Maret 2019, Garuda Indonesia Buka Rute Jakarta-Nagoya dengan Airbus A330

Garuda Indonesia, sebagai maskapai plat merah berencana akan membuka rute baru dari Jakarta menuju Nagoya pada 23 Maret 2019 mendatang. Nantinya rute baru tersebut akan dilayani sebanyak empat kali dalam seminggu yakni hari Selasa, Jumat, Sabtu dan Minggu. Rute baru Jakarta-Nagoya rencananya akan menggunakan Airbus A330 dual class yang terdiri dari penerbangan kelas ekonomi dan bisnis.

Baca juga: Rajin Naik Garuda Indonesia, Terbang ke Jepang dengan First Class Hanya Bayar US$76

Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengungkapkan, diperkenalkannya rute penerbangan internasional Jakarta-Nagoya PP tersebut merupakan bagian dari komitmen pengembangan jaringan penerbangan internasional Garuda Indonesia khususnya melalui pengembangan kapasitas penerbangan dan utilisasi armada pada rute-rute penerbangan yang prospektif.

“Layanan penerbangan pada rute ini juga menjadi langkah positif perusahaan dalam mempertahankan pangsa pasar sektor penerbangan Jepang – Indonesia yang terus tumbuh dan semakin menjanjikan, dimana angka kunjungan wisatawan mancanegara asal Jepang ke Indonesia menunjukan peningkatan signifikan khususnya ke sejumlah destinasi wisata utama di Indonesia salah satunya Jakarta sebagai pusat perekonomian terbesar di Indonesia”, jelas Ari yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Rabu, (28/11/2018).

Ari mengatakan, Nagoya yang merupakan ibukota Prefektur Aichi merupakan pangsa pasar yang sangat potensial bagi Garuda, terutama bisnis dan penumpang pariwisata. Pihaknya mengharapkan dibukanya rute penerbangan.

“Prefektur Aichi dikenal sebagai salah satu kota industri & manufactural tersibuk di Jepang. Kami optimistis bahwa pembukaan layanan langsung Jakarta – Nagoya dapat mendukung upaya percepatan laju iklim bisnis dan potensi ekonomi antara kedua negara”. tutup Ari.

Baca juga: Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Japan Airlines

Jepang adalah salah satu pangsa pasar paling penting untuk Garuda Indonesia. Selama lebih dari 50 tahun, Garuda Indonesia telah menunjukkan dukungannya terhadap hubungan bilateral yang kuat antara Indonesia dan Jepang. Dengan dibukanya layanan ini, penumpang diharapkan dapat menikmati lebih banyak pilihan penerbangan dan tujuan ke Jepang dan Indonesia maupun sebaliknya.

Beberapa waktu lalu, Garuda Indonesia juga melakukan kerja sama dengan Japan Airlines (JAL). Kerja sama ini untuk peningkatan konektivitas penerbangan di kawasan Asia Pasifik. Selain itu juga untuk memberikan pilihan lebih banyak bagi pengguna kedua maskapai tersebut khususnya layanan penerbangan dari Indonesia ke Jepang dan Amerika Serikat.

Tambah Trainset, Kemenhub: Dua Pekan Evaluasi LRT Palembang

Light Rail Transit (LRT) Palembang yang sudah beroperasi saat ini tengah menunggu kedatangan satu trainset terakhir yang seharusnya tiba di Palembang pada 26 November 2018 kemarin. Sehingga nantinya akan ada delapan trainset dimana salah satunya akan menjadi cadangan dan beradai di Depo Jakabaring.

Baca juga: Plafon Stasiun Roboh Diterpa Angin Kencang, Kepala Proyek LRT Palembang: “Mampu Menahan Angin 91 km Per Jam”

Bahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, dalam waktu dekat akan ditambahkan satu trainset lagi. Ini dilakukan untuk meningkatkan kecepatan, headway yang lebih pendek, kapasitas penumpang yang lebih banyak dan waktu operasional yang lebih panjang. Kehadiran satu trainset tersebut, Budi meminta Dinas Perhubungan setempat untuk mengatur kembali operasional LRT dengan angkutan pengumpan atau feeder yang sudah ada.

