MRT Jakarta Tembus Sampai Tangerang Selatan, Ternyata Jalurnya Dimulai dari Sini

Informasi mengenai Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta bakal tembus hingga Tangerang Selatan mulai diperbincangkan bahkan siap untuk pengerjaan. Ya, moda transportasi Jakarta yang satu ini memang menjadi andalan masyarakat karena praktis dan efisien. Terlebih untuk menggunakan MRT saja masyarakat terbebas dari kemacetan di jalan raya dan tentu saja mempersingkat waktu perjalanan.

Rencana perpanjangan jalur MRT sampai Tangerang Selatan (Tangsel) kian dekat menjadi kenyataan. Saat ini ujung moda transportasi milik Pemprov Jakarta itu memang sudah berada sangat dekat dengan kawasan Tangerang Selatan. Tepatnya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan yang bersebelahan langsung dengan Kec. Ciputat, Tangsel.

PT MRT Jakarta (Perseroda) resmi memulai Feasibility study (FS) alias studi kelayakan bersama PT Bumi Serpong Damai Tbk (Sinar Mas Land). Studi kelayakan ini untuk pengembangan rute baru MRT Jakarta tembus Tangsel. Rutenya adalah dari Lebak Bulus menuju Serpong. Inisiatif ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak untuk melakukan kajian komprehensif terkait skema pembiayaan, teknologi, dan trase proyek.

Depo MRT Lebak Bulus.

Dari estimasi 100.000 pengguna harian layanan MRT, diperkirakan sebanyak 25%-nya dapat terserap melalui stasiun-stasiun yang ada di BSD City. Namun belum diketahui kapan proyek perpanjangan ini akan digarap, termasuk nilai proyek, rincian rute maupun jumlah atau titik stasiunnya. Semua itu baru ditentukan jika studi kelayakan sudah selesai dilaksanakan.

Jika dilihat dari stasiun akhir Leba Bulus, jalur kereta MRT masih terhubung di sepanjang sisi Jl. Raya Jakarta Bogor. Meski di jalur paling ujung MRT Jakarta ini sudah terpasang tiang listrik aliran atas (LAA), jalur akhir tersebut hanya digunakan untuk aktivitas langsir rangkaian MRT dari maupun kearah depo MRT. Namun, bisa dipungkiri awal mula jalur MRT tersebut bisa dimulai dari Stasiun Lebak Bulus.

Bahkan saking dekatnya dengan kawasan Tangerang Selatan, di dekat tiang jalur MRT paling ujung selatan ini terlihat ada tugu ‘Selamat Jalan’ milik Pemprov Jakarta yang menjadi penanda batas wilayah ibu kota. Sementara di sisi lainnya terlihat tugu milik Pemkot Tangsel, di mana kedua wilayah ini hanya dibagi oleh Kali Pesanggrahan.

Sebelumnya, MRT Jakarta telah membuat kajian sementara soal kelanjutan trase MRT Jakarta dari Lebak Bulus menuju Tangsel. Proyek ini akan mencakup dua koridor potensial, yaitu koridor utara dan selatan. Koridor utara akan melintasi jalur Pondok Aren – Serpong, sedangkan koridor selatan melalui Ciputat – Pondok Cabe. Kedua jalur ini akan terhubung dengan stasiun utama di Lebak Bulus, Jakarta.

Ini Dia Rute MRT Jakarta Jika Diteruskan Hingga ke Tangerang Selatan

Semakin Ramah Lingkungan, Ancol-Blok M Kini Dilayani Bus Listrik

Ancol merupakan salah satu destinasi wisata yang menjadi favorit warga Jakarta dan sekitarnya. Destinasi di utara Jakarta ini selain langsung menyentuh lautan, juga tempat wisata yang cukup mudah untuk di datangi menggunakan transportasi umum.

Selain KRL Commuterline turun di Stasiun Ancol, masyarakat juga bisa menggunakan bus Transjakarta yang behenti di Halte Ancol. Namun, baru-baru ini rute bus yang dioperasikan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) tersebut bertambah.

Semula hanya ada rute 5 dan 5C dengan tujuan dari PGC-Ancol serta Kampung Melayu-Ancol. Kini bertambah dengan kehadiran rute 1W Ancol-Blok M yang dilayani oleh armada bus listrik tipe high deck.

Bus ini merupakan milik Damri yang belum lama tiba dari Cina. Rute Ancol-Blok M sendiri diluncurkan pada Sabtu (26/7/2025) di Halte Ancol. Kehadiran bus listrik ini menjadi simbol terhadap lingkungan yang lebih bersih.

