2023, SNCF Hadirkan Prototipe Kereta Api Tanpa Awak di Perancis

Kereta otonom atau tanpa pengemudi semakin hari banyak negara yang mengembangkannya untuk digunakan di jalur perkeretaapian mereka. Seperti Perancis yang akan mengenalkan kereta tanpa pengemudinya tahun 2023 mendatang.

Baca juga: Trafik Penumpang Terus Melesat, Bandara Shenzhen Siap Operasikan Sistem Kereta Otonom

SNCF (Société nationale des chemins de fer français) sebagai operator kereta api asal Perancis rencananya akan memperkenalkan prototipe kereta utama tanpa pengemudi untuk barang dan penumpang ini tahun 2023 mendatang. Kemudian setelah itu akan memasukkan kereta-kereta tanpa pengemudi ini dalam layanan terjadwal di tahun-tahun berikutnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman france24.com (13/9/2018), Ketua SNCF Guillaume Pepy mengatakan, dengan kereta api otonom atau tanpa pengemudi, semua kereta diharapkan akan berjalan dengan cara yang harmonis pada kecepatan yang sama. Sehingga sistem layanan kereta api akan menjadi lebih baik dan mengalir.

Operator SNCF sendiri berharap peralihan ini memungkinkannya untuk menjalankan lebih banyak kereta api di jalur utama tersibuk di Perancis. Selain itu dengan kereta api tanpa awak juga diharapkan bisa memotong konsumsi energi.

“Banyak kota, termasuk Paris, sudah menjalankan kereta metro tanpa sopir tetapi perjalanan jarak jauh tanpa pengemudi menghadirkan tantangan baru. Kereta api adalah sistem terbuka dan yang tidak terduga adalah aturannya,” kata Pepy.

Adanya kereta tanpa pengemudi ini operator SNCF akan bermitra dengan spesialis rolling stock Alstom dan Bombardier yang masing-masing akan menuju konsorsium untuk lalu lintas barang dan penumpang. Pierre Izard dari divisi teknologi rel SNCF mengatakan, pergeseran kereta tanpa awak sendiri di Prancis akan dilakukan secara bertahap.

“Dimana dari adanya masinis yang mengemudikan kereta api hingga yang paling ekstrim dari otomatisasi dimana tidak ada lagi kehadiran manusia dalam menjalankan kereta api,” ujar Izard.

Pepy menambhakan, bahwa kereta otonom sendiri jelass merupakan masa depan, tetapi dirinya juga mengatakan hal tersebut mungkin butuh waktu sebelum penumpang menerima kereta tanpa pengemudi.

Baca juga: Eco4, Kereta Otonom Ramah Lingkungan Mahakarya Bombardier

“Meskipun Australia, Cina dan Jepang sudah bereksperimen dengan kereta tanpa pengemudi, Prancis tidak datang terlalu terlambat untuk permainan,” ujar Carole Desnost, kepala inovasi di SNCF.

SNCF mengatakan sedang berbicara dengan operator Jerman, Deutsche Bahn tentang mempromosikan standar Eropa untuk kereta tanpa pengemudi.

Jalur Kereta Athena – Piraeus, Mimpi Para Athenians yang Jadi Kenyataan

Menilik sejarah perkembangan kereta api di berbagai negara, nampaknya semua membutuhkan proses panjang untuk sampai ke tahapan modern seperti hari ini. Semuanya bermula dengan hal sederhana yang kemudian mulai ‘terkontaminasi’ dengan teknologi dan melahirkan sebuah perkembangan – dan tahapan-tahapan seperti ini terus berulang hingga hari ini. Tanpa pengecualian, termasuk juga jaringan perkeretaapian di Negeri Para Dewa, Yunani. Kita-kira, bagaimana ya perkembangan perkeretaapian di Yunani?

Baca Juga: Stasiun Blitar, Sejarah Panjang dari Fokker Hingga Soekarno

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman greekreporter.com (16/9/2018), para Athenians (sebutan untuk orang Athena) dan para pelancong dewasa ini seyogyanya menikmati layanan kereta api listrik Piraeus – Kifissia, layanan kereta yang sudah ada sejak 150 tahun silam. Adapun sistem transportasi ini mulanya menggunakan sebuah kereta yang ditarik oleh kuda – mungkin mirip seperti delman, dan hanya menghubungkan Athena dan Piraeus.

