Mengapa Port USB Jadi Standar Charging di Kabin Pesawat, Alasan Nomer Tiga Paling Penting

Port USB yang ada di setiap kursi, telah menjadi andalan bagi penumpang pesawat untuk mengisi daya (charge) konsol genggam, seperti ponsel. Namun, tahukah Anda, mengapa yang dipilih adalah port USB sebagai saluran koneksi charge? Mengapa bukan stop kontak standar atau yang lainnya?

Baca juga: Charge Ponsel di Pesawat Terasa Lebih Lama, Simak Penjelasannya

Penggunaan port USB untuk mengisi daya di kabin pesawat memiliki beberapa alasan, berikut yang kami sarikan dari forum quora.com.

1. Standar yang luas
Port USB telah menjadi standar yang luas dan umum digunakan untuk mengisi daya berbagai perangkat elektronik, termasuk ponsel, tablet, kamera, dan perangkat lainnya. Dengan menggunakan port USB, maskapai penerbangan dapat menyediakan sarana pengisian daya yang dapat digunakan oleh banyak penumpang dengan berbagai perangkat, tanpa perlu menyediakan jenis port yang berbeda untuk setiap perangkat.

2. Kompatibilitas
Karena kebanyakan perangkat elektronik modern dapat diisi daya melalui port USB, pengguna dapat dengan mudah menggunakan kabel USB mereka sendiri untuk mengisi daya perangkat mereka di pesawat. Ini meminimalkan kebutuhan untuk menyediakan kabel khusus di pesawat dan mempermudah penumpang untuk tetap terhubung.

3. Keamanan
Penggunaan port USB yang ditentukan secara khusus untuk pengisian daya di pesawat dapat membantu mengurangi risiko potensial dari penyalahgunaan port USB atau serangan siber yang dapat terjadi jika penumpang menggunakan port USB yang tidak aman atau tidak diketahui.

4. Pengaturan daya yang lebih mudah
Dengan menggunakan port USB standar, maskapai penerbangan dapat lebih mudah mengatur daya yang dialokasikan untuk setiap port pengisian daya di kabin pesawat. Ini membantu dalam distribusi daya yang lebih efisien dan menghindari potensi masalah teknis atau kesalahan dalam pengaturan daya.

Meskipun menggunakan port USB untuk mengisi daya di pesawat memiliki banyak manfaat, beberapa maskapai mungkin juga menyediakan port daya yang khusus untuk perangkat yang memerlukan daya yang lebih besar atau memiliki jenis konektor yang tidak kompatibel dengan port USB standar.

Charge Ponsel di Pesawat Terasa Lebih Lama, Simak Penjelasannya

Kini sudah lazim di setiap penerbangan terdapat fasilitas pengisian daya di setiap kursi, yaitu dengan fitur port USB. Dengan tersedianya port USB, maka penumpang dapat mengisi daya (charging) ponsel selama penerbangan. Namun, ada beberapa warganet yang berpendapat mengisi daya ponsel di pesawat memakan waktu yang lama. Nah, apakah benar demikian? Jika pun benar tentu ada alasan yang terkait.

Baca juga: Pramugari Cantik Bagikan Tips Isi Daya Ponsel di Hotel Tanpa Charger

Pada umumnya, proses mengisi ulang (charge) ponsel di pesawat tidak seharusnya memakan waktu lebih lama daripada mengisi ulang di darat, kecuali jika ada beberapa faktor tertentu yang mempengaruhinya. Berikut beberapa alasan yang mungkin menyebabkan pengisian daya ponsel di pesawat menjadi lebih lama:

1. Pembatasan daya
Beberapa maskapai penerbangan atau negara menerapkan pembatasan daya untuk perangkat elektronik selama penerbangan. Ini dilakukan untuk menghindari potensi gangguan pada sistem navigasi pesawat. Sebagai contoh, perangkat Anda mungkin diizinkan untuk mengisi daya hanya pada tingkat yang lebih lambat selama penerbangan.

