Kenapa Beberapa Airbus A320 Air India Miliki Roda Pesawat Ekstra?

Airbus A320 pada umumnya memiliki satu nose landing gear atau roda pendaratan depan dan masing-masing dua roda (konfigurasi 2-2) di main landing gear. Namun, beberapa pesawat Airbus A320 Air India memiliki empat roda pendaratan di bagian belakang. Kenapa demikian?

Baca juga: Delapan Kisah Penumpang Gelap Sembunyi di Roda Pesawat, Empat Di Antaranya WNI

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas dan turun landas, sampai mendarat dengan sempurna di runway.

Secara definitif, roda pendaratan berfungsi untuk menyerap tenaga pendaratan serta mencegah badan pesawat menghantam tanah. Fungsi tersebut dijalankan setidaknya oleh dua cara, pertama penyangga roda pendaratan utama yang memiliki sistem peredam kejut (shock struts). Kedua, landing force yang menyebar ke seluruh roda.

Di masa lalu, sistem landing gear belum menggunakan peredam kejut (shock absorber). Masih sangat sederhana sekali menggunakan rigid struts suspensi rendah teknologi yang membuat pendaratan jadi kasar dan keras. Seiring berjalannya waktu, landing gear pesawat mulai menggunakan spring steel struts, berlanjut ke bungee cords, dan barulah menggunakan shock struts.

Dengan menggunakan nitrogen dan cairan hidrolik, sistem pegas yang ‘tersaji’ pada shock struts akan mampu meminimalisir daya kejut ketika pesawat mendarat secara signifikan – setidaknya jauh lebih halus dari tiga varian di atas.

Daya kejut yang dihasilkan ketika pesawat touchdown akan senantiasa tereduksi dengan hadirnya dua silinder yang akan meminimalisir efek kejut.

Berkat perkembangan teknologi di atas, jumlah roda pendaratan pada pesawat bisa lebih ditekan. Saat ini, pesawat widebody umumnya dilengkapi empat roda kiri dan kanan atau lebih dari itu (tergantung bobotnya). Adapun pesawat narrowbody seperti Airbus A320 atau Boeing 737 hanya dua roda pendaratan di kiri dan kanan belakang.

Meski begitu, di beberapa kondisi, pesawat narrowbody dilengkapi dengan jumlah roda pendaratan dua kali lipat ada 4-4 atau masing-masing empat roda pendaratan di kiri dan kanan belakang (main landin gear), salah satunya A320 milik Air India.

Dilansir Simple Flying, hal itu bukan berarti sistem landing gear A320 Air India masih menggunakan teknologi lama. Tetapi karena infrastruktur beberapa bandara di India, dalam hal ini runway (landasan pacu), klasifikasinya lebih rendah dari standar.

Disebutkan, perkerasan di landasan pacu di beberapa Bandara India membuat proses pendaratan pesawat narrowbody (A320) menjadi berbahaya. Karena, bila hantaman terlalu keras, maka aspal runway bukan hanya mengelupas tetapi juga berlubang karena bobot pesawat lebih besar daripada beban yang mampu ditahan.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Beruntung, itu bisa disiasati dengan cara menambah jumlah pendaratan utama (main landing gear) dari semula 2-2 menjadi 4-4. Ini berfungsi agar besaran tumbukan roda ke runway tidak terlalu besar dan terdistribusi dengan baik ke masing-masing roda.

Namun itu dulu. Saat ini, ekstra roda pendaratan pesawat pada armada Airbus A320 Air India sudah tidak ada lagi sejak dipensiunkan pada Juni tahun 2019 silam. Bandara-bandara yang sebelumnya masih di bawah standar juga sudah dibenahi sehingga A320 dan A320 neo Air India yang ada saat ini tetap menggunakan dua roda pendaratan di kanan dan kiri.

