Load Factor Rendah, Akankah LRT Palembang Senasib dengan MRT Malaysia?

Kepala Kantor Staf Presiden RI Moeldoko menuding Pemda Sumatra Selatan memiliki peranan yang cukup besar di balik sepinya moda transportasi anyar di sana, Light Rapid Transit (LRT) Palembang. Menurut Moeldoko, tugas pemerintah pusat sudah selesai dengan membantu pembangunannya, selanjutnya tugas diemban oleh pemerintah daerah setempat – mulai dari pengoperasian, perawatan, dan lain sebagainya.

Baca Juga: MRT Malaysia Butuhkan 250.000 Penumpang per Hari Agar Bisa Tembus Break Even Point

“Dia (Pemda Sumatera Selatan) harus berupaya maksimal bagaimana utility sebuah infrastruktur itu bisa berdaya guna dengan baik. Bukan belum ada mengeluh, setelah dibangun mengeluh. Terus apa kerjaan mereka?” ujar Moeldoko seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnnindonesia.com (12/2/2019).

Ya, beredarnya kabar mengenai sepinya moda transportasi berbasis massal ini memang sudah cukup lama terdengar, tepatnya setelah perhelatan Asian Games 2018 selesai. Di hari-hari biasa (weekdays), moda ini bisa dibilang cukup sepi, berbanding terbalik jika kala weekend, dimana load factor (tingkat keterisian) LRT Palembang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan ketimbang weekdays.

Padahal biaya investasi kereta cepat pertama Indonesia itu mencapai Rp10,9 triliun. Belum lagi menyoal subsidi operasional bulanan yang mencapai Rp10 miliar. Menurut Moeldoko, pemeliharaan infrastruktur oleh Pemda Sumatera Selatan sangatlah penting karena itu merupakan salah satu bentuk dari investasi jangka panjang.

“Maka perlunya Pemda memberikan sosialisasi sehingga infrastruktur yang ada bisa termanfaatkan dengan baik. Jangan saat PON dibangun infrastruktur, setelah itu tidak terjaga. Ini harus ada semangat pimpinan daerah,” tukas Moeldoko.

Terlepas dari faktor-faktor apa saja yang membuat LRT Palembang ini sepi, namun ini mirip dengan yang terjadi di negara tetangga, Malaysia. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, MRT Malaysia yang berada di bawah kendali Menteri Keuangan mencatatkan target 250.000 penumpang setiap harinya. Hal tersebut harus direngkuh guna mencapai break-even point – dimana MRT Malaysia juga diketahui memiliki load factor yang cukup rendah, di bawah ekspektasi yang diharapkan.

Per-pertengahan tahun 2018 silam, MRT Malaysia mencatat load factor mereka setiap harinya hanyalah berkisar antara 130.000 hingga 140.000 saja penumpang per harinya.

“Inshaa Allah (Dengan berkat Allah), kami akan mencapai tujuan kami untuk mendorong penggunaan transportasi umum, yang akan berimbas pada pengembalian modal (break-even point),” ujar Wakil Menteri Keuangan, Datuk Othman Aziz.

Baca Juga: LRT Palembang Sepi Penumpang, Kepala Divre III: “Itu Wajar”

Lalu, apa yang membuat load factor kedua moda transportasi berbasis massal ini rendah? Tentu saja ada banyak variabel yang bisa mempengaruhinya, mulai dari harga tiket yang mungkin terlalu mahal, pelayanan yang kurang prima (ketepatan waktu keberangkatan, bantuan dari petugas, dll.), kualitas dari moda yang kurang memuaskan penumpang, rute perjalanan yang tidak sesuai dengan tujuan penumpang, atau bisa juga dari kesadaran masyarakat untuk mulai beralih menggunakan moda transportasi umum.

Sebagai informasi tambahan, di bulan September 2018 kemarin, LRT Palembang hanya mengangkut sekira 4.000 penumpang setiap harinya (weekdays), dan jumlah tersebut meningkat ke angka 6.000 hingga 7.000 penumpang kala weekend.

