Kenapa Mesin Boeing 737 Generasi Pertama Begitu Kecil?

Keluarga Boeing 737 merupakan pesawat komersial paling sukses di dunia. Keluarga pesawat itu tercatat sebagai pesawat pertama dalam sejarah penerbangan dunia yang berhasil membukukan 100 juta lebih jam terbang. Dalam perjalanannya, pesawat mengalami berbagai peningkatan dari seri ke seri, salah satunya mesin yang semakin besar. Lantas kenapa pada Boeing 737 generasi pertama mesinnya begitu kecil?

Baca juga: Daftar Maskapai yang Operasikan Satu Tipe Pesawat Boeing dan Airbus, Ada Maskapai Indonesia

Dilansir dari berbagai sumber, latar belakang khusus menjadi alasan Boeing dilengkapi mesin kecil. Latar belakang khusus dalam artian, prinsip-prinsip dasar desain awal Boeing 737 dibuat memang untuk bandara-bandara tua yang minim infrastruktur.

Bahkan, beberapa di antaranya, tidak memiliki mobil tangga serta garbarata. Kala itu, sekitar tahun 60-an, pesawat memang harus memiliki (khususnya pintu kargo) yang mudah dijangkau oleh operator tanpa bantuan tangga atau alat bantu lainnya.

Dengan berbagai pertimbangan itu, akhirnya, pesawat yang diberi gelar oleh Boeing sebagai Fat Little Ugly Fella tersebut akhirnya didesain untuk dapat beroperasi serendah mungkin, bahkan dengan badan pesawat bagian bawah yang hampir menyentuh daratan sekalipun.

Oleh karenanya, agar pesawat mudah dibuat rendah, landing gear disesuaikan dan mesin pesawat sengaja dibuat kecil. Di samping itu, teknologi mesin jet yang terbatas ketika itu memang membuatnya kecil.

Baca juga: Bingung Bagian Bawah Mesin Boeing 737 Rata? Ini Penjelasannya! 

Boeing 737 generasi pertama memang lahir belum lama setelah mesin jet muncul di akhir dekade 40-an atau awal dekade 50-an. Boeing 737 generasi pertama diketahui terbang perdana pada 9 April 1967. Sekalipun berjarak 15 tahun sejak mesin jet pertama kali hadir di pesawat komersial, namun, ketika itu perkembangannya belum terlalu signifikan.

Mesin jet, pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turbofan dan turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Seperti karburator motor, cara kerja mesin jet pesawat terbang juga tentu menggunakan udara. Bedanya ada proses pengompresan, mulai dari menghisap udara, menekan, ledakan, dan menghembuskan.

Langkah pertama adalah menghisap. Kipas di bagian depan mesin jet akan menghisap udara dan 80 persen dari udara akan melewati mesin dan meniupkan udara keluar dari belakang.

Baca juga: 737-800, Didapuk Jadi Varian Paling Laris di Keluarga Boeing 737

Itulah yang memberikan sebagian besar dorongan, yang mendorong pesawat ke depan dan itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa mesin pesawat semakin besar. Itu karena di awal mesin jet muncul sampai beberapa dekade setelahnya, mesin turbojet beroperasi tanpa ada kipas.

Udara langsung masuk ke ruang bakar dan ditembakkan dari bagian belakang mesin untuk menghasilkan tenaga yang sangat besar. Tapi konsekuensinya adalah boros bahan bakar. Inilah yang terjadi pada mesin jet Boeing 737 generasi pertama dan itu pula kenapa mesin pesawatnya kecil dan boros.

XPENG Luncurkan Mobil Listrik Terbang XPENG X3 Berbobot 2 Ton, Bisa di Darat dan Udara

Usai sukses melakukan penerbangan perdana XPENG X2, XPENG AEROHT, anak usaha dari XPENG, perusahaan mobil listrik terbang asal Cina, meluncurkan seri mobil listrik terbang terbaru, XPENG X3. Berbeda dari XPENG X2, XPENG X3 bisa dikendarai di jalanan layaknya mobil. Tetapi, saat dibutuhkan, seperti saat terjebak macet, XPENG X3 bisa berganti mode menjadi drone VTOL dan meloloskan diri dari kemacetan.