Sebagai informasi, Ancol sendiri sudah menerapkan berbagai hal ramah lingkungan salah satunya tanpa styrofoam di setiap kedai makanan atau minuman. Sehingga kehadiran bus listrik yang melayani rute Ancol-Blok M cocok menjadi bagian Ancol yang ramah lingkungan.

Tak hanya itu, hadirnya bus listrik ini pun bukan hanya menjawab persoalan kualitas Udara Jakarta. Tetapi juga merupakan bagian dari target pengadaan 200 armada bus listrik hingga akhir tahun 2025 ini.

Direktur Utama DamriI Setia N. Milatia Moemin mengungkapkan rasa bangganya terhadap keterlibatan DAMRI dalam mendukung peralihan transportasi umum Jakarta menuju sistem berbasis listrik.

“Damri berkomitmen tidak hanya menyediakan layanan transportasi berkualitas, tetapi juga mendukung pengurangan emisi karbon demi lingkungan yang lebih bersih dan kehidupan yang lebih sehat bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.

Setia menambahkan, kontribusi DAMRI tidak berhenti pada pengadaan armada. Sebagai mitra PT Transjakarta, DAMRI juga turut serta dalam membangun ekosistem pendukung seperti penyediaan charging station dan pelatihan sumber daya manusia.

Dukungan ini dilakukan agar operasional bus listrik berjalan secara maksimal dan berkelanjutan di masa depan. Sejumlah fasilitas pengisian daya telah tersedia, antara lain 30 unit charging station di Stasiun Damri Klender dan 26 unit di Stasiun Damri Pupar.

Dalam waktu dekat, akan dibangun tambahan 15 unit di Stasiun Damri Cawang dan 24 unit di Stasiun Damri Ciputat, sebagai bagian dari pengembangan layanan. Ke depan, Damri berambisi untuk memperluas penggunaan bus listrik ke wilayah lain di luar Jakarta.

Langkah ini merupakan kontribusi terhadap upaya nasional mengurangi pencemaran udara serta membangun sistem transportasi yang efisien, ramah lingkungan, dan inklusif di berbagai kota di Indonesia.

Tanjung Bira Punya Segudang Destinasi, Dishub Bulukumba Gratiskan Angkutan Umum

Puluhan Tahun Mati, Ini yang Terjadi Jika Stasiun Wonosobo Kembali Aktif

Banyak yang menginginkan stasiun yang sangat strategis ini kembali diaktifkan. Pasalnya stasiun ini sangat praktis dan terjangkau untuk mengunjungi kawasan wisata Pegunungan Dieng. Stasiun ini juga digadang-gadang sebagai stasiun yang terkenal dengan bermacam-macam destinasi wisata lainnya yang lebih terjangkau.

Pada zaman Belanda dulu, Wonosobo masuk ke dalam jalur kereta api Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS atau SDSM) yang dibangun untuk membantu pendistribusian gula. Selain mengangkut gula, kereta api tersebut juga sempat melebarkan sayap ke sektor teh, tembakau, dan kayu manis.

Wonosobo masuk ke dalam jalur yang dibangun di fase ketiga, sekitar tahun 1917. Jalur tersebut beroperasi sampai 1978 sebelum akhirnya tidak aktif lagi karena mulai berkurang nilai ekonomisnya. Sekarang tinggal relnya yang masih bisa kita lihat mencuat di antara trotoar di sudut-sudut kota.

Stasiun Wonosobo masih berdiri kokoh hingga saat ini. (Foto: Dok. Istimewa)

Pembangunan Stasiun Wonosobo bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Banjarnegara-Selokromo-Wonosobo sejauh 33 kilometer yang dilakukan oleh Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) mulai dari tahun 1916 sampai dengan tahun 1917. Jalur rel Banjarnegara – Wonosobo merupakan jalur yang berada di pegunungan, medannya berkelok-kelok dan terdapat banyak tanjakan.

Saat aktif, Stasiun Wonosobo memiliki 5 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah selatan ke Halte Penawangan. Sedangkan, yang arah utara cukup sampai di stasiun ini saja. Jalur 1 digunakan untuk persilangan yang terjadi di stasiun bila ada kereta yang mau memasuki stasiun. Jalur 3 digunakan untuk persiapan kereta api yang akan berangkat dari Stasiun Wonosobo. Jalur 4 digunakan untuk menuju ke depo lokomotif, dan jalur 5 digunakan untuk menuju ke gudang penyimpanan barang.

Selain peninggalan berupa rel, Wonosobo juga masih memiliki stasiun yang sebetulnya masih berdiri hingga kini. Lokasinya pun strategis banget karena dekat dengan Alun-alun Wonosobo dan masjid agung.

