Perkuat Ambisi Visi 2030, Riyadh Air Tambah Pesanan Enam Unit Airbus A350-1000

Maskapai penerbangan premium asal Arab Saudi, Riyadh Air, resmi memperkuat komitmen armadanya dengan meresmikan pesanan (firm order) tambahan untuk enam unit pesawat Airbus A350-1000. Kesepakatan ini mengerek total komitmen pasti maskapai tersebut untuk tipe A350-1000 menjadi 31 unit.

Pengumuman strategis ini disampaikan di ajang Farnborough International Airshow 2026, Inggris. Penambahan order ini merupakan bagian dari komitmen awal Riyadh Air yang diumumkan pada tahun 2025 lalu untuk memboyong hingga 50 unit armada Airbus A350-1000. Langkah ini sekaligus mengukuhkan posisi Riyadh Air sebagai maskapai pertama di Arab Saudi yang akan mengoperasikan varian terbesar dari keluarga Airbus A350 tersebut.

Chief Financial Officer Riyadh Air, Adam Boukadida, menegaskan bahwa penambahan pesanan ini mencerminkan rasa percaya diri maskapai terhadap rekam jejak pertumbuhan perusahaan serta masa depan sektor penerbangan Arab Saudi.

“Peningkatan komitmen A350-1000 kami menjadi 31 unit ini memperkuat fondasi jaringan masa depan kami. Langkah ini mendukung ambisi kami untuk melayani lebih dari 100 destinasi global pada tahun 2030, sekaligus memberikan pengalaman terbang kelas premium bagi para tamu,” ujar Adam Boukadida.

Ekspansi armada ini berpusat pada dukungan penuh terhadap Visi Arab Saudi 2030 (Kingdom’s Vision 2030), yang bertekad mentransformasi negara tersebut menjadi pusat penerbangan dan logistik internasional utama di kawasan Timur Tengah.

Executive Vice President Sales Commercial Aircraft Airbus, Benoît de Saint-Exupéry, turut menyambut hangat penguatan kemitraan ini. Ia menilai keandalan dan efisiensi A350-1000 akan menjadi pilar utama dalam menyokong rencana pertumbuhan Riyadh Air yang sangat agresif.

“Komitmen tambahan untuk A350-1000 ini mencerminkan kepercayan penuh maskapai terhadap efisiensi, jarak jelajah, dan daya tarik penumpang yang luar biasa dari pesawat ini. Seiring langkah Riyadh Air mematangkan rencana pertumbuhannya, A350-1000 akan memainkan peran vital dalam mendukung sasaran Visi 2030 dan menempatkan Kerajaan Arab Saudi sebagai hub penerbangan internasional terkemuka,” tutur Benoît.

Sebagai pesawat widebody paling modern di dunia saat ini, Airbus A350-1000 dirancang untuk melakukan penerbangan jelajah antarbenua tanpa henti (non-stop) hingga sejauh 9.700 mil laut atau sekitar 18.000 kilometer.

Berbekal aerodinamika mutakhir, penggunaan material ringan berteknologi tinggi, serta sokongan mesin generasi terbaru Rolls-Royce Trent XWB, A350-1000 mampu menghemat konsumsi bahan bakar, biaya operasional, dan emisi karbondioksida ($\text{CO}_2$) hingga 25 persen dibandingkan dengan pesawat kompetitor generasi sebelumnya.

Di sisi interior, para penumpang Riyadh Air nantinya akan dimanjakan oleh kabin khas Airspace milik Airbus, yang menawarkan tingkat kenyamanan tingkat tinggi, ruang yang lebih lega, serta atmosfer penerbangan yang jauh lebih tenang untuk penerbangan jarak jauh.

Hingga akhir Juni 2026, keluarga pesawat Airbus A350 mencatatkan kesuksesan komersial yang luar biasa dengan meraih total 1.595 pesanan pasti (firm orders) dari 68 pelanggan di seluruh dunia, menjadikannya salah satu program pesawat berbadan lebar paling sukses dalam sejarah penerbangan komersial.

Paris AirShow 2025 – Pertama di Arab Saudi, Riyadh Air Order 25 Pesawat Airbus A350-1000

BP Rebana “Jual” Jawa Barat di SIBS 2026, Bandara Kertajati dan Pelabuhan Patimban Jadi Jaminan

Badan Pengelola (BP) Kawasan Cirebon–Patimban–Kertajati (Rebana) menawarkan berbagai peluang investasi strategis kepada investor dan pelaku usaha Selangor, Malaysia, dalam ajang Selangor International Business Summit (SIBS) ASEAN 2026 yang digelar di Kota Bandung.

