Dibalik Keanggunan, Ternyata 15 Pramugari Emirates Tergabung ke Dalam Tim Rugby

Tentu Anda semua sudah mengenal maskapai asal Timur Tengah yang hanya mengoperasikan dua jenis armada saja – Airbus A380 dan Boeing 777. Sebagai maskapai kelas 1, Emirates tidak hanya menjamin keselamatan penumpang, pun dengan kenyamanannya dan pelayanan yang diberikan oleh awak kabinnya. Di balik anggunnya awak kabin Emirates ini, tahukah Anda bahwa beberapa dari mereka tergabung di dalam sebuah klub olahraga rugby? Mungkin sebagian dari Anda akan langsung mengernyitkan dahi, namun memang seperti itulah faktanya!

Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sebanyak 15 pramugari Emirates terpilih yang tergabung didalam klub berlabel EK Firebirds ini siap memperebutkan titel juara dalam perhelatan Emirates Airline Dubai Rugby Sevens yang diadakan pada awal Desember mendatang. Untuk diketahui, tim EK Firebirds ini telah menghabiskan waktu selama enam bulan ke belakang untuk berlatih dan mempersiapkan mental mereka.

Adapun ke-15 awak kabin Emirates tersebut berasal dari berbagai negara yang berbeda – mulai dari Inggris, Afrika Selatan, Selandia Baru, Filipina, Republik Ceko, hingga Namibia. Entah bagaimana caranya, para awak kabin ini me-manage waktu terbang mereka dengan jadwal latihan yang digelar di Stadion Sevens di Zabeel Park, Dubai.

Jika dilihat dari sejarahnya, tim EK Firebirds sendiri terbentuk pada tahun 2012 silam dan hanya beranggotakan empat orang awak kabin saja. Namun seiring berjalannya waktu, tim EK Firebirds berkembang menjadi sebuah tim rugby utuh dan mulai unjuk di sejumlah kompetisi. Menjelang perhelatan Emirates Airline Dubai Rugby Sevens tersebut, tim EK Firebirds bertemu dengan tim Rugby wanita asal Amerika, Eagles dalam sesi latihan pada Selasa (27/11/2018).

Baca Juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Diketahui, ajang Emirates Airline Dubai Rugby Sevens ini merupakan yang ke-49 kali digelar. Digadang-gadang, ajang yang dimulai pada Jumat (30/11/2018) ini bakaljadi yang paling besar dan meriah ketimbang ajang-ajang yang sama sebelumnya. Rencananya, tim yang berisikan awak kabin Emirates ini akan mengusung slogan “Come Fly with Me” sebagai ajang kampanye untuk menarik pasar – khususnya anak muda.

 

Ekinaka, Booth Working Space untuk Pekerja Mobile di Stasiun Kereta Jepang

Ruang kerja atau working space di pra sarana transportasi rasanya sudah jamak, namun yang jadi tantangan bukan soal kualitas koneksi internet, melainkan kenyamanan yang acap kali dipertanyakan, khususnya suara bising imbas aktivitas yang tinggi di lokasi tempat bertemunya banyak orang seperti di bandara dan stasiun kereta.

Baca juga: Merasakan Nostalgia Satu Abad Lalu di Stasiun Mojiko Jepang

Berangkat dari kondisi di atas, beberapa stasiun di Jepang menggelar fasilitas booth working space yang cukup unik. Booth khusus ini diberi label Ekinaka, dan dapat ditemui di area komersial stasiun. Booth Ekinaka berbentuk seperti bilik telepon, persisnya baru dipasang pada Rabu lalu (28/11) di Stasiun JR Shinagawa yang dioperasikan perusahaan kereta East Japan Railway Co. (JR East) dalam status uji coba.

Di dalam setiap booth tersebut sudah dilengkapi meja kerja, sofa, stop kontak, koneksi WiFi, dan karena sedang cuaca dingin, di dalam booth dilengkapi dengan pemanas ruangan. Dan yang paling penting, booth ini dirancang kedap suara, jadi pengguna mobile office dapat menikmati suasa tenang meski di tengah hiruk pikuk stasiun.

