Inilah AirSial, Maskapai Pakistan yang Terinspirasi dari Kota Sialkot

Di dunia, ada ratusan bahkan ribuan bahasa nasional dan daerah. Banyaknya bahasa di dunia, tak jarang terdapat beberapa kata yang sama namun beda makna. Salah satunya Sial. Di Indonesia, “sial” berarti negatif, tetapi, di Pakistan “sial” merupakan nama salah satu kota yang pada akhirnya menginspirasi lahirnya maskapai penerbangan AirSial.

Baca juga: Inilah Air Sinai, Maskapai ‘Hantu’ yang Hubungkan Israel dan Mesir!

Dikutip dari berbagai sumber, AirSial sendiri merupakan maskapai swasta ketiga Pakistan. Sebagaimana namanya, AirSial berbasis di kota Sialkot, Tenggara Islamabad, ibu kota Pakistan.

Tak banyak informasi mengenai maskapai itu. Namun, data centreforaviation.com, AirSial didirikan oleh segolongan komunitas pengusaha yang bernaung di Kamar Dagang dan Industri Sialkot.

Semangatnya ketika mendirikan maskapai AirSial adalah untuk meningkatkan konektivitas antara Sialkot dengan kota-kota besar di negara tersebut, seperti Islamabad, Lahore, dan Karachi.

AirSial didirikan dengan belanja modal sebesar US$20 juta atau sekitar Rp312 miliar. Tergolong kecil untuk memulai bisnis maskapai penerbangan. AirSial tercatat mendapatkan lisensi RPT atau sejenis izin usaha penerbangan niaga berjadwal dari Otoritas Penerbangan Sipil pada Oktober 2017.

Kendati sudah mendapat restu dari regulator penerbangan sipil Pakistan, AirSial tidak langsung beroperasi. Maskapai harus melakukan berbagai penguatan di internal. Nahasnya, saat semua persiapan sudah siap dan matang pada tahun 2020, pandemi Covid-19 merebak dan maskapai kembali tiarap.

Setelah persiapan ulang dengan berbagai penguatan konsep bisnis dan target pasar, maskapai AirSial mulai beroperasi pada tanggal 25 Desember 2020. Rute perdananya adalah terbang antara Islamabad dan Karachi.

Seiring waktu, AirSial terus mengembangkan jangkauan terbangnya. Terbaru, maskapai itu telah mendapat izin melakukan penerbangan internasional ke UEA, Arab Saudi, Qatar, Oman, Irak, dan Iran dengan armada setidaknya lima pesawat. Dengan capaian tersebut, tak heran AirSial digadang-gadang sebagai maskapai yang sedang naik daun di industri penerbangan Pakistan.

Jumlah armada pesawat maskapai AirSial tidak banyak datanya. Tetapi, menurut FlightGlobal, AirSial di awal berdiri telah menyewa tiga pesawat Airbus A320 ke lessor kenamaan, AerCap.

Baca juga: Profil China Airlines, Maskapai Nasional Taiwan yang ‘Alergi’ Pakai Nama ‘China’

Meski muncul sebagai maskapai baru, AirSial memiliki visi misi tinggi. AirSial bertujuan untuk terbang tinggi dengan menawarkan perpaduan pengalaman terbang yang luar biasa – berakar kuat pada praktik keselamatan dan operasional terbaik, dengan sikap yang dijiwai dengan kebanggaan budaya setempat, keramahtamahan yang hangat, dan standar layanan yang luar biasa.

Bila tak ada aral melintang, bukan tak mungkin kelak AirSial dapat menyaingi maskapai terbesar sekaligus maskapai nasional Pakistan, Pakistan Internasional Airlines (PIA). Terlebih, maskapai itu sedang dalam masa-masa sulit pasca pandemi Covid-19.

Dihadapan Bos Skywell Indonesia, Dirut Transjakarta Tantang Kementerian BUMN Riset Retrofit Bus Listrik

Direktur Utama (Dirut) PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Mochammad Yana Aditya, mengungkapkan agar Kementerian BUMN kelak melakukan riset terkait retrofit bus listrik. Ini dianggap mempercepat komitmen Indonesia mencapai bebas emisi karbon di tahun 2060. Menariknya, hal itu disampaikan dihadapan pimpinan PT Kendaraan Listrik Indonesia (KLI) sebagai agen pemegang merek Skywell.

Baca juga: TransJakarta Mulai Opersikan 30 Armada Bus Listrik di 4 Rute

Mula-mula Yana menyampaikan perihal penandantanganan kerja sama layanan angkutan umum bus listrik dengan Perum PPD, yang merupakan bagian dari 100 bus listrik yang direncanakan beroperasi pada tahun ini.