Lambat laun evolusi mulai terjadi. Kereta bertenaga uaplah yang akhirnya menggantikan peran dari kuda-kuda tersebut. Sistem transportasi modern antara Athena dan Piraeus ini mulai mengalami masa transisi pada tahun 1855, dimana Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Alexandros Mavrokordatos bertanggung jawab atas pembangunan jaringan kereta api antara Athena – Piraeus.

14 tahun berselang, atau tepatnya pada 27 Februari 1869, Athena – Piraeus Railway rampung dan menuai pujian dari berbagai kalangan. Mereka beranggapan bahwa jalur kereta pertama ini merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Bermodalkan lokomotif uap, enam gerbong penumpang, rangkaian kereta ini berhasil menempuh jarak 8,5 km yang menghubungkan Thissio, Athena – Pireas dalam waktu kurang lebih 19 menit.

Perkembangan demi perkembangan terus terjadi di tubuh Athena – Piraeus Railway, hingga pada 16 September 1904, elektrifikasi jalur mulai terjadi dengan mengerahkan tenaga 600V DC, third rail, dan aliran listrik atas yang dikerjakan oleh Thomson Houston (salah satu pelopor berdirinya perusahaan General Electric).

Tidak berhenti sampai di situ, perkembangan terus terjadi di perkeretaapian Yunani yang ditandai dengan hadirnya double track dan pembangunan terowongan pada tahun 1889 – dimana terowongan itu menghubungkan Thissio dan Omonia.

Baca Juga: Sejarah Singkat Kereta di Pulau Jawa, Butuh 36 Tahun Untuk Hadirkan Jaringan Sepanjang 3.000 Km!

Kendati sempat berpindah tangan ke pihak swasta pada tahun 1926 dan berganti nama menjadi Hellenic Electric Railways Company, namun setengah abad kemudian jaringan perkeretaapian ini kembali dinasionalisasikan dan berganti nama kembali menjadi Athens-Piraeus Electric Railways S.A. (I.S.A.P).

Hingga kini, jalur tersebut masih beroperasi dan tetap dipertahankan sebagai bukti bahwa mimpi para Athenians telah terwujud.

 

Ketiban Durian Runtuh, Qatar Hibahkan Pesawat Mewah Boeing 747-8i Kepada Turki!

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mungkin peribahasa ini cocok untuk menggambarkan situasi dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Pasalnya, tak berselang lama setelah ia mengagumi dan menyatakan ketertarikannya terhadap Boeing 747-8i, Emir Qatar Sheikh Tamim Al Thani justru menyumbangkan salah satu pesawat rilisan raksasa aviasi Boeing miliknya. Adapun nilai dari pesawat tersebut tidaklah murah – US$500 juta atau yang setara dengan Rp7,4 triliun!

Baca Juga: Qatar di Blokade Negara-Negara Teluk, Bagaimana Nasib Qatar Airways?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (17/9/2018), kendati didapatkan secara cuma-cuma, namun anggota parlemen oposisi menyatakan keprihatinan bahwa Presiden terlalu menghambur-hamburkan uang di tengah krisis ekonomi yang tengah mereka tempuh.

Berbanding terbalik dengan sejumlah Negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain yang malah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, Turki malah melakukan kebalikannya.

Mundur ke tahun 2017, dimana Qatar dituduh sebagai pendukung dan penyandang dana bagi kelompok teroris, seperti ISIS, Al Qaida dan Ikhwanul Muslimin. Meski langsung mendapat bantahan dari Pemerintah Qatar, tak pelak pemutusan hubungan diplomatik pada Qatar, terlebih atas alasan terorisme sempat memicu kecemasan bagi banyak penumpang penerbangan internasional.

Turki yang malah mendukung Qatar melakukan beragam cara yang menunjukkan rasa simpatisnya terhadap negara yang kaya akan gas tersebut – salah satunya dengan cara mengirimkan supply makanan dan minuman via jalur udara dan laut, mengingat jalur darat yang sudah diblokade.

Menurut laman The Drive, Boeing 747-8i dideskripsikan sebagai private jet terbesar dan termahal di dunia. Konfigurasi bangku yang digunakan oleh pesawat hibahan Qatar ini juga berbeda – hanya 76 bangku saja.

Ketika pesawat ini mendarat di Turki awal September kemarin, salah satu kubu oposisi yang juga turut hadir dalam acara penyambutan melontarkan pertanyaan yang sama, yaitu apakah pihak Turki membeli pesawat tersebut atau tidak. “Beliau (Emir Sheikh Tamim Al Thani) mengatakan: Saya tidak akan mengambil uang dari Turki. Ini merupakan hadiah untuk Turki,” ujar Presiden Erdogan menjawab pertanyaan kubu oposisi tersebut.

