Gara-gara Jembatan Suramadu, Pelabuhan Kamal Madura Kini Sepi

Pelabuhan Kamal di Bangkalan, Madura, sejak lama dikenal sebagai salah satu pintu utama keluar-masuk pulau melalui jalur laut. Pelabuhan ini menjadi simpul transportasi penting yang menghubungkan Madura dengan Pulau Jawa, terutama melalui jalur penyeberangan menuju Pelabuhan Ujung di Surabaya.

Sebelum berdirinya Jembatan Suramadu pada 2009, Pelabuhan Kamal merupakan jalur utama yang dilalui ribuan penumpang setiap harinya. Aktivitasnya begitu padat, baik dari masyarakat yang bepergian, pedagang yang membawa hasil bumi, hingga angkutan kendaraan yang menyeberang menggunakan kapal ferry.

Keberadaan pelabuhan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menggerakkan perekonomian daerah. Namun, sejak Suramadu dibuka, peran Pelabuhan Kamal mengalami perubahan signifikan.

Lalu lintas penyeberangan berkurang drastis karena sebagian besar masyarakat lebih memilih jalur darat yang lebih cepat dan efisien. Meski demikian, pelabuhan ini tetap melayani aktivitas penyeberangan dalam kapasitas terbatas dan masih memiliki nilai historis bagi warga Madura.

Padahal ada masa jayanya, pelayaran dari Pelabuhan Kamal ke Pelabuhan Ujung Surabaya ditempuh sekitar 30 menit menggunakan kapal ferry melintasi Selat Madura. Kini, Pelabuhan Kamal juga mulai diarahkan untuk mendukung sektor pariwisata.

Kawasan sekitar pelabuhan dikembangkan sebagai destinasi yang menampilkan keunikan budaya lokal, panorama laut, dan potensi wisata kuliner khas Madura. Upaya revitalisasi ini diharapkan memberi peran baru bagi pelabuhan yang pernah menjadi nadi transportasi utama Madura.

Semenjak beroperasinya jembatan suramadu, dari beberapa kapal besar, kini hanya tinggal belasan kapal yang berukuran kecil. Meski sudah sepi, pihak ASDP tetap akan mengoperasikan pelabuhan ini meski harus menurunkan tarif kendaraan dan penumpang.

Untuk diketahui, pelabuhan ini mempunyai beberapa kapal yang terkenal kecil. Bahkan lebih kecil dibandingkan dengan kapal ferry yang berada di tempat lain seperti Merak – Bakahueni ataupun Ketapang – Gilimanuk.

Kapal yang beroperasi disini pun namanya cukup unik seperti KMP Jokotole, KMP Trunojoyo, KMP Potre Koneng, bahkan KMP selat madura 1 dan 2. Kebanyakan nama dari kapal tersebut berasal dari nama tokoh terkemuka di Pulau Madura.

Sebelum Naik Kereta Lokal, Penumpang Wajib Lakukan Ini di Stasiun Rangkasbitung

Stasiun Rangkasbitung merupakan stasiun yang melayani perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line dan Kereta Komuter Merak. Stasiun ini terbilang cukup besar dengan padatnya penumpang setiap yang naik dan turun di stasiun ini. Namun perlu diketahui bahwa Stasiun Rangkasbitung juga melayani sistem boarding pass pada Kereta Komuter Merak layaknya perjalanan kereta api jarak jauh.

Ya, jangan sampai lupa terutama masyarakat yang baru menjajakan kaki di stasiun ini jika ingin melanjutkan perjalanan hingga ke Stasiun Merak. Meskipun sudah memiliki tiket Kereta Komuter Merak, namun calon penumpang dihimbau untuk menunjukkan kartu identitas seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM) atau identitas lainnya yang tentu harus sesuai dengan yang tertera di tiket.

Aturan boarding pass saat naik kereta lokal ini memang agak asing di masyarakat. Pasalnya penumpang yang sudah memiliki tiket melalui aplikasi Access by KAI pun harus sesuai dengan nama dan nomor identitas yang sesuai dengan kartu identitas. Setelah itu penumpang harus menunjukkan kepada petugas di pintu masuk untuk pengecekan keduanya. Setelah terbukti sesuai, baru diizinkan masuk ke dalam kereta.