Baca juga: Mobil Terbang Listrik Cina XPENG X2 Sukses Terbang Perdana di Dubai, Harganya Murah Meriah

Peluncuran XPENG X3 dilakukan di ajang Tech Day 2022 di Guangzhou, Cina, belum lama ini dan menyita perhatian banyak orang berkat desainnya yang sangat futuristik.

Sebelum diluncurkan, seperti dikutip dari insideevs.com, XPENG mengaku sudah berhasil menguji coba mobil terbang listrik X3 dengan baik. Dalam uji coba tersebut, mobil terbang listrik XPENG berhasil terbang sampai ketinggian 10 meter selama 30 detik.

Tak lupa, tim penguji juga mencoba beberapa skenario darurat, salah satunya mematikan beberapa rotor dari delapan rotor raksasa di empat sayap untuk mengetahui apa seberapa aman mobil terbang listrik XPENG andai itu terjadi. Hasilnya tak diungkap dengan jelas, tetapi itu berjalan lancar.

Menurut XPENG, cara pengguna mengemudikan mobil terbang listrik X3 saat di darat dan udara tak jauh berbeda. Bila di darat sopir menggunakan setir untuk mengemudikan mobil X3, di udara juga sebetulnya masih menggunakan setir. Namun dibantu dengan alat semacam joystick di sebelah kanan untuk membuat XPENG X3 naik-turun, maju-mundur, dan belok atau melayang.

Sayangnya, XPENG AEROHT tidak bisa memastikan prototipe yang berhasil terbang perdana saat uji coba itu akan diproduksi secara massal atau tidak atau memang sengaja untuk mengumpulkan data-data saja sejak awal dan tidak berminat diproduksi secara massal.

Pasalnya, bobot XPENG X3 seberat 2 ton membuat jangkauan terbang mobil terbang listrik tersebut menjadi pendek dalam sekali pengisian baterai.

Kendati begitu, XPENG yakin, kelak mobil terbang listrik X3 akan menjadi mobil listrik terbang pertama yang bisa dikemudikan di darat dan terbang di udara, memungkinkan penggunaan yang lebih praktis sesuai kebutuhan, semisal saat terjebak di tengah kemacetan ekstrem. Ini memungkinkan berkat konsep sayap lipat di atas mobil X3.

Baca juga: Mobil Terbang AirCar Sukses Terbang Antar Bandara, Kreator: Bisa Terbang Sejauh 1.000 Km

Sudah begitu transisi dari mode darat ke mode udara durasinya tak terlalu lama, sangat memungkinkan untuk pengguna. Tinggallah pekerjaan rumah terbesar bagaimana memangkas bobot 2 ton menjadi jauh di bawahnya agar jangkauan terbang lebih jauh dalam sekali pengisian baterai.

Dr Xinzhou Wu, Vice President of Autonomous Driving XPENG mengatakan XPENG sudah sembilan tahun mengembangkan mobil terbang. Waktu panjang itu membuat mereka sudah berhasil membuat mobil-mobil terbang seperti XPENG X2 yang dihadirkan di Dubai, Uni Emirat Arab, termasuk pengembangan dan peluncuran XPENG X3 di Cina.

Bolehkah Penumpang Pesawat Terbang dengan Kostum Halloween?

Demam perayaan Halloween menjangkiti seluruh dunia. Terlebih, sudah dua tahun lamanya perayaan tersebut dilarang akibat pandemi Covid-19. Saking tingginya animo masyarakat merayakan Halloween, mereka beraktivitas, seperti berbelanja dan lainnya menggunakan kostum Halloween. Lantas, bagaimana dengan di pesawat, apakah penumpang boleh menggunakan kostum Halloween?

Baca juga: Sambut Halloween Day, Taksi Sadako Hadir di Tokyo, Tawarkan ‘Mimpi Buruk’ Bagi Penumpang

Secara eksplisit, aturan penerbangan manapun tidak melarang penumpang menggunakan kostum Halloween di pesawat. Hanya saja, secara umum maskapai penerbangan mensyaratkan penggunaan pakaian yang pantas dalam artian tidak mengganggu kenyamanan atau kesusahan bagi penumpang lainnya.