2. Sumber daya terbatas
Pada pesawat, aliran listrik untuk daya ponsel mungkin terbatas karena sumber daya yang harus digunakan untuk sistem lainnya, seperti penerangan, sistem komunikasi, dan sistem keamanan. Dengan sumber daya yang terbatas, laju pengisian daya bisa lebih lambat daripada ketika Anda mengisi daya di darat dengan sumber daya yang lebih besar dan stabil.

3. Flight mode
Banyak ponsel memiliki opsi “flight mode” yang dapat diaktifkan selama penerbangan untuk mematikan fitur jaringan seperti WiFi, Bluetooth, dan layanan seluler. Jika mode pesawat diaktifkan saat mengisi daya, ini dapat mempengaruhi kecepatan pengisian daya karena akses ke jaringan telekomunikasi yang normal terputus.

4. Kesalahan persepsi
Terkadang, orang mungkin merasa pengisian daya ponsel mereka di pesawat lebih lambat karena situasi di pesawat yang cenderung membuat waktu terasa berjalan lebih lama. Selama penerbangan, orang sering kali lebih peka terhadap waktu karena kurangnya kegiatan dan pengalaman stimulasi di kabin pesawat.

Baca juga: Gegara Charger Portabel Keluarkan Api, Airbus A320 United Airlines Mendarat Darurat

Jika Anda memiliki kekhawatiran tentang waktu pengisian daya yang lama atau peraturan yang berlaku di pesawat tertentu, disarankan untuk menghubungi maskapai penerbangan sebelum penerbangan atau mengacu pada panduan penerbangan mereka untuk informasi lebih lanjut.

Tak Bisa Berhenti Seketika, Ternyata Sistem Pengereman Kereta Dipengaruhi Banyak Faktor

Beberapa hari ke belakang, jagat sosial media dihebohkan dengan rekaman amatir seorang porter yang secara tidak sengaja menginjak bagian celah peron yang akhirnya menyebabkan dirinya terperosok ke jalur yang tengah dilintasi oleh sebuah kereta yang belum sepenuhnya berhenti. Ternyata kejadian nahas tersebut terjadi di Stasiun Jatinegara pada Minggu (3/6/2018) sore. Untungnya, porter yang disinyalir benama Iing tersebut terselamatkan dan hanya kakinya saja yang mengalami luka.

Baca Juga: Tuas Rem Darurat, Instrumen Keselamatan di Kereta Yang Bisa Datangkan Masalah Baru. Kok Bisa?

Berkaca dari insiden tersebut, terselip satu pertanyaan yang secara tidak langsung berhubungan, “Mengapa sebuah kereta tidak bisa sekonyong-konyong berhenti ketika si masinis menarik tuas rem?”. Mungkin pertanyaan yang sama sempat menggelayuti benak Anda semua, dan seperti apakah penjelasannya?

KabarPenumpang.com melansir dari laman minnesotasafetycouncil.org, ternyata sebuah kereta memang tidak bisa berhenti secara mendadak atau melencong ketika si masinis ingin menghentikan moda yang ia kendalikan tersebut. Sebut saja kereta barang yang memiliki panjang rangkaian antara satu hingga satu seperempat mil yang berjalan dengan kecepatan 88,6 km per jam membutuhkan jarak henti sekitar satu mil (1,6 km) terhitung setelah sang masinis menarik tuas rem darurat.

Pun dengan sebuah kereta pengangkut penumpang yang membawa serta delapan rangkaian dan melaju dengan kecepatan 129 km per jam juga kira-kira membutuhkan jarak henti sekitar satu mil terhitung setelah masinis menarik tuas rem darurat. Dari sini bisa kita lihat ada sebuah perbandingan yang menyimpulkan satu hipotesa, yaitu jarak henti kereta bergantung pada jumlah muatan yang mereka bawa.

Semakin ringan beban yang dibawa oleh kereta, maka semakin pendek juga jarak henti yang dibutuhkan, walaupun kecepatannya lebih tinggi ketimbang yang membawa muatan berat. Tapi tunggu dulu, tidak hanya itu saja yang menjadi penjelasan mengapa kereta tidak bisa mengaplikasikan sistem rem-berhenti.

