Pasokan Busi ‘Tersendat’, Armada Sukhoi Superjet 100 Terancam di-Grounded

Armada pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 dilaporkan berisiko di-grounded karena kurangnya pasokan busi buatan AS untuk mesin SaM146 buatan Perancis-Rusia. Informasi tersebut dilaporkan oleh saluran Telegram Aviatorshchina, saluran Telegram Rusia yang secara teratur menerbitkan cerita orang dalam dari industri penerbangan.

Baca juga: Rusia “Hengkang” dari Program Sukhoi Superjet 100, Peluang Pemasaran Terbuka untuk Pasar UEA dan India

“Selama 11 bulan terakhir, busi telah dipasok oleh PJSC UEC- Saturn dari cadangannya, tetapi saat ini PJSC UEC- Saturn mengalami kesulitan dalam menyediakan layanan ini,” bunyi pemberitahuan yang dibagikan oleh saluran tersebut. Situasi saat ini berisiko menghentikan sebagian RRJ95 maskapai (nama lain SSJ100) armada pesawat dalam waktu dekat dan penghentian total penerbangan secara bertahap dari seluruh armada pesawat RRJ-95, yang membahayakan implementasi program penerbangan untuk pengangkutan penumpang.

Saturn, anak perusahaan dari perusahaan negara Rusia United Engine Corporation, adalah salah satu dari dua perusahaan yang membentuk PowerJet, perusahaan patungan yang bertugas memproduksi dan mendukung SaM146, satu-satunya mesin yang menggerakkan pesawat Sukhoi Superjet 100. Perusahaan lain yang terlibat dalam usaha patungan itu adalah pabrikan mesin Prancis, Safran.

Sebelum sanksi diterapkan terhadap penerbangan Rusia setelah invasi Ukraina, busi mesin untuk mesin SaM-146 diproduksi oleh perusahaan Unison Industries yang berbasis di AS.

Pada akhir Maret 2022, PowerJet, pabrikan mesin SaM146 Rusia-Perancis, mengatakan akan menangguhkan layanan perawatan dan perbaikan mesinnya. Sebulan kemudian, beberapa maskapai penerbangan Rusia yang mengoperasikan Sukhoi Superjet 100 memperingatkan bahwa mereka mungkin harus segera mengandangkan pesawat tersebut.

Baca juga: Gantikan Michelin, Sukhoi Superjet 100 Bersiap Gunakan Ban Pesawat Produksi Dalam Negeri

Rusia berharap untuk mengganti mesin SaM146 dengan desain buatannya sendiri, Aviadvigatel PD-8. Pada Mei 2022, Gabugan perusahaan Rusia dalam Rostec mengatakan telah menyelesaikan program pengujian statis mesin turbofan domestik.

Menurut data ch-aviation, 140 unit SSJ100 saat ini aktif, sementara 73 lainnya disimpan atau dalam pemeliharaan.

Kembangkan Layanan Kereta Cepat, Taiwan High Speed Rail Gandeng Hitachi dan Toshiba

Guna mengembangkan layanan kereta cepat di Taiwan, maka Taiwan High Speed Rail (THSR) berencana untuk membeli kereta baru dari Jepang. Dewan dan Pimpinan THSR memutuskan pada hari Rabu lalu, yakni untuk membeli kereta api cepat dari aliansi perusahaan Jepang, Hitachi dan Toshiba.

Baca juga: Taiwan Terima Rangkaian Perdana EMU3000, Kereta Listrik Antar Kota Produksi Hitachi

Dikutip dari nhk.or.jp (16/3/2023), kedua belah pihak diharapkan untuk menandatangani kontrak resmi dalam waktu dekat. Taiwan High Speed Rail akan menghabiskan sekitar US$930 juta untuk pesanan 12 kereta cepat yang memiliki total 144 gerbong. Kereta cepat di Taiwan akan dibuat berdasarkan kereta peluru Shinkansen Jepang. Bila kontrak telah berjalan, maka kereta pertama baru akan dioperasikan paling cepat tahun 2027.

Layanan kereta api berkecepatan tinggi Taiwan yang menghubungkan Taipei dan Kaohsiung dibuka pada tahun 2007, dan menghubungkan kota-kota utama di Taiwan, termasuk Taipei, Taoyuan, Hsinchu, Taichung, dan Tainan. Taiwan adalah penggunaan teknologi Shinkansen Jepang pertama di luar negeri. Semua kereta berkecepatan tinggi yang beroperasi di sana dibuat oleh pabrikan Jepang.