Berbeda dengan beberapa stasiun yang disinggahi kereta lokal ini hingga Stasiun Merak. Ternyata ada beberapa stasiun memang yang sudah memiliki mesin untuk scanning barcode tiket secara mandiri. Penumpang hanya membuka barcode tiket di aplikasi Access by KAI, lalu dekatkan dengan lampu infra merah yang berada di bagian mesin pintu otomatis. Setelah lampu hijau menyala, penumpang bisa masuk tanpa harus menunjukkan kartu identitas kepada petugas stasiun.

Stasiun Merak sudah menerapkan mesin gate agar penumpang lebih mudah naik kereta yaitu cukup dengan scan barcode dari ponsel.

Hingga saat ini wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yakni Stasiun Rangkasbitung adalah satu-satunya yang menerapkan pemeriksaan tiket dengan menunjukkan kartu identitas penumpang sebelum naik kereta lokal. Berharap setelah pembangunan Stasiun Rangkasbitung selesai, aktivitas penumpang jadi terasa nyaman dan lebih dimudahkan saat naik KRL maupun Kereta Komuter Merak ini.

Diketahui sampai saat ini proses pembangunan dan pengembangan Stasiun Rangkasbitung masih terus berjalan. Harapannya, semoga pembangunan ini bisa selesai sesuai dengan target, yaitu selesai di tahun 2025. Sehingga pengguna dapat kembali melakukan perjalanan menggunakan kereta dengan aman dan nyaman.

NOT A HOTEL Jadi Pembeli Helikopter Airbus ACH130 Aston Martin Edition Pertama di Jepang

Operator hospitality non-klasik di Jepang, NOT A HOTEL, resmi memesan helikopter ACH130 Aston Martin Edition. Hal ini menjadikannya pemesan pertama helikopter edisi ini di Negeri Bunga Sakura, sekaligus pelanggan terbaru Airbus Corporate Helicopters.

Helikopter ACH130 menjadi helikopter pertama yang dibeli oleh NOT A HOTEL dan akan digunakan untuk menawarkan pengalaman mengudara yang unik bagi para pengunjung mereka yang ingin bergaya hidup mewah melalui layanan mobilitas NOT A GARAGE.

“Kami menyambut NOT A HOTEL ke dalam komunitas global pemilik helikopter ACH130 Aston Martin Edition. Pencapaian ini menunjukkan komitmen kami dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang dirancang khusus bagi klien yang menghargai desain, gaya, kenyamanan, dan performa,” ujar Frederic Lemos, Head of Airbus Corporate Helicopters. “Dengan beroperasinya helikopter ACH130 Aston Martin Edition di kawasan Asia-Pasifik, Eropa, dan Amerika Latin, pesanan terbaru ini semakin memperkuat posisi kami di pasar penerbangan pribadi dan korporasi kelas premium.”

Helikopter ACH130 Aston Martin Edition adalah hasil kolaborasi luar biasa yang menampilkan serangkaian desain interior dan eksterior oleh Aston Martin dan diterapkan oleh para pengrajin terampil di Airbus Helicopters. Kolaborasi ini bertujuan memuaskan hasrat para pemilik dan pilot helikopter yang mendambakan kenikmatan memiliki dan mengemudikan mobil sport mewah bespoke dengan performa tinggi.

Layanan mobilitas premium milik NOT A HOTEL, yaitu NOT A GARAGE, dirancang untuk merevolusi pengalaman perjalanan mewah dengan memadukan konsep kepemilikan dan pengalaman eksklusif di darat, laut, maupun udara. Melalui layanan ini, pengguna dapat memiliki sekaligus berbagi aset mobilitas mewah seperti helikopter, jet pribadi, kapal pesiar, hingga mobil sport. Dengan membeli kepemilikan saham pada satu aset mobilitas, pengguna juga mendapatkan akses ke jaringan pilihan mobilitas lainnya yang dikelola oleh NOT A HOTEL.

Airbus Helicopters Tampilkan ACH130 Edisi Aston Martin dengan Sentuhan Mewah Terbaru

Proyeksi Boeing: “Lonjakan Kebutuhan Pesawat Dorong Peningkatan Tenaga Kerja Untuk Awak Kabin, Pilot dan Teknisi”

Sejak tahun 1961, Boeing rutin menerbitkan Commercial Market Outlook (CMO) setiap tahun. Dengan rekam jejak terpanjang di bidangnya, CMO diakui sebagai analisis paling komprehensif mengenai industri penerbangan komersial. Dan bertempat di Kantor Boeing Indonesia, hari ini (27/8/2025), Dave Schulte, Managing Director Regional Marketing Boeing Commercial Airplanes, memberikan CMO 2025, yang sebagian mengaitkan dengan prospek penerbangan di Indonesia.