Ekinaka dapat dipesan lewat web, dan untuk tahap uji coba, waktu yang disediakan untuk menggunakan working space ini adalah 30 menit. Seperti diketahui, daerah di sekitar Stasiun JR Shinagawa termasuk distrik yang padat. Kebanyakan di area tersebut, orang-orang bekerja di luar ruangan, termasuk duduk di bangku kafe.

Dikutip KabarPenumpang.com dari the-japan-news.com (30/11), Yuto Katsubayashi, 23 tahun, karyawan perusahaan konsultan menyebutkan, bahwa dirinya merasa nyaman menggunakan Ekinaka. “Saya dapat bekerja fokus tanpa harus menarik perhatian, dan ini sangat efektif sembari menunggu jadwak keberangkatan kereta,” ujar Yuto.

JR East kini telah mendirikan empat booth masing-masing di stasiun Tokyo dan Shinjuku. Pengguna dapat mengguakan fasilitas ini bebas biaya selama periode percobaan. Sampai saat ini, sekitar 3.000 orang telah mendaftar untuk menjajal Ekinaka.

Juru bicara JR East mengatakan, “Tidak perlu kembali ke kantor jika ingin menggunakan booth kerja ini setelah kembali dari perjalanan bisnis. Kami ingin mendukung cara kerja yang lebih fleksibel.” Kedepannya, JR East akan memperkenalkan booth serupa tapi dalam format kerja kelompok (grup).

Baca juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang

Juga masih dalam masa uji coba, Tokyo Metro Co. telah mulai memasang booth sejenis pada bulan Juni di stasiun Tameike-Sanno, Kasai dan Kita-Senju – tempat-tempat yang diketahui memiliki banyak pekerja kantoran.

Direktorat Penerbangan India, Longgarkan Standar BMI untuk Awak Kabin Wanita

Sebagai seorang awak kabin baik wanita atau pria memiliki kriteria khusus, selain pintar, mempesona dan tubuh yang proporsional. Biasanya untuk mengukur proporsional tubuh seseorang menggunakan, Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh, sehingga bisa diketahui apakah orang itu memiliki proposional tubuh yang pas, kurang atau obesitas alias kelebihan berat badan.

Baca juga: Mau Jadi Awak Kabin? Standar Tinggi Badan Masih Jadi Syarat Utama!

KabarPenumpang.com melansir dari laman economictimes.indiatimes.com (29/11/2018), regulator penerbangan Directorate General of Civil Aviation (DGCA) India berencana untuk melonggarkan norma-norma kebugaran tubuh yang ketat untuk awak kabin wanita. Hal ini untuk memastikan peraturan yang sama terhadap seragam yang akan digunakan nantinya.

Seorang pejabat DGCA mengatakan, regulator ingin tidak ada persyaratan yang berbeda antara awak kabin pria maupun wanita. Sebab selama ini dia mengatakan, untuk awak kabin wanita persyaratan BMI lebih ketat dibandingkan pria.

Hal ini juga dilakukan DGCA untuk memastikan paritas gender atau kesetaraan gender dan perubahan telah disusun serta diusulkan untuk Persyaratan Penerbangan Sipil atau Civil Aviation Requirement (CAR) yang terkait dengan kebugaran medis awak kabin. Menurut peraturan yang dikeluarkan DGCA pada tahun 2014 lalu, BMI normal untuk awak kabin pria adalah 18-25 sedangkan untuk wanita 18-22.

Ini terlihat sangat jauh dan untuk BMI 25-29,9 untuk awak kabin pria kelebihan berat badan dan 30 ke atas adalah obesitas. Sedangkan untuk wanita BMI 22-27 kelebihan berat badan dan 27 ke atas adalah obesitas sesuai aturannya.

Baca juga: Tipping Layakkah Diberikan Pada Awak Kabin?

BMI dianggap metode yang lebih baik untuk menentukan apakah seseorang kelebihan berat badan atau obesitas. Sesuai regulator, BMI adalah indikator yang andal dari pengukuran lemak tubuh dengan cara berat badan dibagi (tinggi (meter)x 2) dan hasilnya adalah BMI.