Pelita Air Luncurkan Aplikasi Mobile, Terkoneksi dengan Inflight Entertainment

PT Pelita Air Service (Pelita Air – kode penerbangan IP) meluncurkan inovasi berupa aplikasi mobile untuk memudahkan pelayanan dan komunikasi antara Pelita Air dengan pelanggan.

Baca juga: Bandara Ngurah Rai Sambut Kedatangan Dua Maskapai Baru, Salah Satunya Pelita Air

“Peluncuran aplikasi mobile ini merupakan bentuk transformasi digital Pelita Air seiring dengan komitmen kami untuk mengutamakan kepuasan pelanggan. Kami berharap dengan hadirnya aplikasi mobile ini dapat semakin memberikan kenyamanan dan keuntungan bagi pelanggan dalam merencanakan dan melakukan penerbangan bersama Pelita Air,” ujar Direktur Utama Pelita Air Dendy Kurniawan, dalam siaran pers.

Aplikasi mobile Pelita Air dilengkapi berbagai macam fitur yang memudahkan pelanggan, antara lain membeli tiket penerbangan, membeli tambahan kuota bagasi, memilih tempat duduk, kemudahan pembayaran melalui virtual account, melakukan mobile check-in, terkoneksi langsung dengan agen layanan pelanggan “Starla”, terkoneksi dengan fasilitas hiburan dalam pesawat (wireless inflight entertainment) “Starlight”, dan informasi produk Pelita Air.

Baca juga: Airbus A320 Pelita Air Muncul Usai Dirutnya Jadi Tersangka, Pakai Registrasi “VP” Bermuda, Hindari Pajak?

Mobile check-in di aplikasi mobile Pelita Air dapat dilakukan mulai dari 24 jam sebelum jadwal keberangkatan hingga 4 jam sebelum jadwal keberangkatan. Bersamaan dengan peluncuran aplikasi mobile ini, diinformasikan juga bahwa saat ini telah tersedia layanan kiosk check-in Pelita Air di area konter check-in Terminal Bandara Soekarno-Hatta, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, dan Bandara Internasional Yogyakarta. Waktu check-in menggunakan kiosk check-in Pelita Air dibuka sejak 8 jam sebelum jadwal penerbangan dan ditutup hingga sebelum 1 jam jadwal penerbangan.

Iryo, Operator Kereta Cepat Berbiaya Murah Terbaru dari Negeri Matador, Tawarkan Tiket Fleksibel

Bila di dunia dirgantara dikenal penerbangan berbiaya murah, maka di dunia kereta api, khususnya di Spanyol sudah ada segmen kereta berkecepatan tinggi dengan biaya murah. Seperti dari Negeri Matador, operator baru untuk kereta berkecepatan tinggi, Iryo, dikabarkan telah mempersiapkan rute Barcelona – Madrid pada 25 November dan Madrid – Valencia pada 16 Desember 2022.
Untuk proyeksi di tahun 2023, Iryo akan membuka rute Malaga – Seville, di mana tiket sudah mulai dijual. Lantaran menawarkan biaya yang murah unntuk kelas kereta cepat, maka tiket dapat dibeli dari situs web Iryo dan harganya tergantung pada tanggal dan waktu, tetapi ada opsi mulai dari 18 euro.
Dikutip dari surinenglish.com, dalam sebuah pernyataan, Iryo menegaskan pihaknya  adalah satu-satunya operator kereta cepat yang menawarkan tiket fleksibel yang dapat diubah tanpa penalti finansial.
Saat ini, Iryo sudah memiiki armada yang terdiri dari 20 kereta listrik dengan interior dibagi menjadi empat bagian tergantung pada tarif dan layanan.
Operator kereta berkecepatan tinggi lainnya, Ouigo (berbasis di Perancis), telah menjalankan kereta antara Madrid dan Barcelona selama 18 bulan terakhir dan dalam dua minggu akan memulai rute Madrid-Valencia. Ouigo bertujuan untuk memasukkan Alicante (dengan pemberhentian di Albacete), Seville dan Malaga (dengan pemberhentian di Cordoba) pada tahun 2023.
Sementara itu operator kereta lain, seperti Renfe dan Avlo, beroperasi antara Madrid,  Barcelona dan Valencia saat ini dan mengharapkan untuk memperkenalkan layanan ke Seville pada tahun depan.