Greg Udolph, General Manager dari Texas State Railroad, mengatakan bahwa kondisi medan pun mempengaruhi kinerja rem pada kereta. “Jika trek basah, maka itu lain cerita. Segala sesuatu dapat mempengaruhi itu (kinerja rem kereta). Kereta membutuhkan waktu lama untuk berhenti, terkadang bisa satu mil. Kadang bisa lebih sedikit, kadang bisa lebih dari itu,” paparnya dikutip dari laman mystatesman.com.

Greg menambahkan bahwa kemiringan lintasan pun turut berperan serta dalam upaya menghentikan si ular besi. “Tidak ada aturan khusus tentang itu,” tambahnya. Bahkan, seorang masinis sudah harus bersiap menerima kenyataan terburuk ketika matanya menangkap ada sesuatu yang menghalangi laju si kereta.

Baca Juga: Darman Prasetyo – Masinis Muda Heroik di Tragedi Bintaro 2 Yang Terlupakan

Dengan penjelasan di atas, nampaknya terjawab sudah pertanyaan mengenai Tragedi Bintaro 2 yang menewaskan sang masinis yang namanya diabadikan dalam bentuk monumen di Stasiun Tanah Abang, Darman Prasetyo. Selain itu, guna menghindari tragedi semacam itu terulang kembali, sudah seyogyanya para pengguna jalan menaati semua peraturan yang berlaku, seperti berhenti di belakang pintu palang perlintasan kereta ketika si ular besi hendak melintas.

Maskapai Nasional Inggris Danai Pelatihan Pilot Baru di British Airways Speedbird Pilot Academy

Maskapai nasional dari Negeri Raja Charles III akan menginvestasikan jutaan dolar untuk melatih generasi profesional penerbangan berikutnya. British Airways akan mulai mendanai pelatihan setidaknya 60 calon pilot per tahun dengan meluncurkan program kadet pilot baru.

Baca juga: Kampus Baru Sekolah Pilot Airbus Diresmikan, Maskapai Rebutan Lulusan Terbaik

British Airways Speedbird Pilot Academy akan membantu banyak calon profesional mencapai impian terbang mereka tanpa mengkhawatirkan biaya pelatihan yang sangat tinggi. Program ini tidak hanya akan menghilangkan hambatan biaya bagi siswa tetapi juga membuat profesi ini lebih mudah diakses dan menjadi pilihan yang realistis untuk semua.

Dikutip dari Simple Flying, Flag carrier Inggris ini siap menginvestasikan jutaan pound untuk melatih pilot generasi berikutnya. Kandidat yang berhasil akan ditawari tempat di lembaga pelatihan yang disetujui dan posisi sebagai pilot British Airways setelah menyelesaikan kursus. British Airways memiliki masa depan yang baik dalam mengembangkan bakat dengan membantu siswa dan mengembangkan sumber daya manusia.

Karier sebagai pilot British Airways sangat bermanfaat, karena maskapai berusaha mempertahankan standar tertinggi di semua tingkatan. Namun, biaya pelatihan pilot tetap menjadi kendala paling signifikan bagi siswa yang ingin mengejar karir terbang. Pelatihan awal di Inggris dapat menelan biaya antara £70.000 dan £120.000.

“British Airways akan menangani biaya ini dengan program kadet baru, membuat profesi ini tidak terlalu sulit bagi individu yang antusias,” kata CEO British Airways Sean Doyle. “Akademi Percontohan Speedbird akan mewujudkan ambisi menjadi pilot British Airways menjadi kenyataan bagi orang-orang yang sebelumnya membatalkan pilihan karena hambatan biaya.”

Untuk menjadi bagian dari program British Airways Speedbird Pilot Academy, pelamar harus memiliki setidaknya enam GCSE (atau setara), termasuk Matematika, Bahasa Inggris, dan satu mata pelajaran Sains, dengan Kelas C atau lebih baik. Aplikasi akan dibuka pada bulan September mendatang, dengan pelatihan diharapkan akan dimulai tahun depan.

Baca juga: Penasaran dengan Arti Tanda Pangkat di Pundak Pilot? Ini Penjelasannya!

