Terlihat Cantik, Ternyata Awan-Awan Ini Berbahaya

Menikmati terbang dengan pesawat menjadi satu hal ternyaman walaupun bila masuk ke dalam awan akan timbul rasa deg-degan, lantaran pesawat biasanya akan mengalami guncangan. Saat terguncang, awan yang Anda lihat sangat indah dengan bentuk seperti permen kapas dan tak terbayang awan itulah yang menyebabkan guncangan.

Baca juga: Mungkinkah Awan dapat Disentuh? Ini Penjelasannya

Sebenarnya, awan yang ada di angkasa boleh dilalui dan beberapa harus dihindari tergantung hasil dari alat pembaca awan atau weather radar di pesawat. Biasanya, awan-awan yang dihindari pesawat di alat pembaca awan akan muncul warna magenta dan ini merupakan awan berbahaya dan terindikasi bahwa awan tersebut adalah awan badai yang harus dihindari oleh sebuah pesawat jika tidak ingin terjadi turbulensi hebat.

Namun, bila alat pembaca awan menghasilkan warna hijau, kuning, atau pun merah awan masih bisa di laluioleh pesawat namun tetap berhati-hati. Penasaran awan apa saja yang bisa mengganggu penerbangan?

Awan Cumulonimbus

1. Awan Cumulonimbus
Awan ini memang terkenal berbahaya di dunia penerbangan. Bentuknya tebal vertikal yang menjulang tinggi, padat sehingga terlihat mirip dengan gunung atau sebuah menara. Puncak awan ini berserabut dengan berjalur-jalur dan hampir rata serta melebar mirip bentuk landasan yang disebut ancil head.

Cumulonimbus sudah dipastikan ambil bagian dari badai petir dan cuaca ekstrem lainnya. Awan Cumulonimbus atau biasa disebut Cb terbentuk dari ketidakstabilan atmosfer dan bisa terbentuk sendiri maupun kelompok.

Awan yang menciptakan petir ini bisa menjadi supersel yakni badai petir besar yang sangat ditakuti para penerbang. Sebab gesekan partikel awan di dalamnya dapat menghasilkan muatan listrik yang bisa membuta bencana. Cb sendiri terdiri dari tetes-tetes air pada bagian bawah awan dan kristal es pada bgian atas awan. Uniknya, awan ini terdapat updraft dan downdraft sehingga bisa terjadi sirkulasi.

Awan Pancake atau UFO

2. Awan Lenticular atau pancake atau UFO
Dinamakan lenticular karena bentuknya yang mirip dengan lensa dan disebut UFO sebab mudah dikenali seperti piring terbang. Awan ini bisa diamati di sekitar Gunung Salak, Bogor. Memang bentuknya indah, namun disekitar awan ini terjadi hembusan angin yang kuat dan kencang.

Hembusan angin inilah biasanya berbahaya bagi pesawat yang melintasi daerah tersebut karena bisa kehilangan kendali. Uniknya awan lenticular justru digemari oleh pecinta Glinder karena daya angkatnya yang kuat.

Mammatus Cloud

3. Awan Mammatus
Fenomena dimana awan berbentuk balon terbalik, bergelembung-gelembung, bergelombang dan terlihat sangat lembut yang membentuk formasi sehingga terlihat sangat inda dan menakjubkan. Walaupun indah, Mammatus cloud merupakan pertanda datangnya cuaca ekstrim atau badai.

Mammatus cloud ini terdiri dari air dan ais serta formasinya akan terlihat statik hingga 10- 15 menit.

Baca juga: Misteri Contrail di Langit Inggris Terpecahkan, Ternyata Ini Biang Keroknya

4. Awan Morning Glory
Salah satu fenomena meteorologi yang sangat langka. Awan ini juga sering disebut roll cloud atau awan gulung. Gulungan awan ini memiliki kecepatan 60 km per jamnya dengan panjang mencapai 1000 km.

Morning Glory sering disertai dengan angin badai yang datang tiba-tiba, pergeseran angin yang sangat intens, dan perubahan tekanan yang tajam pada permukaan.

Berteknologi Radar, Inilah Bus Masa Depan dari Mercedes-Benz

Dalam perkembangannya, Mercedes-benz menyiapkan kendaraan yang akan dibutuhkan kota-kota besar di seluruh dunia yang banyak mengalami masalah kemacetan sehingga membutuhkan transportasi public seperti BRT (Bus Rapid transit) yang nyaman dan aman.