Baca Juga: Setahun Pasca Blokade Udara, Qatar Airways Alami Kerugian Finansial

Dengan hibah Boeing 747-8i dari pihak Qatar, dapat dipastikan hubungan bilateral diantara kedua negara ini akan terus berjalan mulus. Terlebih setelah Emir Syeikh Tamim Al Thani yang telah menyetujui proyek ekonomi, investasi, dan deposito senilai US$15 miliar atau yang setara dengan Rp222,6 triliun guna mendukung perekonomian Turki yang tengah merosot – pun dengan mata uangnya, Lira.

“Insyaa Allah setelah pesawat selesai dicat ulang, kami bisa mengudara bersamanya.” Tutup Presiden Erdogan.

 

Pasca Topan Mangkhut: Urai Kepadatan Trafik, Bandara Hong Kong Operasikan Dua Landasan

Pasca dihantam Topan Mangkhut pada Minggu (16/9/2018) kemarin, pihak Hong Kong International Airport dilanda penumpukan penumpang yang cukup parah – sebagai dampak dari pembatalan sejumlah penerbangan dari bandara tersebut. Sebagai upaya untuk mengatasi masalah ini, pihak bandara membuka kedua landas pacunya dalam jangka waktu yang ditentukan. Kebijakan ini diberlakukan semata-mata untuk mengurangi penumpukan penumpang.

Baca Juga: Diterjang Topan Mangkhut, Garuda Indonesia Batalkan Penerbangan Menuju Hong Kong

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (17/9/2018), pembukaan dua landas pacu ini akan berlaku sejak Senin (17/9/2018) kemarin hingga Selasa (18/9/2018) guna menangani 2.000 penerbangan yang sempat tertunda.

“Sekitar 900 penerbangan akan dijadwal ulang hari ini dan total ada 2.000 penerbangan dalam jangka waktu 48 jam,” ungkap Ketua Otoritas Bandara, Jack So Chak-kwong Senin kemarin.

“Biasanya dua landas pacu secara bergantian akan ditutup pada malam hari untuk perawatan, namun dengan adanya masalah ini (Topan Mangkhut), maka keduanya akan dibuka hingga malam hari untuk menurunkan volume penumpang yang menumpuk di terminal,” ujar salah satu juru bicara bandara.

Salah satu maskapai yang terkena dampak dari Topan Mangkhut ini adalah Hong Kong Airlines, dimana mereka akan mengoperasikan 95 penerbangan pada Senin kemarin, dengan 26 penerbangan diantaranya dijadwalkan mengudara pada Sabtu dan Minggu sebelumnya. “Setelah hari ini (Senin), semuanya (jadwal penerbangan) harus kembali seperti semula,” tandas Jack So.

Jack So juga menambahkan bahwa para penumpang sekiranya mengkonfirmasi dan terus berkoordinasi dengan pihak maskapai guna memastikan perubahan jadwal penerbangan mereka.

Baca Juga: Hendak Landing Saat Topan Cimarron Menerpa, Pesawat Asal Jepang Ini Menukik Tajam!

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, sebanyak 889 jadwal penerbangan terpaksa ditunda keberangkatannya pada hari Minggu (16/9/2018) kemarin karena Topan Mangkhut menghantam sejumlah wilayah di Daratan Cina. Topan ganas ini juga tak pelak menimbulkan bencana tambahan lainnya, seperti gelombang badai yang digadang-gadang sebagai yang terbesar yang pernah menghantam wilayah Cina.

Tidak hanya berdampak pada dunia aviasi Cina saja, topan ini juga telah melumpuhkan jaringan perkeretaapian Cina – sebut saja Airport Express yang menghubungkan pusat kota Hong Kong dengan Hong Kong International Airport juga terpaksa tidak beroperasi selama kurang lebih 23 jam pasca kehadiran topan ini pada hari Minggu.

Gantikan Shatabdi Express, Inilah 10 Fakta Unik dari Train 18 di India!

30 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah rute layanan kereta api. Terhitung sejak tahun 1988, kereta cepat Shatabdi Express telah melayani ribuan hingga jutaan penumpang di India. Memasuki ulang tahunnya yang ke-30, ada perubahan besar yang coba dibuat oleh Indian Railways guna mengubah image dari kereta yang menghubungi sejumlah kota penting dan kota-kota lain yang mendukung industri pariwisata, bisnis, hingga wisata religi.

