Vistara dan Jet Airways, Maskapai Full Service yang Sajikan Layanan Bergaya LCC

Dua maskapai India yang menghadirkan layanan penuh (full service) yakni Vistara dan Jet Airways belum lama ini menciptakan sebuah opsi baru. Dimana dengan memberikan tarif baru tanpa makanan onboard saat membeli tiketnya. Sehingga penumpang yang membeli tiket di kedua maskapai ini akan membeli makanan mereka secara terpisah.

Baca juga: Maskapai di India Wajib Hadirkan Tabel Gizi di Baki Makanan

Pejabat dari kedua maskapai layanan penuh tersebut mengatakan, tiket tanpa makanan ini hanya untuk kursi dengan harga berkisar dari Rs3 ribu hingga Rs5 ribu atau setara dengan Rp668 ribu hingga Rp1 juta. Sehingga untuk penumpang dengan tiket harga tersebut bisa membeli makanan mereka dalam penerbangan atau memesannya saat membeli tiket dan membayar lebih.

Dirangkum dari telegraphindia.com (30/11/2018) oleh KabarPenumpang.com, Vistara saat ini sudah meluncurkan Freedom Fares yang memungkinkan penumpang memesan kursi tanpa makanan gratis. Sedangkan Jet membuat pilihan tarif yang lebih rendah dari biasanya tanpa makanan.

Meski menjadi maskapai layanan penuh, keduanya melakukan hal tersebut karena persaingan ketat dengan maskapai berbiaya rendah (Low Cost Carrier/LCC) seperti IndiGo, SpiceJet, GoAir dan AirAsia yang menawarkan makanan dengan biaya tambahan. Selain itu juga untuk mempertahankan para pelanggan mereka.

“Kami telah mengamati bahwa banyak penumpang tidak memesan tempat duduk di penerbangan kami berdasarkan pada anggapan bahwa tarif kami jauh lebih tinggi. Mereka selalu memilih maskapai penerbangan bertarif rendah di atas kita. Kami ingin membiarkan bagian penumpang ini tahu bahwa kursi di penerbangan kami dapat memiliki tarif yang sebanding, meskipun tanpa beberapa embel-embel kami yang biasa,” ujar salah seorang pejabat Vistara.

“Kami memperhatikan bahwa kebutuhan penumpang juga berubah.”

Seperti halnya penerbangan jarak dekat, banyak penumpang yang menggunakan pesawat tanpa harus ada makanan dan biasanya bepergian hanya dengan bagasi kabin. Pejabat Vistara mengatakan, kategori penumpang ini yakni mencari harga yang murah dan tidak keberatan tidak mendapat makanan secara gratis atau akses lounge.

Adapun pilihan yang diberikan Jet Airways dengan perubahan ini adalah lima opsi dalam kelas ekonomi yakni Light, Deal, Saver, Classic dan Flex.

“Jet Airways memiliki tarif tidak terdaftar dalam kategori Light and Deal untuk penerbangan di India karena survei konsumen mengungkapkan bahwa para tamu menginginkan fleksibilitas tarif kompetitif dengan opsi untuk membeli makanan,” ujar juru bicara Jet.

Pejabat lain mengatakan kursi-kursi ini sebagian besar ditujukan untuk para pelancong. Maskapai sebelumnya telah memperkenalkan kategori tarif penumpang tidak memiliki akses ke lounge atau opsi untuk mengupgrade.

Gagasan untuk terbang dengan maskapai penerbangan layanan lengkap tetapi tidak mendapatkan makanan gratis belum tercakup. Seorang penumpang yang melakukan perjalanan dengan Jet Airways dari Calcutta ke Mumbai sekitar seminggu yang lalu bingung ketika melihat rekan-rekan pelancong sedang menyiapkan makanan saat dia tidak mendapatkan apapun.

Baca juga: Pengamat India: Kenapa Kecelakaan Pesawat Marak Terjadi di Indonesia?

