Gigit Polisi dan Penumpang di Kereta Api, Remaja Pria Diganjar 60 Jam Kerja Tanpa Bayaran

Melakukan pekerjaan tanpa bayaran sebagai sebuah hukuman atau sanksi, bisa saja di jatuhkan kepada orang-orang yang melanggar aturan dan membuat keributan di suatu ruang publik. Hukuman seperti ini baru saja dilayangkan pada seorang remaja pria berusia 18 tahun karena menggigit seorang penumpang dan petugas kepolisian.

Baca juga: Akibat Kabel Charger, Kondektur Kereta Sampai Layangkan Bogem ke Penumpang

Insiden remaja menggigit penumpang dan polisi tersebut terjadi di dalam kereta antara Ipswich dan Norwich. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman eadt.co.uk (4/12/2018), remaja bernama Marcus Haxell berasal dari Rede Way di Great Cornard dan kemudian menggigit lengan serta jari Andrew Barrow yang merupakan seorang polisi dan meninju wajahnya.

Saat itu Barrow akan melerai keributan antara Haxell dengan temannya saat mereka bepergian menggunakan kereta pada Minggu (5/8/2018) lalu pukul 21.47 malam waktu setempat. Polisi itu naik kereta itu dari Stasiun Stowmarket tempat Haxell mulai kehabisan napas dan menolak meninggalkan kereta sampai akhirnya dia menggigit PC Donna Jackson teman yang pergi bersamanya.

Di pengadilan, Haxell mengakui melakukan serangan tersebut sebelum hakim David Allan mengatakan, remaja tersebut memiliki masalah kesehatan mental jangka panjang. Ini berkontribusi terhadap perilakunya dan baru mulai ditangani sejak kejadian Haxell menggigit teman dan seorang polisi.

Karena masalah ini, Haxell mau tak mau harus bekerja sukarela tanpa dibayar selama 60 jam kemudian harus mengikuti kegiatan rehabilitasi selama 25 hari serta membayar kompensasi sebesar £100 untuk setiap korban.

Beberapa waktu lalu juga, adu jotos terjadi antar dua orang penumpang di dalam kereta api Hammersmith yang melaju melalui East London menuju Barking. Keduanya ribut karena salah satu diantaranya menyebutkan rasis kepada seorang teman perempuannya.

Baca juga: Akibat Adu Mulut di Dalam Kereta, Berlanjut Adu Jotos di Peron

Adu jotos tersebut tidak hanya terjadi di dalam kereta, saat berhenti di Stasiun West Ham, wanita tersebut turun bersama temannya dan mendengar kembali kata-kata rasis. Kemudian pria yang tidak senang teman wanitanya diganggu, melanjutkan pertengkaran mereka di peron. Hingga petugas keamanan datang, keduanya diamankan untuk diperiksa.

Kejadian keduanya direkam oleh seorang dokter gigi yang mengatakan, perbuatan keduanya benar-benar tidak dapat diterima dan memalukan. Sebab membuat ratusan orang berisiko dan menyusahkan yang lainnya.

MTR Hong Kong Siap Adopsi Integrated Speed and Position Supervision System Tahun Depan

Perusahaan pengelola kereta komuter di Hong Kong, MTR Corporation Limited, telah mulai menguji coba Integrated Speed and Position Supervision System (iSPS) baru, yang memungkinkan pemantauan kecepatan Light Rail Vehicles (LRV) secara real-time. Sistem ini dikembangkan guna meningkatkan keselamatan operasional LRV, dan rencananya dalam waktu dekat ini perusahaan akan menguji coba iSPS di tiga jalur LRV Tin Shui Wai.

Baca Juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (30/11/2018), sistem ini dirancang oleh para insinyur MTR Hong Kong dengan menggabungkan teknologi Global Positioning System (GPS) dan Radio Frequency Identification (RFID). Selama beroperasi, iSPS akan mengirimkan koordinat dari LRV ke pusat kendali dengan memanfaatkan receiver GPS dan RFID reader, serta tag RFID yang dipasang di sepanjang area lintasan.