Ada Anomali Pada Sinyal GPS, Bandara Dallas Alihkan Penerbangan Selama Dua Hari

Selama dua hari berturut-turut Bandara Dallas (Dallas-Fort Worth International Airport) harus mengambil langkah darurat dengan mengubah rute lalu lintas penerbangan dari dan menuju bandara di Negara Bagian Texas tersebut. Hal tersebut disebabkan adanya anomali pada sinyal navigasi berbasis satelit GPS (Global Positioning System) pada area tertentu di sekitar bandara, dan telah mendorong Federal Aviation Administration (FAA) untuk melakukan penutupan landas pacu.

Baca juga: Bagaimana Pilot Tahu Dimana Posisi Pesawat Padahal di Luar Gelap?

Dilansir dari arstechnica.com (10/10/2022), sampai saat ini FAA sedang menyelidiki penyebab gangguan GPS misterius yang selama beberapa hari terakhir, telah menutup satu landasan pacu di Bandara Internasional Dallas-Fort Worth dan mendorong beberapa pesawat di wilayah tersebut untuk dialihkan ke area di mana sinyal GPS berfungsi dengan baik.

Gangguan pertama kali terungkap pada Senin sore (10/10), ketika FAA mengeluarkan peringatan ATIS (Automatic Terminal Information Service), untuk memperingatkan personel penerbangan dan pengontrol lalu lintas udara tentang gangguan GPS di wilayah udara seluas 40 mil di dekat bandara Dallas-Fort Worth.

Air Traffic Control System Command Center melaporkan bahwa wilayah itu “mengalami anomali GPS yang secara dramatis berdampak” pada penerbangan masuk dan keluar dari Dallas-Fort Worth dan bandara tetangga. Lebih lanjut dikatakan bahwa beberapa bandara mengandalkan penggunaan sistem navigasi yang mendahului GPS.

Gpsjam.org, sebuah situs web yang memantau gangguan GPS secara real time, menerbitkan peta yang menunjukkan area spesifik di mana pesawat melaporkan GPS yang tidak dapat diandalkan.

Di hari kedua, gangguan berlanjut, di mana pesawat yang berada di darat pada area tersebut, juga terkena dampak tidak dapat menerima pembacaan GPS yang andal. Lebih aneh lagi, pihak militer setelah dikonfirmasi juga tidak sedang melakukan kegiatan atau latihan di area yang dimaksud. Beberapa jam kemudian, masalah yang tidak dapat dijelaskan itu tidak hanya berlanjut, tetapi telah menyebar ke daerah-daerah di dekat Waco.

Dan masuk ke hari ketiga, secara misterius gangguan sinyal GPS itu hilang. Sama misteriusnya dengan gangguan yang dimulai. Gangguan pada sinyal GPS tidak secara langsung mengancam jiwa. Namun, gangguan sinyal GPS dapat berpengaruh buruk pada pembacaan navigasi pesawat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko keselamatan dalam penerbangan.

Baca juga: Otoritas Penerbangan Sipil Perancis Tuduh Rusia Ganggu Sistem Navigasi Berbasis Satelit

Meski penyebabnya masih dalam investigasi, namun fenomena gangguan di atas identik dengan aksi spoofing GPS. Dikutip dari Indomiliter.com, spoofing GPS adalah manipulasi koordinat pada sistem navigasi satelit berbasis GPS. Dampak dari spoofing adalah kekacauan informasi yang didapat oleh perangkat penerima.

Apakah Pilot Simulator Pesawat Boleh Melakukan Manuver Berbahaya?

