Boeing 777-300ER PM India Mendarat di Bali, Tampilan Biasa Tapi Spesifikasinya Bikin Geleng-geleng

Setelah terbang langsung dari New Delhi, pesawat kenegaraan yang membawa Perdana Menteri India Narendra Modi telah mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, pada Senin malam (14/11/2022). Begitu turun dari pesawat, Modi langsung menyalami Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Gubernur Bali I Wayan Koster yang telah bersiap menyambut. Sebagai salah satu negara yang berpengaruh di dunia, tentu ada yang menarik dari pesawat kenegaraan Negeri Anak Benua.

Baca juga: Tiba di Bali, Pesawat Boeing 777-300ER PM Jepang Fumio Kishida Ternyata Diregistrasi di AS

Dari situs pelacakan pesawat, diketahui pesawat yang membawa PM Modi ke Bali adalah Boeing 777-300ER dengan registrasi VT-ALW yang dioperasikan Indian Air Force Special Extra Section Flight (SESF). Lantaran disiapkan untuk membawa para petinggi India (Presiden, Wakil Presiden atau Perdana Menteri), maka VT-ALW disebut juga sebagai Air India One.

Awalnya, Air India One adalah Boeing 747-400 milik Air India. Baru pada tahun 2016, Boeing 777-300ER terpilih sebagai SESF (VVIP transport). Pesawat baru, dengan corak yang dirancang khusus, mulai beroperasi pada Oktober 2020, menggantikan Boeing 747-400.

Boeing 777-300ER PM Modi dilengkapi dengan fasilitas komunikasi satelit terenkripsi dan alat bantu navigasi canggih, sistem peringatan anti rudal terbaru, perisai anti rudal dan sistem anti jamming untuk memberikan perlindungan dari ancaman dari darat atau udara. Bahkan, pesawat ini juga dibekali flare dan chaff untuk mengecoh serangan rudal.

Boeing 777-300ER mampu melakukan perjalanan jarak jauh dengan menghilangkan kebutuhan untuk pengisian bahan bakar di udara. Sebagai informasi, Elektronik onboard 777-300ER mencakup sekitar 238 mil kabel (dua kali jumlah yang ditemukan pada Boeing 777 normal).

Baca juga: Boeing 747-9I BBJ Presiden Erdogan Mendarat di Bali, Meski Mewah Ternyata Hasil Hibah dari Qatar 

Air India One saat ini diperkuat dengan dua unit Boeing 777-300ER, yaitu VT-ALV dan VT-ALW, yang masing-masing terdaftar sebagai K7066 dan K7067 di fasilitas Boeing di Fort Worth, Texas. Kedua pesawat telah dilengkapi secara khusus dengan missile defense and countermeasures dispensing systems, large aircraft infrared countermeasures (LAIRCM) self-protection suites (SPS).

Tiba di Bali, Pesawat Boeing 777-300ER PM Jepang Fumio Kishida Ternyata Diregistrasi di AS

Pesawat Boeing 777-300ER Perdana Menteri (PM) Jepang, Fumio Kishida, tiba di Bandara Ngurah Rai Bali pada Senin dini hari. Tak seperti pesawat kenegaraan lainnya, pesawat kenegaraan Jepang yang juga disebut sebagai Japan Air Force One dengan tail number 80-1111 itu diketahui mempertahankan kode registrasi sipil di Amerika Serikat (AS), N509BJ. Artinya, pesawat kenegaraan tersebut diregistrasi di luar negeri.

Baca juga: Boeing 747-9I BBJ Presiden Erdogan Mendarat di Bali, Meski Mewah Ternyata Hasil Hibah dari Qatar

Meski begitu, pesawat yang diplot menggantikan Japan Air Force One berbasis Boeing 747 tersebut (pensiun pada tahun 2019) dalam proses pembuatannya ada campur tangan Jepang, semata untuk memastikan keamanan sang kaisar, perdana menteri, dan pejabat lainnya.

