Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

Belum lama ini, seorang penumpang bikin heboh seisi pesawat Wings Air rute Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur (BPN) – Bandara Robert Atty Bessing, di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (LNU), setelah dirinya membuka pintu darurat pesawat.

Baca juga: Kaca di Kokpit Mendadak Pecah, Kopilot Sichuan Airlines Nyaris Terkena Dekompresi

Terlepas dari apapun motifnya, peristiwa tersebut terjadi (pasti) saat pesawat belum berada di ketinggian maksimal. Faktanya memang seperti itu. Dalam kejadian Wings Air dengan nomor penerbangan IW-1478 tersebut, penumpang dengan inisial PMP (30) membuka pintu darurat sesaat sebelum pesawat lepas landas. Lantas, bagaimana bila PMP (bila berandai-andai) kala itu membuka pesawat Wings Air tersebut saat pesawat berada di udara? Jawabannya, menurut ilmu fisika, hal tersebut mustahil terjadi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.com, Kamis, (13/2), sebuah pesawat saat mengudara, pada umumnya berada di ketinggian sekitar 3.600 – 1.0000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Banyak faktor yang mendasari mengapa pesawat berada di ketinggian tersebut, seperti menghindari kawanan burung (jenis tertentu bisa terbang maksimal di ketinggian 4.500 meter) hingga mengejar efisiensi bahan bakar. Pasalnya, semakin tinggi pesawat, semakin rendah tekanan udara di luar sehingga pesawat tak memerlukan tenaga ekstra untuk meluncur di airways.

Terkait konteks membuka pintu darurat atau pintu utama, pada ketinggian tersebut (3.600 – 1.0000 mdpl), pesawat mendapatkan tekanan besar dari luar, sekitar 10,8 ton. Sebaliknya, bila seseorang ingin membuka pintu pesawat saat di udara, baik secara sengaja maupun tidak, orang tersebut harus mempunyai kemampuan untuk mengangkat beban setara 10,8 ton tadi, barulah kemungkinan pintu pesawat dibuka saat di udara menjadi lebih besar.

Akan tetapi, bila pintu pesawat tersebut benar-benar bisa dibuka, maka, sudah pasti, orang yang membuka tersebut akan tertarik dan terlempar keluar dalam hitungan sepersekian detik sejak pintu dibuka. Hal tersebut diakibatkan adanya perbedaan tekanan udara di dalam dan di luar pesawat sehingga menciptakan ruang hampa di antaranya atau biasa disebut dekompresi eksplosif.

Saat hal tersebut terjadi, dekompresi eksplosif akan terus berlangsung dan menyedot apapun dengan kuat dan cepat hingga tekanan udara pesawat dan luar pesawat cocok. Selama masa pencocokan tersebut, secara teori, pesawat masih dapat terus mengudara hingga 15 menit. Selebihnya, pesawat akan kehilangan ketinggian dan menukik tajam dari ketinggian dengan kecepatan hingga 600 kilometer per jam.

Baca juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara

Gambaran seperti itu sebetulnya pernah terjadi di dunia penerbangan komersil, tepatnya pada tahun 1988. Kala itu, maskapai Aloha Airlines yang menggunakan pesawat Boeing 737 N73711 mendarat darurat setelah lepasnya sepertiga atap di bagian belakang kokpit pesawat. Akibatnya, pesawat mengalami dekompresi eksplosif dan membuat pesawat kehilangan gaya angkat.

Di samping itu, dekompresi eksplosif juga membuat seorang pramugari tersedot keluar pesawat dengan cepat dan terlempar entah kemana. Hingga saat ini jasadnya belum juga ditemukan sekalipun diduga kuat berada di lautan Pasifik dekat Hawaii. Adapun penumpang lainnya selamat atau tidak terlempar keluar karena menggunakan safety belt.

Kenapa Ujung Sayap Pesawat Boeing 787 Dreamliner Tidak Menekuk? Ini Jawabannya

Terlepas dari fitur kelenturan sayapnya yang canggih, Boeing 787 Dreamliner memiliki wingtip atau ujung sayap yang tak seperti kebanyakan pesawat modern lain berupa winglet, baik itu winglet bercabang atau split-tip winglet seperti Boeing 737 MAX atau blended winglet seperti Airbus A350. Kenapa demikian?

Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Jawaban atas pertanyaan itu tentu tidak mudah. Tetapi, tidak pula terlalu sulit sehingga tidak bisa dijawab.

Dilansir dari berbagai sumber, Boeing 787 Dreamliner memang memiliki wingtip yang rata. Tetapi, perlu dicatat bahwa sayap pesawat tersebut saat dalam keadaan netral alias tidak terbang lurus tanpa tertekuk. Namun saat di udara, mulai dari nacelle sampai ke wingtip menekuk sampai 10 kaki. Saat cruising di udara, sayap kembali menekuk maksimal sampai 20 kaki dari posisi normal.

Saat dalam keadaan tertekuk 10 – 20 kaki dari posisi normal, sebetulnya, efek putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang dihasilkan Boeing 787 Dreamliner nyaris sama dengan winglet pesawat lain. Bahkan lebih efektif dalam melawan hambatan udara dan membuat kinerja pesawat menjadi lebih ringan dan bahan bakar lebih irit.

Sebagaimana yang umum diketahui, pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrus (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur). Namun, semua gaya untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang akan sia-sia bila tida ada sayap. Sebab, komponen utama pesawat terbang yang menghasilkan gaya angkat adalah sayap.

Prinsip kerja sayap sendiri adalah udara yang mengalir di bawah sayap lebih lambat daripada di bagian atasnya dikarenakan jalur yang dilewati udara di atas sayap lebih jauh, perbedaan kecepatan tersebut menghasilkan perbedaan tekanan yaitu tekanan di bawah sayap lebih tinggi dari pada tekanan di atas sayap, yang mana mengakibatkan pesawat terangkat ke atas.

Tentu saja kita telah sama-sama ketahui bahwa udara mengalir dari tekanan rendah ke tekananan tinggi, misalkan balon yang kita tiup akan menyemburkan udaranya keluar ketika kita lepaskan karena tekanan di dalam balon lebih tinggi dari tekanan luar balon.

Hal tersebut juga terjadi pada perbedaan tekanan antara bagian bawah dan atas sayap, tepatnya terjadi pada ujung sayap. Aliran udara dari bawah ke atas sayap pada ujung sayap menghasilkan aliran udara yang berputar dengan cepat pada ujung sayap yang disebut juga dengan tip vortex. Aliran ini dapat meningkatkan drag pada sayap, menurunkan gaya angkat dan mengganggu aliran udara.

Guna menghindari terjadinya hal tersebut, ujung sayap dibuat berbelok ke atas dan mengecil atau disebut juga dengan winglet.

Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi.

Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa diirit hingga 7 persen, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

Ketika mereka mendesain Boeing 787 Dreamliner, Boeing memunculkan desain ujung sayap yang melengkung. Bentuk ini mirip dengan winglet dan meningkatkan rasio aspek sayap yang bisa menghentikan pusaran di ujung sayap.

Desain ujung sayap yang melengkung juga memungkinkan Boeing 787 Dreamliner menggunakan landasan pacu lebih pendek saat lepas landas. Pesawat ini juga mampu mendaki lebih curam.

Baca juga: Gunakan Scimitar Winglet, Boeing Maksimalkan Efisiensi Bahan Bakar

Sementara ujung sayap standar dapat mengurangi hambatan sebanyak 4,5 persen, desain clean sheet dapat menguranginya hingga 5,5 persen.

Meski peningkatannya cuma satu persen, ujung sayap clean sheet hanya berfungsi maksimal pada pesawat yang besar dan jauh lebih ekonomis pada pesawat yang lebih kecil seperti Boeing 737 atau Airbus A320.

British Airways Luncurkan Seragam Baru untuk Pilot, Awak Kabin, dan Staf Bandara, Terbuat dari Bahan 90% Ramah Lingkungan

Penumpang maskapai plat merah asal Inggris, British Airways (BA) kini dapat mengamati staf maskapai yang berhadapan langsung dengan pelanggan, termasuk awak kabin, pilot, dan tim bandara, dengan mengenakan koleksi seragam baru yang segar dan ikonik.