Pelamar juga harus memiliki tinggi minimum 5 kaki 2 inci, berusia antara 18 dan 55 tahun, dan lulus ujian Medis Kelas 1 CAA Inggris. Setelah menyelesaikan program pelatihan, pilot baru dapat memperoleh setidaknya penghasilan £34.000 per tahun dan tunjangan. Meskipun uangnya menarik, kandidat harus memiliki antusiasme yang kuat untuk terbang agar dapat bertahan di industri penerbangan.

Paris Bukan Hanya ditopang Bandara Charles de Gaulle, Inilah Bandara Orly yang Lebih Dekat ke Pusat Kota

Seperti halnya Jakarta yang ditopang oleh Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, maka Paris sebagai kota terpadat di Eropa, juga ditopang oleh dua bandara besar bertaraf internasional. Yang sudah dikenal luas adalah Bandara Internasional Charles de Gaulle, dan satunya lagi adalah Bandara Internasional Orly.

Baca juga: Dari Bandara Charles de Gaulle Mau ke Pusat Kota Paris? Paling Murah dan Tepat Waktu Gunakan RER B

Meski spesifikasi kedua bandara berbeda, namun, kedua bandara menopang transportasi masuk dan keluar Paris tersebut dilayani oleh sistem transportasi publik yang sangat maju. Nah, bagi Anda yang akan berencana melancong di Paris, ada baiknya mengetahui profil kedua bandara yang melayani kota mode.

Meskipun keduanya berlokasi di dekat ibu kota, Bandara Charles de Gaulle (CDG) dan Bandara Orly (ORY) memiliki perbedaan dalam hal ukuran, layanan penerbangan, dan fungsi.

1. Ukuran dan Kapasitas
Bandara Charles de Gaulle (CDG) adalah bandara terbesar di Paris dan merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia. Bandara ini memiliki tiga terminal penumpang utama (Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal 3) yang melayani berbagai penerbangan internasional dan domestik.

Sementara Bandara Orly (ORY) lebih kecil dibandingkan dengan CDG. Meskipun masih merupakan bandara besar, ORY melayani jumlah penumpang yang lebih sedikit daripada CDG. Bandara ini memiliki dua terminal penumpang, yaitu Terminal Orly Sud (South) dan Terminal Orly Ouest (West), yang melayani penerbangan internasional dan domestik.

2. Tipe Penerbangan
Bandara Charles de Gaulle (CDG) adalah pusat penerbangan internasional utama dan melayani banyak penerbangan jarak jauh ke berbagai tujuan di seluruh dunia. CDG juga menjadi hub bagi maskapai penerbangan besar seperti Air France.

Sedangkan Bandara Orly (ORY) lebih fokus pada penerbangan domestik dan beberapa rute penerbangan regional di Eropa. Meskipun juga memiliki penerbangan internasional, jumlahnya tidak sebanyak di CDG.

3. Aksesibilitas ke Kota
Bandara Charles de Gaulle (CDG) terletak lebih jauh dari pusat kota Paris daripada Bandara Orly (ORY). Namun, CDG terhubung dengan baik ke pusat kota melalui layanan kereta RER B dan berbagai layanan bus dan taksi.

Bandara Orly (ORY) lebih dekat ke pusat kota Paris, sehingga aksesibilitasnya lebih cepat. ORY juga terhubung dengan baik dengan kereta RER C dan berbagai layanan transportasi lainnya.

Baca juga: Sejarah Bandara Charles De Gaulle Paris, ‘Saudara Kembar’ Bandara Soekarno-Hatta

Pilihan bandara yang akan digunakan oleh penumpang biasanya tergantung pada tujuan penerbangan dan ketersediaan maskapai yang menyediakan layanan ke bandara tersebut.

Ini Perbedaan Sertifikasi Tipe Pesawat oleh FAA, EASA, dan TC, Mana Lebih Rumit?

Sebelum dioperasikan oleh maskapai di seluruh dunia, pesawat harus melewati Sertifikasi Tipe (Type Certification) terlebih dahulu. Mengingat tahapan ini amatlah penting dan menentukan kelaikan sebuah pesawat, prosesnya sangat panjang dan mahal, mulai dari desain, struktur, fungsi seluruh komponen pesawat, sampai simulasi siklus penerbangan.