Meski begitu, BMI tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi menghubungkannya dengan pengukuran langsung lemak tubuh. Di masa lalu, ada beberapa perusahaan penerbangan tertentu yang memutuskan untuk merumahkan beberapa awak kabin mereka karena kegemukan atau kelebihan berat badan.

Korean Air, Setiap Hari Layani Penerbangan Langsung Cengkareng-Incheon

Terkenal sebagai negara dengan industri K-Popnya, Korea memiliki daya tarik tersendiri baik bagi para pecinta artis oplasan atau hanya sekedar traveler biasa saja. Tidak hanya sekedar industri K-Pop atau destinasi wisatanya saja yang menarik untuk dibahas, pun dengan flag carrier negara berjuluk Negeri Ginseng ini. Ya, Korean Air!

Baca Juga: Ternyata, Boeing dan United Airlines Dulu Adalah Satu Perusahaan, Lho!

Maskapai yang didirikan pada tahun 1962 ini menyandang predikat sebagai maskapai terbesar di Korea Selatan berdasarkan pada jumlah armadanya. Pada mulanya, maskapai ini merupakan kepemilikan Pemerintah dan masih menggunakan nama Korean National Airlines pada tahun 1948. Namun pada tahun 1962, perusahaan Hanjin Group mengambil alih kuasa dan mengganti namanya menjadi Korean Air.

Hanya membutuhkan waktu sekira 3 tahun bagi Korean Air untuk langsung melakukan penerbangan internasionalnya. Tepat pada tanggal 26 April 1971, Korean Air melakukan penerbangan kargo perdananya. Setahun berselang, tepatnya pada 19 April 1972, Korean Air melakukan penerbangan internasional penumpang perdananya dari Seoul menuju Los Angeles.

Maskapai yang mengusung jargon “Excellence in Flight” ini juga pernah menyabet predikat sebagai Asia’s Best Airlines versi Business Traveler pada tahun 2012 silam, mengalahkan nama-nama maskapai besar lain yang tersebar di seluruh daratan Asia.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman bms.co.in, Korean Air merupakan salah satu pendiri dari aliansi penerbangan Sky Team, dimana di dalamnya tergabung sejumlah maskapai ternama, seperti Garuda Indonesia, Delta Airlines, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, hingga Saudia.

Hingga saat ini, Korean Air melayani penerbangan menuju 129 destinasi yang tersebar di seluruh dunia – salah satunya adalah Jakarta. Ya, Bandara Internasioal Soekarno Hatta menjadi penghubung antara Indonesia dengan Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan. Korean Air melakukan penerbangan terjadwal setiap hari dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional Incheon. Waktu tempuh penerbangan langsung Cengkareng-Incheon adalah 7 jam.

Baca Juga: Serba-Serbi Soal Virgin Atlantic, Merek Dagang Milik Sir Richard Branson yang Mendunia!

Layaknya Garuda Indonesia dengan Citilink, Korean Air pun punya maskapai Low Cost Carrier tersendiri yang bernama Jin Air. Sama seperti induk perusahaannya, Jin Air pun tergabung di aliansi penerbangan Sky Team.

 

Sokong Sektor Pariwisata, Cina Siap Hadirkan Kereta Peluru dengan Terowongan Bawah Laut

Kendati menghadapi sejumlah masalah, ambisi Cina untuk menyaingi Jepang dalam urusan kereta cepat sama sekali tidak mengalami perlambatan, bahkan, baru-baru ini, pihak Beijing baru saja ‘menyalakan’ proyek kereta peluru bawah laut pertama yang akan dimiliki oleh Cina. Adapun kereta peluru ini akan menghubungkan Ningbo, sebuah kota pelabuhan di sebelat Selatan Shanghai, ke Zhoushan, sebuah kepulauan di lepas pantai Timur.

Baca Juga: Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman wtvr.com (28/11/2018), sebuah terowongan bawah laut menjadi bagian dari proyek kereta peluru ini – dengan panjang kurang lebih 16,2 km. Adapun tujuan utama dari pembangunan proyek ambisius ini adalah untuk meningkatkan sektor pariwisata dan membuat zona dua jam perjalanan di antara Provinsi Zhejiang. Adapun jarak total dari jalur kereta cepat ini adalah 77 km.