Fyi, dulu Stasiun Wonosobo menjadi titik akhir perjalanan kereta SDS dengan jalur Purwokerto-Wonosobo. Namun sekarang warga yang mau naik kereta harus ke stasiun-stasiun terdekat hingga menuju destinasi di Kabupaten Wonosobo, seperti: Purwokerto, Kebumen, Semarang, atau pun Yogyakarta dengan waktu tempuh yang lumayan cukup mengulur waktu.

Nah bisa dibayangkan jika Stasiun Wonosobo kembali aktif dan beroperasi layaknya stasiun-stasiun besar yang berada di kabupaten kota. Tentunya masyarakat sekitar maupun luar Wonosobo akan ramai mendatangi dan berwisata bersama. Apalagi Wonosobo sejak dulu memang sudah terkenal akan wisatanya, khususnya di kalangan para pencinta alam, pendaki gunung, dan nature traveler. Wisata Dieng, jalur pendakian ke Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau, Telaga Warna, hingga Perkebunan Teh Tambi bisa diakses lebih mudah.

Selain itu dengan meningkatnya pelancong, paling tidak akan diikuti dengan terbukanya bidang kuliner dan penginapan. Nantinya warga sekitar bisa menyewakan rumahnya buat jadi homestay. Oleh-oleh dan makanan khas Wonosobo, seperti carica dan mie ongklok makin terkenal karena kios-kios di stasiun menjajakannya, persis seperti kios bakpia di Stasiun Yogyakarta.

Ingin Berwisata ke Dieng Naik Kereta Api? Ini Pilihan Rute dan Jadwalnya

Saat ini, distribusi hasil bumi Wonosobo dilakukan pakai jalur darat via jalan raya yang biayanya cenderung lebih murah. Tapi, distribusi ini masih terbatas di daerah-daerah sekitarnya saja karena bagaimanapun juga sayuran dan buah-buahan akan lebih cepat busuk.

Dengan adanya stasiun, distribusi hasil panen, bahkan tembakau dan teh, bisa lebih efektif dan cepat. Bahkan bisa juga, kembali ke pembahasan sebelumnya, komoditas ini dimanfaatkan menjadi wisata pula. Misalnya, tiap Juli-Agustus buruh teh dan tembakau di Wonosobo mulai panen. Nah, bisa juga tuh membuka peluang biar wisatawan juga datang untuk merasakan sensasi panen teh sendiri.

Bagaimanapun, keberadaan Stasiun Wonosobo mengingatkan kita akan masa-masa kejayaan kereta api di wilayah lembah Sungai Serayu. Jika rencana reaktivasi jalur ini terwujud, pastinya juga membawa harapan baru bagi masyarakat Wonosobo dan sekitarnya. Diharapkan dengan dibukanya kembali jalur kereta api ini, Stasiun Wonosobo akan kembali hidup, mengembalikan peran pentingnya dalam mobilitas dan perekonomian di wilayah tersebut.

Dermaga Water Taxi Pelabuhan Benoa Resmi Beroperasi

Water taxi atau taksi air menjadi salah satu moda transportasi pilihan lainnya karena Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Beberapa provinsi di Indonesia pun kini mulai mengemangkan water taxi sebagai transportasi mereka.

Seperti Bali yang akhirnya memiliki dermaga water taxi di Tanjung Benoa. Dermaga ini di resmikan leh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 3 Sub Regional Bali Nusra sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

Kehadiran dermaga ini merupakan fasilitas penunjang transportasi laut yang ramah lingkungan. Selain itu juga hadirnya ini sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat adat Tanjung Benoa dalam mengembangkan potensi kawasan pesisir.

Peresmian ni diawali dengan perjalanan para undangan menggunakan water taxi dari Pelabuhan Benoa menuju Tanjung Benoa. Perjalanan ini menjadi simbol pembukaan konektivitas baru berbasis laut yang efisien dan berkelanjutan.

Executive Director 3 Pelindo, Daru Wicaksono Julianto, menyampaikan bahwa dermaga ini adalah wujud nyata komitmen Pelindo dalam memperkuat kawasan Ring 1 operasional perusahaan melalui pengembangan layanan Water Taxi yang mendukung konektivitas dan pariwisata.

“Melalui program TJSL ini, kami ingin memastikan bahwa pembangunan tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur, tetapi juga kebermanfaatan langsung bagi komunitas lokal. Dermaga ini bukan hanya fasilitas transportasi, tapi simbol kolaborasi, konservasi, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat adat,” ujar Daru.

Sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi, Pelindo juga menyalurkan bantuan penguatan usaha kepada lima UMKM binaan di kawasan Tanjung Benoa melalui program TJSL MaritimePreneur. Program ini dirancang untuk mendorong kewirausahaan maritim berbasis komunitas.

Sementara itu, Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Made Wijaya, menyambut baik kehadiran dermaga ini dan mengapresiasi inisiatif Pelindo yang menurutnya selaras dengan nilai-nilai masyarakat adat.

“Kami sangat bersyukur atas perhatian Pelindo terhadap masyarakat adat Tanjung Benoa. Kehadiran dermaga ini tidak hanya meningkatkan akses, tetapi juga membuka peluang baru bagi pariwisata berbasis budaya dan kelautan,” ungkapnya.

Peresmian Dermaga Water Taxi Tanjung Benoa ini diharapkan menjadi awal sinergi berkelanjutan antara Pelindo dan komunitas lokal dalam mengembangkan kawasan pesisir yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan.

Water Taxi Direncanakan Urai Kemacetan Bali

Tana Beru Gudangnya Pengrajin Kapal Pinisi Legandaris

Indonesia memiliki warisan maritim yang telah diakui dunia, salah satunya adalah kapal pinisi. Kapal layar tradisional yang ikonik ini tidak hanya dikenal karena kekokohan dan keindahannya, tetapi juga karena sejarah panjang pembuatannya yang bertumpu pada satu daerah yakni Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Di kawasan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, suara palu bertalu-talu masih menjadi irama harian. Di sini, para pengrajin kapal—yang dikenal sebagai panrita lopi mewarisi keterampilan turun-temurun membuat kapal kayu besar tanpa bantuan cetak biru atau teknologi canggih. Mereka hanya mengandalkan keahlian tangan, intuisi, dan perhitungan tradisional.

Pembuatan satu unit kapal pinisi bisa memakan waktu hingga satu tahun, tergantung ukuran dan kompleksitasnya. Kayu ulin dan kayu bitti dipilih secara khusus karena daya tahan terhadap air laut.

Para pengrajin menganggap proses pembuatan kapal sebagai sesuatu yang sakral. Ada berbagai ritual adat yang dilakukan, termasuk pemilihan hari baik untuk memulai pembangunan dan prosesi peluncuran kapal ke laut.

Kapal pinisi dari Bulukumba telah melintasi lautan Nusantara bahkan mancanegara. Tak sedikit kapal buatan tangan dari Tana Beru ini dipesan wisatawan asing dan dijadikan kapal pesiar eksklusif atau kapal selam wisata.

Keunikan dan nilai sejarah dari tradisi ini membuat UNESCO menetapkan pengetahuan dan keterampilan pembuatan pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tahun 2017. Seiring waktu, Tana Beru dan sekitarnya pun berkembang menjadi destinasi wisata budaya.

Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kapal pinisi dari awal hingga peluncuran. Banyak pelancong domestik maupun mancanegara yang tertarik mendokumentasikan tahapan-tahapan pembangunan kapal yang berlangsung di tepi pantai, di bawah terik matahari dan deru ombak.

Tak jauh dari lokasi galangan tradisional, wisatawan juga bisa menikmati keindahan alam Bulukumba. Pantai Bira, yang terkenal dengan pasir putihnya dan air laut jernih, hanya berjarak sekitar 20 menit dari Tana Beru.

Di sini tersedia penginapan dari yang sederhana hingga resort mewah. Aktivitas seperti snorkeling, menyelam, atau sekadar menikmati matahari terbenam menjadi pelengkap pengalaman wisata yang tak terlupakan.

Dengan kombinasi antara kekayaan budaya dan keindahan alam, Bulukumba menawarkan lebih dari sekadar tempat pembuatan kapal. Ia adalah tujuan yang membawa wisatawan menyelami jejak kejayaan maritim Indonesia.

Kapal Pinisi, Kapal Warisan Leluhur Asli Indonesia yang Diakui UNESCO

Tanjung Bira Punya Segudang Destinasi, Dishub Bulukumba Gratiskan Angkutan Umum

Banyak hal yang bisa menarik minat para pelancong baik dalam maupun luar negeri di suatu tempat ataupun suatu negara. Salah satunya dalah hal yang terkait gratis alias tidak membayar.

Biasanya ini menjadi minat pelancong untuk menikmati suatu destinasi. Meski begitu sebenarnya banyak hal lainnya yang menarik bagi pelancong bila sudah memiliki destinasi wisata masing-masing dan gratis menjadi faktor tambahan.