Baca juga: Inkas Perkenalkan Mercedes-Benz Sprinter Kustom dengan Interior VIP Ultra Mewah

Mercedes-Benz, perusahaan mobil dunia kembali membuat terobosan baru pada busnya dengan menggunakan teknologi otonom. Teknologi yang digunakan pada future bus ini akan menggunakan sistem City Pilot. Bus yang mampu melaju tanpa pengemudi atau otomatis ini, nantinya akan berjalan dengan kecepatan maksimal 70 km/jam. Tahun lalu, Mercedes-Benz sudah melakukan uji coba terhadap Future bus ini di Amsterdam di Belanda yang memiliki jalur bus terpanjang di Eropa.

Dilansir dari situs resmi Daimler, bus ini nantinya akan beroperasi dengan rute sejauh 20 km dan dipastikan akan berhenti saat lampu merah, menaikkan dan menurunkan penumpang serta mengerem saat ada gangguan. Basis yang navigasinya yang digunakan adalah sistem radar jarak jauh yang dikombinasikan dengan bantuan kamera dan GPS (Global Positioning System). Daimler selaku pembuat bus ini mengatakan, kendali otomatis pada future bus ini akan berjalan di jalurnya sendiri. Sedangkan untuk di jalur biasa, pengemudi bisa mengendarainya secara normal. Dan teknologi City Pilot akan dikembalikan atau diaktifkan kembali saat rute yang digunakan cocok untuk kendali otomatis.

future-bus-16c636-15-w600xh0

Future bus Mercedes-Benz ini, memiliki keunikan dari body luar hingga bagian dalamnya. Bagian luar terdapat dua pasang pintu yang bisa digunakan untuk naik dan turun penumpang, di atas lampu nanti akan terlihat garis warna, bila berwarna hijau pintu akan terbuka sedangkan saat berwarna merah pintu akan tertutup otomastis.

Baca juga: Sasis Mercedes Benz OH 1521, Si Tua-Tua Keladi

Bus dengan panjang 12 meter ini memiliki interior yang berbeda dari bus konvensional. Tempat duduk di bus ini didesain menyamping dan bergaya futuristik, menambah kuat bahwa bus ini adalah bus masa depan yang dibutuhkan penumpang. Uniknya lagi, bus ini tak hanya dilengkapi WiFi (Wireless Fidelity) tetapi fitur untuk melakukan charge ponsel tanpa kabel, caranya pengguna hanya tinggal meletakkan telepon genggam pada pad charger wireless tersebut.

Mengapa Pesawat Tidak Bisa Terbang Lebih Tinggi dari Spesifikasinya? Tiga Faktor ini Jadi Penyebabnya

Di artikel terdahulu kami pernah mengulas, tentang mengapa pesawat tidak bisa melesat dengan kecepatan maksimum dalam sebuah rute penerbangan. Nah, serupa tapi tidak sama, kerap menjadi pertanyaan, mengapa pesawat udara (komersial) tidak dapat terbang terlalu tinggi. Terlepas dari batasan spesifikasi yang ditetapkan oleh pihak pabrikan, ada unsur lain yang sebaiknya menjadi perhatian.

Baca juga: Meski Terdampak Delay, Ini Alasan Pilot ‘Dilarang’ Menerbangkan Pesawat Pada Kecepatan Maksimum

Dikutip dari simpleflying.com, disebutkan pada dasarnya, maskapai penerbangan komersial tidak dapat melakukan penerbangan lebih tinggi dari batas maksimumnya, hal ini didasarkan pada tiga faktor berikut:

Daya dorong mesin (Engine thrust)
Pada ketinggian yang lebih tinggi di mana udaranya tipis (kurang padat daripada di ketinggian yang lebih rendah), tidak ada cukup udara untuk melewati mesin yang dibutuhkan untuk menciptakan daya dorong yang diperlukan agar pesawat dapat tetap terbang.

Kepadatan udara juga dipengaruhi oleh suhu. Ini berarti ketinggian maksimum pesawat pada hari-hari yang lebih panas jauh lebih rendah daripada pada hari-hari yang lebih dingin. Ketinggian maksimum pesawat adalah ketika mencapai titik ketika tidak dapat lagi menciptakan daya dorong yang cukup untuk terus mendaki setidaknya 300 kaki per menit.

