Rayakan Tahun Baru Dua Kali? Kenapa Tidak Selama Rute Penerbangannya Tepat

Perayaan Tahun Baru 2023 berlangsung meriah di berbagai negara dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tak sedikit warga negara di dunia yang merayakan malam pergantian tahun di luar negeri. Sayangnya, mereka hanya bisa memilih salah satu dari beberapa destinasi spot perayaan malam pergantian tahun, tidak lebih. Namun, sebetulnya, bukan tidak mungkin seseorang merayakan tahun baru dua kali. Bagaimana caranya?

Baca juga: Mantan Pramugari Frontier Airlines Ceritakan Penerbangan ‘Berbeda’ di Tahun 1950

Pembagian waktu di dunia secara teori jika dibagi menggunakan garis bujur akan menjadi 24 zona waktu yang berbeda, karena bumi memiliki 360 derajat dan setiap 15 derajat adalah 1 jam, namun pada kenyataannya pembagian waktu di dunia hingga saat ini dibagi menjadi 41 zona waktu yang berbeda.

Sistem pembagian waktu di dunia secara resmi ditetapkan pada tahun 1884 ketika diadakan Konferensi Waktu Dunia Internasional di Washington DC. Ketika itu ditetapkan nol derajat bujur berada pada kota Greenwich, Inggris dan membagi zona waktu menjadi 24 zona waktu relatif terhadap Prime Meridian dan saat ini berkembang menjadi 41 zona waktu.

Titik tertinggi yang notabene berjarak +12 jam dari titik 0 derajat di Greenwich berada di Timur Jauh Rusia dan wilayah-wilayah di bawahnya, seperti negara-negara kepulauan di Samudera Pasifik seperti Marshall Island sampai Selandia Baru. Titik terjauhnya atau berajarak -12 jam dari Greenwich Mean Time (GMT) adalah beberapa negara atau pulau kecil di Samudera Pasifik, salah satunya Howland Island yang masuk dalam teritori AS.

Dengan adanya zona waktu tersebut, ditambah dengan kemajuan transportasi udara yang dapat mempersingkat waktu tempuh perjalanan antar benua, sangat mungkin siapapun merealisasikan dua kali perayaan malam tahun baru, dengan catatan rute penerbangannya harus tepat.

Dilansir Simple Flying, United Airlines diketahui melayani penerbangan reguler dari Guam ke Honolulu, Hawaii. Berdasarkan Garis Tanggal Internasional (International Date Line), Guam masuk dalam zona waktu +10 dan Honolulu masuk dalam zona waktu -10. Itu berarti, saat di Guam masih pukul 7.35 pagi tanggal 1, di Honolulu masih di jam 6.50 malam tanggal 31 dan kesempatan untuk merayakan baru dua kali sangat mungkin.

Selain United Airlines, Cathay Pacific juga melayani rute penerbangan yang memungkinkan penumpang merayakan dua kali malam tahun baru. Rute itu adalah dari Bandara Internasional Hong Kong ke Bandara Internasional Los Angeles, AS. Keberangkatannya dari pukul 00.15 AM tanggal 1 Januari 2023 dan tiba di Los Angelese pada pukul 20.40 31 Desember 2022.

Maskapai lain menawarkan pilihan lebih variatif, yaitu merayakan malam tahun baru di pesawat saat dalam penerbangan dan lainnya di negara tujuan.

Baca juga: Wow, Negara Ini Memiliki 11 Zona Waktu!

Rute China Airilines, misalnya, berangkat dari Bandara Taipei pukul 23.50 tanggal 31 Desember 2022 dan tiba di Bandara Los Angeles pukul 19.35 tanggal 31 Desember 2022. Rute lain, Eva Air, berangkat dari Bandara Taipei pukul 11.55 malam tanggal 31 Desember 2022 dan tiba di Bandara Vancouver pada pukul 6.20 malam di hari yang sama, mundur seperti melewati lorong waktu.

Selain rute komersial berjadwal, siapapun tentu saja bisa merasakan dua kali merayakan malam pergantian tahun menggunakan pesawat private jet atau jet pribadi.

