HK Tram Green, Ikon Hong Kong yang Diakui Dunia

Trem di Hong Kong merupakan moda transportasi yang ikonik. Karena hal itu, sebagai penghormatan kepada moda transportasi ini, Pantone Color Institute menamainya sebagai HK Tram Green karena memiliki warna hijau tua. Menurut Pantone, warna ini dicirikan sebagai hijau berumput dalam yang hidup dan hijau untuk merayakan signifikan sejarah serta budaya trem yang stastusnya sebagai landmark ikonik dan diakui secara global.

Baca juga: Seperti Trem Menghantam Trotoar, Inilah Pintu Masuk Stasiun Kereta Bawah Tanah Bockenheimer Warte

Ternyata trem bersejarah ini sering disebut sebagai “ding ding” oleh penduduk setempat karena bunyi loncengnya sejak mulai dioperasikan pada tahun 1904 oleh Hong Kong Tramways. Saat ini, trem tidak hanya dinilai sebagai moda transportasi umum kota yang paling ekonomis dan ramah lingkungan, tetapi juga sebagai pengalaman budaya unik yang memungkinkan kaum urban untuk memperlambat dan menemukan kembali keindahan rumah kita.

“HK Tram Green menampilkan landmark seluler pertama yang terkenal secara global ini [trem Hong Kong] sebagai moda transportasi yang menyenangkan yang kemampuannya untuk menyatukan semua orang menumbuhkan rasa terhubung dengan orang lain dan menciptakan perasaan ramah komunitas, ” kata Laurie Pressman, wakil presiden, Pantone Color Institute yang dikutip KabarPenumpang.com dari hk.asiatatler.com.

Pressman mengatakan, warna hijau yang unik ini akan dimasukkan ke dalam koleksi enam warna yang dipilih secara khusus dari sistem warna pantone. Dia menyebutkan, bahwa pihaknya menghargai kesempatan untuk bekerja dengan HK Tramways untuk menciptakan warna yang dapat menunjukkan signifikansi sejarah dan budaya HK Tram di Hong Kong.

“Saya harap Pantone Color yang baru ini dapat membawa kegembiraan dan inspirasi bagi semua orang di kota ini. Kami ingin mengirimkan pesan bahwa dukungan Anda kepada kami sangat berarti untuk membuat kota ini bangga,” kata Cyril Aubin, Managing Director HKT.

Untuk merayakan pengumuman warna Pantone baru, Hong Kong Tramways akan berkolaborasi dengan Pengecer Rumah dan Gaya Hidup ISSHO46 untuk meluncurkan “Koleksi HK” baru yang menampilkan serangkaian barang gaya hidup yang terinspirasi dari berbagai elemen kota, termasuk trem Hong Kong, landmark dan ikon budaya lokal.

Baca juga: Ding Ding Tram, Moda Transportasi Tertua Sekaligus Termurah di Hong Kong

Terlebih lagi, Hong Kong Tramways akan merayakan hari jadinya yang ke 117 dengan acara pop-up dan hadiah akhir bulan ini. Rincian lebih lanjut akan segera diumumkan di saluran media sosial resminya, termasuk Facebook dan Instagram.

Pesawat N219 Amphibi – Simbol Optimisme Kemandirian Dirgantara dan Pertahanan Indonesia

Keberadaan Indonesia sebagai negara kepulauan membuat Indonesia membutuhkan inovasi lebih dalam bidang transportasi, khususnya untuk daerah terpencil yang sulit dijangkau oleh transportasi darat. Salah satu yang dilakukan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai industri kedirgantaraan satu-satunya di Asia Tenggara adalah inovasi pengembangan pesawat N219 menjadi versi amphibi.

Baca juga: Hadirkan N219 Virtual Reality (VR), PT DI Targetkan Kontrak Lebih Tinggi N219 di Singapore Airshow 2024

Indonesia sebagai negara poros maritim dunia dengan 60% wilayahnya adalah perairan tentunya memiliki potensi besar untuk mengembangkan konsep wisata perairan menggunakan pesawat amphibi, yang dalam implementasinya moda transportasi alternatif ini dipercaya mampu mengakomodir kebutuhan konektivitas di lokasi destinasi wisata prioritas dan dapat menjadi angkutan logistik pendukung ekonomi kerakyatan di wilayah sekitar.