Pertama kali rencana ini diutarakan dalam rencana transportasi pemerintah pada tahun 2005 silam, dan studi kelayakan rencana Kereta Api Ningbo – Zhoushan disetujui oleh Beijing pada bulan November 2018 kemarin. Dari total panjang lintasan 77 km, sepanjang 70,92 km merupakan jalur baru. Kelak ketika rampung, kereta ini mampu melesat dengan kecepatan maksimum 250 km per jam. Dengan begitu, estimasi perjalanan dari Hangzhou – Ningbo – Zhoushan hanya 80 menit saja.

Tercatat, perjalanan dengan menggunakan bus dari Hangzhou menuju Zhoushan bisa mencapai 4,5 jam dan 2,5 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi. Direncanakan akan ada tujuh stasiun untuk rute ini, termasuk empat stasiun baru dan tiga stasiun yang dikembangkan kembali. Selain terowongan bawah laut, akan ada juga jembatan-jembatan yang menghubungkan kepulauan tersebut.

Baca Juga: Gegara Semprotan Tabir Surya, Kereta Cepat Cina Harus Berhenti Mendadak

Menurut laman sumber, proyek ini sendiri menelan dana sekira USD$3,6 miliar atau yang setara dengan Rp51,4 triliun dan dijadwalkan akan mulai pengerjaan pada awal tahun 2019 mendatang. Estimasi pengerjaan proyek ini mencapai lima tahun. Kepulauan Zhoushan sendiri masih belum banyak terjamah oleh wisatawan asing, maka tidak heran jika Pemerintah Cina dan seluruh pemangku kepentingan terkait ingin lebih mengembangkan kepulauan yang baru saja mendapatkan predikat sebagai National Scenic Asia di Cina.

 

Edi Sukmoro: PT KAI Tetapkan Masa Angkutan Natal dan Tahun Baru 18 Hari

PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah bersiap untuk menyambut masa angkutan Natal dan Tahub Baru (Nataru) 2018/2019. Tahun ini masa angkutan Nataru ditetapkan selama 18 hari yang dimulai pada 20 Desember 2018 hingga 6 Januari 2019 mendatang.

Baca juga: Habiskan Cuti, PT KAI Hadirkan ’13 Lucky Days’

Direktur PT KAI Edi Kusmoro mengatakan, pada masa angkutan Nataru saat ini, pihaknya sudah menyiapkan total 394 perjalanan dibandingkan tahun lalu 375. Jumlah tersebut meningkat lima persen dibandingkan perjalanan kereta api tahun lalu.

“Per hari ini, kursi yang terjual 38 persen dan masih sisa 62 persen. Jumlah ini sendiri akan berubah setiap harinya,” ujar Edi saat ditemui di JRC, Senin (3/12/2018).

Edi mengatakan, jumlah tersebut adalah total dari kereta reguler maupun kereta tambahan di Pulau Jawa. Sedangkan untuk pulau Sumatera tidak ada penambahan. Edi mengatakan, jalur kereta api Sumatera ditambah atau tidak sama saja.

“Kereta tambahan hanya di Pulau Jawa, Sumatera tidak ada penambahan karena saat tidak masa seperti ini pun penumpangnya tidak seperti Pulau Jawa,” ujar Edi kepada KabarPenumpang.com.

Pada masa Nataru, pihaknya juga melakukan inspeksi jalur sebelum beroperasi untuk mengetahui titik-titik rawan dan perlintasan sebidang.

“Untuk pulau Jawa sendiri ada 269 titik dari Daop 1 hingga Daop 9. Sedangkan untuk Divre I hingga IV ada 41 titik, sehingga bila di total ada 310 titik rawan,” tambah Edi.

Dia mengatakan volume penumpang selama 18 hari masa Nataru diprediksi meningkat empat persen atau 5.317.358 penumpang dibanding tahun lalu sebanyak 5.112.884. Adapaun ini merupakan totalan dari kereta jarak jauh dan lokal yang ada di setiap kota.