Diferensial tekanan kabin (Cabin pressure differential)
Pada ketinggian tinggi, penumpang tidak akan bisa bernapas jika tidak berada di kabin bertekanan. Semakin tinggi ketinggian, semakin tinggi perbedaan tekanan udara antara bagian dalam dan luar pesawat. Pada sekitar 43.000 kaki (13.000 meter), maksimum 9 PSI tercapai, dan apa pun yang lebih tinggi dapat menyebabkan kegagalan struktural pada pesawat.

Baca juga: Ini Dia! Alasan Kenapa Pesawat Harus Terbang Tinggi!

Ketinggian aerodinamis (Aerodynamic altitude)
Jika pesawat komersial terbang terlalu tinggi, maka akan menghadapi udara yang kurang padat melewati sayap untuk menciptakan daya angkat. Hal ini dapat menyebabkan pesawat berhenti dan lepas kendali. Tergantung pada kondisi cuaca dan berat pesawat, ini dapat terjadi di mana saja antara ketinggian 12.000 meter sampai 13.716 meter.

Di Lokasi Rahasia, Ukraina Bangun Unit Kedua Antonov An-225 Mriya dengan Biaya 500 Juta Euro

Pesawat kargo terbesar di dunia Antonov An-225 Mriya, telah mengalami kerusakan parah akibat dari serangan pasukan Rusia pada Februari 2022. Namun, beberapa bulan kemudian, Ukraina dengan cermat mulai merencanakan untuk membangun kembali An-225. Seperti belum lama ini, pabrikan Antonov mengumumkan bahwa pekerjaan desain An-225 “Mriya” baru telah dimulai dan pembangunan proyek pesawat itu akan menelan biaya sekitar 500 juta euro.

Baca juga: Richard Branson Tawarkan Bantuan Untuk Bangun Versi Baru Antonov An-225 Mriya

Dikatakan dalam tweet Antonov, “Menurut penilaian ahli yang tersedia, saat ini, ada sekitar 30 persen komponen yang dapat digunakan pada pembangunan pesawat An-225 kedua. Namun, masih terlalu dini untuk membicarakan penuntasan pembangunan An-225. Pengerjaan konstruksi An-225 masih sangat awal dengan lokasi yang dirahasiakan, dan akan diinformasikan jika perang telah usai.

Sebelumnya, Ukroboronprom, konsorsium perusahaan pertahanan Ukraina yang mengawasi Antonov, mengatakan bahwa pesawat (An-225) telah rusak tetapi akan dibangun kembali dengan biaya US$3 miliar, dengan biaya dari Rusia. Biaya revisi yang diperkirakan oleh Antonov jauh lebih rendah.

Antonov An-225 Mriya adalah pesawat angkut unik yang awalnya dibangun pada era Soviet untuk mengangkut pesawat ruang angkasa. Selama sekitar 34 tahun, pesawat ini tetap menjadi pesawat angkut terbesar di dunia dan telah berfungsi sebagai tulang punggung armada Antonov Airlines sejak 2002. Benda-benda di udara yang sebelumnya tidak terpikirkan dapat ‘dipindahkan’ oleh raksasa aero ini.

Pesawat yang luar biasa ini mencatat lebih dari 200 rekor selama masa pakainya, termasuk mengangkut kargo terbesar dan menerbangkan muatan terlama. Ketika tidak terisi penuh, Mriya memiliki jangkauan yang dilaporkan hampir 10.000 mil atau kira-kira jarak antara kota New York di AS dan Sydney di Australia.

Setelah rusak beratnya An-225 pasca invasi Rusia, akhirnya ada kebutuhan akan Mriya lagi. Ada spekulasi bahwa An-225 Mriya akan dilengkapi dengan komponen baru dan repurposed dari pesawat aslinya.

Baca juga: Ukraina Bakal Bangun Antonov An-225 Mriya untuk Hormati Pilot Pejuang, tapi….

Bandara Gostomel, tempat pesawat itu ditempatkan di hanggar, diambil alih oleh pasukan lintas udara Rusia segera setelah invasi dimulai. Citra satelit juga mengungkapkan bahwa hanggar di mana An-225 diparkir rusak parah.