Boeing Commercial Market Outlook (CMO) 2025, memproyeksikan lonjakan besar dalam pertumbuhan lalu lintas udara dan jumlah armada pesawat di Asia Tenggara hingga 2044, Indonesia akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan di kawasan ini.

Selama 20 tahun ke depan, maskapai penerbangan di seluruh dunia diperkirakan membutuhkan lebih dari 43.600 pesawat baru untuk mengimbangi pertumbuhan lalu lintas penumpang yang diproyeksikan naik lebih dari 4% per tahun. Khusus Asia Tenggara, kawasan ini menjadi salah satu pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat, dengan lalu lintas penumpang diprediksi meningkat sekitar 7% setiap tahunnya. Untuk memenuhi lonjakan kebutuhan tersebut, maskapai di kawasan ini diperkirakan membutuhkan lebih dari 4.800 pesawat baru dalam kurun waktu yang sama.

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia berada di pusat peluang pertumbuhan ini. Dengan proyeksi pertumbuhan PDB yang melampaui rata-rata kawasan, permintaan perjalanan udara–baik rute domestik maupun internasional–diperkirakan akan meningkat pesat di Indonesia.

Dengan lebih dari 17.000 pulau, bentang kepulauan Indonesia menjadikan transportasi udara sebagai kebutuhan utama untuk menghubungkan masyarakat maupun distribusi kargo. Kondisi ini mendorong tingginya permintaan pesawat berbadan sempit (single-aisle) di dalam negeri.

Pesawat generasi terbaru 737 MAX menawarkan kombinasi efisiensi biaya operasional dan peningkatan kenyamanan penumpang, sehingga sangat sesuai untuk kebutuhan Indonesia dan sekitarnya. Dengan jangkauan yang mampu melayani hingga 90% rute pasar utama dari Indonesia, varian 737 MAX dikenal memiliki keandalan tinggi serta efisiensi operasional yang mendukung. Keunggulan lain yang ditawarkan adalah dampak lingkungan yang lebih ringan, termasuk pengurangan emisi dan kebisingan.

Seiring meningkatnya arus pariwisata dan perdagangan masuk ke Indonesia, pesawat berbadan lebar generasi terbaru akan membuka peluang koneksi langsung ke pasar lintas benua seperti Eropa. Di saat yang sama, pesawat jenis ini juga akan mendukung kebutuhan penumpang maupun kargo pada rute jarak pendek hingga menengah.

Untuk memenuhi kebutuhan penerbangan jarak jauh, pesawat berbadan lebar (twin-aisle) seperti 787 Dreamliner dan 777X diproyeksikan akan mengisi porsi sekitar satu dari lima pengiriman pesawat baru di Asia Tenggara dalam 20 tahun ke depan.

Meskipun Indonesia saat ini mengoperasikan armada jet komersial terbesar di kawasan, usia armadanya yang relatif lebih tua membuka peluang untuk melakukan pembaruan. Menggantinya dengan pesawat yang lebih hemat bahan bakar akan membantu modernisasi sekaligus meningkatkan daya saing biaya. Hal ini menjadi keunggulan penting, khususnya di tengah persaingan ketat dengan banyaknya operator berbiaya rendah di Indonesia.

Kawasan Asia Pasifik yang lebih luas memegang peran penting dalam kargo udara global seiring meningkatnya permintaan e-commerce. Dalam dua dekade ke depan, Asia Tenggara diprediksi membutuhkan lebih dari 150 pesawat kargo baru, baik hasil produksi maupun konversi. Kapasitas kargo pesawat berbadan lebar seperti 777-8 Freighter, yang akan menjadi pesawat kargo bermesin ganda terbesar dan tercanggih di dunia akan membuka lebih banyak peluang bagi eksportir dan sektor ritel.

Lonjakan kebutuhan pesawat juga berarti bertambahnya peluang kerja baru di industri penerbangan, baik di Indonesia maupun Asia Tenggara. Maskapai di Asia Tenggara diperkirakan harus merekrut dan melatih sekitar 243.000 personel baru, lebih dari tiga kali lipat jumlah tenaga aktif saat ini. Rinciannya mencakup sekitar:

Awak Kabin: 103.000
Pilot: 62.000
Teknisi: 78.000

Indonesia memiliki posisi yang unik untuk memimpin pertumbuhan industri penerbangan di Asia Tenggara, didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat, wilayah geografis yang luas, serta peran yang semakin besar dalam perdagangan dan pariwisata global. Kondisi ini menciptakan kebutuhan besar akan pesawat baru, baik untuk ekspansi maupun penggantian armada.