Pada bulan Desember, operator Taiwan memberikan hak negosiasi preferensial kepada aliansi Hitachi-Toshiba dalam memperkenalkan kereta api baru untuk meningkatkan kapasitas transportasi.

Sebelumnya, dua putaran pertama penawaran telah berakhir dengan kegagalan karena perbedaan harga. Di babak ketiga, perusahaan Taiwan telah mengindikasikan bahwa mereka tidak akan selalu berpegang pada pengadaan dari Jepang.

Jepang mementingkan proyek tersebut sebagai simbol hubungan persahabatannya dengan Taiwan. Anggota parlemen Jepang membicarakannya saat mengunjungi Taiwan tahun lalu dalam pertemuan dengan Presiden Tsai Ing-wen. Pemerintah mengirim seorang pejabat senior kementerian transportasi ke Taiwan sehubungan dengan proyek tersebut.

THSR menggunakan teknologi Shinkansen dari Jepang dan dapat mencapai kecepatan maksimum 300 kilometer per jam. Ada dua kelas layanan yang tersedia: kelas standar dan kelas bisnis.

Baca juga: Lagu “Visit Taiwan in 2035” dengan Perjalanan Kereta Cepat Beijing-Taipei, Bikin Heboh Netizen Taiwan

Selain THSR, Taiwan juga memiliki sistem kereta api konvensional yang menghubungkan kota-kota di seluruh pulau. Namun, kereta api konvensional ini tidak secepat THSR dan mungkin memakan waktu lebih lama untuk mencapai tujuan.

Huawei Tampilkan Smart Railway Perimeter Detection Solution untuk Operasi Kereta Berkecepatan Tinggi

Huawei, vendor telekomunikasi global yang bermarkas di Shenzhen, Cina, belum lama ini memperkenalkan solusi terbaru yang dapat mendukung sistem operasional kereta berkecepatan tinggi. Pada ajang International Union of Railways (UIC) World Congress ke-11 yang dihelat di Marrakech, Maroko, 14 Maret 2023, Huawei secara resmi menampillkan apa yang disebut sebagai Smart Railway Perimeter Detection Solution.

Baca juga: Integrasikan Big Data dan Cloud, Huawei Rilis 5G LTE-R untuk Sistem Komunikasi Kereta

Dari laman Huawei.com, vendor telekomunikasi yang di black list oleh Amerika Serikat ini menyebut bahwa Smart Railway Perimeter Detection Solution akan terkait langsung dengan Future Railway Mobile Communication System (FRMCS), yang mengandalkan jaringan komunikasi data dan jaringan komunikasi optik.

Huawei menyebut solusinya dibangun agar layanan perkeretaapian dapat terhubung sepenuhnya, memungkinkan pengembangan industri yang cepat, aman, dan cerdas, serta memfasilitasi transformasi digital.

Li Junfeng, Vice President of Huawei and CEO of the Aviation & Rail BU menyampaikan bahwa pengembangan kereta api berkecepatan tinggi di masa depan bergantung pada sistem komunikasi nirkabel dengan bandwidth yang lebih tinggi untuk memastikan operasi kereta api yang aman.

Platform terpusat dan konektivitas yang andal akan mewujudkan industri digital dan hijau. Solusi FRMCS berbasis 4G LTE (Long Term Evolution) Huawei dapat membawa lebih banyak layanan baru hanya dengan meningkatkan kemampuan perangkat lunak. Ini tidak hanya memangkas biaya proyek perkeretaapian, tetapi juga memenuhi persyaratan pengembangan perkeretaapian digital.

Dalam hal keamanan, Huawei mengintegrasikan teknologi baru ke dalam skenario layanan. Smart Railway Perimeter Detection Solution akan melindungi keselamatan di sisi rel sepanjang waktu, dalam cuaca apa pun.

Smart Railway Perimeter Detection Solution Huawei berorientasi ke pasar di luar Cina. Solusi dibangun di atas arsitektur konvergensi penglihatan optik, yang memungkinkan deteksi getaran serat bersama analisis video untuk melindungi perimeter kereta api dengan kesadaran multi-dimensi dan presisi tinggi.

Solusi ini mengatasi masalah akurasi rendah yang dihadapi oleh solusi deteksi perimeter kereta api konvensional, mencegah alarm yang terlewatkan, dan memberikan sedikit alarm palsu, memastikan pengoperasian kereta api yang lebih aman dan efisien.