Kepala Pelaksana BP Rebana, Helmy Yahya, mengatakan kawasan Rebana menjadi salah satu koridor ekonomi paling siap berkembang di Indonesia karena didukung infrastruktur strategis seperti Bandara Internasional Kertajati, Pelabuhan Patimban, serta jaringan jalan tol yang terintegrasi.

Baca juga: Mangkrak dan Senasib dengan Bandara Kertajati, Inilah Sejarah Panjang Bandara JB Soedirman

“Kerjaan saya di Rebana adalah mempromosikan dan mengundang investor. Minat yang muncul luar biasa bagus. Tinggal bagaimana kita menindaklanjuti dengan mempermudah perizinan, mengurangi birokrasi, dan menyiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan,” kata Helmy di Bandung, Sabtu.

Lebih lanjut, Helmy menyebutkan bahwa forum SIBS ASEAN 2026 tersebut menjadi momentum penting untuk mempromosikan potensi investasi Jawa Barat, khususnya kawasan Rebana Metropolitan yang dinilai memiliki prospek besar bagi investor regional.

Rebana Metropolitan mencakup tujuh kabupaten dan satu kota dengan populasi sekitar 10 juta jiwa serta memiliki empat kawasan industri seluas sekitar 43 ribu hektare.

Ia menyebut saat ini tingkat keterisian kawasan industri tersebut masih di bawah 10 persen sehingga peluang investasi masih sangat terbuka.

“Artinya kami masih memiliki potensi investasi yang sangat besar. Investor dapat berinvestasi di berbagai sektor,” ujarnya.

Menurut dia, Jawa Barat juga merupakan tujuan investasi terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 47 juta jiwa dan tenaga kerja mencapai 26 juta orang.

“Pada 2025, nilai ekspor Jawa Barat tercatat mencapai sekitar 38,45 miliar dolar AS. Dengan kerja sama yang lebih kuat, saya yakin angka tersebut dapat meningkat secara signifikan,” katanya.

Sementara itu, Group CEO Menteri Besar Selangor Incorporated, Mej (K) Dato’ Ts. Saipolyazan M Yusop, menegaskan Indonesia merupakan mitra ekonomi strategis Selangor dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi ASEAN.

Menurut dia, potensi kerja sama antara Selangor dan Indonesia mencakup berbagai sektor seperti energi terbarukan, manufaktur maju, industri halal, logistik, ekonomi digital, layanan kesehatan, kedirgantaraan, pendidikan, kota pintar, hingga ketahanan pangan

“Selangor siap menjadi pintu gerbang bagi pelaku usaha Indonesia untuk memasuki pasar Malaysia dan ASEAN,” katanya.

Baca juga: Perkuat Sektor Logistik, ASDP Operasikan KMP Ferrindo 5 Layani Rute LDF Patimban-Panjang

Ia menambahkan Selangor memiliki ekosistem bisnis yang matang dengan dukungan infrastruktur, tenaga kerja terampil, sistem logistik yang kuat, serta lingkungan investasi yang ramah investor.

Melalui SIBS ASEAN 2026, Selangor berharap dapat memperkuat kemitraan bisnis, investasi, dan integrasi ekonomi regional antara Malaysia dan Indonesia, khususnya dengan Jawa Barat dan kawasan Rebana.

Benarkah Pramugari Bisa Terbang Gratis ke Mana Saja Saat Libur? Ini Realitanya

Profesi awak kabin (flight attendant) sering kali dipandang sebagai salah satu pekerjaan paling menggiurkan. Selain kesempatan mengelilingi dunia sambil bekerja, adanya fasilitas penerbangan gratis bagi staf penerbangan (airline staff travel) saat hari libur menjadi salah satu daya tarik utama yang kerap memicu rasa iri masyarakat umum.

Namun, apakah pramugari benar-benar bisa langsung naik pesawat dan terbang gratis ke mana pun yang mereka inginkan begitu masa libur tiba? Jawabannya: bisa, tetapi ada syarat dan mekanisme ketat yang harus dipatuhi.

Dalam industri penerbangan global, fasilitas terbang gratis atau berbiaya sangat murah bagi karyawan maskapai dikenal dengan istilah Non-Revenue Travel atau Standby Travel. Melalui fasilitas ini, awak kabin dan staf maskapai berhak mengisikan nama mereka ke dalam daftar penumpang untuk penerbangan domestik maupun internasional.

Kendati demikian, kunci utama dari fasilitas ini terletak pada kata “Standby”. Awak kabin yang memanfaatkan tiket non-revenue tidak memiliki kepastian kursi seperti halnya penumpang komersial berbayar (paying passengers). Mereka baru akan mendapatkan nomor kursi (boarding pass) jika seluruh penumpang komersial telah naik ke pesawat dan masih terdapat kursi kosong yang tersisa. Jika penerbangan dalam kondisi penuh (full booked), maka awak kabin tersebut terpaksa harus batal terbang atau menunggu jadwal penerbangan berikutnya yang memiliki ketersediaan kursi.

