia. (Foto: Xavier Antoinet)

Terdiri dari 17 gerbong, yakni 12 gerbong tidur, satu restoran, tiga lounge, dan satu van – hilang tanpa jejak sejak beberapa tahun yang lalu. Arthur Mettetal, seorang sejarawan perkeretaapian Perancis, sedang menonton perjalanan kereta api di YouTube, dan disuatu kesempatan Ia melihat kilatan biru menarik perhatiannya.

Setelah dilakukan investigasi, di kota kecil Małaszewicze di perbatasan antara Polandia dan Belarusia, ada sosok yang menjanjikan: beberapa gerbong dengan warna biru malam khas yang sama yang digunakan oleh corak kereta asli Orient Expess.

Ia tidak bisa memastikan kondisinya atau apakah itu gerbong bersejarah, tetapi tangkapan layar membuat forum pencarian kereta online muncul. Lantas Mettetal membeli ongkos kereta api untuk melihat sendiri kondisi Orient Express.

“Dengan sedikit kegigihan, Google Maps dan Google 3D menempatkan kami di jalur yang benar. Atap gerbong terlihat dari pandangan udara, memang gerbong ini milik Nostalgie-Istanbul-Orient-Express, berjajar rapi di perbatasan antara Belarusia dan Polandia.”

Siapa sangka, Kereta yang paling banyak ditulis di dunia, tersembunyi di tempat terbuka. Akhirnya bisa melihat ke dalam, Mettetal kagum dengan keadaan gerbong.

Meski telah lama menghilang, anehnya kondisi gerbong seperti terawat dengan baik, interiornya masih memperlihatkan marquetry Morrison dan Nelson, serta panel Lalique, lambang gaya art deco, yang tetap utuh dan diukir dengan motif burung hitam dan anggur.

Baca juga: Orient Express, ‘Berjuta Cerita’ dari kereta Mewah Legendaris Eropa

Dengan dukungan dari ketua Accor, Sébastien Bazin, Mettetal dapat melakukan upaya untuk mengembalikan kereta ke operasi penuh. Tiga tahun kemudian, mereka menandatangani kesepakatan dengan pemiliknya pada tahun 2018, dan akhirnya Orient Express diangkut kembali ke Perancis. Namun, Paris kini tidak akan menjadi terminal untuk kereta terkenal itu. Orient Express memuai perjalanan pertamanya dari Paris ke Istanbul pada 4 Oktober 1883.

Kenapa Pesawat Boeing 777 Punya ‘Punuk’? Ini Jawabannya

Meskipun berasal dari satu manufaktur yang sama, masing-masing tipe pesawat memiliki ciri khas sendiri, termasuk pesawat Boeing 777. Pesawat tersebut diketahui memiliki ‘punuk’ kecil di bagian atasnya. Apa itu dan apa fungsinya?

Baca juga: ‘Sultan’ Inggris Ingin Terbangkan Mobil, Jadi Sebab Lahirnya Pesawat Aneh ATL-98 Carvair

Menurut Aircraft Maintenance Technician, Lou Koumades, ‘punuk’ tersebut adalah Radome (radar dome) atau kubah penutup antena radar. Meskipun kecil, namun, menurut para ahli, pesawat tidak bisa terbang tanpa Radome saking krusialnya benda tersebut.

Secara teknis Radome didefinisikan sebagai penutup antena radar guna melindungi fungsinya dari gangguan sekitar dengan memperhatikan bentuk, kekuatan struktur dan efisiensi transmisi gelombang radar.

Dikutip dari skybrary.aero, antena radar sendiri berfungsi untuk memancarkan dan menangkap gelombang elektromagnetik (gelombang radio). Antena radar di pesawat berbentuk piringan datar (flat plate). Gerakan antena, dikontrol oleh antena drive. Dengan begitu, radar bisa digerakkan sesuai kebutuhan, baik secara horizontal atau kanan-kiri maupun vertikal atau atas-bawah sampai ke daratan sekalipun.

Menggerakkan antena terkadang penting dilakukan untuk mengukur seberapa kuat dan tinggi cakupan hujan, badai, awan cumulonimbus yang mengandung petir dan hawa dingin serta kristal es. Antena dan antena drive umumnya terletak di nose radome atau di hidung pesawat.

Oleh sebab itu Radome dibuat dari bahan komposit yang dapat ditembus gelombang radio. Antena pada Radome di ‘punuk’ Boeing 777 tentu tidak bekerja sendirian melainkan dibantu dengan komponen lainnya, termasuk transceiver.