Baca Juga: Indian Railways Gunakan WhatsApp Untuk Pemberitahuan Pada Penumpang

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman financialexpress.com (16/9/2018), Train 18 akan menjadi kereta self-propulsion pertama yang digunakan oleh Indian Railways untuk beroperasi antar kota. Merujuk pada laman sumber, ada 10 fakta unik dibalik kereta buatan Integral Coach Factory (ICF) ini. Berikut adalah fakta-fakta unik dari Train 18 yang akan menggantikan peran dari Shatabdi Express.

Kereta Self-Propulsion Pertama
Seperti yang sudah disebutkan di atas, Train 18 akan menjadi kereta self-propulsion pertama yang beroperasi di India. Teknologi self-propulsion ini memungkinkan kereta berakselerasi dan deselerasi lebih cepat – yang akan berdampak pada pemangkasan waktu perjalanan secara keseluruhan. “Iniakan menjadi masa depan perkeretaapian India,” ungkap salah satu juru bicara Indian Railways.

Rekor Pembuatan Kereta
Menurut General Manager dari ICF, Sudhanshu Mani, pembuatan Train 18 memakan waktu hanya 18-20 bulan saja, “Sementara untuk kereta lain, kami membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk membangun dan mengembangkan kereta baru,” ujar Sudhanshu.

Kereta Semi-Cepat
Ketika India telah mengumumkan penggunaan kereta cepat yang akan mulai mengular pada tahun 2022 mendatang, maka Train 18 ini akan tergolong sebagai kereta semi-cepat yang bisa berlari hingga kecepatan 160 km per jam.

Pintu Otomatis yang Dilengkapi Dengan Sliding Footsteps
Ketika pintu otomatis sudah bukan lagi menjadi hal baru di dunia perkeretaapian, maka sliding footsteps mungkin akan menjadi yang pertama ada di perkeretapian India – dimana teknologi ini akan memungkinkan penumpang tidak perlu khawatir lagi akan eksistensi dari celah peron yang kerap ‘memakan’ korban luka.

Bangku Bergaya Eropa
Menurut pihak ICF selaku pembuat kereta, bangku bergaya Eropa yang mereka terapkan di Train 18 akan membuat, “bangku lebih kuat dan tahan lama,”

Harga Separo, Kualitas Sama
Karena ini produk asli India, maka ICF mengatakan bahwa harga yang dikeluarkan untuk membangun Train 18 ini hampir setengahnya dari kereta impor dengan kualitas yang sama. Sudhanshu membocorkan, harga untuk satu rangkaian kereta ini dibanderol dengan harga Rs6 crore atau yang setara dengan Rp12,3 miliar. Sedangkan untuk produksi massal, harganya akan turun sekitar Rp2 miliar.

Berwarna Putih
Berbeda dengan kereta lainnya di bawah komando Indian Railways, Train 18 ini nantinya akan berwarna putih dengan beberapa strip berwarna pada bagian sampingnya.

Pantry yang Mewah
Hampir mirip dengan yang ada di Shatabdi Express, nantinya Train 18 akan memiliki mini-pantry yang menyediakan microwave penghangat makanan dan kulkas pendingin minuman. Satu hal yang membedakan keduanya adalah kualitas microwave dan kulkas yang lebih baik ketimbang layanan sebelumnya.

Baca Juga: Indian Railways Hadirkan Gerbong Kereta Pintar dengan ‘Kotak Hitam’

Ramah Bagi Penyandang Disabilitas
Disejumlah gerbong Train 18, akan tersedia ruang khusus bagi para pengguna kursi roda yang menandakan bahwa kereta ini ramah terhadap penyandang disabilitas.

Menggantikan Peran dari Shatabdi Express
Menurut Chairman Railway Board, Ashwani Lohani, Train 18 nantinya akan menggantikan peran dari Shatabdi Express yang mengular di rute Delhi – Bhopal. Disinyalir, jalur ini cocok untuk kereta berkecepatan semi-cepat.

 

Berubah Menjadi Perkampungan Warga, Pemprov Jawa Barat Yakin Bangun Kembali Jalur Kereta Rancaekek-Tanjungsari?

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melalui akun media sosialnya mengabarkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan melakukan reaktivasi empat jalur mati kereta api yang telah terlantar puluhan tahun. Jalur kereta di Jabar tersebut yakni Jakarta-Bandung-Pangandaran, Bandung-Ciwidey, Bekasi-Bandung-Garut dan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari Sumedang.