Uber Rilis Fitur Meditasi di Jalan, Hasil Kerja Sama dengan Calm

Dapat Anda bayangkan bagaimana Anda memulai rutinitas setiap harinya? Kerjaan yang menumpuk, deadline yang memburu, pancaran lampu rem kendaraan yang selalu menghiasi di kala peak hours, dan semua ini melelahkan, bukan? Terlepas dari moda yang Anda gunakan, apakah itu kendaraan pribadi atau layanan ride-hailing, namun siapapun jika terperangkap macet, seolah menjadi pemicu yang tepat untuk meningkatkan kadar stress seseorang.

Baca Juga: Uber Berlakukan Sistem Denda Bagi Penumpang yang Terlambat

Sadar betul akan problematika yang dihadapi oleh para penggunanya, perusahaan berbagi tumpangan asal San Francisco, Uber meluncurkan fitur latihan meditasi bagi penumpang di dalam armadanya. Para penumpang layanan Uber dapat menggunakan fitur hasil dari kerja sama Uber dengan perusahaan pelayanan Calm ini, terutama ketika jalanan tengah tersendat.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gizmodo.com, para penumpang Uber akan mendapatkan pilihan untuk memilih durasi waktu meditasi selama perjalanan, mulai dari tiga menit, lima setengah menit, 12 menit 20 detik, hingga 30 menit, tergantung lamanya perjalanan Anda. Ternyata, fitur meditasi ini tidak hanya tersedia bagi para penumpang saja, pun dengan para pengemudi yang juga memiliki kesempatan untuk melakukan meditasi selama tiga menit. Persisnya fitur meditasi ini hadir dalam wujud headset yang memperdengarkan irama meditasi.

Adapun latar belakang Uber meluncurkan fitur ini adalah perusahaan menemukan 37 persen orang yang terlalu kelelahan ketika berkendara melalui sebuah survei yang mereka lakukan. Tidak hanya itu, sebanyak 56 persen dari 2000 responden menyalahkan pekerjaan mereka yang terlalu berat hingga pada akhirnya menyebabkan mereka stress, sedangkan 31 persen lainnya menyatakan bahwa stress muncul ketika mereka merasa kelelahan.

“Dalam kesibukan sehari-hari, kita mudah kehilangan keseimbangan. Gaya hidup kita yang sibuk membuat kita cemas dan lelah. Jadi, jika kita dapat meluangkan sedikit waktu untuk bermeditasi, kita akan merasa lebih santai, fokus, dan produktif,” ujar Head of Mindfulness dari Calm, Tamara Levitt.

Senada dengan Tamara, seorang juru bicara dari Uber pun mendukung setiap penumpangnya untuk menerapkan pola hidup yang lebih sehat, yaitu dengan cara bermeditasi.

Baca Juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam Beroperasi

“Sekitar 54 persen orang menggunakan waktu mereka di Uber untuk melihat email, media sosial, dan berita di ponsel mereka, jadi pada perjalanan Uber Anda berikutnya, lepaskan pekerjaan Anda sejenak untuk bersantai dengan cara bermeditasi,” tutur pihak Uber.

Jika tidak ada aral melintang, Uber siap untuk merilis fitur ini dalam beberapa bulan ke depan.

Resmi Beroperasi 12 Maret 2019, PT MRT Jakarta Mulai Garap Pembangunan Fase 2

Setelah menanti sekian lama, akhirnya PT MRT Jakarta telah membocorkan tanggal rilis dari moda yang akan menghubungkan Lebak Bulus dan Bundaran HI (Fase 1) ini. Menurut pihak perusahaan, MRT Jakarta akan secara resmi beroperasi pada tanggal 12 Maret 2019. Tentu saja, PT MRT Jakarta tidak ingin ada kendala ketika peluncuran dan pengoperasiannya kelak, maka kini perusahaan dikabarkan tengah melakukan sejumlah uji teknis hingga tanggal 11 Maret mendatang.

Baca Juga: Delapan Kereta MRT Jakarta Uji Coba Secara Penuh dengan Headway 10 Menit

Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar mengatakan bahwa pihaknya kini tengah mempersiapkan serangkaian skema exercise emergency.