Gunakan Tampilan Bird Eye View, Inilah Masa Depan Pengawas Lalu Lintas Udara

Untuk sebagian orang, terbang di atas lautan atau samudera memang menakutkan, terlebih apabila orang tersebut memiliki trauma mendalam mengenai kejadian seperti ini. Tidak banyak yang dapat kita lihat apabila kita sedang terbang di atas lautan selain hamparan laut biru yang seolah tak berujung. Ditambah lagi dengan kasus hilangnya Malaysia Airlines MH370 di sebelah selatan Samudera Hindia yang seakan menambah ketakutan para penumpangnya.

Baca juga: Satelit GPS III Generasi Ke-4 Buatan Lockheed Martin Resmi Meluncur, Ini Deretan Manfaatnya

Dalam hal ini, Iridium Communication Inc. meluncurkan 10 dari 66 satelit, dimana data yang dikirim oleh satelit tersebut memungkinkan kita untuk mengetahui posisi, kecepatan, dan ketinggian pesawat di seluruh dunia. Walaupun layanan ini baru dapat dinikmati oleh penumpang pada tahun 2018 kelak, namun 2 dari 10 satelit tersebut sudah aktif dan mulai mengirimkan data beberapa minggu ke belakang.

Chief Technology Officer (CTO) Aireon (perusahaan yang mempelopori pelacakan berbasis satelit), Vinny Capezzuto mengatakan alat ini akan menampilkan data pesawat yang sedang beroperasi dari seluruh dunia. Selama 62 jam, satu satelit akan memberikan kode unik yang berisikan tentang informasi dan data posisi dari 17.000 penerbangan, termasuk yang sedang mengudara di atas samudera dan tempat lain yang tidak mungkin dijangkau oleh radar.

Pilot akan menggunakan GPS sebagai penanda lokasi pesawat,namun bukan berarti menara pengawas dapat selalu memantau posisi mereka, karena radar yang digunakan tidak dapat menembus objek solid seperti gunung. Radar yang digunakan tidak dapat memantau dari jarak yang jauh, maka lautan luas merupakan blind-spot yang amat besar.

15 tahun silam, pemantau lalu lintas pesawat mulai menggunakan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B) sebagai alat pelacak yang menggunakan sistem GPS. Alat yang hanya sebesar kulkas kecil ini amat disukai oleh Federal Aviation Administration. Namun seiring perkembangan jaman, mulai muncul kekurangan-kekurangan dari alat ini, seperti masalah pada radar dan jangkauannya yang tidak terlalu luas. Apabila cuaca sedang baik, jangkauannya hanya 250 mil laut di atas ketinggian 28.000 kaki.

Hal ini yang kemudian menjadi acuan agar pihak penerbangan dapat memberikan pelayanan lebih kepada para penumpangnya. “Dewasa ini, proyek pengawasan lalu lintas pesawat harus berdasar pada rencana penerbangan atau laporan pilot, bukan pada realita. Penyimpangan yang terjadi di pesawat bisa terjadi kapan saja,” tutur Vinny seperti yang dilansir dari popsci.com pada Senin, 20 Maret 2017 waktu setempat.

Dengan memasang ADS-B pada satelit akan mengurangi masalah yang ada, dan memberikan bird-eye-view terhadap pesawat yang sedang lalu lalang di bawahnya. Setelah Aerion 66 menerima data dari pesawat yang sedang mengudara, sinyal yang berisikan informasi akan dipantulkan ke menara pengawas dan proses ini memakan waktu 2 detik.

Memang, perkembangan teknologi seperti ini tidak dapat menyelamatkan MH370 yang transponder GPSnya mati di tengah perjalanan dan membutuhkan teknologi lain untuk mencegah kejadian hilangnya MH370 terulang kembali, tapi dengan metode pelacakan penerbangan akan membuat penerbangan menjadi lebih aman. Ditambah presisi yang lebih baik dan memungkinkan pesawat yang terbang berdekatan menjadi lebih aman. Selain itu, dengan dipasangnya ADS-B di setiap pesawat memungkinkan penerbangan yang lebih cepat dan irit bahan bakar karena dengan informasi yang dikirimkan oleh satelit akan memungkinkan pesawat untuk mengambil rute yang lebih efisien.