PTDI saat ini sedang menapaki babak baru untuk menjawab kebutuhan pesawat amphibi di Indonesia. Pesawat N219 yang dikembangkan menjadi varian amphibi akan dilengkapi dengan komponen float atau pengapung dari bahan komposit sebagai pengganti roda untuk pendaratan di perairan terbuka, dimana PTDI telah berdedikasi dan berkomitmen penuh dalam riset dan pengembangan pesawat N219 amphibi dengan penyertaan man hours, pemanfaatan fasilitas produksi, hingga sejumlah tes di laboraturium.

Pengembangan pesawat N219 menjadi versi amphibi juga merupakan salah satu upaya PTDI dalam menciptakan dampak pertumbuhan/spin over terhadap ekosistem industri dalam negeri, termasuk industri di daerah, salah satunya dalam hal pengembangan produksi floater di dalam negeri berikut pengoperasiannya, serta kegiatan pemeliharaan pesawat/maintenance. Menjadi perhatian khusus bagi PTDI untuk terus mengamati pertumbuhan berbagai teknologi baru di dunia aviasi, yang kelak akan berguna untuk ekosistem kedirgantaraan Indonesia dan tidak tertinggal dari para pesaing di ranah teknologi aviasi.

Adapun program pengembangan pesawat N219 amphibi merupakan bagian dari inisiatif utama Kementerian PPN RI/Bappenas dan menjadi salah satu flagship Transformasi Ekonomi Indonesia melalui strategi pembangunan industri dalam negeri. Dengan dukungan dari Kementerian PPN RI/Bappenas, program pengembangan N219 amphibi juga didorong untuk menjadi simbol pembangunan kemandirian industri pertahanan yang sejalan dengan prioritas nasional bidang pertahanan dalam RPJMN 2020-2024.

Peningkatan Kapabilitas Pertahanan dengan Pesawat N219 Amphibi
Dalam pengembangannya, pesawat N219 versi basic akan ditingkatkan performanya, untuk Maximum Take Off Weight (MTOW) dari yang sebelumnya 6.700 kg akan ditingkatkan menjadi 7.030 kg dan untuk payload dari yang sebelumnya 1.550 kg menjadi 1.900 kg, dimana penambahan floater dengan berat ± 600 kg kemudian akan menyisakan kekuatan pesawat untuk mengangkut beban hingga 1.300 kg atau setara dengan beban 17 penumpang.

Dalam pengembangan floater berbahan komposit, PTDI bekerja sama dengan AEROCET dan MOMENTUM, perusahaan pembuat Pesawat amphibi berbasis di Amerika, yang ditargetkan mendapatkan sertifikasi standar internasional dari The Federal Aviation Administration (FAA) di tahun 2026, sehingga nantinya pesawat N219 amphibi  tersebut juga dapat dikomersialisasikan secara global. Untuk pesawat N219 amphibi  sendiri ditargetkan melakukan terbang perdana di tahun 2026 dan mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Kelaikudaraan & Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan RI di tahun 2027.

Pesawat N219 amphibi dirancang untuk mencapai kemampuan kecepatan hingga 296 km/jam pada ketinggian operasional  10.000 kaki dan kemampuan jarak tempuh hingga 231 km, serta perhitungan take off  pada jarak 1.400 m di perairan dan landing pada jarak 760 m. Berdasarkan spesifikasi kemampuan tersebut, pesawat N219 amphibi sangat cocok melayani kebutuhan wilayah kepulauan yang hanya sekedar membutuhkan water-based port, terutama untuk mendukung operasi militer di wilayah terpencil dan perbatasan yang merupakan wilayah strategis untuk menjaga kedaulatan negara.

Visi Jangka Panjang Untuk Pertahanan dan Ekonomi
Selain menargetkan Pemerintah Daerah dan Perusahaan swasta untuk melayani layanan mobilitas wilayah kepulauan, Kementerian Pertahanan RI juga membutuhkan pesawat jenis ini untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI. Pesawat N219 amphibi dapat dimanfaatkan untuk berbagai sektor, utamanya di sektor pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, oil & gas company, layanan kesehatan masyarakat, SAR & penanggulangan bencana dan pengawasan wilayah maritim.

Investasi dalam pengembangan pesawat N219 amphibi merupakan bagian dari visi jangka panjang Pemerintah Indonesia untuk memperkuat pertahanan dan ekonomi. Dengan meningkatkan kemampuan transportasi dan logistik melalui pesawat ini, Indonesia dapat memperkuat posisi strategisnya sebagai poros maritim dunia dan memastikan kedaulatan, serta keamanan wilayahnya secara berkelanjutan.

