Pemindai 3D Network Rail Tampilkan Hasil Impresif Untuk Pembangunan Jalur Kereta

Lagi dan lagi, perkembangan teknologi turut berperan serta dalam memudahkan kehidupan manusia di era milenial ini – kini ada teknologi 3 Dimensi (3D) yang membantu survei perkeretaapian penumpang di Skotlandia untuk generasi selanjutnya. Sebut saja mengukur lebar terowongan, lebar jembatan, hingga tinggi platform merupakan contoh pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan citraan 3D milik otoritas perkeretaapian Inggris, Network Rail.

Baca Juga: Pemindai Generasi Baru Siap Deteksi Laptop di dalam Tas

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman scotsman.com (6/9/2018), ini merupakan kali pertama bagi Network Rail dalam menggunakan program citraan 3D untuk secara tepat memetakan infrastruktur kereta api di Skotlandia menjelang kedatangan kereta api terbarunya – LNER Azumas, kelas 365 dan kelas 385.

Adalah sistem Trimble GEDOScan yang dioperasikan oleh tim Network Rail of Absolute Geometry (ATG) Engineer yang dikerahkan untuk mengumpulkan informasi terperinci soal track dan fitur pelengkap jalur kereta lainnya, seperti terowongan, jembatan, parapet, dan platform atau peron. Resolusiyang dihasilkan oleh sistem in pun tidaklah apa adanya – melainkan high definition.

Adapun data yang berhasil dikumpulkan oleh sistem ini nantinyadigunakan untuk penilaian izin lintasan pada struktur dan terowongan. Sejak April 2018 kemarin, sistem pemindaian semacam ini sudah mulai diperkenalkan ke publik, dengan hasil uji coba pemindai memiliki tingkat akurasi kurang dari 5mm – relatif. Tidak heran juga jika data yang dikumpulkan oleh sistem pemindai 3D ini tergolong lebih cepat dan tepat ketimbang dilakukan secara manual.

“Pemindaian 3D menyajikan lebih banyak informasi dan lebih rinci dalam rentang waktu yang relatif lebih singkat – dimana ini akan mengurangi kebutuhan SDM di lapangan. Tentu dengan hadirnya sistem pemindai ini membuat para pekerja di lapangan lebih aman dan efisien,” ungkap seorang insinyur geometri jalur mutlak dari Network Rail di Skotlandia, Graham Hutchison.

Baca Juga: Akuarium Virtual Pemindai Wajah Sapa Calon Penumpang di Bandara Dubai

“Sistem pemindai semacam ini sangat cocok untuk survei di dalam terowongan, di mana konstruksi yang tidak teratur dapat menyulitkan para insinyur untuk menemukan titik-titik penyangga utama. Proses pemindaian ini memakan waktu kerja satu per lima lebih cepat dari metode manual yang kami gunakan sebelumnya,” tandas Graham.

Di India, Para Pengantar Penumpang Masih Diperbolehkan Masuk ke Peron Lho!

Jika di Indonesia para pengantar calon penumpang kereta api konvensional dilarang masuk ke dalam peron untuk kepentingan apapun, maka hal yang sebaliknya masih terjadi di India – dimana hal ini memiliki dampak penumpukan orang di peron. Hal ini sampai-sampai menuai sorotan dari Pengadilan Tinggi Bombay yang mempertanyakan mengapa operator mengijinkan hal tersebut.

Baca Juga: Dua Stasiun di India Siap Jadi ‘Kelinci Percobaan’ Sistem Keamanan Asal Israel

Berdasarkan kutipan KabarPenumpang.com dari laman business-standard.com (6/9/2018), Ketua Mahkamah Agung Naresh Patil dan Rajesh Ketkar mengatakan bahwa jika ada 10 orang pengantar yang hanya mengantarkan satu penumpang saja, bagaimana jika hal serupa terjadi pada semua penumpang kereta? Tentu saja ini akan membuat peron menjadi penuh dan tidak menutup kemungkinan akan mengganggu petugas.