“Saya juga menyampaikan kepada Kadishub untuk melihat feeder-feeder itu secara lebih maksimal dan mengurangi kompetisi angkutan lain yang sejajar dengan LRT. Perlu dilakukan pengaturan bagaimana LRT ini menjadi suatu angkutan jangkar atau utama, yang menghubungkan bandara sampai ke Jakabaring, sedangkan (angkutan umum) yang lain jadi feeder,” yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Tak hanya itu, Budi Karya juga memberikan waktu dua minggu untuk evaluasi perkembangan proyek LRT Palembang. Adanya ini karena Budi Karya mengataan, proyek LRT belum sepenuhnya rampung dan penyempurnaan belum usai sehingga mendapat perhatian khusus dari Kemenhub.

Adapun yang dievaluasi yang dilakukan adalah comisioning LRT dimana memastikan semua sistem dan komponen bangunan sudah dirancang, dipasang, diuji, dioperasikan dan dipelihara sesuai dengan persyaratan operasional.

“LRT dalam skala project angkutan massal, dibutuhkan waktu tertentu yaitu waktu konstruksi dan comisioning. Saat Asian Games memang dipercepat. Kita masih melakukan comisioning dan pekerjaan konstruksi di beberapa tempat,” ujar Budi Karya.

Dia menambahkan, saat ini kecepatan, jarak waktu dan headway LRT belumlah maksimal. Tak hanya itu feeder LRT juga harus berjalan seiring.

Baca juga: Bayar Tiket LRT Palembang, Per 1 Desember 2018 Bisa Gunakan Kartu Uang Elektronik

“LRT ini menjadi angkutan jangkar utama yang menghubungkan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menuju ke kawasan Jakabaring di Seberang Ulu. Harapan kita nanti akan lebih cepat, headway lebih pendek, kapasitas lebih banyak,” tambahnya.

Budi Karya menambahkan, waktu operasi juga lebih panjang dari pukul 05.00 WIB hingga 22.00 WIB dan okupansi semaksimal mungkin sekisar 80 persen hingga 90 persen. Saat ini, LRT Palembang sudah beroperasi. LRT tersebut menjadi yang pertama di Indonesia itu dan sudah menjadi gaya hidup baru masyarakat metropolis.

Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal

Satu bulan berlalu sejak musibah jatuhnya Boeing 737 Max 8 Lion Air PK-LQP dengan nomer penerbangan JT-610 di Perain Teluk Karawang pada 29 Oktober 2018, hari ini (28/11) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menunaikan kewajibannya untuk merilis hasil investigasi awal (Preliminary Report) di kantor pusat KNKT.

Baca juga: Pesawat Canggih Boeing 737 Max 8 Lion Air Jatuh Perairan Tanjung Karawang, Ini Dia Spesifikasinya!

Paparan yang dibuka oleh Wakil Ketua KNKT, Haryo Satmiko, mengatakan laporan awal memuat antara lain data korban, data kerusakan sarana dan prasarana, personil, rekam operasi, komponen bukti investigasi, hasil wawancara, dan data penunjuang lainnya. Sementara pendalaman isi laporan dijelaskan secara lebih detail oleh Kasubdit Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Nurcahyo Utomo.

Fakta-fakta yang disampaikan KNKT menyebut bahwa pesawat memang sudah mengalami masalah saat penerbangan Denpasar-Jakarta, dan berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta, sebelum keesokannya jatuh di perairan Karawang. Dan diantara beberapa hal yang dikupas dalam laporan kepada media, adanya anomali pada sensor Angle of Attack (AoA) menjadi sesuatu yang akan didalami lebih lanjut oleh investigator KNKT.

Nurcahyo Utomo menyebutkan, bahwa sensor AoA saat penerbangan JT-610 mengeluarkan output yang diterima pada instrumen di kopit, yang menandaskan sudut kemiringan pesawat terdongak ke atas 20 derajat, suatu hal yang mengindikasikan potensi terjadinya Stall. Sebaliknya dari analisa Flight Data Recorder (FDR), posisi pesawat justru nampak normal.

Data pada FDR merekam adanya perbedaan antara AoA kiri dan kanan sekitar 20 derajat, yang terjadi terus menerus sampai dengan akhir penerbangan. Sesaat pesawat udara sebelum lepas landas (rotation), stick shaker pada control column sebelah kiri aktif dan terjadi pada hampir seluruh penerbangan. Dan ironisnya, anomali pada AoA telah terjadi sebelumnya pada penerbangan PK-LQP pada rute Denpasar – Cengkareng, yakni pada malam sebelum hari naas. Bahkan pada penerbangan sebelumnya lagi, yaitu dari Manado ke Denpasar, pesawat tersebut diketahui mengalami masalah pada air speed indicator.