Meskipun sering disebut penerbangan gratis, dalam banyak kasus para awak kabin tetap harus mengeluarkan biaya tertentu. Fasilitas ini biasanya hanya membebaskan tarif dasar tiket (base fare). Untuk penerbangan internasional, staf penerbangan tetap diwajibkan membayar pajak bandara (airport tax), biaya keamanan (security fee), serta pajak imigrasi negara tujuan yang ditagihkan secara langsung oleh otoritas bandara. Kendati harus membayar komponen pajak tersebut, total nominal yang dikeluarkan tetap jauh lebih murah—bahkan bisa menghemat hingga 80–90 persen dibandingkan harga tiket normal.

Apa Saja sih Keuntungan yang Didapatkan oleh Seorang Awak Kabin?

Keuntungan menarik lainnya adalah keberadaan perjanjian Interline ZED (Zonal Employee Discount) antar-maskapai penerbangan. Berkat perjanjian ini, awak kabin dari suatu maskapai dapat membeli tiket standby berbiaya sangat murah untuk terbang menggunakan maskapai mitra lainnya yang tergabung dalam jaringan kerja sama.

Hal ini memungkinkan seorang pramugari untuk berlibur ke destinasi yang bahkan tidak dilayani oleh rute penerbangan maskapai tempatnya bekerja. Terbang dengan status standby membutuhkan kesiapan mental serta fleksibilitas tinggi. Para awak kabin dituntut lihai membaca situasi dan memantau tingkat keterisian pesawat (flight load) jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan.

Di musim liburan (peak season), memanfaatkan fasilitas ini memiliki risiko tinggi terdampar (stranded) di bandara karena hampir seluruh penerbangan komersial terisi penuh. Tak jarang, para pramugari harus menyiapkan rencana cadangan (Plan B hingga Plan C), seperti mengubah rute penerbangan transit demi bisa sampai ke tujuan akhir.

Fasilitas terbang gratis saat hari libur memang benar adanya dan menjadi privilege nyata bagi profesi awak kabin. Namun di balik kemudahan tersebut, ada seni memperhitungkan risiko dan kesabaran ekstra yang harus siap mereka jalani.

‘Jual Beli’ Rute Basah, Inilah Kolusi ala Awak Kabin Maskapai

Cetak Rekor Dunia: Bandara Incheon Tembus 1 Miliar Penumpang dalam Waktu Tercepat

Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan mengukuhkan posisinya sebagai salah satu hub penerbangan paling menonjol di tingkat global. Bandara yang menyabet predikat sebagai bandara terbaik kedua di dunia versi Skytrax World Airport Awards 2026 ini resmi mencatatkan angka akumulasi 1 miliar penumpang dalam kurun waktu tercepat di antara bandara-bandara hub utama dunia.

Pencapaian bersejarah ini diraih Incheon hanya dalam waktu 25 tahun dan 3 bulan sejak pertama kali beroperasi pada Maret 2001. Rekor tersebut mengalahkan deretan bandara global ternama lainnya yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk mencapai milestone 1 miliar penumpang.

Sebagai perbandingan, Bandara Munich di Jerman memerlukan waktu 33 tahun 10 bulan, Bandara Changi Singapura butuh 35 tahun 5 bulan, Bandara Narita Jepang menghabiskan 39 tahun 2 bulan, sementara Bandara Internasional Dubai membutuhkan hingga 58 tahun 2 bulan.

Pengelola Bandara Internasional Incheon (IIAC) mencatat bahwa sejak dibuka 25 tahun lalu, bandara ini rata-rata melayani sekitar 108.000 penumpang per hari, 4.513 penumpang per jam, atau setara dengan 75 penumpang setiap menitnya. Jika dikalkulasikan dengan total populasi dunia, angka 1 miliar penumpang ini setara dengan satu dari delapan penduduk bumi pernah melintasi gerbang udara Korea Selatan tersebut.

Momen penumpang ke-1 miliar jatuh kepada seorang warga negara Jepang bernama Ayaka Hara (28) yang hendak terbang menuju Tokyo menggunakan maskapai Korean Air penerbangan KE713. Pihak IIAC menggelar seremonial khusus di Terminal 2 untuk memberikan penghargaan berupa plakat kenang-kenangan serta tiket pesawat gratis.

Pertumbuhan Incheon terbilang sangat pesat. Bandara ini menembus angka 100 juta penumpang pertama pada 2005 dan melewati 500 juta penumpang pada 2016. Meskipun sempat terdampak oleh pandemi COVID-19, lalu lintas penerbangan di Incheon kembali pulih dengan cepat hingga akhirnya menyentuh rekor 1 miliar.