Transceiver adalah komponen yang berfungsi untuk memproduksi gelombang elektromagnetik yang akan dipancarkan oleh antena (transmitter). Gelombang yang dipancarkan transmitter mampu menjangkau sejauh 592 km dengan beamwidth mencapai 8 ribu kaki.

Selain itu, transceiver juga berfungsi untuk menerima dan mengolah gelombang elektromagnetik yang dipantulkan oleh objek (receiver). Transceiver merupakan otak dari sistem radar di pesawat terbang. Transceiver terhubung dengan control panel dan perangkat display di pesawat.

Baca juga: “Vertical Take-off”, Rahasia di Balik Manuver Ekstrim Boeing 777x

Sistem radar di pesawat terhubung dengan sistem display di kokpit pesawat. Kondisi cuaca yang ditangkap oleh radar akan ditampilkan di navigation display. Kondisi cuaca ditampilkan dalam empat warna yang berbeda; hijau, kuning, merah, dan magenta. Tiap warna menggambarkan kondisi cuaca yang berbeda. Hijau untuk kondisi cuaca yang ringan, kuning untuk sedang, merah untuk berat, dan magenta untuk turbulensi.

Tampilan radar cuaca untuk kebanyakan sistem adalah dalam dua dimensi. Hanya tampilan dalam sumbu horizontal saja. Namun sekarang juga sudah dikembangkan radar cuaca yang dapat memberikan kondisi cuaca dalam tiga dimensi, yaitu dalam sumbu horizontal dan sumbu vertikal.

Bagaimana Cara Pilot Turunkan Berat Pesawat Selama Penerbangan?

Tak sedikit pesawat yang diharuskan mendarat tak lama setelah lepas landas akibat berbagai alasan, seperti kerusakan mesin, adanya penumpang sakit, berbuat onar, dan sebagainya. Sayangnya, prosedur pendaratan mengharuskan pesawat mencapai berat tertentu. Karenanya, pilot mesti menurunkan berat total pesawat. Bagaimana caranya?

Baca juga: Mengapa Pesawat Buang Bahan Bakar Saat di Udara? Simak Penjelasannya

Sebelum menjalankan penerbangan komersial, pesawat diketahui melewati serangkaian pemeriksaan oleh tim mekanik, mulai dari mesin, flight control, flight instrument, landing gear system, interior, eksterior, alat-alat keselamatan dan keamanan penerbangan, dan banyak lagi.

Sampai beberapa menit sebelum lepas landas pun, tim mekanik, awak kabin, dan pihak-pihak terkait akan melaporkan berbagai kondisi yang ada, baik buruknya itu. Pilot kemudian memutuskan untuk melanjutkan penerbangan atau tidak. Andai pilot memutuskan terbang, itu berarti bisa dipastikan seluruhnya dalam kondisi aman dan laik terbang.

Namun, siapa nyana, tak lama setelah lepas landas, insiden pun terjadi. Banyak hal, seperti penumpang mendadak sakit dan membutuhkan pertolongan medis di darat, roda pendaratan tak bisa melipat dan masuk ke dalam lambung pesawat, kerusakan teknis pada sistem di kokpit, mesin, dan lain sebagainya.

Dalam kondisi ini, pesawat mau tak mau harus return to base (RTB) dan mendarat dengan mengikuti prosedur yang ada. Salah satunya mengikuti standar berat tertentu.

Bila pesawat kelebihan beban, maka pilot harus mengurangi atau menurunkan beban tersebut (berat total pesawat) untuk menghindari kerusakan pada landing gear system atau pada pesawat secara keseluruhan, termasuk pada aspal runway yang memiliki berat maksimum pesawat yang bisa mendarat di atasnya.

Selain menanggung beratnya sendiri, pesawat juga menanggung beban dari beberapa lainnya, seperti penumpang, kargo, mail, dan Avtur atau bahan bakar pesawat. Ini disebut berat total pesawat.

Dalam kondisi pesawat harus segera mendarat tak lama setelah lepas landas, praktis, pilot harus memilih mana yang harus dibuang untuk menurunkan total berat pesawat. Dari pilihan penumpang, kargo, mail, dan Avtur, pilot umumnya lebih memilih membuat Avtur. Bagaimana caranya?

Dilansir Quora, caranya cukup mudah. Pilot atau kopilot hanya perlu menekan beberapa tombol yang ada pada button ‘fuel jettison’.  Di sana terdapat beberapa tombol lainnya dengan fungsi sama-sama membuang bahan bakar.