“Saya pikir awak kabin telah membuat kesalahan sampai seorang pramugari mengatakan kepada saya tiket saya tidak termasuk makan,” kenangnya. “Agen perjalanan saya tidak memberi tahu saya tentang sistem baru.”

Beberapa operator perjalanan percaya bahwa maskapai penerbangan dengan layanan penuh mengikuti model biaya rendah untuk layanan on board buruk untuk nilai merek.

“Maskapai layanan penuh memiliki segmen penumpang sendiri dan harus terus melayani mereka seperti sebelumnya. Jika tidak, mereka mungkin akan kehilangan penumpang pada titik tertentu,” kata Anil Punjabi, ketua dari Federasi Agen Perjalanan India.

Diserang Pitbull di Bus, Pria Difabel Gugat Departemen Transportasi di New Mexico

Seorang penumpang menggugat layanan bus ke pengadilan setelah dirinya dan anjing yang menjadi hewan pendukung emosionalnya diserang dalam perjalan mereka tahun lalu di Bernalillo, New Mexico, Amerika Serikat. Pria tersebut bernama Vernon Lewis yang menggunakan kursi roda saat naik bus pada 13 April 2017 lalu pada pagi hari bersama anjingnya, Rocco.

Baca juga: Burung Merak, Ikon Pendukung Emosi Ini Dilarang Masuk dalam Penerbangan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman abqjournal.com (29/11/2018), saat itu, Lewis diketahui naik bus pagi dan beberapa menit setelahnya seorang penumpang lain bersama anjing tipe pitbull menyusul naik. Pitbull tersebut kemudian menyerang Lewis dan anjing kecilnya serta membuat keduanya terluka.

“Membiarkan Pitbull di bus tanpa hambatan yang tepat merupakan kelalaian dalam pengoperasian kendaraan itu,” dalam gugatannya.

Rekaman kamera keamanan dari insiden ini menunjukkan pria dan pitbull tersebut naik setelah Lewis. Pengemudi bus terdengar bertanya, apakah itu anjing pelayanan dan pria itu menjawab “Ya,” kemudian anjing itu tidak menggigit siapa pun.

Setelah sempat mengendus Rocco yang berada di pangkuan Lewis, pitbull itu datang dan menyerang anjing kecil tersebut ditengah hiruk pikuk jeritan yang nyaring. Lewis terjatuh dari kursi rodanya.

Kemudian atas insiden tersebut, pengemudi meminta pria dengan pitbull-nya turun dari bus dan dituruti. Pengacara Lewis, David Berlin mengatakan, di Pengadilan Distrik Bernalillo, Negara Bagian New Mexico, bahwa tangan kliennya terluka dalam insiden itu dan dia membutuhkan perawatan medis di Rumah Sakit Universitas New Mexico.

Ada cuplikan yang di screenshot, dari cuplikan pengawasan bus, pitbull yang lebih besar terlihat mengendus Rocco sebelum menyerang anjing kecil itu. Karena tak mampu membayar perawatan Rocco, anjing kecil itu mati beberapa minggu setelah insiden dan tak diketahui penyebab kematiannya.

Gugatan Lewis kepada Departemen Transportasi kota Bernalillo sebagai terdakwa. Lewis mencari kompensasi atas cedera dan biaya hukumnya.

Juru bicara Departemen Transit Rick De Reyes mengatakan, hanya anjing penjaga yang diperbolehkan di bus kota, dan itu tidak termasuk dukungan emosional atau hewan penghibur. Berlin mengatakan Rocco dilatih untuk mengingatkan Lewis ketika dia akan mengalami kejang. Lewis mulai mengalami kejang setelah kecelakaan sepeda motor di mana dia juga kehilangan kakinya beberapa tahun lalu, kata pengacara itu.