Walaupun alat ini belum akan diluncurkan dalam waktu dekat, tapi Iridium telah melakukan beberapa uji coba dengan beberapa konsumennya seperti pemantau lalu lintas udara di Islandia, Kanada, Irlandia, Afrika Selatan dan beberapa Negara lainnya. Keuntungan lain dari uji coba ini adalah beberapa Negara tersebut dapat “berkenalan” dengan teknologi baru ini.

Baca juga: Kenapa Sinyal GPS di Ponsel Hilang Setelah Pesawat Lepas Landas?

Uji Coba pada Nav Canada. Sumber: popsci.com
Uji Coba pada Nav Canada. Sumber: popsci.com

Uji coba terakhir dilakukan pada Nav Canada, sebuah organisasi pemantau lalu lintas udara Kanada, yang menerbangkan pesawat menuju sebuah daerah terisolir bernama Iqaluit lalu bertolak menuju Yellowknife dan Whitehorse di sebelah barat. “Biasanya kami tidak dapat memantau pergerakan pesawat,” tutur Humas Nav Canada, Ron Singer. Namun dengan menggunakan alat ini, Ron menambahkan dapat memantau pergerakan pesawat secara akurat.

Adakah Orang Tajir Melintir yang Jadikan Airbus A380 Sebagai Jet Pribadi?

Airbus A380 sangat mewah dan megah sebagai pesawat komersial. Saking mewah dan megahnya, layanan di pesawat ini sering disebut istana terbang. Banyak orang berpikir pesawat komersial terbesar di dunia tersebut cocok untuk dijadikan pesawat jet pribadi. Lantas, adakah orang terkaya di dunia yang menjadikan Airbus A380 sebagai jet pribadi atau pesawat VVIP?

Baca juga: Airbus A380 Dikonversi Jadi Hotel di Dekat Bandara Toulouse Blagnac

Sejak terbang perdana pada 27 April 2005 dan pengiriman perdana ke maskapai Singapore Airlines pada Oktober 2007, A380 terus menunjukkan tajinya dan sangat digandrungi avgeek serta penumpang di seluruh dunia. Kabin luas, high tecnologhy, lebih senyap, lebih nyaman, dan banyak fitur canggih dinilai menjadi alasannya.

Pamor A380 semakin melejit tatkala raksasa maskapai penerbangan asal Timur Tengah, Emirates, memesan 117 unit pesawat superjumbo itu, didahului dan diikuti oleh maskapai besar lainnya yang semakin menjadikannya sebagai pesawat komersial termewah dan prestisius.

Seiring berjalannya waktu, pesawat lain yang lebih kecil dinilai jauh lebih efisien. Sudah begitu, tren penumpang juga berubah, dari semula penerbangan berbasis hub menjadi point-to-point. Hal ini tentu tak efisien bila menggunakan pesawat superjumbo quadjet. Perlahan A380 ditinggalkan maskapai. Alhasil, Airbus pun menyetop produksi A380 pada awal tahun 2019 silam.

Sebetulnya, hal itu tak terlalu berarti bila maskapai yang sudah memiliki pesawat itu terus menerbangkannya. Situasi kemudian berubah ketika wabah Covid-19 menyebar dengan cepat ke seluruh dunia dan menghentikan penerbangan. Masa depan A380 makin suram dan maskapai ramai-ramai mempensiunkan A380 secara permanen.

Di tengah kondisi itu, banyak kalangan mendorong agar A380 dijadikan sebagai pesawat VIP bahkan VVIP, pesawat kenegaraan, serta jet pribadi, semata pesawat superjumbo itu tetap menghiasi langit dunia. Namun, itu ditolak mentah-mentah.

Menurut eks Associate System Engineer Airbus, Howard “Bart” Freidman, seperti dikutip dari Quora, Airbus A380 tidak mungkin dijadikan pesawat pribadi atau sebaliknya tidak mungkin ada orang tajir melintir bahkan orang terkaya di dunia sekalipun menjadikan Airbus A380 sebagai pesawat jet pribadi.

Hal ini setidaknya bisa dibuktikan dari pengalaman Pangeran Al Waleed bin Talal, orang terkaya ke-45 versi Forbes ini (kendati harta sesungguhnya dipercaya jauh lebih dari sekedar urutan ke-45).