Bercanda Soal Bom, Nasib Apes Harus Ditanggung Perempuan WNI di Bandara Penang

Di bandara mana pun Anda berada, jangan coba-coba membuat candaan seputar bom. Tidak hanya berlaku keras di Indonesia, belum lama berselang, nasib apes dialami oleh Julidar Gayatri Tanjung, perempuan Warga Negara Indonesia (WNI) berusia 33 tahun, terpaksa batal terbang ke Medan, setelah dirinya diamankan aparat keamanan Bandara Internasional Penang, Malaysia, pada hari Kamis (29/12/2022).

Baca juga: Bergurau Soal Bom, Penumpang Lion Air (Kembali) Digelandang Petugas Keamanan Bandara

Dilansir dari New Strait Times, disebutkan bahwa Julidar adalah pekerja di sebuah pabrik di Ipoh. Kepala kepolisian setempat, Inspektur Kamarul Rizal Jenal, mengatakan bahwa polisi mendapat laporan mengenai insiden itu pukul 17.10 waktu setempat. Julidar membuat candaan kepada petugas bandara saat pengecekan bawang bawaan.

“Tersangka, seorang perempuan asing, ditahan setelah bercanda dengan staf yang memeriksa barang bawaannya bahwa ada bom di dalamnya,” kata Kamarul. Saat kejadian, lelucon yang dikeluarkan Julidar didengar oleh petugas di konter check-in serta penumpang lainnya.

Baca juga: Gara-Gara Takut Tertinggal Kereta, Pria Ini Laporkan Adanya Bom

Atas insiden itu, Julidar tak bisa pulang kampung, dan ditahan selama dua hari untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pejabat Fungsi Konsuler Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang Lusy Surjandari menyampaikan, bahwa Julidar akan diberikan pendampingan pengacara oleh KJRI Penang. “Saat ini yang bersangkutan ditahan di lockup sementara Bayan Baru. Kasusnya akan dilanjutkan,” ucap Lusy.

Pasokan Listrik ATC Manila Padam, Ruang Udara Sempat Ditutup Otoritas Penerbangan Filipina

Siapa sangka di momen tahun baru dan berlokasi di utara Indonesia, ternyata sempat terjadi prahara di angkasa, setelah otoritas penerbangan Filipina secara mendadak mengumumkan penutupan ruang udara di wilayah Manila. Hal tersebut sebagai buntut dari tidak beroperasinya layanan pengatur lalu lintas udara (air traffic control) di Bandara Internasional Ninoy Aquino Manila.

Baca juga: Kemampuan Menurun Seiring Bertambahnya Usia, Jadi Batasan Usia Kerja Petugas ATC 

Dikutip dari Theguardian.com (1/1/2023), puluhan ribu pelancong terdampar di Bandara Filipina karena tidak berfungsinya kontrol lalu lintas udara, akibat pemadaman listrik yang melumpuhkan peralatan komunikasi dan radar di pusat tersibuk di negara Pinoy tersebut.

Lebih dari 360 penerbangan ditunda, dibatalkan, atau dialihkan ke bandara regional lainnya, yang memengaruhi sekitar 56.000 penumpang di Bandara Ninoy Aquino. Dilaporkan, operasi di beberapa bandara lain juga terpengaruh.

Penerbangan menuju tujuan internasional lainnya juga dilarang menggunakan wilayah udara Filipina. Tidak jelas berapa banyak penerbangan yang terpengaruh.

Jaime Bautista, sekretaris transportasi Filipina, meminta maaf atas ketidaknyamanan penumpang. Bautista mengatakan pusat manajemen lalu lintas udara, yang mengontrol penerbangan masuk dan keluar Filipina mengalami down karena pemadaman listrik yang mengakibatkan hilangnya komunikasi, radio, radar, dan internet.

Sebuah pesawat Qantas tujuan Manila terpaksa berputar di tengah penerbangan dan kembali ke Sydney. Penerbangan QF19 dengan Airbus A330 berangkat dari Sydney sesaat sebelum pukul 13:00 waktu setempat pada Hari Tahun Baru dan sekitar tiga jam dalam total perjalanan delapan, pilot mengetahui bahwa mereka tidak akan dapat mendarat di tujuan pesawat.

Saat itu, QF19 baru saja terbang di atas pantai utara Queensland, dan Airbus A330 berbalik arah dan kembali ke Sydney. Pesawat kemudian mengisi bahan bakar di bandara Sydney dan berangkat lagi sekitar pukul 23.30 pada hari Minggu untuk kembali ke Manila setelah wilayah udara Filipina dibuka kembali. Penerbangan Qantas tiba di Manila pada Senin pagi.