Mengingat syarat “tidak mengganggu kenyamanan atau kesusahan bagi penumpang lain” sangat relatif, penumpang sangat tidak disarankan menggunakan kostum Halloween. Terlebih kostum Halloween dengan karakter paling menyeramkan di masyarakat.

Sekalipun maskapai mengizinkan penumpang menggunakan kostum Halloween di pesawat, perlu diingat, penerbangan bukan hanya soal maskapai, tetapi ada berbagai pihak lain, salah satunya petugas keamanan atau Avsec bandara.

Dilansir Simple Flying, sebelum boarding dan masuk ke pesawat, penumpang akan diperiksa secara intensif di berbagai gate. Untuk bandara besar, ada setidaknya dua gate pemeriksaan sebelum boarding yang harus dilewati.

Saat melewati pos pemeriksaan bandara, penumpang diwajibkan menanggalkan seluruh aksesoris dan sebagainya kecuali pakaian utama yang melekat ditubuh. Sampai di sini saja, tergantung kostum Halloweennya, ini bisa membuat penumpang yang bersangkutan tertahan di pos pemeriksaan.

Belum lagi ada kostum Halloween dimana penumpangnya perlu melukis wajah sedemikian rupa agar mirip dengan karakter yang diinginkan. Ini sudah pasti tidak akan lolos pemeriksaan keamanan bandara sebelum menghapus lukisan di wajah dan menampakkan rupa aslinya.

Meski begitu, Administrasi Keamanan Transportasi Amerika Serikat (TSA), yang sering menjadi rujukan panduan keamanan bandara, tetap tidak menutup diri bagi penumpang yang menggunakan kostum Halloween dan sejenisnya.

Baca juga: Salah Kostum Halloween, Karyawan JetBlue Dicekal Netizen!

Disebutkan, andai maskapai mengizinkan, penumpang bisa mengenakan kostum Halloween beserta pernak perniknya, termasuk lukisan di wajah, setelah melewatu pos pemeriksaan. Singkatnya setelah boarding dan sebelum masuk ke pesawat.

Lebih aman lagi, penumpang bisa mengenakannya setelah pesawat sampai di bandara tujuan agar perjalanan aman dan lancar.

Akibat Gangguan Gardu Listrik, Kereta Komuter di Tokyo Mogok, 700 Penumpang Harus Berjalan Kaki

Jarang terjadi, sekitar 700 penumpang kereta komuter Tokyu Railways Co di Jalur Den-en-toshi harus turun dari kereta dan berjalan di sepanjang rel ke stasiun terdekat karena adanya pemadaman listrik yang disebabkan oleh gangguan gardu pada malam 20 Oktober 2022.

Baca juga: Cegah Kereta Mogok, LRT Ottawa Siapkan 9 Gardu dan Power Supply di Stasiun

Sekitar pukul 17.55, kegagalan peralatan di gardu induk di Stasiun Sangen-jaya di Jalur Den-en-toshi menyebabkan pemadaman listrik, untuk sementara menghentikan layanan antara Stasiun Shibuya di Tokyo dan Stasiun Saginuma di Prefektur Kanagawa.

Pemadaman listrik juga terjadi di Jalur Oimachi Tokyu dan antara stasiun Shibuya dan Kiyosumi-shirakawa di Jalur Hanzomon Tokyo Metro, yang terhubung langsung dengan Jalur Den-en-toshi, yang mempengaruhi total sekitar 180.000 penumpang.

Foto yang disediakan oleh pembaca Mainichi Shimbun ini menunjukkan sebuah jembatan di perbatasan antara Tokyo dan Prefektur Kanagawa yang dipenuhi oleh orang-orang yang pulang kantor dengan berjalan kaki.

Dikutip dari mainichi.jp, pihak Tokyu Railways menyebut, setelah pemadaman listrik, maka sekitar 700 penumpang turun dari kereta dan berjalan di sepanjang rel ke stasiun terdekat. Kereta komuter di jalur Den-en-toshi melanjutkan perjalanan sekitar tiga setengah jam kemudian, tetapi antrean panjang pekerja kantor dan lainnya terbentuk saat mereka berjalan pulang.