Pada Oktober tahun 2007 silam, pangeran yang juga investor Apple dan Twitter itu pernah sepakat dengan Airbus untuk membeli Airbus A380 pertama sebagai private jet dengan mahar sekitar US$500 juta atau sekitar Rp8 triliun. Sebagai private jet, A380 akan dilengkapi dengan kandang unta, kuda, dan elang serta sederet fasilitas mewah lainnya. Singkat kata, proyek itu akhirnya batal terlaksana.

Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Disebutkan, ada banyak hal yang melatari kenapa tidak ada orang yang ingin menjadikan A380 sebagai private jet.

Pertama, tidak praktis karena tidak bisa mendarat di kebanyakan bandar. Ini tentu memperlambat mobilitas bos besar. Kedua, cost terlalu tinggi. Ketiga, biaya perawatan mahal. Keempat, volumenya terlalu rendah. Turunan dari keempat itu sebetulnya ada beberapa lagi yang memastikan A380 sangat tidak mungkin dijadikan jet pribadi, pesawat VVIP, atau bahkan pesawat kenegaraan.

Lufthansa Luncurkan Virtual Reality Cockpit untuk Pelatihan Pilot Airbus A320

Lufthansa dari Jerman menjadi maskapai pertama yang menggunakan teknologi Virtual Reality Cockpit rancangan Airbus untuk pelatihan pilotnya. Teknologi VR ini menawarkan sistem yang memungkinkan bagi pilot melakukan pelatihan prosedur tanpa menggunakan simulator penerbangan atau peralatan pada setiap pelatihan.

Baca juga: Keliling Bandara dan Pesawat Lebih Mudah dengan Virtual Reality Ocean3D

Dikutip dari flightglobal.com (9/11/2022), Airbus mengatakan sistem ini “merendam” pilot dalam kokpit virtual otentik, melalui headset visual, dan memungkinkan interaksi penuh dengan instrumen, sakelar, dan tuas.

Pelatih dengan prosedur virtual memungkinkan pilot untuk melakukan latihan berulang, membangun memori otot fisik dan pengetahuan tentang urutan prosedur operasi standar Airbus.

Kepala Pengembangan Pelatihan dan Penerbangan Lufthansa, Gilad Scherpf mengatakan, bahwa sistem ini akan digunakan untuk pelatihan pilot Airbus A320 di berbagai platform interaktif. “Peningkatan pelatihan yang dihasilkan akan memungkinkan kasus penggunaan lebih lanjut serta penerimaan beragam peraturan,” kata Scherpf.

Wakil Presiden Airbus untuk Operasi penerbangan dan Pelatihan, Fabrice Hamel mengatakan, bahwa sistem ini telah menunjukkan pilot telah “terbukti” dalam belajar prosedur secara lebih efektif dan efisien.

Baca juga: Dubai Gunakan Virtual Reality Sebagai Media Pelatihan Pengemudi Bus

Solusi ini berpotensi memangkas jadwal pelatihan untuk awak kokpit. Hamel menambahkan bahwa alat ini memberikan fleksibilitas dengan memungkinkan pilot untuk berlatih sendiri atau bersama-sama secara online.

Turun dari Pesawat, Kadang Penumpang ‘Harus’ Naik Shuttle Bus, Ternyata ini Alasannya

Meski tak selalu berlaku, ada saja momen dimana penumpang saat turun dari tangga pesawat, langsung ‘diwajibkan’ naik ke bus (shuttle bus). Padahal jarak antara pesawat dengan gate terminal kedatangan tidak terlampau jauh. Semisal dengan jarak 50 meter plus dalam kondisi cuaca cerah, penumpang yang telah lama duduk di pesawat, ingin untuk berjalan kaki saja. Namun, staf bandara sudah mengarahkan dan memaksa penumpang untuk masuk ke dalam bus. Lantas yang menjadi pertanyaan, apa alasan dari kebijakan tersebut?