Dilansir 1999.co.jp, mesin dua pesawat kenegaraan Jepang (tail number 80-1111 dan 80-1112) merupakan pesanan khusus yang di dalamnya ada campur tangan para teknisi dan tim mekanik Jepang. Pihak Jepang juga memodifikasi pelat logam, reproduksi radome WiFi, dan beberapa bagian lainnya.

Dari segi interior, pihak Jepang sangat menutup rapat informasi dan detailnya. Tetapi, sebagai pesawat kenegaraan, sudah barang tentu pesawat disulap sedemikian rupa untuk mendukung tugas-tugas pemimpin negara.

Namun, berkaca pada Japan Air Force One dan Japan Air Force Two berbasis Boeing 747 yang sudah dipoerasikan sejak tahun 1993 hingga 2019 lalu, Japan Air Force One dan Japan Air Force Two besar kemungkinan dilengkapi dengan berbagai fitur yang sama dengan pendahulunya, mulai dari meeting room, tempat tidur, sofa panjang, televisi, meja meeting panjang, telepon satelit, hingga kursi premium. Semua fitur-fitur tersebut hanya dapat ditemukan di ruang VIP.

Laporan ainonline.com, Japan Air Force One yang ditumpangi PM Fumio Kishida dilengkapi dengan berbagai ruangan, seperti ruang sekretaris, ruang rapat, kantor administasi, dan lain sebagainya.

Baca juga: Bawa Wakil Putin, Pesawat Kenegaraan Tercanggih Rusia Ilyushin Il-96-300 Mendarat di Bali, Ini Sederet Fiturnya

Tak ada informasi apapun tentang kemewahan di dalam interior pesawat, sebagaimana di pesawat kepresidenan Rusia yang dipenuhi dengan furniture mewah dan berlapis emas atau bahkan sistem anti rudal dan sejenisnya.

Hanya disebutkan pesawat Japan Air Force One dan Japan Air Force Two berbasis Boeing 777-300ER, yang pertama kali masuk tahun layanan pada 1 April 2019 silam, memiliki teknologi komunikasi satelit untuk memudahkan komunikasi dengan pejabat di darat.

Boeing 747-9I BBJ Presiden Erdogan Mendarat di Bali, Meski Mewah Ternyata Hasil Hibah dari Qatar

Dalam kaitan KTT G20 di Bali, Pesawat Kepresidenan Turki Boeing 747-8I Boeing Business Jet (BBJ) dengan registrasi TC-TRK telah mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar pada pukul 11.50 WITA, 14 November 2022. Pesawat yang membawa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan itu tak kalah pamor dengan Air Force One milik Negeri Paman Sam, bahkan seri 747 yang ditumpangi Presiden Erdogan lebih baru dibandingkan 747 yang dinaiki Presiden AS Joe Biden.

Baca juga: Mengenal “Code One”, Pesawat Kepresidenan Korea Selatan yang Digunakan di KTT G20

Dikutip dari oryxspioenkop.com, disebutkan 747-8I BBJ telah beroperasi sebagai Armada Kepresidenan Turki sejak September 2018. Namun berbeda dengan pesawat lain yang melayani Armada Kepresidenan Turki, yang dibeli langsung sebagai pesawat baru atau bekas, maka Boeing 747-8I BBJ justru diterima sebagai hadiah dari Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, Amir Qatar saat ini.

Pemberian Boeing 747-8I oleh Qatar mungkin sebagai pengakuan atas dukungan Turki ke Doha setelah beberapa negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dan memberlakukan blokade terhadap Qatar pada Juni 2017.

Menanggapi blokade di Qatar saat itu, Turki mengirim 197 pesawat kargo penuh makanan dan komoditas lainnya ke Doha pada bulan pertama blokade, dan juga meningkatkan ukuran garnisun militernya yang ditempatkan di Qatar.


Pesawat yang diberikan ke Turki adalah salah satu dari empat Boeing 747-8I yang dioperasikan atas nama House of Al Thani dan pejabat pemerintah Qatar. Pesawat tersebut sebelumnya terdaftar di Bermuda sebagai VQ-BSK, tetapi berubah registrasi setelah tiba di Turki, menjadi TC-TRK.