Prosedur membuangnya pun tak asal-asalan. Petunjuk teknis dari Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), pesawat tidak diizinkan membuang bahan bakar di bawah ketinggian 2.000 kaki, nyaris setara dengan lantai teratas (163 lantai) gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, atau kurang lebih setinggi 610 meter.

Pasalnya, bila pesawat membuang bahan bakar di bawah itu, daratan akan dihujani bahan bakar pesawat setara ribuan liter. Tak terbayang berapa banyak rumah yang akan dibuat basah karenanya. Tak terbayang pula efek samping yang dialami masyarakat ketika terkena avtur sekalipun berupa kristal layaknya hujan rintik-rintik.

Namun, bila pesawat membuang bahan bakar di atas itu, bahan bakar akan menguap menjadi gas dan memuai di udara. Artinya, bahan bakar cair yang dibuang tak berbentuk utuh hingga menghujani daratan.

Baca juga: Berapa Minimum Bahan Bakar yang Dibawa Pesawat dalam Sekali Terbang?

Di samping tak diizinkan melakukan hal tersebut di bawah ketinggian 2.000 kaki, pesawat juga dilarang untuk membuang bahan bakar di area perkotaan ataupun di atas lautan atau area perairan lainnya.

Usai bahan bakar dibuang sesuai dengan prosedur yang berlaku, melalui nozel di ujung kedua sayap, dimana efeknya terkadang terlihat seperti condensation trail (contrail) saat pesawat melintasi langit, proses pendaratan jadi lebih aman.

Tak Hanya di Bandara Konvensional, Jet Blast Deflector Jadi Kelengkapan Wajib di Kapal Induk

Perangkat yang satu ini tidak selalu ada di setiap bandara, namun keberadaan jet blast deflector tak bisa dilepaskan dari salah satu perangkat keamanan yang lazim ada di bandara, bahkan termasuk wajib hadir di kapal induk. Nah, apakah yang dimaksud jet blast defelector?

Baca juga: Jet Blast Deflector, Juru Selamat di Bandara dari Ancaman ‘Knalpot’ Pesawat

Jet blast defelector (JBD) adalah perangkat keselamatan yang mengarahkan kembali semburan knalpot energi tinggi dari mesin jet untuk mencegah kerusakan dan cedera. Untuk menahan semburan mesin jet yang kuat, sudah barang tentu JBD harus dibuat cukup kuat untuk menahan panas dan aliran udara berkecepatan tinggi serta debu dan serpihan yang terbawa oleh turbulensi udara.

Tanpa deflektor, ledakan jet bisa berbahaya bagi manusia, peralatan, kendaraan, dan pesawat lainnya yang berada di area belakang. JBD memiliki kompleksitas yang beragam, mulai dari konstruksi dari beton stasioner, pagar logam atau fiberglass hingga panel yang dinaikkan dan diturunkan oleh lengan hidraulik dan didinginkan secara aktif.

Ilustrasi jet blast deflector. Foto: IAC Acoustics

JBD dapat digunakan sebagai perlindungan dari helikopter dan propwash pesawat sayap tetap. Di bandara dan pusat layanan mesin jet, JBD dapat dikombinasikan dengan dinding peredam suara untuk membentuk penutup ground run-up di mana mesin pesawat jet dapat dengan aman dan lebih tenang diuji dengan daya dorong penuh.

Dari sejarahnya, JBD mulai digunakan di bandara pada tahun 1950-an. Bandara pada 1960-an menggunakan JBD dengan ketinggian 1,8 hingga 2,4 meter, tetapi bandara pada 1990-an membutuhkan deflektor yang dua kali lebih tinggi, bahkan setinggi 11 meter, terutama untuk pesawat jet seperti McDonnell Douglas DC-10 dan MD-11, yang memiliki mesin yang dipasang di bagian ekor di atas badan pesawat.

Di sebagian bandara sering menempatkan deflektor mereka di awal landasan pacu, terutama ketika jalan raya atau struktur berdekatan. Bandara yang berada di daerah perkotaan yang padat seringkali memiliki deflektor antara taxiway dan perbatasan bandara.

JBD biasanya mengarahkan gas buang ke atas.Namun, zona bertekanan rendah dapat terbentuk di belakang pagar ledakan, menyebabkan udara sekitar dan puing-puing tertarik ke atas dengan knalpot jet, dan gas panas beracun bersirkulasi di belakang JBD.