Huawei menyebut bila dunia sedang membangun lebih banyak kereta api berkecepatan tinggi dan mengalami transformasi digital dan cerdas. Dengan demikian, industri perkeretaapian membutuhkan komunikasi jaringan dengan bandwidth yang lebih tinggi dan latensi yang lebih rendah untuk membawa layanan baru.

“Solusi FRMCS berdasarkan teknologi LTE yang sesuai dengan standar 3GPP terpadu, serta memiliki ekosistem yang matang dan teknologi broadband yang dapat memungkinkan layanan yang lebih cerdas. Huawei membangun jaringan berorientasi FRMCS berkinerja tinggi untuk pelanggan, sehingga mendukung digitalisasi perkeretaapian,” kata Li Junfeng.

Baca juga: Inggris Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Memprediksi ‘Timbunan’ Daun di Atas Rel Kereta

Pada acara tersebut, Huawei memperkenalkan Solusi FRMCS yang menggunakan teknologi IPv6+ inovatif untuk membangun kapabilitas pembawa terkonvergensi dengan keandalan tinggi, penerapan mudah, O&M cerdas, dan evolusi mulus. Solusi ini secara aman dan andal menghadirkan berbagai layanan, seperti suara, persinyalan, dan video, sambil memastikan operasi perkeretaapian yang aman dan stabil.

Menilik Lebih Jauh “Direct Cost,” Komponen Pembentuk Biaya Operasi dalam Penerbangan

Sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi jika harga tiket penerbangan di akhir tahun atau yang kondang disebut peak season akan melejit seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan penerbangan. Namun jika ditelaah lebih jauh, peningkatan harga tiket penerbangan ini bisa dibilang cukup masuk akal menimbang biaya pengoperasian suatu rute juga tidaklah murah. Nah, kira-kira, bagaimana perhitungan biaya pengoperasian sebuah penerbangan? Berikut ulasannya.

Baca Juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Sejatinya, ada empat komponen pembentuk biaya pengoperasian sebuah penerbangan yang masing-masing diantaranya memiliki peran dan presentase yang berbeda – Direct Cost, Indirect Cost, Fleet Cost, dan Overhead Cost. Mengingat masing-masing dari variabel tersebut memiliki peruntukkan dan jumlah presentasenya tersendiri, maka pada pembahasan kali ini KabarPenumpang.com akan membahas tentang Direct Cost terlebih dahulu.

Direct Cost merupakan komponen yang paling banyak berperan dalam pembentukan biaya pengoperasian suatu penerbangan. Mengutip data rataan tahun 2017 milik salah satu maskapai kenamaan yang ada di Indonesia, presentase Direct Cost menyentuh angka 57,78 persen , disusul oleh Fleet Cost di angka 28,81 persen, lalu ada Overhead Cost dengan presentase 9,77 persen, dan 3,64 persen sisanya adalah Indirect Cost.

Dan bila dijabarkan lebih dalam, Direct Cost memiliki faktor-faktor pembentuknya – tentu saja dengan presentase yang berbeda satu sama lain. Berikut adalah rinciannya:

Fuel: 28,39 persen
Variable Maintenance: 7,13 persen
Catering: 4,13 persen
Handling: 4,03 persen
Pax Commission: 2,75 persen
Cabin Crew Travel: 2,39 persen
Cockpit Crew Travel: 2,19 persen
Air Traffic Control: 2,19 persen 
Reservation: 1,86 persen
Landing: 1,67 persen
On-Board Service: 0,41 persen
Freight Commission: 0,33 persen
Credit Card Commission: 0,31 persen

Namun jangan anggap ini adalah angka yang mutlak, mengingat hampir semua angka yang ada di jagad penerbangan komersial adalah hal yang fluktuatif. Andaikan ada perubahan, lazimnya tidak akan terlalu signifikan dan sangat kecil kemungkinannya untuk bisa menggeser posisi bahan bakar (fuel) yang ada di posisi pertama.

Sebagai catatan tambahan, presentase fuel yang terpampang di atas merupakan presentase terbesar pertama dari semua total biaya operasi – disusul oleh biaya sewa pesawat (lease) yang ada di level 26,25 persen pada data yang sama.

Baca Juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat Murah

Sebagai ilustrasi, total cost yang dikeluarkan maskapai tersebut pada tahun 2017 lalu adalah US$3,1 miliar. Jika pada tahun tersebut Direct Cost berkontribusi sebesar 57,78 persen, maka total yang dikeluarkan pihak maskapai adalah US$1,8 miliar.