Pasca Beli Twitter, Elon Musk Janji Tak Akan Blokir Akun @ElonJet yang Ganggu Privasinya

Sempat diisukan bakal menyingkirkan akun para ‘pengganggunya’ pasca membeli Twitter. Salah satu yang bakal terkena imbasnya ialah akun Twitter @ElonJet yang sempat membuat orang terkaya di dunia itu jengkel karena terus mengawasi pergerakan jet pribadinya. Belakangan itu dibantah. Ia berkomitmen untuk tetap menunjung tinggi kebebasan bereskpresi di media sosial sekalipun menimbulkan risiko keamanan baginya.

Baca juga: Elon Musk ‘Sogok’ Mahasiswa Rp71 Juta Agar Tutup Akun Twitter dan Berhenti Lacak Jet Pribadinya

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mengatur agar seluruh pesawat beroperasi dengan mengaktifkan transponder Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) yang berfungsi mengirimkan sinyal yang dapat dilacak publik. Demi privasi, pemilik pesawat dapat merahasiakan nomor penerbangannya, sehingga publik tidak tahu kemana pesawat menuju.

Meski begitu, pesawat tetap wajib mengaktifkan transponder dan karenanya tetap dapat dilacak oleh publik, termasuk pesawat jet pribadi Elon Musk. Itu bisa dilacak oleh siapapun, salah satunya Jack Sweeney yang secara profesional telah melacak ratusan bahkan ribuan penerbangan pribadi Musk melalui akun Twitter @ElonJet. Berkat skill IT tingkat tingginya, ia berhasil melacak secara kontinu setiap pergerakan pesawat Elon Musk.

Pada awal Januari lalu, Elon Musk, di puncak kejengkelannya, menawarkan Jack Sweeney uang sebesar US$5.000 atau Rp71 juta (kurs 14.400) agar tak melacak pesawat jet pribadinya Gulfstream G650 ER. Lebih dari itu, Elon Musk meminta agar akun @ElonJet ditutup permanen.

Sayangnya, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah. Dalam direct message atau DM Twitter balasan Jack Sweeny, ia meminta ditambahkan “0” di belakang menjadi US$50.000.

Menurutnya, itu mungkin akan bermanfaat untuk aktivitas perkuliahannya atau mungkin bisa membeli Tesla Model 3. Elon pun membalas yang intinya ia tak setuju dengan permintaan gila dari Jack. Jack balik membalas dan sejak saat itu Elon Musk tak pernah membalasnya lagi.

Setelah bernegosiasi panjang, Elon Musk akhirnya resmi jadi pemilik Twitter pada 6 November lalu dan langsung menyita perhatian Jack Sweeney.

Melalui akun Twitternya @JxckSweeney, ia membuat voting online dengan narasi apakah Elon Musk akan memblokir akun Twitter @ElonJet atau tidak. 58 peren lebih dari 25 ribu voters menjawab ‘Ya’ atas pertanyaan tersebut.

Tak ingin itu menjadi bola liar, Elon Musk menulis cuitan di akun Twitter resminya yang mengungkapkan komitemennya terhadap kebebasan berekspresi sekalipun itu menimbulkan risiko keamanan.

Baca juga: “Elon Musk” Rusia Kembangkan Drone Kargo Bertenaga Hidrogen, Bisa Melesat Sampai Mach 15

“Komitmen saya untuk kebebasan berbicara meluas bahkan untuk tidak melarang akun mengikuti pesawat saya, meskipun itu adalah risiko keselamatan pribadi langsung,” cuitnya. Kendati begitu, netizen pro Elon Musk tetap menyerang Jack Sweeney dan menuntutnya menutup akun @ElonJet. Jack pun menegaskan ia tidak akan menuruti permintaan itu. Ia memiliki landasan hukum yang jelas atas itu.

“Akun ini berhak memposting keberadaan jet, data ADS-B bersifat publik, setiap pesawat di dunia wajib memiliki transponder, Bahkan kebijakan Twitter AF1 (@AirForceTrack) menyatakan data yang ditemukan di situs lain diizinkan untuk dibagikan di sini sebagai dengan baik,” jelasnya melalui akun @ElonJet.

Berkah Zhuhai AirShow Cina, COMAC Terima Pesanan 330 Pesawat Made in China C919 & ARJ21

Tujuh lessor atau leasing pesawat menandatangani pembelian 300 pesawat C919 baru dan 30 pesawat ARJ21 dengan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), di sela-sela penyelenggaraan Zhuhai Airshow 2022. Sayangnya, tak disebutkan dengan jelas maskapai mana saja yang akan menyewa pesawat tersebut.