Dirut yang sempat dicopot oleh Menteri BUMN Erick Thohir dari posisi Dirut PT Perikanan Nusantara (Persero) itu kemudian mengungkapkan jumlah armada Perum PPD baik konvesional maupun bus listrik.

Yana lanjut melaporkan bahwa pihaknya memiliki rencana jangka panjang terkait pengoperasian bus listrik sampai tahun 2030. Di tahun tersebut, Transjakarta akan mengoperasikan 10.047 unit bus listrik. Saat ini, rencana tersebut sudah dimulai dan pengoperasian bus listrik Transjakarta dilakukan secara bertahap sampai di tahu 2030.

Rencana jangka panjang tersebut disebutnya tentu saja membutuhkan dukungan dari banyak pihak, terutama Kementerian BUMN.

“Tentu membutuhkan Kementerian BUMN, Pak Wamen (BUMN II), selain dari Damri mungkin nanti merger dengan Perum PPD sebagai operator kami membutuhkan dukungan dari BUMN yang lain, dari PLN, mungkin INKA untuk bus listrik,” jelas Yana, dalam acara Seremonial Kerjasama Layanan Angkutan Umum Bus Listrik Skywell dengan Perum PPD, Rabu (28/12/2022).

Sampai di sini, Yana mengundang INKA agar kelak menguji coba lagi bus listrik buatannya, yang belakangan sudah dipakai dalam gelaran G20 di Bali beberapa waktu lalu. Dengan catatan, agar bus listrik buatan Inka tersebut yang terkategori high tech agar jajaran bus listrik Transjakarta bisa terus bertambah.

Barulah setelahnya, Dirut Yana mengusulkan agar Kementerian BUMN melakukan riset terkait retrofit bus listrik dihadapan Wakil Menteri II Kementerian BUMN, Kartika Wirjoatmodjo.

“Barangkali Kementerian BUMN berkenan perlu juga ada riset terkait dengan retrofit. Jadi untuk mempercepat komitmen negara Indonesia untuk net zero emmission ini,” jelas Yana.

“Kalau kita hanya membeli dan membuat kan ada waktu. Tapi kalau ada operator misalnya Damri dan PPD juga ada bus makin bagus mesinnya kita ganti dengan mesin listrik saya kira ini akan bisa lebih cepat proses,” tambahnya.

Baca juga: PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

Dengan turun tangannya Kementerian BUMN dalam melakukan riset retrofit bus listrik, ia berharap transportasi di Jakarta bisa didukung oleh banyak pihak agar pelayanan transportasi di Jakarta bisa lebih baik.

Retrofit sendiri bukan barang baru di sektor transportasi. Di sektor transprotasi udara, misalnya, retrofit marak dilakukan beberapa perusahaan. Retrofit sendiri adalah penambahan teknologi atau fitur baru pada sistem lama untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan proses kerja menjadi lebih optimal.

Marak Pelecehan Seksual di Bus, Transjakarta Sediakan Ruang Khusus di Halte–Pengacara

Transjakarta bakal menyediakan ruang khusus bagi korban pelecehan seksual. Ruang khusus ini adalah salah satu fasilitas baru di halte Transjakarta pasca revitalisasi. Tak hanya itu, perseroan juga menyiapkan dokter, psikiater, psikolog, sampai pengacara sebagai langkah-langkah lanjutan dalam melakukan pendampingan terhadap korban pelecehan seksual.

Baca juga: Belum Berubah, Wanita Masih Sering Mengalami Pelecehan Seksual di Transportasi Massal

“Kita di halte menyediakan ruang ramah perempuan dan anak. Nanti ada petugas keamanan yang pakai rompi biru mereka yang bertugas untuk memastikan keamanan di halte dan bus itu terjaga. Kita bantu dengan CCTV. CCTV itu terpantau di kantor pusat. Nyambung juga di ponsel pimpinan,” ujar Kepala Divisi Prasarana PT Transjakarta, Trijatmi Erawati, kepada wartawan, Rabu (28/12).

CCTV, lanjutnya, yang saat ini tersebar di bus dan halte, juga dilengkapi dengan teknologi terkini yang memungkinkan terduga pelaku mudah diidentifikasi.

Sambil terus mengidentifikasi pelaku, korban pelecehan seksual akan diamankan dan dibawa ke ruang ramah perempuan dan anak di halte untuk dilakukan pendampingan. Di sana, korban akan diminta untuk menjelaskan kronologi kejadian. Andai situasinya buruk, Transjakarta akan berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk  (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta.

PPAPP kemudian akan melakukan asessment untuk melakukan pendampingan dengan psikologi, psikiater, sampai pengacara.