Jadi, sedikit banyaknya Anda sudah mendapatkan gambaran tentang betapa rumitnya sektor kedirgantaraan komersial. Contoh di atas hanyalah segerintil kecil dari kompleksitas faktor yang mempengaruhi dunia penerbangan, kebayangkan betapa rumitnya permainan angka di dalamnya?

Kenapa Sinyal GPS di Ponsel Hilang Setelah Pesawat Lepas Landas?

Penumpang diharuskan mengaktifkan flight mode atau mode pesawat di ponsel selama penerbangan, khususnya sebelum pesawat lepas landas dan sebelum mendarat. Terkadang, penumpang lupa melakukan itu dan yang terjadi adalah sinyal GPS di ponsel hilang tak lama setelah pesawat landas. Kenapa demikian?

Baca juga: Disinyalir Rindu Keluarga, Mahasiswa Paruh Waktu ini Coba Curi Pesawat!

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sudah umum diketahui bahwa Global Positioning System (GPS) adalah sistem navigasi berbasis satelit yang terdiri dari setidaknya 24 satelit.

Dihimpun dari berbagai sumber, GPS berfungsi dalam segala kondisi cuaca, di mana pun di dunia, 24 jam sehari, tanpa biaya berlangganan atau biaya penyiapan. Departemen Pertahanan AS (USDOD) awalnya menempatkan satelit ke orbit untuk penggunaan militer, tetapi mereka dibuat tersedia untuk digunakan sipil pada 1980-an.

Satelit GPS mengelilingi Bumi dua kali sehari dalam orbit yang tepat. Cara kerjanya, setiap satelit mengirimkan sinyal unik dan parameter orbital yang memungkinkan perangkat GPS untuk memecahkan kode dan menghitung lokasi tepat dari satelit. Penerima GPS menggunakan informasi dan trilaterasi ini untuk menghitung lokasi pasti pengguna.

Pada dasarnya, penerima GPS mengukur jarak ke masing-masing satelit dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk menerima sinyal yang dikirimkan.

Dengan pengukuran jarak dari beberapa satelit lagi, penerima dapat menentukan posisi pengguna dan menampilkannya secara elektronik untuk mengukur rute berolahraga, jarak dari kota A ke kota B, menemukan jalan pulang, dan lainnya.

Guna menghitung posisi 2-D pengguna (garis lintang dan garis bujur) dan gerakan lintasan, penerima GPS harus dikunci pada sinyal minimal 3 satelit. Dengan 4 atau lebih satelit dalam pandangan, penerima dapat menentukan posisi 3-D Anda (garis lintang, garis bujur dan ketinggian).

Umumnya, penerima GPS akan melacak delapan atau lebih satelit, tetapi itu tergantung pada waktu dan dimana pengguna berada di bumi. Setelah posisi pengguna ditentukan, unit GPS dapat menghitung informasi lain, seperti kecepatan arah, jalur, jarak perjalanan, jarak ke tujuan, matahari terbit dan terbenam, dan banyak lagi.

Satelit GPS mengirimkan setidaknya dua sinyal radio berdaya rendah. Itu sebab sinyal rata-rata tidak bisa atau kesulitan menembus dinding tebal atau material tertentu, salah satunya tabung alumunium (red: badan pesawat).

Menurut pengguna Quora, Craig Wilcox, alumunium sebetulnya tidak memblokade sinyal GPS. Masalahnya, ‘tabung alumunium’ yang menjadi penghalang sinyal tidak berhenti melainkan bergerak dengan kecepatan tinggi.

Baca juga: Sebelum Era GPS, Inilah Teknik Terbang Aman Saat Pesawat Melintasi Samudera

Disebutkan, pesawat melesat di kecepatan beberapa ratus kaki per detik terus menambah kecepatan sampai 965 km per jam atau 10 mil per menit. Di kecepatan tersebut, antena GPS kecil di ponsel tidak akan bisa menangkap sinyal radio yang cukup stabil, juga prosesor tidak dikonfigurasi untuk kecepatan seperti itu.

Pesawat tentu saja memiliki antitesa atau jawaban atas permasalahan itu semata agar pilot-kopilot bisa mendapatkan posisi pesawat dengan jelas dan paten. Caranya dengan memperkuat sistem antena dan penguat sinyal serta prosesor sinyal yang lebih besar.

