Seberapa Cepat Pilot Membawa Pesawat Taxiing di Taxiway?

Sebelum mencapai runway dan melaju di kecepatan tinggi agar bisa mendapatkan daya angkat sempurna, pesawat terlebih dahulu harus pushback dan taxiing dari tarmac ke taxiway. Sudah pasti kecepatan pesawat saat taxiing tidak secepat melesat di runway. Lantas, berapa kecepatan pesawat saat taxiing?

Baca juga: Pesawat Taxiing dengan Dua Mesin, Pilot Qatar Airways Terancam di PHK

Pada prinsipnya, kecepatan pesawat saat taxiing di taxiway sangat tergantung dengan berbagai hal, mulai dari keterbatasan pesawat, lalu lintas di taxiway dan bandara, aturan dari regulator dan maskapai, prosedur bandara dan otoritas kota, kondisi taxiway (basah, bersallju, kering, berpasir), sampai tingkat kenyamanan pilot.

Sampai di sini, bisa dibilang, tidak ada keseragaman kecepatan pesawat di seluruh dunia saat taxiing. Sebab, kecepatan pesawat saat taxiing adalah kecepatan versi masing-masing pilot.

Di antara berbagai faktor di atas, pada prakteknya di lapangan, pilot lebih memprioritaskan cuaca. Pada lintas kering, pilot umumnya menjaga kecepatan sekitar 23 knot sampai 30 knot. Saat di belokan, kecepatan berkurang setengahnya menjadi sekitar maksimal 15 knot, menjaga agar ban depan tidak tergelincir (selip).

Pada lintasan basah, bersalju, dan berpasir, pilot umumnya hanya membawa pesawat di kecepatan maksimal 15 knot di lintas lurus dan berkurang setengahnya menjadi tujuh knot saat di belokan.

Kondisi lintasan tersebut juga terintegrasi dengan pertimbangan lainnya, yaitu dari segi berat total pesawat setelah dimaut kargo dan penumpang.

Meski begitu, tidak jarang pilot yang dengan sadar membawa pesawat melesat lebih cepat dari biasanya saat taxiing di taxiway. Menurut keterangan Randy Duncan, pilot aktif di salah satu maskapai di Amerika Serikat (AS), tak sedikit rekan-rekannya sesama pilot yang bercerita bahwa mereka lebih mengutamakan kenyaman mereka.

Turunan dari itu, pilot banyak yang taxiing di kecepatan lebih dari 30 knot dan ini lumrah terjadi. Saking lumrahnya, salah satu rekan pilotnya bahkan bablas taxiing di taxiway sampai kecepatan 80 knot. Tidak disebutkan dengan jelas saat ini bagaimana kondisi bandara, entah itu sepi dan di saat yang bersamaan jadwal pesawat sangat padat, dan lain sebagainya.

Melihat ada pesawat melaju di kecepatan 80 knot saat taxiing tentu saja tak membuat otoritas bandara diam. Data FOQA (Flight Operations Quality Assurance) yang mencatat pesawat taxiing di kecepatan 80 knot pun dibagikan ke maskapai.

Sejurus kemudian, pilot tersebut pun diskors selama beberapa waktu atau cuti tanpa dibayar. Setelah masa cuti tanpa dibayarnya habis, pilot tersebut tak langsung terbang seperti biasa melainkan harus menjalani pelatihan ekstensif terlebih dahulu.

Secara umum, semakin besar pesawat semakin rendah pula kecepatan pesawatnya. Sebab, dengan bobot berat, bentang sayap panjang, dan jarak pandang, adalah masalah bagi pilot. Begitupun sebaliknya, pada pesawat narrowbody, pilot biasanya membawa pesawat taxiing lebih cepat.

Baca juga: Kenapa Pesawat Terbang Tidak Bisa Mundur atau Self-Pushback Saat di Bandara? Ini Jawabannya

Walaupun kecepatan pesawat bisa berbeda-beda saat taxiing, satu hal yang pasti, pesawat harus taxiing dengan setengah dari total mesin dengan alasan efisiensi. Pada pesawat narrow body, itu berarti pesawat taxiing dengan satu mesin dan pada widebody quadjet itu berarti pesawat taxiing dengan dua mesin.

Selama proses taxiing, terdapat indikator kecepatan pesawat atau ground speed ​​(GS) akurat berbasis GPS di layar PFD (Primary Flight Display) di kokpit.