“Ini adalah masalah sistem manajemen lalu lintas udara,” kata Jaime Bautista dalam jumpa pers. “Jika Anda membandingkan kami dengan Singapura, misalnya, ada perbedaan besar, mereka setidaknya 10 tahun di depan kami.”

Baca juga: Mengenal Tower ATC Bandara Sydney, Salah Satu Tower ATC Paling Unik di Dunia

Ada pemandangan kacau di konter check-in di seluruh negeri ketika ribuan orang mencoba memesan ulang tiket atau mencari tahu kapan penerbangan mereka akan lepas landas. Menjelang Minggu malam, bandara Manila telah melanjutkan layanan normal.

Hari ini, 3 Januari 2023, Tarif Tol Tangerang – Merak Resmi Naik

Salah satu jalur tol terpadat dengan nilai strategis, karena terkait langsung dengan akses penyeberangan kendaraan antara Jawa – Sumatera, yakni tol Tangerang – Merak, per hari ini, 3 Januari 2023, telah resmi mengalami penyesuaian dengan kenaikan tarif. Penyesuaian tarif baru tersebut mengacu pada Keputusan Menteri PUPR No. 1751/KPTS/M/2022 tentang Penyesuaian Tarif Tol pada Ruas Jalan Tol Tangerang-Merak yang dikeluarkan pada 12 Desember 2022 lalu.

Baca juga: Kecelakaan Banyak Terjadi di Bahu Jalan Tol, Ini Penyebabnya

Direktur ASTRA Tol Tamer Kris Ade Sudiyono mengatakan, penyesuaian tarif kali ini merupakan penyesuaian tarif reguler 2 tahunan berdasarkan inflasi yang telah diatur dalam Undang-undang No. 2 tahun 2022 Pasal 48 ayat (3) dan penyesuaian tarif atas penambahan lingkup investasi peningkatan kualitas dan kapasitas jalan. “Penyesuaian tarif ini bervariasi, karena dihitung berdasarkan nilai rupiah per kilometer,” ucap Kris kepada Kompas.com, Minggu (1/1/2023).

Berikut adalah tarif baru Tol Tangerang – Merak yang berlaku mulai 3 Januari 2022.

Cikupa-Balaraja Timur
Golongan I: 3.000
Golongan II: 5.000
Golongan III:5.000
Golongan IV: 6.500
Golongan V: 6.500

Cikupa-Balaraja Barat
Golongan I: 6.000
Golongan II: 9.000
Golongan: III 9.000
Golongan IV: 12.000
Golongan V:12.000

Cikupa-Cikande
Golongan I: 16.500
Golongan II: 28,000
Golongan III: 26.000
Golongan IV: 33.500
Golongan V: 33.500

Cikupa-Ciujung
Golongan I: 22.500
Golongan II: 35.500
Golongan III: 35.500
Golongan IV: 46.000
Golongan V: 48.000

Cikupa-Walantaka
Golongan I: 26.000
Golongan II: 40.500
Golongan III: 40.500
Golongan IV: 52.500
Golongan V: 52.500

Cikupa-Serang Timur
Golongan I: 32.500
Golongan II: 51.000
Golongan III: 51.000
Golongan IV: 66.000
Golongan V: 66.000

Cikupa-Serang Barat
Golongan I: 38.500
Golongan II: 57.500
Golongan III: 57.500
Golongan IV: 74.500
Golongan V: 74.500

Cikupa-Cilegon Timur
Golongan I: 44.500
Golongan II: 70.000
Golongan III: 70.000
Golongan IV: 90.500
Golongan V: 50.500

Cikupa-Cilegon Barat
Golongan I: 51.000
Golongan II: 80.000
Golongan III: 80.000
Golongan IV: 103.500
Golongan V: 103.500

Baca juga: Ini Fungsi Jalur Penyelamat di Jalan Tol

Cikupa-Merak
Golongan I: 53.500
Golongan II: 84.500
Golongan III: 84.500
Golongan IV: 109.000
Golongan V: 109.000

COMAC Umumkan Pengiriman Unit Ke-100 ARJ21

Setelah pada 18 Desember 2022 mengirimkan unit perdana ARJ21-700 ke maskapai TransNusa, kini ada kabar dari sang manufaktur, yakni Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), yang mengumumkan pengiriman unit ke-100 ARJ21.