Sebelum menjajal penerbangan sungguhan, pilot harus melewati berbagai pelatihan dan ujian di simulator pesawat. Mengingat simulator pesawat harga sewanya cukup mahal, banyak pilot yang tak ingin sekedar melewatkan momen berlatih di simulator dengan normal-normal saja dan ingin melakukan manuver berbahaya. Pertanyaannya, bolehkah?

Baca juga: Apa Itu Simulator Level D? Berikut Penjelasannya

Menurut seorang pilot, Randy Duncan, pilot simulator sangat mungkin melakukan manuver berbahaya atau manuver gila yang belum tentu didapatkan di penerbangan sungguhan.

Biasanya, usai berlatih dan menyelesaikan seluruh modul pelatihan, instruktur akan bertanya ke pilot terkait keinginan melakukan manuver yang tak biasa.

Pada umumnya pilot tentu saja menginginkan hal itu untuk berjaga-jaga andai terjadi pada penerbangan sungguhan, mulai dari kehilangan seluruh mesin saat di ketinggian sekitar 3.000 kaki, crosswind besar dan kuat, serta banyak lainnya.

Tetapi ini masih dianggap biasa dan mudah menanganinya. Cukup dengan menurunkan gear landing dan mengaktifkan flap, pesawat pun perlahan turun dan mendarat di runway.

Beberapa pilot tak ingin sekedar itu dan melakukan beberapa akrobatik (manuver) ringan, seperti wingovers atau barrel rolls. Simulator canggih dan mahal sangat bisa melakukan itu dan membuatnya seperti sungguhan.

Dalam catatannya, di antara pilot yang mencoba melakukan itu, ada yang berhasil di awal dan gagal di akhir sehingga pesawat jatuh. Beruntung itu hanya di simulator.

Tergantung instrukturnya, pilot simulator terkadang ditantang untuk melewati ujian berbagai kondisi atau skenario esktrem, salah satunya mendaratkan pesawat dalam kondisi semua mesin mati, kelistrikan mati, sistem hidrolik tidak berfungsi, ruangan berasap sehingga harus memakai kacamata dan masker oksigen, serta terjadi turbulensi ringan.

Kondisi tersebut, lanjut Randy, sangat tidak mudah. Butuh kerja sama apik antara pilot dan kopilot. Tanpa hidrolik, kontrolnya (yoke atay side stick) sangat berat dan butuh tenaga ekstra untuk menariknya. Beruntung, ketika dihadapi itu, ia dan kopilot berhasil melaluinya dengan baik.

Baca juga: Boeing 747 Ex British Airways Disulap Jadi Simulator, 2023 Dibuka untuk Umum

Meski begitu, seiring bertambahnya usia dan seiring kecanggihan teknologi simulator pesawat sehingga membuatnya begitu nyata dan hampir tidak ada perbedaan dengan penerbangan sungguhan, Randy mengaku enggan melakukan manuver gila, berbahaya, dan tak biasa. Ia mengaku takut manuver dan kondisi ‘gila’ tersebut benar-benar terjadi, terlebih dengan visual yang sangat nyata.

Diketahui, simulator pesawat paling canggih saat ini (level D) atau full flight simulator memiliki fitur motion effect untuk mensimulasikan insiden tertentu seolah nyata. Simulator level D (yang tertinggi) menawarkan pengaturan dan tata letak kokpit yang identik dengan pesawat nyata, bidang penglihatan yang luas dan simulasi dalam kondisi siang, malam, sampai senja.

Kepolisian Wales di Inggris Gunakan Tuk Tuk untuk Patroli Kota

Kepolisian di Kota Wales, Inggris, punya cara yang unik untuk melakukan patroli. Bukan dengan mobil sport seperti Audi atau BMW, diwartakan polisi di Wales kini mulai menggunakan wahana roda tiga yang selama ini khas di India, yaitu Tuk Tuk. Ada empat unit Tuk Tuk yang akan membantu kepolisian melakukan patroli di taman, jalan setapak dan area publik.