Serangkaian perbaikan, telah dilakukan atas permasalahan yang terendus sejak 26 Oktober 2018, termasuk penggantian sensor AoA di Denpasar. Dalam jumpa pers, Nurcahyo mengatakan AoA yang terdapat pada Lion Air JT-610 sebelumnya pernah mendapat perbaikan di Florida, Amerika Serikat. “Kami berencana untuk memperoleh data dan informasi langsung dari Florida, terkait jenis dan hasil dari perbaikan AoA tersebut,” ujar Nurcahyo.

Sebagai informasi, sensor AoA posisinya terdapat pada sisi luar pesawat, persisnya ada di bagian depan samping kokpit. Sensor ini berperan untuk mengkur tingkat kemiringan pesawat dibandingkan dengan horizontal line. Dalam aerodinamika pesawat, tingginya level AoA dapat menyebabkan pesawat kehilangan daya angkat, lantaran adanya turbulensi udara di sekitar sayap utama. Output dari AoA tidak bisa dilihat langsung oleh pilot, melainkan output sensor AoA yang kemudian digunakan sebagai pasokan untuk beberapa menu indikator navigasi di kokpit.

Baca juga: Saat Boarding, Penumpang Lion Air JT-610 Kirim Video ke Grup WhatsApp Keluarga

Sejak diterima oleh Lion Air, dalam tiga bulan pengoperasian, Boeing 737 Max 8 PK-LQP telah melayani 385 penerbangan. Dari hasil investigas awal KNKT, pada enam penerbangan terakhir, pada dua penerbangan tidak ditemukan terjadinya masalah, selebihnya pada empat penerbangan terakhir terindikasi adanya beberapa masalah yang dapat diselesaikan.
Lebih lanjut, pihak KNKT akan terus melakukan investigasi dan wawancara pada pihak-pihak yang terkait. Dan yang pasti, KNKT tengah berjuang untuk mendapatkan black box VDR (Voice Data Recorder) yang merekam pembicaraan terakhir awak kabin dan komunikasi dengan pihak ATC (Air Traffic Control).

Berbalut Kostum Power Ranger, Baim Wong Kejutkan Penumpang LRT Palembang

Salah satu arti kenamaan Ibukota, Baim Wong membuat heboh warga Palembang beberapa waktu yang lalu. Pasalnya, pria kelahiran Jakarta, 27 April 1981 ini hadir di tengah-tengah penumpang moda transportasi anyar di Kota Pempek, Light Rapid Transit (LRT). Terlebih, ketika kehadiran pria yang acap kali muncul di sejumlah sinetron ini awalnya mengenakan kostum yang tidak biasa – kostum Power Ranger, lengkap dengan topengnya.

Baca Juga: Setelah 175 Tahun, Ratu Inggris Kembali Menumpangi Kereta Api

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah akun Youtube BaimPaula, Baim Wong langsung mengenakan kostum Power Ranger berwarna hitam ketika turun dari mobil dan menuju ke loket penjualan tiket. Sontak, gaya unik Baim ini mengundang perhatian banyak orang.

“Harga tiketnya Rp5.000 per orang,” ujar Baim saat membeli tiket.

Kendati sudah mengenakan kostum Power Ranger, lengkap dengan topengnya, namun masih saja ada sebagian orang yang mengetahui bahwa orang yang berada di balik kostum superhero tersebut adalah Baim Wong – mungkin mereka mengetahui dari suaranya, karena sepanjang video tersebut, Baim Wong tidak berhenti berbicara. Bahkan seorang petugas LRT pun mengetahui bahwa itu adalah Baim Wong karena ada Paula Verhoeven yang notabene adalah istrinya.

Tidak hanya menjajal moda transportasi yang menunjang perhelatan Asian Games 2018 kemarin, Baim Wong pun ‘menginspeksi’ infrastruktur stasiun, mulai dari toilet hingga Musholla. Ada banyak hal menggelitik yang dilakukan oleh Baim Wong ketika menunggu kereta LRT datang.

Setibanya kereta, Baim Wong yang masih mengenakan topeng lalu masuk ke dalam rangkaian dan mulai menyapa beberapa penumpang. Lagi, kostum yang dikenakannya ini menarik perhatian penumpang – tidak terkecuali anak kecil.

Ia juga tidak lupa menanyakan pendapat penumpang tentang eksistensi dari moda yang ditujukan untuk meminimalisir kemacetan di Palembang ini. Sampai pada satu titik, Baim Wong lalu melepaskan topeng yang ia kenakan dan penumpang di satu gerbong tersebut menjadi histeris.