PT DI dan Bappenas Optimalkan Pesawat N219 untuk Pariwisata Bali

A340-500 Pensiun, Kini Rute Jarak Jauh Non-stop Singapore Airlines ke AS Gunakan A350-900ULR

Sebagai maskapai papan atas, Singapore Airlines menjadi yang paling terdepan dalam peremajaan armada. Seperti untuk melayani rute penerbangan non-stop prestisius antara Singapura – Newark, New Jersey (Bandara Internasional Newark Liberty), Singapore Airlines telah mengganti jenis pesawatnya, dari yang awalnya menggunakan Airbus A340-500 kini menggunakan Airbus A350-900ULR (Ultra Long Range).

Baca juga: Hari ini 20 Tahun Lalu, A340-500 Singapore Airlines Lakukan Penerbangan Non-stop Jarak Jauh Pertama 16.600 Km!

Singapore Airlines menggantikan A340-500 dengan Airbus A350-900ULR (Ultra Long Range) untuk melayani rute jarak jauh mereka, termasuk penerbangan non-stop dari Singapura ke Newark. Resminya, Pada tahun 2013, Singapore Airlines menghentikan penerbangan non-stop jarak jauh menggunakan A340-500 dan memensiunkan seluruh pesawat A340-500 dari armada mereka.

Airbus A350-900ULR sekarang digunakan untuk penerbangan non-stop seperti Singapura ke Newark dan Singapura ke Los Angeles, melanjutkan tradisi penerbangan jarak jauh yang dimulai dengan A340-500. A350-900ULR memiliki efisiensi bahan bakar yang lebih tinggi dibandingkan dengan A340-500, memungkinkan penerbangan jarak jauh dengan biaya operasional yang lebih rendah.

A350-900ULR dapat menampung lebih banyak penumpang dengan konfigurasi kabin yang lebih nyaman, termasuk kursi yang dapat direbahkan sepenuhnya di kelas bisnis. A350-900ULR dilengkapi dengan teknologi terbaru dalam hal avionik, struktur pesawat, dan kenyamanan kabin, memberikan pengalaman terbang yang lebih baik bagi penumpang.

Dengan dua mesin jet, A350-900ULR dirancang khusus untuk penerbangan jarak jauh dengan jangkauan hingga 9.700 mil laut (18.000 km).

Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop

Sin

Hari ini 20 Tahun Lalu, A340-500 Singapore Airlines Lakukan Penerbangan Non-stop Jarak Jauh Pertama 16.600 Km!

Tepat hari ini, 20 tahun lalu, untuk pertama kalinya dilakukan penerbangan langsung jarak jauh pertama yang menempuh jarak 10.335 mil (16.600 kilometer). Adalah Singapore Airlines saat itu meluncurkan penerbangan penumpang non-stop pertama yang melampaui 10.000 mil pada 28-29 Juni 2004.

Baca juga: Operasi Intelijen, Airbus A340 Tujuan Filipina Justru Didaratkan di Iran dengan Mematikan Transponder

Penerbangan tersebut menggunakan pesawat wide body Airbus A340-500 yang melayani rute antara Singapura (Bandara Changi) dan Newark, New Jersey (Bandara Internasional Newark Liberty). Penerbangan memakan waktu sekitar 18 1/2 jam, menjadikannya salah satu penerbangan komersial terpanjang di dunia pada saat itu.

Airbus A340-500 dirancang untuk penerbangan jarak jauh dengan kapasitas sekitar 181 penumpang dalam konfigurasi dua kelas (bisnis dan ekonomi kelas premium). Airbus A340-500 dikenal dengan kemampuan terbang jarak jauh tanpa pengisian bahan bakar. Singapore Airlines menawarkan berbagai fasilitas premium untuk kenyamanan penumpang, termasuk kursi yang dapat direbahkan sepenuhnya di kelas bisnis, hiburan dalam pesawat yang ekstensif, dan layanan makanan berkualitas tinggi.

Karena durasi penerbangan yang panjang, maskapai menyediakan layanan khusus untuk kesehatan dan kebugaran penumpang, termasuk panduan peregangan dan latihan ringan yang bisa dilakukan di kursi.

Penerbangan ini mencatat rekor baru dalam industri penerbangan komersial sebagai penerbangan penumpang non-stop terpanjang pada saat itu. Penerbangan non-stop jarak jauh ini sangat menguntungkan bagi pelancong bisnis, mengurangi waktu perjalanan total dan meningkatkan efisiensi perjalanan antara dua pusat bisnis utama di dunia.