Baca juga: Bawa Wakil Putin, Pesawat Kenegaraan Tercanggih Rusia Ilyushin Il-96-300 Mendarat di Bali, Ini Sederet Fiturnya

TC-TRK awalnya diluncurkan dari jalur perakitan Boeing Everett pada tahun 2012 dan kemudian dicat dan dilengkapi dengan interior VIP. Pesawat tersebut akhirnya mulai beroperasi pada akhir 2015 atau awal 2016, dan hanya mencatat waktu 436 jam terbang sebelum diserahkan ke Turki, yang berarti pada dasarnya baru meskipun hampir enam tahun beroperasi pada saat donasinya.

Bawa Wakil Putin, Pesawat Kenegaraan Tercanggih Rusia Ilyushin Il-96-300 Mendarat di Bali, Ini Sederet Fiturnya

Pesawat kenegaraan Rusia, Ilyushin Il-96-300 mendarat di Bali pada Minggu malam sekitar pukul 8 WITA. Pesawat itu membawa wakil Presiden Rusia Vladimir Putin, Sergey Lavrov, untuk menghadiri gelaran KTT G20 15-16 November mendatang. Meski hanya mewakili Putin, Lavrov, yang menduduki jabatan Menteri Luar Negeri Rusia, difasilitasi pesawat kenegaraan tercanggih Rusia yang biasa digunakan oleh Putin.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Dari data FlightRadar24, pesawat kenegaraan Rusia yang memuat Servey Lavrov, Ilyushin Il-96-300 dengan kodeRSD8 atau Rossiya – Special Flight Squadron 8, terbang dari Bandara Moskow Vnukovo ke Denpasar Bali via Phnom Penh, Kamboja.

Diketahui, pesawat tersebut transit di Kamboja bukan untuk mengisi bensin. Pesawat widebody dengan empat mesin itu sanggup untuk melahap penerbangan langsung dari Moskow ke Indonesia meskipun melalui rute cukup jauh dari ujung utara ke selatan.

Pesawat transit di Kamboja untuk menghadiri ASEAN Summit, bertemu dengan Menteri Luar Negeri dari empat negara ASEAN; Indonesia, Laos, Thailand, dan Vietnam.

Usai menghadiri ASEAN Summit, pesawat kenegaraan dengan nomor registrasi RA-96023 serta MSN 74393203023 buatan tahun 2016 itu berangkat dari Bandara Phnom Phen pada siang hari puku 14.30 dan tiba di Bali pada malam hari.

Pesawat terbang dengan kecepatan rata-rata 659 km per jam di ketinggian 6.000 meter di atas laut, cukup lambat dari rata-rata pesawat jet yang menempuh kecepatan 900 km per jam. Itu sebabnya pesawat menempuh waktu terbang cukup lama sampai sekitar lima jam lebih dari Kamboja ke Bali.

Pesawat buatan United Aircraft Corporation (UAC), Ilyushin Il-96-300, saat ini tercatat hanya ada 15 di dunia, dengan rincian tiga digunakan maskapai nasional Kuba, Cubana de Aviación, dan lainnya berada di Rusia, dimana delapan di antaranya digunakan sebagai pesawat kepresidenan atau kenegaraan.

Meskipun ada delapan, namun, tidak semua pesawat siap sedia melayani pejabat Rusia karena kebutuhan MRO.

Putin sendiri diketahui pernah menggunakan pesawat kepresidenan Ilyushin Il-96-300 dengan nomor registrasi RA-96023, yang notabene hari ini melayani Sergey Lavrov menghadiri KTT G20 di Bali.

Sebagai bagian dari safety, pesawat tersebut dilengkapi dengan sistem pertahanan anti rudal atau biasa juga disebut CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System) untuk melawan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS).

Baca juga: Gegara Sanksi UE, Pesawat Rombongan Diplomat Rusia yang Diusir Spanyol Tempuh Rute 3.678 Km Lebih Jauh

Sistem pertahan anti rudal ini akan sangat berguna ketika jet tempur pengawal Air Force One Rusia (biasanya berjumlah tiga-enam) berhasil dilumpuhkan. Namun, sistem anti rudal itu bukanlah opsi terakhir, pesawat masih dibekali dengan fitur escape pod atau kursi lontar. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas berapa jumlah kursi lontar yang tersedia.