Baca juga: Di India, Ada Kendaraan Sejenis “Bajaj” Tapi dengan Merek Audi, Ini Kelebihannya!

Dikutip dari express.co.uk (17/10/2022), Unit Kepolisian Gwent di Wales mengungkapkan empat unit Tuk-Tuk diharapankan dapat menciptakan ‘ruang aman’. Kepala Inspektur Damian Sowrey mengatakan, “Umpan baliknya sangat positif dengan orang tua memberi tahu petugas bahwa mereka akan merasa lebih aman mengetahui bahwa ada dukungan untuk orang-orang muda yang keluar di malam hari.”

Namun, penduduk setempat di media sosial dengan cepat mengejek kendaraan tersebut, “Semoga berhasil mengejar beberapa scallywag muda yang mengaduk-aduk lapangan kriket di dalamnya,” salah satu kutipan dari komentar warga di Wales.

Dibanding Bajaj Jakarta, Tuk Tuk di negara asalnya (India) punya dimensi sedikit lebih panjang, meski daya muatnya sama, yakni tiga orang di bangku bekalang. Dengan dimensi yang lebih panjang, menjadikan ruang gerak kaki penumpang lebih besar, dan pastinya lebih fleksibel dimuati barang bawaan.

Tuk Tuk dirancang menggunakan atap dari bahan kanvas, tak beda dengan Bajaj Jakarta. Warna atap kanvas boleh dibilang serangam, yakni kuning, sementara dibagian bawah bodi di cat warna hijau, meski beberapa Tuk Tuk terlihat memakai cat kuning hitam.

Baca juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India

Saat ini Tuk Tuk telah hadir dalam varian bertenaga listrik, namun, belum diketahui, apakah Tuk Tuk untuk kepolisian Wales, apakah sudah mengadopsi listrik atau masih menggunakan bahan bakar konvensional.

Brewer Mug, Mudahkan Pecinta Kopi Tak Terlewatkan Rutinitas Pagi

Setiap orang memiliki kebiasan yang berbeda di setiap pagi hari, ada yang mengawali dengan minum air putih dan sarapan, menyeduh teh atau minum kopi. Namun kebanyakan orang yang meminum kopi mengatakan itu adalah ritual pagi yang wajib dan tidak bisa dilewatkan.

Baca juga: Intip Keseruan di Airbus A330 Bekas Thai Airways yang Disulap Jadi Kedai Kopi Perang

Tapi bagaimana jika ritual tersebut tidak bisa dilakukan karena tidak punya waktu menyeduh kopi atau mampir ke kedai kopi? Ternyata bagi para pecinta kopi hal itu bisa dimudahkan dengan Kopipresso Brewer Mug. Ini sebuah termos yang bisa menyeduh kopi segar dalam hitungan menit.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (17/3/2021), cara kerja Brewer Mug ini seperti Keurig dengan keserbagunaan termos kopi yang khas. Di mana ada kotak kecil untuk bubuk kopi ditempatkan di tengahnya. Kemudian ketika mug dibalik maka air panas akan menyatu dengan kopi dan menyaring ampasnya.

Sehingga nantinya akan menghasilkan secangkir kopi yang kaya dan aromatik tanpa perlu repot dan takut tidak bisa melakukan ritual Anda. Mug Brewer dibuat dari bahan terbaik, ini tidak akan membuat kopi bocor dari mug dan membuat pakaian atau karpet putih Anda kotor serta membuat masalah.

Dengan ruang tahan tetesan yang tertutup rapat, Brewer Mug dapat dibalik meski didalamnya penuh cairan. Sedangkan tutup corong sekrup mencegah kopi tumpah ke meja dan merusak hari Anda.