“Pada saat ada laporan kejadian pelecehan atau apapun kita bisa langsung ambil CCTV. CCTV-nya juga sudah model V8 itu kita bisa zoom mukanya kaya apa itu kita bisa cari. Kita sudah kerja sama dengan kepolisian-TNI, kalo oknumnya ada itu kita gampang banget nangkapnya,” jelas Trijatmi.

“Kita perlu ruang me-recovery psikisnya pelanggan yang terkena pelecehan itu biasanya pasti stress pasti panik, takut, nah kita ada ruang jadi di revitalisasi ini kita menyediakan ruang buat pelanggan untuk bisa di ruangan itu dulu menenangkan diri kemudian dia bisa melaporkan apa yang terjadi, kita dampingi nah itu bagian dari usaha kita untuk mengurangi itu,” tambahnya.

“Kita bekerja sama dengan PPAPP, kita sudah bekerja sama. Jadi kalau kondisinya sangat buruk kita bisa panggil dokter psikiater psikolog sampai ke pengacara itu disediakan. Tinggal nanti kita koordinasi dengan Dinas mereka yang sediakan,” tutupnya.

Baca juga: KAI Blacklist Pelaku Pelecehan Seksual untuk Naik Kereta Api

Pelecehan seksual di bus Transjakarta marak terjadi. Sampai bulan Agustus tahun ini saja sudah terjadi sembilan kasus pelecahan seksual di lingkungan Transjakarta.

Upaya demi upaya terus dilakukan Transjakarta, mulai dari imbauan agar pelaku berani melapor ke petugas, sampai mengoperasikan bus khusus wanita.

Rusia: “Proyek CR929 Bisa Dilanjutkan Tanpa Menggunakan Komponen dari Pihak Ketiga”

Antara Rusia dan Cina memang bersekutu, namun, dalam aspek industri, hubungan antar keduanya kerap mengalami pasang surut. Seperti dalam sektor dirgantara, Rusia dan Cina berksepakat untuk mendirikan perusahaan patungan China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC), yang diwujudkan dalam proyek pengembangan pesawat wide-body CR929, yang diproyeksi untuk menandingi Airbus A330 dan Boeing 787.
Lantaran ada sejumlah ketidaksesuaian, Rusia dikabarkan tengah mempertimbangkan keluar dari proyek CR929 dan meninggalkan Cina sendirian. Hal itu disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Yuri Borisov, yang mengawasi industri militer dan penerbangan Rusia, pada bulan Juli lalu.
Namun, ada update terbaru yang disampaikan Denis Manturov, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perdagangan dan Industri Federasi Rusia, yang baru. Dikutip dari Kantor Berita Rusia TASS, Manturov mengungkapkan bahwa proyek CR929 dapat terus dilanjutkan, tapi dengan sejumlah syarat.
Banyak kolaborasi teknologi internasional telah ditunda tanpa batas waktu karena sanksi yang dikenakan terhadap Rusia sebagai akibat dari invasinya ke Ukraina. Namun, Cina tidak membatasi hubungan perdagangan dengan tetangganya di utara. Dengan demikian, kolaborasi pesawat berbadan lebar yang direncanakan antara United Aircraft Corporation (UAC) dan Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC), CRAIC CR929, secara teoritis masih dapat terjadi.
Meskipun sempat ada ancaman dari Rusia untuk menarik diri dari proyek tersebut, rencana untuk pesawat penumpang dua lorong dengan 280 kursi jarak jauh tampaknya akan terus berlanjut.
Tapi perlu dicatat, bahwa Rusia tidak akan mengandalkan komponen dan sistem yang bersumber dari luar dan sadar akan risiko pemasok dari pihak ketiga, yang dapat menarik diri karena takut akan konsekuensi melakukan bisnis dengan Rusia. Untuk itu, Pemerintah Rusia sekarang berhati-hati untuk melanjutkan proyek CR929.
“Saya pikir kami akan mengadakan negosiasi reguler pada kuartal pertama tahun depan, dan kami akan mencapai prospek dan tenggat waktu yang jelas. Tetapi rekan Cina kami hari ini memiliki aplikasi untuk berpartisipasi dalam proyek ini dari berbagai produsen komponen dari negara ketiga. Kami sendiri tidak akan melakukannya dengan format seperti itu, mengingat situasi saat ini dan semua risiko yang kami pahami dengan baik, oleh karena itu, agar tidak menghadapinya, kami dapat membuat keputusan sendiri,” ujar Denis Manturov.
Sementara itu, Manturov juga mengatakan bahwa sementara pintu kolaborasi industri mungkin tertutup dengan Barat, Rusia akan berupaya meningkatkan kemitraannya dengan negara-negara di EAEU (Eurasian Economic Union) dan CIS (Commonwealth of Independent States), SCO (Asosiasi Kerjasama Shanghai), BRICS, negara-negara di dunia Arab, serta negara-negara lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Target UAC terperinci untuk 1.000 unit jet pada tahun 2030. Manturov mempertahankan target yang disepakati dengan Vladimir Putin pada bulan Maret – bahwa pada tahun 2030, Rostec akan memproduksi 1.000 pesawat baru. Sekitar setengahnya, berarti 500, di antaranya akan datang dari United Aircraft Operation (UAC). Angka ini terdiri dari 240 unit MC-21-310, 114 SSJ-NEW, 70 Il-114-300, 70 Tu-214, dan 12 Il-96.

