Yuk Kenali, Rambu-rambu Kereta Api yang Sering Kita Lihat Saat Diperjalanan

Selain rambu lalu lintas jalan raya, ternyata kereta api juga memiliki rambu-rambunya tersendiri. Rambu-rambu atau istilah marka yang dimiliki kereta api ini biasa disebut juga dengan semboyan. Nah, saat diperjalanan tentunya kita pernah jumpai sekilas rambu/marka kereta api, kira-kira apa arti dan fungsinya ya? Kabarpenumpang akan merangkumnya berikut ini:

• Marka Bertuliskan S35
Papan rambu bertuliskan S35 sangat sering dijumpai berada di pinggir rel kereta api. Papan ini biasanya ditempatkan pada jalur menikung, saat hendak memasuki terowongan, sebelum melewati jembatan dan perlintasan, dan didaerah keramaian masyarakat yang menyeberang rel. Saat masinis melihat rambu ini, tugasnya harus membunyikan klakson di lokomotif. Fungsinya untuk memperingatkan bahwa kereta api akan lewat. Dahulu papan rambu S.35 ini ditulis lengkap dengan kata “Semboyan 35”, bahkan tiang rambu tersebut menggunakan rel bekas dan papannya dari bantalan rel bekas pula.

• Batas Berhenti Kereta
Marka batas berhenti kereta api adalah semboyan 10G yang menunjukkan batas berhenti kereta api di stasiun. Pada papan marka semboyan 10G ini memiliki gambar berupa tanda plus (+) berwarna putih dengan warna dasar hitam. Marka ini biasanya di tempatkan dibagian ujung peron stasiun dekat dengan sinyal kereta api. Setiap masinis harus memposisikan keretanya mendekati marka tersebut. Ini berguna agar bagian belakang kereta tetap aman saat berhenti atau tidak bersinggungan dengan kereta api yang datang dari arah yang berlawanan.

• Papan Semboyan 8
Semboyan Kereta Api yang berupa dua papan putih yang diletakkan sejajar di sebelah kanan rel dengan jarak di antara dua papan sejauh 30 meter. Semboyan ini berarti jarak kereta api dengan sinyal masuk stasiun di depan tinggal 1000 meter, masinis harus bersiap untuk mengikat rem bila sinyal di depan menandakan bahaya. Jika kita melihat papan tersebut, pastinya kereta api akan memasuki stasiun. Biasanya papan Semboyan 8 ini dibuat memanjang hingga menyentuh tanah dan diposisikan dekat sambungan rel. Jadi saat masinis melewati Semboyan 8 otomatis suara yang dihasilkan memantul keras agar masinis terdengar keras pantulan suara tersebut. Namun kini papan tersebut dibuat tidak menyentuh tanah dan terlihat lebih rapi.

• Rambu Kelandaian Jalan Rel
Rambu ini biasa berbentuk papan penunjuk arah bila jalan rel kereta api menanjak ataupun menurun. Bentuknya berupa plat besi ukuran persegi panjang bercat hitam dan putih yang dipasang dengan tiang besi di pinggir kanan jalan rel. Rambu kelandaian ini seringkali dijumpai saat diperjalanan baik pada jalur kereta api mendatar maupun di daerah pegunungan. Ada beberapa petunjuk dari rambu kelandaian ini, yaitu dari datar ke menanjak, dari datar ke menuru, dari menurun ke mendatar, menanjak terus, dan menurun terus.

• Rambu Batas Kecepatan
Rambu ini memberi tanda bahwa kecepatan kereta api harus sesuai dengan rambu yang terlihat oleh masinis. Rambu atau tanda ini berupa angka yang berarti batas kecepatan yang diijinkan. Nah, rambu ini disebut Semboyan 2. Biasanya pada Semboyan 2 berupa angka yang ditulis dalam bentuk satuan yakni angka 1 sampai 10, bahkan terkadang ada yang tertulis menggunakan tanda koma, misalnya 1,5. Nah, angka tersebut merupakan kecepatan maksimal kereta api yang berarti angka 1 artinya 10 km/jam, sampai dengan 10 yang berarti 100 km/jam. Untuk kecepatan tertinggi biasanya sudah bisa mencapai maksimal 120 km/jam khususnya untuk jalur dengan kontur tanah mendatar dan maksimal 70 km/jam untuk jalur dengan kontur menanjak dan turunan bahkan tikungan.