Seorang pekerja kantoran perempuan, berusia 47 tahun, warga Kawasaki, Prefektur Kanagawa, berjalan pulang dari Stasiun Futako-tamagawa. Dia berjalan hanya satu pemberhentian, tetapi trotoar jembatan di atas Sungai Tama sangat ramai sehingga “saya butuh sekitar 30 menit untuk menyeberangi jembatan, ketika saya biasanya bisa melakukannya dalam lima menit,” katanya.

Dia menambahkan, “Semua orang tampak seolah-olah mereka tidak punya pilihan. Jalan raya juga dipenuhi orang. Itu mengingatkan saya pada Gempa Besar Jepang Timur.”

Baca juga: Di Ukraina, Penumpang Bahu-membahu Mendorong Kereta yang Mogok 

Seorang pekerja kantoran laki-laki, berusia 26 tahun, penduduk kota Yamato di Prefektur Kanagawa, mengatakan bahwa dia berjalan kaki dari Stasiun Futako-tamagawa ke Stasiun Saginuma, tujuh pemberhentian, memakan waktu satu jam 40 menit.

Pesawat Terbesar di Dunia The Roc Sukses Terbang Perdana Bawa Pesawat Uji Hipersonik

Rencana Stratolaunch untuk menjadikan pesawat terbesar di dunia, The Roc, sebagai wahana atau kendaraan peluncur pesawat uji hipersonik kian menjadi kenyataan. Belum lama ini, pesawat tersebut sukses dengan pesawat uji hipersonik, Talon-A atau TA-0, berada di bagian tengah The Roc. Bila tak ada aral melintang, akhir tahun ini Talon-A akan meluncur untuk pertama kalinya dari The Roc.

Baca juga: Stratolaunch Pamer TA-0, Pesawat Uji Baru untuk Program Penerbangan Hipersonik: Akhir Tahun Terbang Perdana

Pada penerbangan perdana kemarin, Talon-A memang tidak direncanakan untuk dirilis dan The Roc dan meluncur pada kecepatan hipersonik di udara, melainkan hanya sekedar captive carry atau terbang bersama untuk menguji keberhasilan Talon-A berada di bagian tengah The Roc sekaligus menghimpun data berharga terkait beban aerodinamis.

Captive carry sendiri dilakukan pada 29 Oktober lalu di langit Gurun Mojave, siang waktu setempat. Penerbangan captive carry tersebut berlangsung selama lima jam dan mencapai ketinggian 23 ribu kaki (7.000 m).

“Kami telah melakukan berbagai uji darat untuk mengantisipasi penerbangan captive carry pertama ini, dan dengan setiap pencapaian uji coba yang berhasil, kami telah membangun keyakinan bahwa perangkat keras akan bekerja persis seperti yang dirancang,” kata Dr. Zachary Krevor, CEO Stratolaunch.

“Sangat menggembirakan melihat kerja keras tim menjadi nyata dan melihat kendaraan terbang sebagai sistem yang terintegrasi,” tambahnya.

Meski berhasil, Stratolaunch akan melanjutkan penerbangan captive carry beberapa bulan mendatang. Namun, rencana untuk melakukan uji terbang atau uji rilis pesawat hipersonik Talon-A dari The Roc pada akhir tahun ini tetap akan dilakukan. Targetnya, tahun 2023 mendatang, pesawat hipersonik itu akan melakukan penerbangan komersial pada tahun 2023 mendatang.

“Pengujian dan produksi semakin cepat saat kami mendorong untuk memenuhi komitmen kami dalam menyediakan layanan uji terbang hipersonik kepada pelanggan kami tahun depan. Tim kami akan terus mencapai tonggak uji yang lebih kompleks saat kami maju ke penerbangan hipersonik pertama kami,” tutup Krevor, seperti dikutip dari New Atlas.

Pesawat terbesar di dunia -jika diukur dari lebar sayap- Stratolaunch akhirnya terbang kembali untuk kedua kalinya pada akhir April 2021, usai dua tahun nganggur atau pasca penerbangan perdana pada pertengahan April 2019 lalu.

Baca juga: Dua Tahun Nganggur, Pesawat Terbesar di Dunia Stratolaunch Akhirnya Terbang Lagi

Ketika itu, pesawat berjuluk The Roc yang dikembangkan oleh salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen, ini fokus persiapan untuk mengubah arah bisnisnya, dari semula sebagai kendaraan peluncur roket pembawa satelit orbit rendah, menjadi kendaraan peluncur untuk reusable hypersonic flight research vehicles atau kendaraan penelitian penerbangan hipersonik.