Dear All, Stop Ketergantungan pada Google Maps (GPS)! Hasil Penelitian Ungkap Dampak Buruknya

Google Maps, yang menggunakan teknologi  Global Positioning System (GPS), sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, khususnya bagi para pengendara. Terkait memposisikan GPS dalam mencapai tujuan, ragamnya cukup banyak sejalan dengan manfaatnnya yang juga banyak. Namun, mulai sekarang bijaklah dalam menggunakan GPS. Berhenti mulai detik ini juga untuk terlalu ketergantungan dengan GPS.

Baca juga: Satelit GPS III Generasi Ke-4 Buatan Lockheed Martin Resmi Meluncur, Ini Deretan Manfaatnya

Menurut hasil penelitian yang dilakukan pada 50 orang dewasa berusia antara 19-35 tahun, terdapat sisi negatif (bila tak boleh menyebutnya keburukan) dari penggunaan GPS yang terlalu ketergantungan.

Dalam penelitian tersebut, objek penelitian, yang sehari-hari mengemudikan kendaraan atau sekitar 4 hari dalam sepekan di Montreal, Kanada, diatur mengaplikasikan dua strategi berbeda dalam kaitannya dengan penggunaan GPS.

Strategi pertama adalah ‘metode memori spasial’ dimana seseorang mempepelajari posisi benda-benda untuk membentuk peta lingkungan atau jalan menuju tempat tujuan di kepala. Metode kedua adalah ‘strategi stimulus-respons’ yaitu menghafal urutan kejadian. Belok kanan, lurus 500 meter ada pom bensin belok kiri, dan seterusnya.

Tes pertama, peserta penelitian diminta menempuh sebuah tujuan dengan cara menghafal benda objek di ujung jalan sebagai patokan, tanpa menggunakan GPS. Sebagian ada yang menggunakan metode pertama (metode memori spasial) dan sebagian lainnya menggunakan metode kedua (strategi stimulus-respons).

Dalam tes tersebut, peserta yang menggunakan metode pertama diketahui lebih akurat dan lebih cepat sampai ke tempat tujuan dibanding peserta penelitian yang menggunakan metode kedua. Mereka banyak tersasar.

Tiga tahun kemudian, 13 di antara mereka di tes ulang. Selama tiga tahun itu, mereka diatur agar ketergantungan dengan GPS setiap berkendara. Hasilnya, mereka mengalami penurunan memori spasial yang lebih tajam.

Dengan kata lain, mereka lebih sulit menghafal objek-objek sebagai patokan atau sebagai referensi navigasi. Mereka tidak menggunakan bagian otak bekerja sama dalam menemukan tempat tujuan.

Berkaca dari penelitian tersebut, seperti dikutip dari howtogeek.com, bagi Anda yang masih sangat tergantung dengan GPS sebaiknya mulailah berhenti dari sekarang. Bukan berarti Anda dilarang atau sangat tidak disarankan untuk menggunakan GPS. Sebaliknya, ini hanya tergantung cara Anda menempatkan GPS untuk sampai ke tempat tujuan.

Berkaca dari hasil penelitian di atas, bagi Anda yang terlalu tergantung dengan GPS, termasuk bagi Anda yang sangat lemah dalam menggunakan ata membaca GPS, mulailah dengan memakai gabungan metode pertama dan kedua (metode memori spasial dan strategi stimulus-respons).

Baca juga: Ada Anomali Pada Sinyal GPS, Bandara Dallas Alihkan Penerbangan Selama Dua Hari

Sebelum mulai berkendara ke lokasi tujuan, lihatlah maps atau GPS terlebih dahulu. Hafalkan urutannya (belok kiri, lurus 1 km sampai ada gedung A, lalu belok kanan, dan sebagainya) dan hafalkan juga patokannya. Jangan lupa abaikan ponsel Anda.

Sesekali tidak apa-apa melihat maps untuk mencegah Anda tersasar. Tapi, konsisten dengan cara di awal, hafalkan urutan dan objek atau patokannya. Jangan lupa memperhatikan pemandangan di sekitar. Terus seperti itu sampai Anda tiba di tempat tujuan. Lama kelamaan cara tersebut akan membuat Anda terbiasa dengan peta mental (mental map).

Daftar 5 Menara ATC Tertinggi di Dunia, 4 di Antaranya dari Asia

Fungsi menara Air Traffic Controller (ATC) di bandara terkait keselamatan dan keamanan penerbangan sangat penting. Dalam melaksanakan tugasnya, selain didukung teknologi canggih, petugas ATC juga harus mendapat visibilitas yang baik dan itu sejalan dengan ketinggian menara ATC itu sendiri.