Dengan kata lain, ini akan menggunakan jaringan komunikasi mobile untuk menyampaikan informasi secara real-time. Tahun lalu, MTR Hong Kong telah menerima hak paten untuk penggunaan sistem iSPS ini dari Intellectual Property Department Pemerintahan SAR Hong Kong.

“Kami telah bekerja keras untuk meningkatkan kinerja keselamatan. Sistem iSPS ini akan membantu meningkatkan tidak hanya efisiensi operasi LR tetapi juga kewaspadaan masinis,” ujar salah satu pihak MTR Hong Kong.

“Kami juga akan terus mengeksplorasi langkah-langkah lain yang mampu meningkatkan kesadaran publik tentang keselamatan kereta api,” imbuhnya.

Sedangkan menurut Kepala operasi MTR Wilayah Barat Cheung Chi-keung, pihaknya selama ini telah melayani lebih dari 500.000 perjalanan penumpang per hari di Tuen Mun, Yuen Long, dan Tin Shui Wai, “dimana LRV berjalan di beberapa bagian jalur yang dibagi dengan pengguna jalan lainnya,”

Baca Juga: Melancong ke Hong Kong? Jangan Lupa Octopus Card

Selain mampu untuk menyediakan kecepatan dan posisi kereta api secara real-time, sistem iSPS juga digadang-gadang dapat digunakan untuk mengingatkan masinis kereta untuk menjalankan beberapa tugas platform, serta mengeluarkan pemberitahuan lain saat melewati persimpangan atau kelokan tertentu.

Pihak MTR Hong Kong sendiri berencana untuk memperkenalkan sistem iSPS ini di seluruh jaringan LRV secara progresif pada kuartal kedua tahun 2019 mendatang.

 

Dubes RI untuk Jerman Jajal Langsung Kereta Bertenaga Hidrogen

Penggunaan bahan bakar hidrogen tak pelak menjadi bentuk pencapaian penting pada teknologi kereta api. Dan bicara hidrogen pada kereta, Jerman dan Perancis kembali menjadi panutan utama, persisnya setelah Alstom, perusahaan engineering asal Perancis mengatakan telah menandatangani sebuah kesepakatan untuk mengirimkan 14 kereta sel berbahan bakar ke LNVG yang merupakan perusahaan kereta api di Negara Bagian Lower Saxony, Jerman.

Baca juga: Tahun 2021, Kereta Bertenaga Hidrogen Siap Mengular di Rel Jerman

Dan belum lama ini, Biro Pensosbud Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin, Jerman, merilis informasi bahwa Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno pada 4 Desember 2018 berkesempatan mencoba langsung kereta bertenaga hidrogen tersebut. Rute yang dilalui Dubes RI dan rombongan adalah Bremervӧrde – Buxtehude.

“Kereta hidrogen merupakan bukti nyata keberhasilan proyek kerja sama antara industri, pemerintah lintas negara, serta para pemangku kepentingan terkait di bidang teknologi ramah lingkungan dalam rangka pencegahan perubahan iklim,“, ujar Dubes Havas.

Rute Bremervӧrde – Buxtehude dilalui sepanjang 100 km, dengan kapasitas 150 pernumpang, kereta ini dapat melaju dengan kecepatan 140 km per jam.

Last but not least, kereta ini lebih nyaman dari kereta diesel. “Mulus jalannya, tidak berisik, jauh lebih nyaman dari (kereta) diesel“, komentarDubes Havas. Penumpang juga tidak perlu khawatir dengan kemampuan kereta hidrogen. Pada posisi fuel tank, kereta hidrogen dapat menempuh sampai dengan 1000 km, hampir sama dengan kereta diesel.

Selain ramah lingkungan, kereta hidrogen juga bebas dari masalah sosial. Bahan baku utama yang digunakan adalah hidrogen yang mudah didapatkan. Hidrogen dapat berasal dari gas alam, batubara, biomass, minyak, dan sumber sumber energi berkelanjutan seperti energi angin, matahari, geothermal dan hydroelectric.

Baca juga: Saingi Jerman, SINTEF Fokuskan Penggunaan Bahan Bakar Hidrogen di Norwegia

Selain telah dipesan oleh Jerman dan akan mengular pada tahun 2021, beberapa negara bagian lain juga menyatakan ketertarikannya, seperti Inggris, Belanda, Denmark, Norwegia, Italia dan Kanada. Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin dari uji coba bersama Dubes RI ini bisa menjadi awal yang baik untuk proyek kereta hidrogen Indonesia di masa depan.