Baca Juga: Mantan Presiden Ini Salami Penumpang Delta, Ada Apa?

Begitulah aksi Baim Wong ketika mencoba menjajal LRT Palembang, dengan bumbu-bumbu kejenakaan khasnya.

Inti dari keseluruhan inspeksi dadakan Baim Wong tersebut adalah moda LRT Palembang memiliki kualitas moda dan infrastruktur yang sangat memadai dan kini, saatnya untuk beralih menggunakan moda transportasi berbasis massal untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara!

 

 

Visi 2025, Belanda Harapkan Kehadiran Kereta dengan Interior Gerbong yang Bisa Dikustom

Menikmati perjalanan dengan kereta api, adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Selain terhindar macet, pemandangan yang disajikan kereta api pun beragam dan menyejukkan hati. Namun pernah membayangkan saat berada di dalam kereta api dan per gerbongnya memiliki zona khusus sesuai keinginan penumpang?

Baca juga: Amsterdam Centraal, Stasiun Tersibuk Kedua di Belanda

Mungkin ini ada di angan-angan penumpang dan belum akan terealisasikan dalam waktu dekat. Selain agak mustahil, bila pun terealisasikan di dunia nyata, tarifnya pun tidak akan sama dengan biasanya. Bahkan di Indonesia pun belum tahu kapan akan ada yang seperti ini. KabarPenumpang.com melansir dari laman curbed.com (16/11/2018), memang seperti tidak mungkin, tetapi baru-baru ini, Perusahaan Kereta Api Nasional Belanda memamerkan visi terbarunya untuk kereta api.

Ilustrasi kursi dalam kereta (Curbed)

Nantinya visi kereta baru ini akan hadir tahun 2025 mendatang. Perusahaan Kereta Api Nasional Belanda merealisasikan ini dengan bekerjasama bersama Mecanoo yang merupakan perusahaan arsitek dan Gispen sebuah perusahaan furnitur di Belanda. Keduanya berkolaborasi untuk menghadirkan hal baru dari visi Perusahaan Kereta Api Belanda tersebut.

Untuk itu, Mecanoo dan Gispen melakukan penelitian terhadap aktivitas para penumpang kereta api dan memutuskan ada enam zona aktivitas yang disukai penumpang. Sehingga keduanya merancang 12 modul furnitur berbeda dan mengusulkan konfigurasi kereta yang memfasilitasi masing-masing zona tersebut.

Keduanya menciptakan ruang dalam kereta agar penumpang bisa merasakan kenyamanan saat duduk, kustom pun disesuaikan dengan aktivitas mereka, ukuran kelompok, kebutuhan dan lamanya waktu perjalanan. Seperti dua kursi klasik, kursi berbentuk U yang mengelilingi meja lipat, kursi tunggal dengan meja dan lainnya.

Baca juga: Gubeng, Angkut Hasil Bumi Hingga Serdadu Belanda, Inilah Stasiun Kebanggaan Arek Suroboyo!

Tata letaknya yang berbeda dari interior kereta membuatnya akan lebih nayam dan ramah bagi semua penumpang yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Setiap bahan dapat digunakan kembali dan kompartemen modul dapat diongkar serta dikonfigurasikan dengan mudah. Sedangkan desain saat ini masih dalam konseptual kedua perusahaan, tetapi proyek ini diusahakan bisa menjadi nyata untuk membagikan pengalaman yang nyaman, menyenangkan dan efisien.

Serba-Serbi Cathay Dragon, Mantan Pesaing Cathay Pacific yang Kini Jadi Anak Perusahaan

Kendati namanya tidaklah sebesar Emirates, Qatar Airways, atau bahkan Etihad, namun Flag Carrier Hong Kong, Cathay Pacific memiliki skema pengelolaan sektor udara yang hampir mirip seperti Indonesia. Jika Tanah Air memiliki Garuda Indonesia sebagai induk perusahaan dan Citilink sebagai anak perusahaan yang menjajaki dunia Low Cost Carrier, maka Cathay Pacific pun punya Cathay Dragon yang menjadi anak perusahaan dari maskapai berslogan “Life Well Traveled” ini.

Baca Juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Cathay Dragon yang semula bernama Dragonair ini berdiri pada 24 Mei 1985 dan memulai pengoperasian perdananya dua bulan berselang. Pada awal mulanya, maskapai ini berdiri atas inisiasi dari Kuang-Piu Chao, seorang pebisnis asal Shanghai sebagai anak perusahaan dari Hong Kong Macau International Investment Co. Diketahui pula bahwa Dragonair merupakan perusahaan maskapai Cina pertama di Hong Kong.