Untuk mencapai kapasitas setara dengan yang ada di Asia Tenggara saat ini, Indonesia membutuhkan hampir 600 pesawat tambahan hanya dalam jangka pendek.

Atasi Kemacetan di TB Simatupang, Transjakarta Punya 17 Rute dan Gubernur Tambah 14 Bus

Kemacetan di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, sangat membuat frustasi banyak pengendara kendaraan roda dua dan roda empat. Hal ini membuat Gubernur DKI Jakarta menambah 14 bus Transjakarta di rute yang melewati Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Kebijakan ini diambil sebagai upaya mengatasi kemacetan di Kawasan tersebut.

“Kami juga akan menambah Transjakarta yang melewati TB Simatupang, 14 unit ke daerah manapun akan kami tambah 14 unit,” kata Pramono di kawasan Jakarta Timur, Senin.

Pramono mengatakan, penambahan armada transportasi publik bertujuan untuk mendorong masyarakat agar beralih dari menggunakan kendaraan pribadi ke transportasi umum. Pramono menjelaskan, salah satu penyebab kemacetan di TB Simatupang adalah karena adanya tiga proyek pembangunan yang berlangsung bersamaan.

Tak hanya Gubernur DKI Jakarta, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) juga memiliki komitmen untuk melancarkan perjalanan masyarakat Jakarta. Bahkan Transjakarta mengoperasikan 17 rute yang melintasi jalan TB Simatupang.

“Untuk kenyamanan di jalan, khususnya di sekitaran TB Simatupang, kami mengajak masyarakat menggunakan layanan Transjakarta. Ada 17 rute yang dioperasikan, terdiri dari layanan BRT, Non BRT, Royaltrans dan Mikrotrans”, ucap Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta, Ayu Wardhani melalui keterangan tertulis.

Untuk mendukung pekerjaan sejumlah proyek infrastruktur dan mengatasi kepadatan di sekitaran TB Simatupang, berbagai langkah cepat dan strategis telah dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta. Transjakarta bersinergi dengan berbagai pihak untuk mengoptimalkan peran petugas di jalur, untuk menghadirkan pelayanan terbaik bagi seluruh pelanggan.

Selain itu bus yang dioperasikan kerap dilakukan penjagaan terkait jeda waktu tunggu atau headway.

“Untuk kenyamanan pelanggan, kami juga sudah mengoperasikan tambahan 14 unit bus di beberapa rute yang melintasi TB Simatupang”, tambah Ayu.

Transjakarta mengimbau pelanggan untuk menyesuaikan waktu perjalanan dan untuk mendapatkan informasi terkini seputar layanan Transjakarta, pelanggan bisa mengakses melalui aplikasi TJ : Transjakarta atau melalu media sosial Transjakarta.

17 layanan Transjakarta yang melintasi jalan TB Simatupang antara lain :
BRT :
 Kor 8 (Lebak Bulus – Pasar Baru)
Non BRT :
 D21 (UI – Lebak Bulus)
 D41 (Sawangan – Lebak Bulus via tol Desari)
 7A (Kampung Rambutan – Lebak Bulus)
 7E (Kampung Rambutan – Ragunan)
 S21 (Ciputat – CSW)
 S22 (Ciputat – Kampung Rambutan)
 6H (Senen – Lebak Bulus)
 1E (Pondok Labu – Blok M)
Royaltrans :
 S21 (Term. BSD – Fatmawati)
 S14 (Summarecon Serpong – Lebak Bulus)
 S31 (Bintaro – Fatmawati)
Mikrotrans :
 JAK102 (Blok M – Lebak Bulus)
 JAK49 (Lebak Bulus – Cipulir)
 JAK95 (Term. Lebak Bulus – Term. Pasar Minggu)
 JAK93 (Jeruk Purut – Kebayoran Lama)
 JAK 31 (Blok M – Andara)

Usulan Wapres Sediakan Ruang Laktasi di Kereta Api, Ternyata Negara Ini juga Akan Terapkan Hal yang Sama

Sah! KRL Negeri Sakura Akhirnya Melayani Jalur Yogya-Palur

Mungkin bagi masyarakat biasa sebagai pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) transportasi ini hanyalah sekadar angkutan penumpang yang hanya mengantarkan dari satu tujuan ke tujuan lainnya. Khususnya di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Masyarakat dari berbagai kota seperti Yogyakarta, Klaten, dan Solo, transportasi KRL bisa menjadi solusi dalam beraktivitas untuk berkunjung ke destinasi tujuan.