Siap Kembalikan Mas Jaya Bus AKAP, Inilah Serba-Serbi Terkait Tol Trans Jawa

Dengan rampungnya pembangunan tol Trans Jawa yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya beberapa waktu yang lalu, maka warga Indonesia hanya tinggal menunggu waktu kapan Pemerintah meresmikan tol yang memiliki panjang kurang lebih 1.000 km ini. Tidak menutup kemungkinan pula, ketika sudah beroperasi kelak, maka daya saing antar moda – darat yang diwakilkan oleh bus dan kereta api serta udara yang diwakilkan oleh pesawat akan semakin meningkat. Pamor bus diharapkan akan kembali merangkak naik setelah tol Trans Jawa ini dapat dioperasikan oleh publik.

Baca Juga: Yang Sebaiknya Diketahui dari Tol Cipali dan Brexit

Jalan tol yang masuk ke dalam bagian Asian Highway 2 (AH2) yang menghubungkan Denpasar, Bali dengan Khosravi di Iran ini merupakan jaringan jalan tol yang menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa, mulai dari Pelabuhan Merak, Surabaya, Probolinggo, hingga Banyuwangi, dengan panjang total mencapai 1.290 km.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman Tirto.id (3/12/2018), Menteri BUMN Rini Soemarno yang didampingi oleh Dirut PT Waskita Karya Tbk. I Gusti Ngurah Putra dan Dirut PT Jasa Marga Tbk. Desi Arryani telah melakukan Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawa pada Senin (12/11/2018), dari Surabaya menuju Jakarta.

“Trans Jawa ini sudah dicanangkan sejak lama. Tapi, kami komitmen pada akhir 2018 ini dari Pelabuhan Merak ke Surabaya sudah bisa diresmikan Pak Presiden,” tukas Rini.

Sementara itu dikutip dari laman sumber terpisah, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, sebanyak empat ruas tol ditargetkan bisa beroperasi sebelum Natal 2018. Adapun empat ruas jalan tol yang dimaksud adalah ruas tol Pemalang – Batang, Batang – Semarang, jalan tol Semarang-Solo ruas tol Salatiga – Solo, dan jalan tol Ngawi- Kertosono-Kediri Seksi Wilangan-Kertosono.

Jika menilik dari segi penggunanya, sudah jelas harkat derajat bus AKAP Jakarta – Surabaya akan kembali mendapatkan pamornya kembali, setelah sempat terperosok di era 2000an, dimana maskapai berlabel Low Cost Carrier (LCC) mulai bermunculan. Saat ini, okupansi penumpang pada hari normal rata-rata di bawah 60 persen. Namun ketika hari libur, okupansi itu bisa naik hingga melampaui 70 persen.

Bukan tidak mungkin jika para penumpang yang koceknya sudah mulai bolong karena mahalnya harga tiket pesawat atau kereta api, dapat menjadikan bus AKAP Jakarta – Surabaya via tol Trans Jawa sebagai moda andalan kembali. Mungkin bagi sebagian orang, waktu tempuh 9 jam dari Jakarta menuju Surabaya via tol Trans Jawa tidaklah menjadi masalah yang berarti.

Baca Juga: Perluas Jangkauan, LRT dan Trans Musi Terapkan Tiket Terusan

Menyoal tarif, inilah rincian bea yang harus dibayar oleh para pengguna tol Trans Jawa:

Tol Jakarta-Cikampek Rp 15.000

Tol Cikampek-Palimanan Rp 102.000

Tol Palimanan-Kanci Rp 12.000

Tol Kanci-Pejagan Rp 29.000

Tol Pejagan-Pemalang Rp 57.500

Tol Pemalang-Batang (Jembatan Sewaka – Gandulan) Rp Rp 5.500

Tol Batang-Semarang (belum diresmikan) Tol Semarang ABC Rp 5.000

Tol Semarang-Solo (Semarang-Ungaran-Bawen-Salatiga) Rp 33.000

Tol Solo-Ngawi Rp 90.000

Tol Ngawi-Kertosono (Ngawi-Wilangan) Rp 48.000

Tol Kertosono-Mojokerto Rp 46.000

Tol Mojokerto-Surabaya (Krian – Mojokerto – Driyorejo – WPR/Warugunung) Rp 29.000