Seiring berjalannya waktu, pesawat Airbus A340-500 kemudian digantikan oleh model pesawat yang lebih baru dan efisien, seperti Airbus A350-900ULR (Ultra Long Range), yang memungkinkan penerbangan yang lebih jauh dan lebih hemat bahan bakar.

Gegara Hal Ini, Pesawat Airbus A340 Lufthansa Terpaksa Terbang “Flight to Nowhere”

Biaya Pengajuan Visa Setiap Negara Kerap Berbeda Jauh, Ini Sebabnya!

Biaya pengajuan visa setiap negara umumnya berbeda, bahkan tidak jarang ada perbedaan biaya yang begitu tajam. Sebut saja biaya pengajuan visa perorangan untuk one trip ke Korea Selatan yang dikisaran Rp800.000, sementara biaya visa perorangan Schengen ke Perancis mencapai Rp1,5 jutaan. Lebih unik lagi, ke Rusia biayanya US$100 dan harus dibayar tunai dalam dollar.

Baca juga: Sebaiknya Anda Tahu, Tujuh Negara ini Dikenal Paling Sulit Mengeluarkan Visa untuk Pelancong

Nah, biaya pengajuan visa bisa berbeda-beda antar negara karena berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan kebijakan imigrasi. Dari laman quora.com, berikut adalah beberapa faktor utama yang menyebabkan perbedaan biaya pengajuan visa:

1. Kebijakan Imigrasi dan Keamanan
Negara yang memiliki prosedur pemeriksaan keamanan lebih ketat dan kompleks biasanya mengenakan biaya yang lebih tinggi untuk menutupi biaya administrasi dan operasional terkait, dan negara yang menghadapi risiko keamanan lebih tinggi mungkin mengenakan biaya lebih tinggi untuk mengelola dan mengurangi risiko tersebut.

2. Jenis Visa
Biaya visa bervariasi tergantung pada jenis visa yang diajukan, seperti visa turis, visa kerja, visa pelajar, atau visa tinggal sementara/permanen. Visa yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam atau lebih banyak administrasi cenderung lebih mahal.

Visa dengan durasi yang lebih lama atau yang memungkinkan banyak kali masuk (multiple entry) biasanya lebih mahal daripada visa dengan durasi lebih pendek atau yang hanya mengizinkan satu kali masuk (single entry).

3. Proses dan Layanan
Biaya pengolahan aplikasi visa, termasuk biaya administrasi, pemeriksaan dokumen, dan pemrosesan biometrik, dapat mempengaruhi biaya visa. Kemudian layanan tambahan seperti pemrosesan visa ekspres atau layanan premium juga dapat meningkatkan biaya visa.

4. Perjanjian Bilateral dan Timbal Balik
Beberapa negara menetapkan biaya visa berdasarkan prinsip timbal balik, yang berarti biaya visa untuk warga negara lain akan sama dengan biaya yang dikenakan oleh negara tersebut untuk warga negara asal. Negara-negara dengan hubungan diplomatik yang kuat atau perjanjian khusus mungkin memiliki biaya visa yang lebih rendah atau bahkan bebas visa.

5. Ekonomi dan Pendapatan
Negara dengan pendapatan yang lebih rendah mungkin mengenakan biaya visa yang lebih tinggi untuk menghasilkan pendapatan tambahan bagi negara tersebut. Biaya hidup dan biaya layanan di negara tersebut juga dapat mempengaruhi biaya visa. Negara dengan biaya hidup yang lebih tinggi mungkin mengenakan biaya yang lebih tinggi untuk layanan visa.

6. Faktor Demografis dan Sosial
Tingginya permintaan visa dari warga negara tertentu dapat mempengaruhi biaya. Negara yang menerima banyak aplikasi visa mungkin menetapkan biaya yang lebih tinggi untuk mengelola volume permintaan tersebut.

Negara dengan kebijakan imigrasi yang lebih terbuka mungkin menetapkan biaya yang lebih rendah untuk menarik lebih banyak wisatawan, pelajar, atau pekerja. Sebaliknya, negara dengan kebijakan imigrasi yang lebih ketat mungkin menetapkan biaya yang lebih tinggi.