Baca juga: Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma

Rocco diajarkan untuk menjadi anjing layanan resmi resmi, kata Berlin. De Yeres mengatakan, kebijakan kota menyatakan bahwa pengemudi harus bertanya kepada pemilik hewan apa pun yang menaiki bus jika itu adalah hewan layanan. Kemudian, pengemudi harus bertanya tugas apa yang dilakukan hewan itu. Undang-undang federal menetapkan bahwa mereka mungkin tidak meminta dokumentasi sertifikasi layanan hewan.

“Sopir kami tidak mengikuti prosedur dengan benar,” kata De Reyes.

Bocah 8 tahun, Fasih Peragakan Alat Keselamatan di Dalam Kabin

Instruksi peragaan alat keselamatan selalu dilakukan awak kabin sebelum pesawat lepas landas menuju tujuan dari bandara keberangkatan. Peragaan ini sendiri mungkin bagi penumpang yang sering menggunakan pesawat sebagai alat transportasinya cukup bosan karena pastinya sama disetiap penerbangan. Meski begitu peragaan alat keselamatan menjadi salah satu hal yang penting.

Baca juga: Numpuk di Gudang, AirAsia Daur Ulang Jaket Keselamatan dan Seragam Awak Kabin

Namun bagaimana jika peragaan alat keselamatan dalam penerbangan tersebut dilakukan anak laki-laki berusia delapan tahun? Mungkin ini akan membuat penumpang melihatnya karena penasaran dan bahkan, bisa menjadi pusat perhatian karena unik.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman news.co.au (4/12/2018), bocah delapan tahun itu membuat awak kabin Jetstar tercengan dengan peragaan yang dilakukannya itu. Bocah bernama Beau itu menjadi pusat perhatian penumpang saat peragaan alat keselamatan di penerbangan Jetstar. Bahkan Beau fasih menghafalkan kata demi kata yang diucapkan awak kabin saat melakukan peragaan tersebut.

Tak hanya di dalam pesawat, tiba di rumah pun, Beau kembali mengulang peragaan alat keselamatan dengan benda-benada yang ada di rumah seperti yang dilakukannya dalam pesawat Jetstar. Dia melakukan itu di depan keluarganya yang seolah-olah seperti penumpang sebuah pesawat.

“Beau sangat tertarik dengan awak kabin dan Jetstar dan dia sangat tertarik dengan briefing keselamatan dan kemudian dia mulai berlatih ketika kami pulang ke rumah,” ujar Kylie ibu bocah laki-laki itu.

Kylie memfilmkan Beau melakukan briefing dan mengirimnya ke Jetstar, di mana staf sangat terkesan sehingga mereka mengundangnya untuk menghabiskan hari di Pusat Pelatihan Kabin Cabin di maskapai penerbangan. Di sana, ia juga harus melakukan briefing lagi dengan seorang anggota awak kabin di kabin pesawat simulasi.

Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah?

Beau harus pulang dengan koper perlengkapan keselamatannya sendiri, termasuk jaket pelampung, masker oksigen, dan kartu pengaman. Dia mengatakan dia ingin bekerja untuk Jetstar ketika dia lebih tua.

“Saya sangat menyukai pesawat jadi kemudian saya mulai berlatih dan membuat hal-hal untuk itu,” katanya.

Sambut Libur Natal dan Tahun Baru 2019, Garuda Indonesia dan Citilink Siapkan 132 ribu Kursi Tambahan

Musim liburan Natal dan Tahun Baru akan dimulai pada 20 Desember mendatang, dan berakhir pada 6 Januari 2019. Menyambut momen besar tersebut, Garuda Indonesia dan Citilink telah menyiapkan setidaknya 132 ribu ribu kursi tambahan (extra seat) untuk penerbangan domestik dan internasional sebagai upaya mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang.