Tuntas Direvitalisasi, 4 Halte Transjakarta yang Terintegrasi KRL dan LRT Jabodebek Mulai Beroperasi

Transjakarta siap mengoperasikan empat halte yang sudah tuntas direvitalisasi. Halte-halte itu tidak hanya memiliki wajah baru yang lebih segar, tetapi juga ramah disabilitas dan terintegrasi dengan moda lain, mulai dari KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line sampai LRT Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi).

Baca juga: Anies: Integrasi MRT ASEAN-Halte TransJakarta di CSW Jadi Monumen Penting dalam Sejarah

Saat ini, dari keempat halte Transjakarta yang sudah rampung direvitalisasi itu, mulai dari Halte Stasiun Jatinegara 2, Halte Stasiun Matraman Baru, Halte Stasiun Cawang Cikoko, dan Halte Stasiun Juanda, yang sudah mulai dioperasikan atau diuji coba secara terbatas adalah Halte Stasiun Jatinegara 2.

Meski seluruh pekerjaan pembangunan revitalisasi dan integrasinya dengan KAI Commuter atau dengan Stasiun Jatinegara sudah rampung sepenuhnya, tetapi operasionalnya masih menunggu peresmian dengan pihak KAI Commuter.

“Yang mulai operasi ini (Halte Stasiun Jatinegara 2). Hari ini (Rabu) kita mulai operasikan. Secara bertahap sudah dioperasikan. Secara fisik pekerjaan sudah selesai tinggal kita buka aja itu penutup dengan pihak KAI Commuter,” kata Direktur Teknik & Digital Transjakarta, Mohamad Indrayana, kepada wartawan, Rabu, (28/12/2022).

Bila tak ada aral melintang, Halte Stasiun Jatinegara 2 dan Stasiun Jatinegara bisa sepenuhnya terintegrasi dan dinikmati masyarakat mulai awal tahun depan. “Kita targetkan awal tahun depan, awal Januari,” tambahnya.

Meski begitu, ia menggarisbawahi bahwa operasional halte terintegrasi tersebut di bulan Januari masih belum 100 persen pekerjaan rampung.

“Kelengkapan disabilitas agak mundur sedikit. Kita harapkan paling cepat bulan Februari sudah lengkap dengan lift dan eskalator,” tambahnya.

Lebih lanjut, Mohamad mengungkapkan bahwa empat halte yag sudah tuntas direvitalisasi itu salah satunya tidak hanya terintegrasi dengan KRL tetapi juga dengan LRT Jabodebek.

“Jadi Transjakarta, ada Stasiun Cawang Cikoko sendiri yang dilintasi KRL terus ada juga dengan LRT Jabodebek. LRT-nya kan yang kemarin ditinjak Presiden (Jokowi) yang akan diperasikan pertengahan tahun depan. Tapi kita sudah kita koneksikan duluan dan kita operasikan tak menunggu LRT-nya dan ini (Halte Stasiun Cawang Cikoko) akan kita operasikan juga awal tahun depan,” jelas Mohamad.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Sayangnya, tarif integrasi antarmoda di empat halte yang terintegrasi itu, termasuk juga dengan halte-halte lainnya, masih harus menunggu dan belum ada kejelasan lebih jauh.

Meski begitu, saat ini, pihak KAI Commuter dan Transjakarta disebutnya sudah membuka komunikasi. Tinggal menunggu regulasi saja dari Pemprov DKI Jakarta dan Kementerian Perhubungan.