Baca juga: Reaktivasi Jalur Kereta Jawa Barat, Pertanda Peningkatan Sektor Pariwisata di Tanah Pasundan?

Dalam akunnya pun Ridwan Kamil menjelaskan reaktivasi jalur ini dalam rangka mendukung sektor pariwisata dengan menyediakan aksesibilitas menuju kawasan pariwisata di wilayah Jawa Barat bagian selatan. Salah satu yang akan dibahas KabarPenumpang.com yakni jalur Rancaekek-Tanjungsari yang sudah mati lebih dari 70 tahun.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung mengatakan bahwa jalur ini kondisi sarana dan prasarananya sudah tidak layak untuk jalur kereta api. Apalagi sisa atau bekas adanya jalur kereta api pun tak terlihat.

“Sekarang sudah tidak layak, banyak rel yang sudah hilang, kemudian beberapa tempat sudah dipenuhi bangunan di atasnya,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 2 Bandung Joni Martinus yang dikutip dari laman tribunnews.com (17/9/2018).

Bahkan Joni mengatakan, saat jalur tersebut masih beroperasi, efektivitasnya sangat tidak maksimal untuk masyarakat. Sebab jalur ini berbeda dengan jalur lain yang masih efektif.

Tak hanya itu, pada masa kereta masih mengular di jalur Rancaekek-Tanjungsari, jalur tersebut kurang mendapat perawatan dari pemerintah karena cukup sulit melakukannya. Joni menambahkan, terkait wacana Pemprov yang akan melakukan reaktivasi jalur Rancaekek-Tanjungsari baiknya dilakukan perencanaan yang matang baik dari Pemprov, Kemenhub dan PT KAI sendiri.

Diketahui, jalur Rancaekek-Tanjungsari merupakan salah satu jalur kereta api non-aktif di Jabar dengan panjang lintasan 11,5 km. Jalur yang kini tanpa rel dan beralih fungsi menjadi perkampungan warga tersebut dibangun mulai tahun 1918 oleh Staatsspoorwegen dan mulai beroperasi 13 Februari 1921 silam.

Baca juga: Kolaborasi dengan Pemprov, PT KAI Akan Reaktivasi Empat Jalur Kereta di Jawa Barat

Dulunya saat masih beroperasi, jalur ini untuk mengangkut teh dan hasil bumi dari daerah Sumedang Barat. Sayangnya di masa pendudukan Jepang dari 1942 hingga 1945, jalur kereta ini dibongkar dan relnya dipindahkan untuk pembangunan jalur kereta api Saketi-Bayah di Banten yang memakan banyak korban jiwa.

Sebelum Ridwan Kamil, tahun 2015 lalu muncul wacana untuk mengaktifkan jalur ini dan dilanjutkan sampai Bandara Kertajati, sebagai bagian infrastruktur penghubung Cirebon-Bandung.

Jelang Perayaan Hari Nasional Cina 1 Oktober, Tiket Kereta Cepat Habis Diborong

Setiap tanggal 1 Oktober, Rakyat Cina memperingati Hari Nasional, dimana mereka merayakannya selama satu minggu setiap tahunnya. Hari Nasional sendiri yang dirayakan Republik Rakyat Cina menandai dimulainnya salah satu pekan emas. Sebab Hari Nasional ini dirayakan di seluruh Cina daratan, Hong Kong dan Makau dengan berbagai festival perayaan yang diselenggarakan pemerintah, termasuk pertunjukan kembang api dan konser.

Baca juga: Uji Coba Kereta Cepat Otomatis di Cina Akan Mulai Musim Panas 2019

Pelaksanaannya sendiri biasanya dimulai dengan upacara di Lapangan Tianmen di pusat kota yakni Beijing. Adanya Pekan Emas ini, di gunakan seluruh masyarakat Cina untuk berlibur bahkan tiket kereta ke Beijing dari berbagai tujuan yang melintasi perbatasan pun sudah habis terjual untuk hari pertama libur Hari Nasional 1 Oktober.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari scmp.com (15/9/2018), meski sudah habis terjual di platform pembelian besar, tetapi untuk platform lokal Hong Kong, tiket masi bisa didapatkan. Bahkan diprediksi pelancong yang akan menggunakan jaringan kereta api di hari pertama Pekan Emas membludak.