Baca juga: COMAC Kirim ARJ21-700 ke TransNusa Airlines, Pertanda Duopoli Regional Jet Narrow Body di Indonesia Berakhir?

Pengumuman pengiriman ARJ21 ke-100 disampaikan lewat akun WeChat resmi COMAC pada 29 Desember 2022. COMAC menggambarkan tonggak sejarah ini karena program ARJ21 telah mengantarkan tahap baru produksi massal, operasi skala besar, dan pengembangan berseri pada pesawat jet penumpang.

Pengumuman resmi pengiriman ke-100 ARJ21 berarti COMAC telah mengirimkan 32 unit ARJ21 pada paruh kedua tahun 2022, yang tidak hanya merupakan angka terbaik dalam setengah tahun, tetapi juga mengalahkan rekor pengiriman tahunan sebesar 23 unit yang dicapai pada tahun 2020.

Saat ini, kapasitas produksi COMAC untuk program ARJ21 telah mencapai 50 pesawat per tahun, dengan tingkat produksi seimbang 30 pesawat per tahun.

ARJ21 sekarang dimiliki oleh delapan pelanggan, yakni Chengdu Airlines, Genghis Khan Airlines, Jiangxi Air, Air China, OTT Airlines (dimiliki sepenuhnya oleh China Eastern Airlines), China Southern Airlines, China Express, China Flight General, dan satu pelanggan asing: TransNusa Airlines dari Indonesia.

Sejak menerima ARJ21 pertamanya pada 29 November 2015, Chengdu Airlines telah menerima 34 pesawat ARJ21; namun, COMAC telah mengembalikan 7 di antaranya sejak 2020 karena berbagai alasan (perubahan konfigurasi kargo, layanan charter), membuat armada ARJ21 Chengdu Airlines saat ini berjumlah 27 pesawat.

Baca juga: 35 Persen Saham Dikuasai Perusahaan Cina, Jadi Alasan TransNusa Gunakan Pesawat Cina ARJ21?

Sejauh ini, menurut COMAC, pihaknya telah memiliki 670 pesanan pesawat penumpang ARJ21 dan 70 pesanan konfigurasi kargo ARJ21 dari 20 pelanggan yang berbeda.

Di Tengah Sanksi Barat, Iran Akuisisi Empat Unit Airbus A340 dengan Cara yang Aneh

Administrasi Penerbangan Sipil Iran telah mengkonfirmasi ‘pembelian’ empat pesawat berbadan lebar Airbus A340-300, meskipun ada sanksi dari Amerika Serikat dan Barat. Pada 24 Desember 2022, empat pesawat Airbus A340, yang sebelumnya dioperasikan oleh Turkish Airlines dan baru-baru ini terdaftar di Burkina Faso, berangkat untuk penerbangan terjadwal dari Afrika Selatan ke Uzbekistan.

Baca juga: Alami Masalah pada “Ventilasi,” Airbus A340 Air France Terpaksa Mendarat Darurat di Iran

Namun, saat pesawat tersebut terbang di atas Iran, pesawat jet bermesin empat itu menghilang dari layanan pelacakan penerbangan. Dikutip dari aerotime.aero (30/12/2022), beberapa hari kemudian, keempat Airbus A340 diketahui telah berada di Bandara Internasional Mehrabad (THR) di Teheran, Iran. Hal tersebut diketahui dari citra satelit.

Pada 29 Desember 2022, Hassan Khoshko, juru bicara Administrasi Penerbangan Sipil Iran, mengumumkan bahwa keempat pesawat A340 telah diperoleh untuk digunakan oleh salah satu maskapai penerbangan Iran. Tidak jelas bagaimana kesepakatan untuk menghindari sanksi tercapai.

Iran yang berada di bawah sanksi internasional sejak akhir tahun 1970-an, membuat penerbangan sipil Iran sangat membutuhkan pesawat baru.

Pada Mei 2018, pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk memberlakukan kembali sanksi terhadap Republik Islam Iran, yang digambarkan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai sponsor utama terorisme internasional.