Ekspansi infrastruktur secara berkesinambungan menjadi kunci utama di balik rekor ini. Melalui rampungnya proyek pengembangan Tahap 4 pada akhir 2024, Bandara Incheon kini memiliki kapasitas layanan hingga 106 juta penumpang per tahun. Kapasitas ini menempatkan Incheon sebagai bandara dengan kapasitas penumpang internasional terbesar ketiga di dunia, tepat di belakang Hong Kong dan Dubai.

Plt Presiden IIAC, Kim Bum-ho, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari dukungan pemerintah, kepercayaan publik, serta kerja keras puluhan ribu staf operasional bandara. Pihaknya berkomitmen untuk terus berinvestasi pada peningkatan fasilitas serta inovasi layanan demi menjaga kenyamanan penumpang dari seluruh belahan dunia.

Pertama di Dunia! Bandara Incheon Luncurkan Layanan Notifikasi Waktu Kedatangan Bagasi Real-Time

Langkah Hijau Kereta Api India: Kereta Penumpang Berbahan Bakar Hidrogen Resmi Beroperasi

India resmi mengoperasikan kereta penumpang berbahan bakar hidrogen buatan dalam negeri (indigenous) pertamanya. Peluncuran ini menjadi tonggak sejarah penting dalam upaya modernisasi jaringan kereta api massal serta pengurangan emisi karbon di sektor transportasi negara tersebut.

Peresmian layanan kereta bersih yang diberi nama “NaMo Green Rail” ini dipimpin langsung oleh Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Stasiun Jind Junction, Negara Bagian Haryana, pada Jumat (17/7/2026). Kehadiran kereta hidrogen ini menjadi bagian dari strategi besar kemandirian teknologi sekaligus transisi menuju energi ramah lingkungan.

Rangkaian kereta hidrogen ini terdiri dari dua driving car bertenaga hidrogen di kedua ujungnya serta delapan kereta penumpang di bagian tengah. Mampu melaju hingga kecepatan maksimum 75 km/jam, satu rangkaian kereta ini dirancang untuk dapat mengangkut sekitar 2.600 penumpang sekaligus.

Pada tahap awal, kereta ini difungsikan untuk melayani rute jarak pendek hingga menengah. Operasional perintis ini difokuskan untuk menguji keandalan teknologi propulsi hidrogen di jalur-jalur kereta api yang saat ini belum memiliki jaringan elektrifikasi penuh.

Selain armada kereta, proyek pilot ini juga dilengkapi dengan infrastruktur khusus produksi hidrogen, fasilitas penyimpanan, hingga stasiun pengisian bahan bakar (refuelling station). Hal ini memungkinkan tim insinyur mengevaluasi tingkat keamanan, efisiensi, dan performa operasional kereta secara langsung di lapangan.

Secara teknis, teknologi sel bahan bakar hidrogen (hydrogen fuel cell) bekerja dengan mereduksi hidrogen dan oksigen melalui reaksi kimia untuk menghasilkan energi listrik. Hasil sampingan dari proses ini murni berupa uap air dan panas, tanpa menghasilkan gas buang berbahaya.

Karakteristik ini menjadikan kereta hidrogen sebagai solusi paling potensial untuk menggantikan armada kereta bermesin diesel yang masih banyak beroperasi di rute-rute pelosok.

Pengoperasian kereta hidrogen pertama ini merupakan bagian dari National Hydrogen Mission yang dicanangkan India untuk menjadikan negara tersebut sebagai salah satu hub global produksi dan penggunaan hidrogen hijau. Langkah ini sejalan dengan komitmen iklim India untuk mencapai target net-zero emission pada tahun 2070 mendatang.

Bus Listrik Dianggap Bukan Solusi Terbaik untuk India, Ini Sebabnya!

Peron 6, 7, dan 8 Stasiun Bogor Beres, Kini Giliran Peron 4 dan 5 yang Ditutup, Ini Alasannya

Perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) saat datang dan berangkat di Stasiun Bogor sudah kembali normal. Khususnya untuk jalur 6, 7, dan 8 yang sebelumnya tahap pembangunan perpanjangan peron pun sudah rampung dan bisa dilayani KRL. Rangkaian KRL yang memiliki 12 kereta pun sudah bisa digunakan pada peron tersebut. Namun, setelah rampungnya perbaikan peron, kini penumpang kembali di imbau oleh petugas, bahwa untuk peron 4 dan 5 Stasiun Bogor tidak bisa digunakan. Kira-kira kenapa, ya?