Baca juga: Begini Proses Sertifikasi Pesawat Baru, Panjang dan Mahal

Di dunia, ada beberapa negara yang memiliki perusahaan pembuat pesawat. Masing-masing negara tersebut memiliki regulator yang mengatur prosedur dan peraturan uji tipe atau sertifikasi pesawat.

Akan tetapi, umumnya, prosedur dan peraturan sertifikasi pesawat dari Administrasi Penerbanagn Federal Amerika Serikat (FAA), Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), dan Transport Canada (TC). Lantas uji sertifikasi mana yang paling sulit dilalui pabrikan pesawat? seperti dikutip dari Simple Flying, berikut selengkapnya.

FAA
FAA mengikuti sistem pengawasan langsung. Itu berarti, regulator mengawasi dan menilai kelaikan sebuah pesawat sejak dari tahap desain untuk mengantisipasi terjadi kesalahan desain saat sertifikasi tipe dilakukan dan membuat pabrikan rugi besar.

Mengingat desain adalah salah satu yang paling fundamental, evaluasi desain oleh FAA berlangsung panjang. Tak jarang, pengembangan pesawat seringkali gagal lantaran tak laik di tahap desain. Ini adalah salah satu metode sistem pengawasan langsung.

Baca juga: Bagaimana Cara Boeing Uji Pesawat Baru Sebelum Disertifikasi?

Metode lainnya dari sistem pengawasan langsung adalah dengan menempatkan para ahli atau Designated Engineering Representatives (DER) dan Designated Airworthiness Representatives (DAR) FAA di tim saat mengembangkan dan mendesain pesawat. Caranya mungkin berbeda, tetapi sama-sama rumit dan melalui proses panjang dengan metode sebelumnya.

EASA
Berbanding terbalik dengan FAA, EASA menganut sistem pengawasan tidak langsung. Itu berarti, Type Certification Application (pabrikan) harus memiliki kompentensi mandiri untuk mengembangkan dan membangun pesawat agar bisa lolos uji sertifikasi tipe. Maskapai hanya dibekali petunjuk terkait Design Organizational Authorization (DOA) level EASA.

DOA mensyaratkan pabrikan pesawat untuk memiliki personel yang kompeten, regulasi internal, design organization handbook, dan sistem mutu untuk memverifikasi desain dan bahan dari supplier.

Setelah langkah-langkah ini diikuti dan level DOA EASA tercapai, pengajuan Sertifikasi Tipe oleh pabrikan disetujui untuk dilakukan pengujian. EASA kemudian akan menerapkan proses pengawasan tidak langsung melalui inspeksi berkala dan pengumpulan dokumen secara acak.

Baca juga: Mengenal Pengujian Statis, Proses Sertifikasi Pesawat Tanpa Perlu Terbang

TC
Prinsip-prinsip Type Certification TC biasa dibilang tengah-tengah antara EASA dan FAA. Pabrikan pesawat diberi kebebasan untuk melakukan sertifikasi mandiri sebelum uji sertifikasi diajukan. Tetapi itu tidak wajib. Kompetensi process and personnel juga tidak diwajibkan mencapai minimum level TC alias dibebaskan, tak seperti EASA yang mensyaratkan agar mencapai minimum level EASA.

Dari prinsip-prinsip sertifikasi tipe di atas, EASA dan FAA tentu yang paling rumit. Namun, bila dipaksa untuk memutuskan mana yang paling rumit antar keduanya, tentu tergantung dilihat dari sudut pandang yang luas. Sekilas, sertifikasi tipe FAA lebih rumit dibanding EASA.

Harbin Y-12F – Pesawat Produksi Cina Pertama yang Meraih Sertifikasi dari FAA dan EASA

Lantaran industri dirgantara Cina punya pangsa pasar dalam negeri yang sangat besar, menjadikan Cina punya daya tawar tersendiri pada mitra asing atau entitas global. Seperti belum lama ini Y12F menjadi pesawat yang diproduksi Cina pertama yang mendapatkan sertifikasi dari otoritas keselamatan penerbangan Amerika Serikat – FAA (Federal Aviation Administration) dan otoritas keselamatan penerbangan Eropa – EASA (European Union Aviation Safety Agency).