Pada punak masa angkutan Nataru, tidak ada tambahan untuk kereta sleeper dan prioritas. Harga tiketnya pun ada yang mengikuti tarif batas atas dan untuk tarif subsidi sendiri merupakan tiket yang paling banyak dicari penumpang.

Baca juga: Punya KAI Access? Ini Cara Mudah Tukar Jadwal Keberangkatan Kereta

“Untuk kereta yang digunakan, semua kereta. Kereta baru yang sudah ada juga dioperasikan,” tambah Edi.

Tak hanya itu, Direktur PT KCI, Wiwik Widayanti menambahkan, untuk masa Nataru, pihakya menyiapkan 938 loop perjalanan. Pada akhir tahun untuk merayakan pergantian tahun, pihak KCI menambah perjalan kereta.

“Kita tambah 20-24 perjalanan dari jam 23.00 hingga 02.00 dini hari,” ujar Wiwik.

Per 2 Desember, Garuda Indonesia Layani Penerbangan Bandung-Singapura 4x Seminggu

Mulai hari Minggu, 2 Desember 2018, Garuda Indonesia resmi melayani rute penerbangan Singapura-Bandung-Singapura dengan frekuensi penerbangan sebanyak 4 kali seminggu (Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu). Rute penerbangan tersebut dilayani dengan menggunakan armada Boeing 737-800NG dengan kapasitas 150 kursi economy class dan 12 kursi business class.

Baca juga: Jadi Kebanggaan Kota Bandung, AP II Resmi Operasikan Terminal Baru Bandara Husein Sastranegara

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengungkapkan bahwa, “Dibukanya layanan penerbangan Bandung-Singapura pp tersebut merupakan bagian dari komitmen Garuda Indonesia dalam mendukung pengembangan perekonomian kota Bandung, khususnya dalam menggerakkan sektor pariwisata, perdagangan dan investasi”.

Dengan dibukanya penerbangan baru ini, Garuda Indonesia sudah melayani empat rute penerbangan dari dan ke Bandung, yakni Bandung-Surabaya pp, Bandung-Denpasar pp, Bandung-Bandar Lampung-Palembang pp, dan Bandung-Surabaya pp.

Baca juga: Pesawat Secanggih Boeing 737 Max 8, Mungkinkah Mengalami Stall?

Rute penerbangan Bandung – Singapura akan diberangkatan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara setiap hari Senin, Rabu Jumat dan Minggu melalui penerbangan GA 844 pada pukul 12.50 Local Time dan akan tiba di Singapura pada pukul 15.55 Local Time. Adapun penerbangan Singapura – Bandung akan berangkat dari Bandara Internasional Changi Singapura melalui penerbangan GA 845 pada pukul 11.00 dan akan tiba di Bandung pada pukul 12.00 Local Time.

Perluas Jangkauan, LRT dan Trans Musi Terapkan Tiket Terusan

Light Rail Transit (LRT) Palembang yang sudah beroperasi sejak Asian Games 2018 kemarin, dalam waktu dekat akan menerapkan tiket terusan. Tiket terusan ini bersama dengan Bus Rapid Transit (BRT) sehingga penumpang yang naik Trans Musi kemudian menyambung LRT atau sebaliknya hanya akan membayar sekali tiket saja.

Baca juga: Tambah Trainset, Kemenhub: Dua Pekan Evaluasi LRT Palembang

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Operasional PT SP2J Anthoni Rais mengatakan, pihaknya tengah melakukan rapat untuk pembahasan kapan akan mulai menerapkan tiket terusan Trans Musi dan LRT Palembang. Dia menyebutkan tiket terusan tersebut nantinya untuk mendukung kedua moda transportasi  sebagai feeder dan mendukung satu dengan yang lainnya.

Tiket terusan ini akan dibedakan antara pelajar dan umum dimana para pelajar yang menggunakan Trans Musi dan menuju stasiun LRT terdekat akan dkenakan biaya Rp5 ribu dan saat naik LRT tidak akan membayar lagi. Sedangkan untuk masyarakat umum tiket terusan adalah Rp7 ribu rupiah.