Brewer Mug akan menjaga kopi Anda tetap hangat dan hangat selama lebih dari enam jam. Bahkan mug ini bisa menutupi hasrat kafein sepanjang hari, jadi Anda tidak perlu khawatir tentang minum kopi dingin dan dipaksa untuk memanaskannya setelah hanya beberapa jam bekerja.

Baca juga: Keren, Kemenhub Dorong Penjual Kopi Keliling Pakai Sepeda Listrik

Dengan kenyamanan, kesederhanaan, dan kualitas pembuatan bir, Brewer Mug dapat menyediakan kopi Anda tanpa kerumitan atau biaya masuk ke mobil Anda dan membeli secangkir kopi lagi. Bisa dikatakan Kopipresso Brewer Mug adalah investasi yang solid di pagi hari dan hari kerja Anda untuk tahun-tahun mendatang dan saat ini tersedia dalam jumlah terbatas dan dijual seharga $69,95 atau sekitar Rp1 juta.

Lima Hal ini Terasa Mengesankan Bagi Pelancong yang Datang Kembali ke Jepang

Pada 11 Oktober 2022, Jepang akhirnya melonggarkan kontrol perbatasan yang ketat, memungkinkan pelancong mancanegara kembali mengunjungi Negeri Sakura tanpa batasan untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Lantaran telah lama ‘ditinggalkan’ para pelancong, maka ada beberapa hal yang terasa baru di Jepang.

Baca juga: Meski Jepang Sudah Terbuka untuk Wisman, Anda Perlu Isi Aplikasi ini Sebelum Naik Pesawat

Dikutip dari Soranews24.com (18/10/2022), disebutkan setidaknya ada lima hal baru yang dianggap bakal mengejutkan pelancong yang tiba menikmati liburan di Jepang. Lima hal ini tentu akan lebih dirasakan oleh pelancong yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi Jepang. Dan kelima hal tersebut adalah:

1. Ada begitu banyak vending machine otomatis
Kita semua tahu bahwa Jepang adalah negeri vending machine, tetapi melihatnya setelah sekian lama benar-benar membuat Anda menyadari betapa banyak yang ada di sini. Bukan hanya jumlah mesin yang tampaknya meningkat, tetapi juga variasinya. Misalnya, ada vending machine otomatis yang menjual karamel di depan toko karamel Number Sugar.

2. Orang-orang di Jepang mengantri dengan tertib
Ini bukan hal yang sangat baru, tetapi ini adalah sesuatu yang pasti akan menonjol bagi pengunjung asing di Jepang setelah waktu yang lama. Di peron stasiun, di eskalator, di depan restoran ramen…di mana pun orang menunggu, mereka membentuk antrean tertib di mana tidak ada yang memotong antrean dan semua orang menunggu dengan sabar, menciptakan rasa tenang di tengah keramaian.

3. Lebih mudah dari sebelumnya untuk membeli makanan Korea
Tentu, ini mungkin bukan sesuatu yang menarik bagi banyak turis internasional, tetapi bagi pengunjung dan penduduk Korea, ini adalah berita yang sangat disambut baik.

4. Masih perlu menggunakan uang fisik untuk membeli banyak barang
Jepang telah membuat banyak kemajuan dengan pembayaran tanpa uang tunai (cashless)sejak pandemi, tetapi negara ini masih memiliki jalan panjang untuk menyamai sistem tanpa kontak yang biasa digunakan oleh banyak orang asing di luar negeri.

5. Banyak harga yang belum naik
Sementara biaya hidup dan kebutuhan sehari-hari telah meningkat sedikit di Jepang dalam beberapa tahun terakhir, itu adalah sesuatu yang kemungkinan besar tidak akan diperhatikan atau dipengaruhi oleh pelancong.