Sebaiknya Anda Tahu, 10 Negara ini Jarang Tolak Pengajuan Visa Schengen

Lakukan Penyesuaian Jadwal Pemulangan Jemaah Haji, Ini Penjelasan Garuda Indonesia

Sehubungan dengan beredarnya kabar penyesuaian jadwal dan slot 46 kloter penerbangan pemulangan Jemaah Haji asal Indonesia yang disebabkan oleh keterbatasan slot di bandara Arab Saudi, Garuda Indonesia menyebut akan terus meningkatkan koordinasi intensif bersama berbagai stakeholder penerbangan Haji khususnya otoritas Bandara Arab Saudi dan Kementerian Agama.

Baca juga: Bukan ‘On Time Performance’, Garuda Indonesia Intensifkan Mitigasi Keterlambatan Penerbangan Haji

Adapun komitmen tersebut turut diselaraskan dengan upaya untuk mengoptimalkan mitigasi termasuk penyediaan kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku kepada seluruh Jemaah yang terdampak atas penyesuaian jadwal penerbangan pemulangan Jemaah ke Tanah Air dengan fokus utama untuk mengedepankan kenyamanan para Jemaah.

“Dapat kami sampaikan bahwa pada tahun ini Garuda Indonesia menerbangkan lebih dari 109.156 jemaah, dimana untuk menerbangkan para Jemaah tersebut termasuk untuk memulangkan para Jemaah ke Tanah Air diperlukan sekitar 586 kloter penerbangan,” ujar Irfan Setiaputra, Direktur Utama Garuda Indonesia dalam siaran pers (27/6/2024).

Irfan mengatakan bahwa penerbangan haji merupakan operasional penerbangan yang kompleks, karena itu Garuda Indonesia telah melaksanakan koordinasi bersama stakeholders pelaksanaan haji jauh-jauh hari, dimana pada melalui koordinasi tersebut, otoritas bandara menyampaikan bahwa terdapat 68 slot penerbangan tidak dapat dipenuhi sesuai permintaan Garuda Indonesia mengingat adanya perubahan kebijakan pengaturan slot di bandara Arab Saudi.

Berkenan dengan perubahan tersebut, Garuda Indonesia yang juga didukung oleh Kementerian Agama terus melaksanakan negosiasi bersama pihak GACA dan hingga kini terdapat penyesuaian jumlah slot yang harus disesuaikan turun menjadi sekitar 46 dari 68 slot penerbangan sebelumnya.

Terkait dengan dampak dari penyesuaian jadwal tersebut Garuda Indonesia memastikan bertanggung jawab dengan menyiapkan fasilitas tambahan berupa akomodasi, meals dan transportasi yang seluruh biayanya akan ditanggung oleh Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia terus melaksanakan diskusi dan komunikasi dengan stakeholders penerbangan Haji termasuk Kementerian Agama dan GACA untuk memastikan kelancaran operasional penerbangan pemulangan Jemaah Haji ke Tanah Air hingga 21 Juli 2024 mendatang.

Angkut Jamaah Haji, Boeing 747-400 Garuda Indonesia GA-1105 Return to Base di Makassar

Malaysia Lebih Banyak Dapatkan Akses ‘Free Visa’ Ketimbang Indonesia, Ini Kemungkinan Penyebabnya

Ketimbang Indonesia, pemegang paspor Malaysia lebih banyak mendapatkan akses free visa ke banyak negara tujuan wisata. Sebut saja warga Malaysia mendapatkan akses free visa untuk mengunjungi Swiss dan Kroasia, masing-masing untuk short periode maksimum 90 hari. Sebaliknya, warga Indonesia tidak mendapatkan akses free visa untuk mengunjungi kedua negara Eropa tersebut, tentu menjadi pertanyaan, mengapa ada perlakuan yang berbeda untuk Indonesia?

Baca juga: Setelah Kroasia, Kini Kosovo Bergabung di Zona Schengen Bebas Visa Eropa

Dikutip dari Quora.com, beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa suatu negara dapat memperoleh lebih banyak akses bebas visa ke negara lain dibandingkan negara lain, seperti Malaysia yang memiliki akses bebas visa lebih banyak dibandingkan Indonesia, antara lain:

1. Hubungan Diplomatik
Negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik yang kuat dan perjanjian bilateral dengan banyak negara lain cenderung mendapatkan lebih banyak akses bebas visa. Malaysia mungkin memiliki lebih banyak atau lebih baik perjanjian diplomatik dengan negara-negara lain dibandingkan Indonesia.Keanggotaan dalam organisasi internasional seperti ASEAN, PBB, atau perjanjian perdagangan bebas dapat meningkatkan kesempatan mendapatkan akses bebas visa.