Baca juga: British Airways Terbitkan Pedoman Bermedia Sosial, Pilot dan Awak Kabin Dilarang Buat Konten Saat Berseragam

Koleksi ini dibuat dengan cermat oleh Ozwald Boateng OBE, seorang perancang busana dan penjahit ulung berkebangsaan Inggris-Ghana, dengan keterlibatan aktif lebih dari 1.500 kolega dari berbagai aspek bisnis. Keterlibatan ini mencakup seluruh proses, meliputi lokakarya desain, penilaian prototipe, dan uji coba pemakai.

Koleksi Boateng memadukan gaya dan fungsionalitas, terdiri dari 96 pakaian berbeda yang mengesankan, menandai pilihan terlengkap yang pernah ditawarkan maskapai ini kepada personelnya.

Untuk awak kabin wanita dan staf bandara, pilihan mencakup seperti gaun, rok, setelan celana panjang, dan, di maskapai penerbangan pertama, jumpsuit yang anggun. Sementara itu, untuk awak kabin pria menampilkan setelan jas tiga potong yang ramping dengan pilihan celana panjang slim atau regular

British Airways telah memproduksi 850.000 item seragam dalam prestasi luar biasa untuk mengakomodasi lebih dari 30.000 karyawannya.

Calum Laming, Chief Customer Officer British Airways, mengungkapkan antusiasmenya terhadap tahap akhir peluncuran seragam baru yang dirancang untuk lebih dari 30.000 rekan kerja. Ia mencatat bahwa koleksi penuh gaya dan kontemporer ini menawarkan lebih banyak pilihan kepada karyawan, memungkinkan mereka mengekspresikan kepribadian unik mereka saat bekerja. Laming menekankan peran penting staf British Airways dalam mewakili merek dan kepedulian terhadap pelanggan, menjadikan peluncuran ini sebagai perayaan dedikasi mereka.

Seragam maskapai penerbangan ini menampilkan bahan dan pola khusus di seluruh ansambelnya. Khususnya, setelan tersebut, yang merupakan komponen utama dari pakaian yang menghadap pelanggan, dibuat dari kain jacquard yang menampilkan penghormatan halus terhadap warisan maskapai penerbangan, dengan pola yang mengingatkan pada merek speed marque yang ikonik.

Selain itu, syal dan dasi menggunakan desain gelombang udara yang terinspirasi oleh aliran udara di atas sayap pesawat, yang berfungsi sebagai elemen khas dari seragam tersebut.

Keberlanjutan telah memainkan peran penting dalam pengembangan seragam baru British Airways, selaras dengan komitmen maskapai ini terhadap “BA Better World.” Lebih dari 90% pakaian dibuat dari bahan ramah lingkungan, termasuk campuran poliester daur ulang.

Baca juga: Keren, Seragam Baru Pramugari EasyJet Dibuat dari Botol Plastik Daur Ulang

Selain itu, kapas yang digunakan dalam seragam baru ini bersumber dari ‘Better Cotton Initiative’, yang merupakan program keberlanjutan kapas terkemuka di dunia. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung komunitas kapas, mempromosikan perlindungan lingkungan, dan mendorong keberlanjutan dalam produksi kapas.

Hari Ini, 92 Tahun Lalu, Penerbangan Non-Stop Trans-Pasifik Pertama di Dunia Terjadi

Pada hari ini, 92 tahun lalu, bertepatan dengan 5 Oktober 1931, penerbangan Trans-Pasifik pertama di dunia terjadi. Ketika itu, Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr. terbang dari Jepang menuju Amerika Serikat (AS). Setelah 41 jam lebih di udara, pesawat yang ditumpangi keduanya mendarat dengan selamat di dekat Wenatchee, Washington, AS.

Baca juga: Terbang Solo Keliling Dunia, Gadis Remaja 19 Tahun Berharap Pecahkan Rekor

Dikutip dari Wired.com, penerbangan Trans-Pasifik ini didasari setidaknya dua hal, bukan semata kecintaan Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr. di dunia dirgantara.

Disebutkan, di awal atau pertengahan tahun 1931, sebuah surat kabar Jepang menjanjikan hadiah sebesar US$25.000 (senilai sekitar US$360.000 jika dihitung hari ini) atau sekitar Rp 5 miliar lebih (kurs 14.267).

Ketika itu, banyak aviator di seluruh dunia yang tertarik memperebutkannya. Tetapi, tak banyak yang sampai menjajal tantangan tersebut. Salah satu yang mencobanya ialah pasangan Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr.