Baca juga: Ternyata Dua Faktor Ini Menjadi Alasan Wisatawan Jepang Terkesan Angkuh Ketika Mengudara

Pelancong akan melihat menu di restoran dan biaya masuk ke taman dan museum, dan tidak ada perubahan nyata pada harga ini dalam dua tahun terakhir. Faktanya, Tokyo Disneyland dan DisneySea untuk sementara menurunkan biaya tiket harian mereka sebesar 20 persen, dan dengan yen yang lebih rendah daripada sebelum pandemi, Anda akan kagum dengan betapa terjangkaunya hal-hal di sini dibandingkan dengan negara asal Anda.

Sejarah Maskapai Malaysia Singapore Airlines, dari Awal Berdiri Sampai Berpisah























Singapore Airlines mungkin saat ini sudah jauh meninggalkan kompetitor mereka asal Negeri Jiran, Malaysia Airlines. Tetapi, di masa lalu, sepak terjang maskapai tersebut belum ada apa-apanya dibanding maskapai nasional Malaysia itu.

Baca juga: Ikuti Jejak Air France-KLM, Muncul Gagasan Merger Singapore dan Malaysia Airlines

Singapura dan Malaysia sejak dahulu memang tidak pernah akur. Selalu ada pertengkaran atau perdebatan terkait budaya, makanan, pariwisata, dan lain sebagainya antar kedua negara itu.

Tetapi, sebelum Singapura merdeka, keduanya pernah dipaksa untuk ‘akur’ oleh Inggris di akhir periode 144 tahun pemerintahan Inggris di wilayah tersebut, dengan menjadikannya sebagai salah satu dari 14 negara bagian Malaysia dari tahun 1963 sampai 1965. Berdirinya maskapai Malaysia Singapore Airlines (MSA) mungkin bisa jadi salah satu bukti.

Dilansir sea.mashable.com, sebelum berganti nama menjadi MSA, maskapai tersebut dikenal sebagai Malayan Airways. Maskapai ini didirikan pada 12 Oktober 1937, menerbangkan orang antara Singapura dan Penang. Ketika itu, maskapai belum memasuki ranah komersial melainkan masih menjadi bagian dari layanan udara pemerintah kolonial Inggris di Malaysia.

Barulah pada 2 April 1947, Malayan Airlines resmi terbang komersial dan mencari keuntungan dari setiap penerbangan.

Ketika Singapura resmi menjadi salah satu dari 14 negara bagian Federasi Malaysia pada 16 September 1963, Malayan Airways mulai rebranding. Tidak langsung menjadi MSA tetapi menjadi Malaysian Airways Limited terlebih dahulu.

Di periode yang sama, Borneo Airways dilebur dengan maskapai tersebut, mengingat Borneo Utara dan Sarawak, yang juga bekas koloni Inggris, juga digabung menjadi negara bagian dari Federasi Malaysia.

Sampai di sini, Malaysian Airways menjadi lebih optimis, ditambah dengan datangnya pesawat-pesawat canggih ketika itu, seperti De Havilland Comet IV, Fokker 27, dan DC-8.

Meski sempat terganggu dengan berpisahnya Singapura dari Federasi Malaysia, pada 9 Agustus 1965, untuk menjadi negara merdeka dan berdaulat, tetapi Malaysia Airways justru makin bersinar. Terlebih ketika memutuskan rebranding ulang menjadi Malaysia Singapore Airlines (MSA) pada tahun 1966.

Di bawah bendera MSA, maskapai berhasil diperhitungkan di kancah industri penerbangan internasional.

MSA terus beroperasi sampai setidaknya pada tahun 1972. Ketika itu, Malaysia dan Singapura memutuskan mengakhiri operasi MSA dan masing-masing mendirikan maskapai.

Malaysia mendirikan maskapai Malaysian Airline System (MAS) dan Singapura mendirikan Singapore Airlines (SIA) pada tahun yang sama. MAS akhirnya berganti nama menjadi Malaysia Airlines pada tahun 1987.