2. Keamanan dan Stabilitas
Negara-negara yang dianggap lebih stabil dan aman secara politik dan ekonomi sering kali diberi akses bebas visa lebih banyak karena dianggap berisiko lebih rendah dalam hal imigrasi ilegal atau masalah keamanan. Pengenalan paspor biometrik dan standar keamanan yang tinggi dalam dokumen perjalanan dapat meningkatkan kepercayaan negara lain dan memberikan akses bebas visa lebih banyak.

3. Ekonomi
Negara dengan ekonomi yang kuat dan berkembang cenderung mendapatkan lebih banyak akses bebas visa karena warga negaranya dianggap sebagai wisatawan yang menguntungkan dan berisiko rendah untuk menetap secara ilegal. Negara yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pariwisata dan investasi di negara lain mungkin mendapatkan perlakuan lebih baik dalam hal akses visa.

4. Kualitas Paspor
Paspor dari negara-negara yang lebih kuat atau lebih dihormati secara internasional biasanya memberikan akses bebas visa lebih banyak. Hal ini mencakup persepsi tentang kemampuan pemerintah untuk menangani kejahatan dan imigrasi ilegal.

5. Kebijakan Imigrasi dan Hubungan Masyarakat
Negara yang memiliki kebijakan imigrasi yang lebih ramah dan lebih mudah sering mendapatkan timbal balik dalam bentuk akses bebas visa. Warga negara yang memiliki reputasi baik di luar negeri dalam hal menghormati hukum imigrasi dan perilaku yang baik juga dapat mempengaruhi keputusan negara lain untuk memberikan akses bebas visa.

6. Regional Influence
Negara yang memiliki pengaruh regional yang kuat mungkin memiliki akses bebas visa lebih banyak karena negara lain di kawasan tersebut mungkin lebih cenderung membuka perbatasan mereka untuk memperkuat hubungan regional.

[Update Terbaru] 39 Negara ini Bebas Visa Bagi Pemegang Paspor Indonesia

Malaysia vs. Indonesia
Malaysia mungkin memiliki posisi geopolitik yang dianggap lebih strategis oleh beberapa negara, dan ini dapat mempengaruhi keputusan untuk memberikan akses bebas visa. Malaysia mungkin memiliki lebih banyak perjanjian bilateral yang efektif atau kebijakan luar negeri yang lebih agresif dalam negosiasi akses bebas visa.

Perbedaan dalam jumlah akses bebas visa yang diperoleh oleh masing-masing negara mencerminkan kombinasi kompleks dari faktor-faktor ini dan tidak selalu menunjukkan perbedaan dalam kualitas atau reputasi satu negara dibandingkan dengan yang lain.

Flight 139 – Ketika Pesawat Air France Dibajak Pejuang Palestina dan Teroris Jerman, Penumpang Yahudi Dibantai

Pada hari ini, 48 tahun yang lalu, bertepatan dengan 27 Juni 1976, pesawat Airbus A300B4-203 Air France dengan nomor penerbangan 139 (flight 139) dibajak oleh empat teroris; dua pejuang Palestina dan dua Fraksi Tentara Merah (geng Bader-Meinhof) Jerman. Pesawat saat itu sedang dalam perjalanan menuju Paris, Perancis dari Tel Aviv, Israel, transit di Athena, Yunani, yang menjadi lokasi pembajakan.

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel

Dilansir sahistory.org, setelah dibajak, teroris minta pesawat diarahkan ke Benghazi, Libya. Namun, terjadi penolakan di darat. Setelah sekitar enam jam setengah, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Entebbe, Uganda, atas restu dari Presiden Uganda saat itu, Idi Amin, yang pro Arab dan pro pejuang Palestina. Tak hanya itu, ia juga menempatkan puluhan tentaranya di bandara.

Usai mendarat di Bandara Entebbe, para pembajak hanya menyandera 105 penumpang Yahudi dan Israel serta membebaskan penumpang lainnya non-Yahudi. Mereka menuntut agar Israel membebaskan 53 tawanan Palestina yang dipenjara dan sebagai gantinya 100 sandera Yahudi akan dibebaskan.

Namun, hal itu ditolak oleh Pemerintah Israel yang ketika itu dipimpin oleh Perdana Menteri Yitzhak Rabin. Justru sebaliknya, ia memerintahkan untuk dilakukan Operasi Entebbe yang dipimpin oleh adik dari pemimpin oposisi Israel Benjamin Netanyahu, Yonatan “Yoni” Netanyahu.