“Jadi 23 Februari sampai 11 Maret itu akan dilakukan rangkaian exercise emergency, jadi bagaimana kalau ada berbagai macam kondisi dimana dibutuhkan saat emergency itu bagaimana mengatasinya. Nah, siapa yang akan terlibat itu pihak-pihak yang terkait dengan emergency,” ujar William, dikutip dari laman okezone.com (13/2/2019).

Tidak hanya itu, William juga menuturkan bahwa warga Ibu Kota juga bisa ‘curi start’ untuk menjajal moda yang sudah lama dinantikan oleh warga Jakarta dan sekitarnya ini.

“Lewat website. Sedang kita siapkan. Dari masyarakat silahkan kunjungi web MRT disitu ada yang harus diisi, apakah pakai QR Code atau pakai cetak, itu nanti dibawa pada saat mau naik kereta MRT,” jelasnya.

Alih-alih khawatir jumlah pengunjung yang membludak karena ingin menjajal MRT Jakarta, William justru tidak memberlakukan sistem kuota alias tidak membatasi jumlah pengunjung yang datang.

“Enggak ada kuota, pokoknya mendaftar aja, target penumpang selama masa uji coba ini 28 ribu,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, William juga menyampaikan bahwa proses pembangunan MRT Jakarta Fase 2 sudah mulai bergulir, kendati pihaknya masih menunggu respon dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) untuk pelaksanaan groundbreaking.

“Fase II kita jalan terus. Kita tetap jalan, tidak harus menunggu groundbreaking karena fase II itu kan ada beberapa paket,” jelasnya.

Baca Juga: Ini Dia Rute MRT Jakarta Jika Diteruskan Hingga ke Tangerang Selatan

Mengutip dari laman sumber lain, proses pengerjaan Fase 2 ini sendiri terbagi ke dalam sejumlah paket pengerjaan. Nah, yang disinggung William di atas merupakan paket pembangunan CP200. Seiring menunggu respons balasan dari Kemensetneg, pihaknya pun memulai pembangunan fase II pada paket pembangunan selanjutnya, yaitu CP201. Paket itu meliputi wilayah Bundaran HI sampai dengan Harmoni, Jakarta Pusat.

Setelah rampung, pihak MRT Jakarta sendiri akan melanjutkan pekerjaannya di sektor CP202 dan CP203 yang meliputi pembangunan di wilayah Harmoni – Glodok dan Glodok – Kota. Menurut William, proses persiapan pembangunan Fase II memang telah berlangsung sejak lama. Pihaknya telah melakukan tahap-tahap persetujuan pendanaan, penetapan lokasi, dan saat ini sedang proses lelang.

“Itu kita lelangkan. Tahun ini kita juga bebasin lahan, utilitas. Jadi, pekerjaannya banyak.” kata William.

 

Horee! Garuda Indonesia, Citilink dan Sriwijaya Air Turunkan Harga Tiket 20 Persen di Semua Rute

Kenaikan harga tiket pesawat pada low season ini membawa dampak besar, tidak hanya dirasakan pada bisnis penerbangan, namun lesunya lalu lintas penumpang berimbas pada sepinya industri pendukung di bandara, hingga transportasi umum penunjang dari dan ke bandara. Belum lagi sektor wisata domestik yang mulai mengeluhkan dengan merosotnya pendapatan sebagai dampak naiknya harga tiket pesawat.

Baca juga: Hadapi ‘Badai’ Low Season di Januari – Maret, Bisnis Penerbangan Harus Tetap Optimis

Menjawab persoalan tersebut, tepat di Hari Valentine, 14 Februari 2019, ada kabar baik yang datang dari Garuda Indonesia Group. Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers Garuda Indonesia, disebutkan Garuda Indonesia Group melalui lini layanan full service Garuda Indonesia dan Low Cost Carrier (LCC) Citilink Indonesia serta Sriwijaya Air-NAM Air Group mengumumkan penurunan harga tiket di seluruh rute penerbangan sebesar 20 persen mulai 14 Januari 2019.