Untuk pelancong yang akan melakukan perjalanan ke terminal Kowloon Barat dari Beijing, Shanghai, Fuzhou, Hangzhou dan Xiamen pada 1 Oktober tidak bisa lagi mendapatkan tiket melalui platform-platform resmi seperti 12306.cn dari China Railway Corporation. Anggota parlemen lokal Yiu Si-wing yang mewakili sektor pariwisata legislatif kota tersebut memperkirakan pendapatan hotel akan melonjak lebih dari 10 persen dan tingkatan penyewaan rumah naik lima atau enam persen selama satu pekan tersebut ketika sebagian besar masyarakat daratan berlibur.

Sayangnya Yiu mengatakan sulit untuk memprediksi jumlah pelancong yang akan berkunjung ke Hong Kong. Sebab masyarakat Cina saat ini sering bepergian ke luar negeri selama Pekan Emas.

“Jika penerbangan di luar negeri penuh dan mahal, maka orang akan memilih Hong Kong,” ujar Yiu.

Jalur kereta ekspres akan membawa lebih banyak orang dari kota-kota tingkat kedua dan ketiga di provinsi-provinsi Cina seperti Jiangxi dan Hunan. Jika tur yang lebih tinggi diadakan untuk mereka. Ini karena penerbangan dari tempat-tempat ini relatif mahal dan jarang. Sementara itu, Badan Pariwisata Hong Kong telah mengincar peluang bisnis.

Seorang juru bicara mengatakan telah bekerja dengan agen perjalanan utama di 10 kota di sepanjang rute kereta api, termasuk Guiyang di provinsi Guizhou, Wuhan di Hubei, dan Changsha di Hunan. Itu juga telah bekerja dengan perusahaan pelayaran untuk menawarkan paket kereta api dan kapal gabungan bagi wisatawan dari Cina tengah dan barat.

Di Hong Kong, agen perjalanan lokal telah bersaing untuk pelanggan yang ingin menggunakan jalur Guangzhou-Shenzhen-Hong Kong pada hari debutnya, 23 September.
Toko-toko kecil menghadapi masa depan yang tidak pasti di dekat terminal kereta api berkecepatan tinggi. China Travel Service pada Kamis mengiklankan berbagai paket tur untuk hari pembukaan dengan harga antara HK$799 dan HK$3.499.

Saingan Layanan Perjalanan Hong Thai dan Wing On Travel, dua dari agensi terbesar di kota itu, meluncurkan tur tiga hari ke Chaoshan di provinsi Guangdong, sebuah destinasi yang berjarak sekitar tiga jam dengan kereta api berkecepatan tinggi. Direktur Hong Thai, Jason Wong Chun-tat, percaya ada banyak permintaan untuk wisata kereta api dan mengatakan perusahaan itu mengincar paket ke kota-kota di bawah lima jam lagi, termasuk Guilin di Guangxi. Wong mengantisipasi pertumbuhan dua digit untuk perusahaannya dalam mengatur perjalanan ke tujuan-tujuan ini.

Baca juga: Melancong ke Hong Kong? Jangan Lupa Octopus Card

“Dengan kereta kecepatan tinggi, kapasitas angkut bisa dinaikkan,” katanya.

Yiu mengatakan, untuk Hongkong, tujuan jarak pendek dalam tiga atau empat jam akan menjadi undian terbesar, yang dapat dicapai untuk akhir pekan yang panjang. Tapi Johnny So Tsz-yeung, manajer umum Sunflower Travel, mengatakan bahwa perusahaan sedang menunggu untuk mengukur dampak dari jalur kereta api sebelum mengatur tur karena daya tariknya mungkin terbatas.

Stasiun Guangzhou Selatan tidak dekat dengan pusat kota, katanya, dan kereta api ke Guilin dan Chaozhou tidak sering. Sistem tiket real-time dan persyaratan bagasi menyulitkan agen untuk mengatur tur, tambahnya. Semua tas harus memiliki dimensi gabungan (panjang, tinggi dan lebar) tidak lebih dari 130cm.

Pada hari Jumat, Adi Lau Tin-shing, direktur operasi untuk operator kereta api Hong Kong, MTR Corporation, mengungkapkan bahwa sekitar 15 ribu tiket telah dijual di Hong Kong pada hari Kamis, dengan Guangzhou South tujuan paling populer, diikuti oleh Chaoshan, Xiamen dan Fuzhou di provinsi Fujian. Tiket tersedia di stasiun West Kowloon, online dan via telepon, serta melalui 17 agen perjalanan lokal.