Baca juga: Per 2 Desember, Garuda Indonesia Layani Penerbangan Bandung-Singapura 4x Seminggu

Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (4/12), Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengatakan, kapasitas tambahan tersebut terdiri dari 55 ribu kursi tambahan pada layanan penerbangan Garuda Indonesia dan 77 ribu kursi tambahan pada layanan penerbangan Citilink.

Adapun frekuensi penambahan kapasitas layanan penerbangan tambahan tersebut terdiri dari 197 frekuensi penerbangan Garuda Indonesia dan 216 frekuensi penerbangan Citilink. Penambahan kursi Garuda Indonesia selama periode liburan akhir tahun ini mengalami peningkatan hampir 2 kali lipat dibandingkan kapasitas kursi tambahan Garuda Indonesia Group pada periode liburan Natal dan Tahun Baru tahun lalu.

“Adapun kapasitas tambahan Garuda Indonesia sebagai mainbrand pada periode liburan akhir tahun ini mencapai hingga 49 ribu kursi tambahan yang terbagi dalam 170 frekuensi penerbangan ekstra di sejumlah rute-rute penerbangan domestik dan internasional, serta lebih dari 6 ribuan kursi tambahan yang dilayani melalui 27 frekuensi penerbangan yang menggunakan “bigger aircraft” (pesawat berbadan lebar) di sejumlah rute penerbangan domestik dan internasional”.

Ari mengatakan, “Penambahan kapasitas penerbangan Garuda Indonesia melalui penerbangan ekstra (extra flight) akan dilaksanakan pada rute-rute penerbangan domestik dan internasional dengan trafik penumpang tinggi, di antaranya Ambon – Langgur pp, Jakarta – Denpasar pp, Jakarta – Surabaya pp, Jakarta – Medan pp, Jakarta – Yogyakarta pp, Denpasar – Surabaya pp.

Sementara itu, pengoperasian “bigger aircraft” akan dilakukan pada 6 sektor penerbangan Garuda Indonesia yang terdiri dari rute penerbangan Jakarta – Denpasar pp, Jakarta – Medan pp, Jakarta – Surabaya pp, hingga Jakarta – Tanjung Pandan pp hingga rute internasional Jakarta – Singapura pp”.

Baca juga: Gandeng HokBen, Garuda Indonesia Hadirkan New Inflight Menu di Penerbangan Domestik

Penggunaan bigger aircraft pada periode libur akhir tahun tersebut dilakukan melalui pengoperasian armada Boeing 777-300ER, Airbus A330-300 dan Airbus A330-200 yang akan menggantikan armada reguler B737-800 NG maupun armada regular lainnya di sejumlah sektor penerbangan.

PT KAI Akan Gandeng GoJek, Bayar KA Lokal Bisa Pakai Go-Pay?

Generasi masa kini sudah dipermudah dengan berbagai teknologi baru salah satunya dengan dompet virtual. Selain memudahkan, dengan adanya dompet virtual ini, pengguna tidak lagi repot membawa uang cash yang banyak atau kartu ATM, karena sekarang sudah banyak ritel atau toko lainnya yang dimudahkan dengan cara pembayaran seperti itu.

Baca juga: MRT Jakarta Gandeng GoJek Kembangkan Bisnis dan Mobile Payment via Aplikasi

Seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang akan menggunakan Go-Pay dalam pembayaran tiket kereta api lokalnya. Selain untuk memudahkan pelanggan di era millenial, juga untuk penghematan penggunaan kertas untuk boarding pass.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber dimana Manager Marketing Komunikasi PT KAI Otnial Eko Pamiarso mengatakan, mekanisme pembayaran dengan Go-Pay belum diluncurkan. Dia menjelaskan, PT KAI akan menjalin kerja sama dengan Go-Jek dalam hal ini adalah penggunaan Go-Pay.

“Belum resmi diluncurkan, detailnya akan diumumkan kemudian,” kata Otnial.