Ada “DINA” di Stasiun MRT Lebak Bulus, Robot Pintar untuk Tugas Patroli

Seolah mengkuti jejak MRT Singapura, MRT Jakarta mulai memperkenalkan sosok robot pintar di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Robot yang berkeliling di area lantai 2 itu, dapat berpatroli secara otonom maupun menggunakan kendali petugas. Robot inovasi ini diharapkan membantu tingkat manajemen untuk mengetahui kondisi nyata (real time) di stasiun sehingga membantu dalam pengambilan keputusan atau kebijakan.
Dikutip dari Detik.com (28/12/2022), selain itu, robot ini juga melakukan interaksi dua arah dengan penumpang karena tersambung dengan petugas di stasiun. Robot pintar yang diberi nama DINA, dikembangkan oleh para akademisi Universitas Gunadharma dan digadang untuk melalukan patroli di dalam area stasiun.
Belum jelas mengenai spesifikasi DINA. Untuk saat ini, PT MRT Jakarta mengujicobakan satu unit Robot DINA dan ditempatkan di Stasiun Lebak Bulus Grab, sebagai salah satu stasiun besar dan tersibuk di jalur fase 1. Nantinya, akan dilakukan kajian dan evaluasi untuk penambahan di stasiun lain, termasuk untuk fase 2A.
Jauh sebelumnya, yakni pada tahun 2018, MRT Singapura juga telah menghadirkan robot dengan fungsi patroli di beberapa stasiun. Untuk melakukan tugas patroli, robot yang dikembangkan oleh leh ST Engineering, sudah terbilang canggih.
Fitur yang melekat pada robot patroli di stasiun MRT Singapura  mencakup 7 unit kamera pengintai yang dapat memanta situasi 360 derajat. Untuk akurasi lokasi, robot ini juga dilengkapi GPS (Global Positioning System), plus beragam sensor seperti LIDAR (Light Detection and Ranging) dan laser tracker. Dalam tahap lanjutan, LTA (Land Transport Authority) menyebut robot akan punya kemampuan analisa video dan audio.

Skadron Udara 17 TNI AU Operasikan Dassault Falcon 7X dan 8X, Jet Mewah dengan Kemampuan Terbang Jarak Jauh

Selain kondang dengan produk jet tempur Rafale, Dassault Aviation juga tersohor sebagai manufaktur pesawat jet bisnis, di mana Dassault Aviation telah mengibarkan nama Falcon sebagai lini pesawat jet mewah dengan kemampuan terbang jarak jauh. Dan pada 28 Desember 2022, Skadron Udara 17 VIP/VVIP TNI AU telah resmi bergabung sebagai operator jet mewah tersebut.

Baca juga: 2023 Pesawat Falcon 50 Berbahan Bakar Amonia Terbang Perdana, Tantang Pesawat Hidrogen Airbus

Serupa tapi tidak sama, ada dua unit Falcon Business Jet yang didatangkan untuk TNI AU, yakni Falcon 7X dan Falcon 8X. “Hari ini kita berbangga, ada kekuatan tambahan untuk TNI AU. Dua pesawat yang kita sebut pesawat Kodal (Komando Pengendalian) ini diperuntukkan bagi unsur pimpinan sehingga mereka dapat dengan cepat bergerak dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya,” ujar Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang menyerahkan kedua pesawat di Hanggar Skadron Udata 17, pada 28 Desember 2022, seperti dikutip dari Tim Media Prabowo Subianto.

Acara penyerahan pesawat tersebut diawali dengan penghormatan, berupa Water Salute untuk pesawat Falcon 7X, sebagai simbol ucapan selamat datang di Lanud Halim Perdanakusuma.

Falcon 7 X yang digunakan TNI AU bukan pesawat baru. Pesawat ini dibuat Dassault Aviation pada tahun 2015. Saat pertama keluar dari pabriknya di Perancis, pesawat ini langsung diboyong ke Meksiko untuk digunakan oleh Aerolineas Centrales. Pesawat yang awalnya memiliki registrasi uji F-WWZR itu kemudian mendapatkan registrasi XA-GOR.

Dituliskan bahwa sebelum registrasi pesawat dicabut, nama pemilik pesawat yang terdaftar di FAA adalah salah satu perusahaan perbankan raksasa dunia, yaitu Bank Of America.

Lalu pada 10 Juni 2022, Falcon 7 X sudah terdaftar dalam registrasi di penerbangan Perancis, dengan nama Dassault Aviation dengan registrasi pengenal F-HJCP. Kemudian pada September 2022, pesawat tiba di Bandara Lelystad, ketika itu pesawat masih menggunakan strip besar berwarna abu-abu di badannya dengan tulisan F-HJCP terpampang di badan mesin jet.

Setelah sempat menghilang selama beberapa pekan, ternyata ketika muncul lagi, wajah Falcon 7 X sudah berubah. Warna dasarnya berubah dari putih menjadi abu-abu khas militer, dan strip abu-abu besar di badan telah berganti merah putih, Selain itu pada ekor pesawat ada roundel TNI AU.

Yang tadinya Falcon 7X menggunakan kode F-HJCP, maka saat resmi dioperasikan TNI AU mendapatkan nomor registrasi A-0707. Bicara spesifikasinya, Falcon 7X diawaki tiga kru (pilot, kopilot, dan pramugari) dan dapat menampung hingga 12 penumpang.