Tol Surabaya-Gempol (Dupak – Waru) 3.500 dan Kejapanan-Gempol Rp 3.000

Oman Air – Pilihan Alternatif Penerbangan Langsung Jakarta – Timur Tengah

Diantara maskapai-maskapai Timur Tengah lainnya, seperti Qatar, Etihad atau Emirates sekalipun, nama Oman Air belumlah sepopuler mereka. Flag Carrier Oman yang bermarkas di Muscat International Airport dan masih tergolong sebagai maskapai muda karena baru dirintis pada 4 Juni 1993. Tahukah Anda bahwa maskapai yang tergabung ke dalam Arab Air Carriers Organization ini memiliki rute penerbangan berjadwal dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta?

Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!

Di awal pengoperasiannya, maskapai berslogan “Modern Vision, Timeless Traditions” ini hanya menggunakan satu buah armada Boeing 737. Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Oman Air mendapatkan predikat sebagai maskapai bintang 4 versi Skytrax dan safety rating 6/7 versi AirlineRatings.

Diketahui, Oman Air memiliki 50 destinasi penerbangan yang terbagi ke dalam 27 negara berbeda. Dalam kasus ini, India menjadi pasar terbesar bagi Oman Air dengan 11 destinasinya, disusul degan 18 destinasi lain di seluruh penjuru Timur-Tengah, dan enam destinasi lainnya tersebar di Black Land, Afrika.

Sedangkan untuk pasar Eropa, adapun beberapa negara yang menjadi destinasi dari Oman Air mencakup Paris di Perancis, Frankfurt di Jerman, London di Inggris, dan Roma di Italia. Lalu untuk pasar Asia Tenggara, Oman Air mengarah Bangkok, Singapura, Manila, Kuala Lumpur, dan Jakarta sebagai destinasi andalannya. Sementara itu, Oman Air juga memberlakukan Guangzhou Cina sebagai koneksi satu atap layaknya maskapai Timur Tengah lain.

Itu dari segi destinasinya, lalu jika dilihat dari segi armada yang dioperasikannya, rata-rata umur dari armada Oman Air adalah 4,8 tahun – tergolong maskapai yang mengoperasikan armada muda ketimbang nama-nama maskapai besar lainnya. Mulai dari Embraer 175, Boeing 787-9, Boeing 787-8, Boeing 737 MAX 8, Airbus A330-200, hingga Airbus A330-300 yang kini terdaftar menjadi armada Oman Air dengan total 53 armada.

Baca Juga: Maskapai Timur Tengah Terapkan Standar Tinggi dalam Penerbangan

Diketahui, Oman Air juga tengah menantikan sebanyak 25 armada Boeing 737 MAX 8 – yang baru-baru ini tengah menjadi sorotan pasca kecelakaan Lion Air JT-610.

Sementara itu untuk penerbangan dari Jakarta sendiri, Oman Air menggunakan armada Boeing 787 dan melayani penerbangan langsung menuju Muscat sehari sekali.

Renovasi Jalur San Martin, Argentina Teken Kontrak dengan China Railways Construction

Pemerintahan Argentina baru-baru ini menandatangani kerja sama dengan pihak China Railway Construction dalam upayanya menghadirkan jaringan perkeretaapian di Tanah Amerika Latin. Alih-alih untuk memobilisasi penumpang, Pemerintah Argentina akan memberdayakan kontrak kerja sama tersebut untuk mengangkut kargo dan bahan-bahan mentah. Diketahui, kontrak kerja sama yang terjalin di antara dua belah pihak ini mencapai angka US$1 miliar atau yang setara dengan Rp14,2 triliun!