Clyde Pangborn, yang kondang dikenal sebagai instruktur penerbangan AS selama Perang Dunia I, sebetulnya sama sekali tak berniat untuk melakukan penerbangan trans-pasifik pertama. Sebab, itu cukup berisiko. Terlebih, di dekade 20-an, ia sudah nyaman berkarir sebagai motivator dan keliling berbagai negara.

Namun, di penghujung dekade 20-an, terjadi perubahan arah pasar. Alhasil, posisinya sebagai motivator tak lagi menjanjikan. Terlebih, bisnisnya di bidang aviasi juga hancur karenanya.

Sempat bingung menata hidup, ia pun akhirnya bertemu dengan Hugh Herndon Jr, pilot sekaligus seorang pengusaha.

Usai berdiskusi, keduanya memutuskan untuk terbang keliling dunia dan memecahkan rekor keliling dunia yang saat itu dipegang oleh Zeppelin Jerman. Motivasinya dalam memecahkan rekor makin memuncak ketika Wiley Post, pilot pertama yang terbang solo keliling dunia, berhasil menyita perhatian berkat keberhasilannya.

Puncak motiviasi Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr. terbang non-stop keliling dunia terjadi setelah adaya sebuah surat kabar di Jepang yang menjanjikan hadiah besar bagi siapapun yang berhasil terbang melintasi pasifik non-stop. Setelah persiapan selesai, penerbangan pun dimulai.

Pada 4 Oktober waktu Jepang, pesawat Bellanca Skyrocket lepas landas dari Misawa, Utara Tokyo. Pesawat kecil single engine yang banyak dimodifikasi ini dibekali dengan bahan bakar sebanyak 930 galon. Ini diperkirakan cukup andai cuacanya normal. Sebaliknya, bila terjadi cuaca buruk terlampau sering, bahan bakar segitu diperkirakan tak akan cukup.

Untuk itu, keduanya memutuskan melepas landing gear saat dalam perjalanan. Dengan cara ini, pesawat diharapkan lebih ringan, lebih aerodinamis, 15 mil lebih cepat, dan memiliki jangkauan 600 mil lebih jauh dibanding menggunakan landing gear.

Sepanjang perjalanan, memang terdapat beberapa kendala, tetapi itu tak terlalu membuat keduanya kesulitan.

Setelah 40 jam terbang, Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr. berhasil melintasi pantai barat AS. Sampai di sini, mereka sebetulnya sudah berhasil melakukan penerbangan trans-pasifik non-stop pertama di dunia.

Baca juga: Inilah Rutan Model 76 Voyager, Pesawat Pertama yang Keliling Dunia Tanpa Mengisi Bahan Bakar

Tak puas, keduanya memutuskan untuk terus terbang ke arah timur sampai ke negara bagian Idaho. Sayangnya, kabut menghadang dan pesawat dibawa putar balik menuju pantai barat. Setelah berpikir mencari tempat pendaratan belly landing yang pas, diputuskan pesawat mendarat di Wenatchee, Washington.

Tepat pukul 7 pagi pada tanggal 5 Oktober, pesawat yang juga disebut Miss Vendol ini berhasil mendarat dengan selamat dan resmi memecahkan rekor dunia untuk kategori penerbangan trans-pasifik non-stop pertama di dunia.

 

Vietjet Umumkan Lima Rute Baru Penerbangan Internasional, dari Australia Hingga Taiwan

Vietjet, maskapai penerbangan swasta terbesar di Vietnam secara resmi mengumumkan peluncuran 5 layanan penerbangan internasional terbaru dari Vietnam menuju ke Australia, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan, sebagai bagian dari upaya untuk memperluas jaringan globalnya.

Baca juga: Vietjet dan Boeing Sepakati Pengiriman 12 Unit 737 Max Mulai Tahun 2024

Peluncuran lima rute baru ini merupakan bagian dari langkah strategis Vietjet dalam memperluas jaringan global, khususnya pada berbagai destinasi wisata unggulan internasional. Dengan dibukanya kelima rute penerbangan internasional tersebut diharapkan dapat memberikan lebih banyak beragam pilihan destinasi bagi para wisatawan dengan biaya yang lebih terjangkau.