Dalam upaya berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa transportasi kereta api, KAI Group melakukan pengerjaan fisik pembangunan kanopi peron (overcapping) di Jalur 4 dan Jalur 5 Stasiun Bogor. VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda menjelaskan, ini merupakan lanjutan dari pengembangan infrastruktur perkeretaapian di Stasiun Bogor setelah sebelumnya dilakukan perpanjangan peron Jalur 6, 7, dan 8.

Ia menambahkan, selama pekerjaan ini berlangsung, KAI akan melakukan rekayasa layanan naik-turun pengguna Commuter Line di Stasiun Bogor yang dimulai pada Sabtu 18 Juli 2026. Tentunya, selama proses pekerjaan berlangsung mulai hari ini, layanan naik dan turun pengguna Commuter Line akan difokuskan di Jalur 2, 3, 6, 7, dan 8 Stasiun Bogor.

KAI Commuter memastikan seluruh tahapan pembangunan dilakukan dengan pengawasan ketat dan mengedepankan aspek keselamatan bagi pekerja maupun pengguna jasa yang beraktivitas di Stasiun Bogor. Pembangunan kanopi peron tersebut diharapkan dapat meningkatkan keselamatan sekaligus kenyamanan pengguna transportasi kereta api dalam jangka panjang.

Saat rampungnya peron 6, 7, dan 8 lintas Bogor kini sudah bisa dilayani lima rangkaian kereta seri terbaru CLI-125 dan CLI-225 yang telah menggunakan formasi SF12. Selain itu, masih dioperasikan pula rangkaian kombinasi SF10 dan SF8. Dari data KAI Commuter, sebanyak 328 perjalanan berakhir di Stasiun Bogor, dengan keberangkatan pertama pukul 04.03 WIB dan kedatangan terakhir pukul 01.15 WIB pada hari berikutnya.

Stasiun Bogor mencatat 18.451.462 pergerakan penumpang sepanjang Januari hingga Juni 2026. Jumlah tersebut terdiri atas 9.371.057 penumpang naik dan 9.080.405 penumpang turun, dengan rata-rata 101.942 pergerakan penumpang setiap hari. Sedangkan olume pengguna Commuter Line di lintas Bogor mencapai 78.077.679 penumpang atau rata-rata 431.368 penumpang per hari, menjadikannya lintas dengan jumlah pengguna terbanyak di wilayah Jabodetabek.

Terkait penutupan peron 4 dan 5, KAI Commuter memohon maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul selama proses pembangunan ini. Kami mengimbau para pengguna untuk senantiasa memperhatikan petunjuk arah serta instruksi petugas di lapangan demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Akses Keluar Stasiun Bogor Kini Ada Dua Pintu

28 September Stasiun Karet dan BNI City Terhubung, Ini Kesiapan KAI

Pengguna Commuter Line khususnya Kereta Rel Listrik (KRL) nantinya akan merasakan perubahan untuk naik dan turun khususnya pada jalur yang terhubung antara Stasiun Sudirman sampai dengan Stasiun Karet. Pasalnya stasiun ini akan dilakukan penggabungan bagi penumpang KRL yang biasa menggunakan di stasiun ini. Ya, Stasiun Karet dan BNI City digadang-gadang akan terhubung agar penumpang terintegrasi dengan layanan KRL.

PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) menargetkan integrasi Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City dapat beroperasi mulai 28 September 2026. Integrasi itu disiapkan sebagai bagian dari peningkatan layanan KRL Jabodetabek melalui penataan alur pelanggan, penguatan keselamatan operasi, serta pembenahan akses di kawasan sekitar stasiun.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan rencana tersebut disiapkan dengan prinsip kehati-hatian. Pasalnya Stasiun Karet telah menjadi bagian dari aktivitas harian banyak pelanggan dan masyarakat sekitar. Dari hal tersebut tentunya KAI juga memahami bahwa kawasan ini hidup bersama aktivitas masyarakat mulai dari pejalan kaki, pengantar dan penjemput, ojek pangkalan, ojek daring, hingga pelaku usaha sekitar. Karena itu, penataannya harus dilakukan dengan baik, bertahap dan tetap mendengar masukan.

Dalam rencana integrasi tersebut, area Stasiun Karet akan diarahkan menjadi concourse atau ruang penghubung menuju Stasiun BNI City. KAI juga menyiapkan fasilitas travelator berpendingin udara agar perpindahan pelanggan menuju BNI City dapat dilakukan lebih nyaman. Aktivitas gate-in dan gate-out pelanggan nantinya dipusatkan di Stasiun BNI City, sementara kawasan Karet tetap disiapkan sebagai akses pendukung yang tertata.