• Rambu Batas Kecepatan Darurat
Rambu yang satu ini merupakan rambu batas kecepatan yang dipasang pada saat keadaan darurat. Biasanya saat terjadi pasca bencana maupun jalur sedang dalam perbaikan. Rambu ini dinamakan Semboyan 2A dan 2B. Semboyan 2A adalah semboyan sementara yang berupa satu bendera hijau atau satu rambu berbentuk bulat yang berwarna hijau yang mengisyaratkan bahwa jalur kereta api yang akan dilewati berstatus kurang aman, kereta api yang melewatinya harus berhati-hati dengan pembatasan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam. Sementara Semboyan 2B, mengisyaratkan bahwa kereta api harus berjalan dengan kecepatan terbatas dan hati-hati.

Semboyan 2B adalah semboyan sementara yang berupa dua bendera hijau atau dua rambu berbentuk bulat yang berwarna hijau, atau petugas yang membawa lampu yang direntangkan sejajar dada yang mengisyaratkan bahwa jalur kereta api yang akan dilewati berstatus kurang aman, kereta api yang melewatinya harus berhati-hati dengan pembatasan kecepatan maksimal 20 kilometer per jam.

Jelajah Stasiun Lebak Jero, Terpencil dan Pemandangannya Bikin Melongo

Siapa tak kenal dengan stasiun yang memiliki ekssotik pemandangan disekelilinnya. Ya, Stasiun Lebak Jero merupakan stasiun satu-satu yang sangat digandrungi oleh masyarakat yang doyan akan pemandangan indah. Stasiun yang erada di ketinggian +818 mdpl ini sebagai stasiun aktif tertinggi kedua setelah Stasiun Nagreg.

Stasiun ini terletak di tengah-tengah pegunungan, seperti jalur selatan Jawa Barat pada umumnya. Kereta api yang melewati Stasiun Lebak Jero lebih dominan dengan rute dari Bandung sampai dengan Yogyakarta hingga Surabaya. Ada juga beberapa dari arah Jakarta sampai dengan tujuan akhir Garut dan Banjar.

Digadang-gadang stasiun kecil ini ternyata sudah berusia 130 tahun dan menjadi saksi bisu sejarah perkereta apian di jalur selatan. Dibangun dalam satu proyek besar pembangunan jalur KA dari Bogor, Bandung, Cibatu, Garut, hingga Yogyakarta oleh Staatsspoorwegen (SS). Pembangunannya dimulai pada dekade 1880-an dan stasiun ini dibangun antara tahun 1884-1889. Jalur KA Bandung-Garut baru diresmikan pada 14 Agustusb 1889 yang jika dihitung umurnya, Stasiun Lebak Jero sudah berusia lebih dari 130 tahun.

Lebak Jero, Spot Foto yang Tak Tertandingi

Stasiun ini pernah melayani penumpang, tak heran pernah ada rangkaian Kereta Api Lokal rute Purwakarta-Cibatu yang berhenti di Stasiun Lebak Jero. Keberadaan penumpang yang naik dan turun pun sempat terbantu di sini. Namun sangat disayangkan dengan okupansinya yang sedikit, sekitar tahun 2015 Stasiun Lebak Jero sudah tak melayani penumpang KA Lokal lagi dan praktis tak ada satu pun kereta api yang berhenti hingga saat ini. Meski memiliki 2 jalur, saat ini Stasiun Lebak Jero tak melayani persilangan antar kereta api, kecuali dalam keadaan yang benar-benar darurat. Sistem persinyalan mekanik di stasiun ini menambah suasana heritage yang makin terasa. Rumah-rumah pedesaan di bagian bawah bukit serta menjulangnya Bukit Mandalawangi, makin menambah daya tarik bagi penikmat fotografi.

Saat ini Stasiun Lebak jero masih menjadi daya tarik bagi penikmat fotografi terutama para pecinta kereta api. Walaupun sudah tak melayani naik dan turun penumpang, namun akses menuju stasiun ini pun cukup mudah. Dari Jalan Raya Nagrek-Garut terdapat papan bertuliskan Stasiun Lebak Jero.

Masuk menuju jalan kearah stasiun pub bisa di lewati menggunakan kendaraan roda dua atau pun roda empat. Yang cukup memacu adrenalin, akses menuju stasiun harus ditempuh berjalan kaki yang melewati beberapa anak tangga menuju ke atas. Jika sudah mencapai stasiun, biasakan meminta izin terlebih dahulu kepada petugas stasiun supaya aman dalam mengambil foto. Selamat Hunting, Ya!

Stasiun Lebak Jero, Suguhkan Pemandangan Cantik Hingga Jalur Elok Berbentuk “S”

Ganti Nama jadi Green SM, Bikin Penumpang Xanh SM Bingung

Awal beroperasi di Ibu Kota Jakarta, taksi listrik asal Vietnam ini bernama Xanh SM. Namun beberapa hari ini body taksi tersebut namanya berganti menjadi Green SM.