Pesawat ini memiliki panjang 23,19 meter, lebar bentang sayap 26,21 meter, dan tinggi 7,86 meter. Berat lepas landas maksimumnya (MTOW) mencapai 31.299 kg. Falcon 7X ditenagai berupa tiga mesin turbofan buatan Pratt & Whitney Canada (PWC) PW307A, yang masing-masing berdaya 28,46 kN.

Pesawat ini memiliki performa kecepatan jelajah maksimal 900 km per jam dan ketinggian terbang hingga 15.545 meter. Dassault Aviaton merancang Falcom series sebagai pesawat bisnis jet dengan kemampuan terbang jarak jauh. Dengan bahan bakar penuh, Falcon 7X dapat terbang non-stop sejauh 11.000 km.

Baca juga: Dassault Aviation Luncurkan Falcon 10X, Jet Bisnis Ultra Jarak Jauh dengan Sentuhan Jet Tempur Rafale

Falcon 8X
Falcon 8X adalan varian yang lebih maju dari Falcon 7X. Dassault Falcon 8X yang digunakan TNI AU adalah produksi tahun 2017. Operator pertamanya adalah Plenty Shine Investment Ltd, yang kala itu mendaftarkan Falcon 8X dengan nomer registrasi VP-CHY.

Kemudian sejak 18 Juli 2022, pesawat tersebut kembali dimiliki oleh Dassault Aviation dengan nomer registrasi F-HSRI. Ketika resmi digunakan TNI AU, pesawat mendapatkan registrasi A-0808.

Falcon 8X lebih panjang satu meter dari Falcon 7X dan dapat membawa 16 penumpang. Falcon 8X ditenagai tiga mesin jet Pratt & Whitney Canada PW307D. Falcon 8X memiliki jangkauan terbang lebih jauh dari Falcon 7X, yakni 11.950 km. Hal tersebut dapat dicapai berkat tangki tambahan dan mesinnya yang lebih efisien.

10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Waktu lepas landas dan mendarat adalah babakan paling ‘genting’ dalam sebuah penerbangan. Biasanya di kedua waktu tersebut menjadi hal yang menakutkan bagi Anda yang sering naik pesawat. Namun untuk mendarat biasanya akan lebih mengerikan dibanding saat lepas landas dari landasan pacu sebuah bandara. Sebab kecelakaan paling banyak terjadi saat pendaratan dilakukan. Dilansir dari wonderslist.com, berikut ini sepuluh bandara dengan landasan pacu yang dipandang paling ekstrim di dunia.

Baca juga: Kenapa Pesawat Sering Berhenti di Ujung Landasan Sebelum Lepas Landas?

1. Bandara Funchal, Madeira
Bandara ini, dulunya bernama Saint Chatarina, pertama dibuka tahun 1964 dengan dua landasan pacu sepanjang 1600 m dan menjadi salah satu Bandar udara yang memiliki landasan pacu berbahaya karena letaknya sangat dekat dengan tebing curam.

Barra Airport-TravelLeisure
Barra Airport-TravelLeisure

2. Bandara Barra, Skotlandia
Bandar udara ini unik sekaligus ekstrim, karena memiliki landasan pacu yang pendek dan menggunakan pantai sebagai tempat pendaratan dan lepas landas. Barra memiliki tiga landasan pacu yang ditandai hanya tiang-tiang kayu. Landasan bandara ini hanya digunakan untuk penerbangan terjadwal dan tidak untuk malam hari, disebabkan pada malam hari landasan tertutup air laut yang pasang.

3. Sea Ice Runway, Antartika
Landasan pacu bandara ini terbuat dari ukiran es laut setiap tahunnya dengan panjang 2,5 mil. Biasanya operasional bandara ini lebih banyak pada musim panas di Antartika. Untuk melakukan pendaratan di landasan ini pilot harus menghindari mendarat terlalu berat atau bisa tenggelam kedalam es.

Sea-ice-Runway-pinterest
Sea-ice-Runway-pinterest

4. Gustav Airport III
Terletak di salah satu pulau Karibia, bandara ini memiliki landasan pacu yang sempit, pendek dan berpapasan dengan lereng jalan utama kota serta berhadapan langsung dengan laut. Untuk mendarat pesawat harus menukik tajam karena melewati bukit di ujung landasan pacu.

5. Bandara Paro, Bhutan
Satu-satunya bandara yang ada di Bhutan ini, mempunyai landasan pacu yang sangat menantang. Terbukti hanya ada delapan pilot yag memiliki setifikat terbang di bandara ini. Bandara yang dikelilingi oleh puncak Himalaya ini menjulang tinggi dan terletak di lembah yang dalam. Pilot-pilot harus memiliki insting yang kuat sebelum melakukan pendaratan dan harus turun ke landasan dengan cepat kemudian berbelok dengan curam ke kiri sebelum mendarat.