Pembahasan terkait integrasi kedua stasiun yang hanya berjarak sekitar 150 meter itu telah rampung pekan lalu. Adapun pekerjaan konstruksi tahap akhir ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan. Menurutnya, konsep tersebut juga dirancang untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di sekitar Stasiun Karet. Nantinya, kendaraan angkutan daring dapat masuk ke area selasar sehingga tidak lagi berhenti di badan jalan.

Selain itu, Bobby mengatakan pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang menghubungkan kawasan seberang Hotel Shangri-La dengan Stasiun BNI City masih diproses Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kehadiran JPO tersebut diharapkan mempermudah akses masyarakat menuju stasiun tanpa harus memutar. Diketahui bahwa Jarak Stasiun Karet dan BNI City dinilai terlalu berdekatan, sementara Stasiun Karet hanya mampu melayani rangkaian KRL dengan panjang maksimal 10 kereta (SF10).

Berdasarkan data KAI, kawasan Karet dan BNI City merupakan salah satu titik layanan dengan aktivitas penumpang yang besar. Sepanjang Semester I-2026, Stasiun Karet mencatat 7.257.442 aktivitas gate in dan gate out penumpang, sedangkan Stasiun BNI City atau Sudirman Baru mencatat 2.688.254 aktivitas gate in dan gate out penumpang.

Peran BNI City atau Sudirman Baru semakin penting karena stasiun ini menjadi salah satu titik layanan Commuter Line Basoetta. Pada Semester I-2026, Commuter Line Basoetta melayani 1.197.413 penumpang atau naik 12,71% dibandingkan Semester I-2025 sebanyak 1.062.415 penumpang. Dengan fungsi tersebut, integrasi Stasiun Karet dengan BNI City disiapkan untuk memperkuat alur pelanggan di kawasan yang melayani perjalanan komuter, perpindahan antarmoda, serta akses menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Okupansi Minim dan Terlalu Dekat dengan Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang Nonaktif Secara Permanen

Canggih! Argentina Punya Kereta Bertenaga Surya, Ajak Wisatawan Jelajahi Jalur Bersejarah

Sebagai ciri khas dan keunggulan kereta api adalah mampu membawa rangkaian kereta dengan muatan yang lebih besar. Bahkan dengan muatan banyak tersebut, harus membutuhkan lebih dari satu lokomotif penarik supaya perjalanan tetap lancar. Bahkan tak hanya itu, di berbagai negara memiliki peran unik dalam menjalankan transportasi kereta api. Selain menggunakan bahan bakar maupun tenaga listrik bahkan ada pula yang menggunakan magnet, namun ada salah satu keunikan lainnya yaitu menggunakan tenaga surya.

Ya, kali ini kabarpenumpang akan mengajak dan menjelajahi ke negara Argentina. Negara tersebut tengah menjadi sorotan media dunia tentang uniknya transportasi kereta yang sedang di operasikan. Pasalnya pertama kali dalam sejarah, Argentina kini memiliki kereta tenaga surya pertama yang memberikan pengalaman berwisata bernama Quebrada Solar Train.

Menariknya, dalam satu rangkaian hanya memiliki dua unit kereta yang menjadi satu-satunya dijadikan kereta wisata di kawasan tersebut. Ya, kereta mulai beroperasi pada Juni 2024 itu berada di provinsi Jujuy Argentina Bagian Utara. Kereta wisata ini melintasi jalur lembah bersejarah yang berusia lebih dari 10.000 tahun.

Bentuk keretanya yang ramping serta memiliki dinding kaca transparan, membuat penumpang yang melihat dapat merasakan keheningan lembah kuno Quebrada de Humahuaca yang berada di pegunungan Andes. Kawasan ini juga telah menjadi jalur perdagangan, migrasi dan peradaban sejak sekitar 9.000 SM. Selama ribuan tahun, jalur ini biasanya dilalui oleh pemburu, pengepul hingga pedagang suku asli.

Jalur kereta sepanjang 42 kilometer di Provinsi Jujuy ini menghidupkan kembali rute rel bersejarah abad ke-19 yang sempat mati suri. Melintasi jalur yang juga merupakan bagian dari Qhapaq Nan jaringan jalan raya raksasa warisan Kekaisaran Inca kereta ini menghubungkan lima desa adat yang sarat akan sejarah, seperti Volcan, Tumbaya, Purmamarca, Maimara, dan Tilcara.

Sepanjang perjalanan, kereta ini hanya melaju dengan kecepatan santai 33 km/jam. Perjalanan ini memberikan ruang bagi para penumpang untuk merasakan keindahan alam dan budaya Andean yang masih hidup di sepanjang rute. Selain itu, perjalanan kereta ini juga berhenti di Hornillos, bekas tempat persinggahan para pelancong yang kini difungsikan sebagai museum.