Kini, setelah bertahun-tahun ‘bercerai’ publik tentu sudah tahu betul siapa yang jadi benalu di antara kedua maskapai tersebut. Malaysia Airlines terus-menerus dalam keadaan terpuruk. Entah puncak atau awal mula keterpurukan, yang jelas, salah satu sebab keterpurukan datang dari kecelakaan MH370 pada 2014 silam.

Baca juga: 50 Tahun Tak Berjumpa, Awak Kabin dan Pilot Malaysia-Singapore Airlines Reunian

Pada Juni 2019 lalu, Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33, bahkan sampai mempersilahkan bilamana ada investor luar maupun dalam negeri yang ingin membeli Malaysia Airlines. Itu dilakukan semata untuk menyelamatkan maskapai yang keuangannya sudah terseok-seok.

Di tahun yang sama, nasib Singapore Airlines justru sebaliknya. Maskapai kebanggaan Singapura itu berhasil menyabet gelar maskapai terbaik versi Forbes dan menjadi maskapai terbaik kedua versi Skytrax.

Populer, Tapi Banyak yang Tak Tahu Arti dan Singkatan Kode “SQ” Singapore Airlines

Bila kita mengenal kode penerbangan GA untuk maskapai Garuda Indonesia, maka tak kalah populer kode penerbangan SQ, yang mengidentifikasi penerbangan dari maskapai Singapore Airlines. Saking populernya kode SQ, tak jarang kita mendengar ada orang yang mengucapkan kalimat, “…. pergi naik SQ…”. Namun tahukah Anda, apa arti atau kepanjangan dari kode SQ tersebut?

Baca juga: Sejarah Maskapai Malaysia Singapore Airlines, dari Awal Berdiri Sampai Berpisah

Seperti halnya kode GA untuk Garuda Indonesia, kode SQ telah terdaftar resmi di International Air Transport Association (IATA). Sedangkan International Civil Aviation Organization (ICAO) menggunakan kode SIA untuk Singapore Airlines. Namun, karena hanya terdiri dari dua huruf, label SQ jauh lebih populer dan dikenal luas sebagai awalan dalam kode informasi penerbangan.

Sementara untuk arti SQ, dimulai ketika saat Singapore Airlines berdiri dan mencoba menetapkan dirinya sebagai maskapai terbaik di dunia, maka staf perusahaan kala itu memilih kode SQ, yang dalam forum quora.com, disebut sebagai kependekan dari ‘Superior Quality’ dari layanan yang ingin diberikan perusahaan. Karena bakal sering disebutkan, maka SQ menjadi pengingat yang menonjol bagi staf dan karyawan untuk memberikan layanan yang lebih baik daripada maskapai lain.

Lain dari itu ada pendapat yang mengatakan, ‘SQ’ dijadikan penunjuk maskapai oleh IATA untuk Singapore Airlines karena kode ‘SI’ baru saja dialokasikan ke Sierra Pacific Airlines di AS, sedangkan ‘SA’ sudah digunakan oleh South African Airways. Oleh karena itu, kombinasi huruf lain harus ditemukan.

Namun, sejauh ini tidak ada informasi resmi yang menyebut SQ adalah singkatan dari Superior Quality. Ketika Malaysia Singapore Airlines berhenti beroperasi pada tahun 1972, Singapura ingin menggunakan maskapai penggantinya “Mercury Singapore Airlines”.

Baca juga: Singapore Airlines-Qantas Mau Merger, tapi Gagal Gegara Qantas (Australia) ‘Serakah’

Mengapa? Karena itu dilampirkan pada singkatan ‘MSA’, tetapi itu dibatalkan, karena menggambarkan penggunaan nama ‘Merkurius’ sebagai kuno. Ada juga yang menyebut pemiihan kode SQ dilakukan dengan cara yang berbeda, ada dugaan mereka terpaksa memilih sesuatu (kode) yang lain, sama seperti kita semua memiliki alamat Gmail yang aneh, karena yang kita inginkan telah diambil oleh orang lain.