“Belum lagi eksistensi dari pedagang asongan yang juga ikut masuk ke dalam peron, tentu saja ini semakin membuat suasana di peron semakin semerawut. Pihak operator memang sangat baik dengan mengijinkan semuanya masuk ke dalam peron, tapi apakah ini perlu?” ujar Ketua Mahkamah Agung tersebut tanpa merinci stasiun mana saja yang memiliki masalah ledakan populasi ini.

Tidak sedikit petisi yang masuk ke Mahkamah Agung perkara masalah infrastuktur yang semakin membuat orang tidak nyaman ini – buntut dari kebijakan pihak perkeretaapian yang tidak membatasi pengantar untuk masuk ke dalam peron. Lebih lanjut, Mahkamah Agung meminta pihak perkeretaapian untuk kembali meninjau skala prioritas dari permasalahan ini dan sesegera mungkin menemukan jalan keluar yang terbaik.

“Sebagian besar infrastuktur di stasiun sudah tua, dan sekarang mereka berhadapan dengan masalah ledakan populasi. Sementara itu, ada sangat banyak orang dari luar Maharashtra datang ke kota – dimana ini semakin memperkeruh keadaan. Bagaimana infrastruktur yang ada dapat menampung ledakan populasi ini?” lanjut Naresh dan Rajesh.

Di sisi lain, seorang amicus curiae (pihak netral dalam suatu kasus), Zal Andhyarujina mengatakan bahwa pihak perkeretaapian sudah mencoba untuk menahan pengantar untuk tidak masuk ke dalam peron untuk mengantar calon penumpang, “namun mereka semua kewalahan untuk membendung para pengantar,”

Baca Juga: Stasiun Kereta ‘Rasa Bandara Internasional’ Siap Hadir di India

Pada akhirnya, Ketua Mahkamah Agung Naresh Patil dan Rajesh Ketkar mengatakan kepada pihak perkeretaapian di India yang masih mengijinkan para pengantar untuk masuk ke dalam peron untuk, “lebih memprioritaskan keselamatan penumpang. Jangan sampai ledakan populasi yang terjadi di peron akhirnya menghambat kerja dari petugas kereta api yang dikhawatirkan akan mengancam keselamatan para penumpangnya.”

 

Toilet Mampet, 187 Penumpang American Airlines Terpaksa Buang Air di Kantong Plastik dan Botol!

Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya melakukan penerbangan selama kurang lebih enam jam tanpa diperbolehkan untuk menggunakan toilet oleh pihak maskapai? Sedikit banyaknya ini akan menimbulkan masalah bagi para penumpang yang berada di layanan tersebut.

Baca Juga: Toilet di Pesawat, Fungsi Sama Aturan Sedikit Beda

Seperti yang terjadi pada penerbangan American Airlines dari Phoenix menuju Kona, Hawaii pada Jumat (31/8/2018) kemarin, dimana sebanyak 187 penumpang American Airlines dilarang untuk menggunakan toilet. Ada apa ya kira-kira?

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata pelarangan tersebut merupakan buntut dari sistem saluran toilet yang mengalami gangguan (mampet) pasca seorang penumpang membuang popok ke dalam toilet. Dari tiga toilet yang tersedia di dalam penerbangan 663 tersebut, hanya satu yang dibuka – sisanya ditutup rapat.

Ketika seorang penumpang wanita yang ingin menggunakan toilet, ia diberhentikan oleh awak kabin dan menitahnya untuk buang air kecil di kantong plastik. Memang, sebelumnya wanita ini sudah mendengar pengumuman dari awak kabin melalui pengeras suara yang mengatakan bahwa ada masalah pada toilet di dalam penerbangan tersebut.

Benar saja, ketika penumpang wanita yang identitasnya enggan dibongkar ini mencoba untuk membuka satu toilet yang tersisa – pada bagian depan, sebuah pemandangan menjijikan dan bau tidak sedap sontak menyeruak tak lama setelah pintu toilet tersebut dibuka. “Toiletnya mampet, dan yang ini (toilet depan) juga sudah mulai meluap,” ungkap awak kabin menyambung respon jijik si penumpang.