Pesawat dengan nama resmi Scaled Composites Model 351 Stratolaunch, yang memiliki total 28 roda, dan bentang sayap sejauh 117 meter ini, diketahui menjalani uji terbang untuk kedua kalinya di Mojave Air and Space Port di California, Amerika Serikat (AS), pada pukul 7.30 waktu setempat.

Qatar Airways Ingin ‘Kuasai’ Penerbangan ke Australia, tapi Dijegal Qantas

Qatar Airways terus berupaya untuk menambah penerbangan menjadi 21 flight per pekan. Ini dilakukan dalam rangka mengambil lebih banyak ceruk pasar penerbangan di benua terkecil itu seiring mahalnya harga tiket Qantas yang terpaksa dibeli penumpang. Sayangnya, upaya Qatar Airways tak begitu mulus. Qantas, selaku falg carrier nasional Australia, terus menjegalnya.

Baca juga: Masalah Keamanan, Qantas Tiba-tiba Batalkan Penerbangan Perth-Jakarta, Gegara Wanita Terobos Istana?

Terbaru, Qantas lagi-lagi menjegal permohonan penambahan frekuensi penerbangan Qatar Airways dari dan ke Australia, dengan mengajukan permohonan keberatan kepada pemerintah federal. Dalam detail permohonannya, Qantas berpendapat bahwa itu tidak adil dan berpotensi besar menyebabkan lebih banyak PHK dari Group Qantas dan mitra kerjanya andai itu (permohonan Qatar Airways) diizinkan.

Tanpa banyak pertimbangan, pemerintah federal pun menerima permohonan Qantas dan menolak berkas permohonan Qatar Airways.

Diperlakukan seperti itu, CEO Qatar Airways, Akbar Al Baker, pun mengungkit andil maskapai yang pimpimnnya selama pandemi.

Disebutkan, selama pandemi Covid-19, saat Qantas memangkas frekuensi penerbangan dari dan ke Australia dan disaat yang bersamaan menaikkan harga tiket pesawat berkali-lipat, Qatar Airways justru hadir dan memberikan penerbangan yang lebih rasional dibanding Qantas.

Ia juga menduga, Qantas sengaja melakukan itu agar mendapat keuntungan berlipat untuk perusahaan dan pemegang saham, tanpa memikirkan kondisi dan keuangan warga negara Australia yang terjebak di luar negeri dan ingin pulang .Karena terdesak, pada akhirnya, penumpang banyak yang terpaksa membeli tiket super mahal Qantas.

“Operator terbesar di Australia (Qantas) telah memangkas penerbangannya menjadi 50 persen dari tingkat pra-Covid, lebih dari dua kali lipat harga tarif kepada orang-orang Australia demi keuntungan para pemegang saham,” kata Baker kepada Sky News.

“Kami menghubungkan orang-orang Australia dengan dunia selama periode paling sulit dalam sejarah penerbangan (pandemi Covid-19),” ujarnya.

“Kami melanjutkan tanpa gangguan di puncak Covid, melayani tiga titik utama di Australia, Sydney, Perth, dan Melbourne. Kami juga menambahkan selama pandemi Brisbane ke (dalam) jaringan.,” tambahnya. Sampai saat ini, Qantas belum membuka suara atas berbagai tuduhan dari Akbar Al Baker.

Diketahui, Qantas saat ini tengah mempersiapkan diri untuk menyambut peak season Natal dan Tahun Baru 2023. Maskapai juga masih berkutat dengan dampak panjang akibat krisis kemarin, salah satunya rantai pasokan yang masih belum stabil.

Baca juga: Qatar Airways Tutup Rute ke Negara Selain Peserta Piala Dunia 2022

CEO Qantas, Alan Joyce, dalam acara American Chamber of Commerce Australia di Sydney pada 24 Oktober, mengungkapkan, saat ini salah satu komponen pesawat, aircraft windshelds, atau kaca depan pesawat bisa dibilang langka.