Untuk itu, JBD telah dirancang untuk mengatasi masalah ini dengan menggunakan beberapa panel dan berbagai sudut, dan dengan menggunakan permukaan panel berlubang.

Baca juga: Beken dengan ‘Atraksi’ Jet Blast, Bandara Princess Juliana Ternyata Pernah Makan Korban Jiwa

Di kapal induk, JBD digunakan di bagian belakang ketapel pesawat, diposisikan untuk melindungi pesawat lain dari kerusakan ledakan knalpot. JDB di kapal induk terbuat dari bahan padat dan berat yang dinaikkan dan diturunkan oleh silinder hidrolik atau aktuator linier.

Apakah Pendaratan Autopilot Lebih Sulit atau Lebih Mulus Dibanding Pendaratan Secara Manual?

Seiring kecanggihan teknologi, banyak pesawat modern saat ini melakukan pendaratan secara otomatis (autopilot/autoland). Penumpang tentu saja tidak dibertahu apakah pesawat yang ditumpanginya melakukan pendaratan autopilot atau tidak. Tetapi, dari sisi pilot, sebetulnya apakah pendaratan autopilot lebih sulit atau lebih mulus dibanding pendaratan secara manual?

Baca juga: Ternyata Kebanyakan Pesawat Saat Ini Mendarat Otomatis (Autoland)

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui, pendaratan mulus (soft landing) dan pendaratan keras (hard landing) tidak bisa dilihat sebagai positif dan negatif. Sebab, keduanya dibutuhkan.

Dalam kondisi normal, soft landing memang menjadi idaman bagi setiap pilot, bukan hanya penumpang. Bahkan, sudah menjadi sebuah keharusan dan keniscayaan untuk melakukan pendaratan halus dalam kondisi tersebut.

Sebaliknya, dalam kondisi tidak normal, seperti hujan deras, angin kencang, dingin, bersalju, atau sejenisnya, soft landing belum tentu menjadi sebuah keharusan. Bahkan sebaliknya, hard landing yang masih dalam batas aman dibutuhkan guna menghindari hilangnya gesekan antara ban dengan permukaan runway.

Sebab, bila gesekan antara keduanya hilang, maka pesawat akan mengalami hydroplaning atau selip ban dan menyebabkan proses pengereman menjadi sangat tidak maksimal. Singkatnya, dalam kondisi tersebut, hard landing berarti positive landing.

Sayangnya, hard landing tidak bisa diatur dalam pendaratan autopilot. Sebab, pendaratan autopilot, dalam kondisi normal, sudah hampir dapat dipastikan membawa pesawat mendarat dengan mulus dan tentu saja mudah.

Menurut Mark Benton, kapten pilot United Airlines, pendaratan autopilot atau autoland sangat mulus sampai-sampai ia tidak mengetahui bahwa pesawat sudah touchdown atau belum. Dari pengalamannya selama ini, melakukan pendaratan autopilot, pendaratan manual, dan pendaratan hard landing, ia menyebut pendaratan autopilot adalah cara terbaik kecuali bagi pilot-pilot berkemampuan tinggi.

Lebih lanjut, ia bercerita, dalam suatu penerbangan yang mana itu adalah penerbangan terakhirnya bersama Boeing 777 sebelum pindah ke Boeing 787, ia bertekad untuk melakukan pendaratan manual dan itu didukung penuh oleh kopilot.

Namun, seiring waktu, cuaca di bandara tujuan terus memburuk dan ia sempat ragu untuk tetap melakukan pendaratan manual. Tanpa bilang ke kopilot, Mark memilih melakukan pendaratan autopilot dan hasilnya pesawat sukses mendarat dengan mulus.\

Baca juga: Perusahaan Amerika Siap Perkenalkan Pesawat Bersistem Autoland

Usai mendarat dan keluar dari pesawat, kopilot mengatakan padanya bahwa itu adalah pendaratan paling mulus sepanjang terbang bersamanya. Kesaksian tersebut sekaligus menjawab pertanyaan di awal, bahwa pendaratan dengan fitur autoland atau pendaratan otomatis lebih mudah dan mulus dibanding pendaratan secara manual.

Selain hanya tinggal mengaktifkan atau menekan tombol autoland dengan syarat tiga fitur autopilot aktif dan semua indikator di kokpit berfungsi baik, fitur autoland juga memudahkan pilot karena pasca touchdown atau roda pendaratan menyentuh aspal, itu dilanjutkan dengan fitur autobrake atau pengereman otomatis yang satu kesatuan dengan fitur autoland.