Dilarang Merokok di Pesawat tapi Disediakan Asbak, Kenapa Demikian?

Terlepas dari kecanggihan teknologinya, pesawat memiliki beberapa hal yang membingungkan. Seperti misalnya dilengkapi klakson yang nyaris tidak pernah dipakai sampai asbak di toilet meski merokok di dalam pesawat sangat dilarang karena berpotensi menggangu keamanan dan keselamatan penerbangan. Jika begitu, kenapa merokok dilarang tapi maskapai menyediakan asbak?

Baca juga: Inilah Smokers Express Airlines, Maskapai Khusus Bagi Para Perokok

Dahulu, merokok di pesawat adalah sebuah tawaran yang menguntungkan maskapai. Sambil minum sampanye, menikmati hidangan istimewa yang disajikan di atas piring keramik, penumpang diperkenankan merokok tanpa batasan.

Itu terus berlangsung sampai awal tahun 1980-an. Ketika itu, Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengeluarkan larangan merokok di dalam pesawat secara parsial dan mulai berlaku di seluruh penerbangan pada tahun 1987.

Perubahan drastis pun terjadi. Merokok di pesawat bukan lagi hak masing-masing warna negara, melainkan sebuah pelanggaran yang bisa berujung pada kasus hukum bila dilanggar.

Tentu saja, sifat addict pada rokok telah membuat seseorang tidak tahan untuk segera melakukannya (merokok), bahkan ketika di dalam pesawat yang tengah mengudara sekalipun, yang jelas-jelas dilarang.

Terbukti, setelah merokok resmi dilarang FAA dan segera diadopsi oleh regulator penerbangan sipil dunia, banyak laporan bahwa ada saja penumpang yang merokok di dalam pesawat, tepatnya di toilet.

Mengingat bahaya yang mengintai dan daripada abu rokok serta bara api (puntung) rokok dibuang sembarang dan tak terorganisir hingga berpotensi menimbulkan bahaya yang lebih besar, FAA mengatur agar maskapai tetap menyediakan asbak untuk para perokok nakal yang mencuri-curi kesempatan.

Dalam peraturan FAA, asbak wajib ada di setiap toilet pesawat di dekat pintu. Asbak harus berada di tempat yang mudah terlihat penumpang dan mencolok. Karena harus ada di setiap toilet, maka jumlah asbak mengikuti jumlah toilet. Asbak di dalam toilet juga menjadi syarat sertifikasi maskapai untuk dapat terbang ke AS, yang pada akhirnya, sekali lagi, itu diadopsi oleh regulator penerbangan sipil negara lain.

Pernah suatu hari dalam penerbangan British Airways ke Meksiko, pesawat sampai harus digrounded lantaran asbak tidak mencukupi.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Dilansir Quora, sebetulnya maskapai manapun bisa saja mengajukan sertifikasi tambahan atau STC (supplemental type certificate) untuk meniadakan asbak di pesawat.

Akan tetapi, prosesnya cukup panjang, mahal, dan melelahkan. Disebutkan, maskapai yang menginginkan hal itu harus mengajukan satu sertifikasi per pesawat. Bila ada 100 armada, maka, maskapai harus mengajukan 100 STC sebelum dinyatakan lolos sertifikasi FAA.

Byee Airbus, Arab Saudi Pesan 121 Pesawat Boeing 787 Dreamliner untuk Saudia dan Riyadh Air

Terjawab sudah teka-teki armada pesawat maskapai baru Arab Saudi, Riyadh Air. Negara kaya minyak pimpinan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) itu dikabarkan sepakat membeli 121 pesawat Boeing 787 Dreamliner untuk dua maskapai nasionalnya, Riyadh Air dan Saudi Arabian Airlines (Saudia).

Baca juga: Pangeran Arab Saudi Dirikan Maskapai Baru Riyadh Air, Siap Saingi Emirates Sampai Qatar Airways

Sebelumnya, Airbus dikabarkan berada di atas angin dengan total pesanan mencapai 40 jet Airbus A350 Airbus. Namun, Selasa lalu, laporan menyebutkan Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) sepakat atas pembelian 121 pesawat Boeing 787 Dreamliner dengan nilai transaksi mencapai US$37 miliar.