Terminal 3 Ultimate Bandara Soetta Mati Listrik (Lagi)

Pada Senin (17/9/2018) malam kemarin, Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) sempat mengalami padam listrik selama beberapa waktu. Dalam sebuah foto yang diunggah warganet ke dunia maya, tampak seluruh bangunan terminal khusus Garuda Indonesia ini berada dalam keadaan gelap gulita – hanya ada beberapa lampu bertenaga genset saja yang menjadi sumber penerangan kala itu. Otomatis, pengoperasian terminal pun sempat tertunda beberapa waktu hingga listrik kembali menyala.

Baca Juga: Dalam Jumlah Pergerakan Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Unggul Tipis dari Changi

Mengenai kasus ini, sejumlah pihak terkait masih melakukan penyidikan guna menemukan penyebab mati listrik tersebut. Namun jika dirunut ke belakang, kasus ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pada Senin (13/7/2015) silam, terminal paling baru di bandara berkode CGK ini juga sempat mengalami padam listrik. “Iya, tadi sempat mati lampu, satu menit saja, pukul 21.17 WIB,” ujar salah satu petugas jaga Terminal 3, dikutip dari laman detik.com (13/7/2015).

Lompat satu tahun, kejadian yang sama kembali terulang. Tepatnya pada Selasa (9/8/2016) malam, Plt Direktur Utama PT Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo mengatakan bahwa insiden mati listrik ini disebabkan oleh pemasangan sistem listrik yang tidak sempurna. “Jadi karena panas lalu korslet, seperti di rumah, kalau korslet, Miniature Circuit Breaker (MCB) turun sehingga listrik mati. Kita sudah teliti dan perbaiki, listrik sudah normal lagi,” ujar Djoko, dikutip dari laman sumber terpisah.

Lagi, di tahun 2017 kemarin, listrik di terminal ini kembali padam pada Minggu (5/2/2017). Diantara tiga contoh kasus di atas, inilah yang paling lama – karena listrik mati untuk beberapa jam. “Kira-kira sehabis Isya (pukul 19.00 WIB), kembali normal sekitar pukul 22.00 WIB,” tutur petugas bagian informasi Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Heru.

Baca Juga: Gara-Gara Listrik Mati, Bandara Sydney Menuai Delay Panjang

Usut punya usut, kasus mati listrik seperti ini tidak hanya terjadi di dalam negeri lho! Karena pada Minggu (24/9/2017) silam, bandara tersibuk di Australia, Sydney Airport (Kingsford Smith) juga sempat mengalami mati listrik selama kurang lebih empat jam lamanya. Walhasil, penumpukan penumpang di hari pertama libur sekolah ini tidak bisa dielakkan. “Masalah sudah diatasi, tapi bandara tidak berada pada kapasitas normal. Kami bekerja keras untuk menghapus antrian penerbangan,” ujar juru bicara Air Service Australia (ASA) Sarah Fulton.

 

Mudahkan Penyandang Disabilitas, Tahun 2025 Semua Bus di Seoul Adopsi Low Deck

Seoul sebagai ibukota Korea Selatan beberapa tahun mendatang akan memudahkan para penyandang disabilitas dalam menggunakan bus kotanya. Pasalnya pada tahun 2025 mendatang, pemerintah kota metropolitan Seoul akan mengganti semua bus dalam kotanya dengan low floor/low deck atau bus berlantai rendah.

Baca juga: Bus Low Deck Terbaru Hadir di Apron Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman koreabizwire.com (22/8/2018), bus kota ini memiliki rute sekitaran kota dan penggantiannya akan secara bertahap dengan kendaraan tingkat menengah mulai tahun 2020 mendatang. Selain itu, taksi-taksi yang ada untuk penyandang disabilitas juga akan meningkat.

Tak hanya itu, taksi tersebut jangkauannya pun akan diperluas untuk mencakup semua individu dalam kondisi disabilitas apapun. Bahkan saat ini pengklasifikasian untuk penyandang disabilitas pun dibagi perkelompoknya untuk memudahkan dalam penggunaan kendaraan umum baik itu bus kota ataupun taksi.

(koreabizwire.com)

Penyandang disabilitas visual tingkat satu hingga tiga dan disabilitas tingkat satu hingga dua bisa menggunakan taksi yang disediakan khusus mereka. Karena adanya sistem pengkalsifikasian bagi penyandang disabilitas, maka pada Juli 2019 mendatang hal tersebut akan dihapuskan.

Sehingga Pemerintah Seoul mengumumkan menghadirkan bus dengan lantai rendah tersebut. Dimana ini akan menjadi langkah baru yang bertujuan untuk membuat pengguna transportasi lebih nyaman khususnya penyandang disabilitas dan para lanjut usia (lansia).