Baca juga: Lawan Hegemoni Barat, Iran Gandeng Rusia, Cina, dan India Bentuk Konsorsium Perawatan Pesawat

Akibatnya, banyak perusahaan penerbangan di kedua sisi Atlantik (Airbus dan Boeing) ,terpaksa membatalkan ratusan penjualan pesawat ke Iran, yang ditaktir senilai lebih dari US$30 miliar. Hanya ATR buatan Perancis-Italia yang berhasil menindaklanjuti, yakni mengirimkan lima pesawat ke Iran Air pada 5 Agustus 2018, hanya sehari sebelum sanksi baru AS berlaku.

Ternyata, Boeing dan United Airlines Dulu Adalah Satu Perusahaan, Lho!

Setelah pada artikel sebelumnya membahas tentang fakta unik dari dua maskapai asal Negeri Paman Sam, yaitu American Airlines dan Delta Airlines, nampaknya kurang lengkap jika tidak membahas tentang satu lagi maskapai Amerika yang terkenal kontroversial, United Airlines. Kendati namanya terkesan sudah tercoreng, namun United merupakan salah satu maskapai yang serius dalam mengatasi masalah polusi udara.

Baca Juga: Pekerjakan Pilot Berkulit Hitam Pertama, Inilah Fakta Unik Seputar American Airlines

Ya, pada 11 Maret 2016 silam, United tercatat sebagai maskapai Amerika pertama menggunakan bahan bakar biofuel untuk penerbangan berjadwal regulernya. Selain itu, nama United Airlines juga tercatat sebagai launch customer dari armada Boeing 777 pada tahun 1995 silam. Untuk menghilangkan rasa penasaran terhadap maskapai kontroversial ini, berikut KabarPenumpang.com rangkum sejumlah fakta unik dari United Airlines, dikutip dari laman gotravelyourway.com.

Pendiri Star Alliance
Bersama dengan Lufthansa, Air Canada, SAS, dan Thai International. United Airlines mendirikan aliansi penerbangan Star Alliance pada tahun 1997. Beranggotakan 28 maskapai penerbangan, Star Alliance sendiri digadang-gadang sebagai aliansi penerbangan terbesar saat ini – melampaui SkyTeam dan OneWorld.

Hubungan Spesial Dengan Boeing
Tahukah Anda bahwa United Airlines dan Boeing merupakan satu perusahaan? Ya, pada akhir 1920-an, William Boeing mendirikan Boeing Airplane & Transport Corporation yang berfokus pada manufaktur dan pengoperasian pesawat. Lalu pada 28 Maret 1931, sebuah perusahaan bernama United Air Lines, Inc. baru memulai penerbangan komersialnya.

United Airlines dan Ellen Church
Mungkin Anda akan bertanya-tanya, siapakah Ellen Church. Ya, patut diketahui bahwa ia merupakan awak kabin berjenis kelamin wanita pertama yang pada tahun 1930, Ellen mengudara bersama United dari Oakland menuju Chicago. Sebelum tahun 1930, semua awak kabin berjenis kelamin laki-laki.

Baca Juga: Ini Fakta yang Mungkin Belum Anda Ketahui dari Delta Airlines

Konsumen Boeing 737 MAX 10 Terbesar
United Airlines diketahui sebagai maskapai pertama yang mengoperasikan armada Boeing 737. Merasa puas dengan kinerja armadanya, United Airlines lalu terus menggunakan salah satu produk andalan dari Boeing ini. Pada Juli 2017, United Airlines mengubah perjanjian dengan pihak Boeing untuk mengkonversi 100 unit armada Boeing 737 MAX 9 pesanannya menjadi Boeing 737 MAX 10.

Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika

Nama maskapai ini begitu kondang, boleh dibilang sejajar dengan Singapore Airlines, Emirates, atau bahkan maskapai asing lainnya yang pernah Anda lihat tengah ‘nangkring’ di tarmak Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tapi ternyata, Cathay Pacific Airways punya segudang fakta-fakta unik yang menarik untuk dibahas. Ya, salah satunya adalah Flag Carrier Hong Kong ini pernah meraih penghargaan “Airline of the Year” selama empat kali (tahun 2003, 2005, 2009, dan 2014)

Baca Juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Tentu pencapaian tersebut bisa dibilang fenomenal karena tercatat hanya ada enam maskapai yang pernah menyandang gelar tersebut – terhitung sejak pertama kali penghargaan tersebut dirilis pada tahun 2001. Wah, kira-kira apa lagi ya yang menarik dari maskapai yang bermarkas di Hong Kong International Airport ini? Berikut KabarPenumpang.com rangkum empat fakta unik seputar Cathay Pacific Airways, dikutip dari laman gotravelyourway.com.