Rute penerbangan Hanoi – Hong Kong akan dibuka pada 22 Desember 2023, dengan frekuensi penerbangan harian. Kini, para wisatawan dari Hong Kong akan dengan mudah terhubung ke berbagai destinasi utama di wilayah Vietnam Utara, Tengah, Selatan, seperti Hanoi, Da Nang, Ho Chi Minh City, dan Phu Quoc.

Phu Quoc, destinasi yang kini semakin populer dalam industri pariwisata Vietnam, juga menyambut kehadiran dua rute terbaru dari Vietjet: Phu Quoc – Busan dan Phu Quoc – Taipei. Vietjet akan mengoperasikan rute Phu Quoc – Busan setiap harinya yang dimulai dari tanggal 10 Desember 2023 mendatang. Sedangkan, untuk layanan penerbangan langsung antara Phu Quoc – Taipei akan tersedia mulai 17 Januari 2024, dengan empat kali penerbangan setiap minggunya, yaitu pada hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.

Baca juga: Vietjet Tawarkan Tiket Mulai Rp900.000 dan Gratis Asurasi Perjalanan untuk Penerbangan dari Indonesia

Dalam langkah terbarunya, Vietjet juga memperluas jaringan penerbangan antara Vietnam dan Australia dengan memperkenalkan dua rute penerbangan baru dari Ho Chi Minh City ke Perth dan Adelaide yang akan beroperasi lima kali setiap minggu mulai 21 November 2023. Penambahan rute–rute baru ini menjadikan Vietjet sebagai maskapai penerbangan pertama dari Vietnam yang terhubung ke lima kota terbesar di Australia, yaitu Melbourne, Sydney, Brisbane, Perth, dan Adelaide.

Sambut MotoGP Mandalika 2023, Garuda Indonesia Group Tambah 6.200 Kursi Penerbangan ke Lombok

Garuda Indonesia bersama anak usahanya Citilink terus mengoptimalkan dukungannya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional khususnya pada sektor pariwisata yang salah satunya dilaksanakan dengan memastikan kesiapan transportasi udara jelang gelaran MotoGP Mandalika 2023 yang akan berlangsung pada tanggal 13-15 Oktober 2023 mendatang.

Baca juga: Pelabuhan Lembar, Pintu Masuk Utama Pelancong di Lombok Barat

Melalui optimalisasi kapasitas produksi dimana pada periode 12-17 Oktober 2023 Garuda Indonesia akan mengoperasikan sedikitnya 3.400 kursi tambahan pada penerbangan Jakarta – Lombok pp dan Citilink akan mengoperasikan sedikitnya 1.440 kursi tambahan pada penerbangan Jakarta – Lombok pp dan 1.360 kursi tambahan untuk penerbangan Denpasar – Lombok pp.

Adapun pengoperasian 6.200 kursi tambahan tersebut salah satunya akan dilaksanakan melalui pengoperasian 41 penerbangan tambahan dimana Garuda Indonesia Group akan menambah 2 penerbangan Jakarta – Lombok – Jakarta dan 4 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Kamis (12/10), 4 penerbangan Jakarta – Lombok- Jakarta dan 5 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Jumat (13/10), 4 penerbangan Jakarta – Lombok – Jakarta dan 5 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Sabtu (14/10), 4 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Minggu (15/10), 6 penerbangan Jakarta – Lombok – Jakarta dan 5 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Senin (16/10) dan 2 penerbangan pada hari Selasa (17/10).

Penerbangan tambahan tersebut sebagian besar akan dilayani menggunakan armada Garuda Indonesia Boeing 737-800 NG yang memiliki kapasitas total 162 penumpang dengan konfigurasi 12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi dan Airbus A330-300 yang memiliki kapasitas sebanyak 286 penumpang dengan konfigurasi 23 kursi pada kelas bisnis dan 263 kursi ekonomi, sementara penerbangan Citilink akan dilayani dengan armada Airbus A320 yang memiliki kapasitas sebanyak 180 penumpang dan ATR 72-600 yang memiliki kapasitas sebanyak 70 penumpang.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyampaikan bahwa upaya optimalisasi kapasitas produksi dalam gelaran internasional kali ini merupakan wujud sinergi seluruh pihak serta menjadi bagian dari Garuda Indonesia Group sebagai maskapai pembawa bendera bangsa untuk turut mendukung kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah untuk kali kedua bagi ajang balap motor internasional ini.