“Untuk sementara, Anda bisa buang air di plastik, dan penumpang pria bisa buang air di botol. Saya tahu ini memang menjijikkan, kami meminta maaf,” ujar sang awak kabin di dalam video yang berhasil diabadikan oleh penumpang wanita tersebut – sayangnya, video ini sudah menyebar luas di dunia maya.

Menanggapi masalah dalam penerbangan tersebut, pihak American Airlines pun meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. “Kami meminta maaf yang sedalam-dalamnya akibat kejadian yang membuat Anda tidak nyaman ini,” ungkap pihak American Airlines melalui pernyataan tertulis.

Baca Juga: Cidera Otak, Penumpang Ini Gugat American Airlines Senilai US$10 Juta

“Berdasarkan peraturan perusahaan, semisal toilet mengalami kendala, seharusnya pesawat melakukan pendaratan tidak berjadwal di bandara terdekat yang tersedia. Namun karena lokasinya sudah dekat, maka penerbangan pun dilanjutkan hingga Kona. Pesawat lalu diperbaiki sesampainya di Kona. Untuk penerbangan selanjutnya menuju Phoenix tetap sesuai jadwal yang sudah ada sebelumnya.” Tutup pihak American Airlines.

 

Ketepatan Waktu Kereta India Mengalami Penurunan Akibat Faktor Keterlambatan

Keterlambatan kereta api kerap kali terjadi, bahkan India yang memiliki jaringan kereta terbesar kedua dunia pun mengalami hal tersebut. Dikatakan bahwa data yang disusun di Parlemen menunjukkan bahwa ketepatan waktu pemberhentian kereta di Chennai dan stasiun lain seperti Tamil Nadu dan Kerala memburuk selama tiga tahun terakhir.

Baca juga: Persinyalan Terganggu, Perjalanan Penumpang Kereta di Inggris Dialihkan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com, bahwa tingkat ketepatan waktu turun dari 88,3 persen di tahun 2015-2016 turun menjadi 80 persen di 2017-2018. Ketepatan waktunya sendiri pun setiap kelas kereta berbeda-beda baik kereta premium seperti Rajdhani dan Shatabdi hingga kereta ekspres dan super cepat telah turun.

Sayangnya hanya 76 persen kereta super cepat yang tepat waktu pada 2017-2018 sedangkan untuk Shatabdi 84,9 persen dan Rajdhani 72,76 persen. Dari penglihatan sepintas yang didapat dari keluhan kepada kereta api di media sosial menunjukkan sebagian besar keluhan bermasalah pada keterlambatan kereta.

Hal ini menyebabkan penurunan penumpang yang signifikan pada kereta api di Kerala, dimana penumpang pekerja kantoran beralih ke moda transportasi lain karena gaji mereka dipotong akibat melapor keterlambatan bekerja. Ini pun menyebabkan penurunan jumlah penumpang yang signifikan.

Tetapi beberapa pejabat kereta api mengatakan, sebagian besar tidak peduli dengan penundaan kecuali terlalu banyak laporan yang didapatkan. Sebuah survei yang dilakukan oleh divisi Chennai mendapatkan lebih dari 50 persen kasus kerusakan pada rel.

Sehingga para pekerja pemelihara yang bertanggung jawab atas keterlambatan perjalanan kereta. Alasan lain adanya penundaan adalah kegagalan sinyal, gangguan pada lokomotif, kecelakaan dipersimpangan hingga agitasi penumpang.

Beberapa aplikasi terkait jadwal kereta juga menginformasikan kepada penumpang tentang keterlambatan kereta secara real time, tetapi terkadang informasi tersebut salah.

Baca juga: Terlambat Karena Gangguan KRL? Jangan Lupa Minta Surat Keterangan Terlambat dari Petugas!

“Pada hari Minggu baru-baru ini, kereta api tertunda setidaknya tiga jam karena tergelincirnya kereta barang di dekat Katpadi. Namun, aplikasi Sistem Pengiriman Kereta Api Nasional kereta api menunjukkan bahwa kereta tepat waktu,” ujar K Baskar, anggota Komite Permusyawaratan Pengguna Kereta Api Divisi Chennai.