Pelanggan Pertama Airbus A350
Tidak bisa dipungkiri, armada A350 rilisan Airbus memang tengah naik daun belakangan ini – dan Cathay Pacific Airways menjadi maskapai yang pertama kali menerima produk ini pada 30 Mei 2016 silam dari pabrik Airbus di Toulouse, Perancis. Kendati sebelumnya sudah ada Qatar Airways yang menggunakan armada ini, namun stasusnya masihlah sebagai launching customer.

Pesawat Jet Pertamanya
Maskapai yang didirikan pada 24 September 1946 ini menjalani tahun-tahun berat di awal pengoperasiannya. Alih-alih untuk memperluas jaringan penerbangan dan semakin kompetitif dengan para pesaingnya, Cathay Pacific mendatangkan Convair 880 sebagai armada jet pertamanya pada tahun 1964. Kala itu, maskapai lain yang juga menggunakan Convair 880 adalah Delta dan SwissAir.

Armada Pertama Cathay Pacific Airways
Douglas DC-3 merupakan armada pertama Cathay Pacific dan juga merangkap sebagai salah satu armada unik di tubuh maskapai ini. Bagaimana tidak, DC-3 merupakan pesawat yang masih bisa mengudara kendati umurnya sudah tidak lagi muda. Diibaratkan dan terinspirasi dari mobil Volkswagen (VW Beetle), alhasil DC-3 pertama Cathay Pacific Airways ini Betsy.

Baca Juga: Cathay Pacific Hibahkan Boeing 777-200 Perdana Ke Museum Dirgantara di Arizona

Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika
Adalah Sydney H. de Kantzow dan Roy C. Farrell.yang menjadi dua penggagas terbentuknya maskapai berkode ICAO CPA ini. Sydney merupakan pilot Royal Australian Air Force berkebangsaan Swedia/Polandia yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Sydney, Australia. Sedangkan Roy merupakan pria berkebangsaan Amerika yang menjadi pencetus dari penggunaan nama Cathay. Menurutnya, nama Cathay sendiri diambil dari nama abad pertengahan dari Cina.

Inilah Serba-Serbi Tentang Flag Carrier, Ternyata Amerika Serikat Justru Tidak Punya!

Apa persamaan dari Garuda Indonesia, Singapore Airlines, KLM, dan Qatar Airways? Jika jawabannya “Semua itu merupakan nama maskapai,” maka Anda kurang tepat. Ya, persamaan dari empat maskapai yang namanya sudah mendunia tersebut adalah mereka sama-sama Flag Carrier dari negaranya masing-masing. Lalu, apakah semua negara memiliki Flag Carrier-nya masing-masing? Atau siapakah yang mengelola maskapai Flag Carrier? Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu apa itu sebenarnya yang dimaksud dengan Flag Carrier.

Baca Juga: Maskapai di Amerika Serikat Tawarkan Tarif Ekonomi Dasar, Murah Tapi Berisiko

Flag Carrier sendiri merupakan sebuah perusahaan transportasi udara yang dibentuk oleh pemerintah sebagai wujud pemenuhan perhubungan negara di dalam suatu negara yang diregistrasikan di dalam negara tersebut. Istilah Flag Carrier sendiri mulai menyeruak pasca Perang Dunia II, dimana kebanyakan negara yang sudah merdeka mendirikan maskapai penerbangan sebagai perwujudan titik awal negara dalam merencanakan pembangunan setelah negara tersebut hancur akibat perang.

Walaupun peran pemerintah dalam status kepemilikannya berbeda di masing-masing negara (ada yang sepenuhnya milik negara, ada juga yang tidak), namun Flag Carrier masih menjadi prioritas pemerintah, terutama dalam pembagian perencanaan koridor rute area nasional dan internasional. Bisa dibilang, Flag Carrier tidak hanya mengudara membawa penumpang saja, melainkan mereka mengemban tugas lebih, yaitu membawa nama baik dan reputasi negara yang bersangkutan.

Tapi, ada satu fakta unik yang terselip dari keberadaan Flag Carrier di seluruh dunia. Amerika Serikat yang diketahui sebagai Negara Adidaya ternyata tidak memiliki Flag Carrier. Ya, negera berjuluk Negeri Paman Sam ini melarang adanya Flag Carrier karena aturan anti keistimewaan yang sangat ketat.