Baca juga: Mengenal Tower ATC Bandara Sydney, Salah Satu Tower ATC Paling Unik di Dunia 

Tak pelak, mengingat kondisinya berbeda-beda, beberapa bandara melebihi ketinggian menara ATC dari standar dan menjadikannya menara ATC tertinggi di dunia. Berikut 5 daftarnya seperti dilansir Simple Flying.

1. Menara ATC Bandara Internasional Jeddah King Abdulaziz, Arab Saudi

Menara ATC Bandara Internasional Jeddah King Abdulaziz memiliki ketinggian 136 meter (446 kaki). Ini lebih tinggi dari Piramida Giza di Mesir atau geung pencakar langit Cirrus di Seattle, Amerika Serikat (AS). Menara ATC bandara tersebut diketahui baru dibangun pada tahun 2017 silam.

Topografi sekitar Jeddah berupa perbukitan dan pegunungan, membuat menara ATC dibangun lebih tinggi dari lainnya dan menjadikannya sebagai menara ATC tertinggi di dunia menggeser menara ATC tertinggi lainnya dari Asia.

2. Menara ATC Barat (Tower West) Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia

Menurut Aerocorner, menara ATC barat Bandara Internasional Kuala Lumpur selesai dibangun pada tahun 2013 silam. Menara ATC ini memiliki sekitar 33 lantai atau total ketinggian mencapai 133,8 meter (439 kaki).

Menara ini dibangun untuk melengkapi menara ATC lainnya di sisi timur bandara dan menempatkan keduanya dalam daftar lima menara ATC tertinggi di dunia.

Baca juga: Menara ATC Tintin: Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota

3. Menara ATC Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand

Sebelum kemunculan menara ATC barat Bandara Kuala Lumpur Malaysia dan menara ATC Bandara Jeddah, menara ATC Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand selama beberapa tahun lamanya memegang gelar menara ATC tertinggi di dunia.

Menara ATC tersebut diketahui memiliki tinggi 132,2 meter (433,7 kaki) dan memberikan pemandangan 360 derajat di sekitar 32 kilometer persegi. Menara ini selesai pada tahun 2005 dan langsung mencuri gelar menara ATC tertinggi di dunia, hanya berjarak lebih dari dua meter dari Menara ATC Timur (Tower East) Bandara Kuala Lumpur.

4. Tower East Kuala Lumpur, Malaysia

Dibangun pada tahun 1998, Menara Timur ATC yang berjuluk ‘The Slim Lady’ langsung mencuri perhatian dan didaulat menjadi menara ATC tertinggi di dunia. Seiring waktu, posisinya terus digeser menara ATC yang datang belakangan dan sekarang berada di posisi keempat daftar menara ATC tertinggi di dunia.

Baca juga: Dibangun Seharga RP2,2 Triliun, Inilah Menara ATC Bandara San Francisco AS yang Tahan Gempa dan Terbaik di Dunia

5. Menara ATC Bandara Hartsfield Jackson Atlanta

Satu-satunya menara ATC tertinggi di dunia dari luar Asia datang dari Amerika Serikat (AS) melalui Bandara Hartsfield Jackson Atlanta. Bandara tersibuk di dunia dari segi traffic penumpang tersebut memiliki menara ATC dengan ketinggian 121 meter (397 kaki) atau berjarak sembilan meter (29,5 kaki) lebih pendek Tower East, menempatkannya di posisi kelima dalam daftar menara ATC tertinggi di dunia.

Hari Ini, 54 Tahun Lalu, Apollo 7 Mendarat di Samudra Atlantik Setelah 11 Hari di Luar Angkasa

Pada hari ini, 54 tahun yang lalu, bertepatan dengan 22 Oktober 1968, Apollo 7, dengan astronot Walter M. Schirra, Jr., Donn F. Eisele, dan R. Walter Cunningham, sukses kembali ke bumi dan mendarat di Samudra Atlantik, tenggara Bermuda, setelah 11 hari berada di angkasa.