Baca juga: Ini Perbedaan Sertifikasi Tipe Pesawat oleh FAA, EASA, dan TC, Mana Lebih Rumit?

Pada 13 Juli 2023, Pesawat Y12F adalah pesawat komuter turboprop bermesin kembar yang dikembangkan oleh Haig (Harbin Aircraft Industry Group) – bagian dari Aviation Industry Corporation of China (AVIC), telah memperoleh Type Certificate (TC) dari EASA, menandai terobosan yang signifikan untuk pesawat yang diproduksi di Cina dalam mencapai persetujuan tipe Otoritas Keselamatan Penerbangan Eropa.

Kebanyakan orang mungkin tidak menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya produk penerbangan sipil yang diproduksi di Cina dari Cina (pesawat, mesin, baling-baling) telah memperoleh sertifikat tipe EASA, menandai terobosan yang signifikan di lapangan. Selain itu, sertifikat kebisingan juga dikeluarkan oleh EASA.

Pada awal 28 Desember 2016, Haig mengajukan aplikasi TC untuk pesawat Y12F ke EASA. Pada waktu itu, perjanjian kelaikan udara bilateral Cina dan Uni Eropa masih mengalami negosiasi bilateral yang panjang dan belum diterapkan. Proyek Pesawat Y12F bertanggung jawab untuk menunjukkan dan membuktikan kemampuan CAAC kepada EASA. Ini sangat penting untuk menentukan tingkat penerimaan EASA untuk pesawat serupa dari Cina.

Y12F memperoleh TC dari otoritas keselamatan penerbangan Cina – Civil Aviation Administration of China (CAAC) pada 10 Desember 2015. Setengah tahun kemudian, ia menerima persetujuan jenisnya dari Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat pada 22 Februari 2016.

Pesawat Y-12F memiliki berat lepas landas maksimum 8,4 ton dan kapasitas tempat duduk maksimum 19 penumpang. Pesawat ini dapat banyak digunakan di berbagai bidang seperti transportasi penumpang dan kargo, pengawasan maritim, tetesan parasut, fotografi udara, eksplorasi geologi, evakuasi medis, dan pembuatan hujan buatan.

Baca juga: N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua

Pada 11 November 2014, selama hari pembukaan China AirShow ke-10, Avic Haig menandatangani kontrak penjualan dengan perusahaan Amerika untuk 20 unit pesawat seri Y-12, termasuk 18 unit Y-12E dan 2 unit pesawat Y-12F. Ini menandai entri pertama dari pesawat komersial yang diproduksi di dalam negeri ke pasar negara maju. Dilihat dari spesifikasi dan desain, YF-12 mirip dengan pesawat turboprop N-219 Nurtanio produksi PT Dirgantara Indonesia.

Layani Tokyo dan Sekitarnya, Tobu Railway Operasikan Kereta Komuter Bebas Emisi Hitachi Spacia X

Tobu Railway Co. pada 15 Juli 2023 telah memulai pengoperasian kereta komuter Seri N100 Spacia X dari Hitachi Rail yang baru dari Tokyo ke area Nikko dan Kinugawa Onsen di Jepang. Dibandingkan dengan unit Spacia saat ini, model baru ini akan mengurangi emisi CO2 hingga 40 persen dan akan menghasilkan emisi CO2 nol bersih saat menggunakan listrik dari sumber terbarukan sepenuhnya.

Baca juga: Konfigurasi Kursi Tak Lazim di Peron Stasiun Komuter Jepang, Ini Alasannya 

Saat ini, sebanyak 12 gerbong baru yang membentuk dua kereta telah diperkenalkan di jaringan Limited Express Spacia. 12 gerbong lainnya yang membentuk dua kereta lainnya juga akan diluncurkan di masa mendatang.

Kereta Spacia X yang baru telah dirancang sendiri oleh Hitachi dan menampilkan estetika yang menyenangkan seperti anyaman bambu di bingkai jendela. Setiap kereta berkapasitas 212 kursi, dengan format termasuk cockpit suite yang mewah, cockpit lounge, compartment, dan premium seats.