Wisatawan dapat memilih dua paket perjalanan yakni paket 180 derajat dimulai dari Purmamarca dengan durasi sekitar 2,5 jam, kemudian paket 360 derajat berangkat dari Volcan yang berlangsung selama 10 jam perjalanan. Menariknya, Quebrada Solar Train ini menawarkan perjalanan menikmati lanskap Pegunungan Andes, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Tidak hanya menikmati berbagai tempat wisata menarik selama perjalanan menggunakan kereta ini, pengunjung juga bisa menikmati tempat kuliner tradisional Andes yakni Maimara. Maimara merupakan salah satu pasar tradisional yang berada di kawasan pertanian dengan kebun anggur, kebun buah, terasering kuno yang telah dibudidayakan selama seribu tahun lamanya. Wisatawan juga bisa mencicipi kuliner khas seperti empanada isi quinoa dan quinoa dan keju kambing, humita serta tamales. Hidangan berbahan jagung ini juga sudah menjadi budaya masyarakat Andes selama ribuan tahun.

Kereta tanpa emisi ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal melalui pelestarian situs-situs arkeologi di sepanjang lembah. Ditambah dengan cuaca Argentina yang cerah tentu dapat mendukung kereta bertenaga surya ini bisa melaju dengan baik tanpa suara dan menciptakan pengalaman perjalanan yang tenang dan menyenangkan. Tertarik mencoba?

Mengenal E927: JR East Perkenalkan Desain Kereta Inspeksi Shinkansen Generasi Terbaru

Cukup dengan Melihat, Penumpang KA Kini Bisa Tahu Informasi yang Ditampilkan di Layar Digital

Menggunakan kereta api saat di perjalanan tak hanya menikmati pelayanan yang disuguhkan untuk penumpang, namun fasilitas yang diberikan bahkan untuk membantu dan memudahkan penumpang kereta api selama di perjalanan khususnya kereta api jarak jauh. Diketahui bahwa berbagai macam fasilitas yang diberikan salah satunya pada kereta jenis Stainless Steel New Generation (SSNG) telah memberikan manfaat berupa informasi yang lengkap.

Ya, informasi tersebut terdapat pada layar digital yang berada di ujung depan maupun belakang kereta dekat dengan pintu bordes. Tentunya keberadaan layar digital di dalam kereta tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi penumpang. Nah, layar tersebut menampilkan berbagai informasi perjalanan yang terus diperbarui selama kereta beroperasi.

Layar digital itu disebut sebagai Passenger Information Display System (PIDS). Fasilitas ini membantu penumpang mengetahui informasi perjalanan secara lebih praktis tanpa harus bertanya kepada petugas. Mari kita gali bersama tentang apa itu PIDS dan fungsinya?

Menurut informasi dari laman resmi PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI), Passenger Information Display System (PIDS) merupakan sistem informasi digital yang terpasang di dalam rangkaian Stainless Steel New Generation. Sistem ini dirancang untuk menyampaikan informasi perjalanan secara cepat dan diperbarui secara otomatis selama perjalanan berlangsung.

Tentunya dengan adanya PIDS, penumpang dapat memantau perkembangan perjalanan secara langsung melalui layar di dalam gerbong. Informasi yang ditampilkan mencakup posisi perjalanan, tujuan, hingga berbagai informasi pendukung yang berkaitan dengan kenyamanan dan keselamatan penumpang. Tapi kira-kira informasi apa saja, ya yang ditampilkan?

Layar PIDS menyajikan berbagai informasi yang dibutuhkan penumpang selama perjalanan, seperti:
• Letak kursi pelanggan
• Visualisasi area dilarang merokok
• Indikator toilet
• Estimated Time Arrival (ETA) atau perkiraan waktu tiba
• Stasiun yang sedang dilalui
• Stasiun pemberhentian berikutnya
• Suhu kabin
• Jam dan tanggal terkini
• Nama, kelas, dan urutan kereta api
• Nama dan nomor kondektur yang berdinas
• Visualisasi rute atau lini masa perjalanan kereta

Seluruh informasi tersebut akan berubah secara otomatis sesuai posisi kereta sehingga penumpang dapat mengetahui perkembangan perjalanan secara real time. Dengan demikian, penumpang dapat lebih mudah memahami tata letak fasilitas tanpa harus mencari informasi secara manual.

Keberadaan PIDS tentu saja menjadi salah satu fasilitas yang membantu penumpang memperoleh informasi perjalanan secara lebih mudah. Mulai dari posisi kereta, estimasi waktu tiba, suhu kabin, hingga informasi petugas dapat dipantau melalui satu sistem layar digital yang tersedia di dalam kereta.