6. Bandara Matakene, Lesotho
Pilot yang menerbangkan pesawat di bandara ini harus memiliki keahlian luar biasa, sebab untuk lepas landas dan mendarat di pegunungan yang memiliki ketinggian 2000 kaki. Tak hanya itu, angina juga menjadi penentu dalam lepas landas maupun mendarat. Adapun yang harus dilakukan pilot sebelum parkir tidak disarankan untuk terbang sebelum mencapai akhir landasan pacu di ketinggian 1312 kaki.

gustav-airport-III-key.aero
gustav-airport-III-key.aero

7. Bandara Courchevel, Perancis, Pegunungan Alpen
Di bandara yang terletak di pegunungan Alpen ini, hanya pilot-pilot bersertifikatlah yang boleh mendarat dan melepas landaskan pesawat. Bentuk landasan Courchevel sendiri pendek, curam dan memiliki kemiringan sekitar 18,5 persen.

8. Saba Airport, Saba, Karibia
Landasan pacu sepanjang 1300 meter di bandara ini dijuluki landasan pacu terpendek. Letaknya yang dikelilingi jurang dengan angin laut yang kencang bisa membuat pilot hilang kendali dan membuat kesalahan dengan resiko kecelakaan.

9. Gibraltar Airport, Gibraltar
Landasan pacu di bandara ini bisa dikatakan berbahaya karena berada di antara jalan utama kota yang dilintasi kendaraan lain. Untuk kendaraan lain yang akan melewati bandara ini, harus bersiap dan sabar untuk menunggu pesawat yang akan mendarat atau lepas landas.

Baca juga: Beken dengan ‘Atraksi’ Jet Blast, Bandara Princess Juliana Ternyata Pernah Makan Korban Jiwa

10. Princess Juliana Airport, Saint Maarten, Belanda
Bandara ini terletak didekat laut tepatnya di pantai Maho dan pilot harus bisa mengatur ketinggian yang sesuai. Sebab jarak antara laut dan badan pesawat sangat dekat. Bila salah-salah, pesawat bisa mengenai para pengunjung pantai tersebut.

Mengapa Pesawat Masih ‘Mantul’ Meski Spoiler Sudah ‘On’?

Komponen di pesawat sangat banyak. Salah satu yang terpenting adalah spoiler. Ini sangat berguna untuk membantu pengereman pesawat dengan cara merusak aliran udara di sayap pesawat. Dengan begitu daya angkat dan kecepatan pesawat pun berkurang. Tetapi, ada kasus dimana meski spoiler sudah on tetapi pesawat masih meluncur kencang dan pada akhirnya menyebabkan bouncing. Kenapa demikian?

Baca juga: Kenapa Beberapa Airbus A320 Air India Miliki Roda Pesawat Ekstra?

Berbagai hal di luar normal bisa terjadi saat pesawat mendarat. Salah satunya adalah terjadinya bouncing atau pesawat memantul seperti bola yang menyentuh lantai. Dalam banyak kasus, ini sebetulnya aman. Tetapi tidak sedikit yang berakhir nahas lantaran landing gear patah saat pantulan pertama atau kedua.

Karenanya, bouncing atau pesawat memantul di landasan pacu saat mendarat sekuat mungkin dihindari pilot-kopilot. Salah satu tekniknya adalah dengan memaksimalkan spoiler. Tetapi, andai itu sudah dimaksimalkan dan tetap terjadi bouncing, apa yang salah?

Dilansir Quora, pilot Airbus A320/A321, Anas Maaz, mengungkapkan, fungsi spoiler dalam mendukung pendaratan pesawat sebetulnya tidak perlu diragukan. Artinya, saat spoiler sudah bekerja, pesawat pasti tidak akan bouncing atau mantul.

Di banyak kasus, boucing terjadi lantaran spoiler belum bekerja. Terdapat beberapa alasan kenapa spoiler tidak ‘on’ saat pertama kali touchdown atau roda pendaratan menyentuh landasan.

Hal itu dikarenakan kontak atau tumbukan antara roda pendaratan dengan aspal landasan pacu terlalu kecil untuk sensor roda pendaratan (landing gear), yang disebut sakelar Weight on Wheel (WOW), untuk mencatat dengan benar bahwa pesawat berada di darat.

Dalam beberapa kasus, sensor tidak membaca saat touchdown pertama  lantaran pesawat mendarat hanya dengan sebelah main landing gear. Itu sebab pesawat pun bouncing. Karena spoiler belum extend.