Jenis KRL yang biasa digunakan di jalur tersebut adalah I9000 (KFW) buatan asli anal bangsa PT Industri Kereta Api (INKA). Dengan badan yang agak lebar, KRL ini bisa dibilang sebagai ikoniknya Yogya Solo yang selalu setia mengantarkan  para penumpang. Namun, ada hal baru dari jenis KRL yang saat ini beroperasi dilintas teraebut, yaitu KRL dari negeri sakura alias Jepang.

Ya, sejak pengiriman pada Juli 2025, KRL ini dikirim dari Depo KRL Depok menuju Depo Solo Jebres. Pengiriman KRL tersebut dilakukan sebanyak 2 unit dengan seri 205.5 dan 205.46 dengan masing-masing trainset sebanyak 8 unit. Pengiriman KRL eks Jepang ini ternyata untuk melengkapi perjalanan KRL di jalur Yogya-Palur pp yang saat ini makin diminati masyarakat.

Sebelumnya pernah dioperasikan juga rangkaian KRL seri 205-9 yang juga melayani lintas Yogya-Palur pp., karena saat itu armada KRL masih kurang. Disamping itu masyarakat juga makin merasakan kenyamanan saat naik KRL. Selain harga yang relatif murah dan terjangkau, perjalanan makin singkat yaitu satu jam.

Bukan hanya berdinas mengantar penumpang, kedua rangkaian JR205 tersebut berjasa pada lintas Daop 6. Hal ini karena kedua kereta tersebut terlibat dalam uji coba elektrifikasi DAOP 6 hingga akhirnya KRL resmi beroperasi melayani penumpang.

Menurut informasi dari berbagai sumber, rangkaian 205-46 pada tanggal 19 Agustus 2025 kemarin resmi beroperasi. Jika sebelumnya rangkaian KRL seri 205 yang berdinas di DAOP 6 tersusun atas 4 kereta dalam 1 rangkaian, kali ini satu rangkaian terdiri dari 8 kereta. Lalu terdapat hal unik pada rangkaian 205-46 karena pada kabin keretanya terdapat penambahan dudukan rantai. Selain itu KRL ini sudah sah milik Daop 6 Yogyakarta. Pasalnya dibagian bodi kereta sudah terlihat cap tulisan ‘SK’ yang berarti milik Depo Induk Solo.Jebres (Solo Kemantren).

Rangkaian KRL serin205-46 beroperasi dilintas Daop 6 Yogyakarta. (Foto: Dok. Somasta Kharisma Jati)

Masih sama  seperti awal KRL beroperasi di Daop 6, keunikan yang dirasakan sebagai penumpang tentu berbeda dari operasional di Daop 1 Jakarta. Salah satunya adalah tidak adanya kereta khusus wanita yang berada di paling depan dan belakang kereta.

Ini sangat menarik terutama penggemar kereta api yang pastinya mengabadikan momen perjalanan dengan melihat kearah kabin masinis. Melalui kaca tersebut, beberapa penumpang mengabadikan momen perjalanan ala cabin view yang tidak ada di rangkaian KRL i9000.

Ini Beragam Alasan Angkatan Udara AS Tetap Pertahankan Platform ‘Pesawat Tua’ Boeing 707

Jika dihitung sejak penerbangan perdananya pada 20 Desember 1957, maka pesawat narrow body jarak jauh Boeing 707 saat ini telah berusia 68 tahun. Lantaran dirancang dari airframe yang telah berusia lanjut, saat ini sudah tidak ada, atau mungkin sangat jarang pesawat dengan empat mesin jet ini beroperasi untuk tujuan komersial. Meski begitu, platform Boeing 707 masih terus digunakan di lingkup Angkatan Udara AS (USAF).

Nah, yang menjadi pertanyaan, mengapa desain dasar Boeing 707 masih awet dan lestari diadaptasi sampai saat ini?

Meskipun Boeing 707 sudah lama pensiun dari layanan komersial, Angkatan Udara AS dan militer AS pada umumnya masih mengoperasikan varian militer dari platform ini. Namun, penting untuk dicatat bahwa penggunaan ini semakin berkurang seiring dengan rencana penggantian armada yang lebih modern.