Selain Ilyushin Il-96-300, Rusia memiliki beberapa pesawat kenegaraan atau kepresidenan lainnya, seperti Airbus A319 sampai Sukhoi Superjet 100 (Sukhoi SJ100).

Mengenal “Code One”, Pesawat Kepresidenan Korea Selatan yang Digunakan di KTT G20

Pesawat Kepresidenan Korea Selatan telah mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali pada Minggu malam, 13 November 2022, sekitar pukul 23.27 WITA. Membawa Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol beserta istri Kim Kun-Hee, menjadi menarik perhatian adalah sosok pesawat kepresidenan yang diberi nama “Code One.”

Baca juga: Meski Ditentang, Korea Selatan Tetap Perpanjang Masa Sewa Boeing 747 “Code One”

Berdasarkan pantauan tayangan langsung dalam akun Youtube Kemkominfo TV, saat mendarat pilot Code One mengibarkan bendera Korea Selatan dan Indonesia di atas pesawat. Mirip dengan “Air Force One” milik Amerika Serikat, Code One juga mempunyai spesifikasi khusus, yang tak hanya mewah, namun pesawat ini dilengkapi dengan sistem keamanan yang terbilang canggih.

Pesawat kepresidenan Korea Selatan, Code One. Foto: Jeroen Stroes Aviation Photography via Wikimedia Commons

Secara resmi, Code One adalah nama pesawat yang dioperasikan Angkatan Udara Republik Korea yang membawa Presiden Korea Selatan, Code One sendiri terdiri dari dua unit Boeing 747-8I yang disewa dari maskapai Korean Air.

Sebelumnya, beberapa pejabat dari berbagai fraksi di Negeri Ginseng itu sempat mempertanyakan keberadaan Code One dalam mendukung operasional presiden. Sebab, dengan menyandang status sebagai negara dengan PDB tertinggi ke-10 di dunia, sudah sepatutnya Korea Selatan mempunyai pesawat kepresidenan sendiri, bukan menyewa.

Sebagai pesawat kepresidenan, Code One telah mengalami “renovasi skala penuh” yang akan mencakup “dekorasi eksterior”, serta penyesuaian interior untuk menyertakan area tidur dan kantor, serta penguatan untuk melindungi keamanan presiden. Pesawat kepresidenan saat ini telah beroperasi sejak Januari 2022, yakni setelah perkuatan dan inspeksi ekstensif.

Code One memiliki beragam sistem keamanan yang sebagian besar sangat rahasia. Setelah dimodifikasi, Code One dilengkapi dengan berbagai teknologi dan sistem pertahanan, seperti radar-jamming (pengacau radar), missile-deflecting flares (flare untuk membelokkan rudal), dan state-of-the-art communication systems (sistem komunikasi canggih).

Baca juga: Bertemu Vladimir Putin, Pesawat Kepresidenan Jokowi Boeing 777-300 PK-GIG Telah Mendarat di Moskow

Sejak tahun 2010, pemerintah Korea Selatan telah menyewa pesawat Boeing 747-400 Korean Air. Usai disewa, pesawat berusia 19 tahun (dibuat tahun 2001) kemudian dimodifikasi ulang sebagai program VC-X oleh pihak ketiga, di bawah pengawasan The Korean Air Force and Presidential Security Service.

Meski Tak Signifikan, Dengan Airplane Mode Waktu Pengisiaan Baterai Smartphone Jadi Lebih Cepat

Airplane mode lazim digunakan saat mengaktifkan smartphone di kabin pesawat, meski toh tidak ada akses radio/seluler, dengan airplane mode pengguna smartphone masih bisa menikmati fitur pemutar musik, menonton video, mobile games, sampai melakukan penulisan dokumen.

Baca juga: Delta Airlines Tawarkan Akses Chatting Gratis via WiFi di Smartphone

Lepas dari itu, momen mengaktifkan airplane mode di kabin kerap dimanfaatkan untuk melakukan charging atau proses pengisian baterai. Dibanding dengan charging dengan mode standar, ternyata pengaktifkan airplane mode untuk proses charging smartphone memang lebih cepat.