Tobu Railway Co., Ltd. adalah sebuah perusahaan kereta api swasta di Jepang yang mengoperasikan jaringan jalur kereta api di wilayah Tokyo dan sekitarnya. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1897 dan merupakan salah satu operator kereta api swasta tertua di Jepang.

Tobu Railway mengoperasikan jalur kereta api yang menghubungkan Tokyo dengan berbagai tujuan wisata di wilayah Kanto, Jepang. Tobu Railway menyediakan berbagai layanan kereta api, termasuk kereta ekspres, kereta lokal, kereta komuter, dan kereta wisata khusus. Beberapa kereta ekspresnya dilengkapi dengan fasilitas kelas atas seperti tempat duduk yang nyaman dan kabin privat.

Baca juga: Stasiun Komuter di Tokyo Dilengkapi “Ekimatopeia”, Solusi Navigasi Bagi Penumpang Tunarungu

Tobu Railway memiliki banyak tujuan wisata menarik yang dapat dijangkau dengan kereta mereka, termasuk kuil-kuil bersejarah, pemandian onsen, dan tempat-tempat indah di pegunungan. Tobu Railway menjadi pilihan populer bagi para wisatawan dan penduduk setempat untuk mengakses tujuan-tujuan menarik di wilayah Kanto, serta sebagai jalur transportasi yang nyaman untuk berpergian di Tokyo dan sekitarnya.

Namanya Khas Sunda, Inilah Profil Suparna Airlines yang Berbasis Operasi di Shanghai

Nama maskapai yang satu ini terdengar unik, karena menyiratkan sebuah nama khas ‘Sunda.’ Namun, jangan salah, ternyata Suparna Airlines tak ada kaitan dengan unsur ke-Indonesiaan sama sekali. Suparna Airlines ternyata adalah maskapai asal Negeri Panda. Awalnya, Suparna adalah maskapai kargo, yang kemudian bertransformasi dalam pelayanan penerbangan penumpang berjadwal. Dan inilah profil Suparna Airlines, yang menyebutnya seperti tak terasa asing di telinga.

Baca juga: Profil China Airlines, Maskapai Nasional Taiwan yang ‘Alergi’ Pakai Nama ‘China’

Suparna Airlines, sebelumnya dikenal dengan nama Yangtze River Airlines, adalah maskapai penerbangan kargo dan penumpang yang berbasis di Cina. Maskapai ini berpusat di Bandara Internasional Shanghai Pudong.

Maskapai ini didirikan pada tahun 2003 dengan nama Yangtze River Airlines. Pada awalnya, fokus utama maskapai ini adalah mengoperasikan penerbangan kargo. Namun, pada tahun 2017, maskapai ini berganti nama menjadi Suparna Airlines dan mulai memperluas operasionalnya untuk menyediakan penerbangan penumpang juga.

Suparna Airlines mengoperasikan layanan kargo ke berbagai tujuan di Cina dan rute internasional. Maskapai ini mengangkut berbagai jenis kargo, termasuk barang komersial, barang-barang ekspor dan impor, serta kargo khusus seperti hewan hidup dan barang berbahaya.

Dengan label Suparna Airlines, pada 15 Desember 2015, maskapai ini meluncurkan penerbangan penumpang domestik dengan nama yang telah direvisi. Rute awalnya termasuk Bandara Shanghai-Pudong ke Guyang, Sanya dan Zhuhai menggunakan satu Boeing 737-800. Izin juga diberikan untuk penerbangan ke Hong Kong, Makau, dan Taiwan.

Suparna Airlines saat ini mengoperasikan armada pesawat yang terdiri dari pesawat kargo dan pesawat penumpang. Pesawat kargo yang digunakan oleh maskapai ini mencakup pesawat Boeing 747 dan 787, serta pesawat penumpang mencakup pesawat Airbus A320 dan Boeing 737 series.