Dahulu, sebelum pandemi, Group Qantas butuh waktu hanya 12 sampai 24 jam untuk mengganti kaca depan pesawat. Saat ini, paling cepat butuh tujuh hari. Selain barangnya susah didapat, maskapai juga masih kekurangan SDM.

Kasus Covid-19 Meroket di Cina, 888 Penerbangan dari dan ke Guangzhou Dibatalkan

Sebanyak 888 jadwal penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Baiyun, Guangzhou, Cina, terpaksa dibatalkan akibat temuan baru kasus Covid-19. Jadwal penerbangan yang dibatalkan oleh otoritas Bandara Baiyun, yakni sejak Senin (31/10) pukul 12.00 waktu setempat (11.00 WIB) sebagaimana data Flight Master.

Baca juga: Beijing-Guangzhou High-Speed Line, Jaringan Kereta Cepat yang Dioperasikan Dua Operator

Otoritas Kota Guangzhou menyatakan bahwa kasus baru Covid-19 tersebut berasal dari provinsi lain di Cina dan luar negeri selain juga warga lokal. Salah satu perusahaan setempat melaporkan adanya 527 kasus Covid-19 yang ditularkan secara lokal pada Minggu (30/10).

Tidak hanya klaster penerbangan, kasus positif ditemukan di kalangan pengemudi, wisatawan, pelajar, dan lain-lain. “Kasus Covid-19 masuk melalui berbagai jalur, seperti udara, kereta api, kargo, dan mobil pribadi. Orang-orang yang tesnya positif dari kalangan sopir kargo, wisatawan, pelajar, dan mereka yang datang ke Guangzhou untuk urusan perawatan kesehatan,” kata Deputi Direktur Komisi Kesehatan Kota Guangzhou, Zhang Yi, kepada pers.

Seminggu sebelumnya, Pemerintah Cina kembali melakukan langkah-langkah pengetatan protokol Covid-19 di kota Guangzhou. Semua sekolah dasar dan menengah di distrik Haizhu, di mana sekitar 10 persen, dari total penduduk kota itu tinggal, akan menghentikan pelajaran tatap muka mulai Senin. Selain itu, izin makan di restoran juga ditangguhkan.

Baca juga: Mass Transit Railway Selesaikan Uji Coba Hong Kong-Shenzhen-Guangzhou

Pembatasan datang lebih dari seminggu setelah distrik Huadu menutup tempat hiburan dan sekolah. Guangzhou sendiri melaporkan 69 infeksi baru pada hari Minggu. Secara nasional, Cina melaporkan 919 infeksi lokal baru pada Minggu, tertinggi sejak 14 Oktober. Wilayah barat laut Xinjiang masih menyumbang sebagian besar kasus di negara itu. Ibu kota provinsi Shaanxi, Xi’an, yang juga mengunci beberapa daerah pekan lalu, melaporkan 51 kasus.

Singapore Airlines Sumbangkan Kursi Kelas Bisnis dan Suite A380 Pertama ke National Museum?

Singapore Airlines menyumbangkan bekas kursi kelas bisnis dan suite armada Airbus A380 pertama miliknya ke National Museum of Singapore. Hal ini dilakukan dalam rangka memperingati penerbangan komersial perdana pesawat superjumbo itu dari Singapore ke Sydney oleh Singapore Airlines.

Baca juga: Dear Airbus Lovers, Kursi A380 Bekas Singapore Airlines Dijual Satuan Loh, Berminat?

Dilansir luxurylaunches.com, kursi kelas bisnis Airbus A380 Singapore Airlines adalah yang pertama memperkenalkan akses langsung ke aisle ke penumpang dan merupakan yang terluas dari kelas kursi serupa di pesawat widebody manapun.

Demikian juga dengan kelas suite yang merupakan pelopor atau yang pertama menawarkan double bed di pesawat. Kursi ini juga canggih dan dapat diubah pengaturannya menjadi kursi hanya dalam tiga menit dengan sekali menekan tombol.

“Pengenalan kursi ini di pesawat menandai tonggak sejarah penerbangan, karena menawarkan tingkat kenyamanan yang belum pernah ada sebelumnya bagi pelanggan kami. Kami bersyukur Museum Nasional melestarikan aspek penting dari sejarah kami, dan berharap para pengunjung diingatkan tentang penerbangan mereka bersama kami ketika mereka melihat etalase,” kata SVP of Customer Experience Singapore Airlines, Yeoh Phee Teik.