Diketahui, negara tersebut hanya memiliki tiga maskapai internasional saja, setelah mengalami berbagai proses akuisisi dan likuidasi, yaitu American Airlines, Delta Air Lines, dan United Airlines. Dimana ketiganya memiliki fungsi yang mirip dengan Flag Carrier di negara lain. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (20/3/2018), seorang editor dari laman SmarterTravel.com, Ed Perkins mengatakan bahwa sebenarnya Amerika pernah punya Flag Carrier.

“Sebelum Perang Dunia II, Pan American merupakan Flag Carrier Amerika yang diakui secara de facto, dimana mereka mencoba untuk mempertahankan posisi sebagai Flag Carrier tersebut pasca perang,” tutur Ed. “Namun di sisi sebaliknya, Pemerintah Amerika Serikat malah lebih memilih maskapai penerbangan yang kompetitif,” tandasnya.

Baca Juga: Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier

Lebih lanjut, Ed menyebutkan bahwa pasca deregulasi maskapai penerbangan pada tahun 1978, secara resmi pemerintah tidak lagi memegang kendali atas penentuan harga dan rute penerbangan. Sejak momen tersebut, persaingan antar maskapai di Negeri Paman Sam pun secara otomatis mengalami peningkatan.

Ternyata, Qantas Airways Itu Merupakan Singkatan dari…

Qatar Airways sudah, Emirates juga sudah, sekarang giliran Qantas Airways yang akan dibongkar fakta-fakta unik yang terselip di dalamnya. Ya, maskapai berjuluk The Flying Kangaroo memang memiliki segudang cerita unik yang patut untuk Anda ketahui. Sebagai permulaan, Qantas Airways merupakan maskapai ketiga tertua di dunia, menyusul KLM di urutan pertama dan Avianca di posisi kedua maskapai paling ‘kolot’ di dunia.

Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!

Nah, sudah siap untuk menyimak fakta-fakta unik berikutnya dari Flag Carrier Australia ini? Berikut KabarPenumpang.com himpun empat fakta unik lainnya dari Qantas Airways, dikutip dari laman gotravelyourway.com.

Qantas Ternyata Sebuah Singkatan!
Ya, mungkin sebagian dari Anda pernah bertanya-tanya, “Apa sih makna dari Qantas? Apakah itu nama dari sebuah hewan kebanggan Australia layaknya Garuda Indonesia?”. Jika dirunut dari sejarahnya, Qantas merupakan singkatan dari “Queensland and Northern Territory Aerial Service”. Sesuai dengan namanya, Qantas dulunya mengoperasikan penerbangan dari Queensland menuju wilayah Utara Australia.

Salah Satu Pencetus Aliansi Penerbangan Terbaik di Dunia
Bersama dengan American Airlines, British Airways, Canadian Airlines, dan Cathay Pasific, Qantas sepakat untuk membentuk aliansi penerbangan OneWorld pada 1 Februari 1999 silam. Kini, OneWorld sudah berkembang dan diketahui memiliki 13 ‘pengikut’, termasuk Qatar Airways dan Japan Airlines.

Pernah Mengoperasikan Penerbangan Terjauh di Dunia
The Flying Kangaroo pernah mengoperasikan rute Dallas – Sydney yang jika diukur, jarak yang membentang diantara dua kota beda negara dan benua ini mencapai 13.799km! Namun rekor penerbangan selama 17 jam 5 menit tersebut harus tumbang di tangan Qatar Airways yang mengoperasikan rute Doha – Auckland pada Februari 2017 silam.

Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

Pernah Disumbang Jet
Jika sebuah maskapai mendapat sumbangan jet dari sebuah negara, mungkin itu sudah tidak aneh lagi – walaupun cukup membuat kita mengerenyitkan dahi. Namun apa jadinya jika maskapai sebesar Qantas Airways pernah mendapat sumbangan jet dari seorang aktor Hollywood, John Travolta.

Ya, aktor kawakan yang pernah membintangi sejumlah film Box Office seperti The Punisher, Wild Hogs, Swordfish, Grease, dan sejumlah film lainnya pernah menyumbangkan Boeing 707 yang ia miliki ke pihak Qantas pada tahun 1964 silam.