E-6 Mercury

Meskipun Boeing 707 sudah lama pensiun dari layanan komersial, Angkatan Udara AS (USAF) dan militer AS pada umumnya masih mengoperasikan varian militer dari platform ini. Namun, penting untuk dicatat bahwa penggunaan ini semakin berkurang seiring dengan rencana penggantian armada yang lebih modern.

Berikut adalah alasan mengapa pesawat berbasis Boeing 707 (dan varian sejenisnya) masih digunakan oleh militer AS hingga saat ini:

1. Keandalan dan Ketahanan Airframe
Boeing 707 adalah salah satu pesawat jet pertama yang terbukti sangat andal dan kokoh. Desainnya yang kuat dan teruji membuatnya cocok untuk misi-misi khusus militer yang sering kali melibatkan beban berat dan jam terbang yang tinggi. Strukturnya memungkinkan modifikasi besar, seperti pemasangan kubah radar, tangki bahan bakar tambahan, atau peralatan komunikasi yang rumit, tanpa mengorbankan integritas struktural pesawat.

KC-135 Stratotanker

2. Biaya dan Efisiensi Operasional (Secara Historis)
Dalam banyak kasus, lebih hemat biaya untuk memodifikasi dan memelihara pesawat yang sudah ada daripada mengembangkan dan membeli pesawat baru dari nol. Selama puluhan tahun, militer AS telah berinvestasi besar dalam perbaikan, peningkatan, dan modernisasi armada 707 mereka. Mesinnya telah diganti dengan turbofan yang lebih modern dan efisien, serta sistem avionik dan misi telah diperbarui. Hal ini membuat mereka terus berfungsi secara efektif.

3. Peran Misi Khusus yang Sulit Diganti
Pesawat-pesawat ini tidak digunakan untuk mengangkut penumpang, melainkan untuk peran-peran yang sangat spesifik dan penting, seperti:

AWACS (Airborne Warning and Control System), varian E-3 Sentry adalah contoh paling terkenal. Pesawat ini memiliki kubah radar besar di atasnya yang memberikan kemampuan pengawasan dan komando serta kontrol di udara. Kemampuan ini sangat vital untuk operasi militer skala besar.

Tanker Udara, varian KC-135 Stratotanker adalah varian yang paling banyak digunakan. Meskipun KC-135 dikembangkan dari prototipe Boeing 367-80 dan bukan dari 707 langsung, kedua platform ini sangat mirip dan berbagi banyak komponen, dan KC-135 telah menjadi tulang punggung pengisian bahan bakar udara AS selama beberapa dekade. Meskipun KC-46 Pegasus sedang menggantikannya, proses ini berjalan lambat.

KC-135 Stratotanker – Pesawat Tanker dari Basis Pesawat Komersial Legendaris Boeing 707

Komando dan Komunikasi Strategis, varian E-6 Mercury digunakan oleh Angkatan Laut AS untuk menjaga komunikasi dengan kapal selam rudal balistik, memastikan adanya “rantai komando” yang tidak terputus.

RC-135 Rivet Joint, merupakan varian pesawat intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) yang sangat canggih. Tujuannya bukan untuk mengangkut barang atau orang, melainkan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi intelijen elektronik secara real-time kepada para komandan dan pasukan di lapangan.

RC-135 Rivet Joint,

4. Tidak Adanya Kebutuhan Mendesak untuk Penggantian Cepat
Meskipun teknologinya sudah tua, pesawat-pesawat ini masih menjalankan misinya dengan baik berkat pembaruan yang terus-menerus. Selain itu, mengembangkan pesawat baru untuk peran-peran khusus ini membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar. Contohnya, E-3 Sentry yang sudah tua memang sedang dipertimbangkan untuk digantikan oleh E-7 Wedgetail (berbasis Boeing 737), tetapi proses ini masih dalam tahap perencanaan dan pengadaan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Namun, perlu diketahui, penggunaan platform Boeing 707 semakin menurun. USAF secara aktif bekerja untuk menggantikan pesawat-pesawat ini dengan platform yang lebih modern dan hemat bahan bakar. Varian E-3 Sentry, E-6 Mercury, dan KC-135 semuanya memiliki rencana penggantian yang sedang berlangsung, meskipun prosesnya berjalan lambat karena tantangan anggaran dan teknis.