Pada tanggal 4 Juli, sekitar 200 pasukan khusus tentara Israel diterjunkan di Bandara Entebbe dari empat pesawat Hercules C-130 setelah menempuh perjalanan jauh sekitar 4.000 km. Tak sampai 90 menit, mulai dari pesawat mendarat sampai lepas landas dari bandara tersebut, operasi kilat dilangsungkan.

Semua pembajak yang berjumlah tujuh orang dan 48 tentara Uganda tewas ditangan pasukan khusus Israel. Namun, itu semua harus dibayar mahal dengan tewasnya tiga sandera dan satu komandan pasukan Israel, Yonatan “Yoni” Netanyahu.

Yoni tewas di tangan tentara Uganda yang bersembunyi di atas menara dan dengan leluasa menembaknya dari belakang hingga tewas. Adapun 102 sandera berhasil kembali ke keluarga masing-masing dengan selamat.

Aksi penyelamatan Yoni dan Operasi Entebbe secara keseluruhan pun diabadaikan lewat sebuah film berjudul 7 Days In Entebbe.

Atas dedikasi dan aksi heroiknya menyelamatkan ratusan sandera Yahudi, Yoni terus mendapat pujian sampai saat ini. Terkahir, pujian terlontar dari lisan Presiden Isreal saat ini, Isaac Herzog, yang menyebutnya sebagai “pahlawan nasional dan alkitabiah.”

Baca juga: Hari Ini, 52 Tahun Lalu, Pesawat Japan Airlines Flight 351 Dibajak Tentara Merah Jepang ‘Yodo Nine’

Sejak saat itu sampai saat ini, di tanggal tersebut selalu dilakukan upacara peringatan secara nasional. Pada tahun 2021, peringatan Operasi Entebbe juga dibarengi dengan pembukaan Pusat Studi Yahudi di Uganda yang didedikasikan untuk Yoni.

Selain sebagai wadah pengenalan Israel dan Yahudi, Pusat Studi Yahudi itu juga difungsikan sebagai Sinagog dan pusat komunitas Yahudi di Uganda.

PBB Beri Peringatan Keras Ke Korea Utara atas Jamming GPS di dekat Bandara Incheon

Otoritas penerbangan PBB (UN aviation authority) telah mengirimkan peringatan kepada Korea Utara atas gangguan sinyal GPS di dekat perbatasan antar-Korea tahun ini, setelah Seoul menuduh pemerintah Korea Utara membahayakan ratusan pesawat sipil. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO) minggu lalu mengeluarkan resolusi yang mengutuk gangguan (jamming) GPS oleh Korea Utara antara tanggal 29 Mei dan 2 Juni 2024.

Baca juga: Otoritas Penerbangan Sipil Perancis Tuduh Rusia Ganggu Sistem Navigasi Berbasis Satelit

Dikutip NK News yang merujuk siaran pers Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, menyebut bahwa “Ini menandai pertama kalinya ICAO secara eksplisit mengidentifikasi Korea Utara sebagai pelaku gangguan sinyal GPS,” kata kementerian tersebut, seraya mencatat bahwa ICAO sebelumnya menangani gangguan tersebut pada tahun 2012 dan 2016, namun tidak secara eksplisit menyebutkan nama Korea Utara pada saat itu.

Berdasarkan resolusi tersebut, ICAO setuju untuk memberi tahu Pyongyang tentang keputusannya yang mendesak dilakukannya tindakan untuk mencegah terulangnya kembali kasus tersebut. Korea Utara memblokir sinyal GPS di dekat perbatasan maritim antar-Korea di Laut Kuning selama beberapa hari sejak akhir Mei.

Bandara terbesar Korea Selatan, Bandara Internasional Incheon, terletak tidak jauh dari perbatasan yang berada ddi sebuah pulau di Laut Kuning, dan siaran pers kementerian luar negeri menyatakan bahwa gangguan sinyal yang dilakukan Korea Utara mempengaruhi 500 pesawat sipil dari 20 negara.

Pensiunan pilot komersial dan konsultan penerbangan Ed Condit mengatakan kepada NK News bahwa gangguan GPS tidak hanya mempengaruhi navigasi pesawat, tetapi juga dapat menyebabkan masalah bagi pilot yang menerbangkan pesawat di sekitar Semenanjung Korea.

Jika pesawat tidak memiliki sistem navigasi alternatif, gangguan yang disebabkan oleh sinyal GPS dapat menjadi hal yang kritis ketika beroperasi di dekat wilayah udara sensitif, seperti wilayah udara yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara.