Baca Juga: Kontraktor Cina Rampungkan Pembangunan Terowongan Kereta Terpanjang di Afrika Timur

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (3/12/2018), penandatanganan modernisasi kereta di Argentina ini terjadi di sela-sela perhelatan G20 Summit, yang diadakan tertanggal 30 November hingga 1 Desember 2018 silam. Dalam perjanjian tersebut, pihak China Railway Construction akan merenovasi jalur perkeretaapian San Martin sepanjang 1.020 km yang membentang dari Rosasio di sebelah Timur menuju Provinsi Mendoza di sebelah Barat.

Karena jaringan perkeretaapian yang rusak, akhirnya kondisi tersebut memaksa para petani untuk mengangkut kedelai, gandum, jagung, dan komoditas utama di sana dengan menggunakan truk. Kementerian Transportasi Argentina dalam sebuah keterangan tertulis menyebutkan bahwa, “semisal proyek ini rampung, maka peningkatan pengiriman senilai 1,5 juta ton akan berlipat menjadi 3 juta ton pada tahun 2025, dan itu akan terus mengalami peningkatan hingga mencapai angka 8 juta ton di tahun 2030,”

Lebih lanjut, Menteri Transportasi Argentina menambahkan bahwasanya ketika masa renovasi ini, akan ada sekitar 3,800 lapangan pekerjaan baru yang tercipta.

Di luar konteks, pihak Cina telah dikaitkan dengan sejumlah pemugaran dan modernisasi beberapa jalur kereta api di Argentina, termasuk jalur kargo Belgrano Cargas dan jalur kereta General Urquiza Cargas.

Selain bekerja sama dalam hal merenovasi jalur kereta San Martin, Pemerintah Argentina juga diketahui telah membeli sejumlah lokomotif guna mendukung pengoperasian perkeretaapian di negara tersebut. Dikutip dari laman sumber terpisah, hingga saat ini, sebanyak 97 lokomotif telah dikirimkan pihak China Railway Construction kepada negara Amerika Latin tersebut.

Baca Juga: Al Mashaaer Al Mugaddassah Metro, MRT Unik di Kota Suci Makkah

Jika ditelaah lebih dalam, dengan terpilihnya Cina sebagai rekan bisnis Argentina dalam hal renovasi jalur kereta San Martin, maka hal ini sedikit banyaknya mempengaruhi persaingan antara Cina dan Jepang yang selama ini diketahui selalu memanas dalam di sektor perkeretaapiannya.

 

Dukung Wisata di Kalimantan Timur, Citilink Buka Rute Jakarta-Samarinda

Pasar wisata Indonesia kini semakin berkembang dan banyak pelancong domestik maupun internasional yang semakin mencari destinasi baru. Seperti baru-baru ini, maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink membantu pelancong untuk meinkmati keindahan alam Borneo (Kalimantan) dengan membuka rute langsung Jakarta-Samarinda pada 3 Desember 2018.

Baca juga: Sambut Libur Natal dan Tahun Baru 2019, Garuda Indonesia dan Citilink Siapkan 132 ribu Kursi Tambahan

Kehadiran rute baru tersebut selain bertujuan untuk memperluas dan memperkuat konektivitasi di Kawasan Timur Indonesia khususnya Kalimantan Timur. Tak hanya itu, rute baru ini juga membantu percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan wilayah tersebut.

“Pembukaan rute dari Jakarta ke Samarinda merupakan bukti komitmen Citilink Indonesia untuk memberikan kemudahan opsi moda transportasi udara yang dapat menghubungkan kedua kota besar Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur,” kata Vice President Corporate Secretary and CSR Ranty Astari Rachman yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima.

Ranty menjelaskan bahwa penerbangan Citilink ke Samarinda mampu meningkatkan aksesibilitas di Kalimantan Timur yang akan mendorong aktivitas pembangunan dan perekonomian disana, sehingga kedudukan Samarinda sebagai kota industri semakin kuat karena akan terhubung dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia yang berada dalam jaringan penerbangan Citilink.

Seperti diketahui, tahun 2018 ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sedang gencar melakukan pengembangan sentra industri di tiga wilayah di Kalimantan Timur yang diantaranya termasuk Samarinda, Balikpapan dan Kutai Kartanegara.

“Dengan melihat kondisi tersebut Citilink optimis mampu meraih rata-rata tingkat isian penumpang atau Seat Load Factor (SLF) sebesar 85 persen pada rute penerbangan Jakarta-Samarinda ini,” tutup Ranty.