Jadi, meskipun “masih banyak digunakan”, penggunaannya terbatas pada peran-peran khusus yang telah dimodifikasi dan diperbarui secara ekstensif, dan keberadaannya adalah cerminan dari biaya besar untuk menggantikan mereka serta keandalan yang telah terbukti dari desain dasarnya.

Hari ini 67 Tahun Lalu, Boeing 707 Pelopor Desain Legendaris Terbang Perdana

Landmark Menara Observasi “Big Tree” di Kota Changwon (Korea Selatan) Menuai Kecaman Publik

Upaya sebuah kota pelabuhan di Korea Selatan untuk membangun landmark yang menarik pengunjung menuai kecaman publik. Para kritikus menyebut menara observasi “Big Tree” senilai 34,4 miliar won (S$31,8 juta – US$ 25 juta) sebagai kekecewaan yang mahal.

Big Tree, yang menjulang setinggi 46,5 meter di Changwon, Korea Selatan bagian tenggara, terinspirasi oleh Supertrees yang menjulang tinggi di Gardens by the Bay, Singapura.

Teater ini dirancang untuk menjadi jangkar Taman Daesang, sebuah proyek pengembangan kemitraan publik-swasta senilai sekitar 1 triliun won, dan untuk menarik pengunjung domestik maupun internasional.

Menara ini menawarkan pemandangan 360 derajat Pelabuhan Masan, Pulau Dotseom, dan Gunung Muhaksan. Namun, seperti yang dilaporkan media lokal dan komentar publik baru-baru ini, proporsinya yang pendek, dedaunan buatan yang jarang, dan patung-patung hewan hias yang tidak serasi telah membuat banyak penduduk kecewa.

Changwon, yang dihuni lebih dari satu juta orang, merupakan pusat industri dan pelayaran di dekat ujung tenggara Semenanjung Korea.

Kota ini menjadi “kota khusus” pada tahun 2022 di bawah hukum Korea Selatan, yang memberinya otonomi tambahan atas proyek-proyek pembangunan.

Pejabat kota mempromosikan Big Tree sebagai objek wisata khas yang dapat membantu meringankan masalah pariwisata Korea Selatan yang telah lama terpusat di Seoul.

Menurut Institut Kebudayaan dan Pariwisata Korea, 78 persen wisatawan asing pada tahun 2024 menghabiskan waktu di ibu kota, dibandingkan dengan hanya 16,5 persen di Busan, 11,2 persen di Provinsi Gyeonggi, dan 10,9 persen di Pulau Jeju.

Musik di Bus Kena Royalti? Penumpang Pro dan Kontra

Ketika bus antarkota antarporvinsi (AKAP) kehilangan musik dan siaran televisi karena royalti, apakah penumpangnya akan menurun atau tetap dan bahkan melonjak alias meningkat? Ternyata ini menghadirkan berbagai sikap pernyataan dari pengguna setia bus AKAP.

Dari catatan KabarPenumpang.com, hasilnya adalah pro dan kontra. Sehingga ada penumpang yang tidak masalah dengan tidak adanya lagu atau musik yang diputar, ada pula yang kehilangan hiburan di dalam bus.

Tama pelanggan setia bus AKAP yang berasal dari Bali mengaku, dirinya tidak masalah jika lagu tidak diputar di dalam bus. Dia mengatakan, masih ada Spotify atau Youtube dan platform musik lainnya yang bisa didengar sendiri melalaui ponsel pintar.

“Kalau saya sih tidak masalah ya. Soalnya kan saya juga lebih sering dengar dari Spotify meski nggak berbayar alias gratis. Banyak iklan juga nggak apa-apa, yang penting bisa puas denger musik,” kata dia kepada KabarPenumpang.com.

Tama juga menyebutkan, bahwa selera musik setiap penumpang pastinya berbeda.

“Orang kan suka lagu beda-beda ya. Jadi banyak tuh yang dengerin musik di handphone mereka sendiri,” tambah Tama.

Meski begitu, dia cukup menyayangkan hilangnya musik dalam bus. Menurutnya, banyak juga orang tua yang tidak memiliki ponsel pintar menikmati kehadiran musik di dalam bus.

“Kasiannya ke orang-orang tua yang nggak pakai ponsel pintar ya. Mereka jadi sepi biasanya ada musik kan,” tuturnya.

Pelanggan setia lainnya, Kharis mengaku terbiasa menikmati musik di dalam bus AKAP ketika dirinya bepergian. Menurutnya, jika musik di bus terkena royalti, penumpang akan kehilangan atmosfer.