“Kami memahami tingginya animo masyarakat atas gelaran internasional yang dilaksanakan di Indonesia, salah satunya penyelenggaraan MotoGP Mandalika ini. Karena itu, menjadi komitmen kami untuk memastikan kebutuhan akan kemudahan dan kelancaran mobilitas dari dan menuju Lombok dapat terpenuhi secara optimal, sehingga kami berharap langkah yang dilakukan ini secara tidak langsung membawa dampak berkelanjutan untuk kembalinya wisatawan mancanegara menuju Indonesia terutama Lombok yang menjadi satu dari lima Destinasi Pariwisata Prioritas (DPSP),” kata Irfan.

Selain dioperasikannya extra flight selama periode gelaran MotoGP Mandalika, Garuda Indonesia turut menyiapkan 4 (empat) pesawat berbadan lebar menggunakan armada Airbus A330-300 dan A330-900neo yang akan hadir pada Kamis (12/10), Jumat (13/10), Sabtu (14/10), dan Senin (16/10). Dengan berbagai upaya optimalisasi kapasitas produksi tersebut, selama periode 12-17 Oktober 2023 Garuda Indonesia menyiapkan sedikitnya 8.300 kursi penerbangan.

Irfan menambahkan bahwa mengingat tingginya minat masyarakat atas pelaksanaan gelaran tingkat dunia ini, Garuda Indonesia akan terus memantau pergerakan demand penumpang dan menyesuaikan dengan operasional penerbangan untuk memastikan kebutuhan akan aksesibilitas udara yang aman dan nyaman dapat terselenggara dengan optimal.

Baca juga: Lombok Akan Jadi Hub Ke-5 AirAsia di Indonesia

Saat ini Garuda Indonesia melayani penerbangan dari dan menuju Lombok melalui Jakarta yang dilayani 12 kali setiap minggunya dan Citilink melayani penerbangan dari dan menuju Lombok melalui Jakarta yang dilayani 12 kali setiap minggunya, melalui Denpasar yang dilayani 23 kali setiap minggunya dan melalui Surabaya yang dilayani 4 kali setiap minggunya.

Perluas Pasar Dirgantara Indonesia, Boeing Resmikan Kantor Baru di Jakarta

Setelah menunjuk Zaid Alami sebagai Country Managing Director Indonesia pada Desember 2022, Boeing lewat PT Boeing Indonesia, hari ini (4/10/2023) meresmikan kantor barunya yang berlokasi lantai 22 Menara Astra di Jalan Jenderal Sudirman. Sebagai perusahaan papan atas asal Amerika Serikat, peresemian kantor baru Boeing turut dihadiri oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Sung Kim, dan para pejabat terkait dan pimpinan industri aviasi nasional.

Baca juga: Mengapa Pesawat Boeing Selalu Dimulai dan Berakhir dengan Angka 7? Ini Jawabannya

Selain itu, Boeing elah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Indonesia untuk mengeksplorasi inisiatif yang bertujuan memajukan sektor penerbangan Indonesia dengan fokus pada keselamatan penerbangan, efisiensi, dan keberlanjutan.

“Indonesia adalah salah satu pasar penerbangan terbesar di dunia. Nota Kesepahaman dengan Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Indonesia dan peresmian kantor tetap Boeing di Jakarta membuktikan komitmen kami lebih lanjut terhadap Indonesia serta para pelanggan kami, sekaligus membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan di masa depan,” kata Zaid Alami, Country Managing Director, Boeing Indonesia.

Kantor baru Boeing Indonesia menampilkan desain batik tradisional yang digabungkan dengan seni dan gambar produk Boeing. Para karyawan Boeing di Indonesia memiliki pengaruh besar dalam menciptakan lingkungan kerja kolaboratif dan inovatif.

Boeing dan Indonesia sudah bekerja sama selama hampir 75 tahun untuk mendukung pengembangan dirgantara dan kemampuan pertahanan di negara ini melalui pelatihan, pengembangan rantai pasok, dan kerja sama industri.

Baca juga: Daftar Maskapai yang Operasikan Satu Tipe Pesawat Boeing dan Airbus, Ada Maskapai Indonesia

Boeing telah berkontribusi senilai lebih dari US$8,5 juta berupa bantuan sosial dan hibah untuk masyarakat Indonesia, dengan fokus pada keberlanjutan, penyiapan tenaga kerja, kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan usia dini, serta upaya-upaya kemanusiaan.