Namun apakah pergantian nama ini berpengaruh dengan jumlah penumpang Xanh SM yang kini menjadi Green SM? Ternyata iya, dan penggantian ini cukup banyak mengurangi penumpang taksi asal Vietnam tersebut.

KabarPenumpang.com mewawancarai salah seorang pengemudi Green SM. Pengemudi ini mengatakan, adanya perubahan nama dari Xanh menjadi Green dikarenakan komplain pelanggan yang mengaku sulit menyebutkan kata Xanh.

“Kan Xanh mungkin susah dibaca ya, tapi banyak yang baca jadi ‘San’. Anggap saja begitulah dan ini cukup mudah untuk dibaca,” kata dia lagi.

Pengemudi itu mengatakan, karena komplain itu maka pengelola menggantinya menjadi Green. Menurut pengemudi yang tak mau disebutkan namanya tersebut, penggantian nama juga membuat pelanggan Xanh cukup bingung.

“Penggantian nama ini bikin pelanggan Xanh berkurang. Mereka bingung dengan namanya yang sekarang jadi Green. Padahal nama itu sudah dikenal baik oleh masyarakat,” ungkap pengemudi tersebut.

Dia mengaku, penggantian nama ini seperti memperkenalkan kembali Xanh SM yang sudah beroperasi sejak Desember 2024 lalu dengan nama Green SM. Menurutnya, perubahan nama tanpa edukasi yang kuat juga membuat banyak pelanggan tak sadar bahwa Green SM adalah versi baru dari Xanh SM.

Sepinya penumpang juga dikarenakan banyak yang mengira Green SM adalah pemain baru yang belum terpercaya. Hal ini pula yang membuat banyak pengemudi hanya duduk menunggu orderan.

“Saya bingung saat lihat kok namanya berubah. Pas awal Xanh SM. Kok jadi Green SM,” kata Susi seorang pelanggan Xahnh.

Dia mengatakan tahu penggantian nama ini karena tidak sengaja melihat taksi Xanh menjadi Green. Susi mengaku awalnya bingung dengan nama itu.

“Saya pikir taksi baru. Tapi kok seperti taksi yang biasa saya pesan ya. Saya tanya sama supirnya, katanya ganti nama gara-gara pelanggan komplain susah nyebut Xanh,” aku Susi.

Untuk diketahui, Xanh SM atau Green SM memiliki pool taksi di beberapa lokasi yakni Cinere, Kapuk, Rajawali Selatan (Kemayoran), dan yang terbaru di Joglo.

Si Tosca dari Vietnam, Ini Dia Taksi Listrik Xanh SM

Mengenang 11 Tahun Tragedi Kecelakaan KA Malabar. Ternyata Ada Hal Aneh Saat Evakuasi

Pada tahun 2014 lalu atau lebih tepatnya 11 tahun lalu tragedi memilukan terjadi pada perkeretaapian Indonesia. Ya, tragedi KA Malabar yang mengalami kecelakaan akibat tanah longsor di Kabupaten Tasikmalaya itu terjadi pada 4 April 2014. Kejadian yang menewaskan 3 orang itu merupakan kejadian yang tak pernah hilang dari benak masyarakat. Proses evakuasinya sendiri pun memakan hampir 1 bulan. Kejadian ini kemudian dikenang dengan nama Kecelakaan KA Malabar.

Melansir dari berbagai sumber media, saat itu, Kereta Api Malabar (KA 86) membawa 7 gerbong yang terdiri dari kereta penumpang, kereta makan, dan kereta bagasi dengan total 360 penumpang. Kecelakaan ini disebabkan oleh longsornya tanah di km 244, Kampung Terung RT 05 RW 09, Desa Mekarsari, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Penyebab kereta api terguling dan kemudian jatuh ke jurang adalah karena hujan lebat yang mengguyur lokasi dengan durasi yang lama.

Tragedi KA Malabar (Foto: Dok. Istimewa)

Berdasarkan situs Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, guyuran hujan dengan intensitas tinggi itu mengakibatkan tanah disekitar rel kereta api menjadi labil. Sayangnya, rel tidak mampu menahan beban KA Malabar yang melintas saat itu. Akibatnya lokomotif bernomor seri CC 206 13 55 terlebih dahulu tergelincir sembari menyalakan klakson darurat, bersamaan dengan 2 kereta kelas eksekutif. Diketahui, dua unit kereta kelas eksekutif yang jatuh tersebut bernomor seri K1 0 67 27 dan K1 0 67 22. Sedangkan lokomotif CC206 13 55 yang terperosok lalu keluar rel.