Di Kabupten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Dinas Perhubungan (Dishub) menyiapkan layanan angkutan wisata gratis ke destinasi wisata Tanjung Bira Sulsel. Layanan angkutan gratis ini pun bisa dinikmati para pelancong setiap hari Minggu.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dispapora) Kabupaten Bulukumba Ferryawan Z Fahmi mengatakan, hadirnya angkutan gratis ini diinisiasi untuk memudahkan pelancong menikmati keindahan Tanjung Bira tanpa ongkos.

Bus wisata gratis ini disiapkan setiap hari Minggu dengan titik kumpul keberangkatan di Pantai Merpati pada 08.00 Wita. Sedangkan untuk jadwal kepulangan, titik kumpulnya di lapangan Hitam Bira pada 15.00 Wita.

Pemkab Bulukumba berkomitmen untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata dengan membuka layanan jasa wisata bus gratis yang disiapkan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Bulukumba. Di mana Pemkab Bulukumba berharap kolaborasi antara organisasi perangkat daerah terkait dengan masyarakat lokal ini dapat menjadi pendorong peningkatan kunjungan di lokasi destinasi wisata Tanjung Bira.

Selain dukungan transportasi, Tanjung Bira yang dikenal dengan keindahan alamnya juga telah didukung oleh sarana akomodasi berupa restoran, penginapan dan tokoh oleh-oleh. Adanya bus layanan gratis tersebut, diharapkan pelancong dapat memanfaatkan jasa itu sehingga lebih memudahkan akses menikmati surga tersembunyi di Tanjung Bira.

Tanjung Bira sendiri dikenal sebagai primadona atau destinasi wisata unggilan di Provinsi Sulawesi Selatan. Ini karena Tanjung Bira memiliki banyak spot wisata menarik mulai dari pantai berpasir putih, jembatan kaca, titik nol, tempat pembuatan Kapal Pinisi, bahkan wisata religi untuk melihat makan salah satu penyebar agama islam di Sulawesi, yakni Dato Ri Tiro.

Tanjung Bira berlokasi di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba berjarak sekitar 200 km atau tiga sampai empat jam perjalanan dari Kota Makassar. Di Pantai Tanjung Bira, pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti diving, dan snorkeling. Selain itu, pengunjung juga bisa berkeliling pulau dengan menggunakan perahu.

Pelabuhan Hodeidah, Titik Penting Perdagangan Laut Merah di Kawasan Afrika dan Asia

Nordwind Airlines Buka Penerbangan Langsung Moskow – Pyongyang

Penerbangan langsung dari Moskow ke Korea Utara selama delapan jam telah dimulai minggu ini, di tengah menguatnya hubungan antara kedua negara dan berkurangnya pilihan bagi pelancong Rusia yang bepergian ke luar negeri.

Penerbangan pertama Moskow-Pyongyang, yang dioperasikan oleh maskapai LCC Rusia, Nordwind Airlines. Pesawat lepas landas pada hari Minggu, menurut situs web bandara Sheremetyevo, dan mendarat di ibu kota Korea Utara sekitar delapan jam kemudian.

Rute ini awalnya hanya akan dilayani sebulan sekali, kata Kementerian Perhubungan Rusia, dengan penerbangan pulang pertama dari Pyongyang ke Moskow akan berlangsung pada hari Selasa.

Korea Utara Melarang Wisatawan Asing Memasuki Resor Pantai Setelah Kunjungan Menlu Rusia

Nordwind Airlines – yang dulu mengangkut warga Rusia ke destinasi liburan di Eropa sebelum Uni Eropa memberlakukan larangan penerbangan Rusia, mematok harga tiket 45.000 rubel ($570).

“Ini adalah peristiwa bersejarah, yang memperkuat hubungan antara kedua negara kita,” ujar Oleg, seorang karyawan Nordwind yang mengelola penerbangan tersebut yang tidak ingin menyebutkan nama lengkapnya, kepada Agence France-Presse di bandara. Ia juga menolak menyebutkan jumlah penumpang di dalam pesawat.

Rusia dan Korea Utara telah menjalin hubungan militer yang lebih erat dalam beberapa tahun terakhir, dengan Pyongyang memasok pasukan dan senjata untuk operasi militer Rusia di Ukraina. Mereka menandatangani pakta pertahanan bersama tahun lalu ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengunjungi Korea Utara.

“Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 70 tahun hubungan diplomatik, kami meluncurkan penerbangan langsung antar ibu kota negara kami,” kata Wakil Menteri Perhubungan Rusia, Vladimir Poteshkin, seperti dikutip di akun Telegram kementerian.