Di awal pengoperasiannya, Dragonair menggunakan menggunakan armada Boeing 737-200 dan terbang dari Kai Tak International Airport menuju Kota Kinabalu International Airport di Malaysia, tepat setelah pihak maskapai menerima Air Operator’s Certificate (AOC) dari Pemerintah Hong Kong.

Dua tahun setelah penerbangan perdananya, nama Dragonair tercatat sebagai maskapai berbasis di Hong Kong pertama yang tergabung sebagai member aktif di International Air Transport Association (IATA). Maskapai ini juga tercatat sebagai kompetitor lokal utama dari Cathay Pacific yang berdiri pada 24 September 1946.

Persaingan yang terjadi antara Dragonair dan Cathay Pacific terjadi begitu ketat – sampai-sampai pihak Cathay Pacific berjuang keras untuk memblokir aplikasi slot penerbangan dari Dragonair. Persaingan ini lalu berbuntut di hadapan Otoritas Perizinan Transportasi Udara Hong Kong, dimana kala itu, Pemerintah Hong Kong mengadopsi kebijakan “satu rute, satu maskapai”. Kebijakan ini sendiri berlangsung hingga tahun 2001 silam.

Melihat situasi yang sudah mulai tidak kondusif untuk perusahaan dan tidak bisa lagi bersaing dengan Cathay Pacific, Stephen Miller yang kala itu menjadi CEO dari Dragonair mengatakan, “kami mendapat banyak tentangan dari Cathay,”

Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika

Singkat cerita, Dragonair yang mulai terseok-seok menghadapi raksasa Cathay Pacific lalu diakuisisi oleh tiga perusahaan sekaligus – Cathay Pacific, Swire Group dan CITIC Pacific pada Januari 1990. Hingga pada 28 September 2006, Dragonair sudah sepenuhnya menjadi anak perusahaan dari Cathay Pacific.

Baru pada Januari 2016 kemarin, Cathay Pacific mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menggunakan nama Dragonair, melainkan Cathay Dragon dan nama ini mulai aktif di dunia aviasi global tertanggal 21 November 2016.

 

Tidak Lagi Pakai Red Arrow, Seibu Railway Siap Pamerkan Armada Terbarunya Pada Maret 2019

Salah satu operator kereta asal Negeri Sakura, Seibu Railway Co. akan mulai mengoperasikan layanan baru yang menghubungkan Seibu Ikebukuro dan Seibu Chichibu Line pada bulan Maret 2019 mendatang. Uniknya, perusahaan sempat kebingungan dengan penamaan dari layanan kereta ekspress ini – setelah melewati penjajakan yang cukup panjang, akhirnya mereka setuju untuk menamai armada mereka dengan nama “Laview”.

Baca Juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asahi.com (26/11/2018), Direktur Seibu Railway Co., Hisashi Wakabayashi mengatakan bahwa penggantian nama dari “Red Arrow” menjadi “Laview” akan memberikan warna baru bagi perusahaan tersebut. “Kami berharap semua orang akan menyukainya, Laview akan menjadi andalan baru bagi penumpang,” papar Hisashi. Memang, warga Jepang lebih akrab dengan nama Red Arrow ketimbang Laview, pasalnya nama ini telah digunakan selama kurang lebih setengah abad lamanya.

Pada awalnya, Seibu Railway Co. sendiri menginginkan sebuah konsep kereta yang cocok dengan lembut dan indahnya pemandangan yang disajikan pada rute Seibu Ikebukuro dan Seibu Chichibu Line tersebut. Dengan hadirnya Laview, ini menandakan peningkatan kualitas yang masif di tubuh perusahaan selama kurun waktu 25 tahun terakhir.

Armada Seibu Railway lama. Sumber: Wikipedia

 

Berbeda dengan kebanyakan bentuk kereta biasa, Laview memiliki bentuk body yang lebih bundar dengan balutan cat warna perak. Ukuran jendela dari Laview juga terbilang cukup besar – tinggi 1,35m dan lebar 1,58m – yang membentang dari kursi hingga kompartemen atas penumpang. Salah satu ciri khas dari pendahulunya, yaitu garis merah yang membentang sepanjang body kereta dihilangkan oleh pihak desainer.