Baca juga: Penumpang Justru Senang Pesawat Delay 2 Jam Gegara Apollo 11 Kembali Ke Bumi

Misi Apollo 7 sangat penting dalam mendukung misi pendaratan pertama manusia di bulan atau pendaratan Apollo 11 di bulan yang memuat tiga astronot, Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins pada 16 Juli 1969 (meluncur dari bumi). Lewat Apollo 7, ilmuan berhasil membuktikan bahwa pesawat luar angkasa dan kru mampu bertahan selama delapan hari dalam misi pendaratan di bulan, kembali ke orbit, dan ke bumi dengan selamat.

Dilansir laman resmi NASA, semua tujuan misi tercapai dengan durasi total hampir 11 hari. Semua sistem pesawat ruang angkasa pada dasarnya bekerja seperti yang diharapkan, termasuk mesin Space Propulsion System (SPS) yang sangat penting dalam misi selanjutnya untuk menempatkan kru dan mengembalikan mereka dari orbit bulan.

Apollo 7 mencapai banyak hal pertama, termasuk penerbangan luar angkasa 3 orang Amerika Serikat (AS) pertama, siaran langsung pertama dari pesawat ruang angkasa AS, roket Saturnus pertama yang meluncurkan kru ke luar angkasa, dan makanan panas pertama kali tersedia untuk kru di luar angkasa.

Selama tiga hari terakhir misi, Schirra, Eisele, dan Cunningham menyelesaikan dua dari delapan tes SPS yang telah direncanakan. Pembakaran keenam pada Hari Penerbangan (FD) 9 adalah pembakaran dengan durasi minimum kedua, yang berlangsung hanya setengah detik, untuk memvalidasi seberapa dekat sistem panduan dan navigasi dapat mengontrol pembakaran dengan durasi yang sangat singkat.

Kiri: Pemandangan ‘mata’ Topan Gloria di Samudra Pasifik yang diambil pada hari ke-10 misi Apollo 7. Kanan: Pemandangan Teluk Meksiko yang diambil pada hari ke-10
misi Apollo 7, beberapa hari setelah Badai Gladys melewati daerah tersebut. Foto: NASA

Pembakaran ketujuh pada FD10 berlangsung hanya di bawah delapan detik dan menempatkan pesawat ruang angkasa di posisi yang tepat untuk masuk kembali pada hari berikutnya.

Kru Apollo 7 juga memanjakan masyarakat dengan dua siaran live di TV nasional dan swasta. Agenda keenam di FD9 adalah uji operasional kamera, menunjukkan tampilan statis aktivitas mereka di dalam kapsul.

Di akhir tayangan, para kru dengan bangga memamerkan janggut dan brewok mereka yang mulai memanjang selama 9 hari di luar angkasa. Keesokan harinya, mereka kembali menyalakan kamera untuk siaran langusng misi ketujuh dan terakhir.

Masyarakat melihat kru melakukan berbagai .Mereka juga menceritakan bagaimana mereka melakukan fotografi objek Bumi melalui lima jendela pesawat ruang angkasa dan menambahkan bahwa mereka dapat dengan mudah melihat jet contrails yang terkadang memanjang hingga ratusan mil dan melihat Danau Pontchatrain di Louisiana.

Baca juga: NASA Restui Xeric Buat Jam Tangan Special Edition Terbuat dari Meteorit dan Komponen Apollo 15

Mereka menulis di secarik kertas bertuliskan “Saat Matahari Tenggelam Perlahan di Barat” dan diperlihatkan ke kamera.

Setelahnya, tim memulai persiapan kembali masuk ke orbit bulan, masuk ke atmosfer bumi, dan splashdown dengan selamat di Samudra Atlantik. Saat ini, Apollo 7 masih tersimpan dengan apik di Frontiers of Flight Museum di Dallas, Texas, AS.

Kenapa Mesin Pesawat Semakin Besar? Ini Jawabannya

Di masa lalu, pesawat terbang didukung oleh mesin turbojet dengan diameter cukup kecil dibanding mesin jet yang ada sekarang. Kenapa demikian? Kenapa seiring waktu mesin pesawat justru semakin besar? Bukankah kecanggihan teknologi membuat benda besar menjadi lebih kecil dan simpel, seperti komputer, chip, dan sebagainya.

Baca juga: Mengapa Mesin Jet Sangat Andal? Berikut Ulasannya

Mesin jet, pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turbofan dan turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Dilansir highskyflying.com, seperti karburator motor, cara kerja mesin jet pesawat terbang juga tentu menggunakan udara. Bedanya ada proses pengompresan, mulai dari menghisap udara, menekan, ledakan, dan menghembuskan.