Pembelian besar-besaran dari Arab Saudi tersebut tak sekadar memperkuat barisan armada maskapai nasionalnya saja dalam merealisasikan Visi 2030, tetapi juga menjadi sinyal kedekatan hubungan Riyadh dan Washington.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip NHK World, pemerintah AS menyambut baik kesepakatan tersebut. Lebih lanjut, kesepakatan tersebut disebutnya dalam membuka 1 juta lapangan pekerjaan bagi warga AS. Washington menyebut akan terus menjalin kerja sama dengan Riyadh.

“(Kesepakatan itu) mendukung lebih dari satu juta pekerjaan Amerika,” tulisnya. “AS akan terus mendukung Timur Tengah, “yang pada akhirnya menguntungkan rakyat Amerika,” tambahnya.

Sebelumnya, Putra Mahkota Arab Saudi Panegran MBS akhir pekan lalu mengumumkan berdirinya maskapai baru bernama Riyadh Air. Maskapai ini adalah wujud dari realisasi rencana besar pangeran MBS dalam Visi 2030 yang hendak mendatangkan 100 juta wisatawan. Ini sekaligus mengubah orientasi pendapatan Arab Saudi dari mengandalkan minyak menjadi pariwisata.

Pangeran MBS menunjuk Tony Douglas yang sudah malang-melintang di industri dirgantara sebagai CEO. Tony dan Riyadh Air ditargetkan dapat melayani lebih dari 100 destinasi di seluruh dunia tahun 2030, bahu membahu bersama maskapai nasional Arab Saudi lainnya, Saudi Arabia Airlines (Saudia).

Target tersebut akan memanfaatkan lokasi strategis Arab Saudi yang berada di antara Asia, Afrika, dan Eropa, menjadikannya salah satu pilihan hub terbaik di dunia, demikian dilansir CNBC International.

Baca juga: Kasihan, Boeing 747-8 VIP Bekas Kerajaan Arab Saudi ‘Dimutilasi’: Baru Mencatat 50 Jam Terbang

Riyadh Air diharapkan dapat menyumbang US$20 miliar untuk pertumbuhan PDB non-minyak Arab Saudi. Maskapai juga ditarget dapat menciptakan lebih dari 200 ribu lapangan pekerjaan baik secara langsung maupun tak langsung.

Arab Saudi menggelontorkan miliaran dollar AS untuk mewujudkan Visi 2030. ‘Visi 2030’ sendiri ialah sebuah rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang menekankan pada diversifikasi ekonomi agar tak hanya mengandalkan minyak bumi yang harganya terus turun dan cenderung tidak stabil.

14 Tahun Beroperasi, Kereta Berkecepatan Tinggi di Turkiye Angkut 72 Juta Penumpang

Meski belum lama ini diguncang gempa dahsyat, layanan perkeretaapian di Turkiye telah mencatatkan momen penting. Seperti belum lama ini, otoritas transportasi Turkiye mengumumkan bahwa kereta berkecepatan tinggi di Negeri Ottoman telah mengangkut 72 juta penumpang sejak awak beroperasi.

Baca juga: Turki Mulai Produksi Kereta Listrik Pertama untuk Pasar Domestik

Turkiye mulai menikmati layanan kereta berkecepatan tinggi sejak 14 tahun lalu. Sebanyak 71,7 juta penumpang bepergian dengan 19,8 juta di jalur kereta cepat antara Ankara-Eskişehir, 18,2 juta di jalur Ankara-Konya, 23,8 juta di jalur Ankara-Istanbul, 8,3 juta di jalur Konya-Istanbul, 847.000 di jalur Ankara- Jalur Karaman, 568.000 di jalur Istanbul-Karaman, dan 145.000 di jalur Eskişehir-Istanbul.

Dalam keterangan tertulis Kementerian Transportasi dan Infrastruktur Turkiye, bahwa jalur kereta cepat pertama dioperasikan pada 13 Maret 2009 oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

“Negara kami telah menjadi operator HST ke-8 di dunia dan ke-6 di Eropa. Jalur Ankara-Konya mulai beroperasi pada tahun 2011, dan Konya-Istanbul serta Ankara-Istanbul mulai beroperasi pada tahun 2014. Panjang jalur kereta cepat bertambah menjadi 1241 kilometer dengan peresmian jalur kereta cepat Konya-Karaman sepanjang 219 kilometer pada tahun 2022, yang dilakukan langsung dengan bus HST+,”kata pernyataan itu.

Baca juga: Mengapa Benua Eropa dan Afrika Tidak Terhubung Jembatan atau Kereta Bawah Laut?