Penurunan tarif tiket pesawat ini merupakan tindak lanjut dari inisiasi awal Indonesia National Air Carrier Association (INACA) yang sebelumnya baru berlaku di beberapa rute penerbangan.

“Hal tersebut sejalan dengan aspirasi masyarakat dan sejumlah asosiasi industri nasional serta arahan Bapak Presiden RI mengenai penurunan tarif tiket penerbangan dalam mendukung upaya peningkatan sektor perekonomian nasional khususnya untuk menunjang pertumbuhan sektor pariwisata, UMKM, hingga industri nasional lainnya, mengingat layanan transportasi udara memegang peranan penting dalam menunjang pertumbuhan perekonomian.

Garuda Indonesia Group memastikan komitmen penurunan harga tiket pesawat sejalan dengan dengan sinergi intensif yang dilakukan seluruh pemangku kepentingan terkait dalam memastikan akses masyarakat terhadap layanan transportasi udara tetap terjaga” papar Ari.

Komitmen positif Garuda Indonesia Group sebagai BUMN tersebut sejalan dengan sinergi positif seluruh sektor penunjang layanan penerbangan dalam memastikan tata kelola industri penerbangan yang tepat guna, baik dari aspek aksesibilitas masyarakat terhadap layanan transportasi udara serta business sustainability maskapai penerbangan di Indonesia.

Baca juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Lebih lanjut melalui penurunan tarif tiket penerbangan tersebut, Garuda Indonesia Group berharap akses masyarakat terhadap layanan transportasi udara dapat semakin terbuka luas, sehingga Garuda Indonesia Group dapat mengakomodir aspirasi masyarakat dalam memberikan pelayanan berkualitas yang dapat menjangkau seluruh elemen masyarakat.

“Penurunan harga tiket tersebut kami pastikan akan menjadi komitmen berkelanjutan Garuda Indonesia Group dalam memberikan layanan penerbangan yang berkualitas dengan tarif tiket penerbangan yang kompetitif ” tutup Ari.

Sempat Vakum 2 Tahun, Stasiun Kertosono Kembali Beroperasi Sejak 2015

Stasiun Kertosono yang berada di Banaran, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur merupakan stasiun kereta api kelas besar tipe B. Berada di ketinggian +43 mdpl ini masuk dalam Daerah Operasional (Daop) VII Madiun dan terletak di paling timur kabupaten Nganjuk. Memiliki tujuh jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, Stasiun Kertosono sendiri ternyata hanya mengoperasikan jalur 1-5 dan menggunakan sistem persinyalan elektrik.

Baca juga: Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, stasiun ini juga dilengkapi dengan sub dipo lokomotif dan pada tahun 2013-2014 lalu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) sempat memberlakukan kebijakan setiap kereta hanya bisa melintas langsung di Stasiun Kertosono ini. Hal tersebut dilakukan untuk mensterilkan stasiun dari pengamen dan pedagang asongan.

Bahkan kereta api Rapih Dhoho harus memutar lokomotifnya di Stasiun Baron atau Sukmoro dan rute KRD Kertosono di perpendek hingga Stasiun Jombang saja. Hingga akhirnya pada 1 April 2015, Stasiun Kertosono kembali melayani penumpang. Penumpang yang naik turun dari stasiun ini pun tak hanya dari Kertosono saja melainkan dari luar kecamatan.

Sebelum seperti saat ini pada tahun 1960 hingga 1980, Stasiun Kertosono merupakan stasiun kereta api kelas I atau besar. Stasiun ini didesain sebagai persimpangan jalur Madiun-Surabaya-Kediri-Blitar. Pada pembangunannya, jalur percabangan memang sengaja dibangun di seberang sungai agar menghemat biaya dengan tidak membangun dua buah jembatan. Percabangan ini dibuat simetris sehingga percabangan tersebut dikenal dengan sebutan “Simetri Kertosono”, meskipun letaknya sudah masuk wilayah Kabupaten Jombang.