Nantinya, pembayaran secara virtual ini akan mulai dengan rute kereta jarak dekat seperti Pasar Senen-Cikampek, Cikampek-Purwakarta. Pemilihan kereta lokal karena tarifnya yang murah di kisaran Rp4 ribu hingga Rp8 ribu untuk sekali jalan.

“Untuk kereta lokal, nanti tiketnya pakai Go-Pay. Jadi scan saja tidak usah pakai tiket lagi,” jelasnya.

Otnial mengatakan, kawasan Bandung dan sekitarnya akan menjadi pilot project metode pembayaran dengan dompet virtual tersebut. Pihaknya akan mencoba dari Badung-Cimahi dan sebaliknya.

Baca juga: Punya KAI Access? Ini Cara Mudah Tukar Jadwal Keberangkatan Kereta

Dia memperkirakan sistem pembayaran melalui dompet virtual Go-Pay akan mulai digunakan paling lambat Februari 2019 mendatang. Inovasi baru tersebut nantinya akan melengkapi sistem tiket online dengan membeli melalui aplikasi KAI Access.

Sehingga saat pengguna tiba di stasiun hanya tinggal menscan barcode yang tertera jelas di e-ticket yang dikeluarkan oleh KAI Access. Sehubungan dengan ini, pihak Go-Jek Indonesia belum ada jawaban yang pasti.

“Kami belum bisa berkomentar lebih detail terkait hal ini. Bila ada update lebih lanjut akan kami informasikan,” kata Winny Triswandhani, Head of Corporate Affairs Go-Pay yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (4/12/2018).

Penutup Mesin Terlepas, Airbus A320 Frontier Flight 260 Terpaksa Return to Base

Bagi sebagian orang, duduk di samping kaca selama penerbangan merupakan hal yang menyenangkan – dimana mereka bisa melihat pemandangan spektakuler dari atas pesawat. Tapi tidak melulu duduk di samping kaca itu menyenangkan, pasalnya belum lama ini muncul sejumlah foto yang menunjukkan mesin jet Airbus A320 milik maskapai Frontier tercabik dan tersebar luas di dunia maya.

Baca Juga: [Video] Announcer Frontier Airlines Bawakan Panduan Keselamatan dengan Balutan Komedi

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thesun.ie (1/12/2018), kejadian ini sendiri terjadi pada Jumat (30/11/2018) kemarin pada penerbangan Frontier dari Las Vegas menuju Tampa. Ketika pesawat bertolak dari Bandara Internasional McCarran di Las Vegas, penerbangan tersebut masih tidak mengalami kendala, namun situasi 180 derajat terjadi manakala pesawat baru mengudara selama 10 menit.

Seorang penumpang yang duduk di dekat jendela melihat katup penutup mesin jet maskapai tersebut terbuka dan kepanikan di dalam kabin mulai terjadi tepat setelah si penumpang tersebut histeris melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Saya sedang tidur dan terbangun karena ada banyak teriakan dari para penumpang,” ujar salah satu penumpang maskapai Frontier bernama Stella Ponce.

“Para penumpang tersebut berteriak agar pilot segera memberhentikan pesawat,” tandasnya.

Alhasil, maskapai Frontier Flight 260 tersebut terpaksa return to base menuju Bandara Internasional McCarran pada pukul 07.27 waktu setempat – hanya berselang 15 menit setelah pesawat tersebut mengudara. Beruntung, sebanyak 171 penumpang dan 6 awak kabin dalam penerbangan tersebut dinyatakan selamat tanpa mengalami luka-luka.

Menanggapi insiden ini, pihak Frontier Airlines menegaskan bahwa pilot telah mengikuti prosedur yang berlaku, “dan segera mengambil keputusan untuk return to base,” ujar pihak Frontier dalam keterangan tertulis.

Baca Juga: Duh, Gara-Gara Satu Penumpang, Frontier Airlines Flight 87 Dibatalkan!