Sebanyak tujuh layanan kereta ekspres sekarang beroperasi di Seibu Ikebukuro dan Seibu Chichibu Line akan digantikan oleh “Laview” pada akhir tahun fiskal 2019.

Baca Juga: Demi Kereta Cepat “Aero Train,” Cina dan Jepang Resmi Berkolaborasi

Sebelumnya, kereta ekspres pertama yang digunakan oleh Seibu Railway Co. adalah seri 5000, dimana debut perdananya bertepatan dengan pembukaan Seibu Chichibu Line pada tahun 1969. Lalu pada tahun 1993, perusahaan mulai memperkenalkan armada seri 10.000 yang juga sama seperti seri 5000 – memiliki garis merah atau Red Arrow pada bagian sisi bodynya.

Hindari Kecurangan di Bagasi Kabin, Qantas Lakukan Audit Penumpang

Penumpang pesawat kerap kali malas atau menghindari barang bawaan mereka masuk ke dalam kargo. Hal ini kemudian membuat penumpang memasukkan barang mereka ke kabin dan melebihi kapasitas yang seharusnya. Baru-baru ini, Qantas mulai menekan pelancong yang mencoba melanggar aturan bagasi bawaan mereka.

Baca juga: Tak Mau Keluarkan Biaya Ekstra Karena Kelebihan Bagasi? Yuk Disimak Tipsnya!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (26/11/2018), bahwa Qantas saat ini membuat aturan dimana pelancong hanya bisa membawa dua tas ke dalam kabin pesawat dengan berat tujuh kilogram baik penerbangan domestik ataupun internasional. Namun, di era digital ini, pelancong banyak yang mengambil keuntungan dengan melakukan check in online dan menghindari konter agar barang tak di timbang.

Adanya tindakan curang ini, membuat Qantas membuat fokus baru pada bobot bawaan penumpang. Juru bicara Qantas mengatakan, mereka telah meningkatkan aturan batas barang bawaan penumpang sebagai bagian dari audit mereka selama beberapa bulan terakhir. Hal tersebut dimaksudkan agar penerbangan lebih adil bagi semua penumpang. Ini juga agar penerbangan dapat berangkat tepat waktu.

“Kami mendapat umpan balik dari selebaran reguler yang mengatakan bahwa semua pelanggan perlu diingatkan tentang berapa banyak bagasi yang dapat mereka bawa. Jadi kami memperbarui fokus kami untuk menjaga bagasi kabin di dalam tunjangan dan memastikan semua orang memiliki bagian ruang yang adil.’ Juga akan ada risiko keamanan yang lebih sedikit dari loker overhead yang berlebih,” ujar juru bicara Qantas.

Baca juga: Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin

Virgin Australia mengatakan mereka memperingatkan pelanggan tentang pentingnya membawa barang bawaan bawaan sebelum penerbangan mereka. Sementara itu Jetstar, telah memperkenalkan kebijakan baru tahun ini yang memungkinkan penumpang untuk membeli 3kg tambahan bagasi bawaan.

Fokus untuk menjaga penumpang bagasi di bawah batas berat datang ketika maskapai penerbangan Australia memangkas berat pesawat mereka karena tingginya biaya bahan bakar Qantas dan Virgin baru-baru ini mengganti rem baja pada armada mereka dari Boeing 737, menghemat sekitar 300 kg. Qantas juga telah memindahkan 440 kg lebih lanjut dari masing-masing pesawatnya dengan mengganti unit penyimpanan kargo tradisional dengan unit ringan yang terbuat dari material komposit.

Bus di Amerika Serikat Sepi Peminat, Beberapa Kota Berbenah

Banyak sekali negara-negara yang saat ini tengah mengalami penurunan terhadap penumpang busnya. Salah satunya adalah Amerika, dimana bus dianggap transportasi yang tidak efisien dibandingkan yang lainnya. Beberapa kota di Amerika Serikat kini tengah berusaha mengubah bus kembali layak dan diminati penumpang.

Baca juga: Terkait Aspek Keamanan, Bus Tingkat Lebih Cocok di Jalanan Dalam Kota

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman vox.com, bagi orang-orang yang tidak suka naik bus, mereka akan mengatakan panas, lambat dan memperlambat perjalanan karena terkena kemacetan lalu lintas. Bahkan bila dihitung secara statistik sebuah bus padat berisi 40 orang penumpang lima diantaranya adalah pencopet ataupun perampok. Beberapa orang pengguna bus, bahkan seperti diasingkan, padahal bus salah satu moda transportasi mudah digunakan hingga tempat kerja mereka.