Lokasi kecelakaan ini pun menyulitkan upaya penyelamatan atas kecelakaan ini. Sampai 1 unit kereta bernomor seri K1 0 67 22 pun harus dirucat di lokasi terdekat yaitu Stasiun Cirahayu yang berada di sebelah barat dari lokasi kejadian. Sedangkan K1 0 67 27 dapat diselamatkan setelah dipasangkan bogie sementara dan diperbaiki besar-besaran di Balai Yasa Manggarai. Butuh waktu satu jam untuk berkendara dari Kota Tasikmalaya untuk sampai daerah Gentong. Para petugas penyelamat juga harus berjalan kaki di atas rel untuk sampai ke lokasi anjloknya kereta. Karena perjalanan kereta api saat itu masih belum bisa dilewati dan harus memutar lewat jalur utara tepatnya lewat Cirebon.

Untuk para korban yang selamat pada insiden tersebut langsung dipindahkan ke Stasiun Cirahayu, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi kecelakaan. Melansir berita kompas (5/4/2014) dari tiga korban yang tewas (yang diketahui saat itu) kecelakaan KA Malabar di ruas Ciawi-Cirahayu itu salah satu korban berasal dari Malang, Jawa Timur. Korban merupakan pegawai PT KAI kantor pusat Bandung yang bernama Ayu Dyah Kusumaningrum yang masih berusia 27 tahun. Di Malang, korban tinggal di Jalan Pendowo Nomor 11 Kecamatan Lawan, Kabupaten Malang. Diberitakan korban lain yang meninggal dunia dalam tragedi bernama Sri Hartanto (60), asal Sleman, Yogyakarta, dan Kharis Budi Cahyono, asal Jambon, Ponorogo.

Dari kejadian memilukan tersebut ternyata ada hal yang terbilang cukup aneh saat melakukan evakuasi. Dari saksi petugas penyelamat sempat menuturkan bahwa ada kejadian yang terbilang aneh, tepatnya menjelang malam. Ternyata beberapa kru melihat ada cahaya seperti lampu yang berkedip di bagian kabin lokomotif. Padahal lokomotof sudah dalam keadaan terperosok ke jurang dan tak ada satupun cahaya lampu yanh bisa menyala. Apalagi kondisi mesin memang sudah tidak hidup.

Beberapa hari kemudian kejanggalan yang kedua. Saat cuaca sedang hujan lebat, petugas mengevakusi lokomotif yang terperosok dan telah memisahkan bogie-nya, namun peristiwa tak terduga terjadi bahwa lokomotif meluncur makin dalam ke jurang. Ini pun makin menyulitkan evakuasi. Dan kejadian yang ketiga, saat lokomotif diangkat dan ingin dipindahkan ke atas menggunakan dua buah crane yang dikirim dari Jakarta, tali baja tiba-tiba putus, lalu lokomotif terpelanting dan jatuh kembali ke jurang.

Setelah beberapa hari tepatnya minggu ketiga pasca kejadian, petugas membuat gundukan tanah menuju ke arah lokomotif yang terperosok guna mempermudah evakuas. Dengan berhati-hati dan memakan waktu lebih dari 2 jam, akhirnya lokomotif bisa di evakuasi dengan selamat. Selanjutnya lokomotof tersebut dibawa menuju ke Balai Yasa Yogyakarta untuk di perbaiki lebih lanjut. Dan hingga saat ini lokomotif seri CC 206 13 55 sudah beroperasi menarik rangkaian kereta api di lintas Pulau Jawa.

KA Wijayakusuma Dinobatkan Sebagai Kereta Api dengan Okupansi Tertinggi (193 Persen), Posisi Kedua KA Malabar

Jadi Magnet Wisata, Ribuan Orang Sambangi IKN di Musim Lebaran 2025

Delapan ribu pengunjung tercatat mengunjungi Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan timur pada 1 April 2025 kemarin. Adanya peningkatan jumlah pengunjung ini ditanggapi oleh otorita IKN dengan menambah jam kunjungan, aramada bus, dan mengatur alur kunjungan serta sistem parkir demi kenyamanan pengunjung.

IKN sendiri menjadi magnet pariwisata baru dikarenakan masyarakat dari berbagai daerah yang penasaran untuk melihat langsung pembangunan proyek ambisius ini. Mereka ingin menyaksikan dari dekat bagaimana wajah masa depan pemerintahan Indonesia dibangun dari nol.

Bahkan bukan hanya masa libur Lebaran, tetapi setiap harinya ada saja wisatawan dari warga lokal, pelancong dari luar daerah sampai para akademisi dan investor yang mengunjungi IKN ini. Beberapa dating untuk tujuan studi, sedangkan yang lainnya ingin melihat sejauh mana perkembangan infrastruktur yang tengah digarap tersebut.