Dipo yang ada di Stasiun Kertososo sendoro berfungsi sebagai bengkel perawatan lokomotif serta gerbong-gerbong kereta. Pada masa lalu, lokomotif yang dirawat masih menggunakan uap. Stasiun ini memiliki tiga bangunan menara pengawas yang dulunya disebut Sign-Huis atau rumah sinyal yang letaknya di ujung timur, barat dan persimpangan rel arah Blitar/Kediri dekat sungai Brantas, tetapi bagunan-bangunan itu kini sudah dibongkar.

Telekomunikasi antar stasiun saat itu masih menggunakan telepon dan telegraph. Stasiun Kertosono juga memiliki jalur kereta lori yang disebut warga sekitar motik. Rel ini menghubungkan stasiun dengan pabrik gula Lestari untuk mengangkut limbah gula yang akan dikirim dan didaur ulang.

Baca juga: Stasiun Labuan di Medan, Jalur Pertama Perkeretaapian Sumatera Utara

Jalur lori tersebut hingga kini masih bisa terlihat di depan Stasiun Kertosono sekarang. Tak hanya itu banyak gerbong barang, tangki minyak dan gerbong penumpang yang selalu mangkal di stasiun ini. Karena stasiun ini juga merupakan jalur distribusi barang dan minyak.

Blunder Beruntun! Cathay Pacific ‘Diskon’ Hampir 90 Persen Tiket Penerbangan Portugal – Hong Kong

Flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific dikabarkan kembali mengalami kerugian setelah pihaknya salah membanderol tiket, hampir mirip dengan kesalahan yang pernah mereka lakukan pada bulan Agustus 2018 silam. Jika pada bulan Agustus kemarin, Cathay menjual tiket kelas bisnis untuk penerbangan dari Vietnam ke New York dengan harga US$675 atau kurang dari Rp 10 juta pergi-pulang, maka kali ini maskapai yang pernah salah cetak livery ini menjual tiket dengan rute penerbangan Hong Kong – Portugal hanya dengan harga Rp21 juta saja.

Baca Juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Cathay kali ini menjual tiket penerbangan tersebut dengan harga yang sangat miring. Padahal, harga asli dari tiket di rute penerbangan antar benua tersebut dibanderol dengan harga sekira US$16.000 atau yang setara dengan Rp231 juta. Dapat Anda bayangkan, pihak Cathay merugi hampir 90 persen dari penjualan tiket di rute tersebut.

Menanggapi hal ini, pihak maskapai mengatakan menerima tiket-tiket yang sudah terlanjur dibeli dengan harga sangat murah itu, dan saat ini sedang “menyelidiki penyebab kesalahannya”. Kesalahan pemasangan harga tiket ini tercantum dalam laman resmi Cathay Pacific pada Minggu (13/1/2019) lalu, dimana mereka menjual tiket penerbangan first class dari Lisbon menuju Hong Kong dengan harga US$1.512 atau yang sekira Rp21 juta.

Padahal, penerbangan serupa via Frankfurt, Jerman dibanderol dengan harga US$16.000 atau yang setara dengan Rp231 juta. Nasi sudah menjadi bubur, pihak Cathay Pacific hanya bisa mengikhlaskan tiket yang dijual dengan harga super miring tersebut dan tidak ambil pusing dengan kejadian yang sudah kadung terjadi ini.

“Kami sedang mencari penyebab utama insiden ini, baik secara internal maupun eksternal, dengan rekanan kami,” ungkap pihak Cathay Pacific dalam sebuah keterangan resmi.

Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika

“Teruntuk penumpang yang beruntung karena sudah mendapatkan tiket penerbangan dengan harga super murah tersebut, kami harap Anda bisa menikmati layanan premium yang kami sediakan,” lanjutnya.

Kesalahan beruntun yang dilakukan oleh Cathay Pacific dalam waktu yang hampir berdekatan ini seolah menjadi sinyalbagi pihak maskapai untuk lebih berhati-hati dalam melayani setiap pelanggannya. Alih-alih meraup untung, insiden seperti ini jelas membawa kerugian bagi perusahaan dan bukan tidak mungkin jika pendapatan maskapai ini bisa tersalip oleh rival-rivalnya.