Biasanya untuk mengisi daya baterai, airplane mode tidak akan memperlambat proses melainkan akan memberikan pengisian energi lebih cepat dari tanpa mode pesawat. Trik ini benar-benar bekerja dan sangat diandalkan. Salah satu penyedia seluler yakni Verizon merekomendasikan cara ini.

Dalam posisi airplane mode, smartphone Anda tidak akan melayani sinyal yang terhubung pada menara BTS. Selain itu pastinya GPS tidak akan terhubung, karena GPS juga menggunakan data seluler dan mengahabiskan daya baterai yang cukup besar untuk memberitahukan lokasi Anda.

Untuk diketahui, bila Anda beralih ke airplane mode, Anda mematikan penerimaan transmisi radio atau yang biasa di sebut sinyal seluler, termasuk frekuensi Bluetooth dan WiFi. CNET menguji proporsi beberapa tahun lalu, dalam pengujian pada suatu smartphone, diketahui jika menggunakan airplanel mode maka pengisian daya baterai lebih cepat 11 menit dibandingkan mode standar. Sementara pada pengujian lainnya, waktu yang dihemat bahkan hanya lebih cepat 4 menit.

Baca juga : Entrupy, Solusi Canggih Identifikasi Barang Palsu via Smartphone

Namun lepas dari itu, kecepatan pengisian baterai smartphone juga terkait dengan jenis charger yang digunakan. Sebagai contoh, bila kita melakukan charging lewat kabel USB di bangku pesawat, meski sudah mengaktifkan airplane mode maka waktu pengisian baterai tetap terasa lambat, hal ini dikarenakan arus listrik yang tersedia memang terbatas.

Pramugari Minta Penumpang Cabul-Bikin Onar Dihukum Tak Boleh Naik Pesawat

Awak kabin menuntut tindakan tegas dari para legislator di DPR, regulator, dan pemerintah terhadap para penumpang yang berbuat onar di pesawat. Mereka meminta agar penumpang yang berbuat onar di pesawat agar dilarang terbang dengan maskapai manapun. Ini dianggap dapat membuat efek jera bagi penumpang lainnya.

Baca juga: Takut Celaka Gegara 4 Kali Gagal Landing, Penumpang JetBlue Ngamuk: Saya Tidak Akan Naik Pesawat Lagi!

Permintaan tersebut datang sebagai bentuk tanggapan atas banyaknya kasus hal-hal yang tidak menyenangkan terhadap pramugari/pramugara (awak kabin), seperti pelecehan, penyerangan, diintimidasi, diteror, dan lain sebagainya oleh penumpang.

Banyaknya berbagai tindakan tak menyenangkan tersebut membuat enam awak kabin, mewakili yang lain, melakukan konferensi pers sekaligus peluncuran kampanye “Assault Won’t Fly” yang berisi ancaman menohok bagi para pembuat onar di pesawat tidak akan pernah bisa lagi terbang naik pesawat maskapai manapun.

Tak berhenti sampai di situ, enam awak kabin yang tergabung dalam Serikat Pekerja Transportasi Lokal 556, mewakili sekitar 18 ribu pramugari/pramugara Southwest Airlines, menuntut adanya payung hukum dengan meloloskan Undang-Undang Perlindungan Dari Penumpang yang Menyesatkan.

UU tersebut sebetulnya sudah diperjuangkan serikat pekerja sejak April lalu. UU tersebut berisi hukuman yang lebih berat dari yang saat ini ada bagi para penumpang yang berbuat onar di pesawat.

Mereka akan dilarang terbang selama beberapa waktu dan dimasukkan ke dalam ‘daftar hitam maskapai’ yang akan terintegrasi dengan sistem di seluruh maskapai. Dengan begitu, penumpang tersebut tidak akan bisa terbang dengan maskapai manapun.

“Para penumpang itu perlu memiliki konsekuensi di seluruh industri. Mereka harus dilarang terbang dengan pesawat komersial apa pun untuk jangka waktu tertentu,” jelas Corliss King, salah satu pramugari yang juga Vice President Serikat Pekerja Transportasi Lokal 556.