Dalam kasus seperti ini, kru yang menggunakan GPS akan terpaksa “meninggalkan pendekatan mereka atau mengalihkan perhatian jika pilihan non-GPS tidak tersedia,” katanya. Namun, sebagian besar pesawat modern memiliki sistem navigasi alternatif, kata pakar tersebut, meskipun sistem tersebut “kurang tepat.”

Ketika pesawat mengalami kesulitan akibat gangguan jamming oleh Korea Utara, Condit mengatakan menara pengawas lalu lintas udara di Bandara Incheon kemungkinan akan “segera mengidentifikasi pesawat mana pun yang keluar jalur.”

Dalam kasus seperti ini, awak pesawat harus “memberi tahu pengawas lalu lintas udara mengenai masalah ini dan melaporkan bahwa mereka sedang melakukan navigasi cadangan.” Pasukan AS dan Korea Selatan mengadakan latihan operasi ruang angkasa gabungan pada bulan April di mana mereka berlatih untuk melakukan serangan sebagai respons terhadap serangan gangguan GPS Korea Utara.

Waspada Spoofing GPS di Sekitar Teheran, Jalur Favorit Penerbangan Internasional di Timur Tengah

Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote

Salah satu aktivitas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) berada di menara untuk fungsi Aerodrome Control Tower. Dari ketinggian menara, sang pengatur lalu lintas udara dapat melihat secara langsung pergerakan pesawat 360 derajat, mulai dari apron sampai landas pacu (runway).

Baca juga: Begini Cara ATC Atur Kedatangan dan Keberangkatan Pesawat di Bandara

Di tangan petugas inilah suatu pesawat bisa mendapat izin terbang “Clear for take-off” dan mendarat “Clear to land.” Dengan identifikasi visual yang tepat, petugas harus menguasai semua tipe dan ukuran pesawat.

Karena bekerja dengan basis kemampuan pengamatan visual, mendorong pengembangan fungsi Aerodome Control Tower untuk digeser menjadi bentuk pengamatan secara digital lewat remote system. Adalah Saab AB dari Swedia, manukfaktur yang kondang sebagai pemasok sistem senjata mutakhir ini merilis solusi yang diberi label Digital Air Traffic Solutions. Lewat solusi ini indra penglihatan sang pengatur lalu lintas ‘diperpanjang’ dengan perangkat kamera yang terpasang pada tower. Dengan teknologi ini, maka tidak ada lagi aktivitas petugas ATC yang mengawasi seluruh pergerakan di sekitaran bandara dari atas menara. Petugas pengatur lalu lintas pun tak harus berada dekat atau di dalam area bandara.

Alur sistem kerja remote ATC. Foto: Saab
Alur sistem kerja remote ATC. Foto: Saab

Untuk mewujudkan solusi tersebut, Saab tentu tak sendiri, manufaktur yang terkenal sebagai pembuat jet tempur Gripen ini bekerjasama dengan penyedia layanan udara Swedia (LFV) untuk memasang menara digital di bandara Örnsköldsvik di utara Swedia. Tak itu saja, Saab juga bekerjasama dengan NATS sebagai penyedia teknologi ATC di Swanwick Control Centre, Inggris untuk menjajal perangkat ATC digital ini di beberapa bandara kecil.

Digital Air Traffic Solutions menyuguhkan layar 360 derajat kepada petugas pengatur lalu lintas, prinsipnya mirip sebuah simulator. Dengan kamera bersolusi tinggi yang terpasang di bandara, petugas dipastikan akan mendapatkan kualitas visual gambar video real time. Dengan basis kamera canggih, petugas malah dapat mendeteksi keberadaan benda-benda yang mencurigakan di area lintasan pesawat, termasuk ketajaman visual pada malam hari. Bila ada obyek yang kurang jelas dilihat, petugas pun tinggal melakukan digital zooming.

Teknologi ini digadang ongkos investasi yang amat murah. Sebab, operator bandara tidak perlu lagi membangun sebuah menara pengawas khusus. Bila suatu waktu ada pengembangan area di bandara, maka penyedia layanan tinggal menambah menara pengawas di lokasi yang ditentukan. Melihat alur operasi dari Digital Air Traffic Solutions, rasanya solusi ini sangat ideal untuk diimplementasi di Indonesia.

Mengenal ACARS, Sistem Komunikasi yang Hubungkan Antara Pesawat, ATC dan Pusat Kendali Maskapai