Duh, ada-ada saja, ya!

Joint Venture Rusia Kembangkan Trem Otonom Guna Minimalisir Human Error

Pabrikan kendaraan listrik asal Rusia dan pengembang kecerdasan buatan untuk sistem pengemudi otonom diketahui tengah mengerjakan trem kota yang akan mengaspal di jalan-jalan di kota Moskow dalam waktu dekat. Trem yang sepenuhnya otonom ini akan segera memulai pengujian fasilitas tertutup, sebelum akhirnya menjajal trial run di sepanjang rute trem Moskow. Tujuan dari pengadaan trem futuristik semacam ini adalah untuk mengembangkan sistem otonom, dimana trem bisa tetap mengular tanpa harus dikemudikan oleh manusia.

Baca Juga: Tingkat Kecelakaan Trem Meningkat, Praha Gelar Kampanye Keselamatan di Jalan

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (13/2/2019), trem yang dikembangkan oleh joint venture PC Transport Systems dan Cognitive Technologies ini juga ditujukan untuk meminimalisir jumlah kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor human error. Menurut pihak perusahaan, kendaraan yang tengha dikembangkan ini nantinya akan juga masuk ke pasar Jerman dan Cina yang diperkirakan dapat terrealisasi pada tahun 2021 hingga 2022 mendatang.

Adapun trem ini kelak akan dibekali 10 hingga 20 kamera yang diposisikan di sekeliling trem, yang dikombinasikan oleh 10 sensor radar yang akan menghasilkan data. Penggunaan Global Positioning System (GPS) akan membantu pusat kendali untuk menentukan posisi trem yang presisi.

“Kombinasi sensor yang mencakup kamrea dan radar akan membantu kami untuk mendeteksi moda ini secara akurat, dan dapat diandalkan dalam berbagai jenis kondisi cuaca – malam, hujan, kabut, salju, hingga panas terik sekalipun,” ungkap Olga Uskove dari Cognitive Technologies.

Tidak hanya memiliki kemampuan untuk tetap beroperasi di segala jenis kondisi cuaca saja, trem ini juga kelak akan dapat mendeteksi moda lain di jalanan, membaca lampu lalu lintas, pejalan kaki, berhenti di tempat pemberhentian hingga merespon setiap kejadian di luar skema dengan tepat. Tim pengembang mengatakan bahwa trem akan otomatis berhenti ketika mereka menemukan hambatan ketika tengah beroperasi. Hebatnya lagi, trem ini juga dapat mengaplikasikan jarak aman dengan moda yang ada di depannya.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Sama halnya seperti MRT Jakarta, kelak, trem asal Rusia yang menurut rencana akan mulai diuji sekitar dua bulan ke depan ini akan terlebih dahulu dioperasikan oleh manusia, dimana kru dari joint venture ini akan berada di dalam rangkaian trem dan siap untuk mengambil alih kemudi semisal ada suatu hal yang luar skenario.

Setelah Insiden Kecoa, Kini Belatung Hidup ‘Tersaji’ di Makanan Pakistan International Airlines

Apa yang akan dilakukan penumpang ketika makanan yang mereka terima dalam sebuah penerbangan ternyata menemukan binatang kecil yang seharusnya tidak ada? Wajar adanya jika penumpang akan berteriak kaget, marah dan membuang makanannya hingga meminta pertanggung jawaban awak kabin yang bertugas melayani.

Baca juga: Menjijikan, Ada Kecoa di Makanan ‘Bersegel’ Pada Penerbangan Full Service Air India

Seperti baru-baru ini kembali terjadi dalam sebuah maskapai penerbangan full service Pakistan International Airlines (PIA), dimana seorang penumpang menemukan cacing atau belatung hidup di makanan yang diterimanya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman tribune.com.pk (4/2/2018), cacing tersebut ditemukan dalam makanan di penerbangan menuju ke London, Inggris di pesawat PIA. Penumpang yang saat itu akan menikmati kheer, sejenis puding nasi yang merupakan makanan khas India/Pakistan, ternyata ketika tutup kemasan makanan dibuka terdapat belatung hidup di dalamnya.