Bagi mahasiswa yang menuju ke Indralaya akan dikenakan tarif Rp12 ribu. Anthoni mangatakan, dengan diterapkannya tiket terusan, maka, penumpang di seluruh kawasan Palembang bisa terlayani.

“Saya misalkan ada penumpang dari Plaju mau ke Indralaya maka terlebih dulu menaiki trans musi menuju stasiun Polresta kemudian dari sana akan diantar menggunakan LRT menuju OPI kemudian dari OPI baru diantar ke Indralaya,” ujarnya.

Antoni menambahkan, dalam mendukung kebijakan itu, pihaknya sudah mendapatkan bantuan sebanyak 15 bus Trans Musi dari Kementerian Perhubungan dengan kapasitas 22 penumpang. Bus tersebut akan ditempatkan di rute baru yakni dari Kenten Laut menuju Asrama Haji kemudian disambung dengan menaiki LRT.

“Mobilnya sudah kami terima, kami masih urus surat menyurat untuk mulai beroperasi, ” kata dia.

Baca juga: Berbalut Kostum Power Ranger, Baim Wong Kejutkan Penumpang LRT Palembang

Menurut dia, saat ini ada 107 unit trans musi yang beroparasi di dalam kota Palembang. Jumlah armada ini bisa melayani penumpang yang transit menggunakan LRT.

“Tahun depan kita ajukan bantuan lagi ke pusat, mudah mudahan kembali bisa dibantu, ” kata dia.

Sedangkan untuk masalah pembagian hasilnya, Anthoni menjelaskan, “Nanti penghasilan penjualan tiket akan kami bagi antara bus trans musi dan LRT.”

Mulai 13 Desember, Garuda Indonesia (Kembali) Buka Penerbangan Langsung Jakarta-London

Setelah menutup rute penerbangan Jakarta – London pada 28 Oktober 2018, maka belum lama ini ada kabar mengejutkan, bahwa Garuda Indonesia akan kembali membuka rute penerbangan langsung tersebut pada 13 Desember 2018.

Baca juga: Penutup Mesin Boeing 777 Lepas, United Flight 1175 Lakukan Pendaratan Darurat!

Masih seperti semula, rute penerbangan langsung Jakarta – London akan dilayani dengan armada Boeing 777-300ER (Extended Range) dual class yang terdiri dari kelas penerbangan ekonomi dan bisnis dan akan dioperasikan sebanyak 3 (tiga) kali seminggu setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu.

Dalam siaran pers, Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengungkapkan, “Dibukanya kembali rute penerbangan langsung Jakarta – London pp tersebut merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat jaringan penerbangan internasional, khususnya dengan menyediakan akses konektivitas langsung dari Jakarta ke Bandara Internasional London Heathrow (LHR) melalui layanan konfigurasi armada dual class yang terdiri dari kelas ekonomi dan bisnis.”

“Selaras dengan komitmen strategis bisnis terbarukan yang dijalankan perusahaan bertajuk “Quick Wins Garuda Indonesia”, dibukanya kembali rute penerbangan Jakarta – London pp ini tentunya menjadi capaian tersendiri bagi Garuda Indonesia sejalan dengan komitmen peningkatan kinerja melalui pembenahan cost structure yang terus menunjukan pencapaian positif yang salah satunya dibuktikan dengan dapat kembali dibukanya rute penerbangan langsung Jakarta – London ini“, jelas Ari.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah wisman asal Inggris ke Indonesia khususnya melalui Bali merupakan yang tertinggi keempat setelah Cina, Australia, dan India. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, jumlahnya mencapai 210,062 kunjungan, tumbuh 9,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Pertumbuhan kunjungan wisatawan tersebut yang kami yakini juga dapat menunjang potensi pengembangan rute Jakarta – London pp tersebut, khususnya melalui market share jaringan penerbangan Asean yang saat ini dilayani Garuda Indonesia ”.Jelas Ari.

Pengoperasian rute penerbangan langsung Jakarta – London pp tersebut juga menjadi potensi pasar tersendiri bagi market size “Australia – Eropa” yang tercatat tumbuh progresif dengan capaian trafik penumpang penerbangan lintas Australia – Eropa sedikitnya mencapai lebih dari 2 juta penumpang di tahun 2017 lalu.