Pada momen touchdown kedua setelah bouncing pertama, saat dua main landing gear touchdown bersamaan, sensor pun membaca bahwa roda pendaratan sudah berada di darat dan spoiler pun aktif sehingga mencegah terjadinya bouncing atau pantulan kedua.

Meski begitu, bisa saja spoiler sudah extend tetapi pesawat tetap memantul di landasan pacu saat mendarat. Prinsipnya kembali ke fisika pantulan.

Baca juga: Ada Panel yang Mengangkat di Sayap Saat Pesawat Mendarat, Apa Itu dan Apa Saja Fungsinya?

Pantulan disebabkan oleh kontak energi tinggi antara roda pendaratan dengan landasan pacu. Jika energinya lebih dari cukup, maka pesawat akan tetap memantul atau kembali ke udara beberapa detik sebelum touchdown kedua tanpa bouncing.

Pilot sebetulnya punya cara dalam meminimalisir pantulan akibat kelebihan energi karena pesawat mendarat dengan kecepatan tinggi. Pada typical landing, pilot bica mencegah terjadinya boucing dengan mempertahankan pesawat di kecepatan  saat landing approach. Ketika pesawat mencapai flare height, kontrol ditarik dan tuas thrust levers ditarik ke belakang untuk membuat mesin dalam posisi idle. Di luar itu, terdapat beberapa teknik lainnya.

Bandara dengan Satu Runway Tersibuk di Asia, Eropa, dan Amerika Utara

Seiring meningkatnya traffic penumpang diikuti banyaknya kedatangan dan keberangkatan pesawat, wajar bagi sebuah bandara memiliki banyak landasan pacu. Bandara Internasional Chicago O’Hare, misalnya, memiliki delapan runway atau landasan pacu. Kendati begitu, di dunia, ada bandara aktif yang tetap bertahan dengan satu runway. Berikut daftar bandara dengan satu runway tersibuk di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Baca juga: Bandara Internasional Miami Gelar Lomba Maraton di Runway, Bakal Jadi Tren di AS

Mumbai, Asia

Saat ini, pasar penerbangan domestik terbesar ada di Cina, diikuti oleh Amerika Serikat, dan India. Namun, di masa mendatang, saat Cina mulai mengalami laju pertumbuhan penduduk yang melambat dan usia produktif yang sedikit, India justru sebaliknya. Karenanya, di masa mendatang, India dipercaya akan bersaing dengan Cina untuk menjadi negara dengan perekonomian terkuat kedua di dunia.

Menuju ke sana, perekonomian di India terus tumbuh dan mendorong banyaknya perpindahan orang dan barang dengan cepat menggunakan pesawat. Mayoritas menuju kota-kota besar seperti New Delhi, Mumbai, dan lainnya.

Terkait Mumbai, ada satu bandara yang karena keterbatasan lahan tetap bertahan dengan satu runway aktif untuk menunjang penerbangan. Itu adalah Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji Maharaj. Bandara ini sejatinya memiliki dua runway, tetapi bersilangan. Karenanya, setiap hari hanya satu runway aktif yang bisa digunakan.

Disebutkan, pada tahun 2018 bandara mencatatkan rekor mencapai 980 penerbangan dalam 24 jam. Sebelum pandemi, ada sekitar 50 juta penumpang yang dilayani bandara.

London Gatwick, Eropa

Traveler di dunia umumnya hanya mengetahui Bandara London Heathrow di ibu kota Inggris. Padahal, London punya bandara lain yang juga super sibuk walaupun dengan satu runway aktif, yaitu Bandara London Gatwick.

Sebagaimana di Mumbai, London Gatwick juga memiliki dua runway. Hanya saja, letaknya terlalu berdekatan sehingga hanya mengoperasikan satu runway sepanjang 3.316 meter. Adapun runway lain sepanjang 2.565 meter yang tidak aktif biasanya digunakan sebagai taxiway.

Baca juga: Kenapa Pesawat Sering Berhenti di Ujung Landasan Sebelum Lepas Landas?

Pada tahun 2021, bandara itu melayani lebih dari enam juta penumpang, jauh dari angka pra pandemi mencapai 46 juta penumpang per tahun.

San Diego, Amerika Utara

Berbeda dengan dua di atas yang sebetulnya memiliki dua runway, Bandara Internasional San Diego sungguh hanya memiliki satu runway sepanjang 2.865 meter. Bandara itu melayani lebih dari 15 juta penumpang pada tahun 2021, jauh dari angka pra pandemi yang mencapai 25 juta penumpang per tahun. Meski begitu, Bandara Internasional San Diego menjadi bandara dengan satu runway tersibuk di Amerika Utara.