Penumpang tersebut kemudian mem-videokannya dan menyebarkan melalui media sosial. Karena hal tersebut, wakil manajer umum maskapai PIA memanggil awak kabin dalam penerbangan dari Lahore ke London. Sang wakil manajer justru mempertanyakan kepada awak kabin, bagaimana penumpang itu bisa mengunggah video makanan tersebut.

Bahkan jika identitas penumpang yang mengunggah makanan tersebut tidak ditemukan, maka awak kabin pada penerbangan itu yang akan menerima sanksi. Juru bcara PIA Mashoood Tajwar mengatakan, dirinya tak bisa mengkonfirmasi keaslian video. “Saya tidak yakin apakah itu dibuat pada penerbangan ini atau yang lama,” ujarnya.

Tajwar mengatakan bahwa begitu penerbangan kembali ke Pakistan, pemeriksaan menyeluruh akan dilakukan pada masalah ini. Sebelumya pada penerbangan Air India 2 Februari 2019, seorang penumpang menemukan seekor kecoa di makanannya.

Dia kemudian memberitahukan awak kabin, tetapi malah diabaikan dan mengembalikan makanan tersebut kepada mereka. Foto makanan dengan kecoa tersebut menjadi viral dan disebar melalui Twitter dengan caption “Kecoa dalam makanan disajikan di Air India #Bhopal #Mumbai”.

Baca juga: Mau Sarapan Nikmat di Kereta, Tak Tahunya Ada Cacing di Paket Makanan

Gambar terlihat jelas menunjukkan seekor kecoa utuh dan diangkat keluar dari tempat makanan. Bila sebelum diangkat, kecoa tersebut tidak terlihat dengan jelas karena tertutup makanan matang. Atas insiden kecoa dalam makanan, untungnya awak kabin maskapai langsung meminta maaf pada penumpang karena kejadian itu dan mengeluarkan pernyataannya di media sosial.

Terdampak Cuaca Buruk, Pesawat Carter ini Tergelincir Menuju Jalan Tol

Sebuah pesawat carter dikabarkan mengalami kecelakaan di Richmond Municipal Airport, Indiana, Amerika Serikat pada Senin (11/2/2019) kemarin. Adapun kecelakaan pesawat ini disinyalir karena kondisi landas pacu yang licin tertutup salju, mengakibatkan pesawat model multi-engine 400-fixed-wing yang diproduksi pada tahun 1999 oleh Raytheon Aircraft Company ini mengalami kerusakan. Beruntung, sebanyak tiga penumpang yang berada di dalam pesawat tersebut dinyatakan selamat.

Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pesawat carteran ini meninggalkan Bandara Waukesha County di Waukesha, Wis., untuk perjalanan ke Richmond, dan diperkirakan mendarat pada pukul 10:03 waktu setempat. Pesawat itu dijadwalkan terbang dari Richmond ke South Bend dan kembali ke Waukesha pada Senin sore. Kondisi landas pacu yang lici membuat pesawat ini tergelincir ketika mendarat.

Pesawat tersebut tergelincir ke arah jalan Highway 227, dengan kondisi sayap sebelah kiri menutupi badan jalan. Pesawat nahas itu baru bisa berhenti ketika menabrak sebuah pagar yang membatasi jalan dengan perkebunan milik warga. Tampak bekas roda dari pesawat ini seolah membuat jejak yang menggambarkan ‘rute’ ketika pesawat ini tergelincir dari landas pacu ke tempat ia berhenti.

Menurut penuturan dari Rodney Mayse, manajer dari Richmond Municipal Airport, ini merupakan kali pertama yang terjadi selama 22 tahun masa pengabdiannya terhadap bandara tersebut.

“Kini pihak Federal Aviation Administration tengah menyelidiki kecelakaan ini lebih lanjut,” ungkap Rodney, seperti yang dikutip dari laman usatoday.com (11/2/2019).