Langkah pertama adalah menghisap. Kipas di bagian depan mesin jet akan menghisap udara dan 80% dari udara akan melewati mesin dan meniupkan udara keluar dari belakang.

Baca juga: Ternyata Ini Pesawat Narrowbody dengan Mesin Terbesar di Dunia, Dioperasikan Citilink dan Lion Air

Itulah yang memberikan sebagian besar dorongan, yang mendorong pesawat ke depan dan itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa mesin pesawat semakin besar. Itu karena di awal mesin jet muncul sampai beberapa dekade setelahnya, mesin turbojet beroperasi tanpa ada kipas.

Udara langsung masuk ke ruang bakar dan ditembakkan dari bagian belakang mesin untuk menghasilkan tenaga yang sangat besar. Tapi konsekuensinya adalah boros bahan bakar.

Karenanya, pada mesin jet modern yang saat ini ada menggunakan kipas dan teknologi pembakaran yang lebih panjang. Udara yang dihisap kipas (fan) di bagian depan mesin tidak langsung masuk ke ruang bakar, melainkan mengalir ke sekitar ruang bakar dan sebagiannya masuk ke ruang bakar.

Sebelumnya, terlebih dahulu udara disaring kompresor bertekanan rendah dan tinggi, shaft bertekanan rendah dan tinggi, dan turbin bertekanan rendah dan tinggi. Prinsipnya adalah semakin lambat udara yang masuk ke mesin semakin bagus dan lebih efisien.

Selain itu, semakin banyak udara yang masuk semakin bagus dan itulah yang sedang dikembangkan oleh NASA. Tingkat ekstraksi daya mesin turbofan yang dikembangkan NASA disebut lebih cepat hingga empat kali lipat dari tingkat ekstraksi daya mesin pesawat tercanggih saat ini. Selain cepat, mesin juga efisien.

Baca juga: Empat Kali Lebih Cepat dan 10 Persen Lebih Hemat, Inilah Mesin Turbofan Besutan NASA

Cara terbaik untuk melakukan ini, kata NASA, dengan meningkatkan rasio bypass, yaitu membuat kipas di depan mesin lebih besar untuk memungkinkan peningkatan aliran udara, tetapi pada saat yang sama mengurangi ukuran inti mesin untuk mengurangi konsumsi.

Menjawab pertanyaan di awal, kenapa mesin pesawat semakin besar seiring waktu? Jawabannya, karena mesin berdiameter lebih besar lebih hemat bahan bakar.

Tren Main Games di Pesawat: Penumpang Pilih ‘Mabar’ di Ponsel Ketimbang Layar IFE

In-flight entertainment (IFE) dinilai memegang peranan penting untuk menghibur penumpang di setiap penerbangan. Umumnya IFE menawarkan tiga hal, musik, film, dan games. Terkait fungsi IFE sebagai hiburan penumpang bermain games, seiring waktu mulai bergeser lantaran banyak yang lebih memilih bermain (mabar) di ponsel masing-masing ketimbang di layar IFE.

Baca juga: Ratusan Maskapai Bakal Hadirkan Games Favorit Tahun 80-90an di Layar IFE, Apa Itu?

Sejarah hiburan dalam penerbangan sudah dimulai sejak tahun 1921 ketika Aeromarine Airways menayangkan film dalam penerbangan pertama berjudul “Howdy Chicago” di pesawat ‘Windy City’.

Pada tahun 1940, hiburan dalam penerbangan bergeser dengan menampilkan langsung aktor, penyanyi, dan musisi kenamaan untuk menghibur para penumpang di beberapa penerbangan tertentu. Meski terkesan high cost atau mahal, namun ini berhasil menarik minat penumpang terhadap suatu maskapai.

Barulah pada tahun 1975, layar IFE mulai hadir dalam penerbangan dan mulai menyuguhkan games untuk melepas penat di pesawat. Adanya games di pesawat bukan dipicu oleh games favorit yang mendunia karya Atari, Pong.

Di tahun yang sama, maskapai Braniff International Airways pun berinvestasi untuk itu dan menyediakannya di IFE di seatback kabin pesawat. Sejak saat itu, baik layar IFE maupun games terus ada sampai saat ini atau mungkin sampai di masa yang akan datang sekalipun trennya mulai berubah.

Bagi para pecinta games (gamers), apapun aktivitasnya merupakan cara mereka untuk mengisi waktu di sela-sela bermain games. Jadi, mereka tidur, makan, minum, mandi, termasuk naik pesawat adalah mengisi waktu sebelum lanjut bermain games.