Adapun potensi market size tersebut menempatkan Inggris sebagai top destination kawasan Eropa bagi wisatawan asal Australia. Hal ini tentunya menjadi potensi pasar tersendiri bagi Garuda Indonesia, mengingat Garuda Indonesia saat ini menghubungkan Jakarta ke tiga destinasi utama Australia seperti Melbourne, Sidney dan Perth.

Baca juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London

Rute Jakarta – London pp akan diberangkatan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, melalui penerbangan GA 086 pada pukul 12.05 Local Time dan akan di Bandara Internasional London Heathrow (LHR) pada pukul 20.00 Local Time. Sementara itu, penerbanganLondon – Jakarta pp akan diberangkatan dari Bandara Internasional London Heathrow (LHR) pada pukul 21.55 Local Time dan akan tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada pukul 19.10 Local Time.

Unik! Penumpang ini Lakukan Yoga Erotis Saat Mengudara dengan United Airlines

Hal unik apa saja yang pernah Anda temui dalam sebuah perjalanan udara? Sesama penumpang yang berkelahi? Atau cekcok antara awak kabin dan penumpang? Atau apa lagi? Itu bisa tergolong biasa dan kerap menghiasi penerbangan di luar sana. Namun pernahkah Anda menemukan penumpang yang melakukan sejumlah gerakan yoga di dalam penerbangan? Belum lagi pakaian yang digunakan oleh penumpang ini berwarna cerah dan kontras antara baju dan celana yang ia gunakan.

Baca Juga: Inilah Beberapa Tipe Penumpang Pesawat, Anda Masuk Kategori Yang Mana?

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (29/11/2018), seorang penumpang maskapai United Airlines menuju San Diego menunjukkan perilaku yang aneh. Kebetulan, dua deret bangku yang berada di sampingnya kosong, dan penumpang berjenis kelamin wanita ini mulai melakukan sejumlah gerakan yoga erotis. Mulai dari gerakan simpel, hingga gerakan yang mewajibkan penumpang ini untuk menungging di tiga deret bangku kosong tersebut.

Awalnya, wanita berbalut kaos berwana pink dan celana legging berwarna kuning cerah ini mulai meregangkan punggungnya sambil mengangkat kepala dan pinggulnya. Sejurus sesaat, ia melengkungkan badannya ke arah belakang dengan posisi tangan yang terangkat ke atas. Selang beberapa saat kemudian, ia mulai beranjak dari bangkunya dan melakukan gerakan menungging di atas bangku – sembari kepalanya mengarah ke jendela, persis seperti anak kecil yang sedang mengintip keluar jendela.

Aksi dari wanita ini sempat diabadikan oleh penumpang lain yang duduk tepat di seberangnya. Merasa terlalu ‘berharga’ untuk disimpan sendiri, akhirnya penumpang yang merekam aksi yoga di dalam pesawat ini mengunggah rekamannya tersebut ke akun instagram dengan nama penguna Mobile Madness Man.

Seketika menghantam jejaring sosial Intagram, video ini mendapat respon beragam dari berbagai kalangan dan sontak menjadi viral. Banyak pengguna Instagram yang meninggalkan emoticon tertawa terpingkal-pingkal di kolom komentar – menandakan kegelian mereka setelah melihat aksi yoga di dalam pesawat tersebut.

Namun tidak sedikit pula warganet yang malah menentang aksi yang dilakukan oleh si perekam ini.

Baca  Juga: Inflighto, Mudahkan Penumpang Berbagi Keindahan dari Dalam Pesawat

“Mungkin di suatu tempat ada yang tengah mengabadikan momen ketika Anda merekam wanita tersebut. Coba cari #creeper,” ujar salah satu pengguna Instagram.

Namun sebenarnya, tidak sedikit penumpang yang melakukan yoga di dalam pesawat demi menjaga aliran darah mereka tetap lancar – terlebih ketika itu merupakan sebuah perjalanan berdurasi panjang.