Sumber lain yang ada mengatakan angka ketepatan waktu mungkin tidak final. Bahkan surat edaran kereta api telah mengakui bahwa data-data tersebut tidak jelas.

Suka Makanan Minang? Citilink Hadirkan Nasi Kapau Untuk Kuliner di Udara

Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia kembali menghadirkan pilihan kuliner terbaru dengan cita rasa Indonesia dalam setiap penerbangannya. Menu terbaru ini telah hadir untuk penumpang sejak 1 September 2018 kemarin.

Baca juga: Citilink dan Kalbe Farma Kampanyekan #terbangsehat Pada Penumpang

Dari keterangan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com, salah satu menu terbaru yang bisa dinikmati penumpang Citilink adalah Nasi Kapau.

“Peluncuran menu baru ini sejalan dengan upaya Citilink Indonesia untuk terus meningkatkan layanan dalam setiap penerbangannya, sehingga penumpang dapat menikmati penerbangan dengan pilihan makanan cita rasa yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia,” ujar Vice President Corporate Secretary and CSR Ranty Astari Rachman.

Tak hanya itu, Vice President Cargo and Ancillary Revenue, Benny Rustanto mengatakan, pihaknya menghadirkan menu baru ini menjadi salah satu strategi agar penumpang yang sering terbang dengan Citilink tidak merasa bosan. Benny juga menambahkan, mengganti beberapa menu setelah mensurvei penumpang.

Pilihan Nasi Kapau sendiri dikarenakan salah satu makanan yang paling banyak peminatnya baik itu dalam negeri maupun mancanegara. Selain Nasi Kapau, Citilink mengadirkan tiga makana khas nusantara lainnya yakni Nasi Ulam, Sate Ayam Indonesia dan Nasi Goreng Supergreen.

Untuk melengkapi kuliner nusantara ini, ada pula signature drink atau minuman pilihan yakni jus kacang hijau untuk memberikan kesegaran pada penumpang. Meski begitu Citilink juga menghadirkan makanan bergaya barat atau internasional terbaru seperti omelette and chicken sausage, sandwich smoked chicken and cheese, dan garden salad.

“Kami hadirkan menu-menu tersebut dengan proses seleksi yang ketat. Kriterianya survei pelanggan dan diskusi dengan Aerofood ACS,” ujar Benny.

Dalam pengenalan menu baru, Citilink tetap mempertahankan tiga kuliner yang telah hadir sebelumnya yaitu Nasi kuning tuna, nasi goreng spesial, dan spageti bolognaise.

Baca juga: Jelang Q4 2018, Citilink Canangkan Buka Rute Banyuwangi-Kuala Lumpur

“Ada survei penumpang menginginkan adanya dessert. Kami juga luncurkan minuman yaitu jus kacang ijo. Kuliner ini hanya bisa dinikmati pelanggan Citilink,” tambah Benny

Penumpang bisa memesan langsung di pesawat (on board) atau memesan sebelum terbang (pre book meal) di laman citilink.co.id. Harga setiap jenis kuliner bila memesan on board yaitu Rp55 ribu. Sementara, pre book meal Rp45 ribu. Sebelumnya, pada bulan Januari 2018, Citilink telah meluncurkan kuliner Indonesia, yakni Nasi Campur Bali, Nasi Kuning Cakalang Manado, Nasi Ayam Tangkap Aceh, serta Ikan Arsik Sibolga.

Selain Lokomotif Vectron Dual Mode, Inilah yang Akan Dipamerkan Siemens di InnoTrans 2018!

Siemens Mobility dan mitra pengembangan ViP Verkehrsbetrieb Potsdam diketahui akan mempresentasikan proyek penelitian mereka yang bertujuan untuk mengembangkan trem otonom pertama di dunia. Siemens Mobility yang berbasis di Berlin, Jerman ini rencananya akan mendemonstrasikan trem otonom di jalur sepanjang 6 km di Postdam, Jerman – dimana demonstrasi ini merupakan bagian dari perhelatan InnoTrans 2018 yang diadakan pada 18-21 September mendatang.