Ramainya kunjungan ke IKN pun membuat Otorita IKN menerapkan sistem kunjungan berbasis aplikasi IKNOW yang tersedia di Play Store maupun App Store. Adapun jam kunjungan dibatasi mulai pukul 09.00 hingga 17.30 WITA.

Pengunjung akan mulai perjalanan mereka dari Rest Area Nusantara dengan bus listrik yang disediakan secara gratis. Nantinya pengunjung akan diturunkan di Halte Bus Kemenko 3 dan dapat mengunjungi Plaza Seremoni, Galeri UMKM, serta Taman Kusuma Bangsa.

Selanjutnya setelah selesai, pengunjung Kembali menunggu bus di Halte Menara Pandang Sumbu Barat dan Halte Kemenko 3 untuk Kembali. Otorita IKN pun menyediakan pos pelayanan Kesehatan untuk mengantisipasi kebutuhan medis pengunjung.

Di Kawasan KIPP juga terdapat beberapa rumah sakit seperti RS Hermina dan RS Mayapada serta akomodasi hotel yakni Swissotel Nusantara dan Qubika Hotel. Untuk diketahui, IKN dirancang sebagai kota berbasis konsep smart city dan forest city, yang berarti mengedepankan teknologi cerdas serta keberlanjutan lingkungan.

Jalan-jalan yang dirancang untuk kendaraan listrik, kawasan hijau yang luas, serta sistem tata kelola air yang modern menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Pemerintah terus menggenjot pembangunan tahap awal, termasuk penyelesaian infrastruktur dasar seperti jalan, gedung pemerintahan, serta fasilitas pendukung lainnya.

Namun, pembangunan IKN juga menghadapi tantangan, seperti kebutuhan logistik yang besar dan kesiapan sumber daya manusia lokal untuk mendukung transisi ini. Tak hanya itu, seiring bertumbuhnya infrastruktur, IKN juga berpotensi menjadi destinasi wisata baru di Indonesia.

Banyak orang yang datang bukan hanya untuk melihat ibu kota baru, tetapi juga untuk menjelajahi kawasan sekitarnya, termasuk wisata alam Kalimantan yang masih alami. Dengan terus bertambahnya pengunjung dan perhatian terhadap pembangunan ini, IKN diprediksi akan menjadi simbol kemajuan dan inovasi Indonesia di masa depan.

Kota ini nantinya bukan hanya sekadar pusat pemerintahan baru, tetapi juga harapan bagi generasi mendatang yang ingin melihat Indonesia lebih maju dan berkelanjutan.

Cessna Citation Longitude, Profil Pesawat Jet Angkut Penumpang yang Mendarat Perdana di Bandara Nusantara

Arus Balik Lebaran 2025, Penumpang Kereta Api Lebih Banyak Turun di Stasiun Bekasi

Arus balik di musim libur Lebaran 2025 menggunakan kereta api sudah mulai terasa dampaknya saat H+1 Lebaran. Penumpang yang menggunakan kereta api dari berbagai kota di Pulau Jawa pun sudah mulai berdatangan ke Jabodetabek. Rute tujuan untuk arus balik biasanya masyarakat memadati stasiun-stasiun besar di Jakarta, seperti Stasiun Jatinegara, Stasiun Pasar Senen, dan Stasiun Gambir.

Namun kali ini cukup banyak masyarakat yang menggunakan kereta api turun di Stasiun Besar Bekasi. Ini karena Stasiun Bekasi menjadi perjalanan dengan tujuan akhir yang sangat praktis bagi penumpang yang berdomisili di Kabupaten Bekasi dan sekitarnya. Apalagi stasiun ini sudah banyak kereta yang berhenti dari arah timur termasuk kereta api tambahan angkutan lebaran.

Menurut Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Ixfan Hendriwintoko yang dikutip dari kompas.com bahwa “Sekarang sudah terpecahkan bahwa stasiun Bekasi sebagai ketiga terbanyak selain stasiun Pasar Senen dan Gambir”. Seperti diketahui bahwa penumpang yang menjadi acuan naik dan turun kereta api jarak jauh kali ini adalah Stasiun Bekasi. Selain lebih praktis, penumpang pun bisa menjadi alternatif kedua jika dalam keadaan waktu tak memungkinkan untuk naik dari stasiun awal seperti Gambir atau Pasar Senen.