Selain itu, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap para penumpangnya, pihak maskapai berbiaya rendah asal Negeri Paman Sam ini diketahui mengembalikan setiap tiket para penumpang (refund) dan memberikan kompensasi berupa voucher sebesar US$500 atau yang setara dengan Rp7,1 juta untuk pembelian tiket Frontier di masa yang akan datang.

Dibalik Keanggunan, Ternyata 15 Pramugari Emirates Tergabung ke Dalam Tim Rugby

Tentu Anda semua sudah mengenal maskapai asal Timur Tengah yang hanya mengoperasikan dua jenis armada saja – Airbus A380 dan Boeing 777. Sebagai maskapai kelas 1, Emirates tidak hanya menjamin keselamatan penumpang, pun dengan kenyamanannya dan pelayanan yang diberikan oleh awak kabinnya. Di balik anggunnya awak kabin Emirates ini, tahukah Anda bahwa beberapa dari mereka tergabung di dalam sebuah klub olahraga rugby? Mungkin sebagian dari Anda akan langsung mengernyitkan dahi, namun memang seperti itulah faktanya!

Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sebanyak 15 pramugari Emirates terpilih yang tergabung didalam klub berlabel EK Firebirds ini siap memperebutkan titel juara dalam perhelatan Emirates Airline Dubai Rugby Sevens yang diadakan pada awal Desember mendatang. Untuk diketahui, tim EK Firebirds ini telah menghabiskan waktu selama enam bulan ke belakang untuk berlatih dan mempersiapkan mental mereka.

Adapun ke-15 awak kabin Emirates tersebut berasal dari berbagai negara yang berbeda – mulai dari Inggris, Afrika Selatan, Selandia Baru, Filipina, Republik Ceko, hingga Namibia. Entah bagaimana caranya, para awak kabin ini me-manage waktu terbang mereka dengan jadwal latihan yang digelar di Stadion Sevens di Zabeel Park, Dubai.

Jika dilihat dari sejarahnya, tim EK Firebirds sendiri terbentuk pada tahun 2012 silam dan hanya beranggotakan empat orang awak kabin saja. Namun seiring berjalannya waktu, tim EK Firebirds berkembang menjadi sebuah tim rugby utuh dan mulai unjuk di sejumlah kompetisi. Menjelang perhelatan Emirates Airline Dubai Rugby Sevens tersebut, tim EK Firebirds bertemu dengan tim Rugby wanita asal Amerika, Eagles dalam sesi latihan pada Selasa (27/11/2018).

Baca Juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Diketahui, ajang Emirates Airline Dubai Rugby Sevens ini merupakan yang ke-49 kali digelar. Digadang-gadang, ajang yang dimulai pada Jumat (30/11/2018) ini bakaljadi yang paling besar dan meriah ketimbang ajang-ajang yang sama sebelumnya. Rencananya, tim yang berisikan awak kabin Emirates ini akan mengusung slogan “Come Fly with Me” sebagai ajang kampanye untuk menarik pasar – khususnya anak muda.

 

Ekinaka, Booth Working Space untuk Pekerja Mobile di Stasiun Kereta Jepang

Ruang kerja atau working space di pra sarana transportasi rasanya sudah jamak, namun yang jadi tantangan bukan soal kualitas koneksi internet, melainkan kenyamanan yang acap kali dipertanyakan, khususnya suara bising imbas aktivitas yang tinggi di lokasi tempat bertemunya banyak orang seperti di bandara dan stasiun kereta.

Baca juga: Merasakan Nostalgia Satu Abad Lalu di Stasiun Mojiko Jepang

Berangkat dari kondisi di atas, beberapa stasiun di Jepang menggelar fasilitas booth working space yang cukup unik. Booth khusus ini diberi label Ekinaka, dan dapat ditemui di area komersial stasiun. Booth Ekinaka berbentuk seperti bilik telepon, persisnya baru dipasang pada Rabu lalu (28/11) di Stasiun JR Shinagawa yang dioperasikan perusahaan kereta East Japan Railway Co. (JR East) dalam status uji coba.