Hal ini terjadi di saat Korea Utara sedang menggenjot pariwisatanya sendiri, dengan perlahan-lahan melonggarkan pembatasan terhadap pengunjung luar negeri yang diberlakukan selama pandemi Covid-19. Pariwisata reguler masih dilarang secara efektif, meskipun wisatawan Rusia telah diizinkan untuk mengunjungi beberapa wilayah negara itu dalam tur kelompok, dan pelari asing berkompetisi dalam maraton di Pyongyang pada bulan April.

Pada bulan Juni, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meluncurkan sebuah resor pantai baru yang terletak di pesisir timur negara itu yang kabarnya diharapkan oleh pihak berwenang akan menarik 20.000 pengunjung per tahun.

Anti Mainstream, Bandara Pyongyang Diklaim AS Terhubung dengan Fasilitas Nuklir Terbesar Korea Utara

Long Distance Ferry Balikpapan – Parepare Perkuat Konektivitas dan Majukan Ekonomi Daerah

Pengembangan layanan penyeberangan jarak jauh atau Long Distance Ferry (LDF) oleh PT ASDP Indonesia Ferry terus diperkuat kontribusinya. Meski perjalanan LDF ini tidak langsung dilayani ASDP, tetapi dioperasikan oleh anak usahanya PT Jembatan Nusantara (JN).

Untuk pengembangan ini, salas satu rute strategis yang kini terus dioptimalkan adalah lintasan Balikpapan (Kalimantan Timur) menuju Parepare (Sulawesi Selatan). Di mana jalur ini menjadi tulang punggung mobilitas logistic dan penumpang antarpulau i Kawasan Indonesia tengah dan timur.

Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menyampaikan bahwa kehadiran layanan LDF JN bukan hanya menopang kinerja operasional perusahaan, namun juga memberikan dampak nyata terhadap kelancaran distribusi logistik, penguatan rantai pasok bahan pokok, serta peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah yang dilayani.

“Layanan ini bukan semata soal penyeberangan, tetapi soal menyatukan Indonesia. Dengan moda kapal yang mampu mengangkut kendaraan logistik sekaligus penumpang, efisiensi distribusi menjadi lebih tinggi. Ini mempercepat mobilitas barang dan orang, serta mendukung pemerataan ekonomi di wilayah yang terhubung,” ujarnya yang dikutip dari siaran pers.

Sepanjang tahun 2024, JN mencatat kinerja positif di lintasan Balikpapan – Parepare dengan melayani 38.883 penumpang dan 10.124 unit kendaraan. Dari jumlah tersebut, terdapat 1.431 unit kendaraan golongan II, 4.078 kendaraan pribadi, dan 4.615 unit truk logistik.

Tren positif ini berlanjut pada semester I tahun 2025, di mana total 29.235 penumpang dan 7.569 unit kendaraan telah dilayani. Komposisinya meliputi 1.338 kendaraan golongan II, 3.508 kendaraan golongan IV, dan 2.698 truk logistik.

Dari tren ini tercermin bahwa permintaan terhadap layanan LDF terus meningkat, seiring pentingnya konektivitas maritim bagi sektor logistik dan perdagangan nasional.
Lintasan Balikpapan – Parepare memiliki jarak tempuh sekitar 250 mil laut dan memerlukan waktu pelayaran sekitar 22 jam dalam kondisi cuaca baik.

Untuk bulan Juli 2025, jadwal keberangkatan dari Balikpapan dilakukan setiap Kamis dan Minggu pukul 22.00 WITA menggunakan KMP. Swarna Bahtera, serta setiap Selasa dan Sabtu pukul 22.00 WITA menggunakan KM Madani Nusantara.

Long Distance Ferry, KMP Ferrindo 5 Kembali Berlayar dari Jakarta-Surabaya

Adapun jadwal keberangkatan dari Parepare berlangsung setiap Rabu dan Sabtu pukul 07.00 WITA oleh KMP. Swarna Bahtera, serta setiap Senin dan Jumat pukul 07.00 WITA menggunakan KMP. Madani Nusantara.

Jadwal ini bersifat dinamis dan menyesuaikan kondisi cuaca maupun operasional. ASDP sendiri turut memperkuat cakupan layanan LDF nasional melalui dua rute tambahan yang dilayani langsung, yaitu Patimban – Pontianak dan Patimban – Banjarmasin.

Kedua lintasan ini dilayani oleh KMP Ferrindo V yang fokus mengangkut kendaraan logistik dari Pulau Jawa menuju Kalimantan. Kapal ini memiliki kapasitas hingga 145 unit kendaraan campuran, menempuh jarak 420 mil ke Pontianak dengan waktu pelayaran 38 jam, dan 444 mil ke Banjarmasin dengan estimasi waktu pelayaran 40 jam.