Laporan American Transit Association, 68 persen pengendara bus tidak memiliki kendaraan dan ini 50 persennya adalah pengguna kereta api. Permintaan bus pun turun karena adanya skuter dan sepeda elektronik yang mengantarkan penumpang ketujuan mereka. Masalahnya saat ini menjalankan bus setiap 30 menit di jalur yang sama adalah kegagalan. Sebab di kota besar, kekhawatiran tentang kecepatan perjalanan dan waktu tunggu yang lama karena kemacetan lalu lintas menjadi salah satu kurangnya minat penumpang kepada penggunaan bus.

Amos Haggiag tengah memperbaiki masalah tersebut dengan perusahaannya yakni Optibus yang merupakan penyedia perangkat lunak yang membantu kota mengoptimalkan sistem transit publik mereka. Haggiag sendiri bersama Optibus sudah bekerja dengan kota-kota Las Vegas dan Austin untuk meningkatkan transit bus mereka dan mengatakan infrastruktur bus Amerika yang menurun berkaitan dengan banyaknya mobil pribadi.

“Di Amerika Serikat, angkutan umum sering dilihat hanya menguntungkan penduduk berpenghasilan rendah, kelompok yang sering diabaikan oleh lembaga pemerintah. Terkadang Anda akan melihat lebih banyak anggaran masuk ke kereta karena itu adalah alasan yang menyedihkan, tetapi kebanyakan karena penduduk berpenghasilan tinggi menggunakan bentuk mobilitas itu, yang merupakan sesuatu yang sangat spesifik untuk AS,” kata Haggiag.

Masalah lainnya adalah bahwa sistem bus di AS tidak berjalan dengan benar terutama di pinggiran kota besar sehingga membiarkan pengguna mobil menggunakan kendaraan pribadi mereka. Haggiag juga mencatat, jalanan Amerika tidak sebaik di negara lain. Beberapa kota berusaha memperbaiki sistem bus mereka dengan memperhatikan cakupan, frekuensi, titik harga, dan suasana menuju bus itu sendiri.

Di Bronx, MTA menyelenggarakan forum-forum publik untuk menanyakan kepada para pengendara apa yang mereka butuhkan dari sistem bus mereka, karena para penumpang telah jatuh selama bertahun-tahun. Pada pertemuan tersebut, pengendara berdebat apakah mereka lebih suka memiliki frekuensi atau cakupan lebih, membahas pentingnya fasilitas bus seperti informasi real-time, dan berbicara tentang seperti apa pengalaman bus baru-baru ini.

Proses ini pertama kali dilakukan di Staten Island, di mana MTA menerapkan enam jam sibuk baru berdasarkan umpan balik pelanggan. Pada tahun 2015, Houston mendesain ulang sistem busnya dengan menyingkirkan rute yang digunakan secara ringan dan membuat jalur bus lebih lurus dan lebih mudah diingat. Dengan menghilangkan pemberhentian, mereka dapat mengirim bus lebih sering ke daerah padat penduduk, melayani sekitar satu juta warga Houston. Sekarang penumpang tidak perlu menunggu lebih dari 15 menit untuk naik bus.

Washington, DC, juga menangani kekurangan infrastruktur bus dengan mengalokasikan US$2,2 juta untuk Proyek Transformasi Bus, sebuah komite yang akan meminta pengendara di wilayah tersebut, peran apa yang mereka pikir bus harus mainkan di DC, kemudian datang dengan langkah-langkah konkret untuk menyediakan layanan yang lebih baik dalam 10 tahun ke depan.

Seattle adalah salah satu kota yang tidak jatuh pada 17 persen penurunan penumpang bus selama dua dekade terakhir. Baru tahun ini, kota ini mengumumkan bahwa sistem transitnya tumbuh lebih cepat daripada yang lain di negara ini. Sebanyak 191,7 juta penumpang yang diambil pada tahun 2017 adalah yang tertinggi yang pernah ada di wilayah itu.

Kota ini melakukan hal ini dengan melakukan beberapa hal yakni membuat transfer dari kereta ringan menjadi bus lebih mudah, menerapkan jalur bus, mengoptimalkan rute sehingga mereka pergi ke tempat-tempat yang paling padat, dan menerapkan lompatan antrean yang memungkinkan bus untuk memulai sebelum mobil lain di lampu lalu lintas.