Insiden pelecehan dan perbuatan yang tidak menyenangkan lainnya dari penumpang terhadap pramugari belakangan meningkat selama pandemi Covid-19. Di antara banyak tipe penumpang yang berbuat onar, salah satunya adalah menolak gunakan masker di pesawat.

Penolakan ini kemudian eskalasinya naik menjadi keributan dan pada akhirnya penumpang melakukan penyerangan terhadap petugas.

Selain itu, ada juga penumpang yang menolak arahan dari pramugari untuk menggunakan seat belt dan menaruh tas di bawah kursi.

Baca juga: WNI Serang Awak Kabin, Pesawat Turkish Airlines Istanbul-Jakarta Dialihkan ke Medan: Terancam Denda Rp100 Juta

‘Silakan pakai sabuk pengaman Anda. Tolong taruh tas Anda di bawah kursi di depan Anda.’ Hal-hal ini dipenuhi dengan ‘Saya tidak harus mendengarkan Anda. Saya tidak harus melakukan itu,'” kata pramugari Allegiant Air, Klarissa-Ann Principe, seperti dikutip dari abc7chicago.com.

Lain lagi yang dialami Stacy Bassford. Pramugari Jet Blue itu kerap diminta penumpang memegang alat vitalnya, diraba-raba, dan sejeninsnya.

Penumpang Wajib Tahu, Pilot Selalu ‘Bohong’ Terkait Hal Ini Saat dalam Penerbangan

Selalu ada pertanyaan atau trust issue terhadap pilot. Bagaimana mungkin ratusan penumpang menyerahkan nyawanya kepada dua orang yang tidak pernah diketahuinya dalam suatu penerbangan. Karenanya, dalam bertugas pilot secara diatur agar menghindari berbagai kata, informasi, atau kalimat-kalimat yang dapat membuat penumpang takut, terancam, trauma, dan sejenisnya. Itu sebab, pilot selalu ‘bohong’ saat menghadapi berbagai situasi dalam penerbangan.

Baca juga: Terungkap! Pramugari Selalu Bohong Saat Penumpang Tanyakan Hal Ini

Menurut pilot salah satu maskapai, Randy Duncan, seperti dikutip dari Quora, pilot biasanya ‘berbohong’ atau menghindari kata-kata atau informasi berkenaan dengan Segitiga Bermuda. Ini karena stigma atau label buruk pada wilayah tersebut.

Umum diketahui bahwa Segitiga Bermuda ialah suatu wilayah di atas Samudera Atlantik antara Florida, Bermuda, dan Puerto Rico. Jika ditarik garis dari ketiga wilayah itu, akan membentuk segitiga. Bagian dalam area segitiga itulah yang kemudian disebut dengan Segitiga Bermuda.

Di sini, tak terhitung jumlah pesawat, kapal, atau kecelakaan lainnya yang memakan korban jiwa. Segitiga Bermuda pun pada akhirnya menjadi cerita horor bukan hanya di wilayah sekitar tetapi juga se-dunia.

Penerbangan dari wilayah-wilayah Haiti, Puerto Rico, Republik Dominika, Kuba, Bermuda, dan Amerika Serikat bagian timur sebetulnya bisa saja menghindari terbang di atas langit Segitiga Bermuda. Namun, karena satu dan lain hal, pilot tetap terbang di atas wilayah ini.

Dalam suatu penerbangan bersama Boeing 737, Randy memutuskan melintasi Segitiga Bermuda. Namun di tengah perjalanan, kehilangan kontak radar dan tidak bisa mengontak ATC. Ia dan rekan akhirnya beralih ke radio frekuensi tinggi untuk melaporkan posisi ke ATC dan meminta izin untuk menaikkan ketinggian.

Baca juga: Angker dan Menelan Ribuan Korban Jiwa! Inilah Perairan Masalembo, Segitiga Bermuda Indonesia

Sayangnya, ketika itu lalu lintas sedang sibuk sehingga selama beberapa waktu pesawatnya tetap berada di ketinggian relatif rendah dan mengalami turbulensi sedang (moderate turbulence).