“Layanan LDF adalah bentuk nyata transformasi peran ASDP dalam logistik maritim. Bukan sekadar penyeberangan, tapi solusi konektivitas nasional yang efisien dan strategis untuk mendukung distribusi logistik, ketahanan pasok, serta pertumbuhan ekonomi berbasis konektivitas laut,” jelas Shelvy.

Ke depan, ASDP bersama anak usahanya akan terus meningkatkan kualitas layanan, memperluas jangkauan, dan memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan agar layanan LDF ini menjadi bagian integral dari sistem logistik nasional dan terus menjadi katalis kemajuan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

KMP Legundi – Long Distance Ferry, Kapal RoRo Terbesar di Indonesia

Selain Tidak Punya Setir, Ternyata Ada Fakta Lain saat Kereta Api Berpindah Jalur

Tak perlu susah payah jika mau belok atau pun pindah jalur, karena cara mengemudi lokomotif tentu saja tak seperti kendaraan lainnya yang melintas diatas aspal. Nah, kereta api punya cara kerja yang unik dan tentu berbeda. Jika mobil atau sejenisnya jika ingin belok atau pindah jalur cukup putar setir saja, namun jika lokomotif cukup bergerak mengikuti arah rel.

Seperti video yang diunggah oleh akun resmi Instagram KAI dengan username @kai121_ yang menjelaskan tentang bagaimana kereta api bisa berpindah jalur. Selama kereta api berjalan diatas rel yang menentukan arah lokomotif itu bukan setir, tapi pada relnya. Jika rel tersebut posisi berbelok atau lurus saat melewati wesel maka otomatis rangkaian kereta juga akan berpindah jalur.

Jalur kereta api dan wesel. (Foto: Dok. Istimewa)

Wesel berasal dari bahasa Belanda, yaitu wissel. Wesel adalah konstruksi kereta api bercabang yang berguna untuk mengalihkan atau membuat kereta api berpindah dari jalur satu ke jalur lainnya. Dengan wesel ini, rel-rel banyak tersebut bisa digabungkan menjadi satu tujuan atau sebaliknya. Wesel sendiri terdiri dari sepasang rel yang ujungnya diruncingkan sehingga mampu melancarkan perpindahan kereta api dari jalur satu ke jalur lainnya.

Ini definisi nyata kepada lokomotif tidak memiliki setir, sementara yang bertugas mengatur perpindahan jalur kereta api adalah Petugas Pengatur Kereta Api (PPKA) di setiap stasiun. PPKA inilah yang menentukan kereta keluar masuk di jalur berapa dan mengatur persilangan kereta api melalui sistem persinyalan dan wesel elektrik maupun mekanik.

Saat kereta api berjalan, masinis di lokomotif bertugas untuk mengendalikan kecepatan, memantau sinyal, melakukan tunjuk sebut serta menjaga komunikasi dengan pusat pengendali, berkonsentrasi penuh, dan siaga menghadapi kondisi darurat.

Tak hanya itu, ada fakta menarik lain soal bagaimana kereta bisa menikung tanpa setir. Selain mengikuti rel, roda kereta dirancang dengan bentuk tirus, artinya bagian pinggir roda memiliki diameter yang sedikit berbeda dibandingkan bagian tengahnya.

Saat kereta melewati tikungan, perbedaan diameter ini membuat roda yang berada di sisi luar tikungan berputar sedikit lebih jauh dibanding roda sisi dalam, membantu kereta menjaga kestabilannya di tikungan. Desain inilah yang membuat kereta tetap stabil walaupun melewati rel berbelok.

Wesel Kereta Bukanlah Wesel Pos untuk Kirim Uang

Ingin Berwisata ke Dieng Naik Kereta Api? Ini Pilihan Rute dan Jadwalnya

Berwisata ke kawasan Dieng hingga kini masih menjadi daya tarik masyarakat yang hobi berpetualang yang dekat dengan alam. Dieng sering dijuluki sebagai negeri di atas awan karena diselimuti oleh awan. Hal ini terjadi, lantaran lokasinya berada pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Dikutip melalui laman Visit Jawa Tengah, secara geografis, Dataran Tinggi Dieng memiliki 6 kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo, Batang, Kendal, Banjarnegara, Pekalongan, dan Temanggung.