Sebegitu pentingnya bagi para gamers untuk bermain games. Bagi para gamers dengan tingkat candu (addict) yang masih di bawah itu, bermain games memang tidak terlalu menjadi prioritas. Tetapi, dalam rangka mengisi waktu, terlebih di pesawat pada penerbangan jarak jauh, itu adalah wajib.

Sejak games dalam pesawat diperkenalkan maskapai Braniff International Airways, sebagian besar games dibuat untuk mengasah ketangkasan, seperti teka-teki, pengembangan bahasa, permainan trivia, dan lainnya.

Maskapai juga sudah sejak lama membuat agar penumpang satu sama lain bisa bersaing dan bermain games bersama dari layar IFE masing-masing.

Seiring waktu, terlebih pasca pandemi Covid-19, banyak maskapai melakukan efisiensi besar-besaran, salah satunya dengan menghindari layar IFE. Di samping itu, layar IFE, selama pandemi Covid-19 juga dihindari karena dinilai menjadi sarana penyebaran virus akibat banyak kontak yang dilakukan.

Sebagai gantinya, maskapai menyediakan WiFi dalam penerbangan (inflight WiFi) dan menikmati konten hiburan dari ponsel masing-masing, termasuk games. Siapa nyana, meski wabah Covid-19 sudah nyaris musnah, namun, tak sedikit penumpang yang tetap memilih bermain games di ponsel masing-masing dan ini pun disambut baik maskapai mengingat layar IFE investasinya cukup mahal.

Dilansir Simple Flying, trennya saat ini lebih mengarah pada BYOD atau bawa perangkat anda sendiri di atas pesawat. Di AS, banyak maskapai, terlebih di rute domestik, mulai mengakomodir tren tersebut dengan menyediakan port USB untuk mengisi daya. Ini juga perlahan di dukung dengan koneksi inflight WiFi.

Baca juga: Air Canada Luncurkan Fitur baru IFE, Bisa Bagikan Film Terbaik ke Sosmed Saat di Udara

Meski koneksinya masih belum stabil, nanti pada saatnya, ketika internet satelit sepenuhnya terhubung dengan pesawat, itu akan lebih cepat.

Ke depannya, sekalipun produsen IFE dan produsen konten IFE terus berinovasi, namun, pergeseran tren itu tak terelakkan, terutama di rute-rute domestik. Seiring waktu, pada rute-rute internasional bukan tak mungkin trennya juga akan berubah mengingat investasi layar IFE sangat mahal.

Bandara I Gusti Ngurah Rai Kini Dilengkapi Hotel Kapsul

Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali meluncurkan fasiitas PassGO-Digital Airport Hotel yang merupakan hotel kapsul pertama yang terletak di dalam kawasan bandara melalui peresmian yang dilaksanakan pada Rabu (19/01) siang. Fasilitas baru yang ditujukan untuk semakin meningkatkan nilai tambah dan kenyamanan, serta untuk menambah pilihan tempat beristirahat bagi para pengguna jasa bandara di Bali.

Baca juga: Hotel Kapsul di Shinjuku Hadirkan Fitur Sleep Report, Pantau Kualitas Tidur Lewat Suara Dengkuran

Hotel kapsul tersebut dikelola oleh salah satu anak usaha Angkasa Pura I, yaitu PT Angkasa Pura Hotel (APH) yang bekerja sama dengan PT Krisna Graha Primatama (KGP) yang merupakan salah satu operator hotel kapsul pertama di Indonesia.

Hotel kapsul yang terletak di lantai 2 Terminal Kedatangan Internasional tersebut menawarkan sebanyak 132 kapsul atau pod modern berlapis kayu dengan tipe Superior dan Premier. Di dalam setiap kapsul dilengkapi sejumlah fasilitas dan fitur menarik, di antaranya adalah kartu akses, perlengkapan tidur berupa kasur, bantal, dan selimut berkualitas tinggi, TV kabel, tempat penyimpanan tas, sistem ventilasi udara, layanan internet nirkabel (Wi-Fi) berkecepatan tinggi, 2 port USB charging, lampu yang dapat berubah warnanya sesuai dengan suasana, cermin, lampu baca, serta headphone.

Para tamu hotel kapsul tersebut juga dimanjakan dengan fasilitas loker pribadi dan kamar mandi terpisah untuk laki-laki dan perempuan yang dilengkapi dengan air panas dan air dingin.