Dengan hadirnya kereta berkecepatan tinggi antara Ankara-Eskishehir, maka waktu tempuh dari 4 jam menjadi 1 jam 30 menit. Sementara waktu tempuh antara Ankara-Istanbul berkurang dari 8 jam menjadi 4,5 jam, dan waktu tempuh antara Ankara-Konya menjadi 1 jam 45 menit, dan waktu tempuh antara Konya-Istanbul menjadi 4,5 jam.

Dua Bulan Hilang, Isi Bagasi Penumpang Qantas Berubah Setelah Ditemukan

Kasus kehilangan bagasi belum juga usai. Terbaru, salah satu penumpang Qantas kehilangan bagasinya saat terbang dari Toronto, Kanada menuju Auckland, Selandia Baru via Sydney, Australia. Dua bulan setelahnya, bagasi berhasil ditemukan dan kembali ke pemiliknya. Namun, setelah dibuka, isinya sudah tak sama seperti semula.

Baca juga: Ngaku 180 Kali Kehilangan Bagasi di Bandara, Pria Ini Raup Rp4 Miliar

Cerita penumpang Qantas kehilangan bagasi selama dua bulan bermula pasca liburan Natal. Seorang penumpang bernama Hyde, bersama putranya, terbang ke Auckland untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit.

Seperti biasanya, liburan Natal dan Tahun Baru membuat ketersediaan kursi sangat terbatas. Penerbangan dari maskapai manapun selalu penuh. Terlebih penerbangan direct ke Auckland. Alhasil, ia terpaksa mengambil penerbangan Toronto – Auckland via Sydney. Ia akhirnya bisa sampai di kediaman ayahnya, namun tidak dengan bagasinya.

Imbas penerbangannya yang terlambat, penerbangan transitnya pun juga terlambat. Bagasinya pun tertinggal di Sydney.

Hari ke hari ditunggu bagasi tak juga datang. Pada Januari lalu, Selandia Baru, termasuk Auckland, dilanda banjir hebat. Banjir juga menggenangi Bandara Auckland.

Genap dua bulan, bagasi akhirnya dikirim ke rumah. Setelah dibuka, mayoritas isinya yang berupa pakaian sudah berjamur, berlendir, bahkan berbau. Baunya bahkan disebut lebih mirip dengan kandang ayam.

Saat bagasi atau kopernya tiba, tak semua barang miliknya ada. Paspor dan akta kelahiran Hyde hilang. Tetapi ia ingat betul bahwa paspor dan akta kelahiran itu disegel dan anti air. Beruntung, maskapai mengirimkan dokumen tersebut sekalipun tak berbarengan dengan bagasinya.

“Saya sangat marah karena mereka membawa koper saya ke sana selama banjir dan berhasil mengirimkan satu koper kepada saya segera setelah banjir dan terlalu malas untuk mengirimkan koper ini. Itu duduk di sana selama kurang lebih lima minggu setelah banjir dan saya perlu mengganggu mereka untuk mengambil tindakan,” jelas Hyde.

“Saya membuka koper ini di sekitar anak-anak saya, dan penuh dengan jamur. Saya tidak tahu efek apa yang dapat terjadi pada kesehatan mereka. Jika saya mengirimkannya ke kantor pusat Qantas, mereka mungkin akan mengajukan tuntutan,” tambahnya, seperti dikutip dari stuff.co.nz.

Baca juga: Ingat! Anda Berhak Peroleh Kompensasi Setelah Lapor Kehilangan Bagasi di Bandara

Dua bulan bagasinya hilang, Hyde bukan tanpa upaya. Segalanya ia telah lakukan agar bisa mendapat jawaban kepastian terkait bagasinya yang hilang, seperti bersurat, mengirim email, menelpon customer care, menelpon travel agent, mention di medsos, bahkan menelusuri karyawan Qantas di medsos untuk kemudian di DM.

Qantas sebetulnya telah menawarkan Hyde kompensasi cukup besar NZ$8200. Namun ia menolak dan menyebut pelayanan maskapai nasional Australia itu sangat buruk. Ia sampai berjanji tidak akan pernah naik maskapai tersebut lagi.

Mau Jadi Awak Kabin Maskapai Penerbangan? Perhatikan Tips Ini Agar Lolos Seleksi!