Baca Juga: Trem Listrik, Mantan Primadona Transportasi Arek Suroboyo

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (4/9/2018), adapun armada yang akan digunakan pada saat demonstrasi ini adalah Combino Tram buatan Siemens yang didapat dari ViP Verkehrsbetrieb Potsdam. Keandalan moda akan diuji di sini, dimana salah satu yang menjadi permasalahan dalam menghadirkan moda otonom adalah soal bagaimana moda ini bisa mengidentifikasi rintangan yang ada di hadapannya.

Selain itu, Combino Tram juga akan dihadapkan pada skema lalu lintas seperti biasa, tanpa ada skema uji coba. Di sini, beberapa fitur Light Detection And Ranging (LIDAR), radar, dan sensor kamera akan mendeteksi lingkungan di sekitar moda dan menjalankan fungsi algoritma yang kompleks untuk menginterpretasikan data yang diperoleh dan memberikan respons yang tepat.

Trem otonom canggih ini mampu merespons sinyal trem, berhenti di perhentian tertentu, serta langsung merespons pergerakan kendaraan lain dan pejalan kaki yang menyeberang. “Kami yakin bahwa trem ini sudah menguasai fungsi operasi penting dalam berlalu lintas – dan ini akan kami buktikan ketika acara tersebut, tutur CEO Siemens Mobility, Sabrina Soussan.

“Sebuah tonggak penting tercipta manakala sistem anti tabrakan ‘Siemens Tram Assistant’ telah membantu kami untuk mematangkan Combino Tram,” tandasnya. Sabrina yakin bahwa dengan mengkombinasikan teknologi canggih, ketelitian yang mendetail, dan moda yang mumpuni maka akan tercipta sebuah keamanan dan keselamatan dalam berkendara, “baik perjalanan lokal maupun jarak jauh,”

Baca Juga: Siemens Mobility Siap Pamerkan Lokomotif yang Bisa Beroperasi dengan Dua Metode

Sebelumnya, Siemens Mobility juga akan memamerkan salah satu mahakaryanya pada pagelaran InnoTrans 2018, yaitu Lokomotif Vectron Dual Mode. Sesuai dengan namanya, lokomotif ini sengaja diciptakan untuk mengular di dua medan yang berbeda – jalur yang dialiri listrik dan jalur biasa.

 

Meski Penerbangan Langsung Jakarta-London Tutup, Garuda Indonesia Masih Layani via Codeshare

Penutupan penerbangan langsung rute Jakarta-London PP, memiliki dampak yang cukup besar bagi para pelanggan Garuda Indonesia. Namun meski begitu Garuda Indonesia tetap membuka rute tersebut hanya saja dengan menggunakan penerbangan tranfer baik dengan pesawat Garuda atau lainnya yang berbagi codeshare.

Baca juga: Tutup Rute Penerbangan Langsung Jakarta-London, Ada Apa dengan Garuda Indonesia?

“Pelanggan Garuda bisa menggunakan pesawat penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam dan bisa melanjutkan ke London dengan pesawat Garuda kita sendiri atau codeshare dengan KLM atau yang lainnya,” ujar Direktur Komersial dan Cargo Internasional, Sigit Muhartono kepada KabarPenumpang.com, Kamis (6/9/2018).

Dia mengatakan, penghentian rute penerbangan langsung dari Jakarta menuju London PP tersebut tidak ada kaitannya dengan pemeberhentian rute lain sebelumnya. Sigit menjelaskan penutupan rute ini sendiri memilik rumus tertentu sebab setiap maskapai pastinya akan memiliki rute kemana pun dan menghasilkan profit.

“Jadi gini, kalau saya bisa sampaikan penutupan rute London itu penyebabnya banyak faktor, ini adalah kombinasi beberapa hal. Pertama adalah faktor bahwa kita pengen mengoptimize karena kita punya rotasi dari pesawat kita. Yang namanya sewa pesawat, sudah pasti pesawat ini harus terbang terus dan jangan sampai berhenti karena dengan terbang terus mendapat revenue,” ujar Sigit.