Menggapi itu, Direktur Museum, Chung May Khue, mengatakan, “Objek seperti kursi ikonik dari SIA memperkaya dokumentasi kami dan menceritakan kemajuan dan perkembangan Singapura selama bertahun-tahun, dan kami menantikan lebih banyak kontribusi yang berarti seperti itu”.

Meski sudah diserahkan, namun itu tidak langsung ditampilkan di museum. Pihak museum terlebih dahulu akan mengecek kondisi kursi tersebut dan mendokumentasikannya sebelum ditampilkan ke publik mulai tahun 2023 mendatang.

Pada hari, 15 tahun lalu, bertepatan dengan 25 Oktober 2007, Singapore Airlines (SQ) menjadi maskapai pertama di dunia yang mengoperasikan Airbus A380. Bersama SQ, pesawat komersial terbesar di dunia dengan nomor registrasi 9V-SKA itu terbang ke Sydney dengan kondisi seluruh kursi terisi penuh.

Sejak diluncurkan ke publik untuk pertama kalinya pada 18 Januari 2005 di Toulouse, Perancis, pamor Airbus A380 terus meningkat. Pesawat yang menghabiskan biaya Rp163 triliun untuk pengembangan itu disebut pesawat masa depan.

Setelah diperkenalkan, tiga bulan kemudian, prototipe A380 dengan registrasi F-WWOW itu melakukan penerbangan perdana (first maiden) di langit Kota Toulouse, Perancis, pada 27 April 2005. Penerbangan dipimpin langsung oleh Jacques Rosay, kepala pilot penguji Airbus, dibantu enam awak.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Singapore Airlines Jadi Maskapai Pertama Operasikan Airbus A380

Pada 7 Mei 2006, Airbus menerbangkan Airbus A380 dengan nomor seri pabrikan 003. Pesawat inilah yang pada akhirnya resmi diterima Singapore Airlines pada 15 Oktober 2007 untuk pertama kalinya di dunia.

10 hari kemudian, pesawat dengan registrasi 9V-SKA itu pun menjalani penerbangan komersial perdana ke Sydney, Australia. Jauh sebelum itu, Singapura telah menjual tiket penerbangan komersial perdana A380 ke publik.

Pramugari Maskapai Mana yang Dapat Gaji Paling Tinggi di Dunia?

Pramugari sering dianggap memiliki kelas sosial tinggi di masyarakat dengan gaji besar dan kehidupan glamournya jalan-jalan keliling dunia. Tentu saja standar gaji pramugari berbeda-beda di tiap maskapai. Lantas, maskapai mana yang menggaji pramugari/pramugara paling tinggi di dunia?

Baca juga: Positif Negatif Menjadi Pramugari, Gaji Rendah hingga Jadi ‘Pemain’ Cadangan

Dari hasil penelusuran everydayaviation.com, mencakup gaji pramugari berdasarkan posisi, pengalaman, dan penempatan (rute internasional atau domestik), rincian tentang pembayaran bonus, komisi, dan lain sebagainya (additional pay).

Selain itu, data tersebut juga dilengkapi dengan hasil penelusuran dari sumber sekunder dari seluruh dunia serta laman yang kompeten di bidang tersebut, seperti Payscale dan Glassdoor. Yang paling penting, tim dari everydayaviation.com sudah berkomunikasi dengan pramugari/pramugara itu sendiri demi mendapatkan data paling akurat. Berikut daftar lima maskapai yang menggaji pramugari/pramugara paling tinggi di dunia.

1. Alaskan Airlines

Nama Alaskan Airlines mungkin kurang terdengar dibanding maskapai top global, seperti Singapore Airlines, Emirates, dan lainnya. Kendati begitu, terkait gaji pramugari, maskapai tersebut rupanya menjadi maskapai yang menggaji paling tinggi di dunia. Rata-rata Alaskan Airlines menggaji pramugari/pramugara US$53.000 per tahun dan additional pay US$3.400 per tahun.