Bus dengan lantai rendah ini, akan memiliki lantai yang sesuai dengan ketinggian bus. Hal tersebut agar memudahkan pengguna kursi roda dan lansia untuk naik dan turun dari bus lebih aman dan nyaman.

Baca juga: Renault EZ-GO, Moda Otonom yang Memiliki Desain Pintu Low Deck Unik

Sebenarnya saat ini 44 persen bus kota reguler atau sebanyak 3112 kendaraan sudah menggunakan lantai yang rendah dan pihak pemerintah berencana untuk menaikkan rasio untuk jenis kendaraan seperti itu hingga 85 persen. Rinciannya adalah 5799 kendaran pada tahun 2022 dan tiga tahun setelahnya atau tepatnya 2025 mendatang, bus biasa yang masih tersisa semuanya akan digantikan dengan bus berlantai rendah.

Selain itu, lift akan dipasang di 28 stasiun kereta bawah tanah di Seoul dan sisanya pada tahun 2022. Di 16 stasiun yang dianggap tidak mungkin untuk memasang lift karena pembatasan ruang, langkah-langkah alternatif sedang dipertimbangkan.

Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida?

Perkeretaapian India diketahui akan mencoba teknologi bio-toilet asal Jepang. Sebagai permulaan, satu bio-toilet ini sudah ditempatkan di Stasiun Madgaon yang terletak di jalur Konkan, Goa, India – guna memastikan efisiensi dan keandalan dari proyek percontohan yang tengah dikembangkan oleh Negeri Matahari Terbit ini. Nantinya, akan ada lebih banyak lagi bio-toilet yang ditempatkan, seperti di daerah Ibukota dan Stasiun Varanasi yang masuk ke dalam wilayah operasi Northern Railways.

Baca Juga: Perkeretaapian India Siap Tinjau Kebijakan ‘Pay and Use’ Pada Toilet Stasiun

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (16/9/2018), sekiranya 150 bio-toilet akan dikirimkan Jepang secara cuma-cuma dan semuanya akan dipasang di infrastruktur kereta api India, tidak di dalam kereta apinya. Mengenai masa depan dari bio-toilet ini akan bergantung dari hasil proyek percontohan ini sendiri.

Teknologi bio-toilet dari Jepang ini berbeda dengan yang digunakan oleh Indian Railways, dimana bio-toilet asal Jepang menggunakan serbuk gergaji dan sistem penggilingan khusus untuk mengurai kotoran di dalam tangki toilet – berbeda dengan yang digunakan Indian Railways, dimana proses penguraian tersebut dilakukan oleh bakteri.

Para pengguna kereta api dan infrastruktur kereta di India telah cukup lama mengeluhkan satu masalah besar yang selama ini sudah mendarah daging, yaitu masalah toilet dimana mereka mengeluhkan toilet yang selama ini mereka gunakan mengeluarkan bau tidak sedap – terutama di layanan kereta jarak jauh.

Sebuah laporan dari Comptroller and Auditor General of India (CAG) pada tahun 2017 silam menemukan bahwa sebanyak 223 bio-toilet Indian Railways mengeluarkan bau tidak sedap, dimana ini mengindikasikan adanya masalah pada sistem pembilasan dan suplai air yang tidak memadai.

Ini menjadi masalah besar bagi Indian Railways mengingat beberapa perjalanan yang mereka operasikan memakan waktu selama 30 hingga 40 jam. Guna mengatasi masalah toilet ini, selain penggunaan bio-toilet, pihak operator kereta api India ini akan menguji toilet hibrida yang menggunakan teknologi penyedot debu – yang mungkin mirip dengan sistem toilet di pesawat.

Baca Juga: Megaproyek Kereta Peluru India, Dilengkapi Nursery Room dan Toilet Terpisah

Rencananya sebanyak 2.000 toilet hibrida ini akan ditempatkan di 500 gerbong, dan kelanjutannya tergantung pada respon para penggunanya. “Sistem toilet hibrida (vakum) ini akan mengurangi penggunaan air dalam masalah pembilasan toilet,” ujar salah satu pihak Indian Railways.

Dirinya yang ingin tetap anonim menambahkan, masalah toilet seperti ini bukanlah sepenuhnya tanggung jawab dari operator semata – melainkan para penggunanya juga harus turut berperan serta dalam menjaganya, minimal dengan tidak membuang sampah seperti botol plastik, pembalut, dan sampah anorganik lainnya ke dalam toilet yang bisa mengganggu sistem pembuangan.