Baca juga: 9 November 2018, Citilink Terbang Perdana Dari Kertajati Menuju Kualanamu

Pembukaan rute baru Jakarta-Samarinda dengan nomor penerbangan QG 422 dijadwalkan terbang dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 12.35 WIB dan tiba di Bandar Udara APT Pranoto pada pukul 15.50 WITA. Untuk rute Samarinda-Jakarta dengan nomor penerbangan QG 423 terbang dari Bandar Udara APT Pranoto pukul 16.20 WITA dan tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 17.40 WIB. Kedua penerbangan tersebut menggunakan tipe pesawat Airbus A320 dengan kapasitas 180 penumpang.

American Airlines Batal Terbang, Seorang Nenek Terlantar di Kursi Roda Bandara Chicago

Seorang penumpang berusia 67 tahun dilaporkan tidak terbang dari Bandara Internasional Chicago O’Hare setelah penerbangan American Airlines yang akan dinaikinya batal terbang ke Detroit, Michigan. Nenek tersebut diketahui saat ditemukan masih di kursi roda dan mengenakan pakaian yang sama sebelum dirinya berangkat.

Baca juga: Pekerjakan Pilot Berkulit Hitam Pertama, Inilah Fakta Unik Seputar American Airlines

KabarPenumpang.com melansir laman fox17online.com (3/12/2018), sebelum terlantar awalnya, Olimpia Warsawa terbang ke Illinois untuk menghadiri pemakaman seorang kerabat. Setelah kebaktian Warsawa harus mengejar penerbangan kembali ke Michigan dan Claude Coltea mengantarkannya ke bandara.

Coltea mengatakan, ibunya sulit berkomunikasi dan berjalan karena penyakit parkinson dan diabetesnya sehingga harus menggunakan kursi roda. Dia membawa ibunya sampai ke gerbang penerbangan dan berbicara pada petugas untuk memastikan ibunya diurus dengan aik.

“Aku berjalan dengan ibuku sampai ke gerbangnya. Saya sudah konfirmasi dengan agen gerbang bahwa penerbangan tepat waktu. Semuanya baik-baik saja. Dia berkata, ‘Yup, semua baik-baik saja. Kami akan merawat ibu Anda dengan baik,” kata Coltea.

Sayangnya nenek tersebut tidak kembali ke Detroit, Michigan karena penerbangannya dibatalkan. Kemudian porter yang bertugas mengantarkan menawarkan Warsawa sebuah kamar hotel untuk beristirahat karena tidak jadi terbang. Namun, karena kesulitan berkomunikasi dan tidak menemukan transportasi, Warsawa tak jadi dibawa ke hotel.

Porter kemudian meninggalkannya di bandara setelah shiftnya berakhir. Setelah Warsawa tidak tiba di Detroit, keluarganya mulai bertanya ke American Airlines dan bandara untuk melacaknya. Beberapa jam kemudian, keamanan menemukan dia masih di kursi roda dan pakaian yang sama yang dikenakannya pada hari sebelumnya.

Keluarga itu saat ini sedang menunggu jawaban dari American Airlines tentang bagaimana ibu mereka ditinggalkan. American Airlines mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah melakukan penyelidikan atas masalah ini.

“Kami sangat prihatin tentang ini, dan telah meluncurkan penyelidikan dengan tim Chicago kami dan vendor yang kami gunakan yang menyediakan layanan kursi roda di Chicago O’Hare. Kami telah berbicara dengan keluarga beberapa kali, dan bertemu dengan mereka berdua di Chicago dan Detroit kemarin. Tim kami telah mengembalikan uang untuk perjalanan ini,” kata pernyataan itu.

Baca juga: Dua Hari Tanpa Akomodasi dan Makanan, 200 Penumpang British Airways Terlantar di Bandara

Maskapai itu mengkonfirmasi bahwa wanita itu ditawari voucher hotel, tetapi mencari tahu mengapa dia tidak dibawa ke sana. Ini bukan satu-satunya masalah yang dikatakan keluarga Warsawa dengan maskapai penerbangan selama perjalanan. American Airlines dilaporkan kehilangan barang bawaannya di penerbangan, memaksa dia untuk melewatkan bagian dari pemakaman saat dia pergi untuk mendapatkan pakaian untuk dipakai.