Untuk bisa menjadi awak kabin dari sebuah maskapai penerbangan, tak jarang para pelamar harus melalui seleksi dan penilaian yang terbilang ketat, maklum kemampuan awak kabin tak semata menyandarkan kemampuan melayani, melainkan juga para aspek lain seperti keselamatan dan keamanan. Dan momen penilaian awak kabin bisa jadi menengangkan dan hasilnya tidak dapat diprediksi.

Baca juga: Inilah Syarat Untuk Menjadi Awak Kabin Garuda Indonesia

Anda tidak bisa memprediksi bagaimana perekrut akan melihat Anda. Anda juga tidak pernah tahu berapa banyak pesaing yang ada dan apakah Anda akan mendapat kesempatan ke tahap berikutnya. Dikutip dari Simple Flying, berikut adalah tips untuk meningkatkan rasa percaya diri pada tahap seleksi menjadi awak kabin.

1
Kesabaran
Selama proses aplikasi, Anda harus bersabar, karena bisa jadi itu akan memakan waktu dan banyak energi.

2
Terus melamar
Terus melamar sebanyak mungkin maskapai penerbangan dan jangan pernah membatasi diri Anda hanya pada satu atau dua maskapai. Hanya memilih maskapai penerbangan favorit Anda dan berharap Anda lulus hari penilaian sepertinya jarang berhasil.

3
Temukan yang cocok
Tidak semua maskapai cocok untuk setiap orang dan penting untuk menemukan yang cocok untuk Anda. Bekerja untuk maskapai penerbangan bertarif rendah sangat cocok untuk sebagian orang dan tidak untuk yang lain. Bekerja pada penerbangan jarak jauh keluar dari negara lain akan menjadi impian banyak orang, tetapi tidak cocok untuk orang lain. Satu maskapai tertentu mungkin tidak cocok untuk Anda pada tahap ini, tetapi maskapai lain akan cocok.

4
Melamar ulang
Rekrutmen maskapai sangat ketat karena jika Anda tidak lulus tahap pertama aplikasi dan hari penilaian, Anda tidak dapat mengajukan permohonan kembali untuk jangka waktu yang ditentukan. Ini karena banyaknya orang yang mendaftar. Sebagian besar maskapai mengatakan Anda dapat melamar setelah enam bulan, sedangkan beberapa mengatakan tiga bulan.

Pastikan Anda mengajukan permohonan kembali ke maskapai saat waktu tunggu selesai. Dengan melamar kembali, Anda menunjukkan bahwa Anda berkomitmen untuk mendapatkan pekerjaan dan menunjukkan ketertarikan Anda pada maskapai tersebut.

5
Gunakan pengalaman
Gagal pada hari penilaian dapat membuat Anda tertekan dan merasa bahwa semua upaya itu tidak sepadan. Gunakan pengalaman untuk keuntungan Anda. Anda akan memperoleh lebih banyak pengalaman dan meningkatkan potensi Anda dan memiliki lebih banyak untuk diberikan kepada maskapai di putaran berikutnya.

6
Presentasi
Pastikan presentasi dan penampilan pribadi Anda rapi pada hari itu. Teliti seperti apa penampilan awak kabin maskapai dan coba sempurnakan standar perawatan maskapai. Kesan pertama sangat penting.

7
Kumpulkan keterampilan
Bertekad dan berulang kali melamar dan mengikuti hari penilaian akan memberi Anda lebih banyak keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi awak kabin. Anda akan menjadi lebih baik dalam kerja tim dan komunikasi serta lebih tangguh dan percaya diri.

8
Peningkatan pribadi
Kandidat dapat meningkatkan pengalaman kerja dan keterampilan untuk mendorong aplikasi pelamaran berikutnya. Misalnya, mendapatkan pengalaman kerja di bandara atau belajar bahasa baru. Mengambil kursus pariwisata atau awak kabin mungkin membantu beberapa orang merasa lebih percaya diri.

Baca juga: Kerap Dijadikan Objek Pelecehan Seksual, Perlukah Pihak Maskapai Tambah ‘Kurikulum’ Bela Diri Terhadap Awak Kabin?

9
Kepercayaan diri
Percayalah pada diri sendiri dan ingatlah bahwa ini adalah kurva pembelajaran, dan itu akan memakan waktu. Jangan berkecil hati dengan hari-hari penilaian sebelumnya.

10
Jangan menyerah
Terkadang Anda hanya perlu menemukan maskapai yang tepat untuk Anda. Ini membutuhkan waktu. Apakah itu membutuhkan dua atau sepuluh hari penilaian, maka kandidat yang gigih akan sampai di sana.