Dia menegaskan, yang seharusnya optimal menjadi tidak optimal dimana terlalu lama untuk menunggu saat di London dan bisa dikatakan satu rotasi tersebut terganggu. Hal ini membuat Garuda Indonesia berpikir untuk membuat pesawat tersebut terus terbang dan mengefektifkan jam terbangnya. Faktor kedua yang dikatakan Sigit adalah masalah limitasi dari infrastruktur.

“Kita punya infrastuktur kebandaraan dari Indonesia itu masih belum bisa mendukung penerbangan kita yang Jakarta-London. Kemudian yang ketiga adalah faktor potensi market segala macam kita bisa melakukan banyak cara, misalnya Eropa, kita lihat sekarang karena limitasi daripada dukungan infrastuktur tadi dan lain sebagainya, London marketnya memang ada tapi gak kita serve Jakarta-London langsung, karena cost kita psti nambah dan mahal, karena penerbangan langsung ke London, hampir 14 jam, ya mungkin 12 atau 13 jam tapi hampir 14,” kata Sigit.

Baca juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London

Dia menambahkan, masalah limitasi karena infrastruktur sehingga Garuda Indonesia tidak bisa optimal dalam pengangkutan penumpang. Dimana dengan bahan bakar penuh tetapi penumpang yang dibawa dibatasi hanya 75 persen dari kursi yang ada.

“Karena ini kita tidak bisa mengangkut secara maksimum. Kalau ada kursi 100 yang bisa di angkut hanya 75 penumpang. Padahal pelanggannya sendiri sekitar 500 ribu orang dari Jakrata ke London pertahunnya,” tutur Sigit.

Virgin Trains Kembangkan Fitur Komunikasi Canggih Untuk Penumpangnya

Ada saja memang terobosan yang dilakukan oleh operator layanan transportasi dalam mencuri perhatian publik – sebut saja Virgin Trains yang diketahui baru-baru ini bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi Vodafone dan Open Market, sebuah mobile messaging specialist dalam mengembangkan fitur Rich Communications Services (RCS) di dalam layanannya.

Baca Juga: Ikuti Jejak MRT Jakarta dan GoJek, Virgin Trains Bermitra dengan Uber

Ya, sesuai dengan namanya, ini merupakan fitur percakapan untuk penumpang Virgin Trains. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (31/8/2018), fitur percakapan ini berbeda dengan SMS yang berbasis teks, melainkan memungkinkan pihak Virgin Trains untuk mengirim foto, video, audio, dan pesan teks menggunakan tombol easy-to-select kepada para penumpang.

Adapun cara kerja dari fitur ini adalah pihak Virgin akan mengirimkan pesan kepada penumpang pengguna smartphone sekitar 10 menit sebelum kereta tiba di stasiun. Isi pesan tersebut adalah informasi pembaruan layanan dari London Underground, dimana ada sebuah menu yang akan menampilkan informasi lebih detail semisal ditekan oleh penumpang. Sebagai ajang uji coba, pihak Virgin baru akan menerapkan fitur ini di kereta yang bertolak menuju London Euston.

CEO OpenMarket, Jonathan Morgan memaparkan tiga alasan utama dibalik hadirnya fitur lanjutan dari layanan pesan berbasis teks biasa. “Pertama, ini akan memudahkan penumpang untuk memberikan feedback – hanya tinggal memencet tombol. Kedua, kami tidak memerlukan aplikasi percakapan pihak ketiga, karena fitur ini akan menambah fungsionalitas dari kotak masuk yang biasa diakses oleh penumpang. Ketiga adalah keabsahan dari pesan yang dikirim oleh operator – dimana hal ini akan meningkatkan rasa aman penumpang,” paparnya.

Dengan hadirnya fitur ini, Jonathan beranggapan bahwa RCS merupakan cara baru untuk berkomunikasi dengan para pengguna jasa Virgin Trains. Pernyataan tersebutpun diamini oleh Kepala Petugas Informasi Virgin Train, John Sullivan. “Kami sangat bersemangat untuk berinvestasi dalam teknologi baru yang akan mengubah cara kami berkomunikasi dengan pelanggan kami,” ungkap John.