Buntut Insiden JT-610, Pihak Lion Air Bisa Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing!

Insiden jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 di perairan Tanjung Karawang pada Senin (29/10/2018) silam ternyata berbuntut panjang. Aksi saling tuduh siapa ‘dalang’ di balik insiden jatuhnya pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP ini tak pelak menjadi sorotan sejumlah media. Namun, apabila merujuk pada penyelidikan yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kurangnya perhatian dari pihak Lion terhadap armadanya inilah yang menjadi akar dari jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8.

Baca Juga: Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, pesawat ini sebenarnya sudah mendapatkan predikat ‘tidak laik’ beroperasi pada beberapa penerbangan sebelumnya – Denpasar menuju Jakarta (Cengkareng). Dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (30/10/2018), catatan teknis pesawat nomor penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng menyebutkan data kecepatan pesawat saat mengudara pada instrumen kapten pilot tidak dapat diandalkan. Bahkan data ketinggian yang tertera pada instrumen kapten pilot dan kopilot berbeda.

Berdasarkan hasil investigasi KNKT tersebut, pihak Lion Air semakin terpojok. Kondisi ini semakin bertambah runyam manakala pendiri Lion Air, Rusdi Kirana sangat marah atas langkah yang diambil pihak Boeing yang seolah mengalihkan perhatian dari fokus pembicaraan dan terkesan menyalahkan Lion Air atas kecelakaan yang merenggut nyawa lebih dari 180 orang ini.

Dampak panjang dari insiden jatuhnya Lion Air JT610 ini adalah adanya isu pembatalan sejumlah pemesanan armada Lion Air terhadap Boeing. Merujuk pada laman Reuters, Rusdi Kirana mengatakan adanya kemungkinan untuk melakukan pembatalan pemesanan tersebut. Enggan gegabah, Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan dirinya belum dapat memastikan apakah pihak maskapai berlogo kepala singa ini akan melakukan pembatalan tersebut.

“Kalau mengenai bisnis apapun bisa terjadilah,” tutur Edward.

“Saya tidak mengatakan ya atau tidak [batal beli pesawat Boeing], tapi dari situasi ini kan kita akan mempelajari semua informasi dan data-data yang memang berkembang terkait dengan kejadian ini,” tandasnya.

Edward juga menambahkan bahwa jumlah pesawat yang sudah dipesan oleh pihak Lion Air, namun belum dikirim oleh Boeing hingga saat ini mencapai angka lebih dari 200 unit. Adapun moda dari pesawat-pesawat tersebut mencakup Boeing 737 Max 8, 9, dan 10.

Ketika ditanya terkait dengan jadwal pengiriman pesawat-pesawat itu, Edward mengatakan, “Saya tidak mengatakan sudah ya. Tapi yang dikatakan media asing ini saya akan konfirmasi dulu ke sumber beritanya, apakah beliau pernah mengatakan itu. Tapi dari keadaan, bisa saja.” dikutip dari laman sumber lain.

Baca Juga: Pesawat Canggih Boeing 737 Max 8 Lion Air Jatuh Perairan Tanjung Karawang, Ini Dia Spesifikasinya!

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini, jumlah armada Lion Air yang belum dikirim oleh pihak Boeing mencapai angka 190 unit, yang jika dikonversi menjadi ke dalam nomial rupiah, nilainya mencapai Rp314 triliun.

Jumlah backlog (pesanan pesawat yang belum terkirim) di hanggar Boeing sendiri di penghujung tahun 2017 sendiri menyentuh angka 5.864 unit – jumlah yang merepresentasikan sekitar 7 tahun produksi.

 

Vistara dan Jet Airways, Maskapai Full Service yang Sajikan Layanan Bergaya LCC

Dua maskapai India yang menghadirkan layanan penuh (full service) yakni Vistara dan Jet Airways belum lama ini menciptakan sebuah opsi baru. Dimana dengan memberikan tarif baru tanpa makanan onboard saat membeli tiketnya. Sehingga penumpang yang membeli tiket di kedua maskapai ini akan membeli makanan mereka secara terpisah.