KAI Services Beri Dukungan Tenaga Kebersihan Kereta Cepat Whoosh

Presiden Joko Widodo meresmikan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh atau Kereta Cepat Whoosh di Stasiun Halim, Jakarta Timur, kemarin. KAI Services ikut memberikan dukungan dengan beroperasinya KCJB Whoosh dengan menyiapkan tenaga petugas cleaning yang bertugas menjaga kebersihan stasiun dan kereta.

Baca juga: Puas Kualitas KCJB Usai Jajal Bareng Luhut, Cina Siap Garap Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Dari sisi kebersihan di stasiun dan di Kereta Cepat Whoosh, KAI Services menyediakan petugas cleaning yang terdiri dari beberapa bagian tugas yakni kebersihan dan keindahan stasiun (K2), dan tenaga cuci kereta (interior) serta on board cleaner (OBC) yang turut menjaga kebersihan selama perjalanan Whoosh.

Semua personil  tersebut ditugaskan di empat stasiun yang dilewati Kereta Cepat Whoosh yakni Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Padalarang, dan Stasiun Tegalluar.

Menurut Vice President Corporate Secretary KAI Services, Rachman Firhan, KAI Services sudah menyiapkan dukungan untuk operasional Kereta Cepat Whoosh dengan menyiapkan petugas kebersihan dan mereka ditempatkan di stasiun-stasiun yang dilalui Kereta Cepat Whoosh.

“Kita sudah siapkan dukungan untuk tenaga petugas cleaning untuk membuat penumpang merasakan kenyamanan dengan stasiun dan kereta yang senantiasa terjaga kebersihannya” ujarnya.

Setiap Stasiun KCJB Whoosh sudah dan akan terintegrasi dengan moda transportasi umum di setiap wilayah. Seperti di Stasiun Halim Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh berkolaborasi dengan LRT Jabodebek agar penumpang dapat melakukan integrasi antar kereta yang dapat memudahkan penumpang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal atau lokasi yang akan dituju.

Tidak hanya di Stasiun Halim, Jakarta, untuk di Stasiun Padalarang, Jawa Barat, KCJB Whoosh, penumpang bisa menaiki KA Feeder yang dipersiapkan untuk menjadi pendukung konektivitas KCJB Whoosh.

Baca juga: Rayakan HUT KAI ke-78, 30 Nomor KA Ikut Program Hidden Culinary KAI Services, Ini Daftarnya

KA Feeder dapat digunakan penumpang dari Stasiun Padalarang menuju Stasiun Bandung. Dalam perjalanan, KA Feeder akan berhenti di Stasiun Cimahi dan perjalanan dari Stasiun Padalarang menuju Stasiun Bandung dapat ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit.

Selain itu, Penumpang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB ) Whoosh juga dapat memilih Commuter Line Bandung Raya, dan Commuter Line Garut yang dapat memudahkan penumpang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Bandung.

Beda dengan Mobil dan Pesawat, Inilah Alasan Mesin Lokomotif Diesel Listrik Tidak Pernah ‘Mati”

Dalam perjalanan menggunakan kereta api, mungkin Anda memperhatikan bahwa mesin pada lokomotif diesel listrik terus menyala, termasuk pada saat pemberhentian di stasiun. Sementara rute kereta termasuk jarak jauh. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, mengapa mesin pada lokomotif terus dalam keadaan aktif dan tidak dimatikan, apakah tidak boros bahan bakar?

Baca juga: Terobos Banjir di Semarang, Inilah Keunggulan Lokomotif DH CC300 Produksi PT INKA

Dari forum quora.com disebut bahwa mesin lokomotif tidak pernah “mati” karena beberapa alasan, yaitu:

1. Keamanan
Lokomotif sering kali harus membawa beban yang sangat berat, dan mati secara tiba-tiba dapat mengakibatkan berhentinya lokomotif, yang dapat menjadi masalah keamanan jika terjadi di daerah berbahaya atau bercuram.

2. Daya Angkat
Mesin lokomotif menggunakan mesin diesel atau listrik yang menghasilkan daya untuk menggerakkan kereta. Mesin ini perlu beroperasi untuk menghasilkan daya angkat yang cukup untuk menggerakkan kereta yang berat.