2. United Airlines

United Airlines menjadi maskapai kedua yang menggaji maskapai paling tinggi di dunia. Rata-rata gaji tahunan pramugari maskapai tersebut mencapai US$44.219 per tahun dan additional pay mencapai US$5.200 per tahun.

3. American Airlines

Disebutkan, maskapai yang menggaji pramugari paling tinggi ketiga ternyata datang dari salah satu maskapai terbesar di dunia dari segi penumpang, American Airlines. Maskapai asal Amerika Serikat (AS) itu diketahui menggaji rata-rata sekitar US$43.460 per tahun. Selain itu additional pay per tahunnya mencapai US$2.825.

4. JetBlue

Maskapai yang menggaji pramugari/pramugara paling tinggi keempat di dunia adalah JetBlue. Maskapai tersebut diketahui menggaji pramugari/pramugara per tahun rata-rata US$42.500 dan rata-rata komisi serta bonus tahunan mencapai US$2.350.

Baca juga: Mau Jadi Pramugari? Siap-siap 5 Risiko Besar Ini

5. Southwest Airlines

AS sepertinya menjadi rumah yang menggiurkan bagi para pramugari. Bagaimana tidak, selain Alaskan Airlines, United Airlines, American Airlines, dan JetBlue, Southwest Airlines, yang notabene menjadi maskapai LCC terbesar di dunia dari segi traffic penumpang, menjadi maskapai yang menggaji pramugari paling tinggi kelima di dunia, dengan rara-rata gaji US$42.000 per tahun dan additional pay sebesar US$4.800 per tahun.

6. Delta Airlines

Masih dari AS, maskapai yang menggaji pramugari tertinggi keenam di dunia adalah Delta Airlines. Diketahui, maskapai itu menggaji sekitar US$40.236 per tahun. Menariknya, sekalipun rata-rata gaji tahunannya berada di bawah American Airlines, rata-rata additional pay atau sejenis bonus dan komisi pramugari Delta Airlines rata-ratanya jauh lebih tinggi dari maskapai manapun, mencapai US$6.400 per tahun.

Starlux Taiwan Terima Unit Perdana Airbus A350-900

Maskapai asal Taiwan, Starlux menerima pengiriman pesawat A350 pertamanya. Pengiriman ini menjadikan Starlux operator terbaru dari pesawat berbadan lebar terbaru di dunia ini. Pengiriman ini adalah pengiriman pertama dari 18 unit A350-900 yang dipersiapkan untuk bergabung dengan Starlux, yang seluruh armadanya merupakan pesawat Airbus, dan akan terbang bersama A330neo dan A321neo.

Baca juga: Paket dengan ACE Suite, Starlux Airlines Terima Airbus A330-900 Pertama

Starlux telah menetapkan konfigurasi mewah berupa empat kelas kursi untuk A350-nya yang terdiri dari; 4 First Class suites, 26 kursi Business Class, 36 kursi Premium Economy, dan 240 kursi Economy. Pesawat A350 juga menampilkan perkembangan terbaru dari konfigurasi kabin, menghasilkan ruang ekstra untuk kenyamanan lebih dari setiap kelas kursi. Kabin A350 juga merupakan kabin yang paling senyap dari seluruh pesawat terbang yang ada saat ini.

A350 menampilkan sistem in-flight entertainment terbaru dan konektivitas menyeluruh. Starlux juga akan mendapatkan keuntungan dari efisiensi operasional tingkat tertinggi A350, dengan penurunan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon sebesar 25 persen dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya di kategori yang sama.

“Dengan penambahan pesawat A350-900, armada Starlux dapat mencakup rute jarak dekat, menengah, dan jauh, serta memungkinkan kami untuk melayani penumpang dari luar Asia,” ujar Glenn Chai, CEO of Starlux Airlines.

Baca juga: Gantikan Boeing 747-400F, Singapore Airlines Finalisasi Pengadaan Tujuh Pesawat Kargo Airbus A350F

Armada A350 Starlux akan mulai beroperasi di kawasan Asia-Pasifik sebelum pindah ke rute trans-pasifik. Dalam skala global, Airbus telah mencatat lebih dari 900 pesanan untuk pesawat A350 dari lebih dari 50 pelanggan. Saat ini, total pesawat A350 yang telah dikirimkan hampir mencapai 500 unit.