Turbulensi sedang memang tidak terlalu parah, tetapi cukup membuat apapun yang tak terikat berguncang hebat, termasuk penumpang. Itulah kenapa Randy Duncan menyalakan tanda mengenakan sabuk pengaman (seat belt).

Berhubung turbulensi terjadi cukup lama, ia pun tergerak memberikan informasi ke penumpang (passenger announcement) via mikrofon dan mengatakan,”Terima kasih kepada para penumpang karena tetap duduk di kursi dengan sabuk pengaman. Kami coba meningkatkan ketinggian tetapi lalu lintas sibuk jadi kami terjebat sebentar di sini (turbulensi).”

“Saya tahu ini cukup kasar tetap ini akan segera mulus. Kami berada di tengah-tengah Segitiga Bermuda saat ini dan mungkin itu sebabnya (penerbangan) buruk. Kami akan mematikan tanga sabuk pengaman segera”, tutupnya.

Setelah pengumuman itu, pramugari/pramugara pun diamuk penumpang dengan sumpah serapah. Mereka yang tak sanggup berkata-kata pun hanya bisa berdoa dan itu tidak sedikit. Mayoritas dari penumpang takut dengan informasi bahwa saat itu pesawat sedang terbang di tengah Segitiga Bermuda.

Di akhir penerbangan, pilot dan awak kabin pun mendapat sekitar 10 komentar pedas dari para penumpang. Intinya tak terima dengan keputusan pilot terbang di atas Segitiga Bermuda. Ini bukan akhir, setelah beberapa hari, banyak email masuk ke maskapai dan mayoritas memprotes serta menuduh maskapai tidak bertanggung jawab dengan terbang di atas Segitiga Bermuda. Mereka bahkan berjanji tidak akan pernah naik maskapai itu lagi.

Baca juga: Wajib Tahu, Ini 10 Bahasa Rahasia Pilot 

Singkatnya, Randy mengaku salah telah menginformasikan tetang pesawat melewati Segitiga Bermuda. Informasi itu biasanya dihindari para pilot.

Selain itu, berbagai informasi atau kalimat-kalimat yang biasanya selalu dihindari atau mungkin kalimat-kalimat terlarang pilot ialah menjanjikan sesuatu ke penumpang apapun itu, kalimat-kalimat yang menakutkan dan menyeramkan, kata-kata yang menunjukkan ekspresi takut, mencekam, dan sebagainya, sampai memberitahukan masalah yang sesungguhnya saat dalam penerbangan.

Taksi Drone Volocopter Uji Terbang Perdana di Dekat Paris, Target Komersial di 2024

Taksi drone untuk pertama kalinya melakukan penerbangan dalam lalu lintas udara konvensional di dekat Paris, Perancis, pada hari Kamis kemarin (10/11). Penerbangan uji coba itu dilakukan terkait dengan rencana pemerbangan komersial taksi drone di Paris pada tahun 2024.

Baca juga: Volocopter Sukses Terbang Perdana, Jadi Taksi Udara Berawak Pertama di Korea Selatan

Dikutip dari Reuters, drone uji Volocopter dengan delapan rotor, lepas landas membawa penumpang dari lapangan terbang Pontoise-Cormeilles di luar Paris dan berputar sebentar sementara drone lain berada di sekitarnya.

CEO perusahaan Jerman Volocopter Dirk Hoke mengatakan, bahwa dalam 18 bulan ke depan akan mempersiapkan taksi drone ini untuk sertifikasi dan berharap dapat meluncurkan penerbangan komersial jarak pendek pada tahun 2024, yakni saat Paris menggelar Olimpiade Musim Panas.

Volocopter dengan dua kursi pada akhirnya akan mengudara dengan otomatis penuh, tanpa awak, dengan hanya penumpang di dalamnya. Saat ini pihak Volocopter mengakui bahwa masih banyak dibutuhkan persiapan, mulai dari infrastruktur, integrasi wilayah udara, dan penerimaan publik.