“Biaya untuk banyak proyek-proyek ini cukup murah. Ketika kami masuk ke jalur khusus bus, kami memasukkan beberapa cat dan beberapa tanda, yang bisa berharga serendah US$10 ribu hingga US$20 ribu,” kata insinyur lalu lintas kota Seattle Dongho Chang.

Sebagian besar upaya fokus pada analisis area dan lokasi dengan volume tinggi dengan penundaan yang signifikan dan mencoba memecahkan masalah mereka. Peningkatan jumlah penumpang mungkin juga berkaitan dengan kemampuan naik bus, yang telah dicapai Seattle dengan memberikan diskon kepada manula dan pengendara berpenghasilan rendah dan membiarkan siswa sekolah menengah naik secara gratis.

Baca juga: Incar Efisiensi Daya Angkut dan Ramah Lingkungan, Los Angeles Adopsi Bus Tingkat Bertenaga Listrik

Chang mengatakan bahwa itu adalah kunci untuk tidak hanya berinvestasi di rute bus tetapi juga untuk memusatkan pekerjaan dan perumahan di daerah perkotaan. Saat ini, 97 persen penduduk tinggal di seperempat mil dari halte bus dan pusat kota Seattle memiliki 262.000 pekerjaan.

“Saya pikir apa yang kami terapkan di Seattle sangat dapat diterjemahkan ke kota-kota kecil dan kota-kota besar lainnya. Ini benar-benar tentang perencanaan komunitas Anda sehingga pertumbuhan dan perkembangan dapat diprediksi dan moda transportasi memiliki kemampuan untuk melayani pertumbuhan saat terjadi,” kata Chang.

Kehadiran Skybridge Bakal Ubah Tata Letak Pintu Stasiun Tanah Abang

Pembangunan jembatan penyeberangan multi guna (JPM) atau skybrige oleh Pemprov DKI akan berdampak pada perubahan tata letak ruangan di Stasiun Tanah Abang. Simulasi skybrige sendiri akan berlangsung dari tanggal 23 hingga 30 November 2018.

Baca juga: TransJakarta Explorer, Gratis Untuk Penumpang Stasiun Tanah Abang

Kepala Humas Daerah Operasional (Daop) I Jakarta Edy Kuswoyo mengatakan akan adanya simulasi yang dilakukan PT KAI dan KCI untuk mengetahui waktu kepadatan arus penumpang Stasiun Tanah Abang. Dia mengatakan akan melihat arus penumpang dari hari ke hari seperti apa kepadatan di lantai atas baru dibuat pemetaan.

“Pemetaannya sendiri saat ini masih progres, karena hal tersebut berkaitan dengan keselamatan, pelayanan, kenyamanan, keamanan dan ketertiban penumpang di stasiun,” ujar Edy saat dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (27/11/2018).

Dia mengatakan pemetaan ini sendiri berkaitan dengan pergeseran gate (pintu) dan hasil evaluasi dari simulasi tersebut akan dijadikan pertimbangan perubahan tata ruang Stasiun Tanah Abang. Kepala Daop I, Dadan Rudiansyah menambahkan, PT KAI sendiri berencana memindahkan gate keluar masuk penumpang yang berada di lantai 2 Stasiun Tanah Abang sehingga posisinya akan lebih dekat dengan skybridge.

Sehingga skybridge ini akan terkoneksi langsung dengan stasiun. Namun, pihaknya khawatir bila pintu tidak dipindah, maka ruang kosong antara skybridge dengan stasiun akan penuh dengan masyarakat maupun pedagang.

Dadan mengatakan, terkait hal ini, pihaknya masih mengkaji pemindahan gate itu, sebab jika gate dipindah akan ada pengurangan dan dikhawatirkan mengganggu arus penumpang di stasiun. Edy menambahkan saat ini ada 13 gate dan jika dipindah akan berkurang menjadi tujuh karena lebar ruang kosong di dekat skybridge lebih sempit.

Baca juga: Stasiun Palmerah, Dulu Bernama Paal Merah yang Berarti Patok Merah

Dengan adanya pemetaan ini sendiri, Dadan mengatakan, PT KAI berencana membongkar sejumlah ruangan sehingga ada ruang yang lebih lebar untuk pemasangan pintu.

“Kami akan membuka (bongkar ruangan), kami minta waktu mengevaluasi itu, ada ruangan VIP dan kepala stasiun, mungkin akan kita buka,” kata Dadan.

Tak hanya gate, loket penjualan tiket pun akan berpindah letaknya di depan gate.