Hotel kapsul ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum berupa co-working space berkapasitas 20 orang, lengkap dengan fasilitas layanan internet nirkabel (Wi-Fi) berkecepatan tinggi, lobby, ruang tamu, serta kamera CCTV untuk memastikan keamanan dan kenyamanan tamu.

Direktur PassGO-Digital Airport Hotel Richard Josano menyatakan hotel kapsul di Bandara I Gusti Ngurah Rai merupakan pilihan yang menarik bagi para pelancong di Bali. “PassGo Bali akan menjadi pilihan yang tepat bagi para pelancong untuk menunggu penerbangan berikutnya. PassGO Bali menyediakan pilihan tarif transit, mulai dari 6 jam, 9 jam, dan untuk menginap 1 malam, sehingga lebih fleksibel bagi tamu,” ujar Richard Josano.

Baca juga: Intip First Cabin, Hotel Kapsul di Jepang dengan Desain Kabin Mewah Pesawat

Richard juga menyatakan bahwa hotel kapsul di bandara akan sangat memanjakan para traveler yang menjalani pola kerja Work from Anywhere (WFA). ” Kemajuan teknologi digital memungkinkan generasi muda untuk bekerja dari mana saja. Mereka melakukan perjalanan lebih sering daripada sebelumnya untuk mencari pengalaman di tempat baru,” ujarnya.

Dengan Airbus A330-300, Garuda Indonesia Buka Rute Denpasar-Narita 3x Seminggu

Garuda Indonesia mulai 1 November 2022 secara resmi akan membuka akses langsung bagi wisatawan Jepang untuk menuju Denpasar dengan mengoperasikan kembali layanan penerbangan Narita–Denpasar pp.

Baca juga: Garuda Indonesia Buka Penerbangan Reguler 1x Seminggu Denpasar – Narita

Pengoperasian kembali layanan penerbangan tersebut nantinya akan melengkapi konektivitas langsung dari Jepang ke Indonesia melalui rute Haneda–Jakarta pp yang telah dilayani sebelumnya.

Adapun rute penerbangan Narita–Denpasar pp nantinya akan dilayani tiga kali setiap minggunya yaitu setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu dengan menggunakan armada A330-300 yang memiliki kapasitas sebanyak 251 penumpang dengan konfigurasi 36 business class dan 215 economy class.

Penerbangan Narita-Denpasar pp akan dilayani dengan GA881 yang diberangkatkan dari bandara internasional Narita pada pukul 11.00 LT dan akan tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pada pukul 18.05 WITA. Sementara itu, penerbangan Denpasar – Narita pp akan dilayani dengan GA880 dan diberangkatkan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pada pukul 00.25 WITA dan akan tiba di Bandara Internasional Narita pada pukul 08.40 LT.

Baca juga: Kabar Gembira, Garuda Indonesia Pertahankan Rute Internasional ke Sydney, Narita, Seoul dan Hong Kong

Kedepannya Garuda Indonesia juga secara bertahap akan membuka kembali beberapa rute penerbangan internasional lainnya untuk menuju Bali seperti Melbourne, Australia dan Seoul, Korea Selatan.

Dari Inggris, Boeing 747-400 “Cosmic Girl” Virgin Orbit Siap Luncurkan Roket ke Luar Angkasa

Kota kecil Cornwall, di ujung barat daya Inggris yang berhadapan ke Laut Atlantik, dalam beberapa hari ini sempat menjadi perhatian dunia, pasalnya anak perusahaan dari Virgin Group, Virgin Orbit, tengah mempersiapkan peluncuran roket yang berisi tujuh satelit ke luar angkasa dengan menggunakan pesawat widebody Boeing 747-400 “Cosmic Girl”.

Baca juga: Gunakan Boeing 747-400, Virgin Group Siap Luncurkan Satelit Menuju Orbit

Lepas landas dari bandara Newquay, yaitu bandara terbesar ke-29 di Inggris, pesawat yang akan membawa roket LauncherOne itu terbang rendah sebelum akhirnya melesat jauh ke langit. Cosmic Girl bukan sembarang pesawat dan juga bukan Boeing 747 biasa.