Di dalam setiap booth tersebut sudah dilengkapi meja kerja, sofa, stop kontak, koneksi WiFi, dan karena sedang cuaca dingin, di dalam booth dilengkapi dengan pemanas ruangan. Dan yang paling penting, booth ini dirancang kedap suara, jadi pengguna mobile office dapat menikmati suasa tenang meski di tengah hiruk pikuk stasiun.

Ekinaka dapat dipesan lewat web, dan untuk tahap uji coba, waktu yang disediakan untuk menggunakan working space ini adalah 30 menit. Seperti diketahui, daerah di sekitar Stasiun JR Shinagawa termasuk distrik yang padat. Kebanyakan di area tersebut, orang-orang bekerja di luar ruangan, termasuk duduk di bangku kafe.

Dikutip KabarPenumpang.com dari the-japan-news.com (30/11), Yuto Katsubayashi, 23 tahun, karyawan perusahaan konsultan menyebutkan, bahwa dirinya merasa nyaman menggunakan Ekinaka. “Saya dapat bekerja fokus tanpa harus menarik perhatian, dan ini sangat efektif sembari menunggu jadwak keberangkatan kereta,” ujar Yuto.

JR East kini telah mendirikan empat booth masing-masing di stasiun Tokyo dan Shinjuku. Pengguna dapat mengguakan fasilitas ini bebas biaya selama periode percobaan. Sampai saat ini, sekitar 3.000 orang telah mendaftar untuk menjajal Ekinaka.

Juru bicara JR East mengatakan, “Tidak perlu kembali ke kantor jika ingin menggunakan booth kerja ini setelah kembali dari perjalanan bisnis. Kami ingin mendukung cara kerja yang lebih fleksibel.” Kedepannya, JR East akan memperkenalkan booth serupa tapi dalam format kerja kelompok (grup).

Baca juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang

Juga masih dalam masa uji coba, Tokyo Metro Co. telah mulai memasang booth sejenis pada bulan Juni di stasiun Tameike-Sanno, Kasai dan Kita-Senju – tempat-tempat yang diketahui memiliki banyak pekerja kantoran.

Direktorat Penerbangan India, Longgarkan Standar BMI untuk Awak Kabin Wanita

Sebagai seorang awak kabin baik wanita atau pria memiliki kriteria khusus, selain pintar, mempesona dan tubuh yang proporsional. Biasanya untuk mengukur proporsional tubuh seseorang menggunakan, Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh, sehingga bisa diketahui apakah orang itu memiliki proposional tubuh yang pas, kurang atau obesitas alias kelebihan berat badan.

Baca juga: Mau Jadi Awak Kabin? Standar Tinggi Badan Masih Jadi Syarat Utama!

KabarPenumpang.com melansir dari laman economictimes.indiatimes.com (29/11/2018), regulator penerbangan Directorate General of Civil Aviation (DGCA) India berencana untuk melonggarkan norma-norma kebugaran tubuh yang ketat untuk awak kabin wanita. Hal ini untuk memastikan peraturan yang sama terhadap seragam yang akan digunakan nantinya.

Seorang pejabat DGCA mengatakan, regulator ingin tidak ada persyaratan yang berbeda antara awak kabin pria maupun wanita. Sebab selama ini dia mengatakan, untuk awak kabin wanita persyaratan BMI lebih ketat dibandingkan pria.

Hal ini juga dilakukan DGCA untuk memastikan paritas gender atau kesetaraan gender dan perubahan telah disusun serta diusulkan untuk Persyaratan Penerbangan Sipil atau Civil Aviation Requirement (CAR) yang terkait dengan kebugaran medis awak kabin. Menurut peraturan yang dikeluarkan DGCA pada tahun 2014 lalu, BMI normal untuk awak kabin pria adalah 18-25 sedangkan untuk wanita 18-22.