Suparna adalah sebuah kata dalam bahasa Sanskerta yang memiliki arti “berkaki besar” atau “dengan sayap indah.” Kata ini terdiri dari dua kata dasar: “su,” yang berarti baik atau indah, dan “parna,” yang berarti sayap atau kaki.

Dalam mitologi Hindu, Suparna merujuk pada makhluk legendaris yang sering dikaitkan dengan burung rajawali atau elang. Dalam beberapa teks kuno Hindu seperti Rigveda dan Upanishad, Suparna digambarkan sebagai makhluk surgawi atau dewa dalam bentuk burung elang yang memiliki sayap yang indah.

Kata Suparna juga memiliki makna filosofis dalam ajaran Hindu dan Buddhisme yang seringkali merujuk pada jiwa yang mencari pencerahan atau kebebasan. Makna ini berkaitan dengan gagasan jiwa yang mencari ketinggian spiritual dan kebijaksanaan.

Baca juga: Inilah AirSial, Maskapai Pakistan yang Terinspirasi dari Kota Sialkot

Nama Suparna juga digunakan sebagai nama dalam beberapa budaya dan bisa menjadi nama pribadi atau perusahaan, termasuk dalam konteks maskapai penerbangan “Suparna Airlines”

Tips – Mau Tidur di Pesawat, Jangan Turunkan Tirai Jendelanya!

Sebagai moda transportasi paling modern dan kompleks, pesawat tetaplah punya kelemahannya tersendiri. Bagi Anda yang sering mengudara di economy class, mungkin permasalahan jarak antar bangku yang sempit dan pelayanan seadanya terkadang membuat perjalanan Anda menjadi kurang nyaman – lain cerita dengan Anda yang berkocek tebal dan lebih memilih untuk duduk di business class. Namun terlepas dari konfigurasi bangku dan pelayanan lainnya selama penerbangan, ada satu masalah lagi yang berdampak pada jetlag. Ya, durasi penerbangan dan nuansa di luar jendela.

Baca Juga: Terbang Jarak Jauh? Don’t Worry Ikuti Tips Ini

Tidak bisa dipungkiri, di luar sana ada banyak orang yang seakan berebut kursi paling pojok selama penerbangan mereka. Menikmati pemandangan dari ketinggian merupakan pengalaman luar biasa bagi sebagian orang – walaupun tidak sedikit juga dari para penumpang yang lebih memilih duduk di samping lorong (aisle) untuk mempermudahnya menjangkau toilet. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh seseorang untuk tetap bisa menikmati pemandangan di luar jendela tanpa harus khawatir terserang jetlag?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (27/12/2018), sebenarnya topik pembahasan ini berkaitan dengan tirai jendela di pesawat – dimana Anda harus mengupayakan agar tetap membukanya kendati kondisi di luar sangatlah gelap (terbang malam) atau sebaliknya.

Ketika mengudara di malam hari, sudah barang tentu Anda bisa mengistirahatkan diri dengan beragam ‘tools’ penunjang, seperti neck pillow atau sleep mask. Namun ketika rasa lelah masih menggelayuti mata di pagi atau siang hari, jangan tutup tirai jendela tersebut dan disarankan untuk menggunakan sleep mask.

Baca Juga: Anda Ketinggalan Penerbangan? Jangan Keburu Panik, Ikuti Langkah Ini!

Alasannya sederhana, kita sudah ‘diprogram’ untuk tidur di malam hari dan beraktifitas di siang hari. Jangan sampai pola tersebut berubah hanya karena Anda sedang mengudara. Tirai jendela pesawat yang berbahan solid akan menghambat cahaya untuk masuk ke dalam kabin dan membuat nuansa di dalam gelap (seperti malam hari). Ini berbeda jika Anda menggunakan sleep mask dan Anda masih bisa melihat cahaya matahari dari sela-selanya. Sedikit banyaknya, ini akan mereduksi dampak jetlag di dalam sebuah penerbangan.

Selain itu, dengan tidak menurunkan tirai jendela pesawat, maka akan membantu para awak kabin untuk memantau kondisi di luar semisal terjadi situasi darurat.

Jadi, untuk meningkatkan pengalaman Anda ketika mengudara jarak jauh, jangan turunkan tirai jendela pesawat, ya!