Begitu pun jika penumpang turun yang bukan di stasiun tujuan seperti Pasar Senen atau Gambir, bisa menjadi alternatif turun di Stasiun Cikarang maupun Bekasi. Saat memesan tiket, calon penumpang sebelumnya pun sudah diberikan beberapa opsi mau turun di stasiun mana. Dan penumpang pun bisa memantau posisi kereta yang sedang dinaiki melalui aplikasi KAI Access di ponsel.

Opsi yang ditawarkan untuk turun di stasiun sebelum pemberhentian terakhir ini juga sudah terintegerasi menggunakan KRL Commuter Line yang selalu sedia dengan waktu yang relatif terjangkau. Pemudik bisa menggunakan KRL dengan stasiun tujuan yang dijangkau KRL dengan tiket Karti Multi Trip (KMT) yang sangat praktis.

Arus balik pun sudah mulai terlihat ramai di beberapa stasiun besar kereta api jarak jauh di Jakarta. Ixfan menambahkan bahwa berdasarkan data dari PT KAI, untuk tanggal 2 April 2025, tercatat ada 41.040 orang yang akan masuk ke Jakarta, baik melalui Stasiun Pasar Senen maupun Stasiun Gambir. Dengan adanya informasi ini jauh sebelum musim mudik, penumpang banyak yang memilih Stasiun Bekasi sebagai tujuan akhir mereka saat kembali ke Jabodetabek.

Jembatan Bekasi – 130 Tahun Beroperasi dan Masih Setia Layani Lalu Lintas Kereta

Penyesuaian Rute Akhirnya Berakhir, Kini Rute Lokal Rangkasbitung-Merak Kembali Normal

KA Lokal dengan rute Rangkasbitung-Merak akhirnya kembali normal. Sebelumnya kereta ini melayani rute hanya Rangkasbitung sampai dengan Cilegon saja. Guna informasi mengenai hal tersebut untuk mencegah penumpukan penumpang di Stasiun Merak.

KA Lokal yang seharga Rp3.000 ini sekarang bisa melayani penumpang hingga Stasiun Merak. Ini karena pemerintah sudah melihat kondisi masyarakat yang saat ini tengah ramainya arus balik dari kampung halaman khususnya dari Pulau Sumatera. Pelabuhan Merak masih terlihat ramai, namun tak sepadat arus mudik pada beberapa hari yang lalu.

Menurut data dari PT KAI Daerah Operasi I Jakarta menyebutkan bahwa jumlah pengguna kereta api tujuan Stasiun Merak pada (31/3) kemarin atau hari Raya Idul Fitri tercatat ada 2.161 orang. Adapun selama masa angkutan Lebaran 2025, tercatat 119.001 orang yang menggunakan kereta api Merak. Stasiun pun merupakan satu-satunya yang sangat diminati masyarakat karena terjangkaunya dengan akses langsung ke Pelabuhan Merak.

Imbauan KAI: Mulai 25 Maret Perjalanan KA Lokal Merak Hanya Sampai Stasiun Cilegon

Lalu untuk Stasiun Rangkasbitung tercatat bahwa sebagai stasiun terpadat mencapai 54.614 orang yang berangkat dan 45.035 orang yang turun. Kemudian layanan operasional kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Rangkasbitung disesuaikan pada 25-30 Maret 2025. Sebab pada periode tersebut diprediksi ada lonjakan pengguna jasa kendaraan (pemudik berkendara) yang akan memasuki Pelabuhan Penyeberangan Merak.

Saat kembalinya operasional KA Lokal dari Rangkasbitung hingga Merak ini penumpang bisa kembali layanan di beberapa stasiun yang sebelumnya hanya beroperasi hanya Stasiun Cilegon. Stasiun-stasiun yang melayani tersebut meliputi Stasiun Krenceng sampai Stasiun Merak. Pelayanan naik dan turun stasiun tersebut sudah bisa kembali dirasakan.

Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Untuk Stasiun Krenceng sendiri merupakab stasiun yang cukup padat dengan penumpang yang merupakan akses dari dan menuju wilayah Anyer menggunakan sarana transportasi jalan raya. Meski stasiun ini terbilang kecil, okupansi penumpang pun cukup banyak baik naik dan turun penumpang.

Dengan dinormalkan kembali rute Rangkasbitung hingga Merak, KAI Commuter juga mengimbau pengguna agar selalu berhati-hati terhadap barang bawaan, meletakkannya di rak bagasi, serta memastikan anak-anak tetap dalam pengawasan saat berada di dalam kereta maupun di stasiun. Selain itu, penumpang disarankan untuk tidak terburu-buru saat turun dari kereta dan memberikan prioritas bagi penumpang yang hendak turun lebih dahulu.