Baca Juga: Sambut Pengoperasian, MRT Jakarta Rilis Mobile Application dan Maskot nan Lucu!

“Mengingat ini merupakan tahap awal, maka ke depannya yang kami harapkan adalah pengembangan fitur RCS ini di keseluruhan jaringan Virgin Trains,” tambahnya.

Mungkin, fitur RCS ini agak sedikit mirip dengan mobile application MRT-J milik PT MRT Jakarta – dimana fitur pembeberan informasi terkait perjalanan juga dapat Anda temui di dalam aplikasi MRT-J ini. Kendati tidak sama persis, namun tujuan kedua perusahaan beda negara ini tetap sama – memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggannya.

 

Jumlah Perlintasan Sebidang Liar di Indonesia, Tembus Angka 4.000!

Selain kerap menjadi sumber kemacetan di Ibukota dan beberapa kota besar lainnya, ternyata perlintasan sebidang pun tak jarang menjadi saksi bisu dari ratusan bahkan ribuan kecelakaan – baik yang menelan korban luka atau jiwa. Kendati erat dengan dunia perkeretaapian yang dinaungi oleh PT KAI, namun pada kenyataannya perlintasan sebidang merupakan tanggung jawab dari Pemerintah Daerah (Pemda) terkait.

Baca Juga: Jalur Perlintasan KA, Masih Jadi Momok Menakutkan

Saling lempar tanggung jawab semisal ada kasus kecelakaan di perlintasan sebidang pun tak pelak mewarnai pemberitaan di media. Bagi warga yang belum mengetahui tentang ‘keberpihakan’ perlintasan sebidang, tentu mereka akan memberondong PT KAI untuk meminta pertanggungjawaban. Belum lagi perlintasan liar yang minim akan penanda dan penjaga palang pintu kereta yang kasarnya kurang terlatih.

Di Indonesia sendiri, terdapat 4.635 perlintasan sebidang liar yang kebanyakan berada di daerah kabupaten dan pinggiran kota. Menurut Dirjen Keselamatan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Edi Nursalam, banyaknya perlintasan sebidang dewasa ini merupakan peninggalan jaman Belanda dulu.

“Untuk kereta konvensional (kereta jarak jauh dan Commuter Line Jabodetabek) memang masih banyak ditemukan perlintasan sebidang. Sementara untuk kereta api modern seperti Light Rapid Transit (LRT) dan MRT itu sudah tidak ada lagi,” ujar Edi ketika ditemui KabarPenumpang.com pada acara KNKT Safety Review Forum di Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Edi Nursalam (Kedua dari Kanan).

Sesuai dengan namanya, perlintasan sebidang liar memang dibangun sendiri oleh masyarakat untuk menghubungkan sati titik dengan titik lainnya yang terpisahkan oleh rel kereta api. “Ini tentu masalah buat kita karena perlintasan semacam itu dibangun tanpa izin (dari Kementerian Perhubungan). Jadi itu dibangun sendiri oleh masyarakat dan didukung oleh Pemda yang pada akhirnya, perlintasan sebidang liar tersebut semakin besar,” tandas Edi.

Karena faktor di atas inilah yang akhirnya melatarbelakangi tingginya angka perlintasan sebidang liar yang ada di Indonesia. Tanpa bermaksud menyudutkan salah satu pihak, namun di sini Edi menegaskan bahwa diperlukannya pengelolaan yang tepat dan memenuhi standar dalam ‘merawat’ perlintasan sebidang.

“Sebenarnya masalah utama dari perlintasan sebidang (liar) itu adalah pengamanannya, karena tidak memenuhi standar keselamatan. Sebenarnya kalau memenuhi standar keselamatan, ya itu tidak jadi masalah,” ungkap Edi. “Di negara-negara maju, di Eropa, Singapura, Malaysia, Amerika juga masih banyak perlintasan sebidang, tapi ini nggak jadi masalah karena mereka memenuhi standar keselamatan untuk perlintasan,” tandasnya.