Baca juga: Nigeria Buka Opsi Pembelian COMAC C919 untuk Nigeria Air 

Tujuh lessor pesawat tersebut seluruhnya berasal dari Cina, meliputi China Development Bank Leasing, ICBC Leasing, CMB Financial Leasing, BOCOM Leasing, CCB Financial Leasing, SPDB Financial Leasing dan Jiangsu Financial Leasing. Lima lessor pertama dilaporkan Global Times membeli 50 pesawat C919 pesaing Boeing 737 dan Airbus A320.

Sebelumnya, COMAC sudah mendapat pesanan pesawat C919 pesaing Airbus A320 dan Boeing 737 di pasar narrowbody sebanyak 815 pesawat dari sekitar 28 customer, serta pesanan ARJ21 pesaing ATR 42 dan 72 sebanyak puluhan unit.

ARJ21 diketahui sudah lebih dahulu lolos sertifikasi Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CAAC) dan beroperasi secara komersial. Meski sempat terkatung-katung, COMAC C919 akhirnya dinyatakan lolos sertifikasi CAAC pada September lalu dan ditargetkan terbang perdana mengangkut penumpang pada akhir tahun 2022.

Baca juga: Pesawat Cina Pesaing Boeing-Airbus Mulai Angkut Penumpang Akhir 2022!

CAAC mengunkapkan bahwa keberhasilan C919 lolos sertifikasi adalah tonggak sejarah industri dirgantara Cina, khususnya dalam melakukan sertifikasi kelaikan udara sesuai standar internasional. Di balik itu, CAAC yakin kelak C919 akan merusak duopoli Boeing dan Airbus di pasar pesawat narrowbody.

Meski kualitasnya masih diragukan dan prestisiusitasnya masih jauh di bawah Boeing-Airbus, COMAC C919 mempunyai beberapa bekal berharga untuk bisa menantang Boeing-Airbus.

Dari segi harga, sebagaimana barang-barang Made In China, C919 jauh lebih murah dibanding Airbus A320 maupun Boeing 737.

Dalam private share offering plan 2022 China Eastern Airlines, terungkap harga satu unit pesawat COMAC C919 hanya sebesar 99 juta dolar AS atau sekitar 653 juta RMB, lebih murah dibanding pesawat Airbus A320 diangka sekitar 101 juta dolar AS lebih (harga per tahun 2018) ataupun Boeing 737-800 yang mencapai 106 juta dolar AS.\

Baca juga: Cina Pusing COMAC Masuk Daftar Hitam, Proyek Pesawat Komersial “Made in China 2025” Mangkrak

Selain itu, C919 juga memiliki kemudahan dalam penyewaan mengingat lessor asal Cina menjamur dan sangat siap untuk mendukung COMAC agar C919 bisa mudah diakses maskapai. Kemampuan ini tak diragukan lagi.

Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial yang digunakan untuk penyewaan pesawat terbesar di dunia. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

COMAC juga memiliki kekuatan dalam hal rantai pasokan karena suku cadang pesawat yang dibuat mayoritas melibatkan rantai pasokan dari pabrik-pabrik di Cina. Kendati teknologi masih di tangan Barat, dalam hal ini perusahaan afiliasi Boeing-Airbus, itu tak jadi masalah selama rantai pasokan mayoritas berada di tangannya.

Baca juga: Head to Head COMAC C919 ‘Made in China’ Vs Airbus A320neo, Siapa Unggul?

Pekerjaan rumah terbesar dan tak mudah bagi COMAC dan Cina adalah mem-framing agar maskapai internasional besar mau menggunakan pesawat buatannya. Lebih dari itu, COMAC dan Cina juga harus melakukan kampanye besar-besaran untuk meyakinkan penumpang, khususnya penumpang internasional.

Terlepas dari itu, menurut laporan yang dirilis COMAC pada Selasa lalu, pada tahun 2041 pesawat sipil di Cina akan bertambah besar mencapai 10 ribu unit dan menjadikannya sebagai pasar penerbangan tunggal terbesar di dunia. Dengan menguasai pasar domestik saja, COMAC sudah merusak duopoli Boeing-Airbus karena salah satu pendapatan terbesar datang dari pasar penerbangan di Cina.