Kisah Stasiun Cilegon, Selain Penumpang Juga Sibuk dengan Langsiran Gerbong Era PJKA

Tarif Murah, Bus Listrik di Medan Jadi Incaran saat Libur Lebaran

Kota Medan kini semakin berkomitmen dalam mengurangi polusi udara dan meningkatkan kenyamanan transportasi publik dengan menghadirkan bus listrik sebagai salah satu solusi ramah lingkungan. Kehadiran armada bus listrik ini disambut baik oleh masyarakat yang mendambakan moda transportasi modern, nyaman, dan bebas emisi.

Pemerintah Kota Medan bekerja sama dengan perusahaan transportasi menghadirkan bus listrik yang mulai beroperasi di beberapa rute utama. Bus ini dilengkapi dengan teknologi canggih, termasuk motor listrik yang tidak menghasilkan polusi udara maupun suara bising, menjadikannya pilihan ideal bagi kota metropolitan seperti Medan yang sering mengalami kemacetan dan polusi udara.

Menurut Wali Kota Medan, program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan berbahan bakar fosil dan sekaligus meningkatkan kualitas udara di perkotaan.

“Bus listrik ini adalah langkah awal menuju transportasi publik yang lebih ramah lingkungan dan efisien,” ujarnya.

Bus listrik di Medan tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menawarkan kenyamanan lebih bagi penumpang. Dengan kursi ergonomis, pendingin udara (AC), serta konektivitas Wi-Fi gratis, penumpang dapat menikmati perjalanan dengan lebih nyaman. Selain itu, bus ini juga memiliki sistem pembayaran digital yang memudahkan pengguna dalam melakukan transaksi tanpa uang tunai.

Salah satu warga Medan, Arman (35), mengungkapkan kepuasannya setelah mencoba bus listrik ini.

“Busnya nyaman, tidak bising, dan terasa lebih bersih. Harapannya semakin banyak armada seperti ini di masa depan,” katanya.

Selain itu penumpang lain juga mengatakan hal yang sama, menurut mereka tarifnya pun cukup murah yakni hanya Rp5 ribu saja. Sehingga saat libur Lebaran saat ini, menggunakan bus listrik menjadi pilihan yang murah dan meriah serta nyaman.

Untuk diketahui, sebagai bagian dari program keberlanjutan, bus listrik ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon secara signifikan. Menurut data yang dirilis oleh dinas perhubungan, setiap unit bus listrik yang beroperasi dapat mengurangi emisi karbon hingga 50 persen lebih sedikit dibandingkan bus konvensional.

Selain itu, pemerintah juga berencana menambah jumlah halte dan rute yang dapat dijangkau oleh armada ini agar semakin banyak masyarakat yang beralih ke transportasi publik ramah lingkungan. Dengan adanya bus listrik, Medan semakin menunjukkan komitmennya dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, diharapkan akan semakin banyak unit bus listrik yang beroperasi, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan transportasi yang nyaman, modern, dan tentunya lebih bersih bagi lingkungan.

Stasiun Labuan di Medan, Jalur Pertama Perkeretaapian Sumatera Utara

Pelabuhan Sri Bintan Pura Tambah Dua Kapal Ferry di Momen Mudik Lebaran

Kepulauan Riau (Kepri) merupakan salah satu Provinsi di Sumatera yang memiliki hampir dua ribu pulau besar dan kecil dengan luas sekitar 90 persen perairan dan empat persen lainnya daratan. Beribukota Provinsi Tanjungpinang, Kepri sudah barang tentu memiliki banyak pelabuhan untuk aktivitas masyarakatnya.

Di antaranya adalah Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura (SBP) yang berada di Tanjungpinang. Pelabuhan ini menghubungkan Kota Tanjungpinang dengan pelabuhan di kabupaten kota lainnya di Kepulauan Riau seperti Batam (Telaga Punggur, Galang), Karimun (Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu, Moro), Lingga (Daik Lingga, Dabo Singkep, Jagoh, Senayang, dan pulau kecil lainnya), serta Kepulauan Anambas (Letung dan Tarempa).

Kapal PELNI juga melayani pelayaran dari Pelabuhan Sri Bintan Pura menuju berbagai pulau di Natuna, Tambelan (Bintan), Sintete (Kalimantan Barat), dan Belinyu (Bangka Belitung). Terdapat pula pelayaran menuju daerah di Riau seperti Dumai, Bengkalis, Tembilahan, dan Selat Panjang.

Untuk tujuan internasional, Pelabuhan Sri Bintan Pura melayani jalur pelayaran tujuan Singapura (Tanah Merah) dan Malaysia (Stulang Laut). Pada masa libur Lebaran tahun 2025 ini, Pelabuhan Sri Bintan Pura mengalami lonjakan penumpang yang akan bepergian ke Singapura.