3. Penyuplai Energi
Mesin diesel lokomotif biasanya juga memasok daya untuk berbagai sistem lain di dalam kereta, seperti sistem pemanas, sistem pendingin, sistem penerangan, dan sistem lainnya. Mematikan mesin akan memutuskan pasokan daya ke sistem-sistem ini.

4. Kontrol
Lokomotif modern sering memiliki mesin yang dirancang untuk beroperasi dalam berbagai kecepatan dan kondisi. Mesin ini dioperasikan oleh awak lokomotif untuk mengontrol kecepatan dan daya, dan mematikannya akan membuat kendali atas lokomotif menjadi lebih sulit.

5. Siklus Operasi
Lokomotif mengikuti siklus operasi yang berbeda dengan mobil atau pesawat. Mereka sering kali beroperasi untuk waktu yang lebih lama dan berjalan dalam perjalanan yang panjang. Mematikan dan menghidupkan mesin dalam perjalanan yang panjang akan kurang efisien dibandingkan dengan menjalankannya secara kontinu.

6. Perawatan
Bahkan ketika lokomotif berhenti atau berhenti untuk perawatan, mesinnya mungkin tetap hidup agar peralatan perawatan seperti kompresor udara tetap beroperasi.

Baca juga: GE CC200, Lokomotif Diesel Elektrik Perdana di Indonesia, Ikut Sukseskan KTT Asia Afrika 1955

Namun, penting untuk dicatat bahwa beberapa lokomotif modern memiliki fitur seperti “idle mode” yang memungkinkan mesin berjalan pada kecepatan rendah saat dalam keadaan diam untuk menghemat bahan bakar dan mengurangi emisi. Selain itu, ada perawatan yang rutin dilakukan pada mesin lokomotif untuk menjaga kinerja dan efisiensinya.

NIS 171 – Konsep Lokomotif Futuristik Hindia Belanda untuk Rute Semarang-Yogyakarta

Masa kolonial Belanda identik dengan masa kejayaan kereta dengan lokomotif uap. Dan dari beragan jenis lokomotif uap yang saat ini kita kenal di berbagai Museum, sejatinya di masa lalu Pemerintah Hinda Belanda pernah mengupayakan hadirnya lokomotif uap futuristik. Disebut futuristik lantaran desainnya tak lazim pada saat itu, lokomotif uap ini mengusung desain yang aerodinamis. Benar-benar beda dengan lokomotif uap konvensional dan lokomotif ini tak sekedar tampil beda, namun dipersiapkan bakal menjadi lokomotif tercepat.

Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo

Yang dimaksud tak lain adalah konsep lokomotif NIS 171. Disebut konsep lantaran desain lokomotif ini belum sampai ke tahap pembuatan prototipe. Mengutip dari mp-produktie.nl, disebutkan rancangan lokomotif dengan livery hijau ini sengaja dipesan oleh perusahaan kereta api Belanda di Indonesia – Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS) Maatschappij pada tahun 1939.

Mengutip dari akun Facebook Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia, dikatakan gagasan yang dimunculkan dari hadirnya lokomotif NIS 171 adalah untuk melayani kereta cepat, yaitu pada rute Semarang – Yogyakarta. Berbeda dengan bentang rel pada kereta saat api saat ini, NIS 171 dirancang mengular pada gauge 1435 mm. Meski tidak dilansir spesifikasi NIS 171, tapi dari keterangan yang ada menyebutkan level kecepatan tinggi di dapatkan lantaran bentuk yang ramping, sehingga akan lebih sedikit mengalami hambatan udara, alhasil secara keseluruhan dapat menghemat energi.

Foto: Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Baca juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

Namun sayang disayang, desain lokomotif rancangan Werkspoor ini hanya mentok sampai pembuatan model saja. Meletuskan Perang Dunua Kedua menjadi alasan tak diteruskannnya proyek NIS 171. Meski begitu, model lokomotif NIS 171 masih dapat Anda lihat di Museum Kereta Api (Spoorwegmuseum) di Utrecht, Belanda. Pasca Perang Dunia Kedua NIS pun kemudian dilikuidasi dan dilebur menjadi Djawatan Kereta Api (DKA).