Selain kondisi landas pacu yang tertutup salju, jarak pandang pilot juga sebenarnya menjadi salah satu faktor minor dalam kecelakaan ini, dimana jarak pandang pilot terbatas karena tertutup kabut yang cukup tebal. Terkait dengan kecelakaan pesawat ini, National Weather Service mengeluarkan pernyataan cuaca musim dingin untuk wilayah Indiana utara, dengan salju dan es diperkirakan akan terjadi hingga Selasa (12/2/2019).

Baca Juga: Nyaris Terjun Ke Laut Mati, Boeing 737-800 Pegasus Airlines Tergelincir Akibat Cuaca Buruk

“Diharapkan setiap orang lebih berhati-hati dalam berkendara,” ungkap National Weather Service dalam sebuah pernyataan.

Pesawat nahas ini sendiri baru bisa dievakuasi menuju hanggar Richmond Municipal Airport sekira pukul 15.15 waktu setempat.

Foto di Kokpit, Pilot dan Pramugari Singapore Airlines Terkena Sanksi ‘Grounded’

Seorang pilot dan pramugari dari Singapore Airlines belum lama ini terkena sanksi tidak terbang (grounded) sejak 1 Februari 2019, alasannya sang pilot mengizinkan pramugari tersebut duduk di kursi kopilot dan mengambil fotonya saat pesawat sedang mengudara.

Baca juga: Viral! Pilot United Airlines Tidur di First Class dengan Seragam Ditanggalkan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (11/2/2019), dalam sebuah pertanyaan, pilot mengatakan bahwa pramugari yang duduk di kusi kopilot untuk membantu membersihkan noda yang ada di jendela kokpit. Dalam konfirmasinya maskapai Singapore Airlines (SIA) mengatakan, kejadian tersebut terjadi pada 12 Januari 2019 dalam penerbangan pesawat Airbus A350 dengan nomer SQ207 dari Singapura menuju ke Melbourne, Australia.

Juru bicara SIA mengatakan, pramugari yang berada di kokpit datang untuk membersihkan nampan makanan pilot dalam penerbangan. “Pramugari duduk di kursi First Officer (kopilot) untuk mencapai noda (di jendela kokpit). Selanjutnya, dia meminta foto dirinya di kursi, yang diminta Kapten,” ujar juru bicara tersebut.

Mereka bahkan mengatakan tidak ada pelanggaran keamanan di dalam kokpit. Tetapi sesuai dengan prosedur standar maskapai, pilot dan pramugari yang tidak diseutkan identitasnya tersebut sudah dikenakan sanksi, sementara pihak maskapai melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait masalah itu.

Namun, masa hukuman keduanya belum jelas akan berlaku hingga kapan. Sebenarnya sebagai aturan umum, pramugari atau awak kabin tidak boleh menduduki kursi pilot/kopilot untuk alasan keamanan.

“Ini bukan tentang keamanan tetapi keselamatan. Kokpit penuh dengan kontrol, tuas dan tombol sehingga kami selalu sangat berhati-hati ketika kami melangkah masuk,” ujar seorang awak kabin yang tak disebutkan namanya.

Dia menjelaskan, untuk melayani makanan pilot dan kopilot, awak kabin melayaninya dari luar dengan hati-hati. Untuk pilot yang duduk disebelah kiri, biasanya awak kabin melayani dari kiri dan sebaliknya untuk kopilot yang ada di sebelah kanannya.

“Kami tidak pernah berdiri di depan kontrol saat berada di kokpit untuk melayani pilot dan kopilot,” ungkapnya.

Biasanya kokpit sendiri dilengkapi dengan empat kursi, dua di depan untuk pilot dan kopilot, dua lainnya dibelakang untuk pengamat teknis yang disahkan oleh maskapai atau perwakilan badan pengawas. Tak hanya itu, kedua kursi dibelakang itu juga digunakan pilot ketiga dan keempat dalam penerbangan waktu tempuh dan jarak yang panjang.

Baca juga: Pilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Penerbangan Singapore Airlines dari Melbourne Terpaksa Batal

Dalam beberapa situasi, awak kabin yang baru dilatih diizinkan duduk di kursi pengamat, sehingga mereka mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang fase-fase kritis penerbangan.