Hal ini kemudian membuat pihak Pelabuhan menambahkan dua kapal ferry untuk tujuan Tanjungpinang-Singapura. Padahal biasanya perjalanan dari Tanjungpinang menuju ke Singapura hanya dilayani dengan kapal ferry.

Namun, karena adanya lonjakan tersebut, membuat perjalanan dalam sehari menjadi enam kapal yang akan beroperasi. Penambahan armada kapal ferry ini merupakan komitmen Pelindo dan KSOP Tanjungpinang untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan nyaman bagi para penumpang, terutama saat arus mudik Hari Raya Idul Fitri.

Meski adanya peningkatan jumlah penumpang dari operasional biasanya, jam operasional Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura tetap berjalan seperti biasa. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari sebelum Hari Raya Idul Fitri, jumlah penumpang ferry di Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura pada H-1 Lebaran mencapai 580 orang untuk kedatangan, baik warga negara asing (WNA) maupun warga negara Indonesia (WNI).

Sementara itu, jumlah penumpang yang berangkat mencapai 599 orang. Dengan adanya tambahan kapal ferry, diharapkan arus mudik dan perjalanan internasional dari Pelabuhan SBP Tanjungpinang ke Singapura tetap lancar dan nyaman bagi para penumpang.

 

Catat! Ini Jadwal dan Harga KAI Wisata Ambarawa Spesial Idul Fitri 1446H

Wisata kereta api di Museum Ambarawa memang sangat edukatif dan memberikan ilmu yang menambah wawasan soal perkeretaapian. Dilansir dari laman KAI Wisata, Museum Kereta Api Indonesia (Indonesian Railway Museum) awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I.

Stasiun ini dibangun oleh Nedherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873 bersamaan pembukaan lintas Kedungjati-Ambarawa. Tahun 1907. Stasiun Ambarawa dipilih karena Ambarawa memiliki latar belakang historis yang kuat dalam perjuangan kemerdekaan yakni Pertempuran Ambarawa, selain itu Stasiun Ambarawa pada saat itu masih menyimpan teknologi kuno yang masih bisa dioperasikan.

Museum Ambarawa atau Indonesian Railway Museum (IRM) menampilkan koleksi perekeretaapian dari masa Hindia Belanda hingga pra kemerdekaan RI yang meliputi sarana, prasarana dan perlengkapan administrasi. Beberapa koleksi sarana perkeretaapian heritage seperti 26 Lokomotif Uap, 4 Lokomotif Diesel, 5 Kereta dan 6 Gerbong dari berbagai daerah. Para pengunjung juga dapat menikmati perjalanan wisata dengan menaiki Kereta Api Wisata relasi Ambarawa-Tuntang (pp) dengan lokomotif penarik jenis lokomotif uap maupun kereta diesel vintage. Selain itu terdapat rute kereta Api Wisata Ambarawa-Jambu-Bedono (pp) yang menggunakan lokomotif uap bergigi yang melewati rel bergerigi. Rel bergerigi tersebut satu-satunya yang masih aktif di Indonesia.

Rangkaian Kereta Api Wisata Ambarawa. (Dok: Instagram @ambarawarailways)

Selain menjadi tempat wisata sejarah, museum ini dapat disewa untuk kegiatan Pameran, Ruang Pertemuan, Pemotretan, Shooting, Pesta Pernikahan, Festival, Bazar, Pentas Seni, Workshop, dll. Saat ini Wisata Ambarawa menggunakan kereta api rute Stasiun Ambarawa-Stasiun Tuntang sudah merilis jadwal terbaru dan tarif pada momen spesial Idul Fitri 1446 H.

Jadwal dan tarif tersebut sudah bisa dilihat di instagram/@museum.keretaapiambarawa. Untuk ketentuan pada saat memesan tiket perjalanan, pengunjung diharapkan datang 30 menot sebelum jadwal perjalanan kereta wisata. Apabila terlambat naik kereta, tidak ada pengembalian tiket dan tidak berlaku pada jam keberangkatan berikutnya.

Untuk pelayanan tiket kereta api Wisata pada hari H keberangkatan dimulai pukul 08.00 di loket Museum Kereta Api Ambarawa selama persedian tempat duduk masih ada. Masyarakat juga bisa memesan KA Wisata ini sebelum H-14, namun tidak bisa melakukan pemesanan pada hari H. Jadwal dan tarif kereta wisata ini berlaku selama selama Bulan April 2025. Berikut ini jadwal dan tarif selengkapnya:

Kedungjati, Stasiun yang Direncanakan Cukup Lama Sebagai Penghubung Menuju Ambarawa