Dikatakan Kharis, perjalanan akan terasa lebih hening, monoton, dan kurang memiliki warna yang biasanya tercipta dari dentuman musik.

“Saya itu orangnya suka dengan musik di perjalanan, kalau sepi nggak ada musik nggak bisa sambal joget. Mana saya orangnya gampang mabuk, jadi dengan musik bisa mengatasi mabuk perjalanan saya,” ungkap Kharis.

Dia menambahkan, sebagai pecinta bus, pergeseran budaya popular dari ruang publik menuju konsumsi individual, memuat orang-orang akhirnya dihadapkan pada perangkat mereka masing-masing. Dalam hal ini ponsel pintar mereka untuk mencari hiburan.

Royalti Bikin PO Bus Tak Lagi Putar Musik, Penumpang Terancam Bosan!

 

Inovasi KAI Membuat Kereta Petani dan Pedagang, Ternyata Miliki Sejarah Panjang

Sudah tradisi. Ya, itulah kalimat yang memang sudah cocok untuk sebutan rangkaian kereta yang satu ini. Kereta yang rencana dikhususkan untuk masyarakat dengan aktivitas pedagang dan petani ini adalah terobosan baru dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) khususnya Balai Yasa Surabaya Gubeng.

Layanan Kereta khusus petani dan pedagang ini dihadirkan bukan hanya sebagai sarana transportasi hasil bumi, tetapi juga untuk melestarikan budaya kereta api yang menjadi denyut nadi ekonomi rakyat.

Kereta khusus ini dimodifikasi dengan mengurangi jumlah kursi dari 106 menjadi 73, pintu diperlebar, serta ruang tengah dibuat lebih lega untuk mengangkut hasil panen. Langkah tersebut merupakan wujud empati KAI terhadap tradisi pasar yang kini dikemas lebih modern.

Desainnya mengedepankan kemudahan akses dan ruang angkut lebih luas. Tempat duduk dipasang sejajar di sisi kiri dan kanan, sehingga ruang tengah lapang untuk hasil pertanian atau barang dagangan, sekaligus memudahkan pergerakan di dalam kereta.

Tapi tahukah kalian, bahwa tradisi kereta yang mengutamakan pedagang maupun petani memang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. KAI sendiri berinovasi untuk kembali menghidupkan tradisi lama kereta pasar yang pernah hadir sejak masa kolonial hingga era PJKA itu.

Dilansir dari berbagai sumber artikel sejarah menjelaskan bahwa kereta ini biasanya mereka membawa hasil bumi seperti pisang, ketela, cabai, jagung, hingga sayur-mayur, serta makanan tradisional seperti nasi uduk, pisang rebus, tape, hingga berbagai aneka kue.

Masyarakat membawa barang dagangan yang sedang menunggu kereta api di peron stasiun. (Foto: Dok. RRI)

Misalnya pada aktivitas petani dan pedagang menggunakan kereta dari wilayah Banten menuju Jakarta yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Para petani biasanya berangkat pukul 04.00 WIB dari Stasiun Rangkasbitung, singgah di sejumlah stasiun lain, lalu turun di Pasar Tanah Abang atau melanjutkan perjalanan ke stasiun lain menggunakan KRL.

Selama ini, rute Rangkasbitung–Tanah Abang menjadi jalur utama mobilitas petani dan pedagang. Namun, keterbatasan muncul karena jalur tersebut juga digunakan penumpang KRL Commuter Line. Selama ini, barang dagangan yang sudah dipersiapkan sejak dini hari harus diangkut dalam waktu singkat saat kereta berhenti hanya sekitar dua menit. Bahkan, sebagian petani dan pedagang memilih menginap di stasiun sejak tengah malam agar tidak tertinggal kereta pertama.

Dengan adanya kereta ini berharap bisa menjadi instrumen penting untuk menekan urbanisasi dan menggerakkan ekonomi desa. Dan kedepannya, konsep serupa bisa diperluas ke jalur kereta lain yang dulunya memiliki layanan kereta lokal, seperti Purwakarta–Kota, Wonogiri–Purwosari, Rancaekek–Bandung, hingga Sukabumi–Kota. Tidak selalu berupa kereta khusus, tetapi juga bisa digandengkan dengan kereta penumpang di lintasan non-KRL.

Inovasi Baru, Ternyata Ini Alasan KAI Membuat Kereta Petani dan Pedagang