Berbagai macam transportasi yang mengarah ke objek wisata tersebut sudah bisa digunakan misalnya dari Ibu Kota Jakarta. Bahkan berbagai alternatif transportasi seperti kereta api sudah banyak digunakan karena perjalanannya yang cepat, praktis dan efisien. Menggunakan kereta api khususnya ke kota Wonosobo memang bisa dicapai dari berbagak kota, mengingat Stasiun Wonosobo sudah tidak aktif untuk perjalanan kereta api.

Untuk tiba ke kabupaten di Jawa Tengah ini, wisatawan dapat naik kereta ke kota terdekatnya. Ada 4 kota yang bisa menjadi pilihan yaitu Semarang, Jogja, Purwokerto dan Pekalongan. Setelah sampai di kota-kota ini, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan travel, bus atau sewa kendaraan pribadi. Berikut ini beberapa pilihan transportasi kereta api menuju Wonosobo:

1. Jakarta – Semarang
• Argo Sindoro: (Eksekutif) Berangkat pukul 16:45 WIB dari Gambir dan tiba di Semarang Tawang pukul 21:55 WIB.

• Argo Muria: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 07:00 WIB, tiba di Stasiun Semarang Tawang pukul 12:10 WIB.

• Gumarang: (Bisnis) Berangkat pukul 15.00 WIB, tiba di Semarang Tawang pukul 18.52 WIB.

• Sembrani: (Eksekutif) Berangkat pukul 10.20 WIB, tiba di Semarang Tawang 15.25 WIB.

• Tawang Jaya Premium: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB, tiba di Semarang Tawang pukul 12.53 WIB.

• Dharmawangsa: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.50 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 15.15 WIB.

• Matarmaja: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 15.15 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 21.52 WIB.

• Menoreh: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 13.35 WIB dan tiba di Semarang Tawang 19.22 WIB.

• Kertajaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.30 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 02.36 WIB.

• Tawang Jaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 23.55 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 06.15 WIB.

• Jayabaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen 19.06 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 19.27 WIB.

• Airlangga: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 11.30 WIB dan tiba di Semarang pukul 18.30 WIB.

• Brantas: (Ekonomi/Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 13.30 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 19.56 WIB.

2. Jakarta – Yogyakarta
• Argo Dwipangga: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 08.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.39 WIB.

• Taksaka: (Eksekutif) KA Taksaka Pagi berangkat dari Gambir pukul 09.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.30 WIB, sedangkan KA Taksaka Malam berangkat dari Gambir pukul 21.30 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 03.45 WIB.

• Gajayana: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 01:26 WIB.

• Argo Lawu: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 20.45 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 02.49 WIB.

• Argo Semeru: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 06.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 12.54 WIB.

• Taksaka Luxury: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 09.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.40 WIB. Kereta ini juga memiliki jadwal keberangkatan malam pukul 21.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 04.00 WIB.

• Mataram: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasan Senen pukul 21.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 04.35 WIB.

• Bengawan: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.55 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 16.45 WIB.

• Gaya Baru Malam Selatan: (Ekonomi) Berangkat dari Stasun Pasar Senen pukul 11.00 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 19.15 WIB.

• Jayakarta: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 17.10 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 00.54 WIB.

• Progo: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 22.30 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 07.05 WIB.

• Bogowonto: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 18.10 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 06.09 WIB.

• Singasari: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 20.55 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 05.25 WIB.

• Jaka Tingkir: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 11.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 19.08 WIB.

• Fajar Utama YK: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 14.37 WIB.

• Fajar Utama Solo: (Eksekutif-Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 05.45 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 12.32 WIB.

3. Jakarta – Pekalongan
• Menoreh: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 11.33 WIB.

• KertajayaEkonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.30 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 19.40 WIB.

• MajapahitEkonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 17.40 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 22.02 WIB.

• Dharmawangsa Ekspres: (Eksekutif/Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.10 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 13.56 WIB.

• Brantas: (Eksekutif/Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.10 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 19.07 WIB.

• Tawang Jawa Premium: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 11.33 WIB.

4. Jakarta – Purwokerto
• Argo Lawu: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 20.45 WIB dan tiba di Purwekerto pukul 00.54 WIB.

• Argo Dwipangga: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 08.50 WIB dan tiba pukul 12.58 WIB.

• Taksaka Malam: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 21.20 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 01.30 WIB.

• Bima: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 17.00 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 21.16 WIB.

• Gajayana: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 23.11 WIB.

• Fajar Utama Solo (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 05.40 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 10.14 WIB.

• Sawunggalih: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.30 WIB dan tiba di Purwokertp pukul 11.00 WIB.

• Serayu: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 19.25 dan tiba di Purwokerto pukul 06.00 WIB.

• Bangunkarta: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 12.25 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 17.23 WIB.