Baca juga: Maskapai di India Wajib Hadirkan Tabel Gizi di Baki Makanan

Pejabat dari kedua maskapai layanan penuh tersebut mengatakan, tiket tanpa makanan ini hanya untuk kursi dengan harga berkisar dari Rs3 ribu hingga Rs5 ribu atau setara dengan Rp668 ribu hingga Rp1 juta. Sehingga untuk penumpang dengan tiket harga tersebut bisa membeli makanan mereka dalam penerbangan atau memesannya saat membeli tiket dan membayar lebih.

Dirangkum dari telegraphindia.com (30/11/2018) oleh KabarPenumpang.com, Vistara saat ini sudah meluncurkan Freedom Fares yang memungkinkan penumpang memesan kursi tanpa makanan gratis. Sedangkan Jet membuat pilihan tarif yang lebih rendah dari biasanya tanpa makanan.

Meski menjadi maskapai layanan penuh, keduanya melakukan hal tersebut karena persaingan ketat dengan maskapai berbiaya rendah (Low Cost Carrier/LCC) seperti IndiGo, SpiceJet, GoAir dan AirAsia yang menawarkan makanan dengan biaya tambahan. Selain itu juga untuk mempertahankan para pelanggan mereka.

“Kami telah mengamati bahwa banyak penumpang tidak memesan tempat duduk di penerbangan kami berdasarkan pada anggapan bahwa tarif kami jauh lebih tinggi. Mereka selalu memilih maskapai penerbangan bertarif rendah di atas kita. Kami ingin membiarkan bagian penumpang ini tahu bahwa kursi di penerbangan kami dapat memiliki tarif yang sebanding, meskipun tanpa beberapa embel-embel kami yang biasa,” ujar salah seorang pejabat Vistara.

“Kami memperhatikan bahwa kebutuhan penumpang juga berubah.”

Seperti halnya penerbangan jarak dekat, banyak penumpang yang menggunakan pesawat tanpa harus ada makanan dan biasanya bepergian hanya dengan bagasi kabin. Pejabat Vistara mengatakan, kategori penumpang ini yakni mencari harga yang murah dan tidak keberatan tidak mendapat makanan secara gratis atau akses lounge.

Adapun pilihan yang diberikan Jet Airways dengan perubahan ini adalah lima opsi dalam kelas ekonomi yakni Light, Deal, Saver, Classic dan Flex.

“Jet Airways memiliki tarif tidak terdaftar dalam kategori Light and Deal untuk penerbangan di India karena survei konsumen mengungkapkan bahwa para tamu menginginkan fleksibilitas tarif kompetitif dengan opsi untuk membeli makanan,” ujar juru bicara Jet.

Pejabat lain mengatakan kursi-kursi ini sebagian besar ditujukan untuk para pelancong. Maskapai sebelumnya telah memperkenalkan kategori tarif penumpang tidak memiliki akses ke lounge atau opsi untuk mengupgrade.

Gagasan untuk terbang dengan maskapai penerbangan layanan lengkap tetapi tidak mendapatkan makanan gratis belum tercakup. Seorang penumpang yang melakukan perjalanan dengan Jet Airways dari Calcutta ke Mumbai sekitar seminggu yang lalu bingung ketika melihat rekan-rekan pelancong sedang menyiapkan makanan saat dia tidak mendapatkan apapun.

Baca juga: Pengamat India: Kenapa Kecelakaan Pesawat Marak Terjadi di Indonesia?

“Saya pikir awak kabin telah membuat kesalahan sampai seorang pramugari mengatakan kepada saya tiket saya tidak termasuk makan,” kenangnya. “Agen perjalanan saya tidak memberi tahu saya tentang sistem baru.”

Beberapa operator perjalanan percaya bahwa maskapai penerbangan dengan layanan penuh mengikuti model biaya rendah untuk layanan on board buruk untuk nilai merek.

“Maskapai layanan penuh memiliki segmen penumpang sendiri dan harus terus melayani mereka seperti sebelumnya. Jika tidak, mereka mungkin akan kehilangan penumpang pada titik tertentu,” kata Anil Punjabi, ketua dari Federasi Agen Perjalanan India.