Ini terlihat sangat jauh dan untuk BMI 25-29,9 untuk awak kabin pria kelebihan berat badan dan 30 ke atas adalah obesitas. Sedangkan untuk wanita BMI 22-27 kelebihan berat badan dan 27 ke atas adalah obesitas sesuai aturannya.

Baca juga: Tipping Layakkah Diberikan Pada Awak Kabin?

BMI dianggap metode yang lebih baik untuk menentukan apakah seseorang kelebihan berat badan atau obesitas. Sesuai regulator, BMI adalah indikator yang andal dari pengukuran lemak tubuh dengan cara berat badan dibagi (tinggi (meter)x 2) dan hasilnya adalah BMI.

Meski begitu, BMI tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi menghubungkannya dengan pengukuran langsung lemak tubuh. Di masa lalu, ada beberapa perusahaan penerbangan tertentu yang memutuskan untuk merumahkan beberapa awak kabin mereka karena kegemukan atau kelebihan berat badan.

Korean Air, Setiap Hari Layani Penerbangan Langsung Cengkareng-Incheon

Terkenal sebagai negara dengan industri K-Popnya, Korea memiliki daya tarik tersendiri baik bagi para pecinta artis oplasan atau hanya sekedar traveler biasa saja. Tidak hanya sekedar industri K-Pop atau destinasi wisatanya saja yang menarik untuk dibahas, pun dengan flag carrier negara berjuluk Negeri Ginseng ini. Ya, Korean Air!

Baca Juga: Ternyata, Boeing dan United Airlines Dulu Adalah Satu Perusahaan, Lho!

Maskapai yang didirikan pada tahun 1962 ini menyandang predikat sebagai maskapai terbesar di Korea Selatan berdasarkan pada jumlah armadanya. Pada mulanya, maskapai ini merupakan kepemilikan Pemerintah dan masih menggunakan nama Korean National Airlines pada tahun 1948. Namun pada tahun 1962, perusahaan Hanjin Group mengambil alih kuasa dan mengganti namanya menjadi Korean Air.

Hanya membutuhkan waktu sekira 3 tahun bagi Korean Air untuk langsung melakukan penerbangan internasionalnya. Tepat pada tanggal 26 April 1971, Korean Air melakukan penerbangan kargo perdananya. Setahun berselang, tepatnya pada 19 April 1972, Korean Air melakukan penerbangan internasional penumpang perdananya dari Seoul menuju Los Angeles.

Maskapai yang mengusung jargon “Excellence in Flight” ini juga pernah menyabet predikat sebagai Asia’s Best Airlines versi Business Traveler pada tahun 2012 silam, mengalahkan nama-nama maskapai besar lain yang tersebar di seluruh daratan Asia.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman bms.co.in, Korean Air merupakan salah satu pendiri dari aliansi penerbangan Sky Team, dimana di dalamnya tergabung sejumlah maskapai ternama, seperti Garuda Indonesia, Delta Airlines, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, hingga Saudia.

Hingga saat ini, Korean Air melayani penerbangan menuju 129 destinasi yang tersebar di seluruh dunia – salah satunya adalah Jakarta. Ya, Bandara Internasioal Soekarno Hatta menjadi penghubung antara Indonesia dengan Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan. Korean Air melakukan penerbangan terjadwal setiap hari dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional Incheon. Waktu tempuh penerbangan langsung Cengkareng-Incheon adalah 7 jam.

Baca Juga: Serba-Serbi Soal Virgin Atlantic, Merek Dagang Milik Sir Richard Branson yang Mendunia!

Layaknya Garuda Indonesia dengan Citilink, Korean Air pun punya maskapai Low Cost Carrier tersendiri yang bernama Jin Air. Sama seperti induk perusahaannya, Jin Air pun tergabung di aliansi penerbangan Sky Team.