Faktanya, pesawat ini telah dirancang khusus sebagai wahana peluncuran roket. Dikutip dari CNN.com (20/10/2022), Boeing 747 Cosmic Girl melakukan penerbangan percobaan sebelum mengambil bagian dalam peluncuran ruang orbital pertama di Inggris bulan depan. Dan pada saatnya, pesawat ini akan lepas landas dari Spaceport Cornwall, yang berbagi landasan pacu reguler bandara sepanjang 1,7 mil.

Cosmic Girl, demikian nama pesawat itu, adalah pesawat Boeing 747 untuk Virgin Orbit meluncurkan tujuh satelit ke luar angkasa. Aslinya ini adalah sebuah pesawat jet jumbo penumpang yang digunakan Virgin Atlantic hingga tahun 2015. Setelah itu dilakukan modifikasi untuk membawa LauncherOne, roket buatan California yang akan pergi ke orbit Bumi.

LauncherOne sendiri memiliki panjang sekira 70 kaki dengan berat 57.000 pon. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (26/10/2018), LauncherOne dirancang untuk membawa satelit kecil ke orbit di sekitar Bumi. Alih-alih langsung meluncur dari tanah layaknya kebanyakan roket, LauncherOne akan memulai perjalanannya dari landas pacu, dengan ‘nebeng’ pada bagian sayap Boeing 747.

Peluncuran Horizontal
Menggunakan basis Boeing 747 untuk peluncuran horizontal memungkinkan “jangkauan orbit yang lebih luas daripada yang dimungkinkan dari sistem peluncuran darat tradisional,” tulis Virgin

Acara pelunuran roket nantinya akan menjadi peluncuran ruang orbital pertama untuk Inggris dan peluncuran internasional pertama untuk Virgin Orbit. Lebih dari itu, ini juga akan menjadi peluncuran satelit pertama di Eropa.

LauncherOne menyelesaikan latihan peluncuran penuh pertamanya di Long Beach, California, pada 2 Oktober 2022, sebelum diterbangkan ke Inggris Jumat lalu untuk bertemu Cosmic Girl, yang tiba di Cornwall pada 11 Oktober lalu.

Baca juga: Virgin Galactic Sukses Terbangkan (Kembali) Pesawat Bertenaga Roketnya ke Antariksa

Cosmic Girl menyelesaikan uji terbang hampir tiga jam di sekitar Cornwall dan Southwest England pada 14 Oktober 2022 lalu. Setelah sukses meluncurkan roket dan satelit dari Inggris, Virgin Orbit juga berencana membawa peluncuran roket horizontal ke Australia, Brasil, Jepang, Polandia, dan Korea Selatan.

Dua Negara Gurun, UEA dan Oman Akan Saling Terhubung Lewat Jalur Kereta Penumpang dan Barang

Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, dua negara di Timur Tengah yang dikenal kaya minyak, telah menandatangani kesepakatan untuk menghubungkan kedua negara berpadang pasir tersebut dengan kereta penumpang dan barang. Proyek jaringan keretea tersebut dimulai dengan pembangunan jaur ke pelabuhan Sohar di Oman utara.

Baca juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Dikutip dari henationalnews.com (28/9/2022), kereta penumpang UEA – Oman dirancang untuk dapat melesat 200 kilometer per jam, dan akan menghubungkan Abu Dhabi (UEA) dengan Sohar di utara Muscat (Oman). Khusus untuk kereta barang, akan melaju dengan kecepatan maksimum 120 kilometer per jam.

Operator kereta di kedua negara, yakni Oman Rail dan Etihad Rail akan membentuk perusahaan patungan (joint venture) untuk memperkenalkan dan mengoperasikan jaringan kereta api.

Berdasarkan perjanjian, perusahaan baru yang akan dibentuk, nantinya akan meletakkan dasar dan rencana kerja untuk proyek tersebut, termasuk elemen dan pendanaannya. Tidak itu saja, perusahaan joint venture juga akan menangani desain, pengembangan, dan pengoperasian jaringan kereta api.

Untuk waktu tempuh, dari Sohar ke Abu Dhabi adalah 100 menit, dan antara Sohar ke Al Ain 47 menit. Untuk kereta barang, kapasitas kargo dipersiapkan 22,5 juta ton dan 282.000 kontainer per tahun.

Baca juga: “Mauritania Railway,” Inilah Jalur Kereta Ekstrem yang Belah Gersangnya Gurun Sahara

Guna mewujudkan jaringan kereta antar dua negara tersebut, setidaknya dibutuhkan investaso sekitar 1,16 miliar rial Oman (US$3 miliar).