Dalam uji coba 10 November lalu, taksi drone Volocopter terbang dengan pilot uji Paul Stone, Ia mengatakan bahwa wahana ini sudah mengadopsi digital fly-by-wire dan beberapa rotor membuatnya lebih mudah untuk terbang daripada helikopter tradisional.

“Dalam helikopter, ketika Anda menggerakkan satu kontrol, tiga hal terjadi, dan itu seperti menepuk kepala dan menggosok perut Anda, ini adalah latihan koordinasi. Sementara di taksi udara ini, mereka menghilangkan semua kesulitan itu, dan kontrolnya sangat sederhana di setiap sumbu, itulah yang memudahkan untuk terbang dengan Volocopter,” ujar Paul Stone.

Valérie Pecresse, Presiden Ile-de-France, wilayah di sekitar Paris, mengatakan wilayahnya telah memberikan dukungan keuangan untuk inisiatif uji coba taksi udara, karena Ia ingin penerbangan penumpang pertama drone taksi akan lepas landas dan mendarat vertikal berlangsung di wilayahnya.

“Pengembangan penerbangan ketinggian rendah untuk mobilitas udara perkotaan adalah hal yang menjanjikan di masa depan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Volocopter Buat Versi Sayap Tetap untuk Penerbangan Jarak Lebih Jauh dan Lama

Volocopter sedang bersaing ketat dengan perusahaan di seluruh dunia, termasuk Lilium, Joby Aviation, dan Airbus untuk mendapatkan predikat taksi udara pertama yang disertifikasi oleh regulator.

Lakukan Penyesuaian Jadwal, Garuda Indonesia Siapkan 83 Penerbangan Selama KTT G20 di Bali

Sebagai maskapai plat merah, Garuda Indonesia akan memaksimalkan kelancaran operasionalnya jelang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan dilaksanakan di Bali, pada 15-16 November 2022.

Baca juga: Mobil Listrik GATe Rancangan UGM akan Digunakan di Bandara dan Event G20 Bali

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis (11/11) mengungkapkan kesiapan operasional tersebut mencakup sejumlah penyesuaian aspek operasional penerbangan melalui koordinasi intensif bersama stakeholder layanan kebandarudaraan khususnya dalam memperkuat berbagai langkah mitigasi dalam mengantisipasi berbagai kebijakan operasional penerbangan selama gelaran forum presidensi tersebut berlangsung, termasuk dalam kaitan ketentuan protokol penerbangan bagi pimpinan negara yang akan tiba di Bali maupun yang akan kembali melanjutkan penerbangannya dari Bali.

Irfan menambahkan, bahwa penyesuaian operasional tersebut akan dilakukan melalui sejumlah penyesuaian aspek operasional penerbangan baik terkait penyesuaian jenis armada yang akan beroperasi dari dan menuju Bali, maupun penyesuaian ground time pesawat pada saat di Denpasar sesuai dengan regulasi Kementerian Perhubungan RI mengenai Pengaturan Operasional Penerbangan Selama Penyelenggaraan KTT Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022.

Selain itu Garuda Indonesia juga melaksanaan koordinasi secara intensif dengan stakeholder terkait dengan penyesuaian jadwal penerbangan mengacu pada slot penerbangan yang tersedia serta me-reposisi rotasi pesawat melalui optimalisasi basis hub Jakarta.

Irfan menjelaskan bahwa selama periode 13-17 November Garuda Indonesia mengoperasikan sedikitnya mengoperasikan sebanyak 83 penerbangan dari dan menuju Denpasar.

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Ini Tips Antisipasi Delay dan Pembatalan Penerbangan

“Dengan adanya berbagai penyesuaian aspek operasional penerbangan kami juga turut mengimbau masyarakat untuk secara berkala melakukan pengecekan jadwal penerbangan khususnya pada periode gelaran G20 tersebut yang puncak trafik pergerakan delegasi akan berlangsung pada 13-17 November 2022 tersebut. Lebih lanjut, kami juga turut melakukan optimalisasi delay management system guna mengantisipasi adanya perubahan jadwal penerbangan termasuk melakukan implementasi service recovery mengacu pada regulasi yang berlaku,” tutup Irfan.