Permasalahan semacam ini semakin pelik, lanjut Edi, manakala Undang-Undang menyebutkan bahwa perlintasan sebidang tanpa izin harus ditutup. “Yang menutup adalah Pemda, tapi mereka nggak mau tutup itu karena akan menimbulkan konflik baru, nantinya mereka akan diprotes oleh warganya sendiri, belum lagi perlintasan tersebut sudah ramai digunakan masyarakat,” papar Edi.

Baca Juga: Cegah Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Indian Railways Adopsi Teknologi Satelit

Sebagai solusi, Edi telah membagi tugas dengan otoritas terkait guna melakukan penutupan terhadap perlintasan sebidang liar ini, namun karena tidak kunjung dijabani, “maka saya sendiri yang menutup, walaupun pada kenyataannya itu tidak mudah, namun semua ini kan demi kebaikan bersama.”

Ketika disinggung soal kriteria apa saja yang harus dipenuhi oleh sebuah perlintasan sebidang, Edi mengatakan bahwa ada banyak standar yang harus dipenuhi, “di perlintasan sebidangitu harus dipasang rambu minimal 10. Coba sekarang kita lihat, bahkan ada perlintasan yang tidak memiliki rambu sama sekali.” Tutup Edi.

Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Japan Airlines

Garuda Indonesia kembali melakukan kerja sama dengan maskapai lainnya, kali ini dengan Japan Airlines (JAL). Kerja sama yang resmi dilakukan pada hari ini (6/9/2018) dilakukan dalam rangka peningkatan konektivitas penerbangan di kawasan Asia Pasifik.

Baca juga: Saudi Arabian Airlines dan Garuda Indonesia Perluas Perjanjian Codeshare

Selain itu juga untuk memberikan pilihan lebih banyak bagi pengguna kedua maskapai tersebut khususnya layanan penerbangan dari Indonesia ke Jepang dan Amerika Serikat.

“Perjanjian ini akan mulai berlaku 28 Oktober 2018 mendatang dimana ada tawaran codeshare untuk rute domestik dan internasional tertentu di Jepang dan Amerika Serikat serta Indonesia yang nantinya akan dioperasikan oleh Garuda Indonesia atau JAL,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala Mansyuri di kantor Garuda Indonesia yang ditemui KabarPenumpang.com, Kamis (6/9/2018).

Pahala mengatakan Garuda akan menjadi marketing carrier dan menempatkan flight numbernya pada penerbangan JAL di rute Narita-Jakarta, Narita-New York dan Narita-Los Angeles di internasional. Sedangkan di rute dalam Jepang sendiri yakni Haneda-New Chitose, Haneda-Nagoya-Chubu dan Haneka-Fukuoka.

Sebaliknya juga JAL akan menjadi marketing carrier dan menempatkan nomor penerbangannya pada penerbangan Garuda rute Jakarta-Haneda PP, Denpasar-Narita PP dan Jakarta-Yogyakarta PP serta Jakarta-Surabaya PP. Selain itu Executive Officer JAL, Tadashi Fujita mengatakan, dengan adanya codeshare ini kedua maskapai bisa menambah channel penjualan dan Indonesia sendiri merupakan industri wisata yang atraktif.

Bahkan Pahala menambahkan, selain memperkuat dalam jaringan penerbangan internasional keduanya, terutama di kawasan Asia Pasifik. Adanya codeshare ini juga bisa mempermudah penumpang saat melakukan perjalanan dari Indonesia ke Jepang dan Amerika Serikat. Pemilihan JAL sendiri dikatana Pahala, karena Jepang merupakan salah satu pangsa pasar yang sanat penting bagi Garuda Indonesia.

Baca juga: Ribut di Penerbangan Garuda Indonesia, Pasangan Mabuk ini Paksa Kapten Lakukan Pendaratan Tak Berjadwal

“Melalui kerjasama ini, para pengguna diharapkan dapat menikmati dan memiliki pilihan penerbangan menuju Jepang dan Indonesia,” kata Pahala.

Untuk diketahui, selain melakukan codeshare, Garuda Indonesia juga memiliki awak kabin yang berasal dari Jepang. Hadirnya awak kabin ini untuk memudahkan komunikasi penumpang Jepang dalam pelayanan selama penerbangan.