Melalui inovasi tersebut, KAI terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan layanan transportasi yang semakin modern, aman, serta berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Kehadiran layar digital PIDS menjadi salah satu bukti bahwa pemanfaatan teknologi mampu memberikan pengalaman perjalanan kereta api yang lebih informatif, praktis, dan efisien bagi seluruh penumpang.

Cara Laporan ke Petugas Setelah Temukan Barang Tertinggal di Kereta

Dukung Kelestarian Batik Nusantara, KAI Wisata Hadirkan Lelana Gallery di Stasiun Yogyakarta

Sebagai salah satu bentuk dukungan bagi kelestarian batik nusantara dan para pengrajin batik, PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) menghadirkan Lelana Gallery di Stasiun Yogyakarta. Lelana Gallery hadir sebagai galeri showcase yang mengkurasi brand lokal yang tidak hanya menawarkan produk dengan desain berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki komitmen sustainability yang kuat bagi keberlanjutan sosial, budaya, dan lingkungan.

Lelana Gallery bisa dinikmati di Showcase Gallery dan Executive Lounge Stasiun Yogyakarta. Kehadiran galeri ini memperkuat posisi Stasiun Yogyakarta sebagai salah satu simpul strategis KAI Wisata yang memadukan fungsi transportasi, hospitality, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Direktur Utama KAI Wisata, Raden Agus Dwinanto Budiadji dalam soft launching di Stasiun Yogyakarta, Kamis (16/7) mengatakan, “Lelana Gallery ini hadir sebagai komitmen KAI Wisata dalam mendukung UMKM lokal dan pelestarian warisan budaya Nusantara. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya KAI Wisata untuk memperkaya pilihan bagi penumpang KAI selama ada di stasiun sebagai ruang publik yang bernilai edukatif dan berdampak positif bagi ekosistem kreatif nasional.”

Raden Agus Dwinanto Budiadji menambahkan, Lelana Gallery ini menghubungkan pariwisata dengan keberlanjutan. Setiap brand yang dikurasi tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa nilai dan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Pada tahap awal, Lelana Gallery menghadirkan tiga brand pilihan yang saling melengkapi:

* Galeri Batik Jawa – Mengangkat keindahan batik dengan pewarna alami yang ramah lingkungan. Brand ini membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dengan cara yang lebih bertanggung jawab terhadap alam, sekaligus membuka peluang bagi para perajin batik tradisional untuk terus berkarya.

* Lawe Indonesia – Memberdayakan ribuan perajin tenun di berbagai daerah Nusantara sekaligus melestarikan tradisi tenun. Setiap helai kain yang dipamerkan membawa cerita panjang dari daerah asalnya, merepresentasikan kekayaan motif dan filosofi lokal yang patut dijaga dan diperkenalkan kepada generasi mendatang.

* The Mogus by Mang Moel – Konsisten mengusung kampanye preservasi lingkungan melalui karya dan praktik kreatifnya. Brand ini menghadirkan pendekatan kreatif yang menempatkan isu lingkungan sebagai inti dari setiap produk, sehingga setiap pembelian menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian alam.

Kurasi ketiga brand ini mencerminkan tiga pilar utama Lelana Gallery, yaitu pelestarian budaya, pemberdayaan komunitas, dan tanggung jawab lingkungan. Melalui pendekatan kuratorial yang ketat, KAI Wisata memastikan setiap brand yang hadir benar-benar membawa nilai tambah yang sejalan dengan visi keberlanjutan perusahaan.

Lelana Gallery di Stasiun Yogyakarta diharapkan menjadi destinasi baru yang tidak hanya memberikan pengalaman berbelanja produk lokal berkualitas, tetapi juga mendukung perjalanan wisata yang lebih bermakna dan berkelanjutan. Kehadirannya juga diharapkan mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengenal lebih dalam kekayaan kreativitas Indonesia melalui produk-produk yang lahir dari komunitas dan tradisi lokal.

“Kami ingin penumpang yang datang ke Stasiun Yogyakarta tidak hanya berangkat atau tiba, tetapi juga meiliki pilihan yang kaya untuk dapat membawa pulang cerita dan produk yang memiliki nilai budaya dan keberlanjutan,” tambah Raden Agus Dwinanto Budiadji.

Soft launch Lelana Gallery juga merupakan upaya KAI Wisata dalam mengoptimalkan aset stasiun menjadi living museum dan lifestyle destination yang mendukung ekonomi kreatif Indonesia. Ke depan, model kurasi serupa diharapkan dapat dikembangkan di stasiun-stasiun strategis lainnya, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak pelaku ekonomi kreatif serta masyarakat luas.

Stasiun Garut Rencana Hadirkan Museum Mini untuk Wisatawan, Ini Penjelasan KAI Wisata